8 Hal Penting Dalam Menulis Esai LPDP

Beasiswa LPDP Tahun 2019 sudah dibuka. Dalam waktu yang cukup terbatas untuk periode pertama, mungkin ada yang masih bingung dalam menulis esai. Dulu waktu membantu proses LPDP pacar–kemudian jadi istri–esai LPDP itu ada 2 yaitu “Peranku Bagi Indonesia” dan “Sukses Terbesar Dalam Hidupku”.

Nah, yang saya alami pada tahun 2018 esainya itu diberi nama Statement of Purpose, yakni esai paling banyak 1000 kata yang menjelaskan rencana kontribusi yang telah, sedang, dan akan dilakukan untuk masyarakat, lembaga, instansi, profesi, atau komunitas.

Nanti akan saya beri bocoran esai yang bikin saya berhasil mendapatkan beasiswa LPDP dalam 1 kali percobaan. Pertama-tama, tentu harus dipahami dulu hal-hal yang biasanya luput dari pembuatan esai sehingga mengurangi kemungkinan diterima LPDP.

Yuk~

1. Esai Itu Personal

Dalam definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), esai itu sifatnya adalah berasal dari sudut pandang penulis. Ini penting karena banyak orang yang asal copy-paste esai-esai yang beredar di media seperti blog ini, sehingga menghilangkan unsur sudut pandang personalnya.

Jadi, nyontek esai itu dimungkinkan. Minta tolong edit ke teman yang paham tata bahasa atau suka menulis juga tidak masalah. Hanya saja, pertahankan sudut pandang personalnya dengan cara: pertama kali buat esai sendiri sampai selesai, sejelek apapun itu. Kemudian berangkatlah dari esai itu untuk perbaikan ke depannya. Niscaya, esai akan menjadi sebuah masterpiece.

2. Buka Dengan Tidak Biasa

Ini contoh pembukaan saya dalam statement of purpose yang saya submit ke LPDP:

Saya selalu mengalami masalah ketika ada pertanyaan, “kamu orang mana?”. Bukan apa-apa, saya adalah anak seorang pria Jawa asli dan seorang wanita Batak tulen. Saya lahir dan tumbuh hingga remaja di Bukittinggi, Sumatera Barat. Saya seorang Katolik sejak bayi, yang punya saudara dekat beragama Islam dan Kristen Protestan. Saya kemudian membentuk pola pikir dalam pendidikan Jogja dan lantas memulai karir di Kota Palembang untuk kemudian hengkang ke Jabodetabek sebagai pekerja muda lainnya.

Apa coba urusan tempat lahir sampai agama nyambung ke esai LPDP? Ya, bisa saja disambungkan. Namanya juga tulisan, pasti bisa bagaimana caranya. Saya sendiri hendak mengarahkan latar belakang itu pada kecintaan untuk Indonesia.

Pembukaan semacam ini akan memberikan nilai tambah bagi yang–siapa tahu–akan bingung dalam menentukan kamu lolos atau tidak.

3. Jelaskan Yang Sedang Kamu Lakukan

Ini sebab kalau sudah jadi PNS, maka LPDP itu akan sedikit lebih mudah cara masuknya. Tentunya, karena kita sudah mengerjakan sesuatu. Saya sendiri PNS, tapi mendaftar lewat jalur reguler, karena kebetulan instansi tempat saya bekerja tidak membuka pendaftaran untuk afirmasi PNS. Walhasil, saya harus bersaing dengan orang-orang yang syarat TOEFL dan berbagai nilai dasar lainnya sudah tinggi.

Kalau lagi nganggur, jelaskan yang telah kamu lakukan. Btw, IMHO, kalau betul-betul nganggur tapi hanya nunggu LPDP itu menurut saya ada yang aneh. Bukankah bisa melakukan banyak hal dalam aktivisme dan voluntarisme?

4. Jelaskan Kontribusi Dari Hal Yang Sedang Kamu Lakukan

Kalau kamu aktivis, maka jelaskan yang memang betul-betul sudah dilakukan dan hubungkan dengan kontribusi pada negeri ini. Kontribusi itu, sekecil apapun tetap bisa ditulis sebagai kontribusi. Wong, berita nggak benar sama bisa digoreng seolah jadi benar, toh?

Begitulah tulisan. Namun, sebagai calon anak LPDP harus berintegritas dari awal. Tulis saja apa yang kamu sedang lakukan atau kerjakan. Jika kebetulan habis lulus belum ngapa-ngapain, ya jelaskan yang pernah dilakukan.

Kalau PNS? Ya, sesimpel apapun pekerjaanmu, itu kan membantu negeri ini. Jadi, percaya diri saja dengan yang kita kerjakan sehari-hari, kecuali keseharian kamu adalah main Zuma, yha.

5. Jelaskan Permasalahan

Menjadi anak LPDP itu sebaiknya paham permasalahan negeri ini, atau setidaknya permasalahan kontekstual dan terkini dari bidang keilmuan kita. Nah, itu yang dituangkan dalam penjelasan permasalahan.

6. Hubungkan Dengan Sekolah Sebagai Upaya Solusi

Nah, dari nomor 5, segera sambungkan dengan kenapa LPDP perlu membiayai kamu sekolah. Tentu saja jualannya adalah supaya kamu bisa jadi pembantu penyelesai permasalahan. Bagian ini agak tricky, terutama bagi yang lintas bidang. Namun kalau saya yang pindah dari eksakta ke sosial, itu bisa jadi aspek yang lebih menjelaskan~

7. Bahasa Agak Absurd Tidak Apa-Apa

Pada salah satu bagian esai, saya menulis bahwa “…PNS sudah kerja keras bagai kuda…”, karena waktu itu lagi hits. Pakailah kalimat-kalimat sederhana yang lagi hits meskipun sebenarnya agak absurd, sekadar untuk bisa membuat pembaca tidak bosan pada ke-aku-an yang memang lagi kita jual dalam esai.

8. Cek Karakter, Cek Typo, Cek Ejaan

Ini standar, tapi sering sekali tidak diperhatikan. Sebelum dipindah ke form isian LPDP, sebaiknya cek jumlah karakter, cek berulang-ulang kesalahan penulisan, hingga ke ejaan. Esai yang jelas di awal, bersih dari kesalahan, akan membuat pembaca/pereviu lebih berminat meneruskan, alih-alih esai yang jorok dan penuh kesalahan mendasar, meskipun isinya sebenarnya bagus.

