5 Tempat Makan Dengan Sajian Berkuah di BSD

5-tempat-makan-dengan-sajian-berkuah-di-bsd

Makanan itu ada macam-macam, kan? Ada yang digoreng, ada yang mentah, ada yang direbus, ada yang dikenang, dan ada juga yang berkuah. Menikmati daging maupun mi atau sekadar ayam dalam balutan kuah pasti menyajikan kesegaran tersendiri. Apalagi dalam era musim nggak jelas begini, tiba-tiba hujan, berarti pula kita tiba-tiba butuh sesendok kuah empal gentong hangat. Ah!

Nah, bagi yang berumah di KotaTangerang, Kabupaten Tangerang, dan Tangerang Selatan khususnya di sekitar BSD, mencari makanan berkuah tidaklah sulit. Masih lebih sulit mencari jodoh, karena jodoh pasti bertamu. Ada banyak pilihan dan ariesadhar.com menyajikan lima yang paling yahud versi ariesadhar, tentu saja, bukan versi Jessica Kumala Wongso.

Ini dia!

Soto Betawi Haji Mamat

screenshot_50

Meskipun sudah tidak Betawi, namun kita tetap dapat menemukan makanan khas Betawi ini di sekitar BSD. Nah, salah satu yang ada adalah Soto Betawi Haji Mamat yang mudah dilihat dengan warna hijaunya. Terletak di jalan utama, parkiran tempat makan ini selalu penuh dengan mobil. Kita dapat menikmati sajian khas daging yang bercampur dengan kuah khas Soto Betawi, yang bisa juga dipesan tanpa santan maupun tidak. Jadi salah juga jika dibilang bahwa Soto Betawi itu pembawa kolesterol, toh kan bisa memilih.

Ebisoba Ichigen

screenshot_51

Salah satu penghuni Ramen Village di AEON, mal ngehits sekitar Cisauk dan BSD. Namanya juga ada di Ramen Village sudah barang tentu Ebisoba Ichigen ini menyajikan sate padang ramen. Ada yang bilang bahwa kuah ramen di tempat ini pakai rebusan ebi, sebuah terobosan ramen yang berbeda tentu saja. Nggak ada salahnya menyempatkan mencicipi kuah ramen khas di tempat ini setelah mengarungi derasnya arus pengunjung di AEON.

Bakso Atom

screenshot_52

Bicara makanan berkuah sudah barang tentu tiada bisa mengabaikan bakso. Walaupun menurut saja bakso paling enak itu tetap Ati Raja di Makassar, namun bakso atom alias bakso sehat ini juga merupakan pilihan menarik bagi yang ingin merasakan kesegaran makanan berkuah. Apalagi ada jenis-jenis bakso yang langka untuk ditemukan di tempat lain seperti bakso buntel, bakso burger, hingga bakso telur ayam kampung. Selain ada di beberapa tempat lain di Jakarta, tidak ada salahnya bagi yang di BSD untuk merapat pula.

Gubug Makan Mang Engking Serpong

screenshot_53

Tempat makan yang ternama karena memang cabangnya dimana-mana. Terkenal dengan aneka menu, namun untuk yang berkuah kita bisa menyantap aneka sop yang disediakan mulai dari Sop Buntut, Sop Gurame, hingga Sop Bandeng Bumbu Kuning. Terletak di tempat ngehits BSD, The Breeze, sudah barang tentu Mang Engking menjadi pilihan jika sedang nongkrong hits di BSD. Atau kalau memang lagi sama bini yang ngidam berkuah tapi kita tidak lagi pengen makan berkuah, Mang Engking juga menyediakan olahan ayam maupun ikan lainnya, sehingga makan disini bebas berantem.

Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk BSD

Ternama dengan hidangan ayam tulang lunak, namun restoran Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk BSD ini berbeda. Kita dapat menemukan makanan berkuah nan penuh kesegaran di tempat ini dalam rupa Empal Gentong dan Empal Asem!

Empal Gentong

Terletak tiada jauh dari Stasiun Rawabuntu dan De Latinos, serta juga Soto Betawi Haji Mamat, kita akan disuguhi tempat yang cukup luas dan pelayanan yang baik hati dan tidak sombong.

