Jika Teman Menjadi Seorang Penulis

Minggu lalu saya mudik ke Bukittinggi. Walaupun tidak ada darah Minang dalam pembuluh saya, tapi tetap saja kota kiri kanan gunung itu adalah tempat kelahiran saya. Pas di rumah, saya iseng menanyakan nasib OOM ALFA yang dulu pernah saya kirim ke rumah. Jawabannya setengah manis, separuh ngenes.

“Ini sudah dipinjam orang Garegeh sebulan.”

*hening sambil nggerus*

Dipinjam. Baiklah, ini memang baik atas nama awareness atas penulis bernama ArieSadhar. Cuma akan lebih baik kalau orang-orang yang minjem dari Bapak saya itu, beli OOM ALFA. Harapan sederhana seorang penulis.

Di era sekarang ini bermunculan banyak penulis baru, termasuk saya. Masuk ke dalam belantara kreativitas itu sejatinya bukan hal yang mudah. Untuk bisa masuk saja sudah butuh usaha keras bertahun-tahun–dalam kasus saya. Begitu masuk, penulis-penulis baru itu juga harus berjibaku agar bisa survive. Dan sebenarnya, ada orang-orang terdekat yang bisa membantu penulis baru untuk bisa melakukan itu semua.

Teman.

Soal kata teman ini, saya jadi ingat obrolan di Tapian Nauli diiringi lagu Menyesal oleh Ressa Herlambang. Adek saya bilang, “kalau teman itu menusuknya dari belakang, kalau musuh dari depan”. Agak jleb juga sih. Tapi kadang-kadang, dalam petualangan menjadi penulis baru yang berusaha eksis, sesekali pengen membenarkan pernyataan adek saya itu.

Ya, teman sebenarnya adalah lini pertama yang diperlukan penulis baru untuk mencari apresiasi atas karyanya. Teman jugalah yang sangat memungkinkan untuk menjadi corong promosi munculnya seorang penulis baru. Tapi kadang-kadang, teman juga bisa melakukan tindakan dalam konteks bercanda, yang lama-lama jadi nggak lucu. Nah, berikut beberapa pertanyaan yang bisa jadi terlontar dari teman. Coba dicek, kalian pernah mengalami atau mengucapkannya nggak?

Gue nunggu gratisannya, deh!

Syukurlah, ketika OOM ALFA meluncur, teman yang mengucapkan kalimat ini nggak banyak, tapi ya tetap ada. Bahwa saya adalah pecinta gratisan, mungkin ini adalah sebagian dari karma. Dalam konteks bercanda, kalimat di atas sih nggak ada salahnya. Cuma, ketika yang mengucapkannya sudah lebih dari tingkat kejenuhan, lama-lama ya bikin bete. Bagaimanapun buku adalah sebuah karya, dan karya itu ada nilainya. Masak sih, kita menghargai karya teman kita dengan gratis alias nol?

Lain kisah jika gratisan yang dimaksud adalah seperti yang pernah saya buat, giveaway gitu. Bos DP, senior saya, bahkan merelakan diri di usianya yang sudah 30 tahun itu ngeblog soal benda mati, demi bisa dapat giveaway OOM ALFA. Padahal secara kantong, saya yakin dia bisa beli OOM ALFA dua puluh lusin dengan sekali mengedipkan mata. Ya, ketika ada yang menyenggol saya itu bagi-bagi buku dalam konteks kuis atau giveaway setidaknya niatnya lebih mulia daripada bilang “GUE NUNGGU GRATISANNYA!”

Sekadar info aja, dalam setiap penerbitan sebuah buku, penulis memang mendapat sejumlah tertentu sebagai bukti terbit. Tapi jumlahnya ya paling sekitar 5-20 buku saja. Itupun nggak sekadar dikasih untuk dibagi-bagikan. Penulis baru harus pintar-pintar memanfaatkan jumlah itu untuk bisa menjadi strategi promosi. Ada yang menjadikannya hadiah lomba, ada pula yang mengirimkannya kepada reviewer terkemuka agar awareness bisa meningkat. Walaupun kami ini penulis bukunya, tapi tentu saja nggak bisa tahu-tahu datang ke gudang penerbit lalu minta buku untuk dibagi ke teman yang berkata, “minta buku lo, dong!”

