8 Kiat Sukses Lolos Seleksi Substansi LGD LPDP

Rekor, Perpanjang SIM di Mal Pelayanan Publik Hanya 16 Menit Saja!

Sesudah lolos seleksi administrasi dan seleksi berbasis komputer maka hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah seleksi substansi. Dalam seleksi substansi itu sebenarnya ada 3 bagian besar. Akan tetapi, biar postingnya jadi banyak, ya saya pisahkan begini aja. Harap maklum, otak sudah susah dipakai mikir~

Tiga bagian besar yang saya maksud adalah verifikasi berkas, Leaderless Group Discussion (LGD), dan wawancara. Postingan ini khusus membahas LGD. Soalnya, bagian ini yang termasuk paling banyak dicari di Google. Entah kalau di Geevv.

1. Pahami LGD LPDP

Bagian pertama, kita kudu pahami teknis LGD LPDP ini. Dalam seleksi ini, kita akan ditempatkan sekitar 10 orang (plus minus) dalam 1 kelompok diskusi. Topik hanya diberikan sesaat sesudah masuk ruangan, dan boleh baca 5 menit.

Image result for 5 minutes gif

Oya, bonus kertas corat-coret juga, deh. Biasanya, pada soal, diberikan juga peran-peran yang dibutuhkan. Jadi, dalam LGD, kita akan berperan jadi seseorang/sesuatu, misal perwakilan pemerintah, perwakilan pelaku usaha, dll.

Nah, selanjutnya dalam 30 menit diskusi akan berjalan tanpa dibuka oleh 2 panitia merangkap penilai di dalam ruangan. Tinggal kreasi peserta dalam 30 menit yang menjadi koentji~

2. Pahami Konsep Dasar Tes LGD Yang Baik

Saya sudah menghitung bahwa dalam 30 menit itu, waktu ideal untuk ngomong adalah 1,5 menit (saja!). Dengan durasi ini, setiap orang bisa mengutarakan pendapatnya 2 kali dalam 1 sesi LGD. Kalau sudah melenceng, pastilah ada yang dirugikan. Itu pasti.

Kemudian, pastikan peran-peran yang ada di soal itu dibagi rata. Inilah seninya, gimana membagi rata peran itu dengan baik sedangkan kenalan saja belum. Heuheu~

Screenshot_1775

Kemudian, pastikan bahwa jawaban kita tidak menggantung tanpa kesimpulan karena itu akan mempersulit peran lain yang mau nyamber sesudah kita. Jangan juga bikin pendapat yang nyeleneh sehingga common sense orang lain terganggu. Ingat, disini kita bukan debat atas nama cebong kampret, kita hanya ingin lolos beasiswa. Continue reading

Advertisements

Bincang Nggak Santai Dengan Asus Zenfone Max M2, Smartphone Mevvah Yang Murah Meriah

bincang nggak santai dengan

“Woy, gimana sih ini ibu-ibu main dorong.”

Pintu KRL tujuan Rangkasbitung menutup. Jeder. Sementara kalimat barusan masih terus diulang-ulang oleh kumpulan pemuda tanpa harapan yang naik di Stasiun Palmerah ini.

Apakah benar ada ibu-ibu yang mendorong? Nope, itu mereka sendiri yang saling dorong dan kemudian bercanda sarkas nggak sopan macam begitu. Dan percayalah, pemandangan seperti itu hanya ada di KRL tujuan Rangkasbitung saja.

Sementara itu, di sudut lain gerbong, tampak seorang pria terpekur gundah oleh sebuah problematika krusial berupa ini:

screenshot_1744

Gawainya digoyang-goyangkan berlawanan arah dengan laju kereta. Sekilas berhenti, kemudian lanjut lagi. Itu hape apa nomor arisan, dikocok wae~

“Misi, Om.”

Sang pria celingak-celinguk dan mendapati sebuah gawai berbodi 158 mm x 76 mm x 7.7 mm kedip-kedip mau ngajak ngobrol. Sementara Santos dalam posisi one on one begitu nggak nendang-nendang juga. Lag kayaknya, bisa karena koneksi, bisa karena ponselnya memang hang.

“Kalah ya, Om?”
“Apaan? Ini ntar lagi gol, kalau nggak stop!”
“Lha kalau waktu habis ya nggak gol dong, Om.”

Tidak lama kemudian, game lanjut kembali dan status kemenangan sudah ada di tim lawan dengan status saya disconnected. Ealah, nge-game itu biar terhibur lha ini kok malah bikin pikiran selain cicilan.

Gambar terkait

“Ngapa lu?” tanya Sang Pria kemudian.

“Kalau mau ngegame mah nggak usah jauh-jauh, Om. Pakai saya aja. Cukup 80 juta.”
“Lu kata gaji PNS banyak? Itu 80 juta bisa buat gajian 2 tahun.”
“Nah ini contoh yang nggak pengen debat dan malah nyalahin orang. Dicoba dulu dong. Itu si 80 juta mah canda.”
“Memangnya ngana bisa apa?”

