Tag Archives: bukittinggi

CU Hati Kudus dan Jasa Besarnya dalam Transformasi Kehidupan

Kalau para pembaca berada di Kota Bukittinggi, cobalah mampir sejenak ke Jalan Bagindo Azischan. Lokasinya persis di belakang Gereja Katolik Santo Petrus Claver yang letaknya di Jalan Sudirman. Jalan Bagindo Azischan dapat diakses dari Hotel Karisma atau juga Swalayan Masyitah.

Di lokasi tersebut, persis di sebelah gerbang masuk kompleks Yayasan Prayoga yang berisi 4 sekolah dari 4 tingkat pendidikan, terdapat sebuah tempat bernama HK Mart. Sekilas terlihat seperti swalayan biasa saja. Akan tetapi, berbicara soal HK maka ada sejarah yang sangat panjang di baliknya.

Pertama-tama, kita harus kembali ke tahun 1981 alias lebih dari 40 tahun yang lalu. Di bulan November, Pastor Yohanes Halim bersua dengan Bapak Trisna Ansarli dari Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I) dan memperkenalkan tentang Credit Union (CU). Sebulan kemudian, Pastor Yohanes Halim menyampaikan ide tentang CU kepada umat di Paroki Santo Petrus Claver Bukittinggi. Ide koperasi yang diusung oleh konsep CU tampak cukup menarik bagi umat yang kemudian ditindaklanjuti dengan kursus dasar dan studi banding ke beberapa CU yang sudah ada di Sumatera Utara.

Mengacu pada skripsi senior-jauh-banget saya di Universitas Sanata Dharma, Kak Elysabeth Desmawati, dijelaskan bahwa sekembalinya dari studi banding, tepatnya tanggal 2 April 1982 diadakanlah pemilihan pengurus CU di Bukittinggi. Terpilih Bapak N. Mariyo sebagai Ketua Dewan Pimpinan dan salah satunya adalah Bapak M. Sumarno, BA. sebagai anggota. Bapak Mariyo adalah bapaknya Kak Desmawati dan Bapak Sumarno adalah bapak saya~

Pada tahun 1982 tersebut terbentuknya CU yang diberi nama Hati Kudus. Nyambung kan dengan ‘HK’ yang tadi disebut di awal tulisan ini?

Demikianlah kemudian CU Hati Kudus dibentuk dengan modal awal Rp350.000,00 dari 51 orang anggota dengan uang pangkal Rp200, uang simpanan pokok Rp1.000, dan uang simpanan wajib Rp200, serta uang simpanan sukarela. Sampai dengan tahun 2001, modalnya telah berkembang menjadi Rp365.494.675,00. Terakhir saya memutakhirkan data dari bapak saya, modal tersebut sudah jauh lebih besar jumlahnya.

Sebagaimana diketahui bahwa koperasi melandaskan kegiatan berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi memiliki sejarah panjang di negeri ini dan benar-benar bertumbuh dari rakyat. Mengacu pada dokumen Bappenas, pada tahun 1896 tersebutlah seorang Pamong Praja bernama Patih R. Aria Wiria Atmaja dari Purwokerto yang mendirikan bank untuk priyayi. Dirinya terdorong oleh keinginan menolong para pegawai yang makin menderita karena terjerat lintah darat yang memberikan pinjaman berbunga tinggi.

Seorang asisten residen Belanda bernama De Wolffvan Westerrode kemudian memberi masukan berdasarkan konsep koperasi kredit di Jerman. Terlepas dari intervensi Pemerintah Hindia Belanda, koperasi di nusantara tetap bertumbuh hingga kemudian muncul pengaturan-pengaturan. Koperasi menjadi semangat ekonomi yang dibangun oleh gerakan Budi Oetomo pada tahun 1908, Serikat Dagang Islam pada tahun 1927 hingga Partai Nasional Indonesia tahun 1929.

Selepas penjajahan, tepatnya 12 Juli 1947 dilakukan Kongres Koperasi pertama di Indonesia bertempat di Tasikmalaya. Hari inilah yang kemudian ditetapkan sebagia Hari Koperasi Indonesia dan terus diperingati hingga kini.

Konsep murni koperasi sejatinya menjadi hal yang mendasari CU Hati Kudus. Kak Desmawati menyebut bahwa gereja Katolik Santo Petrus Claver di Bukittinggi terdiri atas beberapa suku yang kemudian berkelindan membetuk kebutuhan berkoperasi. Pertama, ada suku Batak yang lebih tepatnya dari Tapanuli Utara. Para perantau mulai berdatangan ke Bukittinggi tahun 1970-an. Mereka umumnya kemudian bekerja sebagai pedagang keliling yang mengkreditkan barang-barang rumah tangga dari kampung ke kampung. Sebagian lainnya menjadi buruh kasar, loper koran, penjaja sayur mayur keliling, hingga tukang angkut barang. Sebagian dari elemen ini cukup mapan, tapi sebagian lainnya tidak dan bahkan cenderung prasejahtera. Kedua, ada suku Tionghoa yang memang sudah ada sejak lama. Mereka memiliki toko di pusat kota dan aktif di gereja. Sayangnya, kebanyakan anak-anak dari suku ini melanjutkan studi ke luar kota begitu lepas sekolah menengah. Dalam 1 tahun, pemuda-pemudi yang meninggalkan kota bisa mencapai 70 anak secara total dengan sebagian besar dari suku Tionghoa. Pada saat naskah referensi itu ditulis yakni tahun 2001, maka saya termasuk 1 dari 70 anak yang meninggalkan Kota Bukittinggi untuk menempuh pendidikan di luar kota. Ketiga, suku Jawa. Terlepas dari sisa-sisa pasukan penumpasan Pemberontakan PRRI–yang saya kenal beberapa diantaranya dan memang kebetulan sudah meninggal, hadir pula kalangan guru, karyawan, dan sejumlah pegawai negeri.

