Perjalanan ke Pademangan

Semakin lama, semakin sulit rupanya untuk menjalani misi #KelilingKAJ yang sudah sepertiga jalan itu. Mulai dari kenyataan bahwa hampir semua Gereja terdekat telah disambangi, hingga macam-macam alasan lainnya yang klasik. Jadi pelan-pelan sajalah. Maka, sepulangnya saya dari kegiatan di The Media Hotel & Towers–sekaligus menangkap banyak Bulbasaur–masuklah saya ke sisi lain dari #KelilingKAJ dengan melakukan perjalanan ke Pademangan.

Gereja Katolik di Pademangan adalah Paroki Santo Alfonsus Rodriquez, yang masuk ke Dekenat Utara pada Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dan berlokasi di Jalan Pademangan 2 Gang 7 Nomor 1, Jakarta Utara. Aksesnya bisa lewat Gunung Sahari kemudian masuk ke daerah Pademangan Raya. Sama seperti banyak Gereja lain, seperti misalnya Grogol dan Kemakmuran, Gereja ini berdekatan dengan sekolah Katolik. Sejatinya kalau diurut-urut sejarahnya, cukup banyak yang memiliki kisah yang sama.

Berkembangnya Gereja Pademangan tidak lepas dari dibangunnya jalan dan perumahan di daerah Rajawali Selatan yang tadinya adalah hutan dan rawa, kurang lebih tahun 1950. Persis dalam masa awal kemerdekaan Indonesia. Banyak warga yang berasal dari Flores dan notabene Katolik. Pembinaan agama kala itu diserahkan kepada Paroki Mangga Besar sebagai yang paling dekat.

Tempat perayaan misa perdana adalah sebuah bangunan yang nantinya dijadikan SD Santo Lukas, tepatnya tanggal 15 Agustus 1960. Di Paroki Mangga Besar, area ini adalah Stasi Kalimati. Sebagai bagian dari perjalanan Paroki Pademangan, Pastor R. Bakker, SJ juga menghubungi Yayasan Melania untuk bersama-sama membangun klinik bersalin dan poliklinik.

Pada periode berikutnya, tahun 1966, muncul pastor muda bernama Pastor H. Van Opzeeland, SJ. Nama ini sering saya dengar terutama ketika berkuliah di Universitas Sanata Dharma. Baru tahu saya kalau pastor ini sejak mudanya keren. Paroki Santo Alfonsus Rodriquez sendiri secara sah dan meyakinkan berdiri pada tanggal 10 Juni 1968.

Kisah panjang berlanjut hingga kemudian pada 15 Januari 1978 dilakukan peletakan batu pertama oleh Mgr. Leo Soekoto, SJ dan selesai dalam waktu 10 bulan. Adapun model dan bentuk bangunan Gereja mendapat bimbingan dari Romo Mangunwijaya yang tersohor itu. Ngomong-ngomong, dalam perkembangannya muncul lingkungan khusus yang nantinya akan menjadi Paroki Santo Lukas Sunter, termasuk nantinya Paroki Danau Sunter.

Bicara banjir, rupanya bukan jaman Ahok saja. Awal Februari 1996 terjadi banjir yang menggenangi Gereja dengan ketinggian dari 0,5 hingga 1 meter. Tentu saja perabotan kayu dan arsip paroki kena getahnya. Diusahakan begitu kencang, kurang lebih sepuluh tahun gedung Gereja yang baru akhirnya bisa berdiri sepuluh tahun kemudian. Jadi, gedung yang saya kunjungi dalam misi #KelilingKAJ ini adalah bangunan yang terhitung baru.

pademangan1

Kemungkinan untuk mengantisipasi banjir–namanya juga di Jakarta Utara–maka misa dilaksanakan di lantai 2. Untuk bisa menuju tempat misa, ada tangga dan jalur khusus difabel. Gereja Pademangan memang dianugerahi lahan yang cukup lapang, yah setidak-tidaknya kalau dibandingkan Pejompongan.

Saat misa, semua pintu dibuka karena memang tidak ada AC-nya. Jadi Gereja ini adalah temannya Duren Sawit dan Mangga Besar yang tidak ada AC-nya di Jakarta Raya ini. Namun karena terbuka dan di lantai dua, serta langit-langitnya tidak semepet katakanlah di Jalan Malang, maka tidak terlalu panas. Itu kan saya, yha, yang kalau tidak ada istri memilih untuk mematikan AC, padahal ada.

Sakristi sendiri berada di sisi kanan, sekaligus sebagai akses masuk dan keluarnya petugas liturgi. Sisi ini berdekatan dengan mimbar sabda, dan AC khusus altar. Misdinar dan petugas-petugas lain seperti tampak di altar tidak duduk di altarnya, namun di bawah.

Adapun Gua Maria di Gereja Pademangan ini terletak melekat dengan gedung paroki, yang sepertinya sih pastoran. Jadi, harus turun dahulu dari tempat misa untuk kemudian mlipir. Tempatnya terbilang kondusif dan cukup luas untuk doa banyak orang.

pademangan2

Misa di Paroki Santo Alfonsus Rodriquez ini dipersembahkan pada hari Sabtu pukul 18.00, dan Minggu pukul 06.00, 08.00, dan 18.00. Ada juga misa Mandarin pukul 09.30. Jika tinggal di daerah utara, sekitar Ancol, Gereja Pademangan adalah alternatif untuk berhari minggu ceria. Saya sendiri akhirnya sampai ke tempat ini dengan menggunakan teknologi Gojek dan meninggalkan tempat dengan teknologi Grab. Begitu.

Sekian saja, sampai ketemu di #KelilingKAJ selanjut-lanjutnya. Ciao!

Advertisements

2 thoughts on “Perjalanan ke Pademangan

  1. Pingback: Misa Bahasa Inggris di Danau Sunter | ariesadhar.com

  2. Pingback: Melangkah Hingga Mangga Besar | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s