#IniUntukKita – SBN Ritel: Cara Mudah Agar Negara Ngutang Tapi Rakyatnya Senang

#IniUntukKita – Sejak lama, kita disajikan ketakutan akan utang negara yang kadang-kadang dibawa jauh pada urusan kedaulatan, menjual negara, beban anak cucu, dan hal-hal ngeri lainnya. Saya tadinya keder juga mendengar narasi-narasi yang dibangun. Apalagi kalau sudah muncul pernyataan bahwa setiap kepala di negara ini menanggung utang negara sekian juta rupiah.

Karena keder itu tadi, saya jadi mencoba membaca-baca banyak hal. Kebetulan pula salah satu mata kuliah di kuliah S2 saya adalah Ekonomi Sektor Publik. Jadi, membaca utang negara adalah salah satu menu wajib supaya dapat nilai gilang gemilang.

Apa daya, dapatnya hanya A minus. Sedih~

Persoalan utang negara itu banyak anggapan bahwa negara berhutang layaknya perorangan ngutang ke bank atau ke leasing. Dalam artian, kalau nggak sanggup bayar, terus jaminannya entah tanah atau apapun bakal disita sebagai gantinya. Dari sisi sejarah nggak sepenuhnya salah, sih, tapi dengan perkembangan yang ada jadi nggak benar-benar amat juga.

Anggapan kedua, yang suka bawa-bawa ke urusan kedaulatan dan lain-lain adalah membandingkan cara berhutang dengan zaman dulu, mulai dari zaman awal kemerdekaan pada masa IGGI dan CGI, ketika Indonesia berhutang pada sekelompok negara. Atau mungkin melakukan perbandingan dengan salah satu momen legendaris bangsa ini ketika Indonesia berhutang ke IMF pada periode krisis di akhir 1990-an.

Soal utang ini sejarahnya memang panjang sekali. Utang bahkan jadi hal yang dibahas cukup serius dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) yang dikenal sebagai momen penting kedaulatan Indonesia. Ada hal yang agak bikin pening ketika dalam pengakuan kedaulatan oleh Belanda, ada tanggung jawab Indonesia untuk menanggung utang pemerintahan Hindia Belanda. Delegasi Indonesia sendiri bersikap bahwa tanggungan utang adalah sampai Maret 1942. Pada bulan itu, Jepang datang dan menggeser Belanda.

Soalnya, kalau Indonesia harus menanggung utang dari 1942 sampai saat KMB terjadi tahun 1949 ya agak-agak ironi karena jatuhnya adalah Indonesia menanggung utang terhadap uang yang dipakai untuk menyerang Indonesia sendiri dalam berbagai pertempuran sejak 1945-1949–tentu termasuk Agresi Militer I dan II. Kan nganu ya….

Pada akhirnya utang yang harus ditanggung adalah 1,12 miliar dolar AS. Ini kalau dibawa mentah-mentah ke kurs sekarang ya tampak nggak banyak, tapi pada periode itu tentu sangat banyak. Apalagi untuk negara baru merdeka.

Pada akhirnya, sampai dengan 1956 Indonesia sudah melunasi utang tersebut sampai 82 persen. Pada saat yang sama, Indonesia juga berutang ke negara-negara Blok Timur. Begitu 1965, kondisi utang Indonesia adalah 2,36 miliar dolar AS dengan 59,5 persen adalah pinjaman ke negara-negara Blok Timur.

Satu hal yang pasti tentang utang negara dan terutama utang luar negeri ini tentu saja posisinya sudah terjadi jadi harus diterima apapun keadaannya. Hanya saja harus dilihat bahwa seiring perubahan tatanan keuangan global ada perubahan cara berutang. Utang yang semacam itu memang masih ada ya betul. Akan tetapi proporsinya sudah sangat jomplang dengan sumber utang alias pembiayaan lainnya.

Jadi, menyoal utang negara ingatlah pesan paling penting dari film Tilik (2018) berikut ini:

Secara umum, menurut LKPP untuk pembiayaan luar negeri di TA 2019 itu minus Rp17,49 triliun alias membayar pinjamannya lebih besar daripada minjem lagi. Pada tahun 2019, realisasi pinjaman tunai itu hanya ada 2 yaitu:

Sumber: Laporan Keuangan Pemerintah Pusat TA 2019 (Audited)

Sumber pembiayaan paling besar itu sekarang justru di penjualan Surat Berharga Negara, bukan utang model IGGI atau CGI lagi. Besarnya nggak tanggung-tanggung, menurut Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2019 yang sudah diaudit Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI), proporsinya adalah sebagai berikut:

Sumber: Laporan Keuangan Pemerintah Pusat TA 2019 (Audited)

Pada titik ini ada pola pikir yang perlu disesuaikan. Kini negara itu lebih banyak berhutang pada pembeli SBN, yang bisa saja institusi tapi—nah ini yang menarik—bisa juga perorangan.

Iya. Perorangan. Kamu-kamu-kamu itu bisa lho ngutangin negara. Dan ngutangin yang satu ini beda dengan ngutangin teman atau tetangga yang potensi uang kembalinya 50:50 dan mengandung konsekuensi bakal galakan yang ngutang daripada yang ngutangin. Memberi hutang pada negara ini dijamin kembali plus dapat untung juga.

Jadi kalau tadi di awal narasi ketakutan bahwa ketika negara berhutang ke negara lain maka negara ini dijual sebenarnya bisa diubah ketika negara justru berutang kepada rakyatnya sendiri. Model ini sudah mulai jamak beberapa tahun terakhir dan dikenal sebagai SBN Ritel.

Gambaran umumnya, negara akan membuka periode waktu penjualan dan menetapkan bunga tertentu. Nanti masyarakat bisa membeli SBN tersebut yang berarti uang kita akan berpindah sementara ke negara atau sederhananya negara ngutang sama kita begitu kita melakukan transfer ke rekening negara. Nah, namanya minjemin, kita pasti butuh benefit kan? Nanti setiap bulan, kita akan mendapat sejumlah uang sebagai imbal balik sudah minjemin uang.

Satu hal yang harus dipahami adalah kalau minjemin uang ke negara itu temponya sudah ditetapkan. Kalau yang ritel umumnya 2 tahun. Dalam periode itu, kita nggak bisa menarik uang yang sudah kita setor tersebut. Uang itu baru akan kembali sesudah 2 tahun dalam jumlah yang utuh setelah sebelumnya selama 24 bulan kita menerima sejumlah uang sebagai imbalan sudah mau minjemin.

Sekarang jumlah minimal pembelian SBN ritel adalah Rp1 juta dan maksimal Rp 3 miliar. Rentang ini sudah cukup menarik minat masyarakat, tapi sesungguhnya ada potensi untuk jauh lebih besar lagi. Memang, sih, kalau naruh 1 juta, tiap bulan hanya dapat kurang lebih 5000 rupiah. Akan tetapi bayangkan kalau naruh 100 juta di SBN? Dengan diem-diem bae bisa dapat 500 ribu setiap bulan.

Para milenial tua yang sudah menyiapkan biaya kuliah anak dan dipakainya masih lebih dari 5 tahun lagi bisa menaruh uang yang sudah mulai tersimpan itu ke SBN dengan imbal balik yang menarik. Demikian pula dengan pemuda yang sudah punya 20 juta dan bersiap untuk nabung DP rumah sampai 150 juta. Bisa juga pakai SBN Ritel ini.

Pada titik ini, negara memang ngutang, tapi ngutangnya ke rakyatnya sendiri. Dan rakyatnya juga senang karena dapat benefit karena sudah mau meminjamkan uang. Narasi-narasi soal kedaulatan justru bisa berbalik.

Ketika negara ngutang ke rakyatnya, maka uangnya ya beredar di dalam negeri kan? Dipakai untuk membiayai program pemerintah, maka uangnya akan bergulir kepada rakyat lagi. Sementara itu, rakyat yang meminjamkan juga dapat imbalan berupa kupon tadi, ya uangnya jadi di sini-sini juga. Nggak perlu ke luar negeri dan nggak perlu lagi keder dengan narasi-narasi menakutkan soal utang negara. Kalaupun ada, kan tinggal bilang:

Treats by Traveloka Eats Dulu, Ngopi Murah Kemudian

Buat anak beasiswa seperti saya, tanggal belasan Februari adalah tanggal yang sangat tua. Bukan apa-apa, soalnya kiriman dari penyedia beasiswa baru akan ada lagi Maret karena pengirimannya per termin. Sementara, termin yang lalu tentu saja sudah habis duluan karena bulan Desember banyak kepentingan.

Padahal lagi, sebagai mahasiswa kan saya juga banyak pikiran. Apalagi mahasiswa yang bapak-bapak, eh, bapak-bapak yang mahasiswa, sebagaimana Rancangan Undang-Undang Ketahanan Keluarga yang lagi hits itu saya harus bertanggung jawab pada rumah tangga.

Saya jadi ingat Arsenal yang tampil begitu gamang di Liga Inggris, sekalinya dibawa piknik ke gurun balik-balik langsung menang 4-0 dari Newcastle. Bahwasanya piknik itu penting, tetapi karena saya lagi nggak punya uang dan kuliah juga nggak bisa ditinggal, maka opsinya hanyalah ngopi.

Pada intinya, saya butuh ngopi. Apalagi pada deraan tugas yang begitu deras seperti saat ini.

