Menguntai Cerita yang Tak Tersampaikan

Ini adalah hari-hari,
ketika aku menguntai kembali cerita
kumpulan kisah yang retak terpecah
dan lantas menjelma menjadi sebuah konotasi belaka.

Ini adalah hari-hari,
ketika setiap kata yang pernah terucap, dituliskan
saat setiap kata yang pernah tertulis, disalin kembali
membentuk kepingan retak sebuah kisah cinta.

unspoken

 

 

Ini adalah hari-hari,
ketika aku membangkitkan kembali sebuah harapan
meniadakan lagi sebuah penyangkalan
untuk kemudian kembali berlaku sama seperti sebelumnya.

Ini adalah hari-hari,
di kala aku mengerti sepenuhnya
bahwa yang kurasakan adalah harap semata
sejak dahulu hingga mungkin nanti.

Ini adalah hari-hari,
ketika aku membiarkan semua yang tidak terkatakan itu menyeruak
mengumpul dan teruntai menjadi sebuah kisah
jalinan kata yang bisa menyibak rasa.

Ini adalah hari-hari, ketika semua yang tidak sempat tersampaikan
akan tetap tidak tersampaikan.

Advertisements

Menurutmu?

Menurutmu..
Apakah yang aku lakukan kalau kamu mengabariku sedang apa kamu disana?
Pastinya, aku akan tersenyum lebar mengetahui kamu masih mengingatku.

Menurutmu..
Apakah yang aku rasa ketika kamu marah kepadaku?
Terbersit sedikit riang, karena marah itu menandakan kedekatan hati kita
Meski aku juga kelimpungan untuk meredam amarahmu.

Menurutmu..
Apakah yang aku lakukan jika kamu tidak membalas pesanku?
Aku menanti dengan sabar, tentunya sambil berkali-kali memandang layar telepon, berharap ada balasan darimu.

Menurutmu..
Apa yang ada di benakku saat kamu mengeluh sakit?
Sesungguhnya, aku sangat ingin berlari kesana dan ada di sampingmu, mungkin itu bisa meredakan sakitmu.

Menurutmu..
Apa yang kupikirkan ketika mendengarmu sedang menangis?
Aku hanya ingin berada di sisimu, membenamkan tangismu dalam pelukku dan memastikan semuanya akan baik-baik saja.

Menurutmu..
Apakah aku mencintaimu?

Kalau aku boleh memberi jawab
Iya, aku mencintaimu.

* * *

Yang Berbeda Hanya Waktu

Ini tentang rasa itu
Ini soal  rasa yang kusebut cinta
Ini soal hati yang telah memilih

Ini juga tentang semua yang telah terjadi
Ini juga soal semua yang telah kita lewati
Ini masih mengenai hubungan rasa dan waktu

Percayakah kamu, kalau tidak ada yang berubah?

Rasa itu tetap ada, tidak sedikitpun hilang
Bahkan ia membesar

Aku masih sama, Sayang!
Aku masih disini dengan rasa yang sama
Aku masih disini untuk mencintaimu

Entahlah
Aku hanya bisa menerka
Aku hanya bisa berharap
Aku bahkan sering bermimpi
Bahwa hal yang sama terjadi padamu

Kalaulah itu terjadi
Aku masih sama
Kamu masih sama

Yang berbeda kini hanyalah waktu
Dulu dan sekarang
Kini dan nanti

Ketika dalam mimpiku
Di dalam nanti itu
Akan ada “KITA”

-Senin Pagi, 081012-

Tulang Rusuk

Aku hanyalah pria yang hendak memberikan cinta yang sepenuhnya
Aku hanyalah pria yang selalu ingin kamu tersenyum
Aku hanyalah pria yang berharap kesedihan akan jauh dari dirimu

Aku hanyalah pria yang tidak meyakini kamu sempurna
Aku hanyalah pria yang meyakini jika kamu adalah yang terbaik
Aku hanyalah pria yang juga manusia biasa yang punya banyak salah
Aku hanyalah pria yang selalu berharap ada maaf untuk setiap ketidaksempurnaan

