Sudut Pandang Lain Yang Tetap Luar Biasa

Oke. Ini judul asli kurang kreatif. Soalnya saya memang hanya menelurkan masterpiece judul tulisan sesekali saja, dan salah satu judul yang pernah diapresiasi oleh orang adalah 30 Menit Yang Luar Biasa. Judul itu saya berikan pada sebuah posting tentang kisah saya ketika menjadi relawan pengajar dalam Kelas Inspirasi 2, 20 Februari 2013 silam di SDN 03 Palmerah.

Nah, dikarenakan saya sudah pernah menjadi relawan pengajar, maka di event Kelas Inspirasi Bekasi yang dihelat pada 11 September 2013, saya mau coba alih profesi sebagai fotografer. Baiklah, saya seorang APOTEKER, yang merangkap BLOGGER, dan sekarang saya jadi FOTOGRAFER. Uhuk. Saya jadi FOTOGRAFER tanpa tahu banyak soal konsep-konsep fotografi. Terima kasih kepada panitia yang atas dasar foto-foto di halaman ini, mau memilih saya sebagai fotografer.

Kenapa saya pengen jadi fotografer? Alasan pertama adalah karena saya sudah pernah merasakan nikmatnya mengajar, jadi pengen sudut pandang lain dalam konteks turun tangan dengan memberi inspirasi. Kedua, karena dulu saya belum punya si Eos, dan sekarang saya sudah punya si Eos yang kemarin saya bayar cicilan ketiganya.

Ya, walaupun kredit, yang penting tidak menimbulkan konspirasi kemiskinan. Tenang saja.

Jadi, bagaimana cerita saya hari ini?

Saya bangun pagi buta dari gua hantu. Eh, itu si buta. Maaf, salah. Sekitar jam 5 pagi saya sudah bangun dan harus mandi serta menggosok gigi mengingat di kos-kosan saya ada banyak anak pabrik yang berangkat jam 6. Untungnya saja, saya sudah berhasil menularkan virus inspirasi pada salah seorang anak kos yang juga adek kelas saya waktu kuliah, si Bayu. Jadi, kita sama-sama bangun lebih pagi. Bayu sendiri bertugas memberikan inspirasi soal pekerjaannya sebagai apoteker si pembuat obat di sebuah SD di Jatibening.

Jam 05.45, saya dan Bayu meninggalkan kos, dan tentu saja tidak meninggalkan kenangan. Kami berpisah di POM bensin Pintu Jababeka 2 karena dia akan naik bis, dan saya akan melajukan si BG ke Bekasi via jalur heroik bernama Kalimalang. Percayalah, 2 tahun lebih saya jadi penghuni Kabupaten Bekasi, si BG baru kali ketiga ini menginjak Kota Bekasi. Namun mengingat SD tempat saya hendak foto-foto letaknya dekat dengan jalur Kalimalang, jadi sekalian saja. Seandainya saya dapat di Bekasi Barat, mungkin akan beda kisahnya.

Perjalanan saya bisa dibilang melawan arus karena kebanyakan di jalur itu adalah orang yang tinggal di Bekasi dan hendak kerja di Cikarang. Jadi, perjalanan saya semacam santai kayak di pantai saja. Tapi sesantai-santainya, tetap saya butuh waktu 30 menitan. Saya masuk ke sebuah gang di depan BTC pada pukul 06.15, dan tugas DIMULAI.

Oya, tim saya kali ini tentu saja beda dengan yang dulu. Sekarang timnya lebih kecil dengan hanya 4 relawan pengajar dan 1 fotografer. Maksud saya daftar fotografer itu mungkin kayak Nanda dan Oka, ada dua, jadi bisa gantian. Eh, malah dapat sendirian deh. Hiyuh.

Ini dia timnya.

Kelompok 2

Kelompok 2

Kebetulan sekali bahwa di KI 2 saya kelompok 2, dan di KI Bekasi ini, kelompok 2 juga.

Ada Mbak Wulan, seorang dosen dengan basic teknik sipil. Dan kalau melihat penampilannya, saya asli nggak nyangka kalau dia punya gelar akademik yang aduhai. Paling senior di kelompok 2, tapi pasti banyak orang yang salah menerka jarak angkatannya dengan saya dan Alvan.

Ada Alvan, seorang engineer di provider telekomunikasi paling terkemuka di Indonesia.Kenapa paling terkemuka, karena saya pakai provider itu. Yah, ini sungguh alasan yang mencuatkan kontroversi hati. Latar belakang Alvan adalah Teknik Elektro.

Ada Bimo, staf di KPU. KI memang keren, sampai-sampai saya punya kenalan orang yang mengurus Pemilihan Umum gara-gara KI ini. Didapuk sebagai ketua kelompok, Bimo menjadi orang yang bertugas membawakan ID KI pada manusia-yang-tidak-datang-briefing seperti saya. Pak Ketua ini berbasis pendidikan Hukum.

Dan terakhir ada Petra. Gadis Batak dengan marga yang sama dengan guru kelas VI d SD Margahayu 22 dan tentu saja marga yang sama dengan bos saya. Marga apa itu? ADA DEH. Di KI ini, Petra akan lebih memberikan inspirasi sebagai petualang. Soal basis pendidikan, Petra adalah yang mengospek Alvan. Dunia memang sempit kayak celah sumpit.