Nah, dalam hidup bermasyarakat terjadi campur baur ketiga suku utama ini. Penting untuk dicatat bahwa sesuai dengan konsep Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah maka sejatinya untuk suku Minangkabau adalah beragama Islam sehingga keterlibatannya di CU Hati Kudus yang merupakan cabang dari gereja tentu menjadi tidak lekat. Walau begitu, bukan berarti terpisah sama sekali. Bapak yang jaga sekolah bersimbiosis mutualisme mulai dari jualan minuman sampai kadang-kadang dapat nasi Padang konsumsi juga~

Kelindan suku Batak, Tionghoa, dan Jawa itu terlihat sekali pada dewan pimpinan awalnya. Ketua Pak Mariyo (Jawa), Wakil Ketuanya Pak Turnip (Batak), dan Anggotanya ada Ibu Lelyana (Tionghoa). Saya sendiri bertumbuh dalam keaktifan bapak saya di CU Hati Kudus ini dan melihat sekali dinamika antar suku yang menarik dan sangat mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika demi membantu sesama.

CU Hati Kudus ini pada mulanya hanya buka sekali sebulan. Kalau tidak keliru, bukanya di minggu ketiga saja persis di hari Minggu. Proses penyetoran simpanan wajib, simpanan pokok, dan simpanan sukarela terjadi pada 1 hari itu saja termasuk juga proses bayar pinjaman berikut bunganya. Makin lama, kebutuhannya semakin besar sehingga kemudian butuh 2 kali seminggu dan lantas bertambah lagi.

Sebagai bagian dari pengurus dan sebagai PNS zaman dahulu sudah tentu bapak saya menjadi pelanggan setia fasilitas pinjaman di koperasi kredit yang turut didirikannya ini. Sudah tidak terhitung lagi kontribusi ‘utang CU’ pada keberhasilan pendidikan saya dan juga adik-adik. Belum lagi, karena skemanya koperasi, maka semakin banyak kita berkontribusi lewat transaksi, semakin banyak juga dividen alias Sisa Hasil Usaha (SHU).

Percayalah, hari-hari ketika Rapat Anggota Tahunan (RAT) di bulan Februari merupakan salah satu momen kegembiraan dalam hidup orangtua saya. Pertama, karena akan ada SHU yang dibagikan dan jumlahnya boleh dibilang cukup lumayan. Kedua, karena bapak saya juga akan menerima ‘gaji’ sebagai pengurus CU. Iya, kerjanya sepanjang tahun tapi gajiannya setahun sekali saja. Ya, namanya juga sampingan~

Melalui koperasi, bapak saya juga sudah berkeliling Sumatera Barat untuk mengajar mengenai koperasi kredit. Beliau memang guru, sehingga semangat mengajarnya itu selalu ada bahkan ketika sudah pensiun dan menunggu jadwal Mamak saya pensiun.

Saya juga mengenal salah satu nama yang menjadi Ketua Badan Pengawas CU Hati Kudus saat pendiriannya: J. Simamora. Dia adalah Paktua saya yang 10 tahun sesudah mendirikan CU Hati Kudus mutasi ke Kota Bandung, tepatnya tinggal di Kota Cimahi.

Ketika bersua beliau semasa hidupnya, Pak Sim–panggilan akrabnya–kerap berkisah soal pendirian CU tersebut dan bagaimana dampak baiknya bagi anggota. Beliau juga berkisah mengenai upaya membangun koperasi serupa di Cimahi dan sudah mulai ada gerakan. Saya tentu tidak update lagi sejak tahun 2017 ketika beliau meninggal dunia seperti saya tulis di post ini.

Saya sendiri juga merupakan anggota CU Hati Kudus secara nama dan secara uang. Baru berhenti ketika orangtua saya menyelesaikan tugas di Bukittinggi dan kemudian beralih ke Jawa untuk mengisi masa purnabakti. Saya juga mencicil laptop pertama dan sepeda motor pertama saya lewat CU. Dari sisi bunga, penawaran di koperasi kredit sangat kompetitif. Belum lagi ketika kontribusi berupa pinjaman juga diperhitungkan sebagai dividen kala RAT. Enaknya CU ya itu, tidak ada keuntungan buat entitas atau orang per orang. Setiap keuntungan kemudian dibagi menjadi sisa hasil usaha. Dan karena dikembangkan bersama, maka transparansi menjadi kunci. Tuh lihat sendiri pada tahun 2015 doorprize-nya sudah sepeda motor. Hal yang tidak terjadi 10 tahun sebelumnya. Pertumbuhannya drastis sekali, kan?

Pada tahun 2022, hari jadi Gerakan Koperasi Indonesia mengambil tema “Transformasi Koperasi untuk Ekonomi Berkelanjutan” dengan gelora gerakan “Ayo Berkoperasi”. Di era modern ini, transformasi koperasi jelas menjadi penting karena model perekonomian juga berubah. Sebut saja pergerakan di pasar saham yang menggaet mayoritas milenial atau pasar kripto yang menawarkan high risk high return. Belum lagi dengan format-format lainnya.

Berkoperasi sejak lama telah menjadi kisah sukses. Seperti saya sebut tadi, sekurang-kurangnya dibuktikan dari saya sendiri yang uang kuliahnya berasal dari kombinasi pinjaman ke CU untuk semester ganjil dan SHU CU untuk semester genap. Dan teman-teman masa kecil saya juga demikian. Ada yang sudah jadi Pejabat di Kementerian Keuangan juga dan pas kecilnya juga saya bersua Mamaknya lagi nyetor di kantor CU.