Oya, dalam kasus OOM ALFA, bahkan dua adek saya saja beli OOM ALFA dan tidak minta gratisan ke abangnya. Tentu saja, karena mereka tahu, harga OOM ALFA itu nggak seberapa dibandingkan keuntungan yang bakal mereka peroleh ke depannya dengan permintaan, “Bang, minta duit.”

“GUE MINTA SOFTCOPYNYA AJA YA!”

Mungkin memang saya yang terlalu melankolis, ya itulah kenyataannya. Mungkin itu juga yang membuat kalimat sakti ini menjadi sangat menyakitkan bagi saya. Yah, kami-kami penulis baru itu berjuang ngetik untuk bisa menelurkan sebuah buku. Naskah penulis baru itu nggak terjun payung dari langit dan lalu mendarat di sebuah folder di laptop. Belum lagi kalau menghitung proses edit-mengedit dengan deadline yang belum biasa kami lakoni. Ada darah dan air mata dibalik softcopy yang diminta oleh teman itu.

Ah, jangankan naskah buku. Sekadar tugas sekolah atau kuliah yang sudah kita kerjakan dengan susah payah saja, kita nggak akan rela kalau tiba-tiba ada teman yang minta softcopy-nya kan? Buku pertama bagi para penulis baru itu sudah seperti anak pertama dan pacar pertama. Jadi, umumnya penulis baru akan mendadak posesif.

Saran saya sih, jangan pernah mengucapkan kalimat itu kepada teman yang statusnya adalah penulis, apalagi penulis baru.

Halah, udah kaya masih aja pelit! Kan udah jadi penulis buku!

Percayalah, kalimat kampret ini pernah saya dengar sendiri. Memangnya apa hubungan penulis buku dengan kekayaan? Mungkin ada, kalau kita bicara Raditya Dika yang buku Cinta Brontosaurus-nya saja sudah dicetak lebih dari 37 kali. Tapi kalau bicara penulis baru? Sama sekali nggak relevan.

Penulis buku dengan skema penerbitan standar–non indie–umumnya baru akan mendapatkan royalti dalam periode 6 bulan sesudah buku diterbitkan, setelah sebelumnya mendapat uang muka royalti. Jadi, kalau punya teman penulis baru, ya janganlah minta makan-makan pas royalti belum turun.

Jadi, jangan anggap royalti yang diterima penulis itu adalah langsung ditransfer begitu sebuah buku terjual di toko. Ini bukan skema auto debet. Plus, jangan juga melontarkan kalimat di atas kepada penulis buku yang sedang berjuang mempertahankan performa bukunya agar tidak dikembalikan ke gudang penerbit. Ucapan itu seolah-olah bermakna bahwa buku si penulis baru itu laku banget, padahal nyatanya kebalikannya.

Sebagai teman, tentunya kita bisa mengatur kata-kata.

Lo ngerjain buku sambil kerja ya?

Kalimat sakti yang satu ini nggak akan dialami penulis semacam Kevin Anggara yang masih pelajar, tapi akan mengena banget bagi penulis baru dari kaum pekerja kerah putih kayak saya. Faktanya memang saya kerja kantoran, dan pada saat yang sama saya bisa jadi penulis buku. Ah, jangankan saya. Ada Roy Saputra, ada Ika Natassa, dan banyak penulis lain yang punya pekerjaan dan jabatan mumpuni, tapi tetap bisa menjadi penulis buku.

Kalimat di atas memang tampak menuduh bahwa saya menyalahgunakan jam kerja untuk menulis buku. Well, tapi ada loh yang bilang begitu. Satu-satunya cara menyikapinya adalah mengelus dada. Dada sendiri, bukan dada Jupe, apalagi Dada Rosada.

Buat saya pikiran semacam itu tergolong picik. Lagipula, misal saya lagi asyik bikin Working Instruction nggak mungkin juga saya nulis naskah. Menulis naskah membutuhkan imajinasi dan aneka lainnya yang amat sayang jika disambi dengan mengerjakan pekerjaan rutin. Saya juga nggak mau menyia-nyiakan naskah saya atas sebuah tulisan yang nggak oke, karena dikerjakan tidak dengan fokus pada jam kerja. Tenang saja.

