Cara Terbaik Mencintai Lambung

Halodoc

Cara Terbaik Mencintai Lambung – Sebagaimana seluruh bagian tubuh, lambung memiliki fungsi yang spesifik dan tiada tergantikan oleh bagian lain. Lambung sendiri berperan untuk menyimpan serta memecah makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh. Mengingat peran penting itu, sudah tentu kesehatan lambung wajib dijaga.

Apabila tidak terjaga dengan baik, akan muncul sejumlah penyakit lambung yang tentu saja nggak enak. Kalau gatal, masih kelihatan dari luar. Proses sembuh atau tidaknya kelihatan. Kalau lambung? Cuma ada rasanya saja, bentuknya tidak terlihat.

Salah satu hal yang sering kita alami dalam kaitannya dengan lambung adalah naiknya asam lambung. Asam yang biasanya ada di lambung dapat naik dengan bebas ke kerongkongan untuk kemudian memicu rasa panas, nyeri dada, sampai kemudian mulut yang asam, mual, muntah, atau yang cukup kentara dan khas bapack-bapack 30-an: sendawa terus menerus~

Faktor Risiko dan Penyebab Penyakit Asam Lambung

Ada sejumlah hal yang menjadi faktor risiko dan penyebab dari penyakit asam lambung. Pada faktor-faktor risiko ini, ada kencenderungan otot pengunci tadi yang bernama lower esophageal sphincter (LES) melemah, yakni obesitas, usia lanjut, dan hamil. Ya, tiga kondisi ini memang khusus. Kalau usia lanjut, ya sebagaimana barang-barang sekalipun kalau organ tubuh dipakai terus-menerus tentu ada capeknya dan ada rusaknya. Kalau hamil, hal itu terkait kondisi tubuh yang memang berbeda dengan kondisi normal. Demikian pula pada obesitas, karena tanggung jawab dan beban hidup yang ditanggung oleh tubuh juga lebih besar.

Pada obesitas sudah tentu kaitannya merupakan faktor kelebihan berat badan. Selain itu, ada beberapa penyebab lain yang tidak hanya ada pada orang-orang yang obesitas saja, yang kurus juga bisa. Pertama, konsumsi makanan berkadar lemak tinggi yang terlalu banyak. Kedua, konsumsi kopi, miras, maupun rokok dan cokelat yang terlalu banyak. Tentu saja ini merupakan peringatan bagi anak senja. Salah-salah jadinya bukan ‘kopi-senja-puisi-kenangan’ tapi malah jadi ‘kopi-senja-asam lambung’.

Kan ambyar, yha~

Sebenarnya, ada sejumlah pendekatan yang bisa dilakukan dalam menyiasati asam lambung, terutama pertama-tama sebelum mengonsumsi obat. Pendekatan paling utama tentu pengaturan pola makan.

Makan Tepat Waktu

Kalau teman-teman periksa ke dokter, berikut tenaga kesehatan yang menyertainya, nasehat ini klasik. Tapi ya dalam pengalaman saya sebagai apoteker KW, makan tepat waktu di fasilitas kesehatan itu agak merupakan nasehat untuk pasien saja karena yang menasehati suka terlambat makan juga~

Perhatikan Porsi

Salah satu yang sering dilupakan oleh orang-orang dalam makan adalah porsi. Waktu masih mahasiswa mungkin nggak masalah karena lambungnya masih remaja dan masih kuat. Akan tetapi, kalau dipaksa ya capek juga lambungnya. Apalagi kalau sudah punya penyakit lambung, ketika makan dalam porsi lebih banyak dari biasanya dapat memicu refluks lambung.

Jangan Banyak-Banyak Air Putih Saat Makan

Kebanyakan minum pas makan berpotensi mencairkan asam lambung. Dampaknya kemudian adalah makanan yang masuk jadi lebih sukar untuk dicerna. Lebih lanjut lagi, kalau kebanyakan minum itu sebenarnya hanya mendorong makanan ke dalam lambung padahal belum dilumat sempurna oleh gigi. Artinya, lambung jadi berbeban lebih berat karena mendapatkan makanan yang belum cukup hancur oleh gigi.

Kadangkala, asam lambung naik ketika kita tidak siap dengan persediaan obat. Beda dengan istri yang memang sedang on therapy, saya sendiri hanya kadang-kadang bermasalah dengan pencernaan. Ketika suatu kali kena, tentu butuh obat dan saya tentu tidak bisa main ambil obatnya istri.

Lambung

Pada kondisi tersebut kita dapat memanfaatkan Halodoc. Untuk penyakit lambung ada begitu banyak artikel yang tersedia. Kalau masih ada pertanyaan, bisa chat dokter dengan dokter berpengalaman dan terverifikasi sehingga kita bisa memperoleh penjelasan dan saran medis yang akurat dapat dapat dipercaya.

Lebih lanjut lagi, ketika memang butuh terapi, kita bisa beli obat melalui Halodoc. Pada pengalaman saya, penggunaan Halodoc bukan hanya untuk beli obat lambung, tapi sering juga untuk vitamin anak yang hanya ada di apotek tertentu sehingga nggak ada di apotek dekat rumah. Kalau pakai Halodoc tinggal ketik di aplikasi lalu pesan kemudian bayar, kita tinggal menanti produknya tiba di depan pintu.

Seru kan?

Manfaat Menggunakan Asuransi HP untuk Perlindungan yang Maksimal

Tidak bisa dipungkiri bahwasannya saat ini handphone pintar atau yang lebih dikenal dengan smartphone telah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat luas. Handphone memang sudah tidak dianggap sebagai barang mahal lagi, tetapi  juga sebagai tempat menyimpan berbagai dokumen penting di dalamnya. Maka dari itu, asuransi HP sangat penting untuk dimiliki.

Asuransi Handphone AXA Mandiri
Sumber: Anserve.com

Manfaat Bergabung dengan Asuransi Handphone

Dengan adanya asuransi HP, berbagai resiko yang bisa menyangkut keamanan HP dan data penting di dalamnya bisa lebih terjamin. Inilah berbagai manfaat menggunakan asuransi HP selengkapnya.

