Review: Sabtu Bersama Bapak

SAN MARINO

Begitu mengetahui bahwa Sabtu Bersama Bapak akan difilmkan, sudah barang tentu judul itu segera masuk list film yang harus saya tonton. Bukan apa-apa, sampai saat ini Sabtu Bersama Bapak adalah salah satu novel terbaik versi saya. Namun tentu saja, namanya juga film, walaupun naskahnya ditulis sendiri sama Kang Adhitya Mulya, kita-kita para pemuja novel Sabtu Bersama Bapak harus menjaga ekspektasi. Tidak sedikit orang yang justru ogah nonton karena novelnya terlalu bagus.

Ngomong-ngomong, pada prinsipnya untuk menikmati Sabtu Bersama Bapak adalah lebih asyik jika baca novelnya dulu. Soalnya, jika tidak, lantas akan muncul perdebatan sebenarnya Sabtu Bersama Bapak ini film sedih, lucu, apa malah horor?

Saya sendiri memuja novel Sabtu Bersama Bapak karena novel ini adalah satu dari sedikit novel komedi, sebagai penulis komedi kurang laku tentu saya harus banyak berguru dengan kang adit. Namun lebih utama lagi, Sabtu Bersama Bapak ini adalah novel dengan premis mengagumkan dan membuktikan bahwa premis berat bisa dibawakan dengan metodologi komedi.

Jadi, bagaimana filmnya?

Klik untuk membaca review Sabtu Bersama Bapak selengkapnya!

Advertisements

Review: X-Men Apocalypse

xmenapocalypseimax-1

Sesudah menyaksikan manusia biasa dan manusia (?) dari Krypton berantem dalam Batman vs Superman, yang dilanjutkan dengan berantemnya Captain America dengan Iron Man, kini penikmat film disuguhi berantem dalam perspektif yang berbeda. Menyambung X-Men Days of Future Past yang bikin jaman terbolak-balik tak terhingga dan menghasilkan masa yang berbeda karena Wolverine berhasil kembali ke masa lalu untuk mengubah masa depan, maka kini muncul X-Men: Apocalypse yang meski tidak sewolak-walik jaman kayak film terdahulu, tetap saja bermain dengan periode waktu tertentu.

Kisah dimulai sekian ribu tahun sebelum masehi. En Sabah Nur (Oscar Isaac) hendak melakoni sebuah ritual untuk memperoleh kemampuan pemulihan diri ala Wolverine. Ritual dilaksanakan di piramida dengan mengandalkan sinar matahari. Apa daya, En Sabah Nur yang rupanya sudah melakukan banyak ritual sejenis dengan mengambil kemampuan dari banyak mutan lain itu malah dikhianati oleh beberapa manusia. Kemampuan itu berhasil diperolehnya, namun yang terjadi kemudian dia bobok panjang dalam reruntuhan piramida.

Klik disini untuk membaca selengkapnya!

20 Hal Tentang Ada Apa Dengan Cinta 2

aadc22

Bahkan perlu bantuan dari negara hingga akhirnya saya bisa nonton film yang so mainstream: Ada Apa Dengan Cinta 2. Iya, bantuan berupa uang harian sungguh mampu membuat saya membayar tiket bioskop plus tiket parkir di Taman Ismail Marzuki. Ah, duit dari negara, saya kembalikan Rp6.000 dalam bentuk uang parkir ke negara juga. Hidup Indonesia!

Sebagai penonton ke dua atau tiga atau malah empat juta sekian, tentu kurang pas jika saya harus menulis review tentang AADC 2 ini. Namun sebagai blogger nyaris bubrah, saya juga harus menulis karena WordAds saya menurun secara hore. Maka, saya mencoba menyajikan beberapa fakta unik yang mungkin baru kamu sadari, atau tidak kamu yakini kalau itu benar-benar ada sehingga kamu lantas mau nonton lagi, atau bahkan kamu yakini tidak ada dan saya hanya ngarang belaka.

