Taktik Baru Liburan Murah di Jogja

Alkisah, bulan depan saya dan keluarga mendapat undangan untuk menghadiri royal wedding di keluarga istri. Perhelatannya di Jogja. Disebut royal wedding karena yang nikah adalah anak pertama dalam generasi ketiga trahnya istri saya. Kepala Suku lah ceritanya. Plus pacarannya mereka sedikit lagi KPR lunas. Royal tenan.

Nah, walaupun hidup saya dihabiskan selama 7,5 tahun lebih di Jogja, tapi saya nggak bisa sembarang menginap di Jogja. Pertama, karena kita tidak bisa menginap di dalam kenangan. Itu maya, jadi harus di hotel. Kedua, nggak mungkin juga nginap di kos-kosan mahasiswa. Itu so yesterday sekali. Ketiga, karena untuk pertama kalinya saya akan bawa bayi dalam perjalanan jadi harus dipersiapkan benar-benar. Ketiga, namanya baru punya bayi, banyak pengeluaran. Jadi kudu hemat, beb.

Sebagai makhluk hidup yang makan uang rakyat, saya sebenarnya sudah biasa cari sampingan tiket perjalanan. Carinya ya standar, tiket pesawat sendiri, hotelnya juga sendiri. Untunglah saya sudah tidak sendiri.

Bagian ini sebenarnya sangat memakan waktu dan kuota. Tiket pesawat buka berbagai website–termasuk website resmi maskapai. Hotel juga begitu, cek list hotel di Google, kemudian cari telepon hotel, lantas telepon sendiri berharap dapat government rate. Belum lagi kalau catatan tiket keselip waktu mengurus hotel. Bubrah kabeh.

Hingga akhirnya pencarian saya berujung pada Traveloka yang menyediakan sarana memesan tiket pesawat merangkap hotel sekaligus. Sungguh hemat waktu, dibandingkan klak-klik dan telpan-telpon yang lama itu tadi. Mudah dan saving time. Andalan. Tidak ada beda juga dengan pemesanan yang standar, masih ada menu infant yang memang saya perlukan untuk mendaftarkan Istoyama sebagai pemilik tiket. Kalau luput, masak emak bapaknya berangkat, anaknya ditinggal?

Dan ternyata Acha Septriasa benar kala menyebut berdua lebih baik. Terbukti pasangan tiket pesawat dan hotel ini jatuhnya jadi lebih hemat. Hemat waktu, hemat biaya. Lebih murah daripada pesan terpisah, sungguh hemat beb nan paripurna! Kalau kata Traveloka dalam menu Flight + Hotel itu adalah Better Together. Jadi kapan kamu to get her, mblo?

Pilihan hotel dari Traveloka juga sudah tidak diragukan lagi. Maka, saya juga bisa leluasa cari-cari pilihan di sekitar Malioboro. Tempat yang lebih dekat dengan arena royal wedding kelak. Apalagi, Traveloka sudah dikenal dengan pembayaran yang mudah dan pas banget untuk e-commerce. Kan ada tuh, e-commerce yang pembayarannya ribet sehingga kadang-kadang bikin saya dipliriki orang di ATM karena kelamaan. Dikira mau money laundrying. ATM isi cuma sejuta kok di ATM lama bener.

Nah, sekarang kami tinggal bersiap-siap menggotong barang bawaan Istoyama yang variasi bin pritilannya begitu banyak itu dari Jakarta ke Jogja untuk menghadiri royal wedding itu. Kalau pada mau ikutan dapat hemat beb ya hayuk coba paket wisata Traveloka yang menggabungkan order tiket dan hotel dalam satu kesempatan. Zaman makin susah, lho, jadi kita butuh piknik yang hemat tapi tetap yahud. Biar nggak edan.

Ergobaby Blog

Sekarang, saya mau packing popok Istoyama dulu ya. Persiapan buat royal wedding. Ciao!

Advertisements

Berhenti Mengagumi Anies Baswedan

picmonkey-collage6

Duh, ngomongin politik lagi, deh. Maaf ya sohib-sohib blog ini nan budiman. Sebenarnya ini nggak politik-politik banget, kok. Hanya sebuah catatan pribadi yang nyerempet politik. Gitu.

