Lost in Bangka (10): Danau Kaolin

LOSTINBANGKA_DANAUKAOLIN

Pasca mengunjungi Pantai Pasir Padi dan Kelenteng Dewi Laut, akhirnya rombongan pengelana tiada tara beranjak ke selatan. Bagian ini penting karena dari kemarin-kemarin kami main ke utara tepatnya ke Sungai Liat. Satu-satunya perjalanan ke selatan ini adalah destinasi pamungkas yang juga merupakan salah satu alasan perjalanan ke Bangka ini digagas.

Danau Kaolin saat kami berkunjung, baru terkenal kurang lebih setahun. Kalau sekarang, berarti sudah 2 tahun. Kalau tahun depan, tiga tahun. Gitu. Angkat nama di akhir 2015, grup FPL Ngalor Ngidul kemudian ramai kala Tintus dalam perjalannya nganvas ke Koba, memposting foto di lokasi yang katanya mirip dengan danau di Islandia. Dengan air nan biru jernih serta hijau jernih begitu, memang menjadi hal paling beda dan jelas menarik siapapun untuk berkunjung. Sejak saat itu, kunjungan ke Bangka yang wajib menyertakan Danau Kaolin sebagai destinasi mulai digagas hingga pada akhirnya terpenuhi pada Oktober 2016 itu.

IMG-20161024-WA0019

Rian Chocho Chiko dan istri

Hey? Oktober 2016? Sekarang November 2017? Ini nulis apa merenung, kok lama bener?

BERISIK! Namanya pegawengeri itu sibuk, kak.

Danau Kaolin ini dikenal sebagai Camoi Aek Biru dan berada di Desa Air Bara, Kecamatan Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Pangkal Pinang. Menggunakan mobil dan driver lokal yang terkenal sejak kuliah suka lupa jalan, pada akhirnya kami hanya butuh 1 jam lebih sedikit untuk tiba di lokasi. Dari Pangkal Pinang hingga menuju tikungan terakhir ke lokasi sih mulus-lus-lus.

Continue reading

Advertisements

Liburan Singkat di Tengah Jakarta

Heh? Apa? Liburan di Jakarta? Lho, se-Indonesia ngomongin Pilkada DKI Jakarta, kenapa kita nggak boleh berlibur di Jakarta? Kadangkala, Jakarta dapat menjadi tempat bagus untuk minggat sesaat, bahkan bisa minggat dalam ketenangan.

Pesona Jakarta tentu begitu besar hingga banyak orang tiba ke Jakarta tanpa modal untuk bekerja dan menempati celah-celah kosong yang bisa ditinggali. Di satu sisi tampak begitu bronx, namun di sisi lain kadang seru juga melewati gang-gang di tengah kota Jakarta. Jalan Sudirman misalnya, tampak megah dengan gedung-gedung tinggi. Demikian pula Jalan Rasuna Said. Namun di balik gedung-gedung tinggi itu yang bisa kita temukan adalah begitu banyak jalan kecil hingga gang yang bisa kita sebut sebagai gang senggol.

Lantas apa saja yang bisa kita lakukan dalam berlibur singkat di tengah Jakarta? Berikut beberapa diantaranya.

Tanah Abang

sumber: tempo.co

Ini adalah pasar paling legendaris di Jakarta. Tidak hanya menyebut tentang fenomena Haji Lulung yang begitu terkemuka sebagai produk Tanah Abang. Pasar ini juga dikenal sebagai pusat perdagangan tekstil paling besar. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Asia Tenggara. Lucunya, Tanah Abang yang dahulu adalah tempat dagang kambing. Disebut dulu ya karena memang usia Tanah Abang itu memang tua benar. Sampai ratusan tahun. Salah satu versi sejarah mencatat bahwa sampai akhir abad ke-19, Tanah Abang aslinya bernama Nabang yang berasal dari jenis pohon yang tumbuh di daerah tersebut. Nah, karena berada dalam zaman Hindia Belanda, maka gaya londo terpakai. Salah satunya adalah dengan penambahan partikel ‘De’. Maka, Nabang menjadi De Nabang, dan lama-lama menjadi Tenabang. Versi kisah yang dimuat dalah buku ‘212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe’ karya Zaenuddin HM kemudian melanjutkan bahwa perusahaan jawatan kereta api bermaksud memperjelas si ‘Tenabang’ itu dan kemudian muncul nama ‘Tanah Abang’.

Continue reading

Sebuah Pagi Bersahaja di Pantai Sanur

photogrid_1464103239473.jpg

Pagi hari, berbekal perut penuh babi guling yang enaknya setengah mati, saya terjaga. Pagi yang biasa di sebuah kota nan tidak biasa, namun lama-lama ya biasa juga. Mungkin yang bikin tidak biasa adalah karena begitu saya terjaga dan melangkah keluar kamar, tanah bisa langsung dijejak dengan sempurna. Kota kesebelas, baru kali ini dapat kamar yang menempel langsung pada tanah. Bukan mengawang strata title layaknya di kota-kota lainnya.

Sebuah pagi yang kesekian ribu dalam hidup. Namun pagi yang semacam ini selalu berbeda, tentu saja karena tempatnya berbeda. Di kota pertama, Kendari, saya memberanikan diri untuk keluar hotel sendirian menyusuri pantai teluk yang penuh sampah, semata-mata hendak menikmati matahari yang terbit begitu tenangnya. Di Manado saya beranjak pagi-pagi buta untuk mencari Tuhan, yang ternyata ada persis di sebelah hotel. Di Jayapura, saya melintas sepinya hari sabat untuk merasakan pagi yang berbeda di pulau surga. Sebuah pagi pada prinsipnya selalu berbeda, apalagi ketika pagi itu tiba ketika kita sedang berada dalam sebuah perjalanan.

Maka, pagi itu kedua kaki saya lantas menempel pada sandal hotel berwarna khas, karena saya memang tidak membawa sandal. Langkah demi langkah kemudian membawa saya melintasi gerbang lapangan golf, homestay-homestay kecil, sisa-sisa malam nan belum berakhir, dan aroma laut yang tiada bisa ditipu. Semuanya khas pagi yang saya rindukan. Pagi yang tidak tergesa-gesa, pagi yang sunyi dan tenang, pagi yang bersahaja.

Tidaklah cukup jauh kaki saya melangkah untuk kemudian jejak pada aspal berpindah menjadi jejak pada pasir. Ya! Pantai! Aroma laut, angin khas penuh lembab, hingga desir ombak menjadi satu di dalam otak melalui panca indera.

photogrid_1464102893272.jpg

Inilah Pantai Sanur. Sebuah nama yang bertahun-tahun silam hanyalah sebuah mimpi bagi saya. Menginjakkan kaki di Bali adalah suatu ketidakmungkinan pada suatu masa, namun lantas menjadi sebuah probabilitas yang begitu mudah pada masa lainnya. Dan kini saya telah menginjak Bali, setelah terlebih dahulu melihat Jalan Mandara dari atas langit. Jalan yang hanya tinggal diisi tanah saja, sudah bisa mengubah tol tengah laut menjadi tol pinggir laut. #TolakReklamasiBali

Matahari terbit dengan jelas, meski langit tidaklah cerah benar. Perlahan dia tampak naik, meski sebenarnya bumi yang berputar. Terang perlahan-lahan membuat dirinya paripurna sebagaimana hakikatnya. Sementara itu, saya menyibukkan diri dengan menghirup segar udara pantai. Ah! Surga nan sederhana.

