Tips Memberi Nama Pada Anak

Kata Om Shakespeare, apalah arti sebuah nama. Ya mungkin begitu di jaman Om William hidup. Kalau sekarang? Nama menjadi sedemikian pentingnya. Apalagi ketika kita harus berhadapan dengan aneka rupa administrasi yang membutuhkan nama. Belakangan, dengan kesibukan dan segala administrasi khas birokrasi di kantor baru, saya menjadi paham bahwa membuat nama nggak boleh sembarangan. Kadang saya iri hati sama responden-responden skripsi saya yang nama-namanya sangat bersahaja, semacam Paimo, Tukirin, hingga Keso. Dan memang namanya cuma itu. Nah, berdasarkan pengalaman saya di kantor sebelumnya, plus pengalaman bertemu dengan aneka administrasi bin njelimet di urusan perkreditan dan perbankan, hingga ke-sotoy-an saya, maka berikut saya beberkan beberapa tips dalam memilihkan nama. Tips ini berguna untuk yang akan memberi nama pada anaknya, atau untuk Mbah Keso yang pengen ganti nama jadi agak kece.

Batasi Jumlah Karakter

Mbah Keso mungkin ada peserta paling beruntung kalau harus menempuh Ujian Nasional. Dia hanya harus menghitamkan empat bolongan di LJK. Bagaimana dengan orang yang namanya Alvinando Supriyanto Widyosutoyo Kartodiningrat? Hampir bisa dipastikan, kalau si Alvin dan Mbah Keso ini sama-sama gobloknya, pasti Mbah Keso selesai duluan, karena Alvin sibuk mengisi namanya yang panjang itu. Saya sendiri juga demikian, karena nama saya terdiri dari 4 kata. Nama saya selengkapnya bisa dilihat di buku saya OOM ALFA. HAHAHAHA.

Lengkapkapkapkap…

Advertisements

Inspirasi Dari Matthew

Agak bingung hendak menulis posting ini di ariesadhar.com atau di blog lain saya yang judulnya “Catatan Umat Biasa”. Tapi karena sepertinya inpirasi dari seorang bocah ini bisa digeneralisasi ke agama lain, maka biar ditulis disini saja, hitung-hitung ngisi posting di bulan April yang kering ide ini.

Malam Paskah kemaren saya misa di gereja Maria Fatima di Lembah Karmel, Lembang, bersama keluarga pacar. Kebetulan berangkatnya agak cepat, jadi dapat duduk di dalam. FYI aja, gereja di Lembang ini terbilan kecil, jadi kalau datang telat sedikit yang duduk di luar. Buat saya, ke gereja dan duduk di luar itu ibarat pacaran tapi nggak cinta. Nggak sreg. Nah, kebetulan posisi bangkunya pas untuk 6 orang, sementara saya plus keluarga pacar hanya 5 orang. Otomatis satu tempat di sisi kanan saya itu kosong, sementara di sisi kiri ada mbak-mbak yang mirip bidadari. Mirip doang, kok. Jadilah saya boleh berharap bahwa yang akan menduduki 1 bangku kosong di kanan saya adalah seorang gadis muda kece badai berusia 17 tahun dan berbadan seksi.

*ini contoh gereja salah fokus*

Kembali ke laptop!

Perusahaan Farmasi Nggak Peduli Websitenya

Saya bekerja di perusahaan farmasi selama 4 tahun 10 bulan. Kurang 2 bulan untuk bisa masuk TK. Saya kemudian resign alias mengulang (re) tanda tangan (sign) di angka itu. Ya pada intinya saya ini dulu karyawan di perusahaan farmasi. Nah, selama bekerja itu saya tentu saja juga mengamati rumput tetangga karena rumput tetangga katanya lebih hijau. Saya bahkan pernah diterima di sebuah perusahaan farmasi berlatar belakang hijau, dengan gaji yang lumayan bikin ngiler netes. Cuma memang saya tipe pria setia, setia pada yang warna merah.

Nah, sembari jadi karyawan, saya juga mulai jadi blogger, hingga akhirnya blog ariesadhar.com ini ada, serta kemudian buku Oom Alfa juga lantas nongol. Sejak itulah saya mulai tahu soal pagerank hingga perihal Alexa sebagai patokan pemeringkatan website yang ada di seluruh dunia maya. Oh, dunia lain tentu saja tidak termasuk, itu hanya milik Harry Panca. Silakan lambaikan tangan anda ke kemera yang ada disana.

Okesip.

Saya lalu coba iseng-iseng tidak berhadiah, seberapa peduli para pemilik perusahaan farmasi itu dengan websitenya. Saya lalu mengambil sampel alias nyampling, dan bukan nyemplung, dari beberapa perusahaan farmasi yang cukup terkemuka. Yah, jelek-jelek begini kalau bos ngomong saya kan juga memperhatikan data-data yang ditampilkan.

