4 Cara Dukung Bersama Asian Games dari Tangerang Selatan

4 Cara Dukung Bersama Asian Games dari Tangerang Selatan

Sudah tahu dong kalau Indonesia menjadi tuan rumah ajang multievent terbesar kedua di dunia sesudah Olimpiade, Asian Games. Ini adalah gelaran kedua di Indonesia sesudah tahun 1962. Belum tahu? Ndeso.

Pada periode 1962 itu, begitu banyak warisan yang diterima oleh bangsa ini. Paling jelas ya sebuah kompleks olahraga yang kini bernama Gelora Bung Karno dan mengudaranya televisi nasional kita yakni TVRI.

Sportourism

Sumber: Sportourism

Kini lebih dari setengah abad kemudian, Indonesia hadir lagi pasca Vietnam memilih meletakkan tiket tuan rumah yang diperolehnya. Berbekal sarana yang sudah jadi di GBK dan di sekitar Palembang, Indonesia tentu siap menjadi tuan rumah yang baik. Apalagi, aneka rupa proyek untuk menyukseskan event ini juga telah dikerjakan.

real estate in the city (1)Paling kelihatan ya renovasi GBK dan arena lain di kompleks tersebut. Juga wisma atlet di Kemayoran. Light Rapid Transit di Kelapa Gading-Rawamangun dan di Palembang. Sebuah pertanda bahwa persiapan negara nggak kurang dalam menyukseskan Asian Games.

Lantas, apa yang bisa dilakukan oleh warga lokal, hmmm, dalam hal ini saya lokal Tangerang Selatan?

Tangerang Selatan adalah kota yang masih muda dan terletak di Tatar Pasundan Provinsi Banten. Lebih dekat dari Jakarta alih-alih dari ibukota Banten, Serang. Disebut masih muda karena baru berdiir pada 27 Desember 2006 melalui persetujuan DPRD dengan cakupan 7 kecamatan yakni Ciputat, Ciputat Timur, Pamulang, Pondok Aren, Serpong, Serpong Utara, hingga Setu. Peresmiannya sendiri adalah pada 29 Mei 2008 oleh Menteri Dalam Negeri, Mardiyanto.

1. Memakai Transportasi Umum

Rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) melintas di Stasiun KA Palmerah, Jakarta Barat, Senin (6/7).

Sumber: Antara

Demi menunjang kelancaran Asian Games 2018, pemerintah telah melakukan perluasan area ganjil-genap. Nah, dengan demikian, akan ada jalur-jalur limpahan yang akan jadi lebih padat. Supaya jalur itu tidak macet, sebagai warga commuter, penting kiranya bagi warga Tangsel untuk menggunakan transportasi umum saja jika pergi ke Jakarta, entah untuk kerja, atau mau melakukan yang nomor dua ini.

2. Menonton Langsung

Kompas TV

Ajang ini baru balik lagi sesudah 56 tahun, lho. Kalau kayak saya nunggu 56 tahun lagi belum tentu masih hidup. Jadi, ada baiknya dimanfaatkan semaksimal mungkin. Melihat atlet-atlet kelas dunia bertarung pasti akan menjadi keasyikan tersendiri. Nah, untuk menonton, warga Tangsel sebenarnya nggak butuh pergi jauh-jauh kok, karena ada pilihan-pilihan berikut:

a. KRL Commuter Line
Ada banyak stasiun di sekitar Tangsel, dimulai dari Pondok Ranji sampai ke Serpong. Nah dari tempat-tempat itu, kita tinggal mengakses arah Tanahabang kemudian berhenti di Palmerah. Dari Palmerah, kalau mau jalan kaki ke GBK juga bisa. Atau mau ke event Balap Sepeda dan berkuda? Tinggal lanjut ke Tanahabang lantas transit Manggarai. Dari situ bisa naik bajaj atau transportasi online ke Velodrome atau Pulo Mas.

b. TransJakarta

Image result for transjakarta koridor 13Warga Tangsel juga diberi kemewahan berupa busway yang benar-benar way-nya bus alias yang lewat ya hanya bus wae. Koridor 13 dari Puri Beta Ciledug hingga Tendean, adalah kemewahan yang hanya dimiliki warga Tangsel. Nah, dari jalur ini juga bisa transit menuju Senayan, atau bahkan lanjut naik moda yang sama ke Velodrome dan Pulo Mas.

 

Biar gampang, ini saya kasih infografis dari Kemenpora soal lokasi-lokasi pertandingan, yang khusus Jakarta, rata-rata mudah dicapai dengan transportasi umum:

3. Gerilya di Dunia Maya
Selain di dunia nyata, kita juga bisa bantu di dunia maya. Toh, orang kita kan jago tagar. Pilihan-pilihan hashtag tentang Asian Games sudah banyak dan kita tinggal support. Jangan lupa, bagikan tentang kebaikan, bukan keluhan. Bagikan juga prestasi-prestasi yang diraih oleh anak bangsa, serta hindari bumbu-bumbu yang nyerempet politik dan klaim-klaim dukungan bla-bla-bla~~. Indonesia butuh persatuan, kak, bukan saling klaim.

4. Membantu Tamu
Akan ada banyak warga asing tiba ke Indonesia guna mendukung negara masing-masing. Kita dapat mendukung Asian Games dengan menjadi orang ramah sebagaimana citra kita di dunia, juga menjadi penduduk lokal yang sudi membantu tamu asing. Jangan dinakali lho ya, ini penting buat citra baik kita di dunia.

Nah, bagaimana? Sebenarnya gampang kan untuk bisa turut serta menyemarakkan Asian Games 2018, gelaran yang belum tentu lima puluh tahun lagi mampir ke Indonesia? Apalagi bagi warga Tangsel yang notabene dekat dari Jakarta. Yuk, dukung bersama Indonesia di Asian Games 2018!

Advertisements

Happy Life Ala Bapak Millennial: Perlindungan Untuk Keluarga

Sejak menjadi bapak millennial sembilan bulan yang lalu, hidup saya tidaklah sesederhana masa lalu ketika persoalan hanya tentang mau makan di warteg atau di restoran cepat saji. Kini, ada anak yang harus dipikirkan–bersama-sama dengan istri, tentu saja. Sekarang, bisa tidur 8 jam tanpa terputus sudah merupakan keajaiban dunia nomor 8.

Apalagi, hidup dan bekerja di Jakarta bolehlah disebut susah, pelik, dan sulit diprediksi. Terlalu banyak faktor eksternal yang mengatur hidup, yang otomatis menjadikan perlindungan pada diri sendiri menjadi sangat penting. Terlebih, saya adalah kaum commuter yang berkantor puluhan kilometer dari rumah dan harus berpindah-pindah moda transportasi mulai dari kendaraan pribadi, KRL, bis, hingga ojek online. Semuanya dengan risiko masing-masing. Belum lagi, pekerjaan saya kadang juga mensyaratkan untuk berpindah dari kota ke kota, dari bandara ke bandara.

