Perjalanan ke Paskalis

Kata orang, perjalanan itu dilakukan untuk pulang. Demikian pula #KelilingKAJ. Mungkin saya bisa jalan-jalan sampai Kedoya atau sampai Abepura (ini mah sudah beda provinsi gerejawi), namun kadang-kadang kita perlu menjelajah TKP yang dekat-dekat saja dari kos-kosan, walau bukan paroki tempat saya bernaung. Dimana itu? Masih satu Dekenat dengan Jalan Malang, #KelilingKAJ kali ini membahas tentang Gereja Paskalis.

Dimana lokasinya?

Paroki Cempaka Putih yang menaungi Gereja Paskalis ini sebenarnya mudah sekali dicapai, yakni di Jalan Letjen Soeprapto Cempaka Putih. Tidak jauh dari gedungnya Bea Cukai atau juga Rumah Sakit Islam maupun kantor pusat Kalbe Farma hingga Kantor Pusat Taspen. Halte TransJakarta terdekat adalah Halte Pasar Cempaka Putih yang berada di dekat Ace Hardware Cempaka Putih.

Melihat Gereja Paskalis saat ini, tampak sangat enak karena posisinya sangat strategis dan parkirannya juga lumayan memadai, namun ternyata sejarah Paroki dan Gereja Paskalis ini sangat panjang sekali beudh. Sebagai gambaran, Paroki ini awalnya adalah stasi dari Paroki Kramat untuk area Tanah Tinggi. Paroki Kramat sendiri adalah salah satu dari Paroki tertua di KAJ, bersama Matraman dan beberapa Gereja di Dekenat Barat. Pembangunan gedung serba guna untuk beribadah di tempat ini menurut website gerejapaskalis.com dimulai tahun 1947. Dan sejarah mengalir hingga kemudian gedung yang menjadi TKP #KelilingKAJ ini dapat digunakan 40 tahun kemudian. Wow!

Gereja Paskalis sebagai sebuah bangunan sebenarnya ada di periode sekitar 1950-an. Gedung ini yang dinamakan Gereja Santo Paskalis yang diberkati oleh Mgr. P. Willekens, SJ pada 18 Mei 1952. Pada tahun 1976 disebutkan terjadi perubahan semacam revolusi karena main bubar-membubarkan dewan paroki segala. Oh, tahun 1970 itu sendiri dirintis Kapel Lourdes.

Kapel Lourdes yang dari awalnya sederhana itu semakin memprihatinkan sehingga ketika Pastor Michael Angkur memimpin misa di Kapel Lourdes merasa prihatin dan sewaktu ke Belanda, dicarikan dana untuk kapel ini. Namanya nggak asing? Tentu saja, Beliau dalam perjalanannya menjadi Uskup Bogor. Sedangkan untuk gedung baru–yang sekarang ini berdiri–dirintis tahun 1978. Salah satunya terkait pelebaran Jalan Letjen Soeprapto yang memakan lahan parkir. Maka kemudian dengan duit separuh minjem yang diprakarsai oleh Pastor Michael Angkur, terbelilah tanah seluas 4.260 m2 setahun kemudian. Seperti halnya banyak Gereja di Indonesia, IMB adalah momok yang memakan waktu lama, pun dengan Gereja Paskalis karena ijin berupa SK Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo baru keluar pada bulan Desember 1985. Dan proses tendernya sendiri dimulai tahun 1986 untuk diteruskan peletakan batu pertama yang berisi surat prasasti yang ditandatangani oleh Mgr. Leo Sukoto, SJ. Mgr. Leo memang identik dengan banyak sejarah Gereja di Jakarta, coba saja cek riwayat beberapa Gereja TKP (Tempat Kunjungan Pribadi) #KelilingKAJ ini. Bangunan Gereja Paskalis, Paroki Cempaka Putih, yang baru akhirnya diresmikan pada tanggal 17 Juni 1987.

wpid-photogrid_1436111190838.jpg

Yang khas dari Paskalis adalah bentuk seperti tangan terbuka menengadah di bagian altar yang bertemu dengan bentuk serupa di bagian langit-langit. Agak mirip dengan Gereja di Alam Sutera, kalau mendongak ke atas kita tidak akan menemukan sesuatu yang blank. Di Paskalis ini terdapat gambar-gambar yang memenuhi hampir seluruh bagian kosong yang ada di atas sana, gambar itu kemudian disertai inisial 2 huruf. Delapan inisial itu adalah DD, MF, TH, FA, LD, MG, CH, AN, NZ, dan KK. Beberapa tebakan saya adalah Daud untuk DD, Maria Fatima untuk MF, Lourdes untuk LD, Christoforus untuk CH, Antonius untuk AN, dan Nazareth untuk NZ. Tebakan saya saja, sih. Tentunya ada pertimbangan sendiri dari pembangun Gereja untuk meletakkan inisial perlambang kekudusan itu di langit-langit.