Ini tentang Yang Terhormat Bapak Anies Baswedan. Salah satu sosok yang dalam posting ini saya akui sebagai orang baik. Salah satu sosok yang–tadinya–langka di Indonesia. Bagaimana nggak langka? Di saat banyak politisi sibuk beretorika, janji sana-sini, blio bersama rekan-rekan sevisi menggagas Indonesia Mengajar, berikut Kelas Inspirasi. Paket kegiatan yang saya akui sangat positif. Saya pernah ada di keramaian Kelas Inspirasi dan merasakan benar energi positif yang ada dalam kegiatan kerelawanan itu.

Kala mengikuti Kelas Inspirasi inilah saya seolah kesirep sama sosok Anies Baswedan. Waktu itu di gedung Indosat, saya ada di bagian terdepan untuk mengikuti speech indah tentang janji kemerdekaan, tentang menghadirkan mimpi di ruang-ruang kelas, tentang iuran kehadiran. Luar biasa dan sangat realistis bagi saya kala itu. Ngomong-ngomong, cerita Kelas Inspirasi yang saya ikuti dapat dibaca dalam posting dengan judul “30 Menit Yang Luar Biasa”.

Continue reading

Feel Neo di Hotel Neo Malioboro

Jogja yang katanya berhati mantan itu memang sedang dibanjiri oleh hotel-hotel aneka rupa. Sebagian hotel tampak mahal, sebagian murah, sebagian berada di tempat yang beneran pas untuk hotel, sebagian lagi bahkan memakai trotoar sebagai bagian dari hotel. Nah, ketika saya berada di Jogja, keputusan untuk menginap kemudian jatuh di Hotel Neo Malioboro.

11352018_917160671637347_924970697_nAlasan pertama, hotelnya baru. Kedua, kiri-kanan hotel juga, jadi setidaknya ini memang daerah wisata. Ketiga, letaknya otomatis di tengah kota. Yah, walaupun judulnya Neo Malioboro tapi sebenarnya berada di Jalan Pasar Kembang, sih. Keempat, dekat dengan Malioboro. Kelima, dekat dengan tempat dinas. Dan yang bikin menarik sebenarnya adalah warna hitamnya.

Dinas ke Jogja mungkin sepanjang karier cuma sekali ini, maka saya tiba di Jogja pagi-pagi, first flight dari Jakarta. Sesampainya di hotel tentu saja belum jam check in, namun untungnya kebijakan di Hotel Neo ini baik sehingga saya bisa menitipkan gembolan sebesar kenangan tanpa khawatir kehilangan. Sebagai gambaran, saya menitipkan laptop segala. Jadi keamanannya bolehlah. Oh, ada yang unik begitu pertama kali menjejak Hotel Neo. Resepsionisnya! Yang Mbak-Mbak memakai wig putih, yang Mas-Mas memakai topi-saya-bundar-bundar-topi-saya. Lumayan kerenlah.

Selengkapnya!

Bersua Kembali Dengan Merapi

Gunung itu namanya Merapi, disebut-sebut sebagai gunung berapi yang selalu aktif. Dan gunung itulah yang selalu menjadi patokan saya sejak tahun 2001 di Jogja–tentu sebelum hotel-hotel perebut trotoar berdiri di Jogja. Dulu, kalau kesasar, tinggal cari ke sekeliling, adakah Merapi? Jika ada, maka jelas, itu utara. Langkah selanjutnya adalah mudah. Gunung itu pula yang saya lihat pertama kali begitu diguncang bumi pada Mei 2006. Dia ‘hanya’ berasap, karena memang bukan Merapi yang bergejolak.

Merapi pula yang jadi saksi ketika pertama kali saya dipeluk cewek, itu ketika pulang dari Pentingsari. Merapi pun adalah tempat ketika Bang Revo dipakai jadi modus boncengin cewek. Dan yang paling jelas bin terang dari semuanya itu, Merapi adalah saksi ketika gadis idaman tsurhat sama saya tentang cowok idamannya yang bukan saya. Pedihlah mah kalau mau dikenang.

wpid-photogrid_1442937817711.jpgBagaimanapun, Merapi dan Jogja pernah dan akan selalu menjadi bagian dari hidup saya. Maka, ketika sedang tidur-tidur manja di Ciawi dan tetiba saya ingat Jogja, langsunglah saya berencana liburan ke Jogja. Namun boleh jadi saya tetiba ingat Jogja itu adalah bukti sebuah feeling, karena pada akhirnya dalam waktu penantian yang sangat tidak lama saya benar-benar bisa terbang ke Jogja, tempat lahirnya OOM ALFA!