Dengan angkuh, si gawai berceloteh, “Om, saya itu HP pertama di Indonesia yang pakai Chipset Qualcomm Snapdragon 632.”

untitled design (19)

“Ha, njuk?”

“Aduh, Om-nya kebanyakan rapat tanpa hasil, nih, jadi nggak sempat baca. Chipset Snapdragon 632 itu sederhananya punya keunggulan sehingga meningkatkan kemampuan gaming, pengambilan video 4K, mendukung teknologi AI, hingga konektivitas LTE yang lebih maksimal.”

“Apa bedanya sama saya hapus-hapus memori mantan di HP?”

“Yaelah, Om. Perpaduan CPU dan GPU pada ASUS Zenfone Max M2 kek saya ini bisa meningkatkan kinerja sampai 40 persen. Kalau saya PNS, tunjangan saya sudah naik. Ha wong jelas berkinerja. Nggak kayak situ, makan konsumsi rapat wae.”

Hasil gambar untuk eat lot gif

“Mahal, dong? PNS mah nggak sanggup.”
“Lha ini~ Dari tadi sudah dibilang kalau terjangkau, kok. Nggak percayaan! Hih! Semua laki-laki sama saja!”
“Jadi, saya sama kayak Samuel Zylgwyn?”

“Nggak. Lebih mirip Jakub Błaszczykowski. Jadi, Om, chipset Snapdragon 632 itu hasil pengembangan dari Snapdragon 625 dan Snapdragon 626 yang terkenal punya performa tinggi, hemat daya, dan tidak panas. Ngana harusnya kenal kalau yang dua itu hemat daya. Jadi sama Qualcomm, saya dikembangkan lagi sampai semakin hemat daya.”

“Kamu nyindir saya biar hemat?”
“Asem ik, suudzon wae.”
“Hehe~”
“Jadi kalau mau main PUBG apa Free Fire udah bisa. Apalagi cuma Score Hero, kalahan pula. Duh.”
“Eh, eh. Maksudnya?”

Kereta berhenti sejenak, menghirup nafas di padatnya Kebayoran, stasiun angkuh di tengah-tengah pasar yang menua.

screenshot_1743

“Anak berapa, Om?”
“Satu. Kenapa?”
“Suka difoto nggak?”
“Yah, kek orangtua milenial pada umumnya aja.”

“Nah, saya sebagai ASUS Zenfone Max M2 punya kamera belakang lengkap dengan EIS untuk menjaga kestabilan hati, eh, video. Saya juga bisa lho merekam video hingga resolusi 4K.”

“Pakai apa?” tanya pria itu.
“Pakai seblak, Bambang!”
“Loh….”

“Ya pakai kamera lah. Kalangan ASUS Zenfone Max M2 kek saya juga bisa mengenali 13 scene yang berbeda, soalnya didukung oleh buzzer politik teknologi AI. Bahkan juga bisa menjaga kestabilan video kalau merekam pakai kamera depan.”

Gawai itu menyambung, “Jadi kalau Oom pengen jadi vlogger, lebih enak, soalnya kamera depannya lebih ciamik dengan kamera 8MP. Om, kan yang cita-citanya jadi vlogger tapi nggak kondang-kondang itu kan?”

“Asem.”

“Eh, ngana otak, eh, layar jernih nggak?”
“Sembarangan, Lu, Om. Saya ini punya Layar HD+, ukuran 6,26 inchi, rasio 19:9. Kurang lega apa? Mau ngegame juga hayuk! Nonton film, siap. Nonton video Om yang nggak laku itu juga lanjut aja.”

“Hmmmmm. Hmmmmm.”
“Apalagi, Om?”
“Kuat dan lahan lama nggak? Butuh sildenafil nggak?”
“Heh, asbak Rajaratnam! Dikata saya alat kelamin?”
“Baterai, coy. Baterai.”

“Wah, meragukan saya lagi si Om. Baterai saya 4000mAh. Kurang gede apa? Itu sudah bisa ngegame 8 jam nonstop. Apalagi cuma nonton sama scroll-scroll doang. Bisa 21-22 jam.”

Hasil gambar untuk super electric gif

“Kalau main Score?”

“Yaelah. Sampai habis paketnya situ di modem, baterai saya juga nggak habis. Sukanya ngeremehin, nih, Om. Jangan lupa, saya itu pakai pure Android Oreo 8.0, tanpa micin, tanpa perubahan sedikitpun. Tahu nggak?”

“Nggak.”
“Tahunya apa?”
“Fotokopi.”

“Geblek. Sederhanya, disebut Stock Android yang berarti ada jaminan update selama dua tahun. Jadi pasti bakal dapat jaminan update ke Android 9 Pie kelak plus lebih ringan bebas dari bloatware yang biasanya membebani kehidupan saya sebagai smartphone.”

“Wah, jeroannya situ mewah juga, yha?”

