Mencoba Memahami Pekerjaan di Pabrik

Adalah kabar duka perihal berpulangnya pendiri dari kantor pertama saya yang menjadi ihwal tulisan ini. Sungguh, saya merasa turut berduka cita dan salut kepada sang bapak karena telah dengan mantap dan lancar mewariskan sebuah perusahaan ke generasi kedua. Dan sebenarnya generasi ketiganya pun sudah hampir siap, baru saja pulang dari London. Meski saya sudah tidak berada di perusahaan itu dan lebih memilih untuk melakukan aktivitas angkat galon, tapi sesungguhnya saya masih mengikuti perkembangan. Toh, menurut buku OOM ALFA, industri farmasi kan ya di situ-situ saja lingkungannya.

petrochemicals_950Hal kedua yang bikin saya agak gatal belakangan ini–selain karena jarang mandi–adalah komentar-komentar yang masuk ke tulisan saya tentang PPIC. Ada yang sepakat, ada yang ikut berbagi, ada yang malah down. Lah, baru baca blog saja sudah down, bagaimana nanti dikejar-kejar Pak Eko karena ada Cefadroxil masuk 600 kilogram? Dari posting itu, plus search engine term yang mendasari orang kesasar kesana, saya mencoba menelaah ternyata masih banyak orang yang belum paham tentang struktur di pabrik, bagaimana tingkah polah kerjanya, posisi apa saja yang ada di pabrik, dan lain-lainnya.

Saya agak bingung ketika membuat judul karena seolah-olah akan merujuk pada pabrik panci. Padahal kan dasar saya adalah pabrik dalam proses manufaktur, tapi diksi ini terlalu gaib untuk digunakan. Kalau mau pakai industri, terasa kurang greget juga. Jadi, ya sudahlah, karena sebenarnya yang mau saya jelaskan ini relevan juga dengan pabrik panci, pabrik semen, namun bukan pabrik anak. Intinya, pabrik disini adalah sebuah tempat yang digunakan untuk mengolah bahan baku menjadi produk. Begitu.

Berkenalan dengan kata mengolah tentu akan mengantar kita kepada 3 istilah, yakni input, proses, dan output. Ada sesuatu yang dimasukkan ke dalam sebuah proses yang kemudian menghasilkan output. Inputnya apa? Tentu saja bahan baku. Outputnya ya jelas saja produk. Konsep ini sangat sederhana, seperti halnya nasi pecel sebagai input, makan sebagai proses, dan kenyang berikut feces sebagai output. Satu yang jelas dari proses itu adalah terjadinya sesuatu, bisa itu pengalihbentukan, pencampuran, pengurangan, atau apapun yang kemudian berbeda dari bahan baku dan sekaligus punya nilai tambah. Jadi, analogi yang lebih relevan adalah ada beras, diolah, dan jadilah nasi goreng. Inti bekerja di pabrik sejatinya cuma begitu itu kok: mengolah bahan baku menjadi produk.

Siklus ini pada prinsipnya ditangani oleh bagian PRODUKSI. Maka, kalau melihat lowongan bertuliskan OPERATOR PRODUKSI, STAF PRODUKSI, SUPERVISOR PRODUKSI, MANAJER PRODUKSI, jelas mereka adalah orang penting di pabrik, karena menjalankan core business dari sebuah pabrik.

Sudah jelas? Belum? Rasain.

Nah, siklus Input-Proses-Output ini bisa kita tambahkan ujung-ujungnya. Pertanyaan utama adalah dari mana sih sumber bahan baku dan mau diapakan sih produk yang sudah dibuat? Dengan terang kita bisa tahu bahwa bahan baku diperoleh dari pemasok dan produk dibuat untuk dijual ke konsumen. Yup, poin terakhir ini penting. Pabrik mau sebesar cinta diam-diam selama 7 tahun sekalipun tidak ada guna kalau produknya nggak ada yang beli. Pemasok juga penting karena dari merekalah sebuah produk pada akhirnya bisa dibuat. Kalau penjual beras malah memasok lontong, bagaimana kita mau buat nasi goreng? Lontong goreng, iya.

Woke, jadi sampai disini siklusnya menjadi Pemasok – Input – Proses – Output – Konsumen. Cukup bisa dipahami, kan?

