Category Archives: Soal Sesuatu

Sesuatu kata itu selalu ada tentangnya..

5 Pondasi Utama dalam Pemanfaatan Social Media Marketing

Salah satu cara yang sangat efektif dalam memasarkan produk saat ini yaitu dengan menggunakan social media marketing. Hal ini bisa dikatakan cukup efektif karena hampir semua orang menggunakan platform media sosial. Sebagai pebisnis, kamu harus memanfaatkan teknik pemasaran yang satu ini dengan sebaik-baiknya. 

Apalagi cara ini merupakan langkah yang paling ampuh mengingat pesatnya perkembangan teknologi saat ini. Oleh karena itu, kamu tak boleh jadi pebisnis terbelakang yang akhirnya gigit jari karena tak mampu mengimbangi perkembangan zaman. Nah, untuk belajar tentang social media marketing, kamu bisa mengikuti kursus social media marketing

Untuk membantu kamu memahami lebih dalam mengenai pemasaran melalui sosial media, berikut ini adalah ulasan mengenai 5 pondasi utama dalam pemanfaatan marketing media sosial. Jadi, simak ulasan ini hingga selesai.

5 Pondasi Utama Dalam Pemanfaatan Social Media Marketing

Marketing melalui media sosial merupakan satu langkah untuk memasarkan produk atau jasa dengan cara yang lebih luas. Maknanya, saat kamu memasarkan produk kamu harus membuat sebuah konten yang menarik guna mempromosikan produk atau jasa. 

Selain itu, kamu juga dapat membangun komunitas, serta menarik orang lain untuk berkunjung dan melirik bisnis yang kamu lakukan. Cara pemasaran seperti inilah yang sangat diperlukan oleh perusahaan atau para pebisnis. Utamanya  bagi mereka yang ingin memasarkan produk dengan efisien dan praktis. 

Ketika akan menerapkan konsep pemasaran menggunakan media sosial, ada hal yang harus kamu perhatikan. Satu diantaranya adalah bagaimana cara untuk menyampaikan pesan secara tepat hingga efektif. Bukan cuma itu saja, ketika memanfaatkan marketing media sosial ini, kamu pun perlu mengetahui 5 pondasi utama yang mendasarinya, yaitu:

  1. Skema atau strategi

Ketika kamu memutuskan memanfaatkan media sosial untuk pemasaran produk, sebaiknya kamu menyiapkan strategi atau skema yang tepat. Terutama sebelum kamu mengunggah konten di media sosial yang kamu pilih. Untuk menyusun strategi atau rencana tersebut kamu harus bisa menjawab beberapa pertanyaan penting seperti:

  • Apakah goal atau tujuan yang ingin kamu capai saat memasarkan produk melalui sosial media?
  • Bagaimana media sosial bisa memberikan kontribusi bagi bisnis kamu?
  • Jenis media sosial seperti apa yang akan kamu gunakan?
  • Tipe konten seperti apakah yang ingin kamu bagikan?
  • Konten yang bagaimanakah yang sekiranya efektif untuk meningkatkan penjualan?

Inilah beberapa pertanyaan yang harusnya bisa kamu jawab. Sehingga pondasi pertama dalam memanfaatkan media sosial marketing yakni strategi atau skema bisa kamu susun dengan optimal.

  1. Publikasi dan planning

Pada sebuah brand baru, metode marketing media sosial biasanya diawali dari konsistensi ketika mempublikasikan konten. Untuk itu kamu perlu membuat perencanaan serta publikasi secara kontinyu dan konsisten. Dari sini nantinya kamu akan memperoleh cara yang tepat untuk terus meningkatkan performa media sosial yang tengah dijalankan.

Secara sederhana, mulailah dengan menyiapkan perencanaan secara keseluruhan. Yakni rencana jangka pendek baik mingguan dan bulanan serta jangka panjang mulai dari kuartal, semester serta tahunan. 

  1. Menjaga dan memonitor 

Apabila media sosial yang kamu gunakan untuk pemasaran mulai menunjukkan peningkatan maka interaksi yang terjadi juga akan semakin banyak. Interaksi tersebut bisa berupa komentar, review, kritik, saran bahkan mungkin keluhan. Semua ini bisa disampaikan dengan menggunakan direct message

Semua interaksi yang terjadi ini harus kamu jaga dan monitor secara periodik. Tujuannya agar reputasi positif yang sudah kamu bangun terhadap brand bisa bertahan.

  1. Analisa dan laporan

Saat semua perencanaan dan publikasi konten sudah diterapkan dengan konsisten maka kamu harus mengukur performanya. kamu harus memperhatikan bagaimana perkembangan followers yang positif. Selain itu kamu pun harus memperhatikan performa konten secara spesifik. Contohnya rata-rata jangkauan serta engagement rate yang telah dihasilkan.

Photo by PhotoMIX Company on Pexels.com
  1. Advertensi atau iklan

Bagi kamu yang memiliki brand dan baru menggunakan social media marketing, sebaiknya jangan lewatkan penggunaan iklan. Rencanakan dan terapkan iklan dengan maksimal. Harapannya, jika penerapan iklan ini bisa dilakukan secara terus menerus maka kamu bisa mengintegrasikan konten yang nantinya bakal dipublikasi. 

Dengan demikian, keuntungan atau hasil yang akan kamu dapatkan dengan menggunakan metode marketing media sosial ini bisa lebih optimal. 

Untuk lebih memantapkan keahlian dalam menerapkan metode pemasaran menggunakan media sosial, ada baiknya jika kamu melakukan upgrade skill. Bisa dengan cara mengikuti kursus social media marketing, kelas, atau bootcamp yang berisi pendalaman materi mengenai metode pemasaran tersebut.

Salah satu penyedia jasa bootcamp untuk metode pemasaran menggunakan media sosial adalah Belajarlagi. Bootcamp ini sangat ramai di twitter, bahkan pernah sold out 500 seat dalam hitungan 2 menit.