Jadi, apa saja fakta-fakta unik itu? Monggo disimak hasil pengamatan saya sembari menahan cenut-cenut dampak kolesterol ketinggian hasil tujuh hari berturut-turut makan nasi Padang.

Selengkapnya tentang AADC2!

[Review] Kung Fu Panda 3

Reviu Kung Fu Panda

“You don’t even know kung fu!”
“Then you will teach us.”

Yeah! Akhirnya kita bersua lagi dengan Po, Panda jagoan yang kelakuannya lumayan menyebalkan. Saya yakin kita mengikuti kiprah Po dari jaman dia belum bisa kung fu sama sekali di Kung Fu Panda hingga kemudian bisa mendapatkan ‘inner peace’ di Kung Fu Panda 2 yang sudah lima tahun silam itu. Ibarat anak tangga, sesudah Po belajar jadi ksatria naga dan menguasai ‘inner peace’, kini saatnya Po merambah gawean baru: seorang guru.

Kalau mau dirunut, sepanjang dua edisi Kung Fu Panda, boleh dibilang kita hanya menemukan panda selain Po dalam konteks flashback. Dan kalau ingat, pada akhir Kung Fu Panda 2 muncul adegan sesosok panda tua yang merasakan bahwa anaknya masih hidup. Sambungan dari perasaan panda tua tadi baru muncul lima tahun kemudian. Gile, lama bener.

Selengkapnya tentang Kung Fu Panda 3!

[Review] Captain America: The Winter Soldier

Jadi beginilah faedah dari demo buruh tahun lalu yang berhasil menggolkan bahwa 1 Mei adalah libur nasional. Pengusaha sih mencak-mencak karena hari kerja kurang 1. Tapi buat eks karyawan yang menjelma menjadi Pegawai Anu Anu kayak saya, libur di 1 Mei adalah berkah. Kenapa? Karena saya bisa pacaran sambil mencicipi mall yang terbilang baru di Bintaro. Namanya bagus, Bintaro Jaya Xchange, tapi disingkat BECENG. Yaelah bro!

Niat mulianya adalah nonton Spiderman karena si pacar pengen nonton Andrew Garfield. Apa daya, 2 studio yang ada disana penuh untuk jam 15.00 dan 15-an lainnya. Ada sih sisa dua biji di depan. Bikin tengeng dan tidak direkomendasikan. Jadilah agenda dialihkan menjadi nonton Captain America. Sebenarnya ini agenda hari Minggu kemaren, yang ketunda karena hujan yang rintik-rintik tapi banyak.

new-captain-america-featurette-puts-the-focus-on-black-widow-watch-now-158334-a-1394521475-470-75

Sejak nonton The Avengers sendirian kayak jomblo, saya memang menjadi tertarik dengan film-film yang berhubungan dengan alur ceritanya. Eh tapi sebenarnya saya jauh lebih tertarik dengan sosok Black Widow alias Natasha Romanoff alias Mbak Scarlett Johannsson. Nah, kenapa saya kemudian memilih nonton Captain America alih-alih Thor, adalah semata-mata karena porsinya Mbak Scarlett. Mengingat di Captain America ini, porsi Black Widow memang besar. Jauh lebih besar dibandingkan The Avengers. Maka, kalau nanti ada film Black Widow, saya pasti nonton.

selengkapnya

The Wolverine: Film Dengan Terlalu Banyak “Kenapa?”

Sudah lama sekali saya nggak nulis review film. Ya memang saya semakin jarang nonton film. Dan semakin jarang nulis soal film. Review saya sebelumnya itu Battleship (16 April 2012), The Avengers (4 Mei 2012), dan Soegija (7 Juni 2012). Memang sih saya juga sempat menonton film seperti 5 Cm, Cinta Dalam Kardus, dan juga Monster University. Cuma nggak tahu kenapa kok malas nulis review.

Jadi mumpung kemarin diajakin nonton The Wolverine, bolehlah kita nulis lagi 😀

Kita semua harusnya tahu tentang Wolverine, karakter yang bagi sebagian orang paling berkarakter dari segambreng tokoh di X-Men. Kalau saya sih, tetap lebih suka Cyclops. Hehehe.

