Review: Student Guidebook For Dummies (Kevin Anggara)

Akhirnya dapat juga buku ini. Sesudah berputar-putar di toko buku yang ada di Cikarang–yang memang hanya ada satu–dan gagal, saya malah mendapatkan #bukukevin yang bertanda tangan. Jadi total saya sudah punya berapa buku bertanda tangan nih? Sekitar 4 atau 5 sepertinya. berhubung koleksi lain tidak ada tanda tangannya, jadi saya tanda tangani sendiri. Yang penting kan buku yang bertanda tangan.

Buku Student Guidebook For Dummies (SGFD) yang diketik sama Kevin Anggara ini sejak bab awal sudah memperlihatkan bahwa di era modern masa kini, dengan membuat tulisan berkarakter khusus di blog, bisa saja ada editor yang mendapatkan arahan untuk nyasar ke blog itu, dan ujung-ujungnya bisa jadi buku. Bab awal itu adalah…

…pertemuan absurd dengan editor.

Yah, bahkan janjian untuk pertemuannya saja sudah membawa cerita gaib sendiri ketika Kevin dan editor sama-sama mengklaim berada di depan Hotel Mercure dan dekat Sevel tapi tidak saling bertemu. Nah loh, ini buku horor apa buku komedi sih?

BACA AJA BIAR TAHU. HAHAHAHAHA

Buku Kevin ini ceritanya soal sekolah, mulai dari MOS, ulangan, PR, pacaran, gebetan, ekskul, dan sejenisnya. Nah, masalahnya buat saya adalah pada usia saya yang tu…

…juh belas tahun sudah lewat banyak. Uhuk.

Saya itu lulus SMA aja waktu Presidennya belum Pak SBY lho. Pas saya lulusan itu Pak SBY lagi asyik nyanyi Pelangi Di Matamu, lagu andalan pas kampanye. Sekarang Pak SBY sudah mau menjabat dua periode. Jadi secara kontekstual mungkin ada beberapa perbedaan. Sama satu lagi, SMA saya isinya cowok semua, jadi nggak ada ceritanya menggebet teman sekelas, kecuali maho.

Oke, secara kontekstual mungkin kurang cocok buat saya, tapi buat yang lain dijamin sesuai. Bagi kalangan uzur seperti saya, isi buku ini bisa menguak nostalgia masa remaja. Jadi bisa nih kakek-kakek cerita pakai buku Kevin sambil bilang, “dulu Kakek juga ngelempar hasil ulangan nilai 3 ke ring basket lho, cu…”

Untuk anak muda masa kini yang ada pemuda harapan bangsa?

Tersedia aneka tips yang penerapannya dikembalikan pada keinginan masing-masing.

Oya, buku ini saya baca sambil ngemper di Stasiun Senen, dan syukurlah saya sudah dilatih untuk ngakak dikulum, sama halnya dengan latihan nguap ditelen agar nggak kelihatan ngantuk waktu meeting, serta tidur melek agar tetap tampak serius waktu pembahasan supply produk.

NASIB KANTORAN.

Dan sebagai orang Supply Chain, saya agak shock dan ngakak ketika Kevin, si anak SMA, menulis soal…

…Demand Supply.

Buset. Saya belajar bertahun-tahun untuk menjadi seorang Supply Chain Officer, dan Kevin menulis soal itu di bukunya.

*kemudian garuk-garuk laporan demand supply*

Satu lagi, ilustrasi di dalam SFGD ini keren habis, menunjang isinya yang juga keren. Cukup layak dibaca bagi anak sekolahan, dan bakal saya kasih ke Bapak dan Mama saya yang bekerja sebagai guru. Supaya dapat input tambahan dalam menangani anak labil, berhubung buku ini ditulis sendiri sama anak muda labil…

…dan review ini ditulis oleh pemuda dewasa yang juga labil.

#YEAH

Advertisements

Yang Terlihat Tak Seperti Yang Dikira

Bahwa pepatah lawas, jangan menilai buku dari sampulnya, itu masih sangat relevan di masa kini. Itu poin dari judul saya.