Saya sendiri, walaupun menulis APOTEKER di ID, tapi tidak usah dihitung ya.

Empat kawan baru saya ini membawakan materi masing-masing di 3 kelas. Jadi kelas 1-2 digabung, 3-4 juga, dan demikian pula dengan 5-6. Ini tentu beda dengan yang saya alami waktu 6 kali 30 menit langsung bablas mengajar waktu di Palmerah. Dan modal mereka untuk mengajar sungguh mantap. BEDA BANGET SAMA SAYA DULU YANG CUMA BAWA KOTAK OBAT DAN SULAP PENUH DILEMA.

Oke, santai.

Manisnyaaa

Manisnyaaa

Alvan membawakan soal telekomunikasi, dan memperkenalkan anak-anak SD pada teknologi Skype. Di 3 kelas, dia melakukan komunikasi via Skype dengan teman-temannya di luar negeri. Jadilah anak-anak SD bisa dadah-dadah sama om dan tante yang ada di luar negeri sana.

Bimo sendiri, sesuai per-KPU-annya, membawakan topik pemilihan umum di kelas, mulai dari memilih buah, sampai memilih ketua kelas. Ah, tentu saja runyam. Plus, Bimo membawakan alat peraga berupa gambar-gambar tokoh, dan…

…ternyata pengetahuan anak-anak tentang Iqbal CJR lebih baik daripada pengetahuan mereka tentang Ibu Megawati. Itu fakta.

Petra membawa topi pantai, dan aneka perkakas petualangan lainnya. Dan yang jadi rebutan anak-anak itu adalah foto-foto yang cantik-cantik dari luar negeri. Saya paling terkesan sama anak ini:

Pokoknya Eiffel

Pokoknya Eiffel

karena dengan teguh kukuh berlapis stainless SS 316 mempertahankan foto Eiffel, dan dengan quote:

“Biar udah sobek juga nggak apa-apa, gue suka banget sama Eiffel…”

Iya, itu foto sudah sobek, efek dari rebutan. Hati juga kalau dipakai rebutan juga bisa sobek kok.

Dan Mbak Wulan yang paling modal dengan segala alat peraganya. Mulai dari jembatan kayu, sampai aneka gambar gedung-gedung dan bangunan ternama. Namanya anak-anak, begitu lihat barang baru, ya dirubung kayak playboy ketemu cewek caem.

Penasaran...

Penasaran…

 

Sebuah konsep bagus juga yang saya dapat dari sini adalah:

“Melewati jembatan mungkin cuma butuh 2 menit, tapi membangunnya bisa jadi butuh 2 tahun.”

Ah, mungkin demikian juga dengan membangun hubungan…

…eh, kebablasan galau.

Sebuah sudut pandang lain saya peroleh dengan menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mengabadikan momen di Kelas Inspirasi kali ini. Kalau dulu saya punya konsep memperkenalkan profesi apoteker sebagai poin utama, sekarang justru saya menangkap senyum, tangis, dan teriakan dari anak-anak itu sebagai inti kerja saya.

Ya, senyum-senyum itu berseliweran di depan si Eos dan sampai saya lumayan sebel sama satu anak yang nongol dimanapun Eos berada. Perhatian mereka pada kamera ternyata lumayan juga, dan lumayan bisa mendistraksi perhatian yang seharusnya diperoleh oleh relawan pengajar. Yup, menjadi orang yang merekampun ternyata tidak sesederhana yang tampak.

Terimakasih Tripod

Terimakasih Tripod

Dan saya tidak akan paham kalau saya tidak menjalaninya.

Saya juga menyempatkan diri jajan di belakang sekolah dan mendapati masih ada nasi goreng harga 1000, tentu saja dengan porsi anak-anak. Dan tentu saja, nggak di PokWe, nggak di burjo, minuman saya tetap yang warna warni.

Monggo Mas

Monggo Mas

Yah, saya mencoba mencari sudut pandang lain dan saya memperolehnya. Saya juga belajar banyak soal menangkap momen pada hari ini. Sebuah pembelajaran luar biasa bagi fotografer dengan kamera masih tiga kali angsur lagi. Dan kesimpulan saya tetap sama bahwa mengajar itu sulit.

Poin utama saya juga tetap sama, bahwa tidak ada salahnya membangun mimpi anak-anak itu, yang datang dari latar belakang anak ABK, pemulung, sampai bakul tisu di bis. Memberikan inspirasi ini hanya sebuah langkah kecil dari sebuah mimpi yang besar.

Anggi Mau Jadi Guru

Satu lagi yang menjadi poin saya sejak menjadi anak KI–dibuktikan dengan 2 ID tergantung di kamar–bahwa bergaul dengan orang yang penuh semangat positif sejatinya memberikan dampak yang positif juga dalam diri kita. Ketika ada orang yang rela cuti untuk berbagi inspirasi, padahal hak cuti itu setahun hanya ada 12, apa tidak positif itu namanya?

Saya masih mendapati teman-teman yang merasa pekerjaannya bukan sebuah inspirasi, atau merasa hal semacam ini nggak penting. Masih ada, dan mungkin akan tetap ada. Tapi saya hanya hendak bilang, cobalah masuk ke wadah semacam ini, bertemu dengan orang-orang bersemangat positif, lalu perhatikan apa yang akan terjadi kemudian.

SUPER SEKALI BUKAN?