Cukup banyak orang yang menghabiskan waktu dengan berendam di Pantai Sanur ini. Tampaknya hidup mereka begitu selow, sementara saya sebentar lagi harus bergegas mandi, makan, berangkat, bekerja, kemudian kembali ke Jakarta. Adakah nanti kiranya waktu bagi saya untuk menikmati kehidupan layaknya mereka? Oh, saya rasa tiada perlu. Toh, saya sekarang justru tengah menikmati kehidupan via kesempatan yang diberikan untuk menjejakkan kaki di Bali.

photogrid_1464102953399.jpg

Sementara mentari bertambah tinggi, tampak anjing-anjing muda berkejaran satu dengan lainnya di sela-sela bebatuan yang ada di pantai. Ada yang tercebur ke laut, mencoba berenang sendiri dengan susah payah, namun lantas berhasil mencapai bebatuan dan bermain kembali tanpa tampak takut akan terjatuh lagi.

Begitulah. Sanur di pagi hari menawarkan kesahajaan. Entah jika saya datang lagi di siang atau sore hari. Entah pula jika saya datang ke Kuta pada pagi hari, mungkin saya bisa beroleh pagi nan bersahaja pula. Bukankah hidup ini adalah soal kesempatan yang mungkin kita dapat dan semaksimal mungkin usaha kita untuk mengelolanya?

Maka dengan paru-paru yang penuh saya berbalik pulang, pulang dalam terminologi pendek–tentu saja. Meninggalkan pagi yang bersahaja di Sanur, sambil berharap jiwa pagi itu bersemayam dalam hati nan penuh gegabah ini.

Tabik.

Mencari Jejak Kisah di Duren Sawit

Wew! Entah sudah berapa lama #KelilingKAJ tidak ditulis di blog ini. Saya malah takut project ini bubar jalan dengan sendirinya. Namun saya tetap berupaya agar project pribadi ini lanjut meski tertatih-tatih gegara dua pekan sekali saya ke Bandung dan otomatis tertangkap Romo Paroki melulu di Cimahi.

Kesempatan muncul ketika suatu pagi saya berangkat dari Bekasi ke Jakarta sembari mengantar Mbak Pacar ke Bandung dari Bekasi. Sembari mengandalkan angin bertiup saya akhirnya memutuskan untuk turun di Stasiun Klender, yang menurut gambaran adalah stasiun yang cukup dekat dengan Gereja Santa Anna di Duren Sawit. Masalahnya, saya agak-agak kurang paham sehingga lantas berjalan salah arah hingga Indomaret. Karena sadar bahwa saya nggak akan sampai tepat waktu kalau jalan kaki sampai Gereja yang ternyata masih jauh sekali. Gini dah kalau songong, nggaya mau jalan kaki.

Saya akhirnya menggunakan aplikasi kekinian bernama Gojek untuk menuju ke lokasi. Ternyata masih lebih dari 3 kilometer jauhnya. Nggak kebayang kalau saya maksa jalan kaki seperti #KelilingKAJ yang lain, bisa keburu jomblo saking lelahnya. Maka, mari berterima kasih pada teknologi. Salah satu patokan terdekat adalah Rumah Sakit Yadika, begitu habis RS ini tinggal belok kiri dan ikuti jalan sampai ramai-ramai khas rumah ibadah.

Gereja Santa Anna Duren Sawit ini terbilang sunyi apabila dibandingkan dengan Matraman hingga Bidara Cina yang persis di pinggir jalan besar. Sebagai Gereja yang berada di perumahan, ini adalah karakter yang khas, ya selayaknya Bojong Indah kalau mau dipersamakan.

Selengkapnya!

4 Perasaan Ketika Naik KRI Banda Aceh

Jpeg

Saya selalu meyakini bahwa setiap pilihan yang diambil oleh manusia dalam hidupnya akan membawa faedah dan ekses. Termasuk ketika saya mengambil pilihan untuk resign dari PPIC yang membahana untuk kemudian terjun di pekerjaan yang sekarang. Sudahlah, kita tidak perlu bicara ekses, sudah banyak saya curhatkan di blog ini.

Salah satu faedah yang tidak mungkin saya rasakan kalau saya tetap menjadi PPIC adalah kesempatan untuk naik Kapal Republik Indonesia (KRI) Banda Aceh! Yes, bahwa saya memang cukup keder untuk naik kapal adalah fakta yang tidak terbantahkan. Namun kesempatan untuk bisa merasakan naik KRI Banda Aceh ternyata mampu mengalahkan ketakutan yang bersumber dari goyangan maut Selat Sunda belasan tahun silam. Sekurang-kurangnya, ada 4 perasaan yang muncul ketika saya mendapat kesempatan untuk berada di salah satu kapal perang terbaik Indonesia itu.

Megah

Mungkin nggak bisa dikategorikan sebagai perasaan, sih. Tapi ya ngono deh. Begitu memasuki kawasan pelabuhan, sudah tampak megahnya KRI Banda Aceh. Memang besarnya kurang lebih sama dengan kapal-kapal di kawasan tersebut. Lha, jelas saja, itu kan kapalnya memang untuk angkut kontainer jadi wajar kalau besar-besar semua.

Jpeg

Terang saja besar, menurut website PT PAL, kapal ini merupakan Landing Platform Dock 125 meter (LPD 125 meter) Hull no W000240. Kapal ini juga menjadi andalan untuk aneka kegiatan baik itu pengamanan negara, evakuasi kecelakaan pesawat, hingga membantu pelaksanaan arus mudik.

Dan jujur saja, ketika kapal meninggalkan dermaga, sama sekali tidak berasa kalau jalan. Entah karena kapalnya, atau karena memang cuacanya lagi baik atau karena saya kekurangan duit saya kurang paham juga. Satu hal yang jelas, begitu kapal beranjak ke arah Kepulauan Seribu, kapal bergerak sedemikian mulus, beda sekali sama pengalaman terakhir saya naik kapal sebelum bersama KRI Banda Aceh ini.

Cakep

Oh, tentu saja saya tidak mengklaim diri cakep walaupun kata pacar saya begitu. Namun karena saya berada di kapal buatan tahun 2011 ini atas undangan dari Kementerian Sosial untuk upacara Hari Pahlawan, jadi mau nggak mau saya harus tampil cakep dengan setelan jas lengkap. Walaupun pada saat yang bersamaan saya harus kalah cakep sama sekali dengan anggota TNI bersenjata lengkap yang menjadi petugas dalam upacara tersebut. Yang cakep tidak hanya yang cowok, tentara yang ceweknya juga aduhai, kak.

https://statik.tempo.co/?id=358400&width=620

Udah, gitu aja sih.

Gemetar

Selain karena saya takut air laut gegara nggak bisa berenang, tentunya ada hal lain yang bikin saya gemetar ketika berada di atas kapal yang mampu mengangkut 5 unit helikopter jenis MI-2 atau BELL 412 ini. Gemetar pertama saya muncul karena posisi saya ketika upacara itu dekat sekali dengan pinggir kapal. Noleh dikit ke belakang saja langsung merinding bulu kuduk.

Gemetar kedua tentu saja muncul begitu saya mengingat bahwa tempat saya berdiri itu merupakan kapal yang terlibat begitu intensif dalam evakuasi pesawat Air Asia QZ 8501 yang tenggelam di perairan Selat Karimata hingga Laut Jawa. Di tempat upacara itu pula sebagian proses evakuasi korban dilakukan.

https://i2.wp.com/cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/788489/big/068931800_1420019749-banda_aceh.jpg

Pekerjaan saya terkini yang memang mengharuskan saya bepergian naik pesawat lebih sering daripada pekerjaan yang lalu membuat saya tambah gemetar. Yah, semoga semua orang yang pekerjaannya berteman dengan perjalanan selalu diberkati Tuhan dan diberikan keselamatan.