Kalau nggak salah saya pernah cerita bahwa ada seorang tetangga yang terhitung baru meninggal setelah bergulat dengan gagal ginjal selama beberapa tahun. Sesudah sang bapak berpulang, saya memang belum berkunjung, semata karena yang saya lihat dari luar, keluarga itu sudah tampak baik-baik saja.

Saya lupa bahwa ada 3 anak perempuan disana..

dan mereka merindukan bapaknya.

Alkisah beberapa hari yang lalu, malam-malam, terdengar tangisan dari luar, si anak kedua. Ternyata, si anak bungsu sedang luka berdarah-darah di dalam sana gegara habis jatuh bersama si anak sulung.

Okelah, perkara jatuh dan berdarah-darah, mari kita skip saja. Toh malam harinya si anak bungsu sudah bisa pulang kok, habis ditangani di rumah sakit.

Poin saya justru ada dua.

Ketika bercerita kronologisnya, sambil menangis, si sulung bilang begini:

“Kan aku lihat ada mobil kayak mobil aku, langsung aku kebayang kalo bapak masih hidup, bisa kita naik mobil lagi. Tau-tau ada lubang di depan..”

Dan ketika di rumah sakit, si anak kedua menangis sambil bilang begini:

“Bapak, pulang pak. Jangan disana aja. Kesini bantuin adek.”

Opo ora trenyuh aku kuwi?

They miss their father. Very much.

Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik soal ini. Banyak sekali.

Hal-Hal yang Dilakukan Pelaku Cinta Diam-Diam

Fiuhhh, capek seharian training, jadi pengen menulis sesuatu. Pengennya nulis sesuatu yang cetar membal-membal (opo jal?). Gimana kalau ini saja ya, mengidentifikasi kelakuan para pelaku tindakan kriminal tingkat dewa pada diri sendiri, yakni cinta diam-diam.

Yeah, ini pasti jamak terjadi, dan pasti dialami oleh sebagian cowok atau cewek di dunia yang fana ini. Nah, berikut beberapa hal yang dilakukan pelaku cinta diam-diam.

Berselancar di linimasa, terutama di bagian foto

Sila berterima kasih kepada pencipta Friendster dan kemudian Facebook. Sebuah terobosan duniawi masa kini yang memungkinkan manusia untuk mengeluarkan potensi diri berupa narsis. Ya, sejak ada FS maka kita mengenal memajang foto di depan umum, tepatnya di halaman profil.

Para pelaku cinta diam-diam umumnya adalah orang yang dekat dengan sang target, jadi umumnya sudah berteman satu sama lain di linimasa. Efeknya? Kalau di FS dulu kan nggak seenaknya bisa intip foto orang. Demikian juga dengan pengaturan privasi di FB masa kini. Kalau sudah friend, maka bebaslah berselancar.

Maka satu hal yang dirindukan dari FS adalah kemampuan memberikan informasi, siapa yang melakukan aksi kepo pada sebuah akun. Hal ini ternyata disyukuri para pelaku cinta diam-diam karena bisa seenaknya memantengi halaman profil si gebetan tanpa khawatir ketahuan. Juga dengan seenaknya bisa membuka-buka segala macam foto, mulai pose menyamping, dari atas, pose melet, sampai pose BB BM (hasil tag toko handphone abal-abal). Dan tidak jarang juga orang yang sampai mengunduh foto-foto gebetannya dan menyimpannya dalam sebuah folder khusus.

Kasihan ya? *pukpuk*

Menyimpan SMS dari zaman batu, dan sesekali membacanya kembali

SMS yang rada-rada manis dari gebetan, meskipun itu sudah dikirimkan dari satu abad yang lalu, akan tetap disimpan. Bahkan ketika gonta ganti HP, SMS itu tetap ditransfer. Jadi jangan heran kalau di handphone android terbaru, masih ada SMS tertanggal 2004. Padahal ya isinya sih nggak manis-manis banget. Cuma bilang, “Makasih ya udah denger curhatku.”

