Tulisan ariesadhar.com di Laman Pertama Google

Tulisan ini sekalian promosi buat siapapun yang ingin bekerjasama dengan saya perihal blog. Hehe. Soalnya, kemaren saya iseng mengetik beberapa kata kunci dan agak kaget juga mengetahui bahwa beberapa tulisan yang ada di blog ini nangkring di laman pertama pencarian via Mbah Google. Tidak selalu nomor 1, sih, tapi ada deh di halaman 1 Google. Apakah itu pertanda saya sudah mulai bisa SEO? Ah, saya mah nggak mikir. Blog ini kan buat suka-suka-hore-hore, kalau ada pendapatan itu bonus.

Tulisan yang greng (mengutip bahasa dari seorang petinggi yang kelakuannya tidak bisa diprediksi) di blog ini umumnya adalah tentang fakta-fakta. Itu tentunya sejak saya menulis 77 Fakta Unik Mahasiswa Sanata Dharma. Maka jelaslah ada beberapa kata kunci yang terkait fakta-fakta itu yang nangkring di laman pertama Google, seperti:

Fakta Sadhar

Itu si nomor 2 sebenarnya tulisan saya yang dicopas orang (#akurapopo). Terus yang nomor 3, itu turunan dari si nomor 1, lumayan dong, menginspirasi sesama.

Continue Reading!

Advertisements

Tentang Lovefacture (2)

Senangnya melihat Lovefacture bisa tembus 50-an visit dalam sehari. Entah hari apa itu. Pokoknya menyenangkan. Lebih menyenangkan lagi ketika ada yang masukin keyword Google lovefacture 31, atau lovefacture 35. Nggak nyangka judul ngawur saya ini akan ada yang nyari di Google. Yeah, walaupun itu pasti mereka yang ada di Twitter saya. Follower di Twitter hanya 200-an, dan memang posting Lovefacture hanya di Twitter, tidak di FB. Padahal di FB temannya 1000-an.. hehehe..

Mulai banyak pertanyaan, soal nama tokoh, atau siapa sih sebenarnya Alex, Bayu, Destia, dan Wilson. Mulai ada aja yang menyambung-nyambungkan. Nama sih pasti saya ambil dari nama orang di sekitar saya atau yang pernah saya temui. Alex jelas pakai nama saya–tapi bukan berarti tokoh itu saya kan? Bayu dari nama temen kos, Destia dari nama temen (pdhl adek kelas jauh banget), yang nama panjangnya sebenarnya juga ngambil nama temen kantor. Mau tahu nama panjangnya Destia di Lovefacture? Cari aja ya. Hehehe.. Juga Wilson, itu nama sepupu saya. Lalu Grace? Itu adalah nama yang dulu sering disebut di kos-kosan. Terus Eta? Itu nama perusahaan farmasi yang obatnya banyak nongol pas baksos. Nama lengkapnya mengacu ke nama seorang teman guru, yang juga blogger tapi blognya kok makbedunduk ilang. Terus, Rafa? Selain itu nama Pak RT di dekat kos, itu juga nama ex partner dari departemen pembelian. Ifa? Itu juga nama saudara saya, saudara jauuhhhh banget.

Bosen dong pakai nama yang ada di ‘Kebelet Kawin, Mak’ atau di ‘Radio Galau FM Fans Stories’. Kali-kali butuh refreshing. Hehehehehe…

Soal cerita, yang kenal saya pasti paham latar belakang saya dan memang settingnya adalah mixing dari kehidupan saya selama 4 tahun terakhir. Ingatnya setting tempatnya. Ada mess, ada cikarang, ada palembang, ada damri, ada bandara, ada jombor. Ya semacam itulah.

Tinggal 2 bab tersisa. Jangan lupa menantikan ending dari Lovefacture 🙂

Bus Cikarang Jogja

Tadi iseng-iseng ngetik keyword bus cikarang jogja, nggak nyangka ternyata blog saya dapat halaman 1 Google.. Hahahaha..

Nah, biar kumplit, dan nggak nyesel masih blog ini, saya share sedikit pengalaman saya tentang naik bus dari Cikarang ke Jogja.

Sejak bergabung jadi warga Cikarang, Mei 2011 silam, saya sudah beberapa kali naik bus. Dan menurut saya, jadwal bus dari dan ke Cikarang ini emang paling oke untuk orang yang hendak PJKA alias Pergi Jumat Kembali Ahad. Kenapa?

Rerata bus dari Jakarta itu berangkat jam 3-an, itu masih jam kerja. Estimasi sampai di tol Cikarang adalah jam 4-5 sore. Dan memang jam segitulah bus-bus jurusan Jogja dan sekitarnya mematok waktu keberangkatan. Jam segitu sudah cocok banget, sudah jam pulang kerja.

Ketika kembali, kalau lancar bus yang berangkat sore dari Jombor akan sampai di Cikarang jam 4-5 pagi. Masih ada waktu beberapa jam untuk tidur sebelum kemudian berangkat kerja. Asli, tidak perlu izin, apalagi cuti.

