Kumpul Bocah Lagi

KUMPUL BOCAH! Ini salah satu kegiatan paling menyenangkan, sekaligus menyebalkan, yang hampir tidak pernah saya lewatkan sesudah berdomisili di dekat ibukota. Ternyata, oh, ternyata, dunia farmasi itu nggak jauh-jauh dari ibukota. Sebagian besar teman sepermainan saya ketika kuliah, pada akhirnya bekerja, berkeluarga, dan membeli rumah di sekitar Jabodetabek. Tentu saja semua tidak lagi sama. Bukan zamannya lagi seperti era baru berdirinya perkumpulan bernama UKF Dolanz-Dolanz yang bisa dengan seenaknya menetapkan tujuan dan beberapa jam berikutnya sudah sampai di tempat yang dimaksud. Sudah bukan waktunya lagi.

Oya, buat nostalgia, lihat-lihat gambar di awal berdirinya UKF Dolanz-Dolanz ini dulu.

Pantai Ngobaran, 2005

Pantai Ngobaran, 2005

Cukup alay, bukan?

Bagaimana dengan ini?

Pantai Ngobaran, 2005

Pantai Ngobaran, 2005

Kemaren cerita-cerita dengan temen yang berasal dari kuliahan lain, dan dia memuji model persahabatan yang dijalin oleh saya dan para Dolaners ini. Dia bilang kalau di tempatnya memang guyub pas kuliah, tapi kalau sudah lulus ya sudah sendiri-sendiri.

Nah, bagian mana sih yang unik itu?

Kumpul bocah Dolaners Jabodetabek ini dihelat pada momen-momen khas. Beberapa yang sudah terjadi adalah sesudah pernikahan, sesudah lahiran, istri lagi nggak di rumah, hingga final Liga Champions. Yang terakhir ini, meskipun tampak absurd, tapi sudah kelakon 2 tahun berturut-turut loh.

Dan, sialnya, setiap kali kumpul bocah begini, saya selalu kejatahan bully. Tentu sazah! Di saat yang lain sudah jadi Bapak, atau sudah berhasil merintis jalan jadi Bapak, saya masih saja jomblo. Udah. Gitu. Tapi nggak apa-apa, obrolan sekurangajar apapun, kalau keluarnya dari sahabat-sahabat sendiri, rasanya kok biasa-biasa saja. Dan sejujurnya, mereka-mereka dengan mulut kotornya ini yang sukses mengubah saya dari seorang-yang-amat-sangat-gampang-tersinggung menjadi seseorang yang dengan mudah mengumbar hal-hal konyol di blog, bahkan di buku saya, Oom Alfa.

Dolaners ini bahkan mengingat dan membuat urutan sendiri untuk pernikahan. Sejauh ini yang sudah terselenggara adalah #1 (Jogja), #2 (Jogja), #3 (Jogja), #4 (Lampung), #5 (Jogja), dan #6 (Pangkal Pinang). Adapun #7, #8, dan #9 sudah dibooking oleh masing-masing pemilik pasangan. Jadi, sisa 2 digit. #Okesip. Memang semakin lama akan semakin sulit untuk bisa menghampiri kondangan satu-satu, apalagi ada yang kondangannya terhitung jauh. Jadi, sesi kumpul bocah adalah perwujudan-ketidakbisaan-datang-kondangan itu.

Nah, kumpul bocah kemaren menjadi luar biasa karena mempertemukan dua bocah beneran yang adalah produk dari pasangan-pasangan yang sudah menikah. Jadi, ketemuannya sudah jelas berbeda. Kalau dulu kuliah ya sekadar nongkrong di tangga sehabis menimpa ilmu demi masa depan bangsa, lalu dilanjut ketemuan dengan pasangan masing-masing, sekarang sudah ada bayi yang merangkak di antara percakapan kami.

Waktu memang terbang begitu kencangnya.

Dengan sederet jadwal kondangan Donalers di 2014, tentu saja pertemuan macam ini bukan yang terakhir. Semoga saya masih tetap bisa ikutan, dan semoga di kesempatan berikutnya saya nggak lagi jadi korban bully. *pacar mana pacar*

Well, yuk disimak lagi gambar berikut:

Paingan, 2005

Paingan, 2005

Dan bertransformasi menjadi:

Bekasi Timur, 2014

Bekasi Timur, 2014

Kapan kita kemana?

Advertisements

Feel Their Happiness

Baru sadar, sudah lebih dari 6 bulan nggak mengupdate cerita soal Dolanz-Dolanz. Uhuk. Rencana saya sih, tulisan ini akan jadi kompilasi yang menarik jika sebelumnya saya sudah jadi penulis yang terkenal. Dan pada akhirnya teman-teman saya yang gokil-gokil itu akan jadi terkenal juga. Sayangnya, sampai hari ini pageview saya ya masuk 100-an aja per hari.

Kapan terkenalnya?

Ya sudah. Populer tentu saja bukan tujuan. Tapi berkarya adalah keharusan. Bukan begitu?

Jadi, mari kita teruskan.

* * *

Hidup itu kadang runyam ya. Makin runyam lagi urusan perlelakian di sesama dolaners. Selain Bona yang terus bertahan menerjang badai lautan bersama kekasihnya sejak SMA, dolaners lelaki yang lain adalah peserta penggalauan massal yang digelar secara rutin oleh yang lainnya.

Dan tentu saja termasuk aku.

Tapi penggalauan itu bisa jadi nggak runyam, ketika satu persatu kabar gembira muncul. Yah, kabar gembira buat anak kuliahan selain jam kosong adalah…

teman punya pacar.

Ketika akhirnya teman sepergalauan itu punya pacar, rasanya sudah ikut senang. Walaupun aku masih juga tidak punya pacar. Walaupun itu berarti aku akan kehilangan teman menggalau ria sambil nonton bokep yang di-fast forward. Nah, berikut beberapa kisahnya, dan mohon maaf kalau akan terlalu banyak melibatkan Chiko. Iya, dia yang paling playboy soalnya.

Playboy kok galauan?

Chiko – Eka

Ini berita yang sifatnya syahdan. Apalagi Eka itu kakak kelas, dan aku sudah mengenalnya sejak aku masih SMA. Kabar kabur sudah muncul sesudah perhelatan Pharmacy Performance yang merupakan embrio terbentuknya UKF Dolanz-Dolanz.

Dan sebagai anak yang masih polos, aku tidak terlalu paham bahwa Chiko dan orang yang aku panggil Mbak Eka itu sudah dekat. Lah manggil Mbak soalnya kakak kelas. Iya to?

Begitu mendengar kabar kalau Chiko jadian sama Eka, perasaannya sih, “ohhh…”

Dan berhubung UKF Dolanz-Dolanz belum terbentuk, perasaan ikut bahagianya masih sedikit. Belum kelihatan, kayak mukaku.

Chiko (lagi) – Tina

Baiklah, untuk sebuah sebab musabab yang akupun tidak mengerti apa, Chiko putus sama Eka. Dan seiring dengan rencana perhelatan besar dolaners, maka tertiup kabar yang oye, Chiko sepertinya sedang dekat sama Tina.

Perhelatan besar ini adalah silaturahmi ke Pantai Ngobaran, season 2. Setelah season 1 yang agak kurang sukses, namun kemudian sukses menjadi momen berdirinya UKF Dolanz-Dolanz. Disebut besar karena direncanakan dengan lebih matang, dan dengan peserta yang jauh lebih banyak. Dua kali lipat rasanya.

“Kowe karo sopo, Ko?”

Pertanyaan mendasar ini, karena di petualangan sebelumnya Chiko memboncengkan Mami Aya, sekaligus sebagai korlap, koordinator ngelap. Perlu ditanyakan karena Tina juga termasuk angkatan kita, jadi siapa tahu hendak turut.

“Bonceng Tina, lah.”

“Lah uwis jadian po?”

Dan playboy itu diam seribu bahasa. Oke, baiklah. Nanti juga ketahuan.

Chiko pada akhirnya membawa Tina di perjalanan 70 kilometer ke selatan, yang bukan dilakukan untuk mencari kitab suci. Di perjalanan menggunakan sepeda motor yang kalau nggak salah namanya Gita itu, dolaners silih berganti menguntit kebersamaan dua sejoli itu.

“Eh, lah uwis jadian po?”

Bisik-bisik terjadi di pasukan sepeda motor di belakang Chiko-Tina.

“Lha mboh.”

“Nek uwis, kok ora dipeluk?”

Kala itu harga bensin masih di bawah 4.500, jadi wajar kalau anak mudanya beda kayak sekarang. Sekarang mah pacar juga bukan, tetap aja main peluk-pelukan.

“Ngko wae takon.”

Informasi sudah jadian itu ternyata dimiliki beberapa orang di dalam rombongan, namun memang belum tersebar luas. Dan pemandangan 70 kilometer pp tadi, plus adegan di pantai akhirnya membongkar fakta tersebut.

Cihuy, turut bergembira. Bahkan turut nggarapi di pantai. Fotonya? Ada. :p

Bayu – Putri

Sejujurnya hubungan Bayu dan Putri ini termasuk absurd tingkat kotamadya. Bayu temanku SMA, Putri temanku waktu ospek fakultas. Dan sebagai rangkaian dari proyek gagalku mencari pacar yang adalah temannya Putri, maka ditemukan efek samping yang lebih poten. Putri ternyata suka sama Bayu.

Ini juga cihuy. Proyek yang menarik. Apalagi melihat bahwa Bayu ini tampaknya belum suka wanita. Waduh. Padahal, kurang apa dia? Tampang lumayan, nyaingi si Chiko deh. Otak? Jelas ada. Saking adanya, Bayu bisa tidur sepanjang kuliah namun kemudian ketika bangun bisa melontarkan pertanyaan yang relevan dengan kuliah yang disampaikan sepanjang dia tidur tadi. Bahkan beberapa kali pertanyannya dapat pujian dari dosen.

Entah bagaimana ihwalnya, sampai kemudian Bayu yang nggak suka sama Putri, terus kemudian bisa dekat, teruusss, teruuuusss, dan teruussss sampai terdengar kabar bahwa mereka sudah jadian.

Sebagai salah satu pelopor-ingat, dia efek samping proyekku yang gagal-tentu saja aku ikut senang!

Roman – Adel

Nah ini, termasuk yang menjadi catatan turut senang milikku. Adel adalah korban yang berhasil aku gaet untuk kuliah di Farmasi. Dia teman agak lama, ketemunya waktu sama-sama ikut sanggar menulis yang sukses untuk gagal menelurkan buku. Ealah.

Roman sendiri adalah salah satu tempat peraduan untuk berteduh, selain kosannya Toni. Kebetulan nih, Adel sering SMS-an sama aku dan sebenarnya bilang kalau dia nge-fans sama Toni dengan rambut gondrongnya yang penuh dilema.

Tapi mungkin peletnya Roman lebih kuat, mereka kemudian bisa janjian. Sebuah janjian yang monumental, di tempat gorengan. Sepuluh meter dari kamar Roman.

Aku dan Bayu sempat membuka-buka HP Roman sesudah itu, maklum jaman itu belum ada smartphone, jadi semuanya phone masih bisa dibodohi, termasuk untuk dibuka-buka SMS-nya. Jadi deh kami tahu bahwa Roman dan Adel janjian di gorengan.

Dan persis ketika Dolaners plus-plus melakukan perjalanan ke Sri Ningsih, Roman dan Adel ikutan berangkat. Tanpa perlu disimpulkan, itu namanya sudah jadian.

Lah, kok bisa-bisanya Adel pindah kiblat dari Toni ke Roman? Mboh. Sebagai teman main dan teman lama, ikut senang juga pastinya.

Riono alias Richard – Riana

Sesungguhnya ya, kata orang Jerman, witing tresno jalaran soko kulino dan sesekali dapat diterjemahkan menjadi witing tresno jalaran soko ora ono sik lio, dan sekali-kali juga dapat menjadi witing tresno jalaran soko telo (emang e getuk?). Dan pepatah warga Jerman tadi dipakai banget oleh Richard untuk mendapatkan Riana.

Pendekatannya sih sudah dari awal. Ibarat kata sudah ditakdirkan oleh yang berkuasa di Biro Akademik. Riana punya nomor mahasiswa 87 dan Richard 88. Namanya juga mahasiswa, jadilah mereka selalu bersama, dalam suka dan duka, dalam kelompok apapun yang dibagi berdasarkan nomor absen. Hore!

