98 Hal Yang Pernah Dilakukan Anak Farmasi di Laboratorium

98HalAnakFarmasi

Dua hari ngubek-ngubek laboratorium yang kurang lebih setara canggihnya sama kantor lama bikin rindu masa-masa di laboratorium. Mengingat saya nggak pernah jadi QC, maka yang saya maksud rindu itu adalah masa-masa kuliah. Ya, masa-masa yang sama persis ketika saya mengenangnya via 97 Fakta Unik Anak Farmasi. Jadi nggak usah berlama-lama, berikut ini hasil mengenangnya: 98 Hal Yang Pernah Dilakukan Anak Farmasi di Laborasitorustorium:

Selengkapnya!

Advertisements

4 Alasan Cowok Farmasi Adalah Calon Suami Ideal

Sudah lama ya saya tidak menulis sesuatu yang berguna untuk perkembangan dunia kefarmasian. Di sela-sela polemik SKP yang lumayan meruncing dengan terjadi polarisasi, maka ada baiknya sebagai pemilik ijazah apoteker yang tidak mengurus SKP karena tidak melakukan praktek kefarmasian, saya mencoba menengahi dengan tulisan yang visioner dan membangun. Dari judul ini, kira-kira tampak visioner nggak ya?

TENTU TIDAK!

58199935

Ya, memang. Kontribusi saya bagi dunia kefarmasian paling mentok adalah membuat para apoteker tertawa dan mengenang masa silam, semisal lewat tulisan 97 Fakta Unik Anak Farmasi. Begitu saja, kok. Makanya sekarang saya mau melakukan tinjauan tentang posisi cowok farmasi–yang langka itu–dalam perspektif calon suami karena setelah saya renungkan di taksi dari Salemba ke Palmerah, ternyata ada alasan sahih yang membuat anak farmasi dapat dikategorikan sebagai calon suami yang ideal. Apa saja itu? Ini dia~~!

Selengkapnya!

4 Omongan Yang Sering Dilontarkan Kepada Anak Farmasi

4 Omongan Yang Sering Dilontarkan Kepada Anak Farmasi

Sudah lama nggak nulis tentang farmasi. Tentunya karena saya sudah hampir 1 tahun tidak bekerja lagi di pabrik farmasi. Saya malah lebih sibuk mengenang, fotokopi dan mengisi TTS. Gimana, dong? Nah, untuk meredakan rindu pembaca farmasi di blog ini, saya mau menulis tentang beberapa kalimat berupa omongan yang sering terlontar kepada anak farmasi. Menurut riset yang dilakukan, bekerjasama dengan A.C.Lontong, hampir 99,4% anak farmasi pernah dan akan menerima omongan-omongan di bawah ini. Penasaran? Penampakan? Ini dia!

1. “Ini obat apa, sih?”

Begitu ketahuan kalau mahasiswa farmasi–semester 1 belum ospek sekalipun–seseorang akan mulai akrab dengan obat dan pertanyaan-pertanyaan terkait, terutama yang menjadi judul poin ini. Seringkali Mamak saya menelepon ketika sedang di rumah orang, “Bang, untuk apa obat ini, nak?”. Disebutkanlah sebuah merk. Mengingat di Indonesia Raya ini ada 200-an pabrik farmasi, masing-masing pabrik punya sekian ratus brand obat, maka ketika suatu merk disebut, apakah itu berarti saya akan mudah menyimpulkan dan menjawab dengan lugas dan tuntas berikut farmakoterapi obat orang lain yang sedang ditanyakan oleh orangtua saya? Ya, kali. Ketika saya menjadi karyawan pabrik yang merupakan market leader untuk obat generik, memang menjadi lebih mudah untuk menjawab. Apalagi saya kan PPIC.

Menjadi MIMS atau ISO berjalan adalah keharusan bagi seseorang yang sudah melekatkan farmasi dan hidup kesehariannya. Sejatinya sudah agak dipermudah ketika ada regulasi untuk mencantumkan kandungan obat dengan ukuran 80% dari font merk obat. Jadi, ketika saya ditanya, maka saya akan nanya balik, “isinya apa?”. Namun, bagi apoteker yang kerjanya mengurusi kotak dan angka di spreadsheet, mengurusi oli mesin cetak, mengurusi event, siapa yang ingat seketika suatu obat Lisinopril berasal dari golongan apa, mekanismenya gimana, tahunya ya obat hipertensi. Apakah dia termasuk golongan Angiotensin Receptor-Blocker (ARB), JKW, JK, Win-HT, dan golongan-golongan lainnya.