Bangga

Berdiri di atas salah satu alat utama sistem persenjataan (Alutsista) milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) tentu sudah menjadi sebuah kebanggaan bagi saya. Bahwa mungkin ada beberapa pemudik motor yang ketiban hoki bisa mudik naik KRI Banda Aceh, itu kan rejeki masing-masing. Yang jelas, tidak semua orang bisa berada dan berlayar bersama KRI Banda Aceh. Lebih lagi, KRI Banda Aceh yang punya panjang 124,97 meter ini merupakan produksi PAL Indonesia dan merupakan salah satu kapal milik TNI Angkatan Laut dengan operasional tertinggi alias paling rajin angkat jangkar.

Jpeg

Ya, demikian kiranya perasaan-perasaan yang saya alami ketika berada di atas KRI Banda Aceh alias LPD-593 ini. Semoga lain kali saya bisa beroleh kesempatan unik-unik yang semacam ini. Lumayan buat cerita ke anak cucu kelak. Oh, iya juga ya, saya kan belum kawin. Gimana punya anaknya? Heuheu.

Ciao!

Oase Sunyi di Pejompongan

Di balik gedung-gedung tinggi yang bisa disaksikan dari Tol Dalam Kota maupun Jalan Sudirman, rupanya tersimpan juga tempat dengan suasana sepi dan cukup mendukung untuk beribadah. Maka, #KelilingKAJ kali ini mencoba merambah tempat tersebut. Dapat diakses dari Jalan Bendungan Hilir, namun lebih gampang diakses dan memang masih merupakan daerah Pejompongan, dengan menunggang si BG saya akhirnya sampai ke Gereja Kristus Raja Pejompongan. Saya jadi ingat beberapa tahun silam di Paroki Ibu Teresa Cikarang, ada penggalangan dana dari umat dan Pastor paroki ini, ternyata hasilnya oke juga. Sebuah Gereja yang disebut sebagai Gereja Daun.

Untuk dapat mencapai Gereja ini, jalur termudah adalah lewat Pejompongan. Ketika ada perempatan, yang ke kanan ke LAN, belok kiri, kemudian ada perempatan belok kanan, lantas belok kiri lagi, kita akan ketemu bangunan bernuansa hijau yang persis berada di depan kantornya seorang politisi. Disitulah Gereja Daun berada.

Selengkapnya!

[Interv123] Tax Officer – Travel Blogger

BAYAR UTANG!!! Pada akhirnya saya nulis soal Interv123 lagi. Artinya sudah utang 3 kali nggak nongol, meleset dari jadwal. Beginilah nasib blogger merangkap karyawan, plus ada sedikit urusan yang mengharuskan saya fokus kesana–karena ngaruh ke masa depan, jadi nggak bisa wawancara, deh. Jangankan interv123, anak saya bernama OOM ALFA aja sedikit lepas dari pengawasan. Urusan apa? Nah, sedikit banyak urusan itulah yang memberi influence pada pemilihan tokoh Interv123 kali ini 🙂

Kali ini Interv123 menghadirkan seorang abdi negara alias pegawai negeri sipil. Tapi tentu saja, kalau di blog sini nggak sembarang tamu yang datang dong. Kalau sembarang PNS mah saya bisa asal comot aja di kecamatan.

Jadi, siapa dia?

Sumber: efenerr.com

Sumber: efenerr.com

Di dunia maya, tamu saya ini menggunakan nama tenar Efenerr, bisa ditemui di twitter @efenerr, juga blog efenerr.com, ya beda-beda tipis sama ariesadhar.com gitu deh. Nama aslinya nanti baca sendiri di bawah, tapi dia juga punya nama panggilan “Sinchan”. Mungkin karena sama nakalnya.

Hah? Nakal?

Loser Trip: Full Story of Journey

Apaan Sih?

Apaan Sih?

Pertama-tama saya ucapkan selamat datang di posting ini. Intinya sih, posting ini akan panjang sekali. Jadi kalau kuota anda bermasalah lebih baik segera klik tanda silang yang ada di kanan atas, lalu beli kuota baru, terus buka lagi posting ini. Kalau nggak mau ya nggak apa-apa juga sih. Yang penting jangan minta pulsa atau kuota sama saya. Itu saja.

Kita mulai dari judul? Kenapa judulnya begini? William Shakespeare saja bilang “apalah arti sebuah nama?”. Itu sudah penulis legendaris lho. Makanya, saya yang penulis cupuistis juga hendak menyitir Pak William dengan menyebut “apalah arti sebuah judul?” Hanya orang-orang tertentu yang tahu makna kata pertama dari judul posting ini.

Sudah ini? Mulai? Yakin? Baiklah! INI DIA!

Ini kompilasi keren sebenarnya. Keren karena sebenarnya duit saya lagi mendekati tandas, tapi niat saya malah menyerbu kuat. Akhirnya kantong ngalah. Untung pula ada pengumuman penyesuaian gaji karena kenaikan BBM, jadi urusan kantong bisa dipikirkan belakangan. *buru-buru beli mie instan yang banyak*

Trip ini dirancang dalam rangka membuat diri saya tidak menjadi loser sejati. Sebagai perencana produksi yang ulung dengan angka order fulfillment selalu 100% sejak 2011–silakan cari Supply Chain lain sedunia yang dalam dua tahun berturut-turut bisa segitu angka order fulfillmentnya–maka saya nggak perlu perencana trip. Saya tinggal mengandalkan Mbah Google dalam merencanakan trip ini.

Dan tujuan dari trip kali ini adalah….

Selamat Datang di Semarang

Selamat Datang di Semarang

SEMARANG!

Saya ambil cuti dua hari, Kamis dan Jumat untuk perjalanan ini. Agak aneh ya? Intinya sih saya mau sebelum lebaran. Saya juga nggak menggunakan jalur darat Pantura alias bis. Ada dua pertimbangan utama. Pertama karena saya membawa Tristan dan Eos, yang total nilai keduanya melebihi harga diri saya, soalnya masih utang. Kedua, karena saya masih tobat soal Cikarang-Jogja 18 jam. CAPEK!

Lalu naik apa? Karena tujuan lain dari trip ini adalah untuk memberdayakan si Eos, maka saya memutuskan untuk naik pesawat.

Biasanya Kramat Djati, sekarang beralih sedikit ke Garuda. Sekali-kali nggak apa-apa. Harganya “cuma” selisih 100 ribu dengan si Merah. Dan Garuda kan nggak pakai pajak bandara lagi, jadi total hanya selisih 50-60 ribu saja. Anggaplah selisih itu sebagai harga roti dan segelas susu ultra, plus buat nambah-nambah kilometer terbang saya sebagai Frequent Flyer Garuda. Iya. Setahun dua kali naik Garuda aja nggaya punya Frequent Flyer. Penumpang macam apa saya ini? Memalukan.

Semua urusan pertiketan saya bereskan 24 jam sebelum berangkat. Tiket Garuda saya beli online menggunakan website Garuda. Dan sebagai Frequent Flyer, saya login, lalu beli. Kemudian bayar pakai e-commerce BCA. Dunia makin gila ya. Saya bahkan nggak perlu mengucap sepatah katapun untuk membeli tiket ini. 512.500 terdebet dari rekening payroll saya untuk sebuah tiket Garuda Indonesia dari CGK ke SRG. Karena sebelumnya saya hanya pernah ke Semarang naik sepeda motor dan bis, maka artinya ini adalah penerbangan pertama saya ke Semarang. Artinya lagi, ini menambah koleksi bandara yang saya darati. Tercatat sebagai penerbangan ke-76 saya seumur hidup. *melankolis kampret yang menghitung dan mencatat jumlah penerbangan yang dilakoni*

Sedangkan untuk pulangnya, lagi-lagi untuk memberdayakan si Eos, saya order online via layanan 121-nya Kereta Api. Dan ini juga pertama kalinya saya akan naik kereta dari Stasiun Semarang Tawang (SMT). Dan biar lebih seru–sekaligus lebih murah–saya ordernya bukan kereta api jurusan Jakarta, apalagi Cikarang. Saya beli tiket Semarang – Bandung, lalu lanjut Bandung – Jakarta. 😀

Dan karena saya sudah akrab dengan 121, maka bukan merupakan issue utama soal order ini. Cuma kok ya yang ngeladenin cowok, biasanya kan cewek. -____-” Transaksi saya tuntaskan via ATM Mandiri, seperti biasanya.

