Pentingnya Nama Bagi Orang Batak

Kalau William Shakespeare itu orang Batak, pasti dia nggak akan mengeluarkan pernyataan “apalah arti sebuah nama”. Ya, untungnya pujangga ternama itu bukan orang Batak. Coba kalau dia orang Batak, nggak mungkin cerita Romeo dan Juliet akan begitu kan?

Mungkin cerita Romeo dan Juliet akan jadi semacam yang dilakukan Opung saya yang mengejar anaknya yang kawin lari dengan naik kendaraan roda dua. Ya pada akhirnya yang kawin lari itu juga nggak terus bunuh diri biar romantis kok. Keduanya langgeng sampai kakek-nenek.

Jadi apa ini maksudnya?

Maksudnya adalah…

Advertisements

Selepas Nada

Tepuk tangan membahana di setiap sudut gedung konser ini. Tidak ada satu sudutpun yang lepas dari resonansi yang dihasilkan oleh ratusan pasang tangan yang beradu satu sama lain. Ini indah. Sebuah bayaran paling sederhana atas sebuah kerja keras.

choir

We want more.. We want more..

Suara tepuk tangan tadi, mulai disertai oleh kata-kata dari pemilik tepuk tangan. Mereka mau lagi? Aih, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada ini.

Mbak Risa masih berada di posisinya, di bagian tedepan panggung, menghadap kami para penyanyi, dan tentu saja membelakangi penonton. Bibirnya bergerak membentuk satu kata, dan kebetulan aku tidak dapat memahami kata yang hendak diucapkan oleh Mbak Risa.

Opo ki?” tanyaku pada Bang Roman, yang berdiri persis di sebelah kananku.

“Yogyakarta.”

“Oh.”

Konser yang sebenarnya telah berakhir ini akhirnya memberikan lagu tambahan. Okelah. Menurut pengalamanku, energi para penyanyi itu paling besar justru di akhir, sesudah konser yang sebenarnya selesai. Kenapa? Karena disitulah energi eksitasi paling tinggi tercipta.

Intro dibunyikan oleh pemusik, penonton yang masih bertahan segera bertepuk tangan mengiringi intro lagu paling ternama bagi setiap orang yang pernah hidup di Jogja.

“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu…”

Maka bait-bait mulai terlontar, tentunya diiringi oleh nada yang merdu. Semuanya berpadu dan menyusup ke segala sisi yang ada di gedung ini. Meski sejatinya, Yogyakarta itu adalah lagu galau, tapi menyertakan konteks sebuah kota penuh kenangan ini sejatinya sudah berhasil membuat orang yang mendengar justru merasa terkenang, bukannya galau.

“Senyummu… Abadi…”

Enaknya jadi anak choir laki-laki itu adalah selalu diletakkan di belakang. Dan menjadi lebih enak, ketika kemudian aku bisa selalu memantau seorang gadis yang ada di bagian Sopran. Seorang gadis yang tersenyum manis kepada penonton ketika lirik terakhir barusan didendangkan. Aku mengamati itu dengan jelas, dan tidak ada keraguan sama sekali bahwa itu adalah senyum paling indah di dunia.

Lepas konser adalah hal yang lain lagi. Semua penyanyi akan berserak ke keluarga masing-masing, atau ke teman masing-masing. Ucapan selamat selalu terlontar setiap kali seorang penyanyi bertemu keluarga atau temannya.

Lelah sontak lenyap kalau begini. Percayalah.

Tidak serta merta setiap penyanyi akan bubar jalan sih. Ada kalanya mereka justru saling bersalaman dan berpelukan sendiri terlebih dahulu. Bahwasanya latihan choir apalagi untuk konser itu adalah hal yang berat, itu adalah fakta tidak terbantahkan. Bahwa ada banyak friksi yang mungkin terjadi, itu juga ada realitas interaksi antar manusia. Bayangkan saja ketika dua minggu terakhir, kami para penyanyi latihan setiap hari selama lebih dari 6 jam. Mengulang dan mengulang terus lagu yang sama. Semuanya demi penampilan yang istimewa hari ini.

