[Interv123] Blessed Survivor

Interv123 baru nongol bersama Bu Bidan, tanggal 20 kemaren. Seharusnya akan nongol lagi tanggal 10. Tapi hari ini saya terpaksa melanggar ketentuan saya sendiri karena tamu Interv123 hari ini buat saya sungguh luar biasa. Dan adalah kerugian besar bagi saya kalau harus egois menahan isi wawancara ini sampai tanggal 10. Lagipula, wawancara dilakukan tanggal 1. Mengetiknya antara tanggal 1 sampai tanggal 2, bulan 12, di tahun 2013. Baca lagi, 1-12-13 ke 2-12-13. Semuanya masih beraroma 123. Jadi pelanggaran masih diperkenankan. Seperti yang saya tulis di salah satu halaman skripsi: setiap hal ada pengecualiannya.

Semuanya bermula dari sesorean tadi–sepulang jadi apoteker beneran, sekali dalam sebulan–saya iseng mengecek TL Twitter. Sebagai penulis yang followernya nambah 3 tapi kurang 5, saya harus eksis bercicitcuit. Saya lalu mendarat di posting Derita Mahasiswa berjudul Tuhan Punya Rencana Lain. Awalnya sih biasa saja, sampai kemudian saya membaca hingga akhir posting itu. Begitu selesai? Saya terhenyak, karena ternyata saya pernah membaca nama di dalam posting itu sebelumnya.

Penulis favorit saya, beberapa bulan yang lalu menulis cerpen berjudul Anak Lelaki di Samping Jendela. Di akhir cerita, ada tulisan begini:

Caramel Macchiato

Ya, tokoh di dalam posting Derma dan tokoh di dalam salah satu cerpen dari penulis favorit saya itu merujuk pada 1 orang yang sama: @shiromdhona.

:)

🙂

Mbohae!

Advertisements

Kopi ASEAN 2015?

Saya lagi merebahkan diri setelah semalaman nggak bisa tidur di atas Kereta Api Senja Utama Solo. Lagi tidur-tiduran gini mata saya liar mencari jodoh…

…eh, bukan. Mata saya liar ke segala sisi yang ada di kamar adek saya. Dan saya ketemu kopi. Kebetulan menjadi indah ketika kemudian saya buka aseanblogger.com dan melihat bahwa topik #10daysforASEAN hari ini adalah kopi.

Sruput lanjutannya

Sesudah Hujan

Dua orang sedang berantem di atas kereta api yang sedang melaju kencang. Di kejauhan seorang wanita tampak membidikkan senapan sambil berbincang dengan seseorang yang lain via headset. Wanita itu tampak ragu, tapi seseorang di tempat lain dengan tegas berkata, “shoot!”.

Wanita itupun menembak dan satu dari dua orang yang ada di atas kereta api itu terjatuh, jauh ke bawah. Terhanyut di sebuah air terjun.

Oke, FINE! Aku kurang paham maksud hati kru bis Pantura ini untuk memutar Skyfall persis jam 12 malam. Ya secara biologis jam segitu adalah waktu tidur, dan bayangkan saja di tengah tidur-tidur ayam–namanya juga tidur di bis–aku masih harus mendengar jedar jedor suara tembak-tembakan James Bond dengan musuhnya.

Mungin dia baru beli bajakannya.

Dan entah berhubungan atau tidak, perlahan kaca tebal di sebelah kiriku mendadak basah. Kulihat lebih dekat dan teliti, ya memang semakin basah. Maka sejurus kemudian aku paham bahwa ini adalah hujan. Ehm, hujan di perjalanan Indramayu ke Alas Roban ini tampaknya menjadi lebih menarik daripada Skyfall. Hujan yang dilihat dari sebuah perspektif yang berjalan, sekaligus hujan yang tidak bisa dirasakan. Inilah sebenar-benarnya melihat hujan. Dan bagiku, melihat hujan akan secara otomatis membangkitkan memori tentang dia.

Dia yang seharusnya sudah aku lupakan.

Glodakkk…

Kepalaku sedikit terantuk ke kursi empuk di depanku. Mataku bangkit dari terpejam. Ah, aku terbangun rupanya, mungkin ada lubang di jalan. Lagipula, persis di bawahku adalah roda kanan belakang bis ini, jadi sangat wajar kalau aku bangun duluan kalau roda itu masuk ke dalam lubang.

Bis gelap, layar yang tadi memutar Skyfall sudah tidak lagi menyala. Kutarik handphone yang sedang di-charge dengan powerbank di dalam tasku, jam 04.01.

Hujan berhasil mengantarkanku pada sebuah suasana tidur yang lumayan nyenyak–untuk konteks sebuah perjalanan darat.

Kulepas handphone hitam itu dari powerbank. Kadang aku berpikir, sebegitu tergantungnya aku dengan benda-benda ini. Aku sendiri tidak pernah bisa lagi membayangkan ketika ayahku, puluhan tahun silam menempuh perjalanan darat selama seminggu penuh dari Sumatera ke Jawa. Dan aku tahu benar, dia tidak membawa powerbank, tapi dia bisa sampai dengan selamat dan–ya–tetap bisa hidup. Aku? Tanpa handphone dan powerbank ini, hidupku mendadak gundah. Sebuah ketergantungan yang buruk pada ciptaan sesama manusia.

Selesai rangkaian powerbank itu masuk rapi ke sarangnya, kepalaku kembali mencoba menikmati perjalanan dan pemandangan yang ada di sekitarku. Suasana pagi buta, bagiku adalah sebuah suasana yang khas. Dulu, ketika isu keamanan belum mengemuka, aku sering keluar dari kos pada pagi-pagi buta, sekadar berkeliling kota. Melihat tukang becak tidur di emperan Jalan Mangkubumi, melihat sepeda-sepeda onthel yang dikayuh manusia paruh baya di Ring Road Utara, hingga mengamati orang seusia nenekku masih dengan setia menggendong keranjang rotan ke pasar.

Suasana pagi buta ini pula yang mengingatkanku pada suatu hari, ketika aku terjaga, bergerak, dan mendapati kenyataan bahwa aku sudah seharusnya melupakan dia.

Lagi-lagi dia.

Kaca di sebelah kiriku secara perlahan memberikan terang. Yah, matahari telah terbit, dan pada saat yang sama hujan masih saja turun dengan perlahan. Aku terpekur melihat warna hijau di sisi kiri jalan ini. Inilah jalur yang seringkali kudengar ketika menonton berita arus mudik. Alas Roban.

“Istirahat! Makan!”

