Untuk yang Rajin Menawari

Hehehehehe… *ngguyu sik*

Jadi pada intinya, beberapa waktu belakangan–di usia 26–saya mulai concern pada asuransi dan investasi. Why? One and the only adalah karena dunia ini ganas, sobat!

Dan, sama halnya dengan yang sudah saya alami sejak bertahun-tahun silam, ada saja orang yang menawari saya unitlink. Kalau dulu, saya memang menolak semata-mata karena saya nggak mau. Lha gimana nggak mau? Wong teman saya yang punya asuransi plus unitlink saja bilang kalau kita nggak untung (dalam jangka kurang dari 10 tahun), masak tetap mau join? *catet, teman saya bukan agen, hanya pembayar premi*

Kemudian sejak membaca goresan seorang teman, salah satunya disini, saya mulai ngeh soal keberadaan unitlink ini. Dan kemudian saya melihat ke blog salah satu perencana keuangan yang saya ikuti di Twitter disini.

Kebetulan, kok satu jalan pikiran dengan saya 🙂

Saya pernah membaca, tapi lupa dimana, dan saya setuju bahwa dalam keuangan, aspek yang penting adalah meletakkan keuangan di 4 kaki, yakni:

1. Tabungan
2. Instrumen investasi semacam reksadana
3. Instrumen investasi semacam logam mulia
4. Properti

Agak menyesal bahwa duit saya kerja hampir 4 tahun habis semacam tidak terasa, dan habisnya ke hal-hal yang sifatnya ya hilang, misal: tiket pesawat buat LDR lalu LDR-nya putus *eh curcol*

Tapi, ya sudah. Mari kita melihat ke depan saja.

Hal paling kurang ajar dalam ganasnya dunia sudah kelihatan di dunia properti. Harga rumah (bekas) di kawasan jadi di Cikarang ini sudah gila-gilaan, buat saya cenderung tidak masuk akal untuk bisa dicapai oleh gaji karyawan–level staf ke atas sekalipun. Saya memantau ketika tetangga kos mencari-cari rumah dan mendapati bahwa ditinggal 2 bulan saja, harganya sudah lompat. *busettt*

Meski ada sepertiga penyesalan, fakta bahwa nilai properti itu gila-gilaan membuat saya belum cukup menyesal sempurnapernah memutuskan berinvestasi ke sana 🙂

Nah, dan untuk teman-teman agen, saya sungguh menghargai mereka yang juga menghargai pendirian saya soal unitlink. Maksudnya, kalau saya bilang nggak tertarik, ya sudah. Begitu loh. Kan sama-sama enak.

Masalahnya, ada saja yang kemudian masih melanjutkan penawaran dengan berbagai tambahan lainnya. Sebagai orang usaha, saya harus paham, tapi kasusnya saya sudah pernah bilang nggak tertarik dengan penjelasan yang detail, penawaran berikutnya buat saya–sejujurnya–adalah gangguan.

Ya begitulah 🙂

Advertisements

Dan Aku Pulang: Air

“Udah komputernya?”

“Udah.”

Mamak pun bergegas menyalakan pompa air. Tuas untuk mengalirkan listrik ke pompa air diarahkan ke atas dan segera deru mesin pompa itu terdengar. Keran kamar mandi mengeluarkan deru air yang deras.

Dan aku mendadak teringat sesuatu.

* * *

“Ambil dulu air, Nak.”

Aku bersungut-sungut, entah adikku. Tapi bagaimanapun, aku dan adikku harus membawa jerigen putih andalan ini ke sumber air yang terletak di dekat sungai di bagian bawah kompleks, mengisinya dan lantas membawanya kembali ke atas.

Air PAM sudah berbulan-bulan tidak mengucur normal, sementara pembayaran terus dilakukan. Entah apa maksudnya. Apa karena kompleks ini berada di ketinggian? Apa karena tempat ini jauh?

Aku nggak ngerti, tapi siapa aku bisa menangani ini. Yang aku tahu, keran itu mengucur pada jam-jam tertentu dalam debit yang minimal, dan lebih sering tidak mengucur sama sekali. Yang aku tahu, aku kesulitan untuk mandi, buang air, dan lainnya. Air itu kebutuhan primer manusia, dan tidak banyak air yang masuk ke rumah ini.