2. “Wah, bisa baca tulisan jelek, dong?”

Bisa baca tulisan ini?

bertha-004

Baca selengkapnya, yuk!

Perusahaan Farmasi Nggak Peduli Websitenya

Saya bekerja di perusahaan farmasi selama 4 tahun 10 bulan. Kurang 2 bulan untuk bisa masuk TK. Saya kemudian resign alias mengulang (re) tanda tangan (sign) di angka itu. Ya pada intinya saya ini dulu karyawan di perusahaan farmasi. Nah, selama bekerja itu saya tentu saja juga mengamati rumput tetangga karena rumput tetangga katanya lebih hijau. Saya bahkan pernah diterima di sebuah perusahaan farmasi berlatar belakang hijau, dengan gaji yang lumayan bikin ngiler netes. Cuma memang saya tipe pria setia, setia pada yang warna merah.

Nah, sembari jadi karyawan, saya juga mulai jadi blogger, hingga akhirnya blog ariesadhar.com ini ada, serta kemudian buku Oom Alfa juga lantas nongol. Sejak itulah saya mulai tahu soal pagerank hingga perihal Alexa sebagai patokan pemeringkatan website yang ada di seluruh dunia maya. Oh, dunia lain tentu saja tidak termasuk, itu hanya milik Harry Panca. Silakan lambaikan tangan anda ke kemera yang ada disana.

Okesip.

Saya lalu coba iseng-iseng tidak berhadiah, seberapa peduli para pemilik perusahaan farmasi itu dengan websitenya. Saya lalu mengambil sampel alias nyampling, dan bukan nyemplung, dari beberapa perusahaan farmasi yang cukup terkemuka. Yah, jelek-jelek begini kalau bos ngomong saya kan juga memperhatikan data-data yang ditampilkan.

Nah, sebagai standar, saya mencoba membandingkannya dengan blog saya sendiri, iya blog ini, ariesadhar.com.

1

Blog ini ada di peringkat 1,6 juta sedunia. Lumayan juga, lumayan terpuruk maksudnya. Eh, memangnya terpuruk? Sesudah saya melihat peringkat sebuah perusahaan farmasi terkemuka, benar juga. Peringkatnya lumayan kece.

3

Lumayan lho, ketika ariesadhar.com ada di nomor 54 ribu-an, perusahaan farmasi yang ini ada di nomor 15 ribu-an. Jadi wajar ketika blog sebuah perusahaan yang tentunya ditunjang oleh aneka tim IT dan orang-orang yang ahli menang dari sebuah blog pribadi yang jarang-jarang ditengok oleh pemiliknya, seperti halnya blog saya ini.

Eh, begitu saya melihat ke website perusahaan lainnya, saya langsung pengen ke Bandung untuk mengelus Dada. Dada Rosada. Kenapa? Karena tidak ada satupun yang ada di atas ariesadhar.com! Padahal secara dagangan, saya tahu jelas bahwa perusahaan-perusahaan itu pemimpin di bidangnya masing-masing.

Lihat nih, salah satu pemimpin pasar.

2

Global Rank-nya nggak jauh-jauh benar dari ariesadhar.com. Padahal mestinya orang IT atau orang komunikasi korporatnya ada dan harusnya juga jago. Tapi masak cuma 11-12 sama sebuah blog sederhana ini?

Itu baru satu. Yang lain?

4

Noh! Jauh bener sama ariesadhar.com! Padahal secara dagangan, dijamin situ-situ yang pernah opname pasti pernah mencicipi obat-obat dari pabrik yang di atas ini, entah lewat mulut atau lewat jarum yang nancep di infus.

Oya, masih ada lagi sih.

5

Dan kemudian ada juga ini.

6

Bahkan ada website yang bagus, yang kapan itu promo gender para pimpinannya, eh ternyata peringkatnya juga nggak bagus untuk ukuran sebuah perusahaan–menurut saya lho.