Daging yang beneran daging menjadi komposisi utama dari kedua jenis empal ini. Versi saya, Empal Asem di tempat makan ini juara karena menawarkan kesegaran sebenar-benarnya untuk makanan berkuah. Ditambah lagi penyajiannya menggunakan wadah khusus dengan pemanas sehingga menjamin bahwa hidangan akan tetap hangat walaupun kita makannya lama karena sambil mengenang mantan.

Empal Asem

Tempat makan yang berdiri kurang lebih enam bulan ini juga masih menyediakan promo-promo menarik setiap harinya, mulai dari gratis nasi dan teh, serta diskon-diskon menawan pada tanggal-tanggal tertentu. Plus bagi yang suka bingung dengan tempat makan dan rokok, di Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk BSD ini disediakan dua tempat. Ruangan utama untuk yang ber-AC sehingga dijamin adem jika makan empal gentong sembari kepedesan nikmat, serta ruangan di belakang untuk smoking area sembari menyimak gurame yang berenang menanti berubah wujud menjadi gurame bakar.

Jadi, tunggu apa lagi? Bagi kamu-kamu yang berumah dan berumah tangga di sekitar BSD, sila dipilih-pilih opsi-opsi untuk merasakan kesegaran dari makanan berkuah yang terserak di sekitar tempat tinggal.

Ciao!

Advertisements

Cerita dari Cideng

Oke, kita memasuki waktu dunia bagian semakin jarang #KelilingKAJ. Proyek dua setengah tahun silam ini memang semakin tersendat namun bukan bermakna saya tidak berkeliling dengan baik dan benar. Hanya post-nya yang agak tertunda-(tunda). Heuheu.

Dalam perjalanan #KelilingKAJ kali ini–yang saya lakoni beberapa waktu silam–sungguh penuh dengan drama. Berangkat dari kos-kosan dengan ayam, eh, awan mendung menggantung sembari menggunakan teknologi Gojek, akhirnya air yang nongkrong di langit itu tumpah kala saya dan Mang Gojek melewati sekitar Bank Indonesia. Untunglah saya anaknya well-prepared sehingga dengan bahagia bisa memberi tahu kepada Mang Gojek bahwa saya bawa mantel.

Hujanlah yang membuat saya agak terlambat untuk tiba misa di tempat tujuan #KelilingKAJ kali ini, namun tentu tiada mengurangi kekhusukan doa. Bayangkan rasanya berdoa dalam kondisi celana basah total plus AC Gereja nan dingin. Cocok dan sudah mirip di Sendang Sri Ningsih.

cideng3

Tempat tujuan #KelilingKAJ nan penuh air ini adalah Gereja Maria Bunda Perantara atau yang lebih dikenal dengan Paroki Cideng, tentu saja karena terletak di Cideng, tepatnya Jalan Tanah Abang II Nomor 105, satu jalur dengan kantor suatu bagian tentara yang saya lupa. Bangunannya terbilang tiada mirip Gereja karena memang terletak persis di pinggir jalan besar dan ramai serta dijepit perkantoran dan rumah tinggal. Parkiran tentu saja menjadi problema, meski tidak seekstrim Gereja Santa.

Continue reading

Saat Empal Bertemu Ayam di Restoran Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk BSD

neapolitan

Dahulu kita mengenal tiga kebutuhan pokok manusia yaitu sandang, pangan, dan papan. Adapun yang terakhir telah bergeser sehingga rumusannya jadi sandang, pangan, dan colokan. Untungnya, yang nomor dua belum diganti. Namanya manusia butuh pangan selain butuh pasangan.

Dalam rangka memenuhi hasrat kunyah-mengunyah, aneka rupa makanan telah muncul di dunia ini dan salah satu favorit saya adalah olahan ayam dalam rupa ayam tulang lunak. Simpel, sih. Namanya makan ayam itu biasanya ada tantangan untuk menggerogoti daging-daging yang menyelimuti tulang. Masalahnya, kadang tulang itu kayak hidup: keras, bung! Saya ingat cerita Bapak saya kala dijamu orang kaya nan berumah di BSD. Bapak yang hobi menggerogoti daging ayam hingga tulang-tulangnya, tetiba ditanyai oleh seorang anak kecil, “kok tulangnya dimakan?”

