Braga, I’m In Love

Iya, ini nyontek judul salah satu novel teenlit pertama yang pernah saya beli. Nggak apa-apa, Braga kan bukan Eiffel dan Eiffel juga bukan Braga. Lagipula kan nggak ada Eiffel Culinary Night karena adanya Braga Culinary Night.

BCN1

Perihal nama Braga, saya justru teringat ketika saya masih hobi mendengarkan pertandingan sepakbola. Tenang, itu bukan typo. Saya benar-benar mendengarkan pertandingan sepakbola melalui Radio Republik Indonesia. Dan karena saya menghabiskan masa muda menjelang dewasa, maka pertandingan yang saya dengarkan adalah PSIM dan PSS. Kalau di RRI itu, pertandingan biasa aja bisa jadi seru banget.

“Yak, bola ditendang, melewati garis tengah… Berbahayaaaaa.. Dannnn… Mereka jadian saudara-saudara…”

Begitu kira-kira.

Selanjutnya!

Advertisements

Kenyataan Hidup Cowok Ketika Cewek PMS

“Kamu harus tahu, PMS itu nggak enak!”

Begitu kata seorang gadis manis kepada saya, beberapa hari yang lalu. Eh, ini nulis posting juga sambil ber-WA ria sama dia sambil berdoa kata-kata saya di WA tidak memancing kondisi tertentu di saat keadaan senggol bacok. Iya, cewek PMS itu ibarat kata senggol bacok gitu. Salah bertindak, ya kena bacok. Jangan harap kena cium.

Jadi apa itu PMS? Ini saya nulis sebagai seorang apoteker dengan sertifikat kompetensi expired ya. Boleh dipercaya, boleh juga tidak. Bagaimanapun seorang apoteker harus paham soal PMS karena termasuk dalam kuliah farmakoterapi, kalau nggak paham ya nggak lulus. PMS adalah singkatan dari Pre-Menstrual Syndrome berupa serangkaian gejala emosional–kadang disertai gejala fisik–yang terkait dengan siklus menstruasi seorang cewek. Ingat, siklus menstruasi. Jadi kalau ada wanita hamil ngeluh PMS, itu sudah pasti dusta, bro! Oya, bahkan mekanisme mendetailnyapun belum diketahui secara pasti. Ini beda banget dengan semisal anak-anak farmasi bisa menjelaskan bagaimana asam mefenamat bisa menghilangkan nyeri. Jadi, sudah jelas kalau misterius. Hih!

Eh, menstruasi itu apa lagi?

Seperti kita ketahui, kaum hawa dapat jatah sekian sel telur yang akan nongol satu-satu setiap bulannya. Kalau sel telur itu nggak dibuahi alias nggak ketemu sperma, dia akan meluruh dengan sendirinya. Nah, proses meluruhnya sel telur yang sudah matang ini yang disebut menstruasi. Jadi, logis banget kalau gadis manis tadi bilang ke saya bahwa PMS itu nggak enak, soalnya memang ada sesuatu yang bakal keluar dari dalam tubuh. Yah, saya bicara teoritis, sih. Maklum, jomblo-jomblo begini saya masih cowok, jadi nggak paham rasanya menstruasi. Yang saya ingat dari masa kecil, jika pengasuh saya pulang dari warung dengan gembolan agak besar yang dia samarkan sebagai “roti”–kemudian saya tahu kalau itu pembalut–maka hampir bisa dipastikan mood si pengasuh bakal nggak enak sepanjang waktu.

*kemudian nangis mewek manggil Mama*

*eh, lagi PMS juga*

*combo!*

Oke. Saya bisa pastikan bahwa 99% cowok berpasangan di dunia ini pasti paham bahwa masa PMS pasangannya adalah masa-masa krusial. Maka, bersyukurlah kaum jomblo kayak saya ini yang tidak harus berhadapan dengan masalah yang datang sebulan sekali ini. Well, berikut coba saya kumpulkan beberapa kenyataan hidup yang harus dihadapi cowok, ketika ceweknya PMS. Coba dicek, perspektif jomblo ini bener apa nggak.

