UNdur-UNdur

Pada suatu hari di negeri amburadul, Raja menunjuk seorang patih untuk mengurusi masalah pendidikan supaya semakin amburadul. Raja menunjuk seorang mahaguru dari sebuah perguruan terbaik di negeri tersebut. Adapun negeri itu memiliki uang berlimpah untuk melaksanakan pendidikan. Terhitung 20% dari kas negeri dikhususkan untuk pendidikan.

Saking luasnya negeri amburadul, mahaguru yang ditunjuk sebagai patih tersebut kebingungan. Ia kemudian berpikir semalaman dan akhirnya memutuskan serta mengumumkan ke seluruh negeri bahwa bagi seluruh anak di perguruan harus melaksanakan ujian negeri yang dilaksanakan serentak di seluruh negeri. Bahan ujian akan sama di seluruh negeri dan dibuat oleh mahaguru lain dari berbagai perguruan yang terbaik di negeri amburadul.

Singkat cerita, 5 hari menjelang tanggal ujian yang ditetapkan, patih yang hanya duduk di belakang meja mendapati bahwa daun lontar yang akan digunakan sebagai bahan ujian di seluruh negeri belum tersedia semua.

“Bagaimana ini?” tanya Patih kebingungan.

“Tenang, Yang Mulia. Semuanya pasti akan dibereskan,” ujar pembantu Patih.

Sang patih kembali tenang-tenang di balik mejanya.

Dua hari menjelang tanggal yang ditetapkan, Patih kembali mendapat kabar bahwa daun lontar belum tersedia di seluruh negeri. Padahal ia sudah mengumumkan bahwa seluruh negeri akan melaksanakan ujian negeri secara serentak.

“Nggak bisa dipenuhi? Ada apa ini? Kemarin laporannya baik-baik saja?” tanya Patih sambil kebingungan sekali.

“Akan lebih baik kalau Yang Mulia mengumumkan pengUNduran ujian negeri di daerah yang belum mendapat daun lontar.”

Patih yang kebingungan kemudian menjalankan bisikan pembantunya. Sebagian negeri gempar karena anak-anak di perguruan sudah bersiap untuk melaksanakan ujian negeri. Dengan tenang, Patih berkata ke seluruh negeri, “Saya yang bertanggung jawab pada keadaan ini.”

Patih kemudian mengerahkan balatentara dan kendaraan berikut kuda-kuda terbaik kerajaan guna mendistribusikan daun lontar berisi bahan ujian ke seluruh negeri. Kebetulan, Raja sedang berada di negeri seberang, sedang menerima gelar kehormatan. Jadi Patih tenang-tenang saja.

Pekan berikutnya, ujian negeri masih berlangsung. Patih mendapat bisikan bahwa masalah sudah selesai. Ujian dapat dilaksanakan secara serentak. Namun pada hari yang ditentukan, ada beberapa daerah yang belum melaksanakan ujian ketika matahari tepat di atas atap perguruan. Beberapa perguruan kemudian berteriak.

Kabar berita itu kemudian sampai ke Patih.

“Kok bisa?”

“Ada sedikit masalah, Yang Mulia. Tapi tenang saja. Toh, Yang Mulia tidak pernah bilang kalau ujian akan serentak sebelum matahari tepat di atas atap perguruan kan? Hingga nanti matahari terbenam pun masih bisa.”

“Pintar sekali kamu wahai pembantuku.”

Patih lantas mengumumkan kepada rakyat kerajaan bahwa pengunduran dapat dilakukan, dan dia memang tidak pernah berkata bahwa ujian akan dilakukan serentak jamnya, tapi serentak harinya.

Rakyat mulai gamang. Anak-anak yang mereka dampingi mulai gelisah karena waktu yang tidak jelas untuk melaksanakan ujian. Padahal Patih sudah menekankan bahwa ujian ini penting sekali untuk standarisasi negeri. Patih selalu mengagung-agungkan ujian negeri sebagai satu-satunya solusi negeri guna bersaing dengan negeri sebelah.

“Mereka membuat ujian ini menjadi sedemikian sakral, tapi kemudian mereka menganggapnya remeh,” bisik ibu-ibu di pasar depan istana.

Beberapa rakyat yang vokal kemudian bersorak meminta Patih mundur dari jabatannya. Ketika berkumpul di pendopo kerajaan, Patih lantas melangkah dua kali ke belakang sambil berkata, “Lha ini saya mundur.”

Rakyat melakukan tepok jidat bersama-sama ketika menyaksikan bahwa Patih yang mengurusi kepintaran anak-anak negeri sama sekali tidak tahu bahwa di dalam kamus lontar ada beberapa arti kata mundur. Aksi tepok jidat bersama-sama ini kemudian dilanjutkan dengan aksi ngetwit bersama.