7

Lha jangankan itu, wong kumpulannya sendiri di GP Farmasi, peringkatnya juga begini:

8

Yah, begini-begini saya juga bekas orang perusahaan. Jadi, peringkat Alexa web-web tersebut sungguh bikin trenyuh. Kenapa ya kira-kira perusahaan farmasi nggak peduli pada websitenya masing-masing sehingga profil yang di atas ini terjadi? Apakah karena memang jualannya obat resep sehingga tidak perlu populer-populer banget? Ya nggak apa-apa sih, ini kan pilihan sikap dari internal perusahaan. Saya berada dalam posisi bahwa jika saya adalah orang IT atau komunikasi korporat di perusahaan itu, saya nggak terima jika website saya kalah Alexa hanya dari seorang mantan karyawan pabrik dengan harga domain setahun hanya setara ongkos taksi sekali berangkat Cikarang ke Bandara.

Gitu aja sih. Monggo, terserah. Saya tak liburan sik.

Adios!

97 Fakta Unik Anak Farmasi

97FaktaUnikFarmasi

Sesudah pencapaian pageview yang mengharukan pada posting 77 Fakta Unik Mahasiswa Sanata Dharma, maka baiklah saya kembali dengan request dari beberapa pemirsa untuk membuat rekap fakta unik khusus anak farmasi. Yuk!

1. Pada saat SMA, anak farmasi adalah anak IPA *ya iyalah!*

2. 99,9% anak farmasi non SMF stres pada saat praktikum farmasetika

3. 99,9% anak farmasi non SMF mejanya berantakan pada praktikum farmasetika perdana

4. Anak farmasi mendadak jago gambar daun-daunan pada saat praktikum Botani

5. Atau mendadak jago gambar mikroba pas praktikum Mikrobiologi

6. Atau mendadak jago baca sandi rumput pas elusidasi struktur hasil spektrofotometri

7. Anak farmasi pernah membaca buku ‘Ilmu Meracik Obat’

8. Anak farmasi selalu berlindung di balik kata-kata ‘lege artis’ untuk setiap penyimpangan prosedur

9. Anak farmasi lebih tahu buku ‘Formularium Medicamentorium Nederlandicum’ daripada kitab Mpu Gandring

10. Pakaian kebesaran anak farmasi adalah jas lab

JasLab

11. Anak farmasi pernah lari-lari pakai jas lab

12. Anak farmasi yang gaul pernah naik motor pakai jas lab yang berkibar-kibar

13. Anak farmasi rajin bawa kain lap

14. Anak farmasi tampak study oriented karena mukanya sekucel lap

15. Anak farmasi pernah menyampirkan lap di bahu

16. Sebagian kecil anak farmasi pernah dimarahi dosen karena menyampirkan lap di bahu

17. Katanya, “kamu mau jadi pembantu atau mau praktikum?”

18. Oh, itu tadi pengalaman yang punya blog, sih

19. Jas lab anak farmasi pasti penuh noda, kalau nggak bernoda pasti nggak pernah praktikum

20. Anak farmasi pernah bikin laporan praktikum di depan lab

21. Atau di dalam lab


BACA JUGA:
Cerita Farmasi: Jenis Bolos Anak Farmasi
Cerita Farmasi: Ketika Saya Didadar
Cerita Farmasi: Balada Mengerjakan Tugas


22. Anak farmasi mayoritas cewek, dengan keberadaan cowok antara 1:3 hingga 1:20

23. Makanya, anak farmasi cewek doyan jajan di kantin dekat Teknik, dengan tujuan penyegaran mata

24. Anak farmasi nggak pernah merokok di lemari asam

25. Anak farmasi pernah menggendong buku farmakope biar tampak kece

26. Atau kamus Dorland

27. Anak farmasi rajin begadang

28. Anak farmasi tahan bau mencit, berikut kotorannya

29. Anak farmasi tetap bisa makan dengan lahap meski ada bau kotoran mencit

30. Atau bau amoniak

31. Anak farmasi pernah bolos kuliah (2-3 SKS) untuk mengerjakan laporan praktikum (1 SKS). Aneh ya?

32. Sebagian anak farmasi takut pegang kuvet

33. Atau piknometer

34. Atau polarimeter

35. Soalnya mahal!

36. Asisten praktikum sering bilang “ini mahal” supaya praktikan hati-hati

Labu

37. Anak farmasi yang kece pernah bikin granul dengan remasan tangan

38. Anak farmasi meyakini bahwa memberi makan balita lebih mudah daripada mencit, dengan injeksi per oral

39. Anak farmasi pernah menimbang eeknya mencit

40. Anak farmasi ogah pakai sarung tangan kalau pegang mencit

41. Anak farmasi ogah pegang tikus kalau nggak pakai sarung tangan

42. Membunuh mencit adalah perbuatan yang terpaksa dilakukan anak farmasi demi kepentingan ilmu pengetahuan

43. Sebagian besar anak farmasi pernah membunuh mencit secara tidak sengaja

Mencit

44. Anak farmasi senang praktikum, tapi ogah bikin laporan

45. Anak farmasi nggak suka pre-test

46. Juga post-test

47. Demikian pula UTS dan UAS

48. Anak farmasi cowok adalah probandus utama untuk sampel darah dan sampel urine

49. Anak farmasi tetap mengeluh ketika disuruh bawa sampel urine, padahal kalau anak KU malah disuruh bawa feces dan sperma

