Kondangan

2012 ini tahun yang menyadarkan bahwa saya sebenarnya sudah ‘cukup’ umur, ditandai dengan terselenggaranya pernikahan 3 orang teman yang duluuuuu pas kuliah sekumpulan di UKF Dolanz-Dolanz.

Agak unik juga pernikahan 3 teman saya ini. Lebih unik lagi kalau dipadu padankan dengan perjalanan saya mencapai tiga tempat itu.

Boriz menikah 1 Januari 2012, Budi (alias Yoyo) menikah 30 Juni 2012, dan terakhir Sisil menikah 29 Desember 2012. Kalau dibuat pola, udah awal-tengah-akhir itu kan?
Soal tempat resepsi juga representatif. Boriz di UNY (Sleman–sepertinya), Budi di sebuah balai desa di Gunungkidul, dan Sisil di Madukismo (Bantul).
Lalu soal perjalanan saya mencapai ketiga kondangan ini, ehm, ada sedikit PENURUNAN. Hahaha.. Kalau Boriz dulu saya berangkat dari Padang, lalu dua kali naik Garuda, lalu naik Trans Jogja, lalu naik ojek, lalu nebeng Robert. Yah, poinnya di PESAWAT ya. Pas Yoyo, saya berangkat dari Cikarang naik bis ke Senen, lalu lanjut Senja Utama ke Jogja, lalu naik sepeda motor ke Ceria, lalu nebeng Boriz ke Gunungkidulnya. Poinnya sih KERETA API. Nah, yang kemarin, saya naik sepeda motor ke tol Cikarang Barat, lalu naik Lorena ke Jombor, terus naik BANG REVO ke lokasi. Poinnya sih naik BUS. Ehehehe, dari pesawat, KA, lalu bis. Penurunan perlahan sepertinya.

Yang eksis hadir, setahu saya nggak banyak. Setidaknya hanya Rian (Bunting), Chandy, dan Cawaz. Boriz mungkin bisa dihitung eksis, tapi kan kondangan pertama dia hadir sebagai yang dikondangi. Wkwkwk..

Begitu saja, sedikit posting nggak penting menutup tahun 2012 ini. Yuk lanjut! πŸ˜€

Advertisements

[Blog Review] CoretaN si boCah r@ntau

Blog yang paling sering saya komen dan paling sering ngomen blog saya. Maklum, sama-sama jomblo #lohkokngono

Si bocah rantau yang sebenarnya sudah nggak tergolong bocah ini adalah salah satu yang menginspirasi saya nge-blog, terutama di kebangkitan blog saya. Thanks a lot for him.

Dia tampaknya nggak mau bikin cerpen dan lebih memilih untuk posting reflektif, utamanya tentang leadership. Sebagai orang yang membawahi banyak orang tentu saja ilmu-ilmu leadership-nya bisa dipercaya. Apalagi nih, suka main akronim-akronim. Nggak percaya? Monggo dicek.

Dan terutama yang menarik adalah karena bocah tua nakal ini hobi tanya-tanya orang dan menuliskan hasil wawancara kehidupannya ke dalam kisah di blognya. Jarang orang yang iseng nanya, dan biasanya memang iseng nanya itu selalu punya cerita.

Soal produktivitas, tentu kita nggak bisa berharap lebih pada seseorang dengan tanggung jawab besar macam beliau ini. Jadi, apa yang dituliskannya sekarang sejatinya sudah lebih dari cukup.

Dan, ehm, bagian paling menarik tentu kalau postingnya sudah membahas soal.. ehm.. JOMBLO dan JODOH. Hehehe.. Saya nggak mau bahas panjang kalau yang begini, tapi coba deh lihat dan baca. Plus, di blog ini kita bisa melihat perjuangan sepasang guru untuk melahirkan dua orang anak dan kemudian profil cerita masa kini-nya.

So, silahkan dikunjungi πŸ™‚

[Blog Review] My Koffie Time

Bahwa dunia maya ini gila, bermula dari asal naruh link blog di Leutika, eh, saya ketemu dengan rekan se-almamater yang punya blog My Koffie Time ini. Syukurlah karena dia mengapresiasi konten blog saya, ‘jatuh cinta’ katanya. Apalagi waktu dia baca, ada serentetan cerpen galau yang lagi saya posting. Hahaha..

