Ingin Untung Besar dari Bitcoin? Ketahui Dulu 5 Hal Ini!

Bitcoin telah menjadi bintang di dunia. Keberadaan cryptocurrency yang satu ini–bersama kripto-kripto yang lain–mulai mengobrak-abrik pasaran di dunia. Posisinya yang belum diregulasi mungkin tidak ubahnya rokok elektrik. Bitcoin dan rokok yang dikenal sebagai vape itu menjadi alternatif dari sekian banyak larangan dan aturan.

Entah kalau kemudian si solusi itu dilarang dan diatur juga. Bitcoin terbilang menggiurkan karena nilai tukarnya yang gila-gilaan. Bagi yang main Bitcoin dari 5 tahun lalu kala 1 BTC masih beberapa juta saja, hari-hari ini sudah kaya raya karena 1 BTC telah tembus 270 juta per pagi hari pada saat posting ini ditulis. Ketika tulisan ini dibaca, nilai tukar Bitcoin bisa 300 juta, bisa turun jauh ke 200 juta. Siapa tahu? Setidaknya sampai editan kesekian, nilainya sudah jatuh ke 240 juta.

Pemberitaan yang terus meningkat dan profil orang-orang yang menuai keuntungan besar dari Bitcoin bikin banyak orang penasaran. Per 1 November misalnya, member bitcoin.co.id itu masih kepala 5, sekarang sudah 7. Artinya 100.000 orang gabung dalam sebulan. Semua berharap keuntungan dari Bitcoin.

Nah, bagi yang ingin terjun meraup keuntungan sebesar-besarnya dari Bitcoin, berikut 5 hal yang harus diperhatikan sebelum terjun ke Bitcoin pada khususnya dan cryptocurrency pada umumnya.

1. Risiko Tinggi

Pada awal November, 1 BTC masih 90 juta. Per Desember sudah diatas 200 juta. Tampak menguntungkan? Ya, baiklah. Saya kasih tahu juga pada mid November 1 Bitcoin Gold (BTG) nyaris 5 juta. Per hari tulisan ini dibuat? 3 juta koma sekian. Atau ketika tulisan ini dibuat BTC nyaris 300 juta, pas tulisan ini diedit nilainya sudah turun 50 juta ke 250-an juta.

The Merkle

Ya, bermain dengan Bitcoin adalah bermain dengan risiko tinggi. Semacam valas atau saham tapi dengan volatilitas yang lebih tinggi. Ingat selalu, no pain, no gain, high risk, high return. Ya memang begitu. Continue reading

Advertisements

Bersua Air Terjun Tunan Karena Penundaan Penerbangan

Apa yang paling bikin bete dalam urusan penerbangan? Pertama-tama adalah ketika sudah ada di lobi hotel, driver sudah tiba, eh dapat SMS kalau penerbangan GA607 dari Manado ke Jakarta ditunda. Kedua, ketika kejadian nomor 1 terjadi pada tanggal merah alias hari libur. Wong penerbangan pagi itu dipilih supaya bisa menghabiskan waktu bersama Istoyama, je. Ini malah habis di jalan.

Akan tetapi, masalah sebaiknya jangan dikutuk, nanti jadi tambah masalah. Alih-alih kembali tidur dengan galau, saya kemudian memilih untuk bergerak. Kebetulan di Kota Manado ada Gereja Katedral dan ada juga ojek online. Maka, sembari googling keliru, saya memilih untuk order Gojek menuju Katedral dengan tarif hanya 6000 rupiah saja.

Saya kemudian tiba di Katedral Manado pada pukul 5.50 dan sudah bacaan pertama. Ini yang saya sebut googling keliru karena ternyata misa dimulai pada 5.40 alih-alih 6.00 sesuai hasil pencarian. Lumayan, kerja kayak gini telah bikin saya dapat merasakan misa di beberapa Katedral di Indonesia, mulai dari Surabaya, Banjarmasin, hingga Atambua. Soal Atambua ini kapan-kapan saya ceritakan.

