Bincang Nggak Santai Dengan Asus Zenfone Max M2, Smartphone Mevvah Yang Murah Meriah

bincang nggak santai dengan

“Woy, gimana sih ini ibu-ibu main dorong.”

Pintu KRL tujuan Rangkasbitung menutup. Jeder. Sementara kalimat barusan masih terus diulang-ulang oleh kumpulan pemuda tanpa harapan yang naik di Stasiun Palmerah ini.

Apakah benar ada ibu-ibu yang mendorong? Nope, itu mereka sendiri yang saling dorong dan kemudian bercanda sarkas nggak sopan macam begitu. Dan percayalah, pemandangan seperti itu hanya ada di KRL tujuan Rangkasbitung saja.

Sementara itu, di sudut lain gerbong, tampak seorang pria terpekur gundah oleh sebuah problematika krusial berupa ini:

screenshot_1744

Gawainya digoyang-goyangkan berlawanan arah dengan laju kereta. Sekilas berhenti, kemudian lanjut lagi. Itu hape apa nomor arisan, dikocok wae~

“Misi, Om.”

Sang pria celingak-celinguk dan mendapati sebuah gawai berbodi 158 mm x 76 mm x 7.7 mm kedip-kedip mau ngajak ngobrol. Sementara Santos dalam posisi one on one begitu nggak nendang-nendang juga. Lag kayaknya, bisa karena koneksi, bisa karena ponselnya memang hang.

“Kalah ya, Om?”
“Apaan? Ini ntar lagi gol, kalau nggak stop!”
“Lha kalau waktu habis ya nggak gol dong, Om.”

Tidak lama kemudian, game lanjut kembali dan status kemenangan sudah ada di tim lawan dengan status saya disconnected. Ealah, nge-game itu biar terhibur lha ini kok malah bikin pikiran selain cicilan.

Gambar terkait

“Ngapa lu?” tanya Sang Pria kemudian.

“Kalau mau ngegame mah nggak usah jauh-jauh, Om. Pakai saya aja. Cukup 80 juta.”
“Lu kata gaji PNS banyak? Itu 80 juta bisa buat gajian 2 tahun.”
“Nah ini contoh yang nggak pengen debat dan malah nyalahin orang. Dicoba dulu dong. Itu si 80 juta mah canda.”
“Memangnya ngana bisa apa?”

Dengan angkuh, si gawai berceloteh, “Om, saya itu HP pertama di Indonesia yang pakai Chipset Qualcomm Snapdragon 632.”

untitled design (19)

“Ha, njuk?”

“Aduh, Om-nya kebanyakan rapat tanpa hasil, nih, jadi nggak sempat baca. Chipset Snapdragon 632 itu sederhananya punya keunggulan sehingga meningkatkan kemampuan gaming, pengambilan video 4K, mendukung teknologi AI, hingga konektivitas LTE yang lebih maksimal.”

“Apa bedanya sama saya hapus-hapus memori mantan di HP?”

“Yaelah, Om. Perpaduan CPU dan GPU pada ASUS Zenfone Max M2 kek saya ini bisa meningkatkan kinerja sampai 40 persen. Kalau saya PNS, tunjangan saya sudah naik. Ha wong jelas berkinerja. Nggak kayak situ, makan konsumsi rapat wae.”

Hasil gambar untuk eat lot gif

“Mahal, dong? PNS mah nggak sanggup.”
“Lha ini~ Dari tadi sudah dibilang kalau terjangkau, kok. Nggak percayaan! Hih! Semua laki-laki sama saja!”
“Jadi, saya sama kayak Samuel Zylgwyn?”

“Nggak. Lebih mirip Jakub Błaszczykowski. Jadi, Om, chipset Snapdragon 632 itu hasil pengembangan dari Snapdragon 625 dan Snapdragon 626 yang terkenal punya performa tinggi, hemat daya, dan tidak panas. Ngana harusnya kenal kalau yang dua itu hemat daya. Jadi sama Qualcomm, saya dikembangkan lagi sampai semakin hemat daya.”