Tapi momen mereka jadian sedikit lenyap karena Dolaners sibuk bekerja di berbagai tempat karena gempa. Aku di Bethesda, lanjut ke JRS. Roman dan Adel banyak di Bantul, demikian juga Bayu plus Putri. Oya, pada periode ini Bayu dan Putri sudah menjadi mantan kekasih, dengan realita yang miris. Kalau dulu Putri ngebet sama Bayu sekarang kebalikannya. Seandainya mereka saling ngebet pada saat yang sama.

Kabar kabur mulai terasa sesudah masuk lagi demi menyelesaikan ujian. Dan memang Riono dan Riana sudah menjadi sejoli pada periode menjadi relawan gempa.

Somebody said, “berkah gempa.”

Meski aku kurang setuju dengan istilah itu, ya sudahlah. Ikut senang! Senang melulu, aku kok nggak jadian-jadian ya?

Nasib.

Toni – Tini

Aku dan Toni kebetulan sekelas, dan di kelas anak Klinis, lelaki adalah manusia yang sama langkanya dengan Panda di dunia. Plus, entah darimana pula ada ide terkutuk untuk lomba Pom-Pom Boys se-farmasi. Huaaaa…

Mau nggak mau, aku, Toni, dan beberapa lelaki yang ada terpaksa terjun payung, termasuk menerjunkan tingkat kemaluan ke level terbawah untuk mewakili kelas Klinis ini.

Persiapan.. Persiapan.. Akuakuakuakua.. Mijonmijonmijon..

“Aku isin cah.”

“Aku yo iyo.”

“Lha aku ora po?”

Begitulah. Lelaki pun bisa malu, apalagi disuruh Pom-Pom Boys.

“Nek aku jomblo selamanya, kowe-kowe kudu tanggung jawab,” ujar Toni.

“Matamu,” timpal yang lain.

Pergelaran itu akhirnya berlalu juga, tentunya dengan sedikit meninggalkan kemaluan yang tersisa. Ya sudahlah, semoga adek-adek yang saya asisteni tidak melihat aib yang terjadi tersebut. Maluk euy.

Itu hari Kamis.

Seninnya, aku datang ke kosnya Toni. Dan karena sudah menganggap kos Toni adalah milik sendiri–sama halnya dengan Dolaners yang lain–maka aku langsung melihat di depan pintu yang terbuka itu ada…

sandal wanita.

Tercekatlah aku di depan pintu, begitu melihat Tini ada disana lagi ngobrol sam Toni. Sambil mengeluarkan flashdisk, aku melangkah mundur, lalu pura-pura menyapa Bambang di kamar sebelah.

Yah, teman yang nomor mahasiswanya denganku ibarat Riono-Riana itu sudah punya pacar juga. Ikut senang. Hore. Hore.

*menangis pilu dalam hati*

Bayu – Putri (season 2)

Hari terakhir ngampus. Akhirnya! Dan keesokan harinya aku hendak pulang kampung ke kampung yang sudah tidak pernah aku injak sejak aku jadi mahasiswa. Gile ya, toyib sekali aku ini.

Di hari terakhir ini, aku masih bertemu Chica dan Bayu di kampus. Maka ngobrollah kami di tangga depan hall kampus.

Dan si Chica yang polos habis, dan cenderung oon, tapi kalau kuliah pinter ini tanpa tedeng aling-aling bertanya ke Bayu, “Wis jadian urung karo Putri?”

Memang, beberapa pekan belakangan, mereka tampak akrab kembali. Sebuah petualangan 1 tahun yang keren sekali. Ya meskipun aku sudah menangkap perubahan pesat dalam diri Putri, yang kemudian sedikit menjauhkanku darinya. Selain tentunya karena nggak ada proyekan lagi gitu.

“Uwis,” jawab Bayu sambil cengegesan.

Haiyah! Ada pula pacaran season 2 selang setahun? Cinta memang gila, segila cinta fitri yang berseason-season itu. Meski sudah nggak setuju. Turut senang deh.

Yama – Lia

Boleh baca kisah Dolaners yang lain untuk tahu seberapa strategis posisi Yama di UKF Dolanz-Dolanz. Dan ketika dia kemudian termasuk jomblo, maka itu juga jadi isu. Apalagi umurnya waktu itu sudah mau 22 tahun.

Tapi ya, walaupun tampangnya begitu, yang ngefans yang tetap saja ada. Heran saya. Pesonanya sungguh luar biasa.

Semuanya baik-baik saja sampai kemudian Chiko memberi kabar padaku di akhir bulan Januari itu, bahwa Yama sudah jadian sama Lia! Oya, Lia ini teman satu kosnya Adel.

Weitz!

“Percoyo ora kowe?” tanya Chiko

“Sakjane ora sih.”

“Aku yo ora. Tapi kuwi tenan.”

Dan bagian terbaik dari semua itu adalah ketika Chiko mendeskripsikan semua detail penembakan yang kemudian membawa kita sampai pada kesimpulan:

ORA YAMA BANGET! TAPI KUWI TENAN!

Well, muka dan keseharian tidak mencerminkan keromantisan rupanya.

Dan beberapa hari kemudian, Chiko datang ke kosan Roman, melingkari sebuah tanggal di kalender, dan bilang:

“Aku wis nembak. Tapi njawab e tak kon sebulan meneh. Ben mikir.”

Chiko (lagi-lagi dia) – Irin

Bahwa kisah pahit ternyata tidak mengendurkan apapun, kalau sudah cinta. Mau tahu pahitnya semacam apa? Klik aja disini.

Ya, dengan kepahitan yang macam itu, Chiko kemudian tetap dekat-mendekat-lebih dekat, dan akhirnya menembak (dor!) Irin. Waktu ditembak ini, si Irin sudah jomblo sih, jadi ya wajar saja.

Fiuh.

Mau jadi apa kowe, Ko?

Ya gitu deh, kalau sudah sama-sama dewasa. Your own risk. 🙂

Dan persis 1 bulan sesudah Yama dan Lia diproklamirkan, due date yang dipasang Chiko tadi terlewati. Jawaban diterima, dan mereka jadian.

Ikut senang! Ikut senang! Meski dalam hati tetap bertanya-tanya. Kok ya bisa sih?

*catatan: di sela-sela Yama – Lia dan Chiko – Irin, aku jadian, sebentar sih.. tapi lumayan sempat nyari kado bareng Yama di Mirota Kampus plus ketahuan Roman-Adel di perempatan Concat*

Chiko (masih ini anak! edan!) – Cintia

Nyatanya Chiko juga nggak awer sama si Irin. Maka kembalilah dia menjadi petualang cinta. Dan edannya, sesudah dia putus di Lotek, langsung pamer ke aku sekaligus meminta nomor HP target selanjutnya.

Dasar lelaki! Untuk aku tidak suka lelaki!

Aku memberikan 2 nomor kala itu. Cintia dan Marin. Yang Marin tidak direkomendasikan karena toh dia pacarnya temanku. Gile ape?

Dan melalui proses silent operations tahu-tahu 1 September alias hanya beberapa bulan sesudah permintaan nomor HP itu, Chiko sudah jadian sama Cintia.

Sumpah, dalam hal mencari pacar, makhluk ini memang perlu disembah, terus dibanting. Begitu.

*Catatan: sebulan sesudah Chiko jadian, lewat proses yang juga silent operations, aku bisa jadian juga. Fiuh.*

Bayu – Clara

Beberapa bulan sebelum aku lulus dan Dolaners menjadi semakin seret untuk ketemu, Bayu mulai menebar tanya soal seorang wanita. Nggak jauh-jauh sih. Adek kelas, yang sengit-nya minta ampun sama dia. Terbukti waktu jadi panitia, dan tahu sendiri pemikirannya Bayu itu antah berantah, banyak dilawan oleh adek kelas, termasuk Clara.

Sambil sesekali rapat SC, Bayu bilang kalau Clara itu lumayan.

Ehm.

Padahalnya di SC itu juga ada Dita yang sohibnya Clara banget. Kok ya nggak bilang sama Dita aja? Malah sama aku? Nanti kan repot. *apa coba?*

Iseng deh, waktu ketemu Clara, aku menitipkan salam. Dan tentu saja responnya sengit. Iya, mereka sempat debat terbuka waktu rapat panitia yang mana Bayu SC-nya dan Clara salah satu OC.

Tapi siapa sangka?

Sengit itu lama-lama juga bisa nyerempet jadi cinta loh.

Isu beredar ketika salah seorang OC, adek kelas, laporan mendapati Bayu dan Clara pergi berdua di suatu hari Minggu dalam rangka bertemu Tuhan. Kedok religi adalah mekanisme paling mendasar dalam PDKT terhadap wanita, khususnya anak Dolaners. Percayalah!

Isu itu berkembang seminggu lamanya sampai kemudian aku dan pacar pergi bertemu Tuhan dan tidak sengaja melihat sebuah objek menarik hanya 4 meter di depan kami. Iyah, Bayu dan Clara duduk berduaan, sebelahan.

Nah.. Nah.. Nah..

Aku yang sudah resmi tentu nggak masalah dengan itu, nah mereka? Pasti ini ada apa-apanya.

Keesokan harinya terkuaklah fakta itu. Bayu akhirnya jadian sama Clara, persis sesudah momen aku nge-gap mereka. Dan ironisnya, bahkan jadian saja pakai bawa-bawa namaku. Kira-kira begini:

“Eh, kata si Goz kita digosipin loh.”

“Iya ya?”

“Iya. Lha gimana?”

“Gimana apanya?”

“Apa dijadiin beneran aja, biar nggak jadi gosip?”

PLAKKKK!!!!

Lu kate gue bigos?

Ah, ya sudahlah, turut bangga saja namaku dibawa dalam proses penembakan.

* * *

Begitulah beberapa kisah mendapati teman jadian. Sejatinya, aku merindukan saat-saat itu. Tapi sekarang adanya mereka sudah pada nikah. Jadi nggak mungkin kan ada kabar macam itu lagi? Yang ada kabar bahwa Clara melahirkan, lah itu baru masuk akal. Hehehehehehehe….

Hati-Hati Kalau Ngece

Sejujurnya aku sedang mengalami sebuah penyakit yang dalam ilmu kefarmasian perdolanan dikenal sebagai tengeng. Ya, itu sebuah penyakit ketika sesuatu–iya sesuatu banget–terjadi pada bagian tulang belakang sehingga kita tidak bisa menoleh dengan normal. Agak-agak sakit gimana gitu kalau noleh.

Nah, sehubungan dengan penyakit tengeng ini, mendadak aku ingat sebuah azab yang kulanggar beberapa hari yang lalu di grup Whatsapp. Ada sebuah azab yang ternama di kalangan dolaners bahwa jangan sekali-kali menghina alias ngece seorang tokoh di Dolanz-Dolanz.

Ya, jangan sekali-kali ngece Yama!

Pengen tahu riwayat dari azab ini? Mari kita simak.

* * *

Seperti biasa, anak Dolaners pasti menghabiskan diri dengan nongkrong di perpustakaan dan mempelajari buku-buku tebal serupa Farmakope Eropa guna menunjang ilmu selama kegiatan perkuliahan.

Ehm, percaya?

Nggak? Syukurlah. Apa yang aku wartakan tadi bukanlah sebuah kebenaran yang reguler. Hal itu hanya terjadi ketika misalnya, besok laporan dikumpul atau nanti siang ujian. Biasalah, namanya juga anak muda.

Yang benar adalah anak Dolaners akan menghabiskan diri dengan nongkrong di hall belakang, mengamati pemandangan sekitar yang indah nan permai seperti di kebun bunga. Tentunya sambil menyaksikan anak-anak Psikologi yang lewat serta mengabaikan anak-anak Teknik yang juga ikutan lewat. Rerata Dolaners adalah lulusan sekolah homogen, sehingga urusan ‘melihat lelaki sepanjang hari’ itu kebanyakan sudah paham, dan cenderung bosan.

Iki Yama ngendi?” tanyaku sambil duduk nglekar di tangga. Aku sendiri berasal dari kelas C, bersama Toni dan Roman, alias tidak sekelas dengan Dolaners lain yang rerata adalah kelas B.

Jarene nyusul,” jawab Chiko, seadanya.

