PPIC Itu Ngapain Aja Sih?

PPIC Ngapain Aja

Tidak terasa sudah empat tahun saya berkecimpung kemplang kemplung di dunia per-PPIC-an. Oke, ini dusta. Sebenarnya ya terasa sekali, terutama karena saya itu sama sekali nggak bisa memaksa orang untuk berbuat sesuai kehendak saya. Kalau saya bisa, mending juga saya ikut MLM yang itu tuh, dalam 4 tahun katanya sih sudah dapat kapal pesiar atau liburan ke Paris.

Melalui posting ini saya hanya hendak membagi pengalaman yang saya punya, utamanya untuk anak-anak muda yang hidupnya sedang labil karena sudah lulus dan belum bekerja dan lihat lowongan PPIC di koran.

Sebenarnya PPIC itu apa sih?

Lebih lanjut disini

Advertisements

Intuisi: Apaan Sih?

Beberapa minggu yang lalu, saya ke McD Jababeka. Sekilas terlintas dalam pikiran, “pasti nanti bakal ketemu si X”. Dua puluh menit sesudah saya menikmati dada-nya ayam yang tidak empuk tapi panas itu, saya melihat si X duduk di salah satu kursi disana.

Juga soal nama anaknya Pangeran William. Ketika orang ramai mempertaruhkan soal nama George atau Charles, saya kok tiba-tiba kepikiran nama saya: Alexander. Dan tidak lama kemudian, namanya muncul George Alexander Louis.

Tidak sedikit aspek soal intuisi yang kemudian bikin saya bingung. Kok bisa? Hal paling simpel dan sering terjadi adalah kalau di adu penalti PES. Tanpa mengintip, ada kalanya saya bisa menebak tendangan dengan benar. Yang nggak benar sih lebih sering.

Nah, pernah nggak sih kalian mengalami bisikan semacam saya tadi? Pasti pernah. Informasi langsung yang muncul dari dalam hati untuk sesuatu yang kadang sepele. Sekarang, apa coba pasalnya saya bisa mengira si X itu ada di McD, sementara tidak ada alasan khusus saya “memegang” nama X itu.

Saya lalu mencoba mencari kesini, dan menemukan sedikit hal.

Satu hal yang utama, intuisi dan wawasan adalah napas kehidupan. Pada dasarnya tidak banyak orang yang percaya, tapi diam-diam mempraktekkannya.

Katanya Sun Tzu begini, “setiap pertempuran dimenangkan sebelum berjuang”.

Nah loh. Jadi sebenarnya semua sudah dibisikkan sama intuisi. Apapun itu, termasu kemungkinan kita kalah. itu makanya yang lebih benar adalah berlaku yang terbaik 🙂

Manusia hidup di aktivitas yang sebenarnya konstan. Dan keberhasilan dalam melakukan itu tidak hanya datang dari yang kita lakukan, namun kesiapan dan kemampuan kita mengumpulkan informasi yang diperlukan. Informasi itu yang menopang intuisi, dan sebagai kemampuan bawaan, intuisi layak digunakan semua orang.

Kadang kita bercakap-cakap sendiri dalam diri kita. Argumen sana sini bikin rempong. Makanya kita perlu pendekatan baru yakni dengan benar-benar mendengarkan hal yang benar-benar menjadi respon dari diri kita.

Detailnya sila dibaca sendiri di link tadi. Saya juga pernah baca buku soal ini. Sebenarnya intuisi itu adalah kekayaan pribadi semua orang. Masalahnya, kadang nggak banyak orang menggunakan itu.

Salah satu contoh yang buat saya tertarik adalah adu penalti Italia-Spanyol di Euro 2008. Saya merekam semua tendangan penalti dan Iker Cassilas melakukan hal yang cukup mengagumkan. Dia bergerak sepersekian detik lebih dulu daripada kaki eksekutor sampai ke bola, dan semuanya tepat. Faktor intuisi ketika bisikan dari dalam hati, bercampur dengan informasi yang ada, menjadi poin disini.

Kita semua punya, saya juga. Tinggal gimana melatihnya. Nanti coba cari bukunya deh. 😀

Aneka Search Engine Terms yang Nyasar ke ariesadhar.com

Punya blog yang banyak isinya itu lumayan berguna ternyata. Minimal setiap hari ada 80-an pengunjung yang tiba di blog ini dengan status kesasar. Iya, kesasar karena ternyata banyak dari mereka yang tiba kesini dengan search engine terms yang sebenarnya kontennya nggak ada di blog ini.

Tapi ya banyak juga kok yang nyasarnya benar. Perihal bis Cikarang-Jogja, lalu juga soal shuttle bus Cikarang-Blok M, hingga soal-soal audit, itu rata-rata masuknya benar.

Nah, kalau yang benar itu sih kurang seru. Kalau yang nyasar ini yang suka mengundang tawa kalau saya lagi lihat dashboard. Berikut search engine terms terpilih 🙂

“cara menyimpan masalah tetapi raut muka tak kepikiran”

Picture2

Aslinya saya juga bingung ini nyasar ke posting mana dan apa pula tujuan mengetik deretan kalimat ini di Google. Tapi mari kita berpikir positif saja, siapa tahu yang mengetik SET ini memang lagi punya masalah, tapi nggak pengen kelihatan sama orang lain. Kali ya.

Ngenes Abis -> “Jatuh cinta diam-diam dengan teman sendiri”

Picture3

Ini pasti nyasar di aneka cerpen saya yang umumnya memang tentang cinta diam-diam. Tapi ya ngapain juga yang beginian diketik di Google? Saking desperado-nya apa yak? Terus jadinya kan malah baca cerpen saya yang tak kalah mengumbar kegalauan dong? Kasihan.

Setengah Berharap, Separuh Ngimpi -> GEBETAN menjauh

Picture4

 

Lha buset, baru juga gebetan sudah diharap mau kembali? Emang lo sudah pernah ngapain aja sama gebetan? Kalau pernah pacaran, diharap kembali kan tergolong masuk akal. Eleuh. Susah amat hidup yak. Kalau yang di bawah itu rada ngenes, dia bawa-bawa suku. Yah, menggebet cewek Batak memang punya tren tersendiri. Saya sih tahu, tapi nggak pernah, berhubung dilarang oleh emak saya (asli Batak) gegara sinamot itu mahal. Heuheuheu.