Mengingat pabrik itu tidak segampang bikin nasi goreng, maka tentu diperlukan banyak orang untuk mengelola sebuah proses yang dikerjakan. Disitulah gunanya lowongan pekerjaan. Well, kadang saya itu heran, lho. Orang bilang bahwa banyak pengangguran, bla-bla-bla, padahal begitu melihat lowongan di koran atau datang saja ke kawasan industri, jelas masih butuh banyak orang. Masalahnya adalah para pencari kerja tidak sesuai spesifikasinya dengan yang dicari. Lebih kesitu, sih, masalahnya. Lulusan Farmasi, lowongan yang buka di Pabrik Kertas, atau sebaliknya. Manusia-manusia di dalam pabrik itu kemudian ditempatkan ke dalam struktur-struktur khusus yang saling bahu membahu. Percayalah, bekerja di pabrik itu ibarat rantai sepeda. Satu saja elemen rantai nggak tersambung, nggak jalan itu sepeda, satu saja elemen di pabrik nggak bekerja, tutup beneran itu pabrik.

Nah, mari kita kembali ke Pemasok. Bagaimana caranya agar bahan baku yang milik pemasok itu bisa menjadi milik pabrik? Ingat, bukan dilamar, itu untuk kasus anak gadis milik orang tua bisa menjadi milik lelaki baik-baik kayak saya. Caranya tentu saja dibeli. Tugas membeli ini ditunaikan oleh bagian PEMBELIAN atau PURCHASING. Di beberapa pabrik, fungsi ini milik departemen tersendiri, namun di banyak tempat lain fungsinya digabung dengan departemen lain. Yes, semua sesuai dinamika masing-masing perusahaan yang punya pabrik. Ngomong-ngomong, PURCHASING ini main beli-beli aja, dasarnya apa? Tentu saja sudah ada perhitungan kebutuhan yang dilakukan oleh PPIC. Jadi, umumnya bagian PURCHASING ini untuk eksekusi ke pemasoknya, gitu.

Nah, untuk proses jual beli, biasanya akan nongol yang namanya Purchase Order (PO) sebagai bukti. Surat Pesanan lah kalau bahasa gaulnya. Dokumen ini yang menjadi dasar untuk mengirim bahan baku ke pabrik untuk dimasukkan ke gudang. Bagian yang menerima dan kemudian menyimpan ini umumnya disebut LOGISTIK atau GUDANG. Maka sering kita melihat lowongan PETUGAS GUDANG, STAF LOGISTIK, hingga KEPALA SEKSI GUDANG BAHAN KEMAS di koran-koran. Tugasnya ya menerima dan lantas menyimpan, serta ujung-ujungnya mengirimkannya ke bagian PRODUKSI untuk mengalami proses seperti dijelaskan di atap, eh, atas tadi. Jangan dikira gampang tugas logistik ini. Nantilah kita bahas satu-satu tentang hal ini.

Kapan GUDANG mengirim barang ke PRODUKSI? Biasanya sesudah perintah kerja alias Work Order turun. Sudah pasti tidak turun dari langit maupun Turun Arda si pemain Barcelona nan brewok itu. WO turun dari siapa lagi kalau bukan si PPIC! WO menjadi perintah PRODUKSI untuk bekerja dan tentu saja dalam bekerja harus menggunakan bahan baku yang sudah ada di gudang.

Seperti yang saya bilang tadi, PRODUKSI adalah inti, kunci dari segalanya. Dan semuanya ya tergantung pabrik, kalau pabrik mur ya memproduksi mur, pabrik tahu ya bikin tahu. Untuk menjamin pekerjaan dilakukan dengan benar, biasanya menggunakan alat atau mesin canggih terkini. Maka jangan heran kalau banyak SUPERVISOR PRODUKSI yang melancong ke luar negeri, salah satunya dalam rangka beli mesin produksi itu tadi. Begitu selesai, barang dikembalikan ke GUDANG untuk disimpan. Nantinya, GUDANG akan melakukan pengiriman ke KONSUMEN. Karakteristik ini juga beda-beda. Untuk pabrik yang berkhittah Make To Order, WO turun begitu ada pesanan. Ini salah satunya di pabrik mesin, iye, pabrik yang bikin mesin. Ada orang pesan mesin, sepakat harga dll, baru deal, WO turun, pembuatan mesin selesai lalu dikirim. Namun umumnya pabrik adalah penganut mazhab Make To Stock, membuat untuk disimpan. Ini punya konsekuensi barang rusak, hilang, atau menyublim di gudang, atau kalau salah hitung malah menyebabkan kehabisan stok karena yang dibuat lebih sedikit dari permintaan konsumen. Siapa sih yang bertanggung jawab menghitung ini? Tiada lain, tiada bukan: PPIC nan ceria.