Di Belajarlagi kamu dapat mempelajari fundamental, best practices, hingga reporting social media organic dari para instruktur yang berasal dari unicorn startup sampai multinational digital agency dengan 5+ tahun lebih pengalaman di bidang digital. Sehingga bisa dipastikan para pengajar ini akan menyampaikan materi pembelajaran berdasarkan pengalamannya masing-masing.

Metode pembelajaran dari Belajarlagi sudah bertaraf international, salah satu bootcamp pertama di indonesia yang mendapatkan sertifikasi pengakuan internasional dari EAF (Education Alliance Finland).

Di samping unggul karena memiliki instruktur yang berpengalaman, Belajarlagi juga memiliki keunggulan lain. Yaitu proactive community, dedicated facilitator, hands on project serta industry expert. Akan ada tugas berdasarkan case real di dunia kerja, dan setiap tugas akan mendapatkan feedback personal.

Adapun beberapa materi yang akan kamu pelajari secara intensif ketika mengikuti bootcamp antara lain:

  • Introduction to Social Media (recorded) 
  • Introduction to Advance Social Media
  • Campaign dan Content Ideation I dan II
  • Brand Building (recorded)
  • Copywriting I dan II
  • Personal Branding & Public Speaking
  • Dan masih banyak lagi lainnya. 

Selain itu, dengan bootcamp ini nantinya kamu bahkan bisa mempelajari bagaimana taktik menggunakan media sosial. Seperti YouTube, TikTok, Twitter, dan lain sebagainya. Jadi, jika kamu tertarik dan ingin segera mengikuti program belajar ini maka segeralah mendaftar. 

Memang pendaftaran belum dibuka untuk saat ini, namun kamu tetap bisa registrasi agar masuk dalam waiting list. Masalah biaya tak perlu kamu khawatirkan, karena bootcamp Belajarlagi menawarkan paket belajar dengan harga yang terjangkau. Jadi tunggu apalagi, segera mendaftar bootcamp social media marketing melalui Belajarlagi sekarang ya!

Tips Bermain Katla

Awalnya ada WORDLE lalu kemudian di Indonesia muncul yang namanya KATLA. Permainannya sederhana, sih. Jadi akan ada kata yang terdiri dari 5 huruf. Kita punya 6 kesempatan menebak kata tersebut. Perlu diketahui bahwa setiap hari hanya ada 1 kata untuk ditebak dan itu sama bagi setiap pemain.

Nah, aturannya adalah jika ada huruf yang memang merupakan komponen dari jawaban tapi tidak tepat posisinya, akan muncul warna cokelat. Apabila hurufnya sudah tepat di posisinya, akan muncul warna hijau. Kurang lebih begini:

Oke. Melihat jawaban di atas, saya hendak berbagi tips bermain KATLA yang kurang lebih akan ciamik dan berdaya ungkit.

Pertama, selalu masukkan kata yang hurufnya beda semua. Beberapa waktu yang lalu memang sempat ECENG muncul sebagai jawaban, tapi sejauh ini sih rata-rata jawabannya memang 5 huruf beda semua. Pilihan yang ambil adalah REMAS dan diperoleh E sudah benar serta S benar tapi salah tempat.

Kedua, jangan ikuti langkah saya diatas untuk kata kedua dan ketiga! Lihat, saya sudah tahu bahwa R itu bukan jawaban, tapi masih saya pakai di baris kedua. Itu sebaiknya tidak dilakukan karena akan menyia-nyiakan kuota. Langkah ketiga itu saya juga salah karena sudah jelas S bukan di belakang, tapi saya ulang lagi dan tentu saja salah.

Ketiga, hilangkan pilihan-pilihan melalui gambaran imajiner. Ya seperti S tadi. Ketika di belakang salah dan di depan juga salah, sementara hijaunya sudah tepat mestinya saya sudah tahu kalau S itu di tengah. Dengan begitu kita bisa mengira-ngira dengan lebih mudah ihwal jawabannya.

Keempat, kalau bisa selalu gunakan huruf-huruf seperti A atau S terlebih dahulu. Memang di jawaban ECENG dia nggak ada, tapi pas SABTU, atau BISON, maka S itu nongol kok. Ada beberapa huruf yang memang cukup menguasai kancah persaingan kata-kata di Indonesia.

Sejauh ini saya sih belum pernah gagal, ya. Hampir sih sering. Beda sama WORDLE atau KOTLA yang lumayan sering gagalnya. Buat yang pengen mencoba bisa langsung menuju situs katla.vercep.app ya.

Pengalaman Menenangkan Belanja Durex di Alfagift

“Kapan Isto punya adik?”

Pertanyaan model begini asli bikin malas. Pertama, saya suka anak-anak. Anak-anak itu secara umum sih lucu dan menggemaskan. Hanya saja, ada bagian dari memiliki anak yang notabene bukan hal mudah: dimuntahin, berjaga sepanjang malam ketika anak demam, ke dokter anak setiap bulan, bingung nitip sama siapa ketika kami bekerja, dan lain-lain. Akan tetapi, poin utamanya adalah seperti kata Pak Prabs:

Well, pilihan punya anak dan tidak itu tentunya pilihan masing-masing. Namun sejauh kami menghitung gaji berikut proyeksinya dan mengingat gaji hanya naik 5 tahun sekali maka jadilah rasanya anak 1 sudah cukup sejauh ini. Dan tentu saja untuk melakukan kontrol pada tidak bertambahnya makhluk hidup di dunia ini melalui saya diperlukan alat bantu bernama alat kontrasepsi, termasuk kondom.