Akibat menyaksikan rakyat tepok jidat bersama, Patih melanjutkan, “Saya kemarin sudah dipanggil oleh Raja. Dan dia tidak memarahi saya. Saya hanya diminta memperbaiki ke depan agar lebih baik. Yang mengangkat saya kan Raja, jadi yang memberhentikan saya ya juga Raja dong. Enak aje lu suruh-suruh ane mundur gan.”

Seluruh pendopo riuh oleh pernyataan Patih. Dan seluruh rakyat sadar bahwa masa depan pendidikan di negeri ini ada pada orang yang salah. Bukan kisruhnya yang menjadi penekanan utama, tetapi bagaimana Patih menyikapi kisruh dengan ngeles lah yang menjadi alasan rakyat untuk berhenti berharap.

Rakyat pun kembali ke rumah masing-masing dengan tangan mengepal dan pisuhan di mulutnya. Sebagian rakyat bertemu kumpulan undur-undur di perjalanan pulang.

“Sekarang itu jalan mundur bukan tren, saudara-saudaraku. Orang salah pun bisa terus maju asal keras kepala. Itu kenapa kami memilih untuk menyembunyikan diri saja, ” ujar para undur-undur.

* * *

 

Advertisements

Suami Bunuh Istri dan Orang-Orang yang Ingin Jadi Suami

Judul macam apa itu?!?!

Judul macam itu ditulis oleh orang yang ngakunya sudah nulis di 3 antologi? Iye.. iye.. Kalau judul saya rada bagusan, saya mah udah nggak nulis di antologi, tapi bikin antologi sendiri. Udah bisa bikin buku sendiri. Udah kaya dari buku. Susah amat.

Tapi intinya gini. Tadi saya nonton berita soal pembunuhan istri oleh suaminya. Berita dan penyebabnya macam-macam. Misal disini, disini, dan disini.

Dalam kejombloan saya, pikiran ini kemudian terusik. Lha saya ini ya, yang namanya mukul wanita itu nggak pernah (paling mentok nepok jidatnya si cici). Buat saya, wanita itu bukan makhluk untuk dikuasai dan dikasari secara fisik, tapi disayangi. Sengegemesin dan sebikinemosinya mereka.

Tentu saja ni disebabkan oleh masa kecil keluarga saya yang baik-baik. Syukur kepada Tuhan. Seingat saja, dari jaman saya bisa mengingat, nggak pernah ada cerita Bapak menyentuh Mamak saya sambil marah-marah. Jadi saya nggak pernah lihat adegan suami nampar istri, nggak pernah adegan suami memarahi istri dengan frontal, nggak pernah lihat adegan istri lempar piring ke suami, dan lainnya. Yang saya lihat adalah rumah tangga yang penuh dengan perjuangan dan penuh dengan kesabaran. Proud to be part of that!

Which is, saya pernah menjadi saksi ketika di pagi buta seorang saudara datang. Saya bukain pintu, dan tidak menduga kalau dia datang. Awalnya saya kira berkunjung, eh ternyata kabur karena takut sama suaminya. Sampai sekarangpun saya masih mendengar bahwa kekerasan itu masih ada. Bahkan sampai saking frontalnya, ada anak mereka yang bilang ke Bapaknya, “kalau sampai kau pukul Ibuku, kubunuh kau!”

Hey, itu anak yang ngomong ke Bapaknya lho! Sangar e rek..

Hidup ini memang sungguh semakin keras. Saya mulai merasakan pembenaran kepada orang-orang yang kemudian nggak tahan lalu bunuh diri. Saking kerasnya, kadang kesabaran pun nggak cukup untuk menghadapinya.

Cuma, dalam kaitan dengan perkawinan. Apakah membunuh istri itu hal yang masuk akal? Bahwa membunuh saja sudah salah, apalagi ini membunuh orang yang kita bawa ke depan Tuhan dan kita minta untuk dipersatukan seumur hidup dengan kita. Ini orang yang bersama-sama dengan kita mengucap segala macam janji di hadapan Tuhan untuk selalu bersama. Dan… dibunuh?

Saya ada di usia ketika teman-teman bergantian menikah (bukan berganti-ganti menikah loh yaaa…)

Saya ada di lingkungan yang memutuskan untuk menikah itu mikir berkali-kali. Bahkan ada nih teman yang akhirnya menikah setelah kena skak dengan pertanyaan, “emang kowe bakal siap kapan?”

Lantas, apakah menikah itu kemudian hanya dimaknai sebagai legalisasi seks di muka agama dan negara? Apakah menikah itu kemudian hanya menjadi hal yang terjadi karena desakan lingkungan? Apakah kemudian menikah itu dilihat sebagai sebuah institusi yang tidak sakral sampai partnernya kemudian bisa dibunuh?