Dan sampailah hari Kamis, harinya perjalanan. Saya cabut dari kos-kosan jam 6 kurang 15. Pikir saya, jam 6 gitu kan, jalanan masih sepi. Tapi saya lupa kalau ini Cikarang. Bahkan ayam saja kalah agresif daripada Cikarang. Jam 6 itu segala macam bis, mobil, dan sepeda motor sudah berkeliaran di jalanan, dan nggak kalah macet dari jam 7, 8, dan seterusnya. Ini Cikarang, Bung!

Saya kemudian parkir si BG di tempat penitipan langganan, yang ada CCTV dan tempatnya terlokalisasi. Beda sama tetangganya, yang sekali-kalinya saya parkir, si BG pindah sejauh 100 meter. Kampret bener. Saya lalu menunggu Damri Jababeka – Bandara di depan penitipan motor itu. Tentunya berharap tidak ada orang kantor yang lewat. Dikiranya saya mau interview, jam 6 udah nangkring aja di tol. Selalu saja ada orang yang berprasangka buruk dengan mudah. Bahkan waktu saya Kelas Inspirasi aja dikira interview! Sinting.

30 menit saya menunggu, persis selama Jamrud menunggu tanpa suara dan resah harus menunggu lama kata darimu. Sesudah 30 menit itu, Damri yang dimaksud lewat. Saya naik, dan bertemu dengan…

Oma Cwi Mie.

Penting ya? Nggak juga sih.

Dua jam lebih saya digoyang di atas Damri ini. Ya namanya juga jam berangkat kerja. Tol Halim itu macetnya minta ampun. Saya bayangin Pak Anang yang SETIAP HARI menempuh kemacetan itu. Kuat-kuat saja dia. Kalau saya? Mungkin sudah resign dengan sukses. Sukses resign itu prestasi bukan ya?

Kira-kira jam 8 lewat 20 saya sampai di terminal 2F. Saya termasuk rombongan terakhir yang turun dari bis. Oma Cwi Mie bilang, “sukses ya”, waktu dia mau turun. Saya anggap itu adalah doa agar Loser Trip saya sukses menjadikan saya tidak loser.

Hasilnya? *ting tung ting tung*

Saya lalu kabur ke AW. Sudah lama saya tidak mencicipi makanan favorit dulu kalau di bandara, jaman masih LDR: Fish Sandwich. Di AW saya ketemu dengan dua karyawati berhijab, dan meladeni makanan. Ada tirai memang di depan AW. Ehm, ini semacam menghormati ya mestinya. Tapi saya kok tetap makan sambil ngelirik supaya mbak-mbak-nya nggak ngelihat. Kebiasaan di Bukittinggi masih kebawa banget.

Tapi saya nggak minum rootbeer, air putih saja. Sakit gigi ini begitu perih, sehingga saya harus berganti selera. Kalau lagi begini, saya baru menyadari bahwa sakit hati itu lebih mendingan. Ya nanti kalau lagi sakit hati, maka sakit gigi akan menjadi tampak lebih indah. Apa-apaan ini?

Terminal 2F lama-lama nggak asing memang dalam hidup saya, sejak saya mencoba menaikkan derajat dengan berprinsip, kalau bisa Garuda, ya Garuda. Kalau pulang misalnya, saya akan cari salah satu penerbangan Garuda. Dengan kompensasi penerbangan sisanya yang murah. Mudik terakhir saya “hanya” habis 1,2 juta pp, separo dari lebaran tahun lalu. Kenapa? Karena berangkatnya pakai Tiger Mandala, pulangnya Garuda. Bersakit-sakit dahulu, nggaya kemudian.

Penerbangan 11.50, dan saya sudah cek in jam setengah 10. Alangkah kurang kerjaannya saya ini. -____-

Lalu saya sudah mau masuk ke ruang tunggu. Nggaya naik conveyor. Begitu nyampe, ternyata antriannya sudah sepanjang seperempat akhir benda yang bikin malas itu. Walhasil belok kiri, jalan lagi seperempat conveyor, lalu antre. Eh buset. Sempat ditolak (hiks) masuk ruang tunggu karena kepagian, saya kemudian ngemper sambil online di luar ruang tunggu. Syukurlah saya sudah punya Tristan. Kalau nggak? Saya hanya akan repot nyari colokan si Lappy karena dia hanya mau hidup dengan colokan. Prinsip hidup yang cukup menyusahkan kalau lagi di bandara.

Begitu saya masuk ruang tunggu. Rada kaget juga. Iya kaget karena memang terakhir kali saya berangkat naik Garuda dari 2F memang sudah agak lama, kalau mendarat lebih sering sih. Kalau nggak salah pas nikahannya Boris. Eh pas ngurus SKCK ding. Kagetnya karena di ruang tunggu sekarang ada yang namanya pojok baca, disponsori sebuah asuransi. Ada sofa, ada majalah, ada buku, dan NYAMAN ABIS. That’s why i love Garuda 😀

Dan ruang tunggu menjadi semakin ramai. Saya selalu mengamati bahwa rupa-rupa penumpang Garuda itu banyakan songong-nya. Kalau penumpang Lion Air atau Sriwijaya itu banyakan katro-nya. Maaf ini kesimpulan sepihak. Memang saya ini sudah songong, katro pula. Lagipula dari 76 penerbangan saya, yang pakai Garuda baru belasan kok. Jadi memang saya ini banyak katro-nya. *bahkan saya sendiri kurang paham makna tulisan barusan*

Oke. Siap. Berangkat.

Sesudah panggilan boarding, saya segera naik bis. Ealah. Mahal-mahal beli tiket, jadinya ya bis juga. Dan tahu bukti songong-nya? Kursi ada, tapi semua pada mau berdiri. Songong karena mikirnya deket. Ternyata? Jauh abis! Soalnya pesawatnya parkir di keberangkatan luar negeri. Nyempil di dekat-dekat pesawat-pesawat besar. Mungkin nggak dapat tempat mendarat saking padatnya bandara terbesar di Indonesia Raya Merdeka Merdeka itu.

Saya sengaja milih tempat di jendela, jadi bisa dengan lebih mudah beraksi galau dan tidak terselamatkan. Cukup menatap jendela, bertemankan awan, setel playlist galau. Beres deh.

Tempat yang saya ambil adalah 21F. Yang mana daripada itu sedikit di belakang sayap. Maka tidak heran kalau separo hasil karya si Eos akan selalu berhiaskan sayap menekup ke atasnya si Garuda GA 236 ini. Okelah. Yang jelas mimpi saya bisa motret pakai DSLR lewat langit terlaksana. Terakhir kali saya motret dari langit itu ya pakai Brica Ambon. Sebelumnya malah pakai kamera pocket yang blitz-nya dimatiin. Mimpi itu bisa terwujud ya kalau diusahakan. Usaha ngutang buat beli si Eos, usaha cuti, usaha buat beli tiket pesawat. Simpel kan?

Hasil Karya Eos

Hasil Karya Eos

Sayangnya saya dapat 737-800 yang bukan NG. Jadi tidak dapat LCD pribadi kayak biasanya. Hanya ada layar nekuk di atas, dan kebetulan tepat di atas saya.

Njuk piye le nonton? *asem*

Dan ternyata penerbangan ini sebentar sekali, plus mlipir pantura. Jadi pemandangannya nggak jauh-jauh dari laut. Hiks lagi. Beda sama penerbangan dari Padang yang full of green, atau dari Palembang yang berhiaskan sungai plus Kepulauan Seribu. Cenderung lebih asyik untuk difoto.