Nah, bagi yang ingin melihat esai saya tahun lalu, bisa DIUNDUH DISINI. Selamat mencoba~

Advertisements

Surga Wisata Mall di Bekasi

Screenshot_1893

Bekasi sempat disebut-sebut sebagai sebuah planet yang untuk mencapainya harus menggunakan roket. Hiruk pikuk kemacetan di jalanan menuju Bekasi menjadi salah satu penyebabnya. Sebab kedua adalah karena Bekasi itu panas. Padahal, ya, panasnya sama Tangerang juga 11-12. Depok pun demikian.

Meski kerap jadi bahan bercanda, nyatanya Bekasi, baik Kota maupun Kabupaten, terus berkembang. Salah satu yang menjadi tanda perkembangannya adalah dalam hal jumlah mall.

Sewaktu saya masih tinggal di Cikarang, mall hanya ada 1 saja. Mall Lippo Cikarang. Kini, jumlah mall sudah bertambah dan akan terus bertambah, termasuk dengan rencana pendirian AEON Deltamas. Jelas sekali, Bekasi memang menjadi salah satu tempat yang dipilih oleh banyak pekerja Jakarta untuk tinggal.

Jangan heran pula jika selain perumahan yang terus berkembang, pertumbuhan apartemen di bekasi juga masif sama halnya dengan berkembangnya apartemen Jakarta. Apartemen murah maupun dengan harga apartemen menengah ke atas didirikan di tengah Bekasi, dekat dengan mall-mall yang sudah eksis. Apartemen Center Point Bekasi maupun apartemen Mutiara Bekasi menjadi beberapa yang kondang.

Kebutuhan akan sewa apartemen murah di Bekasi menjadi tinggi. Selain untuk hunian sehari-hari, kebutuhan sewa apartemen juga muncul karena sebagian orang punya urusan pekerjaan di sekitar Bekasi. Sebagian sisanya hendak menghabiskan waktu di mall-mall berikut ini:

Revo Town

Dahulu namanya Bekasi Square dan sempat sepi kalau dilihat dari tol Cikarang-Jakarta. Namun pasca direvitalisasi menjadi Revo Town, mall yang berlokasi di Jalan Jenderal Ahmad Yani Kav 1, Pekayon Jaya ini mulai menggeliat. Apalagi, ditunjang dengan lokasinya yang paling besar se-Bekasi dengan 4 hektar dan 4 lantai.

Gambar terkait

Sumber: jktproperty.com

Dengan tagline baru “Simply a place for togetherness and family quality time”, Revo Town menghadirkan pusat perbelanjaan tempat bersuka ria dengan keluarga dan sahabat. Salah satu tujuan wisata yang melekat dengan Revo Town adalah Snow World, sensasi kota bersalju dalam mal. Jadi, siapa bilang Bekasi panas? Wong ini ada saljunya~

Mal Metropolitan

Dikenal sebagai MM, mall ini berdiri sejak 1993 dan memang besar sekali. Luasnya mencapai 3,5 hektar dan lokasinya sangat strategis karena begitu dekat dengan akses tol. Dahulu saya turun angkot di depan MM ini. Mengadalkan slogan “Dunia Belanja dan Rekreasi”, mall ini juga tempat rekreasi yang asyik bagi pengunjungnya. Mengelilingi mall ini capek juga, kok.

Grand Galaxy Park Mall

Hasil gambar untuk grand galaxy

Sumber: MallSini.com

Dari namanya saja sudah jelas kalau mall ini ada dalam kawasan perumahan Grand Galaxy City yang tepatnya ada di Jakasetia, Bekasi Selatan. Mengusung konsep Go Green, mall ini cocok untuk nongkrong karena banyak area outdoor yang rindang dan nyaman. Luasnya sendiri mencapai 30.000 meter persegi dengan ratusan gerai plus ada function hall juga.

Bekasi Cyber Park

Bersisian dengan MM, ada juga BCP yang kesohor sebagai tempat acuan IT terbesar di Bekasi dengan lebih dari 200 tenant tempat berbelanja. Oh, bioskop juga ada lho. Jadi Bekasi itu saking hebatnya sampai ada mall-mall yang berdekatan semuanya punya bioskop~

Plaza Pondok Gede

Untuk area Bekasi mepet Jakarta, ada Plaza Pondok Gede yang sudah beroperasi sejak 1993. Gedungnya mudah dikenali karena eksteriornya yang mencolok dengan warna biru dan merah plus punya tempat parkir yang luas.

Grand Metropolitan Mall

Berdekatan dengan MM dan tampak sangat jelas dari tol adalah kekhasan Grand Metropolitan Mall. Termasuk mall baru karena beroperasi pada Desember 2013, mall ini dilengkapi fasilitas hiburan, shopping center, dan kuliner dari merchant-merchant kondang.

Summarecon Mal Bekasi

Bangunan lain besutan Summarecon selain di Kelapa Gading dan di Serpong ini sudah tentu ada di kompleks Summarecon, Bekasi Utara. Berdiri pada 28 Juni 2013 dengan luas bangunan mencapai 80.000 meter persegi, mall ini cukup kondang karena punya akses dengan hotel yang sering dipakai oleh PNS rapat. Plus juga tidak jauh dari Stasiun Bekasi. Persis di depan mall ini juga ada danau dan ada apartemen pula.

Jadi, walaupun suka dikatain planet lah, panas lah, nyatanya Bekasi juga ada sensasi surganya juga, lho. Surga mall, setidaknya.

Persaingan SPBU di Bintaro Jaya

Keeping on Track.jpg

Bintaro–atau lebih tepatnya Bintaro Jaya–adalah sebuah kawasan yang menarik karena letaknya cukup strategis dan masih sangat terbuka pengembangannya. Nah, salah satu keunikan Bintaro, utamanya Bintaro Jaya, adalah di tempat ini seperti jadi ladang persaingan orang jualan minyak alias SPBU. Ya, bisa dikatakan semua merk BBM yang beredar di Indonesia ada SPBU-nya di Bintaro. Ini dia profilnya.

