Anti Banjir dan Ramah Difabel di Harapan Indah

Sekian tahun cahaya tidak ada postingan #KelilingKAJ selain selintas tentang Gereja Santo Matius Penginjil Bintaro. Nah, ini mumpung saya dapat dinas di Kota Harapan Indah, Bekasi, yang kebetulan juga lokasi hotelnya dekat dengan Gereja, pada akhirnya saya berkesempatan mampir di paroki termuda kedua di KAJ. Termuda kedua digusur oleh Santo Ambrosius di Melati Mas.

Untuk sampai di Gereja Katolik Santo Albertus Agung Harapan Indah ini begitu mudah. Dari akses masuk Harapan Indah tinggal ke kiri, begitu lihat Giant, lurusin lagi, nanti sesudah Gramedia, kita akan mendapati bangunan dengan identitas segitiga. Nah, itu dia Gerejanya.

Pada mulanya adalah tahun 1990-an, ketika Jakarta mulai penuh dan pembangunan semakin ke pinggir hingga muncul Harapan Indah. Pelayanan iman mulai dilakukan, tapi di ruko. Dari ruko kecil sampai ruko yang lebih luas. Seperti ditulis di santoalbertus.org pada bulan Desember 2012 pada tahun 2006, jumlah warga telah mencapai 4.686 jiwa dengan lima wilayah.

Misa di kompleks Harapan Indah dihelat pertama kali pada April 1996. Atas anjuran dosen Universitas Katolik Atmajaya, Pastor Damianus Weru, SVD, area ini lantas dijadikan stasi Harapan Indah dan resmi pada tanggal 23 Juni 1996.

Pastor Damianus juga yang memberi usul penggunaan nama Santo Albertus, berdasar pada semangatnya. Beberapa fasilitas di Gereja ini pernah dibakar pada tahun 2009, sebagaimana pernah ditulis oleh tempo.co yang katanya adalah karena kesenjangan sosial.

Sepekan kemudian, misa kembali diadakan di tempat yang dibakar ini Adalah Laksamana Pertama Christina Maria Rantetana yang merintis jalan untuk mengatasi masalah klasik keagamaan di Indonesia dengan aneka rupa cara.

Nama Ibu Christina ini sangat luar biasa. Wanita yang telah meninggal dunia pada 1 Agustus 2016 ini adalah wanita pertama yang memiliki pangkat Laksamana Muda dari Asia. Beliau juga wanita pertama yang mengikuti Sekolah Staf dan Komando (SESKO) di Royal Australian Naval Staf Course di Sydney. Beliau juga anggota Kowal perdana yang pernah menjabat anggota DPR RI untuk periode 1997-1999 dan 1999-2004. Termasuk juga wanita pertama yang jadi Direktur Sekolah Kesehatan Angkutan Laut dan juga anggota Kowal pertama yang jadi staf ahli Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan pada bidang Ideologi dan Konstitusi.

Paroki Santo Albertus Agung Harapan Indah sendiri diresmikan oleh Mgr. Ignatius Suharyo pada hari Kamis, 14 Mei 2015 bertepatan dengan Pesta Kenaikan Tuhan. Bahkan #KelilingKAJ sudah duluan dimulai alih-alih paroki ini diresmikan. Gitu.

Pada saat peresmian, hadir 42 pastor baik dari Paroki Kranji, dari pastor-pastor SVD yang pernah berkarya di Harapan Indah, pastor-pastor Dekenat Bekasi, dan lain-lainnya lagi. Diresmikannya paroki yang satu ini memang terhitung pelepas dahaga karena sebelumnya sudah cukup lama tidak ada Gereja Katolik yang diresmikan.

Walau terhitung baru, Gereja Santo Albertus ini masih menganut konsep lawas, tanpa AC. Entah ada atau tidak, tapi dalam kehadiran saya pada misa harian, saya lihat benar keringat yang menetes di wajah Romo plus deru kipas yang tiada henti serta pintu-pintu yang terbuka. Gerejanya sendiri cukup luas, mungkin kurang lebih mirip dengan Paroki Duren Sawit. Bahkan kalau urusan luas juga bisa saya bandingkan dengan Gereja Katolik di Kuta.