Dan sepotong kalimat itu adalah bersifat abadi sepanjang masa bagi penganut cinta diam-diam. pelaku kriminal jenis ini akan membaca pesan singkat yang sudah tidak kontekstual tersebut ketika lagi ingat gebetannya yang dicintai secara diam-diam.

Sengaja datang ke kampus cuma buat ngelihat gebetan

Penganut cinta diam-diam akan menghafal jadwal kuliah gebetannya dan kemudian menyempatkan diri datang ke kampus, serta berada di posisi yang tepat untuk bisa sekadar melihat si gebetan.

Jadi kalau misalnya dia kuliah jam 3 sore, tapi si gebetan kuliah jam 7 pagi. Maka dari subuh, penganut cinta diam-diam sudah sampai di kampus kemudian pura-pura nongkrong dan pura-pura belajar yang tekun demi masa depan bangsa sambil matanya celingak-celinguk ke arah arus mahasiswa datang.

Lalu?

Pemeluk kepercayaan cinta diam-diam akan melihat dari kejauhan, si gebetan mendekat, lalu menjauh kembali karena mau ke kelas buat kuliah. Nah, segitu saja cukup kok. Kan namanya juga cinta diam-diam.

*pukpuk lagi*

Sengaja lewat depan kos-kosan gebetan

Ketika seorang pelaku cinta diam-diam kosnya dari kampus belok kanan 1000 langkah, dia bisa saja belok kiri dulu menuju kos-kosan gebetan. Momen ini umumnya terjadi ketika si pelaku tahu kalau gebetan kira-kira ada di kos-kosan atau tidak.

Tapi momen yang paling mendasar adalah ketika malam hari. Kenapa? Karena malam hari adalah jam apel anak kos-kosan. Pelaku cinta diam-diam akan mondar-mandir di depan kos-kosan gebetan sambil melihat orang yang bertamu ke kos-kosan gebetan tersebut. Kalau kebetulan yang ada disana adalah teman kosnya gebetan dengan pacarnya, maka pemeluk kepercayaan cinta diam-diam akan kembali ke kos-kosannya dan berteriak mengucap syukur.

Kalau kemudian yang ditemukan adalah gebetan sedang bersama lain jenis dalam posisi yang rada mesra, maka pelaku cinta diam-diam akan mencari racun tikus dan bergegas menuju pinggir jurang terdekat.

Melihat sepanjang waktu

Ada kalanya cinta diam-diam terbentuk karena 1 kelas atau 1 komunitas. Nah, ketika cinta itu muncul dan kebetulan ada aktivitas bersama, maka penganut ajaran cinta diam-diam akan memanfaatkan waktu ‘bersama’ itu sebaik-baiknya.

Sebaik mungkin, meskipun sebenarnya komunitasnya adalah senam jantung sehat dengan 1000 peserta. Seorang penganut cinta diam-diam memiliki kemampuan lebih untuk mencari celah-celah agar tetap bisa memandangi wajah gebetannya.

Lalu?

Ya sudah, gitu doang sih. Ketika kegiatan ‘bersama’ itu berakhir. Maka penganut cinta diam-diam akan kembali ke layar monitor, menatap galau pada foto-foto gebetan yang sudah sejak lama dia cintai secara diam-diam.

Berdoa tanpa berusaha

Kata pepatah Latin, Ora Et Labora, berdoa dan bekerja. Perkaranya, penganut ajaran cinta diam-diam memiliki kencenderungan untuk rajin berdoa tanpa kemudian meningkatkan usahanya lebih tinggi daripada level berharap.

Penganut cinta diam-diam akan membawa gebetan dalam doa-doa dan harapannya tapi kemudian tertunduk malu ketika berada di hadapan gebetan yang sejatinya sudah meraja di dalam hati.

Persoalannya sih cuma 1, tidak ada keberanian untuk berusaha. Terkadang penganut cinta diam-diam lebih berani untuk melakukan tindakan ekstrim semacam lompat dari pinggir bak mandi atau berenang di kolam ikan hias daripada menyatakan perasaan yang dipendam sambil diam-diam itu.