*salah satu nilai plus kerja di Cikarang*

Ada beberapa tempat untuk mencari bus dari Cikarang ini. Saya biasanya ambil di daerah sekitar pintu tol Cikarang Barat. Ada banyak agen di sini, berserakan lah pokoknya. Mau yang jenis apa aja ada.

Daripada nggak jelas, saya coba cerita yang pernah saya lalui saja ya.

Salah satu yang sering saya gunakan adalah Rosalia Indah. Untuk kelas Exe, kalau nggak salah sekitar jam setengah 5 berangkatnya. Cocok juga buat jam kerja saya. Lokasinya di daerah Tegalgede, dekat dengan tulisan ‘Welcome Kota Jababeka’. Masalah harga, ya, terjangkau lah.. Daripada pesawat. Hahaha..

Lalu saya juga sering pakai Kramat Djati. Ini juga yang jamnya asyik. Terjadwal adalah jam 5 sore berangkat. Jadi, saya bahkan masih bisa pulang molor dari kantor, atau malah bisa mampir ke Carrefour dulu juga. Posisinya di arah putar balik hendak keluar tol Cikarang Barat, di sisi kiri jalan (ya iyalah…), dekat jualan gorengan. Ini juga yang harganya paling oke (menurut saya). Terakhir naik Oktober 2012, saya masih dapat 115.000 sudah include tempat duduk yang ‘lumayan’ jembar, selimut, dan makan malam di Restoran Kramat Djati.

Saya juga pernah beberapa kali pakai Ramayana. Kalau ini saya ambil di loket yang berlokasi di SPBU dekat pintu tol Cikarang Barat. Harganya bersaing dengan Rosalia Indah kalau yang ini.

Di loket yang sama juga ada berbagai jenis bus lainnya. Saya juga pernah pakai Muncul. Ehm, ya dari sisi eksterior, bus yang saya naiki itu agak bikin dahi berkerut, tapi interior dan pelayanan, lumayan kok. Harga juga cukup oke.

Dan ada juga nama besar lain di seberang loket ini (dan jejeran dengan loket Kramat Djati), yakni Lorena. Ini kemarin semacam terpaksa naik karena kebanyakan sudah nggak jualan. Hehehe.. Tapi tentu saja, dengan harga 180 ribu, fasilitas oke punya. Cuma, ya memang menuju Jogja-nya macet, jadi sampai Jogja jam 12 siang (dari Cikarang jam 9 malam teng pas nyos).

Kalau mau yang banyak pilihan, begitu masuk daerah bawah jembatan layang, segera mlipir kiri, nanti dekat Alfamart akan ketemu sebuah tempat yang isinya agen bus semua. Menjelang long weekend pasti tempat ini ramai minta ampun.

Saran sih, kalau mau nyaman, carilah tiket setidaknya seminggu sebelum, jangan dadakan. Ya, meskipun kalau dadakan juga hampir pasti dapat, tapi terkadang jatuhnya kurang nyaman di perjalanan. Oh iya, selama ini saya belum pernah naik yang Ekonomi, karena menurut saya, pengalaman dulu (waktu kecil) naik Ekonomi sudah cukup untuk membuat saya memaksa diri untuk mencari duit lebih supaya bisa naik kelas minimal VIP. *edisi tobat naik ekonomi*

Oke, begitu dulu. 🙂

Asa Pada Sebuah Masa

“Gue tuh kadang iri sama lu, Win,” ujar Vienna sembari membenahi posisi duduknya. Matanya masih menerawang ke gate 3 yang belum juga menampilkan tulisan Y6-584.

“Kenapa?” tanya Windy, sambil tetap asyik pada tablet yang dipegangnya.

“Lu sama Hotman itu udah beda agama, beda suku, bisa-bisanya nikah. Lha gue?”

“Hahaha, udah gue duga. Pasti iri hati lu nggak jauh-jauh dari itu.”

“Ya iyalah. Apa lagi yang bisa gue iriin ke lu.”

“Dasar. Udah ngiri, songong juga.”

“Hahaha, ya begitulah Win. Hidup ini kadang abstrak. Giliran ada yang seiman dan sesuku, eh tukang tipu, nikung gue gitu. Giliran ada yang baik, perhatian, sabar, dan lainnya yang baik-baik, plus seiman juga, eh beda suku. Gagal maning, gagal maning.”

“Gue nggak ngerti kondisi sebenarnya, Vi. Tapi gini, lu pernah bilang kalau keluarga lu bahagia, otomatis lu juga bahagia. Right?”

“Betul sekali.”

“Lu juga kerja kayak begini, proyek ke proyek, buat bahagiain keluarga lu kan?”

“Betul juga. Kenapa sih?”

“Kalau lu mengeluh kayak barusan tadi, lu pake standar ganda dong. Kalau keluarga lu udah bilang harus seiman dan sesuku, brarti cuma syarat itu yang bikin mereka bahagia. Otomatis, cuma syarat itu yang harusnya bikin lu bahagia. Iya kan?”