1. Vivo

Gambar terkait

Dikendalikan oleh PT Vivo Energy Indonesia yang merupakan anak usaha Vitol Grup, Vivo sebelumnya ada di Afrika dengan hampir lima ribu SPBU. Salah satu nilai plus Vivo adalah menjual varian BBM dengan RON sekelas Premium. Sesuatu yang tidak dilakukan oleh pengelola SPBU selain Pertamina.

Di Bintaro, Vivo terletak di Bintaro Jaya Sektor 7, tidak jauh dari Lottemart Bintaro yang berarti juga tidak jauh dari SPBU Shell. Sebuah head to head yang luar biasa.

 

2. Pertamina

Menghadapi serbuan SPBU merk asing, Pertamina tidak sembarangan di Bintaro karena SPBU di lokasi ini langsung COCO alias milik pertamina sendiri. Itu lho, yang katanya kodenya 31, bukan 34. Jadi COCO itu kurang lebih artinya milik sendiri, dioperasikan sendiri juga.

Hasil gambar untuk SPBU COCO BINTARO sektor 9

Letaknya di dekat Total Buah dan dalam periode tertentu lumayan bikin macet karena antrean kendaraan yang akan masuk ke SPBU Pertamina ini bersisian dengan yang mau beli buah.

 

3. Total

Masih di Bintaro Jaya Sektor 7, negeri Prancis juga turut bersaing dengan Total. Saya sendiri adalah pelanggan tetap di Total karena memang jalurnya pas. Mengandalkan produknya ‘Performance’, SPBU ini dilengkapi minimarket Bonjour serta toilet yang cukup bersih.

Hasil gambar untuk total SPBU bintaro

Posisinya sendiri di sebelah Kebayoran Arcade 3 alias di seberang Hotel Aviary. Jadi, SPBU ini laris bagi orang yang mau pulang ke arah Emerald, Discovery, hingga sektor 9 tapi lewat Arcade 3.

 

4. Shell

Hasil gambar untuk shell bintaro

SPBU kesayangan saya ketika di Cikarang, namun jarang saya kunjungi di Bintaro karena memang tidak dilewati. Posisinya cukup strategis karena di tikungan alias seberang Hari-Hari dengan sedang ada pembangunan pusat keramaian baru di sebelahnya. Yang agak unik dari SPBU ini adalah akses masuknya yang agak membingungkan.

 

5. BP

Hasil gambar untuk BP Bintaro

Pemain baru ini mendirikan SPBU di dekat Emerald, tidak jauh dari McD Emerald alias di seberang calon Pasar Modern Emerald. Lokasi ini cukup premium karena akan jadi SPBU pertama sesudah exit tol yang akan segera dioperasikan. Ada Alfamart dan ada Kopi Tuku. Kopi Tuku-nya sendiri punya tempat yang ciamik, minim kursi tapi enak buat sekadar ngopi ringan habis ngisi bensin.

Nah, sudah jelas kan, kenapa Bintaro Jaya laku keras? Wong, POM Bensin saja ada lima merk. Heuheu~

 

Peran Bapak Dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Peran Bapak Dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan Anak Usia Dini bagi Bapak Millennial seperti saya itu sebenarnya sangat sederhana. Ya, setiap pukul 12 siang menerima forward-an pesan WhatsApp dari Mama Isto yang isinya adalah permainan-permainan yang dinikmati Istoyama di daycare-nya.

Lucu-lucu, lho. Nih, saya kasih beberapa diantaranya:

pendidikan-anak-usia-dini-appletreebsd-isto-1

pendidikan-anak-usia-dini-appletreebsd-isto-2.png

Wajar sekali ketika bayi yang belum 2 tahun ini jago betul soal nama-nama kendaraan. Ya tentu saja itu karena dia dididik sejak dini di tempat yang tepat. Setidaknya tepat menurut Bapak dan Mamanya.

Pendidikan Anak Usia Dini alias PAUD merupakan salah satu upaya pembinaan kepada anak-anak sejak dari lahir sampai umur 6 tahun. Secara standar, stopnya adalah ketika anak masuk ke tingkatan sekolah formal pada usia 7 tahun.

Dalam PAUD, yang hendaknya diberikan adalah rangsangan pendidikan yang dapat membantu pertumbuhan serta perkembangan jasmani dan rohani sehingga anak siap untuk masuk ke pendidikan formal itu tadi.

Kalau mau ditarik ke ujung-ujungnya konstitusi, Pendidikan Anak usia Dini itu diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28C dalam rumusan:

“Setiap anak berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.”

Jadi, selain berhak mengembangkan diri, anak juga BERHAK mendapat pendidikan. Punya HAK lho, ya. Siapa yang harus memenuhinya? Tentu saja orangtuanya, Bapak dan Ibunya, Papa dan Mamanya, bukan Eyang atau Ompungnya~

Dalam perspektif saya sebagai bapak-bapak, adalah kewajiban seorang bapak untuk menjadi pemenuh hak itu tadi. Bersama-sama dengan Mama-nya Isto, kami berdua berusaha semaksimal mungkin memastikan bahwa seorang Isto sejak lahirnya telah mendapatkan hak yang digariskan oleh UUD itu tadi.

Mau jungkir balik? Ya nggak apa-apa. Kecupan si bayi di akhir hari sudah cukup untuk memulihkan tenaga~

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

PAUD diselenggarakan pada periode keemasan anak. Artinya, apapun yang akan terjadi kelak di kemudian hari adalah hasil pembentukan pada masa ini. Konsep-konsep dasar kehidupan ya dalam periode ini juga. Jadi, PAUD memang sangat sentral dalam pembangunan sumber daya manusia atau boleh dibilang sebagai fondasi dasar bagi kepribadian anak.

Anak dengan pembinaan sejak dini pada umumnya akan mampu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan fisik maupun mental. Dampak positifnya adalah pada peningkatan prestasi belajar, produktivitas, etos kerja, hingga akhirnya anak bakal lebih mandiri dan bisa mengoptimalkan potensi yang dia miliki.