Cemburu lalu menerawang pasrah

Hal ini terjadi ketika gebetan dipastikan dan sudah dikonfirmasi telah memiliki pasangan. Ada rasa cemburu, meskipun itu sebenarnya cemburu yang patut dipertanyakan. Emang siapa dia sampai lo cemburu coy?

Nah karena kemudian disadarkan oleh pernyataan itu, maka penganut aliran cinta diam-diam akan segera mengerti kondisi. Dan tindakan yang berikutnya adalah membuka mata dan menatap hampa, semacam menerawang nasib yang buruk, untuk kemudian pasrah terhadap kenyataan hidup yang terkadang pahit itu.

Yah, sekian sedikit ulasan mengenai hal-hal yang dilakukan oleh pelaku cinta diam-diam. Semoga bisa menambah khasanah bercinta secara diam-diam.

 

Banjir Dan Saya

Bahwa menurut saya pemberitaan banjir sekarang sudah sangat lebay sekali, mari kita abaikan dulu. Iya, lebay. Kenapa? Berita ini seolah-olah bikin yang menderita itu cuma ibukota, padahal yang banjir di tempat lain juga banyak. Apakah kita melihat breaking news untuk banjir di Bandung (yang dekat aja deh) misalnya? Nggak. Jadi, ya begitulah.

Saya dan banjir. Banjir dan saya. Emang kenapa?

Pertama-tama, saya besar di sebuah kota dataran tinggi. Jadi, hampir bisa dipastikan nggak banjir. Karena sejauh ini, air masih turun ke bawah. Sampai sekarang sih begitu.

Lalu ke Jogja, sekolah. Seperti obrolan dengan adik kelas kemarin, kalau Jogja ya banjir-banjir nggenang dikit, lalu udah. Ntar juga surut. Meski Jogja kalau hujan itu nggak kira-kira wujudnya, tapi nggak banjir-banjir amat. Sejauh ini saya baru sekali mati mesin (dengan Alfa) di daerah genangan dekat Mino. Itu semata-mata karena saya yang nekat.

Nah, banjir yang sebenarnya baru saya kenal di Palembang. Kota dengan drainase yang menurut saya nggak oke. Pertama kali saya lewat Jalan Mayor Ruslan dan melihat warna air di selokan dan udah tahu kalau bakalan banjir. Dan benar saja, daerah Mayor Ruslan, via IBA sampai depan SMK itu kalau hujan gede dikit aja. Nggenangnya, wew…

Ada suatu masa ketika saya hendak bergerak dari tempat karier, dan melakukan interview. Saat berangkat interview dan pas sedang banjir besar (ini di Jakarta) saya langsung ilfil. Meski saya lantas melewatkan dengan baik semua interview dan DITERIMA, tapi saya nggak jadi ambil itu kesempatan. Kadang menyesal, tapi giliran udah banjir begini, bersyukur juga sih.

Yang paling seru ya waktu di mess dulu. Hujan besar kadang bikin mess kebanjiran. Dan syukurlah, kamar saya termasuk yang AMAN dari cengkraman banjir. Hehehe..

Kadang ingin bergerak ke tempat lain yang bebas banjir. Tapi di era betonisasi masa kini, dan di era industrialisasi (dimana uang itu adanya ya di Jakarta dan kawasan lain di sekitarnya), saya mau kemana?

*mendadak galau*

Ya sudah, begitu saja..

[Blog Review] CoretaN si boCah r@ntau

Blog yang paling sering saya komen dan paling sering ngomen blog saya. Maklum, sama-sama jomblo #lohkokngono

Si bocah rantau yang sebenarnya sudah nggak tergolong bocah ini adalah salah satu yang menginspirasi saya nge-blog, terutama di kebangkitan blog saya. Thanks a lot for him.

Dia tampaknya nggak mau bikin cerpen dan lebih memilih untuk posting reflektif, utamanya tentang leadership. Sebagai orang yang membawahi banyak orang tentu saja ilmu-ilmu leadership-nya bisa dipercaya. Apalagi nih, suka main akronim-akronim. Nggak percaya? Monggo dicek.

