Lost in Bangka (6): Pantai Tanjung Pesona

Ya nasib, ya nasib. Liburan hore kiranya terancam karena sepulang dari Katedral mendung tampak menggantung manja tinggal tunggu tumpah. Ibarat gadis yang sudah merengut sak-kerut-kerut-e dan kamu bilang dia gendut. Pyar. Akan tetapi, rencana harus direalisasikan. Ini prinsip PNS, bagaimanapun agar anggaran terserap, notulen belakangan. Heu. Saya dan Chocho berserta istri masing-masing bergegas menuju rumah mertua Tintus untuk menjemput Tintus. Ya, tentu saja, masak saya ke rumah Tintus untuk menjemput Robert?

Sesudah mampir sejenak di rumah Monic, keponakannya istri Tintus, yang berarti juga sepupu Verena, dan otomatis simbah mereka sama, lekaslah kami berangkat. Peraduan telah ditentukan dengan abstrak. Satu hal yang pasti adalah ke Sungailiat, sama persis dengan tujuan sebelumnya, Pagoda di atas bukit itu, tapi ini bawahnya sedikit.

Benar saja, mendung tadi pyar beneran di perjalanan. Hujannya lumayan dan tetap lumayan hingga rombongan kami mendekati Sungailiat. Mobil Tintus mengarah ke sebuah pantai yang bernama Tanjung Pesona. Dalam guyuran hujan nan deras bak tangisan playboy KW, kami berhenti dan gamang. Turun, nggak, turun, nggak, turun, nggak. Begitu terus sampai perpres penggajian PNS disahkan.

Turun pertama sudah barang tentu adalah bundo hamidun muda di dalam mobil. Bundo beser, kak, jadi kudu pipis demi kedamaian dunia. Walhasil, turun menjadi opsi. Berpayung manja kepada pasangan masing-masing untuk kemudian berteduh di salah satu gazebo yang tersedia.

Pasangan Rian Chocho Chiko dan Marin Josi (ini penulis Syarat Jatuh Cinta, sebuah buku yang pernah terbit di GagasMedia) langsung bablas ke pinggir laut meski kondisinya sangat tidak benar. Angin kencang, ombak tinggi, mereka bawa payung pula. Tapi biarkan, sak bahagiamulah. Sementara saya dan Tintus hanya mlipir belaka dekat batu.

Pantai Tanjung Pesona ini terletak di Desa Rambak, Kecamatan Sungailiat, tepatnya 9 kilometer dari kota. Kurang lebih terletak antara Pantai Teluk Uber dan Pantai Tikus. Di kompleks pantai ini sendiri telah ada fasilitas wisata dengan kelas tidak main-main, bintang 4. Eh, ada yang bilang 3. Embuh mana yang benar?

Kalau lagi aman damai dan tentram, sebenarnya kita bisa melakoni olahraga air semacam banana boat atau jetski. Tapi hanya orang gila yang main banana boat dalam kondisi ombak saat kami kesana.

Kalau mau iseng mengamati sebenarnya Pantai Tanjung Pesona ini terbagi 2 bagian level ombak. Bagian kanan dari gazebo-gazebo adalah level ekstrim. Sementara bagian kiri adalah level baik-baik saja. Maka saat hujan begitu, di bagian kiri masih ada yang mainan air, sementara di kanan hening kayak kamu habis diputusin.

Pemisahnya adalah batu besar, lebar, dan miring yang menjadi tempat saya dan Tintus stop sambil berpayung. Ah, seandainya tidak hujan, sudah pasti saya main-main ke laut sana. Bagaimanapun, ini liburan, bukan bunuh diri, jadi sebaiknya berdiam saja memantau keadaan meski dampaknya adalah jadi tiada bisa bercerita banyak tentang keindahan Pantai Tanjung Pesona ini.

Lapar melanda perut masing-masing, apalagi ada dedek Monica dan Verena dalam perjalanan kami, serta tidak bisa main apa-apa akhirnya membawa kami cabut dari Pantai Tanjung Pesona yang sebenarnya mempesona itu. Tenang saja, bagian paling gagal dari liburan ini ya Tanjung Pesona tok. Sesudah ini, awan yang sudah bersahabat akan membawa kami ke tujuan berikutnya.

Kemana, hayo?

Tetap stay tune di serial Lost in Bangka di ariesadhar.com, yha!

Advertisements

Lost in Bangka (5): Katedral Santo Yosef

lostinbangka-katedral

Seperti saya tulis sebelumnya saat berkisah tentang Hotel Menumbing Heritage, salah satu yang tidak terduga adalah bahwa penginapan kami dekat dengan Gereja. Bahkan lonceng Gereja terdengar begitu dekat begitu nyata dari kamar. Ya, Gereja yang saya maksud adalah Katedral Santo Yosef. Di tempat inilah, teman saya Libertus Tintus mempersunting istrinya untuk kemudian perjalanan waktu membuat mereka memiliki Verena Freesia Ventus sebagai buah hati.