Karena sudah tidak tertahankan, maka dalam perjalanan ke kampus saya stop dulu di daerah Kebon Sirih. Jadi, demi pengiritan dan karena suasana jalur Bogor belum kondusif, dari Stasiun Tanah Abang ke kampus saya naik Metro Trans alih-alih ojek online.

Namanya juga lagi miskin.

Kalau pas dapat yang Gondangdia, saya suka berhenti di Halte DPRD DKI Jakarta. Sambil menunggu bis yang Tanah Abang ke Kampung Melayu via Cikini, saya anteng dulu di halte DPRD tersebut. Karena hasrat ngopi tidak tertahankan, jadilah saya membuka aplikasi Traveloka yang ada di gawai jadul saya.

Di aplikasi Traveloka, saya meluncur ke Traveloka Eats. Sebagaimana pada kesempatan terdahulu saya pakai Traveloka Xperience demi penghematan mainnya Isto–anak saya, maka saya yakin bahwa melalui Traveloka Eats saya akan mendapat promo yang ciamik untuk sekadar ngopi. Ngopi dulu, daripada gila. Gitu katanya.

Treats by Traveloka Eats

Nah, begitu masuk Traveloka Eats saya langsung meluncur ke fitur Treats by Traveloka Eats. Kebetulan, ada lapak ngopi yang cuma di seberang jalan dan ada hidden gems-nya! Yiha!

Treats by Traveloka Eats

Jadilah saya menyeberang jalan menuju Yellow Truck Coffee yang ada di gedung Trio, kurang lebih di seberang Lemhanas. Lokasi tempat ngopinya ada di lobi gedung tersebut dan begitu masuk saya bisa langsung mendapati informasi bahwa di tempat ini ada Treats by Traveloka Eats.

Treats by Traveloka Eats

Tentu saja pertama-tama saya harus konfirmasi perihal promo yang tersedia. Sesudah itu, saya pencet Get Deals dan kemudian Use Deals. Pada posisi ini kemudian muncul jumlah yang harus kita bayar.

Treats by Traveloka Eats

Sesudah melakukan konfirmasi harga dengan kasir, kita tinggal input nominal yang dimaksud dan akan langsung menuju skema pembayaran Traveloka. Pembayaran bisa dilakukan melalui berbagai channel yang biasa juga kita pakai di Traveloka untuk beli tiket ataupun pesan hotel. Kalau biasa pakai Traveloka ya langsung secepat kilat bisa terbayar.

Treats by Traveloka Eats

Nanti di gawainya toko, akan ada notifikasi bahwa pembayaran sudah masuk, sehingga kita bisa mendapat struk. Tidak lama kemudian, saya segera mendapatkan kopi yang dibutuhkan oleh otak demi kelangsungan studi yang lama-lama ternyata berat juga.

Treats by Traveloka Eats

Ngomong-ngomong, kalau nanti kiriman dari penyedia beasiswa tiba, saya tentu ingin menggunakan Treats by Traveloka Eats lain yang persentasenya lebih gede, tentunya sambil bawa anak dan istri. Sebab, dalam perspektif saya, #PengalamanMengenyangkan akan lebih cuan kalau digunakan ketika makan beramai-ramai karena promo yang diberikan jadi lebih yahud dan terasa di kantong.

Oya, kalau bingung lagi ada offers apa yang tersedia di sekitar, maka bisa eksplorasi di Traveloka Eats karena banyak informasi yang tersedia di sana untuk jadi bahan memilih-milih Treats paling ciamik sebagai hidden gems yang disediakan oleh Traveloka Eats.

Demikian saja pengalaman ciamik saya bersama Treats by Traveloka Eats, sehingga saya pada akhirnya bisa ngopi dengan sedikit tenang karena bagaimanapun ngopi dengan harga promo itu lebih menenangkan dibandingkan ngopi pakai harga biasa. Ya, namanya juga sobat misqueen~

Bahagia Bersama AirAsia: Pertama Kali Naik Pesawat Ke Luar Negeri

bahagia-bersama-air-asia

Saya ini memang agak ndeso. Bagaimana tidak, ketika istri saya sudah naik pesawat ke luar negeri pada masa remajanya di ITB karena mengikuti kompetisi paduan suara di Eropa, saya ya begini-begini saja. Punya paspor saja baru umur 28 tahun! Kalau ketahuan Rhenald Kasali, saya mungkin bisa dianggap korban disrupsi.

Ya, namanya manusia, rejekinya memang masing-masing. Untuk menaikkan kelas, maka pada usia yang baru 2,5 tahun kurang, anak lanang semata wayang sudah kami bikinkan paspor. Keren, kan? Emaknya punya paspor jelang umur 20, bapaknya jelang umur 30, anaknya baru lepas 2 tahun. Heuheu.

Eh, tapi jelek-jelek begini, saya bukannya nggak pernah memanfaatkan paspor itu. Cuma, agak lucu saja ketika saya sebenarnya sudah pernah pergi ke 2 negara namun tidak melalui jalur udara. Sesuatu yang sebenarnya juga jarang-jarang terjadi, kan?

Pertama dan kedua kali saya ke luar negeri itu adalah ke Singapura, via Batam. Jadi ya jalurnya laut. Balik hari pula. Pergi pagi buta, pulang menjelang petang. Negara kedua malah lebih absurd lagi karena terjadi ketika saya sedang tugas di Atambua. Jadi, saya ke Timor Lester-nya dengan…

…jalan kaki. Malah kelakuan teman-teman bikin saya sempat membuat rekor: menutup pagar batas negara yang memang sudah seharusnya tutup pada pukul 17.00 WITA.

Untitled design (10)

Kesempatan untuk ke luar negeri pakai pesawat akhirnya datang beberapa waktu yang lalu. Kebetulan, teman dekat istri ketika kuliah di Inggris melangsungkan pernikahan. Lokasinya? Di HONG KONG. Jadi, kami kondangan ke Hong Kong, gaes. Kurang pura-pura kaya apa lagi itu? Saya selama ini cuma kondangan Jakarta-Jogja, Jakarta-Palembang, atau Jakarta-Surabaya sebenarnya juga takjub kok pada akhirnya malah kondangan ke Hong Kong.

Akan tetapi, bagaimana mungkin seorang PNS jelata bisa kondangan ke luar negeri dengan gaji yang segitu-gitu aja? Untunglah, saya kemudian ingat pada AirAsia!

Wilayah Operasional

Sumber: Annual Report 2018

Ketika lagi kesusahan tapi harus pergi, saya selalu kembali mengingat masa-masa silam ketika untuk bisa mudik itu susah sekali ongkosnya. Kalau sekarang, ongkos masih bisa dijangkau tapi cutinya yang terbatas. Jadi, seumur-umur saya naik pesawat, penerbangan ke-6, 7, dan 12 itu menggunakan AirAsia.

Ketiga perjalanan itu masing-masing terjadi pada tahun 2006, 2007, dan 2008. Saya ingat sekali bahwa pada tahun 2006 dan 2007 itu, AirAsia adalah opsi terbaik dari sisi finansial dan kenyamanan. Maka, ketika harus balik ke Jogja dari praktek lapangan di Depok, pilihannya juga AirAsia.

Ini fotonya. Ya, kira-kira 20-30 kilogram yang lalu.

Screenshot_2002

Sumber: Kenangan Kala Kurang Gizi

Melalui situsweb AirAsia atau juga dengan mengunduh serta install aplikasi AirAsia pada gawai, banyak pilihan tiket penerbangan bisa diperoleh. Apalagi tujuannya ke Hong Kong. Pasti ada.

Kebetulan, istri sudah beberapa kali dinas baik ke Kuala Lumpur maupun ke Filipina, seringnya ya pakai AirAsia juga. Kalau istri saya sudah merekomendasikan, apalah saya yang patokan kenyamanannya adalah bis malam ini.

Bahkan kalau gabung dengan AirAsia BIG Loyality dan jadi member AirAsia BIG bisa dapat informasi promo lebih awal lagi. Poin juga diperoleh ketika kita beli tiket AirAsia, menginap di Tune Hotel, atau juga ketika booking hotel di AirAsia GO. Kumpulan poinnya bisa ditukar dengan tiket AirAsia lagi, voucher hotel di AirAsia GO, hingga aneka merchandise AirAsia lainnya.

Salah satu yang istimewa dari situsweb AirAsia adalah informasi tanggal dan harga dalam satu interface. Selain itu, informasi yang tidak kalah penting adalah ini:

Screenshot_2023

Tiket sudah dibeli dan kami kemudian bersiap. Persiapan paling penting tentu meninggalkan Isto. Ya, bukannya mau bulan madu, tapi menurut kami membawa bocah belum 2 tahun ke luar negeri itu bukanlah ide yang menarik. Baru jalan ke Jam Gadang saja sempat muntah, beberapa bulan sebelumnya. Walhasil, dengan segala hormat dan maaf, si bayi kami titip ke Eyangnya.

Penerbangan yang kami ambil adalah malam hari. Jadi, pagi sampai sorenya masih kerja dulu. Dengan kelelahan pasca bergelantungan di KRL dan lantas di kantor kena semprot bos orang lain, sampai di rumah hitungannya sudah lemash. Tapi kan sekali tiket dibeli, pantang pulang. Apalagi, ini adalah kesempatan perdana saya pergi ke luar negeri naik pesawat terbang setelah sebelumnya hanya naik kapal dan…

…jalan kaki. Duh.