Maka, kalau lagi kena goncangan di udara, yang terbayang sekarang adalah senyum polos Istoyama di rumah. Jika sedang senggol-senggolan di Jalan Sudirman, yang sekelebat muncul di kepala adalah ocehan nggak jelas Istoyama. Kalau sedang stres di kantor, yang dirindukan adalah polah si bocah. Yeah, sekarang terminologi happy life alias hidup bahagia nggak jauh-jauh dari anak dan masa depannya. Begitulah takdir bapak millennial–yang sebagaimana kata Business Wire mikir-mikir kalau mau kasih adik untuk Istoyama.

Sumber: Business Wire

Continue reading

BPK Kawal Harta Negara Dengan Mendorong Akuntabilitas Keuangan Negara

[Blog|Ariesadhar.com]Badan Pemeriksan Keuangan (BPK) menyelamatkan keuangan negara senilai Rp13,70 Triliun pada Semester I tahun 2017. Jumlah itu berasal dari penyerahan aset/penyetoran ke kas negara, koreksi subsidi, dan koreksi cost recovery. Hal itu disampaikan oleh Ketua BPK, Moermahadi Soerja Djanegara dalam acara penyerahan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) I Tahun 2017 kepada Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Selasa (10/10/2017)”.

Demikian kutipan yang saya peroleh dari sini. Bayangkan, dalam 1 semester itu saja, uang yang diselamatkan oleh BPK nilainya sudah setara dengan hal-hal berikut ini:

BPK merupakan sebuah lembaga negara yang memiliki tugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara. BPK merupakan pemeriksa semua asal-usul dan besarnya penerimaan negara yang berasal dari sumber manapun. BPK juga harus mengetahui tempat uang negara tersebut disimpan dan digunakan untuk apa. Keuangan negara sendiri artinya adalah semua hal dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.

BPK merupakan lembaga negara yang ditopang oleh Undang-Undang Dasar, dan dilengkapi dengan Undang-Undang lainnya yang terdiri dari:

Dengan demikian, BPK dapat disebut sebagai lembaga negara dengan dasar hukum paling komplit, sesuatu yang sebanding dengan tugas BPK untuk mengamankan keuangan negara.

Nah, peran BPK sesungguhnya menjadi demikian berbeda ketika ada amandemen UUD 1945 yang terkait dengan BPK. Ada penambahan kata ‘bebas dan mandiri’ yang menjadi sangat penting bagi tugas BPK. Pada pemerintahan yang telah lalu, kiprah dan ruang gerak BPK selaliu dikendalikan sehingga dalam menjalankan tugas dan kewajiban memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara menjadi tidak optimal.

BPK Zaman Old dan Zaman Now

Sebelum reformasi, BPK merupakan lembaga yang kedudukannya di bawah kendali pemerintah. Presiden dapat saja memerintahkan atau melarang BPK melakukan pemeriksaan semata-ata supaya citra pemerintah terangkat atau juga jadinya malah mencegah terungkapnya aneka bentuk korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara. Hal itu tentu berlawanan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas keuangan negara sebagai prasyarat penting penegakan good governance.

Pada era Orde Lama, Presiden menjadi Pemeriksa Agung, sedangkan Ketua BPK sebagai Menteri di bawah komando Presiden. Pada masa Orde Baru, saat posisi BPK dipindahkan sebagai lembaga negara di luar pemerintah, terjadi reduksi peran berupa pembatasan objek pemeriksaan, cara ataupun metode pemeriksaan, hingga isi dan nada laporan pemeriksaan. Era baru kebebasan dan kemandirian BPK akhirnya dijabarkan dalam UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara serta UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang BPK.

bpk-kawal-harta-negara-kantor-bpk

Kantor BPK di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Yang pendek itu dikenal dengan Gedung Arsip, yang tinggi lebih dikenal dengan Tower. Di Tower itulah para pimpinan BPK bermarkas. Sumber: jpnn.com

Secara legalitas, baik di era Orde Lama dan Orde Baru, BPK sejatinya sejajar dengan Presiden. Adapun pada prakteknya, BPK berada di bawah kendali pemerintah. Untungnya ada era reformasi, kondisi yang dulu-dulu itu sudah tidak berlaku. Kini BPK benar-benar sejajar dengan Presiden.

BPK yang harus memeriksa pengelolaan keuangan negara yang dijalankan pemerintah dan lembaga-lembagan egara lainnya, tentu butuh kesetaraan dengan Presiden. Kalau BPK di bawah Presiden, ruang gerak BPK untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawa keuangan negara akan menjadi terbatas. Lembaga yang dikendalikan oleh Presiden tentu tidak akan independen saat memeriksa pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden.

Jenis-Jenis Pemeriksaan BPK

Diamanatkan oleh UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, dikenal tiga jenis pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK yakni:

Pemeriksaan Keuangan merupakan pemeriksaan atas laporan keuangan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang dilakukan oleh BPK dalam rangka memberikan pernyataan opini mengenai tingkat kewajaran informasi yang disajikan dalam laporan keuangan pemerintah.

Jadi begini. Setiap tahun, setiap Kementerian, Lembaga, Instansi Pemerintah, dan Pemerintah Daerah harus-wajib-kudu membuat Laporan Keuangan. Jadi pada tahun 2018 awal, yang dibuat adalah Laporan Keuangan Tahun Anggaran (TA) 2017. Laporan ini dibuat untuk mempertanggungjawabkan semua anggaran yang diperoleh dan telah digunakan oleh K/L/D/I. Sebelum diperiksa oleh BPK, namanya adalah Laporan Keuangan Unaudited.

Berbasis dokumen yang biasa disebut LK itu, BPK melakukan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen yang terkait dengan penggunaan uang. Untuk apa saja uang digunakan, kuitansinya ada atau tidak, penggunaannya sesuai ketentuan atau tidak, ada kelebihan bayar atau tidak, dan lain-lainnya. Dalam pemeriksaan inilah segala yang kita kenal dengan tiket fiktif, perjalanan dinas bodong, kemahalan harga alat tulis kantor, dan segala bau-bau busuk lain soal perilaku koruptif di pemerintahan akan dibongkar oleh pemeriksa BPK.

Nah, hasil pemeriksaan inilah yang kemudian diberikan pernyataan opini yang terdiri dari:

Percaya nggak, wahai pembaca sekalian, bahwa beberapa tahun yang lalu ada instansi pemerintah yang mendapatkan predikat Disclaimer alias TMP bukan karena korupsi, melainkan karena data Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang masuk melalui instansi tersebut tidak dapat diyakini kebenarannya. Gambarannya adalah PNBP instansi tersebut 100 Miliar, tetapi yang bisa diyakini bahwa instansi tersebut telah memberikan layanan publik hanya 80 Miliar. Jadilah instansi itu mendapat predikat Disclaimer karena uang berlebih di kas negara.