Gereja Santo Albertus memiliki desain yang seperti Gereja pada umumnya yakni tinggi, menjulang, serta lancip, plus pilar-pilar kokoh. Konsep kemah menjadi kunci, sehingga kalau dilihat dari jauh ada kemiripan dengan Gereja Pulomas, misalnya. Semacam mirip-mirip yang ketimuran.

Satu hal yang paling menarik dari Gereja ini adalah sangat ramah difabel dan boleh dibilang salah satu Gereja terbaik di KAJ untuk soal difabel. Dengan koor di sisi kanan altar, maka sisi satunya lagi ada tempat khusus difabel dan lansia. Jalur untuk kursi roda juga sudah disiapkan. Plus, dengan kondisi yang diapit dua saluran air–meski ada di dalam kawasan elite–rupanya Gereja ini juga dipersiapkan untuk anti banjir. Untuk itulah bangunannya telah ditinggikan. Tidak setinggi Pademangan yang jadinya di lantai 2–dan juga ramah difabel–tapi cukup tinggi untuk jika amit-amit digenangi.

Adapun Gua Maria terletak di belakang altar dengan konsep segitiga yang sama dengan bangunan Gereja. Sedangkan misa mingguan dipersembahkan pada Sabtu pukul 17.30, Minggu pukul 06.00, 08.30, dan 17.30.

Semoga ada kesempatan untuk menambah koleksi cerita tentang Gereja-Gereja lain di KAJ, yha.

Advertisements

Mencari Xaverian di Jakarta

Saya besar di Bukittinggi, dan otomatis dibaptis ehm, agama itu warisan oleh pastor dari ordo Xaverian alias SX, sederhananya Serikat Xaverian walaupun kepanjangannya sih bukan itu. Serikat yang satu ini memang hanya beredar di Keuskupan Padang (Padang Baru, Bukittinggi, Payakumbuh, Mentawai, dan Labuh Baru), Keuskupan Agung Medan (Aek Nabara), dan Jakarta. Yes, selain skolastikat-nya di dekat kantor saya–Cempaka Putih–maka satu-satunya paroki yang dipimpin oleh SX di Jakarta adalah Paroki Santo Matius Penginjil, Bintaro.

Sesuai namanya, gereja ini terletak di Bintaro dan merupakan gereja perdana yang berdiri di sekitar Bintaro, sebelum kemudian muncul Gereja Santa Maria Regina yang terletak di Bintaro Jaya, dekat Bank Permata. Gereja Santo Matius Penginjil ini juga begitu identik dengan salah satu rumah retret Wisma Canossa. Sepuluh tahun silam, saya sudah menjamah Wisma Canossa ketika sepuluh tahun silam mengikuti Golden Voice Christmas Choir Competition di Kemayoran. Dan itu sebenarnya pertama kali saya sudah misa di Gereja Santo Matius Bintaro ini.

Untuk mencapai Gereja ini cukup mudah dengan menggunakan ojek online. YAIYALAH. Patokannya adalah Jalan Ceger Raya. Jadi kalau dari KRL Commuter Line enaknya turun di Pondok Ranji untuk kemudian dapat disambung ojek. Ada angkot, sih, tapi saya tidak mendalaminya.

Dari website resmi Paroki Santo Matius Penginjil, diketahui bahwa sejarah paroki ini bermula dari beberapa keluarga Katolik yang pindah rumah ke sekitar kompleks Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) Kodam V Jaya sekitar tahun 1972. Keluarga-keluarga itu tadinya belum mengenal, namun mulai saling tahu dan lantas ngobrol sesudah setiap hari Minggu melihat ada keluarga yang membawa buku Madah Bakti.

Continue reading

Cerita dari Cideng

Oke, kita memasuki waktu dunia bagian semakin jarang #KelilingKAJ. Proyek dua setengah tahun silam ini memang semakin tersendat namun bukan bermakna saya tidak berkeliling dengan baik dan benar. Hanya post-nya yang agak tertunda-(tunda). Heuheu.

Dalam perjalanan #KelilingKAJ kali ini–yang saya lakoni beberapa waktu silam–sungguh penuh dengan drama. Berangkat dari kos-kosan dengan ayam, eh, awan mendung menggantung sembari menggunakan teknologi Gojek, akhirnya air yang nongkrong di langit itu tumpah kala saya dan Mang Gojek melewati sekitar Bank Indonesia. Untunglah saya anaknya well-prepared sehingga dengan bahagia bisa memberi tahu kepada Mang Gojek bahwa saya bawa mantel.

