Etika Mengirim Email (Lagi)

Kenapa judulnya pakai ‘(lagi)’? Soalnya dulu udah saya tulis disini dan disini juga.

Kenapa saya tulis lagi, soalnya barusan dapat inspirasi tambahan *halah*.

Jadi saya dapat email, isinya sih CV. Seperti biasa, buat tak teruskan ke orang HR.

UntitledJadi emailnya ya begitu doang. Gampangannya konten doang. Tentu posting ini bukan bermaksud bilang yang ngirim beginian salah, soalnya kadang, saya juga email macam itu kok. Dan untuk perkara CV begini, maksudnya dikirim konten doang, juga sudah sering saya alami. Dulu bahkan pernah lihat isi emailnya mantan karena disuruh ngecek, eh dia ngirim email ke HRD sebuah perusahaan dengan cara konten doang gitu.

*tepok jidat*

Ya gini deh, mendapat email konten doang, apalagi dari orang nggak dikenal itu rada runyam. Jangan2 ini SPAM. Ya to?

Nah, SPAM saja kalau ngirim sesuatu kan pakai kata pengantar bla..bla..bla.. Masak kita ngirim surat beneran, lantas kosongan gitu.

Apa sih susahnya nulis:

Dear blablabla,

Terlampir blablabla.

Terima kasih

Best Regards,
Ablublublu

Yah begitulah, saya juga lupa dulu gimana kalau ngirim email. Tapi sehubungan dengan pengalaman yang terus bertambah, perlahan ya akhirnya tahu juga hal-hal etis soal per-email-an. Jadi, sebisa mungkin jangan berikan email kosong, alias konten (attach) doang.

Begitu ya. 🙂

Advertisements

[Blog Review] (Mencoba) Melihat dari Sisi yang Berbeda

Ini blog asli adek saya. Ya walaupun hanya 1 dari sejuta manusia di dunia yang mengakui kalau ada kemiripan antara saya dengan dia. Terang sajalah! Saya gelap buruk rupa begini, dia putih dan (cukup) mempesona. Itu dia, makanya (m)buat anak jangan coba-coba #halah

Sesuai namanya, (Mencoba) Melihat dari Sisi yang Berbeda, Cici lebih banyak menuliskan pendapatnya tentang segala sesuatu atau tentang pengalaman sehari-harinya. Dari judulnya sudah main aman. Dia pakai kata mencoba, alih-alih menahbiskan diri kalau dia sedang melihat dari sisi yang berbeda (tentang sesuatu yang dikomentari).

Dan coba bandingkan tulisan saya di blog ini dengan tulisan Cici, bagi yang mengerti dunia tulis-menulis pasti menemukan beberapa kemiripan gaya. Ya, hal itu dimungkinkan karena orang tuanya sama. Yang ngajari nulis sama, yang ngajari berpikir juga sama. Perbedaan hanya pada bentuk-rupa-wujud saja kok. Haha..

Cici sama nggak produktifnya dengan Tere. Saya yakin itu semata-mata perkara dia nggak punya uang beli pulsa modem, karena beberapa kali minta saya #diceplosin

Dan kalau saya cenderung melihat hal-hal gede (sok mau jadi orang besar), adek saya ini mengomentari bahkan hingga kuliah kosong. Jadi, silahkan dikunjungi untuk melihat sisi yang berbeda 🙂

C.I.N.T.A = L.O.V.E

Well, hari ini senang nimbrung upload-an sebuah foto (screenshot) profil BBM seorang teman. Ya senang saja. Kalau teman senang kan kita ikut senang. Kalau teman diece, kan kita juga ikut senang. Bukan begitu?

Yah, teman saya yang menjelang uzur *eaaaaa* tampak banget sedang jatuh cinta. Yak, screenshot BBM yang di upload di FB sudah menjelaskan sesuatu, dilengkapi dengan status di Whatsapp-nya. Ya, ya, ya.. Tampak sekali dia sedang jatuh cinta! Hahahaha..

Turut senang, itu pasti 🙂

Well, soal cinta dan jodoh ini memang kadang rumit. Dalam hal ini mari kita colek bocah rantau. Hehehehe..

Soalnya nih, belakangan ini ada dua teman saya yang putus setelah usia pacaran seumur anak masuk TK, lantas mendapatkan cinta yang baru, yang uniknya, masih satu fakultas juga. Sudahlah, namakan saja ini misteri cinta. Bukan begitu? Kenapa nggak terjadi 4-5 tahun silam? Kenapa terjadi sesudah sekian tahun? Kenapa dan kenapa yang lainnya..