Mengingat hari Minggu adalah harinya jalan-jalan, maka saya dan istri memutuskan untuk misa pukul 6 pagi bersamaan dengan lonceng yang berbunyi. Saya mengetuk kamar sebelah, namun kamar sebelah tidak hendak ke Gereja. Gitu.

Saya dan istri berjalan bergegas meskipun sebenarnya perjalanan ke Gereja itu dekat sekali. Maklum, sudah terlambat. Pas masuk, langsung lagu pembukaan pula. Namun lagu pembukaan itu kemudian berakhir dengan tidak masuknya Pastor. Rupanya ada delay, dan lagu pembukaan diulang lagi 6.20. Heuheu. Baru kali ini ada misa delay, tapi lagu pembukaannya direpetisi. Nggak apa-apa, namanya juga para pelayan Gereja adalah manusia biasa, yang tak sempurna dan kadang salah, namun di hatiku hanya satu, cinta untukmu KEDALUWARSA!

Continue reading

5 Hal yang Harus Diperhatikan Dalam Mempersiapkan Foto Pre-Wedding

cover

Sejujurnya saya trenyuh menyadari blog saya hanya posting sekali di bulan Februari, itupun orderan. Trenyuh tentu saja karena untuk punya nama blog semacam ini saya harus membayar. Wis mbayar kok koyo ngene. Jadi, baiklah, saya coba keluarkan dahulu materi posting yang sudah dipersiapkan sejak zaman Balai Pustaka.

Salah satu hal kekinian yang biasanya dipersiapkan oleh para pengantin era milenium adalah foto pre-wedding. Sebuah hal yang sangat tidak wajib, tetapi kemudian menjelma jadi semacam kewajiban menjelang pernikahan. Sebenarnya, ya, tanpa pre-wedding sekalipun, mempersiapkan pernikahan itu sudah ribet. Maka dari itu melalui posting ini saya hendak memberikan beberapa pedoman yang kiranya dapat membantu teman-teman sekalian menghindari keribetan pre-wedding sebagai suplemen dari keribetan lain yang sudah ada.

Continue reading

Lost in Bangka (4): Padepokan Puri Tri Agung

lostinbangka_puritriagung

Sudah gelap di Pangkal Pinang saat Verena dan orangtuanya tiba di Menumbing Heritage. Gamang sedikit, akhirnya petualangan Lost in Bangka yang merupakan kolaborasi bersama Rian Chocho Chiko dan istri, Ariesadhar dan istri, serta Libertus Tintus dan istri plus Verena dilanjutkan. Tujuan kali ini adalah pagoda. Itu terminologi awal. Walau begitu, judul tulisan ini menyesuaikan nama tempat di Google dan di TripAdvisor. Bukan apa-apa, postingan ini kan memang untuk menggaet view dan dolar mensosialisasikan tempat-tempat wisata di Bangka.

Perjalanan dilakukan menggunakan mobil rental dan supir asli Jogja dan suka mengukur jalanan antara Jakarta dan Bandung. Namanya kebetulan mirip dengan vlogger kurang ngevlog, Rian Chocho Chiko. Rupanya, menyetir di pulau lain adalah achievement lain untuknya.

Guna menambah seru, Tintus selaku gay guide mengarahkan jalur via jalanan yang disebutnya sebagai jalan alternatif. Ini heroik juga, sudah jalannya malam via jalur alternatif, supirnya minus pula matanya. Plus, ada ibu hamil muda di dalam mobil. Duh, dek.

Sejujurnya tidak banyak yang bisa dilihat di perjalanan selain kegelapan. Satu-satunya yang tampak adalah RSUD yang entah kenapa nongol di tengah hutan begitu. Kalau di Jambi saja kena amuk, gimana RSUD yang di tempat semacam begini ya? Lebih epik lagi adalah ketika saya menggunakan Google Maps, jalur yang kami lewati bahkan belum ada di peta! Kalau sekarang, sih, sudah. Lha wong selisih sekian bulan dari perjalanan dengan ditulisnya laporan ini. Heuheu.

Serunya, karena jalanan gelap, ceceritaan yang diungkit adalah lagi-lagi tentang masa lalu. Ada 7 orang di mobil, yang 6 sudah saling kenal sejak kuliah. Tentu cerita playboy seperti sang driver lebih menarik untuk dibahas daripada kisah-kisah kegagalan milik saya.

