Astra Dalam Perspektif Rantai Pasokan

Sumber: astra.co.id

Tahun 2017 ini, rasanya tidak ada rakyat Indonesia yang tidak pernah menggunakan produk yang berkaitan dengan Astra. Bukan apa-apa, Astra kini telah bertumbuh menjadi 212 anak perusahaan dengan produk yang tidak jauh-jauh dari rakyat. Dapat menjadi sedemikian dekat dengan rakyat Indonesia tentu bukan perkara mudah. Semuanya adalah rintisan dan perjalanan selama 60 tahun lamanya. Sebuah usia matang kalau menyoal manusia dan usia lewat beberapa krisis kalau menyoal perusahaan.

Astra dimulai dari sebuah perusahaan dagang pada tahun 1957. Milestones Astra dimulai pada tahun 1969 ketika dipercaya menjadi distributor kendaraan Toyota di Indonesia. Setahun kemudian, Astra ditunjuk sebagai distributor tunggal untuk sepeda motor Honda dan mesin perkantoran Xerox. Pada tahun 1970 tersebut, Indonesia sedang giat-giatnya membangun sesudah pergantian kekuasaan yang menguras tenaga bangsa.

Setahun sesudah dipercaya sebagai distributor, berdirilah PT. Federal Motor dan PT. Toyota Astra Motor (TAM). Keduanya kemudian menjadi payung agen tunggal untuk sepeda motor Honda dan mobil Toyota. Dalam perkembangan berikutnya, Astra juga menjadi distributor tunggal Daihatsu yang dinaungi PT. Daihatsu Indonesia.

Sumber: astra.co.id

Pada tahun 1981, Astra semakin mengemuka kala TAM meluncurkan mobil Kijang, sebuah mahakarya pada zamannya yang lantas menjelma jadi kesayangan banyak orang di Indonesia. Sesudahnya, Astra terus mengembangkan diri hingga pada akhirnya, sebagai disebut di atas bahwa usaha Astra telah mencapai 212 anak perusahaan, 7 segmen usaha, dan 218.773 karyawan.

Dengan usaha yang sedemikian besar, Astra juga terkena dampak resesi tahun 1998. Pada tahun 1999, Astra menandatangani kesepakatan restrukturisasi hutang tahap pertama. Setahun kemudian, restrukturisasi juga dilakukan dalam bisnis sepeda motor dan bisnis BMW. Tidak lama berselang, Astra juga menandatangani kesepakatan restrukturisasi hutang tahap kedua yang diikuti dengan tindakan lain seperti restrukturisasi bisnis Daihatsu, penawaran saham terbatas 1,4 miliar lembar saham, serta divestasi PT. Pramindo Ikat Nusantara dan PT. Sumalindo Lestari Jaya.

Perbaikan dunia politik dan ekonomi Indonesia juga diikuti oleh Astra. Terbukti, pada tahun 2004 yang merupakan tahun politik peralihan pemerintahan dari Megawati Soekarnoputri ke Susilo Bambang Yudhoyono, Astra melakukan percepatan pembayaran restrukturisasi hutang sekaligus mengambil 31,5 persen kepemilikan di Bank Permata. Tidak lama kemudian, Astra juga memasuki bisnis jalan tol dengan akuisisi 34 persen saham PT. Marga Mandala Sakti.

Peningkatan bisnis tentu harus diseimbangkan dengan tanggung jawab sosial perusahaan. Maka pada tahun 2009, Astra Group meluncurkan SATU (Semangat Astra Terpadu Untuk) Indonesia sebagai payung kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan yang berkelanjutan.

Sumber: astra.co.id

Secara bisnis, Astra telah bertumbuh menjadi perusahaan yang mampu mengintegrasikan konsep supplier dan pelanggan yang berantai secara optimal. Soal begini pernah saya tuliskan dalam beberapa tulisan tentang perencanaan produksi yang juga tayang di blog ini.

Sebagai contoh, Astra mengelola merk mobil Toyota, Daihatsu, Isuzu, UD Trucks, Peugeot, dan BMW. Astra juga punya Honda di level Sepeda motor. Untuk mendukung bisnis ini, Astra punya Astra Otoparts. Saya jadi ingat dua mantan teman kos di Cikarang. Riyan di Astra Honda Motor (AHM) dan Mas Santo di Astra Otoparts (AOP). Keduanya adalah orang-orang yang kalau sudah kerja, gila-gilaan.

Nah, ada kendaraannya, tentu harus ada pembelinya. Namun kita tahu bahwa membeli kendaraan bermotor tidak semudah beli cabe di pasar maupun beli Bitcoin. Maka, Astra memiliki perusahaan pembiayaan untuk tiga jenis produknya. Ada Astra Credit Company (ACC) untuk mobil, FIFGROUP untuk sepeda motor, serta Surya Artha Nusantara Finance dan Komatsu Astra Finance untuk alat berat. Di samping itu, Astra juga punya Astra Life dan Asuransi Astra. Ngomong-ngomong, saya pemegang polis Astra Life. Dan preminya menurut saya ringan dan tidak memberatkan kantong di era gaji PNS sudah 3 tahun tidak naik ini.