MESUM ABIS!!!

Picture1

Bahkan untuk cara membawa pacar ke hotel secara diam-diam saja terus nanya ke Google? Saya heran dengan isi otak yang ngetik deh. Sudah jelas hendak berbuat mesum, masih saja nanya ke Google. Untuk saja blog ini tidak berisi tips berciuman yang baik, kalau nggak pasti kemana-mana tuh. Hahaha. Lha kalau cuma mau bawa pacar diam-diam ke hotel, ya tinggal masuk aja. Emang siapa yang bakal nanya juga? Itu mesti yang ngetik SET masih anak ababil. 😀

Ya begitulah, sedikit saja. Beberapa SET yang unik memang saya bahas disini, termasuk yang dulu “ingin keterima farmasi usd”. Setiap hari selalu ada SET yang absurd, 4 teratas adalah yang terpilih dalam SET 30 hari terakhir. Hehehe.

Jangan semua ditanyakan ke Google ya. Masih banyak jawaban lain di dunia ini. 🙂

 

 

Derita Dalam Diam

“Hati-hati Bang. Ini aneh, tapi sering terjadi, dan bakal jadi jatuh cinta tersakit di seluruh dunia.”

“Apaan tuh? Ngeri banget?”

“Jatuh cinta diam-diam.”

“Waduh! Jadi gimana?”

“Bertindak!”

* * *

e4870ce6e44311323cca49de33ff9b65

Sudah berbilang tahun sedari aku dan Alfa bercakap-cakap dengan Alfa tentang perasaanku padanya. Telah beragam peristiwa berlalu sampai kemudian banyak kekhawatiran terbukti tanpa ada kompensasi.

Entah Alfa sudah berada dimana sekarang, tapi aku harus mengakui dengan sepenuh hati bahwa jatuh cinta ini adalah jatuh cinta tersakit di seluruh dunia.

Kenapa?

Kini, perlahan aku mulai menemukan jawabnya.

Karena sebesar apapun cintamu padanya, tidak punya makna apapun selama itu semua hanya dipendam. Dan, toh, tidak ada yang tahu cintamu itu selagi kamu memendamnya. Iya, tidak ada yang tahu, bahkan dirimu sendiri mencoba mengabaikan rasa itu dengan cara… memendamnya dalam-dalam.

Ketika dia disakiti, apa yang kamu lakukan?
Ketika dia mendapatkan cinta yang lain–yang kamu yakini tidaklah sebesar cintamu untuknya–apa pula yang bisa kamu tunjukkan?

Tidak ada. Cintamu hanyalah derita dalam diam.

Semua cinta yang dipendam, hanyalah ihwal kekalahan. Jelas demikian, karena dalam hal ini, yang berani mengungkapkanlah yang kemudian akan menang.

Aku sudah berada dalam keadaan hati yang tidak lagi utuh. Tercerai berai gegara terlalu besarnya cinta yang dipendam, sehingga kemudian dia meledak.

Meledak di dalam hati, tanpa ada yang tahu–sama sekali.

Aku memendam rapat-rapat semuanya ini, semata-mata takut membuat aku dan dia jauh. Apakah kamu juga begitu?

HAHAHAHAHAHAHAHASU…

Bahkan tanpa aku ungkapkan kemudian, segala dampak dari semua yang dipendam itu dengan sendirinya membuat dia jauh. Kalaulah dia jauh sesudah aku mengungkapkan semua perasaan ini, pastinya masih lebih baik daripada dia jauh tanpa aku pernah mengungkapkan cinta ini padanya.

Oh iya, cinta yang tidak pernah berubah sama sekali.
Sejak aku mulai menyimpan cinta ini dalam hati.

Aku sudah berada disini.

Kamu?

Ya, coba bayangkanlah. Imajinasikan dirimu berada di sebuah sudut ruangan besar dan kamu hanya meringkuk pilu di sudut ruangan itu. Ruangan yang nyata-nyata adalah hatimu sendiri.

Sementara, pada saat yang sama, orang lain tertawa-tawa bersamanya.
Atau mungkin, pada saat yang sama, dia menangisi orang lain yang menyakitinya.
Yang artinya? Bahkan bukan kamu yang ada di hatinya.

Hati itu memang dipilih, bukan memilih. Tapi memendam perasaan sama sekali tidak akan mampu membuka kesempatan hati ini untuk dipilih.

Hingga pada ujung dari semuanya itu, sebesar apapun cinta yang ada, selama apapun rasa itu dipendam, sepenuh apapun hatimu olehnya, tidaklah ada artinya.

Semuanya akan kalah oleh rasa yang terungkap. Mereka yang mengungkap rasa itu, yang menang. Sementara aku–dan mungkin kamu–akan terus terjebak dalam jatuh cinta paling sakit sedunia.

* * *

Sumber foto (dengan pengeditan)

Jenis-Jenis Cinta Diam-Diam

Seperti sudah sering diutarakan dalam blog ini, bahwa cinta diam-diam adalah bentuk kriminalisasi terhadap diri sendiri. Sebuah perbuatan yang jauh lebih kejam daripada kriminalisasi terhadap pimpinan KPK. Dan sangat jauh lebih lebih kejam daripada krimbatisasi rambut keriting.

Nah, sekilas marilah membahas jenis-jenis cinta diam-diam yang ada di dunia nan fana serta fanas (panas -red) ini.

Cinta Sama Sahabat

Pada sebagian kasus, terlalu lama bersama hingga terlalu akrab bisa menumbuhkan benih-benih cinta secara perlahan. Ya memang tidak secepat boneka horta menumbuhkan benihnya, tapi cinta jenis ini termasuk mendalam. Kita tentu mengetahui bagaimana Riani memendam perasaan pada Zafran (dalam novel 5 cm), plus Genta memendam hal yang sama pada Riani. Ini kan jenis cinta sam sahabat sendiri. Mau ditembak, takutnya ditolak, dan terus persahabatannya bubar deh. Ketakutan kehilangan ini yang menyebabkan bara cinta yang terpendam diguyur perlahan pakai air, tapi sesekali pakai alkohol juga. Berusaha dipadamkan, tapi kadang tetap dipelihara. Ya, pada akhirnya sih, tetap tidak dinyatakan.