Sejatinya konser ini akan menjadi sangat emosional bagiku. Tentunya karena ini adalah konser terakhirku bersama choir ini. Jalan kehidupan sudah menuntunku ke tempat yang lain, yang meminta untuk ditaklukkan. Maka, malam ini mungkin adalah untai nada terakhir yang lepas dari bibirku di kota ini.

Mungkin. Kita kan tidak tahu tentang masa depan.

“Wei, selamat ya bro! Keren tadi bass-nya,” ujar Tini, teman kuliahku yang jadi penonton di konser ini.

“Hahaha. Iya dong. Thanks ya.”

“Eh, Leona. Selamat lho. Apik banget tadi.”

Tini kemudian menyapa Leona, yang entah bagaimana ceritanya sudah ada 1 meter dari posisiku berdiri.

“Makasih ya, Mbak.”

Ah, Leona ini. Kok bisa-bisanya disini? Baiklah, ini dia gadis sopran yang senyumnya paling manis itu. Inilah gadis sopran yang selalu membuat sudut mataku sekecil apapun akan berpaling dan memperhatikannya. Inilah gadis sopran yang sudah 7 tahun lamanya menjadi ratu di dalam hatiku. Dan inilah gadis sopran yang selama 7 tahun pula hanya menjadi impianku.

Tenang saja, 7 tahun itu adalah rahasia rapat milikku sendiri. Aku bahkan masih bisa berpacaran dengan dua gadis lain berturut-turut, meski di hatiku jelas-jelas hanya ada Leona. Yah, terkadang kita harus membedakan impian dan realita.

7

Cuma, entah kenapa, malam ini ada rasa membuncah dalam hati. Memohon untuk segera dilepaskan. Otakku mencoba melawannya, lagi-lagi demi membedakan impian dan kenyataan. Tapi kali ini hati mengalahkan otak, dia menuntunku untuk mendekati Leona. Dasar hati, ada banyak hal yang mudah kenapa dia memilih yang sulit?

“Na, pulang sama siapa?”

“Sendiri dong, Bang. Kenapa?”

“Langsung pulang?”

“Iyalah. Udah malam gini.”

“Hmmm, kalau tak ajak ke McD Jombor mau? Nanti pulangnya tak barengin deh.”

“Ngapain?”

“Pengen ngobrol aja. Kan besok aku udah mau cabut dari Jogja.”

Leona tampak berpikir sejenak. Segaris keraguan tampak dari raut mukanya. Toh aku pun pasrah kalaulah itu akan menjadi sebuah penolakan.

“Tapi nggak lama-lama lho ya, Bang.”

* * *

“Tadi sopran ada yang salah kan, pas lagu pembukaan?” tanyaku sambil meletakkan nampan berisi dua paket nasi ayam plus kentang, disertai dua gelas minuman coke.

“Iya kayaknya. Tapi di lagu yang sama bass-nya nggak kedengeran.”

“Ya iyalah. Rendah banget. Ditinggiin kasihan soprannya.”

Bagian terbaik dari menjadi anggota choir adalah ketika kita mempertahankan martabat jenis suara kita sendiri.

“Yang penting dapat tepuk tangan to Bang?”

“Hooh. Kira-kira kapan meneh ya, dapat tepuk lagi?”

“Nyanyi wae di jalanan. Paling juga ditepukin.”

“Enak wae. Gini-gini aku kan bass yang berkelas.”

Nggaya banget kowe, Bang.”

Ayam goreng yang berminyak itu segera masuk ke mulut kami masing-masing. Disela saos sambal warna merah dan sesekali bersama kentang. Seruputan coke kemudian menjadi penyerta yang manis. Tidak disarankan untuk sering-sering, semata-mata karena harganya belum cocok untuk ukuran dompetku.

Pada dasarnya, makan cepat adalah takdirku. Tidak ada teori mengunyah 32 kali. Bahkan ketika kecil, aku adalah orang yang sering cegukan ketika makan. Semakin dewasa, aku semakin pandai menggunakan gerakan peristaltik untuk menghabiskan makanan. Tidak baik sih memang.

Dan karena aku sudah selesai, maka marilah kita menuntaskan malam ini.