Guna menunjang bisnis serta mengikuti perkembangan Indonesia yang begitu gila membangun infrastruktur, Astra juga punya Astra Infra. Sekaligus untuk di bidang logistik, Astra memiliki Serasi Autoraya. Patut dicatat bahwa 2 hal ini adalah concern Presiden Jokowi dalam periode kepemimpinannya.

Astra Infra inilah yang kemudian ada di Tol Tangerang Merak, Tol Kunciran-Serpong, Jakarta Outer Ring Road 2, Tol Jombang-Mojokerto, Tol Semarang-Solo, hingga Tol Serpong-Balaraja. Oh, termasuk juga di Tol Cikopo-Palimanan yang panjang dan lurus itu. Astra ada dalam konteks konsesi ya, jadi bedakan soal urusan jual-menjual infrastruktur. Kadang saya sedih di negeri ini banyak orang kurang paham tapi bagian protes hobinya duluan.

Terakhir, Astra juga merambah properti. Dengan 218.773 karyawan pada 212 anak perusahaan dalam 7 segmen usaha, sudah barang tentu Astra butuh gedung, termasuk karyawannya butuh tempat tinggal. Maka penyediaan gedung yang dikelola sendiri dan sebagian diantaranya bisa dialihkan jadi duit, tentu menjadi wujud pengelolaan yang katanya CEO saya dulu zaman di swasta sebagai Good Corporate Governance (GCG).

Dalam perspektif rantai pasokan, mari kita ambil contoh AOP dan AHM. AHM butuh pasokan sparepart yang berkualitas untuk produk yang mumpuni. Dalam konteks ini, AHM sebagai produsen dan masyarakat konsumen. AHM tunduk pada keinginan konsumen untuk produk yang baik.

Sumber: astra.co.id

Balik ke dapur pabrik, AHM kemudian menjadi konsumen untuk produk sparepart yang merupakan bahan baku sepeda motor bikinan AHM. Produsennya? Untuk sebagian adalah AOP. Nah, berada dalam satu naungan Astra meminimalkan gap kualitas yang sering terjadi dalam hubungan pemasok dan pelanggan. Dengan demikian, ada jaminan lebih bahwa bagian ini kualitas tidak terganggu.

Konsep ini adalah ideal dan memang hanya bisa diraih oleh perusahaan yang sudah punya sejarah panjang dan kekuatan modal mumpuni, ditunjang tata kelola perusahaan yang juga baik. Kalau tidak, berada dalam satu wadah justru membuat AOP misalnya permisif memberi barang yang buruk pada AHM. Toh, saudara. Nyatanya, kini kita telah melihat Astra yang sesuai butir kedua Catur Dharma: memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.

Menjadi seperti Astra adalah cita-cita banyak korporasi. Maka, dalam usia ke-60, Astra tentu harus terus berbenah mempertahankan yang sudah ada dan meningkatkan terus bisnisnya kemana-mana. Namun, jangan lupa bahwa CSR dalam Satu Indonesia juga tidak kalah pentingnya.

Selamat ulang tahun ke-60 untuk Astra. Semoga selalu menginspirasi dalam perjalanan ke depan.

Advertisements

#JadiBisa Asyik Pesan Tiket Kereta Api Bersama Traveloka

Salah satu keindahan hidup adalah bercengkerama dengan Istoyama, buah hati saya yang usia begitu muda belia dalam urusan hidup di dunia. Obrolan kami itu begitu cair dengan kode haw-haw-haw yang mungkin sama-sama tidak kami mengerti, tetapi kami selalu mencoba untuk saling memahami.

Termasuk ketika pada suatu malam, sepulang kerja, saya mengisahkan padanya beberapa peristiwa jelang kelahirannya.

“Jadi gini, Nak. Sewaktu kamu masih orok, Bapak dan Mamah memang memutuskan Bandung sebagai tempat kelahiranmu dengan berbagai pertimbangan yang bisa dibaca dalam Cerita Suami Season I. Semua sudah Bapak tulis di posting itu. Konsekuensinya, Bapak kudu siap bolak-balik Jakarta-Bandung tiap pekan. Sebenarnya, nggak bolak-balik juga nggak apa-apa, asalkan rela melepaskan keimutan kamu.”

“Haw-haw-haw…” ujar Istoyama.

Saya lantas menyambung, “Bapak sih, No! Maka, setiap Jumat sore atau malam Bapak sudah harus punya tiket Kereta Api ke Bandung dan sebaliknya saya juga harus punya tiket pulang ke Jakarta untuk Minggu malam atau Senin dini hari. Sebuah keruwetan tersendiri yang bahkan sampai membuat Bapak bikin tabel yang terdiri dari hari dan tanggal, nama kereta, dan kode booking mengingat pada suatu periode Bapak punya 8 tiket perjalanan, alias 4 kali pp yang lumayan bikin bingung saat di depan counter check in. Apalagi, tiketnya bervariasi dari Argo Parahyangan baik biasa, premium, maupun fakultatif, serta satu lagi Serayu.

“Hao-hao. Haw..”

“Untunglah, Nak, dalam era ‘kids zaman now’, semuanya telah dipermudah sebagaimana pipis telah dipermudah dengan urinoir otomatis atau kamu bisa pipis biasa saja dalam lindungan diapers. Parameter kemudahan yang Bapak bilang tadi tampak dalam hal mempersiapkan tiket perjalanan menggunakan layanan tunggal PT Kereta Api Indonesia (KAI) ini.”