“Kamu nyindir saya biar hemat?”
“Asem ik, suudzon wae.”
“Hehe~”
“Jadi kalau mau main PUBG apa Free Fire udah bisa. Apalagi cuma Score Hero, kalahan pula. Duh.”
“Eh, eh. Maksudnya?”

Kereta berhenti sejenak, menghirup nafas di padatnya Kebayoran, stasiun angkuh di tengah-tengah pasar yang menua.

screenshot_1743

“Anak berapa, Om?”
“Satu. Kenapa?”
“Suka difoto nggak?”
“Yah, kek orangtua milenial pada umumnya aja.”

“Nah, saya sebagai ASUS Zenfone Max M2 punya kamera belakang lengkap dengan EIS untuk menjaga kestabilan hati, eh, video. Saya juga bisa lho merekam video hingga resolusi 4K.”

“Pakai apa?” tanya pria itu.
“Pakai seblak, Bambang!”
“Loh….”

“Ya pakai kamera lah. Kalangan ASUS Zenfone Max M2 kek saya juga bisa mengenali 13 scene yang berbeda, soalnya didukung oleh buzzer politik teknologi AI. Bahkan juga bisa menjaga kestabilan video kalau merekam pakai kamera depan.”

Gawai itu menyambung, “Jadi kalau Oom pengen jadi vlogger, lebih enak, soalnya kamera depannya lebih ciamik dengan kamera 8MP. Om, kan yang cita-citanya jadi vlogger tapi nggak kondang-kondang itu kan?”

“Asem.”

“Eh, ngana otak, eh, layar jernih nggak?”
“Sembarangan, Lu, Om. Saya ini punya Layar HD+, ukuran 6,26 inchi, rasio 19:9. Kurang lega apa? Mau ngegame juga hayuk! Nonton film, siap. Nonton video Om yang nggak laku itu juga lanjut aja.”

“Hmmmmm. Hmmmmm.”
“Apalagi, Om?”
“Kuat dan lahan lama nggak? Butuh sildenafil nggak?”
“Heh, asbak Rajaratnam! Dikata saya alat kelamin?”
“Baterai, coy. Baterai.”

“Wah, meragukan saya lagi si Om. Baterai saya 4000mAh. Kurang gede apa? Itu sudah bisa ngegame 8 jam nonstop. Apalagi cuma nonton sama scroll-scroll doang. Bisa 21-22 jam.”

Hasil gambar untuk super electric gif

“Kalau main Score?”

“Yaelah. Sampai habis paketnya situ di modem, baterai saya juga nggak habis. Sukanya ngeremehin, nih, Om. Jangan lupa, saya itu pakai pure Android Oreo 8.0, tanpa micin, tanpa perubahan sedikitpun. Tahu nggak?”

“Nggak.”
“Tahunya apa?”
“Fotokopi.”

“Geblek. Sederhanya, disebut Stock Android yang berarti ada jaminan update selama dua tahun. Jadi pasti bakal dapat jaminan update ke Android 9 Pie kelak plus lebih ringan bebas dari bloatware yang biasanya membebani kehidupan saya sebagai smartphone.”

“Wah, jeroannya situ mewah juga, yha?”

“Pokoknya,siapapun yang nyari HP terjangkau tapi kualitas dan kinerjanya baik buat komunikasi sehari-hari, plus juga buat gaming dan entertainment, saya sebagai ASUS Zenfone Max M2 adalah pilihan tepat. Spek mevvah, harga murah meriah. Jadi, coba saya, yha, Om?”

