Review Redmi 9C: Okesip Untuk Harga di Bawah 2 Juta

Alkisah, postingan yang ini berhasil menjadi juara 1. Dapat hadiah 3 juta. Dan sebagaimana sebagian dari hadiah postingan ini saya belikan handphone, maka demikian pula dengan hadiah yang paling aktual tersebut. Hehe. Bukan apa-apa, selain sebagai pengingat–berhubung boleh jadi saya nggak akan jadi juara 1 lagi di kemudian hari, juga karena saya punya kendala dengan gawai saya karena lemotnya minta ampun.

Sebagai gambaran, saya sangat sering gagal bertransaksi pada OVO. Sebab, dalam waktu 30 detik yang disediakan, seringkali saya baru berhasil membuka notifikasi. Ketika sampai ke laman konfirmasi, 30 detiknya sudah habis. Mau nggak mau harus beli gawai baru. Boleh jadi memang dia kelelahan, apalagi sejak pandemi, dia sangat sering dipakai tethering.

Kebetulan tanggal 15 September 2020 kemarin adalah hari pertama penjualan Redmi 9C. Tadinya saya pengen juga nyoba gawai lain seperti Realme atau Vivo, cuma kok ya menurut saya Redmi ini sudah bagus dan saya malas adaptasi lagi. Kebetulan juga dapat keluaran terbaru, jadi boleh juga kalau saya beli.

Tentu saja saya beli lewat JD.ID dengan sedikit drama. Awalnya saya ingin beli yang warna oranye, tapi gagal di pembayaran. Pas itu JD.ID bilang stok habis. Walhasil saya pindah ke yang grey dan berhasil. Keesokan harinya, Redmi 9C 4GB/64GB mendarat di pos satpam.

Redmi 9C sedikit lebih besar dari Redmi 5 Plus milik saya. Secara umum cukup nyaman, tapi tentu saja lengkapi dengan anti gores hydrogel berikut softcase. Saya cuma nggak nyaman aja bergawai tanpa kedua perlengkapan itu meskipun sebenarnya tanpa kedua elemen itu, gawai zaman sekarang sudah cukup kokoh. Material untuk bodi Redmi 9C adalah polikarbonat dan kayaknya sih punya ketahanan yang cukup baik.

Salah satu yang unik di Redmi 9C adalah tiga kamera dan satu LED flash yang hadir di bagian belakang agak mojok, bukan tengah. Tentu tidak lupa ada pemindai sidik jari. Cuma menurut saya kok sedikit lebih kecil dibandingkan Redmi 5 Plus.

Ukuran layar Redmi 9C adalah 6,53 inci dengan panel IPS dan resolusi HD+ atau 720 x 1200 piksel. Kemudian untuk layar masih tampak bezel uang cukup tebal di bagian bawah serta tipis-tipis di kiri kanan dengan poni untuk tempat kamera di bagian atas.

Jack audio 3,5 mm ada di bagian pinggir atas dan saya nggak menemukan headset di dalam packaging. Hehe. Beda lagi dengan Redmi 5 Plus. Untuk slot kartu SIM sama dengan Redmi 5 Plus, di sisi pinggir kiri dan sudah lengkap 2 SIM Card dan satu slot Micro SD. Jadi nggak harus melakukan pengorbanan sebagaimana di Redmi 5 Plus karena harus memilih antara SIM 2 atau Micro SD. Kalau untuk tombol power, volume, dll sama persis dengan Redmi-Redmi lainnya.

Redmi 9C menggunakan MIUI 12 dengan berbasiskan Android 10. Karena punya saya adalah yang 4 GB/64 GB jadi cukup lega juga kinerjanya. Redmi 9C mendukung face recognition tapi saya belum coba karena muka saya jelek.

Dengan harga di bawah 2 juta tentu saya juga nggak berharap ada NFC. Juga tidak ada game booster dan saya juga nggak berharap karena saya nggak mabar.