Kepala gundulnya usrek-usrek di kasur, antara haus tapi masih ingin mendengarkan cerita Bapak.

“Ya, sekarang tidak perlu datang ke stasiun dan mengisi form sambil berdesak-desakan di loket stasiun ala generasi 90-an karena PT KAI telah menjalin kemitraan dengan banyak penyedia, salah satunya Traveloka yang pasti semua orang sudah tahu. Blog Bapak saja sudah berulang kali mengulas layanan yang tadinya adalah tempat paling yahud mencari harga tiket dan kini menjelma semakin komplit dengan aneka layanan yang bikin kita #JadiBisa macem-macem. Salah satunya, yha, tiket kereta api.”

Mata Istoyama melotot, melihat ke sekeliling. Sejurus kemudian keluarlah gumoh. Duh.

Sembari mengambil tisu dan mengelap gumohnya, saya berkata, “Traveloka itu sponsor Liga 1 dan partner resmi KAI. Jadi, dipastikan terpercaya dan tiket yang dibeli di Traveloka dipastikan langsung terkoneksi ke database KAI sehingga tiket yang kita dapatkan di email maupun di app adalah tiket beneran, bukan hoax kayak banyak hal di zaman sekarang, Nak.”

“Haw-haw-haw-haw?” Istoyama bersuara yang saya terjemahkan sebagai, “Lantas, mengapa kita kudu menggunakan Traveloka, Pak?”

“Sederhana saja, Nak. Traveloka menawarkan kemudahan-kemudahan dalam penggunaan baik aplikasi maupun jika pakai laptop. Selain juga layanannya yang sudah dikenal responsif. Salah satu yang menarik adalah kita mudah untuk memasukkan tujuan. Semisal Bapak mengetik ‘Jakarta’ dalam pencarian, maka kita bisa mendapati pilihan stasiun yang tersedia di Jakarta, mulai dari Gambir, Pasar Senen, hingga Jatinegara. Sebaliknya, ketika Bapak mengetik Cimahi, langsung muncul tulisan ‘Bandung’ dengan ‘CMI’ di bawahnya. Bagi yang sering beli tiket seperti Bapak mungkin nama stasiun bukan masalah karena sudah jadi hafalan. Akan tetapi, bagi mahasiswa yang mau interview dari Jogja ke Bandung, misalnya, tentu tidak semudah Bapak. Artinya, kemudahan yang diberikan Traveloka akan sangat membantu dalam pencarian.”

Saya kemudian melanjutkan, “Begitu stasiun awal dan akhir sudah dimasukkan, ada fitur lain yang juga bisa mempermudah yakni filter. Filternya unik dan khas Traveloka karena dapat mengelompokkan keberangkatan ke pagi, siang, atau malam. Ini juga mungkin tidak masalah jika tiada bagi orang-orang yang sudah paham rute. Akan tetapi, merupakan fitur yang sangat ampuh bagi yang sekali-kali jalan.”

“Selain itu, Nak, Traveloka juga menyediakan Passenger QuickPick jika kita menggunakan aplikasi yang dapat dipakai di PlayStore dan AppStore. Beli tiket kereta api itu agak ribet, lho, karena kudu mengisi nama lengkap–dan benar–berikut nomor KTP yang panjang minta ampun itu. Dengan Passenger QuickPick, Bapak tidak perlu lagi mengeluarkan KTP, menaruh di atas meja, mengetikkan nomor KTP, kemudian KTP-nya malah hilang. Kan kasihan.”

“Haaawww….”

“Traveloka juga menyediakan fitur pilih kursi sehingga yang berpasang-pasangan tetap bisa berduaan dan bikin iri hati depan dan belakangnya. Nanti yang semacam ini akan kita gangguin dengan paripurna. Fitur yang ini menurut Bapak juga disajikan dengan responsif dan mudah, terutama bagi perjalanan yang lagi sepi dan bisa eksplorasi gerbong demi gerbong. Oya, untuk tips naik kereta api ke Bandung utamanya kelas ekonomi non premium, jika dari Jakarta ke Bandung pilihlah nomor besar dan sebaliknya dari Bandung ke Jakarta pilih nomor kecil. Niscaya perjalanan kita tidak akan terbalik, Nak. Untuk premium, Bapak belum dapat polanya karena beberapa kali naik beda melulu.”

Istoyama tampak sudah cukup lelah mendengar kisah Bapak. Maklum, dia masih begitu muda belia.

“Nah, mengingat jarak Jakarta-Bandung terbilang dekat dan pekerjaan Bapak memang suka aneh-aneh, jamnya seringkali perjalanan Bapak untuk melihat kamu butuh penyesuaian yang mepet sehingga kadang baru dapat kepastian jam 2-3 siang untuk berharap bisa berangkat jam 6 sore karena langsung dari kantor. Untunglah, Traveloka menyediakan layanan bisa order mepet hingga 3 jam sebelum keberangkatan, sesuatu yang menjadi keistimewaan dari pesan tiket kereta api di Traveloka. Selain itu, Nak, Traveloka juga ada diskon channel dan kode unik yang jatuhnya bukan menambah, tapi mengurangi tagihan. Kan sisanya lumayan buat tambah-tambah beli popok kamu.”

