Tujuh Hari di Kendari

*ngusir gembel yang lagi nginep di blog ini*

*bersihin sarang laba-laba*

Tugas atau dinas luar adalah hal yang biasa dalam 2 tahun pertama karier saya, bahkan sempat sampai pada tataran bilang, “Udah, Pak. Yang lain aja yang berangkat”. Tapi itu dulu. Tiga tahun berikutnya? Boro-boro. Disuruh berangkat training aja kagak. Ngendon belajar sendiri di dalam kantor dan hanya pergi sekali. Itu juga ke Bandung, balik hari, bertemu supplier tua bangka dengan istri remaja. Kabar terakhir, supplier itu habis bangkit dari koma, untuk kedua kalinya. Luar biasa survive.

Untitled3

Maka, ketika masuk ke pekerjaan yang memang perlu dinas ke luar kota macam sekarang ini tentu nggak terlalu kagok. Koper siap, mental juga biasa. Koleksi botol shampo hotel saya cukup memperlihatkan jatidiri saya yang sudah menginap di berbagai hotel. *ngutil kok ngaku*

Masalahnya kemudian adalah surat tugas untuk pergi dinas itu datang tanggal 16 Oktober, untuk berangkat tanggal 19 Oktober. Bukan mepetnya yang jadi masalah, tapi tanggal 19 Oktober itu sudah saya book untuk menghadiri pernikahan Coco, si mantan playboy. Coco ini muncul beberapa kali di dalam buku saya OOM ALFA, terutama di bagian Gempa Jogja.

Di sisi lain, saya cukup excited dengan tugas perdana ini. Memang semua yang perdana itu bikin excited, semacam malam pertama (kecuali untuk yang sudah malam pertama duluan sebelum nikah, sih). Apalagi tujuannya adalah sebuah kota yang ada di kaki K dari pulau yang belum pernah saya injak sebelumnya. Celebes. Tebak, kota apa? Yup. Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara. Provinsi yang lagi butuh banyak anggota DPRD karena lagi hobi pemekaran. Entah pemekaran itu berguna atau tidak.

Lanjutkan membaca, Mbohae!

Advertisements

Curcolinggerus

Judul apa ini? Nggak tahu, tadinya mau bikin curcolicious tapi kok sudah ada yang bikin. Ya, sebenarnya judul ini juga menguji apakah pembaca ariesadhar.com ini ngeres atau nggak. Intinya sih pengen curcol. Curhat sambil colek-colek.

Beberapa pekan terakhir saya beneran menghabiskan waktu dengan ngeblog sebanyak mungkin. Tidak disini pastinya, karena saya sangat menjaga kemurnian blog ini. Seperti diketahui bersama bahwa sebagian isi blog ini yang saya anggap kotor (aha!) sudah saya pindahkan ke alfarevo.blogspot.com, jadi intinya kalau yang ada disini adalah yang sudah terpilih dan sesuai dengan visi misi ariesadhar.com yang sedang dirumuskan dalam rapat Renstra yang digelar di Timbuktu, biar uang dinasnya banyak.

Beberapa pekan terakhir, saya masuk ke banyak blog dalam rangka mencari referensi. Saya kemudian lihat beberapa blog yang lumayan kece dari sisi konten, dan juga sudah dilirik oleh beberapa vendor untuk melakukan review. Tetiba saya bingung, kok blog ini belum ada yang ngorder buat review? Kalau dibilang dari sisi performa, ada yang pageview-nya belum lagi 100.000 tapi sudah ngereview. Ada yang Alexa-nya dibawah 4 juta, sudah ada yang order. Ada yang pageview per bulannya masih lebih rendah dari blog ini, juga dikasih job. Ada yang baru pacaran, tapi sudah nikah aja. Saya kapan? #loh #kokjadikawin

Kadang–karena sirik–saya jadi merasa bahwa perjalanan saya di tulis menulis ini semacam mentok. Blog ini pageview-nya mentok di 500-600 per hari, masih jauh dari standar dilirik iklan. Tulisan yang saya kirim ke media massa juga masih ditolak-tolak aja. Novel? Saya masih susah payah menyelesaikannya, sementara para penulis lain yang segenerasi dengan saya di penerbit, sudah proses buku kedua bahkan ketiga. Ikut lomba? Nggak pernah menang. Yang ada malah tulisan saya dicopas di blog orang, atau di meme yang beredar tanpa sedikitpun mencantumkan sumbernya, lalu cuma dibilang “hehehe… aku kan cuma repath”.

Iya, saya merasa mentok dan lantas bertanya, apakah hobi ini cukup berguna untuk dilanjutkan? Apakah cukup mampu untuk dipakai nyicil rumah? Apakah bisa dipakai untuk nabung buat tiket ke London? Apakah Rhoma Irama masih mencintai Ani?