Teman yang sebenarnya…

Seperti saya bilang tadi, teman yang sebenarnya adalah teman yang memberikan apresiasi. Teman-teman yang kirim WA, atau ngetwit, lalu nanya, “buku lo udah ada di sini belum?” dan beberapa jam kemudian mengirimkan foto OOM ALFA, adalah contoh teman yang mengapresiasi karya penulis baru macam saya. Atau seperti Bayu, teman kos yang bisa saja pinjam OOM ALFA punya saya, tapi justru memilih menunggu kesempatan mampir ke Gramedia dan lantas membelinya.

Atau seperti yang dilakukan oleh adek saya dengan berpromosi ke teman-temannya untuk membeli karya abangnya. Pun yang dilakukan oleh teman-teman dekat yang mengintimidasi saudara-saudaranya untuk mencicipi karya saya sebagai penulis baru. Langkah-langkah sederhana ini sebenarnya yang dibutuhkan oleh para penulis baru sebagai bentuk dukungan, bukan bercanda yang lama kelamaan menjadi tidak lucu dan bikin bete.

Sekali lagi, mungkin memang saya yang terlalu sentimentil, tapi seperti yang pernah dimention Stevan Purba ke saya, bahwa kami-kami para penulis baru ini butuh apresiasi lho. Sesungguhnya apresiasi itulah yang akan membuat kami penulis baru bisa eksis di dunia perbukuan ini.

Advertisements

10 Lagu Paling Nggerus Versi ArieSadhar

Terakhir posting tanggal 1, pas tanggal merah. Baru posting lagi sekarang pas tanggal merahnya karyawan 5WD8TO5. Ini mah namanya penurunan di tahun baru. Ya, mohon dimaklumi, faktor U. Urbaning… eh… umur.

Kali ini saya hendak memaparkan soal dunia seni, tepatnya seni suara. Ya, walaupun di buku saya, OOM ALFA, sudah diceritakan dengan jelas bahwa saya gagal pada seleksi pertama Indonesian Idol 1 dengan nomor 7377, tapi jelek-jelek begini, saya lumayan bisa nyanyi. Karena cuma lumayan, makanya saya joinnya ke paduan suara, yang kalau saya mangap-mangap belaka di samping seseorang bersuara bagus–misalnya Bang Rondang–saya sudah bisa mendapatkan tepuk tangan meriah dari hadirin. Mana dia tahu saya nyanyi apa kagak. Nah, bergumul dari per-choir-an ini yang agak membantu pengetahuan saya soal seni suara.

Lalu mau bahas apa soal musik?

Apa? Apaaaa?

[Interv123] Bu Bidan

Haloh! Selamat datang kembali di Interv123! Nggak usah bingung bacanya, dibaca ‘interview’ juga nggak apa-apa kok. Sesudah mewawancarai dua orang scientist di edisi pertama dan kedua, kini interv123 hendak bergeser sedikit ke profesi lainnya.

Seperti sudah dijelaskan di profil, saya ini nongol ke dunia atas bantuan bidan. Kalau bidan yang membantu kelahiran 3 adek sama, namanya bidan Asma, rumahnya saya tahu. Sedangkan bidan yang membantu saya keluar dari perut, sampai sekarang masih anonim. Saya jadi curiga kalau sebenarnya saya itu turun dari langit.

Bidan. Sebuah profesi istimewa karena terkait erat dengan munculnya manusia baru ke dunia. Tapi kalau interv123 mah nggak akan mewawancarai sembarang bidan. Bidan yang saya wawancarai ini adalah seorang bidan yang juga penulis. Saya kenal dengan dia karena naskah kami sama-sama masuk buku Radio Galau FM Fans Stories. Dan lebih lanjut lagi, bidan yang satu ini bahkan sudah punya novel sendiri, walaupun dia adalah seorang fans Juve.

Baiklah, pernyatan terakhir tadi non korelatif.

ony

Well, mari kita sambut Ony Christy 🙂 Eh, itu foto kecil amat. -______-“, ganti yang agak gede dah…

ony

Interv123 dilakukan dengan menggunakan aplikasi bertukar pesan yang multifungsi, bisa juga untuk membersihkan yang kotor-kotor. Waslap. Tentu saja diedit seperlunya karena disela-sela interv123 kami ngobrol agak pribadi. *uhuk*

Bu bidan… Katanya libur? Mau interv123 boleh?

Boleeeehh…

Masuk 12 pertanyaan LIMAWESATUHA ya. Siapa sih Ony?