Ya begitulah, bahkan cinta itu sejalan hidup, sebenar-benarnya misteri.

Hmmm, kalau teman-teman saya sudah menemukan jawaban atas misterinya. Saya bagaimana ya? *garuk-garuk* 🙂

Selamat pren! 😀

*judul dikutip dari pernyataan teman yang baru jadian*

*halah*

Hidup Untukmu

“Udahlah, udah jelas nggak bisa juga.”

Panji menggumamkan frase tersebut sambil terus menerus menampar pipinya kiri dan kanan sampai berwarna merah merona. Belum cukup sesekali dicubitnya juga pipi kurus itu. Dan tanpa sadar disiramkannya air keras ke mukanya, ehm, maksudnya es batu sih.

Menjadi pemandangan unik ketika seorang pria duduk di meja kerjanya, dengan tumpukan dokumen di kiri-kanan-depan-belakang, tapi ia tidak sibuk dengan dokumen itu melainkan asyik menampar dan mencubit diri sendiri.

“Permisi, Pak!”

“Ealah, kenapa sekarang Tuhan? Belum siap saya,” bisik Panji dalam hati.

Suara bening Aline ketika bilang permisi itu berhasil membuatku tak berdaya, batin Panji. Tapi bagaimanapun, sebagai seorang atasan, ia harus bersikap profesional. Maka Panji berkata, “Ya, Aline. Kenapa?”

“Muka Bapak basah.”

Buset, perhatian bener ini anak, batin Panji lagi.

“Oh, iya. Kepanasan tadi,” jawab Panji asal. Dalam hati ia mengutuk perbuatannya sendiri mengoles-oles es batu ke muka,semata-mata hendak menyadarkan diri sendiri.

“Iyakah Pak? Perasaan AC disini adem,” ujar Aline sambil celingak celinguk.

“Iya, hati lagi panas. Halah. Iya, ada apa?”

“Oh, habis meeting sama marketing ya Pak? Hehe.. Ini mau minta approval slip permintaan bahan baku.”

“Yah gitu deh, tahu sendiri kalau habis meeting sama marketing rasanya kayak gimana, mana dokumennya?”

“Iya Pak, saya aja tobat Bapak aja meeting waktu itu.”

“Lha saya tobat berkali-kali dong? Haha.. Bagian dari proses saja ini,” cerocos Panji sambil menandatangani slip yang dibawa Aline.

“Iya kali Pak ya,” timpal Aline sambil tersenyum manis.

Buset lagi, suara bening itu muncul pada saat yang tidak tepat, bisik Panji dalam hati. Ingin sekali rasanya menampar pipinya lagi untuk menyadarkan diri.

“Ini,” ujar Panji netral, menyerahkan slip tanpa memandang Aline.

“Baik Pak, terima kasih.”

Aline berbalik dan meninggalkan ruangan penuh dokumen itu.

“Fiuhhh.”

Panji mengeluarkan seluruh Co2 yang ada di paru-parunya dengan gundah. Matanya sibuk menerawang dan tangannya siap menampar pipinya lagi.

sumber: jimjjg.blogspot.com

* * *

Kejadian barusan adalah akumulasi penyadaran yang butuh waktu. Admin-admin baru disini pasti melihat dari balik kaca ruangan dengan biasa saja. Tapi pasti rasa berbeda ada pada OB tua yang lewat barusan. Turn Over yang tinggi di kantor ini sedikit banyak menyelamatkan Panji dari omongan orang-orang.

Ya, sesuatu pernah terjadi antara Panji dan Aline. Di masa lalu.

* * *

“Makanya kalau naik motor itu pelan-pelan, Mas,” ujar Aline dengan manis sambil menyeka luka Panji yang mengerang sok manis di tempat tidurnya.

“Itu nggak kencang-kencang kok,” kata Panji, masih ngeles.

“Masih ngeles tak tinggal lho Mas.”

“Iya, iya. Ampun lah kalau gitu.”

“Dek Aline, makan dulu.”

Tiba-tiba Ibu Kos di tempat Panji tinggal sudah nongol di depan pintu, menawarkan makanan pula.

“Iya Bu, sebentar lagi.”