Cinta Sama Saudara

Oke, bukan maksud SARA loh ini. Tapi ini berkaca dari pengalaman saya yang separuh Batak (tolong dinyanyikan ala NOAH ya). Seorang Simamora itu tidak boleh flirting dengan sesama Simamora, bahkan juga dengan beberapa suku lainnya. Kenapa? Karena kesamaan marga itu berarti kita bersaudara. Dan sekarang coba bayangkan seorang lelaki Simamora yang tampan bertemu seorang gadis Simamora yang cantik jelita, dan sebelum saling menyatakan cinta, mereka mengetahui kalau mereka 1 marga alias bersaudara. Daripada dinyatakan dan kemudian malah bikin heboh urusan peradatan, jadi alangkah lebih baik kalau perasaan itu dipendam dan nanti kalau pas mudik ke Toba, perasaan itu ditenggelamkan di Danau Toba saja.

Cinta Sama Pacar Teman

Nah, jenis ini adalah bentuk perasaan paling sontoloyo. Okelah kita tahu kalau kata novel Perahu Kertas, hati itu DIPILIH, bukan MEMILIH. Dan kalau kebetulan hati itu pas nyangkut pada seseorang yang sedang menjadi pacarnya teman, masih mau menyebut dipilih dan memilih? Mumet pasti. Pada umumnya, hal ini akan berdampak dua. Pertama, seorang yang cinta sama pacar teman akan diam-diam saja sehingga kemudian direkrut tanpa interview sama sekte Cinta Diam-Diam. Kedua, seorang yang cinta sama pacar teman akan segera memepet, menggesek, menelikung, menyabet, menyaut, dan kemudian membawa lari pacar teman. Hilang teman, dapat pacar. Ya, ketika karma eksis, hal yang sama akan terjadi. Bukankah kalau begini lebih baik jadi pecinta diam-diam saja? Hehehe.

Cinta Sama Pacar Orang Lain

Agak beda tipis (tololnya) dengan jenis sebelumnya. Kalau yang di atas kecenderungannya nggak enak sama teman, kalau yang nggak kenal begini bakal lebih enteng. Kalau ditelikung dan kemudian dapat, kan nggak akan kehilangan teman juga. Hanya saja, sifat gentle yang diletakkan disini. Cowok kalau tahu si cewek punya pacar, dan masih dideketin juga, itu ngawur namanya (pengalaman -red). Jadi, ketika sifat gentle itu ada, maka dengan demikian eksislah kaum pecinta diam-diam di dunia yang menggila ini.

Cinta Sejenis

Ini mungkin hanya terjadi di negara dengan tingkat keberterimaan pasangan sejenis yang rendah. Hal simpel deh, seseorang penyuka sesama yang eksis di negeri Indonesia Raya Merdeka-Merdeka ini cenderung akan main bawah tanah karena perkara citra dengan luaran. Termasuk ketika memendam rasa dengan sesama jenis. Lagipula, kalau diumbarpun, jatuhnya bakal nggak lazim di masyarakat. Plus, iya kalau yang disuka sama-sama suka? Kalau yang disuka malah ngibrit gimana? Kemungkinan yang sangat besar dalam kelaziman sesuatu yang disebut norma (ini bukan norma peserta bukan dunia lain ya).

Ya, kira-kira demikian jenis-jenis cinta diam-diam. Meski berasal dari genre yang berbeda-beda, tapi sebenarnya mereka satu jua, sama-sama PECUNDANG yang nggak bisa membela hati mereka sendiri.

Ehm, mereka? Oke, salah. Kami mungkin lebih tepat. Atau kita?

🙂

Hal-Hal yang Dilakukan Pelaku Cinta Diam-Diam

Fiuhhh, capek seharian training, jadi pengen menulis sesuatu. Pengennya nulis sesuatu yang cetar membal-membal (opo jal?). Gimana kalau ini saja ya, mengidentifikasi kelakuan para pelaku tindakan kriminal tingkat dewa pada diri sendiri, yakni cinta diam-diam.

Yeah, ini pasti jamak terjadi, dan pasti dialami oleh sebagian cowok atau cewek di dunia yang fana ini. Nah, berikut beberapa hal yang dilakukan pelaku cinta diam-diam.

Berselancar di linimasa, terutama di bagian foto

Sila berterima kasih kepada pencipta Friendster dan kemudian Facebook. Sebuah terobosan duniawi masa kini yang memungkinkan manusia untuk mengeluarkan potensi diri berupa narsis. Ya, sejak ada FS maka kita mengenal memajang foto di depan umum, tepatnya di halaman profil.

Para pelaku cinta diam-diam umumnya adalah orang yang dekat dengan sang target, jadi umumnya sudah berteman satu sama lain di linimasa. Efeknya? Kalau di FS dulu kan nggak seenaknya bisa intip foto orang. Demikian juga dengan pengaturan privasi di FB masa kini. Kalau sudah friend, maka bebaslah berselancar.

Maka satu hal yang dirindukan dari FS adalah kemampuan memberikan informasi, siapa yang melakukan aksi kepo pada sebuah akun. Hal ini ternyata disyukuri para pelaku cinta diam-diam karena bisa seenaknya memantengi halaman profil si gebetan tanpa khawatir ketahuan. Juga dengan seenaknya bisa membuka-buka segala macam foto, mulai pose menyamping, dari atas, pose melet, sampai pose BB BM (hasil tag toko handphone abal-abal). Dan tidak jarang juga orang yang sampai mengunduh foto-foto gebetannya dan menyimpannya dalam sebuah folder khusus.

Kasihan ya? *pukpuk*

Menyimpan SMS dari zaman batu, dan sesekali membacanya kembali

SMS yang rada-rada manis dari gebetan, meskipun itu sudah dikirimkan dari satu abad yang lalu, akan tetap disimpan. Bahkan ketika gonta ganti HP, SMS itu tetap ditransfer. Jadi jangan heran kalau di handphone android terbaru, masih ada SMS tertanggal 2004. Padahal ya isinya sih nggak manis-manis banget. Cuma bilang, “Makasih ya udah denger curhatku.”