Tanganku segera masih ke dalam tas ransel yang kubawa, merogohnya ternyata tidak mudah. Ada seragam properti konser di dalam tas ini, belum lagi sepatu dan barang-barang lainnya. Sampai akhirnya tanganku mendapati yang dituju.

Sebuah buku berjudul “Odong-Odong Merah”.

“Na…”

Yang diajak ngomong masih asyik menghabiskan kentang gorengnya.

“Nih tak kasih.”

“Apaan, Bang?”

“Buku.”

“Punya siapa?”

“Punyakulah. Masak punyamu.”

Kosodorkan buku yang kuambil dari dalam tasku itu. Cover putihnya menjadi latar tertulisnya judul “Odong-Odong Merah”, disertai nama alfarevo.

“Kamu yang nulis, Bang?”

“Iya dong. Jadi nanti kamu tak bonusin tanda tangan. Hahaha.”

“Wuih keren. Aku kapan ya?”

“Pada saatnya.”

“Sebentar, Bang.”

Leona segera berlalu dari hadapanku dan menuju wastafel. Tidak lama kemudian, dia kembali dengan tangan yang mulus eh bersih. Bergegas pula dia membuka buku yang aku tulis itu.

“Ini bener penerbitnya? Sama kayak Marmut Merah Jambu dong?”

“Syukurlah. Kamu nggak tahu aja aku nunggu ini naskah terbit udah setahun. Hehe.”

Leona mencoba membalik-balik halaman yang ada di dalam buku. Sebuah buku yang aslinya adalah kumpulan kisah ngenes hidupku.

“Ehm, gini Na. Itu buku emang baru banget terbitnya. Jadi, sebelum orang lain di luar sana pada tahu. Aku mau pengakuan dosa duluan.”

Hell yeah! Aku mendefinisikan sendiri bahwa jatuh cinta adalah sebuah dosa.

“Coba dibuka bab 22, judulnya Cinta Diam-Diam,” kataku sambil menunjuk ke arah buku putih yang dipegang oleh Leona. Yang disuruh langsung mengikuti instruksiku.

Bab 22 itu kebetulan memang singkat, dan isinya mayoritas dialog. Jadi kalaulah panjang halamannya, itu lebih kepada habis karena teks yang di-enter saja.

“Kalau ingat, yang bagian akhir itu cerita waktu kita lewat selokan mataram, pas insiden helm hilang, Na.”

Leona diam saja. Kadung nanggung, maka baiklah kalau kita tuntaskan semuanya ini segera.

lilin

“Jadi begitulah, Na. Aku cinta dan akan selalu cinta sama kamu. Hanya memang aku sadar bahwa cinta yang ini benar-benar impian belaka. Makanya, aku cuma mau bilang itu kok. Toh, aku juga sudah tahu kalau kamu tidak merasakan hal yang sama.”

Leona masih diam, sejurus lantas menyeruput coke di hadapannya, yang mungkin isinya tinggal es batu, lalu beralih menatapku.

“Kok begini, Bang?”

“Nggak ngerti aku, Na. Semuanya berjalan dengan aneh ketika itu semua menyangkut kamu. Sekadar mencari tahu kamu single atau nggak dulu pas semester 1, itu saja sudah sulit. Dan semuanya lah.”

“Terus, kamu sama mantan-mantanmu?”

“Ya, hidup kan harus realistis juga, Na. Masak aku mau jomblo terus. Aku sih berharapnya cinta itu akan timbul sambil jalan. Nyatanya ya nggak.”

“Lha kalau sekarang?”

“Tujuh tahun itu lama lho, Na. Mungkin cinta itu bisa demikian karena dia nggak aku ungkapkan. Aku yakin dia hanya minta diungkapkan, langsung ke orangnya. Itu doang. Setidaknya sehabis ini aku bisa lebih realistis lagi dalam bermimpi.”

“Hahaha. Mimpi kok realistis Bang?”

“Habis ngimpiin kamu ketinggian, Na.”

“Emang kenapa sih?” tanya Leona dengan pandangan penuh selidik.