Oiya, Dolaners yang dari tipe gadis entah sedang kemana, jadi yang berkumpul di tempat ini hanya Dolaners batangan. Dan, yang namanya lelaki berkumpul, obrolan pasti nggak jauh-jauh dari cewek dan segala hal saru lainnya. Kalaupun ada yang lain, tentu saja, sepakbola.

Dari kejauhan kuliah sosok separuh gondrong, nanggung nggak jelas, semacam perpaduan antara Rangga di Ada Apa Dengan Cinta serta Gie dalam film Gie. Cuma ini versi KW3-nya.

Kae Yama dudu?”

Iyo ketoke.”

Sosok gondrong itu mendekat, dan betul sekali bahwa yang datang memang bukan Rangga AADC. Pantas saja nggak ada cewek yang mengerubungi dari tadi. Kalau lalat sama tawon, ada.

“Heh, kok tumben rupamu dadi elek ngono?” tanya Bona, begitu Yama duduk di tangga belakang bersama yang lainnya.

“Lha, biasane?” timpal Chiko dengan tanya lainnya.

Elek banget.”

Spontan ngakak abis! Dan semakin ngakak ketika kemudian tampak fakta bahwa si Yama ini sedang tengeng. Bona yang tampaknya melihat fakta unik ini kemudian mencoba menggoda dengan memanggil Yama yang sedang melihat ke depan.

“Yam?”

Yang dipanggil memiringkan punggungnya, dan menoleh sedikit, serta mengandalkan mata untuk melihat Bona. Tentu hasilnya tidak sempurna.

“Lagi tengeng po kowe?” tanya Chiko.

Ketoke,” jawab Yama, santai.

Dan pada akhirnya tengeng ini menjadi bahan obrolan selanjutnya. Sampai kemudian jadwal kuliah, jadwal fotokopi, dan jadwal pacaran (khusus yang punya) membuat rombongan ini harus berpisah.

* * *

Beberapa hari kemudian adalah hari Sabtu. Ini harinya Squadra untuk bermain sepakbola. Dan beberapa Dolaners ikut di permainan berebut sebiji bola ini. Aku datang agak telat tentunya karena Alfa yang hanya bisa melaju di kecepatan maksimal 40 km/jam. Mana sebanding Alfa ini dengan Ninja Hijau atau Shogun Merah?

Begitu aku masuk ke area lapangan, bukan kegiatan pemanasan yang kutemui, tapi kegiatan evakuasi. Jiah, ada apa pula ini?

Ngopo e?” tanyaku pada Chiko yang lagi sibuk menangani seseorang yang sedang kesakitan dengkulnya. Eh, ini Bona ternyata.

Mlengse.”

Maka kegiatan pemanasan itu menjadi heroik untuk menangani dengkul striker dengan skill mumpuni ini. Permainan baru dimulai ketika Bona masuk ke mobil Kijang merah yang disetiri oleh Bapaknya. Mari berdoa supaya Bona tidak dimarahi Bapaknya karena ngeyel masih main bola. Mari berdoa pula agar Bona tidak dimarahi pacarnya, juga karena masih ngeyel main bola. Amin? Amin!

“Efek ngece Yama, ketoke,” kata Toni sambil terengah-engah dan minum air yang dituang dari galon.

“Bisa jadi.”

Sesuk ojo ngece Yama meneh.”

Demikian kesimpulan hari ini, sebuah peristiwa yang memperlihatkan perkara azab dari seorang Yama.

* * *

“HPmu kok elek men?” tanya Yama padaku ketika melihat HP Nokia 2100-ku yang semakin antah berantah bentuknya.

Sebuah pertanyaan wajar karena beberapa bagian dari HP ini sudah rompal. Belum lagi HP ini masih satu warna dan masih monophonic pula. Cuma satu keunggulan HP-ku, setidaknya selalu ada pulsa.

“Yo, ngko ndelok ae,” ujarku menanggapi pujiannya pada alat komunikasiku satu-satunya ini.

“Lha, wis HP elek, motor sisan.”

Nah, kalau perkara si Alfa ini jangan dipertanyakan lagi. Dari sisi apapun dia memang sudah pantas untuk dihina dina. Kecepatan maksimal 40 km/jam, asap mengebul bak fogging demam berdarah, hobi diservis, dan segala kegilaan lainnya mulai dari susah hidup sampai susah mati. Nggak ada pembelaan kalau ini.

Kadang aku mengelus dada (sendiri) pada nasibku. Apalagi ketika kemudian Yama menyebut hinaan ketiganya dalam sehari.

Iki nonton TV opo ngrungokne (mendengarkan) TV?”

Yeah, di kos-kosanku memang ada sebuah TV Anaco, adiknya Anaconda. Dan karena murahan memang layarnya menghitam dan hanya bisa ditonton oleh orang berhati mulia dengan amal perbuatan yang sudah banyak. Cuma, ya, sudah jelas kos-kosannya begini, titisan gagal Rangga AADC ini ya tetap aja nebeng tidur siang di kamar kosku.

Dasar tidak bersyukur dan karena memang baru saja punya pacar, Yama mengeluarkan hinaan terakhir ketika pamit.

Sik yo Zonk, mbojo sik, duwe soale.”

Kampret! Empat hinaan mutlak dilemparkan kepadaku oleh orang yang sama, dalam waktu yang sama.

* * *

Nah, ada satu hal yang kemudian menjadi kepercayaan di kalangan Dolaners. Bahwa kalau kita diece sama Yama, maka segala sesuatu akan baik adanya. Sebuah kesimpulan yang diambil dari kenyataan yang aku peroleh.

Nggak lama sesudah Yama menghina dina TV-ku, si Anaco, kabar gembira diterima. Aplikasi beasiswaku diterima, sehingga kemudian aku bisa me-refund uang semester yang sudah terbayarkan. Sebuah nominal yang lumayan untuk kemudian membeli sebuah monitor baru, berikut TV Tunernya.

Yeah!

Dan biar asyik sedikit, aku mengajak Yama sebagai tukang angkut dalam proses membeli monitor di pameran komputer ini. Rasain!

Lalu, rejeki lain mendadak nemplok sehingga ada bugdet lebih untuk membeli HP baru. Maka akupun segera memiliki sebuah HP baru, Motorola L6, yang pasti sudah bisa menyimpan musik, bisa foto, dan tidak satu warna lagi. Hore bener.

Yama mendapati HP baruku ketika sedang makan di Warung Padang yang handal (harganya).

“Wuih, HP baru kowe?”

“Pastinya!” kataku dengan senyum kemenangan sambil memasukkan HP baru ke kantong khusus, takut lecet gitu.

Rentetan kabar baik belum usai ketika menjelang skripsi, aku dikabari bos di rumah berita baik lainnya. Proposalku untuk membeli sepeda motor terkabul dengan indah. Lewat sebuah proses yang agak absurd, aku akhirnya memiliki sebuah sepeda motor Honda Revo, yang kemudian melemparkan Alfa ke peraduannya yang baru. Semoga majikan barunya bisa menerima Alfa dengan lapang dada, baik kebaikan dan keburukannya. Yah, walaupun kebanyakan buruk sih.

Empat hinaan itu akhirnya berakhir ketika beberapa bulan sesudah punya Revo, aku akhirnya punya pacar (lagi).

Sesudah poin keempat ini, aku menghitung kembali proses ngece yang dilakukan Yama, dan kejadian yang terjadi sesudahnya. Maka aku mengambil kesimpulan bahwa kalau kita diece sama Yama, maka berkah sudah menanti.

* * *

Percakapan di grup Whatsapp, bertahun-tahun kemudian.

Yama: Mesti kowe jomblo, zonk
Toni: zonk, kowe diece Yama
Zonk: syukurlah, matur nuwun lho
Yama: yowiz, di list wae opo meneh sik arep tak ece

Demikianlah yang terjadi. Sejauh ini, aku tidak mempercaya kebenarannya, tapi geleng-geleng melihat buktinya.

🙂

 

17 in 1

“Mak, besok aku pergi ya. Ke Solo,” ujarku pada Mamak yang lagi berkunjung ke Jogja guna mengantarkan adikku gadis satu-satunya bersekolah di kota pelajar ini.

“Ngapain?”

“Main.”

Ya, aku pun kurang tahu mau ngapain di Solo besok, tapi ini sudah perjanjian dengan Dolaners dan kalau nggak ikut kok rasanya kurang afdol. Lagipula, ehm, aku kan belum pernah ke Solo.

Ada untungnya juga aku pergi main begini ketika ada orang tua. Bayangkan, dari sekian rute dolan-dolan sebelumnya, mayoritas aku berangkat dengan kelaparan dan kehausan. Sekarang? Sejak subuh Mamak sudah menyiapkan sepiring mie goreng dan susu untuk anak lelaki pertamanya ini. Hore bener.

Aku bergegas menuju Stasiun Lempuyangan di tengah kota Jogja. Perjalanan tanpa konsep ini segera dimulai.

Oke, baiklah kalau aku bercerita sedikit latar belakang perjalanan ini. Jadi itu, si Chiko, bilang ke teman-teman kalau dia belum pernah naik Kereta Api. Ceritanya yang diulang-ulang membuat teman-temannya trenyuh minta ampun dan kemudian merancang sebuah perjalanan dinas dengan Kereta Api. Kalau mau ke Jakarta, kejauhan. Jadi diambil yang singkat dan mestinya murah, naik Prambanan Ekspress alias Prameks ke Solo.

Di Solo ngapain? Ya, itu urusan nanti.

Aku juga kurang tahu siapa saja yang ikut dalam edisi dolan kali ini, mau ngapain di Solo, dan segala tetek bengek perjalanan lain. Satu yang pasti, ini mau dolan ke Solo.

Aku masuk ke tempat pembelian tiket Prameks di stasiun Lempuyangan dan bertemu dengan beberapa Dolaners. Absen demi absen, akhirnya terkumpullah sumbangan sebesar, eh salah, 15 manusia Dolaners. Banyak juga!

Lima belas pemuda-pemudi harapan bangsa ini bergegas masuk setelah membeli tiket Prameks. Chiko menjadi fokus perjalanan karena dolan-dolan kali ini dirancang untuk kesenangannya. Mana ada coba teman kayak gini? *songong mode on*

Kereta api jurusan Jogja-Solo itu berjalan perlahan meninggalkan Lempuyangan. Agak berbeda dengan yang sering aku temui. Ya tentu saja, aku biasa naik kereta api untuk perjalanan jauh yang membutuhkan perpisahan. Kalau Jogja Solo ini jarang ada dadah-dadah dan tangis-tangis layaknya kereta menuju Jakarta. Paling nanti sore ketemu lagi.

Ketika memasuki daerah bandara, Chica dengan bangga menunjuk-nunjuk, “Kae loh TK-ku dulu.”

Sebagian bangkit berdiri melihat ke jendela. Sebagian yang lain hanyut dalam lelap. Maklum, berangkat pagi untuk mahasiswa yang lagi libur semester itu setengahnya bermakna derita, meski itu untuk dolan sekalipun.

Ketika kemudian kereta memasuki daerah Klaten, Yama giliran bangkit berdiri dan menujuk ke arah luar sambil berkata, “Kae omahku.”

Kali ini semua bangkit berdiri dan menatap sekilas bangunan yang cukup megah dengan pemandangan asli kampung di sekitarnya.

“Apik omahmu,” ujarku.

“Ora koyo rupamu,” timpal Chiko.

Yak, sesi ejek mengejek tampaknya dimulai. Timpalan dari Chiko sudah berhasil mencairkan suasana pagi ini. Berbagai ejekan dan hinaan keluar bergantian di dalam kereta api yang kini melaju kencang itu.

“Solo Balapan habis,” ujar porter yang merangsek masuk ke dalam kereta. Tentunya mereka berharap ada sedikit rezeki dari orang-orang berbawaan banyak.

Dolaners turun satu per satu. Sesudah turun, yang terjadi adalah bingung. Mata beredar ke sekeliling dan melihat sebuah kereta api eksekutif parkir. Tanpa buang waktu, Dolaners pose di depan kereta eksekutif itu. Hmmm, jadi secara dokumentasi kami tidak akan dianggap naik Prameks karena novum ini memperlihatkan kami berfoto bersama kereta eksekutif. *penting ya?*

Aku dan 14 dolaners lain berjalan ke luar stasiun. Sampai luar, yang ada adalah… bingung. Terkapar miris di depan kantor PT KAI adalah kejadian selanjutnya.