Dan terutama yang menarik adalah karena bocah tua nakal ini hobi tanya-tanya orang dan menuliskan hasil wawancara kehidupannya ke dalam kisah di blognya. Jarang orang yang iseng nanya, dan biasanya memang iseng nanya itu selalu punya cerita.

Soal produktivitas, tentu kita nggak bisa berharap lebih pada seseorang dengan tanggung jawab besar macam beliau ini. Jadi, apa yang dituliskannya sekarang sejatinya sudah lebih dari cukup.

Dan, ehm, bagian paling menarik tentu kalau postingnya sudah membahas soal.. ehm.. JOMBLO dan JODOH. Hehehe.. Saya nggak mau bahas panjang kalau yang begini, tapi coba deh lihat dan baca. Plus, di blog ini kita bisa melihat perjuangan sepasang guru untuk melahirkan dua orang anak dan kemudian profil cerita masa kini-nya.

So, silahkan dikunjungi 🙂

Tipe-Tipe Perubahan Status Teman

Hari gini, umur udah mau 26, nggak punya pacar pulak. Let’s say ini ngenes. OKE!!!! *asemmm*

Nah, ternyata hal semacam ini banyak terjadi. Ya, pacaran luamaaaaaaa dan berujung bukan ke pernikahan tapi perpisahan. Ya, nikah sama putus itu beda lho. Termasuk ketika ditambahi imbuhan per-an. Dan biasanya, yang macam ini, nggak semudah itu sosialisasi kayak anak-anak labil masa kini. Modelnya? Begini kira-kira.

Perubahan Aktivitas

Biasanya jam 8 malam masuk kamar lalu asyik teleponan atau biasanya malam minggu keluar dengan pacar, eh sekarang jam 8 malam malah nyangkruk di depan tivi atau pas malam minggu juga ada di depan tivi. Lalu ketika ditanya, kok nggak keluar, dijawab sekenanya, “nggak aja”. Lalu juga biasanya asyik sama handphone, sekarang asyik dengan kalkulator. Lalu headset yang biasanya terkapar di dekat tempat tidur kini disimpan di kamar tetangga. Asli, ini tanda-tanda teman punya status baru: JOMBLO.

Misteri ini akan bertahan 2-3 minggu sebelum kemudian dibuka perlahan ke teman-teman.

Perubahan Raut Muka

Biasanya mukanya cerah ceria macam kos-kosan di Paingan *jalan kanigoro*, eh sekarang raut mukanya banyak diam merengut berlipat bak perut penuh lemak. Ya, semacam ini sudah pertanda yang sederhana. Sebagaimananyapun seseorang menyimpan masalah pasti ada pengaruh dengan penampakan di muka umum.

Perkecualian untuk yang mukanya sudah rata-rata bawah *kayak saya*

Status di FB Menghilang

Ada opsi untuk menyembunyikan status relationship di FB. Nah, kadang ada yang sudah membuat dengan MANTAP “engaged with ANU” di FB dan tentunya dikomen panjang lebar sama teman-teman FB. Begitu ada status baru bernama jomblo, itu status baru disembunyikan dulu. Sesudah beberapa lama disembunyikan baru deh status itu diganti ke single. Dalam posisi tersembunyi, mau diganti apapun yang tetap tidak mengundang komentar dari khalayak ramai.

Pengecualian untuk yang pengen jadi artis sejenak untuk menjawab pertanyaan seperti ini “Ciyus?” atau “KENAPA?? *tanda tanya banyak*” atau “Ah, paling ntar balik lagi”.

Mulai Sering Buka Social Media

Sesudah perubahan status ini, maka tahap berikutnya adalah MOVE ON! Untuk itu diperlukan sarana untuk move yaitu target berikutnya. Nah, salah satu cara modern masa kini adalah dengan buka-buka FB, lalu main add yang profpic-nya cakep-cakep, dan tiba-tiba temannya bertambah banyak. Untuk yang emang online rajin kayak saya tentu nggak masuk kategori ini. HAHAHAHAHAHA… *ngeles*

Yah begitulah…

*tulisan ini juga semata-mata gojek kere.. jangan dianggap serius.. hehehehe..