Nah, percaya atau tidak, membeli kondom itu selalu jadi pengalaman yang menarik. Apalagi wajah saya yang setara mahasiswa dan jarang pakai cincin kawin karena kesempitan. Wkwk. Jadi, seringkali saya beli kondom itu kala jajan sama Isto. Supaya kelihatan bahwa saya ini bapak-bapak milenial sesuai tajuk blog ini. Bagaimanapun, kondom itu baik untuk rumah tangga. Saya ada teman yang justru menangis kala hamil anak kedua karena mereka masih Long Distance Marriage bahkan sampai sekarang. Sesudah anak kedua lahir, mereka selalu pakai kondom ketika bersua satu sama lain karena ya mengasuh dan membesarkan anak memang tidak sesederhana itu. Jadi, intinya sih gunakan kondom. Haha.

Salah satu cara untuk mengakalinya tentu saja tidak belanja langsung namun dengan bantuan aplikasi sebagaimana yang lagi trending di era pandemi. Dan salah satu pilihan saya adalah dengan menggunakan Alfagift.

Bicara Alfagift sebenarnya adalah tentang hal yang kerap ditanyakan oleh kasir Alfamart kalau kita belanja: ada membernya? Yes, Alfagift adalah aplikasi belanja online Alfamart. Alfagift ini juga mendukung gerakan go green karena termasuk juga menihilkan struk yang dicetak. Alfagift juga semacam datang ke Alfamart tanpa ke Alfamart sebab ongkirnya pun gratis-tis-tis tanpa syarat #gerceptanpabatas

Aplikasi belanja online Alfamart ini tentu menarik bagi bapak-bapak milenial kayak saya. Bukan apa-apa, kalau saya bawa anak, niatan belanja 20 ribu bisa berakhir jadi 200 ribu jika anak saya mengambil belanjaan sesukanya dan dimasukkan ke keranjang plus langsung diseret ke kasir. 

Lebih lanjut lagi, Alfagift sebenarnya juga bukan tentang produk yang ada di Alfamart saja sebab ada sederet toko official yang menyediakan berbagai kebutuhan kita secara lebih lengkap. Hal ini menjadi melengkap keunggulan jangkauan luas, pengiriman yang cepat, dan tentu saja gratis ongkir tanpa syarat. Produk kondom Durex berbagai varian yang saya angkut juga merupakan bagian dari isi Official Store Durex di Alfagift:

Untuk pembayaran juga disediakan sejumlah channel seperti Virgo, Gopay, Shopeepay, transfer ke BCA Virtual Account, hingga kartu kredit sekalipun juga dimungkinkan. Dengan demikian, belanja Durex menjadi sesuatu yang jauh lebih sederhana. Saya sendiri mengangkut Durex Invisible, Durex Extra Safe, dan Durex Fetherlite. Khusus yang Fetherlite, baru mau nyoba nih. Kalau dua yang lain sudah masuk referensi~

Produk-produk di Alfagift bisa diantar ke rumah dan bisa juga kita ambil ke toko terdekat. Nanti kalau pun stoknya kosong, pasti dikasih tahu kok. Jadi nggak akan zonk juga ketika di aplikasi bilangnya ada tapi pas ke lokasi malah nggak ada. Sejauh pengalaman saya sih tidak demikian.

Untuk hadirnya barang ke rumah, pengiriman cepat menjadi andalan. Bisa dilihat juga kok di aplikasi soal pilihan jamnya. Jika kita memilih untuk diantar dan mengambil semua ada pilihannya.

Jangan lupa juga ada sederet promo Alfamart yang bisa kita lihat begitu mengunduh Alfagift, seperti misalnya cashback melalui pembayaran Virgo maupun Gopay. Cashback sejatinya bukan sembarang cashback karena seperti kata pepatah di Wakanda Tenggara: cashback demi cashback lama-lama bisa jadi bukit juga.

Demikianlah pengalaman saya dalam hal belanja melalui Alfagift. Cukup menenangkan. Terutama sekali karena kita tidak perlu berhadapan dengan ninja yang ketika kita tiba di toko tidak terlihat lalu seketika hadir di hadapan mata sembari memegangi jok motor kita. Dan untuk mengunduh Alfagift silakan klik tautan Alfagift ini ya…

Ciat!

Mengapa Saya Suka WFH?

Barusan saya kaget melihat ada seseorang dari kementerian yang cukup penting di masa pandemi ini yang merasa kaget bahwa ada kantor yang masih WFH. Ya gimana nggak kaget, wong varian Omicron baru masuk, artinya kita masih harus berjauh-jauhan sebenarnya kan…

Tapi kok..

Cuma ya sudahlah. Satu hal yang pasti, pasca 3 bulan merasakan WFH dan WFO serta Dinas dengan seimbang, sesungguhnya saya harus mengutarakan bahwa saya lebih suka WFH.

Photo by Pavel Danilyuk on Pexels.com

Pertama, tentu saja karena saya tidak perlu menambah risiko dengan pergi ke luar rumah untuk bersua orang-orang terutama di transportasi umum. Dari situ saja saya sudah senang. Bukan apa-apa, segalak-galaknya petugas mereka juga akan takluk oleh situasi. Benar bahwa masuk stasiun harus scan aplikasi PeduliLindungi, tapi yang nge-share screenshot-an juga ada. Saya pernah lihat di salah satu stasiun. Belum lagi yang batuk-batuk ke KRL dan sejenisnya. Masih ditambah lagi saya kudu naik bis, naik ojol, dst. Ketemu orang dengan faktor risiko semua kan…

Kedua, berkaitan dengan risiko di atas ada risiko lainnya yaitu risiko finansial. Buat ke kantor saya harus nitip motor Rp8.000 lalu naik KRL Rp3.000 kemudian lanjut TransJakarta Rp3.500 lalu dipungkasi dengan ojol Rp17.000. Sudah Rp31.500 berangkatnya saja. Kemudian pulangnya Rp25.000 ojol dari kantor ke stasiun. Hampir Rp60.000,- Ini tentu belum termasuk biaya beli masker yang tentu beda jika saya kerja di rumah dan nggak pakai masker. Dengan gaji yang pas-pasan begini, sudah pasti saya mending nggak keluar Rp60.000,- sehari untuk bekerja.