Selengkapnya!

Pengalaman Pertama Bersama Batik Air

NAIKNYA KAPAN, DITULISNYA KAPAN.

Ya, namanya juga penulis nggerus. Saya akan lebih mementingkan nggerus daripada nulis tentang perjalanan. Jadi ketika sekarang sempat, yuk, ditulis! Berhubung kemaren saya berhasil mengompori mbak-mbak ini untuk memposting cerita yang throwback, jadi sekarang bikin sendiri. Ini masih untung saya nggak nulis cerita throwback dengan maskapai berikut:

1387810544372_Edit

Alkisah bulan Desember silam saya dapat titah dari bos di rumah untuk menerima raport adek yang dulu kecilnya saya cebokin. Bukan hal mudah, soalnya terima raportnya di Jogja. Wali kelas AKAP. Saya ternyata sebelas dua belas sama Rosalia Indah. Saya sendiri mengiyakan, tapi nggak beli tiket. Biasanya ke Jogja itu cukup 2-3 hari sebelumnya saja ke agen Kramat Djati atau Lorena. Sampai kemudian saya sadar bahwa di hari Jumat saya harus memimpin closing meeting karena kapasitas saya sebagai koordinator tim internal audit. Artinya? Nggak bisa izin pulang cepat untuk naik bis.

Dan saya juga lupa, kalau tanggal itu adalah awal mula liburan panjang menjelang natal. Mana arah saya ke Jogja, pula. Walhasil, begitu sadar, seluruh moda transportasi penuh. Kecuali satu: Batik Air, Business Class. Dengan kondisi mau tidak mau, ya sudahlah, beli! Ini memang bukan tarif perjalanan termahal saya. Paling mahal tetap Garuda Business Class Jakarta-Medan, 2 jutaan, bonus sekabin dengan Ivan Gunawan dan Eko Patrio. Masalahnya adalah uang segitu ditanggung PMPK UGM. Kali ini saya harus menanggung 1,6 juta untuk sebuah perjalanan yang biasanya cuma habis 165 ribu. Untunglah ada THR! Kalau tidak, mungkin harga itu harus dibayar dengan ngelap dinding pesawat selagi terbang.

Nah, jadi gimana perjalanan saya bersama Batik Air? Ini dia.

Flight saya adalah 05.50, dan saya sudah tiba di bandara sekitar jam 4. Kisah kehadiran saya di bandara ini juga ada sendiri, setengah memalukan pula. Jadi disimpan saja. Ketika saya check in sebagai penumpang kelas bisnis, petugas counter langsung memanggil seorang petugas dengan posisi “ambassador”. Ah, ini dia enaknya kelas bisnis! Satu hal yang saya sayangkan, ambassadornya lelaki, padahal saya juga lelaki. #IFYOUKNOWWHATIMEAN

Ambassador ini kemudian mengantar saya ke atas. Sebagai pecinta penerbangan murah, saya sih nggak usah ditemani kalau main-main di T3 sini, sudah beberapa kali juga terbang dari tempat penuh cahaya ini. Tapi ya sudahlah, namanya juga fasilitas. Mas-mas ambassador membawa saya ke lounge di pojokan lantai 2 T3. OKE! SIKAT SEMUA MAKANAN YANG ADA! #NGGAKMAURUGI. Plus, dia juga mengurus boarding pass saya. Dan karena saya pelit, jadi nggak ada tips. Sekian dan silakan beli buku saya, Oom Alfa.

Sesudah menghabisi aneka makanan yang ada di lounge dan gagal mendapatkan plastik untuk membungkus nasi gorengnya, saya bergegas ke ruang tunggu. Dan tidak lama kemudian segera masuk ke pesawat. Kebetulan, saya punya teman blogger yang bekerja di maskapai ini, dan sebuah postingnya langsung membuat saya segera mencari kostum pramugari bermodel seperti apa. Sekadar untuk membenarkan sebuah posting yang pernah dia tulis.