Ony itu.. perempuan biasa yang pengen jadi wanita luar biasa (halah), aslinya sih gampang galau dan mewek, cuma suka gengsi kalo mau nunjukin, alhasil sukanya pake topeng bahagia kemana mana. Dari kecil pengeeen banget jadi dokter karena nggak tegaan sama orang, berhubung kuliah kedokteran itu mahal dan lamaaak akhirnya banting stir jadi bidan. Toh sama sama bisa nolong orang kan? Ony itu nggak bisa diem, makanya nggak suka sepi, makanya jadi hobi nulis, makanya jadi hobi kenalan sama orang yang ujungnya dibilang php. Hahahah tapi aku ini keras kepala sebenernya..

Wah, jawabannya menjawab pertanyaan laen yang disiapkan.. Hahaha.. Baiklah, apa sih enaknya jadi bidan?

Enaknya jadi bidan adalah bisa maenan bayi!! Hahaha itu salah satunya sih, salah banyaknya adalah.. bisa ngambil banyak pelajaran dari pasien. Mereka kan mesti dateng dengan banyak masalah tuh, kadang ada curhat terselip soal keluarga juga, nah dari situ aku belajar. Dengan ngasih masukan ke mereka aku jadi bantu mereka nyelesein problem dan ngasih note buat diri sendiri juga..
Pasienku kan ga cuma orang hamil kan yah, ada remaja yang hamil di luar nikah, ada yang ngegugurin kandungan, ada yang emang bahagia bahagia aja nikahnya (ini biasanya aku tanyain resep bahagianya). Selain itu rasanya seneng aja tiap lihat makhluk kecil mungil lahir ke dunia, bikin kangen rumah, bikin tambah sayang sama ibu.
Kadang geregetan lihat yang ngegugurin kandungan, tapi berusaha memahami juga kenapa mereka gitu. Jadi note buat diri sendiri kalo aku ngelakuin kayak mereka endingnya.

(Ony lalu kasih tunjuk ke saya sebuah bukti dari pernyataannya di atas… ngeri-ngeri hiks gitu…)

Menurut Ony, profesi bidan itu udah dihormati masyarakat belum sih? Kalo apoteker kan belom.. Hiks.. Klo uda kenapa, klo belum kenapa?

Menurutku udah, meski kalo dikota besar eksistensinya masih kalah sama dr. Obsgyn. Kalo di desa kayaknya bidan udah dianggap hampir kayak dokter, pilek dikit dibawanya ke bu bidan, kecelakaan di bawanya ke bu bidan, apa-apa bu bidan. Masyarakat kayaknya percaya kalo bidan bisa apa aja, apa lagi kalo bidannya udah tua. Bidan kan profesi yang makin tua makin laris, tapi ini juga yang bikin dilema, di standar wewenang bidan kan aslinya ga boleh tuh ngobatin orang dewasa yang pilek, bidan harusnya ya ngurusi orang KB, hamil, melahirkan, menopause, menstruasi, bayi, balita.. bukan orang kecelakaan, batuk, pilek. Nah tapi gimana? Masyarakat maunya ke bidan, bidannya aslinya gak boleh ngobatin tapi kebentur juga sama rasa kemanusiaan kan.. Thats why sekarang wewenang bidan makin dibatasi, buka praktek juga udah gak kayak dulu.. ijinnya susah. Ya masak sekolah 3 taon, udah ngalahin dokter aja pasiennya aneka rupa. Btw.. aku seneng sih kalo dipanggil bu bidan ^^

Berarti benar saia manggil bu bidan. Pindah topik nih, sejak kapan sih suka nulis?

Sejak kecil, jadi ceritanya dulu pas kecil bundaku itu hobi dongengin kalo aku mau bobok. Bunda emang gitu sih ke semua anaknya, bunda itu kalo dongeng semau-maunya beliau, ngarang spontan. Nah dari situ imajinasiku mulai berkembang kan, mulai hobi ngayal, mulai suka princess-princessan. Pas udah lancar baca, yah sekitar TK besar tambah lagi masukan imajinasinya.. soalnya jadi gila buku (sampai sekarang). Pertama nulis karangan itu kelas 6 SD, judulnya asal mula pantai baron, itu juga jadi tulisan pertama yang di publish lah ditempel di mading. SMP-SMA mulai nulis cerpen di buku tulis, banyak bangett.. tapi sayang pada ilang. Eh nulis diary masuk hitungan nggak? Kalo iya.. berarti dari SD ya suka nulisnya..