Pandangan Vienna menerawang jauh ke landasan, sebuah pesawat berwarna putih dengan nuansa biru tua tampak mendarat. Ah, berarti tak lama lagi ia akan meninggalkan ruang tunggu ini.

“Iya kali, Win. Ah, entah. Bingung saya.”

“Kalau bingung pegangan, Vi. Susah bener.”

sumber: 143loveu.blogspot.com

* * *

“Lu pulang ama sapa, Vi? Bareng gue?” tanya Windy sambil menarik dan mendorong troli, sebuah aktivitas biasa kala menanti conveyor bagasi bergerak.

“Dijemput.”

“Ada gitu cowok yang jemput lu?”

“Sial. Ada lah.”

“Hmm, bentar-bentar.. Gue tebak. Paling juga Juna. Iya kan?”

Vienna terdiam, matanya sibuk memandangi BB yang nongkrong manis di tangannya.

“Iya kan, Vi? Hayo. Kapan coba gue salah nebak? Haha..”

“Iya.. Iya.. Juna yang jemput.”

Windy memiringkan badannya ke arah Vienna sambil setengah berbisik, “Emang lu masih sama dia?”

“Nggak lah. Begitu Mama bilang nggak boleh, ya langsung gue putusin.”

“Anak baik.”

“Baik apa coba?”

“Ya itu patuh pada orang tua. Hmmm, cuma kok begini ya?”

“Begini kenapa sih, Win?”

“Ya, lu pulang dinas begini, yang jemput Juna juga. Ehm, jangan-jangan lu masih berharap sama hubungan lu dengan Juna ya?”

“Entahlah. Gue sendiri juga bingung.”

“Windy Kepowati terpaksa beraksi nih. Dalam terawangan kepo gue, lu pasti masih membayangkan bakal nikah sama Juna, punya anak, terus sampai kakek-nenek bersama. Iya kan?” berondong Windy dengan kencangnya.

“Iyaaaaaa…”

“Vi, gue bilang nih ya. Gimana caranya lu mau menjadikannya masa lalu, kalau lu aja masih membayangkan masa depan sama Juna?”

“Tapi gue nggak bisa, Win.”

“Terserah sih, gue bilang tadi. Standar kebahagiaan lu jangan ganda. Pilih salah satu. Kalau nggak, lu bakal terjebak. Mau bikin bahagia diri sendiri apa keluarga lu. Percaya ama gue. Gue sama Hotman juga nggak mudah kali, Vi. Mana ada cerita beda agama, beda suku, diizinkan dengan begitu mudah?”

“Ya. Eh, itu tas lu udah nongol.”

sumber: beaut.ie

Windy dan Vienna sibuk mengangkat tas-tas besar mereka yang dibawa dari Padang tadi. Keduanya bekerja di lembaga yang menjadi rekanan proyek pemerintah. Jadilah, mereka lari-lari dari satu kota ke kota lain untuk meninjau lokasi, memberi konsultansi, hingga membuatkan rekomendasi terkait proyek yang hendak dilakoni. Sebuah pekerjaan yang menguras energi pastinya.

“Tuh, suami lu udah nangkring. Udah dari dua abad yang lalu kayaknya,” kata Vienna sambil menunjuk sosok bertopi di pintu kedatangan.

“Arjuna lu mana, Vi?”

“Entah.”

Keduanya mendorong troli hingga ke area luar kedatangan. Hotman menyambut istri tercintanya dengan pelukan hangat. Vienna mendadak dingin, seandainya ada yang berlaku demikian padanya.

“Pulang sama siapa, Vi?” tanya Hotman dengan ramah.

“Dijemput Arjuna-nya, sayang,” kata Windy menjawab pertanyaan suaminya sendiri.

“Lho, Juna mana?”

Vienna masih terdiam. BB-nya masih sunyi dari tadi. Pesan “Aku udah sampe” yang dikirimnya via Whatsapp masih berupa 1 centang hijau, dan kini ia ada di area terbuka lebar. Termasuk terbuka lebar untuk didekati orang dan ditanya, “Taksi? Mau kemana? Sama saya saja.”

“Nggak tahu nih,” jawab Vienna lemas.

“Ya ditelpon lah, Vi. Kayak orang susah aja,” ujar Windy.

Windy tentu tahu kalau soal pulsa, Vienna pasti punya banyak. Vienna hanya tidak ingin menelepon Juna, tapi anehnya tetap mengiyakan tawaran jemputan dari Juna. Bahwa satu-satunya obstruksi manis terhadap logika di dunia ini memang cinta.

“Gue tungguin aja deh. Kalau mau pulang nggak apa-apa. Duluan aja. Gue mampir ke A&W dulu. Laper cuy.”

“Oke deh, beneran ya, Vi? Gue tinggal?”

“Iya. Udah sana, silahkan honeymoon. Minggu depan kita berangkat ke Gunungsitoli loh.”