Kenapa begitu? Setiap yang tercatat di Laporan Keuangan–apalagi di era Laporan Keuangan berbasis akrual–harus jelas posisinya. Kalau suatu PNBP itu dibayarkan masyarakat untuk sebuah jasa, maka ketika jasa pemerintah belum dituntaskan, uang PNBP yang sudah dibayar itu menjadi hutang jasa pemerintah. Ketika 20 Miliar uang yang ada tidak bisa ditelusuri status jasa yang harusnya diberikan pemerintah, pertanyaan lain jadi muncul. Jangan-jangan sebenarnya PNBP-nya hanya 80 Miliar? Atau malah jangan-jangan lebih dari 100 Miliar? Keyakinan pemeriksa–dalam hal ini BPK–adalah kuncinya.

Jadi begitulah, saya suka trenyuh banyak orang yang nggak begitu paham WTP, WDP, TW, hingga TMP tetapi menggunakan sesukanya. Apalagi di zaman pemilihan kepala daerah seperti sekarang, banyak data-data yang ada digunakan begitu saja tanpa dipahami lebih dahulu substansinya.

Pemeriksaan Kinerja merupakan pemeriksaan atas aspek ekonomi dan efisiensi, serta juga pemeriksaan atas aspek efektivitas nan lazim dilakukan untuk kepentingan manajemen oleh Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP).

Inti dari pemeriksaan kinerja ini adalah agar kegiatan yang dibiayai dengan keuangan negara maupun daerah diselenggarakan secara ekonomis dan efisien plus memenuhi sasaran secara efektif. Yang dilihat apakah hasil penggunaan anggaran seiring sejalan dengan tujuan yang hendak dicapai pada saat awal program itu ada, apakah penggunaannya 3E (ekonomis, efisien, dan efektif) atau tidak.

Begitu.

Gampangnya begini, saya berikan ilustrasi yang nyata. BPK pernah menyelenggarakan pemeriksaan kinerja pada BPJS Kesehatan, yang tentu saja menilai kinerja Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) secara keseluruhan. Nah, dalam pemeriksaan kinerja ini hubungannya banyak lembaga.

Dalam peraturan JKN ada lelang untuk obat-obat dalam Formularium Nasional (Fornas). Fornas garapan bersama Kementerian Kesehatan, BPJS, dan BPOM. Ada syarat bahwa obat agar masuk Fornas harus punya Nomor Izin Edar (NIE) BPOM. Nah, BPK pergi ke BPOM mengecek hal ini.

Kenapa harus dicek? Lha, misalkan suatu obat sudah masuk Fornas, tapi dalam periode itu NIE-nya kedaluwarsa pertanyaan yang muncul adalah bagaimana status stok obat yang sudah ada di Rumah Sakit? Boleh dipakai atau tidak? Kalau boleh, jadinya melanggar aturan BPOM. Kalau nggak, itu obat yang dibeli pakai uang negara bagaimana nasibnya? Yha, pertanyaan-pertanyaan itulah yang mengisi ruang kalbu pemeriksaan kinerja.

Hasil dari pemeriksaan kinerja ini juga tidak sembarangan. Di BPOM misalnya, dilakukan follow up berkali-kali dengan Pemerintah Daerah untuk menindaklanjuti rekomendasi BPK. BPK sendiri juga turun tangan mengawal follow up tersebut. Jadi nggak sembarangan kasih rekomendasi terus lepas tangan, lho.

bpk-kawal-harta-negara-acara-bpom-bali

Kegiatan FGD Membangun Kemitraan Pengawasan Obat dan Makanan Untuk Melindungi Kesehatan Masyarakat Serta Meningkatkan Daya Saing Produk Obat dan Makanan, sebagai tindak lanjut dari temuan pemeriksaan kinerja BPK di BPOM terutama terkait tindak lanjut hasil pengawasan di daerah. Sumber: metrobali.com

Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu adalah pemeriksaan di luar pemeriksaan keuangan dan kinerja, serta dapat merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk tujuan khusus tertentu sebagai tindak lanjut pemeriksaan yang telah dilakukan karena adanya hal penting yang harus diselesaikan. Misalnya, ada dugaan unsur pidana dalam tindakan keuangan suatu instansi atau juga memeriksa pelaksanaan suatu rekomendasi dari BPK kepada instansi terperiksa.

Webp.net-gifmaker (3)

Mengapa Keuangan Negara Harus Diperiksa?

Ini pertanyaan kunci yang menjadi sebab BPK ada dan eksis di Bendungan Hilir sana–maklum mantan tetangga, kak, dulu pernah tinggal di Jalan Danau Siawan.

Pemeriksaan perlu dilakukan agar tiap pihak yang mengelola uang negara selalu menjalankan amanat dengan sebaik-baiknya hingga membawa faedah yang sebesar-besarnya untuk rakyat. Bagaimanapun, pihak-pihak yang mengelola uang negara itu harus sadar dan mahfum bahwa mereka tidak dapat memanfaatkan uang yang dipercayakan rakyat kepada mereka itu secara tidak bertanggung jawab.

Kontrol diperlukan karena kalau tidak maka para pengelola itu akan memiliki kepemilikan yang besar pada uang rakyat itu. Ujung-ujungnya adalah memperkaya diri sendiri. Atau ya setidaknya salah urus. Sebagaimana yang kita lihat dalam korupsi sejak Orde Lama, Orde Baru, hingga sampai sekarang juga, sih.

Hulk menghajar Thor dan siapapun yang salah mengurus uang rakyat

Sekarang bayangkan kalau uang yang dipakai memperkaya diri para pengelola keuangan di masa silam itu dipakai bikin MRT seperti di Singapura. Penduduk Jakarta nggak akan kena macet karena pembangunan MRT yang terlambat seperti sekarang. Dahulu kala, banyak proyek pembangunan fiktif. Ada uang yang keluar, barangnya nggak ada. Begitulah faktanya.

Hadirnya BPK diharapkan dapat menjaga transparansi dan akuntabilitas keuangan negara mengingat pengelolaan keuangan negara yang bertanggung jawab merupakan prasyarat bagi sehatnya ekonomi dan pembangunan nasional.

Transparansi dan akuntabilitas keuangan negara akan memudahkan pemerintah mengetahui tiap saat kondisi keuangannya sendiri sehinga pada akhirnya dapat melakukan perencanaan pendanaan pembangunan sekaligus memonitor pelaksanaan secara baik. Kita punya pengalaman buruk pada 1997-1998 silam ketika pemerintah tidak memiliki informasi dan kontrol atas posisi keuangan sendiri, yang tersebar di banyak instansi dan BUMN/BUMD, plus rekening individu para pejabat.

Sekarang? Tenang saja, sekadar nitip pengembalian belanja bulan Desember di rekening bendahara buat kemudian bulan Januari disetor ke negara sudah bisa dianggap temuan BPK, lho!

Oke, dari tadi cerita BPK terus lantas pasti banyak yang masih…

Rata-rata orang kita memang suka bingung kalau tidak ada wujudnya. Polisi dianggap nggak ada kalau nggak nangkap maling. Kan gitu. Maka, tanpa berlama-lama lagi, Istoyama siap memaparkan infografisnya yang disarikan dari Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I Tahun 2017.

Bagaimana BPK Mendorong Akuntabilitas?