CU Hati Kudus sejak tahun 1982 telah menjadi pendukung transformasi banyak manusia, mulai dari peningkatan kesejahteraan hingga derajat melalui pendidikan. Hal itu kemudian menjadi wujud nyata peran koperasi. Dan agar koperasi juga tidak menjadi modus yang merugikan masyarakat sejatinya peran Kementerian Koperasi dan UKM untuk pengawasan juga menjadi sangat krusial. Di era deregulasi, peran pemerintah justru menjadi sangat terdepan. Ingat bahwa paradigma administrasi publik telah menjelma jadi New Public Service (NPS) dengan fokusnya adalah citizen, bukan sektor bisnis belaka.

Ayo Berkoperasi!

Berlibur ke Kuala Lumpur, Kunjungi Tempat-Tempat Hits Ini

via: kuala-lumpur.ws

Ingin berlibur ke tempat-tempat yang menarik tanpa harus menghabiskan waktu panjang dalam perjalanan? Kuala Lumpur adalah pilihan yang tepat. Yup, Kuala Lumpur merupakan satu kota dengan banyak tempat wisata menarik. Biaya murah, pemandangan indah, barang-barang bagus, dan sejuta pengalaman seru bakal kamu dapatkan hanya dengan mengelilingi satu kota.

Ibu Kota Malaysia ini tidak hanya terkenal akan kebersihannya, tempat-tempat wisata di Kuala Lumpur juga banyak dikenal oleh wisatawan dari luar Malaysia. Seperti Menara Kembar Petronas yang juga merupakan bangunan terkenal di dunia. Saat kalian mengujungi menara ini, kalian akan melihat keindahan kota Kuala Lumpur dari ketinggian. Untuk merasakan pengalaman tersebut, kalian cukup membayar tiket masuk seharga RM 80.00 yang akan mengantarkan kalian menuju ke jembatan penghubung yang berada di lantai 41 dan 42 gedung.

Tempat wisata di Kuala Lumpur lainnya yakni Menara Kuala Lumpur. Seperti halnya Menara Kembar Petronas, Menara Kuala Lumpur juga menawarkan pemandangan dari ketinggian. Namun tidak hanya itu yang bisa didapatkan di KL tower ini. Ada sebuah ruangan bernama Sky Box yang menguji nyali pengunjung. Sky Box adalah sebuah ruangan yang terbuat dari kaca tebal transparan, menjorok ke bagian luar gedung. Dari sana, kalian bisa melihat pemandangan di sekeliling termasuk di bawah.

via: asia361.com

Cukup dengan ketinggian, mari kita menuju ke tempat wisata di Kuala Lumpur dengan suasana yang asri kehijauan. Tempat wisata tersebut ialah Lake Garden. Lake garden merupakan tempat wisata di Kuala Lumpur yang berdiri di tanah seluas 91 hektar, sehingga jika berkunjung ke tempat ini kalian bisa menemukan beberapa tempat wisata menarik sekaligus, seperti taman bunga sepatu, taman rusa, monumen nasional, taman anggrek dan masih banyak yang lainnya. Untuk berkeliling ke semua tempat wisata di Lake Garden, kalian bisa menyewa sepeda sekitar 3 ringgit selama 30 menit.

Tempat wisata di Kuala Lumpur kali ini cocok untuk kalian yang hobi berbelanja, Bukit Bintang namanya. Wilayah Bukit Bintang dipadati oleh pusat perbelanjaan, cafe, bar, pasar malam, dan juga restoran. Yang menarik dari pusat perbelanjaan Bukit Bintang yakni semua barang yang dijual asli tidak ada yang KW. Sangat cocok buat kalian yang suka belanja dengan kualitas barang yang terjamin. Kalau di Indonesia, bukit yang harus kamu kunjungi itu, ya Bukittinggi.

via: wonderfulmalaysia.com

Setelah lelah berbelanja, pas rasanya jika menuju ke Jalan Alor untuk memuaskan hasrat lidah. Di Jalan Alor ini kalian bisa menemukan banyak restoran dengan aneka hidangan istimewa. Surga makanan yang satu ini sangat ramai saat malam hari, jadi jangan kaget jika kalian ke Jalan Alor menemukan meja dan kursi restoran hingga menutupi jalan. Oh iya, untuk kalian yang tidak makan babi, harus berhati-hati, karena sebagian dari restoran di Jalan Alor menyajikan hidangan yang mengandung babi.

Yang satu ini merupakan tempat wisata di Kuala Lumpur dengan suasana religi yakni National Mosque. Masjid yang mampu menampung 15 ribu orang ini memiliki interior yang indah. Bagi kalian yang bukan orang muslim, tak perlu kuatir, karena pihak masjid memperbolehkan kalian untuk berkeliling di kawasan masjid. Dengan pengecualian pakaian harus sopan dan diluar jam beribadah.

via: travelingthruhistory.com

Daftar tempat wisata di Kuala Lumpur yang terakhir adalah Aquaria KLCC. Di tempat wisata yang satu ini, kalian bisa menikmati pemandangan bawah laut tanpa harus berbasah-basahan. Banyak dari wisatawan yang datang ke tempat ini membawa serta anak-anaknya, karena tidak hanya indah namun juga cocok untuk edukasi anak-anak.

Masih belum puas dengan tempat wisata di atas? Cek dulu tempat hits wisata Kuala Lumpur 2017 yang lain, dan pastikan kamu menghabiskan liburan selanjutnya di tempat ini.