Dalam The Wolverine ini, tokoh Wolverine diperankan oleh Hugh Jackman. Pecinta film tentu tahu soal aktor yang satu ini. Secara umum, Hugh Jackman memang “wolverine banget”.

Sumber: thetorchonline.com

Sumber: thetorchonline.com

Oya, saya bukan pembaca setia komik Marvel, jadinya saya memang tidak terlalu paham plot asli dari cerita yang diterjemahkan ke film ini. Itulah sebabnya saya kasih judul seperti di atas.

Film dimulai dengan adegan di Jepang. Awalnya biasa saja sebelum kemudian saya melihat adegan harakiri dari 3 perwira Jepang, dan adegan Wolverine mengintip dari sebuah tempat di bawah tanah.

Clue utamanya kemudian muncul, yakni sebuah benda yang jatuh dan ternyata adalah bom atom Nagasaki. Yah, saya baru tahu kalau di dalam sejarahnya bom Hiroshima dan Nagasaki ada superhero disana.

Singkat cerita seorang tentara bernama Yashida (Ken Yamamura) sudah mau harakiri tapi diselamatkan sama Wolverine, disuruh masuk ke lubangnya Wolverine alias Logan, dan dilindungi dari dampak bom atom.

Selesai disini.

*kunyang popcorn*

Adegan langsung lompat ke tokoh Jean. Penikmat X-Men dan The Wolverine sejati pasti tahu soal Jean ini. Orang yang dicintai sama Logan, tapi dibunuh sendiri sama dia. Buat saya ya lucu adegan yang ini, wong lagi bermesraan tapi kok kukunya sudah nancep aja di perut.

Ternyata itu hanya mimpi belaka. Jadi jangan heran dengan 2 adegan semula yang sebenarnya kurang korelatif. Kenapa juga harus begitu? Tampaknya sutradara pengen memberikan background cerita utama di adegan pertama, tapi juga hendak memberikan konteks kehilangan tujuan hidup di adegan kedua.

Hingga akhirnya sampai di adegan bangun tidur di tengah hutan. Nah, disinilah cerita sebenarnya dimulai. Tetap saja ada adegan lucu yang ditampilkan di film ini. Salah satu yang buat saya menarik adalah adegan beruang grizzly kencing dengan mengangkat kaki kanannya. Itu beruang beneran kalau pipis begitu ya?

Nah, si beruang kemudian sekarat gara-gara pemburu, lalu Logan menuntut balas. Pas sedang menuntut balas inilah muncul Yukio (Rila Fukushima). Ini juga menurut saya kurang smooth. Tapi ya mungkin memang cerita aslinya begitu sih. Kenapa juga si Jepang ini sampai menemukan Logan di posisi lagi berantem, kenapa nggak pas nangkring di hutan atau apalah.

Sumber: marvel-movies.wikia.com

Sumber: marvel-movies.wikia.com

Yukio kemudian mengakui kalau dia disuruh bosnya, Yashida, yang ingin berterima kasih kepada Logan. Ceritanya si Yashida sakit keras, tapi pengen mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal. Sesuatu yang kemudian membuat Logan sampai ke Jepang.

Iye. Jauh amat.

Dikisahkan kalau si Yashida itu jadi orang kaya raya banget sekali di Jepang. Jadi nyambung juga sih, gimana seorang prajurit waktu muda, kemudian bisa jadi kaya raya waktu tua. Ini kayak di sebuah negeri yang pernah dijajah sama Jepang selama 3,5 tahun. Ada gitu deh sebuah negara yang banyak prajurit menjelma jadi orang kaya di masa tuanya.

Bermunculanlah tokoh semacam Shingen Yashida (Hiroyuki Sanada), juga Kenuichio Harada (Will Yun Lee), dan dua penyegar utama dalam film ini atas nama Viper (Svetlana Khodchenkova) serta Mariko Yashida (Tao Okamoto).