Kondektur meneriakkan kedua kata tersebut begitu bis parkir di depan sebuah restoran. Matahari sudah bersinar terang dan bis ini baru keluar dari Alas Roban? Mau sampai Jogja jam berapa ini? Aku mulai merasa pasrah, karena sejatinya aku ada janji jam 12 siang nanti. Semoga masih terkejar.

Bresssss….

Persis ketika aku menginjakkan kaki di teras restoran, sejumlah besar volume air tumpah dari langit. Hujan. Ini hujan yang sama dengan yang aku lihat tadi, tapi ini adalah hujan dengan perspektif yang berbeda. Ini adalah hujan yang kurasakan.

Maka hawa dingin melingkupi restoran ini seketika. Akupun bergegas merogoh saku dan menghitung helai-helai kecil isi kantong untuk kemudian membeli popmie. Sedikit mengelus dada ketika tahu harganya dua kali lipat harga Jakarta. Mungkin memang harga air panas di dekat Alas Roban ini adalah Rp. 4000.

Inilah pemandangan paling sentimentil. Berdiri menghadap parkiran bis yang luas–tapi kosong, sambil menyeruput kuah dengan rasa yang khas, plus memandangi hujan, serta mengingat dia.

Sekelebat dan semakin jelas, dia muncul kembali.

Kutepiskan kehadiran itu, karena aku sendiri yang memutuskan untuk melupakan dia. Untunglah kru bis segera bersiap dan perjalanan dilanjutkan kembali. Aku cukup lelah karena mengamati pagi buta, dan kini saatnya aku meringkuk manja dalam balutan selimut hijau bis Pantura ini.

Tulang belakangku mulai lelah. Sudah 12 jam aku berada dalam posisi yang sama. Dia berontak dan menyebabkanku terbangun. Dan ini masih di satu kota sebelum Jogja.

Lama banget sih!

Kesadaranku perlahan pulih sampai kemudian aku tersadar kalau bis ini sedang berhenti dan supir bis baru saja berlalu di sebelah kananku. Supir juga manusia, dia pasti kebelet pipis. Kepalaku kembali ke sisi kiri dan mendadak sadar kalau bis ini berhenti di sebuah tempat, yang sangat dekat dengan–lagi-lagi–dia.

Kini aku tidak bisa berkelit karena aku tahu benar tempat ini. Tempat dimana aku sempat berharap, untuk kemudian harapan itu padam seketika semata-mata karena harapku terlalu tinggi. Dalam hal cinta, kita boleh bermimpi tinggi tapi tidak boleh berharap terlalu tinggi. Sebuah pelajaran penting yang aku pahami sesudah kejadian suatu sore di tempat yang tidak jauh dari bis ini berhenti, bertahun-tahun silam.

Kenapa mendadak perjalanan ini menjadi tentang dia? Padahal sepanjang jalan ini aku juga asyik bertukar pesan BBM dengan seorang gadis manis yang selama beberapa bulan ini akrab denganku. Seorang gadis yang kukenal tidak lama sesudah aku memutuskan untuk melupakan dia.

Ya, dia. Dia yang mendadak muncul kembali dalam setiap penglihatanku.

Dan aku mendadak perlu kaca ketika aku mengutuk kemacetan di jalan masuk Jogja ini. Kenapa perlu kaca? Karena aku mengutuk plat-plat asing non AB yang mendadak memenuhi jalanan Jogja. Mereka ini menuh-menuhin jalan! Dan kaca itu kuperlukan karena aku sendiri juga adalah pendatang yang dalam waktu singkat akan membuat Jogja semakin penuh.

Kalaulah aku tidak hendak melihat saat bahagia temanku, maka perjalanan ke Jogja pada saat liburan akhir tahun adalah opsi terakhir untuk dipilih. Bahkan dulu waktu aku masih tinggal di kota penuh kenangan inipun, aku–si makhluk sunyi–lebih memilih berdiam di kota mati di sekitarku daripada terjebak macet oleh plat luar kota di jalanan. Sigh!

Jalanan merayap ini akhirnya berakhir juga. Waktu kian mendesak sehingga aku juga bergegas meninggalkan terminal Jombor menuju resepsi pernikahan temanku di sudut lain kota ini. Benar-benar sudut lain, melintang utara selatan. Di perjalanan, aku samar-samar mengingat dia yang sama–yang dari semalam meraja di otakku (lagi). Untungnya aku masih dapat mengendalikan laju sepeda motor sewaan ini. Haha, anggap saja bagian terakhir ini berlebihan.

Resepsi pernikahan teman ini sudah mendekati sepi ketika aku tiba. Masih syukur kalau aku masih bisa melihat segelintir teman yang datang dan kemudian berfoto bersama. Suatu ritus sepele yang sekarang sebenarnya bisa digantikan oleh kreativitas Photoshop. Tapi maknanya itu yang berbeda. Berbeda sekali.

Pernikahan ini milik temanku yang sudah berpacaran enam tahun lamanya. Ehm, sebuah angka yang sama dengan rentang masa aku mengenal dan jatuh cinta pada dia. Ah, suatu kebetulan saja. Momen yang sama menghasilkan dua makna pada dua makhluk yang berbeda. Toh dalam satu momen besar, terjadi momen-momen kecil yang memiliki makna berbeda bagi setiap persona yang mengalaminya.

Makna berbeda, pun dengan nasib. Kalau dia bisa menuntaskan perjalanannya hingga ke pelaminan–dan siap memulai perjalanan baru, maka aku ya semacam ini. Gundah gulana antara (sempat) berhasil melupakan dan kemudian kembali mengingat dia.

Masih saja soal dia yang tidak bisa lenyap dari hati ini.

Mendung menggantung dan aku pamit pulang, ke sebuah tempat penginapan. Tempat biasa tapi sedikit bermakna lebih dalam. Tempat yang ada di sudut lain kota ini.

Ketika aku mengayun tangan di pedal gas, di tanjakan Janti, mendung menggantung itu akhirnya pecah jadi berkeping-keping. Melontarkan volume air yang kusebut hujan. Masalahnya, ini bukan hujan biasa. Ini hujan deras.

Deras sekali.

Bagiku–sejak dulu dan masih kupercaya hingga kini–hujan bukanlah halangan. Petani di masa silam punya rituan khusus memanggil hujan. Kalaulah hujan menghanyutkan (rencana) panen mereka, bukan hujan yang salah, tapi waktu mereka yang tidak tepat. Bahwasanya hujan menjadi sesuatu yang dikutuk oleh orang kebanyakan, mungkin baru terjadi ketika semua lapisan tanah dilarang meresapkan air dan air itu lantas tergenang. Genangan yang kemudian membawa konsekuensinya.