Anak yang mendapatkan pendidikan secara cukup semenjak usia 0-6 tahun punya harapan lebih besar untuk berhasil di masa mendatang. Berhasil itu bukan sekadar prestasi, ya. Berhasil antre, berhasil main bersama tanpa rebutan mainan sampai nangis guling-guling, berhasil mengenali lingkungannya juga jadi patokan.

Salah satu yang saya ajarkan pula adalah berhasil mengelola kegagalan. Saya sendiri tetap berusaha mengajarkan arti kegagalan kepada Isto. Soalnya, kalau belajar soal keberhasilan, dia bisa belajar sendiri sama Mamanya. Heuheu~

Yup, sebagai bapak-bapak dengan riwayat kegagalan yang panjang, mulai dari gagal bercinta, gagal juara lomba blog, gagal jadi pegawai Unilever, hingga gagal tes PNS lebih dari sekali, saya belajar bahwa tidak semua orang bisa menerima kegagalan dengan jernih.

Saya yakin, anak saya akan menjadi jauh lebih tangguh, jika dia sejak dini sudah belajar bahwa kalau dia gagal memasukkan bola ke keranjang, maka dia harus mundur sejenak dan lantas mencoba lagi. Atau jika dia menyusun mobil-mobilan 2-3 tingkat dan jatuh, dia harus berhenti, mengevaluasi langkahnya, untuk kemudian menyusun lagi mobil-mobilannya hingga 4-5 tingkat.

Kenapa Bapaknya yang harus mengajarkan soal kegagalan? Dalam konteks saya, ya karena Mamanya sangat fasih dengan keberhasilan. Jadi, dalam usia hampir 2 tahun ini dia bisa mendapatkan contoh dan bisa meniru perilaku orangtuanya ketika menyikapi kesuksesan dan juga memaknai kegagalan.

Susah? Ya, susah. Tapi siapa suruh jadi orangtua?

Hasilnya sejauh ini cukup baik. Jika diajak berkompetisi, Isto menjadi anak yang selow dan nggak ngoyo, tapi tetap menuntaskan kompetisinya. Suatu kali dia ada lomba balapan merangkak dengan Alex, teman sepergaulannya di daycare. Dia berhasil melaju duluan mendekati garis finish. Eh, menjelang garis finish, dia malah lebih asyik mengamati garis finish-nya sehingga tersalip oleh Alex. Dia baik-baik saja ketika kalah balapan dan itu membuat saya sebagai orangtua merasa lebih baik.

Mendidik seseorang untuk menang itu akan lebih mudah jika sebelumnya dia sudah paham tentang menerima kekalahan.

Nah, dalam keadaan Bapak Millennial dan Mamanya harus kerja, maka ada alternatif untuk melaksanakan pendidikan anak usia dini tersebut sehingga tujuan untuk mengembangkan seluruh potensi dan kemampuan fisik, intelektual, moral, hingga agama secara optimal dapat diselenggarakan dalam lingkungan yang kondusif.

Salah satunya adalah di Apple Tree Pre-School BSD, yang menggunakan Adopted Singapore Curriculum dalam pembelajarannya.

pendidikan-anak-usia-dini-apple-tree-1

Sumber: Apple Tree BSD

Terutama bagi orangtua yang pakai ART di rumah, saya sangat menyarankan untuk tetap menggunakan jasa pre-school seperti ini. Bukan apa-apa, anak yang biasa diajari untuk berbagi mainan, biasa untuk bermain dengan rekan sebayanya, mengenali satu demi satu temannya, itu akan jauh lebih siap menghadapi masa depan, lho. Saya mendapati banyak contoh anak-anak yang ketika diterjunkan ke lokasi berisi banyak anak lainnya malah takut-takut atau malah jadi tampak egois dengan merebut semua mainan yang ada. Kan, nggak oke ya~

Sekarang, setiap hari saya bertanya pada anak saya tentang nama teman-temannya, dan dia bisa mengucapkan 11 nama dalam wujud suku kata terakhir dengan 4 nama tanpa perlu saya pancing suku kata pertamanya. Jadi saya hanya tinggal bilang, “Temen Isto namanya siapa?”, dan dia akan dengan lancar menyebut nama 4 temannya plus kemudian menyambung dengan tepat 11 nama lain yang saya sebutkan seperti “Khan…sa, Nada…ra, Ama….ra, dst”.

Sebagai seseroang dengan masa kecil sangat pemalu, saya merasakan itu sebagai sebuah kerugian dan sebagai Bapak saya mengharapkan hal yang sama tidak terjadi pada Isto. Dan, ah, sekarang lancar sekali. Apalagi kalau dia sudah ketemu yang namanya Ichsan. Bisa bubar itu daycare~

Jadi, peran Bapak itu nggak cuma cari duit lho ya. Masih banyak peran bapak yang bisa dilakukan sebagai sebaik-baiknya ikhtiar orangtua pada buah hatinya, terutama pada Pendidikan Anak Usia Dini.

pendidikan-anak-usia-dini-apple-tree-2

Sumber: Apple Tree BSD

#appletreebsd

8 Kiat Sukses Lolos Seleksi Substansi LGD LPDP

Rekor, Perpanjang SIM di Mal Pelayanan Publik Hanya 16 Menit Saja!

Sesudah lolos seleksi administrasi dan seleksi berbasis komputer maka hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah seleksi substansi. Dalam seleksi substansi itu sebenarnya ada 3 bagian besar. Akan tetapi, biar postingnya jadi banyak, ya saya pisahkan begini aja. Harap maklum, otak sudah susah dipakai mikir~

Tiga bagian besar yang saya maksud adalah verifikasi berkas, Leaderless Group Discussion (LGD), dan wawancara. Postingan ini khusus membahas LGD. Soalnya, bagian ini yang termasuk paling banyak dicari di Google. Entah kalau di Geevv.

1. Pahami LGD LPDP

Bagian pertama, kita kudu pahami teknis LGD LPDP ini. Dalam seleksi ini, kita akan ditempatkan sekitar 10 orang (plus minus) dalam 1 kelompok diskusi. Topik hanya diberikan sesaat sesudah masuk ruangan, dan boleh baca 5 menit.

Image result for 5 minutes gif

Oya, bonus kertas corat-coret juga, deh. Biasanya, pada soal, diberikan juga peran-peran yang dibutuhkan. Jadi, dalam LGD, kita akan berperan jadi seseorang/sesuatu, misal perwakilan pemerintah, perwakilan pelaku usaha, dll.