Kamera belakang Redmi 9C adalah 13MP wide, 2 MP macro, dan 2 MP depth. Secara umum sih cukup bagus untuk kepentingan saya, tapi ya nggak perlu berekspektasi akan sangat oke. Bukan apa-apa, namanya harga di bawah 2 juta ya mau sebesar apapun MP-nya kan tetap saja ada harga ada rupa.

Tenaga Redmi 9C menggunakan chipset MediaTek Helio G35 yang cukup tangguh ketika digunakan pada RAM 4 GB. Secara umum katanya sih kuat buat gamng, tapi lagi-lagi, saya anaknya nggak mabar jadi nggak nyoba. Lagian kalau buat nge-game saya balik ke Redmi 5 Plus yang sudah kosong karena WhatsApp-nya dipindah dan Instagram saya hilang…

Baterai Redmi 9C katanya sanggup dipacu 14 jam dengan isi 5.000 mAh. Secara umum sih kalau nggak diapa-apain cukup baik. Cuma memang saya melihat gawai ini nggak cukup kuat untuk di-tethering lama karena bisa langsung drop lebih banyak.

Secara umum, saya sih cukup puas dengan kinerja Redmi 9C sejauh ini. Ceritanya, saya mendapatkan kinerja yang melampaui Redmi 5 Plus dengan harga yang jauh lebih murah. Dan kebetulan dapat yang benar-benar baru nongol, jadi lumayan bisa nulis review abal-abal ini.

Our Lady of Fatima: Church With Chinese Nuance in Jakarta

I visited this Church in July 2015. Five years ago, I tried to reach all churches at the Roman Catholic Archdiocese of Jakarta in #KelilingKAJ project. And I failed because only visit about 20 Churches before I became a father. When you became a father, you can’t spend time going around and forget your son. Haha.

This Church is also known as Toasebio Church, and the nearest TransJakarta bus stop is Glodok. From this bus stop, look for the black gated road. From there, walk and follow the instructions: the Ricci school signboard.

After walking for a few minutes, we will arrive at the Vihara. From there, turn left, then follow the road, and then you will see the Ricci school on the right side. The Toasebio Church is right next to the Ricci school. At first glance, the building is not much different from the Vihara.

The Toasebio Church building may be one of the oldest church buildings in Jakarta because it has been built since the 19th century. At that time, the building belonged to the Tjioe family. The building was purchased in 1950 and used as a church in 1955. The gold and red tabernacles are the former places of respect for the ancestors of this family. Its architecture is typical of Fukien (South China) so that it has been used as a cultural heritage since 1972. Being a cultural heritage is indeed a double meaning that the government recognizes. Still, then if you want to change its shape, you must have a permit—for example, the Bukittinggi Catholic Church. The building is also cultural heritage, but it doesn’t need to be renovated because there are not too many Catholic people.

The name Ricci for the school in the premises refers to Matteo Ricci, a Jesuit priest who spread Catholicism in mainland China. When you enter the church building, at first, it doesn’t feel like a church because the nuance is very typical of Chinese, including there are two lion statues on the front of the Church. Likewise, the red and gold ornaments that fill the building. The building is smaller than the Canisius College chapel, and certainly much smaller than in Mangga Besar. This Church is a form of inculturation with culture because of this Church located in Jakarta’s Chinatown.

Even though the building is ancient, the Toasebio Church cannot be separated from modernization. I didn’t see a microphone on the altar, but the Pastor’s voice was unmistakable. Then you can see a kind of CCTV camera at the top of the altar and the center of the Church. There is no need for a person to take a video because it is there and settled. There is also an LCD placed roughly above Jesus and the Blessed Mother. AIR CONDITIONING? Of course, there is.

wpid-photogrid_1435680310793.jpg

In regular times, before the COVID-19 pandemic, mass in Toasebio was offered on Saturdays at 6:00 p.m., and Sundays at 6:00 a.m., 7:30 a.m., 9:30 a.m., and 6:00 p.m. In Toasebio, there is also a Mass at 4:15 p.m. for Mass in Chinese. Similar to the Sacred Heart Church in Palembang, which also has a Chinese version.