“Iki ngopo dewe?” tanyaku.

“Lha kowe Ko, arep ngopo dewe?” imbuh Fian.

“Muleh wae po?” kata Chiko.

Dan ini sebenar-benarnya bingung.

“Aku wis ngomong Ani kok wingi,” ujar Chica. Perkataan yang sungguh meredakan suasana.

Ani adalah teman main juga, dan kebetulan berasal dari Solo dan karena ini libur semester maka otomatis berada di rumanya. Artinya, Ani sedang berada di Solo. Jadi, Ani ini orang Solo bukan ya? Malah nggak jelas begini.

Setengah jam kemudian muncullah sebuah kijang berwarna merah. Ani yang bertubuh mungil bak anak SD kemudian turun dari bangku depan. Kedatangan Ani menjadi semacam Oscar Oasis melihat setetes air di padang gurun.

Obral-obrol sebentar, perjalanan lantas hendak dilanjutkan. Pertanyaan besar muncul.

“Naik apa?”

Ani sudah berbaik hati menyewakan sebuah mobil kijang dan membooking saudaranya untuk menyetirkan mobil kijang ini. Dan sebagai dolaners yang baik, harus bisa berbuat sesuatu. Maka, tindakan selanjutnya adalah… memastikan 15 dolaners plus 2 penghuni Solo asli bisa cukup di dalam sebuah mobil Kijang Super!

Absurd? Pasti. Tak bahas sebentar metode penataannya.

Saudara Ani tentu di bangku kemudi. Ani duduk manis di sebelah pengemudi karena badannya yang kecil mungil. Nah, karena ada Bona yang lagi cedera lutut tapi dengan rela hati ikut dolan, maka ia harus jadi prioritas. Jadilah Bona booking satu tempat di depan. Chiko dengan seringai liciknya mengajukan diri menemani Bona. Yak, empat orang di bagian depan.

Masih ada 13 orang lagi yang belum masuk ke mobil merah ini.

Gadis-gadis yang berbodi agak gede lantas masuk ke deret tengah. Aya, Dipta, dan Cindy masuk. Sofa hidup ini lantas dilapis gadis-gadis yang agak kecilan. Jadilah Sinta, Rani, dan Chica masuk. Sip, enam orang ini bisa membentuk pepes gadis jika dikukus beberapa jam.

Nah, tinggal tujuh manusia lain. Ini Kijang edisi lawas, jadi tampaknya mampu memuat agak banyak di bagian belakang. Kursinya model berhadap-hadapan samping. Fano dan Yama mantap di pojokan masing-masing kursi. Aku dan Randu menyusul di sebelah Fano dan Yama. Jadi sudah berapa ini? Sampai nggak bisa menghitung lagi.

Tujuh kurang empat. Yak, zona kecil di antara dua kursi itu harus bisa memuat tiga manusia lagi. Toni dan Bayu masuk dan mencari posisi, tampaknya dapat. Sebagai finalisasi, Fian masuk ke celah yang tersisa dengan pose kepala duluan, kaki belakangan. Ini pose paling antik dalam upaya pemecahan rekor dunia ini.

Pas ngepas abis. Mobil berisi tujuh belas manusia ini lantas berjalan. Seluruh penghuni mobil 17 in 1 ini pasrah pada Ani, hendak dibawa kemana hubungan kita. *armada mode on*

Tanpa disangka, Ani membawa kami ke Soto Gading. Memangnya apa Soto Gading? Aku sih nggak tahu, tapi melihat ramainya mobil yang parkir plus ramainya pengunjung, mestinya soto ini terkenal. Mungkin bahan bakunya pakai gading gajah duduk.

Mobil kijang merah itu kemudian parkir manis di sebuah celah yang ada. Dan sesi pembuatan pepes sementara berakhir. Kami bergegas keluar lewat urutan yang sudah dibentuk dari awal tadi. Tukang parkir tampak menganga melihat jumlah orang yang turun dari mobil yang tampak tua itu.

Soto Gading tentu beda dengan Soto Simbok. Ya iyalah, dari daftar harganya sudah bikin garuk-garuk. Tapi tampaknya Ani ini memang baik hati. Sebanyak 17 mangkok soto plus minumnya menjadi tanggungan Ani. Teman macam apa ini? Sudah menyewakan mobil plus mencarikan supir, masih membayari makan pula. Mantap kali!

“Kemana?” tanya Ani ketika sesi makan pagi hampir disudahi.

“Kraton wae,” ujar Chiko.

“Sekalian Klewer kalau gitu.”

Sepakat! Tentu sepakat karena mayoritas nggak tahu Solo. Dengan hawa panas habis makan soto yang pedas, tim pepes manusia kembali membentuk formasi 17 in 1. Kali ini sudah mulai terbiasa.

Mobil melaju perlahan ke arah pasar Klewer sampai menemukan sebuah celah untuk parkir di sela-sela keramaian. Yak, ini mungkin tempat perhentian yang salah. Ramai cuy!

Mulailah pintu dibuka, Fian keluar, Bayu dan Toni menyusul, lantas aku dan Randu. Aku iseng mengamati kenaikan perlahan bodi mobil terhadap ban pada setiap kali manusia turun. Ternyata ini mobil tadinya ceper. Ya iyalah, memuat 17 orang itu sudah hampir mendekati 1 ton kayaknya. Orang-orang yang lewat juga tidak kalah menganganya dibandingkan tukang parkir Soto Gading. Tapi, namanya Dolaners, ya cuek sajalah. Anggap aja lagi di Ngobaran.

Pasca parkir di Pasar Klewer, rombongan manusia muda belia harapan bangsa ini berjalan ke Kraton Solo. Sejujurnya nih, ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di sebuah kraton. Ya, meski sudah empat tahun di Jogja, aku sendiri tidak pernah menginjakkan kaki di Kraton Jogja itu sendiri.

Rombongan Dolaners segera memasuki bagian dalam Kraton yang mensyaratkan satu hal: buka alas kaki. Bukan masalah buat yang lain, tapi isu besar buat Aya yang kakinya baru aja luka. Ehm, alasannya sih jatuh dari sepeda motor. Yah, fakta yang tidak bisa dibantah adalah hampir selalu si Aya ini jatuh tiap kali mencoba mengendarai sepeda motor. Sungguh kasihan, sepeda motornya.

Namanya juga Kraton, jadi suasananya cenderung agak mistis. Tapi hawa dolan tetap lebih besar melingkupi makhluk-makhluk dengan agenda tidak jelas ini. Jadilah aktivitas hanya gundah dan sok angguk-angguk waktu berkeliling Kraton serta tidak lupa foto-foto. Harap maklum, karena Dolaners adalah Magito alias manusia gila magito! Eh, manusia gila foto!

Urusan di Kraton dan Klewer menjadi tidak lama karena sudah menjelang Sholat Jumat. Berhubung saudaranya Ani yang menjadi driver bagi karung-karung beras yang bisa ngomong ini harus menunaikan kewajiban, akhirnya kunjungan di tempat bersejarah disudahi. Kijang Super 17 in 1 segera melaju menuju mall paling gress di Solo, namanya Solo Grand Mall.

Sungguh bersyukur si Kijang ini masih bisa berjalan menganggung beratnya beban hidup dan beban dosa. Bagian terakhir tentu saja penting karena sebagian dari berat yang ditanggungnya adalah berat dosa manusia-manusia yang bertopang di atas empat rodanya. Kijang ini berjalan pelan hingga akhirnya sampai di SGM.

Dan, percayalah, bahwa mall baru bukanlah tempat berkunjung yang layak karena pada dasarnya kita hanya akan mengunjungi tempat-tempat kosong atau yang bertuliskan ‘under construction’.

“Ngopo iki?” tanya Chiko.

“Golek ombe wae,” usul Bona sambil berjalan tertatih. Yeah, atlet ternama ini berjalan tertatih gegara urusan dengkul. Atlet ternama pun punya kelemahan, hanya saja kok ya atlet lemah di dengkul.

Cari punya cari, akhirnya dolaners nongkrong di food court yang baru menyediakan sedikit menu. Berhubung masih cukup kenyang dengan soto, akhirnya hanya es krim yang mampir ke pencernaan kami masing-masing. Yah, namanya juga aktivitas menunggu. Dan tentu saja es krim harga mall sudah cukup menguras kantong anak muda macam kami.

Next Stop: rumah Ani. Ehm, sesudah ditraktir soto mahal, ditraktir mobil sewaan, dan diarahkan ke jalan yang benar, mampir tentu menjadi kewajiban. Ya, walaupun sebenarnya mampir itu akan bermakna menghabiskan banyak makanan di rumahnya Ani sih. Tapi, ya namanya diajak mampir, masak ditolak? Lagipula rute sudah habis—berikut uang di dompet—dan kereta terakhir masih beberapa jam lagi.

Bagian terbaik dari perjalanan menuju rumah Ani adalah ketika si Kijang dengan sukses membawa 17 manusia berdosa ini melewati sebuah tanjakan dengan sudut yang lumayan. Kadang-kadang aku berpikir bahwa mobil tua selalu punya kelebihan. Makin tua, makin joss!

Sesampainya di rumah Ani, benarlah prediksi Ki Joko Widodo yang aku sebut di atas tadi. Makanan disajikan silih berganti, bahkan Ani pergi dulu ke luar rumah beli makanan. Plus, manusia-manusia dolaners ini terkapar manis mulai dari ruang tamu sampai teras depan. Rumah Ani yang megah mendadak menjadi tempat pengungsian pemuda harapan Indonesia raya. Topik obrolan? Tentu saja nggak jauh-jauh dari tampang Yama, dengkul Bona, sampai pacar baru Chiko. Standar kok, hanya diulang-ulang dengan tambahan bumbu yang berbeda.

Sore menjelang dan kami harus bergegas ke stasiun agar tidak ditinggal oleh kekasih, eh oleh Pramex. Kami berpamitan dengan orang rumah Ani yang jelas-jelas akan repot cuci piring sesudah kami pergi. Sebelumnya, sebuah dokumen mahal dibentuk. Ya, 16 orang berfoto di depan Kijang bersejarah tadi. Satu lagi aku, yang mengambil foto dengan kamera poket berisi film 36. Sebuah dokumentasi yang moncer pada jamannya.

Sudah sore, sudah capek, sudah apek, sudah ngantuk. Maka perjalanan kembali ke stasiun dan bahkan hingga sampai ke dalam kereta menjadi sunyi senyap tapi tidak sendu. Yang ada hanya muka menjelang tidur dan sudah tidur beneran.

Kijang dan 17 n 1 ini adalah salah satu kisah monumental Dolaners, tentunya mengingat momen dan peristiwa unik yang terjadi. Sebuah perjalanan yang nyatanya tidak pernah terulang lagi. Setiap peristiwa menghadirkan cerita, dan setiap cerita memiliki makna. Biarkan makna dari setiap momen perjalanan menjadi warna persahabatan. Terima kasih Ani atas jamuannya dan Chiko harus sujud menyembah pada kami semua karena sudah dengan rela hati menemaninya naik kereta api, pertama kali seumur hidup. Yeah!

Pria Yang Punya Rasa

“Jangan pernah mau disentuh-sentuh cowok, apalagi yang lebih jauh,” ujar temanku berkali-kali, dan kebetulan diulang lagi.

“Emang kenapa?”

“Pasti nanti diceritain sama temen-temennya. Eh, gue udah nyium dia, gue uda ngapa-ngapain dia.”

Aku terdiam. Selintas kemudian, aku bersyukur. Setidaknya aku berada di pergaulan yang benar.

“Nggak semua cowok kayak gitu kali.”

Nggak semua, karena proses pendewasaanku mengajari demikian. Cerita antar lelaki yang aku tahu adalah tidak jauh-jauh dari rasa, bukan nafsu. Karena, ada yang bilang, sesejati-sejatinya lelaki, adalah lelaki yang mengandalkan rasa alih-alih nafsunya.

Nah, mau tahu tipe-tipe obrolan cowok berbasis rasa. Berikut paparannya.

1. Labil sesi 1

“Piye, Bon?” tanya Chiko sambil menepuk bahu Bona.

“Mbohlah.”

“Lha piye?”

“Yo, mboh.”

“Putus wae po?”