1. Memulihkan Data Berharga di Handphone

Jika HP mengalami error dan data-data yang ada di dalamnya tidak bisa diakses dengan instant oleh pengguna, dalam hal ini jika HP tersebut diasuransikan, maka semua akan teratasi dengan mudah. Pihak perusahaan asuransi akan memberikan rekomendasi teknisi yang dapat memulihkan data tersebut serta menanggung biaya perbaikannya menurut syarat dan ketentuan perusahaan.

Jika memang nasabah memakai teknisi dari luar, maka hal tersebut diperbolehkan dan biaya pertanggungjawaban kerusakan akan tetap dicairkan mengikuti alur dan tahapan tertentu. Akan tetapi, proses ini lumayan lama jika dibandingkan melakukan perbaikan dengan teknisi yang telah disediakan oleh pihak perusahaan asuransi.

2. Melakukan Penghematan Uang

Manfaat berikutnya dengan mendaftar asuransi HP yakni nasabah akan lebih hemat dalam hal mengeluarkan uang. Hal ini bisa terjadi karena asuransi bisa mengcover biaya kerusakan perangkat HP yang terkadang bisa mencapai nominal jutaan rupiah. Bayangkan saja, jika HP sering rusak, bisa dipastikan bahwa pengguna akan kewalahan untuk mengeluarkan biaya perbaikannya.

Oleh sebab itu, mendaftar asuransi HP sangatlah direkomendasikan. Dijamin keuangan akan tetap stabil dan aktivitas menggunakan HP pun akan tetap aman dan nyaman. Pilihlah asuransi yang tepat dan terpercaya yakni seperti halnya di AXA Mandiri yang sudah berpengalaman selama puluhan tahun.

3. Melindungi Layar dan Motherboard Handphone

Komponen layar dan motherboard handphone adalah 2 komponen utama yang rawan terhadap kerusakan dan harganya juga sangat mahal. Untuk satu kali kerusakan, pengguna bisa menghabiskan uang jutaan rupiah. Oleh karena itu, jika mempunyai handphone mahal dan komponen perangkat keras di dalamnya juga terhitung mahal, lebih disarankan untuk mendaftarkan HP tersebut pada layanan asuransi HP.

Dengan begitu, jika ada permasalahan terhadap LCD dan motherboard, pengguna akan tenang karena semua biaya pelayanan akan dicover oleh pihak perusahaan asuransi selama nominalnya masih berada pada jumlah dana pertanggungjawaban maksimal. Mendaftar asuransi tidak akan pernah membuat nasabah rugi, tetapi hal itu akan mendatangkan kemanfaatan yang sangat banyak bagi mereka.

4. Mengganti Kehilangan Handphone

Jika HP nasabah hilang karena sebab pencurian atau jatuh di jalan, hal tersebut juga akan diganti menggunakan biaya yang dipertanggungjawabkan oleh asuransi HP yang dimiliki. Sistem penggantian ini adalah biaya yang diberikan akan sama dengan biaya pembelian baru HP yang hilang dan sudah terdaftar dalam asuransi tersebut.

Jika ingin membeli HP dengan tipe dan merk lain juga diizinkan. Akan tetapi, harganya maksimal harus sama dengan pembelian baru HP yang hilang. Jika nasabah memilih HP yang nominalnya melebihi biaya pertanggungjawaban asuransi maksimal, hal tersebut tidak akan dicover oleh biaya asuransi dan mereka wajib membayar secara pribadi biaya kelebihan tersebut.

Asuransi Handphone AXA Mandiri
Sumber: blog.tracfone.com

Itulah beberapa manfaat memiliki asuransi HP. Mengingat peran dan fungsi HP yang sudah semakin vital saat ini, asuransi untuk menjamin HP dari resiko kerusakan dan kehilangan sangat penting untuk dipertimbangkan. Anda bisa memilih asuransi HP dari AXA Mandiri yang terpercaya.

Selain karena produk asuransinya yang menyediakan layanan berkualitas, AXA Mandiri direkomendasikan karena bisa fleksibel. Fleksibilitas dalam hal perubahan polis dan pembayaran premi itulah yang nantinya akan memudahkan nasabah asuransi itu sendiri.

Memutus Mata Rantai Anemia Demi Indonesia yang Lebih Sehat dan Kuat

Memutus Mata Rantai Anemia Demi Indonesia yang Lebih Sehat dan Kuat – Hasil Sensus Penduduk tahun 2020 dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Indonesia telah berada pada masa bonus demografi. Di Indonesia pada saat ini lebih banyak jumlah penduduk usia produktif dibandingkan anak-anak dan lansia. Sebanyak 70,72% penduduk Indonesia berusia 15-64 tahun. Jangan lupa pula bahwa 27,94% penduduk adalah Gen Z dan 10,88% Post Gen Z. Dua generasi inilah yang akan menjadi tulang punggung Indonesia di masa depan.

Generasi milenial? Mohon maaf, milenial tertua saja tahun depan sudah kepala empat. Justru generasi milenial memegang tanggung jawab untuk menciptakan Gen Z dan Post Gen Z yang lebih baik, antara lain dengan pengasuhan anak yang baik hingga penyediaan gizi yang prima.

Sejujurnya, kalau lagi ikut webinar dengan peserta orang-orang keren, saya cukup percaya pada bonus demografi. Akan tetapi, ada suatu masa ketika saya terjebak di tengah-tengah tawuran antar dua kelompok remaja—dan bahkan ada anak-anaknya—kok ya perasaan langsung nggak enak. Selain takut kesambit batu, tapi juga terbayang bahwa para pemuda-pemudi itulah yang akan menjadi masa depan negeri ini. Kok kelakuannya begitu?

Stunting

Kita sudah seringkali mendengar tentang stunting. Meski sekilas tidak terlihat korelasi stunting dengan masa depan negeri, tapi ternyata bukan hanya berhubungan melainkan punya pengaruh signifikan. Dari berbagai referensi diketahui bahwa pada kondisi stunting itu  terjadi gangguan proses pematangan neuron berikut terjadinya perubahan struktur dan fungsi otak yang pada akhirnya dapat menciptakan kerusakan permanen pada perkembangan kognitif.