“Haw-haw-haw. Ihik-ihik-ihik. Huwaaaa…..”

Sumber: @ariesadhar

Istoyama sudah menangis, setidaknya urusan Bapak sudah kelar karena habis ini akan muncul Mamah dengan ASI-nya. Nggak apa-apa, tugas Bapak ya beginilah, mengajarkan anak agar #JadiBisa mandiri dan tidak netek saja dengan orangtua. Supaya nanti kalau sudah menikah sekalipun, Istoyama bisa hidup di atas kakinya sendiri.

Harbolnas di Shopback: Mempersiapkan Istoyama Sebagai YouTuber

Sejak Istoyama masih berada di dalam kandungan, saya dan istri sering berdebat perihal hal krusial: ‘jadi apa Istoyama kelak?’. Istri saya keukeuh bahwa Istoyama akan menjadi master chef junior, sementara saya cenderung bahwa Istoyama akan menjadi YouTuber. Lha, hari gini jadi YouTuber kan lebih gampang dari masuk TK. Setidak-tidaknya untuk menjadi YouTuber tidak perlu tes calistung.

Untunglah ada gelaran besar nan rutin di Indonesia, namanya Hari Belanja Online Nasional alias Harbolnas. Kalau kemarin-kemarin belanja online yang sekadar belanja saja, kini sudah ada plus-plusnya, yakni penuh cashback bersama Shopback. Jadi sesudah belanja, kita akan dapat cashback dalam jumlah bervariasi dan lumayan buat belanja lagi.

Bertepatan dengan Harbolnas, kiranya pas bagi saya untuk mempersiapkan Istoyama sebagai YouTuber kelas wahid. Dalam bodinya nan 9 bulan itu, rasanya Istoyama sudah sangat pantas untuk berbicara ‘haw-haw-haw’ kemudian direkam dan dipastikan akan menjaring follower begitu banyak.

Pertama-tama, guna menunjang mobilitas Istoyama, tentu saja diperlukan kereta dorong. Pilihan bapak sebagai pria nan hidup sederhana akhirnya ditemukan di Blibli berupa Baby Elle Citilite 2 S606 Kereta Dorong Bayi – Beige, yang dengan harga Rp965.900 sudah menampilkan kecakepannya sebagai penunjang calon YouTuber kelas wahid bermobilisasi. Sekali lagi, kereta dorong bayi ini penting karena punggung bapaknya sudah menua dan cepat lelah karena kebanyakan perjalanan dinas. Beuh.

Nah, sebagai calon YouTuber zaman now, Istoyama juga membutuhkan layar hijau yang merupakan barang wajib Vlogger masa kini. Melalui penelusuran di Tokopedia bisa ditemukan ada green screen 3×5 meter kain background yang berharga Rp538.700. Jadi, Istoyama nanti bisa guling-guling di kain hijau dengan bahagia dan kemudian melalui proses editing, saya akan mengganti green screen dengan adegan di Asgard. Mantap pokoknya.

Tentu saja Istoyama tidak telanjang, harus pakai baju. Dan karena ini ceritanya mau jadi YouTuber ciamik, tentu bajunya juga harus ciamik pula. Untuk itulah, Istoyama perlu menggunakan atasan yang mantap berupa Tiger T-Shirt and Shirt Set yang disediakan oleh Mothercare. Dengan atasan seharga Rp329.000 ini, dijamin para calon follower akan tambah kesengsem. Tentu saja tambah, karena dengan pipi gembilnya, secara default Istoyama sudah bikin kesengsem banyak orang. Untuk celana, di Lazada saya bisa ambil Baby Boy Hot Printed Pants Casual Trousers Fashion Tops Children Clothing Harem Pants dengan harga Rp225.000.

Asli ganteng jadinya.

Bagian yang penting lagi tentu saja kamera dan tripodnya. Masak mau bikin Vlog tanpa kamera? Untuk itu, Shopback juga menyediakan Bhinneka sebagai tempat untuk cari yang asyik-asyik. Saya lantas menemukan kamera saku yang cukup pas untuk kantong dan pas juga secara spesifikasi yaitu PENTAX Optio LS465 – Amethyst Purple yang harganya Rp1.153.900. Plus, supaya bisa berdiri dengan baik dan benar, masih di Bhinneka, saya lengkapi kamera dengan tripod JOBY Gpod Mini Magnetic seharga Rp360.000. Dengan modal mobilitas yang cukup plus kamera nan mumpuni, Istoyama telah siap untuk syuting. Bagaimanapun, syuting akan lebih asyik jika berada di tempat-tempat nan menarik. Sekalian Istoyama jadi travel vlogger, gitu. Maka kita perlu tiket pesawat!

Ehm, Shopback ternyata tidak sekadar beli-beli barang saja. Bahkan Garuda Indonesia saja menyediakan promo Garuda Indonesia diskon s/d 20% plus cashback Rp150.000 jika bertransaksi menggunakan Shopback. Dengan fasilitas ini, Istoyama bisa melanglang buana ke Jogja, tempat bapaknya merintis keterpurukan kehidupan.

Sampai di Jogja, Istoyama bisa langsung dijemput dengan sewa mobil yang bisa diperoleh via Tiket.com atau naik Grab juga bisa, tapi Istoyama tidak mau jalan sampai Imigrasi. Jauh, kak. Mobil sewaan segera bisa melaju ke hotel yang juga bisa diperoleh di Shopback melalui Hotels.com. Duh, ciamik sekali, kan? Apa saja ada, lho.