“Iya neh. Kapan gue jadi istri yang bener yak?” kata Windy sambil garuk-garuk, disambut senyum simpul Hotman.

Windy dan Hotman kemudian berjalan ke arah parkiran, sementara Vienna melajukan trolinya ke arah A&W. Mungkin rootbeer bisa sedikit membantu perasaannya yang mendadak aneh semenjak Mama menolak hubungannya dengan Juna.

Vienna terjebak dalam logika kebahagiaan yang aneh. Sejak lama, setiap kali melihat orang tuanya bahagia, Vienna otomatis merasa bahagia. Kini, orang tuanya tidak setuju pada hubungannya dengan Arjuna, padahal Vienna merasa bahagia bersamanya. Lantas apa makna kebahagiaan kalau begini?

Handphone Vienna bergetar. Sebuah pesan Whatsapp.

Dimana?

A&W. Km dmna?

Oh. Oke. Aku ksana.

Vienna meletakkan handphone-nya dan kemudian asyik dengan fish fillet plus root beer yang ada di depan matanya.

“Hey, cantik. Udah lama?”

“Udah dua minggu. Telat kamu.”

“Eh, kamu telat dua minggu?”

“Heh?”

“Lha katanya, telat. Dua minggu. Jangan-jangan kamu…”

“Udah ah. Geje kamu.”

“Hahaha.. Sorry telat, Vi. Maklum, baru bisa nyetir. Jadi pelan-pelan.”

“Kamu bawa mobil, Jun? Emang punya mobil?”

“Makanya, kalau aku whatsapp itu diladeni. Ini dicuekin melulu. Tiga bulan habis kita putus, banyak hal terjadi, Vi. Hmm, dan entahlah, kata banyak orang ini kesuksesan. Tapi buat aku, ini baru dibilang sukses kalau bisa membawaku balik lagi sama kamu.”

“Apa coba? Geje nih.”

“Jiah, masih aja dibilang geje.”

“Kan kamu geje keturunan.”

“Halah, aku geje juga sejak dekat kamu.”

“Oh, saia induktor geje memang. Siapa yang dekat-dekat, maka bakat geje-nya akan keluar.”

“Heleh. Obrolan apa nih? Nggak jelas. Tapi, ehm, I really miss this conversation. Kamu, Vi?”

“Ya, kadang. Tapi udahlah. Nggak penting juga to?”

“Huuu, jadi nggak boleh berharap nih?”

“Berharap boleh, tapi yang realistis sajalah.”

“Ya, baiklah. Ngomong-ngomong, ini aku boleh duduk nggak nih?”

“Yang nyuruh berdiri dari tadi siapa?”

* * *

“Win, nih,” bisik Vienna sambil mendatangi kubikel Windy dan menyerahkan sebuah bungkusan.

“Apaan?”

“Kira-kira apa?”

Windy dengan bakat kepo-nya tidak bisa menahan diri untuk membuka bungkusan yang diberikan Vienna. Dan matanya mendadak mendelik melihat isinya.

sumber: jamesarekion.blogspot.com

Are you sure?

“Ini undangan mahal, Neng. Kalau gue nggak sure, nggak mungkin gue cetak. Pake nanya.”

“Tapi, bagaimana bisa?”

* * *

Ibukota memang paralel dengan macet dan tentunya paralel dengan ongkos. Tapi Vienna nggak pernah resah meski argo di taksi burung biru itu sudah menunjuk bilangan enam digit. Ia pakai voucher taksi, dan itu urusan kantor. Bagi Vienna, yang penting dia bisa pulang ke rumah dengan tenang. Ongkos ini tentunya setimpal dengan yang dia berikan untuk tempat kerjanya.

“Depan kiri, Pak. Yang cat hijau.”

“Ya, Mbak.”

Vienna turun dari taksi dan berjalan menuju gerbang rumahnya, sebelum kemudian langkahnya terhenti pada sebuah mobil yang terparkir manis di depan rumahnya.

Mobil yang sama dengan yang mengantarnya pulang dua minggu yang lalu. Mobil milik Arjuna.

“Ngapain Juna kesini?” gumam Vienna, setengah geram, tapi separuh senang.

Vienna kemudian berjalan perlahan ke dalam rumah, dan berhenti di pintu yang terbuka, tercekat disana, urung untuk masuk.

sumber: photocase.com

“Jadi Tante, saya mungkin memang nggak satu suku dengan keluarga Tante. Dan mungkin Tante nggak bisa terima kalau anak Tante berhubungan dengan saya.” Suara dari dalam terdengar sangat familiar, ah, siapa lagi, pasti Juna.

“Dasar nekat,” gerutu Vienna.

“Tapi, saya mencintai Vienna.”

“Apa cinta itu cukup?”

“Mama? Waduh, Juna nekat bener, sumpah,” gumam Vienna lagi.