Mlipir Pantura

Mlipir Pantura

Plus, ternyata penerbangan ini sebentar sekali. Cenderung nggak kerasa. Hedew.

Duduk Pas Sayap

Duduk Pas Sayap

Harapan saya untuk motret Kota Semarang dari langit kandas karena ternyata bandara Ahmad Yani ini langsung mlipir laut. Beda banget sama Jogja yang memperlihatkan profil kota sebelum mendarat. Ini laut, laut, sawah, lalu landasan. Rasanya bandara ini lebih besar dari Jogja, karena ngerem-nya nggak sekeras di Jogja, kalau menurut saya.

Sebelum Mendarat

Sebelum Mendarat Apa Sesudah Mengudara ya? *lupa*

Sampai di landasan, turunnya tanpa belalai. Benda yang hanya ada di bandara nggak minjem kayak Minangkabau atau SMB II. Kalau minjem kayak Jogja atau Semarang atau Medan yang Polonia, ya nggak ada. Tanda minjem? Lihat aja kalau ada menaranya tentara, itu tandanya bandara masih minjem. Minjem sejarah setidaknya.

Setelah mimpi motret dari langit terlaksana, sekarang mimpi motret pesawat dari landasan juga terlaksana. Kalau pakai HP, biasanya kan nunggu HP on dulu baru bisa motret. Sedangkan saya itu orangnya tertib, menyalakan HP yang kalau sudah sampai gedung terminal. Keburu nggak kelihatan pesawatnya.

GA 236

GA 236

Ada juga bapak-bapak yang motret pakai tablet-nya. Next target adalah tablet. Meski saya meragukan untuk apa juga saya punya tablet kalau semua aktivitas online masih bisa dicover sama si Young, ya meskipun dia harus tersambung selalu ke powerbank.

Sampai Semarang dan kesimpulannya adalah bandara ini kecil sekali. Lha kecil kalau begitu keluar LANGSUNG kelihatan parkiran mobil, dan ujungnya parkiran mobil juga kelihatan. Ealah. Plus akses keluar satu-satunya, selain dijemput dan ngesot, adalah taksi bandara. Dan layaknya taksi bandara manapun, tarifnya sungguh tiada masuk akal. Buat saya taksi bandara paling fair itu tetap Palembang. Bayar beberapa ribu di tempat, sisanya argo. Di Jogja? Tahun 2008, bandara ke Paingan yang cuma sakcrit itu bayarnya 35 ribu. Edan!

Mana yang ngelayanin karcis taksi itu udah tua pula. Kalau lambat kan logis. Tapi kalau lambat gitu kan saya emosi jiwa. Tapi ini kan perjalanan, masak saya emosi. Tak patut, kata Upin atau Ipin.

Hasil googling, saya memutuskan untuk naik taksi ke Katedral. Sebagai mantan warga Keuskupan Agung Semarang, saya kan pengen lihat juga Keuskupan Semarang dan katedralnya kayak apa. Sekaligus koleksi tambahan sesudah melihat Katedral Padang, Palembang, dan Jakarta.

Letak Katedral itu dekat Tugu Muda. Supir taksinya malah nanya, “Katedral mana ya Mas?”

Untung sudah googling. Hahahaha. Tinggal jawab, “dekat Tugu Muda.”

Dan ya memang Katedral itu seputar-putar Tugu Muda. Dan malah sebrang-sebrangan sama Lawang Sewu yang legendaris itu. Sayangnya nih, saya nggak bisa masuk Katedral itu. Agak miris juga ya, umat Katolik, nggak bisa masuk Katedral. Padahal di saat yang sama orang lain bisa masuk Watugong dan Gereja Blenduk, walaupun bayar. *tanya kenapa*

Di Katedral, tujuan saya yang utama sebenarnya cari halte Bus Rapid Trans-nya Semarang koridor 2. Cara irit kan? Sesudah tarif kampet 40 ribu bandara ke Katedral, maka perlu penetralisir dompet. Tentu saja 🙂

Di sebelah Katedral ternyata ada sekolah Dom Savio. Satu hal yang selalu saya ingat dari nama sekolah ini adalah dulu waktu di JB kelas I-5, ada anak nomor absen 5, namanya Alexander Ivan berasal dari sekolah ini, dan tidak pernah nongol sebagai siswa JB. Ini kan sebuah misteri, yang harus diungkap setajam silet. Silet pitik.

Sebenarnya pengen mampir dulu ke Lawang Sewu, wong cuma nyeberang. Tapi kok tiba-tiba mendung menggantung dan hujan melanda. Ya sudah, memandang Lawang Sewu-nya dari kejauhan saja deh. Saya akhirnya umpek-umpekan sama anak-anak sekolahan di dalam BRT warna merah jurusan Terminal Sisemut itu. Ini jam padat.

Agak unik BRT ini menurut saya. Mekanismenya lebih mirip Trans Musi mungkin. Ya secara saya belum pernah naik Trans Musi sih. Soalnya Halte-nya kosongan. Halte kosong ini tentu beda dengan Trans Jogja, apalagi Trans Jakarta. Jadi begitu umpek-umpekan, si penarik bayaran niscaya akan bingung, mana yang sudah dan mana yang belum. Untung bisnya kecil. Oya, bis-nya keren. Mungkin karena masih baru. Setahun yang lalu waktu saya ke Semarang demi naik Bejeu, belum ada BRT koridor 2 ini.

Intermezo sedikit, saya ketemu anak SMP cantik namanya Sabrina Taleetha, turun di Pasar Jatingaleh. *Iklan Layanan Masyarakat*

Satu hal lagi yang membedakan BRT ini dengan Trans Jogja, apalagi Trans Jakarta, adalah berhenti-nya. Selalu ditanya dulu. “Pasar Jatingaleh?”, kalau ada yang bilang ada, baru berhenti. Lah kan aneh. Jadi nggak selalu mandek di setiap halte. Dan yang unik berikutnya adalah di hujan yang deras itu ada Honda Tiger yang parkir PERSIS di tempat BRT harusnya mandek. Dan begitu BRT datang ke halte itu, yang punya motor diam saja, berasa halte ini punya Mbah Kakung-nya.

Itu kalau di Jakarta mungkin sudah dihajar massa.

Plus, ada satu halte yang saya lupa, yang di depannya persis terparkir mobil Carry jadul warna hijau. Dan khusus disini penumpang akan turun lewat pintu depan. Mungkinkah pemilik Carry itu adalah penunggu halte, sehingga BRT nggak berani menggusur. Suasana semakin mistis karena ada taburan bunga di atas Carry hijau itu. Hiiii… wagu.

Saya turun sejurus sesudah patung Pangeran Diponegoro. Masih hujan, tapi sudah tidak sederas waktu di Katedral. Mengulang kejadian yang sama setahun silam. Ya sudah, wong tas saya sudah punya pelindung parasut dua biji, jadi perjalanan diteruskan saja. Entah kenapa, sejak Heavy 13, saya memang cenderung takut hujan, Takut yang aneh.

Hari hujan ini justru bikin galau. Halah, nggak hujan juga galau. Sambil hujan-hujan ini, saya mengirim sebuah pesan singkat, yang kemudian sampai kepada nomor yang dituju. Iya, udah gitu doang sih.

TERUS KENAPA?

Nggak ada apa-apa sih. Sejak masuk penginapan sekitar jam 3, sampai kemudian Romelu Lukaku menorehkan luka ke gawang Kurnia Meiga, saya nggak keluar-keluar kamar lagi. Dengan kata lain, molor sampai pagi.