wpid-photogrid_1436111378975.jpg

Tidak ada balkon di Gereja yang bentuknya sederhana karena sebenar-benarnya bersisi sama di setiap bagian. Walau begitu, penataan AC-nya menarik karena output ditaruh di sisi gambar-gambar untuk Jalan Salib. Semacam tidak terlihat kalau tidak teliti. Ada yang sedikit kurang di Paskalis adalah untuk multimedia. Mungkin karena memang tidak direncanakan pada awal berdirinya, maka LCD hanya diletakkan di atas perhentian Jalan Salib yang paling mepet tembok. Ironisnya ada lampu koor di sisi kiri altar, jadilah LCD yang diproyeksikan ke dinding ketutup tiang lampu koor. Untuk tempat koor buat saya lumayan keren karena ada di bagian yang lebih tinggi. Namun, beberapa kali saya lihat agak sulit koordinasi antara organis dengan dirigen karena ketutupan penyanyi. Yang keren disini adalah tempat mikrofon koornya yang melengkung semacam payung. Cuma, ya gimana ya, pas saya kesana terakhir, seorang Bapak turun dari koor (sebelum misa) mendatangi Bapak yang duduk di belakang saya dan meminta dia ikut koor karena yang datang sedikit. Orang Katolik mah gitu😀

Pastor dan rombongan masuk dari sisi kanan dan mimbar untuk bacaan ada di sisi kiri. Sisi kanan juga ada mimbar. Kondisi ini sangat dimungkinkan karena altarnya yang luas sekali. Untuk pemazmur masuk bareng dengan Lektor, tapi kemudian sesudah menunaikan tugas kembali ke bagian koor. Entah karena bagian koor ini atau bagaimana, komuni di Paskalis ini tidak lurus. Jadi untuk Pastor komuninya menghadap ke tempat koor, bukan menghadap ke belakang, demikian pula dengan arus manusia yang mengikutinya jadi otomatis belok. Jadi ketika berjalan menuju tempat Pastor tidak melihat salib, tapi melihat sisi samping kanan gedung Gereja–tentunya perhentian Jalan Salib. Nuansa yang berbeda. Oya, untuk Pieta juga ada, persis di bagian belakang, dan memang tampak tersembunyi.

wpid-photogrid_1436111683042.jpg

Untuk menghormati Bunda Maria, ada tempat doa Santa Maria Degli Angeli yang terletak persis di sebelah kanan Gereja (dari sisi altar). Jadi tidak usah jauh-jauh dan tidak usah bingung-bingung. Ada tempat duduknya juga, dan ada kolam ikan. Pas saya kesana sempat lucu karena anjing pastoran mengejar seekor kucing dan kucing itu berlari menyelematkan diri kemana coba? Yup, ke tempat Bunda Maria berada. Anjing pastoran nggak mengejar sampai kesana, entah terdistraksi air kolam, atau keder karena ada Bunda di atas sana.

wpid-photogrid_1436111556307.jpg

Misa di Paskalis dipersembahkan pada hari Sabtu pukul 17.30. Hari Minggu pukul 06.00, 07.30, 09.30, dan 17.30. Untuk Jumat Pertama banyak pilihan yakni 05.30, 12.00, dan 17.30, cocok untuk orang kantoran karena di sekitar Gereja Paskalis banyak kantor yang berdiri.

Gereja Paskalis sekarang masih dalam renovasi, jadi Bunda Maria-nya akrab dengan terpal karena renovasi persis di belakangnya. Sekali-kali bolehlah menyambangi Gereja ini karena itu tadi, besar dan mudah diakses. Bukan apa-apa, saya mulai kehabisan TKP untuk diakses dengan effort ringan. Heuheuheu.

Salam #KelilingKAJ!

2 thoughts on “Perjalanan ke Paskalis

  1. Pingback: Misa Bahasa Inggris di Danau Sunter | ariesadhar.com

  2. Pingback: Segi Lima di Tebet | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s