Nah, kadung sudah di Manado, ada baiknya kita mencari-cari sesuatu yang ada di alam, tapi nggak jauh-jauh dari bandara agar tidak terburu-buru nantinya pada saat jam penerbangan. Tadinya hasil pencarian menyebut Air Terjun Kima Atas. Akan tetapi, Pak Martin, driver kami, justru mengarahkan ke tempat lain sembari bilang, “Kayaknya di dekat sini ada….” Continue reading

Lost in Bangka (10): Danau Kaolin

LOSTINBANGKA_DANAUKAOLIN

Pasca mengunjungi Pantai Pasir Padi dan Kelenteng Dewi Laut, akhirnya rombongan pengelana tiada tara beranjak ke selatan. Bagian ini penting karena dari kemarin-kemarin kami main ke utara tepatnya ke Sungai Liat. Satu-satunya perjalanan ke selatan ini adalah destinasi pamungkas yang juga merupakan salah satu alasan perjalanan ke Bangka ini digagas.

Danau Kaolin saat kami berkunjung, baru terkenal kurang lebih setahun. Kalau sekarang, berarti sudah 2 tahun. Kalau tahun depan, tiga tahun. Gitu. Angkat nama di akhir 2015, grup FPL Ngalor Ngidul kemudian ramai kala Tintus dalam perjalannya nganvas ke Koba, memposting foto di lokasi yang katanya mirip dengan danau di Islandia. Dengan air nan biru jernih serta hijau jernih begitu, memang menjadi hal paling beda dan jelas menarik siapapun untuk berkunjung. Sejak saat itu, kunjungan ke Bangka yang wajib menyertakan Danau Kaolin sebagai destinasi mulai digagas hingga pada akhirnya terpenuhi pada Oktober 2016 itu.

IMG-20161024-WA0019

Rian Chocho Chiko dan istri

Hey? Oktober 2016? Sekarang November 2017? Ini nulis apa merenung, kok lama bener?

BERISIK! Namanya pegawengeri itu sibuk, kak.

Danau Kaolin ini dikenal sebagai Camoi Aek Biru dan berada di Desa Air Bara, Kecamatan Air Gegas, Kabupaten Bangka Selatan yang berjarak sekitar 50 kilometer dari Pangkal Pinang. Menggunakan mobil dan driver lokal yang terkenal sejak kuliah suka lupa jalan, pada akhirnya kami hanya butuh 1 jam lebih sedikit untuk tiba di lokasi. Dari Pangkal Pinang hingga menuju tikungan terakhir ke lokasi sih mulus-lus-lus.

Continue reading

Liburan ke Osaka? Jangan Lupa Ke Lokasi Menarik Berikut Ini!

Banyak diantara kita yang tidak mampu berencana berlibur ke Jepang. Katanya, jumlah para wisatawan Indonesia Ke Jepang belakangan ini meningkat seiring dengan banyaknya promo harga pesawat paling murah untuk berlibur ke sana.

Berbicara tentang tempat wisata yang ada, Osaka ternyata juga tidak kalah menarik dan unik dengan kota-kota lainnya di Jepang. Osaka merupakan sebuah kota di wilayah Kansai, Jepang dan merupakan kota dengan jumlah penduduk terbanyak nomor tiga di Jepang setelah Tokyo dan Yokohama. selain itu Osaka juga merupakan kota metropolitan kedua setelah Tokyo.

Klean penasaran dengan tempat-tempat wisata seru di sana? Berikut beberapa tempat wisata seru untuk liburan anda di Osaka, Jepang.

Akuarium Osaka Kaiyukan

kaiyukan.com

Akuarium yang termasuk salah satu dari antara beberapa akuaruim besar di Jepang ini punya koleksi 620 spesies laut yang berasal dari habitat laut Samudra Pasifik. Banyak sekali bukan? Yha, bilang saja banyak.

Akuarium Osaka Kaiyukan ini terletak di desa pelabuhan Tempozan di daerah Teluk Osaka. Akuarium sebesar ini tentu memiliki tampilan yang tiada main-main. Kehidupan bawah laut ditampilkan di dalam 15 tangki akuarium berukuran besar. Masing-masing tangki mempresentasikan bagian-bagian dari Samudra Pasifik. Tangki terbesar yang dimiliki ialah tangki untuk area Pacific Ocean, di mana menampung 5.400 ton air. Tangki ini digunakan untuk menampung habitat ikan paus yang dikenal dengan ukurannya yang luar biasa besar.