Maria Cave is in the churchyard with a vast size. The building covers the story of Maria de Fatima, including the three children who got the vision depicted in the size of a real child. The Toasebio Church grounds are also car-free; most likely, the car park is in Ricci school.

wpid-photogrid_1435680400044.jpg

After mass in Toasebio, there are exciting choices for culinary noodles. Again, it reminds me of Palembang. When I finished a mass, you immediately went hunting for Jalan M Isa noodles. Glodok is indeed the center for culinary noodles. That’s the story five years ago. Jakarta’s current position is, on average, still online, or even if there is a mass, access is minimal. Yes, we hope the COVID-19 pandemic will pass soon.

4 Ciri Aplikasi Pinjol yang Aman

Bicara soal kemiskinan dan kekurangan uang saya adalah jagonya. Heuheu. Akan tetapi, ya syukurlah sampai hari ini masih survive. Memang butuh ditempa keadaan untuk bisa tangguh, termasuk menghadapi pandemi yang mempengaruhi dompet banyak orang sejauh ini.

Salah satu alternatif untuk mendapatkan uang dalam waktu singkat adalah pinjaman online alias pinjol. Cuma, cap yang diterima pinjol zaman sekarang agak kurang pas karena salah satunya kehadiran pinjol-pinjol yang tidak aman.

Paling kentara tentu seperti beberapa SMS yang saya peroleh:

“Sampaikan kpd Xxxxxxx agar dibayarkan hutangny. Anda sdh di jadikan penjamin oleh Ybs. Jgn nnti anda yg kami cari. Thx.”

Atau yang ngetiknya agak absurd:

“Haelo, boleh brtny apakach inji keiluarga Xxxxxxx, tlzh menghutang dk! perusahaan kam1, mohon smpaikan pdanya segera melakukan perlunaszan atau membantru membayarkan hutangnya, yapng pennt1ng membayzarkan ulang pokok kita untuk menghapuskaqn hutangnya.”

Sebal? Pasti. Lha ketemu terakhir saja 10 tahun lalu kok ya saya dijadikan penjamin buat ngutang?

Photo by Gratisography on Pexels.com

Nah, untuk itu, ketika memang harus menggunakan pinjol pertama-tama kita harus mengetahui tentang ciri-ciri pinjol yang aman. Setidaknya agar kita cukup merepotkan hidup kita dengan mencari uang guna membayar utang dan bukan justru repot oleh hal-hal lainnya sebagaimana SMS yang saya dapat tadi.

Bunga Masuk Akal

Perlu diingat bahwa karakteristik pinjol adalah ketiadaan jaminan sehingga risiko gagal bayar dipenuhi antara lain dengan bunga yang tentu saja lebih tinggi dari KPR maupun kredit khusus PNS, misalnya.

Beberapa literatur menyebut bahwa umumnya pinjaman di bank itu bunganya 0,7-2 persen per bulan. Nah, seringkali pinjol angkanya jauh dari itu meskipun menawarkan kecepatan pencairan. Jadi, pertama-tama bandingkan dulu bunga.

Terdaftar di OJK

Tampak klasik ya, tapi memang demikian adanya. Dan terdaftar itu kita juga ngecek ke situsweb OJK-nya ya. Jangan percaya embel-embel “terdaftar di OJK” dari satu pihak.

Logika dari terdaftar di OJK itu sama dengan produk makanan terdaftar di BPOM. Mendaftar ke negara itu terkait dengan tanggung jawab negara. Dalam hal produk makanan misalnya, ketika BPOM mengeluarkan izin edar, maka ada jaminan kualitas dari produk makanan karena ada dokumen yang diberikan dan ada pengawasan selama periode izin berlaku. Demikian pula dengan jasa keuangan, kurang lebih sama.