Selengkapnya!

Cerita MOS di Kandang Manuk

Blog ini sudah sesepi hati CPNS yang gagal mendapatkan kekasih pada saat prajab. Saya lalu bingung, mau menulis apa pula. Scroll punya scroll, lagi marak membahas tentang yang namanya MOS alias Masa Orientasi Sekolah (atau Siswa? Mbohlah). Sebagai anak muda peralihan Orde Baru ke Orde Antah Berantah, bisa dibilang saya berada di era MOS dimulai. Persis sebelum angkatan saya, setiap anak muda yang baru masuk SMP kudu ikut kegiatan bertajuk Penataran P4. Beuh!

Sekolah+De+Britto,+Yogyakarta,+2009Apa yang saya dapat ketika MOS di SMP? Yeah, kakak kelas yang kebablasan! Sangat kebablasan karena tidak ada satupun nilai edukatif yang muncul. Saya ingat benar, beraneka ragam rupa kakak kelas mendekati saya dan mengoleskan kapur tulis basah ke pipi, hidung, dan segala tempat yang tersedia di muka saya nan hina. Saya adalah anak dengan noda kapur terbanyak. Kenapa? Karena saya anak guru PPKn. Mungkin mereka dendam. Bisa jadi.

Tiga tahun berlalu, saya lantas kabur ke sebuah kota yang sekarang sudah penuh hotel sampai ke jalan-jalan tikus. Sudah penuh mal juga, sampai-sampai harus pakai nama orang jadi nama mal. Dahulu, empat belas tahun silam, hal itu tidak ada. Dalam perjalanan dari rumah Simbah ke sekolahpun, saya masih bisa melihat ular berganti kulit hingga jomblo yang menangis.

Pekan-pekan awal tentu tidak mudah, apalagi di sebuah sekolah menengah yang punya status kandang manuk alias semua siswanya punya burung. Ya, benar-benar tidak mudah, apalagi bagi anak kampung macam saya.

Acara wajib bernama MOS tetap ada, namun MOS yang sebenarnya justru ada beberapa hari kemudian, sepulang sekolah sampai malam hari. Sebuah acara yang bernama INISIASI. Acara Inisiasi ini tentu saja berbeda dengan MOS yang pernah saya alami, pun dengan Kamus MOS yang jamak beredar saat ini. Makanya saya mau cerita sedikit-sedikit. Sesedikit pembaca dan pembeli buku saya OOM ALFA. (Uhuk! Beli dong! Di Playstore akan kok!)

Inisiasi di Kandang Manuk dimulai dengan acara baris-berbaris di PBB. Cukup wagu, apalagi dibandingkan dengan stigma bahwa sekolah ini cuma upacara sekali dalam setahun. Tapi namanya anak baru, apa-apa ya diikutin saja, termasuk ketika Tutor yang mengajari PBB bahkan skill PBB-nya masih kalah dari anak Sempe Tupa (SMP Tujuh Payakumbuh) yang jadi lawan SMP saya di LASP3 2000.

Namun kiranya PBB itu hanya secuil, sebenar-benarnya cuil dari rangkaian total kegiatan. Kok gitu? Masih ada tugas membuat call-card. Masalahnya mungkin bukan di terminologi “membuat call-card”, namun lebih kepada seperti apa benda itu akan dibuat. Patokan bentuk, sih, ada. Namun ukurannya bikin dahi berlipat layaknya perut PNS kekinian. Untuk mendapatkan satu angka–sebutlah–2 cm, itu harus menyelesaikan persamaan yang kira-kira begini:

Jumlah lampu di kelas 7A + (Jumlah jengkal panjang aula/Panjang teralis loket pembayaran yang sekolah) – Keliling pohon talok dekat WC dalam Inchi

Ya, semacam itulah kira-kira.