Amerikamura

happyjappy.com

Osaka dijuluki sebagai salah satu prefektur di Jepang yang ramai dikunjungi oleh para wisatawan adalah karena adanya Amerikamura. Tempat wisata yang satu ini hampir menyerupai Chinatown, tetapi bedanya area ini merupakan pusat kebudayaan Amerika yang ada di Osaka.

Di sepanjang jalan, outlet yang nampak mencolok ialah outlet fashion ala Amerika, Fashion barat yang terkenal sederhana dan elegan seakan membuat mata Anda tersihir untuk bisa memasuki setiap outlet yang dilewati.

Di lokasi ini kamu dengan mudah menemukan bar dan klub malam, terdapatnya bar dan klub malam tersebut juga menjadi alasan mengapa Amerikamura disebut sebagai symbol kebebasan ala dunia barat.

Shinsekai

Ingin menikmati suasana pasar di Jepang? Shinsekai bisa jadi pilihan untuk anda. Shinsekai merupakan tempat yang mirip seperti pasar yang berada di kawasan Tsutentaku Tower (Menara Tsuten). Shinsekai ini dibagi menjadi dua wilayah, yaitu utara dan selatan.

japan-guide.com

Bila kamu menyusuri bagian utara Shinsekai kamu kana menjumpai pemandangan bangunan yang mirip dengan Role Model yang ada di Paris.Untuk bagian selatannya, kamu akan disuguhkan pemandangan bak Pulau Coney di New York.

Selain itu, Shinsekai juga merupakan pusat spa, jadi buat kamu yang ingin memanjakan diri dengan spa saat berlibur ke Jepang, bisa mengunjungi lokasi wisata yang satu ini.

Wah, sangat menarik bukan? Ingin segera berlibur kemari? Segera  cek Tiket Lion Air di Reservasi.com, dan dapatkan harga pesawat paling murah untuk penerbangan ke tempat liburan unik di Osaka, Jepang ini.

Kastil Osaka

Kastil Osaka merupakan kastil yang menjadi symbol kejayaan pada era pemerintahan Toyotomi Hideyoshi. Toyotomi Hideyoshi salah seorang sosok penegak sejarah bangsa Jepang yang memilki ketertarikan tinggi terhadap logam emas, terlihat dari sekali alat perang, bangunan, dan furniture yang dibangun dari emas pada masa pemerintahannya.

osaka-info.jp

Hingga akhirnya dia memberi perintah untuk membalut bagian luar kastil Osaka ini dengan emas.

Dotonbori

Ke Osaka rasanya tak lengkap jika belum ke Dotonbori. Area ikonik yang tak pernah sepi pengunjung ini menyajikan pemandangan pertokoan dengan berbagai jenis souvenir, aksesoris, dan pernak-pernik dan juga berbaur dengan restoran yang banyak menjual makanan khas Osaka, seperti takoyaki, okonomiyaki, dan ramen. Adapun Keindahan sungai Dotonbori-Gawa terlihat dengan jelas dari lokasi ini.

osakastation.com

Selain itu, tempat wisata yang satu ini juga dikenal dengan adanya symbol Glico Running Man dan kepiting Kani Doraku. Penduduk Dontobori berhasil memadukan kehidupan sehari-hari mereka tanpa mengurangi nilai pariwisata dari lokasi ini.

Namba Park

Namba merupakan kawasan yang terletak di stasiun Namba, selatan kota Osaka. Lokasi ini cukup terkenal seantero Osaka. Namba memiliki berbagai macam tempat hiburan dan tempat perbelanjaan yang sangat lengkap. Sehingga tak heran jika banyak yang berkunjung ke namba ini untuk menikmati segala fasilitas dan melakukan melakukan banyak hal seperti berbelanja, berlibur, wisata kuliner.

inhabitat.com

Demikian penjelasan tentang berbagai tempat wisata di Osaka Jepang. Tertarik untuk melihat langsung sekaligus merasakan pengalaman liburan seru disini? Segera  cek harga pesawat paling murah. Salah satu yang bisa jadi pilihan anda adalah Tiket Lion Air di Reservasi.com dan dapatkan tiketnya untuk berkunjung ke tempat-tempat liburan unik di Osaka, Jepang ini.