Kos tempat Panji tinggal sudah benar-benar seperti rumah sendiri. Mungkin hanya 1 dari sejuta kos-kosan di dunia yang menyediakan makan gratis bagi penghuninya. Mungkin juga hanya 1 dari seratus ribu kos-kosan di dunia yang menyediakan pelayanan yang sangat homy macam ini. Kalau Ibu Kos lain akan mencak-mencak jika ada lawan jenis yang masuk kamar, yang ini malah ditawari makan.

“Nggak sholat, Dek?”

“Iya Mas, bentar lagi. Ini nanggung lukanya.”

Panji terdiam, memandang Aline yang dengan telaten merawat lukanya. Kekasih hatinya ini paling mantap kalau urusan merawat, maklum lulusan perawat. Cuma nasib saja yang membawanya jadi admin di pabrik. Panji masih terdiam, mensyukuri sekaligus mengutuk kondisi ini. Ada jurang besar diantara mereka.

* * *

Sebuah undangan warna merah terkapar di meja. Seonggok tisu terkapar pula di sebelahnya. Panji? Ikutan terkapar di lantai. Kamar kos yang sudah pengap itu mendadak sendu. Butiran air mata mengalir mulus di wajah Panji, seorang kepala seksi di sebuah pabrik, seorang staf yang selalu galak di depan mesin Marchesini, seorang auditor yang ditakuti oleh supplier-supplier, kini terkapar menangis.

Undangan warna merah itu tampak sederhana, tapi tentu maknanya jauh dari sederhana bagi Panji. Tentu saja, karena nama yang tertulis di undangan itu adalah Aline Fitriani. Dan bagian terburuk dari semuanya adalah disana tertulis bahwa Aline Fitriani akan menikah dengan sebuah nama, yang tentu saja bukan Kristoforus Panji.

Kalau saja operatornya melihat Panji sedang guling-guling di kamar macam ini, maka wibawanya akan musnah seketika. Tapi Panji kan juga manusia, menangis dan sedih adalah hak seluruh umat manusia. Panji pun terkapar sampai pagi tiba, dengan mata yang mulai bengkak.

* * *

“Mutasi, Bu?” tanya Panji pada Ibu Sum, manajernya.

“Bukan mutasi, Panji. Ini promosi. Bagaimana?”

“Promosi? Kenapa ke bagian lain?”

“Hahaha, kamu ini. Kalau mau tetap disini, mau nunggu kapan kamu jadi manajer?”

Panji terdiam. Promosi adalah perihal bagus kalau bicara soal gaji dan fasilitas. Tapi tentu saja beban kerja dan beban hidup mengikuti. Dan yang paling parah, mutasinya bukan ke tempat lain di pabrik itu, melainkan ke departemen Planning. Bukan perihal kerjanya, tapi tentang admin di departemen itu. Iya, namanya Aline Fitriani.

“Kalau gitu saya pikir-pikir dulu Bu. Terima kasih tawarannya,” jawab Panji sambil tersenyum.

* * *

“Sadar.. Sadar.. Udah jelas nggak bisa ini,” gumam Panji sambil tetap menampar-nampar pipinya.

Ada suatu masa ketika Panji sadar dengan kenyataan, tapi ada suatu masa lain ketika Panji merasa gila dan bodoh atas perjalanananya selama ini. Atas hubungannya selama 3 tahun dengan Aline yang berakhir tidak menyenangkan. Atas hidupnya yang penuh dengan Aline, bahkan hingga sekarang.

Sayup-sayup terdengar di telinga Panji,

“Tak pernah kumengerti, aku segila ini, aku hidup untukmu, aku mati tanpamu
Tak pernah kusadari, aku sebodoh ini, aku hidup untukmu, aku mati tanpamu.”

Panji menundukkan kepalanya, berusaha tenang atas pergolakan laten yang sedang memasuki masa timbul kembali. Tangannya bergerak ke kening, dada, bahu kiri, dan kanan. Sebuah tanda ini sejenak membuatnya tenang. Nafasnya mulai ringan, wajahnya perlahan mencerah. Sebuah kesadaran ternyata bisa muncul berkali-kali untuk hal yang sama.

* * *

*sebuah interpretasi dari lagu NOAH-Hidup Untukmu Mati Tanpamu

Tes Kepribadian

Teman-teman pasti sudah tahu soal tes kepribadian, yang isinya melankolis, sanguin, dan kawan-kawannya.. Nah, ini ada file, yang bisa diunduh dan sedikit bisa memberikan gambaran tentang kepribadian yang dimaksud.

Hehehe..

