Serba Putih di Bojong Indah

“Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya”

Seluruh Agama pasti menggunakan prinsip ini. Kita semua yang beragama terkadang merasa bahagia ketika sudah memanjatkan doa, atau membaca kitab suci, padahal sekali-kali kita nggak pernah melihat yang dilakukan oleh Nabi-Nabi di masa silam. Yup, pada akhirnya kita semua tidak melihat tapi percaya, maka kita berbahagia.

Di dalam tradisi Katolik, kalimat itu muncul di pekan pertama sesudah Paskah. Dan sebenarnya ucapan Yesus itu ditujukan kepada Thomas yang orangnya nggak percayaan. Nah, dalam rangka memperingati sesuatu yang saya percaya terjadi 2000-an tahun silam itu, maka saya datang misa Minggu Sore ke Paroki Santo Thomas Rasul Bojong Indah Jakarta Barat.

Perihal Santo Thomas ini saya ingat sekali cerita Romo Antonius Yakin Cipta Mulya Pr, produk asli Paroki Bojong Indah yang sekarang berkarya di Paroki Ibu Teresa Cikarang. Katanya dulu dia malu menyebut anak Paroki Thomas soalnya Thomas ya gitu itu, namun kemudian dia memahami dan justru kemudian bangga menyebut diri berasal dari Paroki Santo Thomas Rasul. Jujur saja, pertama kali saya dengan kata ‘Bojong Indah’ yang dari Romo Yakin ini. Makanya penasaran juga.

Kebetulan untuk mencapai Gereja Bojong Indah ini tidak susah-susah benar karena keberadaan Stasiun Bojong Indah. Maka, dengan mudah dan sedikit berjalan kaki akhirnya saya berhasil mencapai TKP selanjutnya dari misi #KelilingKAJ ini. Kalau dari stasiun, cukup jalan lurus saja sampai mentok lalu ke kiri, begitu nemu tempat semacam pos satpam, belok kanan. Nanti akan ketemu Gereja Kristen di sisi kiri yang kalau maju lagi ada Vihara, dan teruskan langkah sedikit lagi maka sampailah di Paroki Bojong Indah. Ada dua Gereja nyaris jejeran, nggak kebayang gimana parkirannya kalau Natal Paskah.

Paroki Bojong Indah sering disingkat Sathora, sehingga web-nya juga sathora.or.id, dan di dekat Gereja adalah CU Satora (tanpa H), entah berkorelasi atau tidak. Paroki ini lebih tua beberapa tahun dibandingkan Kedoya tapi masih sama-sama periode Mgr Leo Soekoto SJ. SK-nya ada sejak 27 Agustus 1981 dan merupakan pemekaran dari Paroki Trinitas Cengkareng. Tampaknya peran Trinitas Cengkareng bikin saya harus mampir kapan-kapan.

Bangunan yang semacam ini sudah dirintis sejak 1985 dan berada di dalam perumahan karena memang belinya dari PT. Metropolitan Development selua 5.680 meter persegi. Seratus juta jaman presiden masih Soeharto. Tentu nggak langsung Gereja bagus, karena dimulai dari bedeng dulu. Dibangun secara fisik sejak 1990 dan digunakan pertama kali pada tahun 1992. Paroki Sathora ini juga merupakan cikal bakal dari Paroki Santo Matias Rasul Kosambi. Ehm, disingkat kok malah jadi Samara ya? Heu. Berada di Bojong Indah dan berbatasan dengan Kedoya, maka Sathora mencakup teritori Bojong Indah, Carina Sayang, Persada Sayang, Klingkit, Taman Kota, Taman Permata Buana, Puri Indah, Puri Kencana, Permata Puri Media, Kembangan, hingga Rawa Buaya. Jakarta barat, ya, sepertinya termasuk yang terancam banjir juga sih ya.

Ketika masuk saya justru melihat pegawai. Jadi mirip Matraman dan Mangga Besar ada satpam. Dan ada petugas kebersihannya juga. Macam kantor. Saya mencoba mencari Patung Bunda Maria tapi yang saya temukan justru ruang doa yang isinya bukan Patung Bunda Maria biasa, tapi Pieta. Beda dengan beberapa Gereja lain yang menempatkan Pieta di pojokan, disini malah dikasih ruangan doa berikut bangku yang tepat. Plus dikelilingi air gemericik. Semoga selalu diperbaharui dan tidak bikin jadi sarang nyamuk. Cuma satu kurangnya, karena sepertinya terletak di dekat sakristi, jadi kalau ada putri sakristi berisik, yang doa juga terganggu. Kebetulan pas saya ke Bojong Indah lagi ada obrolan seru dari suara-suara calon sopran dan calon alto. Ah, mereka-mereka ini yang masih muda sudah melayani, jadi berisik sedikit masih diampuni.

BOJIN1

Gereja Bojong Indah ini terbilang besar karena luasnya lebih dari seribu meter persegi, lha wong tanahnya juga lima ribu lebih. Bentuknya saya duga semacam oktagon. Bukan oktagon UFC tentu saja, tapi segi delapan karena sisi kanan kirinya ada 3 sisi masing-masing. Adem, sudah pasti, karena output AC berada di sela-sela jalan salib. Terus kalau lihat altarnya jelas megah, dan saya tetiba ingat Mangga Besar dengan model semacam itu. Melihat oktagonnya dari luar, maka akan tampak air gemericik (lagi) plus ikan (lagi). Sirkulasi yang tentu butuh banyak air dan mekanisme yang prima.