Keaslian Alamat dan Situsnya Jelas

Selain aplikasi, biasanya ada situs dan otomatis ada alamat kantor. Bagian ini harus kita pastikan terlebih dahulu. Kalau perlu cek media sosial sampai ke google maps. Paling penting, emailnya bukan gratisan. Perusahaan yang ingin kredibel nggak akan bikin email di yahoo atau gmail. Apalagi perusahaan pinjol.

Salah satu pinjol yang jelas adalah Tunaiku, yang salah satu situs dan aplikasi pinjol paling awal di Indonesia karena sudah ada sejak 2014. Hal yang cukup membedakan Tunaiku dengan sejumlah aplikasi pinjol lain adalah posisinya sebagai produk dari Amar Bank. Amar Bank sendiri sebagai sebuah entitas bank sudah ada di Indonesia sjak tahun 1991. Tunaiku dan Amar Bank berada di bawah Tolaram Group, sebuah perusahaan multinasional dengan headquarter di Singapura dan mengelola 19 brands serta memiliki bisnis di 75 negara.

Posisi sebagai bagian dari entitas bank, maka Tunaiku memilik perbedaan penting dalam hal keamanan dan fleksibilitas dibandingkan sejumlah aplikasi pinjol lainnya. Sudah tentu pengawasan OJK menjadi kunci, termasuk juga keamanan data nasabah.

Tidak Sangat Mudah Memberikan Pinjaman

Lho kok? Ya justru itu, sebagai seseorang yang pernah belajar risk management, saya diajari kalau bagaimanapun meminjamkan uang itu ada risiko gagal bayar. Pinjol yang beneran pasti akan melakukan pengecekan kelayakan dan tidak sembarangan memberikan dana pinjaman.

Soal kemudahan ini bisa juga dilakukan dengan cek ke review pada aplikasi pinjol di Playstore, ya. Biasanya testimoninya ada di situ, baik sedikit testimoni soal pencairan maupun masalah-masalah yang mungkin terjadi dalam proses sebelum mendapat pencairan.

Pengecekan yang dilakukan oleh penyedia pinjaman adalah bagian dari win-win solution. Menurut pengalaman saya, sih, kalau di pengecekan ini yang penting kita bayar minimal saja deh kalau memang lagi seret. Hal itu akan membantu kinerja nama kita di mata Sistem Layanan Informasi Keuangan OJK sehingga kalau lagi mau minjem nggak ditolak-tolak amat gitu.

Oya, kalau di aplikasi, selain cek review, jangan lupa juga cek bintang. Kalau bintangnya di atas 4, sebagaimana Tunaiku ketika saya menulis post ini, lalu cek relevansi setiap review dengan bintang, maka kita dapat menyimpulkan kelayakan suatu aplikasi pinjol untuk kita gunakan sebagai solusi yang nggak akan menjadi permasalahan bagi kita di kemudian hari.

Bicara pinjol dan salah satu pinjol paling awal yaitu Tunaiku maka kita bicara pula tentang penyediaan fleksibilitas dalam bentuk fasilitas tenor yang sangat panjang dan limit yang cukup tinggi untuk ukuran pinjol yaitu tenor 20 bulan dengan limit hingga 20 juta rupiah. Tunaiku sendiri menyediakan layanan kredit pinjaman online tanpa jaminan dan tanpa kartu kredit, plus proses pengajuan KTA-nya bermodalkan KTP serta pengisian formulir sekitar 10 menit saja.

Demikian sedikit tips supaya kalaupun kita harus pakai pinjol, tetap aman. Satu hal yang penting, berutang itu pilihan dan bagaimanapun selagi kita tidak bisa membantu, kita tidaklah pantas menjustifikasi pilihan orang lain baik untuk berutang maupun tidak.

Photo by Tomas Anunziata on Pexels.com