5 Kebijakan Pemerintah yang Dibutuhkan Oleh Pelaku LDR

Selamat jumpa kembali para pelaku LDR! Salam Nggerus! Kali ini sesudah bertapa sambil hidup sederhana di planet bernama Bekasi, saya kembali lagi untuk mewartakan beberapa usulan kepada Pemerintah. Tentu saja sekarang kan sedang marak surat edaran dan aneka kebijakan pemerintah dalam rangka reboisasi, eh, revolusi mental. Kiranya akan lebih baik jika para pelaku LDR juga dilibatkan dalam revolusi ini. Bagaimanapun para pelaku LDR alias para jomlo de facto itu adalah manusia-manusia ngenes tapi super (ingat, bukan super ngenes ya!) yang lebih sering membelai guling daripada pasangannya sendiri.

Nah, setidaknya ada lima kebijakan pemerintah yang perlu diterapkan dalam rangka mendukung kelestarian para pelaku LDR. Oh, plis dicatat sebelunya bahwa hubungan DEPOK MENTENG itu tidak termasuk LDR. Saya jadi ingat salah satu buku tempat tulisan saya pernah bernaung tentang LDR. Ceritanya oke, menarik, menguras air mata dan air keran, hingga kemudian saya mendapati bahwa LDR itu terjadi antara dua tempat yang sama-sama masih JABOTABEK. Luar biasa. Luar biasa ngawur.

Oke, ini dia kebijakan yang diperlukan! Mari disimak! Siapa tahu nanti ketika proses reshuffle dan Pak Presiden punya ide untuk membuat Kementerian Pemberdayaan Jomlo Menahun dan LDR. Saya siap melamar menjadi Inspektur Jenderal kalau ada kementerian ini, siap juga dengan fit and proper test-nya. Tenang saja.

1. Area Khusus LDR

Sekarang naik TransJakarta dan naik KRL Commuter Line itu ada pembedaan karena keduanya punya area khusus wanita. Sesungguhnya pemisahan ini terbilang bagus bagi para pelaku LDR sirik karena kebijakannya yang jelas. Misal ada pasangan yang sedang dimabuk asmara naik TJ, lalu sang cewek mau duduk di area khusus wanita, sudah jelas si cowok harus berada setidaknya di dekat pintu. Aturan yang jelas sudah memisahkan dua orang yang sedang berkasih-kasihan. Masalahnya hal itu tidak berlaku kebalikan. Ketika ada pasangan yang berkasih-kasihan di TJ tapi di area bukan khusus wanita, ya mereka boleh peluk-pelukan dan ngobrol hore sambil curi-curi-cium, sementara pelaku LDR puas dengan wassapan sama pasangannya.

Ini sungguh tidak adil! Dan soal mesra-mesraan itu juga terjadi di KRL Commuter Line, kadang pasangan nan dimabuk asrama itu saling menyandarkan kepala, hati, dan masa depan satu sama lain di dalam gerbong kereta. Mereka sama sekali tidak peduli kaum LDR yang sirik, apalagi kaum jomlo menahun yang siap-siap nyemplung Waduk Pluit segera sesudah turun.

kereta-commuter-line

Continue Reading, Mbohae!

Advertisements

12 Tahun Merantau

Selalu begini deh. Selalu seminggu sebelumnya diingat-ingat, tapi pas hari H-nya lupa. Dulu juga begitu. Dasar manusia. Ya begitulah, saya masih manusia, bukan manusia milenium.

Lagian yang diingat sebenarnya nggak penting dan krusial sih, cuma merupakan tanggal menarik bagi manusia melankolis macam saya.

Iya, kemarin, 2 Juli 2013, adalah genap 12 tahun saya jadi anak rantau. :)))

Perkara 2 Juli ini sebenarnya baru saya temukan ketika saya packing-packing mau pindah dari Palembang. Tanggal itu adalah tanggal saya mendaftar SMA Kolese De Britto Jogja. Dan saya ingat benar bahwa pagi harinya saya baru menjejak Jogja dengan kereta Senja Utama Jogja. Jadi fix bahwa tanggal itulah pertama kali saya jadi anak rantau.

Well, 12 tahun.

Sebuah bilangan yang gila. Dan nyatanya saya bisa melakoni itu semua. Nyatanya saya bisa ‘hidup sendiri’ untuk rentang waktu yang sepanjang itu. Melihat orang-orang lain masih dengan mudah dan indahnya pulang kampung setiap minggu, sedangkan saya ya beginilah.

Saya jadi anak rantau di usia saya yang ke-14. *ketahuan deh umurnya… hedeh..*

Jadi, dua tahun lagi, setengah usia saya genap habis untuk merantau. Tiga tahun lagi, lebih dari setengah umur saya juga terhitung sebagai perantauan. Jadi mari menikmati 2 tahun lagi, ketika usia jadi anak rantau belum sampai setengah usia saya.

🙂