Sesudah mading dan selain blog, dimana pertama kali tulisanmu dimuat? Majalah gitu pernah ga?

Majalah terkenal sih enggak, kalo majalah sekolah pernah.. eh bukan majalah sih, kayak kumpulan cerpen gitu, pas SMA.

Berarti yang go public, radio galau sama My Princessa (judul novelnya) dong?

Iyaaaakk.. aslinya itu iseng iseng berhadiah pas galau habis wisuda nggak tau mau ngapain. Aku suka nggak pede mau kirim kirim naskah.. jadi buat diri sendiri aja nulisnya..

Hish. Galau wisuda atau galau bercinta?

Ngahahaha dua duanya deh.. Galau bercinta yang terutama..

Biasa. Penulis. Next, ceritain dong bagaimana isi novelnyaaa.. Jangan sampai selesai tapinya, ga cukup blognya.. Lagian blog penulis nggak boleh spolier.

Hihihihi nggak boleh sampe selesei yak? Mmm.. aslinya ni novel dulu judulnya Vanila, cuman sama editor di ganti. Ceritanya sih klasik ya, kakak-adikan yang akhirnya jadi cinta-cintaan. Di novel ini aslinya nggak banyak curcol penulisnya, cuman karena nulisnya dulu pas kuliah maka setingnya emang ambil setting kebidanan yang pada akhirnya mesti bikin orang nanyak, ini kisahmu ya? (Duh sebel banget). Inti cerita sih tentang, betapa kita kadang gak menyadari bahwa apa yang selama ini kita cari dan butuhkan itu ada sedemikian dekat dengan kita. Kita baru sadar pas sesuatu itu udah nggak ada..

Eh, kenapa sih milihnya nulis genre fiksi.. kenapa ga opini-opini gitu, atau feature kesehatan atau sejenisnya?

Karena genre fiksi yang paling mudah, bisa sesuka hati gituu.. bisa berasa jadi “tuhan” kalo nulis fiksi. Sebenernya pengen nulis buku kesehatan, tapi ijasah masih D3 hiks. Apalah dayaaa~ kalo nulis non fiksi sih pengen banget ya, yang soal opini opini itu, tapi kayaknya kudu mateng konsepnya, biar nggak abal abal dan valid. Mau kolaborasi? Laaaah *modus*

Boleh. Tentang bidan dan apoteker yang malah jadi penulis gitu ya? Huhuhu. Next, siapa penulis favorit?

Agatha Cristie, Dan Brown, JK Rowling, Ika Natassa. Selalu kagum sama JK Rowling yang bisa detail banget nyambungin ceritanyaa.. Apa yang cuma printilan kecil di buku pertama, bisa jadi kunci di buku yg lain.. Kalo Dan Brown suka karena dia pake setting nyata, yang bikin bertanya tanya, dia itu nulis fiksi apa fakta. Kapaaan yak bisa nulis macam ituuu…

Pada saatnya #tsahhhh. Oke, mari ngelantur. Bagaimana pendapat kamu tentang jomblo?

Haiiikkk. Everything always have two side. Di satu sisi, jomblo itu enak, mau kemana aja sama siapa aja, bebas. Mau mengeksplore diri gimana pun juga suka suka, nggak ada yg ngatur nggak ada yg bawelin, free!! Tapi kadang.. ada masanya.. di ujung hari ketika sendirian rasanya butuh seseorang buat berbagi, kadang ngerasa apa gunanya bebas, free kemana aja tapi nggak ada yang kita ajak ketawa ketawa sebelum tidur? Atau pas pagi pagi bangun trus moodnya jelek, nggak ada yang bikin semangat. Cuman tetep sih, jomblo itu less drama. Kegalauan mau tidur dan bangun tidur nggak ada apa apanya dibanding berantem berjam jam, perasaan bersalah pas secara alamiah flirting sama orang baru yang kece, atau drama drama ala orang pacaran lain.

Tuh kan, semacam pakar jomblo…

Semacam ngece yaak -___-”

Terus, dimana tempat romantis versi Ony?