Nah, selanjutnya dalam 30 menit diskusi akan berjalan tanpa dibuka oleh 2 panitia merangkap penilai di dalam ruangan. Tinggal kreasi peserta dalam 30 menit yang menjadi koentji~

2. Pahami Konsep Dasar Tes LGD Yang Baik

Saya sudah menghitung bahwa dalam 30 menit itu, waktu ideal untuk ngomong adalah 1,5 menit (saja!). Dengan durasi ini, setiap orang bisa mengutarakan pendapatnya 2 kali dalam 1 sesi LGD. Kalau sudah melenceng, pastilah ada yang dirugikan. Itu pasti.

Kemudian, pastikan peran-peran yang ada di soal itu dibagi rata. Inilah seninya, gimana membagi rata peran itu dengan baik sedangkan kenalan saja belum. Heuheu~

Screenshot_1775

Kemudian, pastikan bahwa jawaban kita tidak menggantung tanpa kesimpulan karena itu akan mempersulit peran lain yang mau nyamber sesudah kita. Jangan juga bikin pendapat yang nyeleneh sehingga common sense orang lain terganggu. Ingat, disini kita bukan debat atas nama cebong kampret, kita hanya ingin lolos beasiswa. Continue reading

Bincang Nggak Santai Dengan Asus Zenfone Max M2, Smartphone Mevvah Yang Murah Meriah

bincang nggak santai dengan

“Woy, gimana sih ini ibu-ibu main dorong.”

Pintu KRL tujuan Rangkasbitung menutup. Jeder. Sementara kalimat barusan masih terus diulang-ulang oleh kumpulan pemuda tanpa harapan yang naik di Stasiun Palmerah ini.

Apakah benar ada ibu-ibu yang mendorong? Nope, itu mereka sendiri yang saling dorong dan kemudian bercanda sarkas nggak sopan macam begitu. Dan percayalah, pemandangan seperti itu hanya ada di KRL tujuan Rangkasbitung saja.

Sementara itu, di sudut lain gerbong, tampak seorang pria terpekur gundah oleh sebuah problematika krusial berupa ini:

screenshot_1744

Gawainya digoyang-goyangkan berlawanan arah dengan laju kereta. Sekilas berhenti, kemudian lanjut lagi. Itu hape apa nomor arisan, dikocok wae~

“Misi, Om.”

Sang pria celingak-celinguk dan mendapati sebuah gawai berbodi 158 mm x 76 mm x 7.7 mm kedip-kedip mau ngajak ngobrol. Sementara Santos dalam posisi one on one begitu nggak nendang-nendang juga. Lag kayaknya, bisa karena koneksi, bisa karena ponselnya memang hang.

“Kalah ya, Om?”
“Apaan? Ini ntar lagi gol, kalau nggak stop!”
“Lha kalau waktu habis ya nggak gol dong, Om.”

Tidak lama kemudian, game lanjut kembali dan status kemenangan sudah ada di tim lawan dengan status saya disconnected. Ealah, nge-game itu biar terhibur lha ini kok malah bikin pikiran selain cicilan.

Gambar terkait

“Ngapa lu?” tanya Sang Pria kemudian.

“Kalau mau ngegame mah nggak usah jauh-jauh, Om. Pakai saya aja. Cukup 80 juta.”
“Lu kata gaji PNS banyak? Itu 80 juta bisa buat gajian 2 tahun.”
“Nah ini contoh yang nggak pengen debat dan malah nyalahin orang. Dicoba dulu dong. Itu si 80 juta mah canda.”
“Memangnya ngana bisa apa?”

Dengan angkuh, si gawai berceloteh, “Om, saya itu HP pertama di Indonesia yang pakai Chipset Qualcomm Snapdragon 632.”

untitled design (19)

“Ha, njuk?”

“Aduh, Om-nya kebanyakan rapat tanpa hasil, nih, jadi nggak sempat baca. Chipset Snapdragon 632 itu sederhananya punya keunggulan sehingga meningkatkan kemampuan gaming, pengambilan video 4K, mendukung teknologi AI, hingga konektivitas LTE yang lebih maksimal.”

“Apa bedanya sama saya hapus-hapus memori mantan di HP?”

“Yaelah, Om. Perpaduan CPU dan GPU pada ASUS Zenfone Max M2 kek saya ini bisa meningkatkan kinerja sampai 40 persen. Kalau saya PNS, tunjangan saya sudah naik. Ha wong jelas berkinerja. Nggak kayak situ, makan konsumsi rapat wae.”

Hasil gambar untuk eat lot gif

“Mahal, dong? PNS mah nggak sanggup.”
“Lha ini~ Dari tadi sudah dibilang kalau terjangkau, kok. Nggak percayaan! Hih! Semua laki-laki sama saja!”
“Jadi, saya sama kayak Samuel Zylgwyn?”

“Nggak. Lebih mirip Jakub Błaszczykowski. Jadi, Om, chipset Snapdragon 632 itu hasil pengembangan dari Snapdragon 625 dan Snapdragon 626 yang terkenal punya performa tinggi, hemat daya, dan tidak panas. Ngana harusnya kenal kalau yang dua itu hemat daya. Jadi sama Qualcomm, saya dikembangkan lagi sampai semakin hemat daya.”

“Kamu nyindir saya biar hemat?”
“Asem ik, suudzon wae.”
“Hehe~”
“Jadi kalau mau main PUBG apa Free Fire udah bisa. Apalagi cuma Score Hero, kalahan pula. Duh.”
“Eh, eh. Maksudnya?”

Kereta berhenti sejenak, menghirup nafas di padatnya Kebayoran, stasiun angkuh di tengah-tengah pasar yang menua.

screenshot_1743

“Anak berapa, Om?”
“Satu. Kenapa?”
“Suka difoto nggak?”
“Yah, kek orangtua milenial pada umumnya aja.”

“Nah, saya sebagai ASUS Zenfone Max M2 punya kamera belakang lengkap dengan EIS untuk menjaga kestabilan hati, eh, video. Saya juga bisa lho merekam video hingga resolusi 4K.”