“Nggak lihat kalau kamu itu orangnya sangat adorable? Mungkin nggak banyak yang bilang kamu cantik, tapi semua setuju kamu menarik. Apalagi, mantannya kamu kan tampannya tiga kali lipat mukaku, Na. Kebanting dong nanti. Hehe.”

“Gitu doang?”

“Dan hal-hal lainnya yang mendukung sih.”

“Darimana kamu tahu aku nggak merasakan hal yang sama?”

“Lha, bukannya habis aku kasih kamu hadiah ulang tahun waktu itu, kamu jadi dingin kayak es batu gitu ke aku? Wong kita ketemu di kampus aja berasa nggak kenal gitu. Makanya, sejak itu sih aku mulai bisa realistis. Jadi ya aku nggak akan memaksakan apapun, atau meminta jawaban sekalipun. Aku cuma ingin bilang perasaanku saja kok. Mana kan sudah ditulis di buku, masak nanti kamu tahu dari orang, ya tambah bubar dunia.”

“Emangnya kenapa kamu ngerasa begitu, ehm maksudku, cinta gitu, ke aku Bang?”

“Nggak tahu. Perlu alasan ya?”

“Mestinya.”

“Sayangnya nggak ada.”

Leona menunduk lagi, matanya menerawang ke arah Ring Road Utara yang mulai sepi.

“Kalau kamu tahu keadaanku, kamu juga nggak akan mau sama aku, Bang.”

“Loh kenapa?”

Napas panjang dihela oleh Leona, tampaknya ada sesuatu yang amat penting yang hendak disampaikan.

“Aku ini ada glaukoma lho, Bang.”

“Terus?”

“Masih cinta?”

“Hahahaha. Na, Na. Sudah baca bab 22 kok masih nanya gitu. Kan udah jelas disitu, aku jatuh cinta sama Leona Mayasari itu sejak pertama kali mendengar nama itu. Mana tahu aku bentuknya kayak gimana? Begitu dua minggu kemudian, baru aku nemu foto kamu. Dua minggu berikutnya baru aku lihat kamu. Sampai tujuh tahun kemudian, kok ya perasaannya masih sama itu.”

“Jatuh cintamu aneh, Bang.”

“Makanya, perjalanannya juga aneh. Sebenarnya lebih aneh lagi kalau terus kita jadian sih. Hehehe.”

“Masalahnya kamu cuma bilang gitu, Bang. Kamu nggak nanya sama sekali kan tadi?”

“Enggg.. Iya sih. Nggak apa-apa deh. Kan ceritanya cuma mau bilang cinta, bukan mau cari pacar.”

“Oh ya udah kalo gitu.”

Semacam jawaban yang bikin aku tertantang.

Tarik nafas dalam-dalam. Mari kita tuntaskan!

“Aku cinta kamu, Na. Dan akan selalu cinta. Jadi, bolehkah aku terus mencintai kamu, sebagai pasanganku?”

Akhirnya lepas juga. Kalau tadi lega, sekarang lega banget!

“Cieee.”

“Yah, ini anak, ditembak malah bilang cieee.”

“Hahaha. Habis kamu lucu sih, Bang. Punya perasaan kok dibohongi.”

“Ya maka dari itu aku bilang ke kamu. Masak tiap pengakuan dosa, sama melulu. Pembohongan terhadap hati.”

“Iya. Iya. Hmmm, oiya lupa satu lagi. Kalau nih, kalau aku terima, emang kamu mau LDR-an?”

“Owh. Jadinya cita-cita S2 di negeri orang itu mau diwujudkan ya?”

“Gila. Kok tahu Bang?”

“SMS-mu dari tahun 2007 aja masih tak simpen rapi, Na. SMS-mu yang cerita lagi naik Pramex juga aku ingat. SMS kamu bilang merindukanku juga aku simpan rapi. Apalagi cerita soal cita-cita, ya aku ingat bangetlah. Nasib jadi melankolis sentimentil yang jatuh cinta.”

Hening melanda, seiring dengan semakin sepinya tempat ini. Ternyata sudah jam 12 malam aja.

“Baiklah, Bang. I’m yours now.”