Dan sepotong kalimat itu adalah bersifat abadi sepanjang masa bagi penganut cinta diam-diam. pelaku kriminal jenis ini akan membaca pesan singkat yang sudah tidak kontekstual tersebut ketika lagi ingat gebetannya yang dicintai secara diam-diam.

Sengaja datang ke kampus cuma buat ngelihat gebetan

Penganut cinta diam-diam akan menghafal jadwal kuliah gebetannya dan kemudian menyempatkan diri datang ke kampus, serta berada di posisi yang tepat untuk bisa sekadar melihat si gebetan.

Jadi kalau misalnya dia kuliah jam 3 sore, tapi si gebetan kuliah jam 7 pagi. Maka dari subuh, penganut cinta diam-diam sudah sampai di kampus kemudian pura-pura nongkrong dan pura-pura belajar yang tekun demi masa depan bangsa sambil matanya celingak-celinguk ke arah arus mahasiswa datang.

Lalu?

Pemeluk kepercayaan cinta diam-diam akan melihat dari kejauhan, si gebetan mendekat, lalu menjauh kembali karena mau ke kelas buat kuliah. Nah, segitu saja cukup kok. Kan namanya juga cinta diam-diam.

*pukpuk lagi*

Sengaja lewat depan kos-kosan gebetan

Ketika seorang pelaku cinta diam-diam kosnya dari kampus belok kanan 1000 langkah, dia bisa saja belok kiri dulu menuju kos-kosan gebetan. Momen ini umumnya terjadi ketika si pelaku tahu kalau gebetan kira-kira ada di kos-kosan atau tidak.

Tapi momen yang paling mendasar adalah ketika malam hari. Kenapa? Karena malam hari adalah jam apel anak kos-kosan. Pelaku cinta diam-diam akan mondar-mandir di depan kos-kosan gebetan sambil melihat orang yang bertamu ke kos-kosan gebetan tersebut. Kalau kebetulan yang ada disana adalah teman kosnya gebetan dengan pacarnya, maka pemeluk kepercayaan cinta diam-diam akan kembali ke kos-kosannya dan berteriak mengucap syukur.

Kalau kemudian yang ditemukan adalah gebetan sedang bersama lain jenis dalam posisi yang rada mesra, maka pelaku cinta diam-diam akan mencari racun tikus dan bergegas menuju pinggir jurang terdekat.

Melihat sepanjang waktu

Ada kalanya cinta diam-diam terbentuk karena 1 kelas atau 1 komunitas. Nah, ketika cinta itu muncul dan kebetulan ada aktivitas bersama, maka penganut ajaran cinta diam-diam akan memanfaatkan waktu ‘bersama’ itu sebaik-baiknya.

Sebaik mungkin, meskipun sebenarnya komunitasnya adalah senam jantung sehat dengan 1000 peserta. Seorang penganut cinta diam-diam memiliki kemampuan lebih untuk mencari celah-celah agar tetap bisa memandangi wajah gebetannya.

Lalu?

Ya sudah, gitu doang sih. Ketika kegiatan ‘bersama’ itu berakhir. Maka penganut cinta diam-diam akan kembali ke layar monitor, menatap galau pada foto-foto gebetan yang sudah sejak lama dia cintai secara diam-diam.

Berdoa tanpa berusaha

Kata pepatah Latin, Ora Et Labora, berdoa dan bekerja. Perkaranya, penganut ajaran cinta diam-diam memiliki kencenderungan untuk rajin berdoa tanpa kemudian meningkatkan usahanya lebih tinggi daripada level berharap.

Penganut cinta diam-diam akan membawa gebetan dalam doa-doa dan harapannya tapi kemudian tertunduk malu ketika berada di hadapan gebetan yang sejatinya sudah meraja di dalam hati.

Persoalannya sih cuma 1, tidak ada keberanian untuk berusaha. Terkadang penganut cinta diam-diam lebih berani untuk melakukan tindakan ekstrim semacam lompat dari pinggir bak mandi atau berenang di kolam ikan hias daripada menyatakan perasaan yang dipendam sambil diam-diam itu.

Cemburu lalu menerawang pasrah

Hal ini terjadi ketika gebetan dipastikan dan sudah dikonfirmasi telah memiliki pasangan. Ada rasa cemburu, meskipun itu sebenarnya cemburu yang patut dipertanyakan. Emang siapa dia sampai lo cemburu coy?

Nah karena kemudian disadarkan oleh pernyataan itu, maka penganut aliran cinta diam-diam akan segera mengerti kondisi. Dan tindakan yang berikutnya adalah membuka mata dan menatap hampa, semacam menerawang nasib yang buruk, untuk kemudian pasrah terhadap kenyataan hidup yang terkadang pahit itu.

Yah, sekian sedikit ulasan mengenai hal-hal yang dilakukan oleh pelaku cinta diam-diam. Semoga bisa menambah khasanah bercinta secara diam-diam.

 

Aku, Di Depan Pintu

“Yang ini bagus, Say.”

Dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan berhenti di hadapanku. Mata mereka masing-masing tertuju ke arahku. Kumaknai adanya sebuah rasa penasaran dalam tatapan mereka kepadaku. Sejurus kemudian, mereka berdua saling berpandangan. Sedetik berikutnya, tangan si laki-laki sudah mendekat ke arahku.

Tangan kokoh itu akhirnya sampai juga di tubuhku. Dibelainya sejenak, kemudian direngkuhnya tubuhku yang mungil ini dan dibawanya mendekat ke arah kedua bola matanya.

Kurasakan tatapan matanya memandangi setiap centimeter tubuhku dengan saksama. Ada rasa enggan di dalam diriku. Aku mulai tidak nyaman dengan keadaan ini. Masalahnya, aku tidak bisa berontak, protes, atau apapun. Tugasku memang hanya diam.

“Boleh juga. Coba cari yang lain dulu ya, Say.”

Perlahan, tangan kokoh itu membawaku kembali k posisiku semula. Rasa syukur muncul dalam benakku. Ya, walaupun sejatinya aku boleh dimiliki oleh siapapun, tapi selalu ada rasa hendak memilih seseorang yang berhak memilikiku.