Aku hanyalah pria yang membayangkan masa depan bersamamu
Aku hanyalah pria yang selalu khawatir pada dirimu
Aku hanyalah pria yang rindu gelak tawamu
Aku hanyalah pria yang rindu suara kantukmu
Aku hanyalah pria yang membenci setiap tetes air mata kesedihan menetes dari bola matamu

Aku hanyalah pria yang berharap dapat mendekapmu dalam pelukku hingga kamu tertidur lelap disana
Aku hanyalah pria yang telah menemukan tulung rusukku, yang adalah kamu

🙂

Ketika Semesta

Bukan hal mudah melupakanmu
Adalah sulit untuk tidak lagi sendu
Setelah tak lagi bertukar kata rindu
Ketika rasa harus disimpan rapat di kalbu

Jelas, semuanya itu tak mudah
Karena rangkaiannya terlanjut indah
Meski kemudian satu per satu patah
Terhampar berkeping berbalut perih

Tapi ketika semesta bertindak
Apakah aku bisa berkata tidak?
Apakah aku punya daya untuk menolak?
Ataukah aku layak bersorak?

Kamu muncul saat aku hendak melupakanmu
Kamu hadir di saat aku susah payah tidak merindu
Kamu ada ketika hati ini terlanjur pilu
Dan hati ini mendadak menjadi ragu

Ah, mungkin semua hanya kebetulan saja
Itu pikiran yang terlintas tiba-tiba
Meski lantas aku menangkap sebuah makna
Bahwa tidak ada kebetulan bagi semesta

Jadi, kubiarkan semuanya berjalan
Meski itu teramat sangat pelan
Agar aku lantas bisa mendapat pengertian
Bahwa kehendak semesta adalah acuan

Tidak ada lagi mencoba realistis
Bukan pula hendak menahan tangis
Aku hanya menerka segala rencana magis
Yang aku yakini pasti akan manis

Ketika semesta berbicara, tidak ada yang bisa membantah
Ketika semesta menulis, kadang malah banyak rona merah
Ketika semesta bekerja, pada dasarnya semua itu indah
Ketika semesta itu tentang kamu, maka aku hanya pasrah

Biarlah semuanya terjadi
Sesuai jalannya semesta

160912 – @ariesadhar

Pulang, Ke Hati Yang Bertuan

Aku pulang
setelah pencarian akan sebuah peraduan
setelah penyadaran akan sebuah kenyataan
setelah peringatan yang (mungkin) datang dari Tuhan

Aku pulang
setelah aku tidak menemukan tujuan
setelah aku tidak melihat masa depan
setelah aku tidak merasa nyaman

sumber: socialmediaforsmartpeople.com

Aku pulang
ke tempat yang masih sama
ke ruang yang tetap tiada
ke hati yang tetap tidak terbuka

Aku pulang
karena cinta memintaku pulang
karena hati ini merindu ruang
karena jiwa ini merasa sayang

Aku pulang
ya, aku pulang

Aku pulang
ke hati yang bertuan
ke hati penuh buncah kerinduan
ke hati pencari kesetiaan

Aku pulang
ke tempat yang tuannya bukan aku
ke tempat yang tidak merinduku
ke tempat yang tidak mencariku

Aku pulang
karena aku ingin pulang
karena aku masih berharap akan sebuah ruang
karena aku merasa menyerah sebelum berjuang

Aku pulang
untuk sebuah rasa yang tak terkatakan
pada sebuah hati yang jelas-jelas bertuan
demi sebuah rasa yang tak tertahankan

Aku pulang,
demi cinta.

Dalam sebuah permenungan, 030912

Lampu Merah

Sebenarnya cinta itu mudah,
kalau tidak dibalut rasa.

Masalahnya, cinta dan rasa itu jadi satu.

Seharusnya cinta itu indah,
kalau tidak diselubungi beda.

Masalahnya, cinta dan beda itu serangkai.

sumber: idlehearts.com

Harusnya, cinta bisa bilang:
kapan aku harus melaju
kapan aku harus perlahan
kapan aku harus berhenti.