 

Cerita Liburan: Memang Tidak Terbalaskan

Salah satu pesan yang saya terima sebelum mudik kemarin adalah mengetik program kerja Mamak saya. Lalu pesan berikutnya adalah membuat DVD yang diputar di DVD Player bisa dilihat di TV.

Yah, saya melihat banyak benda baru di rumah, meski terakhir saya mudik itu baru Desember 2011 silam. Ada TV masa kini yang gede banget, ada laptop (ini sih milik kepala sekolah), dan yang bikin terpana, ada TV kabel segala. Selintas saya berandai-andai, kalau segala fasilitas ini sudah ada ketika saya SMP. Hmmm, saya pasti hanya akan menjadi bocah kecil yang manja, yang akan selalu tergeletak di depan laptop dan di depan TV menikmati hidup. Dalam hal ini saya justru bersyukur (banget).

Nah, bagian paling unik adalah ketika saya kemudian “mengajari” Bapak menggunakan laptopnya yang jauh lebih canggih daripada si lappy. Memori-nya 3 kali lipat, processor masa kini, sudah windows 7 pulak. Parahnya, laptop bagus itu hanya bisa buka MS Word karena MS Office-nya bukan versi Purchase. Buat saya ya sayang, seharusnya–karena ini barang dari pemerintah–budgetnya bisa banget kalau untuk beli license, tapi ini kok begini? Beli Windows 7-nya kuat, beli MS Office-nya nggak. Yak opo iki?

Nah, berikutnya saya diminta mengajari merapikan program kerja matpel yang diajarkan Bapak, yang barangnya sudah ada di laptop. Maka beraksilah saya. Kadang saya heran, kalau benar Bapak kursus, kenapa sekadar “block” hingga “copy paste” saja seperti nggak ngerti? Atau lupa? Atau bagaimana? Ah, entah..

Tapi saya menikmati sekali proses ini. Termasuk kemudian ketika saya memindahkan foto dari HP Bapak ke komputer rumah dan terus kesusahan karena memang HP itu belum pernah dibuka slot memory-nya. Juga memindahkan foto dari BB Mamak yang isinya foto artis lokal semua (kalau saya bilang sih, emak-emak labil.. hehehe… *ampun makkkk* *ditabok*). Juga ketika kemudian saya membuat panduan cara nge-burn CD. Hingga lantas membuat DVD yang diputar bisa terlihat di TV baru.

Huffffttt…

Saya nggak ngerti apa ini, tapi saya lantas ingat posting Bocah Rantau yang satu ini. Bahwa bocah tua nakal ini BENAR 100%. Yah, saya mungkin hanya mengajari hal yang dianggap remeh di masa kini dan lantas tampak pintar. Apa sih CTRL + C dan CTRL + V? Apa sih mindahin foto dari HP ke laptop? Itu semua simpel, tapi buat saya, kemarin ini, bermakna dalam.

Yah, kalau kemudian saya tahu soal CTRL + C, kita perlu bertanya, siapa yang membuat saya mengerti huruf “C”? Nggak lain, kedua orang tua saya. Ketika kemudian saya tahu bahwa untuk membuat TV bisa menayangkan DVD itu harus menekan tombol INPUT di remote, siapa yang membuat saya mengerti bahwa benda itu adalah remote control? Nggak lain juga, kedua orang tua saya. Kalau kemudian ketika saya asyik dengan laptop, lalu kebelet pipis, dan saya bisa pipis dengan lancar, siapa yang mengajari saya cara pipis? Tidak ada yang lain, kedua orang tua saya.

Begitulah hidup. Bocah tua nakal menulis soal kasih yang tidak akan pernah bisa terbalaskan. Saya menambahi, memang tidak terbalaskan. Apalagi ketika saya selesai dengan laptop atau DVD, segelas teh panas sudah tersedia. Ketika saya beres dengan merapikan program kerja, sepiring ayam kampung dengan sambel merah merona sudah siap. Bahkan ketika saya tidur dengan malas, sebuah selimut sudah ada menutup badan saya di pagi hari ketika terjaga. Demikian pula dengan sepiring nasi goreng dan segelas jus yang rasanya mantap. Apalagi yang perlu saya minta kalau sudah begini?