Kami agak santai karena sudah check in melalui aplikasi AirAsia. Pengalaman sehari-hari memang bikin saya cenderung lebih suka check in di aplikasi karena kita tidak tahu seperti apa wujud manusia yang bergabung bersama kita di antrean nanti. Toh, nggak bawa bagasi dan nggak harus print boarding pass yang bagus untuk dipertanggungjawabkan ke kantor juga.

Satu hal yang keren bagi saya dari AirAsia adalah efektivitas proses boardingnya. Jadi, antrian untuk boarding sudah dipersiapkan dan bahkan penumpang sudah bisa mengantri ketika pesawatnya bahkan masih di sekitar Kepulauan Seribu! Padahal, prosedurnya kan sesudah penumpang turun dan sebelum penumpang berikutnya boarding, harus ada pembersihan.

Saya sendiri karena sering kerja lewat bandara, jadi agak paham dengan urusan ini. Makanya, ketika saya pantau via Flight Radar bahwa pesawatnya masih di langit, saya santai saja beli minum. Eh, begitu balik antriannya sudah panjang.

Ketika pesawat kemudian merapat ke Terminal 3, tidak butuh waktu lama untuk penumpang berikutnya bisa masuk. Saya penasaran, dong, pada kebersihan pesawatnya. Begitu saya cek, ternyata bersih sebagaimana mestinya. Tampaknya penerbangan ini akan benar-benar membahagiakan.

Tengah malam, pesawat mendarat dengan mulus di Kuala Lumpur, kota transit AirAsia selain Don Mueang. Saya sih memang mencari KL karena kota ini kan rumahnya AirAsia. Jadi, sekalian mau lihat-lihat.

Begitu masuk ke gedung terminal, saya langsung terharu. Akhirnya saya bisa naik pesawat ke luar negeri. Sebuah achievement yang sebenarnya mudah dicapai banyak orang, bahkan cenderung biasa saja, tapi ya untuk saya yang pertama ini tentu istimewa.

bahagia-bersama-airasia

Suasana di KL

Bandara transit di KL terbilang memiliki penataan ruang yang efektif. Crowded-nya paling ketika di depan toilet saja. Ya, namanya juga penumpang transit pasti yang dicari adalah toilet.

Guna menghadapi perjalanan yang lebih jauh–dari KL ke HK–maka saya dan istri sudah menyiapkan diri dengan order makan di dalam pesawat. Lumayan, harganya ya tyda mahal-mahal amat.

Kenapa harus pre-book? Karena harga di langit punya kemungkinan berbeda tergantung kode penerbangan. Sebagai gambaran saya ambil dari situsweb AirAsia sendiri bahwa untuk kode QZ harga menu yang disebut sebagai Santan ini hanya Rp36.900. Masih lebih mahal konsumsi rapat bagi PNS tingkat pusat yang Rp47.000,- pada tahun 2019. Atau ya setara order makanan pakai ojek online plus ongkos kirimnya. Kalau ngirim ke langit kan nggak mungkin semurah itu, dong?

landing-page-combo-meal-spiral-idid

Perjalanan ke Hong Kong kami tempuh juga dengan bahagia. Begitu langit sudah terang, kami mendapati bahwa dalam beberapa saat lagi akan segera sampai di Hong Kong. Gaes, bayangkan perasaan saya yang jarang dolan ini begitu menjejakkan kaki pada negara di luar Asia Tenggara. Terharu juga. Ya, ndeso memang. Tapi akibat perjalanan ini, saya sudah meniatkan diri untuk lebih sering cari uang demi bisa dolan ke luar negeri dan untuk itulah Isto kami buatkan paspor. Supaya nggak kena disrupsi, gitu.

Yes, kami akhirnya sampai di Hong Kong. Bersiap menghadapi ketidaktahuan atas lokasi penginapan dan aneka perkara lain. Tapi yang penting kan dihadapi berdua. Tsah.

IMG_20181108_114428

Baru sampai dan pastinya belum mandi

IMG_20181108_121154

AirAsia di Indonesia sendiri semakin menarik karena per 2019 juga menyediakan penerbangan ke Sorong, Lombok, dan Labuan Bajo. Dan, serius, tarif Jakarta ke tiga destinasi tersebut sungguh sangat kompetitif–menurut saya. Jadi, Labuan Bajo yang tadinya terasa jauh bisa mulai ada perubahan untuk sedikit lebih dekat. Minimal, dekat di kantong.

Oh, iya, sesudah penerbangan ke Hong Kong itu tadi, dua pekan kemudian tanpa dipaksa saya naik AirAsia lagi. Kali ini, ketika pulang dinas di Denpasar, hendak menuju Solo terlebih dahulu. Pegawai kayak saya memang suka begitu nasibnya. Sudah punya agenda cuti bagus-bagus, eh, di tengah-tengah dikasih kegiatan wajib ikut. Jadi, ya sudah dari kegiatan di Denpasar saya akhirnya bablas ke Solo untuk jadi bapak baptis dari keponakan saya, Gabriel.

Sampai saat ini, saya sudah terbang 6 kali dengan AirAsia dan itu berkaitan dengan 6 bandara yang berbeda-beda yakni di Jakarta, Padang, KL, Hong Kong, Denpasar, dan Solo.

AirAsia pada tahun 2018 secara total mengoperasikan 24 armada pesawat dan telah mengangkut 5,2 juta penumpang alias naik 13 persen dari tahun sebelumnya. Tingkat keterisian juga meningkat pada setiap periodenya. Soalnya, saya sebagai penumpang juga ngeri lho kalau pesawat kosong. Takut nggak ada lagi rutenya. Heuheu.

Screenshot_2024

Pada 17 Juli, AirAsia meraih Juara Dunia kesepuluh kalinya di Skytrax dan sebulan kemudian AirAsia Indonesia menuntaskan audit keselamatan operasional IATA. Dua poin ini juga menunjang kepercayaan saya sebagai calon pelanggan pada kinerja AirAsia. Penumpang kalau nggak percaya sama maskapai ya bisa berabe, kan?

Demikianlah kiranya saya terbantu untuk Bahagia Bersama AirAsia. Setidaknya, diawali dengan bantuan AirAsia, saya bisa berfoto di tempat yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya ini…

Screenshot_175

Sekian dan selamat berbahagia~~

Berinvestasi Reksa Dana Ketika Muda Itu Penting dan Ajaib

investasi-ajaib

Di usia yang mau 40 tahun ini, saya kadang menyesali keadaan. Bukan tentang keadaan harta saya, tapi keadaan kemudahan berinvestasi pada zaman now. Kalau kemudahan ini sudah ada sejak dahulu kala, mungkin saya bisa sedikit lebih kaya.

Saya sebenarnya sudah tidak muda. Saya lebih tua daripada Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, tapi kebetulan saya masih lebih muda puluhan tahun daripada Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia. Hehe. Jadi, tulisan ini lebih ke arah perspektif investasi ketika masih muda dulu dibandingkan keadaan sekarang yang sudah agak tua.

Pada 2 tahun pertama bekerja, saya betul-betul tidak punya simpanan. Mengerikan, memang, tapi itulah realitanya. Saya juga kagum sendiri kok saya bisa sebodoh itu menghabiskan uang hanya untuk mengunjungi pacar yang kemudian hanya jadi mantan. Eh.

broken heart love sad

Photo by burak kostak on Pexels.com

Sesudah putus pada tahun ketiga bekerja, saya baru mulai bisa menata pendapatan sedikit. Bersamaan dengan cicilan rumah, saya mulai merambah investasi Reksa Dana pada usia yang sudah agak terlambat. Waktu itu, untuk bisa melanggan Reksa Dana masih sulit karena harus beli produknya ke bank langsung. Nggak bisa online! Investasi berikutnya yang bisa online. Bagi pegawai pabrik sesungguhnya kebijakan semacam ini merepotkan. Walhasil, saya beli saja empat produk dari empat jenis RD sekadar punya saja biar tiap bulan saya bisa suka-suka mau top up yang mana.

Hasilnya? Walaupun saya nggak kaya-kaya amat, tapi uang di RD itu menjadi penambal kehidupan ketika dengan sadar saya memilih pekerjaan baru dengan gaji separo dari pendapatan di pabrik. Termasuk juga bisa menambah biaya nikah.

Bagi yang belum paham, Reksa Dana itu kurang lebih seperti menaruh uang kita untuk dikelola oleh Manajer Investasi. Para Manajer Investasi tersebut akan bekerja menempatkan uang kita pada instrumen-instrumen yang relevan. Ya, kalau Reksa Dana Pasar Uang, maka akan ditempatkan di pasar uang. Jika RD yang kita beli adalah Saham, maka Manajer Investasi akan menempatkannya di saham.

Screenshot_2019

Keunggulan RD adalah uang kita tidak ditaruh di satu jenis produk, terutama untuk saham. Jadi beda sekali dengan main saham yang harus dipandangi setiap waktu dan cukup makan energi. Ketika ditaruh di beberapa jenis saham maka potensi untuk plus cenderung lebih besar daripada minusnya.

Sekarang, berinvestasi sudah tidak sesulit harus izin ke bank. Telah muncul berbagai platform yang membantu anak muda terutama kaum rebahan untuk bisa berinvestasi bahkan sambil rebahan itu tadi. Salah satunya adalah Ajaib. Melalui platform yang disediakan Ajaib, seorang investor muda bisa berinvestasi dengan sangat mudah dan tentu saja murah.