Hujanlah yang membuat saya agak terlambat untuk tiba misa di tempat tujuan #KelilingKAJ kali ini, namun tentu tiada mengurangi kekhusukan doa. Bayangkan rasanya berdoa dalam kondisi celana basah total plus AC Gereja nan dingin. Cocok dan sudah mirip di Sendang Sri Ningsih.

cideng3

Tempat tujuan #KelilingKAJ nan penuh air ini adalah Gereja Maria Bunda Perantara atau yang lebih dikenal dengan Paroki Cideng, tentu saja karena terletak di Cideng, tepatnya Jalan Tanah Abang II Nomor 105, satu jalur dengan kantor suatu bagian tentara yang saya lupa. Bangunannya terbilang tiada mirip Gereja karena memang terletak persis di pinggir jalan besar dan ramai serta dijepit perkantoran dan rumah tinggal. Parkiran tentu saja menjadi problema, meski tidak seekstrim Gereja Santa.

Continue reading

Perjalanan ke Pademangan

Semakin lama, semakin sulit rupanya untuk menjalani misi #KelilingKAJ yang sudah sepertiga jalan itu. Mulai dari kenyataan bahwa hampir semua Gereja terdekat telah disambangi, hingga macam-macam alasan lainnya yang klasik. Jadi pelan-pelan sajalah. Maka, sepulangnya saya dari kegiatan di The Media Hotel & Towers–sekaligus menangkap banyak Bulbasaur–masuklah saya ke sisi lain dari #KelilingKAJ dengan melakukan perjalanan ke Pademangan.

Gereja Katolik di Pademangan adalah Paroki Santo Alfonsus Rodriquez, yang masuk ke Dekenat Utara pada Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dan berlokasi di Jalan Pademangan 2 Gang 7 Nomor 1, Jakarta Utara. Aksesnya bisa lewat Gunung Sahari kemudian masuk ke daerah Pademangan Raya. Sama seperti banyak Gereja lain, seperti misalnya Grogol dan Kemakmuran, Gereja ini berdekatan dengan sekolah Katolik. Sejatinya kalau diurut-urut sejarahnya, cukup banyak yang memiliki kisah yang sama.

Berkembangnya Gereja Pademangan tidak lepas dari dibangunnya jalan dan perumahan di daerah Rajawali Selatan yang tadinya adalah hutan dan rawa, kurang lebih tahun 1950. Persis dalam masa awal kemerdekaan Indonesia. Banyak warga yang berasal dari Flores dan notabene Katolik. Pembinaan agama kala itu diserahkan kepada Paroki Mangga Besar sebagai yang paling dekat.

Tempat perayaan misa perdana adalah sebuah bangunan yang nantinya dijadikan SD Santo Lukas, tepatnya tanggal 15 Agustus 1960. Di Paroki Mangga Besar, area ini adalah Stasi Kalimati. Sebagai bagian dari perjalanan Paroki Pademangan, Pastor R. Bakker, SJ juga menghubungi Yayasan Melania untuk bersama-sama membangun klinik bersalin dan poliklinik.

Selengkapnya, klik di sini!

Mencari Jejak Kisah di Duren Sawit

Wew! Entah sudah berapa lama #KelilingKAJ tidak ditulis di blog ini. Saya malah takut project ini bubar jalan dengan sendirinya. Namun saya tetap berupaya agar project pribadi ini lanjut meski tertatih-tatih gegara dua pekan sekali saya ke Bandung dan otomatis tertangkap Romo Paroki melulu di Cimahi.

Kesempatan muncul ketika suatu pagi saya berangkat dari Bekasi ke Jakarta sembari mengantar Mbak Pacar ke Bandung dari Bekasi. Sembari mengandalkan angin bertiup saya akhirnya memutuskan untuk turun di Stasiun Klender, yang menurut gambaran adalah stasiun yang cukup dekat dengan Gereja Santa Anna di Duren Sawit. Masalahnya, saya agak-agak kurang paham sehingga lantas berjalan salah arah hingga Indomaret. Karena sadar bahwa saya nggak akan sampai tepat waktu kalau jalan kaki sampai Gereja yang ternyata masih jauh sekali. Gini dah kalau songong, nggaya mau jalan kaki.