Ada begitu banyak definisi tentang akuntabilitas, tetapi inti dari semuanya adalah pertanggungjawaban. Lantas apa sih yang harus didorong oleh BPK untuk meningkatkan akuntabilitas keuangan negara? Jawabannya, banyak.

Sebagai pemeriksa sekaligus pihak yang bisa mengubah Laporan Keuangan Unaudited tadi menjadi Laporan Keuangan Audited, BPK pasti mampu menelaah soal bagaimana suatu instansi melakukan pencatatan aset tetap maupun aset lancar, bagaimana suatu instansi menggunakan mata anggaran yang benar untuk sebuah transaksi dan kalaupun salah BPK akan bisa duduk bersama instansi dan Kementerian Keuangan untuk membahas jurnal guna memperbaiknya, hingga bagaimana suatu kerugian maupun potensi kerugian negara harus dikembalikan kepada negara melalui cara-cara yang juga baik dan benar.

Percayalah, saya pernah berminggu-minggu pulang malam demi membahas jurnal-jurnal koreksi bersama dengan rekan dari Kementerian Keuangan, teman-teman dari Bagian Keuangan, beserta juga pemeriksa BPK dalam kesempatan tertentu. Semuanya adalah demi pertanggungjawaban uang negara agar baik dan benar. Biar saya nggak malu sama anak-cucu kelak.

Untuk bisa mendorong akuntabilitas ini, BPK tentu mempunyai jurus-jurus yang luar biasa. Jurus pertama adalah akses penuh pada laporan keuangan dan data apapun yang dibutuhkan. Kalau ada auditan yang menyembunyikan data bisa dibawa ke Pak Polisi, lho. Jadi benar-benar harus terbuka. Toh kalau jujur ngapain harus takut? Jurus kedua adalah hubungan yang baik dengan pihak ketiga. Saya pernah berkali-kali ada dalam posisi BPK mengkonfirmasi temuan kepada pihak ketiga, yakni kontraktor maupun pelaksana pekerjaan lainnya, dan nyaris tidak pernah ada marah-marah, ada gontok-gontokan, apalagi bakar-bakaran. Jadi, setiap ke penyedia dipastikan modalnya kuat. Sedangkan, jurus terakhir adalah hubungan yang baik dengan auditan. Ini penting, karena hubungan baik instansi pemerintah dengan BPK menjadi landasan kerja yang baik demi terwujudnya laporan keuangan yang istimewa dan pada akhirnya mewujudkan pengawalan harta negara yang sebenar-benarnya.

Astra Dalam Perspektif Rantai Pasokan

Sumber: astra.co.id

Tahun 2017 ini, rasanya tidak ada rakyat Indonesia yang tidak pernah menggunakan produk yang berkaitan dengan Astra. Bukan apa-apa, Astra kini telah bertumbuh menjadi 212 anak perusahaan dengan produk yang tidak jauh-jauh dari rakyat. Dapat menjadi sedemikian dekat dengan rakyat Indonesia tentu bukan perkara mudah. Semuanya adalah rintisan dan perjalanan selama 60 tahun lamanya. Sebuah usia matang kalau menyoal manusia dan usia lewat beberapa krisis kalau menyoal perusahaan.

Astra dimulai dari sebuah perusahaan dagang pada tahun 1957. Milestones Astra dimulai pada tahun 1969 ketika dipercaya menjadi distributor kendaraan Toyota di Indonesia. Setahun kemudian, Astra ditunjuk sebagai distributor tunggal untuk sepeda motor Honda dan mesin perkantoran Xerox. Pada tahun 1970 tersebut, Indonesia sedang giat-giatnya membangun sesudah pergantian kekuasaan yang menguras tenaga bangsa.

Setahun sesudah dipercaya sebagai distributor, berdirilah PT. Federal Motor dan PT. Toyota Astra Motor (TAM). Keduanya kemudian menjadi payung agen tunggal untuk sepeda motor Honda dan mobil Toyota. Dalam perkembangan berikutnya, Astra juga menjadi distributor tunggal Daihatsu yang dinaungi PT. Daihatsu Indonesia.

Sumber: astra.co.id

Pada tahun 1981, Astra semakin mengemuka kala TAM meluncurkan mobil Kijang, sebuah mahakarya pada zamannya yang lantas menjelma jadi kesayangan banyak orang di Indonesia. Sesudahnya, Astra terus mengembangkan diri hingga pada akhirnya, sebagai disebut di atas bahwa usaha Astra telah mencapai 212 anak perusahaan, 7 segmen usaha, dan 218.773 karyawan.

Dengan usaha yang sedemikian besar, Astra juga terkena dampak resesi tahun 1998. Pada tahun 1999, Astra menandatangani kesepakatan restrukturisasi hutang tahap pertama. Setahun kemudian, restrukturisasi juga dilakukan dalam bisnis sepeda motor dan bisnis BMW. Tidak lama berselang, Astra juga menandatangani kesepakatan restrukturisasi hutang tahap kedua yang diikuti dengan tindakan lain seperti restrukturisasi bisnis Daihatsu, penawaran saham terbatas 1,4 miliar lembar saham, serta divestasi PT. Pramindo Ikat Nusantara dan PT. Sumalindo Lestari Jaya.

Perbaikan dunia politik dan ekonomi Indonesia juga diikuti oleh Astra. Terbukti, pada tahun 2004 yang merupakan tahun politik peralihan pemerintahan dari Megawati Soekarnoputri ke Susilo Bambang Yudhoyono, Astra melakukan percepatan pembayaran restrukturisasi hutang sekaligus mengambil 31,5 persen kepemilikan di Bank Permata. Tidak lama kemudian, Astra juga memasuki bisnis jalan tol dengan akuisisi 34 persen saham PT. Marga Mandala Sakti.

Peningkatan bisnis tentu harus diseimbangkan dengan tanggung jawab sosial perusahaan. Maka pada tahun 2009, Astra Group meluncurkan SATU (Semangat Astra Terpadu Untuk) Indonesia sebagai payung kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan yang berkelanjutan.

Sumber: astra.co.id

Secara bisnis, Astra telah bertumbuh menjadi perusahaan yang mampu mengintegrasikan konsep supplier dan pelanggan yang berantai secara optimal. Soal begini pernah saya tuliskan dalam beberapa tulisan tentang perencanaan produksi yang juga tayang di blog ini.

Sebagai contoh, Astra mengelola merk mobil Toyota, Daihatsu, Isuzu, UD Trucks, Peugeot, dan BMW. Astra juga punya Honda di level Sepeda motor. Untuk mendukung bisnis ini, Astra punya Astra Otoparts. Saya jadi ingat dua mantan teman kos di Cikarang. Riyan di Astra Honda Motor (AHM) dan Mas Santo di Astra Otoparts (AOP). Keduanya adalah orang-orang yang kalau sudah kerja, gila-gilaan.