Semua benda-benda untuk Istoyama itu tersedia secara online, sehingga untuk meraihnya harus memanfaatkan momentum setahun sekali kala Harbolnas, terlebih ditunjang dengan Shopback yang siap menggelontorkan cashback tanpa henti!

Baiklah, sekarang saya mau mempersiapkan Istoyama lahir dan batin guna siap-siap menjadi YouTuber terkemuka yang ramah pada para subscribernya. Tentu saja semuanya ditunjang oleh kemudahan yang disediakan oleh Shopback.

Media Sosial dan Kisah Kecerdasan Jempol

Picture1

Salah satu problema dalam hidup nan kekinian selain antre beli bubur ayam di belakang mbak-mbak yang orderannya custom (nggak pakai kacang, kacangnya dipisah, nggak pakai daun bawang, nggak pakai lama, dll) sejatinya adalah perihal kecerdasan di media sosial. Benda yang 10 tahun silam baru sebatas bahan menggebet dengan mengunduh seluruh foto gebetan dari Friendster dan menjadikannya desktop background, kini telah menjadi begitu menggurita sekaligus menjadi medium bagi banyak orang untuk memperlihatkan kecerdasannya.

Kenapa saya perlu menaruh perhatian tertentu tentang kecerdasan? Sebenarnya sepele, suatu kali saya diberi tahu oleh salah satu awardee beasiswa paling hits di Republik Indonesia perihal status Facebook seorang awardee lain yang kebetulan sama-sama berada di suatu negara di Eropa. Status Facebook itu berkaitan dengan bencinya si awardee lain itu pada Presiden kita, Joko Widodo. Kadang-kadang geli juga, masalah Jokowers, Cebongers, dan kawan-kawan itu tadinya saya pikir hanya perdebatan di dalam negeri. Kiranya saya salah karena bahkan mahasiswa S2 di tanah Eropa asal Indonesia saja ikut-ikutan begitu.

Saya merasa perlu membawa-bawa Presiden Jokowi dalam konteks bermedia sosial. Sepele saja, sebelum Jokowi muncul, seingat saja Facebook itu adem, Twitter itu tenang, apalagi Path, belum dikenal. Begitu Jokowi muncul, media sosial mendadak menjadi dunia nan terbelah. Salah satu yang patut diingat adalah penyebaran berita tentang ibunda Jokowi yang orang Kristen. Ketika sang penyebar dan ternyata adalah seorang raja dikonfirmasi, dia bilang asal informasinya adalah dari internet. Ya, wadah media sosial berada. Salah satu yang juga ramai adalah perihal luasan wilayah banjir yang dibandingkan antara saat Jokowi menjabat dengan sebelumnya. Entah bagaimana media sosial yang tadinya tenang bak kolam renang hotel menjadi penuh gejolak bagaikan Pantai Panjang di Bengkulu yang ombaknya besar-besar.

Selengkapnya!

Daftar Penyesalan: 6+1 Tempat Impian Untuk Dikunjungi di Sumatera Selatan

SONY DSC

Maret 2009, kali pertama saya melihat kokohnya Jembatan Ampera dari balik awan. Pertama kalinya pula mata saya mengagumi lekuk Sungai Musi nan mengagumkan itu. Dipadu garis nasib, akhirnya pertemuan pertama itu mengikat saya hingga akhirnya datang kembali ke Bumi Sriwijaya pada bulan Mei 2009. Kali ini sebagai manusia yang hendak bermukim di kota Palembang.

FILE048-edit

Sebuah perjodohan yang berusia 2 tahun nan sangat membekas bagi saya. Meski karena berpisah dengan Bumi Sriwijaya-lah saya jadi bisa melihat sisi lain Indonesia mulai Kendari sampai Papua. Maka, bahkan ketika sudah hampir lima tahun saya meninggalkan Bumi Sriwijaya pada umumnya dan Palembang pada khususnya, saya selalu punya kerinduan khusus pada Bumi Wong Kito Galo ini. Apalagi, banyak sekali tempat yang belum saya singgahi selama saya menjadi manusia yang minum air Musi. Tempat-tempat yang pada akhirnya berakhir sebagai perencanaan dari sekadar makan siang di kantin, tanpa sempat menjadi realisasi.

Tempat apa saja itu? Payo dijingok!

Selengkapnya!

Acer Liquid Z320: Sama-Sama Tenang, Sama-Sama Senang

Suatu kali, pada suatu grup WhatsApp tetiba muncul percakapan begini:

WhatsApp EditHayo, mengingat jumlah grup WhatsApp di gawai masing-masing pasti telah melebihi jumlah mantan kekasih, hampir pasti kejadian kayak di grup FPL Ngetan-Ngulon itu tadi pernah dialami oleh banyak pengguna ponsel pintar.

Itu tadi baru kepencet teks. Bagaimana dengan yang semacam ini:

LINE lengkapMengandalkan falsafah ‘masih untung’, maka masih untung yang diunggah adalah foto nggak jelas. Bagaimana jika yang terunggah oleh si Tintus–anaknya Veren–tadi adalah file nan sangat personal, tapi terunggah ke grup kantor, misalnya. Yang ada bos besarnya, pula. Berabe kan?