Bangun-bangun kok sudah Jumat. Coba kalau bangun-bangun masih Kamis, kan saya nggak harus nambah biaya penginapan. Di hari Jumat ini, tujuan saya adalah sebuah tempat yang katanya namanya Pagoda, beberapa kilometer dari tempat saya menginap. Ini aksesnya jauh lebih mudah daripada saya harus ke Sam Poo Kong. Dan katanya, yang akan saya tuju ini lebih gede. Ya benar atau tidaknya kan harus dibuktikan.

Pohon dan Angsa (Kelihatan Nggak?)

Pohon dan Angsa Di Depan Penginapan (Kelihatan Nggak?)

Hasil blogwalking bilang kalau saya cukup naik BRT arah Sisemut untuk bisa sampai ke tempat yang hendak saya tuju ini. Jadilah saya kembali ke Halte Srondol. Mikirnya kan logis ya, ada halte, ada BRT, ada penumpang, maka bis berhenti. Iya kan?

Iya apanya. Nggak! Saya nangkring di Halte Srondol dan cuma dilewatin doang sama bis nomor 39 dan 40. Setelah saya analisis, ternyata halte ini ketutup pohon, jadi nggak kelihatan kalau ada orang. Selain itu, saya-nya memang pada dasarnya juga sudah untuk dilihat. Maka lengkap sudah.

Jadi, saya turun dari Halte Srondol dan menuju Halte Tembalang. Dari tadi, dua BRT mampir di halte ini. Dan benar saja, bis nomor 41 mampir dan saya segera naik. Begitu ketemu kondektur-nya, saya berpesan kepada kondektur, layaknya orang tua pada anaknya.

*uopoooo*

“Mas, Watugong medun ngendi?”

“Mega.”

“Sip.”

Halte demi halte dilewati, dan akhirnya saya sampai juga di halte yang disebut Mega itu. Pas turun saya juga kurang paham Mbak-Mbak yang namanya Mega itu nunggu dimana. Pas pulang baru tahu kalau itu nama perumahan.

Pas turun dari Mega, pucuknya pagoda sudah kelihatan. Jadi saya berjalan terus ke selatan guna mencari kitab suci. Yang unik, dari Mega sampai ke Pagoda itu, berjejer penjual ubi cilembu rasa madu. Lah, ini Semarang apa Bandung?

Untung bulan puasa, jadi saya nggak beli. Ya meskipun kata-kata sebelum dan sesudah koma itu sama sekali tidak berhubungan sih.

Terus berjalan ke selatan sambil disabet udara kencang tronton yang lewat ke arah Ungaran, saya akhirnya sampai juga di Pagoda yang dimaksud. Izin dulu sama satpam, nulis di buku tamu, dan memberikan duit seikhlasnya. Paling suka kalau sudah seikhlasnya gini. Kalau saya nggak ikhlas, nggak apa-apa dong?

Hanya karena saya kasihan kepada Pak Satpam yang menonton sinetron, buat saya sih nggak sesuai sama profesi, jadi saya tetap ikhlas ngasih.

Sesudah izin untuk mengambil gambar, akhirnya saya jeprat-jepret sana-sini di Pagoda ini. Asyik! 😀

Pagoda

Pagoda

Sempat ngobrol dengan Bapak-Bapak yang menunggui tempat beribadah ini. Juga cerita kalau hari Sabtu Minggu biasanya ramai, dan dikunjungi umat dari berbagai agama. Dia juga cerita kalau istrinya satu agama dengan saya. Dia juga cerita soal rombongan-rombongan yang datang kesana. Hingga bagian paling mengenaskan adalah ketika dia bertanya pada saya, “punya pacar nggak Mas?”

Mengheningkan cipta, mulai!

Semut Aja Nggak Sendirian

Semut Aja Nggak Sendirian

Kebetulan masih pagi dan masih sepi, jadi saya menyempatkan diri untuk keliling-keliling, dan ketemu dengan tukang sapu yang juga bertanya kenapa saya sendirian.

Emangnya salah ya ke Pagoda sendirian? Nggak apa-apa, tinggal diberikan senyum termanis saja deh. Perjalanan ini juga saya lakukan dalam rangka membersihkan pikiran dari keinginan punya pacar, tapi nggak cinta. Ya to? Mending juga nggak punya pacar, daripada punya tapi kayak memaksa perasaan. Sudah pernah, dan sudah nggak mau mengulanginya lagi. Begitu sih.

Patung Budha dan Pagoda

Patung Budha dan Pagoda

Disini saya ketemu sama 1 keluarga dari Belanda. Ngobrolnya pas lagi foto-foto. Ternyata si Eos ada kembaran punya bule Belanda. Hore.

*senang yang tidak fundamental*

Menjulang Tenang

Menjulang Tenang

Sesudah capek dan sesudah minum teh kotak, saya akhirnya cabut dari Pagoda Watugong ini, untuk kembali ke utara. Kalau ke selatan lagi, saya takut kebablasan ke Jogja. Padahal cawet saya masih ada di penginapan. Masak saya mau ke Jogja tanpa cadangan cawet?

Angkot kuning menjadi pilihan. Ini hasil tanya-tanya sama teman Twitter soal akses ke Watugong, sehari sebelumnya. Nggak jauh saya naik angkot ini, dan tarifnya juga nggak se-kurang ajar angkot masuk ke kawasan Jababeka 2. Saya turun di Terminal Banyumanik, untuk lanjut BRT. Niat awalnya sih pulang ke penginapan, tapi karena kemarin belum sempat lewat Lawang Sewu, akhirnya saya memutuskan untuk bablas lagi ke Tugu Muda, sekadar mau lewat Lawang Sewu. Ogah masuk, soalnya hasil blogwalking perlu 30 ribu rupiah untuk biaya guide. Kalau guide-nya cewek nggak apa-apa, kalau guide-nya cowok? Bisa-bisa saya kayak homo nanti jalan berduaan sama cowok.

Ternyata BRT itu mandeg-nya agak jauh dari Lawang Sewu, di depan SMA 5 yang depan-depanan sama Balai Kota. Ehm, bagian Semarang yang ini asli keren. Area pedestriannya sungguh lapang, selapang dada Mbak Julia. Berharap ini ada di Cikarang, tapi–ah–yang penting kan industri yang dibangun, jalanan nggak usah, apalagi buat pedestrian. Buat apa?

*iri hati dot com*

Jalan ke Lawang Sewu sudah, lalu nyeberang lagi ke Katedral. Kayak kemarin sih. Tapi saya coba berhenti dulu beli Leker. Biar ada cerita kuliner Semarang. Padahal ya ini cuma Leker di depan Dom Savio. Dan anehnya, yang beli Leker bareng saya malah anak Don Bosco.

*tuing tuing*

Singkat cerita, Leker-nya habis. Ya karena emang cuma tipis gitu. Sama saya mah cepet banget habisnya. Plus saya beli juga Kopiko 78 derajat buat minumnya. Intinya sih biar ngepas belanja 20 ribu rupiah, mengingat tujuan utama jajan sebenarnya adalah mecah duit biru bung WR Supratman.

Saya kembali ke penginapan sekitar jam 12. Tidak ketemu Sabrina Taleetha yang pasti. Mungkin dia masih menuntut ilmu demi masa depan Semarang. Masih ada 1 jam sebelum cek out, saya manfaatkan untuk ngecas laptop dan leyeh-leyeh.

Jam 1 kemudian segera cek out dari penginapan, daripada disuruh bayar ekstra kalau molor. Padahal sih di hotel besar aja selisih 10-20 menit telat cek out ya nggak masalah. Ini memang semata karena saya tertib.

Untungnya Semarang lagi nggak hujan kayak pas saya datang sehari sebelumnya. Jadi saya bisa jalan sedikit ke Halte BRT Tembalang, tapi yang arah utara. Iya, sedikit. Sedikit jauh.