Nah, ada kendaraannya, tentu harus ada pembelinya. Namun kita tahu bahwa membeli kendaraan bermotor tidak semudah beli cabe di pasar maupun beli Bitcoin. Maka, Astra memiliki perusahaan pembiayaan untuk tiga jenis produknya. Ada Astra Credit Company (ACC) untuk mobil, FIFGROUP untuk sepeda motor, serta Surya Artha Nusantara Finance dan Komatsu Astra Finance untuk alat berat. Di samping itu, Astra juga punya Astra Life dan Asuransi Astra. Ngomong-ngomong, saya pemegang polis Astra Life. Dan preminya menurut saya ringan dan tidak memberatkan kantong di era gaji PNS sudah 3 tahun tidak naik ini.

Guna menunjang bisnis serta mengikuti perkembangan Indonesia yang begitu gila membangun infrastruktur, Astra juga punya Astra Infra. Sekaligus untuk di bidang logistik, Astra memiliki Serasi Autoraya. Patut dicatat bahwa 2 hal ini adalah concern Presiden Jokowi dalam periode kepemimpinannya.

Astra Infra inilah yang kemudian ada di Tol Tangerang Merak, Tol Kunciran-Serpong, Jakarta Outer Ring Road 2, Tol Jombang-Mojokerto, Tol Semarang-Solo, hingga Tol Serpong-Balaraja. Oh, termasuk juga di Tol Cikopo-Palimanan yang panjang dan lurus itu. Astra ada dalam konteks konsesi ya, jadi bedakan soal urusan jual-menjual infrastruktur. Kadang saya sedih di negeri ini banyak orang kurang paham tapi bagian protes hobinya duluan.

Terakhir, Astra juga merambah properti. Dengan 218.773 karyawan pada 212 anak perusahaan dalam 7 segmen usaha, sudah barang tentu Astra butuh gedung, termasuk karyawannya butuh tempat tinggal. Maka penyediaan gedung yang dikelola sendiri dan sebagian diantaranya bisa dialihkan jadi duit, tentu menjadi wujud pengelolaan yang katanya CEO saya dulu zaman di swasta sebagai Good Corporate Governance (GCG).

Dalam perspektif rantai pasokan, mari kita ambil contoh AOP dan AHM. AHM butuh pasokan sparepart yang berkualitas untuk produk yang mumpuni. Dalam konteks ini, AHM sebagai produsen dan masyarakat konsumen. AHM tunduk pada keinginan konsumen untuk produk yang baik.

Sumber: astra.co.id

Balik ke dapur pabrik, AHM kemudian menjadi konsumen untuk produk sparepart yang merupakan bahan baku sepeda motor bikinan AHM. Produsennya? Untuk sebagian adalah AOP. Nah, berada dalam satu naungan Astra meminimalkan gap kualitas yang sering terjadi dalam hubungan pemasok dan pelanggan. Dengan demikian, ada jaminan lebih bahwa bagian ini kualitas tidak terganggu.

Konsep ini adalah ideal dan memang hanya bisa diraih oleh perusahaan yang sudah punya sejarah panjang dan kekuatan modal mumpuni, ditunjang tata kelola perusahaan yang juga baik. Kalau tidak, berada dalam satu wadah justru membuat AOP misalnya permisif memberi barang yang buruk pada AHM. Toh, saudara. Nyatanya, kini kita telah melihat Astra yang sesuai butir kedua Catur Dharma: memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.

Menjadi seperti Astra adalah cita-cita banyak korporasi. Maka, dalam usia ke-60, Astra tentu harus terus berbenah mempertahankan yang sudah ada dan meningkatkan terus bisnisnya kemana-mana. Namun, jangan lupa bahwa CSR dalam Satu Indonesia juga tidak kalah pentingnya.

Selamat ulang tahun ke-60 untuk Astra. Semoga selalu menginspirasi dalam perjalanan ke depan.

#JadiBisa Asyik Pesan Tiket Kereta Api Bersama Traveloka

Salah satu keindahan hidup adalah bercengkerama dengan Istoyama, buah hati saya yang usia begitu muda belia dalam urusan hidup di dunia. Obrolan kami itu begitu cair dengan kode haw-haw-haw yang mungkin sama-sama tidak kami mengerti, tetapi kami selalu mencoba untuk saling memahami.

Termasuk ketika pada suatu malam, sepulang kerja, saya mengisahkan padanya beberapa peristiwa jelang kelahirannya.

“Jadi gini, Nak. Sewaktu kamu masih orok, Bapak dan Mamah memang memutuskan Bandung sebagai tempat kelahiranmu dengan berbagai pertimbangan yang bisa dibaca dalam Cerita Suami Season I. Semua sudah Bapak tulis di posting itu. Konsekuensinya, Bapak kudu siap bolak-balik Jakarta-Bandung tiap pekan. Sebenarnya, nggak bolak-balik juga nggak apa-apa, asalkan rela melepaskan keimutan kamu.”

“Haw-haw-haw…” ujar Istoyama.

Saya lantas menyambung, “Bapak sih, No! Maka, setiap Jumat sore atau malam Bapak sudah harus punya tiket Kereta Api ke Bandung dan sebaliknya saya juga harus punya tiket pulang ke Jakarta untuk Minggu malam atau Senin dini hari. Sebuah keruwetan tersendiri yang bahkan sampai membuat Bapak bikin tabel yang terdiri dari hari dan tanggal, nama kereta, dan kode booking mengingat pada suatu periode Bapak punya 8 tiket perjalanan, alias 4 kali pp yang lumayan bikin bingung saat di depan counter check in. Apalagi, tiketnya bervariasi dari Argo Parahyangan baik biasa, premium, maupun fakultatif, serta satu lagi Serayu.

“Hao-hao. Haw..”

“Untunglah, Nak, dalam era ‘kids zaman now’, semuanya telah dipermudah sebagaimana pipis telah dipermudah dengan urinoir otomatis atau kamu bisa pipis biasa saja dalam lindungan diapers. Parameter kemudahan yang Bapak bilang tadi tampak dalam hal mempersiapkan tiket perjalanan menggunakan layanan tunggal PT Kereta Api Indonesia (KAI) ini.”

Kepala gundulnya usrek-usrek di kasur, antara haus tapi masih ingin mendengarkan cerita Bapak.

“Ya, sekarang tidak perlu datang ke stasiun dan mengisi form sambil berdesak-desakan di loket stasiun ala generasi 90-an karena PT KAI telah menjalin kemitraan dengan banyak penyedia, salah satunya Traveloka yang pasti semua orang sudah tahu. Blog Bapak saja sudah berulang kali mengulas layanan yang tadinya adalah tempat paling yahud mencari harga tiket dan kini menjelma semakin komplit dengan aneka layanan yang bikin kita #JadiBisa macem-macem. Salah satunya, yha, tiket kereta api.”

Mata Istoyama melotot, melihat ke sekeliling. Sejurus kemudian keluarlah gumoh. Duh.

Sembari mengambil tisu dan mengelap gumohnya, saya berkata, “Traveloka itu sponsor Liga 1 dan partner resmi KAI. Jadi, dipastikan terpercaya dan tiket yang dibeli di Traveloka dipastikan langsung terkoneksi ke database KAI sehingga tiket yang kita dapatkan di email maupun di app adalah tiket beneran, bukan hoax kayak banyak hal di zaman sekarang, Nak.”