“Baiklah. Eh, lah, kebanyakan ngobrol sama ente, saya harusnya turun Jurangmangu.”
“Ini sudah Rangkasbitung, Om. Situ bablasnya kejauhan~”

“Duh!”

the distance between the sun and the

Tulisan ini diikutsertakan pada BOY-Zenfone Max M2 Writing Competition-nya, Oom Yahya. #ZenFoneMaxM2_ID #NextGenerationGaming

Rekor, Perpanjang SIM di Mal Pelayanan Publik Hanya 16 Menit Saja! Spiralkan!

Di usia yang sudah menua ini, pada akhirnya saya harus perpanjang masa berlaku Surat Izin Nyebar Hoax Mengemudi yang sudah akan lewat periode 5 tahun. Ini SIM yang lebih penting karena SIM C saya pakai betul sehari-hari. Lagipula, kalau bablas sehari, saya kudu mengurus semuanya di Daan Mogot. Yha, satu Polda Metro ke Daan Mogot, kapan kelarnya? Maka, mengenali periode berakhirnya SIM itu memang penting. Lupa, panjang urusannya.

Image result for far gif

Tadinya, saya ingin memperpanjang masa berlaku SIM itu di Gandaria City, sebagaimana SIM A yang juga sudah pernah saya tuliskan panjang lebar di blog ini. Akan tetapi, makin minimnya konten di blog ini membuat saya berpikir porno keras. Saya kemudian cari-cari opsi gerai SIM di tempat-tempat lainnya. Sempat ingin mengurusnya di Mall @ Alam Sutera yang kayaknya sepi, tapi kejauhan.

Ada juga ide mengurus di gerai yang ada di Blok M atau di Artha Gading, namun kok saya pikir bakal sama saja dengan di Gandaria City. Hmmm. Hmmm. Hmmm.

Image result for nissa sabyan gif

Entah kenapa, saya kemudian nyasar ke list gerai pembuatan dan perpanjangan SIM yang ada di Polda Metro Jaya dan menemukan fakta bahwa layanan ini juga ada di Mal Pelayanan Publik!

Aha!

Image result for aha gif

Seperti kita ketahui bahwa pada pertengahan 2017, Djarot Saiful Hidayat dalam kapasitas sebagai Gubernur DKI Jakarta meresmikan adanya Mal Pelayanan Publik (MPP) DKI Jakarta. Lokasinya sangat strategis, di Kuningan. Lebih detail lagi, MPP ini ada di belakang hotel JS Luwansa, yang berarti juga tidak jauh dari Hotel Westin yang tingginya setengah modar itu.

Dari kantor, saya minta izin setengah hari, dengan gambaran bahwa bakal selama waktu mengurus di Gancit. Saya kemudian tiba di MPP menggunakan ojek online sekitar pukul 08.35.

Di pintu masuk, sudah ada satpam yang tidak cuek layaknya di pelayanan publik lainnya. Saya langsung ditanyai kebutuhan datang ke MPP dan kemudian diarahkan ke komputer untuk mengambil nomor antrean. Untuk perpanjangan SIM ada di komputer 1, sisi paling kiri. Saya kemudian mendapat urutan 009.

Lumayan, nggak lama~

Saya kemudian menuju ke lantai 3, lokasinya pelayanan dari Kementerian/Lembaga. Selain SIM, di lantai ini juga ada imigrasi, ada pula Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Ada yang lain juga, sih, tapi saya tidak terlalu peduli. Heuheu~

Image result for don't care gif

Di lantai 3, saya disambut oleh 2 mbak resepsionis yang cantik jelita dan gawainya iBas iPhone. Lokasi Gerai SIM Mal Pelayanan Publik ini ada di sebelah kiri dari arah pintu masuk, bablas ke ujung. Pas mentok, pokoknya.