Salah satu ketakutan anak muda untuk terjun di kancah perinvestasian reksadana–apalagi saham–adalah takut rugi. Ngomong rugi, tentu saya jadi ingat portofolio saham saya yang lagi hancur-hancuran merahnya itu. HAHA. Nah, sebagai pemula yang umumnya selera risikonya rendah dan emoh rugi, Ajaib menyediakan fitur bernama Paket Investasi. Hal semacam ini belum ada pas saya mula-mula berinvestasi dulu.

Screenshot_2017

Screenshot_2020

Begitulah, dengan segala kebutuhan akan cuan, nyatanya sampai sekarang berdasarkan data Ajaib, hanya 0,4 persen penduduk Indonesia yang sudah berinvestasi. Terbukanya saluran-saluran investasi yang lebih mudah tentu menjadi solusi, termasuk dengan adanya Ajaib di dalamnya.

Oya, satu hal yang pasti, bagaimanapun kita investasi demi cuan, bukan bablas. Untuk itu, kita harus juga mengecek terlebih dahulu apakah suatu platform telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau belum. Sebagai pengawas intern, saya mah paham bahwa suatu platform sudah diawasi itu kinerjanya nggak akan neko-neko.

Screenshot_2018

Ada banyak metode membuat uang beranak, salah satunya adalah dengan investasi di Reksa Dana. Investasi lain ya juga banyak, sampai ada juga orang yang menyebut Bitcoin sebagai investasi meskipun ya risikonya terbilang jauh lebih tinggi daripada main saham sekalipun. Satu hal yang penting, uang kalau ditabung doang itu sayang. Mending ditempatkan di produk-produk Reksa Dana, niscaya hal sepenting ini jika dilakukan dengan niat maka kelak ketika kita butuh duit, akan terasa begitu ajaib karena uang kita seolah-olah tiba-tiba banyak.

Pengen kan? Makanya, yuk berinvestasi selagi muda!

Semakin Mudah Berlibur ke Danau Toba

oyo-toba-samosir

Destinasi yang dijuluki 10 Bali Baru adalah salah satu jualan pemerintah sejak tahun 2014 dengan tujuan menjaring lebih banyak wisatawan berkunjung ke Indonesia. Soalnya, sewaktu saya bersua beberapa orang di Hong Kong kurang lebih setahun silam, ternyata masih banyak juga persepsi bahwa yang cakep di Indonesia itu hanya Bali.

Wah, mereka belum pernah perjalanan dinas keliling Indonesia, sih.

Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (Jakarta), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Mandalika (NTB), Gunung Bromo (Jawa Timur), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Labuan Bajo (NTT), dan Morotai (Maluku Utara) menjadi sembilan dari sepuluh Bali Baru tersebut.

Satu lagi? Aha, yang justru biasanya disebut paling duluan. Danau Toba!

Setiap anak yang menempuh pendidikan di Indonesia pasti paham Danau Toba. Setidaknya di pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, Danau Toba selalu disebut sebagai danau yang paling luas di Indonesia. Betapa tidak, dengan luas 1.145 kilometer persegi, Danau Toba sama luasnya dengan dua kali lipat Singapura.

Bayangkan bahwa di Indonesia ada dua Singapura yang isinya air semua. Semenakjubkan itulah danau yang terbentuk oleh super volcano bertahun-tahun silam. Sama menakjubkannya dengan fakta bahwa letusan Gunung Toba memuntahkan 2.800 kilometer kubik bahan vulkanik dan sampai menyebabkan perubahan iklim dengan masuknya planet bumi ke periode es. Asli, sangar.

Masalahnya adalah–ya namanya juga produk super volcano–Danau Toba itu berada di tempat yang aksesnya aduhai. Harus mendaki gunung dan lewati lembah sebagaimana Ninja Hatori. Itulah sebabnya, saya yang punya kampung sebenarnya tidak jauh dari Danau Toba, baru bisa menjejakkan kaki pada dinginnya air Danau Toba pada usia 20-an akhir ketika hendak menikah dan menggelar ziarah ke kuburan Opung di Dolok Sanggul.

Dahulu, tempat paling kondang untuk berlibur di Danau Toba adalah Parapat, sebuah kelurahan di Kabupaten Simalungun. Dinginnya Parapat ini sangat syahdu dan posisinya hanya 48 kilometer dari Kota Pematangsiantar dan tidak jauh-jauh betul dari Medan dan tentu saja bandara Polonia maupun Kuala Namu. Maka tidak heran kalau Parapat menjadi salah satu akses paling ramai untuk mengunjungi Danau Toba.

Nah, dalam upaya menunjang 10 Bali Baru, pemerintah bergerak gesit. Danau Toba kan luasnya nggak kira-kira, masak sih aksesnya hanya dari Parapat saja? Walhasil, sebuah bandara sukses dioptimalkan menjadi saluran baru untuk mengunjungi Danau Toba. Bandara Internasional Sisingamangaraja XII atau yang dikenal sebagai Bandara Silangit adalah jawabannya. Berlokasi di Siborong-Borong, bandara ini menjadi akses udara paling dekat ke Danau Toba, tepatnya ke Balige.

Baik Balige maupun Siborong-Borong ini terletak di Kabupaten Toba Samosir. Keberadaan Bandara Silangit nyatanya telah membantu terbukanya akses wisatawan ke Danau Toba sisi Toba Samosir ini namun juga dapat menjadi akses jika ada yang hendak ke Parapat, yang notabene telah lebih dahulu dikenal.

Di Toba Samosir sendiri kita bisa menikmati berbagai wisata alam berbasis bukit, suasana sejuk, dan pemandangan menakjubkan dari Danau Toba. Tidak hanya itu, Hotel Murah di Toba Samosir juga ada aksesnya, secara online pula.

Berikut beberapa destinasi ciamik yang bisa dinikmati di Toba Samosir:

1. Huta Gurgur

Screenshot_2010

Sumber: Instagram @travelmatesiantar

Terletak di Kecamatan Tampahan, lokasi Desa atau Huta Gurgur hanya 10 kilometer dari Bandara Silangit. Dari tempat ini, kita bisa melihat lokasi wisata Meat dan tentu saja pemandangan Danau Toba nan indah, suasana alam yang segar, dan hamparan sawah hijau.

2. Pantai Meat

Hasil gambar untuk pantai meat"

Sumber: pariwisatasumut.net

Sebagaimana disebut tadi bahwa pariwisata di Toba Samosir pasti mayoritas berbasis Danau Toba, termasuk Pantai Meat ini. Salah satu keunggulannya adalah airnya yang sangat jernih bahkan bisa dipakai untuk menyelam. Tapi ingat, secakep apapun Danau Toba ini air tawar sehingga teknik berenangnya harus disesuaikan, yha.

3. Museum TB Silalahi Center

Screenshot_2011

Dokumentasi Pribadi

 

Nama TB Silalahi di Balige itu moncer setengah mati. Salah satunya adalah melalui Museum TB Silalahi Center. Di tempat ini, selain dapat mengetahui sejarah karir seorang TB Silalahi yang malang melintang sebagai pejabat di beberapa era, kita juga bisa belajar sejarah Batak.

Screenshot_2013

Dokumentasi Pribadi. Itu saya biar kayak turis aja, pakai manjat-manjat segala.

Plus, karena letaknya juga tidak jauh-jauh dari Danau Toba, maka tentu saja bonusnya adalah pemandangan Danau Toba. Kebetulan, waktu itu sempat mampir jadi ada fotonya.

4.Sungai Asahan

Hasil gambar untuk sungai asahan arung jeram"

Sumber: pedomanwisata.com

Yang satu ini tidak berbasis Danau Toba secara langsung dan sangat cocok untuk yang hobi arung jeram. Pemerintah setempat menyebut bahwa lokasi arung jeram di Sungai Asahan adalah yang terbaik ketiga di dunia sehingga tempat berjarak 70 kilometer dari Balige ini dapat menjadi destinasi yang menawan bagi traveler.

5. Pantai Ajibata

Hasil gambar untuk pantai ajibata"

Sumber: Tribunnews.com

Sebenarnya yang ini sudah berbau-bau Parapat karena memang lokasinya yang 60 kilometer dari Balige dan berbatasan dengan Kabupaten Simalungun. Jadi ya memang arah Parapat. Di Ajibata ini ada lokasi penyeberangan ke Pulau Samosir. Pantainya juga cukup lengkap dengan sepeda air, speed boat, dll.

Sebagaimana disebutkan tadi, salah satu keistimewaan zaman now adalah kemudahan mencari penginapan. Sudah bukan lagi zamannya harus menyimpan nomor hotel-hotel terdekat untuk booking, sementara kalau musim liburan kan juga harus rebutan pesan hotel. Saya sendiri juga sempat mengalami kesulitan dalam booking hotel ketika berkunjung ke Balige beberapa tahun silam karena memang pilihannya yang bisa pesan seperti di kota-kota besar dengan standar kamar yang memadai juga terbatas.

Kini, OYO Hotels Indonesia juga telah menjangkau Toba Samosir dengan beberapa pilihan hotel yang asyik, bukan sekadar ada di kota-kota besar Indonesia saja. Harga dan standar kamarnya juga tentu saja menggunakan standar yang sudah cukup tinggi khas startup unicorn asal India ini. Jadi, tidak ada kekhawatiran kita akan tinggal di tempat yang nggak kece ketika liburan di Toba Samosir.

Sekarang, tinggal cairkan dana investasinya, cari tiket pesawat, pilih penginapan yang tepat, dan kita bisa segera berlibur di dinginnya Danau Toba sisi Toba Samosir. Cus!