484 foto saya dapatkan dari jepretan si Eos, dan itu juga penyebab posting ini tidak sepanjang kisah saya di Kelas Inspirasi sebelumnya. Tapi percayalah, meskipun sudut pandangnya berbeda, rasanya tetap LUAR BIASA!

IMG_2422

WHOOOSHHHHH!!!!

Advertisements

Petualangan #10daysforASEAN

Terima kasih kepada nasib yang sudah membantu saya bertemu dengan acara sosialisasi komunitas ASEAN untuk para @aseanblogger. Untung juga saya mendaftar lewat Kompasiana, padahal ya saya itu sudah follow @aseanblogger beberapa waktu. Dan untung juga saya menahan diri untuk tidak pulang sebelum acara berakhir, seperti banyak pemirsa lainnya. Karena di saat terakhir inilah saya dapat info ketika Mbak Indah bilang bahwa akan ada lomba blog #10daysforASEAN.

YEAH!

Oke. Niat awal saya menunggu sampai malam adalah kali-kali menang lomba livetweet. Tapi saya juga sadar sih, dengan si Young yang ngedrop 4 kali selama acara, nggak mungkin juga saya menang lomba itu.

Menulis cepat itu adalah keahlian saya, tapi soal isi ya nanti dulu. Saya bisa saja disuruh menulis 1 postingan atau 1 cerpen dalam waktu cepat, tapi dengan kualitas yang diragukan. Itu kenapa banyak posting di blog ini yang pendek-pendek, termasuk mungkin posting yang ini. Nah, karena menulis cepat itu saya bisa, akhirnya saya email ke Mbak Ani Berta untuk menjadi peserta #10daysforASEAN.

Begitu hari pertama nongol temanya, saya langsung bingung. Seperti yang bisa dibaca di posting saya berjudul Salon Thailand? Siapa Takut? ini. Saya tulis disitu bahwa seumur-umur ke salon itu ya cuma dua kali. Sisanya saya ke barber shop alias tempat potong rambut khusus lelaki. Bagaimana ceritanya saya mau menulis soal salon kalau latar belakang saya seperti itu? Apalagi pakai embel-embel Thailand pula. Maka, setelah garuk-garuk aspal, saya kemudian memberanikan diri menulis posting itu, dan hari pertama selesai.

Topik kedua nongol dengan indahnya, dan bikin ingat mantan.

#sigh

Ya, persis seperti yang ditulis di posting #10daysforASEAN saya yang kedua ini. Saya sendiri juga kurang paham soal percandi-candian. Saya lebih paham pergalauan soalnya. Jadi, topik hari kedua ini benar-benar memaksa saya untuk browsing. Eh, kok ya kebetulan kalau browsing pakai bahasa Indonesia yang nongol adalah kabar bahwa Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman alias Salomo. Daripada saya ngakak ngehek, jadi saya cari pakai bahasa Inggris saja. Pas benar dengan hasil diskusi di ruang Caraka Loka bahwa bahasa Inggris itu penting. Nah gara-gara Angkor Wat ini, saya jadi belajar bahasa Inggris lagi.

Hari ketiga dimulai dengan tantangan yang sungguh oye. Menciptakan usulan nation brand dalam waktu singkat. Apalagi saya kemudian pulang malam karena besoknya akan cuti. Jadi harus pandai-pandai memilah dan memilih istilah yang bagus. Hingga kemudian saya menemukan istilah Indonesia, A Tropical Paradise. Orang marketing saja susah payah berhari-hari mikir merk yang oke, lha ini saya mikir dalam waktu 1 hari, disambi-sambi meeting sana sini. Untung nggak berubah jadi Indonesia, Meeting Sana Sini. Kan berabe.

Masuk hari keempat mulai susah. Di hari Kamis saya ada perjalanan ke Montong dalam urusan penerbitan buku. Malamnya dilanjutkan perjalanan kereta api ke Jogja. Sudah begitu, saya dikasih tahu teman yang ikutan #10daysforASEAN juga soal topiknya via Whatsapp. Topiknya soal Visa Myanmar pula. Pusing saya. Sambil menikmati perjalanan via Kopaja AC Ragunan Monas, lalu kemudian menatap galau busway yang nggak lewat-lewat di Sarinah, akhirnya saya menulis juga dengan gamang di ruang tunggu Stasiun Senen, dan nge-tweet laporannya ketika saya sudah di dalam kereta api Senja Utama Solo. Dan di ruang tunggu itu, cuma saya yang lagi ngetik pakai laptop. Ini stasiun pula, bukan bandara.

Saya lantas sampai Jogja dan nangkring di kos-kosan adek saya yang bungsu. Begitu ngulet habis bangun sesudah terkapar saya melihat kopi dan merknya sama dengan kontes blog kopi yang sedang saya ikuti. Jadi urutannya, lihat kopi, ingat kontes blog kopi, lalu ingat blog, kemudian ingat kewajiban posting untuk #10daysASEAN di blog. Urutannya panjang sekali, sedikit lebih panjang daripada jalan kenangan. Nah, begitu saya buka topiknya, eh, soal kopi.

Saya sedikit mengutuk diri karena saya punya banyak bahan menulis tentang kopi tapi itu di laptop saya yang lama, yang sudah rusak. Itu dulu saya pengen nulis soal kopi, dan sudah seperenambelas jalan. Bahannya lumayan banyak. Yah, tapi ya sudah, saya menulis saja soal Kopi ASEAN.