Nah, sebagai standar, saya mencoba membandingkannya dengan blog saya sendiri, iya blog ini, ariesadhar.com.

1

Blog ini ada di peringkat 1,6 juta sedunia. Lumayan juga, lumayan terpuruk maksudnya. Eh, memangnya terpuruk? Sesudah saya melihat peringkat sebuah perusahaan farmasi terkemuka, benar juga. Peringkatnya lumayan kece.

3

Lumayan lho, ketika ariesadhar.com ada di nomor 54 ribu-an, perusahaan farmasi yang ini ada di nomor 15 ribu-an. Jadi wajar ketika blog sebuah perusahaan yang tentunya ditunjang oleh aneka tim IT dan orang-orang yang ahli menang dari sebuah blog pribadi yang jarang-jarang ditengok oleh pemiliknya, seperti halnya blog saya ini.

Eh, begitu saya melihat ke website perusahaan lainnya, saya langsung pengen ke Bandung untuk mengelus Dada. Dada Rosada. Kenapa? Karena tidak ada satupun yang ada di atas ariesadhar.com! Padahal secara dagangan, saya tahu jelas bahwa perusahaan-perusahaan itu pemimpin di bidangnya masing-masing.

Lihat nih, salah satu pemimpin pasar.

2

Global Rank-nya nggak jauh-jauh benar dari ariesadhar.com. Padahal mestinya orang IT atau orang komunikasi korporatnya ada dan harusnya juga jago. Tapi masak cuma 11-12 sama sebuah blog sederhana ini?

Itu baru satu. Yang lain?

4

Noh! Jauh bener sama ariesadhar.com! Padahal secara dagangan, dijamin situ-situ yang pernah opname pasti pernah mencicipi obat-obat dari pabrik yang di atas ini, entah lewat mulut atau lewat jarum yang nancep di infus.

Oya, masih ada lagi sih.

5

Dan kemudian ada juga ini.

6

Bahkan ada website yang bagus, yang kapan itu promo gender para pimpinannya, eh ternyata peringkatnya juga nggak bagus untuk ukuran sebuah perusahaan–menurut saya lho.

7

Lha jangankan itu, wong kumpulannya sendiri di GP Farmasi, peringkatnya juga begini:

8

Yah, begini-begini saya juga bekas orang perusahaan. Jadi, peringkat Alexa web-web tersebut sungguh bikin trenyuh. Kenapa ya kira-kira perusahaan farmasi nggak peduli pada websitenya masing-masing sehingga profil yang di atas ini terjadi? Apakah karena memang jualannya obat resep sehingga tidak perlu populer-populer banget? Ya nggak apa-apa sih, ini kan pilihan sikap dari internal perusahaan. Saya berada dalam posisi bahwa jika saya adalah orang IT atau komunikasi korporat di perusahaan itu, saya nggak terima jika website saya kalah Alexa hanya dari seorang mantan karyawan pabrik dengan harga domain setahun hanya setara ongkos taksi sekali berangkat Cikarang ke Bandara.

Gitu aja sih. Monggo, terserah. Saya tak liburan sik.

Adios!

Memang Cuma Ngupload

Iya, semalam suntuk saya bergeje ria atas nama ngupload, beneran hanya sebuah aktivitas bernama ngupload alias mengunggah file ke dunia maya.

Jadi nggak perlu saya ceritakan kenapa saya harus ketiban pulung ketemu dengan si ngupload ini, dan sudah saya kisahkan sebelumnya bahwa sinyal di kamar kos baru saya sebenar-benarnya soak. Jadi, saya berpikir bahwa akan halnya alay-alay sevel, saya juga bisa memanfaatkan WiFi-nya di Sevel. Ya kan?

Sebenarnya bisa sederhana kalau saya ngupload file-file yang jumlahnya sekitar 200 MB itu di kamar kos, seperti yang bisa saya lakukan dengan damai di Kedasih. Dan yang sederhana ini menjadi parah ketika saya masuk ke Sevel dan nanya password WiFi, dan hanya dijawab bahwa WiFi-nya rusak.

Jadilah saya ke Sevel itu beneran hanya nebeng naruh laptop. Akses si Tristan ke dunia maya menggunakan modem sohib sejatinya dia. Yang memang sudah hampir sebulan ini nggak dipakai gegara sinyal soak kosan.

*sebulan apanya, baru juga 11 hari*

Proses ngupload di Sevel ini ditandai dengan pertemuan dua lelaki, dua meter di sebelah saya, dengan percakapan:

“Hobi kamu apa?”

“Ayah ibu dimana?”

Sumpah, saya jadi serem sendiri. Ini dua-duanya cowok, bro! Sejujurnya saya hampir nggak pernah nanya ke sesama cowok, “hobi kamu apa?”