Dampaknya kemudian? Tidak main-main karena yang terganggu adalah kemampuan berpikir dan belajar anak. Ujungnya mungkin ke prestasi, tapi kalau saya sih memandang bahwa berhenti pada gangguan kemampuan berpikir dan belajar saja tanpa harus memandang prestasi sudah merupakan masalah besar bagi negeri ini. Kalau mau ditarik menjadi kepentingan yang lebih besar adalah kalau anaknya sudah besar maka pengaruhnya pada produktivitas kerja dan ujungnya sekali adalah menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan tingkat kemiskinan.

Padahal, salah satu penyebab stunting tersebut ya karena kemiskinan juga. Jadinya kan kayak lingkaran setan. Lingkaran setan tersebut mirip dengan yang dipaparkan oleh Dr. dr. Diana Sunardi, MGizi, SpGK dari Indonesian Nutrition Association pada webinar ‘Peran Nutrisi dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi’ bahwa siklus stunting itu kurang lebih sebagai berikut:

Bicara gizi sebenarnya akan banyak sekali poinnya. Akan tetapi, pada post kali ini kita akan spesifik pada zat besi dan kaitannya dengan Anemia Defisiensi Besi yang memang presentase kejadiannya terbilang cukup tinggi di Indonesia.

Anemia Defisiensi Besi

Anemia sendiri secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi rendahnya kadar Hemoglobin dibandingkan dengan kadar normal. Hal ini menunjukkan kurangnya jumlah sel darah merah yang bersirkulasi. Jumlah sirkulasi itu dapat dilihat pada tabel klasifikasi. Angkanya tentu berbeda-beda sesuai kondisi masing-masing. Ibu hamil, misalnya, angka 11 sudah disebut non anemia. Pada kondisi seorang perempuan usia diatas 15 tahun tidak hamil, angka tersebut sudah masuk ke dalam anemia ringan. Bagaimanapun, kondisi-kondisi seperti masih anak-anak dengan rentang usia masing-masing, termasuk juga kehamilan, merupakan kondisi tubuh yang berbeda mekanismenya dengan tubuh normal pada umumnya.

Prevalensi anemia di Indonesia terbilang cukup tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyebut bahwa rentang prevalensi anemia paling kecil 15,1% yaitu pada orang berusia 25-34 tahun. Sedangkan pada usia 0-59 bulan serta lebih dari 75 tahun terbilang tinggi yakni 38,5% dan 42,3% sesuai dengan infografis berikut ini:

Kejadian anemia di Indonesia ini menjadi bagian dari permasalahan gizi di Indonesia. Sesuai bahan yang dipaparkan pada Webinar ‘Peran Nutrisi dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi’, bahwa permasalahan anemia pada ibu hamil serta remaja dan usia produktif memiliki korelasi dengan kejadian stunting di Indonesia yang mencapai 37,2%. Padahal, stunting itu terkait dengan gizi pada masa tumbuh kembang anak. Bagaimana dong nasib negeri ini ketika gizi para generasi penerus pada periode emas tumbuh kembangnya justru tidak terpenuhi?

Zat Besi dan Pertumbuhan Anak

Ada alasan utama ketika anemia menjadi salah satu parameter yang penting untuk selalu diukur pada Riskesdas. Zat besi, bersama dengan vitamin, protein, karbohidrat, mineral, dan kalsium menjadi elemen-elemen penting dalam pertumbuhan anak.

Hal yang menarik sebenarnya kebutuhan zat besi harian tubuh itu tidaklah banyak-banyak amat, hanya saja melihat prevalensi yang cukup besar berarti di Indonesia ada masalah dalam pemenuhannya. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Untuk Masyarakat di Indonesia, disebutkan bahwa kebutuhan kecukupan gizi untuk zat besi adalah sebagai berikut:

Nah, kalau kita fokus pada Anemia Defisiensi Besi, sebenarnya penyebab paling utama itu adalah dari asupan makanan. Sebagian kondisi memang terjadi karena infeksi atau penyakit kronis maupun penyebab lainnya, tetapi tetap yang paling mendasar adalah asupan makanan. Sudah menjadi semacam rahasia umum bahwa masalah asupan makanan itu memang merupakan kendala yang biasa terjadi. Paling utama tentu saja dominasi pangan nabati yang bermuara pada asupan energi dan protein yang rendah sehingga kemudian terjadi defisit energi, protein, dan mikronutrien.

Lebih lanjut, faktor-faktor asupan pada anemia defisiensi besi antara lain terkait dengan asupan yang rendah—terutama besi heme, asupan vitamin C yang juga rendah, konsumsi sumber fitat maupun tannin yang berlebihan, serta diet tidak seimbang. Itu secara umum ya. Kalau untuk anak-anak, lebih spesifik lagi yakni pemilih makanan (picky eater), asupan makanan yang tidak bervariasi, serta kondisi tertentu yang kemudian menyebabkan gangguan penyerapan maupun kekurangan asupan besi.

Jadi, wahai bapak dan ibu millennial, ketika anak hanya mau makanan yang itu-itu saja, kiranya kita perlu melakukan siasat dengan lebih gemilang. Saya paham bahwa itu akan sulit sekali. Bulan depan tepat setahun saya mengasuh anak secara full di rumah karena kondisi pandemi dan kebetulan saya bisa Work From Home (WFH) karena statusnya lagi kuliah. Persoalan makan ini memang pelik dan terancam bikin orangtua hipertensi karena anak susah betul makannya padahal orangtua sendiri lagi banyak kerjaan karena WFH.

Sulit, tapi ya memang harus dicarikan jalannya. Cara-cara absurd seperti makan nasi pakai selai buah kadang-kadang saya lakukan demi bisa menyelipkan kandungan-kandungan yang tidak dia sukai di sela-sela nasi agar gizi anak tetap terjaga. Tujuan utamanya kan agar anak tidak kekurangan zat gizi, termasuk juga tidak kekurangan zat besi dan berdampak pada anemia.

Penyerapan Zat Besi

Kita dapat membedakan zat besi menjadi heme dan non heme. Besi heme yang biasanya ada pada protein hewani masuk ke dalam tubuh lewat makanan sehingga masuk ke dalam pencernaan dan diubah menjadi asam amino dan heme. Heme ini kemudian dioksidasi menjadi hemin yang masuk ke dalam sel untuk kemudian mengalami oksigenase.