“Pokoknya,siapapun yang nyari HP terjangkau tapi kualitas dan kinerjanya baik buat komunikasi sehari-hari, plus juga buat gaming dan entertainment, saya sebagai ASUS Zenfone Max M2 adalah pilihan tepat. Spek mevvah, harga murah meriah. Jadi, coba saya, yha, Om?”

“Baiklah. Eh, lah, kebanyakan ngobrol sama ente, saya harusnya turun Jurangmangu.”
“Ini sudah Rangkasbitung, Om. Situ bablasnya kejauhan~”

“Duh!”

the distance between the sun and the

Tulisan ini diikutsertakan pada BOY-Zenfone Max M2 Writing Competition-nya, Oom Yahya. #ZenFoneMaxM2_ID #NextGenerationGaming

Rekor, Perpanjang SIM di Mal Pelayanan Publik Hanya 16 Menit Saja! Spiralkan!

Di usia yang sudah menua ini, pada akhirnya saya harus perpanjang masa berlaku Surat Izin Nyebar Hoax Mengemudi yang sudah akan lewat periode 5 tahun. Ini SIM yang lebih penting karena SIM C saya pakai betul sehari-hari. Lagipula, kalau bablas sehari, saya kudu mengurus semuanya di Daan Mogot. Yha, satu Polda Metro ke Daan Mogot, kapan kelarnya? Maka, mengenali periode berakhirnya SIM itu memang penting. Lupa, panjang urusannya.

Image result for far gif

Tadinya, saya ingin memperpanjang masa berlaku SIM itu di Gandaria City, sebagaimana SIM A yang juga sudah pernah saya tuliskan panjang lebar di blog ini. Akan tetapi, makin minimnya konten di blog ini membuat saya berpikir porno keras. Saya kemudian cari-cari opsi gerai SIM di tempat-tempat lainnya. Sempat ingin mengurusnya di Mall @ Alam Sutera yang kayaknya sepi, tapi kejauhan.

Ada juga ide mengurus di gerai yang ada di Blok M atau di Artha Gading, namun kok saya pikir bakal sama saja dengan di Gandaria City. Hmmm. Hmmm. Hmmm.

Image result for nissa sabyan gif

Entah kenapa, saya kemudian nyasar ke list gerai pembuatan dan perpanjangan SIM yang ada di Polda Metro Jaya dan menemukan fakta bahwa layanan ini juga ada di Mal Pelayanan Publik!

Aha!

Image result for aha gif

Seperti kita ketahui bahwa pada pertengahan 2017, Djarot Saiful Hidayat dalam kapasitas sebagai Gubernur DKI Jakarta meresmikan adanya Mal Pelayanan Publik (MPP) DKI Jakarta. Lokasinya sangat strategis, di Kuningan. Lebih detail lagi, MPP ini ada di belakang hotel JS Luwansa, yang berarti juga tidak jauh dari Hotel Westin yang tingginya setengah modar itu.

Dari kantor, saya minta izin setengah hari, dengan gambaran bahwa bakal selama waktu mengurus di Gancit. Saya kemudian tiba di MPP menggunakan ojek online sekitar pukul 08.35.

Di pintu masuk, sudah ada satpam yang tidak cuek layaknya di pelayanan publik lainnya. Saya langsung ditanyai kebutuhan datang ke MPP dan kemudian diarahkan ke komputer untuk mengambil nomor antrean. Untuk perpanjangan SIM ada di komputer 1, sisi paling kiri. Saya kemudian mendapat urutan 009.

Lumayan, nggak lama~

Saya kemudian menuju ke lantai 3, lokasinya pelayanan dari Kementerian/Lembaga. Selain SIM, di lantai ini juga ada imigrasi, ada pula Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Ada yang lain juga, sih, tapi saya tidak terlalu peduli. Heuheu~

Image result for don't care gif

Di lantai 3, saya disambut oleh 2 mbak resepsionis yang cantik jelita dan gawainya iBas iPhone. Lokasi Gerai SIM Mal Pelayanan Publik ini ada di sebelah kiri dari arah pintu masuk, bablas ke ujung. Pas mentok, pokoknya.

Saya tiba di depan loket pada pukul 08.41 dan masih ada 1 orang yang sedang mengisi formulir, serta 2 orang sedang berproses di tempat foto. Suasana cukup sepi kalau dibandingkan di Gancit yang loketnya belum buka saja sudah antre maksimal. Apalagi kalau dibandingkan dengan di Samsat. Jauh. Jauuuhhh~

Oya, ada fasilitas yang sangat menarik di MPP ini. Fasilitas sederhana sekali, tapi biasanya jadi sumber pungli di tempat lain. Yha, mesin fotokopi! Di tempat lain, fotokopi sebiji bisa diharga 2000 rupiah dan pasti dibayar karena butuh. Saya sendiri sebelum berangkat sudah fotokopi duluan SIM dan KTP semata-mata biar nggak bayar 2000 itu tadi.