Hari Sabtu, saya sudah mikir bahwa bakal sulit. Hari itu adek saya sumpahan apoteker. Dan pastinya akan rempong sedunia. Kapan saya mau ngeblognya, dan kapan saya mau nyari bahan juga kalau topiknya susah. Pas topik keluar, tentang Laos pula. Nggak ada bayangan di kepala selain fakta bahwa Laos itu termasuk herbal, teman-temannya kayu manis, dan daun bungur yang saya kelola sehari-hari.

Untungnya saya punya adek anak IPS. Begitu saya bilang Laos, eh dia menyebut soal negara tanpa pantai, sungai Mekong, dan bla…bla…bla.. lainnya. Akhirnya saya tulislah posting itu. Dan sesungguhnya, posting soal Laos ini adalah satu-satunya posting yang digarap di banyak tempat. Mulai dari Ruang Multimedia Kampus III USD Paingan, ruang tunggu Kencana Photography, meja makan restoran Jejamuran, sampai kamar kos adek saya. Cukup heroik untuk sebuah lomba blog yang pernah saya ikuti.

Minggunya dapat topik yang susah juga, soal perbatasan Singapura-Malaysia. Dan hari Minggu itu bahkan saya tidak sempat ke gereja. Karena sepagian saya sudah berangkat ke Sendangsono untuk ziarah rohani, dan kemudian diteruskan dengan perjalanan pulang ke Cikarang. Saya nggak mungkin buka laptop di terminal Jombor, pun di atas bis Rosalia Indah. Untungnya bisnya sampai lumayan subuh, jadi saya segera bisa menulis soal Peta ASEAN. Begitu kelar nulis, eh sudah jam 6 dan saya sudah harus berangkat kerja karena ada pengiriman bahan baku jam 7.

KAPAN SAYA TIDURNYA???

Senin ke Senin, sudah seminggu saya mengikuti #10daysforASEAN dan hitung-hitung tentu saja topiknya nggak akan jauh-jauh dari Filipina. Eh, bener juga. Hari Senin 2 September topiknya tentang kebebasan berekspresi dan mengambil latar Filipina, sebuah negara yang sudah kenal People Power bahkan sebelum saya lahir. Dan karena riwayatnya nggak jauh-jauh dari yang saya ingat semasa SD, jadi menulis soal People Power ini jadi lumayan tidak menyiksa.

Nah, hari kesembilan. Tinggal kurang Brunei sama Indonesia. Sudah pasti Brunei. Saya sudah kepikiran saya soal minyak. Eh, nongolnya kok malah KTT ASEAN dan tiga pilar. Lalu saya mau nulis apa? Ya, pada akhirnya dengan segala sesat pikir, saya tulislah tulisan yang menggelegar ini.

Sampai di hari ke-10, hari terakhir, saya kira sudah tinggal evaluasi, kesimpulan, dan saran. Dan ternyata saya salah lagi, saudara-saudara. Pantas saya jomblo, menebak topik saja saya salah, apalagi menebak isi hati perempuan.

#EAACURHAT

Di hari terakhir ini pembahasannya soal Jakarta. Kebetulan saya pengikut berita Jokowi Ahok, jadi cukup paham kemajuan Jakarta sejak duet maut itu menjabat dan tentunya kaitan dengan keberadaan Jakarta sebagai ibukota ASEAN.

Dan selesailah sudah.

ZZZZZZZZ…

Mengingat track record saya yang baru sekali dapat hadiah dari lomba blog, itu juga voucher 100 ribu yang merupakan hadiah hiburan dan jumlah hadiah hiburannya ada 45, plus nyaris menang di lomba blog Batik karena masuk nominasi saja, jadi saya cukup pasrah untuk tidak menang di #10daysforASEAN ini.

Setidaknya, karena #10daysforASEAN ini blogpost saya nambah 10 (HAHAHAHAHA), dan saya bisa menulis topik berat dengan bahasa gelo. Saya paling suka posting sepele saya yang “Aku Nggak Punya Visa”. Entah kalau yang lain ya. Kebetulan pula, ketika saya ikut lomba ini, kok pageview saya nggak nambah banyak ya? Hiks. Setiap hari saya memantau pageview saya dan angka segitu-segitu saja, maksudnya rata-rata sama dengan hari-hari lainnya. Bukan apa-apa sih, kalau pageview masih segitu-segitu aja, gimana saya bisa mempromosikan Komunitas ASEAN 2015? Sebagai seorang yang pas di Caraka Loka disapa blogger, saya merasa gagal.

Sedikit masukan saya ke panitia adalah lebih kepada hal teknis. Soal pendaftaran lebih dahulu ini saya suka banget. Ini sekaligus menguji komitmen seseorang. Masukan saya sepele saja kok. Semisal updatenya dibentuk dalam model spreadsheet di Google Docs, itu bakal lebih enak. Jadi kolom 1 adalah list peserta plus nama blognya, lalu kolom ke-2 sampai 11 adalah link blogpost mereka. Jadi kita bisa tahu nih, sudah masuk atau belum dan nggak repot scroll atas bawah.

Saya tahu mengelola kontes macam ini susah, jadi usul saya nggak repot-repot kok.

Salam #10daysforASEAN!

Hidup Untukmu

“Udahlah, udah jelas nggak bisa juga.”