“Nggak. Kalo nggak sama dia, mending aku jadi homo.”

Beberapa hari kemudian, Chiko dan Bona bertemu lagi.

“Piye?”

“Wis ah, sekarang realistis wae,” ujar Bona, dengan pandangan tetap menerawang.

Cowok yang punya rasa memiliki kecenderungan labil, antara mempertahankan atau realistis.

2. Kurang Ajar edisi 1

“Ko, pinjem motor?” teriak Roman dari depan kos.

“Meh nangndi?” tanya Chiko, sambil tetap tiduran.

“Sono.” Roman menunjuk arah utara.

“Belok kiri opo kanan?”

“Lha ngopo emang?”

Cowok yang punya rasa, pasti akan berpura-pura soal ini. Ya begitulah, ke kanan itu menuju arah kos Adel. Kalau ke kiri itu menuju kos Eny, TTM-nya Roman.

“Kiri kanan?”

“Kiri lah,” rapal Roman sambil menyambar kunci motor Chiko.

Cowok yang punya rasa, cenderung tidak menutupi sesuatu atas nama kepura-puraan, meskipun itu tetap kurang ajar namanya.

3. Labil sesi 2

“Kowe masih kontak sama Irin?” tanyaku terkejut.

“Iyo. Udah putus kok dia.”

“Setelah yang dia lakukan sebelumnya.”

“Iyo bro. Kalau nggak sama dia, aku nggak bakal nyari yang satu fakultas lagi.”

“Tak catet omonganmu, Ko.”

Beberapa bulan kemudian, sisi labil terungkap.

“Wis ora?”

“Lha aku dicuekin terus. Pengen ketemu, terus tak sudahi wae,” ujar Chiko.

“Iyolah.”

Dan tak sampai 3 bulan.

“Wis jadian po kowe?”

“Wis.”

“Sama Cintia?”

“Iyo.”

“Lha, katanya nggak mau yang satu fakultas lagi.”

“Ya, setiap hal ada perkecualiannya lah,” kekeh Chiko, ala playboy. *halah*

Cowok yang punya rasa tidak akan punya keputusan yang menetap, semuanya relatif, termasuk perkecualiannya.

4. Kurang ajar edisi 2

“Lha Alin ki duwe bojo?”

“Iyo.”

“Ngopo kowe deket-deket?” berondong Chiko.

“Nggak apa-apa toh?”

“Pacar orang kuwi.”

“Iyo. Ngerti,” sahutku.

Hari-hari berikutnya.

“Masih kontak sama Alin?”

“Masih.”

“Awas wae kena batunya kowe.”

Dan cowok yang punya rasa itu hampir pasti kena batunya. Termasuk aku menemukan batu yang itu. Gede pula.

5. Konsisten

“Lha kowe ngopo kudu golek suku kuwi?” selidikku.

“Panjang ceritanya,” sahut Prima. Dengan tenang, panjang kali lebar kali tinggi, ia menjelaskan perihal seleranya terhadap cewek dari satu jenis ras.

“Yo terserah sih. Saranku sih, realistis wae.”

“Yo iki, wis realistis cah.”

Dan berikutnya, yang kudapati adalah Prima belum pernah berhasil mendapatkan kekasih dari etnis yang ia tetapkan. Cowok yang punya rasa itu cenderung konsisten. Meskipun outputnya adalah konsisten ditolak.

6. Tidak Percaya Sebelum Melihat

“Eh, eh, aku ono cerito,” bisik Bayu. Aku mendekat mendengarkan.

“Tadi, aku ke kosnya Putri. Malah ketemu Danu. Mana Putri lagi tidur di pahanya Danu pula.”

“Lha ngopo juga kowe kesana?” tanyaku.

“Ya, pengen aja.”

“Udah denger kan kalau Putri sama Danu?”

“Ya, pengen lihat.”

“Abis lihat? Terus galau kan?”

“…….”

Yah, meski pahit, cowok yang punya rasa cenderung ingin memastikan sendiri. Sekalian ingin memecahkan hatinya sampai berkeping-keping untuk kemudian membangunnya kembali.

Kira-kira begitu 🙂

 

Tangisan Berbuah Dolan-Dolan

Odong-odong merah memasuki Pok-We, biasanya hal ini akan disambutstanding oviation oleh para Dolaners. Yak, di musim demam berdarah, sebuah fogging gratis dari knalpot sepeda motor dua tak berkecepatan maksimal 40 km/jam mungkin adalah berkah tersendiri.

Biasanya begitu, tapi kali ini kok berasa aneh.

“Kowe sih Ko.”

“Lha ngopo aku? Kowe kuwi Bon.”

Yak, permainan voli tanggung jawab antara Chiko dan Bona memang adalah hal biasa. Cuma kok yang ini suasana agak sunyi senyap. Nggak dolan-dolan banget deh. Aku segera mengambil kesimpulan kalau aku baru saja melewatkan sesuatu yang penting.

“Ono opo kie?” tanyaku.

Sunyi, semua berpandang-pandangan kecil ke Aya. Hmm, ini seperti ada sesuatu. Untuk waktu itu Syahrini belum tenar dan belum mengeluarkan istilah sesuatu banget, apalagi jambul anti badai dan bulu mata gorong-gorong jalan sudirman.

Tidak ada kata dan penjelasan yang aku dapat di Pok-We kali itu selain, “besok dolan ke Ketep!”

“Lha, dolan PS e piye?” Aku bertanya lagi.

“Yo tetep.”

Aneh lagi nih, nggak pernah sekali-kalinya Dolaners membuat dua acara dalam 1 rentang waktu yang pasti akan berakhir dengan tidur bersama. Ya iyalah, dolan itu capek loh, apalagi kalau dolan plus-plus.

Sungguhpun aku mendapati sebuah misteri dari rencana esok hari ini.

* * *

Siang hari menjelang, dan masih di Pok-We, sebuah tempat yang mungkin bosan dengan Dolaners. Bagaimana tidak? Kalau pembeli lain mungkin akan membeli menu-menu mahal. Kalau anak Dolanz-Dolanz sebangsa aku dan Yama misalnya, pakai metode lain. Yah kalau di menu itu, di sisi kiri ada nama makanan dan di sisi kanan ada harganya, maka mata kami segera menatap ke kanan tanpa peduli yang ada di sisi kiri. Kalau memang menu itu tertempel di dinding, maka tangan kiri segera menutup yang di sisi kiri.

Ketika harga yang paling masuk akal ditentukan, barulah mata melihat ke nama menu. Dan biasanya sih nggak jauh-jauh dari tahu goreng, tempe goreng, atau maksimaaaallll banget telur goreng. Demikian adanya.

Dan juga, durasi nongkrong anak Dolanz-Dolanz di Pok-We itu kadang nggak mengenal toleransi. Bisa dari siang sampai sore, dan mengambil slot meja yang banyak. Belum lagi gojek kere yang kadang membuat orang lain yang nggak kenal risih sendiri.

Dan satu-satunya alibi adalah karena ada 3 Dolaners yang ngekos disana, maka tempat itu segera menjadi meeting point yang paling ideal dalam janjian.

Dan hari ini, perjalanan menuju ke KETEP PASS, Magelang.

Formasi ditentukan dengan 12 personil yang ikut serta. Roman berhasil mengajak Edo, Dolaners yang hilang. Ano bareng Chica, lalu Chiko bareng Aya. Duo tak terpisahkan Bona dan Richard (nama ini sesuai request lho.. hehehe..) masih eksis berdoa. Aku memboncengkan Lani dengan sepeda motor barunya. Dan terakhir, Soe Hok Gie wanna be, Yama bersama Toni dengan motor Honda Grand legendaris AD AV.

“Berangkat ki?” tanya Chiko.

“Iyolah. Ngko ndak ono sik nangis meneh,” ujar Bona.

“Bonaaaa…,” sergah Aya.

Dan percakapan singkat ini sudah memberi tanda bahwa perjalanan dadakan ini dilakukan karena Aya menangis kemarin! Aha! Aku memang detektif jempolan, jempol kaki nan kapalan. Yah, lagian mana mau anak-anak lelaki liar ini diganggu jadwal PS yang sudah ter-planning lama itu dengan aktivitas yang melelahkan kalau nggak benar-benar kepaksa? Yak, kepaksa karena Aya nangis. So sweet sekali.. *sweet darimana yak?*

Perjalanan dimulai dengan rute standar yang jelas-jelas dipahami bersama. Yah kalau cuma dari Paingan sampai Magelang, Dolaners sejati pasti paham sak jalan tikuse. Hehehe.

Jalan ke arah Magelang sana sih sudah biasa pakai banget buat pelaku sekelas Dolaners, lha wong lurus-lurus wae. Bagian ini berubah ketika sudah belok kanan dan segera menanjak menuju puncak gemilang cahaya, menggapai cita seindah asa. Ini disorientasi dengan akademi fantasi sepertinya.

Aku beruntung dapat jatah motornya Lani yang notabene masih baru gress hingga gigi 2 pun masih kuat melibas tanjakan. Sementara Edo dengan mantap melibas jalanan karena emang punya cc yang juga gede dan termasuk baru juga. Sisanya? Aku nggak lihat. Bawa anak orang, yang punya motor pula, motor baru pula, jadi kudu eling lan waspada.

Ketep Pass sejatinya ‘hanyalah’ sebuah tempat ketika kita bisa menyaksikan puncak Merapi dari sisi yang berbeda. Tapi melihat pemandangan secakep itu tentu penyegaran tersendiri di masa ujian sisipan. Yah jelas aja, wong ujian nggak bisa garap, pasti butuh penyegaran kalau begitu.

Merapi View (Dokumentasi Pribadi)

Dan ketika motor kami satu per satu masuk ke area parkir, obrolan khas Dolaners mulai mengemuka.

“Lha kuat to Ton?” goda Chiko pada Toni yang membawa motor legendaris Yama.

“Lha iyo. Gigi 1 karo tak elus-elus.”

Yama selaku yang punya motor senyam senyum saja, pura-pura nggak tau kalau senyumnya itu sama sekali nggak manis, sepet lagi ada.

Chica lantas mengeluarkan benda legendaris lainnya dari Dolaners, kamera digital! Di era teknologi belum maju, benda bernama camdig yang boros baterai itu adalah harta yang paling berharga setelah keluarga cemara. Beneran deh. Dan kebetulan, Dolaners adalah MAGITO alias…

Hayo tebak apa? Yak, benar! *apa coba*, MAGITO adalah manusia… gila… hayo to-nya apa..

Betul! MAGITO adalah manusia gila magito!

Eh, salah.. Hehe. Manusia Gila Foto! Ini baru bener.

Tiupan angin kencang di Ketep Pass sanggup membuat rambut Toni berkibar-kibar layaknya bendera di pucuk tiang. Namun tak sanggup menggoyahkan rambut Edo yang bagai bonsai beringin.

“Jagung yo cah?” ajak Chiko.

Dan seperti biasa pula, satu beli, yang lain juga. Tapi nggak semua sih. Jagung bakar itu tidak layak konsumsi kalau nggak bawa bekal minum dan tusuk gigi. Tapi ya aku beli juga.

Obral-obrol, eca-ece, gojak gajek, plendas plendus kami lakoni di dekat parkir motor itu. Tentunya sambil makan jagung. Dan perpaduan gojek kere bersama dengan tiupan angin itu lantas membuat jagung yang lagi dipegang dan dikerokoti Bona bersua dengan tanah.

“Waduh tibo.”

“Huahahahaha.. rasakno.”

“Belum lima menit.”

Bona lantas mengambil jagung itu dan melanjutkan kerokotannya. Sungguh tidak layak ditiru untuk kategori anak farmasi!

Hampir tidak ada yang dilakukan di ketinggian itu selain menikmati angin yang semakin lama semakin bisa bikin Yama melayang bak layangan dan menikmati keindahan pemandangan. Mau nambah jagung, kantong tipis.

“Muleh?” tanya Yama.

“Mampir sik omahku,” ajak Edo.

“Mangan ki?”

“Siap!”

Yak! Inilah gunanya teman! Rumahnya Edo memang ada di sekitar Pakem yang tentunya dilewati kalau mau pulang dari Ketep ke Paingan. Dan, ehm, makan gratis? Wah, sungguh keindahan hidup yang luar biasa bagi anak rantau, anak kos, dan mahasiswa pas-pasan, misalnya semacam aku.