Dan setiap hari, jeringen putih andalan itu menjadi teman setia berangkat ke sekolah. Air diisi dari keran sekolah, dan pulang sekolah dibawa pulang kembali. Inilah air yang menjadi konsumsi sehari-hari. Sementara air untuk mandi-cuci-dan-lainnya menggunakan air yang mengucur pada dini hari.

Perlahan, air itu semakin tidak mengucur. Bolak balik ke sumber air di bawah kompleks mulai menjadi melelahkan. Hingga kemudian, pilihan terakhir muncul.

“Itu air hujannya ditampung ya.”

Sejak itu, air untuk mandi-cuci-dan-lainnya menggunakan air tampungan hujan dalam drum besar di depan rumah. Aku bahkan bisa berubah menjadi gembira ria ketika hujan turun karena aku bisa menampung air lebih banyak dari rumah kosong di depan rumah, agar bisa mandi-cuci-dan-lainnya.

Ya, itulah saat-saat ketika air hujan menjadi semacam berkat. Saat-saat ketika aku belum paham bahwa air hujan itu cenderung korosif, tidak sehat, dan lainnya. Kami hanya perlu air, dan air itu datang dari langit. Namanya air hujan.

Berikutnya menjadi lebih terang benderang, karena sebuah modifikasi dilakukan. Sebuah pipa dari atap mengucur langsung ke bak mandi. Bak itu juga dimodifikasi dengan lekukan kecil sehingga kalau bak itu penuh, air bisa mengucur keluar untuk dibuang. Inilah bak mandi dengan sumber air dari langit. Langit ke atap, atap ke talang, talang ke paralon, paralon ke bak mandi. Inilah air yang membilas hidupku sehari-hari.

Bertahun-tahun, hingga aku pergi merantau, air hujan itu menjadi andalan untuk penunjang kehidupan. Belum ada dana untuk membuat sumur pompa, sementara air PAM semakin tidak bisa diharapkan.

* * *

“Kenapa dulu sehat-sehat aja ya?” tanyaku ke Bapak, sambil nonton santai.

“Kenapa?”

“Kita mandi air hujan loh.”

Yah, bertahun kemudian, ketika aku belajar tentang kesehatan, aku paham bahwa air itu tidaklah baik. Air itu bisa korosif. Air itu mengandung bakteri dan lainnya. Dan air itu digunakan untuk penunjang kehidupan, dan anehnya, aku sehat-sehat saja.

Kini sumur pompa sudah ada, tinggal dinyalakan ketika dibutuhkan. Talang yang menyalurkan paralon ke bak mandi sudah diputus-hubungan-kan. Air tanah mengalir ketika dibutuhkan. Semoga masih ada untuk hidup ke depan. Tapi mengingat tanah masih banyak untuk diresapi, kupikir sih nggak masalah.

* * *

Aku memasuki kamar mandi, siang hari, dan tetap dingin. Air itu segar dan tentunya sehat. Setidaknya jauh lebih sehat daripada air hujan.

Sesudah hujan pasti ada pelangi. Setelah mandi air hujan, pastilah ada hidup yang lebih baik. Sebaik dan seindah mandi air segar di kamar mandi yang sudah direnovasi menjadi lebih cantik.

🙂

 

Dan Aku Pulang: Dinding

“Kok masih foto wisudaku?” tanyaku setengah gemas begitu melangkahkan kaki ke dalam rumah.

“Itu ada yang baru,” ujar Mamak.

“Ya, maksudku, yang baru itu yang digedein. Punyaku diturunin aja. Jelek.”

Apa pantas aku kecewa ketika foto wisudaku terpajang besar-besar di dinding ruang tamu? Aku bukan kecewa, mungkin sedikit malu saja. Foto itu dibuat dengan fotografer seharga 30 ribu untuk 2 foto. Apalah yang bisa diharapkan?

Dan aku berharap, foto wisuda adikku, foto keluarga di sebuah studio foto yang tarifnya lumayan mantap, bisa dipajang menggantikan fotoku nan buruk rupa itu.

Sebelum aku lanjut kecewa, aku melempar pandang ke sekeliling. Yah, dinding ruang tamu itu hampir penuh.