“Buat saya cukup, Tante. Tiga bulan yang lalu waktu Vienna memutuskan berpisah dengan saya karena katanya Tante nggak setuju dengan hubungan kami, saya berpikir tentang banyak hal. Saya pikir, Tante pasti akan bisa menerima saya kalau saya ‘sukses’, apapun suku saya,” beber Juna sambil kedua tangannya membentuk tanda kutip.

“Maksudnya?”

“Tiga bulan itu saya berusaha lebih, Tante. Saya nggak tahu arti sukses, tapi saya mengartikan sukses itu jika bisa bersatu kembali dengan Vienna. Harta memang bukan yang utama, tapi dengan harapan bisa kembali pada Vienna, saya bisa beli rumah dan mobil. Ya, walaupun kecil-kecilan.”

“Hidup kan bukan hanya soal harta. Memangnya kamu ngapain kok tiga bulan bisa begitu?”

“Entah kebetulan atau tidak, naskah-naskah saya yang masuk ke penerbit diterima. Umumnya sih naskah novel, Tante. Dan kebanyakan terinspirasi dari hubungan saya dengan Vienna. Entah kebetulan atau tidak juga, buku-buku itu laku. Saya juga sudah dapat tawaran untuk mem-film-kan buku itu.”

“Lalu?”

“Saya juga tetap bekerja, Tante. Entah kebetulan atau tidak juga, saya dapat promosi, persis sesudah putus dari Vienna,” terang Juna, “Ya satu hal yang nggak bisa saya penuhi, saya memang nggak satu suku dengan Tante dan keluarga.”

“Gila! Bocah nekat,” gumam Vienna yang mencermati pembicaraan ‘orang dewasa’ itu dari luar.

“Jadi bagaimana, Tante? Bisakah saya kembali mencintai Vienna?”

Vienna makin terperangah mendengar suara dari dalam. Dia sudah hendak melangkah ke dalam dan membungkam mulut pria itu, sebelum kemudian mendengar Mama-nya bicara.

“Buktikan sama Tante. Jangan sekali-kali kamu buat Vienna sedih.”

“Siap, Tante. Terima kasih banyak.”

Vienna bingung dengan maksud pernyataan yang barusan dia dengar. Langkahnya tak tertahankan lagi untuk masuk.

“Permisi…”

“Vi?” tanya Juna dengan wajah serba salah. Vienna selalu mewanti-wanti Juna untuk tidak datang ke rumah.

* * *

“Silahkan kalian saling berjabatan tangan kanan dan menyatakan kesepaktan kalian di hadapan Allah dan GerejaNya.”

sumber: photo.net

“Saya, Arjuna Abhiseka, memilih engkau Vienna Nilamsari menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya.”

“Saya, Vienna Nilamsari, memilih engkau Arjuna Abhiseka, menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya.”

“Semoga Tuhan memperteguh janji yang sudah kalian nyatakan dan berkenan melimpahkan berkatNya kepada kalian berdua. Yang telah dipersatukan Allah…”

“Janganlah diceraikan manusia.”

* * *

“Selamat ya, sayang,” seru Windy dengan sumringah ketika menyalami Vienna dan Juna di pelaminan.

“Makasih ya.”

“Jadi ternyata benar dia masa depan lu ya?” bisik Windy sambil memeluk Vienna.

“Yup. Selalu ada asa untuk setiap masa, Win. Dan yang di sebelah ini, asa gue untuk masa depan. Thanks a lot ya.”

“Nikmati indahnya, Vi.”

“Heh, udah, yang antri banyak nih. Ntar di kantor aja pelukan lagi,” goda Hotman yang disambut gelak tawa Juna.

🙂

50 Cara Sederhana Membangun Landasan Menulis

Disalin dengan tambahan dari xposisi.com

Di era teknologi modern seperti sekarang, seorang penulis diberi keleluasaan untuk mempromosikan bukunya sendiri.Tak hanya penulis self-published, penulis dari major publisher juga diharapkan mempromosikan bukunya melalui social media hanya dalam satu klik.

Menulis adalah seni, begitu juga dengan self-promotion. Dari pertama kali kamu menuliskan kata pertama, kamu juga boleh memikirkan bagaimana caranya men-share tulisanmu. Dan sekali kamu mulai berpikir menulis dan usaha mempromosikannya melibatkan seni, hal luar biasa mulai terjadi. Kamu akan menemukan pembaca.

Buku tidak ditulis dalam semalam. Tulisan terus berkembang dari hari ke hari, mengalami perubahan, penambahan, proses editing, dan lain sebagainya. Sama dengan landasan kita, yang mencakup segala cara agar tulisan kita bisa dibaca orang.

Ada beberapa cara  cepat untuk mengubah landasan menjadi action. Berpikirlah setiap langkah kecil sebagai lompatan besar dalam mendapatkan pembaca, juga kesempatan menyenangkan untuk menyebarluaskan hasil keja kerjamu.

Listen & Learn

1. Mencari Pembaca Setia. Perjelas jenis pembaca yang ingin kamu cari. Tulislah daftar jenis-jenis pembaca yang kamu miliki. Lalu, putuskan kelompok mana yang akan kamu jadikan sebagai pembaca setia tulisanmu.