Nah, sambil nggerus itu saya kemudian mencoba melakukan hal yang berbeda. Saya pergi ke sebuah kafe, sendirian kayak jomlo, dengan membawa notebook milik pacar yang untuk setahun ke depan jadi hak milik saya. Di kafe itu sambil ambil tempat di pojokan sambil keramas dan kemudian membuka laptop untuk menulis. Saya menulis dari 10.45 sampai sekitar 15.15, cukup lama dan diselingi nasi goreng kampung yang belinya di kota plus dua gelas minuman. Hasilnya cukup memuaskan diri sendiri, hampir sepertiga dari naskah yang sedang saya tulis bisa berubah bentuk dari sekadar ide yang lari-lari di kepala menjadi sebuah file yang bisa dibuka. Sekarang naskah itu boleh dibilang sudah jadi, sedang saya tes pembaca. Nanti 1-2 minggu lagi siap dikirim ke penerbit.

Sambil mengenang di KRL–yang kebetulan jalurnya adalah jalur saya pulang pacaran dulu–saya kemudian menyadari bahwa saya menulis karena saya suka, bukan karena saya ingin blog ini menghasilkan uang. Saya menulis karena saya ingin, dan toh pencapaian saya nggak jelek-jelek banget. Saya punya blog yang punya pembaca tetap, saya punya buku–yang masih diusahakan terus biar laku, dan yang terpenting saya punya kemampuan ini, yang baru saya sadari kalau eksis sesudah saya diberi tawaran menjadi DSP Section Head, dan lantas saya tolak.

Saya kemudian sadar bahwa menulis seharusnya bukan semata-mata soal uang. Well, monetisasi blog itu tentu masih menjadi PR saya, tapi saya sekarang tidak menjadi stress soal itu. Setidaknya saya punya karya yang bisa saya banggakan walaupun modelnya masih rintisan begini. Daripada orang yang lantas terkenal hanya karena nge-path soal kota tertentu, atau karena mempermalukan guru adiknya di FB, padahal guru adiknya ya nggak salah. Yup, saya mengutip pernyataan seorang penulis, mari menulis saja terus, dan kemudian perhatikan apa yang terjadi.

Salam nggerus!

59 Fakta Tentang Wisuda Universitas Sanata Dharma

Hari ketika tulisan ini dibuat adalah harinya wisuda di Universitas Sanata Dharma. Sebagai alumni dari Universitas yang namanya diabadikan oleh Bapak saya sebagai nama anak pertamanya ini, tentu saya punya segudang memori tentang almamater tercinta. Sebagian memori itu sudah saya tuangkan di postingan berjudul 77 Fakta Unik Mahasiswa Sanata Dharma, dan kali ini yang saya bawakan adalah 59 Fakta Tentang Wisuda Universitas Sanata Dharma. Yuk, disimak!

wisuda-usd_1204

1. Mahasiswa Universitas Sanata Dharma yang mengikuti wisuda adalah yang sudah yudisium (lah cetho!).

2. Tidak semua mahasiswa yang yudisium pada periode tertentu akan mengikuti wisuda. Sebagian tidak wisuda karena alasan biaya.

3. Wisuda di Universitas Sanata Dharma umumnya diselenggarakan di Kampus Mrican. Pernah juga di Paingan, sih.

4. Cuma kayaknya kalau di Kota Baru belum pernah. Kayaknya lho ya.

5. Jika dihelat di Mrican, maka wisuda diselenggarakan di area Realino dengan titik fokus wisuda ada di panggung Realino.