Ketiga, waktu yang sangat berharga. Saat WFO, saya berangkat jam 6 dan sampai kantor 7.40-an. Ada 1 jam 40 menit yang sebenarnya bisa saya habiskan di depan laptop untuk mengerjakan banyak hal. Demikian pula dengan pulangnya. Dari 16.30 sampai 18.00 itu juga bisa saya pakai untuk kerja. Sementara kalau WFO, pada jam-jam itu saya lebih banyak ngelamun.

Photo by Elena Saharova on Pexels.com

Keempat, fasilitas. Internet di kantor saya ya ada, tapi kan yang pakai banyak. Sementara kalau di rumah, saingan saya cuma Isto. Sepanjang saya Zoom Meeting dari rumah, nggak pernah sekalipun ada peringatan berupa sinyal warna merah karena ya saya penguasa internet di rumah. Belum lagi kalau mau 2 atau 3 Zoom sekaligus, saya bisa bajak laptopnya Mama Isto, atau laptop Isto-nya sekaligus.

Kalau di rumah, begitu Mama Isto ngantor, maka saya segera menyalakan laptop dan bisa kerja mulai 6.30. Nanti jam 8 Aunty akan datang dan Isto dialihkan pengasuhannya ke Aunty dan saya bisa kerja terosss sampai siang. Rehat sedikit makan siang, saya kemudian bisa stay di depan laptop sampai Mama Isto pulang. Durasinya memang lebih panjang dan pekerjaan juga jadi lebih banyak yang bisa dikerjakan. Lebih pusing, sih. Cuma pekerjaannya kan memang tipe semua pakai laptop, jadi ya mau di kantor atau di rumah kan saya sama-sama lihat laptop.

Masalahnya memang banyak orang yang menjadikan WFH ini sebagai liburan dan bikin sejumlah bos enggan me-WFH-kan pegawainya. Model beginilah yang saya agak sebal karena saya sendiri merasakan bahwa banyak hal yang bisa saya kerjakan di rumah dalam mode WFH dan bahkan lebih ciamik pula hasil kerja saya di WFH.

Hari Jumat kemarin soal ini sudah saya sampaikan sendiri ke pimpinan dan semoga dapat menjadi hal yang baik ke depannya. Bukan apa-apa, pandemi ini belum berakhir. Gitu, sih.

The Tunan Waterfall

Our agenda is actually a morning flight from Manado to Jakarta. We were even in the hotel lobby to wait for the driver from our office. Suddenly, we got messages that there had been a flight delay to 2 p.m.

Considering that at 12 noon, we had to check out of the hotel, we decided to depart the hotel earlier while looking for tourist destinations that were around in line. Mr. Martin, the office driver, then directed us to Tunan Waterfall. He had never actually been to this waterfall. It’s just that he’s seen the directions.

Tunan Waterfall is located in North Minahasa Regency, not too far from Sam Ratulangi International Airport. From a distance, this waterfall is very high. Search results on Google mention it is about 85-86 meters. Physically, in my opinion, this waterfall is higher than the Anai Valley. If the wind is significant, the altitude factor causes visitors from a distance to be drenched.

The pool in this waterfall is actually quite spacious, but the access is limited. In fact, it can actually be conditioned, such as the Benang Kelambu and Benang Setokel in Lombok that closes the pool’s access and then diverts it slightly to the side.

The facilities in this place are actually quite decent. It just so happened that we went to this place early in the morning so that the places to eat tended to still close. On the other hand, the access was still relatively poor. Yes, simply put, we rode Inova, and it couldn’t if we had to cross paths with other vehicles. It’s more appropriate to use a motorcycle.

Mengubah Tabel PDF ke Excel dengan Python

Mengubah Tabel PDF ke Excel dengan Python – Awalnya adalah keresahan pribadi ketika balik dari kuliah. Dulu itu, reviu RKA-K/L masih pakai aplikasi yang username dan password-nya DIPA. Saya bisa dengan mudah mengkonversi ADK ke format Excel dan dari situ saya bisa melalukan pekerjaan dengan mudah. Saya ada pengalaman cukup buruk soal itu, pernah dituding salah tapi tertolong oleh data bahwa pada proses reviu RKA-K/L saya diberikan data yang berbeda.

Blog secreet: Aplikasi RKAKL 2015
Aplikasi RKA-K/L zaman Pujangga Baru

Begitu balik dan aplikasinya jadi SAKTI, malah adanya cuma PDF. Saya lalu mengalami kesusahan karena note di PDF itu bagaimanapun sulit untuk direkap semudah pakai Excel dengan berbagai fiturnya.

Cukup Satu Aplikasi SAKTI (Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi)

Saya kemudian mencari-cari berbagai kombinasi. Pada akhirnya saya mencampurkan converter free yang ada di internet dengan teknik yang akan saya kisahkan pada konten ini. Sekadar ingin memudahkan diri. Kebetulan, pas kuliah kemarin sempat mempaparkan diri pada Python walaupun kalau cari coding selalu dari internet. Heuheu.

Sesuai dengan sumbernya, kode-kode yang digunakan memanfaatkan Google Colab. Saya juga punya Jupyter Notebook tapi sudah dicoba ke situ, script ini gagal. Hehe.

Mari kita mulai…

Intinya, library yang digunakan adalah Tabula. Dengan Tabula, tabel di dalam file PDF akan dikonversi ke Pandas Dataframes. Nah, Tabula ini bukan bagian dari library Google Colab, jadi kita perlu masukkan dulu.