Saya duduk di 1F. Ini pertama kali duduk di pesawat tanpa kursi di depan mata. Begitu saya duduk itu, penumpang-penumpang kelas ekonomi melihat saya dengan tatap tidak percaya, setenganya mencubit diri sendiri, separuhnya menampar-nampar pipi sendiri, seolah berkata, “mana mungkin ada gembel duduk di kursi bisnis?”

Suguhan pertama sebagai penumpang kelas bisnis adalah minuman mungil. Gelasnya bagus, pula. Dan tentu saja lap tangan hangat yang disajikan bersama senyuman hangat. Jadi ingat betapa ndeso-nya saya di penerbangan Jakarta-Medan yang mengira bau setengah hangus itu adalah pertanda petaka, eh…ternyata hanya aroma handuk panas.

Kayaknya sih apel..

Kayaknya sih apel..

Duduk di depan sini ternyata lega banget! Maklum, 70-an penerbangan saya lainnya memang menggunakan kelas ekonomi, sesuai muka.

Begitu pesawat mengangkasa diiringi bunyi sangkakala, saya segera mencoba servis lainnya. Mulai dari layar sentuh, sampai makanan sepanjang jalan. Dasar nasib, layar sentuh saya kayaknya agak rusak, jadi saya tidak bisa buka film, atau apapun. Sementara bapak-bapak di sebelah saya ketawa ketiwi melihat layar sentuhnya. Atau, apakah di layar sentuh itu ada blog ariesadhar.com sampai di ketawa begitu? Semoga.

Soal makanan juga juara. Kece badai, pokoknya. Dan tentu saja nggak semua bisa dihabiskan, apalagi perut saya masih penuh sesudah menjarah isi lounge tadi.

Full service...

Full service…

Satu hal yang agak disayangkan lagi adalah perjalanan ini penuh cuaca buruk. Jadi saya nggak bisa mengoptimalkan si Eos. Belum lagi, untuk pertama kalinya telinga saya bermasalah, suatu hal yang hanya terjadi pada penerbangan Batavia Padang-Jakarta, 2004. Mungkin karena efek duduk di depan ya? Atau karena saya ingat harga tiketnya yang akan menyebabkan saya bakal makan mie instan sewindu ke depan?

Untunglah begitu sampai Jogja, saya masih diberikan kesempatan memotret kota Jogja. Saya kan sering mabur ke Jogja dulu pas LDR, jadi paham bahwa akan ada view cakep di sisi kanan. Jepret, deh!

Mandala Krida

Mandala Krida

Saya lalu mendarat dengan tampan di bandara Adisucipto sekitar jam 7. Penerbangan yang singkat, tapi sukses bikin saya budeg sepanjang jalan. Tapi kalau soal servis yang diterima, bagi saya cukup sepadan dengan harga yang dibayar. Ya, meskipun kalau buat saya, naik kelas bisnis lebih direkomendasikan pada penerbangan yang lebih jauh dari sekadar Jakarta ke Jogja atau Palembang.

Nah, saya boleh kasih masukan sedikit ke Batik Air nggak ya?

Kalau boleh, saya mau kasih masukan soal lounge. Ini mending saya terbang pagi, jadi isu antre ruang tunggu nggak terlalu mengemuka. Soalnya, ini agak beda dengan pengalaman saya sebelumnya ketika lounge ada di dalam ruang tunggu. Jadi, ya santai-santai kayak di pantai sampai ada panggilan boarding. Lah kalau di T3, harus antre lagi. Saya pengen memanfaatkan keunggulan kelas bisnis saya, tapi nggak tahu harus lewat mana. Jadi ya sudah ngantre saja. Jadi, saran aja, kalau memang hendak mengoptimalkan lounge opsinya dua. Satu, pasang lounge di dalam ruang tunggu. Dua, pasang ambassador menunggu di dalam lounge.

Sama satu lagi sih, kalau bisa layar sentuhnya yang bagus dong, kayak punya kursi sebelah. Kan saya iri hati, gitu. Sisanya, boleh deh dipertahankan.