* * *

“Nah, yang pojok atas itu si abang,” tunjuk Mamak pada sebuah foto bayi yang berpose menembak. Itu fotoku.

Petunjuk berikutnya diarahkan ke foto yang terletak 45 derajat di bawah fotoku. Foto adikku, hampir full face. Lalu lanjut ke wajah putih bulat berbalut penutup kepala pink milik adikku yang cewek. Plus diakhiri sosok kecil keriting berdiri, dan ia tampan, ini foto si bungsu.

Empat foto itu adalah penguasa ruang tamu. Ketika dinding itu masih basah oleh cat. Yang mengecat siapa? Ya, bukan tukang, tapi Bapak. 🙂

Hanya empat foto itu, ditambah sebuah jam dinding, dan beberapa foto pernikahan orang tua, yang tertempel di dinding ruangan yang besar. Hmm, kosong, foto-foto itu hanya nuansa dari putihnya dinding yang luas.

* * *

Aku tertidur di sofa bagus. Kalau ini terjadi 11 tahun silam, aku pasti sudah dimarahi sama Mamak, berani-beraninya mengangkat kaki ke atas sofa bagusnya. Entah, kalau sekarang boleh tuh.

Pandanganku beredar ke sekeliling.

Tidak ada lagi empat foto bayi itu. Benda itu sudah pindah ke kamar. Sebuah pigura besar foto keluarga dengan aku mengenakan toga tertempel besar di sana. Di sisi-sisinya, foto latar putih dengan adikku yang mengenakan toga. Oh, ada pula fotoku ketika mengenakan jas, waktu pengambilan sumpah profesi.

Dinding itu tidak lagi sepi. Dinding itu perlahan menjadi saksi sebuah pencapaian. Dinding yang sama, yang dibentuk dengan bata dan semen yang dulu juga ikut diaduk oleh orang-orang yang fotonya tergantung disana.

Dinding yang sama, yang melihat sosok-sosok mungil berbaju seragam sekolah. Dinding yang sama, yang perlahan kehilangan sosok-sosok mungil itu.

Dinding yang itu pula, yang menjadi tempat tertempelnya sebuah rekaman pencapaian. Satu per satu. Dinding yang menyediakan dirinya sebagai tempat sebuah kebanggaan bisa dirayakan.

Ah, aku mengantuk. Melihat tampangku tanpa sentuhan Adobe Photoshop, bertoga, dan kurus kering, bikin mata ini ingin menutup saja. Hmm, setidaknya aku melakukannya dengan senyum.

Sebuah lekukan bibir yang terbentuk ketika mengenang perubahan dinding polos itu menjadi dinding penuh foto, penuh gambar, penuh kebanggaan.

Dan aku terlelap, terpejam, di dalam nyamannya sebuah tempat yang aku sebut RUMAH.

🙂

Elegansi Sebuah Tindakan

How to manage issue?

Isu, apapun, besar-kecil, pastinya akan menjadi hal ihwal yang penting dan mendesak untuk diselesaikan. Kenapa? Sebuah isu itu akan menjadi bara yang memanaskan suasana.

Dan yang dibutuhkan untuk menangani isu itu adalah tindakan.

Nah, persoalannya adalah bagaimana bertindak elegan agar suatu isu tidak berkembang menjadi masalah, apalagi masalah besar.

Hal elegan alias cantik alias luwes dalam menyelesaikan masalah sebenarnya dimulai dari melihat fakta-fakta dan data-data secara komprehensif. Utamanya melihat seluruh data dalam definisinya masing-masing. Komprehensif juga setidaknya mengerti makna dari data-data yang terkandung.

Saya pernah punya bos dengan tindakan yang elegan, tentu juga pernah ngawur. *hehehe, sorry loh pak*

Jadi suatu kali, gudang itu penuh minta ampun. Sederhananya, miss plan. Nah ketika nilai inventori menggunung, dapur produksi belum maksimal, isunya adalah what to do? Ada yang langsung laporan ke atas, ada yang mencerna dulu masalahnya baru laporan.

Dan kejadian waktu itu, dua-duanya terjadi.