Yoforia, Fresh Yogurt Untuk Kesehatan Kita

yoforia-fresh-yogurt

Salah satu kenikmatan dan ketidaknikmatan hidup zaman sekarang adalah begitu banyak makanan enak. Masalahnya, enak itu belum tentu baik untuk perut. Begitulah, kalau saya lagi beli celana itu suka sedih karena jadinya saya harus mendapati dan meyakini bahwa perut saya itu buncitnya nggak karuan.

Pelan-pelan, saya mendapati bahwa penyebab buncit itu salah satunya adalah karena pencernaan saya tidak sehat. Tidak sehat maka tidak lancar. Ya bagaimana tidak buncit kalau input jauh lebih banyak dari output? Suram sekali.

food man person eating

Photo by Gratisography on Pexels.com

Cuma, kalau mau meniadakan input itu rasanya saya sekali. Lha, kalau saya posisi sedang di Kupang dan diajak ke Kampung Solor yang kelezatan ikannya tiada tanding itu, masak mau ditolak? Dalam dilema itu, saya kemudian mendapati salah satu solusi kehidupan.

Jadi, kalau malamnya saya makan enak di suatu tempat, maka pagi harinya ketika breakfast di hotel saya mengurangi makan besar dan memperbanyak yogurt. Pada beberapa hotel, terutama yang besar, yogurt itu adalah hidangan wajib yang biasanya diletakkan dekat buah-buahan.

Ditulis dalam artikel ‘Get health benefit from fresh yogurt‘ yang dimuat pada Spartanburg Herald-Journal (Februari 2013) bahwa yogurt lebih dari sekadar snack sehat. Di Amerika dan Eropa, yogurt digunakan sebagai mayones dalam salad maupun saus untuk ikan, steak, atau ayam. Di India, Timur Tengah, maupun Eropa Timur, yogurt juga dikenal sebagai minuman yang kadang-kadang asin, manis, memiliki rasa buah, atau bahkan dicampur dengan tanaman segar.

Yogurt telah lama dikenal sebagai salah satu jenis pangan yang digunakan untuk menjaga kesehatan pencenaan. Bakteri baik melindungi saluran pencernaan dan mencegah bakteri jahat bekerja, hal itu sudah dibuktikan oleh begitu banyak penelitian. Bahkan pernah disebut bahwa mengonsumsi yogurt bisa menghindarkan diri dari peluang sakit hingga 2/3.

Nah, kalau sedang tidak di hotel, kadang-kadang hal ini menimbulkan masalah baru karena saya nggak bisa bikin yogurt. Untung sekarang ada Yoforia, fresh yogurt yang memiliki live probiotics serta tidak melalui proses apapun lagi setelah menjadi yogurt alias tidak dipanaskan lagi, sehingga bakteri baik dapat tetap hidup dan manfaat yogurt-nya tetap terjaga.

Yoforia_Healthy Life_ (4)

Sebagaimana diketahui, Yoforia menggunakan live probiotics yang berfungsi membantu mencerna makanan dengan nutrisi terserap optimal karena banyaknya bakteri non-probiotik cenderung membuat pencernaan tidak lancar. Lebih lanjut lagi, live probiotics pada Yoforia adalah khusus sehingga rasa yang dihasilkan tidak terlalu asam dan lebih creamy.

Mohamed Zommiti, Michael L. Chikindas, dan Mounir Ferchichi pada artikelnya yang berjudul ‘Probiotics–Live Biotherapeutics: a Story of Success, Limitations, and Future Prospects–Not Only for Humans‘ dalam jurnal Probiotics and Antimicrobial Proteins menyebut bahwa setelah mengerahkan aksi baik mereka di saluran pencernaan, probiotik akan mencapai pintu keluar usus bersama dengan mikroorganisme usus lainnya. Pada perjalanan itu, bagian utama dari bakteri probotik akan mati karena pertumbuhan dan proses proliferasi–atau sederhananya perbanyakan–mereka sangat dipengaruhi oleh persaingan dari mikroorganisme lain di usus besar. Probiotik sebagian besar sudah dipecah dan dicerna sebagaimana nutrisi organik lain dalam usus dan kemudian dibuang bersama dengan feses. Jadi, sudah jelas bahwa live probiotics itu aman lahir batin.

Yoforia_Healthy Life_ (2)

Selain itu pula, Yoforia mengandung dietary fiber dari buah jeruk alami. Dietary fiber ini teksturnya lebih lembut dan cocok untuk diet dalam artian bikin kenyang lebih lama sehingga dapat mengurangi input.

Terakhir, Yoforia adalah fresh yogurt dengan banyak varian rasa yang unik. Bahkan ada rasa kopi segala. Adapun sebagaimana produk minuman lainnya, rasa yang paling saya gemari adalah leci dan kebetulan Yoforia merilis rasa terbaru Lychee Blast. Bagi saya, apapun yang dikasih rasa leci itu auto-enak.

Oya, bonus informasi, Yoforia juga sudah memenuhi kaidah-kaidah pendaftaran produk pangan yang benar. Buktinya, pada kemasan Yoforia sudah ada 2D Barcode yang dapat di-scan pada aplikasi BPOM Mobile dan hasilnya adalah seperti ini:

This slideshow requires JavaScript.

Yoforia_Healthy Life_ (6)

Jadi, mengingat sebagai konsumen cerdas saya harus cek Kemasan, Label, Izin Edar, dan Tanggal Kedaluwarsa, maka bagian terakhir ini menjadi faktor penentu untuk bisa mengeksekusi Yoforia dari kulkas toko ke kasir demi mencapai healthy life~

Daftar Lomba Blog November 2019

Sudah mau akhir tahun, sudah menang berapa lomba? Kalau belum ada–kayak saya–boleh coba beberapa lomba lagi, nih. Masih banyak juga daftarnya ternyata.

1. Lomba Blog Ajaib Investasi


Deadline: 8 November 2019
Pengumuman: 11 November 2019 (pada tanggal 11 November 2019, websitenya diperbaharui lagi dan berakhir di bulan Desember 2019. Hehe.)

Hadiah:
Juara 1 Uang Tunai Rp750.000
Juara 2 Uang Tunai Rp500.000
Juara 3 Uang Tunai Rp250.000

Informasi Lengkap bisa klik di sini, yha.

2. Lomba Menulis Blog Kemenhub 2019

3. Oyo Hotels Blog Competitions


Deadline: 22 November 2019

Hadiah:
Juara 1: 7 Juta Rupiah
Juara 2: 4 Juta Rupiah
Juara 3: 2 Juta Rupiah
Semua peserta mendapat diskon menginap di Hotel OYO sebesar 70% satu malam, bebas pilih kota dan tanggal menginap

Informasi Lengkap: OYO Rooms

4. Digital Marketing Life Hacks DomaiNesia

Tema: Digital Marketing Life Hacks
Deadline: 24 November 2019

Hadiah total 25 Juta Rupiah
Informasi Lengkap: DomaiNesia

5. Lomba Blog Fossil Gen 5 Smartwatch

Lomba Blog Fossil Gen 5 Smartwatch
Tema: meningkatkan Produktivitas dengan Fossil Gen 5 Smartwatch

Deadline: 13 November 2019
Pengumuman: 30 November 2019

Hadiah:
Juara 1 Fossil Watch dan cash Rp750.000
Juara 2 Fossil Watch dan cash Rp500.000
Juara 3 Fossil Watch dan cash Rp250.000

Informasi Lengkap: Urban Icon

5. Yoforia Blog Competition 2019

Tema: Yoforia, fresh yogurt for your healthy life!”
Deadline: 16 November 2019

Hadiah:
Uang tunai Rp2 Juta Rupiah untuk 2 orang pemenang
Uang tunai Rp1 Juta Rupiah untuk 5 orang pemenang

Informasi Lengkap: Yoforia

Liburan Tipis-Tipis di Miniapolis AEON Mall BSD Bersama Traveloka Xperience

Liburan Tipis-Tipis di Miniapolis AEON Mall BSD Bersama Traveloka Xperience

Sebagai Bapak Millennial merangkap bapak kuliahan, waktu saya dengan anak lanang semata wayang terbilang terbatas. Sebuah kondisi yang bikin sedih, apalagi di usianya yang Terrible Two seperti sekarang ini, ketika setiap hari dia punya kemampuan baru yang bikin takjub.

Berhubung keluarga kecil saya tinggal di Tangerang Raya dan kendala waktu itu tadi, maka opsi terbaik adalah memanfaatkan waktu weekend untuk bermain bersama Isto. Dan sebaiknya juga nggak jauh-jauh, selain karena mahasiswa kan identik dengan kemiskinan, kasihan juga kalau waktu terbatas hanya habis untuk perjalanan.

Cari punya cari, akhirnya saya dan Mama Isto mendapati sebuah opsi menghabiskan weekend yang menarik. Untunglah zaman sekarang ada Traveloka Xperience sebagai solusi untuk mencari hiburan dan liburan tipis-tipis, baik di tempat yang jauh maupun di sekitar rumah.

Buat yang belum begitu tahu Traveloka Xperience, sesungguhnya pasti sudah tahu tapi nggak ngeh saja. Traveloka Xperience adalah pengembangan dari menu Traveloka yang dahulu terkait dengan aktivitas dan hiburan. Jadi kalau dulu beli dalam rupa event-event, nah sekarang khusus untuk yang berbau-bau experience dijadikan satu di Traveloka Xperience sehingga menjadi #XperienceSeru. Dalam lini aktivitas dan hiburan kita juga mengenal Traveloka Eats.