Sepasang kekasih itu akhirnya berlalu dari hadapanku, mungkin hendak mencari yang lebih sesuai dengan keinginan mereka.

Lalu lalang manusia menjadi sesuatu yang biasa bagiku. Berposisi tepat di depan pintu masuk adalah takdir yang tidak bisa dielakkan. Dan tentu saja, siapapun yang hendak masuk ke tempat ini, pasti akan melewatiku. Syukur-syukur ada yang menengok sebentar dan tampak tertarik padaku.

Sebuah keseharian yang perlahan membuatku terbiasa. Sebuah pengalaman yang pada akhirnya mampu membuatku memahami, sosok yang menurutku pantas untuk memilikiku.

Tapi sekali lagi, aku tidak berada pada posisi memilih, karena aku hanya bisa dipilih.

Tiba-tiba, seorang gadis muda–sendirian–mendekat ke arahku. Badannya yang mungil lantas membungkuk sehingga posisiku dan wajahnya cukup dekat. Tangannya kemudian terjulur membelai tubuhku.

Dan aku merasakan sebuah kehangatan yang lain.

Diam-diam kuintip tatapannya kepadaku. Ehm, kurasakan sesuatu yang lain dari pandangan yang muncul dari dua bola mata yang sedikit berkantong mata itu. Tangannya membolak-balik tubuhku dengan ringan.

Lima menit ia terdiam sambil memegang tubuhku, dan aku merasa nyaman. Bolehkah aku meminta untuk dimiliki orang gadis ini?

Sejenak tubuhku berpindah ke tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang handphone flip yang barusan dirogoh dari sakunya. Aku hanya dapat mengamati jemarinya beraksi di keypad. Dan karena takdir pula, aku tidak berhak bertanya tentang kegiatan yang ia lakukan.

Tiga menit ia asyik dengan handphone flip itu dan kemudian menutup kembali handphone putih itu. Kulihat senyum manis tersungging di bibirnya, bertambah indah karena sebuah tahi lalat kecil di dekat bibir itu.

Pertanda apakah ini?

Tubuhku kembali berpindah ke tangan kanannya. Kurasakan sedikit pertanda baik untuk perpindahan ini. Perlahan gadis manis ini melangkah menjauh dari tempatnya berdiri semula. Langkah itu semakin menjauh dan kutengarai mendekat ke sebuah tempat penentuan nasib.

Kassa.

Yeay! Aku bersorak dalam hati. Bahwa kembali kutegaskan bahwa posisiku bukanlah untuk memilih, tapi aku selalu ada keinginan untuk memilih seseorang yang hendak memilikiku. Aku hendak dipilih oleh orang yang kuinginkan.

Dan kini, sepertinya, aku hendak mendapatkan keinginanku.

Aku berpindah dari tangan gadis manis itu ke tangan kasir yang sebenarnya tidak kalah manisnya. Dalam waktu yang teramat singkat, aku sudah berada dalam tempat khusus yang siap membuatku mudah dibawa. Pada saat yang sama, gadis manis itu menyerahkan sejumlah uang. Dan sejurus kemudian, aku kembali ke tangannya.

Tangan kanan gadis manis itu menyambutku dari tangan kasir. Pada tangan yang sama, ia juga memegang handphone flip yang tadi kulihat. Sejenak kubaca teks yang ada di layar yang cukup lebar.

“Barusan membeli Perahu Kertas, walaupun udah pernah baca tapi minjem.”

Dua langkah sesudah meninggalkan kasir, aku dipindahkan ke tangan kiri. Sementara tangan kanannya menyelesaikan pesan singkat yang isinya sudah kubaca itu.

Sebuah proses transaksi selesai, dan aku telah menjadi milik gadis manis ini. Nanti aku akan tahu namanya dan tentu saja kehidupannya. Dari tatapan dan senyumnya, aku membayangkan akan menikmati sebuah petualangan tentang mimpi dan hati, persis dengan yang tertulis pada diriku.

Inilah kisahku, sebuah novel Perahu Kertas.

Andai Waktu Bisa Kuputar Kembali

Stalking adalah kegiatan yang tidak direkomendasikan bagi pecinta diam-diam. Stalking hanya akan menghanyutkan perasaan cinta jauh lebih dalam dari sebelumnya. Dan penyebab yang paling utama adalah karena stalking tidak dapat mengubah apapun.

Teori stalking di atas adalah kesimpulanku untuk kegiatan yang kini sedang kulakukan sendiri. Yah, aku tahu stalking itu tidak baik, tapi akan halnya merokok, tidak stalking bisa membuatku gila.

Enam tahun, dan akan terus bertambah, aku diam dalam cinta diam-diam. Sebuah perasaan cinta yang berkembang menjadi tak menentu seiring berjalannya waktu. Pertahananku pada cinta diam-diam ini semata-mata perkara rasa. Aku sudah tiga kali berpacaran dalam periode enam tahun itu. Aku sudah mencoba menghilangkan rasa yang ada, namun sia-sia.

Laptopku masih menyala, tapi pandanganku lantas menerawang. Aku mulai berpikir soal kemungkinan-kemungkinan. Ah, untuk apa pula aku berpikir soal kemungkinan untuk sesuatu yang sudah berlalu? Tapi naluriku tidak bisa dibohongi oleh logika. Kadang-kadang itu terjadi juga. Nyatanya, kini aku semakin tenggelam dalam pengandaian dan kemungkinan. Perlahan, aku mulai menikmatinya.

Jemariku berhenti menarikan kursor di linimasa. Kursor kini mengarah ke folder foto. Kubuka folder dengan nama yang tersamar. Bagaimanapun laptopku bisa diakses oleh orang-orang yang bergantian memainkan Pro Evolution Soccer (PES) di kamarku. Folder dengan deretan angka yang sukar dimengerti, 111701038788. Siapa pula yang hendak iseng membuka folder bernama absurd ini?

Folder terbuka dan terhampar deretan foto dengan tokoh yang sama persis dengan yang terbuka di linimasaku. Yah, inilah gadis yang menjadi korban stalking-ku, inilah gadis yang menjadi cinta diam-diamku.