Apakah hujan salah kalau begini? Tidak! Tidak sama sekali.

Maka aku melajukan sepeda motor dengan teknik tertentu. Melibas genangan tidaklah semudah melibas jalanan biasa. Gas besar pada posisi gigi 1 atau 2. Motor menjadi lambat, konsumsi bensin boros, mesin meraung begitu kencang dan lebih panas. Semua dilakukan agar kendaraan roda dua ini masih sanggup berjalan.

Sementara dari atas, tetesan air menyerupai tusukan jarum terus menghujam lenganku. Satu-satunya bagian yang masih terpapar oleh air langit ini.

Aku terus berjalan. Hidup ini soal menuju ke tujuan. Siapa yang tahu sesuatu yang mungkin aku lewatkan jika aku memilih untuk berteduh? Tapi siapa pula yang tahu akibat jika aku terus berjalan? Tidak ada. Ini adalah sebuah pola hidup yang kunamakan misteri.

Makanya, kadang untuk sebuah hadangan semacam genangan, kita perlu bekerja perlahan tapi lebih keras. Perspektif menyikapi hujan yang bagiku sejalan untuk hidup.

Perkaranya, aku tidak bisa memakai perspektif itu ketika suatu hal sudah menyangkut dia.

Dia lagi, dia lagi. Dan akan selalu dia.

Aku akhirnya sampai di tempat penginapan sederhanaku, di sudut utara kota Jogja. Sebuah penginapan penuh makna karena persis di hadapannya adalah sebuah tempat monumental.

Monumen tidak nyata yang terbangun abadi dalam kenangan. Ketika aku berdiri di sebuah tempat dan berbincang dengannya sambil mendongak. Ketika aku mengetahui dia ada dari jendelanya yang terbuka. Ketika aku memanggilnya karena sekadar hendak menyapa.

Maka ketika sepeda motor kuparkir di tempat yang ada di penginapan, aku tidak lantas masuk ke kamar. Aku berdiri seolah menatap hujan yang perlahan mereda. Aslinya, pandanganku menembus jauh ke seberang jalan, ke sebuah jendela, sebuah pagar, dan sebuah tempat percakapan. Dan sekelebat lagi kulihat dia disana.

Mataku terpejam meski basah. Tidak, aku tidak menangis. Ini asli basah oleh hujan yang perlahan mereda. Aku terbayang saat-saat indah itu, ketika aku dan dia menjadi dekat–sebagai teman bercakap-cakap soal hati. Dan tidak pernah lebih dari itu. Bahkan kini berkurang, jauh berkurang menjadi dingin sama sekali.

Indah yang terjadi sesudah hujan, dingin yang terjadi juga sesudah hujan.

* * *

“Kak, boleh curhat?”

Dia mendatangiku dan lantas duduk di atas batu, persis di sebelahku.

Lha, ya silahkan.”

Maka dari bibir manisnya meluncur berbagai perkataan tentang kisah, tentang cinta, tentang pedih. Sebuah rangkaian yang menyebabkan luka di hatiku. Kenapa?

Karena akhirnya aku tahu, bahwa yang ada di hatinya bukanlah aku.

Tapi, seluka-lukanya aku, berduaan dengannya–dengan kaki telanjang menapak di rumput yang basah sesudah hujan–adalah sebuah kejadian tidak ternilai. Maka aku memilih menikmati kebersamaan ini dan menyimpan luka itu rapat-rapat, jauh di tempat yang hanya bisa kujangkau sendiri.

“Ya, kalau memang hatimu memilih dia. Perjuangkan!”

Itu kalimat terakhirku, penuh dengan makna munafik. Sangat munafik karena kemudian aku tidak pernah memperjuangkan pilihan hatiku padanya. Aku tidak sayang pada hatiku, tapi aku lebih sayang pada kedekatan yang mungkin sirna jika memilih untuk mengkonversi perasaan ini menjadi cinta.

Fiuhhh..

* * *

Hujan teramat deras ketika aku sampai di hotel tempatku akan menginap. Aku bahkan tidak tahu ojek ini membawaku ke tempat yang benar atau tidak karena aku berada di bawah kibaran ponco. Pada akhirnya ojek berhenti dan sepertinya aku berada di tempat yang benar.

Kulemparkan tasku ke ranjang begitu memasuki kamar hotel dan segera menyambar handphone yang ada di saku.

‘Aku lagi di Setiabudi. Bisa ketemu?’

Sebuah pesan singkat itu kukirimkan padanya. Berharap sebuah balasan menyetujui untuk bertemu.

Sebuah pesan singkat yang sepanjang malam sampai pagi belum berbalas. Dan pada akhirnya tidak berbalas.

Hujan sepanjang malam menemani penantianku atas pesan singkat yang tidak berbalas itu. Dan persis pagi hari, pagi buta, aku berjalan ke sebuah tempat yang aku tahu adalah kediamannya kini. Sebuah perjalanan melewati jalanan yang sejuk. Bahkan aku melihat sebuah pohon tinggi dengan burung sejenis angka terbang berputar di atasnya. Indah. Meski tidak ada yang lebih indah daripada dia.

Aku akhirnya berhenti di sebuah rumah dengan pagar hitam, persis di sebelah jalan tol. Aku hanya berhenti, berdiam, mematung lima menit, dan mengurungkan niatku memencet bel.

Aku lantas berbalik, berjalan cepat menuju sebuah warung makan kecil, tidak jauh dari situ dan duduk disana. Tidak lama, dia keluar dari rumah pagar hitam itu dan berjalan kaki menuju kantornya yang cukup dekat.

Dari balik warung makan kecil, aku mengamatinya. Dan atas nama langkahnya yang semakin menjauh itu, akupun sadar bahwa dia memang seharusnya aku lupakan.

* * *

‘Udah sampai Jogja?’

BBM masuk, dari gadis cantik yang kuceritakan sebelumnya.

‘Udah dong. Udah kehujanan juga.’

‘Ish, sakit lho ntar.’

‘Gpp kok. Gpp.’

‘Oke d :D’

Sungguhpun aku berterima kasih pada gadis cantik ini yang mampu mengalihkan duniaku dari seorang dia. Meski tidak sepenuhnya. Fakta bahwa aku tidak bisa mengalihkan cintaku ke gadis cantik itu membuatku memang tidak bisa lari dari dia, dia yang punya tempat rapi di hati ini.