Sejurus kemudian saya dipanggil untuk pengecekan identitas, tes kesehatan (buta warna), mengisi formulir, sekaligus berfoto. Kalau di Gancit saya masih bisa keliling foto-foto, di MPP nggak sempat. Semuanya set-set-set-set hingga kemudian pukul 08.57 saya sudah pegang SIM baru dengan muka yang mengerikan. Yha, nggak apa-apa, saya juga nggak peduli soal muka itu.

Hasil gambar untuk i dont care gif

Saya sejujurnya takjub dengan pelayanan SIM yang secepat itu. Tidak pernah terjadi dalam 2 periode SIM saya, bahkan ketika itu di Bukittinggi sekalipun yang notabene para polisinya kenal dengan orangtua saya. Lha ini kenal juga nggak–cuma Pak Polisinya ternyata tetangga mertua di Bandung Barat–tapi SIM diperoleh dengan cepat.

MPP ini mengintegrasikan lebih dari 300 layanan dalam 1 gedung, baik itu layanan Pemerintah Provinsi maupun 30 lebih layanan pemerintah pusat. Di tempat ini berbagai izin dan dokumentasi bisa diperoleh. Jadi, nggak ada itu suruh ngurus dulu ke dinas anu di jalan sana, lalu ke dinas anu lagi di jalan situ. Semuanya terintegrasi di 1 gedung yang menurut saya sangat nyaman. Mal Pelayanan Publik ini adalah proyek percontohan nasional dan buka pada hari kerja (Senin-Jumat) pukul 07.30 hingga 16.00.

Saya bahkan tidak sempat foto-foto terlalu banyak karena menunggunya memang tidak terlalu lama. Ini adalah contoh inovasi pelayanan publik yang wajib ditiru untuk diterapkan di manapun. Apalagi segala syarat Pelayanan Publik sesuai Permenpan 17 Tahun 2017 juga sudah pasti ada di MPP ini.

Saran saya, sih.kalau mau perpanjangan SIM mending di MPP saja. Jauh lebih ciamik dibandingkan pelayanan di mal yang pada dasarnya juga sudah ciamik~

 

Liburan Asik Dengan Laptop ASUS

liburan asik dengan laptop asus

Bagi blogger KW dan esais tempo-tempo seperti saya, liburan merupakan sesuatu yang berharga. Pertama, karena saya bisa menghilangkan bosan-aku-oleh-penat yang kalau dibiarkan bisa menciptakan pecahkan-saja-gelasnya-biar-ramai-biar-mengaduh-sampai-gaduh. Kedua, pada saat perjalanan liburan, saya sangat menikmati untuk menjadi pengamat yang rajin. Tidak jarang, tulisan-tulisan hasil melamun selama perjalanan itu malah yang masuk dan dimuat di media-media seperti Mojok, Voxpop, hingga Detik.

Intinya, sih, dengan liburan, biaya liburan saya ada balik modalnya juga, walau sedikit~

Nah, persoalannya sekarang adalah saya bukan lagi lajang membusuk belaka seperti sekian tahun lalu hingga begitu rajin menelurkan cerpen disini, saking nggak ada yang di-PDKT. Saya sekarang merangkap juga sebagai Bapak Millennial alias kaum milenial yang jadi bapak-bapak. Apalagi, anak saya yang (masih) satu itu lagi lucu-lucunya.

Alias, lagi butuh-butuhnya diawasi. Soalnya, kalau tidak diawasi bisa jadi begini:

Untitled design (6).png

Sekarang, intensitas saya untuk menulis sembari liburan jadi agak berkurang salah satunya ya karena uang berliburnya yang juga kurang. Selain faktor waktu karena harus mengawal pergerakan si bayi yang semakin gesit, faktor lainnya adalah barang bawaan yang bertambah banyak. Bapak-bapak dan emak-emak sekalian pasti paham bahwa kalau berpergian jauh dengan bayi, okupansi koper paling banyak ya buat bayinya. Bapaknya mah apalah~

Satu lagi, kalau saya paksakan bawa laptop, seringkali malah menjadi risiko tersendiri mengingat kawalan pada barang bawaan tidak seketat pas lajang merana yang betul-betul hanya ransel sebiji. Bisa jadi hilang dari pandangan, bisa jadi ketlingsut, bisa jadi juga remuk ketindih aneka rupa barang lain karena lupa dipisahkan bahwa di tas itu ada laptop.

Jadilah, liburan saya yang biasanya langsung menjelma jadi blogpost seperti cerita Loser Trip atau Cisantana, sekarang jadinya latepost bahkan late-nya bisa setahun seperti serial Lost in Bangka.

Hasil gambar untuk ckckck gif

Soal itu sih masih bisa disiasati dengan ponsel yang makin lama makin canggih. Kadangkala, hidup manusia bisa mendadak rumit dan butuh laptop alih-alih ponsel belaka. Seperti yang saya alami ketika lagi liburan di rumah orangtua nun jauh di Bukittinggi sana.