Continue reading

Lost in Bangka (3): Menumbing Heritage

lostinbangka_menumbing

“Langsung Menumbing, toh?” ujar Tintus selaku tuan rumah, segera sesudah saya memasuki mobilnya yang melesat mulus menjemput saya dan istri di bandara Depati Amir.

“Hooh.”

Tintus melaju dengan tenang, tentu saja karena Pangkal Pinang itu pada dasarnya bebas macet. Ini Pangkal Pinang, bukan Ciputat. Peralihan konteks itu penting, karena kalau di Ciputat, apalagi Cipulir hari Sabtu siang, duh, nggak tega saya ceritanya.

Saya sudah memesan hotel sejak dua pekan sebelumnya, lagi-lagi via reservasi.com, sama persis dengan tiket pesawatnya. Penyebabnya sederhana, harga. Sebagai pegawai ngeri, saya cukup paham bahwa hotel-hotel itu pada umumnya berpegang teguh pada Satuan Biaya Masukan (SBM) untuk menetapkan tarif. Maka, jika ada publish rate jegleg dengan government rate, ya jangan heran. Sebagai pemesan hotel sepanjang masa jika perjalanan dinas, saya memainkan kartu itu kala memesan Menumbing Heritage ini. Harganya sekian. Kemudian saya menghitung via reservasi.com, lah, lebih rumah, eh, murah! Langsung sabet.

Pertimbangan awal saya memesan Menumbing Heritage adalah karena di internet, hotel ini menjual bangunan lawas namun dengan sentuhan modern. Selain itu, Tintus juga merekomendasikan hotel ini meski kemudian ketahuan kalau istrinya kurang sepakat dengan rekomendasinya. Lagipula, kalau saya mau nginep di hotel-hotel seperti Soll Marina atau Santika, nanti kalau dinas juga bisa. Kalau sejenis Menumbing Heritage ini nggak semua orang berkenan kalau dinas, soalnya.

Continue reading

Lost in Bangka (2): Depati Amir

lostinbangka-depatiSebelum membaca kisah ini, ada baiknya saudara-saudari sekalian membaca kisah awal perjalanan yang akan sangat panjang serinya ini di Lost in Bangka (1). Bukan apa-apa, lumayan buat kasih saya traffic. Maklum, rejeki dollar saya dari blog sedang kena traffic jam. Heuheu.

Dalam perjalanan menuju bandara Soekarno-Hatta, ada sedikit insiden perihal taksi online. Alkisah, saya sedang melaju manja menggunakan Honda Mobilio dari sebuah taksi online terkemuka di Asia Tenggara. Entah bagaimana kisahnya, yang kemudian terjadi adalah tetiba saya status pemesanannya di ponsel saya yang bermerk Evercoss itu jadi cancel. Lah, saya bingung bukan kepalang. Salah-salah saya diturunkan-diturunkan-diturunkan di pintu tol terdekat. Penyelesaiannya agak njelimet, tapi intinya adalah kalau naik taksi online kita kudu bersiap dengan aneka pengalaman ciamik.

Dalam waktu yang cukup singkat, saya dan istri sampai di Terminal 1C. Berhubung ini perjalanan mandiri dan mengandalkan diskon dari startup yang baru, sudah pasti kami naiknya adalah adiknya Garuda. Lumayan, minimal di badan pesawatnya sudah ada tulisan Garuda.

Satu hal yang menarik dari pesawat yang bernama Citilink itu adalah adanya iklan model unik yang tempelan stiker besar di penutup bagasi yang ada di atas. Dan bagian paling tepat bagi saya dan istri adalah bahwa yang kebetulan berpormosi di dalam pesawat itu adalah…

Continue reading

Lost in Bangka (1): Reservasi

lostinbangka_reservasi

Niat suci mulia jadi travel blogger agaknya terbilang sulit untuk dilakoni. Maklum, saya anaknya nggak enakeun karena kebanyakan jalan-jalannya justru dibiayai oleh kesulitan rakyat. Pedih, kak. Heu. Tetiba, vlogger nyaris terkenal, Rian Chocho–yang bisa ditemui di rianchocho.xyz–mengajak saya berlibur bersama ke Pangkal Pinang.

Tenang. Ini bukan berdua saja. Tentunya bersama istri kami masing-masing.

Sejak 1,5 bulan sebelumnya, trip ini telah direncanakan dengan kurang matang, mengingat kesibukan Rian Chocho bakulan serbuk obat dan saya sendiri dengan fotokopi yang menumpuk. Walhasil, tidak ada jadwal pasti tentang trip ini kecuali keberangkatan tanggal 22 Oktober 2016.