Harusnya, cinta bisa mencegah:
kecelakaan rasa
kecelakaan hati
kecelakaan cinta itu sendiri.

Tapi, cinta bukan lampu merah
cinta bukan lampu kuning
cinta bukan lampu hijau.

Cinta bukanlah apa-apa
Ia hanya untaian rasa milik manusia

Yang (bisa) datang dengan mudah
Yang (bisa) datang dengan sederhana
Yang (bisa) datang tanpa diduga

Dan (bisa) pergi dengan cara yang sama.

Demikian cinta
Demikian kita hidup
Karena hidup ini semata-mata cinta

🙂

Pernah?

Pernahkah kamu merasa jatuh cinta?
Pastilah, pernah.

Pernahkah kamu merasa jatuh cinta secara biasa,
sebuah jatuh cinta yang terjadi begitu saja,
bukan pada pandangan pertama,
bukan pada sebuah momen istimewa,
tapi pada sebuah perjalanan, yang sederhana.

Pernahkah kamu merasa bahwa dulu,
semua berjalan begitu biasa,
semua berjalan hanya sebagai peristiwa,
yang lantas bisa kita kenang dengan tertawa,
karena, ya, dulu memang hanya biasa.

Pernahkah kamu merasa bahwa cintamu ada di depan mata?
Ketika semuanya berjalan biasa dan sederhana,
perlahan menjelma menjadi istimewa,
perlahan menjelma menjadi cinta,
perlahan membentuk aku dan kamu.

Pernah kamu merasa bahwa harapmu akan cinta akan berhenti?
Pada suatu titik yang jelas,
yang siap menyambutmu dengan senyum,
yang sama dalam memandang masa depan,
yang sama dan impian.

Kamu pernah?

Aku sudah.

Dan itu,
jatuh cinta kepadamu.

Begitulah.

Aku Cinta Kamu

Mengapa cinta itu membingungkan?
Ihwal mengapa cinta itu membingungkan saja sudah membuatku bingung.

Mengapa cinta itu abstrak?
Karena, bahkan jarak sekalipun ternyata tidak mampu mengalahkannya.

Mengapa cinta itu unik?
Ehm, cinta katamu harus pas, tidak kurang tidak lebih.
Kalau kurang, pasti akan mencari ke tempat lain.
Kalau lebih, akan membaginya dengan yang lain.

Mengapa pula cinta itu membuatmu memilihku,
membuatku memilihmu?

Aku yakin ini bukan perkara
merobek kertas
membalik telapak tangan
mengangkat gelas
menggerakkan gunting.

Ini perkara hati
Ketika pada akhirnya aku menatap hatimu
sebagai peraduan.

Ah, itu tadi hanya panjang lebar belaka.

Simpelnya?

Aku cinta kamu.

Tidakkah tiada yang lebih sederhana daripada itu?

Di Ujung Horison

Bahwa hidup itu seperti memandang horison, aku sungguh paham itu.
Sesuatu bisa dengan mudah kamu lihat.
Tapi tak seluruhnya.
Siapa yang tahu ada apa di balik horison itu?
Sampai Colombus dianggap orang gila karena hendak mencari tahu.

Dan jangan kamu pungkiri, bahwa kamulah ujung horison itu.
Aku masih bisa melihatmu, menikmati keindahanmu.
Sedikit menikmati sisa ombakmu yang sampai ke tempat aku berdiri.
Tapi kamu akan tetap disana, di tempat itu.

Aku tidak bisa kesana.
Aku tidak bisa berenang, dan lebih lagi, aku tak tahu ada apa dibalik horison itu.
Dan aku bukan Colombus.

Aku hanya berharap bisa seperti Colombus.
Berani dibilang gila, berani dianggap aneh.
Untuk membuktikan kebenaran yang dia percayai.

Lantas aku?
Apakah kebenaran yang aku percaya?

Satu-satunya kebenaran itu adalah bahwa hatiku hanyut, menuju ujung horison, tersimpan nyaman disana.

Tahukah kamu soal itu?

Tak perlu.

Simpan saja hatiku.
Sepenuhnya itu milikmu.