Huwaahhh… Begitulah.. Kasih orang tua pada anaknya, memang tidak terbalaskan. Kenapa? Semata-mata kadarnya yang nggak akan mungkin tercapai. Itu terlalu besar, sobat 🙂

Mimpi Yang Tersisa

Binaka, sebuah bandara mini yang dikelilingi hutan. Macam inikah bandara? Ah, itu pertanyaanku dulu, waktu pertama kali menjejak di tempat ini. Dulu benar, ketika aku masih bekerja di tempat ini. Sebuah dulu yang memang sudah berlalu. Aku datang kembali ke tempat ini hanya hendak berwisata, bagaimanapun Pulau Nias ini indah.

Handphoneku yang setengah pintar berdering. Ya benar berdering, aku lupa menggantinya dengan nada dering yang lebih masa kini. Malas. Buat apa?

“Dimana pak?”

“Sedang nunggu bagasi.”

“Oke. Saya di luar, pakai Avanza hitam.”

“Sip.”

Dari pemilik mobil sewaan yang sudah kupesan dari beberapa hari yang lalu. Bandara ini lumayan jauh dari Kota Gunungsitoli. Meski ada angkutan on the spot, sebagai orang yang hendak berwisata, dan sebagai pemilik private time, lebih baik aku mengeluarkan uang lebih.

“Dari mana dik?” tegur seorang ibu dengan usia kutaksir di atas setengah abad.

“Jakarta bu. Ibu sendiri?”

“Sama kalau begitu. Langsung atau nginap dulu tadi?”

“Berangkat paling pagi bu, dari Jakarta.”

“Ohh.. Ini mau kemana dik?”

“Jalan-jalan bu. Hehe.. Ibu sendiri?”

“Mau tengok anak dik. Kerja disini.”

Ibu ini, sudah tidak cantik, tapi tampaknya dahulu cantik. Prediksi saja. Suaranya tidak mencerminkan orang Nias atau Batak sekalipun, halus sekali.

“Ke kota naik apa bu?” tanyaku.

“Paling naik itu mobil yang biasanya.”

“Ikut saya saja bu, saya sewa jemputan.”

“Tidak menyusahkan dik?”

“Nggak lah bu. Kota Gusit kan nggak gede-gede banget. Hehe.”

Aku dan ibu itu masih berdiri menunggu bagasi kami masing-masing. Maklum bandara kecil, metodenya juga masih sederhana. Dan tentunya, umpek-umpekan padat merayap tanpa harapan. Aku sendiri, karena dulu sudah biasa, memilih untuk mengambil jarak. Toh, pada akhirnya akan giliran kita juga.

Lima belas menit menanti, aku dan ibu itu mendapat gilirannya juga. Dua tas terakhir itu kemudian beralih kepada pemiliknya.

Mobil Avanza hitam sudah menanti di depan, sudah sepi parkirannya.

“Silahkan bu..” Aku mempersilahkan ibu yang tidak aku tahu namanya itu masuk duluan. Ini katanya harkat lelaki. Aku mengikuti masuk, dan mobil berjalan.

Perjalanan ini termasuk sepi. Apalagi untukku yang penat dengan hiruk pikuk Jakarta. Ada pohon tinggi di tepi jalan sudah membuatku shock, jangan-jangan ini pohon mau tumbang.

“Anaknya kerja dimana bu? Proyek ya?” Aku membuka pembicaraan.

“Iya dik. Kok tau?”

“Biasanya yang ke Nias kalau dari luar pulau, ya ngerjain proyek bu. Hehe. Dulu saya juga anak proyek.”

“Oh begitu. Memangnya adik lulusan apa?”

“Saya sastra sih bu.”

“Kok ngerjain proyek?”

“Hehe. Nggak apa-apa bu.”

“Kayaknya sekolahnya nggak sesuai cita-cita ya?”

Ups, jleb.. jleb.. jleb.