!pip install tabula-py

Ketika Tabula sudah ter-install, maka kita dapat meng-import 2 library yang juga kita butuhkan:

import tabula
import pandas as pd

Sebagai gambaran, saya gunakan hasil penerimaan CPNS dari Badan Informasi Geospasial (BIG). Kan lagi musim tuh tes CPNS dan sebenarnya data-datanya gurih untuk diolah bolak-balik. Karena pakai Google Colab, data yang sudah saya unduh tadi, kemudian saya unggah ke Google Colab tepatnya di logo folder sebelah kiri layar.

dfs = tabula.read_pdf("/content/BIG.pdf", multiple_tables=True, pages="all", encoding="utf-8")

Kalau diterjemahkan, bagian awal tentu saja nama file-nya. Untuk command selanjutnya adalah kita hanya memproses tabel yang dikenali di dalam PDF. True berarti kita mau semua tabel di dalam file akan diproses. Sedangkan untuk “UTF-8” digunakan karena dia adalah tipe encoding dari Pandas, library yang kita gunakan untuk memproses data.

Terakhir, kita menyimpan kode sebagai instance “dfs” sehingga kita dapat melakukan manipluasi lebih lanjut.

dfs[0]

Sesudah itu, kita perlu menambahkan library lain yakni Xlsxwriter.

!pip instanll Xlsxwriter
import xlsxwriter

Nah, dengan library tersebut, kita buat file Excel-nya:

writer = pd.ExcelWriter('BIG.xlsx',engine='xlsxwriter')

Writer sendiri memungkinkan kita untuk menyimpan setiap tabel atau dataframe sebagai tab sendiri dalam file Excel. Kadang jadi kosong ya namanya juga PDF, salah satu script yang bisa digunakan untuk mengantisipasinya adalah:

X = 0

for df in dfs:
if len (df) == 0
print("Empty Dataframe")

else:
df.to_excel(writer, sheet_name=f"sheet {X}")
print(f"Saved Sheet{X}")
X = X + 1

Script di atas kemudian dipungkasi dengan perintah menyimpan:

writer.save()

Kita bisa refresh file di sebelah kiri layar untuk mendapati file hasil export-nya muncul.

Sejujurnya masih agak berantakan karena 1 halaman jadi 1 sheet. Ini PR lagi dalam merapikannya, tapi hasil yang diperoleh lumayan untuk melengkapi hasil dari converter. Converter ini ada masalah lain karena biasanya kalau mau convert banyak halaman agak sulit dan harus berbayar, sementara saya kan miskin.

Kira-kira demikian, lebih lengkapnya bisa disimak di video YouTube berikut ya:

Ciao!

Sumber kode DISINI.

Liburan Pegal di Ancol

“Pa, Eto mau ke beach. Naik airplane ya…”

Demikian pesan bos besar di rumah. Kombinasi video YouTube yang memperlihatkan sejumlah anak bebas main di pantai plus beberapa kali bapaknya dinas naik pesawat membuat dia memberikan pesan itu. Pesan yang sulit diwujudkan, selain karena miskin, tapi juga karena lagi pandemi. Saya saja berusaha supaya tidak berangkat dinas karena takut ketularan COVID-19 di kota lain, lah masak bawa anak liburan?

Aslinya, saya jelas pengen bawa anak liburan. Kemarin di Bali kan saya menginap di Hotel Bali Mandira, pinggir Legian banget. Hotelnya juga asyik lah kalau bawa anak. Dan memang saya ingin banget bawa anak jalan-jalan. Tapi lagi-lagi, selain COVID-19 ada faktor kemiskinan yang membuatnya sulit terwujud~

Dan karena kita di Tangerang Selatan, maka jadilah kita ke beach yang paling masuk akal: Ancol. Kristof sudah pernah ke Ancol pada usia 2 tahun dan sekarang berarti dia kesini pada usia 4 tahun. Dulu pas 2 tahun sudah direncanakan bakal bawa ke Singapur lah, ke mana lah, ujung-ujungnya demi keamanan, selama 2 tahun dia malah di rumah…

Dulu kami pernah ke Ancol, tapi menginap di luar kawasan. Nah ini pikirnya kan biar liburannya asyik, jadi coba menginap di dalam kawasan. Kami menginap di salah satu hotel yang ada di dalam kawasan Ancol, tepatnya yang mefet banget sama laut dan dahulu kala pernah kondang dengan nama artis Lidia Pratiwi. Niatnya kan biar urusan ke pantainya gampang.

Sayangnya, gampang itu kalau kita bawa mobil sendiri.

Sobat misqueen kayak saya yang ke Ancolnya saja naik Blue Bird dengan kartu kredit, tentu nggak punya transportasi apapun di dalam selain kaki dan sedikit uang untuk sewa sepeda listrik. Tapi ya sudahlah, dinikmati saja karena niatnya kan liburan.

Secara umum, sesudah datang dan check in kami menuju ke Faunaland, suatu kebun binatang kecil-kecilan di dalam kawasan Ancol, tepatnya di tengah Allianz Ecopark. Kami naik taxol dari hotel ke Allianz Ecopark tersebut. Uniknya, itu posisi si taxol sudah di dalam dan saya tetap disuruh bayar 25 ribu. Padahal, ketika di masuk kan dia sudah dapat tiket keluar ya.

Tapi ya sudah. Gapapa.

Dari Faunaland, tampaknya anak saya ngebet benar pengen ke pantai. Walhasil, dengan berjalan kaki saya membawa dia ke Pantai Indah yang notabene paling dekat dengan Faunaland. Pantainya cukup ramai dengan tali melintang di area laut tanda tidak boleh berenang. Jadi memang hanya celup-celup sama main pasir. Anak saya sebagai anak prokes langsung keder begitu melihat anak-anak yang cukup ramai.