Foto itu bercerita banyak hal. Aku menyimpan foto itu sejak pertama kali aku mengenalnya. Dari deretan foto itu pula aku bisa melihat perubahan fisiknya selama 6 tahun terakhir. Satu hal yang pasti, ia bertambah cantik.

Pikiranku makin kacau setelah melihat rangkaian foto itu. Gerak tubuhku berubah acak. Jari-jariku menari entah kemana. Aku berusaha mengontrol diri dan berhasil. Kualihkan pandangku sejenak dari layar laptop menuju telepon genggamku.

“Saranku sih jangan, bang. Dia bukan tipe orang yang pacaran dengan teman.”

Sebuah pesan singkat dari adikku. Pesan singkat yang kemudian membunuh mimpiku perlahan-lahan. Pesan singkat yang menimbulkan timbunan penyesalan. Aku percaya benar pada adikku soal ini karena ia adalah teman akrab pemilik rangkaian foto yang sedang terhampar di layar laptopku.

Teman. Sebuah kata yang ternyata mampu menghabisi mimpi yang indah. Anganku berlari ke masa lalu, ketika aku mulai mendekati gadis ini. Sebuah pendekatan yang tidak biasa, karena arahnya kemudian berubah. Aku dan dia tidak menjadi sepasang kekasih, tidak pula menjadi mantan. Aku dan dia menjadi teman yang akrab. Cukup akrab untuk saling berbagi canda hingga berbagi masalah. Cukup akrab untuk saling bertukar visi tentang masa depan. Cukup akrab untuk sekadar berbagi sisi sentimental.

Satu kata itu, teman, benar-benar membunuhku. Aku merasa sangat nyaman di dekatnya sehingga aku tidak berani bertindak lebih lanjut. Aku sudah membayangkan kedekatanku dengannya akan musnah ketika aku mulai mendekatinya untuk dijadikan pacar. Aku sudah membayangkan rasanya memiliki hari-hari tanpa bertukar pikiran dengannya. Itu mungkin serasa neraka buatku. Maka aku memilih untuk tetap menjadi teman dan menahan rasa cinta yang membuncah dalam dada sekaligus mengolahnya menjadi cinta diam-diam.

“Coba dulu tak tembak aja,” gumamku sambil memandang kembali layar laptop.

Ketika otakku sudah berpikir tentang ini, maka diksi yang pasti muncul adalah ‘Coba dulu’ disertai lanjutannya. Yah, aku sering berpikir bahwa aku sudah bertindak keliru sejak awal. Aku mencintainya sejak pertama kali aku melihatnya. Aku mendekatinya dalam upaya mencari cintanya juga, tapi kemudian aku memutuskan untuk berteman akrab saja dengannya. Sebuah pilihan yang membuatku segila sekarang.

sumber: transgriot.blogspot.com

Coba dulu aku tembak saja gadis manis itu. Aku mungkin akan ditolak pada kesempatan pertama. Bagiku itu tampak lebih mudah karena aku pasti hanya butuh 1-2 bulan untuk kemudian berpaling ke target lainnya. Atau mungkin aku sudah nyaman dengan dia sebagai kekasih hatiku tanpa perlu memendam cinta dalam kadar tertinggi ini. Atau bisa juga aku dan dia berpacaran lalu putus, itu juga mungkin akan lebih baik karena solusinya hanya move on.

Sekarang? Bagaimana mungkin aku akan move on ketika aku bahkan tidak bergerak sama sekali, sejak 6 tahun yang lalu? Aku masih disini, diam, melihat, mencintai, dan terus menerus seperti itu. Seandainya dulu aku bisa lebih nekat, pasti aku tidak disini sekarang. Ah, tapi mana bisa? Ini kan soal cinta, sesuatu yang perlu usaha lebih untuk dimengerti.

Seandainya juga dulu aku tidak melanjutkan pertemananku lebih intens, mungkin aku juga tidak akan segalau ini. Aku punya banyak teman, tapi hanya sedikit yang mengetahui sisi sentimentilku dan sebaliknya. Seandainya juga aku tidak memperkenalkan orang tuaku padanya dan sebaliknya. Seandainya pula kedekatan kami tidak sampai pada level berbagi masalah. Ah!

Semua kedekatan itu membuatku semakin mengenalnya. Seluruh intensitas itu mampu menancapkan citranya di hatiku. Dan kombinasi kedekatan itu, parahnya, membuatku semakin jatuh cinta padanya. Pada akhirnya, membuatku semakin tidak bisa berbuat apa-apa.

Kalau waktu bisa kuputar kembali, aku akan memilih untuk berbuat berbeda. Aku tidak akan diam memendam rasa yang sama hingga bertahun lamanya. Aku akan mendekatinya perlahan, mencari celah di hatinya, mengungkap rasa, dan menikmati keputusannya.

Jika aku diterima, maka aku akan menjadi kekasih hatinya dan akan selalu membahagiakannya. Jika lantas di kemudian hari tidak ada kecocokan, maka aku akan melepasnya dengan bangga karena aku pernah punya mantan yang loveable. Jika kemudian aku ditolak, maka aku dengan pasti akan beralih mencari cinta yang lain.

Kalau aku bisa memutar waktu, aku hanya akan membuat satu perbedaan dalam hidupku. Satu hal kecil saja, aku hanya perlu mengungkapkan perasaanku padanya sebelum semuanya terlambat.

Kalau saja aku bisa membuat masa itu kembali lagi, aku piker hidupku akan jauh lebih baik dari ini. Hidupku tidak akan lekat dengan stalking di linimasa, tidak akan diam di hamparan foto dalam folder dengan nama tersembunyi, juga tidak akan mati dalam rasa yang tidak terungkapkan.

Perlahan pengandaian ini ikut membunuhku. Yah, semua sudah terjadi dan aku tidak bisa memutar waktu. Aku harus hidup dengan jalan ini. Dengan memendam cinta yang terungkap. Bukan untuk sebuah pernyataan “entah sampai kapan”, tapi untuk “selama-lamanya”.