Yashida tua ternyata hendak “mengambil” keabadian Logan untuknya. Disebutkan bahwa Logan yang mimpi buruk terus sepanjang malam itu sudah tidak punya tujuan hidup.

Iya. Ngapain hidup dan nggak mati-mati, tapi nggak punya tujuan hidup? Ini justru pelajaran yang saya petik disini.

Lewat sebuah ciuman, Viper yang menyamar jadi dokter Green berhasil membuat sisi penyembuhan sendiri dari Logan hilang. Dan bersamaan dengan itu, Yashida tua “mati”. Ketika pemakaman malah jadi heboh karena ternyata Yakuza berhasil menculik Mariko, si cucu-nya Yashida.

Sumber: Yahoo.com

Sumber: Yahoo.com

Namanya juga superhero, Logan berhasil juga menyelamatkan Mariko dari Yakuza itu. Mariko dengan bantuan mahasiswa-kedokteran-hewan berhasil mengoperasi Logan untuk mengambil peluru yang ada di tubuhnya. Kan imortal-nya hilang, jadi ada peluru ya sakit. Mariko lalu membawa Logan ke selatan, ke sebuah rumah yang disebutkan tersembunyi.

Disitu kemudian mereka berciuman dan kayaknya sih ML.

*khas film barat.. hehehe…*

Ada banyak kenapa di sini. Pertama, kenapa rumah yang rahasia itu tidak dikunci, atau ditunggui tapi tetap tampak rapi. Kedua, kenapa orang-orang suruhan ayahnya Mariko dan tunangan Mariko, Menteri Keadilan, Noburo Mori (Brian Tee), nggak bisa tahu dengan cepat tempat persembunyian yang sepertinya akrab dengan Mariko itu. Ketiga, kenapa akhirnya mereka ML? *tetep*, dan keempat, kenapa penculikan Mariko berhasil dilakukan padahal dia lagi tidur di samping Logan yang tidur saja nggak nyenyak.

Arah cerita juga membawa Logan dan (tahu-tahu nongol) Yukio ke tempatnya Noburo. Kalau mau yang lucu lagi dan bin garing, ya pas Noburo dipelesetkan nggak sengaja sama Logan jadi Nostramo. Emangnya Nostradamus? Hehe.

Kenapa berikutnya muncul ketika ada Menteri Keadilan yang main sama pelacur bule tanpa pengawalan sama sekali. Ya jelas saja Logan bisa masuk dengan mudah, sampai bisa melempar Noburo ke kolam yang jauh sekali di bawah.

Nah, kenapa berikutnya rada ruwet.

Jadi Shingen minta Mariko ditemukan. Sudah ketemu tuh. Nggak jadi dibunuh. Karena ternyata ninja yang bekerjasama dengan Viper dan Harada berhasil mengambil alih Mariko. Si cantik ini lalu dibawa ke sebuah tempat yang tinggi dan canggih.

Sumber: spinoff.comicbookresources.com

Sumber: spinoff.comicbookresources.com

Awalnya, Viper tampak ingin Mariko untuk memancing Logan datang. Pas dengan Harada yang ingin Mariko kembali padanya.

Tapi….

ini yang ruwet.

Begitu Logan berhasil ditangkap, ternyata ada robot adamantium yang bangun dan bertarung lalu pengen mematahkan kuku-nya Logan. Ini kenapa yang besar, karena ternyata isinya robot itu adalah orang yang kita kenal dari awal cerita. Lah kan saya bingung. Jadi sebenarnya dia mati nggak sih? Lalu sebenarnya si Viper itu tujuannya mau ngapain sama si Logan? Terus katanya Yashida mengkhawatirkan Mariko makanya nggak pengen mati, lah kok nggak kelihatan gelagatnya waktu ‘bertarung’ dengan Mariko.

Kalau Harada jelas kayaknya. Dibutakan cinta, malah bekerjasama dengan penjahat. Kasian deh lo.