Saya tetap ingin menjadi suami bagi seorang wanita kelak. Dan saya akan belajar dari keluarga tempat saya ditumbuhkembangkan. Meski jelas darah Batak di arteri saya tentu akan buat saya nggak sesabar Bapak saya sih. Saya juga tetap ingin menjadi Bapak yang baik bagi beberapa orang anak.

Tapi pertanyaannya, sama siapa?, siapkah saya? Kalau siap, mana calonnya? Kalau nggak siap, kapan siapnya? Nggak tahu. Tapi entah kenapa, saya meyakini akan mendapatkan jawaban-jawaban itu dalam waktu yang tidak lama. Ini keyakinan saya saja sih. Sangat mungkin untuk keliru.

Yang jelas, keluarga itu adalah sakral, dan mengakhirinya dengan membunuh, apalagi dengan sebab yang sepele, buat saya adalah bentuk pengingkaran terhadap apa yang terucap di hadapan Tuhan. Kalau Tuhan tidak pernah mengingkari janjinya pada manusia, pantaskah kita untuk ingkar?

Jawabannya dalam hidup kita masing-masing *ala Romo Hari*

😀

Mendadak Sedih

Ketika orang-orang yang kita cintai butuh bantuan, pengennya pasti kita ada disana kan?

Sama persis ketika adek saya opname, besoknya mamak saya ujug2 sudah sampai di Jogja. That’s why saya nggak pernah kasih tahu kalau saya sakit, cek darah, sampai opname sekalipun, KECUALI sudah sembuh kepada orang tua saya. Supaya tidak merepotkan saja sih.

Nah, sepagian tadi saya dikasih aneka link dan kode dan entah apa namanya dari mamak saya. Yang saya pahami sih, itu semacam akun untuk data keguruan di departemen yang duitnya paling melimpah sak Endonesa tapi ngegarap UN wae amburadul.

Kenapa saya sedih?

Karena orang tua saya pasti nggak bisa mengakses segala sistem yang ribet itu. Dan pasti mereka butuh bantuan anaknya. Untung saya ini manusia online, yang selalu online dimanapun karena jomblo.

Kalau lagi begini, pengen rasanya ada di rumah, ngajarin orang tua caranya online yang baik dan benar, menggunakan komputer yang sekarang terbengkalai, memakai kabel telkom yang bayaran bulanannya nggak sampai 80 ribu, dan segala fasilitas yang menjadi lengkap setelah anak-anak kabur dari rumah.

Hahaha.. Melow amat yak?!

Oya, sedikit kritik sih buat penyedia. Mengingat anggarannya yang 20% Endonesa Raya. Meng-IT-kan sistem itu baik. Tapi ada baiknya ditunjang dengan service yang oke juga. Mosok webnya lelet sak umur-umur? Ngalah-ngalahi Manajer Sepakbola di waktu padat? Kan bisa dikasih satu komputer di sekolah buat akses khusus itu. Jadi nggak perlu menyuruh guru mengecek sendiri dengan caranya masing-masing kan?

Lagian ini ya aneh, sertifikasi belum dapat karena ada yang kurang, kurangnya apa, cek sendiri di online. Lahdalah. Minimal yak, summary yang kurang yang bisa diprint, dicetak, distribusi, lalu dilengkapi. Masak sih anggaran yang 20% Endonesa Raya itu nggak bisa cover juga?

Ini mending ya orang tua saya yang punya anak manusia online, lha yang anaknya masih cupu cupu unyu dan ngartinya cuma facebook, gimane?

Mbohlah.

Tentang Lovefacture (2)

Senangnya melihat Lovefacture bisa tembus 50-an visit dalam sehari. Entah hari apa itu. Pokoknya menyenangkan. Lebih menyenangkan lagi ketika ada yang masukin keyword Google lovefacture 31, atau lovefacture 35. Nggak nyangka judul ngawur saya ini akan ada yang nyari di Google. Yeah, walaupun itu pasti mereka yang ada di Twitter saya. Follower di Twitter hanya 200-an, dan memang posting Lovefacture hanya di Twitter, tidak di FB. Padahal di FB temannya 1000-an.. hehehe..

Mulai banyak pertanyaan, soal nama tokoh, atau siapa sih sebenarnya Alex, Bayu, Destia, dan Wilson. Mulai ada aja yang menyambung-nyambungkan. Nama sih pasti saya ambil dari nama orang di sekitar saya atau yang pernah saya temui. Alex jelas pakai nama saya–tapi bukan berarti tokoh itu saya kan? Bayu dari nama temen kos, Destia dari nama temen (pdhl adek kelas jauh banget), yang nama panjangnya sebenarnya juga ngambil nama temen kantor. Mau tahu nama panjangnya Destia di Lovefacture? Cari aja ya. Hehehe.. Juga Wilson, itu nama sepupu saya. Lalu Grace? Itu adalah nama yang dulu sering disebut di kos-kosan. Terus Eta? Itu nama perusahaan farmasi yang obatnya banyak nongol pas baksos. Nama lengkapnya mengacu ke nama seorang teman guru, yang juga blogger tapi blognya kok makbedunduk ilang. Terus, Rafa? Selain itu nama Pak RT di dekat kos, itu juga nama ex partner dari departemen pembelian. Ifa? Itu juga nama saudara saya, saudara jauuhhhh banget.