Saya tiba di depan loket pada pukul 08.41 dan masih ada 1 orang yang sedang mengisi formulir, serta 2 orang sedang berproses di tempat foto. Suasana cukup sepi kalau dibandingkan di Gancit yang loketnya belum buka saja sudah antre maksimal. Apalagi kalau dibandingkan dengan di Samsat. Jauh. Jauuuhhh~

Oya, ada fasilitas yang sangat menarik di MPP ini. Fasilitas sederhana sekali, tapi biasanya jadi sumber pungli di tempat lain. Yha, mesin fotokopi! Di tempat lain, fotokopi sebiji bisa diharga 2000 rupiah dan pasti dibayar karena butuh. Saya sendiri sebelum berangkat sudah fotokopi duluan SIM dan KTP semata-mata biar nggak bayar 2000 itu tadi.

Sejurus kemudian saya dipanggil untuk pengecekan identitas, tes kesehatan (buta warna), mengisi formulir, sekaligus berfoto. Kalau di Gancit saya masih bisa keliling foto-foto, di MPP nggak sempat. Semuanya set-set-set-set hingga kemudian pukul 08.57 saya sudah pegang SIM baru dengan muka yang mengerikan. Yha, nggak apa-apa, saya juga nggak peduli soal muka itu.

Hasil gambar untuk i dont care gif

Saya sejujurnya takjub dengan pelayanan SIM yang secepat itu. Tidak pernah terjadi dalam 2 periode SIM saya, bahkan ketika itu di Bukittinggi sekalipun yang notabene para polisinya kenal dengan orangtua saya. Lha ini kenal juga nggak–cuma Pak Polisinya ternyata tetangga mertua di Bandung Barat–tapi SIM diperoleh dengan cepat.

MPP ini mengintegrasikan lebih dari 300 layanan dalam 1 gedung, baik itu layanan Pemerintah Provinsi maupun 30 lebih layanan pemerintah pusat. Di tempat ini berbagai izin dan dokumentasi bisa diperoleh. Jadi, nggak ada itu suruh ngurus dulu ke dinas anu di jalan sana, lalu ke dinas anu lagi di jalan situ. Semuanya terintegrasi di 1 gedung yang menurut saya sangat nyaman. Mal Pelayanan Publik ini adalah proyek percontohan nasional dan buka pada hari kerja (Senin-Jumat) pukul 07.30 hingga 16.00.

Saya bahkan tidak sempat foto-foto terlalu banyak karena menunggunya memang tidak terlalu lama. Ini adalah contoh inovasi pelayanan publik yang wajib ditiru untuk diterapkan di manapun. Apalagi segala syarat Pelayanan Publik sesuai Permenpan 17 Tahun 2017 juga sudah pasti ada di MPP ini.

Saran saya, sih.kalau mau perpanjangan SIM mending di MPP saja. Jauh lebih ciamik dibandingkan pelayanan di mal yang pada dasarnya juga sudah ciamik~

 

Liburan Asik Dengan Laptop ASUS

liburan asik dengan laptop asus

Bagi blogger KW dan esais tempo-tempo seperti saya, liburan merupakan sesuatu yang berharga. Pertama, karena saya bisa menghilangkan bosan-aku-oleh-penat yang kalau dibiarkan bisa menciptakan pecahkan-saja-gelasnya-biar-ramai-biar-mengaduh-sampai-gaduh. Kedua, pada saat perjalanan liburan, saya sangat menikmati untuk menjadi pengamat yang rajin. Tidak jarang, tulisan-tulisan hasil melamun selama perjalanan itu malah yang masuk dan dimuat di media-media seperti Mojok, Voxpop, hingga Detik.

Intinya, sih, dengan liburan, biaya liburan saya ada balik modalnya juga, walau sedikit~

Nah, persoalannya sekarang adalah saya bukan lagi lajang membusuk belaka seperti sekian tahun lalu hingga begitu rajin menelurkan cerpen disini, saking nggak ada yang di-PDKT. Saya sekarang merangkap juga sebagai Bapak Millennial alias kaum milenial yang jadi bapak-bapak. Apalagi, anak saya yang (masih) satu itu lagi lucu-lucunya.