Di sisi lain, besi non heme dibantu penyerapannya oleh enzim duodenal cytochrome B alias cytochrome B reductase 1, komponen makanan, serta Vitamin C. Akan tetapi pada saat yang sama dihambat penyerapannya oleh fitat, polifenol, fosfat, hingga kalsium dan zinc. Fitat sendiri terkandung dalam sumber makanan nabati—yang kandungan lainnya tentu dibutuhkan juga oleh tubuh. Fitat juga seringkali disebut sebagai pencuri mineral. Demikianlah yang terjadi pada penyerapan zat besi.

Lho, sumber makanan nabati kan kita butuhkan? Ya memang. Itulah gunanya keseimbangan dalam menu makanan. Zat besi dapat kita peroleh dari beragam sumber sebagai berikut:

Adapun untuk sumber vitamin C tentu kita agak lebih mengenalnya. Dalam satuan mg/100gram, beberapa sumber vitamin C adalah paprika merah (190), jambu biji (108), cabe (84), kelengkeng (84), hingga mangga (41) dan jeruk (30-50).

Gejala dan Dampak Anemia

Gejala anemia dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Secara khusus pada ibu hamil akan tampak wajah terutama kelopak mata dan bibir yang pucat, berikut kurang nafsu makan, lesu dan lemah, cepat lelah, hingga sering pusing dan mata berkunang-kunang. Itu sebabnya pada AKG di atas ibu hamil disebut perlu tambahan zat besi terutama pada trimester 2 dan 3.

Anemia pada kehamilan bukanlah sesuatu yang dapat disepelekan. Anemia pada kehamilan dapat berdampak pada kejadian pre-eklamsia, infeksi, kelahiran prematur, gangguan fungsi jantung, gangguan pertumbuhan janin, hingga perdarahan pasca melahirkan.

Lebih lanjut pada anak-anak, gejala yang timbul kok ya semacam tidak asing ya. Jadi, mari kita para orang tua milenial untuk bertanya-tanya dengan kritis ketika anak rewel. Rewel itu pertanda nakal sehingga harus dimarahi atau justru karena kita kurang memberikan asupan zat besi kepadanya? Saat anak tampak tidak bisa berkonsentrasi, jangan-jangan juga karena dia anemia.  

Dampak jangka panjang anemia tidak ada yang baik. Daya tahan tubuh menurun, paralel dengan infeksi yang berpotensi meningkat. Di sisi lain, karena infeksi meningkat jadi mudah sakit dan muaranya adalah kebugaran turun, prestasi juga turun, apalagi kemudian kinerja, tentunya ikut turun. Hal inilah yang perlu kita antisipasi sejak dini.

Gizi Berimbang

Berdasarkan uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa yang utama adalah asupan gizi berimbang. Apabila asupan kita dan anak kita didominasi oleh sumber besi non heme—dan mengingat kita juga mengonsumsi sumber makanan yang mengandung fitat—maka pastikan ada unsur seperti vitamin C yang mampu meningkatkan penyerapan zat besi. Sumber-sumber gizi sudah dapat dicapai melalui fortifikasi makanan, baik pada tepung terigu/beras, biskuit, hingga susu.

Nah, bicara soal susu, saya tentu harus dengan bangga memperkenalkan anak saya sebagai Anak SGM besutan Danone Indonesia. Seperti saya ceritakan tadi bahwa sejak pandemi ini dia bersama saya di rumah. Sebelumnya, dia di daycare. Paling seru adalah kalau dapat laporan dari aunty di daycare bahwa susunya habis. Kalau sudah begini, maka saya akan memanggil ojol untuk delivery. Menariknya adalah toko tempat membeli susu itu hanya berselisih 3 ruko dengan daycare. Jadi, kayak suka disangka ngerjain driver padahal memang bener-bener beli susu pertumbuhan buat anak.

Danone Indonesia termasuk salah satu stakeholder di bidangnya yang menyadari bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami beban permasalahan nutrisi tiga rangkap alias selain gizi kurang tapi ada juga obesitas, anak dan remaja Indonesia cenderung mengalami defisiensi makronutrien.

Dalam beberapa tahun terakhir, Danone Indonesia telah melakukan sejumlah kegiatan dalam upaya mengatasi beban nutrisi tersebut seperti kampanye Isi Piringku yang mempromosikan konsumsi gizi seimbang dan gaya hidup sehat pada anak usia 4-6 tahun melalui guru dan orangtua yang sudah melibatkan lebih dari 4 ribu guru di 8 provinsi dengan sasaran lebih dari 40 ribu ibu dan siswa PAUD. Ada juga gerakan Ayo Minum Air (AMIR) untuk meningkatkan kebiasaan minum 8 gelas air per hari pada anak sekolah dan sudah melibatkan lebih dari 1 juta kader PKK untuk menyasar hampir sejuta siswa SD serta lebih dari sejuta siswa PAUD.

Hadir pula program pemberdayaan ibu-ibu kantin sekolah untuk menyediakan makanan ringan dan sehat bagi siswa. Sudah ada 234 agen Warung Anak Sehat aktif beserta 300 guru terlatih dan 6.000 ibu serta 27.000 anak yang terlibat. Sayangnya kantin sekolah lagi kosong karena pandemi. Semoga sesudah program vaksinasi COVID-19 dari pemerintah, Warung Anak Sehat dapat kembali aktif.

Dalam kerjasama kolaborasi dengan FK Universitas Indonesia dan Kementerian Desa dan PDTT, Danone Indonesia turut serta dapat penurunan angka stunting 4,3% dalam 6 bulan dengan perbaikan sistem rujukan bagi anak-anak gizi buruk dan penguatan peran fasiltias kesehatan serta prioritas intervensi gizi khusus untuk anak-anak yang berisiko tinggi mengalami stunting.