Syahdan, pada sore hari cuti nan syahdu sembari menggendong anak lanang, telepon genggam saya berbunyi. Nomor yang tidak disimpan, tapi tidak asing. Karena berasa tidak asing, sayapun mengangkatnya.

“Halo, Arie.”

Suara di kejauhan itu betul-betul tidak asing. Yha, Ini yang lagi menelepon adalah salah satu Pejabat Eselon I di kantor tempat saya bekerja. Sebagai staf level pupuk bawang, telepon langsung dari Eselon I itu sungguh-sungguh perintah yang melewati jenjang yang sangat jauh.

Hasil gambar untuk wow gif

Memang, sejak tulisan saya tentang sebuah obat sariawan cukup viral, terakhir eks editornya bilang view-nya sudah tembus 100 ribu, nama saya agak diingat di kantor. Walhasil, ketika kemudian sedang ada isu-isu yang digoreng sedemikan rupa oleh orang yang hobi gelut, saya suka sedikit-sedikit ikut bikin rame dengan esai saya. Kadang jadi rame, kadang nggak. Namanya juga media sosial. Suka-suka netizen, toh?

Namanya menulis esai yang kandungannya berat, tapi harus agak lucu dan ‘milenial’ bagi saya masih agak sulit kalau tidak pakai laptop. Wong, pakai laptop saja tetap sulit. Untungnya itu di rumah, jadi saya bisa pinjam laptop Mbahnya anak lanang.

Bagaimana kalau saya lagi di Pulau Kei, misalnya? Mau pinjam laptopnya ubur-ubur?

Gambar terkait

Untuk itulah, sesungguhnya saya butuh solusi. Setidaknya, saya perlu laptop yang compact, enteng tapi kuat, plus juga tahan banting minimal dari senggolan ringan anak lanang. Termasuk juga punya baterai yang kuat dan tahan lama, jaga-jaga mikir tulisannya lama, seperti kisah esai saya di atas yang kemudian selesai dalam waktu…

…5 jam. Heu.

Untunglah kini ada kekuatan paling mutakhir berupa laptop ASUS Zenbook UX391UA. Menilik spesifikasinya, sungguh sangat cocok dengan Bapak Millennial seperti saya. Tsah.

Sesuai namanya yang ZenBook S, laptop ini betul-betul S alias Slim. Beratnya hanya 1 kilogram. Tebalnya? Tidak sampai 1,3 cm. Benar-benar bisa nyelip diantara diapers anak lanang, kan? Toh, 1 kilogram dalam bawaan Bapak Millennial boleh dibilang nggak ada apa-apanya. Continue reading

7 Cara Mengatasi Anak Susah Makan Versi Bapak Millennial, Nomor 5 Bikin Wisuda!

Waktu remaja, masalah terbesar hidup adalah SMS tidak dibalas. Begitu menua dan punya anak, masalah baru muncul. Yha, sepele tapi krusial: anak nggak mau makan. Atau versi moderatnya, mau tapi susah untuk makan. Atau versi halusnya lagi, mau tapi sedikit.

Perkara begini, biasanya mamak-mamak yang baperan. Ya iyalah, bangun sudah pagi, makan sudah buka-buka Instagram, anaknya tutup mulut. Bapaknya? Kalau lagi sial, bisa kena amarah juga. Amarah istrinya Frans Lingua.

Screenshot_1649

Menghadapi anak yang ogah makan memang susah-susah tampan, eh, gampang. Susahnya dua kali. Gampangnya sekali. Dan anak susah makan juga kayak mantan yang adalah tetangga nikah duluan. Bikin emosi.

Mamaknya emosi itu wajar, karena gizi anak adalah yang utama. Cuma, emosi terus anaknya dimarahi, nah itu jadi perkara. Kalau sudah begitu, salah-salah anak merasa bahwa momen makan itu adalah momen mengerikan, bukan mengenyangkan. Lebih berabe lagi.

Nah, sependek pengalaman saya sebagai bapak 1 anak, sebenarnya ada beberapa metode untuk mengatasi anak susah makan. Nggak selalu berhasil, tapi lumayan untuk alternatif jika anak sulit makan. Karena bagaimanapun, kan memberi makan anak itu kewajiban orangtua.

Screenshot_1650

Nyoh!

1. Waktu Makan Bukan Waktu Berantem

Karena sudah dimasakin susah-susah dan anak nggak mau, waktu makan jadi horor. Mamak yang lelah jadi marah, dan, yha, anak jadi tambah ogah makan. Bahkan malah jadi takut makan di kemudian hari.

Tentunya jadi sabar itu tidak mudah. Padahal Jokowi saja bilang:

Image result for mbok sabar

Sumber: yogyadise.com

Jadi ya lakukan pelan-pelan. Memang makan banyak waktu, tapi ya harus demikian. Saya pernah harus menggotong bayi saya yang sudah 8 kilogram menuju tempat soang tetangga, karena dia di rumah ogah makan tapi makan dekat soang mau. Jadi, pertama-tama ya turuti dulu kalau sederhana. Kalau anak mintanya makan sama Jokowi ya susah, kalau sudah yang begini ini barulah kita bisa pakai teknik kedua. Continue reading

How To Work At Factory?