“Haw-haw-haw-haw?” Istoyama bersuara yang saya terjemahkan sebagai, “Lantas, mengapa kita kudu menggunakan Traveloka, Pak?”

“Sederhana saja, Nak. Traveloka menawarkan kemudahan-kemudahan dalam penggunaan baik aplikasi maupun jika pakai laptop. Selain juga layanannya yang sudah dikenal responsif. Salah satu yang menarik adalah kita mudah untuk memasukkan tujuan. Semisal Bapak mengetik ‘Jakarta’ dalam pencarian, maka kita bisa mendapati pilihan stasiun yang tersedia di Jakarta, mulai dari Gambir, Pasar Senen, hingga Jatinegara. Sebaliknya, ketika Bapak mengetik Cimahi, langsung muncul tulisan ‘Bandung’ dengan ‘CMI’ di bawahnya. Bagi yang sering beli tiket seperti Bapak mungkin nama stasiun bukan masalah karena sudah jadi hafalan. Akan tetapi, bagi mahasiswa yang mau interview dari Jogja ke Bandung, misalnya, tentu tidak semudah Bapak. Artinya, kemudahan yang diberikan Traveloka akan sangat membantu dalam pencarian.”

Saya kemudian melanjutkan, “Begitu stasiun awal dan akhir sudah dimasukkan, ada fitur lain yang juga bisa mempermudah yakni filter. Filternya unik dan khas Traveloka karena dapat mengelompokkan keberangkatan ke pagi, siang, atau malam. Ini juga mungkin tidak masalah jika tiada bagi orang-orang yang sudah paham rute. Akan tetapi, merupakan fitur yang sangat ampuh bagi yang sekali-kali jalan.”

“Selain itu, Nak, Traveloka juga menyediakan Passenger QuickPick jika kita menggunakan aplikasi yang dapat dipakai di PlayStore dan AppStore. Beli tiket kereta api itu agak ribet, lho, karena kudu mengisi nama lengkap–dan benar–berikut nomor KTP yang panjang minta ampun itu. Dengan Passenger QuickPick, Bapak tidak perlu lagi mengeluarkan KTP, menaruh di atas meja, mengetikkan nomor KTP, kemudian KTP-nya malah hilang. Kan kasihan.”

“Haaawww….”

“Traveloka juga menyediakan fitur pilih kursi sehingga yang berpasang-pasangan tetap bisa berduaan dan bikin iri hati depan dan belakangnya. Nanti yang semacam ini akan kita gangguin dengan paripurna. Fitur yang ini menurut Bapak juga disajikan dengan responsif dan mudah, terutama bagi perjalanan yang lagi sepi dan bisa eksplorasi gerbong demi gerbong. Oya, untuk tips naik kereta api ke Bandung utamanya kelas ekonomi non premium, jika dari Jakarta ke Bandung pilihlah nomor besar dan sebaliknya dari Bandung ke Jakarta pilih nomor kecil. Niscaya perjalanan kita tidak akan terbalik, Nak. Untuk premium, Bapak belum dapat polanya karena beberapa kali naik beda melulu.”

Istoyama tampak sudah cukup lelah mendengar kisah Bapak. Maklum, dia masih begitu muda belia.

“Nah, mengingat jarak Jakarta-Bandung terbilang dekat dan pekerjaan Bapak memang suka aneh-aneh, jamnya seringkali perjalanan Bapak untuk melihat kamu butuh penyesuaian yang mepet sehingga kadang baru dapat kepastian jam 2-3 siang untuk berharap bisa berangkat jam 6 sore karena langsung dari kantor. Untunglah, Traveloka menyediakan layanan bisa order mepet hingga 3 jam sebelum keberangkatan, sesuatu yang menjadi keistimewaan dari pesan tiket kereta api di Traveloka. Selain itu, Nak, Traveloka juga ada diskon channel dan kode unik yang jatuhnya bukan menambah, tapi mengurangi tagihan. Kan sisanya lumayan buat tambah-tambah beli popok kamu.”

“Haw-haw-haw. Ihik-ihik-ihik. Huwaaaa…..”

Sumber: @ariesadhar

Istoyama sudah menangis, setidaknya urusan Bapak sudah kelar karena habis ini akan muncul Mamah dengan ASI-nya. Nggak apa-apa, tugas Bapak ya beginilah, mengajarkan anak agar #JadiBisa mandiri dan tidak netek saja dengan orangtua. Supaya nanti kalau sudah menikah sekalipun, Istoyama bisa hidup di atas kakinya sendiri.

Harbolnas di Shopback: Mempersiapkan Istoyama Sebagai YouTuber

Sejak Istoyama masih berada di dalam kandungan, saya dan istri sering berdebat perihal hal krusial: ‘jadi apa Istoyama kelak?’. Istri saya keukeuh bahwa Istoyama akan menjadi master chef junior, sementara saya cenderung bahwa Istoyama akan menjadi YouTuber. Lha, hari gini jadi YouTuber kan lebih gampang dari masuk TK. Setidak-tidaknya untuk menjadi YouTuber tidak perlu tes calistung.

Untunglah ada gelaran besar nan rutin di Indonesia, namanya Hari Belanja Online Nasional alias Harbolnas. Kalau kemarin-kemarin belanja online yang sekadar belanja saja, kini sudah ada plus-plusnya, yakni penuh cashback bersama Shopback. Jadi sesudah belanja, kita akan dapat cashback dalam jumlah bervariasi dan lumayan buat belanja lagi.

Bertepatan dengan Harbolnas, kiranya pas bagi saya untuk mempersiapkan Istoyama sebagai YouTuber kelas wahid. Dalam bodinya nan 9 bulan itu, rasanya Istoyama sudah sangat pantas untuk berbicara ‘haw-haw-haw’ kemudian direkam dan dipastikan akan menjaring follower begitu banyak.

Pertama-tama, guna menunjang mobilitas Istoyama, tentu saja diperlukan kereta dorong. Pilihan bapak sebagai pria nan hidup sederhana akhirnya ditemukan di Blibli berupa Baby Elle Citilite 2 S606 Kereta Dorong Bayi – Beige, yang dengan harga Rp965.900 sudah menampilkan kecakepannya sebagai penunjang calon YouTuber kelas wahid bermobilisasi. Sekali lagi, kereta dorong bayi ini penting karena punggung bapaknya sudah menua dan cepat lelah karena kebanyakan perjalanan dinas. Beuh.

Nah, sebagai calon YouTuber zaman now, Istoyama juga membutuhkan layar hijau yang merupakan barang wajib Vlogger masa kini. Melalui penelusuran di Tokopedia bisa ditemukan ada green screen 3×5 meter kain background yang berharga Rp538.700. Jadi, Istoyama nanti bisa guling-guling di kain hijau dengan bahagia dan kemudian melalui proses editing, saya akan mengganti green screen dengan adegan di Asgard. Mantap pokoknya.