Pengen juga mencicipi jembatan penyeberangan yang ada persis dekat Halte Srondol. Soalnya Jalan Setiabudi ini agak ramai. Ah, tapi sebagai lulusan penyeberangan Gang Mesjid Jalan Raya Bogor, malu sih kalau nggak bisa nyeberang jalanan manapun di dunia. Tempat yang saya sebut barusan adalah tempat penyeberangan tersulit sedunia versi On G Spot.

Jadi, saya pakai jembatan penyeberangan itu sebatas pengen nyoba.

Dan…

ngeri. -___-

Bukan apa-apa, itu jembatan penyeberangan menggunakan kayu sebagai alasnya. Kayu yang di beberapa bagian goyang, dan di beberapa bagian lain bolong. Pantes nggak ada yang berminat naik jembatan ini. Juga nggak ada yang berminat nongkrong jualan sprei layaknya jembatan penyeberangan di ibukota negara sana.

BRT yang dinanti tiba tidak lama sesudah saya turun dari jembatan penyeberangan. Artinya? Iya, saya ketinggalan BRT itu. Soalnya halte Tembalang masih rada jauh dari jembatan maut ini. Nggak apa-apa, 10 menit lagi juga lewat. Mobil merah itu benar-benar membantu saya dalam perjalanan ke Semarang kali ini. Dan di BRT menuju Terboyo ini saya duduk dekat Bapak-Bapak yang mengeluh kok BRT ini lama.

“Keokehan mandek.”

-____-

Namanya juga BRT, ya pasti akan berhenti dari halte ke halte. Dia lalu membandingkan dengan bis Solo. Saya cuma membatin, “Kok yo tadi nggak naik bis Solo aja. Sekarang muring-muring begini.”

Dasar manusia.

Saya lewat lagi Katedral dan Lawang Sewu, tapi ya cuma lewat, karena saya memutuskan untuk langsung turun di Stasiun Tawang.

Ini jam 2, dan kereta saya jam setengah 9. Orang gila.

Kota lama segera dimasuki, ditandai dengan bangunannya yang tua-tua dan tampak penuh beban hidup. Saya turun di Halte Tawang, sedikit berjalan kaki dari pintu masuk Stasiun Tawang. Kesan pertama, halaman parkirnya luas. Dan kesan berikutnya adalah betapa besarnya polder Tawang yang ada di depan stasiun yang katanya tertua di Indonesia itu.

Saya masuk hendak menukarkan struk ATM dengan tiket. Dan ternyata online KAI benar-benar sudah canggih. Termasuk tiket Bandung-Jakarta bisa saya cetak di Semarang. Hmmm, berarti besok-besok kalau beliin tiket buat orang tua, sekalian aja saya cetak di Bekasi atau di Senen kali ya. Daripada ngirim struk doang.

Sebuah perubahan signifikan di bawah asuhan Pak Jonan dan Pak Dahlan. Ini signifikan banget lho, dibandingkan tahun 2010. Nggak sampai 5 tahun, dan perubahan menjadi amat sangat jelas.

Angkat jempol deh.

Tawang

Tawang

Saya kemudian cari makan, guna persiapan minum Amoxicillin terakhir yang saya konsumsi gegara sakit gigi. Cari makannya ini rada males, karena bau polder rada amis, kalau mau makan di dekat polder kok bikin nggak nafsu.

Akhirnya saya asal jalan aja. Dari stasiun ke kiri, sampai nemu mesjid, dan sebuah hamparan air yang cukup luas. Mungkin ini laut? Ah, apa iya?

Sesudah ke Katedral, lalu ke Watugong, saya kemudian ngemper 15 menit di mesjid dekat hamparan air itu 😀 Nggak aneh, karena yang numpang terkapar ada banyak. Kalau yang sholat beneran sih hanya dua orang. Mesjidnya bagus, terbuka, dan mulus.

Nah, di depan mesjid itu ada tukang becak. Saya segera mendekat, dalam rangka hendak ke Gereja Blenduk. Sudah sampai Tawang kok ya nggak ke Blenduk kan rugi. Jadi saya mendekat, dengan estimasi budget 10 ribu rupiah. Karena saya tahu itu dekat.

“Blenduk piro, Pak?”

“Delapan ribu.”

Berhubung di bawah budget, langsung naik. Dan namanya becak, hedeh, ini transportasi paling tidak fair. Penumpang akan disodok truk lebih dulu dalam posisi adu kambing. Dan mendekati polder, becak yang saya tumpangi hanya selisih 30 cm dengan BRT dari arah Tawang.

Ealah.

Menjulang Teguh

Menjulang Teguh

Sampai di Blenduk, saya kasih 10 ribu, dan bonus 2 ribu tentu saja karena saya nggak minta kembalian. Langsung kabur saja. Mengingat untuk jarak ini, ojek-ojek di kawasan industri sudah pasang tarif 7 ribu, maka tarif 10 ribu untuk becak, bagi saya sangat masuk akal.

Akhirnya melihat juga Blenduk ini, sesudah sering lihat di blog orang. Ketemu satpamnya, katanya kalau masuk 10 ribu per orang. Ada yang unik sih, waktu saya masuk, di tempat duitnya itu ada menggantung duit 20 ribu, si satpam nggak mendorong masuk uang itu, tapi menariknya keluar pelan-pelan dengan tangan kanan, lalu masuk ke kantong.

Hehehe. Sebagai mantan anak gereja yang ngerti sela-nya kotak sumbangan, apa yang dilakukan oleh satpam tadi begitu kasar, seharusnya dia bisa berlaku lebih mulus lagi kalau mau memiliki duit 20 ribu itu.

Ya sudahlah. Urusan dia sama Tuhan 🙂

Blenduk di Langit Biru

Blenduk di Langit Biru

Ada organ yang menetap di gereja itu. Mirip Katedral Jakarta, tapi lebih kecil. Dan Blenduk sendiri ternyata gereja kecil. Bayangan saya aja yang berlebihan, ternyata.

Hanya 5 menit dan beberapa foto dengan Eos, saya cabut. Kalau tadi 10 ribu buat becak berguna, 10 ribu yang ini kok semacam wagu. Jadi, saya menuju penghabisan 10 ribu berikutnya di warung dekat Blenduk situ.

Saya pesan indomie goreng, plus es teh manis. Lumayan untuk persiapan ngantibiotik.

Sambil menanti, saya melirik ke taman di dekat Blenduk. Taman yang asri dan bagus, tapi sayangnya, di sudut-sudutnya ada orang kumuh, dengan tatapan mengerikan. Sebagai orang yang punya trauma mendalam pada orang gila, yang menyebabkan saya ogah jadi orang gila, maka saya buru-buru makan dan buru-buru kabur.

Saya ditendang orang gila itu tahun 2000, sampai 2013 masih aja takut sama orang gila.

*melankolis yang trauma mendalam*

Kabur dengan berjalan kaki ternyata membuat saya mendapati beberapa objek menarik diantara Blenduk dengan polder Tawang. Semisal, pemukiman tentara, atau semacam asrama. Mirip dengan yang ada di Bukittinggi dulu.

Sampai di polder Tawang, saya sempat takut begitu hendak mengeluarkan Eos. Ya secara ini tempat terbuka, dan tentu saja ada kemungkinan kriminalitas. Bukan apa-apa, masalahnya ya belum lunas itu tadi.

Lihat Blenduk Disana?

Lihat Blenduk Disana?

Hingga akhirnya saya nekat saya potrat-potret di sekitar polder Tawang. Syukurlah tidak ada masalah yang berarti. Ada beberapa gambar yang saya suka. Sebagai orang cupu di dunia fotografi, suka ini sangat relatif 😀

Biru

Biru

Menjelang gelap, saya masuk kembali ke Tawang, dan bertemu dengan seorang lelaki dengan tas besar lagi foto-foto di depan tulisan Stasiun Tawang. Dia minta tolong saya mengambil fotonya, pakai camdig kecil, lebih bagus dari Brica Ambon yang pasti.