Itu baru call-card. Pada akhir hari, anak-anak muda yang sebagian diantaranya tidak tahu apa-apa tentang kota yang baru 1-2 pekan ditinggalinya harus mencari benda-benda yang tidak aneh. Namun benda-benda biasa itu menjadi tidak biasa ketika ada keharusan merk tertentu yang bahkan belum pernah saya dengar sama sekali. Dua yang saya ingat adalah Kopi Susu merk Ya! dan Mie Instan Gurimi. Butuh keliling kota untuk menemukan benda-benda itu semua.

Semuanya itu masih ditunjang oleh kewajiban membawa kantong kresek sebagai wadah barang yang diwajibkan untuk dibawa itu. Dan tentu saya bukan sembarang kantong kresek karena dari sekian kelompok yang ada harus membawa kresek dari toko yang berbeda-beda. Mulai dari Gramedia, Gelael, Ramayana, hingga–toko legendaris yang kiranya lebih luas dari Mal Lippo Cikarang–Gardena. Susah, sungguh susah. Apalagi senior yang mendiktekan list itu adalah sekelas Thoni Chandra yang sekarang kerja saja di luar negeri.

Lucunya, benda-benda aneh itu selalu berhasil saya dapatkan pada jam pelajaran oleh kawan-kawan nan baik hatinya. Sepanjang inisiasi, hanya 1 barang yang luput saya bawa dan itu sesungguh-sungguhnya sepele: gula 1/4 kilogram. Fak!

Sepanjang inisiasi, tekanan hidup sungguh luar biasa. Teriakan dari Seksi Tatib membahana kesana kemari dengan lantangnya. Bayangkan, pintu baru dibuka, sudah dibengoki “Ayo, Cepat!”. Sudahlah disuruh cepat, begitu lewat anak tangga, dibengoki meneh, “Tangga jangan dilompati!”. Melirik sedikit ketika baris juga kena damprat, minimal kena plirikan. Dipikir-pikir mau melirik apa, isi aula itu kan lelaki semua. Beuh. Pas giliran snack juga bukannya enak. Bagaimana bisa enak kalau kita makan lemper sambil diteriaki supaya cepat, belum lagi dengan faktor minuman berupa teh yang panas. Belum lagi ketika menyanyikan jingle yang gerakannya asli lucu, tapi kita nggak boleh ketawa. Senyum dikit, maka “Apa kamu senyum-senyum?”

Ketika lantas tiba saat menginap dan masuk sesi mandi sore, fenomenanya makin keren karena memaksa para peserta untuk bisa mandi secara mangkus dan sangkil. Baru masuk WC sedetik, sudah diketok, “Ayo, Cepat!”. Lha edan. Guna memperingkas keadaan, maka di dalam WC yang kurang dari 2 kali 2 meter itu berjejal 4 manusia yang sama-sama berbelalai tidak panjang dengan aktivitasnya masing-masing. Entahlah. Kok yo iso. Aku yo heran. Bagian paling epik dari aktivitas ini adalah ketika ada sempak yang ketinggalan, dan kemudian diangkat-angkat di dalam aula dengan pertanyaan, “Punya siapa ini?”. Sungguh pertanyaan yang menusuk harga diri pemilik sempak.

Seluruh kegiatan dan kegilaan akan ditutup ketika pagi-pagi buta, para lelaki itu disuruh bangun dari tidurnya yang kademen karena harus bobok di ruangan yang tembok kelasnya cuma separo. Di kegelapan pagi itu, mereka harus bertelanjang dada dan pergi ke lapangan bola. Di lapangan bola, mereka lantas guling-guling dan entah apalagi yang dilakukan hingga kemudian tiba saat berbaris. Satu demi satu lelaki itu maju, memasukkan call-card yang digarap dengan sepenuh jiwa dan setengah misuh ke dalam api, kemudian mereka diguyur air berikut bendera merah putih. Ada janji dan ada komitmen. Sejak saat itu, batas senioritas bisa dikatakan pupus sudah. Perkara ada hal-hal yang dibawa ke daerah sekitar LPP, itu ranah yang berbeda.