>>> setidaknya ada 1 pembaca setia Aku dan Alfa 🙂

2. Memulai Penelitian. Google Alerts (google.com/alerts) dapat membantumu eksis di dunia maya. Set up alerts untuk memberitahu namamu, judul buku, artikel, Twitter handle, site URL dan topic lain pop up online. Kamu akan senang melihat alert yang muncul ketika orang lain mempromosikan bukumu.

>>> cuma dapat rating Alexa sama Edelman Level 🙂

3. Membuat Polling. Ketika sedang menulis, dan kamu bingung dengan berbagai pilihan nama tokoh, misalnya, buatlah polling di Facebook atau Twitter dan tanyakan kepada pembaca. Biasanya penulis mendapat jawaban dari hasil polling yang dibuatnya.

>>> lihat di kanan atas blog ini hehehe..

4. Hargai Orang Lain. Dalam social networks, follow dan berteman dengan orang-orang yang kamu kagumi. Jangan mempromosikan bukumu terus menerus, karena timeline akan menjadi seperti iklan mini. Kenali follower-mu dengan baik, dan promosikan bukumu perlahan tapi pasti.

>>> dan saya belum punya buku sendiri.. hehehe..

5. Study the Competition. Klik search engine lalu ketik keywords tetang tema tulisanmu. Lihat link yang muncul. Jangan takut bersaing. Pelajari kompetitormu. Apakah mereka lebih baik dari pada kamu? Tambahkan hal-hal yang kamu pelajari dalam to-do list.

>>> sakjane ngeri 🙂

Create Context

6. Perkenalkan diri. Tulislah data diri singkat agar pembaca tahu. Cantumkan alamat blog, status, judul buku yang sudah diterbitkan, dan kerjasama professional lainnya..

>>> lumayanlah di blog ini..

7. Show Yourself in Action. Kamu pasti banyak memiliki foto tapi banyak yang belum dipublikasikan. Carilah beberapa foto dengan resolusi tinggi. Foto dimana kamu menghadiri acara klub buku, tanda tangan buku dan segala sesuatu yang berhubungan dengan karyamu. Muat foto-foto tersebut di Facebook, Twitter dan blog.

>>> dan itu belum ada huaaaa…

8. Post Ads and Affiliate Links. Ingin mendapatkan uang secara online? Muatlah iklan atau link afiliasi di blogmu.

>>> dan berakhir dengan diblokirnya blog ini 😦

9. Buat Event. Buatlah kegiatan dengan jangka waktu tertentu dan melibatkan keikutsertaan penulis lain. Seperti NaNoWriMo, kamu bisa membuat event serupa, misalnya: November Menulis. Post hasilnya di blog, Facebook dan Twitter.

>>> pengennya sih..

10 Grade Yourself. HubSpot memiliki free graders (grader.com) yang bisa menilai tingkat keefektifan website, blog, Google Alerts, Facebook, Twitter dan lain sebagainya. Setiap penilaian memakan waktu kurang dari lima menit.

>>> mbuh kie?

Contribute Content

11. Bagi-Bagi Tulisan. Buat pengumuman di social media tentang tulisan yang akan kamu bagikan gratis. Bisa berupa flash fiction, cerpen atau puisi. Cantumkan link-nya.

>>> selalu gratis kalau saya mah, ada yang baca wae syukur 🙂

12. Brainstorm 20 Ide. Kalau kamu tidak menanyakan dirimu sendiri tentang ide baru yang muncul, biasanya setengahnya akan hilang. Lalu, kamu membaca blog orang lain, majalah, atau surat kabar. Biasanya muncul ide untuk menulis. Biasakan menuliskan ide yang muncul di buku bank ide. Berpikirlah setidaknya lima menit untuk satu ide.

>>> setiap hari dibawa tapi tak ditulis heheheuu..

13. Put Your Best Forward. Pastikan follower-mu langsung membaca postinganmu. Beberapa blog memiliki widgets yang langsung menposting tulisan setelah selesai ditulis di blog.

>>> so pasti..

14. Recycle. Luangkan waktu beberapa menit untuk melihat tulisan lamamu di blog. Cari blog orang lain, forum atau website yang tertarik untuk mempublikasikan tulisanmu. Edit kembali tulisan lamamu agar lebih ‘cantik’.

>>> sering juga sih.. 🙂

15. Menulis Review. Pembaca atau follower-mu biasanya ingin tahu buku favoritmu dan alasannya. Buat review singkat tentang buku yang sudah kamu baca dan post di website seperti GoodReads, Amazon.com and Red Room. Untuk karma baik, tulislah review positif untuk penulis favoritmu.

>>> kadang kadang sekali..

Cultivate Community

16. Prompt a Response. Prompt adalah kata atau tema sugestif yang memicu respon interaktif dari orang lain. Bisa berupa foto, simbol atau kata, atau bisa juga beruba teka-teki.  Biasanya, penulis memberikan kuis buku gratis untuk pembaca. Jawaban benar diundi dan dicari pemenangnya. Coba saja, pembaca pasti suka.