Saya akhirnya menggunakan aplikasi kekinian bernama Gojek untuk menuju ke lokasi. Ternyata masih lebih dari 3 kilometer jauhnya. Nggak kebayang kalau saya maksa jalan kaki seperti #KelilingKAJ yang lain, bisa keburu jomblo saking lelahnya. Maka, mari berterima kasih pada teknologi. Salah satu patokan terdekat adalah Rumah Sakit Yadika, begitu habis RS ini tinggal belok kiri dan ikuti jalan sampai ramai-ramai khas rumah ibadah.

Gereja Santa Anna Duren Sawit ini terbilang sunyi apabila dibandingkan dengan Matraman hingga Bidara Cina yang persis di pinggir jalan besar. Sebagai Gereja yang berada di perumahan, ini adalah karakter yang khas, ya selayaknya Bojong Indah kalau mau dipersamakan.

Selengkapnya!

Berhari Minggu di Blok B

Salah satu Dekenat yang paling menarik untuk disudahi dalam #KelilingKAJ karena cakupannya yang singkat dan sangat kota adalah Paroki Blok B. Kenapa? Tentu saja karena posisinya yang lumayan dekat dengan Blok M. Jangan lupa, di Blok M kita dapat menemukan tas, ikat pinggang, dompet, copet, hingga banyak bus kota baik yang mapan maupun yang zombie. Untuk mencapai Gereja Blok B ini, cukup turun dengan kendaraan apapun di Terminal Blok M dan lantas berjalan menembus proyek MRT. Nanti begitu ketemu perempatan belok kanan saja ke arah Taman Ayodya. Nah, lokasi Gereja dapat dilihat dengan mudah disitu. Jalan kaki nggak capek-capek amat kok, lebih lelah menjomblo. #eh

Sama halnya dengan Gereja Santa alias Blok Q, Paroki Blok B ini dibawah asuhan Jesuit. Ya, sebagian Gereja di Jakarta juga dulunya Jesuit, namun dilepas satu-satu ke Diosesan KAJ. Menyisakan beberapa saja yang masih dipegang sendiri sama SJ.

Dari sisi sejarah, sebelum tahun 1950, banyak pegawai gubernemen dan pegawai perusahaan yang ada ketika masa penjajahan Belanda yang tinggal di daerah Kebayoran Baru dengan rumah-rumah permanen. Termasuk juga diantaranya pegawai-pegawai negeri seperti Bapak B.S.Poedjosoekarto, Bapak J. Mardiwarsito, Bapak Soemarno, hingga Bapak Bikis Hadiatmodjo. Perkumpulan orang-orang seiman itu memulai misa kudus pertama tanggal 29 Oktober 1950 pada Hari Raya Kristus Raja dengan dipimpin oleh Pastor J. Awick SJ. Tempatnya? Rumah keluarga Bapak P. Hofland. Ini dia yang menjadi cikal bakal adanya Gereja Katolik di sekitar Kebayoran Baru. Tidak lama kemudian, tanggal 25 Januari 1951 sudah dimulai pencatatan buku baptis perdana. Yakni, (Bapak) Horbert, anak dari Walterus Bernardus van Ginneken. Johanna Antonia Maria Engelbregt. Yang membaptis juga Pastor Awick SJ. Adapun paroki Santo Yohanes Penginjil sendiri diresmikan satu tahun berikutnya, tepatnya 2 Maret 1952. Jadi Gereja Blok B ini tidak termasuk generasi gereja perdana, pun tidak masuk ramai-ramai di era Mgr. Leo namun termasuk jaman yang kalau saya sebut sebagai era antara.

Selengkapnyah klik disinih!

Cerita Dari Theresia

Sebenarnya dalam periode perjalanan #KelilingKAJ, Gereja ini termasuk sering saya datangi. Cuma karena dekat dengan bakal kesini-sini lagi juga, kok mulai malas menuliskan, bahkan mengambil foto juga malas. Ini juga kalau Keuskupan Agung Jakarta kagak mendung pekat, saya juga nggak buka laptop dan menulis tentang #KelilingKAJ ke Gereja Theresia ini.