Aku terdiam menatap lekat foto di layar laptop. Perlahan dua bulir air mata mengintip dari rongga dan bergegas turun. Cinta diam-diam adalah tataran tertinggi dalam mencintai, sekaligus paling menyakitkan.

Tamu

“Kukuruyukkkkkk…”

Ah, pagi! Di era modern ini mungkin ayam asli sudah tidak berkehendak untuk berkokok subuh-subuh. Untunglah ada alarm yang punya bunyi seperti suara klasik pembangun tidur itu. Semata hendak mengenang masa lalu, maka bunyi itu yang kupilih untuk alarmku.

Aku berguling lemas, ini sama saja dengan pagi-pagi lainnya. Malas.

Yah, dulu pagiku penuh warna di ibukota, sampai kemudian sebuah perusahaan di kota ini menawariku pindah. Bosan dengan hiruk pikuk ibukota, akupun terbujuk.

Apa iya itu alasanku?

Tidak juga. Hal yang utama, karena Dila bekerja di kota ini. Mungkin menjadi hal absurd bagi seorang eksekutif muda berkarier gemilang memutuskan pindah dengan mempertimbangkan seorang gadis yang dicintai secara diam-diam.

Absurd? Bisa jadi. Akan tetapia aku percaya, dalam cinta, semua hal ada logikanya, termasuk hal absurd sekalipun.

Pagiku perlahan menjadi suram karena perlahan asa untuk mencintai itu semakin pudar. Dila bahkan memutuskan komunikasi denganku tanpa aku tahu sebabnya.

“Ilfil kali sama lu. Lagian, karier udah bagus-bagus disini, pake acara pindah gara-gara gebetan. Otak lu kemana bro?”

Demikian Joni, partnerku di tempat lama, pernah bilang kepadaku.

Tok.. Tok.. Tok..

Pintu apartemenku diketuk. Ah, siapa pula yang datang sepagi ini. Bahkan ini belum jam 7 pagi.

Sejak Dila memutuskan komunikasinya denganku, aku sungguh tanpa daya. Malas adalah nama tengah di setiap aktivitas yang aku lakoni. Semuanya berjalan, tapi tanpa jiwa. Semuanya selesai, tapi nyaris tanpa makna. Syukurlah aku masih bisa menyelesaikan semua pekerjaan dengan baik, meski tanpa jiwa dan makna.

Malas itu merembet sampai ke pagi hari. Bergerak adalah kesulitan terbesar bagiku di pagi hari. Aku lebih baik berguling kesana kemari alih-alih berdiri dan menuju pintu.

Tok.. Tok.. Tok..

Ya ampun! Aku menggerutu pahit. Ini sungguh menggangguku. Jadilah aku menyeret badanku menuju pintu yang sebenarnya tidak cukup jauh dari tempat tidurku. Kuusap wajahku sekilas, siapa tahu kotoran-kotoran selama tidur bisa berkurang sedikit.

Tok.. Tok.. Tok..

“Sebentar,” gerutuku.

Tanganku menggapai gagang pintu, kantuk membuatku lupa mengintip terlebih dahulu di lubang yang ada di pintu apartemenku.

Ayunan tanganku dengan ringan membuat pintu bergerak, menuju arahku, dan itu sama saja dengan terbuka. Pintu itu terbuka, memperlihatkan objek yang tidak aku kira sama sekali.

“Kamu? Ngapain?”

“Hai! Mau sarapan bareng?”

Tiba-tiba otakku memainkan sebuah film pendek, menutup semua fakta yang berdiri di sekitarku. Film pendek itu bernama kenangan.

“Mas, tukeran mau nggak?” ujar Dila, yang berdiri persis di sebelahku.

“Curang. Hmm, ya udah, sini.”

Aku dan Dila lantas bertukar beban. Latihan fisik paduan suara ini begitu beratnya sehingga setiap orang harus membawa beban untuk dibawa sambil bernyanyi. Dan terkadang bebannya tidak tanggung-tanggung, bisa 3 buah barbel dimasukkan ke dalam tas.

Parahnya lagi, beban itu harus dipertukarkan antar anggota paduan suara.

“Baik hati sekali kamu, Mas,” kata Dila sambil mengunyah pecel lele. Aku dan Dila makan bersama sepulang latihan yang gila itu.

“Yah, apa sih yang nggak buat Dila.”

“Gombalnya kamu, Mas.”

Dila yang cantik ini selalu ada di dekatku, karena memang aku selalu berusaha mendekat. Tapi tak sedikitpun aku berani bertindak lebih selain dekat dan perlahan menjadi sosok kakak bagi Dila.

Dila yang sama yang menjadi pertimbanganku

Film pendek bernama kenangan itu perlahan memudar dan menjelma menjadi sebuah kenyataan. Dila persis berdiri di depanku, ngajak sarapan pula.

“Mas? Mas? Kamu sadar nggak sih?”

Dila bertanya menyelidik. Sebuah tanya yang pasti keluar karena melihat tampangku yang absurd. Senyum mengembang, tatapan kosong menarawang. Ah, aku yakin siapapun yang berada di posisiku, pasti akan berlaku serupa.

“Mas? Mas?”

Dan Dila masih terus bertanya.

 

Kentongan Maling (?)

Bayangkan! Mari dibayangkan! Membayangkan apa?

Sebentar, biar aku cerita dulu. Rani dan Aya, dua gadis di kumpulan Dolaners, pada saat yang sama juga ikut di sebuah pertunjukan tari. Sebenarnya ini nggak susah-susah amat untuk diketahui karena mereka latihan dengan terang benderang dihall kampus. Jadi, pulang praktikum sore, udah bisa melihat mereka latihan. Apalagi kalau ke perpus malam-malam.

Nggaya bener ke perpus malam-malam? Ehm, ini khusus aku, maklum, nggak punya komputer. Tong dipahami ya. Tolong banget. Terima kasih. Eh, serasa artis deh.

Dan karena satu kumpulan, orang-orang pertama yang diajak tentunya kumpulan sendiri. Mereka berdua langsung menodong Dolaners yang lain untuk nonton. Pertunjukannya sendiri dihelat di Socitet Jogja, deket Toko Progo. Juga dekat dengan Shopping, pusat buku murah yang disayangi mahasiswa macam aku.

