Daftar Penyesalan: 6+1 Tempat Impian Untuk Dikunjungi di Sumatera Selatan

SONY DSC

Maret 2009, kali pertama saya melihat kokohnya Jembatan Ampera dari balik awan. Pertama kalinya pula mata saya mengagumi lekuk Sungai Musi nan mengagumkan itu. Dipadu garis nasib, akhirnya pertemuan pertama itu mengikat saya hingga akhirnya datang kembali ke Bumi Sriwijaya pada bulan Mei 2009. Kali ini sebagai manusia yang hendak bermukim di kota Palembang.

FILE048-edit

Sebuah perjodohan yang berusia 2 tahun nan sangat membekas bagi saya. Meski karena berpisah dengan Bumi Sriwijaya-lah saya jadi bisa melihat sisi lain Indonesia mulai Kendari sampai Papua. Maka, bahkan ketika sudah hampir lima tahun saya meninggalkan Bumi Sriwijaya pada umumnya dan Palembang pada khususnya, saya selalu punya kerinduan khusus pada Bumi Wong Kito Galo ini. Apalagi, banyak sekali tempat yang belum saya singgahi selama saya menjadi manusia yang minum air Musi. Tempat-tempat yang pada akhirnya berakhir sebagai perencanaan dari sekadar makan siang di kantin, tanpa sempat menjadi realisasi.

Tempat apa saja itu? Payo dijingok!

Selengkapnya!

Advertisements

Dari Kota ke Kota

Seraya mengerjakan sebuah posting tidak berbayar perihal traveling, saya mendadak ingat sesuatu. Iya, saya ingat kalau Nia Daniaty sudah pisah ranjang dari Farhat. Ah, itu sih basi. Aslinya, saya jadi ingat perihal kota demi kota tempat saya hidup. Seperti yang bisa dilihat di profil. Saya pernah hidup di Bukittinggi, Jogja, Depok, Palembang, dan kemudian Cikarang. Ibukota bin ibu tiri bernama Jakarta mungkin adalah peraduan berikutnya.

Sempat ngobrol dengan si Cici perihal bagaimana anak-anak di keluarga kami dibentuk. Simpelnya, Cici bilang, “kalau kita kan dilempar kemana juga hayuk!”

Kalau dirasa-rasa sih benar juga.

Nah, berikut sekilas petualangan hidup saya dari kota ke kota.

Kotakan.. Kotakan Sejujurnya..

Masalah Klasik Anak Kos

Lagi merenung, meratap, dan meresap. *halah*

Dan tiba-tiba kepikiran nasib sendiri. Yah, nasib saya yang sudah lebih dari 11 tahun melarikan diri dari pangkuan orang tua. Eh, tepatnya dilarikan, disuruh pergi, tapi emang demi kehidupan dan penghidupan yang lebih baik.

Dan tiba-tiba lagi terkenang pahit manis-nya jadi anak kos. Kok terkenang? Lha wong saya ini juga masih jadi anak kos. Heleh.

Ya pada intinya, berikut masalah klasik anak kos, berdasarkan pengalaman saya.

1. Antri WC

Ini semacam sepele tapi ternyata penting loh. Bayangkan rasanya kebelet, sudah lari-lari dari kamar, dan lantas mendapati kalau WC tertutup? Ini kayaknya mirip dengan mau kawin tapi terus calon kabur sama mantan. Dan rerata WC di kos-kosan itu jumlahnya nggak banyak, paling 1 atau 2 biji saja.

Belum lagi nih, kos saya yang legendaris di Mbah Mardi sana itu menerapkan konsep WC untuk semua, termasuk untuk mencuci. Jadi bayangkanlah rasanya mules, kebelet, sudah di ujung, eh di dalam WC tiba-tiba lagi asyik ngucek sambil bernyanyi riang? Bayangkanlah! Bayangkanlah! *lebay*

2. Ketika Gebetan Jadi Pacar Teman Sekos

Ini asli, asli bukan pengalaman saya. Tapi ada nih temen yang bernasib buruk dalam bercinta. Sebut aja si Roni. Roni ini nggebet si (sebut saja) Mawar Melati Semuanya Indah. Hasil pendekatan beruntun berbuah kandas.