Saya ikutan mempersiapkan datanya siang dan malam, termasuk proyeksi bagaimana membuatnya normal dalam time phase 6 bulan. Tampak mustahil, tapi bukan bermakna nggak bisa.

Dengan bekal data itulah, lantas pakbos menghadap, menghadapi pertanyaan besar kenapa ini terjadi dan bagaimana ini dikelola. Saya pusing, dan saya yakin pakbos saya lebih pusing. Tapi tim kami bertindak dengan elegan. Maksud saya, mainnya cantik. Saya ingatnya menjadi semacam pertarungan data. Yang satu membahas dari sisi kekinian, yang satu dari perspektif masa depan. Dua-duanya saya padukan dalam satu report yang niscaya kemudian menjadi kelegaan terbesar saya dalam hidup.

Yah.. Elegansi, keluwesan, keindahan dalam bertindak menjadi kuncinya. Elegansi bukan ABS, alias Asal Bapak Senang. Elegansi adalah bertindak dengan manis, dengan janji yang oke tapi realistis, dan yang pasti bertindak atas dasar data yang jelas dan definisi yang pasti.

Akhirnya memang, Oktober, misi nyaris mustahil itu tercapai. Overload bisa turun. Saya ingat benar setiap hari berharap conditional formatting yang saya buat merah itu segera menjadi putih, pertanda kapasitas sudah oke. Setiap hari saya nggak lelah menarik data dan mencernanya.

Rong-rongan ada, jelas, tapi dengan basis data dan tindakan yang bermakna dari pakbos, meski tentu di sisi tertentu saya sebel dengan cara-cara ala manusia planning (ini kan jenis manusia paling dibenci di pabrik manapun.. huhuhuhu…), tapi hasilnya oke. Isu yang besar itu dikelola dan tidak menjadi lebih besar, tapi lantas diselesaikan dengan cara yang manis.

Saya tersenyum melihat angka 4 di BSC. Bagi saya itu awesome.

Nah, saya bukan mau menggurui siapapun dengan posting ini. Saya hanya berefleksi pada salah satu momen terburuk dan terindah saya dalam hidup. Terburuk karena itu momen saya pulang jam 11 malam dan datang lagi jam 7 pagi. Terburuk ketika saya setiap hari mimpinya bahan baku. Terburuk karena dering telepon itu ibarat lonceng kematian bagi saya.

Tapi terbaik ketika saya bisa menunjukkan bahwa saya bisa. Ketika kemudian orang-orang tahu, siapa kami, siapa saya. Ketika semuanya lantas mengerti bahwa performa itu tidak berdasar sekadar bacot atau arogansi, tapi tindakan nyata yang membuahkan hasil yang jelas.

Nah, kalau masalah besar begitu.

Hari ini saya komunikasi dengan beberapa rekan lama, sedikit nostalgia keadaan. Yah, bahwa kadang saya dirindukan sebagai salah satu personil yang kompromistis. Bagi saya, bagian planning itu harus kompromi, itu pasti. Apapun yang kompromi dengan tujuan tercapainya pemenuhan forecast. Jadi aspek-aspek administrasi, kadang saya tuntaskan tanpa melewati pakbos, asal kadarnya sesuai. Itu cara saya. Dan syukurlah, kompromi itu kemudian menjadi perkara kecil yang tidak perlu raise issue sehingga lantas jadi heboh nggak penting. Toh sudah ada heboh besar ketika inventori menggunung, cukuplah. Nggak usah disertai kehebohan lain lagi, apalagi yang remeh.

Kenapa saya berani? Ya karena saya cukup tahu definisi. Artinya, dengan bekal yang saya tahu-walau sedikit-ya saya bisalah melakukan tindakan dengan luwes, tanpa perlu menjadikan ini isu dan kemudian masalah besar.

Misal nih, kalau cuma sekadar permintaan bahan baku untuk trial di produksi, apa iya harus ditolak? Trial itu kan kaitannya untuk proses, iya kan? Proses nanti bakalnya ngeluarin produk juga. Padahal inti dari seluruh bisnis, ya produk. So? Apa lagi? Kalau memang permintaan itu mengurangi stok signifikan, putar otak lagi. Kalau mau ya beli lagi. Gitu aja siklusnya.