Lalu saya tengok balik ke blognya, dan–ehm–menarik juga.

Kenapa?

Postingnya jarang yang berjudul panjang sekarang-sekarang ini, bahkan belakangan hanya 1 kata. Misal: monyet, lalu ada juga judul lain: Cabe. Bikin senyum saja itu judul. Ada cerita-cerita yang bikin senyum, misal di posting ‘monyet’, plus ada posting-posting yang bikin hati haru apalagi di posting tentang kematian. Ehm, setidaknya soal kematian ini saya baca 3 kali dengan perspektif yang sama. Buat saya, keren.

Produktivitas Miss B1P buat saya sih relatif lumayan dengan 8 dari 12 bulan di 2012 ada postingan.

Dan disini juga banyak diceritakan asyiknya menjadi guru dan–terutama–pilihan menjadi guru Bahasa Indonesia (lulusan Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah), bukanlah pilihan buruk. Apalagi kalau diceritakan soal tempat kerjanya yang pindah-pindah dari sekolah elit ke sekolah elit lainnya. Hehehe..

Tentu tidak ada yang meragukan kalau seorang guru Bahasa Indonesia menulis. Demikian kan? Jadi, silahkan kunjungi πŸ™‚

[Blog Review] Tintusfar’s Weblog

Dari baca judulnya saja sudah nggak niat, apalagi lihat isinya. Ehm, maksud saya, bahkan Tintus (si empunya blog ini) nggak mengganti tag line ‘Just Another WordPress weblog’. Plus, jangan harap bisa menemukan ‘archive’ blog ini selain dengan menekan ‘older post’. Ya, kalau dari manajemen blog, buat saya Tintus kurang niat. Hahaha.. *piss ah*

Tapi jangan ragukan soal konten.

Ini adalah satu dari sedikit blog unik yang ditulis dengan sederhana, jauh lebih sederhana daripada blog saya yang nyata-nyata pakai judul ‘sederhana’, tapi punya sisi-sisi penceritaan yang di luar kebiasaan. Membaca blognya Tintus pasti akan bikin tersenyum kecil dari caranya bercerita.

Ya, sederhana. Kenapa? Karena runut sekali, habis A, lalu B, lalu C, lalu D, dan selesai. Sudah. Tapi di dalam A, B, C itu ada twist yang mampu bikin blog ini jadi unik.

Contoh:

Sesaat setelah melewati genangan air tersebut, rintik demi rintik airpun turun. Bunyinya bukan hanya di atas genting, melainkan juga di atas helmku, di atas kap mobil, di atas atap halte bis, dan di atas lainnya. Lama kelamaan airnya turun tidak terkira. Kutengok kiri dan kanan, pohon, ranting, rumah, basah semua. Termasuk diriku. Dan air hujan tidak kenal tempat. Di tengah jalan raya yang banyak dilalui orang ini, ia terus merambat sampai ke dalam celanaku. Bahkan lebih jauh lagi, sampai ke dalam celana dalamku. Dingin, dingin, gimanaaa gitu..

Ingat lagu ‘tik..tik..tik.. bunyi hujan di atas genting.. airnya turun tidak terkira..dst…’? Dibawakan dengan manis dan mengundang senyum hanya dengan menceritakan lagi kehujanan.

Atau cara lain penyampaian yang begini:

Di foto yang terpajang di papan pengumuman tersebut, wajahnya mulus tanpa jerawat. Aslinya, dalam kamus bahasa halus untuk kaum hawa, wajahnya bagai rembulan. Mungkin selama mengenalnya, dia sedang puber.

Penggunaan majas yang asyik sekali tampak di kalimat barusan.

Yah, kisah-kisah sederhana, ditulis dengan sederhana, tapi penuh dengan twist yang oke punya. Yah, cuma kurang niat melengkapi widget-nya aja ni orang. Oya, Tintus ini hanya berselisih NIM 1 dengan saya waktu kuliah, jadi hampir pasti saya dan dia 1 kelompok, apapun itu kuliahnya. πŸ˜€

Silahkan dikunjungi πŸ™‚

[Blog Review] darfiansyah’s notes

Oke, lanjut.. Kalian luar biasa… *salah fokus*

Review blog berikutnya adalah milik teman sekantor saya, Irfan, dalam darfiansyah’s notes.