Dan tiba-tiba…

Mawar Melati Semuanya Indah jadi rajin berkunjung ke kos si Roni. Tapi bukan ke kamar Roni, melainkan ke kamar di sebelahnya! Ihiks, gimana gitu rasanya sendiri galau pulang ke kos, lihat sandal si gebetan di depan kamar sebelah. Lalu dengar cekakak-cekikik pujaan hati, juga dari kamar sebelah.

#eaaaa

3. Nginapers dan Nebengers

Kalau ini asli pengalaman saya. Sebagai orang yang ngekos, dan punya banyak teman yang berumah di Jogja, ini konsekuensi logis. Main ke kos sih nggak masalah. Tapi kadang-kadang bikin gundah gulana.

Ada kala ketika lagi asyik sama pacar *asyik nonton TV loh* eh datang teman hendak berkunjung. Ini mah bukan pengalaman saya saja, lebih seringnya saya malah jadi pengunjung *hihihihi..*

Ada kala juga, sudah malam-malam, capek, sudah membayangkan enaknya kasur di kamar. Eh, begitu sampai kos, kamar sudah ramai dengan temannya teman. Jadi ada teman yang mengajak temannya mengerjakan tugas di kamar saya. Ini juga mirip mau malam pertama, tahu-tahu mertua ikut tidur seranjang. Ehm, gini-gini saya juga pelaku setia! Haha…

Ada juga nih, sedang asyik-asyik mimpi sama Halle Berry di sesi tidur siang, tiba-tiba kamar diketuk, dan rombongan manusia masuk, ngerusuhi. Ealah, kabur dah itu Halle Berry.

Tapi ya, kalau nggak ada yang begitu, kadang rasanya sepi. Itu kan prinsip dasar manusia, begitu ada males, begitu nggak ada malah kangen.

4. Sakit Maag

Ini penyakit wajib anak kos dan ditandai utamanya karena ketiadaan dana, terutama di akhir bulan. Wajib deh, bener. Asli bukan anak kos kalau nggak maag *apa coba?*

Menurut yang saya pelajari di kuliah, mayoritas maag itu ya disebabkan dari kesalahan pola makan. Yang dampak lain, misal pemberian obat berlebihan di masa kecil atau perlukaan lambung, itu kecil sekali.

Dan kesalahan pola makan itu terkait kesalahan manajemen keuangan. Ya, intinya mah, kalau anak kos, tanggal 1 itu makannya sate kambing, kalau tanggal 31 makannya tusukan sate kambing. Kalau tanggal 1 minum soda gembira, tanggal 31 minum air putih dari botol soda (sambil) sedih.

5. Pak Kos dan Bu Kos

Ini asli saya paling sebel. Saya pernah tuh berdiri di sebuah pintu depan kos-kosan, menunggu teman cewek. Dan saya dimarahi sama yang punya kos. “Jangan berdiri di situ!”

Ebuset, lha saya ini cuma berdiri, apa salah? Apa salah saya? *mbrebes mili*

Jadi ada yang emang galak, ada yang rese, ada juga yang menyenangkan. Tapi rerata ortu akan senang yang galak dan jam-nya terbatas, karena itu anak pasti terjamin.

Ah, apa iya? Nggak juga. Di kos cewek adik saya, masih ada juga gadis-gadis yang memanjat pagar semata pintu tinggi itu sudah digembok. Ini mah perkara manusiawi juga. Hehehe..

Yah, sekian dulu. Nanti disambung lagi. Itu tadi lebih ke pengalaman di Jogja sih. Kalau pengalaman di Cikarang dan Palembang, nanti di-share terpisah.

Okeeee… Oyeeeeee… *salaman*

Ketika Saatnya Harus Melangkah

Bulan-bulan ini, pasti banyak mahasiswa-mahasiswi yang mulai berkemas karena telah menyelesaikan studinya dan berhak untuk melangkahkan kakinya menuju masa depan yang lebih baik. Termasuk teman-teman saya di Jogja sana.

Tiba-tiba pula saya ingat ada seorang teman yang SMS, request ke saya untuk menulis cerita pindahan yang saya alami. Yah, mungkin bisa dipadu-padankan.