Yang banyak lampu macam bukit bintang kalo di Jogja!! Atau di GWK kalo di Bali.. atau yang ada sunsetnya.. yah romantis bagiku itu pokoknya kelip lampu yg dilihat dari tempat tinggi dan sunset.. ples kalo ada musik akustikan.. duh bang, mau ngajakin kesana??

*minta tiket rosalia indah* Eh, lalu kapan rencana nikah? 😛

Aaaaaaakkk… this question is so.. HIH. Kalo rencana dan keinginan sih, pas umur 25 tahun bang. Yah usia ideal reproduksi sehat.. hahahaha tapi gimana mau nikah kalo sekarang aja trauma jatuh cinta, trauma in relationship, trauma sama komitmen. Atau abang mau ngadoin jodoh? Eh ini sekalian promosi boleh kan yaaak.. kali ada cowok single yang baca.. *dijitak*

YAK. DIPILIH-DIPILIH!!! HUAHAHAHA. Nah, bicara soal cowok nih, Apa yg akan kamu lakukan kalo ketemu Vicky Prasetyo?

Dijitakin, dicekek, diremet remet. Gemeesss bangett!! Hih. Trus habis itu di bawa ke guru Bahasa Indonesia.. Habis ya, udah gak ganteng, ngomongnya aneh lagi, eeeh masih aja playboy. Aaaaaakkk menyebalkan.

Terus, lanjut ke pertanyaan 123. Sebutkan 1 judul lagu yg skrg lagi kamu banget!

Back to desember- Taylor swift.

Dua lagiiii.. Sebutin dong 2 istilah khas bidan, dan artinya yaa..

Inpartu : ibu dalam proses persalinan, yaitu proses pembukaan 1-10.
Partus : persalinannya, keluarnya bayi, placenta. Gampangannya gitu deh ya..

Last one, sebutkan tiga cowok yang cocok dijadikan suami versi Ony!

Diiih yang ini kudu mikir nih.. Orang biasa, gebetan atau mantan gak boleh disebutin yak? *plakk*

Habibie.. selalu suka caranya mencintai Ainun, aku jugak mau dibikinin buku gitu.. :/ Sampai tua cintanya ke ainun juga tetep gitu gitu aja, padahal beliau kan orang penting, pasti banyak dong cewek yang godain.. Aaaah aku mau potocopynya pak habibie yang masih muda dong bang.. anyone?

Christian Sugiono, ganteng.. tapi gak neko neko, sama si Titi Kamal ya gitu gitu aja. Gak kayak Andika kangen band yang.. ah sudahlah nggak usah diteruskan. Trus ya.. they have different religion tapi kayaknya damai damai aja, itu pokoknya kebangetan kalo si titi kamal gak bersyukur.

Anang Hermansyah deh, lihat tuh betapa dia bertahan setelah ditinggal Krisdayanti. Betapa dia sayang sama anak anaknya dan betapa anak-anaknya juga sayang sama dia. Tapiii kalo boleh tokoh karakter yaak.. aku suka si yong jae di full house, duh idup kayaknya lebih berwarna kalo punya suami kayak diaaa..

Heuheuheu.. Okeee.. Sippp.. Makasi bu bidan 😀

Sama sama bang 🙂

* * *

Kalau sama emak-emak di edisi kemaren aja sudah panjang, nah sama yang biasa ngurusin emak-emak lahiran malah lebih panjang. Haish. Namanya juga bidan merangkap penulis. Okelah kalau begitu.

Oya, kalau mau tahu lebih lanjut tentang Ony, dia punya Tumblr yang judulnya Reservoir Hati. Tulisan-tulisannya sih nggak jauh-jauh dari galau. Jadi yang ingin penggalauan, bisa deh dikunjungi.

Segitu dulu ya interv123 edisi tanggal 20. Saya akan berusaha interv123 bisa terbit setiap 20 hari sekali, sehingga dia akan nongol di tanggal 10, 20, dan 30. Masih ingat kan kalau angka 123 punya makna mendasar bagi saya? 🙂

Revisi ariesadhar.com

Saya sadar sepenuhnya bahwa secara konten blog ini kacau sekali. Tapi dulu itu kan maunya blog ini untuk menampung keinginan saya menulis. Jadi apapun saya tuliskan.

Nah, kalau mau jadi blogger yang benar, dan mengingat sudah saatnya saya memonetisasi blog ini, dengan tidak menghilangkan kandungan ‘just a script’ yang menjadi roh blog ini, maka saya harus merevisi.