Makan tulang memang nggak biasa dan cenderung ribet, belum lagi kalau keselek pecahan tulang. Kenikmatan makan jadi terganggu layaknya mantannya gebetan muncul tiba-tiba di muka pintu. So, keberadaan ayam tulang lunak menjadi terobosan abad ini.

Salah satu brand ayam tulang lunak yang paling nge-hits tentu kita kenal bersama: Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk. Dengan cabang yang beredar di beberapa kota di Indonesia, Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk menjadi salah satu pilihan hidup nan mumpuni.

ATL HW

Kembali ke urusan kebutuhan pokok, salah satu area ngehits untuk memenuhi urusan papan adalah Tangerang Selatan. Ya, Bintaro, Serpong, dan sekitarnya. Tentu saja karena adanya perumahan seperti sekitar BSD City, termasuk jugakarena ada mall cakep seperti AEON Mall BSD maupun The Breeze BSD.

Well, mari menyambungkan urusan pangan dan papan tadi. Ayam tulang lunak dan Tangerang Selatan itu ternyata bersatu padu dalam wujud satu restoran kece bernama Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk Bumi Serpong Damai (BSD). Jos!

Saya dan istri berkesempatan menyambangi restoran ini beberapa waktu silam. Letaknya sangat strategis, Jalan Rawa Buntu Raya Nomor 25, Tangerang Selatan, tidak jauh-jauh dari Stasiun Rawabuntu dan perumahan De Latinos. Cukup mlipir dari Rawabuntu ke sebelah kanan, pelan-pelan kemudian sampai. Akses Rawabuntu ini kan terbilang salah satu jalur utama di Serpong. Jadi untuk mencapai tempat ini, tentunya kagak sulit. Begitu sampai, tampaknya kita nggak perlu khawatir untuk tempat parkir karena area yang tersedia lumayan luas. Pas masuk, ruangan yang ada juga cukup luas.

Apalagi disambut sama pelayan yang membukakan pintu. Jelas nggak sumpek, dah. Belum lagi untuk yang mau merokok, disediakan tempat berupa ‘smoking area’ di bagian belakang. Cukup luas juga, pun.

Smoking Area, nggak khawatir kehabisan tempat.

Smoking Area, nggak khawatir kehabisan tempat.

Mungkin yang sempit di tempat ini adalah hatimu, kak, yang kepenuhan kenangan akan mantan. Uhuk. So, saatnya memesan!

Mengingat ayam tulang lunak adalah favorit saya, jadi otomatis saya hendak memesan sapi tulang lunak ayam tulang lunak. Eh, begitu disimak ternyata variannya banyak sekali. Plus ada yang baru pula. Sesudah mengadakan rapat dan perundingan keras dengan istri, maka kami memutuskan untuk memesan Ayam Sambal Matah dan Ayam Presto Telur Asin.

Menu idola semua bangsa.

Menu idola semua bangsa.

Yang Ayam Presto Telur Asin ini tentunya sudah sangat terkenal di seluruh Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk, sedangkan yang pakai sambal matah ini baru pisan.

Ayam Sambal Matah, nih. Ngiler nggak?

Ayam Sambal Matah, nih. Ngiler nggak?

Tidak lupa, saya juga memesan makanan tambahan lainnya dalam wujud toge sebagai perwakilan sayur-sayuran dan Gurame Bakar sebagai representasi pokemon makhluk air.

Tetiba doyan sayur, kak!

Tetiba doyan sayur, kak!

Siap dicuil.

Siap dicuil.

Sungguh, begitu memesan saya langsung teringat perut. Apa daya, sesudah melihat menu yang terhidang, saya mendadak amnesia sama lingkar perut. Baiklah, dietnya besok saja.

Kalau ingat.

Oya, ngomong-ngomong, ikan gurame yang ada di Restoran Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk BSD ini baru dimasak ketika diorder. Sebelum kita order, guramenya masih hidup dengan tentram. Bisa disaksikan sendiri kehidupan mereka di bagian belakang restoran.

Guramenya masih hidup.

Guramenya masih hidup, kayak kenangan mantan.