Yes, sebenarnya inti dari pabrik ya begitu itu. Namun menjadi tidak sederhana ketika ada kewajiban untuk menelurkan produk yang berkualitas. Kita kalau dapat botol air mineral yang tidak bisa dibuka pasti mengutuk Jokowi, kan? Atau kalau mendapati bungkus Chitato, isinya Chiki, maka kita akan ambil foto, lalu share di Pesbuk. Untuk menjamin produknya benar dan tepat sesuai keinginan konsumen, muncul yang namanya bagian QUALITY atau MUTU. Pada pola lama dikenal sebagai QUALITY CONTROL, hanya kontrol saja. Semisal, barang baru masuk dari pemasok, dicek dan diputuskan boleh digunakan untuk PRODUKSI. Atau produk yang dihasilkan lantas dicek kesesuaian dengan keinginan konsumen, kalau pas, bisa dikirim. Semakin kekinian, ada yang namanya QUALITY ASSURANCE alias PENJAMINAN MUTU yang cakupannya menjadi lebih luas. Bagian ini umumnya mengambil peran lebih besar. Jadi sekarang arahnya QC hanya kepada pengecekan di laboratorium terhadap bahan baku dan produk, QA yang meloloskannya ke pasaran. Sekali lagi, ini sangat tergantung dinamika industri masing-masing. Kalau punya teman yang kerja di pabrik, kita sebagai awam sebenarnya bisa tahu sejauh mana kualitas produk dari pabrik itu. Ini utamanya untuk sehari-hari macam sabun, pembalut, makanan, dll ya. Kalau kawan kita kerja di Produksi atau Mutu dan mereka nggak mau pakai atau makan produk dari pabriknya sendiri, kita harus waspada. Mereka sendiri nggak mau, pasti karena tahu sesuatu. Tapi kalau mereka bangga, kita kudu mendukung agar mereka tetap gajian dengan cara membeli produk mereka.

Sudah? Ya, aslinya itu saja, sampai kita sadar bahwa sudah jam 12 dan para OPERATOR PRODUKSI berlaparan. Mereka datang ke kantin dan mendapati tempat itu sekosong hati nan ditinggal gebetan menikah karena MBA. Yes, selain proses utama itu tadi, di pabrik sangat memerlukan bagian suportif alias pendukung. Normalnya, bagian suportif ini hanya mendukung. Jadi, apapun maunya orang-orang yang sudah dijelaskan di awal tadi, harus diikuti karena kalau tidak bisa menghambat kelarnya sebuah produk. Setidak-tidaknya kalau di pabrik agak besar itu ada 4 bagian besar dari unit pendukung ini.

Pertama adalah IT. Bahwa seringkali komputer di ruang staf produksi digunakan oleh staf gadis untuk belanja online shop baik itu via Blanja, Shopious, hingga Lamido, maupun oleh manajer untuk buka Cermati demi kartu kreditnya, serta staf lelaki untuk buka Mojok, tentu saja adalah fakta. Namun komputer itu harus beroperasi dan menyala untuk bikin laporan, untuk PPIC menghitung bahan yang hendak dibeli maupun hal-hal lain yang terkait dengan produksi. Maka, orang IT harus ada. Di sebagian pabrik, orang IT yang ada itu levelnya ya serba ada. Apapun masalah anda, mulai dari kabel kecokot tikus maupun akses internet yang putus harus bisa diatasi. Narik-narik kabel, angkut-angkut CPU, nongkrong di server ThinClient jelas adalah aktivitas sehari-hari orang IT di pabrik. Sebagian pabrik lagi–utamanya yang mengedepankan penggunaan sistem enabler seperti Oracle atau SAP–punya IT urusan sistem. Kerjanya sama-sama serba ada namun tidak tarik-tarik kabel, cuma tarik-tarik rambut karena hampir gila dengan bahasa program. Bisa dibilang, kalau semuanya lancar, pasti lupa sama IT, namun begitu koneksi down, orang IT adalah makhluk hidup di dunia yang harus ditemukan dengan segera, meskipun dia sedang bobo cantik di mezanin sekalipun.

Penunjang kedua yang tidak kalah penting adalah Engineering. Menurut ngana, yang bisa menjamin sebuah mesin produksi yang dibeli di luar negeri itu menyala dengan baik siapa? Jelas orang ENGINEERING alias TEKNIK. Hampir sama dengan IT, kalau mesin jalan baik-baik saja, kalau AC di office damai kayak di Puncak dan nggak berisik kayak Ahok, langsung lupa sama orang TEKNIK. Begitu mesin rusak, dunia terbalik. Maka, orang TEKNIK selalu menjadi manusia yang harus stand by ketika proses produksi berjalan.