Perkara anak memegang gawai bukanlah hal langka di era kekinian. Meski di Facebook berseliweran ajakan untuk mengembalikan anak-anak ke main pasir, yang terjadi kemudian adalah si anak main pasir sambil bawa gadget bapaknya. Lebih serem, mungkin pikir bapaknya.

Selengkapnya klik DISINI

Custom Tshirt dan Hadiah LDR Lainnya

Sesungguhnya, saya masih heran dengan manusia-manusia yang menjalani Lelah Dikibulin Relationship alias LDR. Bagaimana mungkin menjalin kisah kasih di selokan dengan seseorang yang nggak mesti ada di sisi? Tapi, ya gitu. Ada saja yang memilih jalan itu, dan ada banyak sekali yang sukses. Tentu saja karena visi hubungan LDR itu rapi dan mantap seperti para pengusaha kaos custom. Contoh suksesnya, ya setidaknya saya setahun LDR London-Jakarta, dan baek-baek saja, seperti kata Kak Pinkan Mambo.

Nah, namanya LDR itu harus ada esensi kejutannya. Tentu saja kejutan yang dimaksud bukan saja tiba-tiba kirim design kaos undangan pernikahan yang isinya antara dia dan orang lain. Namun kejutan berupa hadiah-hadiah sederhana nan kece merona yang dapat membuat pasangan seolah-olah ada di sisi dan bisa dikecup.

Muach!

Terus apa dong yang bisa dijadikan hadiah LDR? Ini ada beberapa yang bisa saya sarankan. Oh, iya, mungkin saya bisa minta tolong dipahami bahwa LDR dalam tulisan ini tidak termasuk LDR Beda Rumah Ibadah, yha! Seriusan.

Bunga Bank
Ini khusus untuk diberikan kepada cewek. Tentu saja, kalau cowok mah lebih doyan diberikan kado berupa gadis bernama Bunga. *kemudian ditabok mbak pacar*.

bunga

Memberikan bunga itu sepintas sulit, apalagi bagi yang LDR-nya luar ngeri negeri. Namun enaknya dunia masa kini adalah banyak hal yang bisa di-online-kan, selain titip teman. Maka, dengan lancar dan bahagia saya pernah berhasil mengirimkan bunga kepada pacar di London, dan alhamdulilah dianya klepek-klepek. Uhuk!

Postcard
Yah, lagi-lagi ini khusus LDR luar negeri, soalnya kalau di Indonesia agak kurang biasa. Wong saya nyari kartu pos itu setengah mati, malah lebih mudah nyari Print Tshirt, lho. Padahal jelas-jelas saya nyari di kantor pos. Pos satpam.

images

Kado ini menarik apalagi ketika yang LDR-nya lagi di Eropa. Lagi di Hungaria tinggal mampir ke kantor pos, tinggal kirim deh ke Indonesia. Lagi di Roma, juga tinggal melakukan hal yang sama. Postcard itu boleh dibilang hadiah yang menarik untuk menandakan sedang LDR. Soalnya kalau nggak LDR, ngapain juga kirim-kiriman kartu pos?

Video
Merekam kegiatan sehari-hari dengan model tertentu lantas diunggah ke YouTube atau dikirimkan personal ke kekasih yang lagi jauh di mato juga adalah ide menarik. Lagipula di era kekinian, ngedit video itu semudah kita mencari Online Tshirt Creator.

images (1)

Semisal potongan-potongan 1 detik tapi di tempat-tempat yang berbeda, kirimkan testimoni atau ungkapan rindu kepada kekasih via video itu dan niscaya bakal bikin mbrebes mili yang air matanya dapat dihapus dengan kaos custom si kekasih.

Custom Tshirt
Nah, selain beli kembang online, kita juga bisa melakukan design Tshirt online. Dan lebih dari sekadar design your own Tshirt, kita juga bisa melakukan print kaos sekalian. So, desain dan print, lalu bayar dan kemudian pakai, deh. Semuanya itu bisa kita lakukan via utees.me

Di utees.me ini kita dapat memilih desain-desain kece seperti yang bisa kita simak disini. Namun kalau pengen desain Tshirt sendiri, itu juga bisa. Bahkan kalau desain kita laku dibeli orang, kita malah dapat reward sebesar 1,11 Dollar. Nah loh, lumayan bisa ngaku ke calon mertua kalau kita dibayar pakai Dollar, kayak ekspatriat.

Jadi, ketika melakukan desain Tshirt online via utees.me untuk kaos custom yang hendak kita hadiahkan kepada kekasih hati nun jauh disana, kita bisa pilih model. Kalau mau yang model biasa, reguler. Kalau pacarnya cewek, pilih Female. Nah jika pacarnya punya anak bocah, ambil Kids.

utees1

Dan jika kita agak keder kalau bikin kaos custom sendiri, bisa lho bikin desain kaos dengan template-template menarik yang sudah ada. Bisa juga mengunggah gambar sendiri, atau jika sekadar hendak berkata-kata bisa insert Text.

utees2

Oh, jangan lupa, kalau habis pasang template, nongol mbak-mbak kece ini:

utees3

Begitu desain selesai, kita bisa Save and Publish, atau kalau masih malu-malu unyu atau desainnya adalah foto kekasih ya tinggal Save As Private.