Lontang Lantung di Pasar Terapung Lok Baintan

Saya tidak bisa berenang. Itu fakta yang bahkan saya sampaikan dengan polos di tengah danau mini Mekarsari kala kaki saya tidak bisa menapak apapun saat banana boat yang saya tumpangi dibalik. Gembel bener itu si operator, padahal di awal perjanjiannya tidak dibalik. Maka, jangan heran bahwa saya suka jauh-jauh dari air. Termasuk air mandi sehari-hari.

Akan tetapi, ketika ada kesempatan ke Kalimantan, tepatnya ke Banjarmasin, rasanya kok rugi kalau jauh-jauh dari sungai. Terlebih saya menginap di Swiss-Belhotel Borneo yang lokasinya persis di pinggir Sungai Martapura dan–yang paling penting–menyediakan akses gratis naik perahu klotok guna menuju salah satu spot khas Kalimantan Selatan, Pasar Terapung.

Sempat was-was bin deg-degan. Naik kapal Putri Kembang Dadar di Palembang saja saya ngelu, apalagi naik perahu klotok? Untungnya saya sekelebat melihat pelampung warna oranye. Yha, amit-amit kenapa-kenapa, saya bisa lari ambil pelampung dan melakukan hal yang sama dengan kejadian di Mekarsari.

Apabila hendak naik perahu klotok fasilitas dari hotel ini, sebaiknya memang pukul 5.15 sudah siap di lobi untuk berangkat pukul 5.30. Dan untuk itu pula, hotel menyediakan morning call pukul 4.30. Bye-bye turu penak pokoknya. Dalam skala normal, perjalanan dalam 1 perahu bisa diikuti oleh belasan orang. Kalau lagi sepi, ada juga klotok yang isinya cuma 3. Pas yang saya naiki, kebetulan lagi ada PNS-PNS dari Pasaman Barat yang ikut pertemuan nasional. Jadi agak banyakan.

Continue reading

Anti Banjir dan Ramah Difabel di Harapan Indah

Sekian tahun cahaya tidak ada postingan #KelilingKAJ selain selintas tentang Gereja Santo Matius Penginjil Bintaro. Nah, ini mumpung saya dapat dinas di Kota Harapan Indah, Bekasi, yang kebetulan juga lokasi hotelnya dekat dengan Gereja, pada akhirnya saya berkesempatan mampir di paroki termuda kedua di KAJ. Termuda kedua digusur oleh Santo Ambrosius di Melati Mas.

Untuk sampai di Gereja Katolik Santo Albertus Agung Harapan Indah ini begitu mudah. Dari akses masuk Harapan Indah tinggal ke kiri, begitu lihat Giant, lurusin lagi, nanti sesudah Gramedia, kita akan mendapati bangunan dengan identitas segitiga. Nah, itu dia Gerejanya.

Pada mulanya adalah tahun 1990-an, ketika Jakarta mulai penuh dan pembangunan semakin ke pinggir hingga muncul Harapan Indah. Pelayanan iman mulai dilakukan, tapi di ruko. Dari ruko kecil sampai ruko yang lebih luas. Seperti ditulis di santoalbertus.org pada bulan Desember 2012 pada tahun 2006, jumlah warga telah mencapai 4.686 jiwa dengan lima wilayah.

Misa di kompleks Harapan Indah dihelat pertama kali pada April 1996. Atas anjuran dosen Universitas Katolik Atmajaya, Pastor Damianus Weru, SVD, area ini lantas dijadikan stasi Harapan Indah dan resmi pada tanggal 23 Juni 1996.