Kalaulah ada yang lebih menyenangkan dari tepuk tangan penonton konser, maka itu adalah jawaban yang baru saja terlontar dari bibir manis Leona.

🙂

Taaruf

Sebetulnya saya menimbang berkali-kali untuk menulis ini. Bagaimanapun saya harus menghormati orang yang tindakannya kemudian membuat saya jadi menulis ini. Hmmm, ya sudah, asal saya kemudian menyamarkan semuanya, mestinya nggak masalah kan? Lagian, sebulan sesudah kejadian, HP-nya error, hilanglah semua bukti-bukti yang ada.

taaruf4

Jadi ceritanya, saya lagi antre mau sakramen tobat alias ngaku dosa, bukan ngaku-ngaku kalau berdosa. Soalnya, ya emang berdosa beneran. *jadi ingat belum penitensi*. Sedang asyik menunggu, sambil mendengarkan pembicaraan ‘khas’ bapak-bapak di lingkungan soal IMAN, masuklah pesan singkat, bunyinya kira-kira begini:

“saya ingin ta’aruf dgn antum boleh tidak?”

Pesan itu kemudian disertai nama, sedikit latar belakang, dan pertanyaan soal kriteria istri. Ya, namanya adalah si Anu, umur 2-3 tahun lebih tua daripada saya, dan pertanyaan terakhir itu cukup mengusik saya nan jomlo maksimal bin menajun. Ada 3 diksi dari SMS itu yang kemudian jadi pertanyaan buat saya, yakni ta’aruf, lantas antum, dan syukron. Jarang dapat SMS macam itu soalnya.

Antum kemudian saya dapati disini, bermakna mirip ‘anda’, tapi dalam konteks halusnya Arab. Lalu juga syukron, pada sumber yang sama bermakna ucapan terima kasih. Selesai untuk yang ini. NAH! Soal ta’aruf, saya jadi bingung sendiri. Sebagaimana yang saya lihat di film Ayat-Ayat Cinta, ta’aruf itu pertemuan Fahri dengan Aisyah. Eh, busyet, Aisyah-nya cantik nian disana. *salah fokus*. Lalu juga obrol-obrol saya dengan rekan yang muslim, bahwa ta’aruf itu kaitannya erat dengan jodoh dan pernikahan. Klik dengan isi pesan singkat yang bertanya soal kriteria istri. Lalu saya lari ke kamus, ternyata artinya nggak gitu-gitu juga. Ternyata artinya hanya PERKENALAN, dan ditulis sebagai taaruf sebagai bentuk yang sudah di-Indonesia-kan.

Terus, saya cari sumber lain. Kalau disini bilangnya:

Ta’aruf proses perkenalan dan pendekatan antara laki-laki dan wanita yang hendak menikah. Ta’aruf sangat berbeda dengan pacaran. Ta’aruf secara syar’i memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan ta’aruf adalah dari segi tujuan, cara, dan manfaat.

Kalau disini, bilangnya:

secara bahasa adalah memperkenalkan atau perkenalan. kata tersebut dipakai dalam dunia islam untuk meminang seorang perempuan lajang(gadis) melalui orang lain yang sejenis, atau untuk melihat seberapa sempurnanya gadis yang nanti akan dilamar.

Kalau disini, ditulis:

Jadi pengertiran ta’aruf itu adalah saling mengenal. Kalau ada istilah saling mengenal, maka tentu bermagna lebih dari satu orang atau sekelompok orang.

Dan sumber terakhir yang saya lihat adalah disini, dan tertulis:

Taaruf adalah kegiatan bersilaturahmi, kalau pada masa ini kita bilang berkenalan bertatap muka, atau main/bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan dengan penghuninya. Bisa juga dikatakan bahwa tujuan dari berkenalan tersebut adalah untuk mencari jodoh. Taaruf bisa juga dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk dilanjutkan ke jenjang khitbah – taaruf dengan mempertemukan yang hendak dijodohkan dengan maksud agar saling mengenal.

Nah, terus?