Sekali lagi perlu kita pahami bawa dampak gizi anak itu sangat krusial bagi kemajuan bangsa. Orang tua millennial terutama dari kelas menengah ke atas punya kemampuan untuk mendorong gizi terbaik tapi kadang terbentuk oleh ketidaktahuan dan rasa malas. Saya sendiri sebagai bapak millennial menengah ke bawah, ketika mempelajari tentang anemia untuk anak mulai menyadari juga bahwa masih ada hal-hal yang kurang tepat pada menu-menu yang saya berikan kepada anak. Oya, post ini pun saya tulis sambil menyiapkan makanan anak berikut mengawasinya untuk mencoba makan sendiri dan ya kalau sudah kadung malas terpaksa disuapi. Seru sih ya jadi orang tua millennial. Apalagi pada umumnya orang tua millennial yang sadar finansial juga sangat berpikir ulang untuk memberikan adik pada anaknya sehingga boleh jadi pengalaman membesarkan anak pada periode emas tumbuh kembang yang sedang dialami adalah pengalaman terakhir—karena memang nggak akan punya anak lagi.

Pengetahuan akan gizi yang baik dari orang tua, disertai upaya keras untuk memberikan gizi secara optimal adalah hal yang kelak akan mampu memutus mata rantai anemia dan ujungnya nanti adalah Indonesia yang lebih kuat dan jauh lebih sehat.

Jangan lupa selalu menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas ya. Saya ini ya juga sudah bosan level advanced di rumah saja sejak Maret 2020, tapi kan demi ikhtiar terbaik untuk keluarga dan anak, tetap harus dilakukan sampai pandemi COVID-19 segera berlalu.

Tabik.

Tetap Produktif Dengan Meja Makan Minimalis dari iCreate.id

Tetap Produktif Dengan Meja Makan Minamlis dari iCreate.id – Sejak pindah ke rumah nyicil milik sendiri, ada perbedaan mendasar yang saya alami. Bukan apa-apa, pas masih di kontrakan dan sembari menanti KPR lolos plus renovasi interior, saya ‘terpaksa’ menggunakan kursi makan bayi yang dimodifikasi untuk bekerja dengan laptop. Benar-benar meja makan minimalis, lebih tepatnya meja makan bayi. Wkwk.

Sumber: Facebook Ariesadhar

Nah, di rumah yang baru, ada sedikit permasalahan baru juga. Kami pindah ke rumah yang ukurannya separo dari kontrakan sebelumnya. Jadi, kalau dulu saya bekerja menggunakan meja makan minimalis di ruang tamu dan Mama Isto bekerja di kamar belakang, maka di rumah baru pengaturan jadi berbeda.

Pertama, kamar kedua posisinya sempit sekali dan hanya bisa untuk menaruh meja setrikaan mini milik kami berikut meja belajarnya Isto. Mama Isto kemudian bekerja di singgasananya di kamar. Terus saya gimana?

Yha, saya pada akhirnya tetap di ruang yang tersisa dan merupakan persatuan ruang tamu, ruang keluarga, hingga dapur. Saya tentu tidak bisa punya meja kerja sendiri, kecuali rumah kami segede rumah di sinetron yang walaupun gede-gede tapi banyak konflik itu. Pada intinya, saya butuh meja makan minimalis.

Meja makan minimalis itu kemudian akan berfungsi ganda yakni benar-benar untuk makan, tetapi juga dapat saya gunakan untuk produktif bekerja terutama di kala Work From Home (WFH). Apalagi di semester terakhir ini, ketika saya benar-benar harus lulus kuliah karena kalau sampai nggak lulus, nggak akan ada yang mau membiayai semester kelima~

Esensi Meja Makan di Masyarakat

Bicara meja makan baik yang minimalis maupun yang lebih kompleks, kita dapat kembali ke sebuah penelitian jauh sebelum Indonesia maupun Korea Selatan merdeka. Penelitian itu berjudul Family Table Talk–An Area for Sociological Study, yang paper-nya ditulis oleh James H. S. Bossard pada tahun 1943.

Meja Makan Adalah Tempat Keluarga Berada Pada Kondisi Paling Bersahaja

Kita mungkin akan berdandan kalau mau pergi ke luar rumah. Atau bahkan sisiran jika hendak tampil webinar sekalipun. Kalau ada tamu juga biasanya kita berganti pakaian jadi agak sopan sedikit. Menurut penelitian tersebut, peristiwa makan bersama keluarga di meja makan sebenarnya adalah kondisi paling bersahaja suatu keluarga. Ketika nggak berpikir soal dandan, sisiran, dll. Tinggal berdoa, makan, lalu bercerita satu sama lain.

Meja Makan Adalah Tempat Interaksi Keluarga

Ketika berkumpul di meja makan, biasanya keluarga akan makan terlebih dahulu sebelum kemudian mengakhiri dengan bercerita satu sama lain. Menurut Pak Bossard, interaksi di meja makan itu ternyata merupakan hal penting dapat perkembangan kepribadian seseorang.

Meja Makan Adalah Tempat Untuk Mewariskan Budaya

Masih menurut Pak Bossard, ternyata makan bersama di meja makan merupakan kegiatan yang efektif untuk mewariskan budaya. Budaya itu tidak perlu jauh-jauh, sih. Tapi hal-hal sederhana semacam berdoa sebelum makan, makan dengan tangan atau sendok atau lengkap sendok dan garpu, serta hal-hal lainnya.

Transformasi di Meja Makan

Berdasarkan penelitian Inohe Tadashi di Jepang pada tahun 1993 yang berjudul Changes in Family Relations Reflected in the Dining Table From the Perspective of “The Family Theater Theory”, urusan meja makan ini mengalami transformasi dalam 3 bentuk.

Meimeizen

Dalam konsep ini, setiap makanan disajikan dalam tray terpisah. Setiap anggota keluarga menerima tray atau hakozen, yaitu kotak dengan ukuran 30x30x20 cm yang di dalamnya terdapat set lengkap perlengkapan makan untuk satu orang. Saat digunakan, kotak ini menjadi meja kecil.

Chabudai

Pada metode ini ada yang namanya handai dan shippokudai. Chabudai sendiri merupakan kelompok kecil meja makan yang ditempatkan pada tatami, sebagaimana kita lihat di kartun Sinchan atau Doraemon.

Gaya Barat

Nah, di Jepang sendiri pada tahun 1993 sudah terjadi pula pengaruh budaya barat sehingga muncul meja dan kursi. Sederhananya ya seperti yang ada di dunia pada umumnya sekarang ini.