Pastor Damianus juga yang memberi usul penggunaan nama Santo Albertus, berdasar pada semangatnya. Beberapa fasilitas di Gereja ini pernah dibakar pada tahun 2009, sebagaimana pernah ditulis oleh tempo.co yang katanya adalah karena kesenjangan sosial.

Sepekan kemudian, misa kembali diadakan di tempat yang dibakar ini Adalah Laksamana Pertama Christina Maria Rantetana yang merintis jalan untuk mengatasi masalah klasik keagamaan di Indonesia dengan aneka rupa cara.

Nama Ibu Christina ini sangat luar biasa. Wanita yang telah meninggal dunia pada 1 Agustus 2016 ini adalah wanita pertama yang memiliki pangkat Laksamana Muda dari Asia. Beliau juga wanita pertama yang mengikuti Sekolah Staf dan Komando (SESKO) di Royal Australian Naval Staf Course di Sydney. Beliau juga anggota Kowal perdana yang pernah menjabat anggota DPR RI untuk periode 1997-1999 dan 1999-2004. Termasuk juga wanita pertama yang jadi Direktur Sekolah Kesehatan Angkutan Laut dan juga anggota Kowal pertama yang jadi staf ahli Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan pada bidang Ideologi dan Konstitusi.

Paroki Santo Albertus Agung Harapan Indah sendiri diresmikan oleh Mgr. Ignatius Suharyo pada hari Kamis, 14 Mei 2015 bertepatan dengan Pesta Kenaikan Tuhan. Bahkan #KelilingKAJ sudah duluan dimulai alih-alih paroki ini diresmikan. Gitu.

Pada saat peresmian, hadir 42 pastor baik dari Paroki Kranji, dari pastor-pastor SVD yang pernah berkarya di Harapan Indah, pastor-pastor Dekenat Bekasi, dan lain-lainnya lagi. Diresmikannya paroki yang satu ini memang terhitung pelepas dahaga karena sebelumnya sudah cukup lama tidak ada Gereja Katolik yang diresmikan.

Walau terhitung baru, Gereja Santo Albertus ini masih menganut konsep lawas, tanpa AC. Entah ada atau tidak, tapi dalam kehadiran saya pada misa harian, saya lihat benar keringat yang menetes di wajah Romo plus deru kipas yang tiada henti serta pintu-pintu yang terbuka. Gerejanya sendiri cukup luas, mungkin kurang lebih mirip dengan Paroki Duren Sawit. Bahkan kalau urusan luas juga bisa saya bandingkan dengan Gereja Katolik di Kuta.

Gereja Santo Albertus memiliki desain yang seperti Gereja pada umumnya yakni tinggi, menjulang, serta lancip, plus pilar-pilar kokoh. Konsep kemah menjadi kunci, sehingga kalau dilihat dari jauh ada kemiripan dengan Gereja Pulomas, misalnya. Semacam mirip-mirip yang ketimuran.

Satu hal yang paling menarik dari Gereja ini adalah sangat ramah difabel dan boleh dibilang salah satu Gereja terbaik di KAJ untuk soal difabel. Dengan koor di sisi kanan altar, maka sisi satunya lagi ada tempat khusus difabel dan lansia. Jalur untuk kursi roda juga sudah disiapkan. Plus, dengan kondisi yang diapit dua saluran air–meski ada di dalam kawasan elite–rupanya Gereja ini juga dipersiapkan untuk anti banjir. Untuk itulah bangunannya telah ditinggikan. Tidak setinggi Pademangan yang jadinya di lantai 2–dan juga ramah difabel–tapi cukup tinggi untuk jika amit-amit digenangi.

Adapun Gua Maria terletak di belakang altar dengan konsep segitiga yang sama dengan bangunan Gereja. Sedangkan misa mingguan dipersembahkan pada Sabtu pukul 17.30, Minggu pukul 06.00, 08.30, dan 17.30.

Semoga ada kesempatan untuk menambah koleksi cerita tentang Gereja-Gereja lain di KAJ, yha.