“Pakai apa?” tanya pria itu.
“Pakai seblak, Bambang!”
“Loh….”

“Ya pakai kamera lah. Kalangan ASUS Zenfone Max M2 kek saya juga bisa mengenali 13 scene yang berbeda, soalnya didukung oleh buzzer politik teknologi AI. Bahkan juga bisa menjaga kestabilan video kalau merekam pakai kamera depan.”

Gawai itu menyambung, “Jadi kalau Oom pengen jadi vlogger, lebih enak, soalnya kamera depannya lebih ciamik dengan kamera 8MP. Om, kan yang cita-citanya jadi vlogger tapi nggak kondang-kondang itu kan?”

“Asem.”

“Eh, ngana otak, eh, layar jernih nggak?”
“Sembarangan, Lu, Om. Saya ini punya Layar HD+, ukuran 6,26 inchi, rasio 19:9. Kurang lega apa? Mau ngegame juga hayuk! Nonton film, siap. Nonton video Om yang nggak laku itu juga lanjut aja.”

“Hmmmmm. Hmmmmm.”
“Apalagi, Om?”
“Kuat dan lahan lama nggak? Butuh sildenafil nggak?”
“Heh, asbak Rajaratnam! Dikata saya alat kelamin?”
“Baterai, coy. Baterai.”

“Wah, meragukan saya lagi si Om. Baterai saya 4000mAh. Kurang gede apa? Itu sudah bisa ngegame 8 jam nonstop. Apalagi cuma nonton sama scroll-scroll doang. Bisa 21-22 jam.”

Hasil gambar untuk super electric gif

“Kalau main Score?”

“Yaelah. Sampai habis paketnya situ di modem, baterai saya juga nggak habis. Sukanya ngeremehin, nih, Om. Jangan lupa, saya itu pakai pure Android Oreo 8.0, tanpa micin, tanpa perubahan sedikitpun. Tahu nggak?”

“Nggak.”
“Tahunya apa?”
“Fotokopi.”

“Geblek. Sederhanya, disebut Stock Android yang berarti ada jaminan update selama dua tahun. Jadi pasti bakal dapat jaminan update ke Android 9 Pie kelak plus lebih ringan bebas dari bloatware yang biasanya membebani kehidupan saya sebagai smartphone.”

“Wah, jeroannya situ mewah juga, yha?”

“Pokoknya,siapapun yang nyari HP terjangkau tapi kualitas dan kinerjanya baik buat komunikasi sehari-hari, plus juga buat gaming dan entertainment, saya sebagai ASUS Zenfone Max M2 adalah pilihan tepat. Spek mevvah, harga murah meriah. Jadi, coba saya, yha, Om?”

“Baiklah. Eh, lah, kebanyakan ngobrol sama ente, saya harusnya turun Jurangmangu.”
“Ini sudah Rangkasbitung, Om. Situ bablasnya kejauhan~”

“Duh!”

the distance between the sun and the

Tulisan ini diikutsertakan pada BOY-Zenfone Max M2 Writing Competition-nya, Oom Yahya. #ZenFoneMaxM2_ID #NextGenerationGaming

Rekor, Perpanjang SIM di Mal Pelayanan Publik Hanya 16 Menit Saja! Spiralkan!

Di usia yang sudah menua ini, pada akhirnya saya harus perpanjang masa berlaku Surat Izin Nyebar Hoax Mengemudi yang sudah akan lewat periode 5 tahun. Ini SIM yang lebih penting karena SIM C saya pakai betul sehari-hari. Lagipula, kalau bablas sehari, saya kudu mengurus semuanya di Daan Mogot. Yha, satu Polda Metro ke Daan Mogot, kapan kelarnya? Maka, mengenali periode berakhirnya SIM itu memang penting. Lupa, panjang urusannya.

Image result for far gif

Tadinya, saya ingin memperpanjang masa berlaku SIM itu di Gandaria City, sebagaimana SIM A yang juga sudah pernah saya tuliskan panjang lebar di blog ini. Akan tetapi, makin minimnya konten di blog ini membuat saya berpikir porno keras. Saya kemudian cari-cari opsi gerai SIM di tempat-tempat lainnya. Sempat ingin mengurusnya di Mall @ Alam Sutera yang kayaknya sepi, tapi kejauhan.

Ada juga ide mengurus di gerai yang ada di Blok M atau di Artha Gading, namun kok saya pikir bakal sama saja dengan di Gandaria City. Hmmm. Hmmm. Hmmm.

Image result for nissa sabyan gif

Entah kenapa, saya kemudian nyasar ke list gerai pembuatan dan perpanjangan SIM yang ada di Polda Metro Jaya dan menemukan fakta bahwa layanan ini juga ada di Mal Pelayanan Publik!

Aha!

Image result for aha gif

Seperti kita ketahui bahwa pada pertengahan 2017, Djarot Saiful Hidayat dalam kapasitas sebagai Gubernur DKI Jakarta meresmikan adanya Mal Pelayanan Publik (MPP) DKI Jakarta. Lokasinya sangat strategis, di Kuningan. Lebih detail lagi, MPP ini ada di belakang hotel JS Luwansa, yang berarti juga tidak jauh dari Hotel Westin yang tingginya setengah modar itu.

Dari kantor, saya minta izin setengah hari, dengan gambaran bahwa bakal selama waktu mengurus di Gancit. Saya kemudian tiba di MPP menggunakan ojek online sekitar pukul 08.35.

Di pintu masuk, sudah ada satpam yang tidak cuek layaknya di pelayanan publik lainnya. Saya langsung ditanyai kebutuhan datang ke MPP dan kemudian diarahkan ke komputer untuk mengambil nomor antrean. Untuk perpanjangan SIM ada di komputer 1, sisi paling kiri. Saya kemudian mendapat urutan 009.

Lumayan, nggak lama~

Saya kemudian menuju ke lantai 3, lokasinya pelayanan dari Kementerian/Lembaga. Selain SIM, di lantai ini juga ada imigrasi, ada pula Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Ada yang lain juga, sih, tapi saya tidak terlalu peduli. Heuheu~

Image result for don't care gif

Di lantai 3, saya disambut oleh 2 mbak resepsionis yang cantik jelita dan gawainya iBas iPhone. Lokasi Gerai SIM Mal Pelayanan Publik ini ada di sebelah kiri dari arah pintu masuk, bablas ke ujung. Pas mentok, pokoknya.