Sebenarnya sih, saya malah jadi bingung. Pertama, bingung kenapa saya diajak taaruf. Kedua, apakah mbaknya itu sebelum kirim SMS itu nggak lihat nama depan saya semacam itu. Ketiga, saya sih tidak hendak memperpanjang soal ini. Satu hal, dalam pemahaman yang saya percaya, pacaran itu diperlukan. Lha wong pacaran bola bali ki putas putus wae. Padahal di dalam keyakinan saya, pernikahan itu kan tidak terceraikan, kecuali oleh maut.

Ini soal keyakinan saja kok. Siapapun boleh meyakini yang menurutnya benar. Hanya saja, si pengirim pesan singkat kemarin, mengirimnya ke orang yang salah. Itu saja kok masalahnya. 🙂

Aku, Di Depan Pintu

“Yang ini bagus, Say.”

Dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan berhenti di hadapanku. Mata mereka masing-masing tertuju ke arahku. Kumaknai adanya sebuah rasa penasaran dalam tatapan mereka kepadaku. Sejurus kemudian, mereka berdua saling berpandangan. Sedetik berikutnya, tangan si laki-laki sudah mendekat ke arahku.

Tangan kokoh itu akhirnya sampai juga di tubuhku. Dibelainya sejenak, kemudian direngkuhnya tubuhku yang mungil ini dan dibawanya mendekat ke arah kedua bola matanya.

Kurasakan tatapan matanya memandangi setiap centimeter tubuhku dengan saksama. Ada rasa enggan di dalam diriku. Aku mulai tidak nyaman dengan keadaan ini. Masalahnya, aku tidak bisa berontak, protes, atau apapun. Tugasku memang hanya diam.

“Boleh juga. Coba cari yang lain dulu ya, Say.”

Perlahan, tangan kokoh itu membawaku kembali k posisiku semula. Rasa syukur muncul dalam benakku. Ya, walaupun sejatinya aku boleh dimiliki oleh siapapun, tapi selalu ada rasa hendak memilih seseorang yang berhak memilikiku.

Sepasang kekasih itu akhirnya berlalu dari hadapanku, mungkin hendak mencari yang lebih sesuai dengan keinginan mereka.

Lalu lalang manusia menjadi sesuatu yang biasa bagiku. Berposisi tepat di depan pintu masuk adalah takdir yang tidak bisa dielakkan. Dan tentu saja, siapapun yang hendak masuk ke tempat ini, pasti akan melewatiku. Syukur-syukur ada yang menengok sebentar dan tampak tertarik padaku.

Sebuah keseharian yang perlahan membuatku terbiasa. Sebuah pengalaman yang pada akhirnya mampu membuatku memahami, sosok yang menurutku pantas untuk memilikiku.

Tapi sekali lagi, aku tidak berada pada posisi memilih, karena aku hanya bisa dipilih.

Tiba-tiba, seorang gadis muda–sendirian–mendekat ke arahku. Badannya yang mungil lantas membungkuk sehingga posisiku dan wajahnya cukup dekat. Tangannya kemudian terjulur membelai tubuhku.

Dan aku merasakan sebuah kehangatan yang lain.

Diam-diam kuintip tatapannya kepadaku. Ehm, kurasakan sesuatu yang lain dari pandangan yang muncul dari dua bola mata yang sedikit berkantong mata itu. Tangannya membolak-balik tubuhku dengan ringan.

Lima menit ia terdiam sambil memegang tubuhku, dan aku merasa nyaman. Bolehkah aku meminta untuk dimiliki orang gadis ini?

Sejenak tubuhku berpindah ke tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang handphone flip yang barusan dirogoh dari sakunya. Aku hanya dapat mengamati jemarinya beraksi di keypad. Dan karena takdir pula, aku tidak berhak bertanya tentang kegiatan yang ia lakukan.

Tiga menit ia asyik dengan handphone flip itu dan kemudian menutup kembali handphone putih itu. Kulihat senyum manis tersungging di bibirnya, bertambah indah karena sebuah tahi lalat kecil di dekat bibir itu.

Pertanda apakah ini?

Tubuhku kembali berpindah ke tangan kanannya. Kurasakan sedikit pertanda baik untuk perpindahan ini. Perlahan gadis manis ini melangkah menjauh dari tempatnya berdiri semula. Langkah itu semakin menjauh dan kutengarai mendekat ke sebuah tempat penentuan nasib.