Yes, Gereja di bawah lindungan Santa Theresia ini merupakan salah satu generasi Gereja Katolik pertama di Jakarta. Terletak tidak jauh dari jalan protokol, Thamrin, dan bisa dijangkau dengan TransJakarta, cukup turun di Halte Sarinah lantas berjalan melalui Sarinah ke belakang. Gereja ini ditemukan di sebelah kanan. Kalau lagi jam misa, lebih gampang lagi. Cari saja yang parkiran mobilnya mewah-mewah dua lapis. Ehehe.

Selengkapnya!

Segi Lima di Tebet

Bulan baru dan status baru, serta tentu saja tagihan baru blog ini. Heu. Maka, ada baiknya jika saya mulai melunasi hutang untuk misi yang ternyata tidak mudah bernama #KelilingKAJ. Sesudah menggunakan si BG untuk #KelilingKAJ ke Paskalis, Danau Sunter, dan Pejompongan, maka saya menggunakan teknologi baru untuk berkeliling. Teknologi bernama Go-Jek. Heuheu. Target #KelilingKAJ kali ini adalah salah satu Dekenat Selatan yakni Paroki Fransiskus Asisi Tebet.

Untuk menuju Gereja Katolik di kawasan Tebet ini, patokan paling mudah adalah Hotel Pop! Tebet. Berhubung satu kompleks dengan sekolah Asisi, Gerejanya tidak di pinggir jalan besar, melainkan di jalan kecil perumahan. Saya masuk melalui seberang Hotel Pop!, menyusuri jalan sesuai penunjuk arah panah ke sekolah. Masuk ke dalam kompleks sekolah Asisi kemudian melintas sekolah Asisi hingga ke ujung untuk kemudian menemukan sebuah bangunan yang tidak besar. Itulah Gereja Fransiskus Asisi Tebet.

Selengkapnya!

Oase Sunyi di Pejompongan

Di balik gedung-gedung tinggi yang bisa disaksikan dari Tol Dalam Kota maupun Jalan Sudirman, rupanya tersimpan juga tempat dengan suasana sepi dan cukup mendukung untuk beribadah. Maka, #KelilingKAJ kali ini mencoba merambah tempat tersebut. Dapat diakses dari Jalan Bendungan Hilir, namun lebih gampang diakses dan memang masih merupakan daerah Pejompongan, dengan menunggang si BG saya akhirnya sampai ke Gereja Kristus Raja Pejompongan. Saya jadi ingat beberapa tahun silam di Paroki Ibu Teresa Cikarang, ada penggalangan dana dari umat dan Pastor paroki ini, ternyata hasilnya oke juga. Sebuah Gereja yang disebut sebagai Gereja Daun.

Untuk dapat mencapai Gereja ini, jalur termudah adalah lewat Pejompongan. Ketika ada perempatan, yang ke kanan ke LAN, belok kiri, kemudian ada perempatan belok kanan, lantas belok kiri lagi, kita akan ketemu bangunan bernuansa hijau yang persis berada di depan kantornya seorang politisi. Disitulah Gereja Daun berada.

Selengkapnya!

Sederhana di Santa Clara

Yah, sama halnya dengan PPIC berencana, mesin rusak menentukan, maka perjalanan #KelilingKAJ menjadi tidak sesederhana perencanaannya. Nyatanya, hingga saat tulisan ini belum turun, pencapaian #KelilingKAJ hanya sepertiga saja. Dan, uhuk, umat seiman yang menyapa saya masih hanya sebiji di Jalan Malang saja. Tanya kenapa? Heuheu.

Salah satu kesimpulan sementara saya pada perjalanan #KelilingKAJ adalah bahwa hidup menjadi orang Katolik di Jakarta itu mudah. Parameter utama adalah kalau mau ke Gereja, bisa dilakoni dengan sangat mudah. Kurang mudah apa ketika naik TransJakarta PGC-Harmoni, kita sudah cukup dekat dengan Gereja Cililitan, Bidara Cina (depan halte persis), Matraman (ini juga!), Kramat (tidak jauh-jauh amat dari halte), Kapel RS Carolus (cukup dekat dengan halte), Katedral (lumayan berkeringat untuk jalan kaki dari Juanda), hingga Kemakmuran yang tidak jauh dari Harmoni. Sungguhpun tidak ada alasan–menurut saya–bagi orang Katolik di Jakarta untuk tidak ke Gereja.

Tapi itu di Jakarta.


Selengkapnyah!