6. Wisudawan/wati duduk di kursi lipat yang diletakkan di atas jalan konblok.

7. Orangtua dan pengantar duduk di kursi lipat yang diletakkan di lapangan bola.

8. Iya, sudah dandan pakai sanggul sasak dan kebaya duduknya tetap di lapangan bola.

9. Diperlukan tenda yang cukup banyak untuk menutup area wisuda yang sebagian merupakan lapangan bola.

10. Berdebu dong? Wong julukan’e wae Santiago Berdebu!

11. Oya, penulis buku OOM ALFA, diwisuda di Realino, lho! #infopenting2014

12. Tenang, sebentar lagi semuanya akan tinggal kenangan karena bakal ada auditorium!

13. Toga yang dipakai untuk wisuda adalah toga minjem punya kampus.

14. Proses ngepas dilakukan sekitar sepekan sebelum wisuda.

15. Sehabis wisuda, toga harus dikembalikan. Kalau samir-nya boleh dimiliki.

16. Sebagian besar program studi menggelar acara pelepasan wisudawan/wati dalam rentang 1-3 hari sebelum wisuda.

1381569_10200283850573616_905168050_n

17. Kecuali: Farmasi. Pernah menggelar pelepasan wisuda beberapa minggu sesudah acara wisuda.

18. Sebagian mahasiswa sudah pernah mengikuti acara pelepasan sebelumnya, mendampingi mantan pacar.

19. Maklum, dapatnya kakak kelas.

20. Selalu ada alumni yang sudah pernah pakai toga yang datang pada saat acara wisuda.

21. Ya itu tadi, pacarnya kan adek kelas.

22. Selalu terjadi, sudah dibela-belain datang pas wisuda, ujungnya nggak jadi kawin juga.

23. Pada saat masuk area Realino, calon wisudawan/wati sudah disambut fotografer yang walau nggak kenal udah main foto aja.

24. Wisudawati umumnya sudah bangun sejak jam 3 pagi untuk antre salon.

25. Wisudawan ada yang baru bangun jam 7 pagi.

26. Prosesi wisuda dimulai dengan arak-arakan senat dan wisudawan yang durasinya bisa lebih dari 30 menit, diiringi musik nan keren dari UKM Karawitan.

27. Panggung Realino akan dihuni oleh rektor dan seluruh senat, UKM Karawitan, dan UKM PSM Cantus Firmus

28. Lulusan terbaik masing-masing fakultas punya tempatnya sendiri di bagian depan. Mereka dipindahkan talinya oleh Rektor. Bersama orangtua masing-masing pula! Namanya juga ‘dengan pujian’!

29. Sementara lulusan ‘dengan kasihan’ sedang sibuk kipas-kipas pakai buku wisuda.

30. Prosesi wisuda dilakukan oleh Dekan Fakultas dan Kepala Program Studi.

31. Dekan memindahkan tali, salaman. Kaprodi memberikan map, salaman. Kelar.

32. Dekan yang paling pegel banyak memindahkan tali dalam acara wisuda Universitas Sanata Dharma adalah dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

33. Ada dua jalur yang digunakan untuk pemanggilan wisudawan/wati, kiri dan kanan panggung. Dua jalur ini dipanggil bergantian.

34. Kalau kamu pas cum laude, saat dipanggil ada tambahan, “predikat kelulusan Dengan Pujian”.

35. Selalu ada anggota senat yang terkantuk-kantuk ketika sesi memindahkan tali ini.

36. Kadang ada wisudawan/wati yang diberi tepuk tangan ketika namanya dipanggil.

37. Biasanya langsung diikuti ucapan, “huuuu…..” dari pemirsa lain. #pengalamannyata

38. Begitu selesai, wisudawan/wisudawati kipas-kipas lagi sambil mainan HP dan update status.

39. Kantong kemeja para wisudawan umumnya jadi penitipan HP milik wisudawati.

40. Sesudah prosesi wisuda ada lagu ‘Bagimu Negeri’ yang diikuti dengan sambutan dari rektor, wakil alumni, wakil orangtua, hingga wakil wisudawan.

41. Pernah terjadi: orangtua maju sambutan sebagai wakil orangtua, anaknya maju sebagai wakil wisudawan.

42. Pernah terjadi: 1 orang maju sambutan sebagai wakil wisudawan, bertahun-tahun kemudian maju sambutan sebagai wakil alumni.

43. Sambutan-sambutan akan diselingi oleh lagu dari PSM Cantus Firmus

44. Biasanya, setiap lagu didahului oleh narasi ciamik yang sejak tahun 2008-an sampai 2013 dibuat oleh seseorang bernama Cicilia.

45. Pernah ada yang pakai toga, terus habis wisuda naik ke panggung, main keyboard, mengiringi lagu dari PSM Cantus Firmus. Namanya Danang, lagunya ‘Your Love’.

46. Atau jadi solis, nyanyi Lagu Rindu dari Kerispatih. Namanya Danang juga.

47. Atau jadi dirigennya sekalian. Kalau ini namanya Lani.

48. Menjelang acara berakhir ada sesi menyanyikan lagu Hymne Sanata Dharma.

49. Sesudah wisuda biasanya langsung riweuh mencari teman-teman untuk foto-foto dan perpisahan.

50. Momen perpisahan ketika wisuda tidak terlalu dirasakan oleh anak farmasi, karena sebagian besar (sekali) dari mereka akan bertemu lagi Senin depan di kelas dalam kuliah profesi apoteker.