18 Alasan Kamu Harus Datang ke Bukittinggi

Well, well, well. Sudah berapa kali saya menulis tentang Bukittinggi di blog ini. Cukup banyaklah pokoknya. Cari saja sendiri, kalau nggak percaya. Memang, sih, saya lelaki, susah dipercaya. Tapi plis, tolong dipahami! Okesip. Bicara kota Bukittinggi tentu saja nggak akan ada habisnya. Sudah begitu, kamu belum pernah datang ke Bukittinggi? Ah, sayang sekali. Supaya semakin termotivasi, berikut ini saya beberkan secara gamblang bahwa ada DELAPAN BELAS alasan kamu harus datang ke Bukittinggi. Banyak, kan? Makanya. Terus apa saja 18 alasan itu? Ini, nih.

1. Malalak dan Lembah Anai

Anggap saja kamu datang ke Sumatera Barat via langit. Otomatis kamu akan mendarat di Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM). Setelah bergelut dengan serbuan tawaran travel yang dimulai dari sejengkal sejak pintu keluar. Yup, sebagaimana banyak jalan menuju Vatikan sambil selfie, eh, Roma, maka ada beberapa jalan juga menuju Bukittinggi dari BIM ini. Dua jalan yang paling umum boleh dibilang memiliki karakteristik tersendiri, sekaligus menjadi alasan bagi kamu untuk pergi ke Bukittinggi. Kenapa? Baru menuju Bukittinggi saja, sudah disuguhi pemandangan keren.

Via Malalak, boleh dibilang adalah jalan alternatif dari jalur utama Padang-Bukittinggi. Umumnya, travel tidak akan lewat Malalak kecuali ada penumpang yang turun di Balingka dan sekitarnya, atau jalur utama sedang macet parah. Menurut seorang Bapak yang turun di Balingka waktu saya mudik via Malalak kemaren, jalur Malalak ini adalah menyusuri pinggangnya gunung Singgalang. Begitu saya googling, katanya Tandikat. Yang bener yang mana? Heu. Jalur ini boleh dibilang rawan longsor dan penuh batu besar, plus ada beberapa cerita mistis soal batu besar. Plus, dari ketinggian tertentu, kita bisa melihat LAUT! Bayangkan betapa tingginya.

Sumber: 2persen.wordpress.com
Sumber: 2persen.wordpress.com

Terus kalau via jalur normal, sudah dipastikan kita akan menyaksikan pemandangan klasik benama Lembah Anai, dan air terjun yang legendaris. Saking legendarisnya, ketika musim liburan para pengunjung mampir dan, ya, lumayan bikin macet. Tapi, tetap saja, indah.

west-sumatra-trip-2013-0221
Sumber: terbanglayang.wordpress.com

Jadi nggak usah takut, lewat manapun, selalu ada alasan untuk pergi ke Bukittinggi.

Kumplit disini!

Tentang Membuang Sampah

Saya baru saja mengakhiri perjalanan yang biasa disebut mudik. Meski saya tidak berlebaran, tapi karena SKB 3 Menteri menitahkan untuk berlibur, maka saya lantas menjadi salah satu manusia yang terlibat dalam pergerakan massa bernama mudik lebaran. Well, sejatinya saya tidak terlalu suka untuk mudik di kala lebaran. Tentu saja bukan karena teror pertanyaan ‘kapan kawin?’ yang melanda kaum-muda-usia-matang-tapi-belum-kawin-kawin kayak saya, melainkan karena kampung halaman saya namanya Bukittinggi.

Bukittinggi adalah kota mini di deretan bukit barisan. Saya sebut mini karena dari rumah saya yang di pinggir kota sampai ke tengah kota itu paling cuma butuh 5-10 menit karena jaraknya paling cuma 4 km. Saking mininya, dalam durasi 30 menit, saya bisa putar-putar Bukittinggi hingga Kantor Pos sebanyak 4 kali, sudah melebihi talak cerai. Bukittinggi menahbiskan dirinya sebagai kota wisata dengan objek andalan bernama Ngarai Sianok, Panorama, Lubang Jepang, Jam Gadang, hingga yang terbaru Great Wall (atau mungkin bisa disebut tembok gadang kalau diterjemahkan secara bebas).

IMG_5199

Nah, kenapa saya malah malas pulang ke rumah ketika saya tahu bahwa kota kelahiran saya itu adalah kota tujuan wisata?

selengkapnya!

Jobless Escape: Cisantana

Sesudah mengambil keputusan penting untuk resign dari pekerjaan yang saya tekuni selama 4 tahun 10 bulan, saya tentu saja menjadi jobless. Dalam terminologi yang lebih kejam, bisa disebut sebagai pengangguran. Nggak apa-apa deh, minggir sejenak demi kebaikan bersama. Lagipula, setidaknya untuk 1 bulan ke depan, tabungan masih cukup untuk sekadar makan indomie goreng.

IMG_4373

Dan persis sehari sebelum hari terakhir di kantor, saya dapat ajakan untuk makan cwi mie secara gratisan oleh Mas Didit, lulusan IT yang jadi juragan bahan kimia. Yah, namanya mau jobless saya sangat peka pada sesuatu yang bernama gratisan. Maka, berangkatlah saya ke tempat Oma untuk makan cwi mie.

Ngobrol-ngobrol lama, cwi mie-pun menjelang tutup. Eh, begitu saya, Bayu, Agung, Mas Didit, dan Mbak Metta keluar, tetiba ada Pak Paulus di luar. Obrolan santai kemudian berlanjut. Yup, manusia-manusia ini adalah orang-orang yang saya kenal karena sama-sama tergabung di bagian Pelayanan PITC. Sepelenya, orang-orang yang dipilih untuk melayani.

IMG_4435

Nah, sambil makan bakso, Pak Paulus lalu bilang, “Gue mau ke atas besok. Mau ikut nggak?”