50. Sebagian besar anak farmasi cowok tahu soal kurva baku karena diajarin teman yang cewek, bukan dari dosen

51. Probabilitas cinta lokasi sesama anak farmasi terbilang tinggi

52. Anak farmasi gemar menggunakan waktu tunggu ekstraksi untuk ngerumpi bin curcol

53. Atau waktu tunggu evaporasi

54. Atau waktu tunggu sintesis senyawa

55. Anak farmasi kalau cuci piring pasti bersih karena biasa cuci-cuci alat-alat gelas

56. Anak farmasi pernah ditanya “obat merk X ini gunanya buat apa?” sama keluarga atau tetangga atau mertua

57. Padahal di Indonesia saja ada ribuan merk obat, makanya anak farmasi sering merasa sebagai MIMS berjalan

58. Anak farmasi cewek biasanya rajin mencatat

59. Anak farmasi cowok jarang mencatat

60. Ada anak farmasi cewek yang nggak pernah berani pegang mencit, tapi nilai praktikum farmakologinya A

61. Ada anak farmasi cowok yang doyan pegang mencit tapi nilai praktikum farmakologinya C

62. Anak farmasi nggak berani nyuntik orang

63. Soalnya diajarinnya nyuntik mencit

Mencit2

64. Atau kelinci

65. Atau nyuntik sampel HPLC

66. Anak farmasi kayaknya kebal dibius kloroform, saking terbiasanya di lab Farmakognosi dengan segala solvent aneh-anehnya

67. Selalu ada anak farmasi IP Cum Laude yang pura-pura nggak bisa ngerjain ujian

68. Atau pura-pura memuji si bodoh yang masih saja belajar 5 menit sebelum ujian dimulai, “Ih, kamu rajin ya!”

69. Selalu ada anak farmasi yang kinerjanya mengecewakan dalam bikin tugas kelompok

70. Karena kepepet waktu, terkadang anak farmasi melakukan replikasi data secara fiktif

71. Atau menghitung ukuran partikel dalam praktikum mikromeritik sesuai wangsit yang diterima

72. Anak farmasi kagum pada hasil sediaan obat pertama yang dibuatnya, seburuk apapun bentuknya

73. Kekurangan cowok menyebabkan anak farmasi cewek dapat melakukan kegiatan berat seperti membuat kandang kelinci

74. Atau angkut jerigen aquades

75. Atau mencukur bulu kelinci

76. Anak farmasi yang cowok, sudah terbiasa dengan gerombolan rumpi anak farmasi cewek dengan modus ‘pembahasan hasil praktikum’

77. Anak farmasi yang skripsinya di lab, pernah nginap di lab

78. Atau setidaknya pulang malam

79. Atau pulang pagi

80. Dan masuk pada hari libur

Laboratorium

81. Anak farmasi termasuk yang paling tinggi passing grade-nya di kampus

82. Waktu tunggu kerja anak farmasi kalau sudah lulus hanya 0-3 bulan saja, kalau waktu tunggu jodoh… *kemudian hening*

83. Anak farmasi minat industri suka bingung kalau ditanya soal klinis

84. Anak farmasi minat klinis juga bingung kalau ditanya soal industri

85. Anak farmasi cowok umumnya bingung kalau ditanya apapun

AnakFarmasiCowok

86. Selalu ada anak farmasi yang keluar sesudah melewati tahun pertama

87. Karena kebanyakan cewek, anak farmasi umumnya menikah 0-3 tahun sesudah lulus kuliah

88. 99,9% anak farmasi yang bergelar S. Farm, pernah memelesetkan (calon) gelarnya sendiri menjadi Sarjana Pertanian atau Perkebunan