Jadi, gimana enaknya?

Akhirnya sih saya putuskan untuk mengaktifkan eks blog bermerk ariesadhar.blogspot.com yang saya buat sewaktu blog ini kena blokir. Agar tidak rancu, nama itu saya off, dan saya pakai nama alfarevo.blogspot.com.

Nah, beberapa tulisan yang sepi pembaca dan NOL komentar akan saya pindahkan kesana. Iya, benar-benar hanya copy dan paste. Nah, tulisan aslinya dengan berat hati akan masuk ke Trash.

Mau nggak mau ya begitu.

Jadi ke depannya, isi blog ini nggak akan terlalu sering tapi pendek-pendek (seperti posting ini). Sesudah menulis Loser Trip, saya jadi paham gunanya menulis draft dan mengecek berulang kali sebelum ditampilkan.

Hehehe.

Penulis yang baik harus selalu memperbaharui diri kan?

Begitu saja. Selamat menikmati perubahan minor di blog ini 🙂

Tentang Lovefacture (1)

Bulan Desember lalu saya memulai proyek baru berjudul LOVEFACTURE. Sebuah proyek menulis yang saya buat blognya sendiri, jadi 1 blog isinya ceritanya doang. Dan sampai sekarang baru kelar 17 bab -___-”

Baru 17 bab? Iya, karena saya sadar ‘nafas’ saya yang pendek dalam bercerita, maka saya buat bab yang banyak dulu, untuk kemudian nanti diedit-edit lagi, kalau memang mau diperbaiki. Angka 17 ini bahkan belum setengahnya.

Ini mungkin proyek yang bisa dibilang paling rapi yang saya punya. Baru kali ini saya membuat outline dengan ‘sebegitunya’, semata-mata ingin hasil yang sempurna. Hanya saja, memang, pemilihan cara bercerita saya sungguh menimbulkan kelelahan. Terkadang saya menjadi delusional ketika menulis bab demi bab. Tentu saja karena pilihan sudut pandang yang saya ambil. Saya tahu itu sulit, tapi buat saya ini tantangan besar. Saya harus terus memaksa diri saya untuk push to the limit. HARUS!

Kalau luput agak lama, saya bahkan sampai lupa jalan dan bagaimana bercerita, maka saya kemudian harus baca ulang, juga tulis ulang. Dan saya amat yakin banyak yang belum sempurna dari proyek ini.

Satu hal, saya pernah dengar bahwa tulisan yang baik itu adalah tulisan yang SELESAI. Maka itu pula di blog ini mulai jarang cerpen, karena saya mencoba fokus di LOVEFACTURE dulu. Mohon doa agar proyek ini selesai, lalu bisa diedit, dan jika mungkin bisa menemukan rumahnya. Saya menulis posting ini semata-mata sedang lelah pasca penulis bab ke-17.

🙂

Kesalahan Umum Dalam Menulis Naskah Fiksi (Clara Ng)

Ini ada kumpulan twit-nya Mbak Clara Ng yang saya pantau tadi pagi hingga siang sambil teklak tekluk audit 🙂

Lagi membaca beberapa pekerjaan dan naskah, tiba2 aku tergelitik ingin berbagi ttg kelemahan penulis fiksi pemula. Tagarnya #8kesalahan.

Ada stdknya #8kesalahan yg sering aku temui di naskah fiksi yg ditulis penulis pemula. Fiksi ada kesalahan? Ya, artinya, rumusnya ga tepat.

Kl diibaratkan buat kue, #8kesalahan naskah fiksi ini membuat naskah fiksi bantut/rusak. Kayak kue yg gak bs mengembang/mekar.

Aku mau bagi #8kesalahan yg nomor satu: ketiadaan konflik. Bnyk sekali naskah fiksi gagal yg tidak pnya konflik di dalam ceritanya

Konflik itu apa? Konflik adalah perlawanan atas sesuatu yg diperjuangkan oleh si karakter. Konflik adalah arus balik. #8kesalahan

Fiksi brsandar pd konflik, bkn pd “konsep crita”. Konsep cerita sekeren apapun bkl hncur tnp adanya konflik. Konflik adlh nyawa. #8kesalahan

Spt tangga, konflik bertahap, dr tngga bwh ke atas. Konflik jg spt bayi, brtumbuh. Konflik yg stagnan n bgt2 sja bkn fiksi mati. #8kesalahan

Kesalahn no 2 dr #8kesalahan naskah fiksi pemula adlh: pembukaan yg lemah. Pembukaan lemah artinya pembukaan yg tdk mperlihatkan konflik.