Panji menggumamkan frase tersebut sambil terus menerus menampar pipinya kiri dan kanan sampai berwarna merah merona. Belum cukup sesekali dicubitnya juga pipi kurus itu. Dan tanpa sadar disiramkannya air keras ke mukanya, ehm, maksudnya es batu sih.

Menjadi pemandangan unik ketika seorang pria duduk di meja kerjanya, dengan tumpukan dokumen di kiri-kanan-depan-belakang, tapi ia tidak sibuk dengan dokumen itu melainkan asyik menampar dan mencubit diri sendiri.

“Permisi, Pak!”

“Ealah, kenapa sekarang Tuhan? Belum siap saya,” bisik Panji dalam hati.

Suara bening Aline ketika bilang permisi itu berhasil membuatku tak berdaya, batin Panji. Tapi bagaimanapun, sebagai seorang atasan, ia harus bersikap profesional. Maka Panji berkata, “Ya, Aline. Kenapa?”

“Muka Bapak basah.”

Buset, perhatian bener ini anak, batin Panji lagi.

“Oh, iya. Kepanasan tadi,” jawab Panji asal. Dalam hati ia mengutuk perbuatannya sendiri mengoles-oles es batu ke muka,semata-mata hendak menyadarkan diri sendiri.

“Iyakah Pak? Perasaan AC disini adem,” ujar Aline sambil celingak celinguk.

“Iya, hati lagi panas. Halah. Iya, ada apa?”

“Oh, habis meeting sama marketing ya Pak? Hehe.. Ini mau minta approval slip permintaan bahan baku.”

“Yah gitu deh, tahu sendiri kalau habis meeting sama marketing rasanya kayak gimana, mana dokumennya?”

“Iya Pak, saya aja tobat Bapak aja meeting waktu itu.”

“Lha saya tobat berkali-kali dong? Haha.. Bagian dari proses saja ini,” cerocos Panji sambil menandatangani slip yang dibawa Aline.

“Iya kali Pak ya,” timpal Aline sambil tersenyum manis.

Buset lagi, suara bening itu muncul pada saat yang tidak tepat, bisik Panji dalam hati. Ingin sekali rasanya menampar pipinya lagi untuk menyadarkan diri.

“Ini,” ujar Panji netral, menyerahkan slip tanpa memandang Aline.

“Baik Pak, terima kasih.”

Aline berbalik dan meninggalkan ruangan penuh dokumen itu.

“Fiuhhh.”

Panji mengeluarkan seluruh Co2 yang ada di paru-parunya dengan gundah. Matanya sibuk menerawang dan tangannya siap menampar pipinya lagi.

sumber: jimjjg.blogspot.com

* * *

Kejadian barusan adalah akumulasi penyadaran yang butuh waktu. Admin-admin baru disini pasti melihat dari balik kaca ruangan dengan biasa saja. Tapi pasti rasa berbeda ada pada OB tua yang lewat barusan. Turn Over yang tinggi di kantor ini sedikit banyak menyelamatkan Panji dari omongan orang-orang.

Ya, sesuatu pernah terjadi antara Panji dan Aline. Di masa lalu.

* * *

“Makanya kalau naik motor itu pelan-pelan, Mas,” ujar Aline dengan manis sambil menyeka luka Panji yang mengerang sok manis di tempat tidurnya.

“Itu nggak kencang-kencang kok,” kata Panji, masih ngeles.

“Masih ngeles tak tinggal lho Mas.”

“Iya, iya. Ampun lah kalau gitu.”

“Dek Aline, makan dulu.”

Tiba-tiba Ibu Kos di tempat Panji tinggal sudah nongol di depan pintu, menawarkan makanan pula.

“Iya Bu, sebentar lagi.”

Kos tempat Panji tinggal sudah benar-benar seperti rumah sendiri. Mungkin hanya 1 dari sejuta kos-kosan di dunia yang menyediakan makan gratis bagi penghuninya. Mungkin juga hanya 1 dari seratus ribu kos-kosan di dunia yang menyediakan pelayanan yang sangat homy macam ini. Kalau Ibu Kos lain akan mencak-mencak jika ada lawan jenis yang masuk kamar, yang ini malah ditawari makan.

“Nggak sholat, Dek?”

“Iya Mas, bentar lagi. Ini nanggung lukanya.”

Panji terdiam, memandang Aline yang dengan telaten merawat lukanya. Kekasih hatinya ini paling mantap kalau urusan merawat, maklum lulusan perawat. Cuma nasib saja yang membawanya jadi admin di pabrik. Panji masih terdiam, mensyukuri sekaligus mengutuk kondisi ini. Ada jurang besar diantara mereka.

* * *

Sebuah undangan warna merah terkapar di meja. Seonggok tisu terkapar pula di sebelahnya. Panji? Ikutan terkapar di lantai. Kamar kos yang sudah pengap itu mendadak sendu. Butiran air mata mengalir mulus di wajah Panji, seorang kepala seksi di sebuah pabrik, seorang staf yang selalu galak di depan mesin Marchesini, seorang auditor yang ditakuti oleh supplier-supplier, kini terkapar menangis.

Undangan warna merah itu tampak sederhana, tapi tentu maknanya jauh dari sederhana bagi Panji. Tentu saja, karena nama yang tertulis di undangan itu adalah Aline Fitriani. Dan bagian terburuk dari semuanya adalah disana tertulis bahwa Aline Fitriani akan menikah dengan sebuah nama, yang tentu saja bukan Kristoforus Panji.