51. Salah satu wisuda paling terkenal sepanjang hikayat Universitas Sanata Dharma adalah November 2010.

52. Jumat pagi terjadi erupsi besar Merapi, Jumat siang sempat digosipkan batal, Sabtu pagi wisuda tetap berjalan di bawah naungan abu vulkanik. Dan syukurlah berjalan lancar.

53. Selalu ada stand foto di belakang area orangtua sebagai opsi untuk foto-foto.

54. Selalu ada mahasiswa dari seksi DDU atau Danus yang dagang bunga ketika wisuda.

55. Bagi sebagian besar wisudawan (kecuali mayoritas Farmasi), wisuda adalah kali terakhir mereka datang ke kampus.

56. Selalu ada pengumuman macam di Ragunan sesudah acara wisuda selesai: “kepada Tukirin dari Magelang, ditunggu keluarganya di panggung!”. Padahal yang dipanggil lagi asyik foto-foto.

57. Selalu ada wisudawan/wati dan keluarga yang bertemu kembali di studio foto elit yang tersebar di seantero Jogja.

58. Selalu ada wisudawan/wati dari keluarga yang bertemu lagi di rumah makan mahal yang berada di berbagai tempat di Jogja.

59. Walau berdebu, seluruh alumni yang pernah wisuda dalam panji-panji Universitas Sanata Dharma pasti mengenangnya dengan bahagia karena sejatinya wisuda hanyalah sebuah langkah dalam kehidupan.

Selamat kepada para wisudawan/wati yang dipindah talinya hari ini! Percayalah, rasanya biasa saja kok. Heu.

Tiesa’s Thought: Musuh Dalam Selimut Itu Berjudul Koneksi Internet

LDR_Banner

Selamat sore waktu London, pemirsa ariesadhar.com sekalian. Salam kenal dari saya! Well, maybe perkenalan ini sangat terlambat, tapi just in case anda sekalian penasaran sama saya, boleh ditengok lagi postingan author blog ini tentang Braga Culinary Night. Yah, kira-kira saya ada di bagian dimana ongol-ongol disebutkan. Haha.

Jadi ceritanya saya sama bapak-bapak author ini sedang LDR. Ya ampun, mainstream banget ya! Gimana nggak mainstream, lagu buat kaum LDR ini sudah banyak sekali, mulai dari Mbak Raisa sampe Avenged Sevenfold aja mendedikasikan lagu mereka buat kami. Sayangnya, belum ada lagu yang didedikasikan untuk membahas salah satu poin krusial dalam LDR: koneksi internet.

Sebagai pasangan antar benua antar negara antar propinsi antar kota, komunikasi via dunia maya adalah satu-satunya cara buat kami tetap catch up satu sama lain. Terimakasih kepada semua penemu aplikasi messenger dengan fitur video call! Saya jadi bisa saling memandang sama bapak ini. Seperti sudah saya utarakan dalam surat pertama saya, saya bisa gila deh kalau cuma liat muka dia setahun sekali. Dan koneksi internet tentu saja salah satu faktor yang membuat semua komunikasi ini bisa berjalan lancar.

Sore ini saya cukup kesal karena si koneksi internet ini. Lagi kangen berat sama pacar, pengen ngobrol banyak (apalagi tadi baru dapat pengalaman kerja di hospital sini, so many things to be told to him!), pengen liat mukanya yang kaya kentang (kentang cakep), tapi hampir sejam kerjaan kami cuma mencari cara gimana bisa terkoneksi dengan baik. Pertama coba messenger S (like we always do), terus coba F, terus coba H. Semuanya nggak ada yang kece. Duuuh!

Nggak tahu juga mau nyalahin siapa. Should I put the blame to lambatnya koneksi internet di negeri tercinta (karena katanya kan ‘internet cepat, buat apa?’. Okay, I’m being sarcastic here, pardon me)? Tapi bisa juga koneksi saya yang lambat dan nggak stabil. Mungkin angin kencang (kencang!) di kota ini membuat koneksi jadi amburadul, kan bisa aja. Pada akhirnya, kami memutuskan ini bukanlah waktu yang tepat buat video call-an, and we should try it again another time (yang mana suka susah dicari karena perbedaan waktu adalah masalah kedua di LDR antar benua).

Tapi anak hebat nggak boleh menyerah sama keadaan dong! Maksudnya, gimanapun koneksi internetnya, yang penting relationship-nya. Harus tetap dijaga, di-maintain juga. Kalau katanya cinta pasti pake telepati hati juga bisa. Haha. Seburuk-buruknya, masih ada merpati pos yang siap mengantar surat saya ke Jalan Percetakan Negara Jakarta kok.

Be strong, LDR-ers dimanapun Anda berada. Salam manis dari angin-angin gelebug di kota ini!

[Review] Tetangga Masa Gitu?