>>> belum punya buku 😦

17. Lima Menit Interaksi. Reply komen yang masuk di blog. Beri ucapan terima kasih kepada pembaca setia blog kamu. Karena mereka menyukai karya kita, beri penghargaan kepada mereka dengan meluangkan sedikit waktu untuk berterima kasih.

>>> langsung secepat kilat..

18. Buat Tawaran Menarik. Kalau kamu sedang mengerjakan proyek buku dan membutuhkan bantuan penulis lain, editor atau first reader, beri kompensasi. Bisa dengan memberi diskon untuk buku, atau namanya tercantum di daftar terima kasih. Buat mereka yang bekereja denganmu bahagia.

>>> tunggu duit dulu..

19. Kerjasama Stategis. Siapa yang ingin kamu jadikan partner? Ramah dan ringan tangan tentu diperlukan dalam kerjasama, tetapi kerjasama yang baik menguntungkan kedua belah pihak. Buat perjanjian tertulis agar lebih jelas dan terlihat formal.

>>> 1 project saja susah.. 🙂

20. Create a Quickie Blogroll. Buat list penulis kesukaanmu. Cari di Google lalu buatlah blogroll. Posisikan blogmu sebagai sumber inspirasi dilihat dari segi kualitas, bukan kuantitas.

>>> maksude??

Be Authentic

21. Be Yourself. Saran yang mengatakan penulis harus bersikap sesuai dengan brand image membuat kita melupakan sikap sebagai orang biasa. Tapi, social media dibuat untuk manusia, bukan robot. Faktanya adalah kamu seorang penulis, orang tua, bankir, public relations, etc. Pembacamu ingin melihat kamu sebagai diri kamu sendiri. Luanghkan lima menit untuk menulis profil yang ‘kamu banget’.

>>> cek, about me 🙂

22. Put Passion Into Action. Misalnya kamu menulis cerita fiksi. Apakah sulit untuk membuat outline dan landasan? Tidak. Kerjakan sepenuh hati. Jangan beranggapan tidak ada yang peduli. Anggap saja jutaan orang sepertimu, dan ingin berhubungan denganmu. Tulis pendahuluan singkat tentang mengapa kamu sangat bersemangat menulis tentang topik tersebut. Baca kembali setiap kamu online. Itu akan membantumu untuk fokus.

>>> iki mboh kie..

23. Get Together. Biarkan orang tahu akan kegiatanmu. Misalnya: mengajar, mengikuti workshop menulis, dan lain-lain. Make yourself accessible.

>>> nggak enak sama kantor 🙂

24. Spark Conversations. Banyak orang di luar sana yang tertarik dengan topic yang sedang kamu tulis. Cek Google, Twitter atau forum dimana topikmu sedang ramai dibahas. Aktiflah dalam diskusi. Biasanya penulis mendapat ide tambahan dari interaksi tersebut.

>>> kadang kadang sajo..

25. Share the Journey. Kehidupan seseorang penuh warna dan disisipi dengan lika-liku. Biarkan pembacamu tahu tentang keadaanmu. Update status dengan cerita lucu yang baru kamu alami, atau peristiwa sedih tentang kematian hewan peliharaanmu. Curious fans love to be treated like insiders.

>>> noh, cek Aku dan Alfa 🙂

Synergize Connections

26. Friend and Follow Media Pros. Cari akun penerbit, penulis dan editor lalu follow mereka. Ramahlah pada mereka. Jika namamu mulai dikenal, jangan kaget mereka yang akan mencarimu.

>>> sudah! dan belum dikenal.. hehe..

27. Say Thanks. Dalam waktu lima menit, kamu bisa menuliskan kartu ucapan terima kasih, menempelkan di buku dan membungkusnya dengan rapi. Lakukan dengan rutin, sebagai ucapan terima kasih atau hadiah kuis pembaca.

>>> dibilangin belum punya buku sendiri.. heuheuheu..

28. Articulate Your Allies. Siapa yang mensupport hasil karyamu? Karya siapa yang kamu suka? Sesama penulis biasanya saling membaca dan mereview tulisan masing-masing. Bertemanlah dengan mereka yang suportif sehingga tujuanmu tercapai dengan baik.

>>> yah, sesama saya yang satu itu malah menjauh kie..

29. Sesi Tanya Jawab. Buat daftar pertanyaan tentang topik yang menurutmu menarik. Mintalah orang-orang untuk menjawabnya dalam berbagai format: video chat, email atau wawancara via smart phone.

>>> hemmmm…

30. Shake Things Up. Stop menjadi penganut yes, Sir. Ambil satu topic lalu adu argumentasi dengan teman.

>>> opo maneh ki?

Produce Yourself

31. Capture E-mail Addresses. Gunakan servis newsletter service atau RSS feed service di blogmu sehingga orang-orang bisa mendaftar dan berlangganan blogmu.

>>> sudah kok..