Sebagaimana juga Traveloka yang untuk beli tiket dan booking hotel, sesudah membuka Traveloka Xperience, kita bisa masuk melakukan pencarian dengan interface yang mudah. Untuk tempat-tempat banyak keluarga muda seperti Bogor dan Tangerang Selatan, bahkan ada pencarian cepatnya. Saya menemukan beberapa opsi dan bisa melakukan evaluasi harga karena informasi harga berikut promonya ditampilkan dengan transparan.

Pilihan saya dan istri kemudian jatuh ke Miniapolis BSD. Pertama, tentu saja lokasinya yang nggak jauh-jauh amat dari rumah. Cukup naik taksi daring menuju AEON. Ya, Miniapolis BSD memang terletak di AEON Mall BSD City, tepatnya di lantai 2. Mal dengan identitas Jepang ini memang merupakan salah satu tempat paling hits se-Tangerang Raya sejak kehadirannya.

Screenshot_1985

Miniapolis AEON BSD menghadirkan area bermain anak nan begitu lengkap. Ada Doodles Mini Kitchen yang bisa melatih kemampuan motorik dan kreativitas anak dengan memasak dan menghias kue. Di sini ada peralatan masak untuk anak-anak sehingga anak bisa dilatih untuk belajar memasak. Cita-cita Mama Isto agar Isto jadi master chef junior kiranya bisa dioptimalkan melalui medium ini.

Oya, untuk orangtua jangan lupa membawa kaos kaki, demikian pula dengan anak. Kita nggak mau kan main di wahana kotor? Kalau nggak mau, ya setidaknya jangan jadi pengotor juga. Hehe.

Di bagian dalam dari Miniapolis, Isto begitu gembira. Sebab, ada banyak permainan yang begitu dia sukai dan terutama ya lapak cukup luas untuk lari-larian dan panjat-panjatan. Kalau diingat, anak ini baru bisa jalan di usia 14 bulan. Kala itu saya nggak terlalu khawatir ketika dia tertinggal dua bulanan dari teman-temannya yang sudah bisa jalan di usia 1 tahun pas.

Ya, kalau anak belum bisa jalan tapi tidak ada kendala medis, tenang saja. Jadikan itu momen untuk persiapan. Sebab, begitu anaknya sudah bisa jalan dan kemudian lari…….

….giliran bapaknya yang encok pegal linu.

Miniapolis menyediakan sarana bermain untuk anak di bawah 12 tahun. Artinya, ada anak dari rentang usia baru bisa jalan sampai rentang usia sedikit lagi puber. Penting bagi orangtua untuk mengawasi anak-anaknya.

Bukan apa-apa, mungkin karena bosan di tempat mandi bola bocah, si Isto sempat-sempatnya kabur ke area mandi bola anak gede. Saya yang takut dia ketiban atau keinjak kakak-kakaknya. Heuheu. Saya juga sempat baca sih review dari orangtua yang malah nulis macam-macam karena anaknya luka. Duh, Pak, Bu, namanya juga tempat bermain umum, bukan berarti anak kita lepas liarkan sambil kita buka HP dan haha-hihi. Tetap dijaga dong~

Foto.

Selain mandi bola, ada mini trampoline, ada beberapa sepeda mini, hingga ada juga bola dan gawangnya. Bagi orangtua, ini juga momen melihat pergaulan anak karena mereka akan bertemu teman-teman sebaya. Kalau anak saya sih, bukan sekadar bersosialisasi lagi. Dia malah mbathi.

Screenshot_1987

Sumber: Instagram @ariesadhar

Beberapa poin penting lain dari main di Miniapolis AEON BSD bersama Traveloka Xperience adalah bahwa tiket masuk itu bisa digunakan untuk wara-wiri seharian penuh. Jadi, jika lapar dan haus, bisa makan dulu untuk kemudian masuk lagi. Sebuah aspek menarik untuk harga yang juga menarik, terutama kalau beli lewat Traveloka. Plus, tiketnya sepaket dengan naik kereta api keliling lantai 2.  Dua privilese ini tidak kami manfaatkan karena dua alasan.

Screenshot_1986

Pertama, saya ngejar penerbangan untuk berangkat kerja di sore hari. Kedua, bayi saya keburu lelah di dalam jadi nggak sempat lagi merasakan naik kereta yang sebenarnya adalah kesukaannya.

Oh iya, jika memang tidak tinggal di Tangerang, Traveloka Xperience menyediakan banyak sekali pilihan untuk sekadar mencari pengalaman seru lewat berbagai wahana yang tersedia, berikut promo-promonya. Yakin nih nggak mau?

7 Alasan Mengapa Domain Penting Untuk Bisnis

pentingnya-domain-untuk-bisnis

Mengapa domain penting untuk bisnis? Pertanyaan mendasar itu tentunya berkelindan di benak banyak orang, terutama pelaku bisnis zaman sekarang. Bukankah sudah ada media sosial? Masak nggak cukup?

Sebelum sampai pada 7 alasan mengapa domain penting untuk bisnis, pertama-tama mari kita mengenali domain itu sendiri.

Apa Itu Domain?

Secara sederhana, domain dapat disamakan dengan alamat suatu tempat di internet. Jika kantor Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ada di Jalan Veteran III Jakarta, maka orang-orang yang ada perlu dengan BPIP pasti akan mampir ke Jalan Veteran III tersebut.

people lot near buildings under white clouds

Photo by Aleks Magnusson on Pexels.com

Nah, dalam konteks internet, alamat BPIP adalah di bpip.go.id, yang artinya jika orang-orang ada perlu dengan BPIP maka akan mampir ke bpip.go.id. Karena ini internet, maka mampirnya nggak perlu pakai ojek online segala macam. Sambil tidur-tiduran juga bisa.

Penamaan domain adalah identik, sehingga tidak akan ada dua domain ariesadhar.com, misalnya, yang eksis di dunia ini. Dan seperti sewa rumah, domain itu ada masa kontraknya.

Misal, beberapa waktu silam saya punya domain fplngalorngidul.xyz yang ketika jatuh tempo tidak saya perpanjang. Sesudah periode itu, domain tersebut jadi vacant dan bisa saja diambil oleh orang lain, meskipun sebelumnya saya sudah mencitrakan diri sebagai pemilik domain itu.

Apa Itu Ekstensi Domain?

Kita mengenal Top Level Domain (TLD) yang dikenali dari ekstensi akhir sesudah dot berupa tiga huruf atau lebih. Pengecualian untuk hal ini adalah penggunaan ekstensi .mil yang khusus untuk mililter dan .gov yang khusus untuk pemerintahan (government).

Beberapa contoh TLD yang kita kenali adalah .com atau .org. Di Indonesia belakangan ramai juga .tv dan .co sebagai TLD yang jamak digunakan.

man working using a laptop

Photo by Oladimeji Ajegbile on Pexels.com

Ada juga yang disebut country code Top Level Domain atau ccTLD. Biasanya dikenali dengan identitas berupa kode masing-masing negara. Seperti Malaysia dengan .my atau Singapura dengan .sg, dan Indonesia dengan .id.

Penggunaan di Indonesia sudah tentu kita kenali, seperti .id untuk penggunaan masif personal, komunitas, hingga bisnis. Ada juga yang sudah lama kita kenali dalam rupa .co.id dan .or.id. Penggunaan untuk kampus, misalnya UI dengan alamat ui.ac.id. Demikian pula dengan akun-akun pemerintah seperti bpip.go.id atau kemenkeu.go.id.

Bagaimana Dengan Domain Gratis?

Yang dijelaskan dengan TLD itu tadi pada umumnya adalah berbayar. Kalau hanya sekadar ingin lapak atau domain, tentunya kita bisa mendapatkannya dari internet, antara lain melalui blogger.com dengan ekstensi .blogspot.com maupun juga di WordPress dengan ekstensi .wordpress.com.

Jadi ingat dulu blog ini bermula ya dari ariesadhar.wordpress.com juga. Si FPL Ngalor Ngidul sebelum jadi fplngalorngidul.xyz juga adalah fpl-ngalorngidul.blogspot.co.id.

Hanya saja, kalau iseng-iseng kita cermati jika terima SMS penipuan undian berhadiah, maka umumnya memakai domain-domain gratis seperti undianberhadiah.blogspot.com dan sejenisnya. Selain itu, siapapun bisa bikin domain untuk kemudian ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya.

Pada intinya adalah kredibilitas. Dengan penggunaan domain TLD, suatu entitas, baik usaha atau hanya sekadar personal seperti saya, akan lebih meningkat kredibilitas peredaran di dunia maya daripada dengan domain gratis.

Manfaat Domain Untuk Bisnis

Sesudah membahas domain, mari kita langsung fokus ke manfaat untuk bisnis itu tadi. Supaya tidak berkepanjangan seperti pacaran beda agama~

1. Terhubung Dengan Mesin Pencarian

Sekarang ini, setiap kali kita ingin tahu sesuatu, maka larinya pasti ke Google. Bayangkan jika secara sekilas orang mendengar bisnis kita dan ingin tahu lebih lanjut tapi tidak bisa menemukannya di mesin pencari Google maupun yang lain karena kita tidak menyediakan rumah di internet? Sudah jelas, opportunity loss!

black samsung tablet display google browser on screen

Photo by PhotoMIX Ltd. on Pexels.com

Rheinald Kasali bilang era sekarang adalah era disrupsi, ketika masyarakat mengeser aktivitas di dunia nyata ke dunia maya alias internet. Jadi, di era sekarang, kalau sebuah bisnis tidak punya alamat di internet, maka bisa dihitung potensi pendapatan yang gugur.

