Lontang Lantung di Pasar Terapung Lok Baintan

Saya tidak bisa berenang. Itu fakta yang bahkan saya sampaikan dengan polos di tengah danau mini Mekarsari kala kaki saya tidak bisa menapak apapun saat banana boat yang saya tumpangi dibalik. Gembel bener itu si operator, padahal di awal perjanjiannya tidak dibalik. Maka, jangan heran bahwa saya suka jauh-jauh dari air. Termasuk air mandi sehari-hari.

Akan tetapi, ketika ada kesempatan ke Kalimantan, tepatnya ke Banjarmasin, rasanya kok rugi kalau jauh-jauh dari sungai. Terlebih saya menginap di Swiss-Belhotel Borneo yang lokasinya persis di pinggir Sungai Martapura dan–yang paling penting–menyediakan akses gratis naik perahu klotok guna menuju salah satu spot khas Kalimantan Selatan, Pasar Terapung.

Sempat was-was bin deg-degan. Naik kapal Putri Kembang Dadar di Palembang saja saya ngelu, apalagi naik perahu klotok? Untungnya saya sekelebat melihat pelampung warna oranye. Yha, amit-amit kenapa-kenapa, saya bisa lari ambil pelampung dan melakukan hal yang sama dengan kejadian di Mekarsari.

Apabila hendak naik perahu klotok fasilitas dari hotel ini, sebaiknya memang pukul 5.15 sudah siap di lobi untuk berangkat pukul 5.30. Dan untuk itu pula, hotel menyediakan morning call pukul 4.30. Bye-bye turu penak pokoknya. Dalam skala normal, perjalanan dalam 1 perahu bisa diikuti oleh belasan orang. Kalau lagi sepi, ada juga klotok yang isinya cuma 3. Pas yang saya naiki, kebetulan lagi ada PNS-PNS dari Pasaman Barat yang ikut pertemuan nasional. Jadi agak banyakan.

Continue reading

Advertisements

Anti Banjir dan Ramah Difabel di Harapan Indah

Sekian tahun cahaya tidak ada postingan #KelilingKAJ selain selintas tentang Gereja Santo Matius Penginjil Bintaro. Nah, ini mumpung saya dapat dinas di Kota Harapan Indah, Bekasi, yang kebetulan juga lokasi hotelnya dekat dengan Gereja, pada akhirnya saya berkesempatan mampir di paroki termuda kedua di KAJ. Termuda kedua digusur oleh Santo Ambrosius di Melati Mas.

Untuk sampai di Gereja Katolik Santo Albertus Agung Harapan Indah ini begitu mudah. Dari akses masuk Harapan Indah tinggal ke kiri, begitu lihat Giant, lurusin lagi, nanti sesudah Gramedia, kita akan mendapati bangunan dengan identitas segitiga. Nah, itu dia Gerejanya.

Pada mulanya adalah tahun 1990-an, ketika Jakarta mulai penuh dan pembangunan semakin ke pinggir hingga muncul Harapan Indah. Pelayanan iman mulai dilakukan, tapi di ruko. Dari ruko kecil sampai ruko yang lebih luas. Seperti ditulis di santoalbertus.org pada bulan Desember 2012 pada tahun 2006, jumlah warga telah mencapai 4.686 jiwa dengan lima wilayah.

Misa di kompleks Harapan Indah dihelat pertama kali pada April 1996. Atas anjuran dosen Universitas Katolik Atmajaya, Pastor Damianus Weru, SVD, area ini lantas dijadikan stasi Harapan Indah dan resmi pada tanggal 23 Juni 1996.

Pastor Damianus juga yang memberi usul penggunaan nama Santo Albertus, berdasar pada semangatnya. Beberapa fasilitas di Gereja ini pernah dibakar pada tahun 2009, sebagaimana pernah ditulis oleh tempo.co yang katanya adalah karena kesenjangan sosial.

Sepekan kemudian, misa kembali diadakan di tempat yang dibakar ini Adalah Laksamana Pertama Christina Maria Rantetana yang merintis jalan untuk mengatasi masalah klasik keagamaan di Indonesia dengan aneka rupa cara.