Dengan segala isi pemikiran itu, kuletakkan benda hitam kecil itu dan menatap jauh ke luar jendela. Dan tebak, apa yang terjadi? Ya, hujan.

Hujan yang sama, yang mengingatkanku pada rumput hijau yang kupijak dan batu basah yang kududuki saat berbincang dengan dia.

Hujan yang sama, yang membuat tanah basah ketika aku memutuskan untuk melupakan dia, persis di depan rumah berpagar hitam.

Hujan yang sama, yang sedari semalam membangkitkan segala kenangan dan hasratku tentang dia.

Hujan yang lantas menjadi tambah lebat. Derunya–entah bagaimana–membuatku melaju mengeluarkan kepalaku dari jendela dan menikmati deras serta basahnya anugerah langit itu.

Dan–entah darimana pula–aku semacam mendapat keberanian lagi untuk bertemu dia. Aku sadar, ketika aku memilih untuk meninggalkan rumah pagar hitam itu, aku memilih menyimpan sebuah unfinished business yang nyatanya laten.

Bukankah lebih baik aku menyelesaikannya, dan membiarkan dia memberikan kesimpulan alih-alih aku menyimpulkannya sendiri, seperti saat ini? Bukankah lebih baik ditolak daripada menganggap diri ini ditolak?

Tiba-tiba sebuah energi masuk ke langkah kakiku.

* * *

Kini, sepeda motor sewaanku sampai di depan sebuah bangunan berlantai 2. Tidak jauh dari tempat bisku berhenti kemarin. Sebuah perjalanan nekat–dan kembali–menembus hujan.

Dan ketika sesudah hujan, aku sampai di tempat ini, aku merasakan sebuah momen yang sama. Sebuah pengantar untuk sebuah penyelesaian. Sebuah prolog untuk sebuah happy ending. Setidaknya itu yang ada di pikiranku.

“Eh, Mas Leo, lama nggak mampir,” ujar Tante Eliz, seorang baik yang kuketahui sudah melahirkan dia ke dunia fana ini sebagai sebuah pesona tiada akhir.

“Iya, Tante. Mumpung liburan.”

“Ayo, masuk.”

“Makasih, Tante.”

Tempat ini tidak asing, karena aku pertama kali merasakan dinginnya dia padaku, ya di tempat ini. Hanya sebulan sebelum aku memutuskan pergi ke tempatnya tinggal sekarang, di sebuah rumah berpagar hitam.

“Key ada?”

Oke, percayalah aku nekat! Aku datang ke tempat ini untuk bertemu dengan dia, tanpa tahu apakah dia pulang ke rumah kelahirannya ini. Percayalah, tidak ada kata nekat dalam kamus cinta. Dalam cinta, semuanya mendadak menjadi hal yang ordiner.

“Ada, baru pulang tadi. Libur tahun baru dia.”

“Oh begitu. Tante sehat?”

“Syukurlah. Mau minum apa?”

“Jus apel, Tante. Hehe, bercanda. Apa aja deh.”

“Baiklah. Tante panggilkan Key dulu ya.”

Bahwa sebuah pernyataan barusan sudah membuat aliran darahku melaju lebih kencang dari sebelumnya. Bahkan, kalau ada Amlodipine Besylate di tempat ini, aku sendiri meragukannya akan menurunkan kecepatan aliran darah ke jantung ini.

“Key, ada tamu tuh.”

Samar-samar kudengar Tante Eliz memanggil anak gadisnya itu.

Langkah kaki terdengar jelas di telingaku, dia sedang berjalan mendekat.

“Kak? Ngapain?”

Aku menemukan ekspesi kaget dalam pertanyaannya.

“Selamat sore, Keyla,” ujarku sambil tersenyum.

* * *

Tetes air hujan tampaknya mulai menyelesaikan tugasnya untuk turun dari langit. Kini hanya sisanya saja yang masih berjatuhan. Sementara suasana dingin memeluk bumi. Memeluk aku dan Keyla yang duduk di teras rumahnya sambil menatap hujan.

“Jadi, curhat-curhatmu jaman dulu itu ternyata aku?” tanya Key, matanya tetap menatap jauh kepada hujan.

“Sebagian besar.”

“Hmmmm..”

Suara air tersisa yang masih berjatuhan ke bumi menemani kesunyian pembicaraan sesudah hujan ini.

“Waktu kamu jadian sama Cello, aku sudah berhasil melupakan kamu, Key. Sampai kemudian aku tahu kalau kamu malah disakiti.”

Key terdiam, dengan ekspresi yang sama.

“Dan aku tahu segala resiko untuk kelancanganku pada saat ulang tahunmu. Entahlah, bagiku tidak selayaknya juga aku memberikanmu hadiah yang absurd macam itu.”

Dan Key masih terdiam.

“Dan waktu aku SMS kamu, SMS terakhir itu, aku ada di sana Key. Aku ngelihat kamu berangkat kerja, malah.”

Ada tatapan bermakna kaget, meski yang tampak adalah dia mencoba menyembunyikannya.

“Dan untuk suatu masa yang sudah bertahun-tahun lewat ketika aku memutuskan untuk melupakan kamu, pada akhirnya kamu kembali juga. Aku berbohong karena hati ini masih menyimpan satu tempat untukmu, yang tidak bisa digantikan.”

Gantian aku menatap langit sesudah hujan.

“Kamu tahu satu hal, Kak?”

“Apa?”

“Ah, kamu kan tahu banyak hal. Hehe.”

“Apa sih Key? Nggak mudeng aku?”

“Nggak kok, nggak. Kamu kan ngerti tentang lelaki yang dulu tak curhatkan ke kamu.”

“Aku nggak ngerti orangnya, tapi ngerti spek-nya.”

“Ciee, bahasanya. Mentang-mentang udah jadi bos Quality sekarang.”

“Bos ke Jogja nggak naik bis, Key.”

“Itu kan dalam rangka penghematan.”

Tampak menjadi tidak jelas, tapi aku menikmati percakapan ini. Percakapan yang sudah lama hilang antara aku dan dia.

“Jadi udah berapa lama kamu bohong sama hati kamu, Kak?”

“Cukup lama. Yang pasti sejak kita menjadi lebih dekat.”

“Hahaha, itulah. Kadang batas pertemanan itu yang bikin bias perasaan.”

“Banget.”

Tidak ada lagi tetes air hujan yang jatuh. Sesudah hujan ini aku merasa semakin dipeluk oleh kesejukan. Sejuk oleh cuaca, sejuk oleh terlepasnya beban secara perlahan dari hati ini.