Saya tiba di depan loket pada pukul 08.41 dan masih ada 1 orang yang sedang mengisi formulir, serta 2 orang sedang berproses di tempat foto. Suasana cukup sepi kalau dibandingkan di Gancit yang loketnya belum buka saja sudah antre maksimal. Apalagi kalau dibandingkan dengan di Samsat. Jauh. Jauuuhhh~

Oya, ada fasilitas yang sangat menarik di MPP ini. Fasilitas sederhana sekali, tapi biasanya jadi sumber pungli di tempat lain. Yha, mesin fotokopi! Di tempat lain, fotokopi sebiji bisa diharga 2000 rupiah dan pasti dibayar karena butuh. Saya sendiri sebelum berangkat sudah fotokopi duluan SIM dan KTP semata-mata biar nggak bayar 2000 itu tadi.

Sejurus kemudian saya dipanggil untuk pengecekan identitas, tes kesehatan (buta warna), mengisi formulir, sekaligus berfoto. Kalau di Gancit saya masih bisa keliling foto-foto, di MPP nggak sempat. Semuanya set-set-set-set hingga kemudian pukul 08.57 saya sudah pegang SIM baru dengan muka yang mengerikan. Yha, nggak apa-apa, saya juga nggak peduli soal muka itu.

Hasil gambar untuk i dont care gif

Saya sejujurnya takjub dengan pelayanan SIM yang secepat itu. Tidak pernah terjadi dalam 2 periode SIM saya, bahkan ketika itu di Bukittinggi sekalipun yang notabene para polisinya kenal dengan orangtua saya. Lha ini kenal juga nggak–cuma Pak Polisinya ternyata tetangga mertua di Bandung Barat–tapi SIM diperoleh dengan cepat.

MPP ini mengintegrasikan lebih dari 300 layanan dalam 1 gedung, baik itu layanan Pemerintah Provinsi maupun 30 lebih layanan pemerintah pusat. Di tempat ini berbagai izin dan dokumentasi bisa diperoleh. Jadi, nggak ada itu suruh ngurus dulu ke dinas anu di jalan sana, lalu ke dinas anu lagi di jalan situ. Semuanya terintegrasi di 1 gedung yang menurut saya sangat nyaman. Mal Pelayanan Publik ini adalah proyek percontohan nasional dan buka pada hari kerja (Senin-Jumat) pukul 07.30 hingga 16.00.

Saya bahkan tidak sempat foto-foto terlalu banyak karena menunggunya memang tidak terlalu lama. Ini adalah contoh inovasi pelayanan publik yang wajib ditiru untuk diterapkan di manapun. Apalagi segala syarat Pelayanan Publik sesuai Permenpan 17 Tahun 2017 juga sudah pasti ada di MPP ini.

Saran saya, sih.kalau mau perpanjangan SIM mending di MPP saja. Jauh lebih ciamik dibandingkan pelayanan di mal yang pada dasarnya juga sudah ciamik~

 

Liburan Asik Dengan Laptop ASUS

liburan asik dengan laptop asus

Bagi blogger KW dan esais tempo-tempo seperti saya, liburan merupakan sesuatu yang berharga. Pertama, karena saya bisa menghilangkan bosan-aku-oleh-penat yang kalau dibiarkan bisa menciptakan pecahkan-saja-gelasnya-biar-ramai-biar-mengaduh-sampai-gaduh. Kedua, pada saat perjalanan liburan, saya sangat menikmati untuk menjadi pengamat yang rajin. Tidak jarang, tulisan-tulisan hasil melamun selama perjalanan itu malah yang masuk dan dimuat di media-media seperti Mojok, Voxpop, hingga Detik.

Intinya, sih, dengan liburan, biaya liburan saya ada balik modalnya juga, walau sedikit~

Nah, persoalannya sekarang adalah saya bukan lagi lajang membusuk belaka seperti sekian tahun lalu hingga begitu rajin menelurkan cerpen disini, saking nggak ada yang di-PDKT. Saya sekarang merangkap juga sebagai Bapak Millennial alias kaum milenial yang jadi bapak-bapak. Apalagi, anak saya yang (masih) satu itu lagi lucu-lucunya.

Alias, lagi butuh-butuhnya diawasi. Soalnya, kalau tidak diawasi bisa jadi begini:

Untitled design (6).png

Sekarang, intensitas saya untuk menulis sembari liburan jadi agak berkurang salah satunya ya karena uang berliburnya yang juga kurang. Selain faktor waktu karena harus mengawal pergerakan si bayi yang semakin gesit, faktor lainnya adalah barang bawaan yang bertambah banyak. Bapak-bapak dan emak-emak sekalian pasti paham bahwa kalau berpergian jauh dengan bayi, okupansi koper paling banyak ya buat bayinya. Bapaknya mah apalah~

Satu lagi, kalau saya paksakan bawa laptop, seringkali malah menjadi risiko tersendiri mengingat kawalan pada barang bawaan tidak seketat pas lajang merana yang betul-betul hanya ransel sebiji. Bisa jadi hilang dari pandangan, bisa jadi ketlingsut, bisa jadi juga remuk ketindih aneka rupa barang lain karena lupa dipisahkan bahwa di tas itu ada laptop.

Jadilah, liburan saya yang biasanya langsung menjelma jadi blogpost seperti cerita Loser Trip atau Cisantana, sekarang jadinya latepost bahkan late-nya bisa setahun seperti serial Lost in Bangka.

Hasil gambar untuk ckckck gif

Soal itu sih masih bisa disiasati dengan ponsel yang makin lama makin canggih. Kadangkala, hidup manusia bisa mendadak rumit dan butuh laptop alih-alih ponsel belaka. Seperti yang saya alami ketika lagi liburan di rumah orangtua nun jauh di Bukittinggi sana.

Syahdan, pada sore hari cuti nan syahdu sembari menggendong anak lanang, telepon genggam saya berbunyi. Nomor yang tidak disimpan, tapi tidak asing. Karena berasa tidak asing, sayapun mengangkatnya.