Nama Ibu Christina ini sangat luar biasa. Wanita yang telah meninggal dunia pada 1 Agustus 2016 ini adalah wanita pertama yang memiliki pangkat Laksamana Muda dari Asia. Beliau juga wanita pertama yang mengikuti Sekolah Staf dan Komando (SESKO) di Royal Australian Naval Staf Course di Sydney. Beliau juga anggota Kowal perdana yang pernah menjabat anggota DPR RI untuk periode 1997-1999 dan 1999-2004. Termasuk juga wanita pertama yang jadi Direktur Sekolah Kesehatan Angkutan Laut dan juga anggota Kowal pertama yang jadi staf ahli Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan pada bidang Ideologi dan Konstitusi.

Paroki Santo Albertus Agung Harapan Indah sendiri diresmikan oleh Mgr. Ignatius Suharyo pada hari Kamis, 14 Mei 2015 bertepatan dengan Pesta Kenaikan Tuhan. Bahkan #KelilingKAJ sudah duluan dimulai alih-alih paroki ini diresmikan. Gitu.

Pada saat peresmian, hadir 42 pastor baik dari Paroki Kranji, dari pastor-pastor SVD yang pernah berkarya di Harapan Indah, pastor-pastor Dekenat Bekasi, dan lain-lainnya lagi. Diresmikannya paroki yang satu ini memang terhitung pelepas dahaga karena sebelumnya sudah cukup lama tidak ada Gereja Katolik yang diresmikan.

Walau terhitung baru, Gereja Santo Albertus ini masih menganut konsep lawas, tanpa AC. Entah ada atau tidak, tapi dalam kehadiran saya pada misa harian, saya lihat benar keringat yang menetes di wajah Romo plus deru kipas yang tiada henti serta pintu-pintu yang terbuka. Gerejanya sendiri cukup luas, mungkin kurang lebih mirip dengan Paroki Duren Sawit. Bahkan kalau urusan luas juga bisa saya bandingkan dengan Gereja Katolik di Kuta.

Gereja Santo Albertus memiliki desain yang seperti Gereja pada umumnya yakni tinggi, menjulang, serta lancip, plus pilar-pilar kokoh. Konsep kemah menjadi kunci, sehingga kalau dilihat dari jauh ada kemiripan dengan Gereja Pulomas, misalnya. Semacam mirip-mirip yang ketimuran.

Satu hal yang paling menarik dari Gereja ini adalah sangat ramah difabel dan boleh dibilang salah satu Gereja terbaik di KAJ untuk soal difabel. Dengan koor di sisi kanan altar, maka sisi satunya lagi ada tempat khusus difabel dan lansia. Jalur untuk kursi roda juga sudah disiapkan. Plus, dengan kondisi yang diapit dua saluran air–meski ada di dalam kawasan elite–rupanya Gereja ini juga dipersiapkan untuk anti banjir. Untuk itulah bangunannya telah ditinggikan. Tidak setinggi Pademangan yang jadinya di lantai 2–dan juga ramah difabel–tapi cukup tinggi untuk jika amit-amit digenangi.

Adapun Gua Maria terletak di belakang altar dengan konsep segitiga yang sama dengan bangunan Gereja. Sedangkan misa mingguan dipersembahkan pada Sabtu pukul 17.30, Minggu pukul 06.00, 08.30, dan 17.30.

Semoga ada kesempatan untuk menambah koleksi cerita tentang Gereja-Gereja lain di KAJ, yha.

Lost in Bangka (9): Kelenteng Dewi Laut

Pulau Bangka memang dikenal denngan kecantikan pantainya, demikian pula Pulau Belitung di sebelah. Selain itu, Pulau Bangka begitu identik dengan kepercayaan yang dipercaya berasal dari daratan Tiongkok sana seperti Budha dan Kong Hu Cu. Maka jangan heran kalau pagoda-pagoda dan semodelnya adalah jamak di sekitar Pangkal Pinang, sebagaimana mudah melihat Gereja di Kota Manado atau Jayapura.

Nah, selepas dari Pantai Pasir Padi, kami bergegas menuju destinasi tambahan ala bapak guide. Rencananya, bapak guide hendak menggunakan jalur alternatif yang nyatanya memang dekat sekali dengan Pantai Pasir Padi dan melewati calon lokasi yang katanya mau ada waterboom dan lain-lainnya itu. Namun, hujan hari kemarin–yang bikin perjalanan ke Tanjung Pesona terganggu dan bikin nyelup di Parai Tenggiri jadi gloomy–menyebabkan jalan tanjakan yang ada jadi hancur.