Posting ini sama sekali tidak berbayar, hanya semata-mata nggak pengen THR saya musnah tanpa ada sisa cerita untuk dikisahkan saja, kok. Cuma kalau ada yang pengen dibikinin posting berbayar, ya boleh aja, sih. HAHAHAHAHA. Oya, sebagai penutup, saya hendak menginformasikan bahwa untuk kompensasi kantong, saya kembali ke Cikarang dengan naik…

…Pahala Kencana. #okesip

[Review] Comic 8

TELAT!

Film ini sudah tayang berhari-hari dan saya baru ngetik review? Lah piye, saya juga barusan kelar nonton. Sesudah bertualang dari shuttle ke shuttle–bonus angkot–akhirnya bisa menjamah bioskop lain. Rasanya baru kali ini saya nonton di tanah kekuasaan Ratu Atut. Begitulah, orang sibuk, jadi baru sempat nonton. Selama ini saya sibuk mencari orang yang mau diajakin nonton Comic 8. Gitu, sih.

comic-8-140122c

Sudah cukup banyak review tentang Comic 8. Bahkan agaknya ini adalah film dengan review terbanyak, dan sebagian penulis yang juga blogger juga melakukan tinjauan untuk film ini. Tentu saja, diantara si Comic 8 itu saja, setidaknya ada Kemal dan Ernest yang penulis buku. Pandji-pun juga. Jadi, mungkin akan sia-sia jika saya mereview soal tokoh dan jalur cerita.

LANJUT 😀

Nulis Komedi, Yuk!

Beberapa hari yang lalu, saya dapat informasi bahwa sebuah naskah komedi saya diterima di sebuah antologi. Well, dengan demikian saya segera menyongsong antologi mayor ke-4, sesudah “Kebelet Kawin, Mak!”, “Radio Galau FM Fans Stories”, dan “Curhat LDR”. Sebuah pencapaian yang sebenarnya terlambat jika menilik ke usia saya yang sudah kepala lima ini. Sebentar lagi sudah punya cucu.

*itu dusta*

*pacar aja belum ada*

Dari 3 antologi yang sudah ada, 2 diantaranya bergenre komedi. Pada akhirnya saya berpikir, mungkin rejeki saya memang di genre ini. Soalnya kalau mau dirunut-runut dari awal saya menulis (kembali), sama sekali nggak ada niatan untuk menyentuh tulisan komedi. Silakan klik posting-posting saya di awal mula kebangkitan blog ini, di 2011, nggak ada yang lucu, atau bahkan sekadar niat ngelucu. Pun dengan antologi-antologi indie yang saya ikuti di tahun 2011 hingga awal 2012, juga tidak ada yang beraroma komedi.

LANJUT!

Kumpul Bocah Lagi

KUMPUL BOCAH! Ini salah satu kegiatan paling menyenangkan, sekaligus menyebalkan, yang hampir tidak pernah saya lewatkan sesudah berdomisili di dekat ibukota. Ternyata, oh, ternyata, dunia farmasi itu nggak jauh-jauh dari ibukota. Sebagian besar teman sepermainan saya ketika kuliah, pada akhirnya bekerja, berkeluarga, dan membeli rumah di sekitar Jabodetabek. Tentu saja semua tidak lagi sama. Bukan zamannya lagi seperti era baru berdirinya perkumpulan bernama UKF Dolanz-Dolanz yang bisa dengan seenaknya menetapkan tujuan dan beberapa jam berikutnya sudah sampai di tempat yang dimaksud. Sudah bukan waktunya lagi.

Oya, buat nostalgia, lihat-lihat gambar di awal berdirinya UKF Dolanz-Dolanz ini dulu.

Pantai Ngobaran, 2005

Pantai Ngobaran, 2005

Cukup alay, bukan?

Bagaimana dengan ini?

Pantai Ngobaran, 2005

Pantai Ngobaran, 2005

Kemaren cerita-cerita dengan temen yang berasal dari kuliahan lain, dan dia memuji model persahabatan yang dijalin oleh saya dan para Dolaners ini. Dia bilang kalau di tempatnya memang guyub pas kuliah, tapi kalau sudah lulus ya sudah sendiri-sendiri.