“Dan untuk sesuatu yang sudah kamu tahu sendiri, Key. Just want to say, I love you. Aku nggak usah bilang since ya. Itu sudah lama sekali. Kalau waktu itu ada yang bikin anak, sekarang udah SD dia. Hehehe.”

Dia terdiam, tapi senyum tersungging di bibir manisnya, yang dikepung pipi yang semakin tembem saja. Aku seperti melihat dia yang sama dengan yang kutemui bertahun-tahun silam, dia yang membuatku berhasil jatuh cinta ketika pertama kali menyusup masuk lewat mata ini.

“Hmmm.. hmmm.. haha.. hahahaha..”

Dia tertawa perlahan, lalu kemudian lepas.

“Kenapa?”

“Nggak, Kak. Kadang lucu juga ya. Melihat semua yang pernah terjadi diantara kita. Kenapa jadi begini ya?”

“Nggak tahu,” ujarku sambil mengangkat kedua bahu.

“Dan asal kamu tahu, aku juga kehilangan saat-saat berbincang soal hati dengan kamu, Kak. Cuma memang aku masih nggak suka dengan yang kamu lakukan waktu aku ulang tahun dulu itu.”

“Maaf.”

“Nggak apa-apa, udah lewat kok.”

“Jadi?”

“Jadi apa? Emang kamu nanya?”

“Enggg.. nggak sih.”

“Hahahaha.. Kak, kak.. kamu ini.”

Dan aku hanya bisa tersenyum bingung.

“Ada suatu masa ketika aku mengerti kalau kamu yang bisa menembus pertahanan kuat hati ini. Dan mungkin aku merasakan hal yang sama.”

You love me too?” tanyaku, tiga perempat tidak percaya.

I think.”

Done. Eh, hati, ini loh maumu udah terjawab,” ucapku sambil menengok ke arah ulu hatiku.

“Gila kamu, Kak,” sahut Key dan lantas tertawa.

Sesudah hujan ketika hati ini memperoleh jawab atas sebuah penantian berbilang tahun. Hati mungkin bisa beradaptasi pada sebuah keputusan dan konsekuensi, tapi pada titik tertentu ia akan memunculkan kembali keinginannya. Dan kini, hatiku memperoleh keinginannya.

🙂

 

5 Perjalanan Paling Absurd

Hiyah, nggaya bener. Hidup belum lama, traveling belum kemana-mana, pake nggaya nulis beginian. Eh, tapi saya ini ya termasuk kadang-kadang jalan-jalan ya. Jadi, ada lah beberapa perjalanan yang buat saya lantas berlangsung absurd. Entah absurd jadinya, prosesnya, atau apapun itu. Tapi, meski absurd, saya harus BERSYUKUR pada Tuhan, bahwa saya masih selamat. Itu yang jauh lebih penting 🙂

1. Perjalanan Berangkat Merantau (29 Juni – 2 Juli 2001)

Ini bukan pertama kali saya melakoni perjalanan jarak jauh, tapi paket komplet perjalanan berangkat merantau ini otomatis menjadi salah satu perjalanan paling DIINGAT dalam hidup saya. Dimulai dari Jumat siang yang sedih, saya naik Gumarang Jaya dari Bukittinggi bareng Bapak. Mobil berlogo kuda ini akan membawa saya ke Jakarta. Nah, keesokan harinya sampailah di Pulau Jawa, dan hampir tengah malam ketika kemudian saya tiba di terminal Kampung Rambutan.

sumber: google maps

Dari terminal ini, saya dan Bapak naik bis entah-apa-namanya ke Cirebon, waktu itu mau mampir ke tempat Pakde sebelum lanjut ke Jogja. Bis dari Cirebon ini formasi 3-3, entah masih ada atau tidak di jaman sekarang ini. Udah kotor, buluk, banyak pengasong, banyak yang ngerokok pula. Lengkap deritanya.

Sampai Cirebon dini hari dan lantas menuju tempat Pakde.

Nah, sisi paling absurd dari perjalanan ini adalah waktu step terakhir hendak menuju Jogja. Saya dan Bapak naik kereta api entah-apa-namanya dari Stasiun Cirebon dengan tiket bisnis. Saya sih curiganya ini Senja Utama, tapi pastinya lupa.

Kelas boleh bisnis. Ketika itu kereta nyampe, sama sekali nggak ada tempat duduk! Dan inilah salah satu momen ter-ghoib dalam hidup saya. Seorang anak unyu-unyu yang hendak menempuh pendidikan, terjongkok manis di sambungan antar gerbong sambil bersandar pada tas yang berisi barang bawaan dari Cirebon sampai Jogja.

Apa saya bisa tidur kalau begitu? Nggak! Dan ini salah satu momen saya berasa kalau jam itu nggak berputar sama sekali, saking nggak nyampe-nyampe-nya. Ya memang waktu nyampe-nya molor dari estimasi.

Dan belum cukup kegilaan ini, saya disuruh langsung mendaftar sekolah! Syukurlah saya tidak dites intelegensi, karena kejadian sebelumnya akan sangat berpengaruh pada kemampuan saya yang aslinya sudah pas-pasan ini *apa coba*

Dan syukurlah, lewat proses yang “tampak” mudah (karena amat sangat lancar sekali), saya diterima di SMA Kolese De Britto Jogjakarta 🙂

2. Perjalanan Menembus Erupsi (November 2010)

Ehm, ini perlu diceritakan nggak ya? Hahahaha.. Ah, namanya juga cerita. Toh, Tuhan itu menciptakan peristiwa itu pasti ada gunanya kan?

Jadi ceritanya sejak jauh-jauh waktu saya sudah izin cuti sama Pakbos untuk menghadiri wisudanya seseorang yang waktu itu jadi pacar saya. Bulan November wisudanya, saya izin dari awal September. Saking susahnya cuti kalau sama Pakbos. Huhuhu…

Mulai galau ketika saya beli tiket Palembang-Jogja, kok rasa-rasanya berat itu pas mbayar. Eh, ternyata mulai kerasa. Dua hari sesudah saya beli tiket, ada berita kalau gunung Merapi mulai beraktivitas tinggi hingga kemudian berita Mbah Maridjan tewas dilewati wedhus gembel dan segala berita lain sesudahnya.

Saya masih mencoba biasa saja, toh penerbangan belum ada masalah.