Mimbar bacaan ada dua, di kanan milik komentator dan lektor yang membaca doa umat. Sakristi ada di sisi kanan jadi nongolnya dari sebelah sana. Kemudian tatakan bening dekat kursi Pastor serta mimbar bacaan serta homili ada di sisi kiri. Ketika lektornya mau maju, tunduk dulu sama Pastor. Jadi nggak seperti kebanyakan Gereja, Pastornya kudu mengiyakan trio lektor-mazmur untuk maju baru dia duduk.

BOJIN2-Rotate

Koor sendiri berada di sisi kiri altar tanpa mimbar atau apapun yang khusus. Cuma dirigennya yang tampak mecungul ketika semua umat duduk. Sisi kanan depan sakristi? Umat biasa.

Satu hal yang menarik bagi saya adalah Gereja ini dipartisi oleh semacam kaca film. Jadi dinding untuk 6 nyaris 7 sisi adalah kaca film, sisanya ya tembok. Kemudian yang paling saya acungi jempol adalah Gereja ini ramah difabel dalam artian untuk kondisi Gereja yang berundak, ada jalur untuk kursi roda. Ada juga kursi roda terlihat di belakang Gereja. Plus tempat di bagian sisi kanan maupun kiri juga tepat untuk kursi roda berada. Sungguh trenyuh ketika saya melihat seorang suami di kursi roda, sudah nggak bisa apa-apa, sementara istrinya mendaraskan doa sambil berlutut di sampingnya. Cinta abadi.

Altar nan megah tadi menonjolkan nuansa putih, dari mimbar, meja, hingga altar, bahkan bantal misdinarnya saja putih. Kebetulan juga sedang peringatan yang mengenakan warna putih. Lektornya juga kulitnya putih-putih. Heuheu. Plus sebuah benda putih yang tampak menarik karena letaknnya persis di tengah-tengah. Colokan. Entah buat apa colokan ada persis di tengah altar, tampak umat. Mungkin biar kalau misa kawinan nggak harus ngulur kabel dari samping. Itu juga masih mungkin.

Kolekte layaknya KAJ lainnya, dua. Tidak disebutkan untuk apa, tapi kemungkinan ya sama, untuk pemeliharaan Gereja. Komuni? Ya hampir sama, namun di Bojong Indah sudah ada semacam penanda yang pakem di lantai berupa angka. Jadi mungkin Prodiakon sudah janjian nomor. Misdinar yang mengawal pun membawa lilin, mirip Cikarang, namun bedanya di Bojong Indah misdinarnya nggak perlu khawatir dalam menyimpan api karena api dibawa dalam wadah bertutupkan pelindung mirip teplok. Kalau di Cikarang kebagian pegang lilin, saya mah lebih sibuk mengamankan apinya. Peduli amat itu umat mau ngapain, kalau ada teman saja agak senyum-senyum sikit.

Oya, pas saya misa kebetulan dipimpin oleh Pastor FX Suherman, salah satu Pastor yang dikenal memiliki karunia doa penyembuhan dan pernah bertugas di Cikarang tahun 2004. Wah, itu saya tahu kalau ada tempat bernama Cikarang saja belum tahun segitu. Tahun itu pastinya juga masih berkutat dengan dilempari dan segala macamnya.

So, secara umum Gereja ini punya sisi menarik dari perlakuan terhadap Pieta. Gedung Karya Pastoral nan gede serta keren juga menjadi daya tarik yang baik. Kapasitas juga luas, parkir juga lumayan ada dibandingkan beberapa Gereja lain yang tidak ada parkirannya. Misa harian dipersembahkan pada jam yang berbeda, Senin dan Jumat pukul 19.00, Selasa-Kamis pukul 05.45. Misa Sabtu dua kali, 16.00 dan 18.30, sedangkan Minggu ada 4 kali yakni 06.00, 08.30, 16.00, dan 18.00. Untuk kuliner pasca misa, mau apa juga ada di sekitar Gereja ini. Bukan kaki lima, tapi memang warung yang ada dekat-dekat situ. Dan sekaligus ini menjadi Gereja Dekenat Barat 2 kedua yang saya datangi. Semoga selalu diberi kelancaran untuk #KelilingKAJ berikut-berikutnya. Amin.

7 thoughts on “Serba Putih di Bojong Indah

  1. Pingback: Raun Ke Rawamangun | ariesadhar.com

  2. Pingback: Akhirnya Sampai Juga ke Santo Laurensius Alam Sutera! | ariesadhar.com

  3. Pingback: Menemukan Santo Bonaventura di Labirin Pulomas | ariesadhar.com

  4. Pingback: Misa Bahasa Inggris di Danau Sunter | ariesadhar.com

  5. Pingback: Bergerak Sampai Grogol | ariesadhar.com

  6. Pingback: Sederhana di Santa Clara | ariesadhar.com

  7. Pingback: Mencari Jejak Kisah di Duren Sawit | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s