Saat menikmati ayam tulang lunak yang telah tiba di depan mata, saya kemudian dikasih tahu bahwa khusus untuk Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk BSD ini ada menu khas. Namanya Empal Gentong dan Empal Asem.

Waiki.

Tanpa tedeng aling-aling, saya dan istri kembali menambah pesanan dengan dua menu spesial Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk BSD ini. Lah, mau gimana, wong enak. Namanya juga empal, daging dalam Empal Gentong dan Empal Asem di Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk BSD ini empuk. Idola saya, sih, Empal Asem! Kesegaran kuahnya yang cenderung jernih dan rasanya asam itu sungguh juara. Yah, dalam perjalanan ke beberapa ibukota provinsi, baru kali ini saya nemu Empal Asem.

Buat yang rindu cirebonan, maupun yang ingin mencoba Empal Asem, boleh pesan di Restoran Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk BSD ini. Soalnya, baik Empal Gentong maupun Empal Asem merupakan menu khas yang memang hanya ada di Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk BSD doang.

Empal Asem yang segar.

Empal Asem yang segar.

Kedua empal ini isajikan dengan wadah khusus, sehingga panasnya terjaga. Hayo, yakin nggak mau nyoba?

Diet. Hmm. Apa itu?

Diet. Hmm. Apa itu?

Nah, sesudah kenyang dengan makanan yang nikmat-nikmat, saatnya merambah minuman. Kebetulan dalam hal ini, mazhab saya dan istri berbeda. Saya doyan durian, sementara bagi istri durian adalah sejenis radioaktif. Walhasil, istri saya memesan Es Kopyor saja–alias EKO, sedangkan saya memesan menu yang judulnya Es Kopyor Durian, dengan nama lain EKODU.

Es Kopyor (saja)

Es Kopyor (saja)

Mantep, toh? Ini memang menu andalannya Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk, kok.

Es Kopyor pakai duren. Waiki. Waiki!

Es Kopyor pakai duren. Waiki. Waiki!

Ehm, selain Empal Gentong dan Empal Asem, khusus di Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk BSD ini ada menu khas yakni Yamz, Talas Stick Khas Pontianak, yang disediakan di atas meja dan bisa dinikmati dengan menambahkannya ke dalam bill. Heuheu. Asli Pontianak, lho!.

Yamz

Selain menawarkan ayam tulang lunak nan anti ribet serta kesegaran Empal Asem, Restoran Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk BSD ini juga menyediakan ruang cukup lega untuk pertemuan-pertemuan. Jadi kalau mau arisan, mbribik, nge-prospek, meeting, dan lain-lain, bisa banget menggunakan tempat yang ada di Restoran Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk BSD ini.

Ruang Meeting

Satu lagi, berhubung Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk BSD ini masih muda belia, jadi masih banyak promo-promo nan menarik. Misalnya, pada hari Senin hingga Jumat ada free nasi dan teh, serta sederet promo lain yang hanya akan diketahui kalau kita mampir ke lokasi.

Jika memang sibuk kayak pejabat eselon dan tiada sempat menuju lokasi barang sekejap, teknologi telah menyediakan yang namanya Delivery Order di nomor (021) 75876570 maupun (021) 75876571.

Tuh, sudah ada di Grab.

Tuh, sudah ada di Grab.

Sekarang kan juga sudah ada teknologi ojek online, dan Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk BSD ini bisa diorder via GrabFood. Kurang apa lagi, sih?

So, sahabat-sahabat saya yang lapar perutnya, kapan kita kemana dan mampir ke Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk BSD?

Badan POM dan Bebiluck: Simpati yang (Seharusnya) Sama

simpati

Sedang duduk pasca mengarungi lautan polusi di ibukota, tetiba saya mendapat broadcast di grup WhatsApp. Pesan panjang yang biasanya malas saya baca. Kalau saja broadcast itu muncul di grup FPL Ngalor Ngidul, saya tinggal komentar, “Tulung disimpulke (tolong disimpulkan)”. Masalahnya, ini muncul di grup yang berbeda dan kala membacanya saya kok jadi trenyuh sendiri. Ya, kebetulan saya hobinya memang mengenang.