Jadi kenapa sih Yashida tidak ingin mati? Kenapa kemudian ada Viper bisa disana? Kenapa adamantium yang sudah disedot dari Logan bisa balik lagi? Dan banyak kenapa lain yang bikin saya bertanya soal plot-nya.

Kalau menurut saya ceritanya kurang kuat. Waktu workshop novel saya selalu dibilang sama editor kalau plot sebab-akibat itu penting. Nah, di film ini saya tidak menemukannya dengan tegas.

Tapi sebuah box office begini pasti punya keunggulan. Aspek pertarungan di atas shinkansen tentu nggak bisa kita lewatkan. Itu keren. Juga soal pertanyaan “tujuan hidup” yang penting banget. Eksploitasi sisi Jepang juga andalan yang oke. Dan jangan lupa si cantik Mariko yang bikin film ini seger abis.

Perkara act saya nggak banyak komentar, karena sudah keren. Perkara visual, ya paling hanya kurangnya efek darah dari setiap cabikan kuku-nya Wolverine. Perkara cakep, Mariko sudah cakep banget. Kekurangpuasan saya pada film ini adalah sisi plot yang menimbulkan banyak tanya. Plot yang lebih runyam sebenarnya ada di The Avengers, tapi bisa disampaikan dengan baik tanpa harus melontarkan banyak “kenapa?”

Begitu saya ulasan dari saya. Secara umum tentu saja tetap layak dinikmati sebagai summer movie. Tapi dari sisi apapun, saya tetap lebih suka The Avengers daripada The Wolverine, tapi masih suka The Wolverine daripada Battleship.

*ngebandingin kok nggak apple to apple ki piye*

😀

Review Film: Soegija

Saya mendengar akan ada film Soegija sudah lama, sejak jaman penggalangan dana. Jujur saya awalnya meragukan Puskat dapat membuat film yang selevel dengan rumah produksi ternama yang biasa bikin film besar. Tapi fakta bahwa ini adalah film beraroma Katolik pertama yang tayang di 21 (yang saya tahu lho), membuat saya merasa harus nonton film ini, di hari pertama.

Kalau di The Avengers saya nonton pertama bener di Cikarang karena cuti, kali ini saya nonton penayangan ketiga dari empat slot. Meski di web Soegija dibilang tidak ada Cikarang, tapi karena saya cek di Cineplex ternyata ada, langsung deh lima kurang seperempat melajukan si BG ke Mall Lippo, nonton Soegija.

Oke baik, kita mulai review sekilasnya.

sumber: article.wn.com

Kisah ini berlatar masa perjuangan, mulai dari Belanda, Jepang, lanjut Sekutu, dan berakhir di masa sekitar KMB di akhir 1940-an. Jadi periodenya 40-an bener. Hmmm, setting awalnya bagus, memperlihatkan Romo naik sepeda unta. Ehm, Romo masa kini, maaf kata, ada yang minta ganti mobil ketika pindah paroki 😦

Kisah bergulir dengan sulit karena tampaknya film ini ingin menonjolkan beberapa kisah sekaligus dengan hubungan yang sekilas. Keluarga Ling-Ling membuat soto, dibawa oleh Mariyem-Maryono ke Romo Kanjeng. Lalu ada pula Robert dan Hendrick di tengah perjalanan itu. Ada lagi Nobozuki. Kisah ini kemudian diselingi oleh munculnya Koster Toegimin bersama Romo Kanjeng. Lalu ada pula Pak Besut. Dan kemudian, dua sosok paling menarik yakni si bocah kuncung dan si tukang gelut. Sebut saja begitu, saya nggak tahu namanya.

Kisah-kisahnya dimulai dan bermuara pada catatan Romo Kanjeng di sebuah halaman, dan rentang kisahnya 2-3 tahun. Hmmm, beberapa baris kata mengantar penonton pada parsial-parsial kemanusiaan yang berbeda, namun muaranya jelas.