Nah, dengan cerita ini, mari membayangkan. Lelaki-lelaki yang bisanya cuma menghina satu sama lain disuruh nonton kesenian? Orang-orang yang tahu tari aja nggak pernah, disuruh nonton? Entahlah, karena faktor pertemanan, aku dan yang lain setuju untuk nonton. Dan rata-rata dalam umur yang masih belasan, ya baru kali ini nonton pertunjukan tari.

Mangkat jam piro?” Sebuah SMS mampir ke handphone-ku. Yah, inilah khas Dolaners, janji jam berapa, datang jam berapa. Untuk memastikan kalau sudah ada orang, ya SMS dulu.

Aku yang datang dengan odong-odong merah bernama Alfa memang selalu duluan. Bukan karena akuon time, tapi lebih karena aku menyisihkan waktu untuk perjalanan menggunakan odong-odong berasap. Lebih ke situ sih arahnya.

Sampai Socitet, tempat itu masih sepi nyenyet. Aku diam-diam tongkol disana berharap teman-teman berdatangan. Tempat ini lumayan tua juga dan tampaknya memang berbau seni sekali. Agak-agak merinding kalau sendirian.

Nah, panitia mulai membuka lokasi. Teman-teman juga mulai berdatangan.

Arep ngopo kowe?” tanya Roman.

Lha kowe? Emang mudeng tari po?” ujar Chiko.

Paling yo micek” timpal Bona.

Yah, beginilah kalau lelaki-lelaki tanpa pengetahuan dikumpulkan jadi satu, disuruh melihat karya seni.

Aku dan Dolaners yang lain masuk ke dalam ruang pertunjukan yang mirip bioskop itu. Tempat duduk dibuat berjenjang dan berfokus ke panggung di tengah. Hmmm.. seru juga. Naluri pengen tampilku kumat. Padahal jelas-jelas nggak ada yang bisa ditampilkan selain rambut kribo yang sudah kupangkas sejak lulus SMA.

Layar perlahan terbuka dengan lampu padam. Ah, ini pertunjukan mulai juga. Kira-kira aku ngerti nggak ya?

Penari demi penari muncul, datang dan pergi. Ada satu sih yang menjadi fokus penampilan. Dan sesungguhnya tanpa dialog dan penuh gerakan tari ini, otak minimalis macam aku sulit mengerti. Aku sih lebih sibuk menanti kapan Rani dan Aya nongol. Mereka kudu tanggung jawab sudah mengajak kami nonton kesini.

Rani dan Aya kemudian memang muncul, berganti-ganti kostum dengan peran yang mungkin berbeda-beda.

Kae Rani dudu?” tanya Bayu sambil menunjuk seorang gadis di panggung.

Mboh,” sahut Bona. Sangat jelas dan wajar tidak mengerti karena semuanya bercadar. Hanya kelihatan matanya. Ini pas adegan bercadar, mungkin sedang adegan spesial pakai cadar.

Iku ngopo?” tanya Roman dari kursi belakang.

Mboh,” jawab Chiko. Dan jelaslah, bahwa lelaki-lekaki disini benar-benar nggak paham tari. Tak pikir tadi cuma aku saja, eh makhluk-makhluk ghaib di sekitarku mengalaminya juga ternyata. Baiklah.

Dua jam menyaksikan pertunjukan tari membuat aku mulai sedikit paham tentang seni yang satu ini. Aku sendiri memang kurang suka nonton film, kecuali bokep. Itupun karena Roman memutar koleksi barunya yang diperoleh dari Prima. Ampun! Anak muda masa kini!

Tapi tenang, ini yang nonton pria sama pria dengan mode malas dan sangat suka menggeser kursor secepat-cepatnya. Lha ini nonton bokep apa nggak sih? Giliran adegan yang gituan malah dicepetin. Inilah metode nonton bokep yang penuh sopan santun.

Gerakan demi gerakan plus sedikit narasi membawa penonton pada tensi pertunjukan yang meningkat. Lumayan kerasa.

Pada akhirnya, pertunjukan pun berakhir dengan layar yang tertutup perlahan. Nah, ada Aya di tengah-tengah dengan pose mengangkat kedua tangan ke atas.

Kuwi, tangan’e Aya koyo kentongan maling,” bisik Roman yang ditimpali tawa Bona.

Aku yang di bangku depan mulai tersenyum dan lanjut dengan ketawa. Yah, Aya memang punya badan yang agak besar meski sejatinya proporsional. Cuma pas bagian tadi memang terlihat agak ‘besar’.

Tepuk tangan membahana ke seputaran arena. Kami menunggu ketika penonton lain meninggalkan tempat itu satu per satu. Tak lama, Rani dan Aya keluar dari balik panggung dan menuju ke teman-temannya yang sama sekali nggak ngerti tari.

“Bagus nggak?” tanya mereka.

“Bagus kok. Apik. Apik,” ujar Bayu.

“Iyo keren,” timpalku.

Roman dan Bona masih sibuk cekikan di belakang.

“Opo to?” Aya bertanya penasaran.

“Nggak. Roman ini lho, Ya. Kurang ajar,” kata Bona.

“Kok aku sih? Bona kok.”

Dan dua lelaki saling lempar tanggung jawab setelah cekikikan. Wajar untuk Dolaners.

“Anu, itu tanganmu katanya kayak kentongan maling,” sebut Bayu yang disambut ledakan tawa yang lain. Termasuk Aya.

Yah, ejek mengejek fisik kadang memang membuat sakit hati, kalau dicerna dengan cara yang salah. Semua bisa demikian. Kami dengan senang hati mencerca Bona yang punya dengkul suka selingkuh alias gemar mlingse. Kami juga rutin menghina dina Roman yang badannya setengah besar. Mereka juga ganas mengajar Yama yang hobi salah urat leher alias tengeng. Pun dengan aku, karena kelebihan pigmen.

Ini sesuai dengan prinsip utama “Hanya Menjatuhkan Dan Menginjak-Injak, Itulah Persahabatan Kami.”

Guyonan kentongan maling adalah penutup yang pas di malam hari yang dingin, menghangatkan suasana dan mengeratkan persahabatan.