89. Anak farmasi pernah membedah mencit atau tikus bunting, untuk percobaan toksikologi teratogenik

90. Penulis buku OOM ALFA adalah anak farmasi #faktapenting2014 #faktapenting2015 #faktapenting2016

91. Anak farmasi pintar ngeles kalau disuruh minum obat

92. Tapi paling jago kalau nyuruh orang minum obat

93. Anak farmasi minat industri yang cewek sebagian ogah kerja di pabrik karena nggak bisa dandan

94. Referensi paling umum bagi setiap laporan praktikum adalah buku OOM ALFA laporan kakak kelas

95. Selalu ada anak farmasi yang kerja di bank

96. Selalu ada anak farmasi yang masuk farmasi karena Bokap-Nyokapnya juga lulusan farmasi

97. Anak farmasi juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati!

Banyak aja ya sampai 97. Ada yang kurang? Silakan ditambahkan di komentar ya! Just for fun! 😀

Cerita Farmasi: Ketika Saya Didadar

pablo (3)

Malam ini kusendiri
Tak ada yang menemani
Seperti malam-malam
Yang sudah-sudah

Ini kok malah nyanyi minta kekasih? Ya pada intinya saya sedang nggak bisa tidur. Bukan karena banyak pikiran, tapi karena tadi pulang kerja malah tidur pulas sampai jam 9 malam. Jadilah sekarang saya melek tidak karuan. Yah, yang penting bukan tengah malam merem-melek, bisa bahaya itu.

Kalau urusannya sudah nggak bisa tidur begini, saya jadi ingat sebuah rangkaian peristiwa yang melibatkan kata kunci “nggak bisa tidur”. Sebuah peristiwa nggak bisa tidur paling bodoh yang pernah saya alami, menurut saya.

Peristiwa apa itu?

Kisah Selengkapnya

Cerita Farmasi: Kelasnya Para Ahli

Edisi luntang lantung gaje masih berlanjut. Sesudah berbagi kesesatan tentang kerja kelompok ala anak farmasi. Sekarang saya mau ngasih tahu kalau di kuliahnya anak farmasi itu ada banyak sekali ahli. Iya, ahli beneran ini. Kalau menurut KBBI dalam jaringan (daring alias online), ahli artinya mahir benar dalam melakukan sesuatu.

Jadi orang-orang yang saya sebutkan di bawah ini benar-benar mahir dalam melakukan kegiatan yang adalah spesialisasinya. Sampai-sampai dalam beberapa kasus, kalau orang itu kebetulan tidak dapat hadir di kelas atau di praktikum, kelas akan bersedih karena kehilangan mereka. Galaunya kehilangan ahli ini di kelas kadang melebihi galaunya ditinggal kawin sama gebetan pas playgroup.

Ahli apa sajakah itu? Ini dia.

Cerita Selengkap-lengkapnya

Cerita Farmasi: Cara Kerja Kelompok Ala Anak Farmasi

Luntang-lantung gaje di hari raya begini bikin galau. Galau bikin terkenang masa silam. Terkenang masa silam bikin males. Males bikin luntang-lantung gaje begini. Dan seterusnya sampai selesai. Nah, sambil terkenang masa silam, ada baiknya saya berbagi disini, utamanya kepada pemuda harapan bangsa yang sedang menempuh masa studi.

Bukan berbagi duit pastinya. Selain karena saya memang tidak lebaran, juga karena saya tidak punya duit untuk dibagi. Saya hanya punya cinta.

Makan tuh cinta. Sampai muntah.

Selanjutnya…

Cerita Farmasi: Farmasetika (1)

Jalan nasib akhirnya membawa saya sebagai mahasiswa baru di fakultas farmasi, dengan sebuah bekal sepele: tukang obat. Udah, ngertinya itu doang. Sebuah bekal yang luar biasa suram untuk mengarungi belantara perkuliahan yang berat. Iya, kuliah saya sudah berat, ini kuliah farmasi pula.

Dan tidak ada waktu untuk bulan madu menjadi mahasiswa. Sesudah ospek, paralel dengan menempuh mata kuliah dasar, kami sudah harus melakoni kegiatan yang adalah trademark mahasiswa farmasi. Sebut saja kegiatan itu sebagai bunga, eh… praktikum.

Semua hal yang sifatnya pertama itu memang selalu seru. Waktu kita baru pertama kali bisa jalan, orang tua akan sorak-sorak kegirangan. Waktu kita pertama kali jatuh cinta, berjuta rasanya. Waktu kita pertama kali putus cinta, rasanya ingin mati saja. Waktu kita pertama kali berhasil menahan diri untuk tidak pipis di celana, orang tua malah tambah girang soalnya pengeluaran pampers sudah bisa dialihkan untuk nomat berdua saja.