Kassa.

Yeay! Aku bersorak dalam hati. Bahwa kembali kutegaskan bahwa posisiku bukanlah untuk memilih, tapi aku selalu ada keinginan untuk memilih seseorang yang hendak memilikiku. Aku hendak dipilih oleh orang yang kuinginkan.

Dan kini, sepertinya, aku hendak mendapatkan keinginanku.

Aku berpindah dari tangan gadis manis itu ke tangan kasir yang sebenarnya tidak kalah manisnya. Dalam waktu yang teramat singkat, aku sudah berada dalam tempat khusus yang siap membuatku mudah dibawa. Pada saat yang sama, gadis manis itu menyerahkan sejumlah uang. Dan sejurus kemudian, aku kembali ke tangannya.

Tangan kanan gadis manis itu menyambutku dari tangan kasir. Pada tangan yang sama, ia juga memegang handphone flip yang tadi kulihat. Sejenak kubaca teks yang ada di layar yang cukup lebar.

“Barusan membeli Perahu Kertas, walaupun udah pernah baca tapi minjem.”

Dua langkah sesudah meninggalkan kasir, aku dipindahkan ke tangan kiri. Sementara tangan kanannya menyelesaikan pesan singkat yang isinya sudah kubaca itu.

Sebuah proses transaksi selesai, dan aku telah menjadi milik gadis manis ini. Nanti aku akan tahu namanya dan tentu saja kehidupannya. Dari tatapan dan senyumnya, aku membayangkan akan menikmati sebuah petualangan tentang mimpi dan hati, persis dengan yang tertulis pada diriku.

Inilah kisahku, sebuah novel Perahu Kertas.

Nenek Ini Nikahi Cinta Pertamanya Setelah Pisah 42 Tahun

Kakek dan nenek ini bisa bersatu lagi setelah 42 tahun lamanya terpisah. Kakek dan nenek yang pernah pacaran saat masih remaja itu bisa bertemu lagi berkat Facebook.

Maureen Wallace bertemu lagi dengan pacar remajanya, Hugh Forsythe setelah ia bercerai dari suaminya, Dugald Stewart. Maureen dan Hugh pernah menjalin asmara selama empat bulan pada tahun 1970. Saat itu mereka tinggal di kawasan Troon, Skotlandia.

Saat itu, Maureen yang memutuskan hubungan tersebut. Namun Hugh rupanya tidak pernah melupakan wanita yang jadi cinta pertamanya itu. Setelah lama berpisah dari istrinya, Hugh mulai mencari Maureen.

“Aku tidak pernah melupakan Maureen selama bertahun-tahun. Dia adalah cinta pertamaku dan tidak akan membiarkannya pergi lagi,” ujar Hugh (60 tahun) seperti dikutip dari Daily Mail.

Hugh kemudian mencoba mencari Maureen di Facebook, setelah puluhan tahun berlalu. Dia mengirimkan banyak pesan ke orang-orang bernama Maureen Stewarts yang ditemukannya di situs jejaring sosial itu.

Hingga akhirnya, Hugh mendapatkan balasan dari wanita impiannya. Apa balasan Maureen? “Apakah kamu Hugh Forsythe yang punya saudara laki-laki dari Barassie dan pernah kencan dengan gadis asal Barassie?” begitu isi pesannya.

Dengan senyum sumringah, Hugh pun membalas pesan tersebut. Sejak saat itulah mereka kembali berkomunikasi dan pergi ke tempat-tempat saat mereka berkencan dulu di 1970.

Pasangan yang terpisah selama 42 tahun itu, kemudian resmi menikah sebelum Natal. “Kami sangat beruntung diberikan kesempatan kedua. Tidak banyak orang mendapatkan itu,” ujar Maureen yang kini berusia 62 tahun.

Setelah menikah, keduanya memutuskan tinggal di daerah yang dulu membuat cinta mereka bersemi yaitu di Troon, Skotlandia. Mereka juga kini mengasuh cucu Hugh yang berusia 11 tahun, Dylan.

Dikutip asli dan langsung dari wolipop