Satu nama ini memang selalu mampu ‘mengubah’ pertelevisian Indonesia. Ya, namanya Wishnutama. Sesudah menggebrak dengan Trans TV–kemudian menyusul Trans 7–dia kemudian hengkang dan tahu-tahu tiba di sebuah stasiun TV baru yang tampak aneh karena mencoba merebut ceruk iklan di kompetisi pertelevisian yang padat. Namun ,belum apa-apa, stasiun TV itu sudah bikin launching yang LUAR BIASA MEWAH. Saya mencoba menonton televisi itu beberapa kali, tapi mungkin hanya Sarah Sechan yang bisa mencuri perhatian. Ya, stasiun TV itu adalah NET.

Tunggu punya tunggu, akhirnya NET punya juga sebuah masterpiece. Diusung M. Ikhsan di Production Head, Yenni Pujiastuti di Produser, Nunung Kusuma Wardhani di bagian Creative, dan Fatur Rachman di Production Assistant, muncullah sebuah tayangan andalan setiap jam 7 malam. Sebuah jam yang sangat berani untuk melawan stasiun TV lain ketika kemudian ada hewan ganteng. Yup, liat NET jam 7 malam, setiap Senin sampai Jumat, maka kita akan berkenalan dengan Angel, Adi, Bintang, dan Bastian di Tetangga Masa Gitu?

dOUi2zFn_400x400

Garis besar ceritanya ada pada empat orang dan dua rumah tangga. Angelica Schweinsteiger (diperankan oleh Sophia Muller), seorang pengacara kaya, yang sudah menikah selama 10 tahun dengan pria bernama Adi Putranto (diperankan oleh Adi Dwi Sasono), seorang pelukis yang cenderung pengangguran. Lihat saja, dua nama kondang ini ada di skenario, bagaimana tidak menarik?

Selanjutnya, Mbohae!

Letter #2

LDR_BannerLondon

Dear Mas Arie,

Iya, aku tahu ini belum seminggu dari surat terakhirku buat kamu, but I hope you don’t mind if I flood your blog with my letters, hihi…

So, Sunday! Hari dimana kamu biasanya akan berangkat pagi-pagi banget dari Kramat, naik KRL ke Bintaro, tiba di depan (mantan) kosanku sekitar jam 8, sarapan, ke gereja di Sanmare jam 9 pagi, pulangnya belanja di Lotte Mart, masak bareng (maksudnya aku masak bareng dukungan doa dari kamu gitu, because we know you had tons of reasons to not-helping me in the kitchen :p).

Hari Minggu terasa berbeda sejak dua minggu ini. For me, for you. Kamu akhirnya hijrah ke gereja Kramat setelah sekian lama nggak pernah kesana walaupun jadi penduduk sana, karena sudah nggak ada lagi mbak-mbak lucu di Bintaro yang bisa kamu apelin. As for me, aku juga hijrah ke Newman House, the Catholic Chaplaincy for the Universities and other Higher Education Institutions in the Diocese of Westminster (hore! Lengkap!).

Selanjutnya, Mbohae!

Menerima Komedi

Jadi ceritanya saya baru–barusan aja–kena marah sama kakaknya pacarnya temannya adek saya. #nahlohbingung. Si temannya adek saya nongol di newsfeed lagi di bandara, mau balik ke suatu kota yang mana daripada saya pernah hidup disana selama 2 tahun. Baca profil saya aja biar tahu ya. Nah saya komen beberapa, salah satunya bilang kalau LDR di kantor saya yang lama itu biasanya putus. Sudah saya tambahkan hashtag untuk memperjelas kesan bercandanya, sudah saya tambah haha dan hehe. Menurut saya sih sudah cukup ya? Oh, bahkan hipotesa saya sudah dibantah dengan lugas dan tegas–juga dengan bercanda–oleh temannya adek saya. Ya sudah saya kalah. Mestinya cukup kan ya?

Ternyata nggak, saudara-saudari. Saya kena semprot sama kakaknya pacarnya temannya adek saya. Katanya saya harus berhati-hati untuk berkomentar, katanya lagi YOUR WORD REPRESENT YOUR PERSONALITY. Yah, berhubung saya juga nggak kenal dengan kakaknya pacarnya temannya adek saya itu, saya nggak perlu ajak ngopi-ngopi untuk meluruskan suasana. Eh, suasana kok lurus?