Saya masih bingung. Tapi lantas Mas Didit menimpali, “Ke Cisantana? Ayo aja! Melu ora?

IMG_4433

Sebagai orang yang keesokan harinya akan jobless dan pasti bingung hendak melakukan apa, saya segera mengiyakan ajakan ini. Lagipula, saya sudah cukup lama nggak menginap di tempat peziarahan yang sesuai agama yang saya anut. Terakhir kali itu sekitar tahun 2008, bersama pacar, yang sekarang sudah menjelma menjadi mantan. Memang kemudian saya masih menyempatkan diri mampir ke Sri Ningsih, Ganjuran, Jati Ningsih, hingga Sendang Sono, tapi semuanya tidak menginap. Bayangan seru dinginnya Cisantana langsung memenuhi akal pikiran saya, hingga kemudian memutuskan ikut. Sudah kebayang juga membawa Eos karena sebelumnya dia baru sempat mengambil gambar di Sendang Sono.

IMG_1805

Dan Sri Ningsih.

IMG_3255

Serta Lembah Karmel.

IMG_4311

Perjalanan dimulai jam 11 malam karena saya belibet masukin si BG ke kamar, berhubung mau ditinggal beberapa hari. Eh, ternyata ada peserta tambahan selain EO Pak Paulus, Mas Didit, dan Mbak Metta. Pak Tri ternyata berhasil dirayu untuk ikutan juga. Kadang-kadang saya iri sama mereka-mereka yang kerjanya swasta begini, sehingga bebas soal waktu. Inipun kalau saya tidak jobless nggak bakal ikutan juga.

Profil perjalanannya kira-kira seperti ini:

Untitled

Selengkapnya

Turis Sehari di Bukittinggi

Jadi turis itu sebenarnya nggak susah. Bahkan di tanah kelahiran sendiri juga bisa jadi turis. Itu yang saya lakukan beberapa waktu silam, ketika mudik dalam rangka mengurus ini dan itu perihal masa depan. Ah, tenang saja, bukan soal kawin kok.

Namanya Bukittinggi, semuanya bisa berlangsung dengan mudah. Untuk sebuah surat yang di RSUD Kota Bekasi saya harus tunggu sana dan sini, di Bukittinggi semuanya lancar seperti jalan tol jam 3 pagi. Dengan kenyataan itu plus kebetulan memang jadwal orangtua saya mengajar penuh, ya sudah, saya dilepas sendirian untuk mengurus pembaharuan SIM C dan ganti kartu NPWP. Dan namanya Bukittinggi, semuanya bisa jadi dengan cepat. Saya lalu beranjak pada tujuan terakhir, Hotel Rocky, untuk city check in penerbangan saya kembali ke realita keesokan harinya.

Jam setengah 11, urusan sudah kelar. Enaknya kemana, nih?

Enaknya apa dong?

5 Hal Sederhana yang Mempermudah Hidup

BAIKLAH! Sudah sepekan saya nggak posting di blog. Bukan apa-apa, sih. Sejak sore kala saya ulang tahun hingga sekarang, hujan turun tiada henti, layaknya cinta diam-diam yang sudah tiada bisa lagi dipendam oleh hati. Hujan otomatis membuat provider modem saya seret sinyal layaknya pemiliknya yang seret gebetan. Mana nggak mungkin juga, kan, ngeblog dari kantor. Plus, hujan tiada henti ini membuat keadaan tempat tinggal jadi nggak nyaman. Saya juga kemudian pindah ke kamar lain, mengingat kamar lama saya—lebih dari dua tahun saya huni—mengalami kebocoran mengenaskan. Silakan tertawakan bule geje di iklan “eh.. bocor.. bocor…”, nyatanya, saya mengalami sendiri 3/4 area tembok kamar menyerap air dan sama sekali tidak nyaman. Kondisi itu belum ditambah fakta bahwa jalanan di depan kos saya kadang-kadang menjelma jadi saluran air.

Emang apa hubungannya banjir sama ngeblog?

Nggak ada, sih. Namanya juga mencari pembenaran atas kemalasan. Paralel dengan mencari gebetan atas mantan.

Banjir rupanya bikin saya banyak merenung. Soalnya kan hujan gede ini beberapa kali terjadi dini hari, dan bikin banjir juga dini hari. Saya nggak bisa tidur sambil terus bertanya kenapa saya jomblo memantau air yang leluasa menerabas sisi-sisi relung hati tembok kamar, plus air yang mengalir deras di jalanan depan kos. Hasil permenungan itu, saya menemukan beberapa hal sederhana yang kadang nggak kepikir, tapi sesungguhnya sangat membantu mempermudah hidup.

Yuk, dilihat!

Ayuk!!!

Agar Tiga Pilar Bisa Menggelegar

Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN yang ke-22 sudah diselenggarakan di ibukota Bandar Seri Begawan. Sebanyak 9 kepala negara hadir, plus 1 perwakilan karena kepala negara yang asli sedang kampanye. Namanya juga KTT, jadi pembahasannya juga tingkat dewa alias tingkat tinggi. Tentunya lebih tinggi daripada kota kelahiran saya, Bukittinggi.

#apasih

Tersebutlah 3 pilar yang selalu disebutkan dalam sosialisasi komunitas ASEAN 2015 yakni keamanan, ekonomi, dan sosial budaya. Sebenarnya benda-benda ini tidak cukup asing, terutama bagi produk P4 kayak saya. Ketahuan kan saya umurnya berapa. Siapapun anak masa lalu pasti tahu IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS alias ideologi politik ekonomi sosial budaya pertahanan dan keamanan nasional. Jadi, bagi orang Indonesia, mestinya nggak asing dengan tiga pilar ini.