Dan Pakbos saya baru tahu soal masalah itu, ketika ia approve permintaan pembelian yang saya buat.

“Ini buat apa?”

“Begini, begini, begini…”

Hanya 5 menit, dengan logika yang oke, dan report yang jelas (tentu include data), disetujuilah permintaan itu.

Begitulah.. Tidak semua isu akan berkembang menjadi masalah kalau dipadamkan segera. Tapi tindakan yang tidak elegan, justru akan menyulut bara api tadi jadi api beneran.

Dan kalau kemudian sudah jadi api, semua sudah kebakaran, mau bilang apa? Apalagi ketika kemudian dibuktikan bahwa seharusnya itu nggak jadi hal besar? Misal kita kepanasan di sauna, itu bukan bermakna di luar ruang sauna itu ada kebakaran kan? Logikanya sih begitu.

Hmmm, macam menggurui kali tulisan ini. Tapi ini beneran refleksi saja, hasil kenang mengenang hari ini. Sekali lagi, bahwa saya kemarin juga habis bikin masalah sendiri, sehingga lantas kehilangan. Kenapa? Ya karena saya mengelola isu yang kecil dengan cara yang salah, jadilah ia api yang besar dan hancur.

Refleksi pribadi saya, ditunjang hasil mengenang hari ini, dan disertai pengamatan. Begitulah, pada akhirnya, semua masalah tidak akan besar jika ditangani dengan cara yang elegan.

Sesederhana itu, tapi sulit banget. Mana saya baru 3 hari yang lalu bertindak tidak elegan. Huhuhuhuhu…

Nggak apa-apa, hidup itu belajar, jadi lebih baik 🙂

Semangat!

Petualangan Pio

Langkah terseret-seret dengan nafas terengah-engah menjadi nuansa yang tampak di tempat yang sepi itu. Bahwa itu adalah satu-satunya benda bergerak di tempat yang sama sekali tanpa gerakan adalah fakta yang tak terbantahkan. Pio masih saja menyeret langkahnya dalam kelelahan yang amat sangat. Tapi kata orang-orang di bawah sana tadi, kalau ada halangan apapun tetap berjalan, kalau nggak bisa berabe. Jadilah Pio memaksakan langkah yang sudah tanpa energi itu.

Di sekeliling Pio hanya ada batu dan batu, semuanya batu. Bahkan lumut pun tidak ada. Batuan itu kering sama sekali, mungkin sudah tiga purnama tidak ada hujan di tempat itu.

“Apapun, demi Lena,” gumam Pio dalam lelahnya.

Pio kemudian sampai di sebuah tebing dengan kemiringan 92 derajat alias miring ke arahnya. Pio mendongak sekilas, ada lubang disana. “Pasti itu gua-nya. Lena, tunggu aku,” teriak Pio heroik macam di tivi-tivi.

Pio mengulurkan tangannya untuk memanjat tebing batu yang curam itu.

“Darrrrrr….”

Baru dua langkah naik, Pio terjatuh. Sebuah ledakan kecil terjadi hanya 5 cm dari jemari Pio yang menggapai-gapai.

“Huahahahaha.. Berani juga kau kesini, Pio!” tawa dengan suara dalam terdengar menggema di bebatuan.

“Acarbos?” bisik Pio lemah.

“Sudahlah Pio. Hentikan pencarianmu pada Lena. Jangan habiskan hidupmu sia-sia. Hahahahaha.”

“Tidak. Aku harus menyelamatkan Lena.”

“Kalau kau bisa. Silahkan saja.”

Pio tampak seperti ngobrol dengan batu. Suara Acarbos hanya menggema di seluruh bebatuan tanpa jelas sosok itu ada di sebelah mana. Pio tahu, kalau memanjat konvensional, dia pasti tidak akan berhasil menuju lubang di atas tebing. Pio lantas menunduk dalam, penuh konsentrasi. Beberapa detik kemudian tangannya terangkat ke atas dan Pio berteriak, “Ubidekarenontranexa.”

Tiba-tiba angin yang awalnya sepoi-sepoi ringan mendadak mengumpul membentuk pusaran di sekitar Pio. Matanya masih terpejam penuh konsentrasi. Pusaran angin itu perlahan mengangkat tubuh Pio ke udara.