Saya cuma mau cerita. Mirip dengan kisah yang barusan saya komen. Kebetulan saya dan pacar kan LDR, nih. Beberapa hari sebelum pacar berangkat ke London, teman di Balkes, Mas Didit cerita tentang temannya. Teman itu namanya Ari (juga), dulu kerja di market leader (juga), dan ditinggal LDR ke luar negeri (kebetulan yang ini New Zealand, malah lebih dekat). Ceritanya pahit habis. Si laki-laki itu sudah bela-belain pindah agama, eh si perempuan pulang dari New Zealand malah bawa cowok bule!

Mas Didit bercerita dengan gamblangnya, dan beberapa kali bilang, “hati-hati loh, Mas”. Saya sih hanya ketawa saja. Kalau saya mau, saya bisa banget untuk tersinggung ketika Mas Didit bercerita kisah itu sepanjang perjalanan dari Cibiru sampai Cikarang Baru.

Ya, seperti yang saya ceritakan di tulisan tentang menulis komedi, dahulu saya adalah orang amat-sangat-mudah-tersinggung. Sampai saat ini, dalam beberapa situasi hal itu muncul sih, tapi selalu berusaha saya redam. Saya berusaha mengubah diri dengan cara menulis komedi. Saya tulis disitu bahwa hal-hal yang bikin tersinggung itu kadang bisa ditertawakan. Dan menurut pengalaman saya, daripada tersinggung, lebih baik tertawa. Makanya, ketika Mas Didit cerita itu, saya memilih tertawa. Apapun yang terjadi nanti, ya terjadilah. Yang jelas cerita Mas Didit nggak bikin saya tersinggung, saya dan Mas Didit tetap baik-baik saja, dan saya malah bisa belajar untuk tidak seperti yang diceritakan oleh Mas Didit.

Memang, ada hal-hal yang membentuk saya. SMA di De Britto, gaul di UKF Dolanz-Dolanz, hingga DCFC, semuanya sangat pedas dalam berkata-kata. Kalau diturutin tersinggung terus, seperti yang saya alami di awal-awal SMA, sayanya malah stress gila. Memang kalau urusan jodoh itu sesekali bisa bikin spaneng. #apacoba.

Sebenarnya pelajaran juga bagi saya untuk bercanda. Sebagai penulis yang mengarahkan produknya ke komedi, baik di blog maupun di buku, saya terbiasa menulis bebas, sesuka saya, lha wong blog-blog saya, buku juga buku saya. Si kakaknya pacarnya temannya adek saya tadi ada benarnya untuk meminta saya hati-hati menulis di wall/status/foto seseorang. Boleh juga, sih. Beneran saya harus belajar untuk memilih dan memilah serta untuk mengerti bahwa tidak semua orang bisa menerima sebuah komedi. Makasih loh, Mbak.

Saya berani komen seperti itu, karena bapak-bapak DCFC juga pernah berkomentar hal yang sama kepada saya. Sekali lagi, saya bisa tersinggung, tapi ketika itu saya tidak memilih untuk tersinggung, dan benar sesuai yang teman saya bilang, LDR saya itu justru berakhir ketika saya sudah tidak LDR kok. Bahkan ketika saya dibercandai, “sudah dibelain pindah malah putus” ya akhirnya tetap biasa saja. Kalau ingin dituruti, ya sedih juga kan ya?

Begitulah pelajaran hari ini. Semoga si teman baik-baik saja sama kakak iparnya, sebaik saya dan calon adik ipar saya. Serta sebaik adik saya dan calon kakak iparnya. Amin.

Letter #1

LDR_Banner

London

Dear Mas Arie,

It’s been two weeks! Two weeks since our last hug, since the last time I could have your hands on mine. I am so missing you!

Dua minggu ini rasanya berlangsung sangat lambat buatku. Rasanya tiap saat aku menghitung hari, kapan bisa balik ke Indonesia. Dua hari pertama adalah hari terberat buatku. Sampai di kota yang benar-benar asing setelah tujuh belas jam duduk di bangku pesawat terbang, disambut dengan hiruk pikuk kota metropolitan dengan segala hal yang serba cepat, menghadapi perbedaan waktu. Waktu baru pertama sampai dorm pun, aku cuma sempat taruh koper aja, habis itu langsung pergi ke toko yang jual bantal dan lain-lain. Capek! Haha…

But life must go on! So I told myself, I am here now, let’s not grieving, let’s start to live a life. Untunglah, sekolah sangat menyenangkan. Materinya, pengajarnya, suasananya. Kelasku isinya international student semua, and it’s nice to hear their stories about their respective country. Temanku dari Finlandia bilang dia pernah hidup di suhu -40 derajat, temanku dari Kenya cerita dia bisa lihat zebra dan jerapah di halaman rumahnya, temanku dari Hongkong (iya, yang kamu bilang cantik itu) cerita soal bagaimana hidup sebagai farmasis di negaranya.