Dalam catatannya, Irfan banyak berkisah soal sehari-hari juga, tapi arahnya (menurut saya) lebih dari perspektif keagamaan. Tentu saja, karena saya lihat di kantor dia orang yang agamanya oke. Hehe.. Lihat saja di posting-postingnya, setiap hal sederhana bisa dikaitkan dengan kacamata yang lain karena dilingkupi konteks Tuhan.

Hal simpel misalnya tertulis di beberapa posting tentang tafsir kitab suci. Mengambil konsep audit, temuan berulang di beberapa bagian adalah observasi besar. Irfan juga menemukan temuan sejenis, misal soal tafsir, dan menuliskannya di beberapa bagian. Artinya, dia punya pengertian tentang itu. Boleh juga.

Blog ini juga banyak bercerita tentang masa-masa menempuh pelajaran hidup sejak dahulu kala dan dituliskan dalam konteks bersyukur. Yah, kalau bacanya, kadang adem sendiri, walaupun saya dari kepercayaan yang berbeda. Hehe..

Silahkan dikunjungi πŸ™‚

 

[Blog Review] (Mencoba) Melihat dari Sisi yang Berbeda

Ini blog asli adek saya. Ya walaupun hanya 1 dari sejuta manusia di dunia yang mengakui kalau ada kemiripan antara saya dengan dia. Terang sajalah! Saya gelap buruk rupa begini, dia putih dan (cukup) mempesona. Itu dia, makanya (m)buat anak jangan coba-coba #halah

Sesuai namanya, (Mencoba) Melihat dari Sisi yang Berbeda, Cici lebih banyak menuliskan pendapatnya tentang segala sesuatu atau tentang pengalaman sehari-harinya. Dari judulnya sudah main aman. Dia pakai kata mencoba, alih-alih menahbiskan diri kalau dia sedang melihat dari sisi yang berbeda (tentang sesuatu yang dikomentari).

Dan coba bandingkan tulisan saya di blog ini dengan tulisan Cici, bagi yang mengerti dunia tulis-menulis pasti menemukan beberapa kemiripan gaya. Ya, hal itu dimungkinkan karena orang tuanya sama. Yang ngajari nulis sama, yang ngajari berpikir juga sama. Perbedaan hanya pada bentuk-rupa-wujud saja kok. Haha..

Cici sama nggak produktifnya dengan Tere. Saya yakin itu semata-mata perkara dia nggak punya uang beli pulsa modem, karena beberapa kali minta saya #diceplosin

Dan kalau saya cenderung melihat hal-hal gede (sok mau jadi orang besar), adek saya ini mengomentari bahkan hingga kuliah kosong. Jadi, silahkan dikunjungi untuk melihat sisi yang berbeda πŸ™‚

[Blog Review] Bailar Bajo la Iluvia

Hendak bergalau ria dengan cerita-cerita yang dituturkan dengan manis? Satu tempat rekomendasi adalah bailar bajo la iluvia. Ini blognya Tere, yang saya kenal karena dia adalah temen kosnya adek saya. Dan kebetulan adalah sesama anak guru Bahasa Indonesia plus ternyata sesama GALAU. Haha..

Blog-nya Tere ini ada sejak 2010 dan sampai sekarang entah sudah berapa kali ganti desain. Produktivitas mungkin masih sedikit, tapi soal kualitas jangan ditanya.

Mungkin, ini mungkin doang lho ya, dia lebih memilih untuk kuliah daripada ngeblog. Eh, salah.

Mungkin dia memilih untuk menuliskan sebuah cerita yang sudah benar-benar final dan nyata bagus baru diposting. Ini prediksi saya. Karena coba deh lihat postingannya rerata panjang dan terstruktur sehingga tentu perlu permenungan mendalam (ceileee..) sebelum menekan tombol ‘post’.

Ada juga rangkaian posting foto, yang saya tahu mirip dengan yang diposting teman kos adek saya yang lain. Bahkan foto-fotonya juga sama. Ini siapa terinspirasi siapa ya.. Hehe..

Yang kurang dari blognya Tere ini cuma 1 kok, kurang produktif. Karena beberapa pengunjung setia blog saya pernah bilang terus terang kalau menyukai cerita-cerita yang dimuat di blognya Tere.