Bosen dong pakai nama yang ada di ‘Kebelet Kawin, Mak’ atau di ‘Radio Galau FM Fans Stories’. Kali-kali butuh refreshing. Hehehehehe…

Soal cerita, yang kenal saya pasti paham latar belakang saya dan memang settingnya adalah mixing dari kehidupan saya selama 4 tahun terakhir. Ingatnya setting tempatnya. Ada mess, ada cikarang, ada palembang, ada damri, ada bandara, ada jombor. Ya semacam itulah.

Tinggal 2 bab tersisa. Jangan lupa menantikan ending dari Lovefacture 🙂

Permainan Hidup

Kamu percaya permainan hidup?

10.55

My sister call me to ask about gastrointestinal drugs, ranitidine, sucralfate, and something like that. My grandmother consume all of that.

13.00

Lunch.

13.17

My editor call me and ask some questions about my book draft. It almost done. It’s a good news.

13.25

I met GA clerk, and tell me that there is a packet for me. I open it, wedding invitation from Hendra. Another good news.

13.26

My sister call me (crying) and said, “Bisa ke Jogja Bang? Simbah meninggal.”

Selamat Ulang Tahun, Bapak!

Hari ini, 14 April 2013, Bapak saya genap berusia 59 tahun (versi yang saya tahu). Ealah, bahkan ulang tahun Bapak sendiri saja simpang siur. Maklum, orang lama.. hehehehehehe..

Sebuah usia yang cukup matang memang. Dan saya amat sangat bersyukur punya Bapak yang kayak Bapak saya. *uopooo maksudeee…*

Maksud saya gini, ya bersyukur punya Bapak yang di usia 59 tahun masih amat sangat bugar. Punya Bapak yang mengajari saya gaya hidup sehat lewat dua hal sederhana: tidak merokok dan rajin berjalan. Di era dari 3 pria, 2 adalah perokok macam ini, punya Bapak yang tidak merokok adalah sebuah kebahagiaan besar. Setidaknya hal itu bisa jadi dasar bagi saya untuk tidak merokok.

Bersyukur juga punya Bapak yang jujur kayak beliau. Ehm, kalau Bapak saya nggak jujur, mungkin hidup saya nggak gini-gini amat. Kalau ingat Bapak, saya ingat seorang teman yang tahu benar Bapaknya (seorang pejabat di kementrian) bertendensi korupsi dan dia lawan mati-matian. Iya, tanpa perlu saya melawan, Bapak bahkan mengajarkan kejujuran itu pada saya.

Jadi ingat jaman dulu pernah nyolong duitnya orang tua, kalau Mamak berapi-api marahnya, Bapak nggak. Saya cuma diajak ngobrol berdua doang, dan rasanya… jlebbbb… Poin integritas itu memang sungguh luar biasa.

Bersyukur juga punya Bapak yang tidak suka bergadang, karena bergadang di usia segitu kurang baik juga. Ya iyalah, gimana mau bergadang kalau nempel kursi dikit udah molor.. *pisss pak..*

Kalaupun ada role model dalam hidup saya, ya Bapak saya ini. Meski memang satu hal yang saya anggap kurang dari beliau. Iya, hanya satu. Ambisi. Tapi entahlah, kalau tak pikir-pikir, jika saja Bapak punya ambisi berlebihan, bisa-bisa beliau sudah tersangkut perkara uang ke uang dari dulu. Apalagi mengingat posisinya sekarang yang bisa dibilang puncak karier seorang guru.

Satu hal yang memang belum bisa SAYA penuhi adalah perkara menantu dan cucu. Salah sendiri nikah di usia matang (32), dan punya anak di usia lebih matang (33) *lalu ditabok…*

Karena Bapak menikah di usia segitu, maka udah jelas kalau teman-temannya sudah pada punya menantu dan cucu. Mengingat teman-temannya menikah 5-7 tahun lebih dulu. Jadi nih, bebannya di saya. Mana jomblo pula.

Oya, Bapak saya juga ketua lingkungan abadi. Bahkan saking abadinya, nama lingkungan (rayon) dua di gereja saya itu sudah memakai nama Bapak. Rayon Santo Matheus. Kami, anak-anaknya, bahkan sering menyebut nama rayon itu dengan nama lengkap Bapak. Saking lamanya Bapak jadi ketua rayon. Hahahaha…

Selamat ulang tahun, Bapak!