Kalau baru kenal saya, boleh klik page About Me di atas sana. Setidaknya, saya sudah pernah hidup dan menetap di Bukittinggi, Jogja, Jakarta, Palembang, dan kini Cikarang.

Ketika saya beralih kota, pastilah ada proses perpindahan disana. Dan ini bukan sekadar perpindahan, ini soal mengemasi semua yang kita punya, ini soal meninggalkan segala kemapanan kita disana, dan ini soal berpisah dengan orang-orang yang telah memberikan makna pada diri kita.

Dan ini sulit.

Saya memang punya kecenderungan tidak adaptif pada orang, tapi saya lumayan adaptif pada tempat. Saking adaptifnya, kalau saya pulang kampung ke Bukittinggi pasti demam. Itu akibat saya hidup di kota-kota yang panas. Yah, selain Bukittinggi, semua kota lain yang saya tinggali dianugerahi cuaca dan suhu berlebihan.

Oke, tahun 2001, saatnya saya lulus SMP. Saya harus meninggalkan kota kelahiran, rumah, orangtua, adik-adik, dan teman-teman. Well, karena alasan pribadi yang tidak perlu ditampilkan disini, saya memang harus menempuh SMA di kota selain Bukittinggi. Dan jadilah, dalam usia14.5 tahun, saya merantau ke pulau Jawa. Meninggalkan rumah bagi orang yang tidak minggat, selalu sedih. Dan itu yang saya alami. Salah satu yang menjadi penyesalan saya adalah kehilangan masa pertumbuhan adik terkecil saya. Tahu-tahu sekarang dia sudah menjulang, dan sudah berusia 16 tahun. Hmmm..

Disela-sela kuliah di Jogja, bertahun setelah perpisahan yang pertama, saya harus menjalani perpisahan yang kedua, di Jakarta. Sebenarnya cuma 2 bulan saya disana, tapi seluruh aktivitas dan kebersamaan yang ada membuat saya merasa berat meninggalkan tempat tinggal PKL itu. Tapi yang ini sudah disadari benar, karena saya nggak mungkin lulus kalau tetap disana. Iya kan? *polos..

Dan yang terberat, setelah nyaris 8 tahun di Jogja, kota yang selalu meletakkan magnet bagi orang yang sempat menghuninya, saya harus pindah. Ini paling sulit sejauh ini, karena disinilah saya ditempa benar. Saya datang dengan polos di usia muda. Dinamika yang membentuk saya ada disana. Pun dengan tragedi-tragedi serta kisah indah. Dan yang teramat sulit adalah teman-teman. Masalahnya hanya 1, saya nggak mungkin bertahan di Jogja sebagai apoteker pengangguran. Malu dong. Saya harus bergerak, meraih mimpi dengan modal yang sudah saya punya. Dan ketika satu per satu teman mendapatkan pekerjaannya, dorongan itu makin kuat. Saya harus pindah, meski itu berat.

Dua tahun kemudian, saya membuat pilihan. Kalau yang pertama, sedikit banyak karena pilihan orang tua, yang kedua karena memang harus kembali, yang ketiga apapun pilihannya adalah harus pindah (yang jadi soal, pindah kemana), yang keempat ini, saya punya pilihan untuk tidak pindah. Ini juga sulit. Saya yang benci perpisahan, atas dasar banyak pertimbangan, memutuskan untuk membuat sendiri perpisahan itu karena saya yang meminta. Fenomenanya sama dengan yang ketiga. Saya datang ke Palembang itu ternyata masih polos, nggak ngerti apa-apa. Sampai saya 2 tahun berkembang dan memiliki nilai. Dan sebenarnya saya masih bisa mendapatkan nilai lain dan perkembangan. Disinilah peran keputusan. Pada akhirnya, keputusan itu menuntun saya untuk membuat perpisahan saya sendiri, perpisahan yang terjadi semata-mata karena kehendak saya.

Ada saat kita harus diam, jalan di tempat, jalan lurus di jalan yang kita lewati. Ada kalanya kita harus berbelok lewat jalan lain untuk mencapai tujuan kita.

Itulah kehidupan.