Nah, bagaimana agar ketiga pilar itu bisa menyatukan rakyat dan menciptakan masa depan layaknya tema KTT ASEAN 2013?

Yang pertama-tama harus dibereskan adalah isu laut Cina Selatan, karena ini akan menjadi poin di pilar keamanan, meskipun jatuh-jatuhnya juga di ekonomi. Rebutan dengan Cina, yang mana Cina enggan bernegosiasi dengan pihak ketiga atas nama ASEAN dan lebih memilih untuk bilateral negara per negara. Ada masalah pula karena Kamboja yang adalah sekutu dekat Cina, memilih mengikuti sikap Cina. Topik ini sebenarnya tersembunyi di balik senyum para pemimpin negara dalam akhir KTT. Padahal kalau ini tidak diselesaikan, bisa memicu pertentangan di proses penguatan menjelang Komunitas ASEAN 2015.

Yang kedua adalah terobosan peningkatan peran di dalam komunitas. Penerapan visa umum ASEAN, dan juga kartu perjalanan bisnis ASEAN, serta terobosan lainnya guna mengurangi batas-batas harus terus digalakkan. Nggak mungkin dong, ngakunya teman, tapi teman nggak boleh berkunjung ke kamar kos kita dengan akses khusus. Kayak saya dulu, teman saya punya akses langsung ke kamar saya via kunci kos. Beda dengan tamu-tamu biasa yang nggak saya kasih akses. Namanya komunitas, menurut saya ya seperti itu.

Yang ketiga, sebagai wilayah yang tergolong new emerging (bukan NEFO GANEFO lho ini ya), negara-negara di ASEAN harus menguatkan peran agar memegang peranan sentral khususnya di perkembangan negara-negara yang dikatakan sedang berkembang. Kita tahu bahwa konsep kawasan semacam ASEAN ini sudah jamak di berbagai negara di dunia, dengan posisi masing-masing. Lihatlah Liga Arab atau Uni Eropa. Nah, ASEAN sebaiknya menyasar di konteks negara berkembang karena memang sepertinya yang negara maju di ASEAN ya baru Singapura. Padahal ya sejak saya SD, Indonesia ini dibilang negara berkembang.

Berkembang terus, kapan jadi maju ya?

Jangan lupa satu lagi kalau Komunitas ASEAN sudah punya road map dan blue print. Pemantauan pencapaian, seperti yang saya lakukan dalam kinerja pekerjaan saya via balance scorecard, juga harus dilakukan. Kalau nggak tercapai ya dicari tahu root cause-nya. Pokoknya, dijamin agar road map dan blue print bisa tercapai dengan baik.

Nah, itu utamanya tugas Sultan Brunei di tahun 2013 ini sebagai ketua bergilir ASEAN. Tujuannya jelas, agar bisa membuat ASEAN lebih menggelegar di kancah internasional dan mewujudkan Komunitas ASEAN 2015 yang sukses.

Salam Menggelegar!

Heavy 13

Baiklah, rupanya harus menunggu tengah malam supaya bisa menulis posting ini. Ya nggak apa-apa, toh barusan saya menang 4-3, pakai Bayern Muenchen versus Manchester City. Nggak apa-apa kan? *mulai salah fokus*

Kalau sebelumnya saya punya posting berjudul 30 menit yang luar biasa, maka sekarang saya kurang bisa mendeskripsikan 30 menit yang tadi sore menjelang malam saya alami.

Begini ceritanya *gelar kloso*

Sejak di Cikarang saya memang agak LDR-an sama gereja. Jarak kos-kosan ke gereja adalah kira-kira 13 kilometer. Tentunya ada banyak umat lain disini yang menempuh jarak lebih jauh. Masalahnya, didikan saya itu tidak mengenal jarak jauh.

Di Bukittinggi, dari rumah ke gereja, 13 kilometer itu adalah berangkat dari rumah, sampai ke gereja, lalu pulang lagi ngambil Puji Syukur lalu balik lagi ke gereja. Kemudian di Jogja, 13 kilometer itu memang sekitar jarak kos-kosan ke Kota Baru. Tapi jalan Paingan-Kota Baru nggak mengenal kontainer kan? Di Palembang lain lagi. Kalau mau mengukur jarak waktu saya di kos-kosan Cece Meytin ke Kapel Seminari, maka 13 kilometer itu bisa satu bulan misa, lengkap dengan Jumat Pertama, pembukaan Bulan Maria, plus penutupannya.

Makanya, saya pernah bilang ke tante saya yang suster bahwa perjalanan ke gereja disini seperti perjalanan ke Golgota. Bedanya, ini Golgota masa kini. Komentarnya sih singkat, “bisa jadi.”

Nah, bermula dari tukar hari tugas antara saya dengan Dian (padahal di PSM saya ngertinya Ria -___-), akhirnya saya dapat tugas lektor Novena Roh Kudus hari kedelapan, 17 Mei 2013. Sebenarnya kan enak kalau Jumat, besoknya libur, jadi bisa leyeh-leyeh.

Cuma siapa sangka kalau si tanggal 17 itu menjadi saat pertama kalinya saya naik sepeda motor sambil berdoa?

Siang sempat hujan sih, tapi pulang kantor sudah oke. Kemudian saya coba kutak kutik si Young yang rusak, dan gagal. Kemudian saya mandi dan persiapan berangkat. Begitu buka pintu kos, sudah lihat hawa nggak enak dari awan yang menggantung seram di sebelah kiri. Hawa-hawa hujan gede.