Monggo cedikot.

TES KEPRIBADIAN

Semoga bisa membantu menggalaukan.. #halah

Dua Puluh Lima

Entahlah.. Saya itu orangnya terlalu ngeh sama angka-angka. Mungkin itu pula ya yang bikin saya kerjanya di area kotak dan angka. Sampai muka bentuknya sudah kotak dan angka. Hehe.. Tapi serius, dulu waktu mau usia 17 tahun, rasanya ngeri. Demikian pula pas mau usia 20 tahun, ngeri juga. Yang 17 nggak kebayang bagaimana rasanya jadi “dewasa”. Sedangkan 20 tahun relevan dengan kepalanya yang sudah 2, dan waktu itu saya belum pernah pacaran. Hahahaha..

Dan hari ini, 11 Januari 2012, saya sudah 25 tahun.

Astaga!

Saya sudah seperempat abad ada di dunia yang fana ini.

Apa yang sudah saya dapat, apa yang sudah saya punya, apa yang belum saya capai?

Ketiga pertanyaan itu jawabannya sama: BANYAK!

Terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan saya tubuh yang sehat. Sebagai Apoteker yang teregistrasi dan berkompeten (ditandai dengan STRA dan sertifikat kompetensi, asline yo mboh..) saya cukup paham bahwa tubuh yang sehat adalah sumber dari segala upaya di dunia. Untuk itu, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Tuhan.

Terima kasih juga pada orang tua saya yang sudah melahirkan (ini tentunya mamak saja) dan membesarkan saya sampai sejauh ini. Meskipun lama-lama persentase waktu saya hidup seorang diri dan di bawah naungan orang tua semakin berkurang, tapi itu kan bagian dari hidup. Saya merantau umur 14, artinya sudah sekitar 11 tahun saya merantau. Tiga tahun lagi, sudah imbang itu. Hehehe…

Terima kasih pula kepada adik-adik saya yang heboh minta ampun. Kalau tidak ribut maka itu pasti bukan kita. Meskipun saya tahu kalau mereka kurang sopan sama saya, tapi setidaknya hanya mereka yang dengan teguh dan konsisten memanggil saya dengan BANG ALEX. Hahahahaha.. Yo kudu kuwi..

Terima kasih kepada teman-teman, dimanapun, yang telah ikut membantu membentuk diri saya seperti sekarang ini. Mulai dari diri saya yang lumayan paham spreadsheet hingga saya yang lama-lama semakin fasih misuh ala Jawa Timur-an. Halah. Tapi serius, lingkungan tentunya memberi banyak pengaruh pada diri kita, dan di lingkungan itu ada kalian wahai teman-teman!

Yah, seperempat abad ada di dunia.  Banyak sekali riak-riaknya. Syukurlah saya dilahirkan sebagai melankolis sehingga setiap detail dari riak-riak itu terekam baik di otak saya. Mulai dari luka parah waktu lompat jauh pas SMP, ikut cerdas cermat filateli, juara lomba PBB di Ngarai Sianok, juara lomba gerak jalan se-Bukittinggi, nyasar di Kusumanegara waktu kelas 1 SMA, ikut workshop di Kanisius, juara lomba menulis, retret, membuat mading, nongkrong di perpus, Titrasi, angkringan tugu setiap malam minggu galau, berdoa minta jodoh di ganjuran dan sriningsih, wisuda, praktek kerja di ibukota, tugas di Nias, sumpahan apoteker, kerja di pabrik ternama, menggalau di simpang patal dengan bandreknya, jadi kiper di liga kantor, bolak-balik naik pesawat, bolak-balik nginap di hotel, pindah kerja, dan banyak lagi hal yang sudah saya peroleh di dunia ini.

Thanks a lot!

Sekarang saatnya bertindak. Yah, usia saya sudah berkurang 1 dari yang diberikan oleh Tuhan pada awalnya. Kalau memang Dia memberi 60, maka usia saya tinggal 35 tahun. Kalau diberi 70 maka usia saya tinggal 45 tahun. Yah, seperti itulah.

Artinya, jangan lama-lama berkutat untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan kata hati. Kata hati adalah mimpi. Maka, mulai hari ini, saya harus FOKUS pada semua mimpi-mimpi saya. Dan asal tahu saja, mimpi saya itu banyak (tidak termasuk mimpi basah ya..)

HAPPY BIRTHDAY TO ME.

I’m 25 Years Old Now.

🙂