Kalau saja operatornya melihat Panji sedang guling-guling di kamar macam ini, maka wibawanya akan musnah seketika. Tapi Panji kan juga manusia, menangis dan sedih adalah hak seluruh umat manusia. Panji pun terkapar sampai pagi tiba, dengan mata yang mulai bengkak.

* * *

“Mutasi, Bu?” tanya Panji pada Ibu Sum, manajernya.

“Bukan mutasi, Panji. Ini promosi. Bagaimana?”

“Promosi? Kenapa ke bagian lain?”

“Hahaha, kamu ini. Kalau mau tetap disini, mau nunggu kapan kamu jadi manajer?”

Panji terdiam. Promosi adalah perihal bagus kalau bicara soal gaji dan fasilitas. Tapi tentu saja beban kerja dan beban hidup mengikuti. Dan yang paling parah, mutasinya bukan ke tempat lain di pabrik itu, melainkan ke departemen Planning. Bukan perihal kerjanya, tapi tentang admin di departemen itu. Iya, namanya Aline Fitriani.

“Kalau gitu saya pikir-pikir dulu Bu. Terima kasih tawarannya,” jawab Panji sambil tersenyum.

* * *

“Sadar.. Sadar.. Udah jelas nggak bisa ini,” gumam Panji sambil tetap menampar-nampar pipinya.

Ada suatu masa ketika Panji sadar dengan kenyataan, tapi ada suatu masa lain ketika Panji merasa gila dan bodoh atas perjalanananya selama ini. Atas hubungannya selama 3 tahun dengan Aline yang berakhir tidak menyenangkan. Atas hidupnya yang penuh dengan Aline, bahkan hingga sekarang.

Sayup-sayup terdengar di telinga Panji,

“Tak pernah kumengerti, aku segila ini, aku hidup untukmu, aku mati tanpamu
Tak pernah kusadari, aku sebodoh ini, aku hidup untukmu, aku mati tanpamu.”

Panji menundukkan kepalanya, berusaha tenang atas pergolakan laten yang sedang memasuki masa timbul kembali. Tangannya bergerak ke kening, dada, bahu kiri, dan kanan. Sebuah tanda ini sejenak membuatnya tenang. Nafasnya mulai ringan, wajahnya perlahan mencerah. Sebuah kesadaran ternyata bisa muncul berkali-kali untuk hal yang sama.

* * *

*sebuah interpretasi dari lagu NOAH-Hidup Untukmu Mati Tanpamu

#300

Buat saya ini gila.

Yah, ketika blog ini dimulai dengan memakai domain jadul kreasi 2008, siapa yang mengira jalannya akan semacam ini. Dan yang bikin agak unik, blog ini dimulai beberapa waktu sesudah ada tawaran menarik untuk karier, dan angka 300 juga tercapai tidak jauh dari hal yang sama.

Apa saya begini-begini saja?

Entahlah.

Ya, buat saya 300 itu angka yang besar untuk dicapai dalam waktu 1,5 tahun saja. Ehm, ada bulan-bulan ketika saya bisa menulis hingga 40 post, tapi untunglah sejak Januari 2011 itu, saya belum pernah putus menulis sebulan. Setidaknya kontinuitasnya bisa dilihat di sisi kanan blog ini.

Jadi apa makna 300 ini?

Nggak lebih dari karya. Saya punya 300 post yang total jenderal dilihat 35 ribuan kali. Masak yang begitu nggak disyukuri?

Jadi, terima kasih kepada SELURUH pembaca ‘Sebuah Perspektif Sederhana’. Meski perlahan isinya tidak lagi sederhana, setidaknya masih ada yang meluangkan waktu membaca tulisan-tulisan saya.

Semoga saya bisa lanjut ke 400, 500, 1000, dan angka-angka milestones lainnya. SEMOGA!

Gembira

Rumah itu perlahan terbentuk. Pondasi jadi, dinding berdiri, daun pintu terpasang, bahkan marmer lantai juga sudah ada pada posisinya. Tukang-tukang bekerja dengan giat, kadang mandor datang melihat kinerja tukang. Ada pula arsitek yang merancang rumah itu, ikut pula ada disana.

“Wahai para pekerja, besok pemilik rumah ini akan datang, melihat rumah yang kita bangun ini. Persiapkan sebaik mungkin ya,” seru Mandor di sore hari menjelang tukang-tukang pulang.

Esoknya, para tukang bekerja banting tulang menyelesaikan bagian-bagian yang belum dipoles dari rumah indah itu. Beberapa kali spesialis tukang batu ikut ngecat demi menyelesaikan bangunan yang luas itu.

“Pasti oke ini rumah mah,” seru tukang spesialis listrik.

Tukang batu yang ikut ngecat tadi tersenyum simpul. Dia barusan ngecat di stop kontak yang belum terpasang. Dia juga baru ngecat langit-langit yang bolong karena paku kabel.

Akhirnya pemilik rumah datang, melihat-lihat. Mandor menemani pemilik rumah dengan ‘speak-speak’ yang mumpuni.

“Ini dari batu kali gunung Merapi Pak, langsung!” ujar Mandor berapi-api.

Tukang batu tadi menoleh sebentar, lalu geleng-geleng. Dia tentu masih sangat ingat kalau baru kemarin mengambil batu di toko batu langganan. Geleng-gelengnya berlanjut seiring ayunan tangannya pada kuas.