Although it’s fun, it’s challenging as well. Bayangin aja, 180 credits dalam 3 term alias 12 bulan! Mabok, mabok deh. Bener-bener harus rajin belajar sendiri, harus exploring something new juga. Dan kadang-kadang, aku merasa nggak percaya diri sama diriku sendiri. Bisa nggak ya, aku melewati semua ini. Bisa nggak ya, aku lulus. Hahaha…

Untung aja ada mas pacar yang selalu nemenin aku belajar. Via Skype. Thank you for stay alive until late night supaya bisa Skype sama aku yang jam segitu baru pulang kuliah ini. Melihat wajah kamu dari layar tablet memberi suntikan semangat buatku, semangat untuk lulus dengan baik dan pulang ke Indonesia dan bertemu denganmu. Yay! Bener-bener terimakasih banget ya sama kemajuan teknologi informasi zaman ini. Kayanya aku bisa gila deh kalau cuma bisa liat muka kamu setahun sekali.

Mas, lagi dingin nih hari ini. Hujan pula. Cuaca London itu ibaratnya suasan hati aku pas lagi PMS. Unpredictable at its max level. Kemarin cerah ceria, hari ini super kelabu. Dingin-dingin sendirian di kamar, terus kangen deh sama kamu. Pengen nge-pukpuk rambut barunya yang botak itu haha. Anyway, terimakasih karena sudah melaksanakan ‘titah’ saya buat potong rambut ya. Pokoknya kamu cakep kalau rambutnya pendek. Hehehe.

IMG-20141001-WA0013

Ngomong-ngomong, malem Minggu nih. Semangat ya, buat aku, buat kamu. Seperti biasa, kita malam Minggu-an via dunia maya aja yah hehe. Jangan lupa makan malam. Jangan lupa bersihin kamar. Jangan lupa shaving. Jangan lupa makan buah sama sayur harus ada setiap hari di menu makanannya ya.

Hugs and kisses from London,

Love,
Tiesa

* * *

Jakarta

Dear Tiesa,

Nota dinas ini saya kirimkan… eh… salah ya? Hmmm, harap maklum, tuntutan pekerjaan mengedarkan nota dinas ke bagian-bagian terkait. Ya sudahlah, namanya juga kembali fitri.

Beberapa hari ini aku lewat Kramat, stasiun andalan buat macar. Baru ngeh juga sudah sebulan nggak jadi penumpang KRL Commuter Line KMT-TNB, lanjut TNB-PDJ. Udah lumayan lama juga. Aku kan rindu ngecengin mbak-mbak di kereta. #ups #ditabok

Nggak ada yang terlalu baru dua minggu ini. Palingan cuma kabar si BG yang akhirnya dicuci sesudah berbulan-bulan lamanya. Juga kabar bahwa si BG sudah diisi Shell V-Power, yang paling mahal. Terus apalagi ya? Oya, si BG tetap jadi tempat tidur yang nyenyak untuk wanita dari kalangan kucing kampung. Oh, dan masih belum ada wanita lain dari spesies manusia yang menumpang di joknya si BG, selain wanita yang sudah-sudah. Yang utama dan terutama tentu kamu 🙂 Ya, kira-kira begitu.

Tanggal 1 Oktober kemaren jadi komandan upacara (lagi), cuma karena kostumnya nggak kece jadi fotonya tidak disebarluaskan supaya tidak beredar di Instagram kamu. Soalnya seragamnya mirip office boy Hotel Balairung Matraman, cuma kurang rompi merah sahaja. Terus apalagi ya? Oh! Akhirnya sesudah 7 bulan absen, bisa ikut misa Jumat Pertama lagi. Nggak sedekat Titan ke Sanmare, tapi yang pasti nggak sejauh Jababeka ke Trinitas. Malu juga, sih, giliran jauh rela-rela saja dijabanin sampai pernah kecelakaan. Giliran sudah terbilang dekat, malah absen. Sebagai lelaki bertampang santo gagal Jumat Pertama selama itu sebenarnya bukan pencapaian yang baik. Heu.

Yaudah. Sekolah yang bener ya. Jangan ngecengin bule, ingat kalau sudah dibiayain sama negara, jadi kamu juga harus setia sama negara. Salah satu bukti setia pada negara adalah setia pada abdi negara. Salah satu contoh abdi negara adalah CPNS. Jadi, untuk membuktikan kamu setia dan sayang sama negara, kamu harus setia dan sayang sama CPNS. Nah, salah satu CPNS itu adalah pacar kamu. #okesip

Hugs and kisses (wah, nggak enak kalau dibaca yang belum cukup umur) from Jakarta Pusat bagian dusun,

Love,
ArieSadhar

Antara Brunswick Square dan Percetakan Negara

Halo pemirsa ariesadhar.com yang saya cintai! *cipoksatusatu*

Mungkin banyak yang suka baca tulisan tentang jomlo di blog ini. Iya, memang banyak. Sebagian diantaranya adalah curhatan pribadi. Sebagian lainnya adalah semata-mata hendak ngenyek jomlo. Iya, jelek-jelek begini saya punya pacar loh!