“Iya sih bu. Dulu mau jadi apoteker, tapi nggak kesampaian. Jadi daftar lagi. Nggak apa-apa, dari meracik obat jadi meracik kata-kata.”

“Dik.. dik.. sudah berkeluarga?”

“Calonnya aja nggak ada bu.” kilahku.

“Gebetan? Masak anak muda sukses, bisa plesir ke Nias, nggak ada bayangan kesitu.”

“Dalam bayangan bu.”

Ibu itu geleng-geleng sambil tersenyum simpul.

“Dik, dalam hidup ini ada 2 hal yang harus kita capai. Hidup kita hanya 24 jam sehari. Sebagian untuk apa?”

“Tidur sama kerja bu?”

“Sisanya?”

“Ya, sisanya bu. Macem-macem.”

“Sebagian kerja, kamu benar dik. Sebagian lagi yang masuk hidup kita ya orang yang akan bersama kita. Sepanjang hayat. Jodoh dik.”

Aku tertegun.

“Hidup yang indah itu kalau kita menjalani hidup sesuai mimpi kita dik. Maaf saya cerita ya. Saya dulu kerja di kantoran, tapi saya nggak nyaman dengan tembok-temboknya, sampai saya beranak dua dik. Hidup rasanya menderita sekali.”

“Ehm, maaf, lalu ibu keluar?”

“Sulit kalau sudah berkeluarga, sudah beranak dua apalagi. Untuk ada suami. Jadinya sebagian hidup saya masih tetap indah dik. Itulah, saya kalau ketemu anak muda, apalagi yang seperti adik ini, pasti akan ngomong hal yang sama.”

“Jadi maksudnya bu?” Aku garuk-garuk tanda tak mengerti.

“Kamu sudah terjun di bidang yang bukan mimpimu kan dik? Walaupun menikmati, pastilah tidak penuh. Nah, hidup ini singkat. Jangan sampai hidupmu musnah dari mimpi. Kalau yang pekerjaan sudah sirna, jodoh tadi itu, kejarlah, sampai dapat.”

Aku lagi-lagi tertegun.

“Ini kalau kamu mau hidup yang sebenarnya ya dik. Kadang kita harus realistis, tapi asal kamu tahu dik, realistis itu sejatinya tidaklah hidup. Hidup bergantung pada mimpi-mimpi kamu.”

Perjalanan mulai masuk ke kota Gunungsitoli. Dan aku masih tercenung nikmat.

“Iya ya bu.. Hehehe.. Baru sadar saja.. Ibu turun dimana?”

“Di Rumah Sakit saja. Anak saya tinggalnya dekat situ.”

Mobil Avanza hitam pun mulai menuju ke Rumah Sakit. Tidak banyak yang berubah, jalan-jalannya masih menantang maut disini. Maklum, bukit dan pantai bersatu, pastilah ada tikungan dan turunan.

Mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah sakit. Ibu itu lantas turun.

“Makasih banyak ya dik. Jangan lupa mimpinya dikejar ya.” kata ibu itu seketika turun dari mobil sewaan ini.

“Makasih banyak juga bu. Salam buat anaknya.”

Pintu tertutup, perjalanan berlanjut ke Hotel tempatku menginap. Yang punya hotel adalah saudaranya yang punya mobil sewaan ini. Tak perlu kusebut, mobil ini memang akan mengarah kesana. Debur ombak terdengar sesekali karena jalan menuju hotel memang dekat dengan pantai.

Kukeluarkan handphoneku, jemarimu menyentuh beberapa kali sampai muncul sebuah foto. Seorang gadis dari masa lalu. yang selalu membayangi dan menjadi mimpiku, tapi tak pernah dekat denganku. Jemariku menyentuh kembali, sampai ke deretan kontak dan lantas pada sebuah nomor. Ehm, sebenarnya aku hafal sih nomor itu, tanpa perlu melihat ke kontak.

Dengan jemari bergetar, kugeser layar sentuh itu ke kanan, Call.

Tutttt.. Tutttt… Tutttt..

“Halo?”

Bahwa aku harus mengejar mimpiku yang ini, yang tersisa.