Yak, Romo Kanjeng ada di tengah kisah-kisah itu. Romo Kanjeng tidak bertemu dengan Robert dan Hendrick memang, tapi ia selalu ada ketika plot sedang menaikkan Mariyem. Romo Kanjeng juga muncul dengan dialog segar bersama Koster Toegimin. Ia juga muncul dengan Ling-Ling. OOT sedikit, Ling-Ling ini sungguh cacat alias calon cantik. Hehehe..

Yak, pada intinya memang perang itu tidak berguna. Even kemerdekaan pun tidak serta merta berguna karena ternyata kemudian banyak penjarahan. Si bocah tukang gelut mempertanyakan itu. Buat apa merdeka kalau sapi dicuri, ngapain? Sebuah pertanyaan besar hingga masa kini.

Tokoh-tokoh semacam Mariyem-Maryono, Nobozuki, Suwito, Robert dan Hendrick, muncul selang seling hingga terkadang memusingkan. Tapi intinya memang satu, sejatinya perang ini memang tiada gunanya. “Aku juga benci dengan perang ini,” begitu kira-kira kata Hendrick.

Penonton harus memadukan masing-masing kisah, tapi itu dibantu kehadiran Romo Kanjeng dalam slot tertentu yang kemudian membuat itu menjadi kesimpulan. Itu sisi positif film ini.

Dan sungguhpun namanya saja saya nggak ngerti, tapi si kuncung dan si tukang gelut sungguh memberi makna dari film ini. Ketika si kuncung yang dibilang sama Marwoto “anak setan”, dan ikut-ikutan melempari Hendrick di Hotel, hingga pada kenyataan bahwa ia bisa membacaa adalah kesegaran dalam alur yang kadang berat.

Termasuk si tukang gelut. Lakunya kadang membuat emosi, termasuk ketika (sepertinya) membunuh Nobozuki yang sedang bernyanyi dan (sepertinya) juga membunuh Robert yang sedang membacakan surat ibunya, tapi ia adalah warna berbeda. Termasuk kata-kata, “aku saiki iso moco: merdeka!”

Tentunya warna jelas adalah Butet yang tetap segar dalam guyon. Mulai dari bilang Romo Kanjeng hampir mirip Bajak Laut hingga saat curhat jomblo pada Romo Kanjeng.

Overall memang butuh mikir, tapi kesimpulannya jelas, sepenuhnya kemanusiaan. Angkat jempol untuk Garin Nugroho atas film-nya 🙂

Tapi.. Ehm, kritik sedikit boleh kan?

Adegan tembak-tembakan dan dor-doran di depan mata mungkin perlu, tapi ada beberapa yang terlalu ekstrim, termasuk Nobozuki mati. Kalau bisa dipoles seperti caranya Robert mati, mungkin lebih baik.

Dan kritik saya yang paling keras adalah adegan ketika Romo Kanjeng merokok. Ehm, terlepas dari argumen bahwa itu fakta, apakah memang seperlu itu membuat adegan Romo Kanjeng merokok. Saya takutnya, anak-anak yang nonton bilang, “tuh, Romo Kanjeng aja ngerokok lho.”

Okelah merokok bukan dosa, saya hormati, karena saya juga mantan perokok, tapi mungkin bukan wadahnya ketika hampir seluruh orang tua datang ke bioskop bersama buah hatinya. Sayang balutan apik itu terkendala oleh adegan yang menurut saya juga nggak penting-penting amat kalau harus berasap. Tanpa asap juga bisa.

Sungguh, setting Jawa banget dan ada Jogja-nya, membuat saya sepenuhnya kangen. Dialog Jawa yang membuat tertawa, hingga gereja Bintaran benar-benar bikin merindu masa silam. Ah, dasar.

Oya, sepertinya ada adegan di studio Puskat, semoga saya benar. Setidaknya saya dulu pemakai wisma dan studio alam Puskat untuk Makrab. Hahahaha… Dan satu lagi yang keren, sebagai bass sejati, saya sangat suka lagu yang sangat menonjolkan bass, dalam hal ini mari kita bernyanyi, “Kopi susunyaaa… dst..” *minta teks dong*

Angkat jempol! 100% Katolik, 100% Indonesia!

🙂