Kami bersiap pulang, menempuh jalur yang sama. Meninggalkan Ketep dengan sindiran mendasar, “uda nih, puas? Nggak nangis lagi kan?”

Dan Aya hanya tersipu saja.

Setidaknya tangisannya berhasil membuahkan sebuah perjalanan. Dan percayalah, itulah sebenar-benarnya teman 🙂

Yang Puasa Dua, Yang Buka Banyak

Oke, dalam ranah pergaulan Dolaners memang tidak mengenal perbedaan. Ehm, kalaupun perbedaan dikenali, itu adalah sebagai bahan ejekan. Halah. Ya, tapi memang itu yang terjadi. Selain itu, perbedaan juga dimaknai sebagai sumber oleh-oleh. Jadi ada kalanya, aku datang dari Bukittinggi membawa kaos gambar jam gadang, ditukar dengan kaos Toraja-nya Lani. Ada juga sandal Kalimantan-an Rani yang dibagi-bagi dan kemudian raib karena di kosku ternyata ada 4 sandal yang sama. Haduh.

Dan soal perbedaan agama, nggak signifikan juga. Waktu ke Ngobaran, aku dengan tenang bertapa di dekat sumur menunggu Ano selesai jumat-an. Semoga aku masih dilihat sebagai manusia, meski memang secara tampak agak sulit membedakan antara aku dan makhluk jadi-jadian.

Dan satu yang paling menyenangkan dari perbedaan ini adalah ketika bulan puasa, waktu Ano dan Chica berpuasa. Yak! Keduanya akan berada di lingkungan setan. Sungguh pahala mereka tinggi, karena selalu dirayu dan digoda. Bahwa setan-setan ini dosanya bertambah, anggap saja itu amal.

Bener? Bercanda ah!

Buka puasa bersama adalah agenda rutin bin wajib Dolaners. Dan berhubung Ano adalah perantauan agak riskan melakukan ritual buka puasa bersama di rumahnya, paling-paling ya beli kolak di pinggir jalan juga dia. Maka, Dolaners beralih ke rumah Chica, yang ada di bawah naungan orang tua yang baik hati. Plus, rumahnya nggak jauh-jauh benar dari sekitar kampus.

“Kapan ki buka puasa bersama?” tanya Chiko, ehm, masih si playboy kandas.

“Puasa ora, melu buka thok,” racau Roman.

“Halah, kowe yo ngono,” sergah Bona.

Dan obrolan macam ini nggak akan selesai kalau hanya di kalangan cowok-cowok. Maklumlah, meski tampan-tampan dan tampak pintar, tapi sejatinya isi otak kaum ini diragukan kebenarannya.

“Keburu lebaran lho,” ujar Aya. Nah, kalau kaum cewek Dolaners sudah berkata, baru deh agak lurus suasana.

Obrolan nggak jelas itu kemudian berakhir pada nggak bisa. Yah, memang, kesibukan sebagai mahasiswa dan (beberapa) sebagai pacar bukan hal yang mudah ditinggalkan. Para Dolaners sudah di semester 7, nggak semudah waktu membuat acara seperti ini di semester 3 atau 5. Ada yang kudu skripsi, ada yang kudu asisten, ada yang kudu latihan paduan suara, ada yang kudu ngopeni pacar.

Halah.

“Ayo cah. Kapan ke rumah?” tanya Chica, sesudah lebaran. Ketika para intelektual muda nan gamang ini berkumpul di tempat yang selalu sama, Pok-We.

“Lho, masih berlaku ki?” tanyaku.

“Yo orapopolah.”

“Mari direncanakan saudara-saudara,” ujar Chiko lantang. Hemmm, tampaknya lelaki ini sudah kelaparan. Hidangan-hidangan khas lebaran di rumah Chica tampak menarik untuk dikelola dalam perut.

Dan akhirnya event bertajuk Buka Puasa Bersama itu dihelat sesudah bulan puasanya lewat. Ehm, jadilah ini namanya makan-makan di rumah Chica sebagai pengganti buka puasa bersama. Ya, tampak lebih manis ya?

Maka di suatu sore yang gundah, karena cacing-cacing di perut mulai berteriak. Berangkatlah satu per satu ke rumah Chica.

Aku beranjak dari kos dengan Bang Revo, yang masih mulus, sambil kelelahan. Aku baru saja putar-putar Jogja mencari responden yang sakit kepala. Tampaknya tiada skripsi paling pusing daripada mencari orang pusing hingga pusing sendiri. Ah, kenapa ada topik itu sih?

Beberapa missed call sudah masuk, tandanya anak-anak Dolaners sudah berkumpul manis di rumah Chica. Perjalanan ke rumah Chica nggak jauh, hanya karena melewati persawahan jadi harus berjuang melawan ternak-ternak yang beterbangan di jalanan dan mengincar bola mata siapapun yang melintas.

Di kompleks perumahan dosen, di utara Jogja, aku membelokkan Bang Revo. Pada sebuah rumah yang banyak terparkir sepeda motor di depannya aku berhenti. Ada Grand AD AV, ada beberapa Supra Fit, beberapa sepeda motor yang aku kenal. Dan, eh, kok ada Satria F disini?

Yak, tampaknya ada Dolaners yang baru beli motor.

Aku, yang sudah telat, memasuki arena yang masih kosong dari makanan.

“Motore sopo kuwi?” tanyaku.

“Chiko kuwi,” ujar Prima, masih dengan tampangnya yang penuh kebajikan.

“Wooo.. Ngeriii.. Sugih.. Nyembah aku,” ujarku. Kemarin-kemarin memang Bang Revo jadi yang termulus di kalangan Dolaners, sekarang ada gantinya.

Makanan mulai datang silih berganti. Mama Chica mensuplai dengan lancar dari dapur. Kami duduk ngemper di garasi sambil menikmati hidup. Ah, ini sudah semester 7, mungkin ini terakhir kali bisa begini. Iya kan?

“Eh, Yama. Kowe nek noleh biasa wae loh,” kata Bona sambil menunjuk Yama yang lagi kesulitan menoleh alias tengeng.

“Asem.”

“Wo, ngapuro kowe Bon. Keno azab meneh ngko,” ujar Chiko. Yak, menurut catatan medis, atlet bernama Bona ini pernah mengalami dengkul mlingse tidak lama sesudah ngece Yama. Sejak itulah, kami menganggap bahwa menghina Yama itu ada azab. Tapi, mulut mana yang tidak hendak tertawa melihat Yama yang tegang leher itu susah payah hendak menengok ke belakang?

Inilah godaan duniawi.

“Eh, eh. Iki sik wis jadian urung do ngaku.” Prima membuka topik baru.

“Lha sopo? Kowe karo sopo Prim?” tanya Chiko.

“Asem lah. Yo dudu aku. Kowe kuwi.”

Beberapa mata mulai melihatku dan Chiko bergantian. Eh, eh, ini bukan bermakna aku dan Chiko yang jadian ya. Bagaimanapun aku masih normal, demikian pula playboy kandas yang satu itu.

“Ayo, konferensi pers nek ngene,” tukas Bayu.

Huh, ini bocah, mentang-mentang pendekatannya belum final, bisa teriak-teriak ya. Nantikan pembalasanku.

“Yo kowe sik Ko.”

“Kowe no.”

“Kowe wae lah.”

Dan,seperti biasa, meski sudah semester 7, kami masih saja tetap tidak cetho.

“Yowis. Tak dhisikan. Ya, seperti yang sudah diketahui. Aku wis jadian. September kemarin,” beber Chiko.

“Karo sopo Ko?” sergah Prima. Ah, bapak yang satu ini walaupun muka bajik, kepo juga.

“Cintia.”

Senyam senyum nggak jelas dari pemirsa konferensi pers ini memang menandakan bahwa mereka puas dengan wahana pengakuan ini. Jadi begini, kegagalan demi kegagalan cinta yang silih berganti kami alami membuat dalam hati ada tendensi untuk menyembunyikan kisah pendekatan sebelum kemudian launching ke muka publik. Jadi bukan koar-koar masa muda ketika bilang kalau sudah pedekate, tahu-tahu nggak jadi.

Dan ternyata itu bukan pikiranku saja. Chiko itu tanpa ada tanda-tanda, tahu-tahu sudah ujug-ujug pacaran. Dan aku…

“Kowe saiki,” suruh Chiko.

“Hedeh. Yo. Aku ya udah jadian. Baru sih, beberapa minggu.”

“Karo sopo?” Bapak bajik nan kepo kembali bertanya. Kali ini ditimpali yang lainnya.

“Yesi.”

Sorak sorai khalayak membahana, bukan apa-apa, karena Yesi sebelumnya ada kisah dengan Roman. Sehingga ini sedikit-sedikit ada hawa telikung teman. Padahal kan aku ya nggak ngerti kalau Yesi pernah dekat dengan Roman. Yah, anggap saja itu kebetulan. Kebetulan dapat. Halah.

Makanan berangsur luput oleh mulut besar orang-orang yang ada disini. Kegembiraan dalam balutan tajuk buka puasa bersama ini tidak dapt ditukar oleh apapun. Entah kapan lagi ada momen seperti ini.

Yang puasa dua, yang buka banyak. Yang dikenang? Bahkan aku tidak mampu menghitungnya.

Satu, Dua, Tiga… Byurrrrr…

Ulang tahun memang layaknya dirayakan sebagai wujud syukur. Tidak melulu ulang tahun sendiri, tapi juga orang lain, apalagi teman. Kalau teman senang, tentunya kita ikut senang. Kalau teman menderita di hari ulang tahunnya, mungkin kita akan sama senangnya.

Sama persis dengan 16 Agustus ini, ulang tahunnya Soe Hok Gie wannabe, Yama. Meski tampilan muka jelas beda dengan Nicholas Saputra, tapi sisi aktivis-nya yang kita ambil sebagai Gie wannabe. Kalau muka mau disamakan sama Gie vesi film, mungkin perlu effort buat operasi plastik.

Aya, mami-nya anak-anak Dolaners sudah mempersiapkan agenda ini. Kebetulan, aku, Aya, Sinta, dan Rani yang sibuk di inisiasi tingkat universitas lagi libur karena besok acara dimulai. Pas kebetulan lagi bocah Dolaners lain yang ikut inisiasi tingkat fakultas juga lagi di kampus, menemani si gondrong Toni menjaga pendaftaran. Jadi cocok sekali.

Ini akan jadi perayaan ulang tahun yang oke buat Yama, mestinya.

“Lha ini Yama kesini nggak?” tanya Chiko sambil duduk-duduk ngangkang di lorong cinta. Lagi-lagi, tempat bernama lorong cinta menjadi tempat untuk berbuat, bertindak, dan lain sebagainya. Lorong ini memang saksi untuk berbagai kegiatan.

“Udah di-SMS?” tanya Rani.

“Udah. Katanya nanti mau kesini,” ujar Aya, yang ceritany jadi EO untuk perayaan ulang tahun ini. Kue yang lumayan besar sudah disiapkan, sungguh EO yang niat. Dalam hati aku curiga bakal ada iuran sesudah ini. Hmmm, tak apalah, orang tuaku barusan datang kok, kantong masih cukup tebal untuk sekadar kue gede ini.

Menunggu sosok semisterius Yama memang ngeri-ngeri sedap. Matahari kian meninggi, sosok gondrong mirip grandong ini nggak nongol-nongol juga.

“SMS lagi deh,” kataku.

“Kan nanti juga mau kesini. Mau ketemu Bu Yetty katanya, ngurus nilai ujian,” jawab Aya.

Ow! Aku agak paham dengan makhluk ini jadi pasti ia datang. Nilai Kimia Dasar itu begitu berharga untuk makhluk yang baru mengambil 13 SKS. Seperti halnya donor darah, setitik nilai begitu berharga.

“Kayaknya itu deh.” Si pintar Bayu menunjuk sosok kurus kering kerontang jalan dari kejauhan. Cara jalannya Yama itu spesial minta ampun, tidak ada yang nyamain, jadi hampir pasti itu Yama.

“Ho oh. Bener. Yo, dijamu dulu lah,” ujar Chiko.

Rambutnya melambai malas, mukanya juga sudah buat malas. Tapi dalam rangka hura-hura, rasanya tidak masalah menjamu makhluk ini terlebih dahulu.