“Darrrr… Darrrr…” Suara ledakan-ledakan terdengar di tebing batu. Tampaknya Acarbos tidak mempersiapkan perlawanan untuk upaya Pio yang satu ini. Lewat udara!

Pusaran angin itu berhasil membawa Pio sampai di atas tebing. Matanya seketika terbuka dan ia melompat sekuat-kuatnya menuju lubang besar di atas tebing. Sayang, lompatannya kurang sempurna, Pio mendarat dengan kepala dahulu. Darahpun sontak mengucur dari kepalanya.

Dari luar masih terdengar ledakan-ledakan dinding tebing dan sesekali menggoncang landasan tempat Pio berdiri.

“Lenaaaaaa…,” teriak Pio. Lubang itu ternyata awal dari lorong yang sangat panjang. Teriakan Pio lantas tenggelam oleh ruangan. Pio menoleh sekeliling, ekspresinya mulai menyiratkan putus asa.

“Darrrrr…”  Ledakan terjadi lagi, kali ini di dekat kaki Pio, sontak ia berlari sekencang-kencangnya.

“Acarbos? Mau apa kau?”

“Harusnya aku yang bertanya begitu? Mau apa kau di tempatku?”

“Aku harus menyelamatkan Lena.”

“Hahahaha.. Cobalah kalau kau bisa!” Acarbos mengeluarkan pernyataan yang sama.

Pio berlari terus guna menghindari Acarbos. Sebuah pertaruhan karena Pio tidak tahu sama sekali ujung dari lorong yang ia lalui. Sepanjang jalan, sambil berlari, Pio berteriak, “Lenaaaa.. Lenaaaa…”

“Pio!”

Sebuah suara yang sangat Pio kenal terdengar memanggil. Pio berhenti dan melihat ke sekeliling. Pandangannya berhenti pada sosok gadis yang terikat di sebuah batu besar.

“Lena!”

Pio berlari mendekat, tapi ledakan kecil menghalangi langkahnya.

“Hahahaha.. Bagus sekali. Pioglitazon datang kesini mengorbankan dirinya untuk Adapalena. Sebuah kisah heroik. Luar baisa.” Suara yang sama dengan bauran gema di bawah tebing tadi terdengar lagi. Siapa lagi? Pastilah Acarbos.

Pio berdiri dengan kuda-kuda maksimal. Matanya awas ke sekeliling. Tiba-tiba ledakan-ledakan kecil tanpa jelas sumbernya terjadi di sekitar tempatnya berdiri. Pio melompat dan melangkah menyesuaikan ledakan yang terjadi. Perlahan Pio mendekat ke arah Lena.

Tapi aneh!

Setiap kali Pio mendekat ke arah Lena, batu besar itu tampak bergerak, sehingga Pio tidak pernah sampai ke tempat Lena berada. Pio mempercepat larinya, batu itu bahkan tidak tampak mendekat sekalipun. Pio perlahan menjadi lelah mengejar batu itu dan Lena yang terikat disana.

“Pio! Tolong aku!” teriakan Lena di ujung sana menggelorakan kembali semangat Pio.

Pio mulai berpikir kembali, dia harus memakai cara lain. Mantra. Tapi kalau mantra ini menghancurkan batu itu, tentunya Lena akan ikut hancur? Pio mendadak shock membayangkan kemungkinan itu. Tangannya mengepal tanda gemas dan bingung memilih solusi. Di balik kebingungannya Pio kembali mencoba berkonsentrasi.

“Hatimu yang menentukan, Pio. Hatimulah yang akan menang.” Tiba-tiba Pio teringat petuah Guru Besar Ceftrizidim.

“Hati! Hati! Hati!” gumam Pio, mencoba mencerna petuah Guru Besar Ceftrizidim. “Hatiku adalah Lena! Hyaaaaaa….”

Pio mundur doa langkah kemudian berlari maju tapi kali ini tubuhnya perlahan condong menjadi horizontal, tubuhnya juga berputar layaknya mata bor. Dalam pusaran tubuhnya Pio berteriak, “Klomifena Cisaxikam.”

Tubuh Pio melayang persis ke arah Lena terikat.

“Piooooo!” teriak Lena ketakutan.