Alias, lagi butuh-butuhnya diawasi. Soalnya, kalau tidak diawasi bisa jadi begini:

Untitled design (6).png

Sekarang, intensitas saya untuk menulis sembari liburan jadi agak berkurang salah satunya ya karena uang berliburnya yang juga kurang. Selain faktor waktu karena harus mengawal pergerakan si bayi yang semakin gesit, faktor lainnya adalah barang bawaan yang bertambah banyak. Bapak-bapak dan emak-emak sekalian pasti paham bahwa kalau berpergian jauh dengan bayi, okupansi koper paling banyak ya buat bayinya. Bapaknya mah apalah~

Satu lagi, kalau saya paksakan bawa laptop, seringkali malah menjadi risiko tersendiri mengingat kawalan pada barang bawaan tidak seketat pas lajang merana yang betul-betul hanya ransel sebiji. Bisa jadi hilang dari pandangan, bisa jadi ketlingsut, bisa jadi juga remuk ketindih aneka rupa barang lain karena lupa dipisahkan bahwa di tas itu ada laptop.

Jadilah, liburan saya yang biasanya langsung menjelma jadi blogpost seperti cerita Loser Trip atau Cisantana, sekarang jadinya latepost bahkan late-nya bisa setahun seperti serial Lost in Bangka.

Hasil gambar untuk ckckck gif

Soal itu sih masih bisa disiasati dengan ponsel yang makin lama makin canggih. Kadangkala, hidup manusia bisa mendadak rumit dan butuh laptop alih-alih ponsel belaka. Seperti yang saya alami ketika lagi liburan di rumah orangtua nun jauh di Bukittinggi sana.

Syahdan, pada sore hari cuti nan syahdu sembari menggendong anak lanang, telepon genggam saya berbunyi. Nomor yang tidak disimpan, tapi tidak asing. Karena berasa tidak asing, sayapun mengangkatnya.

“Halo, Arie.”

Suara di kejauhan itu betul-betul tidak asing. Yha, Ini yang lagi menelepon adalah salah satu Pejabat Eselon I di kantor tempat saya bekerja. Sebagai staf level pupuk bawang, telepon langsung dari Eselon I itu sungguh-sungguh perintah yang melewati jenjang yang sangat jauh.

Hasil gambar untuk wow gif

Memang, sejak tulisan saya tentang sebuah obat sariawan cukup viral, terakhir eks editornya bilang view-nya sudah tembus 100 ribu, nama saya agak diingat di kantor. Walhasil, ketika kemudian sedang ada isu-isu yang digoreng sedemikan rupa oleh orang yang hobi gelut, saya suka sedikit-sedikit ikut bikin rame dengan esai saya. Kadang jadi rame, kadang nggak. Namanya juga media sosial. Suka-suka netizen, toh?

Namanya menulis esai yang kandungannya berat, tapi harus agak lucu dan ‘milenial’ bagi saya masih agak sulit kalau tidak pakai laptop. Wong, pakai laptop saja tetap sulit. Untungnya itu di rumah, jadi saya bisa pinjam laptop Mbahnya anak lanang.

Bagaimana kalau saya lagi di Pulau Kei, misalnya? Mau pinjam laptopnya ubur-ubur?

Gambar terkait

Untuk itulah, sesungguhnya saya butuh solusi. Setidaknya, saya perlu laptop yang compact, enteng tapi kuat, plus juga tahan banting minimal dari senggolan ringan anak lanang. Termasuk juga punya baterai yang kuat dan tahan lama, jaga-jaga mikir tulisannya lama, seperti kisah esai saya di atas yang kemudian selesai dalam waktu…

…5 jam. Heu.

Untunglah kini ada kekuatan paling mutakhir berupa laptop ASUS Zenbook UX391UA. Menilik spesifikasinya, sungguh sangat cocok dengan Bapak Millennial seperti saya. Tsah.