Apa iya? Iya, setidaknya sampai sebelum saya berangkat.

sumber; tribunnews.com

Jumat pagi jam 4 saya bangun dan siap-siap karena penerbangan pertama dari Palembang. Begitu menunggu Mas Sigit bangun, eh ada berita kalau Merapi baru meletus, terbesar selama berapa ratus tahun.

“Ow ow…”

Saya tetap berangkat, lha piye meneh. Penerbangan Palembang-Jakarta mulus pastinya, hingga sampai di ruang tunggu untuk transit ke Jogja.

“Penumpang sekalian, karena bandara di Jogja ditutup maka penerbangan dibatalkan.”

MATEK! Saya akhirnya memasuki fase mantap. Saya ikutan nongkrong sabar di depan loket Lion Air di terminal 1A Cengkareng. Saya sempat diwawancarai Bali TV. Dan saya capek. *halah*

Berikutnya saya capcus ke stasiun Senen untuk berharap ada tiket ke Jogja dari kereta tambahan, tentunya bersama kakaknya yang mau wisuda. *untung ada temennya* Akhirnya saya sampai Jogja pas di hari H, molor sehari. Hotel yang sudah dibayar akhirnya sia-sia semalam. Ya sudahlah. Sesudah menghadiri wisuda, saya segera ke stasiun beli tiket kereta, dampak dari firasat masih buruk. Saya dapat Senja Solo Extra. Padahal saya masih punya tiket pesawat Jogja-Palembang loh.

Ternyata saya benar! Minggu pagi saya dapat SMS kalau penerbangan dari bandara Jogja masih ditutup. Untung udah beli tiket. Tapi masalah belum kelar, saya kudu beli tiket baru Jakarta-Palembang supaya proses refund-nya ga ribet. Maklum, tiketnya Lion Air itu kan transit. Jadilah saya nggaya, beli tiket Jakarta-Palembang Garuda, 800 ribu. Hahaha.. *sok kaya*

Dari Jogja ke Senen mulus karena keretanya eksekutif. Saya lanjut ke Gambir dan dari sana ke bandara. Hmmm, kalau sadar urutannya, maka pasti kelihatan kalau saya belum mandi. Yak, saya adalah penumpang Garuda yang nggak mandi. Heuheuheu..

Mendarat di SMB II jam 12, sampai mess jam 13, saya langsung kerja. *maklum, pegawai teladan*

Selesai? Nggak juga, karena di bulan November itu saya kudu mati-matian bertahan hidup. Lha duit’e ntek kabeh je.. 😦

3. Kondangan Ke Belitang (Februari 2011)

Jiwa persahabatan saya memang tinggi. *congkak* Saking tingginya, waktu dinas ke Jakarta, saya sempatkan untuk langsung pulang ke Palembang pada flight terakhir karena besoknya mau pergi kondangan. Sampai Palembang itu sekitar jam 11 malam dan sebelum jam 6 sudah mau berangkat ke tempat yang katanya 6 jam jauhnya dari Palembang.

Kondangan ini didukung sama kantor dengan support mobil plus supir (Zul). Saya berangkat bersama Pakbos DJ, Koko Aliem, Koko Ahen (ini koko jadi-jadian), Pakbos Zae, dan Ando69 naik Kijang yang mirip punya ortu di rumah.

koleksi pribadi pake HP LG 🙂

Perjalanan ini panjang dan saya terpaksa nggak tidur (walau capek) karena harus meladeni obrolan asyik sepanjang jalan. Hahaha..

Sisi absurd-nya adalah ketika masuk Belitang. Kita-kita pada mikir kalau start gambar di undangan itu adalah jalan masuk Belitang. Ternyata….

Bukan.

Tanya sana, tanya sini. Berhenti sana, berhenti sini. Akhirnya petunjuk didapat.

“Abis ini ada nusa… nusa… nusa… baru nusa tenggara..”

Ebuset. Jauh aja ternyata!

Dan ternyata rumahnya itu memang masih jauh. Yah, peta yang mungil ini jadi tampak menipu. Hehehe.. *piss kak kus*

Sampai di tempat, rencana awal mau ikut misa udah nggak kekejar. Malah acara syukurannya udah mau kelar. Jadilah kita langsung ganti baju batik di dalam mobil dan kemudian turun lalu muntah-muntah eh salaman. Nongkrong 1,5 jam, lantas kita pulang. Rada nggak rela sebenarnya, masak 6 jam di jalan, di tempatnya 1,5 jam, apa kata dunia?

Dan ini menjadi satu-satunya perjalanan jauh di atas 12 jam pp yang saya tidak tidur sekejappun 🙂

4. Kantor Bernas-Rumah Simbah (2001)

Ini kayaknya pernah saya tulis di blog sini (kayaknya loh), waktu nulis soal Alfa. Ini terjadi waktu saya masih pakai sepeda dan masih jadi wartawan jadi-jadian di koran Bernas. Jadi ceritanya kumpul sabtu siang ke sore untuk pembekalan. Pulangnya udah malam gitu.

Nah, asyik-asyiknya saya mengayuh sepeda di sekitar UGM, tiba-tiba itu sepeda pedalnya los. Jadi mau diputer kayak gimana juga, nggak akan bikin rantainya ikut berputar.

Fuihhh, jadilah saya menuntun itu sepeda perlahan tapi pasti *pasti capek* menuju rumah simbah. Jadi ada agak 6-7 kilometer saya menuntun sepeda dengan baju seragam (waktu itu di JB hari Sabtu masih pakai seragam), dan itu terjadi di MALAM MINGGU. APA NGGAK BIKIN GALAU ITU? *keyboard mendadak caps lock semua*

5. Jogja-Wates (pada suatu hari di tahun 2007)

Ini mungkin paling absurd bagi saya dari sisi keamanan. Kenapa? Karena di perjalanan inilah saya pernah tidur sambil nyetir motor. Jadi ceritanya karena hasil pengundian abal-abal skripsi menujukkan sampling dan wawancara harus dilakukan di daerah Wates maka saya harus kesana. Anggota tim yang cewek ngekos disana. Saya dan Fandy nglaju.

Nah, kok ya pas skripsi ini, pas saya ada persiapan KPS Unpar di Bandung. Jadi, pas pulang dari ambil data *pasti capek lah wong keliling kampung* saya ikut latihan PSM *ini jelas nggak kalah capeknya*. Sampai kos tinggal tepar. Berikutnya? Besok bangun lagi, melakukan rutinitas yang sama.