Nah, bagian mana sih yang unik itu?

Kumpul bocah Dolaners Jabodetabek ini dihelat pada momen-momen khas. Beberapa yang sudah terjadi adalah sesudah pernikahan, sesudah lahiran, istri lagi nggak di rumah, hingga final Liga Champions. Yang terakhir ini, meskipun tampak absurd, tapi sudah kelakon 2 tahun berturut-turut loh.

Dan, sialnya, setiap kali kumpul bocah begini, saya selalu kejatahan bully. Tentu sazah! Di saat yang lain sudah jadi Bapak, atau sudah berhasil merintis jalan jadi Bapak, saya masih saja jomblo. Udah. Gitu. Tapi nggak apa-apa, obrolan sekurangajar apapun, kalau keluarnya dari sahabat-sahabat sendiri, rasanya kok biasa-biasa saja. Dan sejujurnya, mereka-mereka dengan mulut kotornya ini yang sukses mengubah saya dari seorang-yang-amat-sangat-gampang-tersinggung menjadi seseorang yang dengan mudah mengumbar hal-hal konyol di blog, bahkan di buku saya, Oom Alfa.

Dolaners ini bahkan mengingat dan membuat urutan sendiri untuk pernikahan. Sejauh ini yang sudah terselenggara adalah #1 (Jogja), #2 (Jogja), #3 (Jogja), #4 (Lampung), #5 (Jogja), dan #6 (Pangkal Pinang). Adapun #7, #8, dan #9 sudah dibooking oleh masing-masing pemilik pasangan. Jadi, sisa 2 digit. #Okesip. Memang semakin lama akan semakin sulit untuk bisa menghampiri kondangan satu-satu, apalagi ada yang kondangannya terhitung jauh. Jadi, sesi kumpul bocah adalah perwujudan-ketidakbisaan-datang-kondangan itu.

Nah, kumpul bocah kemaren menjadi luar biasa karena mempertemukan dua bocah beneran yang adalah produk dari pasangan-pasangan yang sudah menikah. Jadi, ketemuannya sudah jelas berbeda. Kalau dulu kuliah ya sekadar nongkrong di tangga sehabis menimpa ilmu demi masa depan bangsa, lalu dilanjut ketemuan dengan pasangan masing-masing, sekarang sudah ada bayi yang merangkak di antara percakapan kami.

Waktu memang terbang begitu kencangnya.

Dengan sederet jadwal kondangan Donalers di 2014, tentu saja pertemuan macam ini bukan yang terakhir. Semoga saya masih tetap bisa ikutan, dan semoga di kesempatan berikutnya saya nggak lagi jadi korban bully. *pacar mana pacar*

Well, yuk disimak lagi gambar berikut:

Paingan, 2005

Paingan, 2005

Dan bertransformasi menjadi:

Bekasi Timur, 2014

Bekasi Timur, 2014

Kapan kita kemana?

Bukan Potongan Staf

Disclaimer dulu! Tulisan ini tidak hendak merendahkan siapapun, selain penulisnya sendiri. Kalau saya bawa-bawa tingkat pendidikan, itu semata-mata untuk memperjelas konteks ya. Semoga tulisan bisa dibaca dengan pikiran positif. Positif hamil.

Seperti bisa dilihat di profil, saya adalah seorang pemilik gelar sarjana farmasi plus apoteker. Dua gelar akademik yang saya dapat dalam 4,5 tahun. Dengan gelar itu, andai saya menjadi PNS, maka saya langsung berada di golongan III/B. Ya, walaupun masih jauh dari 36B, tapi kan tingkatannya sudah lumayan itu.

Sayangnya, gelar-gelar itu sama sekali nggak bisa mempengaruhi muka. IYA! MUKA! Entah bagaimana caranya, tapi selalu saja ada orang yang memandang rendah pada saya. Dan tahu sendiri, impresi pertama orang, apalagi kalau bukan penampilan, dan terutama muka.

Nah, di postingan ini saya hendak memaparkan beberapa pengalaman saya perihal muka yang bukan potongan staf ini.

Postingnya, Kakak!