Terima kasih kepada Rian Chocho yang akhirnya membalas budi terhadap campur tangan saya tujuh tahun yang lalu. Kok terima kasih? Terima kasihnya karena sudah turut serta dalam kenalnya saya dengan seorang gadis yang kemudian secara tiba-tiba ada di seluruh hidup saya. Satu hal yang pertama kali dibilang oleh teman saya yang playboy itu adalah  bahwa gadis itu suka menulis. Otak saya seketika berputar dan berharap bisa kolaborasi nulis buku, laku, lalu kalau poinnya cukup bisa jalan-jalan ke Paris. #loh

Sejak punya pacar, saya nggak pernah men-state secara jelas di blog ini. Siapa sih dia? Bagaimana kami lalu bisa pacaran? Awalnya, saya cuma takut, nanti kalau (amit-amit) putus, saya bakal kerepotan menghapus semua post yang ada namanya dia. Tapi setelah melihat blogger lain dengan pede memperlihatkan kebahagiaan hubungan mereka. Kenapa saya nggak?

Kebetulan, pacar saya sedang sekolah di London. Gile, saya seumur-umur mimpi paling tingginya sekolah di UGM, si pacar malah sudah kuliah di London, di sebuah universitas yang mirip sekolahannya Harry Potter. Iya, memang dekat sama stasiun tempat si Potter berangkat itu loh. Tanah Abang.

*kemudian hening*

Saya merasa sayang saja kalau cerita LDR ini tidak didokumentasikan. Ehm, ngomong-ngomong LDR, kok berasa ditakdirkan akrab dengan LDR ya. Cuma sekali saya nggak LDR, sisanya ada bau-bau LDR. Cerpen saya di buku antologi pertama juga berhawa LDR. Karin, tokoh di cerpen itu, adalah cewek yang LDR sama Barlian. Buku antologi ketiga saya malah judulnya ‘Curhat LDR’. Sudah terang benderang begitu judulnya.

Yah, dalam rangka mengabadikan momen hubungan yang dipastikan tidak mudah ini, maka mari kita sambut segmen baru di blog ariesadhar.com ini. Namanya harus kece kayak pacar saya: Antara Brunswick Square dan Percetakan Negara! Ini mengacu pada tempat kami sehari-hari menghabiskan waktu. Oh iya, dua tempat yang jadi judul itu sama-sama dekat stasiun berawal huruf K. Brunswick Square dekat dengan King’s Cross, Percetakan Negara dekat dengan…

Kramat. Anggap saja setara. *ngampet ngguyu*

So, kalau ada posting yang diawali dengan banner ini:

LDR_Banner

Maka itu cerita kami. Semoga pembaca ariesadhar.com yang terkasih bisa memetik sesuatu, menghina saya (karena LDR), atau apapun asal jangan ngegodain pacar saya, kalau ngegodain saya sih boleh.

Selamat membaca!

Supir APB 04 Yang Ramah

Kantor saya sekarang berada di sekitar Jalan Percetakan Negara. Salah satu angkot yang beredar adalah Angkutan Pengganti Bemo nomor 04 jurusan Salemba hingga Rawasari pulang pergi. Dimulai dari depan YAI (seberang UI), masuk di dekat Sevel, terus lewat Rutan Salemba dan menyusuri Jalan Percetakan Negara sampai habis hingga kemudian sampai di sekitar Rawasari sebelum perempatan bawah tol. Sehubungan dengan kemalasan saya naik motor di Jakarta, jadilah si BG lebih banyak diam. Mobilitasnya jauh menurun dibandingkan waktu saya di Cikarang yang bisa pulang pergi Jababeka Lippo sehari dua kali kalau weekend.

Tidak ada yang istimewa ketika saya menaiki APB 04 ini. Semuanya biasa saja. Supir-supir yang main suruh orang turun di kemacetan rel antara Sentiong-Kramat juga ada. Pokoknya impresinya kalau nggak biasa, ya buruk.

Sampai ketika saya naik APB 04 yang ini.

IMG20140919115119

Dari luar, dia seperti APB 04 pada umumnya. Sampai kemudian di kompleks Bank Mandiri ada sekelompok pelajar turun.

Selanjutnya, Mbohae!