“Pa, banyak anak-anak…”

Dari Pantai Indah, kami kembali ke hotel untuk main pasir di depan kamar saja. Kami naik taksi. Jadi, ada sebuah taksi yang muter-muter Ancol pada Sabtu-Minggu untuk mencari orang-orang tidak berpunya seperti kami ini. Pas nganter kami, bapaknya malah curhat. Sedih memang. Benar bahwa di Ancol ada bus Wara Wiri, tetapi keramaian dan rutenya tidak cukup visibel untuk orang-orang seperti kami.

Kami memang berencana akan main pasir baru pada pagi hari berikutnya, sebelum pulang. Arahnya tentu saja beach pool yang dari proporsi pasirnya paling banyak. Pilihan kami kemudian adalah naik sepeda listrik yang disewakan di hotel dengan harga 100 ribu untuk 2 jam. Jadi dua sepeda ya 200 ribu. Dengan jarak 1 kilometer, menggenjotnya lumayan juga. Tapi namanya sepeda listrik kan kayak naik sepeda motor.

Dan sisi baiknya adalah ternyata anak saya sudah cukup seimbang sehingga bisa pegangan dengan baik dan benar di boncengan.

Kami main pasir dalam suasana yang gloomy dengan sedikit mendung dan beberapa tetes air hujan. Walau demikian, dalam durasi 2 jam tidak ada hujan yang terjadi sehingga keinginan Kristof untuk bisa bermain pasir di pantai setidaknya bisa terwujud dengan keterbatasan seperti tali, maupun kapasitas dan tentunya minim ombak. Memang lain kali saya sangat ini dia bisa menikmati pantai-pantai cantik yang pernah saya datangi, mulai di Padang, Bali, Kupang, Nias, hingga di Palu.

Memang baru dua kali dia ke pantai dan dua-duanya ke beach pool. Sebagai orang tua, sebenarnya ada keinginan dalam diri saya untuk mengajak dia. Cuma dulu takut saja dia tidak ingat. Jadi mau mencari umur yang kira-kira dia bakal ingat sampai kapan-kapan dan sepertinya ini sudah umurnya.

Kapan-kapan ya, Nak.

Minggat Dong Corona, Saya Mau ke Jogja

Minggat Dong Corona, Saya Mau ke Jogja – Dulu sekali ketika saya masih jadi penjaga gudang di pabrik, ada rasa bosan dengan aktivitas yang hanya tentang kantor dan kosan. Plus, di kantornya itu ya antara ruang office dan gudang saja. Begitu kemudian pindah, pergerakannya langsung meningkat ekstrem. Suatu hari pada tahun 2018, saya pagi-pagi berangkat dari Serpong, rapat di Jakarta, kemudian siangnya rapat lagi di Bogor, dan kemudian malamnya balik lagi ke Serpong.

Pernah pula pada suatu pekan saya balik dari Denpasar dan mendarat kurang lebih jam 10 pagi, balik ke kantor di Jakarta, terus jam 3 pulang dulu ke Serpong untuk kemudian jam 11 malam naik kereta ke Bandung untuk acara di ITB keesokan harinya. Acara di ITB selesai jam 2, saya lalu bergegas balik ke Serpong untuk bersiap-siap karena hari Jumat pagi buta saya ada penerbangan ke Jogja.

Ya, sebelum pandemi, saya pernah segesit itu bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan begitu ada pandemi saya betul-betul jadi bapak rumahan seutuhnya. Sebagai gambaran paling jelas mari kita lihat pergerakan saya pada akhir 2018 dan pada bulan Agustus 2021.

Sayangnya memang, tahun 2018 itu adalah terakhir kali saya ke Jogja. Sebuah kota yang punya banyak cerita dalam masa lalu saya. Sebagai bapack muda, sesungguhnya mengajak anak semata wayang saya jalan-jalan ke Jogja adalah salah satu mimpi yang sebenarnya biasa, tapi sejak Maret 2020 berasa jadi mimpi yang terlalu liar. Itu 1 tempat baru di Agustus 2021 bahkan sebenarnya hanyalah Indomaret dekat rumah yang memang baru buka. Artinya, ya saya memang tidak kemana-mana…

Sebenarnya, sih, anak saya yang sekarang berusia 4 tahun ini bukan kali pertama ke Jogja. Pertama kali dia naik pesawat malah ke Jogja di tahun 2017. Masih bayi 5 bulan, lho. Kami ke Jogja karena ada acara pernikahan sepupu. Ya namanya juga acara nikahan, yang dibawa juga masih bayi 5 bulan, dibawa jalan-jalan pasti nggak berasa.

Ketika kemudian anak saya sudah paham mengenai ‘apa itu main?’ tentu ingin rasanya mengajak dia jalan-jalan ke pantai-pantai di Gunungkidul yang dahulu kala menjadi tempat saya dan teman-teman dolan jauh-jauh dari Sleman. Ingin pula mengajaknya ke Taman Pintar, Alun-Alun, Kaliurang, Penting Sari, atau bahkan sekadar main di kampus.

Padahal, ketika tahun 2019 saya kuliah lagi dan betul-betul off dari pekerjaan, berbagai perjalanan itu juga sudah ada dalam perencanaan. Selalu ada keinginan untuk jalan-jalan singkat sama anak, ya sekadar naik bis lintas Jawa yang cakep-cakep atau kereta api untuk datang ke tempat-tempat saya pernah bertumbuh di Jogja dan sekitarnya.

Lagipula dalam pengalaman saya, semakin besar anak, urgensi untuk harus menginap di hotel dengan fasilitas ekstra seperti kolam renang atau tempat bermain yang luas menjadi minim karena toh kita memang ingin jalan-jalan. Satu-satunya yang menjadi penting adalah kamar yang nyaman dan tentu saja terjangkau harganya. Kayak waktu di Bogor beberapa waktu sebelum pandemi, kami menginap di RedDoorz dekat Kebun Raya. Durasi di kamarnya tentu saja minim karena kami lebih asyik main ke Taman Topi atau Istana Bogor buat kasih makan rusa.