Meja Makan Minimalis di iCreate.id

Alasan utama untuk menggunakan meja minimalis untuk saya tentu saja karena ruang yang tersedia juga minimal. Akan tetapi secara umum, estetika minimalis yang ada di ruang makan dapat menciptakan kesan luas dan juga bersih. Hal itu kemudian dapat dinikmati oleh keluarga yang turut serta makan berikut para tamu, kalau ada.

Meja Makan Minamalis Kayu

Di iCreate.id kita dapat menemukan sejumlah tipe meja makan yang sesuai dengan keperluan maupun ketersediaan ruang plus budget kita. Bagi yang doyan bahan kayu, terdapat Dresden Meja Makan Minimalis Kayu 4 Kursi Warna Putih Ukuran 120 cm. Produk ini menggunakan design Skandinavia yang cukup hits di kalangan rumah tangga muda zaman now. Sebagai meja makan, lapisan teratas dari Dresden dilapisi High Pressure Laminate (HPL). Jadi, lapisannya bukan material sheet. Meja makan minimalis ini menggunakan kaki dari kayu solid dan mampu menanggung beban hidup lebih dari 250 kilogram.

Dresden Meja Makan Minimalis Kayu (iCreate.id)

Untuk yang butuh ramai-ramai, tersedia Postdam Meja Makan Minimalis Kayu 4 Kursi. Sama-sama dilapisi HPL dengan ukuran sedikit lebih lebar daripada Dresden.

Postdam Meja Makan Minimalis Kayu (iCreate.id)

Selain Dresden, ada produk lain yang menggunakan nama kota lain di Jerman yaitu Hannover Meja Makan Kayu Minimalis. Meja makan ini terbuat dari solid beech wood dan MDF dengan ukuran 80×80 cm jadi cukup ringkas dan sangat tepat untuk kondisi seperti rumah saya. Nah, kalau versi bulat dari Hannover ada juga, namanya Heidelberg Dining Table.

Hannover Meja Makan Kayu Minimalis (iCreate.id)

Selain Heidelberg, ada juga Hamburg Meja Makan Bulat Kayu Ukuran 100 cm. Material kayu sendiri cenderung membuatnya lebih mudah dibersihkan dan harganya terbilang sangat murah kalau dibandingkan dengan Informa atau Ikea. Dengan ukuran yang sedikit lebih kecil, hadir Nurnberg yang sama-sama terbuat dari MDF dan solid beech wood. Ketebalan lapisan catnya kurang lebih 1,6 cm jadi lebih tahan goresan, ya namanya juga dipakai sehari-hari. Produk ini juga didukung oleh 4 bantalan kaki tahan aus yang mampu meredam kebisingan serta mencegah garukan di lantai, apalagi kalau pakai vinyil pasti terasa sekali.

Apabila ingin motif marmer, maka tersedia pula pilihan meja makan Munchen Bulat Motif Marmer dengan ukuran 110 cm. Daun mejanya menggunakan kayu MDF dengan finishing motif marmer yang mevvah. Lagi-lagi, cocok untuk pasangan muda yang lagi mesra-mesranya dan karena masih muda jadi rumahnya belum luas kayak rumah saya.

Meja Makan Minimalis Kaca

Tidak semua orang suka bahan kayu. Ada juga yang doyannya kaca. Dalam kedoyanan yang satu ini, di iCreate.id ada Hamburg Meja Makan Bulat Kaca Ukuran 100 cm. Dengan harga yang kurang lebih sama, meja makan bulat ini kurang lebih seperti Hamburg versi kaca. Kaca yang digunakan adalah tempered glass dengan kaki sama seperti Hamburg menggunakan powder coating leg. Tentunya kalau saya sendiri sedang tidak ingin punya meja kaca, soalnya lagi punya bocah yang sedang aktif-aktifnya (kalau lagi nggak mager).

Hamburg Meja Makan Bulat Kaca (iCreate.id)

Meja Makan Minimalis Extendable

Model ini sebenarnya paling cocok dengan rumah kecil karena penggunaannya sesuai kebutuhan ruangan. Salah satu yang ada di iCreate.id adalah Koln Meja Makan Minimalis Modern Putih Extendable dengan ukuran 160x90x76 cm. Nah, lebarnya dapat extend menjadi 200 cm sesuai dengan kebutuhan. Jadi, kalau pas ada tamu ada keluarga lain menginap, bisa digunakan untuk 6 kursi.

Koln Meja Makan Minimalis Modern Putih Extendable (iCreate.id)

Selain Koln, ada pula Waldenburg Meja Makan Extendable Motif Marmer. Sesuai kategorinya, desainnya minimalis tapi kesan mewahnya tetap ada. Ukurannya kurang lebih sama dengan Koln. Jadi, nggak perlu lagi ada bangku tembak kalau sedang ada orang tua atau mertua berkunjung ke rumah.

Waldenburg Meja Makan Extendable Motif Marmer (iCreate.id)

Mengingat pandemi belum usai, walaupun kuliah saya harus sudah segera selesai, maka upaya untuk tetap produktif dari rumah menjadi sangat penting. Orang-orang seperti saya tentu tidak sedikit, toh kan aturan di Jakarta saja masih 50% ngantor dan 50% WFH kan? Artinya, yang butuh untuk tetap produktif saat bekerja di rumah dan butuh meja makan minimalis yang dapat berfungsi untuk makan, ngopi, hingga kerja juga ada banyak.

Bagi yang ingin menggunakan meja makan minimalis maupun furniture online lainnya dari iCreate.id tapi tipenya adalah harus-melihat-baru-percaya, showroom iCreate.id tersedia di The Icon Business Park BSD dan Mendrisio Gading Serpong yang buka setiap hari.

Yuk, mari tetap produktif bekerja, berkarya, dan lain sebagainya di rumah masing-masing bersama iCreate.id.

Digitalisasi BPJS Kesehatan Sebagai Potret Transformasi e-Government di Indonesia

Digitalisasi BPJS Kesehatan sesungguhnya merupakan topik menarik dalam perspektif administrasi publik pada umumnya dan e-Government pada khususnya. Alasan pertama tentu saja karena yang diurus adalah kesehatan, suatu sektor yang sangat krusial dalam kehidupan manusia. Alasan berikutnya, seluruh core business dari BPJS Kesehatan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi itu sendiri.