Nah, yang tak tertahankan ketika pada hari kesekian, saya membawa Bang Revo dengan Fandy bonceng di belakang. Kalau pernah lewat Jalan Wates pasti tahu lurus-lurusnya mantap kan? Nah, ketika disitu, di sekitar Rewulu saya merasakan mata saya menjadi berat… berat… berat… dan lalu merem 1-2 detik.

Lanjut melek dikit, eh berat lagi.. merem lagi sejenak. Dan itu motor masih melaju 70-80 km/jam. Sampai sekarang saya bingung soal ini. Itu kenapa kalau jalan jauh saya prefer pakai headset. Setidaknya saya bisa nyanyi-nyanyi supaya nggak merem.

Hehehe..

Sebenarnya ada banyak perjalanan lain, mulai dari mengantar teman ke tempat pacarnya, perjalanan sama anak dolan-dolan, dan lainnya. Tapi ini adalah 5 kisah terpilih untuk kategori ABSURD. Hahahahaha… 😀

Ignasius Jonan Dan Semangat Perubahan

29 Juni saya ke Pasar Senen, ini pertama kalinya saya naik sepur sesudah November 2011, kala itu naik Turangga dari Surabaya ke Jogja. Agak kaget karena hendak duduk masuk ke dekat rel, eh nggak boleh. Jadi masalah, karena tiket saya dibawa sama Robert yang hampir bisa dipastikan akan datang mepet. Kalau nggak, bukan Robert namanya. Ya begitulah.

Usut punya usut, ternyata ada yang namanya sistem BOARDING. Ciee, udah kayak naik pesawat aja nih. Jadi udah minim tuh tangis-tangisan di atas kereta laiknya yang sering saya lihat zaman masih mungil dulu. Perubahan yang terjadi sejatinya sangat signifikan. Saya naik Senja Utama dan tidak ada orang ngemper di lantai. Ada sih ada, tapi itu lebih karena hendak terkapar, dia punya tiket dan punya nomor kursi kok. Lha saya ingat banget tiket Cirebon-Jogja saya tahun 2001 itu kelas Bisnis tanpa nomor, jadinya?

NGGAK DUDUK CUYY!!! Perubahan ini beda banget ketika saya naik waktu erupsi Merapi. Itu hampir nggak bisa nafas saking ramainya.

Nah, siapa sosok di balik perubahan itu? Usut punya usut, ternyata Bapak yang satu ini: Ignasius Jonan.

Pak Jonan dilantik jadi Dirut KAI pada 25 Februari 2009, ketika mentri BUMN-nya masih Pak Sofyan Jalil. Latar belakangnya? Akuntansi. Lha?

Lahir pada 21 Juni 1963 di Singapura sudah menjadi profil masa muda Pak Jonan. Ya, dia pasti anak orang kaya. Ayahnya Jusuf Jonan adalah pengusaha, ibunya putri seorang pejabat tinggi Singapura. Sampai umur 10 tahun, hidup di Singapura dan berlanjut ke Surabaya. Ia kemudian kuliah Akuntansi di Universitas Airlangga, Surabaya, setelah sebelumnya sekolah di SMA St. Louis, Surabaya. Pilihan SMA dan namanya sebenarnya sudah menjelaskan latar belakang religi Pak Jonan.

Sebagai anak orang kaya, yang mapan di dunia finansial, terjun di pelayanan publik tentu jadi masalah sendiri. Tapi kemudian, masalah itu dihadapi dengan cara khusus. Beliau berkata, “Saya selalu membawa ini. Saya kalau berdoa itu: Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu. Tapi, ya praktiknya susah. Saya sebagai manusia tidak bisa pasrah 100 persen.”

Apakah benda itu? Sebuah Rosario dan medali bergambar suci 🙂

Lulusan International Relations and Affairs, Fletcher School of Law and Diplomacy dan Harvard Law School, US ini pernah berkarier di PT. Bahana Pembiayaan Usaha Indonesia dan Citi Grup. Jadi benar-benar urusannya tidak ke transportasi. Jonan berhasil mengubah perusahaan rugi Rp. 83,4 M pada 2008 menjadi untung Rp. 153,8 M pada 2009 dan seterusnya di atas Rp. 200 M. Banyak terobosan dilakukan, meski diakui kadang tidak sempurna.

Kalau buat saya sih yang paling OK itu bisa pesan tiket online, kereta cenderung juga lebih bersih. Meski memang yang jualan “akua kua kua, mijon, mijon, mijon, pecel, pijet-pijet” itu masih ada. Tapi overall, numpak sepur itu sudah jauh lebih nyaman. Kenapa sih, berani melakukan perubahan? Ternyata karena secara umum memang tidak punya interest pribadi, jadi perubahan itu mengacu pada aturan yang ada.

Dan yang pasti, iman. Katanya, ”kalau saya tidak punya iman, saya mungkin tidak akan berani. Saya ini manusia kok, bukan robot. Kalau ditanya mengapa masih di sini, saya tidak tahu. Karena Gusti Allah, saya berada di kereta api. Saya percaya kalau yang Maha Kuasa menghendaki saya di sini, saya tetap di sini”.

Dan gairah utamanya kini adalah manfaat. ”Bagi saya, yang penting pekerjaan ini bermanfaat buat banyak orang”.

Nah, cuma seperti yang pernah disentil Pak Dahlan Iskan, Bapak Jonan ini perokok berat. Jadi sesuai doa pak DIS, mari kita doakan Pak Jonan berhenti merokok juga. Hehehe..

Sumber: Suara Karya OnlineKompas.comHidup Katolik

Senyum Abadi

“Wer ewer ewer ewer ewer.. Ewer ewer…”

Suara pria separuh wanita–atau mungkin sebaliknya–itu membangunkanku dari tidur yang tidak enak. Yah, namanya juga kereta bukan eksekutif, mana bisa tidur enak. Lha kalau kereta eksekutif saja telingaku harus disibukkan oleh tawaran berbagai makanan, mulai dari nasi goreng hingga kentang goreng, juga minuman mulai dari es teh manis hingga kopi panas.

Apalagi kereta bisnis?

Mulai dari ratingdeng sampai mijon, dan bahkan hingga pijet, semuanya ada. Memang luar biasa. Tapi sesungguhnya semua itu mengganggu tidurku. Aku tidak bisa tidur dengan nikmat. Dan pagi ini aku dibangunkan oleh duo ewer-ewer.

Hmmm, tak masalah sih. Bagiku ewer-ewer ini justru menjadi pertanda jelas. Yak, ini sudah stasiun Wates. Tak lama lagi, Jogja.