Broadcast itu berjudul “Sejarah Kami adalah Sejarah Cinta Ibu Kepada Anaknya” ditulis oleh Lutfiel Hakim kalau menurut tulisan pada pesan yang saya terima. Intinya, broadcast ini adalah suara dari pemilik makanan bayi Bebiluck yang belum lama ini didatangi oleh Balai Pengawas Obat dan Makanan di Serang dalam sebuah inspeksi mendadak (sidak) karena produknya tidak memiliki Nomo Izin Edar (NIE).

Saya membaca kisah Pak Lutfiel ini berulang kali karena nggak ada kerjaan, termasuk perihal awal mula makanan bayi, dan perspektif saya adalah broadcast ini merupakan kebenaran, alias bukan hoax layaknya banyak pesan broadcast lain yang menuh-menuhin gawai saya.

Seketika saya bersimpati dengan Bebiluck dan saya yakin banyak pembaca juga berlaku sama. Bagaimana tidak? Dalam usaha menangani makanan bayi yang tergolong risiko tinggi, aneka usaha telah dilakukan. Mulai dari membuka CV untuk penerbitan SIUP, konsultasi dengan Dinas Kesehatan hingga mendapatkan izin PIRT, hingga uji laboratorium Dinas Kesehatan.

Masih dalam tulisan yang sama, ada ahli pangan yang direkrut, badan usaha diganti menjadi PT, melakukan uji laboratorium di TUV Nord, hingga mendapatkan sertifikat halal LPPOM MUI. Sebagai mantan auditor halal internal, saya sedikit-sedikit paham sih dengan soal halal ini, makanya saya langsung cek ke Daftar Produk Halal terkini, dan memang ada nama Bebi Luck atas nama CV. Hasanah Bebifood Sejahtera, pada laman ke-314 file bertipe pdf dalam tabel LPPOM MUI Banten.

Selengkapnya!

Cara Paling Sederhana Memahami Material Requirement Planning (MRP)

screenshot_31

Lagi selo ditinggal bini ke Yurop, bikin saya baca-baca lagi blog ini. Rupanya selain orang-orang yang mencari jodoh dan kesasar ke 14 Tanda-Tanda Jodoh, salah satu topik yang ngehits di ariesadhar.com adalah tentang PPIC. Boleh dibilang, posting tentang PPIC itu adalah yang paling interaktif. Bahkan ada juga yang konsul via LINE dan via surel kepada saya tentang PPIC. Ah, senangnya!

Oke, ada baiknya saya melanjutkan postingan tentang PPIC itu dengan aspek-aspek mendetail dari PPIC. Postingan panjang lebar tentang PPIC memang sudah menjelaskan semuanya dengan gamblang tapi tidak mendetail. Begitulah, berdasarkan komentar-komentar yang saya baca dan hasil googling juga, tampak bahwa tulisan-tulisan tentang PPIC itu masih terlalu tinggi alias kurang membumi. Sama persis dengan saya ketika pertama kali belajar MPS dan MRP, sampai baca buku 3 kali juga nggak ngerti. Pahamnya kapan? Pas disuruh bikin MPS betulan dan bubrah kabeh. HUAHUAHUA.

Mari kita mulai dari bagian yang paling saya kuasai, meskipun sebenarnya tidak saya sukai. Ya, Inventory Planning. Pada awal jadi PPIC, pekerjaan saya sepele. Hanya pegang 30-an produk, semuanya impor dan hanya butuh repack. Enak toh? Sebagian repacknya cuma tinggal memberi label. Sebagian memang pakai kotak. Tapi seberapalah itu. Gampang sekali untuk dikelola. Masalah hanya muncul kala kapal yang bawa obat dibajak sama Somalia. Atau kena problema di pelabuhan. Maklum, masuknya kan di Indonesia. HUAHUAHUA (lagi).

Tiba-tiba segalanya berubah. Inventory Planning asli resign, penggantinya resign juga. Penggantinya lagi mendadak hamil, eh, ya nggak apa-apa ding, wong sudah sah. Walhasil, karena saya tidak bisa hamil, sayalah yang didapuk untuk menggantikan posisi Inventory Planning itu.

Bicara Inventory Planning jelas banget akan langsung bicara tentang Material Requirement Planning alias MRP. Dalam beberapa buku, terminologi ini disingkat dengan PKM alias Perencanaan Kebutuhan Material. Suka-sukalah. Urusan istilah saja nggak ada apa-apanya dengan pusingnya mengerjakan MRP.