Pernah saya dihantam oleh kakak kelas dalam rangkaian itu? Tidak sama sekali. Dipliriki sih sering. Tapi mengingat MOS sampah yang saya alami di SMP semata-mata karena saya anak guru, Inisasi yang saya dapat justru tampak maknanya. Kresek dan benda-benda biasa bermerk aneh itu memang dikaji agar anak yang baru masuk kota itu berkeliling benar-benar. Dipaksa untuk mengitari tempat yang akan dihuninya selama setidaknya 3 tahun ke depan.

Ketika lantas berada di pihak yang berbeda, saya melihat profilnya dengan jelas. Yah, meladeni arem-arem kepada lelaki muda yang mau makan saja tertekan itu tidak mudah. Menuang teh panas ke gelas saat yang akan meminumnya kudu buru-buru menghabiskannya juga mengiris hati. Atau ketika lantas jadi Tutor, tahu bahwa ada diantara anak di kelompok yang dulunya Pramuka tangguh. Pun dengan mendapati anggota kelompok yang kebingungan dan menyembunyikan diri ketika tidak membawa suatu benda yang disuruh. Ya, seru saja, tahu dua sisi semacam itu.

Dalam periode itu, pernahkah saya dipermalukan dengan bikin kalung dari gayung? No! Ya, aneh-aneh tapi menurut saya tidak aneh yang dipaksa kayak di kampus anu yang memaksa mahasiswa baru untuk pakai topi dari bola plastik yang ditambahi rumbai-rumbai tali teyen. Fak sekali.

Soal kegiatan juga nggak main-main. Ada sesi diskusi dan semacam debat dari kelompok presentasi dan disanggah oleh teman lain di satu kelas. Di sesi diskusi inilah, saya pertama kali mengenal kata kunci abad ini: Asu.

Disitu menurut saya bedanya antara MOS yang disoroti sama Pak Anies Baswedan dan jajarannya dengan Inisiasi yang saya alami. Tidak pernah ada kekerasan fisik setidaknya selama tiga tahun saya terlibat. Kalau ada Tatib yang kebablasan misuh, dia akan berurusan dengan guru yang turut serta di sepanjang proses. Bahkan batas yang saya bilang pupus itu beberapa kali bablas jadi wagu ketika ada Tatib yang dua hari lalu bilang “Tangga jangan dilompati” malah berkata “Silakan dilompati”. Namanya juga anak SMA, pasti kebablasan, sih. Yang jelas, guru-guru selalu ada dan berbeda dengan saat saya SMP ketika para gurunya malah memasrahkan MOS kepada anak kelas 3. Guru-guru itu ada di setiap seksi, dan ada bintang utamanya. Ada Pak Guru yang sekarang kolumnis rajin sekaligus pengajar tentang kepenulisan kemana-mana. Ada juga Pak Guru Matematika yang kalau marah-marah malah kayak baca puisi, dulu kerempeng sekarang buncit. Ada juga Pak Guru agak bantet dan bangga bisa mempersunting etnis Tionghoa. Kontrol mereka membantu meredam niat balas dendam menjadi terarah. Menurut saya demikian.

Dengar-dengar, semakin Inisasi ini berada di Orde Baru, semakin keji dan lucu pengalaman yang dijalani peserta. Tentu saja saya tidak hendak bertestimoni karena tidak mengalaminya. Cukuplah saya menulis yang saya alami saja, tepat 14 tahun yang lalu. Melalui tulisan ini, saya hanya hendak menekankan bahwa keberadaan guru itu penting sangat, plus segala hal yang aneh-aneh itu pada prinsipnya tidaklah aneh ketika dasarnya jelas, bukan dasar turun-menurun dan lucu-lucuan belaka. Dengan begitu, MOS jadi sebenar-benarnya ajang untuk mengenal sekolah, teman-teman, sekaligus mengeksplorasi diri di tempat barunya. Mungkin Mas-Mas dan Adek-Adek yang mengalami hal berbeda, bisa share di komen ya.

Bagi Tuhan dan Bangsaku!

4 Sisi Melankolis Lorong Cinta

Bagi anak Universitas Sanata Dharma alias Sadhar, tepatnya penguasa teritori Paingan, Maguwoharjo, Depok, Sleman tentu sangat paham tempat yang bernama Lorong Cinta. Saya sendiri tidak tahu sejak kapan Lorong Cinta dibangun, pun Bapak Penunggu Pentingsari yang mengaku dulu ikut menggarap Kampus III Sadhar tidak cerita kapan Lorong Cinta dibangun, dia malah cerita tentang ular-ular yang dulu menghuni lahan calon kampus. Heu.