Dan kereta api Senja Utama Jogja itu mendengus perlahan memasuki tempat-tempat yang perlahan makin aku kenal. Sawah di sisi kanan, hingga rumah kos di daerah Wates tempatku tinggal sebentar dulu. Perlahan dan perlahan lagi akhirnya sampai di kota Jogja, hingga aku lihat kewek.

Ini dia, stasiun Tugu.

Terakhir kali di tempat ini, aku diantar oleh seorang gadis, berpisah dengan pelukan manis. Ah, sebuah masa yang tak terkatakan.

Rombongan porter berebut masuk, bersamaan dengan penumpang yang keluar. Mukaku kusut kurang tidur, tapi aku paksakan untuk bangkit dan keluar.

Kaki kananku menjejak marmer putih di stasiun terkenal itu. Kuhirup sedikit dalam udaranya, dan aku mengerti bahwa ini Jogja. Kenangan merasuk ke dalam tubuh dan jiwaku. Inilah dia kota itu, ketika semua kenangan terkumpul jadi satu.

Aku keluar dari sisi Mangkubumi. Jalan cukup jauh ke depan, tentu dengan tawaran dari kiri dan kanan, mulai taksi (gelap), taksi (terang), hingga becak. Aku memilih untuk menolak semuanya, karena aku ingin mengenang.

Kenangan yang harus dipaksa untuk diingat, agar nanti aku segera lupa. Lelah aku untuk mengenang semuanya.

Langkah kakiku yang tertekuk semalaman satu persatu melangkah di sepanjang Mangkubumi. Ah, tempat ini sudah tak sedamai dulu. Jauh, jauh dan jauh lebih ramai dari 11 tahun yang lalu, ketika aku pertama kali menjejak kota ini.

Tubuh lelah ini sampai di sebuah lapak gudeg pinggir jalan.

“Bu, setunggal, ngagem ayam.”

“Nggih Mas.”

Entah ini pemandangan apa, aku tak mengerti. Tapi buatku, gudeg itu yang sebenarnya adalah yang dijual oleh orang dengan level Mbah-Mbah. Kalau tidak, menurutku kurang enak. Ya sama persis ketika aku masuk ke warung berlabel warung Padang tapi dilayani dengan bahasa Jawa. Sensasi enaknya berkurang signifikan.

Gudeg, jalanan ini. Ah! Untung ini masih siang. Kalau saja ini sudah malam, maka kenangan itu akan semakin merajalela di pikiranku. Ya aku jarang beredar pagi-pagi, tapi kalau malam hari, jangan ditanya. Disitulah kenanganku terbentuk, satu persatu.

Perjalananku berlanjut, tubuh gontai ini menapak kembali langkahnya di kota tempat ia terbentuk menjadi manusia.

“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu…”

Yak! Pengamen yang tiba-tiba ada di sebelahku dengan sukses menyibak tabir yang selama ini aku tutup, membuka kekelaman yang selama ini aku bungkam. Dengan sukses, ehm, sangat sukses bahkan!

* * *

“Sesungguhnya, ku tak rela…”

Tanganku terjulur memberikan sejumlah koin kepada pengamen bersuara indah ini. Tapi bagiku akan lebih indah kalau dia pergi. Aku butuh suasana tenang.

“Kok disuruh pergi?” tanya Raras.

“Nggak apa-apa. Galau lagunya.”

“Yah, kenapa? Ada hubungan dengan suasana?”

“Sedikit.”

“Oke. Jadi apa yang mau dibicarakan?”

Aku menghirup nafas dalam-dalam. Nafas udara malam Jogja yang belum banyak kontaminasi.

“Aku sayang sama kamu, Ras.”

“Hmm, tapi mukamu sendu begitu?”

“Yah justru itu. Aku sayang sama kamu, tapi ternyata aku tidak bisa memiliki kamu sepenuhnya.”

“Masih masalah yang sama?” tanya Raras sambil melempar pandang ke sekeliling.

“Sepertinya masalah diantara kita hanya itu.”

“Dan itu yang terbesar, Jo.”

“Yah begitulah. Aku takut, semakin kita tidak mengindahkan masalah ini, semakin aku bertambah sayang pada kamu, dan semakin aku akan membuat hubungan ini menjadi penderitaan.”

“Maksudmu, Jo?”

“Yah, kalaulah kita menikmati kebersamaan kita, di saat sebenarnya kita tidak bisa bersatu. Pada akhirnya kita akan berpisah kan? Kalau itu terjadi nanti, ehm, akan sangat jauh lebih susah untuk melepaskanmu Ras.”

“Hmmmm, satu tembok ya Jo. Tapi memang terlalu tinggi.”

“Ini berat, Ras. Tapi akan jauh lebih baik buatmu. Memang sebaiknya kita berpisah.”

Raras terdiam, pandangnya masih di tempat yang sama. Nasi goreng sapi yang biasanya lahap disantapnya, kali ini terdiam manis dan malah digapai lalat.

“Mungkin memang begitu Jo. Setidaknya kita masih bisa menjadi teman yang baik.”

“Itu pasti, Ras. Kamu pasti akan jadi teman terbaikku.”

“Cinta itu ya begini kali Jo. Menggelitik. Bikin aku jatuh cinta pada kamu, tapi dengan pandainya membuat kita tidak bisa saling memiliki.”

“Mungkin iya, Ras. Sukanya main-main.”

“Atau mungkin kita yang mempermainkannya, Jo?”

Giliran aku yang terdiam. Bahwa tembok ini sudah aku tahu dari awal, dan tetap aku anggap tiada. Hingga kemudian aku sadar bahwa tembok ini ada dan nyata, tertulis jelas di KTP bahkan.

“Yah, mari kita lanjutkan hidup kita Ras. Pasti ke depan akan lebih baik.”

Aku menutup perpisahan di malam itu dengan mengalihkan pandangan ke nasi goreng sapi di depanku. Kutolehkan kepalaku sekejap, sebuah senyum manis Raras terkembang disana. Ah, senyum itu, masih sama dengan senyum yang membuatku jatuh hati padanya.

* * *

Langkahku masih sendirian saja, tidak akan yang menemani. Sebuah pertemuan, dan permainan yang aku ciptakan sendiri, lantas diakhiri dengan perpisahan yang juga aku buat sendiri. Semuanya terkuak di depan mata.

Dasar pengamen di sebelah ini tahu saja.

“… katamu hadirkan senyummu abadi..”

Raras, senyummu pasti abadi dalam hidupku. Selamanya.

* * *

Sebuah interpretasi dari lagu Jogjakarta-nya KLA Project.