Termasuk pertama kali praktikum ini. Nggak heran kalau jas-jas yang warnanya putih bersih mengalahkan iklan pemutih pakaian, plus bau toko yang menyeruak kemana-mana, adalah kondisi wajar di hari Rabu pagi, di depan lab Farmasetika.

Iya. Kami hendak melakoni praktikum Farmasetika Dasar.

Dan bahkan saya belum tahu apa itu arti dari Farmasetika.

Satu hal yang pasti, kami para peserta praktikum, atau yang kerap disebut praktikan, sudah diminta membawa panduan praktikum yang dapat difotokopi sendiri di tempat-tempat fotokopi terdekat, yang kalau tidak difotokopi segera, maka harganya akan naik besok Senin. Hampir sama dengan apartemen sih.

Jadi intinya, saya akan melakoni sebuah praktikum bernama Farmasetika Dasar, dengan jas putih yang masih bau toko dan tentu saja warnanya akan sangat kontras dengan warna kulit saya. Dan judul praktikum saya hari pertama itu adalah Pulvis, Pulveres, dan Capsulae.

Saya masuk dengan pengetahuan yang teramat sangat minim soal dunia kefarmasian. Jadi, ketika dengan benda-benda di depan mata ini, jadinya ya bingung.

Sejauh mata memandang, ada timbangan yang sejak jaman batu digunakan sebagai lambang pengadilan. Iya, masih yang kiri kanan gitu. Seandainya lambang pengadilan sudah digantikan oleh timbangan jarum atau digital, mungkin timbangan di lab ini akan diganti. Lalu ada juga mortir dan stamper. Mortir ini tentu saja bukan alat perang, tapi ya kalau jatuh ke lantai pasti akan bikin masalah karena bentuknya yang seperti mangkok namun jauh lebih tebal. Adapun stamper adalah jodohnya, berupa bentuk batang dengan ujung membulat. Pasangan romantis ini digunakan untuk mencampur bahan obat. Mirip alat buat ngulek sambel, tapi yang ini warnanya putih.

Sumber: protinal.com

Sumber: protinal.com

Di bagian bawah meja praktikum itu, ada sederet alat gelas. Ada gelas ukur, berupa gelas bermulut kecil tapi tinggi langsing dengan garis-garis ukuran di sepanjang bodinya yang seksi. Ada beker gelas yang semacam gelas biasa saja. Keduanya tersedia dalam berbaai ukuran.

Sumber: nurindasarii.blogspot.com

Sumber: nurindasarii.blogspot.com

Tugas dalam praktikum hari ini adalah membuat sediaan yang bernama Pulvis, Pulveres, dan Capsulae itu. Jadi kisahnya, di kali pertama saya menyentuh bahan obat ini, saya langsung disuruh membuat obat. Tapi tentu saja, hasil praktikum ini nggak akan dikonsumsi, kecuali oleh orang-orang yang berniat bunuh diri.

Ibarat membuat masakan yang enak, buat obat juga perlu resep campurannya. Dan untuk tiga macam obat itu, saya harus mengacu pada sebuah buku kuno yang bernama Formularium Medicamentorum Nederlandicum. Melihat bentuk buku yang ada di perpus lab itu, sepertinya buku itu sudah melalui masa-masa di bawah penjajahan Belanda dan Jepang. Mungkin juga menjadi saksi masuknya Sekutu yang boncengan. Plus ikut serta dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama.

Buku itu, bersama beberapa buku resep lainnya, adalah kumpulan penyembuh dari masa silam, ketika orang-orang belum mengenal tablet, sirup, apalagi sediaan injeksi. Dan benar juga sih bahwa anak-anak farmasi baru harus diperkenalkan pada sejarah dengan memegang buku-buku dari jaman Mbah saya masih main layangan itu.

Oke. Resep siap. Panduan siap. Hati yang nggak siap.

Saya sederet dengan Tintus dan Andrew. Kalau Tintus, dari muka udah kelihatan kalau bakal senasib sama saya, sama-sama nggak bisa. Beda sama Andrew yang lulusan SMF, dan pasti nggak akan kesulitan meracik obat macam begini. Jadilah, ketika saya keringat dingin, si Andrew malah tampak biasa saja.