Walhasil, mobil kemudian diputar balik sebagaimana CPNS ketemu eselon 1. Balik kanan tanpa tedeng aling-aling. Seluruh isi mobil mempertimbangkan bahwa dalam mobil itu ada Kristofer yang kala itu ukurannya bahkan belum 1 sentimeter. Yah, kalau teman-teman pembaca baru baca serial Lost in Bangka ini sekarang, perlu diketahui bahwa perjalanan dilakukan pada bulan Oktober 2016 dalam keadaan istri saya hamil muda banget, kurang lebih 6 minggu. Sementara saat kisah nomor 9 ini ditulis, si bocah yang saat itu dibawa masih berada dalam bentuk serupa tanda koma sudah mau berusia 2 bulan.

PEMALAZ!

Baiklah, mari kita lanjutkan. Maka, guide Tintus mengambil jalur memutar, kalau tidak salah memang jalurnya menuju pantai lain di sebelah Pasir Padi, yakni Tanjung Bunga. Lokasi Kelenteng Dewi Laut sendiri kurang lebihnya sebagaimana tampak di peta:

Begitu mobil berhenti di bawah pohon, kami jalan kaki sembari buang snack di tempat sampah yang untunglah ada di sekitar situ. Kelenteng lumayan sedang ramai. Kelenteng ini terbilang baru, karena menurut berita-berita yang saya baca, berdirinya baru tahun 2011. Berada satu kompleks dengan Pura Penataran Agung dan Vihara Dharma Satya Buddhis Center, yang kebetulan juga tampak sambil lewat. Continue reading

Kumpulan Jingle Cek KLIK

Jadi begini, alkisah Badan POM mengadakan kompetisi jingle CekKLIK se-Indonesia. Dan rupanya bagus-bagus, jadi nggak ada salahnya kalau saya share di blog ciamik ini, lumayan trafficnya. Heuheu.

Mari disimak!

Balai Besar POM Medan

Balai Besar POM Pekanbaru

Balai Besar POM Padang

Balai POM Pangkalpinang

Balai POM Batam

Balai POM Bengkulu

Balai Besar POM Bandar Lampung

Balai POM Serang

Balai Besar POM Bandung

Balai Besar POM Yogyakarta

Balai Besar POM Surabaya

Balai Besar POM Samarinda

Balai Besar POM Mataram

Balai POM Kupang

Pos POM Ende

Balai POM Manado

Balai POM Gorontalo

Balai POM Kendari

Balai POM Ambon

Balai POM Sofifi

Balai Besar POM Jayapura

Balai POM Manokwari

Lost in Bangka (8): Pantai Pasir Padi

Perjalanan panjang di Lost in Bangka hari Minggu bikin kami–ehm, tepatnya saya–terlelap dan kemudian menyebabkan saya harus jalan keliling pasar dekat Hotel Menumbing pada pukul 12 malam. Maklum, istri lagi hamil. Kalau nggak diturutin, nanti anaknya mirip saya. Lha.

Nah, pagi hari Senin adalah hari kepulangan. Namun kepulangan tentu harus diawali dengan yang seru-seru. Daftar perjalanan kami masih panjang karena hari terakhir ini direncanakan jalan-jalan ke dua destinasi utama, yakni Pantai Pasir Padi dan Danau Kaolin. Wow!

Kami sarapan dengan bahagia di pinggir kolam hotel dengan sebelumnya telah bersiap-siap untuk check out. Lantas, menggunakan mobil sewaan, kami bergegas ke rumah Tintus untuk menjemput sang driver sekaligus penyandang dana yang ogah disauri sekaligus juga guide lokal–walaupun dia aslinya Lampung.

Selfie dahulu, kak.