HOW TO WORK AT FACTORY_

The sad news about the death of the founder of my first office was the subject of this paper. Really, I feel condolences and salute to the father for being firmly and smoothly leaving a company to the second generation. And actually the third generation was almost ready, just returned from London. Even though I was not in the company and preferred to carry out gallon lifting activities, actually I was still following their development. After all, according to the OOM ALFA book, the pharmaceutical industry environment is very narrow.

The second thing that made me a little itchy lately, besides being rarely bathed, is the comments that go into my writing about PPIC. There are those who agree, there are those who share, some actually feel down. If just read this blog, your already feel scared, what if you are chasing by Mr. Eko because there is Cefadroxil coming in as much as 600 kilograms? From the post, plus the search engine terms that underlie people straying there, I tried to find out that there were still many would people who did not understand about the structure in the factory, how their behavior was, what positions were in the factory, and so on.

Image result for working factory gif

I was a little confused when I made the title of this post because it was as if it would refer to a pan factory. Even though I means factory in the manufacturing process, but this diction is too magical to use. If you want to use the word ‘industry’, it also feels less interesting. So, yes, because actually what I wanted to explain is also relevant to pan factories, cement factories, but not children’s factories. In essence, the factory here is a place that is used to process raw materials into products. Continue reading

Mencoba Memahami Tantrum Si Bayi

Ada hal baru yang dilakoni Isto–anak saya–beberapa pekan terakhir. Biasanya jika menunjuk sesuatu yang tidak dituruti (yakali dia nunjuk Camry lalu saya turutin beli!), dia hanya menangis biasa. Sekarang, Isto akan menurunkan tubuhnya ke lantai, lalu ngesotlah, guling-gulinglah, dll. Tidak lama, sih. Tapi kemarin kejadiannya di Senayan City. Jadi bikin agak seru.

Yup, itulah tantrum.

Tantrum seperti yang dilakukan Isto, dilakukan oleh oleh Rafathar, El Barack, maupun oleh Gempita serta sebentar lagi akan dilakukan oleh Raphael Moeis. Al, El, dan Dul pada zamannya juga pernah tantrum. Jadi, selow saja, setiap anak-anak usia prasekolah punya masalah umum bernama tantrum. Pada kisaran usia 1-4 tahun ini, anak belum cukup bisa mengekspresikan keinginannya. Walhasil, manifestasinya adalah dengan meronta, makan teman, berteriak, menangis, tidur di sidang DPR, menjerit, ngeshare hoax, atau menghentakkan kedua kaki dan tangan ke lantai. Continue reading

8 Cara Ampuh Lolos Seleksi Administrasi LPDP

Sesudah ratusan purnama, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti seleksi beasiswa LPDP nan paling hits se-Indonesia Raya. Bagaimanapun saya punya teman anak LPDP angkatan awal sekali dan bahkan saya pernah membantu mereview beberapa esai orang yang akan daftar LPDP (termasuk yang kemudian jadi Mama Isto). Saya juga dalam proses mendaftar LPDP ketika kemudian gawean lain yang bernama ngabdi negara malah nyangkut duluan.

Untuk itu, biar kayak anak LPDP lainnya yang punya blog, maka saya mencoba membagikan pengalaman saya lolos LPDP dalam tahap demi tahap. Semoga bisa membantu teman-teman yang ingin menjadi Ksatria Cendekia yang siap berkarya dalam beragam peran satu tujuan bersinergi membangun Indonesia.

1. Perhatikan Daftar Dokumennya

See the source image

Pendaftaran LPDP dilakukan melalui website dan dokumen-dokumen yang menjadi syarat administrasi juga diunggah via website, bukan dikirim manual. Jadi, harusnya tidak akan terjadi yang namanya ketlingsut lupa dikirim karena akan ada status “Sudah Diunggah” dan “Belum Diunggah”. Selalu pastikan bahwa kalau memang ada yang “Belum Diunggah” itu bukan dokumen wajib. Misalnya, dalam konteks saya adalah LoA. Kalau dokumennya scan ijazah ya kalau belum diunggah yo bubar wae. Jadi, perhatikan bagian ini baik-baik.

2. Perhatikan Waktu

See the source image

Dokumen untuk seleksi tidak banyak-banyak benar, tapi butuh waktu untuk mendapatkannya. Misalnya scan hasil IELTS atau TOEFL yang masih berlaku, itu tentu harus dipastikan duluan. Kalau perlu sudah ada sebelum tes LPDP dibuka. Surat-surat rekomendasi juga pasti butuh waktu untuk nodong atasan atau dosen kesayangan. Termasuk juga tes kesehatan. Saya hampir batal daftar LPDP karena tes kesehatan ini dan mungkin nanti akan saya kisahkan terpisah.