Oh, kita tentu tidak sedang membahas perkembangan teknologi kedokteran. Walaupun BPJS Kesehatan membiayai suatu tindakan medis, tapi ranahnya bukan itu. Kita juga tidak sedang membahas formularium obat yang proses penyusunannya melibatkan banyak pakar dari berbagai institusi.

Pembahasan kita adalah pada proses bisnis BPJS Kesehatan yang mengumpulkan uang, mengelolanya, dan menggunakannya ketika memang benar-benar dibutuhkan. Tampak sederhana, tapi tentu tidak sederhana ketika yang diurus adalah 221.471.196 peserta (data per 31 Januari 2021) dengan rincian sebagai berikut:

Boleh dibilang, BPJS Kesehatan menjadi contoh pelayanan publik dengan peserta terbanyak se-Indonesia Raya. Kalau dibandingkan dengan e-KTP, akte kelahiran, dan sejenisnya, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri bekerja sama dengan dinas kependudukan dan pencatatan sipil di daerah, yang notabene adalah bawahannya Kepala Daerah. Bebannya banyak, tapi tetap masih ada pembagiannya.

Belum lagi, berbeda dengan layanan seperti e-KTP, sebagian publik yang dilayani BPJS adalah peserta yang membayar setiap bulan secara rutin. Ketika publik membayar atas sesuatu, maka publik akan lebih demanding. Dengan kata lain, publik yang dilayani BPJS Kesehatan itu akan cenderung lebih banyak komplainnya dibandingkan layanan publik lainnya. Di sisi lain, jaminan kesehatan yang dikelola oleh BPJS Kesehatan ini punya dampak sosial yang luar biasa.

Hasil sensus penduduk Indonesia tahun 2020 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa penduduk Indonesia pada September 2020 adalah 270,2 juta jiwa. Artinya, peserta BPJS Kesehatan jumlahnya sudah lebih dari 80% penduduk Indonesia dan semuanya itu diurus sendiri oleh BPJS Kesehatan.

Dengan beban kerja seberat itu, tanpa digitalisasi, sudah fix bakal ambyar. Kebayang dong jumlah kertas yang harus disiapkan dan dihabiskan untuk mengurusi pendaftaran, pembayaran iuran, hingga klaim dari 80% penduduk Indonesia jika layanan BPJS Kesehatan tidak didigitalisasi? Belum lagi pengelolaan iuran dari puluhan juta peserta mandiri yang tentu saja tidak terima apabila uang iuran itu tidak dikelola secara akuntabel.

6 Core Business BPJS Kesehatan

Seperti telah dijelaskan bahwa urusan BPJS Kesehatan itu banyak, tapi dalam tulisan ini mari kita fokus pada core business saja. Jadi, urusan pengadaan kertas buat operasional sehari-hari, dll tidak kita kulik.

Dari gambar di atas sebenarnya kembali terlihat urgensi digitalisasi. Sebab, harus ada data yang konsisten sejak layanan kepesertaan hingga pada pelayanan kesehatan yang dimaksud. Sehingga sejalan dengan yang pernah saya ceritakan sebelumnya saat periksa ginjal dengan dokter spesialis, datanya juga jelas perihal saya itu dirujuk dari fasilitas kesehatan mana, dengan gejala dan kebutuhan apa, di dokter spesialis mendapatkan treatment apa, dan lain-lain.

Ujung-ujungnya tentu agar saya sendiri bisa mendapatkan layanan kesehatan yang baik. Di sisi lain, rumah sakit yang melayani juga mendapatkan imbal jasa yang pas dengan treatment yang diberikan. BPJS Kesehatan sendiri juga mengeluarkan dana pada jumlah yang tepat sesuai treatment yan saya terima.

Sejujurnya ini agak mirip PPIC, kalau diceritakan satu per satu terlihat gampang. Tapi begitu dimasukkan pada realitas bahwa yang diurus adalah ribuan produk, ya jadinya pusing juga.

e-Government

Sebelum lebih lanjut mendalami digitalisasi, mari kita bahas sejenak soal e-Government. Sederhananya, electronic government alias e-Government alias lagi e-Gov merupakan penggunaan teknologi informasi oleh institusi di pemerintahan yang mampu mengubah relasi dengan warga negara, dunia usaha, hingga bidang pemerintahan lainnya. Kurang lebih begitu kalau menurut World Bank.

Seperti perkembangan lain di bidang administrasi publik, tadinya e-Gov diimplementasikan di negara maju. Ketika di negara maju sudah cukup mapan, negara berkembang hingga negara miskin kemudian merasa butuh juga. Salah satu metode yang cukup sering digunakan untuk mendorong implementasi e-Gov adalah dengan ‘memaksa’ negara miskin dan berkembang untuk menerapkan e-Gov jika hendak menerima pinjaman maupun bantuan dari negara maju. Lewat metode ini, e-Gov kemudian berkembang.

Konsep e-Gov sendiri tidaklah sesederhana layanan publik via internet seperti kita mengurus paspor daring atau menggunakan layanan BPJS Kesehatan via aplikasi Mobile JKN sebagai wujud hubungan Government to Citizens (G2C). Walaupun memang layanan itulah yang dirasakan oleh publik secara langsung.

Pada saat yang sama, G2C itu juga berkelindan dengan Government to Government (G2G) dan Government to Business (G2B). Dalam hal layanan BPJS Kesehatan, G2B-nya antara lain pengadaan barang/jasa untuk operasional BPJS Kesehatan. Sedangkan G2G-nya adalah relasi antara Kementerian Keuangan atau Kementerian Kesehatan.

Kehadiran e-Gov ini berangkat dari perkembangan paradigma New Public Management (NPM) yang ‘swasta banget’ sehingga efisiensi, kecepatan, dan transparansi menjadi kunci. Tidak heran pula bahwa dalam implementasi e-Gov, banyak konsep-konsep yang berangkat dari penerapan pada perusahaan swasta seperti yang paling sederhana: Customer Relationship Management. Dulu-dulu kalau menerima layanan pemerintah, ya harus manut apapun masalahnya. Sekarang? Bahkan ada kanal pengaduan pelanggan segala!