Ternyata dia adalah Rio, orang Medan yang baru pulang dari mendaki gunung-gunung di Jawa. Ketika saya menyebut Slamet–ini nama ex calon mertua–dia lalu menyambung dengan Sumbing dan Sindoro. Keren juga ini orang. Sejak bulan Mei dia datang ke Jawa untuk mendaki, dan sekarang hendak balik Jakarta, lalu terus ke Medan.

Merah Putih Berkibar

Merah Putih Berkibar

Manusia yang mengikuti passion-nya, bagi saya adalah manusia yang seutuhnya.

*nggak kayak saya*

Sudah gelap, saya kemudian mampir ke Dunkin Donuts yang ada di dalam stasiun. Karena saya pesan teh panas, saya dapat kopi panas. Itu artinya, dalam sehari saya minum 2 gelas kopi hitam, di penginapan pas sarapan dan di Dunkin ini. Belum lagi dua botol 78 degree yang saya hajar di jalanan.

Dijamin nggak ngantuk ini mah.

Sebagian dari tulisan ini saya garap sambil menyantap donat di Dunkin Donuts Stasiun Tawang Semarang. 🙂

Kereta Harina yang akan mengantar saya ke Bandung, terlambat 15 menit. Saya dapat posisi 4A, dekat jendela, tapi nggak bisa foto-foto soalnya sudah gelap. Dan efek kopi begitu terasa karena sampai jam 2 saya nggak tidur-tidur. Biasanya sih kopi nggak ngaruh ke saya, tapi mungkin ini kebanyakan kopi kali ya.

Tidak ada perbedaan signifikan kalau naik kereta api. Merk apapun ya sama saja. Kereta ya gitu-gitu aja kan? Beda sama pesawat yang interior berbeda, dan beberapa perlakuan juga berbeda. Jadi, nggak banyak cerita di dalam Harina ini.

Paling 1 doang, yakni kereta ini jalan sampai (mungkin) Purwakarta dengan arah ke depan. Dari (mungkin) Purwakarta itu, kereta jalannya mundur. Kayaknya sih semacam jalur segitiga. Dengan orientasi yang berbeda.

*iki ngomong opo sih*

Dan… sampailah di BANDUNG. St. Hall tercinta. Saya akrab dengan stasiun ini sekitar 2008-2009. Dimulai dari liburan ke Bandung medio 2008, lalu interview Medion awal 2009, diakhiri panggilan wawancara Sanbe beberapa pekan kemudian. Hanya 3 kali kalau nggak salah, tapi saya serasa paham banget tempat ini.

Entah kenapa.

Bandung :)

Bandung 🙂

Sembari menunggu kereta berikutnya, saya melanjutkan tulisan ini di Hoka Hoka Bento. Jadi ini tulisan bakal keren habis karena dikerjakan di berbagai kota yang berbeda. Hehehe.

Jam 06.45, kereta Argo Parahyangan sudah stand by di jalur 5. Padahal berangkat jam 07.15. Saya masuk saja, supaya bisa menikmati fasilitas berupa bantal. Sambil persiapan nge-charge si Young yang mendadak gundah dalam perjalanan musafiriah saya ini.

07.15, kereta melaju, dan tidak lama kemudian, saya mendapati sesuatu yang saya cari khusus di perjalanan ini.

Ijo Royo-Royo

Ijo Royo-Royo

Pemandangan yang indah.

Tsakep Abis

Tsakep Abis

Jakarta-Bandung, bahkan via Tol Cipularang saja sudah memberikan pemandangan yang keren. Kalau naik kereta, si Tol Cipularang itu saja bisa saja foto. Hanya saja, saran nih, kalau mau naik Argo Parahyangan Bandung-Jakarta, pilih bangku A atau B. Jangan C dan D kayak saya. Ketemunya cuma tebing doang. Untungnya bangku A kosong, jadi saya bisa pindah-pindah jeprat-jepret sana-sini. Well, sampai kemudian kehabisan memori.

Tol Cipularang :)

Tol Cipularang 🙂

Mendapatkan yang dicari dari sebuah perjalanan, adalah sebuah kepuasan batin yang tidak tertinggi. Bukan begitu?

*padahal ini perjalanan cari pacar*

*dan nggak dapat*

*sigh*

Masih tsakep abis

Masih tsakep abis

Hanya setengah jalan yang indah. Sisanya? Ya namanya sudah Cikampek-Karawang-Cikarang-Bekasi-Jakarta. Mau lihat apa lagi di kota-kota itu? Saya malah ngerasain lewat Lemah Abang, dan berhasil mengambil foto disana. Iya, jalanan yang bikin saya membatalkan niat punya rumah di Cikarang, meskipun sebenarnya saya sudah punya.

Ulah Orang Gila

Ulah Orang Gila

Hingga akhirnya…

JAKARTA.

Stasiun Gambir ya masih begini saja. Saya foto sedikit si Mbah Monas sebagai oleh-oleh terakhir Loser Trip ini. Lanjut ke Trans Jakarta arah Harmoni, kemudian turun di Gelora Bung Karno. Dan keberuntungan petualang adalah, begitu turun jembatan, ada bis Lippo Cikarang lewat. Kosong pula. Saya bisa tidur dengan nyenyak.

Dan memang nyenyak. Hanya saja, entah kenapa, saya sudah tiga kali ini, tidur di bis Lippo, dan bangun PAS di pintu tol Cikarang Barat. Kebiasaan petualang? Mungkin. 😀

Si BG saya tebus sesudah saya tinggal dari Kamis. Jalanan Cikarang ya begini ini. Macet. Untungnya sudah biasa. Saya kemudian melengkapi hari penuh junkfood dengan mampir ke McD Jababeka. Dunkin, Hokben, McD. Betapa kapitalisnya hidup saya.

Siang hari yang terik. Saya sampai kembali di kos. Perjalanan berakhir dengan kantong bolong meski nggak overbudget.

Pertanyaan besarnya adalah:

Apakah saya masih loser sesudah perjalanan ini?

Jawaban besarnya adalah:

Iya. Tapi setidaknya saya adalah loser yang berusaha untuk tidak menjadi loser lagi. Meskipun memang belum mendapat kesempatan menghilangkan predikat yang saya buat sendiri itu.

Mungkin memang perlu cara lain. Ya sudah. Yang penting, saya sudah mencatat bandara baru dan stasiun baru untuk dikunjungi. Saya sudah berhasil mengambil foto pakai DSLR dari langit, juga dari kereta api. Saya juga sudah mengabadikan berbagai gambar bagus dengan si Eos.

Tapi yang paling menarik dari perjalanan ini adalah obrolan saya dengan seorang Bapak di Watugong, juga percakapan saya dengan Rio si anak Medan. Sebagai seorang introvert, bisa bercakap-cakap dengan orang baru sepanjang perjalanan adalah sebuah kemajuan yang luar biasa. Untuk konten, tentu ada yang bisa ditarik 🙂

Demikian laporan perjalanan saya. Ada sekitar 5000 kata, alias 12,5% dari sebuah naskah novel. Delapan kali cerita perjalanan macam ini, sudah bisa bikin novel lho.

Saya masih seorang loser, dan mungkin anggap saja saya gila. Tapi sejatinya saya adalah orang gila yang berusaha untuk menjadi waras dan tidak loser. Itu saja sih poinnya.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Semoga memberi kesan yang baik ya. Karena tiada kesan tanpa kehadiranmu.

*iki blog opo pesta ulang tahun?*

😀

Wisma Hasanah, Semarang 250713
Stasiun Tawang, Semarang 260713
Stasiun Hall, Bandung 270713
Kedasih, Cikarang 28290713

@ariesadhar