Itu perbedaan mendasar lulusan sekolah umum dan sekolah kejuruan. Skill-nya beda banget..nget..nget…

Sediaan pertama yang saya garap dari tiga serangkai topik hari ini adalah Pulveres. Kalau kening pada berkerut mendengar nama ini, yakinlah ini bukan saudaranya petinggi Israel yang namanya Simon Peres. Juga bukan salah satu teknik mengeringkan cucian selain Memeres. Pulveres ini lebih dikenal sebagai puyer. Pernah dapat obat yang dibungkus kertas, dan isinya setengah mati pahitnya? Itulah pulveres.

Sumber: intranet.tdmu.edu.te.ua

Sumber: intranet.tdmu.edu.te.ua

Sediaan kedua yang menjadi garapan adalah Pulvis. Ini juga nggak ada kaitannya sama polis asuransi. Dan tentu saja bukan sejenis sama gulai pakis. Paling gampang menyebut pulvis ini kalau sudah menyebut bedak. Iya, bedak yang ditaburkan pada ketek karena baunya menggoda iman, itu adalah pulvis.

Sediaan terakhir yang menjadi pelengkap penderita saya adalah Capsulae. Ini pasti lebih familiar, karena nama Indonesia-nya sering diperdengarkan. Iya, kapsul. Sediaan obat yang sebenarnya berupa serbuk, tapi dibungkus oleh dua cangkang kapsul yang biasanya berwarna warni dan dibuat dari gelatin.

Benang merah dari tiga derita hari ini adalah mencampur serbuk. Ya kali gampang cuma tinggal kayak ngaduk tepung terigu sama gula kan?

Saya lempar mortir kalau sampai ada yang bilang gitu.

Masalah pertama sudah jelas, menimbang bahan. Seperti saya bilang tadi, timbangannya adalah lambang pengadilan, jadi benar-benar butuh keseimbangan. Misalkan kita hendak menimbang 100 gram laktosa, kan nggak mungkin kita naruh laktosa langsung di atas timbangan? Jadi kita taruh dulu wadah untuk meletakkan laktosa di sisi kanan. Nah, itu timbangan otomatis serong ke kanan dong? Maka saya harus menambahkan butir-butir besi yang beratnya sama dengan si wadah agar timbangan itu seimbang.

Sesudah seimbang, baru deh saya meletakkan anak timbang 100 gram di sisi kiri, lalu kemudian mengisi wadah dengan laktosa sampai timbangan itu seimbang kembali, kiri dan kanan.

Ngomongnya gampang banget. Giliran lagi nimbang, adanya gemes tingkat kotamadya. Bagaimana nggak gemes ketika kita dikejar waktu, sementara timbangan itu masih saja menggalau dengan tidak mau seimbang? Itu kalau yang ditimbang satu macam serbuk, berhubung ini 3 bentuk sediaan, maka setidaknya ada 9 jenis serbuk yang harus ditimbang, tentunya dengan bobot yang berbeda-beda pula.

Yah, di era modern, menuang butir besi itu sudah digantikan dengan tulisan ‘TARE’ di timbangan digital. Saya segera berdoa agar logo pengadilan segera diganti dengan timbangan digital, siapa tahu menimbang jadi lebih cepat.

Serbuk-serbuk tadi lantas dicampur sesuai resepnya masing-masing, di dalam mortir yang ukurannya sesuai. Dan dasar pemula, saya salah memperkirakan ukuran mortir yang digunakan. Ini sama saja dengan mau makan bakso pakai mangkok soto kudus alias muatannya lebih gede dari wadahnya.

Ya sudah, tumpah-tumpahlah serbuk putih yang berisi campuran entah apa itu di atas meja praktikum. Meja saya sudah jauh lebih kotor daripada dapur restoran pinggir jalan. Apalagi kalau kemudian melihat ke mejanya Andrew di sebelah yang mulus tanpa serbuk sedikitpun di atas mejanya.

Tiga jam berlalu, dan pada akhirnya saya gagal menuntaskan Capsulae sesuai jumlah yang diinginkan. Pulveresnya sih jadi dengan lipatan kertas yang antah berantah. Hanya Pulvis yang agak beres karena toh tinggal mencampur sebagian besar serbuk bernama Talkum dengan Asam Salisilat, lalu masukin ke wadahnya. Si Capsulae? Saking groginya, tangan saya mengeluarkan keringat yang kemudian menempel manja di cangkang kapsul. Jadinya proses mengisi serbuk ke dalam cangkang kapsul menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan, bahkan lebih sulit dari move on.