Dua meter sebelum mencapai tubuh Lena, Pio membelokkan arah dan mulai memutari batu tempat Lena terikat. Pio mengitari batu itu dengan secepat kilat.

“Arrrrgggghhhhhh…” terdengar suara Acarbos. Aha! Ternyata Acarbos adalah batu tempat Lena terikat!

“Sekarang saatnya!” ujar Pio pada putaran ke 173. Tangannya mulai bersiap menggapai Lena. “Tangan, Lena! Tangan!”

Tangan Lena yang terlepas ikatannya karena efek pusaran Pio menggapai ke atas. Pio melihatnya dengan jelas, lalu berteriak, “Risedrona Mekobala.”

Sesudah berteriak demikian, tangan Pio menggapai tangan Lena dan menariknya seketika ke arah atas, sementara Acarbos tampak mulai retak-retak dan kemudian meledak.

Pio dan Lena yang terkapar dalam kondisi berpelukan melihat kehancuran Acarbos dengan jelas. Nafas keduanya terengah-engah, Pio malah baru merasa pusing.

“See? Jadi siapa yang nekat pergi?” kata Pio sambil mengusap kepala Lena.

“Iya Pio. Aku telah melakukan langkah yang salah. Aku pikir pergi ke Negeri Terazoten adalah pilihan bagus.”

“Bagus sih, sampai kamu diculik di jalan sama batu-batuan. Lagian ngapain kamu pergi jauh-jauh hanya alasan mengejar cinta?”

“Tadinya itu dorongan hati, Pio.”

“Dan dorongan hati juga yang membawaku ke tempat ini, Lena. Aku cinta kamu.”

“Sayangnya aku baru tahu itu setelah aku nyaris mati Pio. Kenapa nggak bilang dari dulu?”

“Selama ini aku realistis Adapalena. Bagaimanapun kamu lebih dekat dengan Meglumin dan Promelo. Siapapun tahu kalau mereka jauh lebih tampan dan pintar daripadaku.”

“Dan mereka tidak ada disini, Pio. Yang aku butuhkan bukan kata-kata, tapi bukti nyata. Dan kamu berhasil membuktikannya. Aku yakin aku juga punya perasaan yang sama, Pio.”

“Jadi?”

“Jadi mari kita pergi dari sini. Aku takut.”

“Takut apalagi Lena?”

“Jadi kamu pikir apa yang akan dilakukan dua orang saling cinta di tempat yang sunyi macam ini Pio?”

“Owww.. Baiklah. Mari kita pergi.”

Lena berpelukan erat pada Pio yang sedang berkosentrasi.

“Akril Iz Opagla.”

Mantra terbang telah disebutkan, Pio terbang bak superman dengan Lena berpegangan erat pada punggungnya.

Lelaki Dan Hatinya

Lelaki itu, entah siapa namanya, mungkin kita tak perlu memberinya nama. Hal ini juga tidak cukup urgen. Kalaulah nanti nama itu perlu, silahkan ganti sesukanya. Dipersilahkan, dengan senang hati.

Lelaki itu melangkah mantap ke atas podium. Toga hitam kebesaran dengan samir yang khusus, ah semua orang bermimpi seperti itu. Berdiri di atas podium, dipindahkan arah talinya, dan sudah. SELESAI! Ini katanya wisuda. Lelaki itu baru diwisuda, dia melewati tahapan paling membanggakan dalam hidupnya. Kini, fotonya dan toga hitam sewaan itu akan nampang dengan manis di ruang tamu rumahnya yang minimalis. Setiap tamu yang masuk ke situ akan berdecak kagum karena lelaki itu terbukti sarjana.

Badannya masih bagus, mantap, penuh daya, penuh gairah. Sempurna untuk ukuran lelaki.

Lelaki itu memasuki hidupnya yang baru, layaknya makhluk sebaya. Dia turut serta antri dimana saja. Dia tidak lepas dari interview. Dia selalu mengantungi CV di sakunya, tentulah dalam flash disk. Langkahnya mantap, pada hari pertama. Kemantapan langkahnya menggontai di setiap pergantian hari. Ah, mencari pekerjaan itu sulit.

“Kamu sih terlalu pemilih, buat anak baru mah yang penting kerja.”