Digitalisasi Sektor Kesehatan

Perkembangan e-Gov kemudian juga masuk ke sektor kesehatan. Sebagaimana pada bidang lain, tentu ada disrupsinya. Sekarang kalau kita ke RS, sudah jarang membawa resep sendiri ke bagian farmasi untuk ditebus. Pada umumnya dokter sudah mengisi di sistem, lalu pada saat yang sama bagian farmasi mendapat informasinya, lantas mempersiapkannya. Dampaknya buat kita sebagai publik? Tentu saja, pelayanan jadi lebih cepat! Sering terjadi kita selesai mengurusi pembayaran, pas mampir ke farmasi, obatnya sudah tersedia. Walaupun pada prosesnya tentu muncul kerentanan di sana-sini sebelum akhirnya adaptasi terjadi.

Van Velthoven dari University of Oxford menyebut digitalisasi telah mengubah masyarakat secara revolusioner yang bahkan tidak pernah terbayangkan 1 abad silam, dengan mampu menyasar isu-isu lama seperti mutu layanan hingga biaya. Kotarba dari Warsaw University of Technology mengidentifikasi lima dimensi penting dalam digitalisasi yakni ekonomi, masyarakat, industri, enterprise, dan klien. Adapun e-Gov sendiri hadir sebagai elemen dari dimensi masyarakat. Aspek ini adalah yang utama dan paling mudah dinilai publik, sementara institusi pemerintah termasuk BPJS Kesehatan tetap harus sibuk mengembangkan 4 dimensi lainnya. Lagi-lagi, ujungnya sebenarnya adalah agar publik menerima layanan yang lebih baik dan kalau bisa malah terbaik sekalian.

Pada awal BPJS Kesehatan hadir, cukup banyak proses yang menuntut masyarakat mengurus segala sesuatu secara manual. Tidak usah jauh-jauh, ketika saya mengurusi tambahan kartu pada tahun 2018 untuk anak, ya tetap harus izin dari kantor dan mengantri ke kantor BPJS yang paling dekat dengan kantor. Model pelayanan seperti ini yang harus ditekan seminimal mungkin meskipun tentu tidak pula harus dihilangkan.

Dalam prosesnya, saya melihat dan mengalami sendiri betapa digitalisasi BPJS Kesehatan terasa langsung di gawai. Paling gampangnya adalah saya bisa melihat diagnosis dokter ketika memeriksakan diri menggunakan BPJS untuk kejadian yang bahkan sudah lewat 3 tahun. Hal ini mungkin tampak sepele, tapi dalam dunia kesehatan, riwayat tersebut sangatlah penting. Tidak selengkap rekam medis di fasilitas kesehatan tentu saja, tapi sudah cukup membantu peserta.

Transformasi Digital BPJS Kesehatan

Nah, perkembangan e-Gov tadi semakin didorong cenderung dipaksa oleh kehadiran pandemi COVID-19. Bagaimana tidak, wong kita diminta untuk sebisa mungkin di rumah saja, padahal banyak urusan yang harus jalan terus. Hampir semua instansi pemerintah bergerak lebih kencang karena didorong oleh kondisi tersebut, termasuk tentu saja BPJS Kesehatan.

BPJS Kesehatan sendiri kalau menurut saya sudah cukup ciamik e-Gov-nya dari dulu, seperti misalnya sudah bisa pindah faskes hanya pakai aplikasi dan tidak perlu ke kantor. Termasuk juga tidak perlu bawa kartu kemana-mana, cukup pakai aplikasi. Di era pandemi ini, BPJS Kesehatan juga mendorong peserta JKN-KIS untuk menggunakan layanan digital. Selain Mobile JKN yang tadi sudah saya kisahkan, ada juga BPJS Kesehatan Care Center 1500400, masih ada pula Chat Assitant JKN atau CHIKA, Voice Interactive JKN atau VIKA, sampai dengan Pelayanan Administrasi melalui WhatsApp atau PANDAWA.

Pilihan-pilihan tersebut sangat penting untuk disediakan oleh BPJS Kesehatan. Data Digital 2020 menyebut bahwa penetrasi internet di Indonesia ada di angka 64% dengan rata-rata waktu yang dihabiskan dalam sehari untuk menggunakan internet di gawai masing-masing mencapai 4 jam dan 46 menit! Alternatif-alternatif layanan yang sejalan dengan karakteristik masyarakat menjadi penting dalam upaya meningkatkan engagement dengan publik yang merupakan peserta BPJS Kesehatan. Ambil contoh PANDAWA, kehadiran layanan itu sangat masuk akal ketika disandingkan dengan data Digital 2020 bahwa 84% pengguna media sosial di Indonesia memakai WhatsApp. CHIKA dan VIKA bahkan sudah berteknologi artificial intelligence (AI) sehingga semakin relevan pula dengan perkembangan zaman.

Digitalisasi di BPJS Kesehatan juga menjadi jawaban dari sejumlah permasalahan yang dalam beberapa tahun terakhir diidentifikasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Pada Ikhtisar Hasil Pemeriksaan BPK RI Semester I Tahun 2020 disebutkan sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian seperti optimalisasi pemutakhiran dan validasi kepesertaan maupun pentingnya verifikasi klaim layanan yang didukung sistem pelayanan dan sistem kepesertaan yang terintegrasi dengan andal.

Pada akhirnya harus dipahami bahwa #DigitalisasiBPJSKesehatan bukanlah pekerjaan sekali jadi, melainkan senantiasa berkesinambungan. BPJS Kesehatan sendiri pada akhirnya harus juga dapat agile guna bisa beradaptasi dengan baik pada transformasi yang dibutuhkan sejalan dengan perkembangan dunia kesehatan hingga ekspektasi dari masyarakat sebagai peserta, terutama dalam elemen kecepatan dan ketepatan pelayanan.

Ketika pelayanan tepat dan cepat, maka peserta senang, fasilitas kesehatan juga senang, termasuk BPJS Kesehatan pun turut senang. Menyenangkan sekali, bukan?