Tetap sehat, tetap jujur, tetap lurusssss… (asli, Bapak saya ini beneran pria lurus.. saking lurusnya, kalo nyimpen-nyimpen duit tambahan dan nggak bilang Mamak, tetap bilang ke saya… hihihihi…)

Semoga cepat dapat menantu, dan kemudian cucu. Jangan dibalik.

😀

Penyesalan yang (Memang) Terlambat: Cara Ngopeni Laptop yang Baik

pablo (4)

Terpaksa saya menulis CNLB ini, selain CPOTB dan CPOB yang menghantui akal dan pikiran saya… *tsaahhhh…* Buat yang ngikuti Twitter saya pasti tahu kalau si lappy lagi rusak. Buat yang ngikuti FB saya, pasti tahu saya sudah 10 hari nggak update status. Suatu rekor bagi saya yang biasanya selalu menghuni newsfeed orang.

Iya, lappy rusak karena saya tidak ngopeni dengan benar.Makanya ada waktu jeda panjang kosong di blog ini. Eh, sekarang sih dia rusak, tapi masih bisa nyala. Meski setiap kali saya nyala saya selalu berdoa itu bukan saat nyala-nya yang terakhir. -_____-“

Jadi saya copas dua artikel dari blog lain saja yah..

1. dari ARTIKEL-POPULER

Laptop atau komputer jinjing, memang didesain bisa digunakan berpindah-pindah tempat atau mobile. Untuk menunjang itu, maka sebuah laptop dilengkapi dengan sebuah baterai sebagai sumber daya.  Ketahanan baterai laptop tergantung dari kualitas baterai itu sendiri. Biasanya baterai dari merk laptop terkenal mempunyai mutu yang bagus.  Namun bagaimanapun bagusnya merk laptop kita, kalau kita tidak tahu cara merawat dan menggunakan baterainya, ini bisa memperpendek usia baterai tersebut.

Ada sebagian orang, ketika menggunakan laptopnya di rumah atau di kantor,  mereka menyalakan laptopnya menggunakan AC power adaptor. Karena menggunakan AC power adaptor, dengan alasan agar baterainya awet, mereka mencopot baterai dari laptopnya. Ini sah-sah saja, asalkan saat dicopot kondisi baterai dalam keadaan penuh. Karena jika baterai dibiarkan dalam keadaan kosong dalam waktu lama bisa jadi akan merusak baterai tersebut. Tapi permasalahan akan timbul jika sewaktu-waktu mengalami listrik padam. Data-data yang kita masukkan ke dalam laptop dan belum disimpan tentu akan hilang.

Bolehkah menyalakan laptop dengan AC power adaptor tanpa mencopot baterainya? Boleh saja, asalkan keadaan tersebut tidak membuat baterai diisi ulang terus-menerus pada saat baterai sudah penuh. Karena dengan mengisi ulang baterai secara terus-menerus akan membuat panas berlebihan di dalam laptop dan memperpendek umur baterai.

Nyalakan dan gunakan laptop menggunakan baterai. Setelah ada peringatan baterai lemah, segera nyalakan AC power adaptor dan colokkan ke laptop. Gunakan lagi laptop seperti biasa dan jangan dimatikan. Setelah beberapa saat (mungkin beberapa jam), lihat indikasi baterai dipojok kanan bawah berupa gambar baterai. Letakkan cursor pada indikator tersebut. Indikator baterai akan memberikan keterangan, “80% available (plugged in, not charging)”. Biasanya, setelah mencapai batas pengisian 80%, baterai tidak akan diisi lagi.

Keadaan ini akan terus berlangsung setiap kita menyalakan laptop menggunakan AC power adaptor. Karena sebagai baterai pintar, di dalam baterai sudah ditanam perangkat elektronik, yang gunanya sebagai pengingat. Jika laptop dalam kondisi nyala menggunakan AC power adaptor dan kapasitas baterai mencapai 80% maka baterai akan secara otomatis memutus hubungan dengan sumber power dan laptop. Lantas bagaimana cara kita agar baterai bisa terisi sampai penuh 100%?.

  1. Caranya adalah sebagai berikut:
  2. Nyalakan laptop menggunakan baterai.
  3. Atur “Power Options” di dalam Control Panel >System and Security >Change battery settings >Select a power plan >Change plan settings.
  4. Ubah semua kondisi “On battery” menjadi “Never”.
  5. Simpan perubahan tersebut dan keluar.

Setelah melakukan pengaturan di atas, biarkan laptop menyala dan tunggu sampai mati karena kehabisan baterai. Kemudian nyalakan AC power adaptor dan colokkan ke laptop. Biarkan baterai terisi sampai penuh dan laptop tetap dalam keadaan mati. Untuk mengetahui bahwa baterai sudah terisi penuh, bisa dilihat pada perubahan warna lampu LED yang menyala di body laptop.

Lakukan proses ini setiap satu atau dua bulan. Dengan cara ini semoga bisa membuat baterai laptop kita berumur panjang.