Gaung yang dulu terabaikan itu mendadak mencuat, memenuhi gendang telinga dan membran timpani. Begitu dahsyat, sampai ke otak, dan.. ah.. berhasil. Sebuah perspektif telah berubah.

Lelaki itu masih tegap berdiri, kali ini di sebuah gedung tinggi, lantai 15. Dengan kaca di sekitar ruangannya yang selalu mengingatkannya pada kejadian di Film Spiderman, ketika di ketinggian macam ini tiba-tiba ada benda konstruksi yang bergerak.

Ada dua hal, itu mungkin terjadi dan tidak ada Spiderman disini.

Tangannya gesit mengayun jemari, menelusuri kotak-kotak dan angka-angka. Ekspresinya memarah begitu mendapati warna merah, namun merona ketika mendapati warna kuning. Tawanya meledak ketika mengangkat telepon, dan dalam sekejap amarahnya ganti meledak.

“Nggak aku banget..,” gumam lelaki itu, entah pada bagian mana.

Lelaki itu bertanya pada hatinya, “haruskah? masihkah?”

Hatinya hanya menjawab, “sudahkah kamu mendengar aku?”

Dan lelaki itu diam. Dia bertanya, bukan menjawab, jadi ngapain ditanya kembali. Ah, hati yang aneh!

Lima tahun, pas sesuai jumlah jari, lelaki itu sudah duduk di tempat yang lebih nyaman, lebih dingin, dan lebih personal. Raut kelelahan teramat sangat terpancar di sorot matanya. Tapi apalah lelah kalau lelaki itu sudah punya rumah, mobil, dan berbagai gadget terkini.

Lelaki itu masih sama, ada yang terganjal dalam hatinya. Tapi apa?

“Aku nggak nyaman. Aku harus bagaimana?” tanyanya lagi pada hatinya.

“Sudahkah kamu mendengarku?”

Sungguh jawaban yang membuat MALAS! Astaga!

Penolakan ini membuat hati lelaki itu perlahan mengecil. Paralel, raut-raut besi muncul dari sela raut kelelahan lelaki itu.

Beranjak lima tahun lagi. Wajah lelaki itu sungguh tidak mantap. Raut besi merajalela. Geraknya makin lambat. Dia sakit hipertensi dan diabetes. Hanya 10 tahun sejak badan bugarnya. Terlalu cepat? Mungkin.

Geraknya makin tak nyaman oleh struktur besi yang mulai membentuk tubuhnya. Pantas saja dia lambat. Dan geraknya itu membuatnya SEMAKIN tidak nyaman.

Dia bertanya kembali, “bagaimana ini?”

“Sudahkah kamu mendengarku?”

Masih sama, meski beralih tahunan. Apakah hati hanya diset bertanya demikian. Jangan sampai. Parah kalau begitu. Lelaki itu tidak tahu bahwa setiap penolakannya berujung pada mengecilnya hati.

Bilangan jumlah tahun yang lain lagi sudah lewat. Lelaki itu sudah punya segalanya. Geraknya sudah lincah walau sepenuhnya sudah jadi besi. Tidak ada lagi ketidaknyamanan yang dulu berpuluh tahun dia rasakan. Dia sungguh nyaman dengan geraknya. Gerak lincah di atas mouse, gerak mantap ketika marah-marah, sorot tajam ketika meminta.

“Ada apa denganmu sobat?” tanya sahabat lelaki itu suatu kali.

“Aku menikmati hidupku. Ada yang salah?”

“Kamu yakin?”

“Tentu.”

Sahabat lelaki itu melihat dari atas ke bawah. Lelaki itu sudah betul-betul serat besi. Strukturnya rapi dan kokoh. Sahabat itu mengintip ke dalam rongga hatinya. Dan sebuah ledakan kecil terjadi. Sahabat itu langsung tahu, ada yang pecah. Dan itu… hatinya!

Lelaki itu berjalan, bergerak, berdinamika dengan caranya. Sebuah cara yang puluhan tahun terus berulang. Sahabatnya hanya terdiam membisu. Lelaki itu kini bukan lagi manusia karena bagian terpenting darinya sudah menghilang, hatinya.

-12.10-