5 Cara Agar Bapak Mau Ganti Popok Bayi

Screenshot_1457.png

Tulisan ini mungkin akan sepi view, karena data dari BabyCenter yang dikutip oleh Kompas menyebut bahwa 78 persen Ayah alias Bapak alias Abi alias Papa memiliki kemampuan yang sama bagusnya dengan ibu dalam soal mengurus bayi. Jadi, kemungkinan tulisan ini hanya akan dibaca oleh 22 persen masyarakat. NGAK PAPA DAH.

Benar bahwa Bapak Millennial memang mulai setara dengan Ibu Millennial dalam urusan mengelola anak. Ini tentu berbeda dengan kisah zaman dahulu, ketika bapak itu fokus bekerja dan ibu di rumah. Jadi, ketika bapak di rumah, kerjanya adalah minta kopi dan duduk-duduk baca koran.

Sekarang? Bapak-bapak mah duduknya bacanya Mojok, Voxpop, atau Geotimes. Tsah. Sambil menebar kebencian melalui Facebook. Gitu.

Jadi, walaupun datanya sudah nyaris equal, tapi tetap saja ada lelaki yang ogah ganti popok bayinya sendiri. Nah, kalangan seperti ini tentu harus diberi solusi yang tentu saja bukan #2019GantiBapak. Yang harus kita ikhtiarkan adalah #2019BisaGantiPopok.

black haired man wearing black sunglasses and black leather jacket

Photo by Pixabay on Pexels.com

Saya sendiri telah mengganti popok sejak malam pertama Istoyama lahir, apalagi dia room-in. Pencapaian saya? Tentu saja, pasang perekat kebalik. Yeah, ganti popok-sekali-pakai itu nggak ada diklatnya, nggak ada angka kreditnya, apalagi nggak ada honornya. Sungguh bikin males, sebenarnya. Ya, males, sih, tapi kudu dikerjakan. Ini mirip dengan berangkat ke kantor.

Jijik? Jelas. Lah, jangankan itu. Dibandingkan 2 adik saya yang lain, saya adalah yang paling buncit dalam urusan nyebokin adik bungsu–yang sekarang tingginya 10 cm di atas saya itu (Asulah-red). Kenapa saya selalu menolak? Pertama-tama, tentu jijik. Kedua, selagi ada 2 adik, kenapa abang harus turun tangan?   Continue reading

Advertisements

Jadi Anak Sulung, Enak Nggak?

Anak itu tercipta lewat pertemuan sel telur dan sperma yang lagi iseng pengen main-main ke ovarium. Nah, anak pertama adalah sperma pertama yang kebetulan ketemu dan jodoh dengan sel telur yang ditemuinya. Anak kedua? Tentu saja adalah sperma kedua yang sukses bertemu jodohnya di dalam sana.

Nah, jadi bisa dipastikan bahwa nggak ada satupun anak di dunia yang bisa memilih pengen jadi anak nomor sekian. Jadi semisal si sperma X ini punya angka favorit 7 karena menggemari Cristiano Ronaldo, dia nggak bisa milih bakal jadi anak ke-7, soalnya orangtuanya sudah KB. Bakal susah juga kalau dia penggemar JKT48, karena di era modern ini nggak ada orangtua yang anaknya sampai 48.

Yup, menjadi anak sulung adalah sebuah fakta, kenyataan yang kudu dihadapi. Siap atau tidak siap. Saya sendiri mungkin bisa dibilang nggak siap jadi anak sulung. Salah satu yang pernah dikisahkan oleh ahli-ahli sejarah kepada saya adalah bahwa saya pernah dengan tangisan maksimal meminta orangtua membuang adik saya.

“BUANGGG!!!”

Apakah yang terjadi?