3. Tahu Diri

See the source image

Bagian ini jelas penting sekali karena misalnya kayak saya pemilik TOEFL ITP hanya 533 ya harus tahu diri untuk tidak mendaftar LPDP luar negeri, tapi bisa masuk LPDP jalur dalam negeri. Atau ketika saya PNS tapi di Kantor saya tidak membuka atau menyosialisasikan seleksi jalur afirmasi, ya jangan mendaftar ke jalur itu. Selagi bisa daftar reguler ya ikut reguler saja. Atau kalau kamu yakin dia nggak sayang sama kamu, ya tahu dirilah, jangan dipaksakan. Continue reading

Tips Termudah Lulus Sertifikasi Manajemen Risiko (CRMO)

Camping.png

Sekarang ini memang aneh-aneh. Banyak sekali sertifikasi yang dibuat. Sampai-sampai Kementerian Agama mau ikutan. Sertifikasi dipandang penting untuk menjamin kompetensi. Apalagi di era pasar bebas, nyatanya kompetensi memang jadi yang paling utama. Nah, salah satu ilmu ngehits masa kini adalah MANAJEMEN RISIKO.

Tentu kita sering mendengar tentang manajemen risiko. Istilah kekinian yang juga dikenal dengan risk management adalah salah satu prasyarat hidup di persaingan industri nan kian ketat kek celana renang. Maka jangan heran kalau yang namanya sertifikasi manajemen risiko alias sertifikasi risk management menjadi suatu advantage. Apalagi, seiring perkembangan teknologi, sistem, regulasi, maupun pasar, semakin berkembang juga kesempatan tapi juga ancaman pada setiap pelaku aktivitas. Untuk itu, siapapun harus dapat menjaga stabilitas dan sustainability sehingga manajemen risiko mengambil peran yang sangat penting.

Di Indonesia, sertifikasi manajemen risiko dikelola oleh LSPMR alias Lembaga Sertifikasi Profesi Manajemen Risiko. Nah, level pertama sertifikasinya bernama Certified Risk Management Officer (CRMO). Tenaga profesional di bidang manajemen risiko dibentuk mula-mula dari tahap ini.

Menurut LSPMR, CRMO ini akan menghasilkan output berupa para profesional yang mempunyai cara pandang dan persepsi yang sama tentang risiko, bisa membedakan risiko dengan kesempatan dan masalah, bisa memahami proses hingga kerangka kerja Enterprise Risk Management bisa menentukan kriteria dalam penilaian besaran risiko, dapat membuat peta risiko, hingga mampu membuat risk register yang informatif.

Sertifikasi CRMO ini dilakukan dalam 1 pekan yang terdiri dari 3 hari pelatihan dan 1 hari ujian. Materi CRMO terdiri dari Basic Risk Management, Proses dan Teknik Manajemen Risiko, dan Business Quantitative. Hanya ada 3, tapi njelimetnya lumayan.

Oya, bagi yang lagi mampir di blog ini, jangan salah paham ya. Namanya manajemen risiko itu ilmu generik dan nggak hanya diterapkan di perusahaan asuransi maupun manajemen keuangan doang. Bahkan bisa diterapkan dalam pencarian jodoh! Nanti ada postingan sendiri soal itu.

KALAU INGAT. HEUHEUHEUHEU~~

Dari 3 materi di 3 hari itu akan ada 3 jenis ujian. Yang pertama adalah Business Quantitative. Kedua, Risk Management Technique. Ketiga, presentasi–yang tentu saja include wawancara.

Oke, karena judulnya bombastis, maka saya harus jelaskan bahwa itu keperluan biar orang nyasar masuk sini saja. Jadi, yang saya maksud dalam tulisan ini adalah tips buat lulus CRMO. Nanti, sesudah CRMO, kita bisa ambil level berikutnya yakni Certified Risk Management Practices (CRMP) yang lebih advanced. Sekarang, kita fokus pada bagaimana cara lulus dari ujian CRMO. Jangan lupa, nomor 2 bikin melongo!

1. Punya Uang

round silver and gold coins

Photo by David McBee on Pexels.com

Ini penting! Kalau nggak punya uang, bagaimana mau ikut pelatihan? Ya, minimal uang kantorlah. Kecuali kita konsultan yang memang butuh sertifikasi risk management untuk pekerjaan kita, baru keluar sendiri.

2. Belajar

Ujian CRMO kan ada 3 yakni Business Quantitative, Risk Management Technique, dan Presentasi/Wawancara. Si BQ dan Risk Management Technique tadi berlangsung masing-masing 30 menit dan diselenggarakan berurutan. Jadi totalnya ya 1 jam. Patut diingat bahwa dua ujian itu punya karakteristik yang sangat berbeda. Risk Management Technique bicara definisi, sedangkan BQ separuhnya ada hitungan. Jadi, mau sepintar apapun kita, belajar itu penting adanya.