Yang paling penting, begitu balik ke hotel, kasurnya bersih, tivinya oke, AC-nya adem, dan bisa tidur dengan nyenyak. Walhasil saya sebagai bapack nan qiqir bisa mengalihkan anggaran untuk makan yang lebih enak atau sekalian dikonversi jadi tiket di tempat bermain. Dan pada dasarnya kebutuhan tersebut sudah tersedia di RedDoorz. Saya malah jadi ingat dulu pas masih pengantin baru ada kalanya staycation di hari kerja, ya di RedDoorz. Cari-cari di sekitar Setiabudi atau Bendungan Hilir agar dekat kantor istri dan bisa terjangkau ke kantor saya. Seru saja sih buat variasi hidup. Dan yah, lagi-lagi yang model begitu semakin tidak bisa terlaksana karena selain faktor anak, ya faktor Corona juga.

Sudah terbayang sebenarnya ketika suatu masa sesudah pandemi ini berakhir, maka saya akan ke Jogja bersama anak dan istri, lalu menginap di hotel di Yogyakarta yang tidak jauh-jauh dari Stasiun Tugu dan Malioboro. Dari situ, kami akan naik andong menuju Taman Pintar dan kemudian menghabiskan cukup banyak waktu di berbagai wahana pendidikan yang ada. Sore menuju malam, kami akan menghabiskan waktu di daerah Nol Kilometer sembari memperlihatkan kepada anak saya rupa-rupa kelakuan bapaknya kala masih muda belia. Habis itu ya balik ke RedDoorz dan terlelap untuk keesokan harinya.

Tempat berikutnya mungkin adalah kampus tempat saya kuliah 4,5 tahun lamanya di utara Jogja yakni Kampus III Universitas Sanata Dharma di Mrican. Tempatnya asri dan asyik buat bocah main-main apalagi lari-lari. Dan sebenarnya selain tadi pantai sampai Kaliurang, ada begitu banyak destinasi baik yang hits maupun yang penuh kenangan yang ingin saya bagikan sensasinya ke anak saya pada suatu hari nanti. Terutama ketika herd immunity sudah tercapai dan yang paling utama adalah saya masih diberi kehidupan.

Berkaca pada Spanish Flu tahun 1918, akan ada masanya virus Corona-nya hilang. Apalagi di masa kini sudah ditunjang dengan ikhtiar vaksinasi. Walau mungkin akan lebih susah karena saya sudah harus kembali bekerja, tapi ya bisalah diluangkan waktu cuti jika memang hendak jalan-jalan. Setidaknya untuk memberikan reward kepada Kristofer yang selama 1,5 tahun benar-benar setia di rumah saja sesuai anjuran pemerintah.

Semoga Corona benar-benar cepat minggat, yha, karena saya sudah ngebet mau jalan-jalan ke Jogja~

Kenali Gejala, Penyebab, dan Pengobatan Cacar Air Paling Ampuh

Penyakit cacar air sudah sangat lazim diderita di kalangan mayoritas masyarakat. Konon katanya, setiap orang akan mengalami penyakit ini satu kali seumur hidup entah itu ketika kecil, dewasa, dan bahkan saat sudah lanjut usia. Cacar air memang tidak membahayakan, tetapi bekasnya biasanya sulit dihilangkan selama beberapa waktu.

Gejala Penyakit Cacar Air

Cacar air adalah penyakit kulit yang menimbulkan kulit terjadi ruam merah dan bisul yang di dalamnya berisi cairan. Penyakit ini bisa menyerang anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Sebelum benar-benar timbul cacar pada kulit tubuh, biasanya ada beberapa gejala yang ditimbulkan meliputi sebagai berikut:

  • Badan terasa panas dan demam
  • Penderita mengalami pusing
  • Tubuh terasa lemas dan tidak nafsu makan
  • Tenggorokan terasa nyeri
  • Terjadi ruam merah pada kulit yang biasanya nampak di punggung, perut, lengan, dan selanjutnya bisa menyebar ke seluruh tubuh penderita

Penyebab Terjadinya Cacar Air

Cacar air adalah penyakit yang disebabkan oleh Virus Varicella Zoster. Penularan virus tersebut bisa menular melalui kontak ludah serta kontak langsung dengan cairan cacar yang berasal dari ruam yang dimiliki oleh penderita. Oleh sebab itu, cacar ini merupakan penyakit menular yang dapat ditularkan dari siapa saja selama terjadi kontak dengan ludah dan cairan cacar. 

Di samping murni karena penularan virus, terdapat beberapa faktor lain sehingga manusia bisa mengalami cacar air yakni sebagai berikut:

  1. Belum pernah mendapatkan imunisasi cacar
  2. Belum pernah mendapatkan vaksin cacar air khususnya bagi ibu hamil sehingga anak nantinya bisa berpotensi mengalami cacar
  3. Bekerja di tempat-tempat umum yang rawan akan penyebaran berbagai macam virus
Photo by Kristina Nor on Pexels.com

Cara Mencegah dan Mengobati Cacar Air Paling Ampuh 

Cacar air bisa diobati dengan jalan kedokteran maupun dengan cara tradisional. Pengobatan cacar ini tidak bisa secepat kilat langsung sembuh, tetapi membutuhkan proses selama beberapa waktu hingga cacar dan bekasnya benar-benar menghilang.

1. Minum Air Putih dengan Cukup

Cara pertama untuk mencegah sekaligus mengobati cacar air yang paling mudah yakni dengan meminum banyak air putih. Dengan banyak minum, maka tubuh akan terasa lebih dingin dan mmeungkinkan kinerja virus akan segera melemah. 