Saya berangkat tanpa mengenakan mantel, tapi kemudian segera pakai mantel di depan Wisma Mattel. Nggak nyangka, ternyata airnya sudah kemana-mana. Jalan masuk Jababeka 2 sudah banjir, demikian pula di depan kantor. Yang bikin ngenes, arah jatuhnya hujan itu diagonal 45 derajat, dan kok ya sejalur dengan arah perjalanan saya. Jadilah ini muka semacam refleksi akupuntur pakai air hujan yang tajam-tajam. Mana kaca helm nggak mungkin ditutup, soalnya gelap.

Begitu keluar pintu 10 dan hendak menuju Kalimalang, saya berbelok ke kanan seperti biasa, dan tidak memperhatikan bahwa ada lubang besar di depan saya. Si BG melaju melindas lubang itu dan ternyata dalamnya tak taksir ada 20-30 cm, karena kemudian rodanya si BG yang depan sempat meloncat. Saya sudah berpikir hendak jatuh saja ini, tapi ternyata pegangan tangan kanan saya–sambil tetap ngegas–masih bisa menahan keseimbangan sehingga tidak jatuh.

*Puji Tuhan*

Ini bukan hujan biasa yang jelas, dan setahu saya jalan Cikarang-Cibarusah itu kalau hujan yang nggenang. Satu hal yang perlu disyukuri adalah itu jalan habis dipoles. Jadi nggak perlu terlalu khawatir sama lubangnya yang besar-besar itu.

Begitu masuk Jembatan Tegalgede, genangannya sudah se-footstep si BG. Syukur pula bahwa saya pernah diberi pengalaman banjir di Palembang dulu. Jadi tahu gimana caranya melajukan sepeda motor dengan baik dan benar agar tidak mati mesin. Khusus bagian Tegalgede ini lewat.

Lalu berlanjut ke daerah dekat POM Bensin tempat saya dan si BG jatuh untuk pertama kalinya. *tuh kan mirip jalan salib ke Golgota*

Sudah ngeri aja karena bolongan di jalan itu rata ketutup air. Saya berbekal ngikutin jalurnya depan saja, dan untungnya lolos sampai ke depan Carrefour. Dan kebetulan sih, banjir juga, juga se-footstep si BG. Tangan saya nggak lepas dari gas, di gigi 1, plus kaki saya nggak lepas dari rem belakang, plus tangan yang ngegas tadi juga jaga-jaga di rem. Ini kan gigi 1, takutnya lompat, nabrak yang depan. Kan berabe.

Lalu saya tahu masih ada titik lagi yang banjirnya pasti tinggi. Itu di jalan naik jembatan yang menyeberangi Tol Cikampek. Sudah menutupi mesin kalau itu, disinilah saya mulai berdoa sambil naik sepeda motor.

“Tolong Tuhan.. Tolong Tuhan..”

Lebay yak? Mungkin. Tapi ini naluriah.

Jembatan lolos. Dan saya tidak punya pengalaman cukup soal hujan intensitas besar di jalan sesudah itu. Pikir saya, harusnya sih udah beres.

EH SIAPA BILANG?

Ternyata di pertigaan dari Gemalapik airnya sudah mulai tinggi lagi. Saya ambil kanan dan tinggi airnya sama dengan yang di tanjakan mau lewat jembatan. Udah ngeri aja kalau si BG mati di tengah jalan, soalnya di belakang mobil besar-besar. *jangan dibayangkan*

Sesudahnya, genangan semata kaki jadi biasa aja buat saya. Tinggal libas sana sini. Nggak banyak lagi masalah, termasuk di perempatan EJIP yang sebenarnya kan cekungan itu. Saya mulai tenang, ayem. Lagipula ini kan sudah masuk daerah perumahan yang terkenal. Yang dikelola oleh developer ternama. Harusnya kan nggak banjir. Apalagi begitu lewat kali, ya nggak meluap.

EH SIAPA BILANG?

Sesudah bundaran Elysium saya mendapati genangan yang LEBIH tinggi daripada yang ada di pertigaan dari Gemalapik. Bahkan mobil-mobilpun melewati jalan ini dengan galau. Karena rata-rata city car. Kalau tidak salah, dalam posisi saya mengendarai si BG, airnya sudah hampir ke lutut saya. Ketinggiannya persis waktu saya kebanjiran di Sekip. Dan jangan lupakan arus dari citycar yang berjalan bersisian dengan saya.

Ngenes.

Untunglah, akhirnya sekolah yang saya sebut gereja itu segera terlihat dan tidak ada genangan lain sesudah itu. Fiuhh. Saya keluar kos 6 kurang 10, dan sempat buka sepatu, ganti sandal, pakai jas hujan, dll, sampai ke gereja 18.20, jadi ya 30 menit. Tiga puluh menit naik motor yang mendebarkan, ehm, cenderung mengerikan.

Tapi, ada banyak orang yang bersama saya di jalanan? Kok mereka bisa ya?Dan ini saya sekali-sekali, dalam rangka mau ke gereja. Kalau mereka yang statusnya mau pulang ke rumah bagaimana yak? Kok bisa?

I don’t know.

Kebetulan yang absurd mungkin ya. HP pas rusak, yang mana daripada seluruh kontak lektor ada di HP itu. Mau menghubungi siapa, misal untuk menggantikan, ya bingung. Makanya kemudian saya putuskan bablas saja. Syukurlah sampai.

Pada akhirnya tugasnya berjalan lancar, meski saya salah menyebut “dia” dengan “ia”. Yah, maklum, habis kehujanan *mohon excuse*

Ada banyak pelajaran yang saya petik selama 30 menit tadi.