Continue reading

Berburu Kuliner Padang di Tanah Minang

Selain identik dengan budaya Minang, sebagian orang yang mendengar kata Padang juga otomatis akan teringat dengan… rumah makan. Terutama bagi penduduk di Pulau Jawa, nama ibu kota Sumatra Barat itu sangat ikonik dengan kulinernya. Bumbu yang khas dan tajam membuat lidah yang mencicipi senantiasa ketagihan.

via: bhellabhello.wordpress.com

Akan tetapi, jika Anda datang langsung ke Padang, ada banyak makanan khas lainnya yang tidak Anda jumpai di rumah makan padang biasanya. Soal kelezatan, tidak perlu dipertanyakan lagi. Dijamin, kenikmatannya akan terbayang-bayang dan membuat Anda ingin segera kembali ke kota ini.

1. Nasi Kapau

Sekilas, nasi kapau memang tidak berbeda dengan nasi padang. Namun rupanya selain peletakan menu di atas meja yang lebih rendah dari penjual—jika nasi padang, menu disajikan di etalase yang lebih tinggi dari penjual—bahan dasarnya pun berbeda. Nasi kapau yang autentik menggunakan bahan dasar kol, nangka, dan kacang panjang serta kuah gulai berwarna kuning dengan rasa sedikit asam.

Selagi di tanah Minang, sempatkan mencicipi nasi kapau asli terlezat. Mulai wisatawan dari kalangan rakyat hingga pejabat, Nasi Kapau Uni Cah menjadi tujuan kuliner yang digemari. Lokasi rumah makan ini berada di Jalan Padang Luar Km 4, Bukittinggi. Mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB, rumah makan ini siap melayani pembeli.

2. Sate Itjap

Bila sedang ingin menikmati sate, sebaiknya Anda datang ke Sate Itjap yang beralamat di Jalan Rasuna Said. Anda tidak akan susah menemukan tempat kuliner ini. Selain kemahsyurannya yang dikenal masyarakat luas, lokasinya juga berada di ruas jalan utama.

Mulai pukul 16.00 hingga malam, warung sate ini diberondong oleh pembeli. Selain harga tiap porsinya yang relatif murah, cita rasanya juga sangat khas. Sate tanpa gajih ini memiliki memiliki daging bakaran yang terasa agak manis. Selain itu, tusukan daging ini disiram kuah yang asin dan gurih sehingga menghasilkan kombinasi rasa yang sangat lezat. Satu porsinya juga sudah lengkap disajikan dengan potongan kupat.

3. Soto Rajawali

Untuk mengawali hari, Anda bisa sarapan di Soto Rajawali. Soto padang ini menyajikan daging sapi goreng yang dipotong kecil-kecil dengan siraman kuah bening yang lezat dan gurih. Nasinya disediakan di piring terpisah dengan taburan kerupuk merah. Jika ingin semakin menggugah selera, tambahkan paru yang digoreng renyah.

Bofet Rajawali berada di Jalan Juanda. Tempat ini sebenarnya merupakan cabang, tetapi lokasinya lebih strategis dan besar. Tak hanya wisatawan biasa, bahkan hingga tamu kenegaraan hingga anggota Kerajaan Brunei pun pernah singgah di sini. Terbayang kan, bagaimana lezatnya Soto Rajawali hingga seterkenal ini?

4. Martabak Malabar Arham

Malam yang dingin memang paling tepat dinikmati bersama kudapan hangat. Setelah menghabiskan sepanjang hari beraktivitas, Anda dapat bersantai di hotel dengan seporsi martabak Malabar yang gurih.

Di Padang, Anda dapat menemukan Martabak Malabar Arham yang terkenal dan banyak diburu orang. Lokasinya berada di Jalan Moh. Husni Thamrin No. 1 dan baru buka mulai pukul 17.00. Jika ingin makanan yang lebih berat, Anda bisa memilih nasi goreng kambing, sup buntut, dan lain-lain.

Selain empat kuliner di atas, ada pula nasi goreng patai, sate danguang-danguang, itiak lado hijau, es durian, dan masih banyak lainnya. Tentu saja, sajian ini tidak akan Anda dapatkan di rumah makan padang.

Karena itu, sempatkanlah mencicipi kayanya kuliner Minang selagi di Padang. Soal akomodasi menginap, serahkan pada Airy Rooms. Beragam pilihan hotel murah di Padang tersedia sesuai dengan kelas dan bujet yang Anda inginkan.