Tadi saya cerita tentang kantin kosong. Kalau kejadian itu adalah nyata, maka yang dihajar habis-habisan adalah bagian UMUM alias GENERAL AFFAIRS. Ehm, kenapa kalau diterjemahkan jadi perselingkuhan umum ya? Heuheu. Di banyak tempat, bagian yang jaman disebut GA ini gabung dengan Human Resources di Personalia. Lagi-lagi, tergantung pabriknya. Nah, GA inilah yang berurusan dengan tetek bengek apapun. Makan siang di kantin, iya. Orang demo lewat di depan pabrik, pusing juga. Alat kebersihan? Jelas iya. Ada ular terjebak di mouse trap? Masih GA yang mengurusi. Bahkan termasuk soal hantu di gudang dan sesajen yang diperlukan, itupun garapan GA. Proses produksi mungkin tetap bisa jalan tanpa GA, tapi ya jalan-jalan aja. Jalan dengan ular di ruang produksi, jalan dengan operator yang marah dan menggerutu karena nggak dikasih makan atau operator gudang yang ketakutan melihat hantu. Tampak sepele tugas GA, tapi mereka memegang segalanya. Segala yang diabaikan orang lain.

Satu lagi tentu saja FINANCE alias KEUANGAN. So pasti soal gaji adalah yang utama. Mereka memang nggak ada di siklus pabrik, tapi merekalah yang kasih uang ke PURCHASING untuk beli-beli, yang kasih uang ke GA untuk bayar listrik, kasih duit untuk beli mesin, hingga kasih duit untuk beli sesajen. Mereka juga yang menerima dan mengelola uang dari hasil penjualan dan mengupayakan keuntungan sebesar-besarnya kemakmuran owner. Ini yang menyebabkan mereka kadang suka berantem dengan pelaku di siklus pabrik.

Dengan adanya pemain utama dan pemain pendukung sebenarnya proses bisa berjalan dengan lancar. Namun tanpa MARKETING, bubarlah semuanya itu. Mereka ujung tombak, karena mereka yang jualan. Maka, apapun kebanyakan ya suka-suka mereka. MARKETING hobi berantem dengan PPIC, lho. Seperti saya tulis di sisi lain blog ini, meeting dengan Marketing adalah hal yang bikin saya ingin resign dari PPIC. Heuheu.

Di dalam pabrik yang terus berkembang dan bertumbuh, ada yang namanya Research and Development alias RnD alias Litbang. Pabrikan Honda di Indonesia itu jelas punya RnD, karena mereka terus menerus menelurkan produk baru. Nggak mungkin produk itu otomatis nongol kalau tidak ada penelitian dan pengembangan terlebih dahulu. Ada juga Business Development alias Busdev yang bertanggungjawab membisiki owner tentang produk apa sih yang seharusnya dibikin. Dan ada juga bagian yang terkait Regulasi, ini hanya ada di pabrik yang produknya harus ada ijin edar atau setidak-tidaknya harus didaftarkan ke Pemerintah.

Dalam skala pabrik panci sekalipun seluruh elemen yang saya sebutkan dalam posting ini ada namun ya rangkap-rangkap. Ada pemilik pabrik panci, dia sekaligus jadi Busdev melihat jenis panci yang laku di pasaran emak-emak-naik-matic. Terus ada bininya yang menjadi pengelola keuangan dan merangkap GA juga untuk urusan beli sarung tangan. Boleh jadi sekaligus jadi Purchasing ketika beli bahan ke pengepul. Ada Mandor yang pegang peran di Produksi, dia rangkap juga jadi Teknik, dan kadang-kadang Gudang. Dan pada akhirnya juga ada jomblo yang membusuk di pojok gudang. Yes, semua posisi itu penting namun relevan dengan skala pabrik, semakin kecil, semakin banyak rangkap-rangkap. Bahkan untuk ukuran Mamang Nasi Goreng, dia menjalankan semua fungsi itu.

Demikian, semoga bisa dimengerti dan dipahami. Tulisan ini bukan wanita, maka tulisan ini tidak meminta untuk dipahami, kok. Heuheu. Salam pabrik!

Advertisements

9 thoughts on “Mencoba Memahami Pekerjaan di Pabrik

  1. Pingback: PPIC Itu Ngapain Aja Sih? | ariesadhar.com

  2. Keren sob tulisannya..terimakasih sob aku skrang jd tahu gimana krja di pabrik.. Jd pnya pndangan n lbh knal gmana sistem krja di pabrik..:)

    Like

  3. gokil !!!! akhirnya saya nemu sedikit pencerahan apa beda qc sama qa, rnd, ga dkk. Thanks broo! sangat bermanfaat dan asik dibaca. salam (buruh) pabrik πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

    Like

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s