Sudah dapat dipastikan bahwa praktikum perdana saya ini gagal total. Yang harus dilakukan sesudah praktikum ini adalah pergi ke jalan raya sambil garuk-garuk aspal tanda penyesalan yang mendalam. Tentunya harus dihentikan sebelum dinas perhubungan menangkap saya karena dianggap merusak fasilitas umum.

Nggak apa-apa, namanya juga pertama.

Satu-satunya hal yang menarik dari praktikum pertama ini adalah mulai cairnya hubungan dengan rekan-rekan satu kelompok praktikum. Maklum, habis lepas dari SMA masing-masing, masih pura-pura jaim, padahal hingga bertahun-tahun ke depan orang-orang inilah yang akan menyertai perjalanan pendidikan menjadi apoteker.

Next time better.

Teman

Apa yang harus disyukuri dalam hidup? Pasti banyak, bahkan bisa hidup itu harus disyukuri dalam setiap tarikan nafas. Tapi terkait kemajuan zaman, saya bersyukur berada pada masa yang tepat.

Yah, saya baru punya FB dan HP yang bisa internet 3G (bukan 3gp) pada Desember 2008. Pada saat itu di FB baru ada bule-bule gila. Kalimat itu milik Lussy Dugonk yang waktu itu jadi 1 dari sedikit teman FB saya. Pada Desember 2008 saya memasuki masa-masa akhir studi.

Kenapa tepat?

Karena saya nggak kebayang kalau saya dalam masa studi dan saya sudah punya ponsel pintar plus akses linimasa. IP saya di kuliah yang sudah jongkok akan semakin jongkok, bisa tiarap malah.

Berikutnya, ya, memang saya termasuk kurang mengikuti zaman. Kalau yang lain sudah ber-BB ria, saya malah nggak. Saya setia pada sebuah benda yang saya beli di IP Palembang seharga 1,4 juta bernama LG GW300. Benda itu saya pakai terus sampai kemudian godaan muncul.

Era Android sudah masuk, dan saya termasuk ketinggalan. Nah, teman-teman saya mulai menggunakan aplikasi Whatsapp. Interaksi saya dengan teman-teman memang tidak banyak. Kenapa? Ya karena saya memilih untuk kerja di Palembang, jauh dari teman-teman di Pulau Jawa. Pada awal-awal kerja, sekitar Juli 2009, sempat ada sebuah forum bernama ‘Ngalor Ngidul’ yang isinya email-email kantor berbagai perusahaan farmasi di Indonesia dan isinya ngomongin nggak jelas *halah*

Forum itu perlahan punah seiring pindahnya beberapa orang sehingga mengurangi member forum.

Lalu beralih ke FB, ada sebuah pesan FB isi banyak bernama ‘Jangan Sampai Putus Kontak’, sempat ramai, lalu musnah lagi.

Ketika saya mendengar ada Grup Whatsapp antar teman-teman yang nggak jelas ini, saya mulai goyah. Memang sih, keypad si GW300 sudah memintanya untuk diganti. Akhirnya dengan uang arisan (yang untungnya masih selamat) saya membeli sebuah HP Android, paling murah.

Akhirnya saya join grup Whatsapp. Hore juga. Memang timbul tenggelam, kadang ada, kadang nggak. Wajar, orang kan punya kesibukan masing-masing.

Pas lagi di mobilnya Boriz, saat berhenti menunggu Robert di perbatasan kota Wonosari, dibuatkan sebuah grup Whatsapp bernama UKF DLN2. Dari mana aja udah kelihatan kalau yang buat malas, namanya aja ngasal. 🙂

Tapi kemudian di grup itulah, saya bisa tertawa ngekek sendirian di kamar, atau bahkan di kantor. Hanya sebatas kata-kata yang tertulis, tapi kemudian mampu menyunggingkan senyum hingga membuat tawa terbahak-bahak. Asli ngekek.

Yah, ada yang di Pangkalpinang, ada yang di Pontianak, dan berbagai tempat lainnya, tapi bisa bersatu bercanda bersama di sebuah layanan yang disediakan Whatsapp. Ini hiburan ketika hidup mlai semakin pelik. Membaca sebaris dua baris kalimat di grup itu setidaknya mampu membuat ngekek. Yah, hinaan itu paralel dengan tawa dan canda plus paralel dengan kebersamaan. Jadi satu, tidak terpisahkan. Mungkin inilah yang namanya teman.

Bukan begitu? 🙂