Tentu saja Istoyama tidak telanjang, harus pakai baju. Dan karena ini ceritanya mau jadi YouTuber ciamik, tentu bajunya juga harus ciamik pula. Untuk itulah, Istoyama perlu menggunakan atasan yang mantap berupa Tiger T-Shirt and Shirt Set yang disediakan oleh Mothercare. Dengan atasan seharga Rp329.000 ini, dijamin para calon follower akan tambah kesengsem. Tentu saja tambah, karena dengan pipi gembilnya, secara default Istoyama sudah bikin kesengsem banyak orang. Untuk celana, di Lazada saya bisa ambil Baby Boy Hot Printed Pants Casual Trousers Fashion Tops Children Clothing Harem Pants dengan harga Rp225.000.

Asli ganteng jadinya.

Bagian yang penting lagi tentu saja kamera dan tripodnya. Masak mau bikin Vlog tanpa kamera? Untuk itu, Shopback juga menyediakan Bhinneka sebagai tempat untuk cari yang asyik-asyik. Saya lantas menemukan kamera saku yang cukup pas untuk kantong dan pas juga secara spesifikasi yaitu PENTAX Optio LS465 – Amethyst Purple yang harganya Rp1.153.900. Plus, supaya bisa berdiri dengan baik dan benar, masih di Bhinneka, saya lengkapi kamera dengan tripod JOBY Gpod Mini Magnetic seharga Rp360.000. Dengan modal mobilitas yang cukup plus kamera nan mumpuni, Istoyama telah siap untuk syuting. Bagaimanapun, syuting akan lebih asyik jika berada di tempat-tempat nan menarik. Sekalian Istoyama jadi travel vlogger, gitu. Maka kita perlu tiket pesawat!

Ehm, Shopback ternyata tidak sekadar beli-beli barang saja. Bahkan Garuda Indonesia saja menyediakan promo Garuda Indonesia diskon s/d 20% plus cashback Rp150.000 jika bertransaksi menggunakan Shopback. Dengan fasilitas ini, Istoyama bisa melanglang buana ke Jogja, tempat bapaknya merintis keterpurukan kehidupan.

Sampai di Jogja, Istoyama bisa langsung dijemput dengan sewa mobil yang bisa diperoleh via Tiket.com atau naik Grab juga bisa, tapi Istoyama tidak mau jalan sampai Imigrasi. Jauh, kak. Mobil sewaan segera bisa melaju ke hotel yang juga bisa diperoleh di Shopback melalui Hotels.com. Duh, ciamik sekali, kan? Apa saja ada, lho.

Semua benda-benda untuk Istoyama itu tersedia secara online, sehingga untuk meraihnya harus memanfaatkan momentum setahun sekali kala Harbolnas, terlebih ditunjang dengan Shopback yang siap menggelontorkan cashback tanpa henti!

Baiklah, sekarang saya mau mempersiapkan Istoyama lahir dan batin guna siap-siap menjadi YouTuber terkemuka yang ramah pada para subscribernya. Tentu saja semuanya ditunjang oleh kemudahan yang disediakan oleh Shopback.

Media Sosial dan Kisah Kecerdasan Jempol

Picture1

Salah satu problema dalam hidup nan kekinian selain antre beli bubur ayam di belakang mbak-mbak yang orderannya custom (nggak pakai kacang, kacangnya dipisah, nggak pakai daun bawang, nggak pakai lama, dll) sejatinya adalah perihal kecerdasan di media sosial. Benda yang 10 tahun silam baru sebatas bahan menggebet dengan mengunduh seluruh foto gebetan dari Friendster dan menjadikannya desktop background, kini telah menjadi begitu menggurita sekaligus menjadi medium bagi banyak orang untuk memperlihatkan kecerdasannya.

Kenapa saya perlu menaruh perhatian tertentu tentang kecerdasan? Sebenarnya sepele, suatu kali saya diberi tahu oleh salah satu awardee beasiswa paling hits di Republik Indonesia perihal status Facebook seorang awardee lain yang kebetulan sama-sama berada di suatu negara di Eropa. Status Facebook itu berkaitan dengan bencinya si awardee lain itu pada Presiden kita, Joko Widodo. Kadang-kadang geli juga, masalah Jokowers, Cebongers, dan kawan-kawan itu tadinya saya pikir hanya perdebatan di dalam negeri. Kiranya saya salah karena bahkan mahasiswa S2 di tanah Eropa asal Indonesia saja ikut-ikutan begitu.

Saya merasa perlu membawa-bawa Presiden Jokowi dalam konteks bermedia sosial. Sepele saja, sebelum Jokowi muncul, seingat saja Facebook itu adem, Twitter itu tenang, apalagi Path, belum dikenal. Begitu Jokowi muncul, media sosial mendadak menjadi dunia nan terbelah. Salah satu yang patut diingat adalah penyebaran berita tentang ibunda Jokowi yang orang Kristen. Ketika sang penyebar dan ternyata adalah seorang raja dikonfirmasi, dia bilang asal informasinya adalah dari internet. Ya, wadah media sosial berada. Salah satu yang juga ramai adalah perihal luasan wilayah banjir yang dibandingkan antara saat Jokowi menjabat dengan sebelumnya. Entah bagaimana media sosial yang tadinya tenang bak kolam renang hotel menjadi penuh gejolak bagaikan Pantai Panjang di Bengkulu yang ombaknya besar-besar.

Selengkapnya!

Daftar Penyesalan: 6+1 Tempat Impian Untuk Dikunjungi di Sumatera Selatan

SONY DSC

Maret 2009, kali pertama saya melihat kokohnya Jembatan Ampera dari balik awan. Pertama kalinya pula mata saya mengagumi lekuk Sungai Musi nan mengagumkan itu. Dipadu garis nasib, akhirnya pertemuan pertama itu mengikat saya hingga akhirnya datang kembali ke Bumi Sriwijaya pada bulan Mei 2009. Kali ini sebagai manusia yang hendak bermukim di kota Palembang.

FILE048-edit

Sebuah perjodohan yang berusia 2 tahun nan sangat membekas bagi saya. Meski karena berpisah dengan Bumi Sriwijaya-lah saya jadi bisa melihat sisi lain Indonesia mulai Kendari sampai Papua. Maka, bahkan ketika sudah hampir lima tahun saya meninggalkan Bumi Sriwijaya pada umumnya dan Palembang pada khususnya, saya selalu punya kerinduan khusus pada Bumi Wong Kito Galo ini. Apalagi, banyak sekali tempat yang belum saya singgahi selama saya menjadi manusia yang minum air Musi. Tempat-tempat yang pada akhirnya berakhir sebagai perencanaan dari sekadar makan siang di kantin, tanpa sempat menjadi realisasi.

Tempat apa saja itu? Payo dijingok!

Selengkapnya!