Sesuai namanya yang ZenBook S, laptop ini betul-betul S alias Slim. Beratnya hanya 1 kilogram. Tebalnya? Tidak sampai 1,3 cm. Benar-benar bisa nyelip diantara diapers anak lanang, kan? Toh, 1 kilogram dalam bawaan Bapak Millennial boleh dibilang nggak ada apa-apanya. Continue reading

[FPL] Membongkar Kemenkeu FC, Most Valuable Teams Dunia Per 1 Januari 2019

authentic leather.png

Kalau pecinta FPL Indonesia melihat home pada dashboard FPL mereka, pasti akan bangga karena di deretan 5 besar Most Valuable Teams dunia ada 2 tim dengan nama sama yakni Kemenkeu FC. Per 1 Januari 2019, Kemenkeu FC ada di nomor 1 dan 4. Keduanya dipegang oleh 1 manager yang sama yakni Bima Arif (O BISA SAJA BEB).

Screenshot_1698

Besar kemungkinan bahwa Bima Arif (O BISA SAJA BEB) merupakan pegawai Kementerian Keuangan Republik Indonesia, bisa PNS, bisa juga pramubakti. Lebih mengerucut lagi, kemungkinan itu semakin besar karena Kemenkeu FC tampil di Liga Bea Cukai RI yang membernya mencapai 515 orang! Jadi, dari angka ini, kemungkinan besar ada 500-an pegawai Kementerian Keuangan khususnya Direktorat Jenderal Bea Cukai yang menjadi manajer FPL! Sebuah angka yang sangat besar untuk sebuah liga, dan untuk sebuah Kementerian di Indonesia.

Image result for clap hand gif

Menariknya, tim Kemenkeu FC tampak memang dibangun hanya untuk menjadi tim dengan nilai tertinggi. Hingga pekan ke-21, tercatat tim Kemenkeu FC yang jadi nomor 1 di Most Valuable Teams dunia itu sudah melakukan 166 kali transfer! Alias lebih dari 8 kali transfer per GW, karena tim itu juga sudah pakai kartu bebasnya.

Demikian pula dengan overall rangking yang ada di posisi 5 jutaan serta posisi di Liga Bea Cukai RI yang juru kunci karena kebanyakan minus, tampak jelas bahwa tim ini betul-betul diset untuk bisa menjadi Most Valuable Teams, dan uniknya memakai nama Kemenkeu FC. Dengan demikian nama Kemenkeu secara umum bisa lebih mendunia. Ingat, FPL dimainkan oleh jutaan orang di seluruh dunia.

Satu yang juga unik, manajer tim ini tampak bertujuan bikin mumet lawan. Lihat saja formasinya:

Screenshot_1697

Menaruh 3 pemain yang sama-sama injury alias sudah merah DARI TIM YANG BAKAL SALING BERHADAPAN, bahkan sebagai kapten dan vice captain itu sepintas terlihat bodoh atau lupa password. Eh, kemudian kita melihat di bench-nya bahwa ada Eden Hazard, ada Harry Kane, dan ada Paul Pogba. Jadi, tim ini secara autosub pasti langsung berjaya. Ada kemungkinan, tim ini main di liga offline (pakai hitungan Excel) sebagaimana dimainkan oleh FPL Ngalor Ngidul, yang melihat capaian per pekan, tanpa peduli minusnya. Model seperti ini sangat memungkinkan adanya efek kejut bagi lawan-lawannya.

Tim Kemenkeu FC yang jadi numero uno itu sendiri baru eksis 2 musim, jelas lebih muda daripada para pemain FPL Ngalor Ngidul yang sudah 7 musim bermain FPL, namun siapa tahu bahwa manajer Kemenkeu FC ini sudah main sejak era Gordon Banks.

Image result for gordon banks

Ya, tho~

PNS main game seperti FPL jelas bukan kesalahan. Bagaimanapun PNS punya kehidupan. Lagipula main FPL tidak menghabiskan waktu seperti game online, kok. Hanya butuh klak-klik sedikit, sekali setiap pekan. Sisanya? Deg-degan.

Image result for shock gif