Lost in Bangka (9): Kelenteng Dewi Laut

Pulau Bangka memang dikenal denngan kecantikan pantainya, demikian pula Pulau Belitung di sebelah. Selain itu, Pulau Bangka begitu identik dengan kepercayaan yang dipercaya berasal dari daratan Tiongkok sana seperti Budha dan Kong Hu Cu. Maka jangan heran kalau pagoda-pagoda dan semodelnya adalah jamak di sekitar Pangkal Pinang, sebagaimana mudah melihat Gereja di Kota Manado atau Jayapura.

Nah, selepas dari Pantai Pasir Padi, kami bergegas menuju destinasi tambahan ala bapak guide. Rencananya, bapak guide hendak menggunakan jalur alternatif yang nyatanya memang dekat sekali dengan Pantai Pasir Padi dan melewati calon lokasi yang katanya mau ada waterboom dan lain-lainnya itu. Namun, hujan hari kemarin–yang bikin perjalanan ke Tanjung Pesona terganggu dan bikin nyelup di Parai Tenggiri jadi gloomy–menyebabkan jalan tanjakan yang ada jadi hancur.

Walhasil, mobil kemudian diputar balik sebagaimana CPNS ketemu eselon 1. Balik kanan tanpa tedeng aling-aling. Seluruh isi mobil mempertimbangkan bahwa dalam mobil itu ada Kristofer yang kala itu ukurannya bahkan belum 1 sentimeter. Yah, kalau teman-teman pembaca baru baca serial Lost in Bangka ini sekarang, perlu diketahui bahwa perjalanan dilakukan pada bulan Oktober 2016 dalam keadaan istri saya hamil muda banget, kurang lebih 6 minggu. Sementara saat kisah nomor 9 ini ditulis, si bocah yang saat itu dibawa masih berada dalam bentuk serupa tanda koma sudah mau berusia 2 bulan.

PEMALAZ!

Baiklah, mari kita lanjutkan. Maka, guide Tintus mengambil jalur memutar, kalau tidak salah memang jalurnya menuju pantai lain di sebelah Pasir Padi, yakni Tanjung Bunga. Lokasi Kelenteng Dewi Laut sendiri kurang lebihnya sebagaimana tampak di peta:

Begitu mobil berhenti di bawah pohon, kami jalan kaki sembari buang snack di tempat sampah yang untunglah ada di sekitar situ. Kelenteng lumayan sedang ramai. Kelenteng ini terbilang baru, karena menurut berita-berita yang saya baca, berdirinya baru tahun 2011. Berada satu kompleks dengan Pura Penataran Agung dan Vihara Dharma Satya Buddhis Center, yang kebetulan juga tampak sambil lewat. Continue reading

Lost in Bangka (8): Pantai Pasir Padi

Perjalanan panjang di Lost in Bangka hari Minggu bikin kami–ehm, tepatnya saya–terlelap dan kemudian menyebabkan saya harus jalan keliling pasar dekat Hotel Menumbing pada pukul 12 malam. Maklum, istri lagi hamil. Kalau nggak diturutin, nanti anaknya mirip saya. Lha.

Nah, pagi hari Senin adalah hari kepulangan. Namun kepulangan tentu harus diawali dengan yang seru-seru. Daftar perjalanan kami masih panjang karena hari terakhir ini direncanakan jalan-jalan ke dua destinasi utama, yakni Pantai Pasir Padi dan Danau Kaolin. Wow!

Kami sarapan dengan bahagia di pinggir kolam hotel dengan sebelumnya telah bersiap-siap untuk check out. Lantas, menggunakan mobil sewaan, kami bergegas ke rumah Tintus untuk menjemput sang driver sekaligus penyandang dana yang ogah disauri sekaligus juga guide lokal–walaupun dia aslinya Lampung.

Selfie dahulu, kak.

Continue reading

Berburu Kuliner Padang di Tanah Minang

Selain identik dengan budaya Minang, sebagian orang yang mendengar kata Padang juga otomatis akan teringat dengan… rumah makan. Terutama bagi penduduk di Pulau Jawa, nama ibu kota Sumatra Barat itu sangat ikonik dengan kulinernya. Bumbu yang khas dan tajam membuat lidah yang mencicipi senantiasa ketagihan.

via: bhellabhello.wordpress.com

Akan tetapi, jika Anda datang langsung ke Padang, ada banyak makanan khas lainnya yang tidak Anda jumpai di rumah makan padang biasanya. Soal kelezatan, tidak perlu dipertanyakan lagi. Dijamin, kenikmatannya akan terbayang-bayang dan membuat Anda ingin segera kembali ke kota ini.