Sekilas Palembang: Tentunya Versi Saya :)

Kategori blog ini yang sepi adalah Menjalani Perjalanan. Hmmm.. Diisi ah.. hehehe..

Sekarang saya mau cerita tentang Bumi Sriwijaya, Palembang. Nggak cukup lama saya disana, cuma dua tahun sekian hari. Tapi lumayanlah bisa sedikit berbagi kepada saudara-saudara sekalian yang belum pernah ke Palembang.

Palembang terletak di Provinsi Sumatera Selatan. Aksesnya banyak, bisa naik bus, bisa naik pesawat, bisa juga naik jetfoil. Saya pernah naik bus dan naik pesawat. Kalau naik bus, turun di terminal Alang-Alang Lebar yang alangkah jauhnya dari kota. Beberapa bus punya pool di Jalan Soekarno Hatta dekat kompleks perumahan Polygon. Jadi lebih enak turun disini, tinggal ngojek dikit, turun di Radial, bisa lanjut angkot ke tempat tujuan. Kalau naik pesawat, turunnya di Bandara SMB II, bandaranya keren, soalnya baru. Nah, tempat ini nggak terlalu jauh dengan terminal. Dan itu berarti, sama-sama jauh dari kota hehe.. Tapi ada taksi, seperti halnya bandara lain, ada yang gelap dan ada yang tidak gelap.

Mau menginap? Ada banyak hotel di Palembang, terutama menjelang Sea Games ini. Di sekitar Mall Palembang Square ada Hotel Aryaduta, ada Hotel Horison. Yang murah ada Hotel Barong. Ke arah bukit, di kiri-kanan jalan banyak hotel murah. Ke arah Sudirman, ada Jayakarta Daira, ada Anugerah. Masuk sedikit ke Mayor Ruslan juga banyak penginapan kecil, termasuk Kos Cece Meytin tercinta.. wkwkwk.. Di Rajawali juga banyak hotel, yang baru ada Grand Zuri disana. Pokoknya banyak pilihan.

Palembang memang menuju metropolis, terlihat dari kemacetannya. Hehehe.. Tapi serius deh, di beberapa titik, macetnya nggak kalah sama ibukota. Terutama jam pulang kerja, di daerah Simpang Charitas, Simpang Patal, atau di Jalan H. Burlian. Kudu sabar dan tawakal disana.

Objek wisata, pastinya jembatan Ampera. Nggak sukar menuju Ampera, cari saja angkot yang tulisannya Ampera. Entah lama atau sebentar pasti nantinya juga lewat Ampera. Jembatan ini masih saja kokoh berdiri dan menjadi penghubung dengan area yang mulai berkembang di Sebrang Ulu. Di daerah Sebrang ini ada Stadion Jakabaring yang kesohor itu, berikut ada bangunan-bangunan yang terkenal karena kasusnya Pak Nazarudin. Lho?? Ada juga Kompleks Pertamina di Plaju, dan ada Stasiun Kereta Kertapati.

Makanan? Nggak usah ditanya. Hahaha.. Pastilah pempek. Tepung bergumul dengan ikan dan dicelup cuko ini bertebaran di Palembang. Ada beberapa jenis pempek, dari kapal selam sampai kulit. Setiap orang punya selera sendiri-sendiri, tapi yang cukup ramai dan besar itu Candy, Noni, Pak Raden, Beringin, Selamat, Viko, dan banyak lainnya. Kalau saya bilang sih, Beringin dan Candy itu disarankan. Tapi kalau untuk pempek kulit, saya saran ke Viko. Pempek kulitnya mantap joss. Hahaha..

Apalagi?

Tempat nongkrong paling sip di Palembang ada di Plaza BKB, bisa lihat muda-muda berpacaran sambil ngelihat sungai. Ada juga Kambang Iwak, yang sebenarnya cuma kolam air besar, tapi bisa disulap jadi tempat refreshing. Ada juga mall, Palembang Square, Palembang Indah Mall, bisa juga ke Palembang Trade Center. Semuanya macet pada masanya. Hahaha..

Hmmm.. Segitu dulu deh.. Sebenarnya masih banyak info-info lainnya.. Nanti lagi ya 🙂