Cukup dengan koneksi internet, Anda dapat memilih hotel murah di Padang melalui situs web dan aplikasi Airy Rooms pada ponsel. Untuk pembayaran, Anda dapat melakukannya via kartu kredit, bank transfer, atau di gerai Indomaret. Praktis, bukan?

Liburan Penuh Kejutan di Anyer

Sebagai negeri yang begitu memuja garis pantai–meski sebagian kecil diantaranya lantas ditimbun reklamasi–maka sudah layak dan sepantasnya kita keluyuran ke pantai-pantai ciamik di Indonesia. Salah satu tempat yang menyediakan kecantikan pantai tiada lain adalah Anyer. Selain lokasinya yang tidak jauh-jauh benar dari Jakarta, Anyer juga memiliki value kawasan wisata nan berbeda pasca Oddie Agam melalui Sheila Madjid memperkenalkan Anyer via lagu kondangan dan karaokean sepanjang zaman “Antara Anyer dan Jakarta”. Sebuah lagu yang sebenarnya bisa dijawab dengan Cilegon, Serang, Tangerang, dan Tangerang Selatan. Atau juga dapat dijawab dengan Tol Merak.

Bicara Anyer tentu juga tidak boleh lepas dari sosok kesohor, Herman Willem Daendels. Sosok yang menurut buku Ragam Pusaka Budaya Banten karangan Drs. H. Tri Hatmaji mendarat di Anyer pada tanggal 1 Januari 1808. Gubernur Jenderal Hindia Belanda periode 1808 hingga 1811 tersebut berhasil menciptakan karya monumental dan selalu dikenal dalam rupa Jalan Anyer-Panarukan alias Jalan Raya Pos. Jalan yang satu ini terbilang bergelimang rekor. Mulai dari durasi pembangunannya yang hanya (!) setahun hingga jaraknya yang setara Amsterdam ke Paris, seribu kilometer.

Daendels tiba pertama kali di Anyer seperti Calon PNS baru masuk: tampak cupu. Berangkat diam-diam sejak Maret 1807, via Paris, lantas ke Lisbon, kemudian ke Pulau Canary dan selanjutnya Pulau Jawa. Ya, di Anyer itu tadi. Cupunya adalah karena Om Londo Galak ini tiba di Anyer nyaris tanpa pengawalan. Dia sampai di Anyer sesudah kabur kiri-kanan. Perjalanan dari Belanda sampai Anyer itu dilakoni dalam durasi kurang lebih 10 bulan. Pada tahun 2017, 10 bulan itu adalah antrean gedung untuk resepsi. Durasi yang menyebabkan banyak pasangan keburu putus sebelum resepsi.

Anyer menawarkan tipe pantai yang berbeda, sebab posisinya ada di sisi barat pulau paling dominan se-Indonesia Raya, Jawa. Sensasi Anyer sebagai pantai jelas beda dengan Ancol yang pantai utara. Juga lain dengan Parangtritis yang pantai selatan.

Pesona Anyer sebagai tempat wisata sejak dahulu kala begitu mudah ditangkap dengan melihat hotel-hotel yang berdiri di sepanjang Anyer. Hampir semua grup hotel tenar Jakarta punya cabang di Anyer. Mulai dari Jayakarta sampai Marbella, Dari Acacia sampai Aston. Anyer juga menawarkan lokasi yang tidak jauh-jauh benar dari Jakarta. Masih bisa dicapai dengan 3-4 jam, jarak yang sepantaran dengan Bandung, dengan tawaran tipe wisata yang berbeda. Belum lagi jika kita menyebut Tanjung Lesung sebagai salah satu destinasi Bali baru Pak Presiden. Menuju Tanjung Lesung ya lewat Anyer. Mampir adalah kunci.

Walau begitu, sekadar liburan di pantai adalah basi. Apa sih bedanya main ombak di Ancol, Kuta, Miami, sama di Anyer? Sama-sama asin ini. Untuk itulah Anyer secara gilang gemilang menyediakan elemen paling kunci yang sangat dibutuhkan dalam berwisata: kejutan. Percayalah, liburan di Anyer akan penuh dengan kejutan.

Continue reading

Selamat Jalan, Paktuo!