Lorong Cinta sejatinya adalah sebuah bangunan biasa. Namun sama halnya dengan kampus-kampus lain dimanapun berada, pun mungkin di negerinya PK, salah dua atau salah tiga tempat akan menjadi sebuah monumen yang tercipta dengan sendirinya. Di Paingan, monumen itu adalah Lorong Cinta, bukan OOM ALFA.

Bagi anak Sadhar Paingan, Lorong Cinta bukanlah semata-mata bangunan yang dibuat untuk menghubungkan gedung yang kebanyakan isinya laboratorium dengan gedung yang isinya kantor dan ruang kuliah. Lorong Cinta menjelma menjadi sebuah tempat yang penuh nyawa karena dihidupkan oleh sisi-sisi melankolis manusia yang tumpah pada dirinya. Dalam skema kesentimentilan yang penuh bumbu melankolisme, saya mencoba menelaah Lorong Cinta dalam perspektif khusus, maka muncullah 4 sisi itu.

Menunggu

Lorong Cinta terletak persis di depan sekretariat Fakultas Farmasi di ujung satu, dan sekretariat lainnya di ujung sananya lagi. Di masing-masing ujung Lorong Cinta ada tangga, dan ada lift. Ketika mahasiswa Farmasi kelar kuliah, mereka akan turun ke lantai dasar dan pasti akan memandang Lorong Cinta. Pun dengan yang akan kuliah, atau akan praktikum, pasti akan sangat intim bersama Lorong Cinta.

IMG_0037

Letaknya yang demikian ini lantas bersisian dengan sisi melankolis bernama ‘menunggu’.

Lorong Cinta adalah saksi sebuah aktivitas biasa. Kuliah jam 9, datang jam 8.30, kemudian duduk-duduk manis di Lorong Cinta sambil menunggu kuliah. Itu aktivitas dasarnya. Kalau mau dibongkat, aktivitas sederhana itu kemudian bisa dijelmakan dalam aneka rupa fantasi.

Lorong Cinta bisa menjadi saksi ketika malam sebelumnya sepasang kekasih memutuskan untuk berpisah, namun setelah merenung semalam sang lelaki lantas menanti sang mantan kekasih yang baru udahan kuliah untuk kemudian membicarakan hal tertentu. Bisa jadi, kan?

Lorong Cinta juga adalah tempat bagi mahasiswa tingkat lanjut dan secara semester juga berusia lanjut untuk sekadar menanti. Kuliah sudah nggak, ngasdos juga jarang-jarang. Ke kampus mencari dosen, mencari literatur, dan sejenisnya. Karena pas di dekat sekretariat, ya menanti dosen paling pas adalah di Lorong Cinta.

Pertemuan

Ada suatu kala ketika sepasang calon kekasih menghabiskan pertemuan pertama mereka yang berdua saja di Lorong Cinta, hari Sabtu, ketika kampus sepi. Angin yang bertiup agak kencang tidak dipedulikan, pun si cicak yang nggak kelar-kelar membaca.

Lorong Cinta juga menjadi tempat yang tepat untuk janjian, untuk rapat, untuk bertemu asisten dosen, hingga untuk janjian COD. Apalagi Lorong Cinta memberikan nuansa yang tepat untuk sebuah pertemuan. Bayangkan ketika sedang duduk menanti, lantas dari kejauhan muncul seseorang yang kita nanti-nanti, ketika dia menjelang tiba dan lantas merapat. Entah itu teman, entah itu mantan, entah itu kekasih, semua punya sisi yang menarik untuk dicerna.

Bagi para alumni yang sudah tidak kenal siapapun, nongkrong di Lorong Cinta adalah kegiatan yang tepat untuk sekadar bertemu dosen yang sedang berkeliaran. Tampak simpel, namun melihat dosen kemudian salaman dan lantas dosennya masih ingat nama si alumni, itu pasti keren. Masalahnya, diingat itu kontekstual, bisa diingat karena nakal, bisa pula diingat karena ketemu di perkuliahan 4 kali untuk materi dan nama kuliah yang sama. Pertemuan yang pedih.