32. Go Multimedia. Munculkan kembali konten lama dengan fresh media. Habiskan lima menit latihan membaca tulisanmu dengan smartphone. Atau hafalkan chapter awal, lalu bacalah sambil direkam tanpa skrip.

>>> hehehehe…

33. Ask for Feedback. Untuk mengetahui karyamu baik atau tidak, kita harus tahu pendapat orang lain. Kirimkan feedback form kepada pembacamu.

>>> segera deh..

34. Outsource Something. Habiskan lima menit untuk memikirkan topi yang sedang dipakai: the creative, the closer, the perpetual student, the accountant, the publicist, etc. Cari kelemahan yang kamu miliki dan mintalah orang lain untuk membantumu mengatasi kelemahan tersebut.

>>> berharap…

35. Share More. Satu kesalahan umum yang sering kita lakukan adalah to make it perfect, yang akan membuat kita memiliki banyak pembaca. Tapi, seringkali malah sebaliknya. Kerja keras untuk memaksimalkan tulisanmu.

>>> berusaha…

Publicize Yourself

36. Hunt and Answer. Jangan lupakan media tradisional. Jawablah permintaan media di Help a Reporter Out (helpareporter.com). Dalam waktu lima menit, kamu akan mendapatkan respon dari setidaknya satu media. Setiap postingan membuat namamu dikenal.

>>> kalau saja ada.. hahaha..

37. Grow Your List. Kemanapun kamu pergi, apapun yang kamu lakukan, bawa kertas/buku dan minta alamat email dari orang yang kamu temui. Siapa tahu, mereka adalah calon pembaca setiamu.

>>> iya ya?

38. Think Ahead. What do you have coming up? Buat daftar event yang akan berlangsung dan publikasikan di blog, newsletter, social media dan e-mail signature. Seringlah membuat update.

>>> maunya sih, kalau sempat..

39. Compartmentalize. Buatlah list email pembaca, teman, rekan kerja, dll. Reorganize your e-mail groupings.

>>> hihihihi…

40. Master the 5-Minute Release. Fokuslah pada satu peristiwa penting dalam waktu dekat. Buat press release dalam lima menit dan kirimkan setidaknya sebulan sekali. Short is good.

>>> nggak ada..

Pay it Forward

41. Round Up Resources. Kumpulkan buku, website dan sumber lain yang berhubungan dengan topic yang sedang kamu tulis. Be helpful to others, and they’ll send people to you.

>>> lha ini contohnya.. hehe..

42. Boost Others. Bantulah rekan penulis atau penulis debut dalam mempromosikan bukunya. Tawarkan juga untuk menulis testimonial.

>>> kalau ada yang minta, dengan rela hati…

43. Offer Your Services. Menurut Gary Vaynerchuk, penulis Crush It!, pertanyaan terbaik yang bisa kamu tanyakan di social media adalah, “What can I do for you?” Ide yagng simple tapi brilian. Lakukan secara berkala.

>>> siapppp…

44. Be a Good Guest. Tanyakan dirimu sendiri pertanyaan sulit dan controversial yang orang lain tidak berani tanyakan (tapi penasaran ingin tahu). Bisa dipost di blog dan dishare kepada pembaca.

>>> apa eaaa…

45. Hit the Highlights. Kamu tidak harus menuliskan semua hal yang dibicarakan dalam event/workshop. Tuliskan intinya dan bagikan di blog.

>>> T_T

Strut your Stuff

46. Count Down to Every Launch. Punya buku yang mau dirilis? Bagikan kegembiraan di social media. Tulislah promo bukumu, misalnya: minggu depan buku A akan rilis. Berikan juga clue tentang isi bukumu agar pembaca penasaran dan tertarik ingin membaca.

>>> nggak punyaaaa…

47. Spiff Up What’s Old. Tawarkan promosi agar orang tertarik membaca karyamu. Misalnya: diskon selama pre-order buku.

>>> maunyyaaaa…

48. Make Merchandise. Dalam mempromosikan bukumu, biasanya ada kuis gratis berhadiah buku. Kerjasama dengan media seperti majalah atau radio. Kamu bisa sekalian mempromosikan karyamu.

>>> kalau adaaaaa…

49. Sustain Yourself. Online secara aktif memerlukan keseimbangan dan kesabaran. Pertegas bagaimana dan dimana kamu ingin mencurahkan energi. Sortir kembali dan buatlah skala prioritas, dimana kamu bisa menulis dengan tenang dan online secara berkala.

>>> hihihihi…

50. Break Out of Your Box. Tanya diri sendiri, “Apa yang akan aku buat jika aku membiarkan diriku menciptakan apapun yang kumau?” Lepaskan label yang melekat, seperti novelis, penulis puisi atau jurnalis. Dalam lima menit, tulislah apa saja sejujurnya, dari lubuk hati terdalam. Kemampuanmu untuk keluar dari kotak bisa menginspirasi orang lain.

>>> siipppp…

Disadur dari: The Writer’s Digest