Keep posting! πŸ™‚

Silahkan dikunjungi.. πŸ˜€

[Blog Review] Neo Butterfly

Sudah akhir tahun 2012. Ehm, ada baiknya saya nge-review dulu blog-blog teman yang rutin saya kunjungi untuk sekadar mendapat cerita. Hehe..

Kita mulai dari blognya Ayuk kito sikok ni, Nova.

Ini teman saya waktu join di kantor sekarang dan kemudian sesudah menikah pindah ke kantor yang lama. Ya, saya dan Nova semacam dianggap pertukaran pelajar saja. Hahaha..

Blog-nya Nova bernama neo-butterfly. Sila klik judul di sebelah untuk menuju blog tersebut. Dan bisa dibilang kalau dia sangat produktif! Deretan postingnya ada dari 2009 hingga 2012 dan rerata setahun pasti di atas 100. Isi blog ini pada umumnya adalah tentang sehari-hari. Blog ini benar-benar diary-nya Nova πŸ™‚

Satu hal yang menjadi unik sejak hamil adalah update-nya perihal kehamilan. Hehehehe.. Bagaimanapun, bagi saya, untuk hal-hal sejenis dengan kehamilan ini, saya prefer baca blog yang ditulis langsung alih-alih buku panduan. Karena pengalaman itu pasti punya nilai kemanusiaan yang lebih.

Kalau mau mengunjungi blog ini harus siap-siap dengan fotonya yang melimpah ruang. Haha.. *piss yuk*

Bahkan pernah nih, dia posting kartu-kartu-nya, lengkap dengan nomor-nomornya, untuk segera diedit. Kalau nggak, udah jadi korban penipuan dia. πŸ˜€

Sekarang saya nge-klik neo-butterfly dari link yang saya pasang di blog saya, semata-mata ingin melihat cerita terbaru soal dedek Keyla (anaknya Nova). Dan sesekali mencuri informasi soal kantor lama yang ditulis dengan sedikit manis-halus. Saya yakin, kalau yang mengundang perdebatan pasti diam di draft saja. πŸ™‚

Silahkan dikunjungi πŸ™‚

 

Choir

Yeah, what is choir?

Haha.. Nggak usah dijawab. Ya, sebagai contoh nih, lihat di page yang ada di blog ini bahwa saya pernah ikut lomba Christmas Choir Competition. Ada choir kan disitu? Anggap saja paduan suara.

Dua kali ikut lomba choir di dua pekan belakangan membuat saya sedikit ‘terbuka’ tentang profil choir yang ada–terutama di Jakarta.

Dipikir-pikir, uang yang berputar sebenarnya cukup besar. Kalau dulu di Jogja, setahu saya levelnya sekitar 600 ribu-an, di Jakarta bilangan sudah jutaan. Kualitas? Don’t ask. Saya bisa pastikan bagus, karena ya memang bagus.

Kapan ya, saya bisa ikut lagi choir yang ‘bener’?

Maksudnya, yang kualitasnya bagus, yang latihannya rutin, yang tugasnya rutin, dan yang MENAMBAH INCOME. *butuh duit mode on*

Iya, saya emang ‘ngelatih’ (mungkin lebih tepatnya milihin lagu sama jadi dirigen, i am not really sure that i am a choir coach) di lingkungan. Tapi, aih, boro-boro. Yang latihan 20, yang tugas 40. KEMANE AJE???

Kualitas apa sih yang diharapkan kalau begitu? Kualitas asal tahu lagu? Entahlah.

Saya lomba choir bareng CFX, alias Ex-CF. Lha tapi gimana latihan yang baik dan benar dan rutin dan lainnya kalau personelnya se-Jabodetabek. Sekali latihan (contoh di Gading Serpong), saya bisa habis 50 ribu ongkos doang, belum kalau kelaparan, belum lagi ada orang dekil masuk ke bis, makan silet, lalu minta duit. *dasar edan* Choir semacam ini sangat mengandalkan kualitas individu dan rekam jejak masa silam untuk saling mengenal. *tapi gitu-gitu juara satu lohhh…*

Kapan ya? Sesungguhnya, saya rindu suasana choir yang sebenarnya 😦