1. Nasi Kapau

Sekilas, nasi kapau memang tidak berbeda dengan nasi padang. Namun rupanya selain peletakan menu di atas meja yang lebih rendah dari penjual—jika nasi padang, menu disajikan di etalase yang lebih tinggi dari penjual—bahan dasarnya pun berbeda. Nasi kapau yang autentik menggunakan bahan dasar kol, nangka, dan kacang panjang serta kuah gulai berwarna kuning dengan rasa sedikit asam.

Selagi di tanah Minang, sempatkan mencicipi nasi kapau asli terlezat. Mulai wisatawan dari kalangan rakyat hingga pejabat, Nasi Kapau Uni Cah menjadi tujuan kuliner yang digemari. Lokasi rumah makan ini berada di Jalan Padang Luar Km 4, Bukittinggi. Mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB, rumah makan ini siap melayani pembeli.

2. Sate Itjap

Bila sedang ingin menikmati sate, sebaiknya Anda datang ke Sate Itjap yang beralamat di Jalan Rasuna Said. Anda tidak akan susah menemukan tempat kuliner ini. Selain kemahsyurannya yang dikenal masyarakat luas, lokasinya juga berada di ruas jalan utama.

Mulai pukul 16.00 hingga malam, warung sate ini diberondong oleh pembeli. Selain harga tiap porsinya yang relatif murah, cita rasanya juga sangat khas. Sate tanpa gajih ini memiliki memiliki daging bakaran yang terasa agak manis. Selain itu, tusukan daging ini disiram kuah yang asin dan gurih sehingga menghasilkan kombinasi rasa yang sangat lezat. Satu porsinya juga sudah lengkap disajikan dengan potongan kupat.

3. Soto Rajawali

Untuk mengawali hari, Anda bisa sarapan di Soto Rajawali. Soto padang ini menyajikan daging sapi goreng yang dipotong kecil-kecil dengan siraman kuah bening yang lezat dan gurih. Nasinya disediakan di piring terpisah dengan taburan kerupuk merah. Jika ingin semakin menggugah selera, tambahkan paru yang digoreng renyah.

Bofet Rajawali berada di Jalan Juanda. Tempat ini sebenarnya merupakan cabang, tetapi lokasinya lebih strategis dan besar. Tak hanya wisatawan biasa, bahkan hingga tamu kenegaraan hingga anggota Kerajaan Brunei pun pernah singgah di sini. Terbayang kan, bagaimana lezatnya Soto Rajawali hingga seterkenal ini?

4. Martabak Malabar Arham

Malam yang dingin memang paling tepat dinikmati bersama kudapan hangat. Setelah menghabiskan sepanjang hari beraktivitas, Anda dapat bersantai di hotel dengan seporsi martabak Malabar yang gurih.

Di Padang, Anda dapat menemukan Martabak Malabar Arham yang terkenal dan banyak diburu orang. Lokasinya berada di Jalan Moh. Husni Thamrin No. 1 dan baru buka mulai pukul 17.00. Jika ingin makanan yang lebih berat, Anda bisa memilih nasi goreng kambing, sup buntut, dan lain-lain.

Selain empat kuliner di atas, ada pula nasi goreng patai, sate danguang-danguang, itiak lado hijau, es durian, dan masih banyak lainnya. Tentu saja, sajian ini tidak akan Anda dapatkan di rumah makan padang.

Karena itu, sempatkanlah mencicipi kayanya kuliner Minang selagi di Padang. Soal akomodasi menginap, serahkan pada Airy Rooms. Beragam pilihan hotel murah di Padang tersedia sesuai dengan kelas dan bujet yang Anda inginkan.