2. Terlihat Sebagai Bisnis Kredibel

Domain itu berbayar sehingga menandakan keseriusan suatu bisnis untuk berkembang. Kita ingat dong beberapa tahun lalu dalam rangka quick count Pemilihan Presiden ada beberapa lembaga dengan hasil yang berbeda. Meskipun yang berbeda ada beberapa lembaga, namun ada satu yang paling kena bully.

Alasannya? Karena lembaga survei itu mencantumkan alamat dengan domain wordpress.com! Jadilah lembaga ini dipermalukan sana-sini, apalagi survei seperti itu kan uangnya besar, masak hanya bayar domain saja tidak bisa? Dimana kredibilitasnya?

3. Alat Bantu Branding

Sekarang ini sampai ke personal saja sudah menggunakan domain sebagai alat bantu branding, apalagi suatu entitas bisnis. Blogger kondang merangkap tukang koran di Oz, Farchan Noor Rachman, misalnya, punya efenerr.com dan identitas ‘efenerr’ itu digunakannya untuk akun media sosial lainnya. Dengan demikian personal branding-nya menjadi sangat ciamik.

4. Etalase Nyaris Tanpa Batas

Kalau kita punya bisnis di ruko, misalnya, ada keterbatasan ruang. Produk buku di toko terkemuka juga ada keterbatasan waktu untuk dipajang karena begitu nggak laku langsung turun. Sementara itu, tidak setiap saat orang ingin berkunjung ke toko.

laptop technology ipad tablet

Photo by Pixabay on Pexels.com

Dengan adanya domain dan website, pelaku bisnis seperti punya etalase tanpa batas untuk memajang produknya, dari sisi apapun dengan informasi selengkap apapun, tanpa harus terkendala seperti di toko. Calon konsumen jadi lebih enak jika ingin tahu ini dan itu tentang suatu produk.

5. Mempermudah Akses ke Bisnis

Dengan domain dan website, maka setelah etalase diperlihatkan, ujungnya bisa saling kontak dengan informasi yang ditampilkan. Bayangkan jika tidak ada domain dan tidak tahu mau kontak siapa untuk membeli sesuatu yang ternyata dimiliki suatu bisnis?

6. Hemat Waktu

Percayalah, utak-utik domain dan website itu jauh lebih hemat waktu daripada harus promo sana sini di era disrupsi. Cukup satu periode waktu pasang informasi produk, waktu lainnya kita hanya perlu update. Bayangkan waktu yang bisa dihemat dalam hal ini?

7. Benefit Lebih Tinggi Dari Cost

Dalam teori Cost Benefit Analysis, sesungguhnya potensi benefit yang akan diperoleh jauh lebih tinggi daripada cost yang dikeluarkan untuk suatu domain, tentunya dengan sejalan dengan 6 hal yang juga telah dipaparkan di atas.

Jangan lupa, suatu alamat harus ada lahannya–yang di dunia internet dikenal dengan hosting. Jangan khawatir bahwa hosting ini akan menguras uang karena cukup banyak hosting murah yang bisa kita peroleh, antara lain melalui Rumahweb.

Jadi, sudah paham kan mengapa domain penting untuk bisnis? Saatnya bisnis kita dilengkapi dengan domain demi cuan-cuan-cuan.

#BlogCompetition #RumahWeb

Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita: Sebuah Perspektif Sederhana

1

Ketika bicara tentang bencana, saya akan selalu teringat dengan dokumentasi pribadi saya yang satu ini:

2

Ya, hingga setahun kemudian, saya masih sangat ingat rasanya berada di atas jembatan kebanggan masyarakat Palu itu. Betapa ketika berdiri di anjungan, ada getaran yang cukup terasa ketika mobil melintas. Teringat juga betapa saya mengagumi keindahan Teluk Donggala dari atas jembatan yang biasanya digunakan oleh masyarakat sekitar untuk melihat buaya yang tersangkut ban.

Kita semua tahu, bahwa jembatan itu, tepat 28 September 2018 sudah menjadi seperti ini:

3

Doa saya kepada para korban jiwa dalam gempa dan tsunami di Palu, Donggala, dan sekitarnya. Palu adalah tempat yang cukup istimewa buat saya pertama-tama karena rekan-rekan kerja saya di kota tersebut terbilang orang-orang baik dan sangat mudah diajak bekerja sama demi kepentingan organisasi. Jadi, saya tidak pernah mengalami pengalaman tidak mengenakkan di Palu. Semuanya baik, termasuk keindahan monumen Nosarara Nosabatutu, termasuk juga enaknya Kaki Lembu Donggala-nya.

Bencana Dalam Berbagai Perspektif

Oleh BNPB dan regulasi kebencanaan di Indonesia, bencana didefinisikan sebagai perisitwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

4

Lebih spesifik, BNPB juga membagi bencana ke dalam tiga bagian. Pertama, bencana alam yang didefinisikan sebagai bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

Kedua, bencana non alam yang dimaknai sebagai bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa non alam antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.

Ketiga, bencana sosial, yaitu bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror.

Dalam perspektif lain, sebuah buku berjudul Disaster Management mengklasifikasi bencana menjadi 2, yakni berdasarkan durasi waktu hingga terjadi bencana dan berdasarkan parameter yang memicu.

Berdasarkan durasi waktu hingga terjadinya, bencana didefinisikan sebagai Rapid Occuring Disasters dan Slow Occuring Disasters. Sedangkan berdasarkan parameter pemicunya, bencana dibagi menjadi bencana alam, bencana alam yang dipicu intervensi manusia, dan bencana yang secara khusus hanya dibuat oleh manusia.

5

Untuk memahami definisi bencana dari perspektif pemicunya, akan lebih mudah jika kita melihat infografis berikut ini:

6

Berdasarkan infografis di atas, sekilas kita bisa melihat bahwa manusia hanya tidak bisa ikut campur sebagai penyebab pada 1 jenis saja yaitu natural. Sisanya? Mau sedikit atau bahkan menjadi penyebab sebenarnya, peran manusia itu ada. Peran kita itu nyata.

Pengalaman Bencana

Hari Sabtu pagi, 27 Mei 2006, saya ada jadwal ujian pukul 8 pagi. Belum lagi pukul 6 ketika saya terbangun oleh getaran yang cukup kencang. Karena saya besar di Bukittinggi, sebenarnya guncangan gempat sedikit-sedikit adalah hal yang biasa. Akan tetapi, pagi itu guncangannya begitu kencang.

Saya bergegas keluar sembari mengumpulkan kesadaran. Di depan kos saya ada sebuah bak air. Saya melihat belum bak air itu bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan menumpahkan air di dalamnya. Sesungguhnya, saya langsung sadar bahwa itu adalah gempa terbesar dan terlama yang pernah saya rasakan.

Ketika itu, status gunung Merapi yang posisinya dapat saya lihat dengan mudah dari kos juga sedang naik. Konteks tersebut yang kemudian membuat saya berasumsi bahwa gempa ini adalah karena gunung Merapi. Meskipun kemudian saya sadar bahwa gunung Merapi itu adalah gunung aktif dengan lubang pelepasan energi yang cukup besar. Artinya, sifat pergerakannya tidak akan membuat goncangan untuk lokasi belasan kilometer di selatan dengan intensitas sekencang itu.

Hasil gambar untuk gempa jogja 2006

Sumber: Kumparan

Sebelum kemudian listrik terputus, saya masih sempat menyalakan televisi untuk mendapat informasi sekilas bahwa gempa barusan bersumber dari arah selatan, bukan dari Merapi. Guncangannya memang ‘hanya’ 5,9 skala Richter. Namun, karena gempanya ternyata dangkal dan berada pada jalur yang padat penduduk, maka jumlah korbannya menjadi luar biasa banyak. Ada lebih dari 6 ribu korban tewas dalam peristiwa ini.

Hari-hari berikutnya, dunia tidak lagi sama untuk saya. Sesungguhnya dalam peristiwa itu, meskipun saya merasakan sekali goncangan yang terjadi, saya bukanlah korban, tidak pula terdampak.

Korban adalah orang/sekelompok orang yang mengalami dampak buruk akibat bencana, seperti kerusakan dan atau kerugian harta benda, penderitaan dan atau kehilangan jiwa. Korban dapat dipilah berdasarkan klasifikasi korban meninggal, hilang, luka/sakit, menderita dan mengungsi.

Penderita/terdampak adalah orang atau sekelompok orang yang menderita akibat dampak buruk bencana, seperti kerusakan dan atau kerugian harta benda, namun masih dapat menempati tempat tinggalnya.

Saya kemudian turut serta menjadi relawan di tiga rumah sakit besar di Yogya yakni RS Panti Rapih, RS Bethesda, dan RS Sardjito berikut satu posko bantuan Jesuit Refugee Service (JRS). Semuanya saya lakoni dalam waktu 2 pekan.

Pengalaman Recovery Bencana

Dalam 2 pekan tersebut, saya terlibat aktif dalam upaya recovery pasca bencana, utamanya dalam aspek kesehatan. Hari pertama adalah pekerjaan fisik, terutama pada gedung-gedung yang terdampak. Pada posisi ini, untuk pertama kalinya seumur hidup, saya melihat mayat-mayat bergelimpangan. Itulah sebabnya saya bilang bahwa peristiwa itu tentu membuat hidup saya berbeda. Sebuah pengalaman introspektif yang luar biasa.