“Halo, Arie.”

Suara di kejauhan itu betul-betul tidak asing. Yha, Ini yang lagi menelepon adalah salah satu Pejabat Eselon I di kantor tempat saya bekerja. Sebagai staf level pupuk bawang, telepon langsung dari Eselon I itu sungguh-sungguh perintah yang melewati jenjang yang sangat jauh.

Hasil gambar untuk wow gif

Memang, sejak tulisan saya tentang sebuah obat sariawan cukup viral, terakhir eks editornya bilang view-nya sudah tembus 100 ribu, nama saya agak diingat di kantor. Walhasil, ketika kemudian sedang ada isu-isu yang digoreng sedemikan rupa oleh orang yang hobi gelut, saya suka sedikit-sedikit ikut bikin rame dengan esai saya. Kadang jadi rame, kadang nggak. Namanya juga media sosial. Suka-suka netizen, toh?

Namanya menulis esai yang kandungannya berat, tapi harus agak lucu dan ‘milenial’ bagi saya masih agak sulit kalau tidak pakai laptop. Wong, pakai laptop saja tetap sulit. Untungnya itu di rumah, jadi saya bisa pinjam laptop Mbahnya anak lanang.

Bagaimana kalau saya lagi di Pulau Kei, misalnya? Mau pinjam laptopnya ubur-ubur?

Gambar terkait

Untuk itulah, sesungguhnya saya butuh solusi. Setidaknya, saya perlu laptop yang compact, enteng tapi kuat, plus juga tahan banting minimal dari senggolan ringan anak lanang. Termasuk juga punya baterai yang kuat dan tahan lama, jaga-jaga mikir tulisannya lama, seperti kisah esai saya di atas yang kemudian selesai dalam waktu…

…5 jam. Heu.

Untunglah kini ada kekuatan paling mutakhir berupa laptop ASUS Zenbook UX391UA. Menilik spesifikasinya, sungguh sangat cocok dengan Bapak Millennial seperti saya. Tsah.

Sesuai namanya yang ZenBook S, laptop ini betul-betul S alias Slim. Beratnya hanya 1 kilogram. Tebalnya? Tidak sampai 1,3 cm. Benar-benar bisa nyelip diantara diapers anak lanang, kan? Toh, 1 kilogram dalam bawaan Bapak Millennial boleh dibilang nggak ada apa-apanya. Continue reading

7 Cara Mengatasi Anak Susah Makan Versi Bapak Millennial, Nomor 5 Bikin Wisuda!

Waktu remaja, masalah terbesar hidup adalah SMS tidak dibalas. Begitu menua dan punya anak, masalah baru muncul. Yha, sepele tapi krusial: anak nggak mau makan. Atau versi moderatnya, mau tapi susah untuk makan. Atau versi halusnya lagi, mau tapi sedikit.

Perkara begini, biasanya mamak-mamak yang baperan. Ya iyalah, bangun sudah pagi, makan sudah buka-buka Instagram, anaknya tutup mulut. Bapaknya? Kalau lagi sial, bisa kena amarah juga. Amarah istrinya Frans Lingua.

Screenshot_1649

Menghadapi anak yang ogah makan memang susah-susah tampan, eh, gampang. Susahnya dua kali. Gampangnya sekali. Dan anak susah makan juga kayak mantan yang adalah tetangga nikah duluan. Bikin emosi.

Mamaknya emosi itu wajar, karena gizi anak adalah yang utama. Cuma, emosi terus anaknya dimarahi, nah itu jadi perkara. Kalau sudah begitu, salah-salah anak merasa bahwa momen makan itu adalah momen mengerikan, bukan mengenyangkan. Lebih berabe lagi.

Nah, sependek pengalaman saya sebagai bapak 1 anak, sebenarnya ada beberapa metode untuk mengatasi anak susah makan. Nggak selalu berhasil, tapi lumayan untuk alternatif jika anak sulit makan. Karena bagaimanapun, kan memberi makan anak itu kewajiban orangtua.

Screenshot_1650

Nyoh!

1. Waktu Makan Bukan Waktu Berantem

Karena sudah dimasakin susah-susah dan anak nggak mau, waktu makan jadi horor. Mamak yang lelah jadi marah, dan, yha, anak jadi tambah ogah makan. Bahkan malah jadi takut makan di kemudian hari.

Tentunya jadi sabar itu tidak mudah. Padahal Jokowi saja bilang:

Image result for mbok sabar

Sumber: yogyadise.com

Jadi ya lakukan pelan-pelan. Memang makan banyak waktu, tapi ya harus demikian. Saya pernah harus menggotong bayi saya yang sudah 8 kilogram menuju tempat soang tetangga, karena dia di rumah ogah makan tapi makan dekat soang mau. Jadi, pertama-tama ya turuti dulu kalau sederhana. Kalau anak mintanya makan sama Jokowi ya susah, kalau sudah yang begini ini barulah kita bisa pakai teknik kedua. Continue reading

How To Work At Factory?

HOW TO WORK AT FACTORY_

The sad news about the death of the founder of my first office was the subject of this paper. Really, I feel condolences and salute to the father for being firmly and smoothly leaving a company to the second generation. And actually the third generation was almost ready, just returned from London. Even though I was not in the company and preferred to carry out gallon lifting activities, actually I was still following their development. After all, according to the OOM ALFA book, the pharmaceutical industry environment is very narrow.

The second thing that made me a little itchy lately, besides being rarely bathed, is the comments that go into my writing about PPIC. There are those who agree, there are those who share, some actually feel down. If just read this blog, your already feel scared, what if you are chasing by Mr. Eko because there is Cefadroxil coming in as much as 600 kilograms? From the post, plus the search engine terms that underlie people straying there, I tried to find out that there were still many would people who did not understand about the structure in the factory, how their behavior was, what positions were in the factory, and so on.

Image result for working factory gif

I was a little confused when I made the title of this post because it was as if it would refer to a pan factory. Even though I means factory in the manufacturing process, but this diction is too magical to use. If you want to use the word ‘industry’, it also feels less interesting. So, yes, because actually what I wanted to explain is also relevant to pan factories, cement factories, but not children’s factories. In essence, the factory here is a place that is used to process raw materials into products. Continue reading