“Kene sik. Duduk-duduk sik,” kata Chiko kepada Yama dengan muka playboy-nya. Yah, muka playboy kok diterapkan ke sesama cowok. Mungkin ini ada problem disorientasi.

“Aku arep ketemu Bu Yetty cah.”

“Yo kene sik lah. Ngobrol-ngobrol. Durung ono ibu e.”

Yama pun luluh lunglai, bokongnya mendarat manis di kursi lorong cinta. Formasi pesta sudah disiapkan. Chiko, Bayu, Toni, aku, dan segenap cewek-cewek penggembira.

“Ngopo kie?” Yama mulai curiga melihat makhluk-makhluk bertampang polos di sekitarnya berubah menjadi seringai ganas.

“Orapopo,” kataku.

Dan… Happpp..

Kedua tangan Yama dipegang erat, demikian pula kedua kakinya. Prosedur perayaan ulang tahun resmi diaktifkan!

Chiko merogoh seluruh saku Yama, maka dompet, handphone, dan kunci segera diamankan. Aya sebagai EO segera mengambil langkah pengamanan. Tidak ada rontaan berlebihan dari Yama. Ya, sebenarnya dengan berat badannya yang di bawah Body Mass Index, percuma juga mau berontak. Nanti salah-salah malah itu tulang belulang copot semua.

Setelah isi kantong dipastikan bersih, sandal juga dilepas. Seluruhnya diberikan kepada tim cewek satuan pengamanan barang. Sementara cowok-cowok bertugas menjadi eksekutor.

Jadi ini Yama mau dibawa kemana sih?

Ehm, beberapa puluh meter dari lorong cinta ada sebuah kolam dengan air yang hijau. Sungguh eksotis untuk dipandang tapi tidak nyaman untuk dicicipi. Jadi, setiap yang ulang tahun harus merasakan tempat ini sebagai wujud perayaan. Singkatnya, Yama hendak diceburin ke kolam berwarna hijau eksotis itu.

Karena Yama tidak meronta dan kebetulan lagi tubuhnya memang kurus kering, jadilah mengangkat makhluk aktivis ini tidak susah-susah amat. Dalam sekejap mata, ia sudah sampai di bibir kolam.

Prosedur disiapkan untuk eksekusi. Empat orang memegang tubuh Yama, masing-masing satu di tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, dan kaki kiri.

“Hitung?” tanyaku.

“Foto dulu,” ujar Aya. Maka kamera pocketku yang kebetulan masih ada film-nya segera digunakan. Jepret!

“Siap?”

“Yo!”

“Satu, Dua, Tiga!”

Tubuh kering Yama melayang manis di kolam berwarna hijau, nyebur sebentar hingga tak terlihat dan sejurus kemudian muncul lagi. Tepi kolam itu hanya sepinggang kok, jadi tampaknya memang diset untuk memuaskan hasrat mahasiswa galau dalam merayakan ulang tahun teman.

Pada saat bersamaan, seluruh Dolaners berlari berpencar menghindari pembalasan dari Yama. Terutama yang cowok-cowok nih, karena Yama siap berlari mendekat dan memeluk bak maho guna menularkan hijaunya kolam kepada yang lain.

Dan benar. Yama berlari mendekati setiap orang yang dekat. Dan ini macam kejar-kejaran di SD saja. Untung kampus memang lagi off kuliah, jadi area kampus yang luas itu serasa milik sendiri saja.

Setelah lelah, akhirnya perayaan benerannya dimulai. Aya mengeluarkan kue tart yang lumayan gede untuk teman yang berulang tahun ke-20 ini. Persis di bawah tangga lab, pesta dimulai.

“Ayo, ditiup sik. Make a wish. Make a wish.”

Yama merem sekilas, lalu meniup lilin 20 yang ada di kue tart itu. Pesta selesai! Kue tart itu lantas jadi konsumsi bersama. Sungguh kebersamaan yang indah di panas yang terik. Yah, apa yang kurang indah coba? Melihat teman masuk kolam dengan sukses dan diakhiri makan kue adalah wujud persahabatan yang mantap.

Ibarat kurva, dinamika menurun. Aktivitas lain-lain siap dimulai kembali, maka Dolaners bubaran satu per satu, didahului Yama yang terpaksa pulang lagi dalam rangka ganti baju berhubung ia belum sempat menemui Bu Yetty.

Sisanya?

“Bayar!” tagih Aya kepada Dolaners lain yang bersiap pergi. Seandainya bagian ini ditiadakan mungkin pesta barusan akan jadi lebih indah. Tapi sebagai sesama mahasiswa tentulah semuanya masih minta orang tua, jadi apapun harus dibebankan bersama. Indah juga bukan?

Sedingin Kisah Cinta

Bagaimanapun, Dolaners itu orangnya romantis-romantis. Hanya sayang nasibnya kadang nggak cocok sehingga kisahnya kagak romantis. Ketika Chiko, si playboy kena batunya waktu ngedeketin Irin, pada saat yang sama Bayu kena pencuekan dari mantannya, Putri. Dan kebeneran pada saat yang sama, aku juga lagi galau karena kedekatan tidak biasa dengan Alin. Bagaimanapun dan bagaimananya, namanya deket dengan pacar orang itu nggak biasa.

Maka, Yama, yang tampak ayem-ayem kampung berinisiatif meminimalkan kegalauan tiga temannya dengan cara standar: berdoa.

“Cah, ayo nang Sri Ningsih,” ajak Yama ketika kami berempat sedang nongkrong membahas masa depan bangsa dan negara. Paras Chiko masih macam vokalis kehilangan band, Bayu masih seperti orang pintar kehilangan otak pintarnya, dan parasku tetap tidak kelihatan. Lha hitam soalnya.

“Kapan?”

Ngko wae. Kalau besok-besok pasti nggak jadinya.”

“BERANGKAT!” ujarku. Percayalah, bagaimanapun orang galau, gamang, resah, gelisah, dan risau itu sejatinya hanya butuh satu hal: berdoa. Dan biasanya sih, orang akan ingat berdoa kalau lagi galau, gamang, resah, gelisah, dan risau. Yah ini sih sekadar silogisme belaka.

Sepeda motor merah-nya Chiko dan Grand hijau-nya Yama jadi alat angkut untuk berdoa dalam risau di sendang Sri Ningsih. Dan seperti biasa, ketika harusnya jam tidur, kami berangkat. Padahal, jangan salah, hari Jumat pagi besok masih ada kuliah jam 9.

Ini kalau nggak galau maksimal pasti berdoanya sudah ditunda sampai besok.

Perjalanan ke arah timur itu adalah perjalanan paling nikmat untuk anak muda. Jalannya lurus, banyakan mulus, jadilah tinggal was wus. Apalagi itu sudah jam 10 malam yang berarti sepi minta ampun. Paling saingan sama mobil yang mau ke Klaten-Solo. Nggak banyak juga. Maka kecepatan memang berkisar 80-100 km/jam. Kalau sama emakku tahu, pasti udah dihabisin aku, lha 40 km/jam aja udah dipesenin, “jangan kencang-kencang.” Nah!

Sesudah pabrik susu terkemuka, akan ada puteran dan kami masuk ke selatan. Dari situ, masih rada jauh juga sih, akan ketemu tempat yang bernama Sri Ningsih dengan patokan sekolahan. Kalau weekend, sekolahan itu jadi tempat parkir, dan berhubung ini weekdays, jadinya kami bisa naik sedikit dan parkir di rumah penduduk. Tentunya bayar.

“Ayo doa,” ajak Yama begitu kami sampai.

“Ntar lah,” sahutku ringan. Berdoa ketika baru sampai itu asli nggak biasa.

Jadi nih, kalau lagi mau doa ini, doa itu sendiri lebih banyak sebagai kedok. Doanya 10 menit, ngobrol plus curcolnya berjam-jam, tidurnya 1-2 jam, lalu pulang sambil terkantuk-kantuk ria. Ya, semacam itu saja.

Karena belum mau doa, kami akhirnya mampir di sebuah warung dan makan mie instan penuh kehangatan. Cerita lalu dimulai, dengan tiga lelaki galau dan satu konsultan. Dan aku cuma ragu kalau konsultan ini tidak galau. Apa iya?

Aku, sebagai pemain api kelas kacang, masih sempat-sempatnya bertukar pesan singkat dengan Alin. Malah, selagi makan mie instan itu, masih nelpon Alin beberapa menit.

“Hati-hati,” ujar Chiko, masih dengan tampang kehilangan band-nya.

“Iyo. Ini ya nggak ngapa-ngapain kok.”

“Ntar senasib lho,” goda Bayu.

“Beda kasus dikit.”

Dan Bayu beda lagi, ternyata si Putri itu sudah punya pacar baru. Jadi pantas saja kalau si Bayu dicuekin sepanjang acara inisasi anak muda beberapa minggu lalu. Seperti yang pernah aku bilang, miris memang terjadi ketika ngebet sama ngebet itu tidak terjadi pada waktu yang sama. Percayalah! Ada lelaki sedang makan mie di depanku yang jadi buktinya.

“Yo, nek nggak ngapa-ngapain ya nggak usah dihubungi,” timpal Yama. Sebagai makhluk paling tua diantara kami berempat memang wajar kalau di agak wise. Apalagi ia bercita-cita menjadi gubernur BEM dalam waktu dekat dan ketua lingkungan kelak kalau sudah uzur.

Aku mengiyakan saja, mencoba mengalihkan topik.

“Lha kowe piye,Ko?”

“Apanya?”

“Lha ya si itu,” kataku tanpa menyebut nama, rasanya agak membuat hati bertanya bagaimana, saking nggak enaknya menyebut nama itu. Membayangkan saja sulit, apalagi merasakannya. Memang hanya playboy sekelas Chiko yang bisa menjalaninya tanpa banyak sakit hati. Dan percayakah, mereka masih kontak-kontakan.

Mbohlah.”

Sebuah kata yang bermakna mirip ‘hehehehe…’ kalau lagi chatting. Itu bermakna suatu percakapan kudu ganti topik.

Dinginnya malah masih memeluk nikmat dan menimbulkan kantuk yang amat sangat. Kami berempat segera menuju sebuah tempat beratap yang memang banyak dipakai untuk menginap. Tikar yang ada kusambar dan rentangkan. Di sudut pondokan itu ada sepasang, entah pacaran atau pasutri, tapi pokoknya cowok dan cewek. Sementara di pondokan lain ada beberapa pria tidur terpisah. Tidak sampai 10 orang di tempat sunyi ini.

Turu sik po?” tanya Chiko.

“Iyolah. Sambil curhat, sambil bobo,” ujarku.

Maka empat lelaki dengan empat kisah sendiri-sendiri itu terlelap dalam dingin. Ehm, Yama sendiri punya kisah juga, dengan adik kelas yang kami juga kenal. Aku juga sempat ditegur karena terlalu kepo. Yah, mohon dimaklumi, naluri jurnalisme warga untuk seorang calon gubernur. Walaupun baru sebatas gubernur BEM.

Aku, Bayu, dan Chiko tidur seadanya. Yama? Komplit dengan bantal dan selimut yang dibawa dari rumahnya. Bagiku ini tampak biasa, toh biasanya juga hanya modal sarung dan kaos kaki cukup. Ngapain juga bawa selimut?

Apakah aku benar?

Dua jam kemudian, semuanya menjadi salah.

Angin di jam 2 pagi sangat sangat sangat sangat sangat dingin. Sampai lima kali sangat saking dinginnya. Aku terbangun, menekuk badan, mengangkat sarung, dan gagal menambah suhu. Aku mulai gemetar dan semakin meringkuk.

Tiupan angin memang bebas karena pondokan itu hanya ada dinding, tiang, dan atap. Ini semacam tidur di alam bebas saja. Jadi ya semua bebas. Termasuk suhunya bebas.

Kondisi dingin membuatku tidak bisa terlelap. Aku menoleh ke kanan dan tampak Yama tidur dengan pulasnya bersama bantal dan selimut. Kalau ingat episode Spongebob waktu Chandy hibernasi, ingin rasanya memotong selimut itu. Sayangnya, Yama tidak sedang hibernasi. Itu saja bedanya.

Aku mendekati meja pendek yang ada di tengah pondokan. Biasanya meja ini untuk berdoa atau menaruh bekal. Tapi tampaknya akan menarik kalau dijadikan tameng angin saja. Anginnya datang dari arah depan, sementara di belakangku sudah tebing. Jadilah aku membuat tameng dari meja itu dan memilih untuk tidur di belakangnya.