Acer Liquid Z320: Sama-Sama Tenang, Sama-Sama Senang

Suatu kali, pada suatu grup WhatsApp tetiba muncul percakapan begini:

WhatsApp EditHayo, mengingat jumlah grup WhatsApp di gawai masing-masing pasti telah melebihi jumlah mantan kekasih, hampir pasti kejadian kayak di grup FPL Ngetan-Ngulon itu tadi pernah dialami oleh banyak pengguna ponsel pintar.

Itu tadi baru kepencet teks. Bagaimana dengan yang semacam ini:

LINE lengkapMengandalkan falsafah ‘masih untung’, maka masih untung yang diunggah adalah foto nggak jelas. Bagaimana jika yang terunggah oleh si Tintus–anaknya Veren–tadi adalah file nan sangat personal, tapi terunggah ke grup kantor, misalnya. Yang ada bos besarnya, pula. Berabe kan?

Perkara anak memegang gawai bukanlah hal langka di era kekinian. Meski di Facebook berseliweran ajakan untuk mengembalikan anak-anak ke main pasir, yang terjadi kemudian adalah si anak main pasir sambil bawa gadget bapaknya. Lebih serem, mungkin pikir bapaknya.

Selengkapnya klik DISINI

Custom Tshirt dan Hadiah LDR Lainnya

Sesungguhnya, saya masih heran dengan manusia-manusia yang menjalani Lelah Dikibulin Relationship alias LDR. Bagaimana mungkin menjalin kisah kasih di selokan dengan seseorang yang nggak mesti ada di sisi? Tapi, ya gitu. Ada saja yang memilih jalan itu, dan ada banyak sekali yang sukses. Tentu saja karena visi hubungan LDR itu rapi dan mantap seperti para pengusaha kaos custom. Contoh suksesnya, ya setidaknya saya setahun LDR London-Jakarta, dan baek-baek saja, seperti kata Kak Pinkan Mambo.

Nah, namanya LDR itu harus ada esensi kejutannya. Tentu saja kejutan yang dimaksud bukan saja tiba-tiba kirim design kaos undangan pernikahan yang isinya antara dia dan orang lain. Namun kejutan berupa hadiah-hadiah sederhana nan kece merona yang dapat membuat pasangan seolah-olah ada di sisi dan bisa dikecup.

Muach!

Terus apa dong yang bisa dijadikan hadiah LDR? Ini ada beberapa yang bisa saya sarankan. Oh, iya, mungkin saya bisa minta tolong dipahami bahwa LDR dalam tulisan ini tidak termasuk LDR Beda Rumah Ibadah, yha! Seriusan.

Bunga Bank
Ini khusus untuk diberikan kepada cewek. Tentu saja, kalau cowok mah lebih doyan diberikan kado berupa gadis bernama Bunga. *kemudian ditabok mbak pacar*.

bunga

Memberikan bunga itu sepintas sulit, apalagi bagi yang LDR-nya luar ngeri negeri. Namun enaknya dunia masa kini adalah banyak hal yang bisa di-online-kan, selain titip teman. Maka, dengan lancar dan bahagia saya pernah berhasil mengirimkan bunga kepada pacar di London, dan alhamdulilah dianya klepek-klepek. Uhuk!

Postcard
Yah, lagi-lagi ini khusus LDR luar negeri, soalnya kalau di Indonesia agak kurang biasa. Wong saya nyari kartu pos itu setengah mati, malah lebih mudah nyari Print Tshirt, lho. Padahal jelas-jelas saya nyari di kantor pos. Pos satpam.

images

Kado ini menarik apalagi ketika yang LDR-nya lagi di Eropa. Lagi di Hungaria tinggal mampir ke kantor pos, tinggal kirim deh ke Indonesia. Lagi di Roma, juga tinggal melakukan hal yang sama. Postcard itu boleh dibilang hadiah yang menarik untuk menandakan sedang LDR. Soalnya kalau nggak LDR, ngapain juga kirim-kiriman kartu pos?

Video
Merekam kegiatan sehari-hari dengan model tertentu lantas diunggah ke YouTube atau dikirimkan personal ke kekasih yang lagi jauh di mato juga adalah ide menarik. Lagipula di era kekinian, ngedit video itu semudah kita mencari Online Tshirt Creator.

images (1)

Semisal potongan-potongan 1 detik tapi di tempat-tempat yang berbeda, kirimkan testimoni atau ungkapan rindu kepada kekasih via video itu dan niscaya bakal bikin mbrebes mili yang air matanya dapat dihapus dengan kaos custom si kekasih.

Custom Tshirt
Nah, selain beli kembang online, kita juga bisa melakukan design Tshirt online. Dan lebih dari sekadar design your own Tshirt, kita juga bisa melakukan print kaos sekalian. So, desain dan print, lalu bayar dan kemudian pakai, deh. Semuanya itu bisa kita lakukan via utees.me

Di utees.me ini kita dapat memilih desain-desain kece seperti yang bisa kita simak disini. Namun kalau pengen desain Tshirt sendiri, itu juga bisa. Bahkan kalau desain kita laku dibeli orang, kita malah dapat reward sebesar 1,11 Dollar. Nah loh, lumayan bisa ngaku ke calon mertua kalau kita dibayar pakai Dollar, kayak ekspatriat.

Jadi, ketika melakukan desain Tshirt online via utees.me untuk kaos custom yang hendak kita hadiahkan kepada kekasih hati nun jauh disana, kita bisa pilih model. Kalau mau yang model biasa, reguler. Kalau pacarnya cewek, pilih Female. Nah jika pacarnya punya anak bocah, ambil Kids.

utees1

Dan jika kita agak keder kalau bikin kaos custom sendiri, bisa lho bikin desain kaos dengan template-template menarik yang sudah ada. Bisa juga mengunggah gambar sendiri, atau jika sekadar hendak berkata-kata bisa insert Text.

utees2

Oh, jangan lupa, kalau habis pasang template, nongol mbak-mbak kece ini:

utees3

Begitu desain selesai, kita bisa Save and Publish, atau kalau masih malu-malu unyu atau desainnya adalah foto kekasih ya tinggal Save As Private.

utees4

Soal privacy ini, begitu kita sumbit, muncul lagi si mbak-mbak kece untuk memberi peringatan tentang desain Tshirt online yang kita miliki:

utees5

Begitu selesai dan pengen diorder, harganya cukup 144 ribu rupiah saja. Itu kurang lebih setara uang harian PNS-PNS yang pada diklat di Cimory Ciawi. Jadi yah masih terjangkau, pokoknya.

utees6

Kita sudah berhasil difasilitasi untuk mengirimkannya kepada kekasih hati tanpa perlu repot-repot ke mamang-mamang sablon dengan kemungkinan kena minimum order dan kita pulang dalam tangis sambil membawa desain kaos yang sudah dibuat dengan sepenuh hati. Kan syedih. Hiks.

Buat yang LDR, nih contoh karya saya. Heuheu.

utees7

Nah, tunggu apalagi, berikan kejutan berupa Custom Tshirt yang kamu desain sendiri melalui online Tshirt creator kepada kekasih hati, niscaya LDR kamu bakal awet, alias bakal LDR terus. Eh, salah doa, yha?