2. dari SEPTIA MUJIZAT

Salam sejahtera bagi kita semua. Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi tips sederhana tentang “Cara Merawat Baterai Laptop yang Baik dan Benar“. Baterai laptop (notebook/netbook) adalah komponen penting yang terdapat pada laptop, tentunya karena baterai laptop adalah catu daya (power supply) laptop. Walaupun baterai laptop ini adalah komponen yang penting namun masih banyak yang kurang peduli dengan baterai tersebut.

Kalau baterai rusak tentunya gak bisa jalan itu laptop kecuali kalo sambil di charge. Memang bisa jalan tapi sangat beresiko, contohnya kalo charger-nya kecabut otomatis laptopnya akan mati dan bisa menyebabkan harddisk menjadi bad sector. Kalau harddisk udah bad sector mau ngapain lagi coba? Nah makanya disini saya mencoba share bagaimana cara merawat baterai laptop yang baik dan benar.

Cara-Cara Merawat Baterai Laptop yang Baik dan Benar

1. Jangan mematikan laptop dalam kondisi baterai < 40%

Hal ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada baterai. Untuk penjelasan lebih lanjutnya saya juga belum tau kenapa, yang pasti ilmu ini saya dapatkan dari internet 😀

2. Jangan charge hingga kepenuhan saat laptop mati

Melakukan charging sampai baterai kepenuhan terbukti menyebabkan lama daya tahan baterai berkurang. Secara teknis memang saya juga belum tahu pasti tapi sudah saya buktikan dan banyak juga teman-teman saya yang sudah membuktikannya. Terutama kebiasaan men-charge laptop kemudian ditinggal tidur dan pagi-pagi setelah kita bangun led baterai laptop udah pertanda penuh. Memang sepertinya biasa aja, tapi dampaknya bakalan luar biasa.

3. Jangan lepas baterai ketika laptop dihidupkan

  • Mode AC tanpa baterai memungkinkan terjadi kerusakan pada motherboard akibat listrik tidak stabil / listrik mati mendadak, dan jika motherboard rusak sama aja dengan kerusakan pada laptop keseluruhan. Tapi memang menghemat baterai (namanya juga gak dipakai, ya pasti awet itu baterai)
  • Mode AC dengan baterai memungkinkan terjadi penurunan kualitas baterai tapi sangat aman bagi kesehatan laptop jika terjadi listrik mati mendadak.

*Jadi saya sarankan agar tidak melepas baterai saat menggunakan laptop.

4. Lepas baterai laptop jika laptop tidak digunakan dalam jangka waktu lama (> 24 jam)

5. Lakukan kalibrasi baterai setiap 30 kali charge (default)

*Kalibrasi digunakan agar kalkulasi baterai tetap akurat, berikut adalah caranya:

  • Charge laptop sampai penuh (100%) dan biarkan kabel charge tertancap selama 2 jam sembari digunakan lepi buat aktifitas
  • Aktifkan system hibernate
  • Setting agar system hibernate dijalakan otomatis jika baterai lepi udah habis (critical battery)
  • Gunakan lepi dengan aktifitas-aktifitas sobat dan tunggu sampai baterai habis dan system hibernate dilakukan
  • Selama hibernate diamkan laptop selama kurang lebih 8 jam dengan kondisi baterai tetap tertancap
  • Setelah 8 jam, charge laptop selama sampai penuh namun laptop dalam kondisi masih hibernate (belum dihidupkan)

*Tambahan :

Gunakan software battery care agar tidak perlu repot-repot menghitung berapa kali kita men-charge baterai laptop. Karena software ini akan mencatatnya hingga looping ke berapa kita men-charge baterai laptop.

Nah, selesai sudah postingan saya kali ini tentang Cara Merawat Baterai Laptop yang Baik dan Benar, mudah-mudahan artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Terimakasih atas kunjungan dan atensinya, mohon maaf atas segala kekurangannya.

* * *

Begitulah copy dan paste-nya. Yang jelas, merujuk dari 2 artikel di atas saya, saya sudah melakukan beberapa kata mantra pengawuran sehingga lappy begitu. Which is saya malah bersyukur kalau dia tahan hidup 3 tahun dengan perlakuan semena-mena. Dan bahkan sudah menghasilkan 3 cerpen yang masuk antologi, dan 2 naskah buku/novel.

*ngosek-ngosek kantong buat beli laptop lagi*

-_________-“

“Apak Den Kepala Sekolah”

Jangan kaget sama judul di atas, itu semacam Bahasa Minang. Iye, sebagai orang yang numpang lahir dan numpang membesar di Bumi Minangkabau–walaupun sama sekali nggak punya darah Minang–saya kudu ngerti Bahasa Minang.

Artinya: bapak saya kepala sekolah.