2. Tidak Menggaruk Ruam Cacar

Cacar air memang akan membuat kulit terasa panas dan sangat gatal. Namun, menggaruknya supaya rasa gatal hilang harus dihindari sebisa mungkin karena malah akan memperburuk kondisi cacar semakin parah. Jika digaruk, cacar yang belum sepenuhnya sembuh akan mengeluarkan cairan dan selanjutnya tumbuh ruam kembali. Ini akan memperlambat proses penyembuhan. 

3. Mengenakan Pakaian dengan Bahan Lembut dan Adem

Saat menderita cacar air, usahakan menggunakan pakaian yang lembut dan adem. Kain yang direkomendasikan untuk pakaian tersebut adalah kain katun rayon yang sangat adem jika dipakai. Dengan begini, kulit yang terasa panas akibat cacar perlahan-lahan bisa ternetralisir dengan pakaian yang dingin. 

4. Memakai Parutan Jagung Muda 

Salah satu cara tradisional yang bisa mendinginkan kulit yang terasa gatal dan panas akibat cacar air adalah dengan memakai parutan dari jagung muda. Parut beberapa biji daging jagung muda dan oleskan secara merata pada kulit yang terkena cacar. Jagung tersebut juga membuat cacar tidak akan membekas pada kulit. 

Informasi mengenai penyakit cacar air, gejala, penyebab, dan cara mengobatinya tersebut semoga menambah wawasan para pembaca. Walaupun penyakitnya tidak membahayakan, tetapi sangat disarankan untuk tetap melakukan pencegahan sebisa mungkin. Dengan begitu, penyakit cacar air bisa Anda antisipasi dengan lebih maksimal. 

Mengapa Pinjaman Online Harus Terdaftar di OJK?

Selalu ada cerita tentang pinjaman online alias pinjol di sekitar kita. Kemajuan teknologi memunculkan perusahaan finansial teknologi atau fintech dengan pinjol sebagai produknya.

Pinjol memfasilitasi publik untuk memperoleh pinjaman dana dengan waktu yang lebih singkat dan proses yang lebih mudah, dibandingkan dengan meminjam di bank, misalnya. Menjadi wajar jika kemudian pinjol semakin diminati masyarakat.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Kalau dilihat-lihat, sebenarnya ada kesamaan antara pinjol dengan makanan, terutama dalam urgensi regulasi. Produk makanan bisa dengan mudah dijumpai, dijual di berbagai tempat, tapi akan menjadi beda maknanya ketika dia didaftarkan ke Dinas Kesehatan atau BPOM. Saat didaftarkan, boleh jadi ada kandungan zat-zat yang harus dibatasi, misalnya kandungan Bahan Tambahan Pangannya. Konsumen jadi lebih terlindungi karena pembatasan zat-zat tersebut didasarkan atas kajian keamanan berbasis bukti.

Sama halnya dengan pinjol. Jumlahnya mungkin banyak sekali, tetapi ketika sudah terdaftar OJK, maka suatu pinjol akan berada di level yang berbeda. Peraturan yang utama adalah Peraturan OJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.

Ketika sudah terdaftar, otomatis suatu pinjol juga berada dalam operasional yang resmi dan pada saat yang sama diawasi oleh OJK itu sendiri. Secara administrasi publik, registrasi semacam ini bermanfaat untuk semua pihak dan sesungguhnya yang paling dilindungi adalah masyakarat.

Sederhananya, kalau cuma berpikir ala-ala New Public Management (pola pikir pelayanan menuju kuno yang menyamakan layanan pemerintah semata-mata kayak kita datang ke bank), registrasi-registrasi macam ini kurang cocok. Orang yang datang ke bank adalah pinjol yang datang ke OJK, sementara teller banknya anggaplah OJK-nya. Sudah dong, urusannya cuma mereka berdua itu.

Padahal, dengan proses pendaftaran itu ada pihak lain yang jadinya lebih terlindungi ketimbang kalau pendaftaran itu tidak ada. Namanya citizen alias masyarakat. Kalau pakai contoh orang datang ke bank, masyarakat nggak kelihatan perannya, padahal justru mereka yang diuntungkan. Pada titik inilah sudah semestinya kita mengedepankan pendekatan New Public Service.

Salah satu contoh pinjaman online yang sudah terdaftar adalah Tunaiku, yang merupakan produk dari Amar Bank. Amar Bank sendiri merupakan salah satu fintech pertama di Indonesia yang menyediakan pinjaman uang secara daring tanpa agunan sejak tahun 2014.

Tunaiku sendiri merupakan produk dari Amar Bank. Pada tahun 2018, Amar Bank meraih penghargaan Indonesia Best Banking dari Warta Ekonomi. Amar Bank juga memperoleh penghargaan sebagai TOP SME LENDER 2019 (UMKM) kategori Buku 2 dari Majalah Infobank pada tahun 2020.

Bank Amar sebagai induknya Tunaiku sendiri merupakan bagian dari perusahaan multinasional TOLARAM yang sudah berdiri lebih dari 60 tahun dan bidang bisnisnya cukup banyak di Eropa, Asia, hingga Afrika dengan kantor pusatnya di Singapura.

Kantor dari Tunaiku dan Amar Bank sendiri cukup jelas dan tentu saja hal itu memiliki relevansi dengan keamanan dan transparansi produk itu sendiri. Pinjol dari Tunaiku memungkinkan untuk dipantau statusnya dengan mudah, kapanpun dan dimanapun. Oya, saat ini, Tunaiku juga telah melakukan pengembangan dengan memiliki fitur tabungan dan deposito online melalui Tunaiku Invest.

Sekali lagi, seperti halnya makanan banyak tapi kita bisa memilih yang akan kita beli dan makan, maka demikian pula dengan pinjol. Pinjol memang banyak tetapi jika memang pada akhirnya harus pakai pinjol, utamakan pinjaman online yg terdaftar ojk ya, tentunya demi keamanan dan kenyamanan bersama.