Cukup dengan koneksi internet, Anda dapat memilih hotel murah di Padang melalui situs web dan aplikasi Airy Rooms pada ponsel. Untuk pembayaran, Anda dapat melakukannya via kartu kredit, bank transfer, atau di gerai Indomaret. Praktis, bukan?

Liburan Penuh Kejutan di Anyer

Sebagai negeri yang begitu memuja garis pantai–meski sebagian kecil diantaranya lantas ditimbun reklamasi–maka sudah layak dan sepantasnya kita keluyuran ke pantai-pantai ciamik di Indonesia. Salah satu tempat yang menyediakan kecantikan pantai tiada lain adalah Anyer. Selain lokasinya yang tidak jauh-jauh benar dari Jakarta, Anyer juga memiliki value kawasan wisata nan berbeda pasca Oddie Agam melalui Sheila Madjid memperkenalkan Anyer via lagu kondangan dan karaokean sepanjang zaman “Antara Anyer dan Jakarta”. Sebuah lagu yang sebenarnya bisa dijawab dengan Cilegon, Serang, Tangerang, dan Tangerang Selatan. Atau juga dapat dijawab dengan Tol Merak.

Bicara Anyer tentu juga tidak boleh lepas dari sosok kesohor, Herman Willem Daendels. Sosok yang menurut buku Ragam Pusaka Budaya Banten karangan Drs. H. Tri Hatmaji mendarat di Anyer pada tanggal 1 Januari 1808. Gubernur Jenderal Hindia Belanda periode 1808 hingga 1811 tersebut berhasil menciptakan karya monumental dan selalu dikenal dalam rupa Jalan Anyer-Panarukan alias Jalan Raya Pos. Jalan yang satu ini terbilang bergelimang rekor. Mulai dari durasi pembangunannya yang hanya (!) setahun hingga jaraknya yang setara Amsterdam ke Paris, seribu kilometer.

Daendels tiba pertama kali di Anyer seperti Calon PNS baru masuk: tampak cupu. Berangkat diam-diam sejak Maret 1807, via Paris, lantas ke Lisbon, kemudian ke Pulau Canary dan selanjutnya Pulau Jawa. Ya, di Anyer itu tadi. Cupunya adalah karena Om Londo Galak ini tiba di Anyer nyaris tanpa pengawalan. Dia sampai di Anyer sesudah kabur kiri-kanan. Perjalanan dari Belanda sampai Anyer itu dilakoni dalam durasi kurang lebih 10 bulan. Pada tahun 2017, 10 bulan itu adalah antrean gedung untuk resepsi. Durasi yang menyebabkan banyak pasangan keburu putus sebelum resepsi.

Anyer menawarkan tipe pantai yang berbeda, sebab posisinya ada di sisi barat pulau paling dominan se-Indonesia Raya, Jawa. Sensasi Anyer sebagai pantai jelas beda dengan Ancol yang pantai utara. Juga lain dengan Parangtritis yang pantai selatan.

Pesona Anyer sebagai tempat wisata sejak dahulu kala begitu mudah ditangkap dengan melihat hotel-hotel yang berdiri di sepanjang Anyer. Hampir semua grup hotel tenar Jakarta punya cabang di Anyer. Mulai dari Jayakarta sampai Marbella, Dari Acacia sampai Aston. Anyer juga menawarkan lokasi yang tidak jauh-jauh benar dari Jakarta. Masih bisa dicapai dengan 3-4 jam, jarak yang sepantaran dengan Bandung, dengan tawaran tipe wisata yang berbeda. Belum lagi jika kita menyebut Tanjung Lesung sebagai salah satu destinasi Bali baru Pak Presiden. Menuju Tanjung Lesung ya lewat Anyer. Mampir adalah kunci.

Walau begitu, sekadar liburan di pantai adalah basi. Apa sih bedanya main ombak di Ancol, Kuta, Miami, sama di Anyer? Sama-sama asin ini. Untuk itulah Anyer secara gilang gemilang menyediakan elemen paling kunci yang sangat dibutuhkan dalam berwisata: kejutan. Percayalah, liburan di Anyer akan penuh dengan kejutan.

Continue reading