3. Kalkulator

person holding black and grey pen

Photo by Pixabay on Pexels.com

Waktu saya ujian, LSPMR menyediakan kalkulator. Tapi saya juga bawa kalkulator. Kalkulator jenis apapun terserah, asal bisa pakainya. Disarankan sih scientific karena akan ada fungsi akar pangkat dalam soal BQ. Jadi, miliki kalkulator terlebih dahulu.

4. Jangan Jauh-Jauh
Ini yang paling sulit diamalkan dan bikin orang banyak kandas di presentasi karena dibilang BELUM KOMPETEN. Biasanya, yang dikirim pelatihan CRMO adalah orang-orang yang mengelola manajemen risiko perusahaan. Jadi, begitu diminta membuat presentasi berwujud risk register lengkap dengan 2-3 risiko, ya pakailah risk register milik perusahaan sendiri dan pilih yang kita paham. Jadi misal kita orang teknik, jangan pakai risiko keuangan–kecuali kita benar-benar paham. Ditanya bisa pening nanti itu. Malah jadi risiko di dalam manajemen risiko. Bahlul.

5. Percaya Diri

woman standing in front of sitting people

Photo by rawpixel.com on Pexels.com

Membawakan tahapan manajemen risiko itu mudah, kalau kita paham dan ada modal percaya diri. Pengujinya juga tidak galak kayak Valak. Yang penting, kita paham dan kita pede. Karena dengan pede, informasi penting yang kita punya bisa dialirkan secara masif kepada penguji. Demikian pula dengan ujian BQ dan RMT yang tertulis dan pakai LJK, waktunya total hanya 60 menit untuk 60 soal. Artinya, kalau kita tidak pede, isinya hanya akan hapus menghapus kertas dari jawaban belaka. Kan susah.

Dengan menggunakan tips di atas, saya punya sertifikasi manajemen risiko untuk tahap pertama ini. Masih cupu, jelas, apalagi untuk bisa CRMP itu masih jauh levelnya, ibarat saya merindukan Dian Sastro. Sastro Jepang. Garing. Kriuk.

Tulisan ini saya persembahkan kepada pada calon peserta CRMO yang deg-degan karena takut nggak lulus–yang berarti akan membuat kita utang pada perusahaan yang mengongkosi. Itu tadi, nggak perlu takut. Amalkan 5 hal penting di atas–yang penting cuma 4, sih–dan niscaya kita akan dapat surat dari LSPMR tentang kompetensi kita. Oya, untuk CRMO sertifikatnya bertahan 2 tahun. Kayak masa pacaran anak SMA semata~~

7 Fakta Tentang Jakarta Aquarium, Nomor 6 Bikin Kayang!

 

7 Fakta Tentang Jakarta Aquarium, Nomor 6 Bikin Kayang!.jpg

Jadi ceritanya, sepulang dari dinas di Surabaya, mamanya Isto mengajak main. Mainnya lengkap sama Eyang-eyangnya Isto plus Om-nya juga. Supaya ngehits, kami main ke Jakarta Aquarium. Alasannya, tentu saja ingin mengedukasi bayi yang (kala itu) belum setahun terhadap laut. Siapa tahu jadi lebih mencintai laut. Mengingat laut adalah bagian dari tanah air. Tsah.

Nah, sudah cukup banyak review tentang Jakarta Aquarium, baik di blog maupun di Instagram. Untuk itu, saya nggak mau ngereview yang biasa saja. Jadi, saya mau menyimpulkan kunjungan ke Jakarta Aquarium tersebut dalam TUJUH FAKTA MENGEJUTKAN DAN MENCENGANGKAN TENTANG JAKARTA AQUARIUM. Jangan lupa, NOMOR ENAM BIKIN MELONGO!1!11!

1. Memindahkan Laut ke Mal

Pertama-tama, Jakarta Aquarium ini bukan tipu-tipu. Benar-benar berupa akuarium dan benar-benar letaknya di tengah kota Jakarta, tepatnya di Mal Neo Soho dengan akses masuk di Lower Ground. Artinya, itu ikan-ikan hidup di dalam mal. Sepanjang waktu! Ikan-ikan (dan hewan-hewan lainnya) sungguh lebih milenial daripada para milenial yang nge-mall.

Jadi kalau lagi pertemuan piranha, maka piranha dari Jakarta Aquarium bisa sombong sama piranha dari Sungai Amazon. “Gue sih tinggalnya di mal. Kawasan premium. Emang situ, tinggal di hutan?”

Yiha!

JA7

Suasana laut, termasuk juga penataan cahayanya sangat dipikirkan. Jadi, kira-kira ya serupa dengan di bawah laut. Makanya Jakarta Aquarium ini bukan berupa ruangan terang benderang belaka, tapi remang-remang sebagaimana di bawah laut situ. Sudah jelas juga suhunya diatur sedemikian rupa. AC-nya juga. Dan dengan demikian, seluruh kegiatan itu menyebabkan fakta kedua! Continue reading