utees4

Soal privacy ini, begitu kita sumbit, muncul lagi si mbak-mbak kece untuk memberi peringatan tentang desain Tshirt online yang kita miliki:

utees5

Begitu selesai dan pengen diorder, harganya cukup 144 ribu rupiah saja. Itu kurang lebih setara uang harian PNS-PNS yang pada diklat di Cimory Ciawi. Jadi yah masih terjangkau, pokoknya.

utees6

Kita sudah berhasil difasilitasi untuk mengirimkannya kepada kekasih hati tanpa perlu repot-repot ke mamang-mamang sablon dengan kemungkinan kena minimum order dan kita pulang dalam tangis sambil membawa desain kaos yang sudah dibuat dengan sepenuh hati. Kan syedih. Hiks.

Buat yang LDR, nih contoh karya saya. Heuheu.

utees7

Nah, tunggu apalagi, berikan kejutan berupa Custom Tshirt yang kamu desain sendiri melalui online Tshirt creator kepada kekasih hati, niscaya LDR kamu bakal awet, alias bakal LDR terus. Eh, salah doa, yha?

Memang Harus Jakarta

Jakarta, kotaku indah dan megah
disitulah aku dilahirkan
rumahku di salah satu gang
namanya gang kelinci

Lagu “Gang Kelinci” adalah satu dari satu-satunya lagu lawas yang nangkring di MP3 andalan saya sejak dibeli tahun 2007. Sudah ada 6 tahun lamanya lagu itu ada disana dan selalu saya dengar setiap kali perjalanan. Utamanya sih perjalanan ke Jakarta. Maklum, anak Cikarang, jadi kalau mau gaul sedikit, ya kudu ke Jakarta, naik 121, dan biar asyik yang mendengarkan MP3.

Nah, dari lagu jadul itu saja kita sudah tahu kalau Jakarta adalah kota yang indah dan megah. Kota yang dahulu bernama Batavia ini juga merupakan pusatnya Indonesia. Hanya di Jakarta ini saya pernah menggunakan bahasa Jawa, bahasa Minang, dan bahasa Palembang dalam 1 jam menjelajah. Sederhananya, semuanya ada disini.

Soal Jakarta sebagai Diplomatic City of ASEAN seharusnya tidak perlu ditanya lagi karena gedung Sekretariat ASEAN saja sudah sejak lama ada di Jakarta. Dengan mekanisme simpel saja sebenarnya penetapan Jakarta sebagai ibukotanya ASEAN adalah hal yang mudah karena faktor lokasi sekretariat itu.

Atau kalau kita mau adil bahwa 40% alias mayoritas penduduk ASEAN itu adanya ya di Indonesia. Jadi dari sisi majority ini juga, sudah layak dan sepantasnya Jakarta, sebagai ibukotanya Indonesia, juga dijadikan sebagai ibukotanya ASEAN.

Okelah secara historis memang Jakarta beda sama Bangkok, soalnya Bangkok mencatatkan diri ketika Adam Malik, Narsisco Ramos, Tun Abdul Razak, Thanat Khoman, dan S. Rajaratnam berkumpul dan menghasilkan Deklarasi Bangkok. Tapi toh setidaknya, nama Adam Malik ada disana. Indonesia adalah 1 dari 5 pemrakarsa terbentuknya ASEAN.

Sekretariat di Jakarta, penduduk terbanyak di Indonesia, plus Indonesia adalah pendiri ASEAN bersama 4 negara lainnya. Nggak ada alasan untuk tidak menaruh ibukota ASEAN di Jakarta kan?

Nah, masalahnya sekarang, siapkah Jakarta?

Sungguh suatu kebetulan yang menarik ketika menjelang persiapan Komunitas ASEAN 2015 ini Jakarta dipegang oleh 2 pemimpin yang mumpuni. Seluruh Jakarta bahkan Indonesia sudah bisa melihat hasil karya sepasang anak bangsa pada ibukotanya dalam rentang waktu yang bahkan belum lama. Mereka adalah Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama. Simpelnya tentu saja Jokowi dan Ahok.

Sekretariat ASEAN terletak di Jalan Sisingamangara yang dekat betul dengan Sudirman-Thamrin, yang tentu saja sudah macet sejak zaman pra-sejarah. Apa iya nanti ibukota ASEAN akan identik dengan macet?

Sejatinya Jakarta sudah terbeban berat dengan proses yang ada sekarang, tapi menjadi pusat ASEAN adalah kesempatan yang tidak boleh dilepaskan. Paralel dengan itu, adalah tugas pemerintah daerah di bawah pimpinan Jokowi dan Ahok untuk melakukan pembenahan. Kebetulan juga aksi mereka ditunjang oleh Dahlan Iskan dengan sinergi bandara ke Jakarta via kereta api pimpinan Ignasius Jonan. 

Akses dari langit akan mudah karena bandara di Cengkareng sana juga akan diperbesar. Kalau-kalau memang kapasitas penuh, sudah disiapkan di Karawang, yang tidak jauh-jauh banget dari Jakarta.

Apalagi kalau nanti MRT sudah tersedia. Okelah sekarang kita sudah tertinggal puluhan tahun dengan Singapura soal MRT dan Malaysia dengan monorail-nya. Tapi di tangan Jokowi-Ahok sepertinya sudah mulai ada titik terangnya.