Tadinya, trip ini akan disertai oleh manajer kondang pabrik curcuma. Apa daya, sang istri yang justru telah lebih dahulu mengajukan cuti justru diminta ikut seminar yang pada akhirnya membatalkan keikutsertaan mereka dalam trip yang tadinya tanpa judul ini. Dengan demikian, hanya ada dua pasang manusia yakni vlogger nyaris terkenal, blogger kurang terkenal, serta istri masing-masing.

Kenapa Pangkal Pinang?

Continue reading

Dibekap Dinginnya Danau Toba di Hotel Mutiara Balige

kaver2

Danau Toba kini menjadi salah satu fokus pengembangan kawasan wisata di Indonesia, bersama Tanjung Lesung, Labuan Bajo, dan lain-lain yang dikemas dalam terminologi ‘Bali Baru’. Menurut saya, Danau Toba layak untuk dikembangkan seluas-luasnya. Pertama, karena pemandangannya memang cantik luar biasa, sedangkan kedua adalah karena Danau Toba itu luasnya minta ampun dan punya banyak ruang untuk dikembangkan. Garis pantai Danau Toba yang 294 kilometer itu nggak kalah panjang dengan banyak pulau di Indonesia.

Nah, seperti saya kisahkan dalam hikayat singkat di Danau Toba, saya menyempatkan diri menikmati Danau Toba via Balige, sebuah kota kecil di tenggara danau raksasa di Indonesia itu. Nah, demi kelangsungan hidup di perjalanan pulang, saya memutuskan untuk menyewa hotel dengan 3 kamar, satunya Mamak dan (calon) istri, satunya Bapak sama saya, satunya lagi supir. Biar sekali-kali supir menikmati kamar hotel, gitu.

Hasil pencarian dari informasi yang terbilang sedikit membuat saya mengarahkan pilihan ke Hotel Mutiara Balige. Pilihan agak bertaruh karena review-nya juga belum banyak. Saya hanya berpatokan bahwa hotel itu terbilang baru dan dari peta letaknya persis di pinggir Danau Toba.

Continue reading

Lebih Jelas Melihat Uang Makan PNS

Jadi begini, tiba-tiba hari ini saya membaca berita dengan judul nan bombastis “Uang Makan PNS dan TNI/Polri Diusulkan Naik Jadi Rp45.000 per Hari”.

screenshot_61

Terima kasih kepada Bapak Wartawan yang telah begitu cerdas menulis judul semacam ini, sehingga menelurkan komentar yang juga kece seperti ini:

screenshot_64

Bahkan sampai bawa-bawa tax amnesty, sungguh keren!

screenshot_65

Melalui postingan ini, perkenan saya menulis sesuatu untuk sedikit lebih memperjelas dan mengurangi dosa orang-orang yang komentar duluan tapi nggak tahu konteksnya dengan tepat. Kasian, kak, hidup sudah berat, dosa kok nambah.

Continue reading

Cerita dari Cideng

Oke, kita memasuki waktu dunia bagian semakin jarang #KelilingKAJ. Proyek dua setengah tahun silam ini memang semakin tersendat namun bukan bermakna saya tidak berkeliling dengan baik dan benar. Hanya post-nya yang agak tertunda-(tunda). Heuheu.

Dalam perjalanan #KelilingKAJ kali ini–yang saya lakoni beberapa waktu silam–sungguh penuh dengan drama. Berangkat dari kos-kosan dengan ayam, eh, awan mendung menggantung sembari menggunakan teknologi Gojek, akhirnya air yang nongkrong di langit itu tumpah kala saya dan Mang Gojek melewati sekitar Bank Indonesia. Untunglah saya anaknya well-prepared sehingga dengan bahagia bisa memberi tahu kepada Mang Gojek bahwa saya bawa mantel.

Hujanlah yang membuat saya agak terlambat untuk tiba misa di tempat tujuan #KelilingKAJ kali ini, namun tentu tiada mengurangi kekhusukan doa. Bayangkan rasanya berdoa dalam kondisi celana basah total plus AC Gereja nan dingin. Cocok dan sudah mirip di Sendang Sri Ningsih.

cideng3

Tempat tujuan #KelilingKAJ nan penuh air ini adalah Gereja Maria Bunda Perantara atau yang lebih dikenal dengan Paroki Cideng, tentu saja karena terletak di Cideng, tepatnya Jalan Tanah Abang II Nomor 105, satu jalur dengan kantor suatu bagian tentara yang saya lupa. Bangunannya terbilang tiada mirip Gereja karena memang terletak persis di pinggir jalan besar dan ramai serta dijepit perkantoran dan rumah tinggal. Parkiran tentu saja menjadi problema, meski tidak seekstrim Gereja Santa.

Continue reading