Berharap

Lorong Cinta memang tidak menyimpan suatu monumen yang tampak untuk mencerminkan harapan. Namun, berada di Lorong Cinta, sejatinya adalah bentuk harapan yang akan terwujud. Ya, sesederhana berharap jadi sarjana kemudian dalam proses yang melelahkan itu, duduk merenung, beria-ria, dan kemudian berpikir bahwa masih ada harapan untuk menuntaskan perjalanan yang panjang itu.

Lorong Cinta juga menjadi tempat ketika nilai-nilai ujian dikeluarkan dan dipampang serta dibagikan. Semuanya akan mengumpulkan, menghitung, kemudian berharap bahwa nilai baik yang dimimpi-mimpikan itu kemudian muncul. Lorong Cinta juga menjadi saksi harapan baru ketika orang yang ulang tahun mengeringkan badan pasca menjadi korban hijaunya kolam Paingan.

Harapan nyatanya kebanyakan ada di dalam hati. Ada saja mahasiswa yang duduk di Lorong Cinta tanpa arah dan tujuan, hanya berharap bisa melihat Sang Pujaan Hati dari kejauhan, berlari imut menuju laboratorium dengan tas hitam dan sepatu ketsnya, kemudian sudah. Ah, ini pasti cinta. Derita yang tiada akhir. Apalagi itu cinta diam-diam, sebuah akhir yang tidak memiliki awal.

Bahagia

Ketika saya selesai ujian skripsi terbuka tanggal 22 Januari, persatuan tim Swamedikasi dan tim Teh lantas menghelat peringatan kebahagiaan dengan tumpengan persis di tengah-tengah Lorong Cinta. Lulus ujian skripsi adalah bentuk kebahagiaan dan itu sungguh kami rayakan di tempat kami menunggu, di tempat kami berharap, dan di tempat kami saling bertemu untuk saling menguatkan.

Lorong Cinta adalah saksi bahagia ketika praktikum selesai dan data diperoleh dengan baik. Lorong Cinta juga merupakan tempat yang didatangi oleh sepasang kekasih dengan manisnya, lantas duduk bersama di kursi kayu sepanjang lorong, dan keduanya memamerkan senyum bahagia.

Image(128)

Namun, sebenarnya bahagia paling utama terjadi ketika seseorang yang memiliki harapan untuk sekadar bisa melihat sang pujaan hati yang tidak bisa dimiliki menunggu dengan sabar di Lorong Cinta kemudian justru bertemu dan bertukar sapa sebelum sang pujaan hati kembali berlalu dari depan mata. Sebenarnya, bahagia memang hanya sesepele itu.

Dua Malam di Manado

Heyhoh! Kembali lagi dalam edisi perjalanan di blog sepele ariesadhar.com ini! Kembali lagi atas nama pekerjaan, saya kembali naik pesawat. Sesungguhnya, naik pesawat di kala berita tentang proses evakuasi Air Asia QZ8501 sedang kencang-kencangnya, bukan hal yang mudah. Apalagi kali ini perjalanannya kembali menuju timur. Timur Prado…, eh, ya ke timur aja, gitu. Untungnya lagi, kali ini pekerjaannya tidak selama dan seberat yang dua perjalanan awal yang tentunya bisa dibaca juga liputannya di blog ini.

Jadi, kemana saya kali ini?

manado1

Yup, saya kembali lagi ke Bumi Celebes. Sesudah kemaren ke salah satu kakinya, sekarang saya ke kepalanya. Demi efektivitas perjalanan dan pekerjaan, akhirnya diputuskan bahwa berangkatnya jam 05.30 pagi WIB. Yang mana daripada saya harus sudah ada di bandara Soekarno-Hatta setidak-tidaknya jam 04.30, dan tentu saja saya nggak mungkin nunggu Damri jam segitu. Jadilah saya sok kaya dengan Taksi Blue Bird. Mau bagaimana lagi? Pukul 03.30 saya sudah cabut dari kosan, ditemani rintik hujan dan maling-maling yang sedang dinas.

Lanjutkan bacanya, yuk!

Anakku, Di Mana Kamu?