Konflik seharusnya sdh membayang muncul di pembukaan (prolog). Pembukaan yg salah adlh pembukaan yg mengabaikan/menahan konflik. #8kesalahan

Krn konflik sdh mnghantui pmbukaan dr awal naskah, maka pnyelesaiannya pun hrs kuat. Inilah kesalahn no 3 dr #8kesalahan nskah fiksi pemula.

Kesalahan no 3 dr #8kesalahan naskah fiksi pemula: penyelesaian konflik yg lemah. Lemah artinya konflik yg dibangun hanya selapis tipis.

Penyelesaian konflik yg lemah disebabkan o/ tokoh yg tdk berjuang, tp dpt pertolongan. Inilah kesalahan fiksi pemula no 4 dr #8kesalahan.

Tokoh hrs berjuang menyelesaikan mslhnya. “Mendpt pertolongan” artinya memasukkan tokoh/situasi lain yg lngsng mnyelamatkan dia. #8kesalahan

Tokoh utama blh “mendpt pertolongan” dlm situasi yg “indirect” alias tidak langsung, tp penyelamatannya BUKAN dgn “diserobot” #8kesalahan

Utk bhs awam, ini srng dsebut dgn aksi “kebetulan”. Kebetulan dlm fiksi bs sj terjd, tp kebetulan yg lebay adlh “aksi serobot”. #8kesalahan

Kesalahan no 5 dr #8kesalahan naskah fiksi pemula adlh: dialog yg garing. Kl garing, direbus saja smp lembek 😀 *nyante dikit* #8kesalahan

Dialog bertele2. Dialog haha-hihi-hehe. Dialog ke sana kemari. Semua dialog jenis itu membuat fiksi tidak bergerak ke mana-mana. #8kesalahan

Humor dlm dialog boleh, tp humor pun pny rumusnya. Ada pembukaan, ada tengah, ada kick-ass-nya. Tnp itu, humor mati dlm dialog. #8kesalahan

Lanjuuut, kesalahan no 6 pd #8kesalahan naskah fiksi pemula: kalimat2 yg tdk patuh pd aturan Bhs Indonesia. Ini bkn naskah pakai bhs Mars!

Sakiiiit hati kl ada yg berani bilang di dpnku, “Bahasa Indonesia itu gampang.” Helooow, bhs Indonesia itu susah, tauk! #8kesalahan

Dan kita smua hrs belajar bahasa Indonesia dimulai dr yg plng sederhana: SPOK atau KSPO. (Subyek, Predikat, Obyek, Keterangan). #8kesalahan

Krn bahasa Indonesia tdk mendpt perhatian, maka kesalahan no. 7 dr #8kesalahan naskah pemula adalah: tanda baca yg tdk pd tempatnya.

Kesewenang2an dlm tanda bc bs menjd bukti bhw kita adlh manusia ugal2n dlm menyetir. Knp? Hehe, krn tnd bc = rambu lalu lintas. #8kesalahan

Pnulis fiksi yg tak peduli dgn peletakkkan tnda kutip, koma, titik, titik tiga, titik koma dll akan mbuat naskah fiksi jd rusak. #8kesalahan

Dan terakhir, no 8 dr #8kesalahan naskah fiksi pemula adalah: jreng jreng jreng! Adalah… Setting yg terlupakan! Isi cerita hny dialog.

Apa itu setting? Setting adlh keadaan cerita, dr lingkungan smp suasana. Tnp kehadiran setting, cerita bkl gatot (gagal total). #8kesalahan

Nah, ada #8kesalahan umum yg srng aku temui saat bertugas memeriksa naskah2 fiksi. Don’t worry, kesalahan2 itu gk diancam hukuman neraka :))

Jadi, be happy, krn #8kesalahan naskah fiksi msh bs diperbaiki dan diimprovisasi. Bnyk2 baca buku & terus meningkatkan kualitas tulisan

Slmt melanjutkan menulis nskh & menyusuri di mana kesalahan2 itu. Aku sndr mau memeriksa naskah fiksi & mcari kesalahan2 lain :)))*bercanda*