Satu hal yang pasti, isu keamanan menjadi penting. Setiap lewat kedutaan besar, saya selalu heran dengan pagarnya yang tinggi-tinggi, tebal-tebal, plus kawat duri. Yang paling ekstrim tentu saja milik Australia dan Amerika Serikat. Sedangkan Thailand, Kamboja, dan lainnya yang kebetulan bersebelahan memang tidak tampak tinggi sekali pengamanannya. Cuma, melihat bentuk yang begini, itu pertanda ada ketakutan kan? Tentu saja bom Kedubes Australia bertahun silam tidak mudah untuk dilupakan. 

Kalau isu keamanan di Jakarta perlahan bisa diperbaiki, plus jaminan tata kota yang baik dari duo kotak-kotak, akhirnya saya bisa bilang bahwa kota indah dan megah bernama Jakarta ini memang harus menjadi pusatnya ASEAN.

Salam Jakarta!

Agar Tiga Pilar Bisa Menggelegar

Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN yang ke-22 sudah diselenggarakan di ibukota Bandar Seri Begawan. Sebanyak 9 kepala negara hadir, plus 1 perwakilan karena kepala negara yang asli sedang kampanye. Namanya juga KTT, jadi pembahasannya juga tingkat dewa alias tingkat tinggi. Tentunya lebih tinggi daripada kota kelahiran saya, Bukittinggi.

#apasih

Tersebutlah 3 pilar yang selalu disebutkan dalam sosialisasi komunitas ASEAN 2015 yakni keamanan, ekonomi, dan sosial budaya. Sebenarnya benda-benda ini tidak cukup asing, terutama bagi produk P4 kayak saya. Ketahuan kan saya umurnya berapa. Siapapun anak masa lalu pasti tahu IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS alias ideologi politik ekonomi sosial budaya pertahanan dan keamanan nasional. Jadi, bagi orang Indonesia, mestinya nggak asing dengan tiga pilar ini.

Nah, bagaimana agar ketiga pilar itu bisa menyatukan rakyat dan menciptakan masa depan layaknya tema KTT ASEAN 2013?

Yang pertama-tama harus dibereskan adalah isu laut Cina Selatan, karena ini akan menjadi poin di pilar keamanan, meskipun jatuh-jatuhnya juga di ekonomi. Rebutan dengan Cina, yang mana Cina enggan bernegosiasi dengan pihak ketiga atas nama ASEAN dan lebih memilih untuk bilateral negara per negara. Ada masalah pula karena Kamboja yang adalah sekutu dekat Cina, memilih mengikuti sikap Cina. Topik ini sebenarnya tersembunyi di balik senyum para pemimpin negara dalam akhir KTT. Padahal kalau ini tidak diselesaikan, bisa memicu pertentangan di proses penguatan menjelang Komunitas ASEAN 2015.

Yang kedua adalah terobosan peningkatan peran di dalam komunitas. Penerapan visa umum ASEAN, dan juga kartu perjalanan bisnis ASEAN, serta terobosan lainnya guna mengurangi batas-batas harus terus digalakkan. Nggak mungkin dong, ngakunya teman, tapi teman nggak boleh berkunjung ke kamar kos kita dengan akses khusus. Kayak saya dulu, teman saya punya akses langsung ke kamar saya via kunci kos. Beda dengan tamu-tamu biasa yang nggak saya kasih akses. Namanya komunitas, menurut saya ya seperti itu.

Yang ketiga, sebagai wilayah yang tergolong new emerging (bukan NEFO GANEFO lho ini ya), negara-negara di ASEAN harus menguatkan peran agar memegang peranan sentral khususnya di perkembangan negara-negara yang dikatakan sedang berkembang. Kita tahu bahwa konsep kawasan semacam ASEAN ini sudah jamak di berbagai negara di dunia, dengan posisi masing-masing. Lihatlah Liga Arab atau Uni Eropa. Nah, ASEAN sebaiknya menyasar di konteks negara berkembang karena memang sepertinya yang negara maju di ASEAN ya baru Singapura. Padahal ya sejak saya SD, Indonesia ini dibilang negara berkembang.

Berkembang terus, kapan jadi maju ya?

Jangan lupa satu lagi kalau Komunitas ASEAN sudah punya road map dan blue print. Pemantauan pencapaian, seperti yang saya lakukan dalam kinerja pekerjaan saya via balance scorecard, juga harus dilakukan. Kalau nggak tercapai ya dicari tahu root cause-nya. Pokoknya, dijamin agar road map dan blue print bisa tercapai dengan baik.

Nah, itu utamanya tugas Sultan Brunei di tahun 2013 ini sebagai ketua bergilir ASEAN. Tujuannya jelas, agar bisa membuat ASEAN lebih menggelegar di kancah internasional dan mewujudkan Komunitas ASEAN 2015 yang sukses.

Salam Menggelegar!

Masihkah People Power Eksis?

Bicara soal kebebasan berekspresi, negara ASEAN yang paling mula mendapatkan kesempatan itu adalah Filipina, via pergerakan people power yang berhasil menggulingkan Presiden Ferdinand Marcos pada tahun 1986.

Yah, saya saja belum lahir itu.

Kemudian…