Saya orang yang percaya pada kebetulan semesta. Saya percaya pada aneka peristiwa bisa jadi merupakan pertanda untuk hal lainnya. Seperti saya kisahkan di buku saya, OOM ALFA, saya membaca soal penyelamatan diri terhadap gempa pada malam sebelum gempa Jogja 2006, pada saat seharusnya saya membaca tentang Farmakognosi Fitokimia. Entah berkorelasi atau tidak, tapi kemarin saya mengalami sebuah peristiwa yang begitu mirip dengan yang saya alami 10 tahun lalu. Sebuah kisah orangtua yang ‘kehilangan’ anaknya.

Memang, kisah ini bukan ‘hilang’ dalam konteks diculik atau sejenisnya. Sepuluh tahun silam, sudah ada handphone dan ‘hilang’ yang saya maksud berkorelasi tentang itu. Dua kisah ketika ada orangtua yang mencari anaknya karena anaknya tidak bisa dihubungi. Kisah 2004, orangtua menelepon anaknya tapi tidak diangkat. Kisah 2014, handphone sang anak mati dan orangtua bingung untuk menghubungi anaknya.

IMG_5220

Sepuluh tahun yang lalu saya sedang nongkrong galau di Lorong Cinta dalam rangka menunggu mantan calon gebetan selesai praktikum. Bukan pengen ngobrol atau apapun, cuma pengen melihat. Melihat sudah merupakan kegembiraan paling pilu dari pelaku cinta diam-diam. #tsahhh

Mbohae!

Dari Kota ke Kota

Seraya mengerjakan sebuah posting tidak berbayar perihal traveling, saya mendadak ingat sesuatu. Iya, saya ingat kalau Nia Daniaty sudah pisah ranjang dari Farhat. Ah, itu sih basi. Aslinya, saya jadi ingat perihal kota demi kota tempat saya hidup. Seperti yang bisa dilihat di profil. Saya pernah hidup di Bukittinggi, Jogja, Depok, Palembang, dan kemudian Cikarang. Ibukota bin ibu tiri bernama Jakarta mungkin adalah peraduan berikutnya.

Sempat ngobrol dengan si Cici perihal bagaimana anak-anak di keluarga kami dibentuk. Simpelnya, Cici bilang, “kalau kita kan dilempar kemana juga hayuk!”

Kalau dirasa-rasa sih benar juga.

Nah, berikut sekilas petualangan hidup saya dari kota ke kota.

Kotakan.. Kotakan Sejujurnya..

[Interv123] Blessed Survivor

Interv123 baru nongol bersama Bu Bidan, tanggal 20 kemaren. Seharusnya akan nongol lagi tanggal 10. Tapi hari ini saya terpaksa melanggar ketentuan saya sendiri karena tamu Interv123 hari ini buat saya sungguh luar biasa. Dan adalah kerugian besar bagi saya kalau harus egois menahan isi wawancara ini sampai tanggal 10. Lagipula, wawancara dilakukan tanggal 1. Mengetiknya antara tanggal 1 sampai tanggal 2, bulan 12, di tahun 2013. Baca lagi, 1-12-13 ke 2-12-13. Semuanya masih beraroma 123. Jadi pelanggaran masih diperkenankan. Seperti yang saya tulis di salah satu halaman skripsi: setiap hal ada pengecualiannya.

Semuanya bermula dari sesorean tadi–sepulang jadi apoteker beneran, sekali dalam sebulan–saya iseng mengecek TL Twitter. Sebagai penulis yang followernya nambah 3 tapi kurang 5, saya harus eksis bercicitcuit. Saya lalu mendarat di posting Derita Mahasiswa berjudul Tuhan Punya Rencana Lain. Awalnya sih biasa saja, sampai kemudian saya membaca hingga akhir posting itu. Begitu selesai? Saya terhenyak, karena ternyata saya pernah membaca nama di dalam posting itu sebelumnya.

Penulis favorit saya, beberapa bulan yang lalu menulis cerpen berjudul Anak Lelaki di Samping Jendela. Di akhir cerita, ada tulisan begini:

Caramel Macchiato

Ya, tokoh di dalam posting Derma dan tokoh di dalam salah satu cerpen dari penulis favorit saya itu merujuk pada 1 orang yang sama: @shiromdhona.

:)

🙂

Mbohae!