Melintir sedikit, judul di atas sering saya dan adikadik saya pakai kalau lagi ketemu. Kira-kira begini:

A diang?! (apa lo?!)
Sia apak ang?! (bapak lo sapa?!)
Apak den kepala sekolah! (bapak gue kepala sekolah!)

Saya perlu tekankan bahwa dua kalimat pertama itu tergolong kasar untuk percakapan. Tapi, ya gitu deh, saya dan adik-adik emang kurang sopan kalau hal macam ini. Bahkan di depan orang tua kamipun, kami sering berlontaran kata “Asu”, tentunya tidak kepada orang tua–kepada sesama saudara saja, dan dalam konteks bercanda.

Oh iya, ujung-ujungnya, kalimat-kalimat di atas itu bisa begini:

Bagak ang?! (berani lo?!)
Den kecekan jo apak den ngko! (gue bilang bapak gue ntar!)
Tak omongke jo amak den lo beko! (gue bilang emak gue juga ntar!)

Atau…

Alah ko? (sudah nih?)
Alah, mangan sik, litak paruik (udah, makan dulu, lapar perut)

Iyeeee.. yang di-bold itu Bahasa Jawa. Peraduan kedua kami sekeluarga kakak beradik sesudah Bahasa Minang. Jadi, ketika ketemu… percakapan absurd macam ini PASTI AKAN TERJADI.

Hehehehehehe..

Kembali ke judul.

Dulu, jaman saya agak-agak baru lahir (ini entah terminologi jenis apa?!), Bapak saya pernah menjadi wakil kepala sekolah. Buat anak, pekerjaan orang tua itu kebanggaan. Dulu saya ingat betapa teman dengan suka hati bilang Bapaknya kepala bank, pemilik hotel, dan sejenisnya. Lha saya? Guru.. (sambil bisik-bisik).

Dan sampai saya gede, Bapak saya ya tetap guru.

Nah, baru belakangan setelah saya lulus (kalo nggak salah), kedua orang tua saya beroleh peningkatan jabatan. Diawali dengan Mamak yang jadi Kepala Sekolah TK. Nggak lama sih, karena segera mundur begitu Bapak diangkat jadi Kepala Sekolah SMP.

*padahal kan kereennnn, punya orang tua dua-duanya kepala sekolah*

Enak aje!

Jadi kepala sekolah itu, yang saya tahu, pusing dan banyak tekanan.

Lalu intinya apa?

Begini, ketika Bapak saya jadi kepala sekolah di era pendidikan (katanya) gratis dan anggaran 20% ini, godaan tentu besar. Iyalah besar karena ini terkait dana BOS, dana anu, dana itu, dan dana-dana lainnya. Yang mana daripada kepala-kepala sekolah lain dengan nyata saya lihat peningkatan signifikan pada hartanya.. hehehehehe…

Pastinya itu godaan besar banget. Saya kalau dikasih disitu ya nggak tahan juga mesti. Tapi agak ada untungnya juga ketika Bapak jadi kepsek, kebutuhan duit alias hepeng alias pitih itu sudah nggak sebesar dahulu kala, apalagi ketika punya 3 anak yang sama-sama kuliah di kampus swasta.

Poinnya adalah kok ya segala sesuatu itu pas.

Pas ketika waktu Bapak ditunjuk, performa SMP saya yang legendaris itu sedang di titik nadir.
Pas ketika godaan banyak, kebutuhan tidak lagi cukup banyak.

Kalau lihat sudut lain blog ini, ceritaalfa, bagian saya berpisah dengan Alfa, tentu ini poin yang sama. Tuhan itu memberikan segalanya pas. Pas butuh, pas ada. Entah bagaimana caranya. Which is kemudian saya tahu kalau si Bang Revo itu hasil utang bank, sesuatu yang amat sangat tidak saya sukai. *mending juga utang koperasi.. hehehe…*

The lesson is pada posisi apapun kamu berada, berbuatlah yang terbaik, dan seperti yang Kak Vienna (salah satu murid favorit Bapak dulu) begitu tahu Bapak jadi kepsek–he deserved it, indeed. Deserved itu akan diperoleh begitu kita berbuat yang terbaik kan?

🙂

Derita Dalam Diam

“Hati-hati Bang. Ini aneh, tapi sering terjadi, dan bakal jadi jatuh cinta tersakit di seluruh dunia.”

“Apaan tuh? Ngeri banget?”

“Jatuh cinta diam-diam.”

“Waduh! Jadi gimana?”

“Bertindak!”

* * *

e4870ce6e44311323cca49de33ff9b65

Sudah berbilang tahun sedari aku dan Alfa bercakap-cakap dengan Alfa tentang perasaanku padanya. Telah beragam peristiwa berlalu sampai kemudian banyak kekhawatiran terbukti tanpa ada kompensasi.

Entah Alfa sudah berada dimana sekarang, tapi aku harus mengakui dengan sepenuh hati bahwa jatuh cinta ini adalah jatuh cinta tersakit di seluruh dunia.