Halo Paktuo, bagaimana perjalanan menuju surga? Lancar, kan? Pastinya lancar, dong. Semua orang yang kenal Paktuo pasti meyakini itu. Saya sedang antre BPJS di PGI Cikini kala Cici memberi kabar bahwa Paktuo sudah nggak ada. Sumpah, ingin menangis di tempat rasanya. Kita baru ketemu tanggal 11 Juli yang lalu, lho. Kita juga saling berkata, “Nanti kan ketemu lagi…”

Tapi kok jadinya begini, Paktuo?

Ada banyak hal yang tidak saya ketahui tentang Paktuo, sebagaimana abang-abang, kakak, dan terutama Petra mengetahuinya. Ya bagaimana, kita ketemu tidak cukup intensif dalam durasi yang begitu lama, tapi perjalanan waktu membawa kita kepada diskusi-diskusi hangat. Ah, paling senang saya melayani diskusi dengan seorang old man yang penuh ide-ide perubahan. Setidak-tidaknya bisa jadi bahan untuk nakal dalam tulisan.

Sebelum semuanya seperti sekarang ini, Paktuo ada kala saya kecil. Yha, dari 1987 sampai 1993, jelas sekali memori itu dalam kepala saya. Paktuo adalah wali baptis saya. Tentu memilih wali baptis tidaklah sembarangan. Sebagaimana saya memilih Paklek Beny sebagai wali baptis Kristofer juga sangat dipertimbangkan. Sebagai sosok kakak yang tersedia di Bukittinggi kala itu, maka pilihannya ya pasti Paktuo.

Continue reading

Berlibur ke Kuala Lumpur, Kunjungi Tempat-Tempat Hits Ini

via: kuala-lumpur.ws

Ingin berlibur ke tempat-tempat yang menarik tanpa harus menghabiskan waktu panjang dalam perjalanan? Kuala Lumpur adalah pilihan yang tepat. Yup, Kuala Lumpur merupakan satu kota dengan banyak tempat wisata menarik. Biaya murah, pemandangan indah, barang-barang bagus, dan sejuta pengalaman seru bakal kamu dapatkan hanya dengan mengelilingi satu kota.

Ibu Kota Malaysia ini tidak hanya terkenal akan kebersihannya, tempat-tempat wisata di Kuala Lumpur juga banyak dikenal oleh wisatawan dari luar Malaysia. Seperti Menara Kembar Petronas yang juga merupakan bangunan terkenal di dunia. Saat kalian mengujungi menara ini, kalian akan melihat keindahan kota Kuala Lumpur dari ketinggian. Untuk merasakan pengalaman tersebut, kalian cukup membayar tiket masuk seharga RM 80.00 yang akan mengantarkan kalian menuju ke jembatan penghubung yang berada di lantai 41 dan 42 gedung.

Tempat wisata di Kuala Lumpur lainnya yakni Menara Kuala Lumpur. Seperti halnya Menara Kembar Petronas, Menara Kuala Lumpur juga menawarkan pemandangan dari ketinggian. Namun tidak hanya itu yang bisa didapatkan di KL tower ini. Ada sebuah ruangan bernama Sky Box yang menguji nyali pengunjung. Sky Box adalah sebuah ruangan yang terbuat dari kaca tebal transparan, menjorok ke bagian luar gedung. Dari sana, kalian bisa melihat pemandangan di sekeliling termasuk di bawah.

via: asia361.com

Cukup dengan ketinggian, mari kita menuju ke tempat wisata di Kuala Lumpur dengan suasana yang asri kehijauan. Tempat wisata tersebut ialah Lake Garden. Lake garden merupakan tempat wisata di Kuala Lumpur yang berdiri di tanah seluas 91 hektar, sehingga jika berkunjung ke tempat ini kalian bisa menemukan beberapa tempat wisata menarik sekaligus, seperti taman bunga sepatu, taman rusa, monumen nasional, taman anggrek dan masih banyak yang lainnya. Untuk berkeliling ke semua tempat wisata di Lake Garden, kalian bisa menyewa sepeda sekitar 3 ringgit selama 30 menit.