Tapi yah namanya meja, yang ditutup hanya satu sisi. Dua sisi samping tidak tertutup sama sekali, tetap saja DINGIN!

Chiko dan Bayu tampak begitu gelisah dalam tidurnya. Dan aku sungguh yakin mereka sedang bermimpi main ski di kutub utara. Nggak mungkin mereka tahan dengan dinginnya pagi ini.

Kali ini aku benar. Tidak lama kemudian Bayu bangun dan mendekatiku yang sedang berlindung dibalik meja pendek. Yak, aku dan Bayu kemudian membentuk formasi seperti perang-perangan dengan angin. Dua orang cowok tidur berdua di balik meja sambil kedinginan. Tampak ironis dan menggelikan.

Jadilah malam yang seharusnya nikmat itu, menjadi penuh perjuangan. Aku dan Bayu tidak berkata-kata karena lebih baik diam daripada membiarkan udara malam masuk rongga mulut. Lha, nggak masuk aja, gigi sudah gemetar. Apalagi aku dan Bayu juga dapa kesadaran 50% yang bangun hanya karena kedinginan.

Chiko? Mungkin masalahnya terlalu pelik hingga dingin tidak berasa. Sepertinya kisah cintanya jauh lebih dingin.

Dua jam penuh penderitaan akhirnya diakhiri dengan kegagalan tidur sempurna. Aku beranjak ke tempat doa dan mulai curhat disana. Menyusul Chiko, Yama, dan Bayu. Tampaknya Bayu baru menikmati angin yang mulai reda di jam 4 pagi.

Tujuan akhirnya tercapai, curhat sambil doa. Eh, atau doa sambil curhat? Sama saja kali ya?

Maka berikutnya adalah… PULANG dan KULIAH!

Jalan Solo kembali menjadi tempat berpacu yang asyik. Jam 5 pagi masih nikmat untuk keluar Klaten menuju Jogja.  Dinginnya memang lumayan, tapi tidak seganas jam 2 pagi tadi. Kantuk masih menggantung sebenarnya, tapi jadi nggak ketika sampai di jalan besar karena kemarin setengah janjian mau bareng Alin. Yup, Alin lagi mudik dan balik Jogja pada pagi yang sama.

Ndi?” tanya Yama.

“Mboh,” ujarku.

Kedua motor berjalan perlahan sambil tengok belakang dan depan. Berhubung janjiannya keputus handphone yang low bat, jadinya cuma setengah doang. Nggak bisa janjian beneran.

Setelah berjalan dua kilometer, Alin tidak ditemukan dan memang tidak bisa dihubungi.

Bablas?” tanya Chiko.

“Iyolah. Emang main api itu tidak diberkati.”

Pelajaran utama, sesungguhnya main api itu memang tidak dianjurkan.

Was wus was wus sepanjang Jalan Solo membuat kami sampai Jogja dengan cepat. Ketika hendak menyeberang masuk ke rumah Yama, motor Chiko tiba-tiba melambat.

“Bocor!”

Wah! Apa ini dampak dari tuah bermain api? Bahkan ban motor Chiko yang notabene ada di bawah tubuhku, karena aku membonceng, bocor!

“Walah.. Isuk-isuk meneh,” gerutuku.

Chiko akhirnya meninggalkan sepeda motornya di rumah Yama. Sebagai pemuda harapan bangsa, bagi kami lebih penting kuliah. Apa iya? Entah juga sih.

Dan kuliah Jumat pagi menjadi penutup hari yang super dahsyat ketika karung mata menggantung nikmat minta ditutup sementara ilmu yang berguna bagi masa depan berkeliaran di telinga. Inilah profil pemuda masa kini. Tepatnya sih, pemuda masa kini dengan kisah-kisah cinta yang dingin.

Jawabannya Adalah….

Percayalah bahwa anak muda labil hanya akan ingat pada Tuhan ketika sedang gamang plus lagi gembira ria. Kalau flat-flat aja, yah so-so lah. Ini aku bukan bermaksud melakukan generalisasi, tapi setidaknya berlaku padaku. Dan jadwal hari ini adalah bertualang ke tempat yang baru dalam list Dolaners. Sebuah tempat doa berbasis sendang di barat Jogja. Maksudnya dari Jogja barat, terus ke barat lagi sampai jauh, kemudian mengalir ke laut. Eh salah, itu lagu Bengawan Solo ding!

Tempat itu bernama Sendang Jatiningsih, sebuah sendang yang berada di tepian Kali Progo yang arusnya sungguh wah itu. Tapi sebentar, emang pada tahu artinya sendang? Yak, sendang adalah kata serapan dari bahasa Jawa. Tentunya tidak diserap dengan kanebo. Arti sendang menurut kamus adalah kolam di pegunungan dsb yang airnya berasal dari mata air yang ada di dalamnya, biasa dipakai untuk mandi dan mencuci, airnya jernih karena mengalir terus; sumber air.

Jadi sendang yang dimaksud ini yang mana? Anggap saja sumber air yang jernih dan mengalir terus serta digunakan untuk mencuci dosa. Yak, ini adalah perspektif pendosa macam aku!

Sendang ini adalah koleksi kunjungan rohani berikutnya setelah Sendang Sono, yang mana aku tidak ikut semata-mata tidak ada angkutan dan aku tidak layak menggunakan odong-odong merah bernama Alfa ke tempat penuh tantangan macam Sendang ternama di seantero Indonesia itu. Koleksi kunjungan lain adalah Sendang Sriningsih. Ini sih sebenarnya ulah si Yama, pria asli Klaten yang kalau galau suka nangkring sendirian di Sriningsih. Mungkin dalam rangka kebersamaan, maka ngajak galau juga sama-sama. Begitulah persahabatan masa kini. Jangan ditiru ya!

Lokasi sendang ini dekat dengan rumahnya Randu, yang juga Dolaners. Jadi kalau dari arah Jogja, sendang ini lurus terus, nah di suatu pertigaan yang jumlahnya tiga, Randu belok kanan kalau mau pulang. Maka EO dalam hal ini adalah Randu. Pastinya!

Tim dari dusun Paingan dan kota Jogja berangkat. Tentunya sesudah menunggu Roman selesai mbojo sama Adel. Bagaimanapun single alias jomblo macam aku harus kukuh tegar berlapis emas dalam rangka menggelar toleransi terhadap teman yang bermalam mingguan. Toh, itu kan salah satu esensi berpacaran. Harap maklum kalau aku kurang paham karena emang belum pernah pacaran. Eh malah curhat.

Setelah jamnya usai, Roman yang kenaikan berat badannya tidak pernah berkurang ini bergabung dengan Toni yang gondrong sejati mirip rocker tapi doyan lagunya Padi yang romance asyik. Aku yakin role modelnya adalah Piyu, sayangnya Toni kriwul di ujung, jadi tingkat kemiripannya dengan Piyu menurun hingga tidak terdeteksi kualitatif.  Roman dan Toni lantas join dengan aku, Bayu, dan Chiko untuk sama-sama berangkat. Gelapnya malam membawa sepeda motor yang rata-rata berwarna gelap plus mengangkut aku yang gelap menuju ke sendang. Benar-benar gelap sekali dunia kalau begitu ya? Randu sendiri menunggu istruksi. Jadi kalau kami sudah sampai pasar akan SMS supaya ia berangkat dari rumah, jadi sama-sama sampai dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun kecuali bensin subsidi hasil perjalanan. Yang penting jangan kehilangan keperjakaan.

“Lha kok rame?” gumamku. Ini retorika, ya jelas aja ramai. Tempat ini kan tempat doa dan ini juga malam minggu, pastilah banyak orang yang berdoa.

“Jalan-jalan sik wae,” seret Chiko. Jadilah lima lelaki dengan kantuk yang melanda jalan-jalan mengitari sendang bak kehilangan mainan dan dengan guyub mencarinya bersama-sama. Sungguh indah persatuan dan kesatuan kalau begini ya.

Tak lama, Randu muncul dengan bermodal gitar. Yak, sebagai EO yang baik hati dan tidak gemar menabung, maka Randu wajib melayani tamu-tamu yang butuh alas tidur ini.

“Tapi masih rame, Ran,” tunjuk Bayu ke pondokan beratap satu-satunya di tempat itu yang layak dijadikan tempat beristirahat.

“Bentar lagi sepi,” ujar Randu. Sebagai orang dekat sini kami harus percaya pada Randu. Harap maklum, kalau lagi diajak kemana-mana gitu di malam minggu, hampir pasti Randu menolak karena lagi ada acara di tempat ini. Randu memang pendoa sejati, patut ditiru.

Dan benar saja, sejurus kemudian tempat itu sepi. Randu segera menggelar gitarnya, eh tikarnya yang disambut meriah dengan tepuk tangan oleh Roman dan Toni yang dari tadi sudah merindukan alas untuk berbaring. Jadi ini topiknya mau doa atau mau pindah bobo? Ehm, dalam hal ini curhat manis dalam wujud doa lebih enak dilakukan di dini hari dalam balutan angin malam dan kesepian yang maknyus. Jadi tidur adalah opsi awal. Ya semoga saja nggak kebablasan.

Dan topik hari ini, yaitu… ialah… yailah…. GEBETAN!

Ampun dah, jauh-jauh ke sendang, pakai bensin subsidi pula, masih aja ngomongin gebetan. Nongkrong di Pok-Whe ngomongin gebetan, terkapar di kosnya Roman juga ngomongin gebetan. Ehm, topik ini menarik karena Roman lagi tidur, sepertinya. Roman ini harus diwaspadai karena mulutnya ibarat ember bocor yang dapat mewartakan informasi kemana-mana dengan ceplas ceplos yang dahsyat dan kadang dilakukan dengan lantang di depan umum. Padahal sebagai rata-rata pemuja rahasia, kelakuan Roman bisa menjadi blunder yang mengerikan.

Gebetanku dan Bayu sudah bukan rahasia di Dolaners, soalnya berteman baik dan satu sekolah dulunya. Gebetannya Chiko? Yah, sebagai pria dengan ‘reputasi’ playboy tentunya kabar berita dan warta warga tentangnya begitu mudah diketahui publik dan mencari obrolan di angkringan. Macam artis kali bah!

NAH! Yang menjadi pertanyaan adalah gebetannya Randu yang tiada pernah kedengaran suaranya. Masak sih di Farmasi dengan perbandingan cowok-cewek 1:3, tidak ada satupun yang digebet. Kalaulah sampai tak ada maka aku akan mempertanyakan orientasi seksualnya. Ih, jauh kali yak!

“Lha kowe sopo, Ran?” tanya Bayu

Randu diam.

“Ada to tapi?” goda Chiko.

“Ya ada lah.”

Nah, ini disebut clue. Yeah!

“Anak mana?” tanyaku menyelidik penuh makna.

“Iyo bocah mana?” timpal Chiko.

“Farmasi?” sambung Bayu.

Dan ini sudah semacam interogasi pada tersangka pencurian hati anak calon mertua.

“Farmasi,” jawab Randu, tetap dengan suaranya yang tenang-tenang mendayung dihempas ombak. Bisa dibayangkan? Agak sulit ya?

Siapaaaa?” Aku, Chiko, dan Bayu sontak mempertanyakan kata yang sama. Sebagai cowok dengan reputasi gebetan berupa misteri, jawaban ini sangat dinantikan.

“Hoaehhmmmmm.. Ono opo iki?” Buntelan lemak di atas tikar bergerak manja.

“Wahhhhh.. bangun!” sebut Chiko dengan nada kecewa.

“Iya nih. Padahal tinggal dikit lagi,” sambungku.

Roman bangun dengan muka polos seolah tidak bersalah. Ya sebenarnya tidak bersalah sih, cuma ia bangun di waktu yang salah. Jadinya? Ya baiklah, Roman tetap salah dalam hal ini, karena ia bangun, sebuah rahasia besar tidak jadi terungkap!

Chiko, Bayu, dan aku terdiam dan memilih untuk terkapar. Satu kata lagi sebuah jawaban akan terungkap dan yang terjadi adalah gagal. Untuk mengobati kekecewaan, marilah kita menjawabnya dalam hidup kita masing-masing. Aku tak bobo risau dulu. Hiks.