1. Mengendarai sepeda motor melibas banjir itu butuh fisik yang kuat. Tangan kiri saya bahkan masih pegal sampai saya mengetik posting ini. Menahan beban kiri-kanan dan menjaga keseimbangan itu sulit ternyata. Belum lagi perut saya yang mendadak juga ‘capek’ karena tahanan tangan larinya ke otot perut. Sungguhpun kalau nggak keburu, melibas jalanan kayak tadi AMAT SANGAT TIDAK DISARANKAN. Saya hanya beruntung saja bisa selamat sampai  tujuan.

2. Masalah itu selalu ada, bahkan menjelang akhir perjalanan. Lha saya itu begitu di bundaran Beverli sudah amat sangat yakin nggak akan ada genangan lagi. Lah kok malah dapat yang paling besar. -____- Pada akhirnya ternyata masalah itu akan hilang kalau kita beneran sudah sampai di tujuan. So, waspadalah.

3. Sepanjang jalan, sambil minta tolong sama Tuhan, saya berasa dibisikin, “Kalo lo sampai, lo menang!” Entah dibisikin sama siapa sih, tapi rasanya jadi bikin teguh kukuh melaju meski saya masih amat mungkin berhenti dan balik kanan pulang kos lalu tidur.

4. Apapun halangannya, kalau itu untuk Tuhan, percayalah, PASTI LEWAT. Itu pelajaran saya benar-benar hari ini. Meski jelas untuk tugas-tugas berikutnya kalau bisa ya jangan begini lagi jalannya, tapi bahwa saya berangkat untuk membaca sabda Tuhan di gereja, dengan jalan yang sebenarnya nggak masuk akal untuk dilibas si BG, dengan posisi sudah nyaris jatuh di dekat Kalimalang, dan saya sampai. Mukjizat? Entahlah. Saya bukan siapa-siapa kok, tapi saya meyakini bahwa saya masih bisa mengetik posting ini saja sudah merupakan berkat melimpah.

5. Sesudah heavy rain selama 13 kilometer tadi, saya melakoni perjalanan pulang dengan gerimis rintik-rintik. Sesudah dikasih yang berat, saya dikasih jalanan lancar, tanpa banyak genangan lagi (cepet ternyata surutnya), dan tanpa banyak truk besar. Begitulah, sesudah cobaan pasti ada berkat melimpah. Amin.

6. Bahwa saya bisa merutuk pemerintah atau siapapun yang bertanggung jawab pada drainase semenjana di kawasan industri ini. Tapi sepanjang jalan saya lebih sibuk minta tolong sama Tuhan daripada memikirkan mengutuk siapa. Ternyata lebih enak rasanya. Hehehe.

Begitulah perjalanan saya menempuh heavy rain 13 kilometer hari ini. Sejatinya ini bukan apa-apa bagi kebanyakan orang, tapi buat saya, ini adalah pengalaman berharga. Berharga banget. Kalau bisa sih nggak usah diulang. 😀

Selamat pagi dan selamat tidur 🙂

Sai Anju Ma Au

Yeah, mungkin Mamak bakal shock kalau tahu saya membahas lagu ini. Hahahaha.. Ini asli lagu Batak, dan sejujurnya entah sudah berapa ribu kali saya dengar sejak jaman saya lahir. Tentu saja, hampir setiap hari Mamak akan memutar lagu-lagu Batak dari berbagai edisi sebagai teman menyapu dan mengepel (bungkus es kalo saya *alibi*).

Tapi, entah ya, gara-gara kuota kebanyakan dan rerata cuma dapat EDGE, akhirnya saya milih untuk download apapun, termasuk lagu Batak. Dan sebagai lagu yang sudah masuk kuping dari jaman antah berantah akhirnya tergoda juga untuk menyanyikannya, dan ternyata asyik juga.

*walaupun sampai sekarang baru bisa hafal lirik pada refren*

*batak yang ironis* –> (-.-“)?

Ya, dari sisi apapun, hampir pasti nggak ada yang mengira kalau saya ada hawa Bataknya. Tapi saya ini separuh Batak lho, galur murni pula *pembelaan diri*. Cuma karena lahir di Bukittinggi dan matang (ciedehhh..) di Jogja, makanya jadinya begini. Tentu saya harus menghormati darah Batak yang mengalir dalam diri saya, plus suku Batak yang saya punya dengan sah dan meyakinkan. Bagaimanapun Bapak saya keluar modal lho, dalam upaya mangadati saya dengan sebuah marga. Jadi, mari kita BERNYANYI! Hahahaha..

Lirik dan terjemahannya saya kutip dari SINI.

Sai Anju Ma Au

Aha do Alana (Apakah sebabnya/Karena apakah)
dia do bossirna hasian (Apakah masalahnya)
umbahen sai muruk ho tu ahu (hingga kau selalu marah kepadaku)
molo tung adong nasalah nahubaen (jikalau memang ada salah yang kulakukan)
denggan pasingot hasian (beritahukanlah dengan baik sayangku)

molo hurimangi (bila kurenungkan)
pambahenammi natua au (perbuatanmu kepada ku)
nga tung maniak ate atekki (hatiku ini sudah hancur)
sipata botcir soada nama i (kadang kala tak ada sebab)
dibahen ho mangarsak au (kau marah kepadaku)

molo adong na salah manang na hurang pambaenakki (seandainya aku ada salah dalam perbuatan)
sai anju ma au (beritahu lah aku dengan mesra)
sai anju ma au ito hasian (beritahu lah aku dengan mesra sayangku)
sai anju ma au (beritahu lah aku dengan mesra)
sai anju ma au ito nalagu (beritahu lah aku dengan mesra sayangku).

Lagu ini katanya buatan Tigor Gipsy Marpaung, yang kalau diketik di search engine bukan profilnya yang keluar, tapi karya-karyanya. Dan ini salah satu lagu Batak yang ‘dalemmmmm’.

Ya, begitu saja sih. Hahahaha..