Tempat wisata di Kuala Lumpur kali ini cocok untuk kalian yang hobi berbelanja, Bukit Bintang namanya. Wilayah Bukit Bintang dipadati oleh pusat perbelanjaan, cafe, bar, pasar malam, dan juga restoran. Yang menarik dari pusat perbelanjaan Bukit Bintang yakni semua barang yang dijual asli tidak ada yang KW. Sangat cocok buat kalian yang suka belanja dengan kualitas barang yang terjamin. Kalau di Indonesia, bukit yang harus kamu kunjungi itu, ya Bukittinggi.

via: wonderfulmalaysia.com

Setelah lelah berbelanja, pas rasanya jika menuju ke Jalan Alor untuk memuaskan hasrat lidah. Di Jalan Alor ini kalian bisa menemukan banyak restoran dengan aneka hidangan istimewa. Surga makanan yang satu ini sangat ramai saat malam hari, jadi jangan kaget jika kalian ke Jalan Alor menemukan meja dan kursi restoran hingga menutupi jalan. Oh iya, untuk kalian yang tidak makan babi, harus berhati-hati, karena sebagian dari restoran di Jalan Alor menyajikan hidangan yang mengandung babi.

Yang satu ini merupakan tempat wisata di Kuala Lumpur dengan suasana religi yakni National Mosque. Masjid yang mampu menampung 15 ribu orang ini memiliki interior yang indah. Bagi kalian yang bukan orang muslim, tak perlu kuatir, karena pihak masjid memperbolehkan kalian untuk berkeliling di kawasan masjid. Dengan pengecualian pakaian harus sopan dan diluar jam beribadah.

via: travelingthruhistory.com

Daftar tempat wisata di Kuala Lumpur yang terakhir adalah Aquaria KLCC. Di tempat wisata yang satu ini, kalian bisa menikmati pemandangan bawah laut tanpa harus berbasah-basahan. Banyak dari wisatawan yang datang ke tempat ini membawa serta anak-anaknya, karena tidak hanya indah namun juga cocok untuk edukasi anak-anak.

Masih belum puas dengan tempat wisata di atas? Cek dulu tempat hits wisata Kuala Lumpur 2017 yang lain, dan pastikan kamu menghabiskan liburan selanjutnya di tempat ini.

Mencari Xaverian di Jakarta

Saya besar di Bukittinggi, dan otomatis dibaptis ehm, agama itu warisan oleh pastor dari ordo Xaverian alias SX, sederhananya Serikat Xaverian walaupun kepanjangannya sih bukan itu. Serikat yang satu ini memang hanya beredar di Keuskupan Padang (Padang Baru, Bukittinggi, Payakumbuh, Mentawai, dan Labuh Baru), Keuskupan Agung Medan (Aek Nabara), dan Jakarta. Yes, selain skolastikat-nya di dekat kantor saya–Cempaka Putih–maka satu-satunya paroki yang dipimpin oleh SX di Jakarta adalah Paroki Santo Matius Penginjil, Bintaro.

Sesuai namanya, gereja ini terletak di Bintaro dan merupakan gereja perdana yang berdiri di sekitar Bintaro, sebelum kemudian muncul Gereja Santa Maria Regina yang terletak di Bintaro Jaya, dekat Bank Permata. Gereja Santo Matius Penginjil ini juga begitu identik dengan salah satu rumah retret Wisma Canossa. Sepuluh tahun silam, saya sudah menjamah Wisma Canossa ketika sepuluh tahun silam mengikuti Golden Voice Christmas Choir Competition di Kemayoran. Dan itu sebenarnya pertama kali saya sudah misa di Gereja Santo Matius Bintaro ini.

Untuk mencapai Gereja ini cukup mudah dengan menggunakan ojek online. YAIYALAH. Patokannya adalah Jalan Ceger Raya. Jadi kalau dari KRL Commuter Line enaknya turun di Pondok Ranji untuk kemudian dapat disambung ojek. Ada angkot, sih, tapi saya tidak mendalaminya.

Dari website resmi Paroki Santo Matius Penginjil, diketahui bahwa sejarah paroki ini bermula dari beberapa keluarga Katolik yang pindah rumah ke sekitar kompleks Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) Kodam V Jaya sekitar tahun 1972. Keluarga-keluarga itu tadinya belum mengenal, namun mulai saling tahu dan lantas ngobrol sesudah setiap hari Minggu melihat ada keluarga yang membawa buku Madah Bakti.

Continue reading