Sesudah dua lelaki itu, muncul dua wanita dengan curhat cinta masing-masing dan dengan bangganya bilang satu sama lain.

“Halah, kalau kisah gue mah bisa banget dibikin novel,” kata salah seorang gadis dengan logat yang saya paham bener. Palembang. Ini Sevel apa Pak Raden, sih? Belum tahu aja dia kalau di sebelahnya ada penulis buku Oom Alfa. Hih! Belum tahu apa dia kalau kisah cinta diam-diam saya ditolak penerbit? Lu kate bikin buku itu segampang bilang kalau kisah cinta kita pantas dijadikan novel?

Sepanjang baterainya Tristan yang syukurlah di ulang tahun pertamanya ini masih bisa tahan 3 jam, akhirnya 8 file berhasil saya unggah dengan penuh darah dan air mata, ditunjang segelas kopi Sevel yang lupa saya kasih gula. Sungguh pahit kan hidup ini jadinya?

Nah, 8 file itu belum apa-apa karena masih 42 lagi yang belum terunggah. Njuk aku kudu piye tuips? Aku kudu menek terus ngomong pucuk pucuk ngono?

Ya sudah. Pagi tadi saya capcus jam 5.15 pergi ke Lawson dekat kantor. Jadi mau hari kerja apa hari Sabtu, sama aja bangunnya. Harapannya tentu saja jam 5 belum banyak manusia dan jalur WiFi-nya cuma milik saya. Demi melancarkan urusan, saya beli segelas milo dan sepaket sushi. Biar ingat pacar yang doyan sushi.

Pas nanya password WiFi juga dikasih dengan baik. Sudah mau senang saja…

…sampai kemudian sesudah dicek, eh koneksinya limited. Dafuq. Untung saya bawa modem, dan untung di Lawson itu ada ATM BCA. Dengan mengais-ngais isi rekening saya isi pulsa si modem dengan paket seperti biasa ketika gaji saya masih banyak. Anggap saja masih kaya. Lalu saya mulai ngupload file satu per satu.

Dan ternyata juga seret abis. Fiuh.

Untungnya, tetiba malaikat muncul dalam diri seorang gadis manis yang saya tembak beberapa waktu yang lalu. Iya, untunglah saya punya pacar yang kece, baik hati, dan belum gemar menabung. Mungkin dia kasihan karena saya kemaren bobo jam 11-an dan bangun jam 4, dia langsung nyuruh saya ke kosnya untuk mengupload file-file itu, karena akses di kosnya memang lebih kece. Even si modem juga performanya baik-baik saja kalau di kosnya. Tristan juga performanya mumpuni kalau di kosnya pacar. Memang, semuanya konspirasi semesta, kalau deket-deket si pacar tetiba jadi bagus, kalau dekat saya malah nggak. Siaul.

Eh, btw, si pacar sendiri juga lagi nggak di kosan. Jadi bayangkan saja cowok jauh-jauh ke kos pacarnya bukan buat macar tapi buat ngupload. Hore bener kan ya.

Iya, ini memang cuma ngupload, tapi saya jadi alay Sevel Rawamangun, jadi alay Lawson Percetakan Negara, lalu lari ke Bintaro yang lumayan jauh dari kosan hingga akhirnya saya berhasil menuntaskan 80% gawean ngupload ini.

Iya, memang cuma ngupload.

Oya, saya jadi meluputkan jadwal nyari kos baru yang dekat kantor hari ini. Semoga kos incaran belum digebet orang. Sama satu lagi, saya jadi bingung ini nanti gimana caranya saya bisa sampai Cikarang yah kalau sampai sesore nanti saya masih berkeliaran di Jakarta Selatan hingga Tangerang Selatan ini.

Ah, besok itu tugas mulia, sesusah apapaun jadwalnya, pasti besok saya bisa sampai ke Cikarang dengan baik dan tampan.

Amin.

Menikahlah Dengan PNS, Karena…

Sumpah! Ini saya sudah jadi semacam blogger murtad. Memang bagian paling oon dari keputusan saya ngekos di tempat sekarang adalah nggak ngecek sinyal. Dan mana tahu kalau sama sekali nggak ada sinyal mapan dan eksis dari provider manapun. Ini saja saya nulis dari Sevel, dan wifi Sevelnya error, jadi tetap pakai modem sendiri. Sialan.

Yak, jadi begini. Berdasarkan info-info yang saya peroleh di dunia baru saya selama 11 hari ini, maka saya dapat menyimpulkan sesuatu. Apa itu?

Saya dapat menyimpulkan bahwa PNS adalah pasangan yang ideal…

…terutama jika kita menginginkan pernikahan yang satu dan tidak terceraikan.

Kenapa?

Jadi begini, mblo.

Gini mblo!