Hari-hari berikutnya, sebagai mahasiswa farmasi, saya dan teman-teman aktif di posko yang dibuka di rumah sakit. Mengelola bantuan, mendistribusikannya hingga ke perawat dan pasien, berbincang dengan pasien tentang kehilangan, hingga hal-hal remeh tapi menyebalkan khas bencana seperti obat bantuan yang kedaluwarsa dan dikirim pada tengah malam buta.

Pada tahun 2008, sebagai pungkasan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh-Nias, saya mendapat kesempatan terbang ke Nias guna menjadi bagian dari penyelesaian rekonstruksi dan rehabilitasi pasca gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh dan Nias empat tahun sebelumnya khusus pada area obat dan logistik medis.

Tidak jauh dari pengalaman sebelumnya, namun tentu berada di sebuah pulau yang sangat akrab dengan gempa menjadi pengalaman yang berbeda. Saya masuk ke berbagai Puskesmas yang ada di pulau Nias sembari menikmati jalan yang sudah mulus sebagai hasil rehabilitasi. Meski begitu, saya juga mendapati bahwa dalam sebuah proyek perbaikan yang sedemikian masif, masih sangat banyak hal-hal yang dirasa kurang, antara lain adalah pengelolaan pada obat-obat bantuan yang hingga 4 tahun pasca bencana memang masih ada distribusinya.

Di Nias pula saya melihat alam yang berubah. Dalam sebuah perjalanan ke Nias Selatan, saya tiba di sebuah pantai yang menurut kisahnya sebelum gempa adalah spot dengan ombak tinggi yang dicari oleh peselancar. Ketika saya dan rombongan sampai ke tempat itu, kisah tersebut sudah tiada. Gerakan gempa menjadikan tempat itu tidak lagi asyik untuk berselancar, meskipun kemudian posisinya berpindah ke sisi lain dari garis pantai. Ya, sebuah dinamika alam di negeri yang merupakan ring of fire.

Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita

Ketika tulisan ini dibuat, sebagian wilayah Indonesia, utamanya di Sumatera dan Kalimantan sedang diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Berbasis data BNPB, setidaknya dalam 10 tahun terakhir, kebakaran hutan bersama dengan banjir memang menjadi jenis bencana dengan frekuensi cukup besar kejadiannya di Indonesia.

chart (1)

Gempa, dan terlebih tsunami, terbilang jarang. Walau demikian, pada saat terjadi memang berdampak besar dalam konteks jumlah korban jiwa.

Hal yang menarik jika kita mengacu pada peran manusia dalam bencana sebagaimana literatur di atas adalah bahwa frekuensi yang paling banyak kejadiannya di Indonesia memanglah bencana-bencana dengan intervensi manusia yang sangat besar.

7

Artinya?

Ya, kita para manusia ini sebenarnya punya andil dalam terjadinya bencana. Tidaklah aneh ketika BNPB sebagai badan nasional yang diamanatkan menjalankan tugas penanggulangan bencana menggaungkan ‘kita jaga alam, alam jaga kita’, karena faktanya ‘kita’ sebagai manusia punya andil dalam 80 persen jenis bencana sebagaimana tampak pada infografis di bawah ini berupa kejadian bencana 10 tahun terakhir baik bencana alam, bencana non alam, maupun bencana sosial.

This slideshow requires JavaScript.

Kita sebagai manusia sesungguhnya harus aktif merawat alam maupun lingkungan tempat tinggal kita. Hanya dengan tindakan seperti itulah, alam akhirnya akan merawat kita pula. Mari berkaca pada kejadian bencana seperti banjir dan longsor. Dua jenis bencana itu adalah bukti nyata bahwa keseimbangan alam terganggu dengan aktivitas yang dilakukan manusia. Demikian pula dengan pendangkalan sungai, penggunaan bantaran sungai sebagai pemukiman, maupun juga pemanfaatan lahan secara tidak tepat menjadi pemicu banyak bencana di Indonesia.

Perlu diingat, bahwa angka-angka yang ada pada statistik bencana sejatinya bukanlah sekadar angka belaka. Ada tangis perpisahan dengan para korban, ada kehilangan dari orang-orang tercinta, ada juga hasil kerja keras bertahun-tahun yang luluh lantak begitu saja karena bencana. Jika mengingat hal ini, semestinya kita akan lebih berupaya untuk sadar bencana.

Budaya Sadar Bencana

Saya pernah kebetulan mampir di sebuah pemukiman yang ada di bantaran sungai, sekadar hendak beli gorengan karena sedang lewat. Saya iseng bertanya tentang banjir kepada pemilik warung. Jawabannya, sungguh mengejutkan.

“Ya, kan banjir juga paling setahun sekali. Kayak sekarang ya panas, biasa aja.”

Dalam konteks banjir seperti ini, banyak yang menganggapnya sebagai hal biasa. Pada suatu konsep yang penerapannya kurang tepat, mereka biasanya sudah punya mitigasi risiko sendiri. Kalau dilihat struktur rumah hingga penataan barang-barang di rumah sudah sedemikian rupa sehingga akan mudah untuk evakuasi jika tiba-tiba air tinggi.

Itu baru satu  bencana. Perihal kebakaran hutan dan lahan, sesungguhnya kita pernah punya keberhasilan dalam 2-3 tahun terakhir. Entah kenapa, tahun 2019 ini, kebakaran mulai banyak meskipun sebenarnya hujan itu masih turun di bulan Juli. Alias, musim kemarau sejatinya belum lama-lama benar. Fakta tahun ini memperlihatkan bahwa sistem yang dibangun dalam 2-3 tahun terakhir belum cukup menjadi mitigasi yang ideal. Yah, faktanya, kabut asap masih melanda dan masih terus berusaha dikendalikan oleh pihak-pihak berwenang termasuk BNPB.

Apalagi kalau menyoal gempa bumi, tsunami, dan lain-lain. Seringkali, kita para masyarakat ini sadar bencana ketika lagi ramai di Aceh atau di Palu, misalnya. Sesudah itu, kita tenggelam dalam aktivitas sehari-hari dan lupa bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita senantiasa memiliki risiko bencana.

Budaya Sadar Bencana (1)

Konsep budaya sadar bencana secara sederhana dipahami sebagai perubahan paradigma penanggulangan bencana dari sekadar perspektif responsif belaka menuju terwujudnya pemahaman faktor-faktor risiko dan upaya pengurangan risiko bencana di lingkungan. Selain itu, diperlukan peningkatan kesadaran, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan bencana dalam menghadapi ancaman bencana melalui pelatihan secara bertahap, bertingkat, dan berkelanjutan. Termasuk juga di dalamnya terwujudnya antisipasi, proteksi, dan penyelamatan diri dari ancaman bencana.

Ciamiknya Strategi Media BNPB

BNPB selaku pengemban amanat selama ini terbilang on the track dalam menjalankan fungsinya. Satu pujian yang harus selalu dilontarkan kepada BNPB terutama pimpinannya adalah ketika “melepas” Bapak Almarhum Sutopo Purwo Nugroho untuk menjadi media darling, dan bahkan pelan-pelan menjadi public darling.

Hasil gambar untuk sutopo ASN Inspiratif

Sumber: Kompas

Tidak semua instansi pemerintah, utamanya para pimpinan, memiliki kerendahan hati sedemikian rupa untuk melepaskan seorang Eselon II menjadi lebih terkenal daripada pimpinan BNPB itu sendiri.

Nyatanya, hal itu berhasil. Bapak Sutopo dengan ciamik memainkan perannya dalam edukasi kebencanaan. Memang, butuh terobosan khusus untuk bisa berpenetrasi ke dalam hati masyarakat dalam era modern dan zamannya media sosial seperti sekarang ini dan BNPB pernah cukup sukses untuk melakukan suatu terobosan. Sayang, memang, Bapak Sutopo telah meninggal dunia pasca berhadapan dengan kanker yang menyebar alias metastase.

Dalam posisi ini, tentu saja BNPB perlu merevitalisasi jalur yang sudah dilakoni oleh Bapak Sutopo untuk mengedukasi masyarakat. Sudah ada jalurnya, berarti tinggal diteruskan. Setidaknya, cita-cita agar terbentuk masyarakat yang sadar bencana sudah bisa mulai diinternalisasi sejak dini.

Sayangnya, memang Bapak Sutopo sudah tiada. Walau demikian, setidaknya BNPB secara institusi sudah berada pada jalur yang tepat dengan mengoptimalkan skema yang terlebih dahulu ada. Pola komunikasi yang sudah terbentuk itu bukan hal mudah untuk dibangun, adalah keuntungan bagi BNPB ketika pola itu sudah cukup mendarah daging di institusi. Hal ini tentu menjadi kekuatan BPNB dalam mengoptimalkan fungsinya dalam penanggulangan bencana di tingkat nasional.

Di atas bumi Indonesia yang faktor naturalnya sangat besar, sesungguhnya manusia bisa berperan mengurangi dampak bencana yang berasal dari faktor natural dan bahkan menihilkan bencana yang dapat disebabkan oleh manusia dengan menjaga alam. Bagaimanapun, kita percaya bahwa dengan menjaga alam, maka alam pasti akan menjaga kita.

Tabik.