“Oke, bagus. Kinerja kalian luar biasa,” kata pemilik rumah dengan tersenyum bangga.

“Terima kasih Pak. Silahkan datang kali seketika, kami siap memuaskan Bapak,” seru Mandor.

“Baik. Karena kesuksesan kalian, saya kasih bonus!”

Tukang-tukang senang mendengar itu. Mandor dengan berapi-api mengucap terima kasih pada pemilik rumah. Tukang batu tadi mengoles cat terakhirnya dan melangkah keluar perlahan dari rumah tersebut.

Tukang-tukang yang lain berkerumun pada kabar bonus dari pemilik rumah. Tukang batu itu menjauh sambil menatap.

Selalu ada cara yang berbeda untuk gembira.

Apresiasi

Teman-teman sekalian yang sering terpaksa klik link di facebook dan lantas nongol di blog ini, saya mau bilang terima kasih banyak atas kesediaan teman-teman untuk nge-klik dan membaca tulisan-tulisan saya.

Sebagai makhluk yang baru belajar (kembali) menulis, memang kadang tulisan-tulisan saya jadi agak GEJE. Hehe. Secara umum, tulisan saya memang nggak sedetail dan semanis punya Tere. Atau juga tidak se-sentimentil Yola. Apalagi sebijak Bos DP dan segila Pak Enade. Tapi namanya juga baru belajar (kembali) menulis. Hehehe.

Setiap teman-teman yang membaca adalah berkah buat saya. Sebuah tulisan hanya akan jadi paparan huruf tak bertuan tanpa ada yang membaca. Lebih baik lagi, jika memang ada feedback. Saya sangat senang jika ada yang bilang “bagus”, “menarik”, “galau”. Dan saya juga sangat senang apabila komentarnya ada buntutnya “bagus sih, tapi…”, “boleh juga, tapi lebih mantap kalau…”

Apapun itu teman-teman, setiap feedback adalah masukan yang berharga buat saya. Jadi, mohon, kalau ada sanggahan atau apapun ketika membaca tulisan-tulisan saya, silahkan di-feedback. Saya bukan orang yang mudah menerima kritik, pada dasarnya. Tapi dalam hal ini, saya memilih untuk terbuka pada apa saja karena saya sadar hanya cara itulah yang dapat mengembangkan saya.

Sekali lagi, terima kasih. Dan nantikan kisah-kisah sentimentil-melankolis berikutnya. Tapi btw, saya sudah berusaha menyisipkan komedi lho. Terasa nggak ya? 🙂

Salam!

Sebuah Langkah (Besar)

Yah, sudah tanggal 12. Malah pas jam 12:34 AM pas saya mengetik ini. Angka yang cantik. Hehehe.. Lewat sudah 11 Januari 2012. Maka, saya harus memulai kehidupan baru di usia 25 tahun dengan 11 cita-cita yang harus dipenuhi. Heh? 11? Banyak amat? Yah, tambah umur tambah ganas dong. Soalnya, sekadar sharing, pas usia 24 tahun kemarin, ada 4 cita-cita dan yang tercapai hanya 1. Semacam tidak konsisten. Yang dua statusnya hampir, dan yang satu gagal total.

Ibarat prinsip Balanced Scorecard, saya ingin membuat cita-cita dalam perspektif yang sama. Semoga bisa.

Terima kasih kepada seluruh teman-teman atas perhatian yang diberikan, via FB, via SMS, via Twitter, via Whatsapp, sampai salaman langsung. Itu berarti banyak buat saya. Dan asal tahu saja, kemarin saya menyelesaikan 5 request document. Hahahaha.. Kerja saya kemarin sudah cukup keras ternyata. Entah kenapa, pas pulang rasanya puas sekali bisa menyelesaikan dokumen-dokumen ini.

Baiklah..

11 cita-cita itu cukup menantang. Tapi untuk maju memang butuh tantangan. Saya perlu benar itu guna mencegah pemborosan waktu. Ingat, time is money. Memboroskan waktu, berarti juga memboroskan UANG. Haduh. Tapi lebih penting lagi, memboroskan kesempatan yang ada untuk memenuhi cita-cita.

Okelah.

Sudah pagi. Nanti mau kerja, seperti biasanya.

Semoga di usia yang baru, saya bisa lebih mantap dengan sebuah langkah yang tentunya BESAR!

Amin

😀

Dua Puluh Lima

Entahlah.. Saya itu orangnya terlalu ngeh sama angka-angka. Mungkin itu pula ya yang bikin saya kerjanya di area kotak dan angka. Sampai muka bentuknya sudah kotak dan angka. Hehe.. Tapi serius, dulu waktu mau usia 17 tahun, rasanya ngeri. Demikian pula pas mau usia 20 tahun, ngeri juga. Yang 17 nggak kebayang bagaimana rasanya jadi “dewasa”. Sedangkan 20 tahun relevan dengan kepalanya yang sudah 2, dan waktu itu saya belum pernah pacaran. Hahahaha..

Dan hari ini, 11 Januari 2012, saya sudah 25 tahun.

Astaga!

Saya sudah seperempat abad ada di dunia yang fana ini.

Apa yang sudah saya dapat, apa yang sudah saya punya, apa yang belum saya capai?

Ketiga pertanyaan itu jawabannya sama: BANYAK!

Terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan saya tubuh yang sehat. Sebagai Apoteker yang teregistrasi dan berkompeten (ditandai dengan STRA dan sertifikat kompetensi, asline yo mboh..) saya cukup paham bahwa tubuh yang sehat adalah sumber dari segala upaya di dunia. Untuk itu, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Tuhan.

Terima kasih juga pada orang tua saya yang sudah melahirkan (ini tentunya mamak saja) dan membesarkan saya sampai sejauh ini. Meskipun lama-lama persentase waktu saya hidup seorang diri dan di bawah naungan orang tua semakin berkurang, tapi itu kan bagian dari hidup. Saya merantau umur 14, artinya sudah sekitar 11 tahun saya merantau. Tiga tahun lagi, sudah imbang itu. Hehehe…

Terima kasih pula kepada adik-adik saya yang heboh minta ampun. Kalau tidak ribut maka itu pasti bukan kita. Meskipun saya tahu kalau mereka kurang sopan sama saya, tapi setidaknya hanya mereka yang dengan teguh dan konsisten memanggil saya dengan BANG ALEX. Hahahahaha.. Yo kudu kuwi..

Terima kasih kepada teman-teman, dimanapun, yang telah ikut membantu membentuk diri saya seperti sekarang ini. Mulai dari diri saya yang lumayan paham spreadsheet hingga saya yang lama-lama semakin fasih misuh ala Jawa Timur-an. Halah. Tapi serius, lingkungan tentunya memberi banyak pengaruh pada diri kita, dan di lingkungan itu ada kalian wahai teman-teman!

Yah, seperempat abad ada di dunia.  Banyak sekali riak-riaknya. Syukurlah saya dilahirkan sebagai melankolis sehingga setiap detail dari riak-riak itu terekam baik di otak saya. Mulai dari luka parah waktu lompat jauh pas SMP, ikut cerdas cermat filateli, juara lomba PBB di Ngarai Sianok, juara lomba gerak jalan se-Bukittinggi, nyasar di Kusumanegara waktu kelas 1 SMA, ikut workshop di Kanisius, juara lomba menulis, retret, membuat mading, nongkrong di perpus, Titrasi, angkringan tugu setiap malam minggu galau, berdoa minta jodoh di ganjuran dan sriningsih, wisuda, praktek kerja di ibukota, tugas di Nias, sumpahan apoteker, kerja di pabrik ternama, menggalau di simpang patal dengan bandreknya, jadi kiper di liga kantor, bolak-balik naik pesawat, bolak-balik nginap di hotel, pindah kerja, dan banyak lagi hal yang sudah saya peroleh di dunia ini.

Thanks a lot!

Sekarang saatnya bertindak. Yah, usia saya sudah berkurang 1 dari yang diberikan oleh Tuhan pada awalnya. Kalau memang Dia memberi 60, maka usia saya tinggal 35 tahun. Kalau diberi 70 maka usia saya tinggal 45 tahun. Yah, seperti itulah.

Artinya, jangan lama-lama berkutat untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan kata hati. Kata hati adalah mimpi. Maka, mulai hari ini, saya harus FOKUS pada semua mimpi-mimpi saya. Dan asal tahu saja, mimpi saya itu banyak (tidak termasuk mimpi basah ya..)

HAPPY BIRTHDAY TO ME.

I’m 25 Years Old Now.

🙂

2011: Sebuah Evaluasi

Gambar di atas saya capture dari laporan yang masih ke email saya tentang aktivitas blog ini. Yah, disebutkan serupa dengan 7 kali konser di Sydney Opera dengan kapasitas full. Hahahaha.. Itu kan bisa-bisanya wordpress saja. Katanya juga ada 131 posting. Yah baiklah.

Masih saya ingat ketika tawaran promosi mengalihkan dunia saya kembali ke tulis menulis. Entah ada hubungannya atau tidak. Tapi itulah keadaanya. Maka saya mulai menulis dan menulis. Di blog inilah semuanya dimulai kembali. Tidak lama sesudah kehadirannya, sebuah tulisan meluncur ke Majalah HIDUP dengan judul Generik dan Katolik, seakan pembuka jalan. Memang kegagalan demi kegagalan masih dan pasti akan terus ada. Buat saya sih tidak masalah, sepanjang kehidupan diberi pelajaran oleh kegagalan itu.

Tahun 2011 adalah tahun keempat blog ini, sebenarnya. Blog ini lahir mid 2008 dan tidak disentuh sampai 2011 awal.

Maka dengan berlangsungnya waktu dan kemudian banyaknya tanggung jawab di tempat lain, maka perlu evaluasi.

Banyak komen muncul dan memberikan itu, dan saya berterima kasih untuknya.

Terima kasih pula untuk teman-teman yang setia melihat blog ini. Ada yang kadang menagih tulisan karena beberapa waktu blog ini sepi. Malah ada gembel bangun lapak di dalamnya. Hehe..

Maka, di 2012 ini, saatnya semangat baru, jiwa baru, kreativitas baru, dan semuanya mesti diperbaharui.

Oiya, buat saya tahun baru tidaklah cukup penting. Mengingat ulang tahun saya tidaklah jauh dari tahun baru, maka yang namanya resolusi, saya kaitkan dengan pertambahan usia saya.

Okehhh.. Semakin tidak nyambung deh.. Gpp kan ya?

Selamat menikmati tahun yang baru!