Sederhananya, MRP adalah proses perencanaan untuk menyediakan material yang dibutuhkan secara tepat waktu dan tepat jumlah, serta kalau bisa tepat harga.

Selengkapnya!

Perjalanan ke Pademangan

Semakin lama, semakin sulit rupanya untuk menjalani misi #KelilingKAJ yang sudah sepertiga jalan itu. Mulai dari kenyataan bahwa hampir semua Gereja terdekat telah disambangi, hingga macam-macam alasan lainnya yang klasik. Jadi pelan-pelan sajalah. Maka, sepulangnya saya dari kegiatan di The Media Hotel & Towers–sekaligus menangkap banyak Bulbasaur–masuklah saya ke sisi lain dari #KelilingKAJ dengan melakukan perjalanan ke Pademangan.

Gereja Katolik di Pademangan adalah Paroki Santo Alfonsus Rodriquez, yang masuk ke Dekenat Utara pada Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dan berlokasi di Jalan Pademangan 2 Gang 7 Nomor 1, Jakarta Utara. Aksesnya bisa lewat Gunung Sahari kemudian masuk ke daerah Pademangan Raya. Sama seperti banyak Gereja lain, seperti misalnya Grogol dan Kemakmuran, Gereja ini berdekatan dengan sekolah Katolik. Sejatinya kalau diurut-urut sejarahnya, cukup banyak yang memiliki kisah yang sama.

Berkembangnya Gereja Pademangan tidak lepas dari dibangunnya jalan dan perumahan di daerah Rajawali Selatan yang tadinya adalah hutan dan rawa, kurang lebih tahun 1950. Persis dalam masa awal kemerdekaan Indonesia. Banyak warga yang berasal dari Flores dan notabene Katolik. Pembinaan agama kala itu diserahkan kepada Paroki Mangga Besar sebagai yang paling dekat.

Tempat perayaan misa perdana adalah sebuah bangunan yang nantinya dijadikan SD Santo Lukas, tepatnya tanggal 15 Agustus 1960. Di Paroki Mangga Besar, area ini adalah Stasi Kalimati. Sebagai bagian dari perjalanan Paroki Pademangan, Pastor R. Bakker, SJ juga menghubungi Yayasan Melania untuk bersama-sama membangun klinik bersalin dan poliklinik.

Selengkapnya, klik di sini!

[Review] Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1

warkop

“Jangan kau ulang-ulang.”

Mari kita mulai review ini dengan quote paling sip versi saya dari karya besutan Anggy Umbara nan paling hits. Saking hits-nya, di Setiabudi XXI, isinya boleh dibilang hanya film ini saja. Keren, sih, sampai-sampai cerita pesawat mendarat di sungai terlewatkan. Seandainya film Indonesia selalu demikian. Heuheu.

Kenapa quote itu yang saya pilih? Tentu saja karena di film ini kita akan menemukan banyak hal yang berulang. Dari apa? Jelas, dari film legendaris Indonesia yang dimainkan oleh Drs. H. Wahyu Sardono (Dono), Drs. Kasino Hadiwibowo (Kasino), dan Drs. H. Indrodjojo Kusumonegoro (Indro). Kita akan menemukan kisah CHIPS, kebodohan klasik ala Warkop DKI, komedi yang terbilang kasar dan sesekali ditunjang komedi menggunakan perempuan seksi. Tentunya dengan aspek kebaruan yang dicoba untuk diangkat.

Bagi penggemar film pasti tahu tiga aktor yang memerankan Dono, Kasino, dan Indro dalam kisah ini. Bukan apa-apa, soalnya cuplikan film ini telah muncul berkali-kali dalam pembuka tayangan bioskop lainnya. Waktu saya nonton Sabtu Bersama Bapak, bahkan trailer itu diputar dua kali. Mungkin biar hapal.

Sejak awal, film ini menggunakan pola lama, terutama memotret keanehan-keanehan ibu kota. Mulai dari orang naik motor sambil bawa kardus, bawa ember, termasuk juga typo-typo kecil di sekitar kita.

Selengkapnya, Klik di Sini!