Kenapa?

Kini, perlahan aku mulai menemukan jawabnya.

Karena sebesar apapun cintamu padanya, tidak punya makna apapun selama itu semua hanya dipendam. Dan, toh, tidak ada yang tahu cintamu itu selagi kamu memendamnya. Iya, tidak ada yang tahu, bahkan dirimu sendiri mencoba mengabaikan rasa itu dengan cara… memendamnya dalam-dalam.

Ketika dia disakiti, apa yang kamu lakukan?
Ketika dia mendapatkan cinta yang lain–yang kamu yakini tidaklah sebesar cintamu untuknya–apa pula yang bisa kamu tunjukkan?

Tidak ada. Cintamu hanyalah derita dalam diam.

Semua cinta yang dipendam, hanyalah ihwal kekalahan. Jelas demikian, karena dalam hal ini, yang berani mengungkapkanlah yang kemudian akan menang.

Aku sudah berada dalam keadaan hati yang tidak lagi utuh. Tercerai berai gegara terlalu besarnya cinta yang dipendam, sehingga kemudian dia meledak.

Meledak di dalam hati, tanpa ada yang tahu–sama sekali.

Aku memendam rapat-rapat semuanya ini, semata-mata takut membuat aku dan dia jauh. Apakah kamu juga begitu?

HAHAHAHAHAHAHAHASU…

Bahkan tanpa aku ungkapkan kemudian, segala dampak dari semua yang dipendam itu dengan sendirinya membuat dia jauh. Kalaulah dia jauh sesudah aku mengungkapkan semua perasaan ini, pastinya masih lebih baik daripada dia jauh tanpa aku pernah mengungkapkan cinta ini padanya.

Oh iya, cinta yang tidak pernah berubah sama sekali.
Sejak aku mulai menyimpan cinta ini dalam hati.

Aku sudah berada disini.

Kamu?

Ya, coba bayangkanlah. Imajinasikan dirimu berada di sebuah sudut ruangan besar dan kamu hanya meringkuk pilu di sudut ruangan itu. Ruangan yang nyata-nyata adalah hatimu sendiri.

Sementara, pada saat yang sama, orang lain tertawa-tawa bersamanya.
Atau mungkin, pada saat yang sama, dia menangisi orang lain yang menyakitinya.
Yang artinya? Bahkan bukan kamu yang ada di hatinya.

Hati itu memang dipilih, bukan memilih. Tapi memendam perasaan sama sekali tidak akan mampu membuka kesempatan hati ini untuk dipilih.

Hingga pada ujung dari semuanya itu, sebesar apapun cinta yang ada, selama apapun rasa itu dipendam, sepenuh apapun hatimu olehnya, tidaklah ada artinya.

Semuanya akan kalah oleh rasa yang terungkap. Mereka yang mengungkap rasa itu, yang menang. Sementara aku–dan mungkin kamu–akan terus terjebak dalam jatuh cinta paling sakit sedunia.

* * *

Sumber foto (dengan pengeditan)

Pedoman Audit Sistem Manajemen: Pelaksanaan dan Penyelesaian Tindak Lanjut Audit

PENYELESAIAN AUDIT

Audit diselesaikan jika segala aktivitas audit yang direncanakan terlaksana, atau disetujui bersama dengan klien audit (contoh, mungkin ada situasi yang tidak diharapkan yang mencegah audit selesai dari rencana).

Dokumen untuk proses audit hendaknya disimpan atau dimusnahkan dengan persetujuan antara partisipan sesuai dengan prosedur program audit dan persyaratan lain yang relevan.

Kecuali tidak disyaratkan secara hukum, tim audit dan personel yang mengelola program audit hendaknya tidak membuka muatan dokumen, segala informasi lain yang diperoleh selama audit, atau juga laporan audit kepada pihak lain tanpa persetujuan tertulis dari klien audit atau jika perlu persetujuan auditee. Jika pemaparan itu dipersyaratkan, klien audit dan auditee hendaknya diinformasikan sesegera mungkin.

Pelajaran yang diperoleh dari audit hendaknya masuk ke dalam perbaikan berkelanjutan dari sistem manajemen organisasi yang diaudit.

PELAKSANAAN TINDAK LANJUT AUDIT

Laporan audit—tergantung tujuan auditnya—dapat mengindikasikan kebutuhan koreksi dan/atau korektif, pencegahan atau perbaikan. Beberapa tindakan umumnya diputuskan dan dilakukan oleh auditee di dalam rentang waktu yang disetujui. Jika dimungkinkan, auditee hendaknya tetap memberikan informasi status aksi kepada personel yang mengelola program audit dan tim audit.

Penyelesaian dan efektivitas tindakan hendaknya diverifikasi. Verifikasi dapat menjadi bagian dari audit berikutnya.

(Diterjemahkan dari ISO 19011: 2011)