Menyambangi Cagar Budaya Santa Maria de Fatima

Sesudah beberapa pekan sepi karena banyak hal, maka perjalanan #KelilingKAJ kembali dimulai persis pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus alias harinya komuni pertama. Tenang saja, saya tidak dalam posisi ngeh melakukan #KelilingKAJ pada saat komuni pertama. Cuma kok pas sampai Gereja, banyak anak dengan baju putih-putih, baru sadar. Sadar kalau misanya bakal lama, maksudnya.

TKP #KelilingKAJ kali ini sebenarnya sudah saya incar dari dulu karena keunikannya, baru sempat setelah saya melihat Google Street terlebih dahulu dan jalannya diketahui dengan pasti. Kenapa begitu? Nanti pasti tahu, deh, soalnya #KelilingKAJ kali ini melangkah ke Gereja Santa Maria de Fatima di Toasebio.

Dimana itu?

Untuk mencapai Gereja Toasebio ini, halte TransJakarta terdekat adalah Halte Glodok. Dari halte, keluar ke arah gedung yang baru dibangun, lantas berjalan sampai kelihatan JNE dan sebuah jalan berpagar hitam. Dari situ jalan saja dan ikuti petunjuk yang sangat membantu, yakni adanya papan petunjuk sekolah Ricci. Nanti akan sampai di Vihara, dari situ belok kiri lalu ikuti saja jalan yang ada dan nanti di sebelah kanan akan tampak sekolah Ricci nan megah. Gereja Toasebio ini berada persis di sebelah sekolah Ricci. Sekilas pandang, tidak jauh berbeda dengan Vihara karena sebenarnya letak keduanya boleh dibilang belakang-belakangan.

Selengkapnya!

Advertisements

Kisah Cinta Segitiga Tauke Karet di RS Charitas

Kurang lebih lima tahun yang lalu saya menjalani opname. Opname kesekian, sebenarnya, namun terhitung yang pertama bagi saya–dan semoga itu satu-satunya–ketika dewasa. Kalau waktu kecil, nggak usah dihitung, lha wong saya sudah sampai pada tataran matanya-putih-semua. Sebab musabab saya opname itu sungguh tidak elit. Vertigo. Tapi memang sangat memusingkan, bahkan untuk berjalan sudah tidak sanggup. Di otak saya isinya hanya Cefradoxil ratusan kilogram yang bikin saya ditelepon Pak Eko dengan pertanyaan klasik, “Itu kok datang lagi? Ini masih banyak lho.”

Ya, baiklah, ini bukan tentang vertigonya saya, tapi tentang kisah pada hari keempat saya dirawat. Kebetulan dengan asuransi InHealth, saya mendapatkan perawatan di kelas II–kalau tidak salah, dengan fasilitas satu ruangan berisi dua orang dengan satu televisi di tengah-tengahnya. Kebetulan juga saya kan tidak kabar-kabar ke rumah kalau sedang diopname, jadi benar-benar tidak ada yang menunggui. Hanya Mas Sigit, Boni, atau Jack yang datang, itu juga by request karena kehabisan sempak.

Nah, makhluk yang sama-sama terkapar di kamar yang sama dengan saya itu adalah seorang lelaki buncit, gondrong dengan tato di tangannya. Super sekali. Dia ditunggui oleh seseorang yang sama sekali berbeda dengan dia, dan selalu memanggil dengan, “bos”. Sudah jelas bahwa dia adalah orang upahan. Saya juga orang upahan sih, yang diupah untuk vertigo karena gudang penuh.

Pada hari keempat itu, kondisi sepi-sepi saja. Seperti Rumah Sakit pada umumnya. Kalau ajep-ajep itu namanya Alexis, bukan RS. Pada jam kunjungan tiba, muncullah seorang perempuan datang berkunjung. Semuanya lantas berjalan biasa-biasa saja. Saya pikir, ah, dia paling juga istrinya, atau cem-cemannya, atau mungkin mantan terindahnya. Saya? Ah, ditelepon sama pacar saja tidak kala itu, apalagi dibesuk. Untung sekarang sudah jadi mantan. HAHAHAHAHA

Saya tidak melihat ngapain aja si cewek itu di balik tirai. Yang saya tahu, penunggu si gendut ini pergi ke teras. Jadi berdua saja mereka di tempat itu. Bertiga sama saya, sih, di balik tirai. Siang-siang, panas pula.

Nah, tiba-tiba masuklah sesosok wanita ke dalam ruangan, dan bergegas menuju balik tirai sebelah saya. Syukurlah bukan ke tirai saya. HEUHEU. Saya pikir ini juga temannya, atau apanyalah. Ternyata itu cuma pikiran saya belaka, karena sejurus kemudian muncul dialog yang bikin saya trenyuh.

“Oh, jadi ini ya Koh, perempuan itu.” ujar perempuan yang baru datang tadi.

“Napo kau kesini?”

Terlontar dengan suara berat, sudah jelas si lelaki buncit itu.

“Aku nak jingok suami lah, Koh. Dio ni, nak jingok sapo disini?”

“Alah kau ni.”

“Koh, kalu dak karna anak kito, aku dak nak jingok kokoh. Eh, ado dio disini. Jadi gitu, Koh?”

Si lelaki diam.

“Sudahlah, Koh. Kalo memang nak samo dio ni, cerai kito dulu. Uruslah dulu. Jangan digantung cak ini.”

“Iyo. Iyo,” suara mengiyakan secara males terdengar.

“Capek badanku Koh ngurus anak kito. Kemaren dio sakit, ado Kokoh jingok? Idak. Idak, Koh.”

“Iyo. Aku lah tau.”

“Anak kito kemaren juara di sekolah, Koh. Kokoh idak tau jugo kan?”

Hening.

“Jadi sudahlah, Koh. Kalau lah memang nak samo dio ni. Atur, urus dulu cerai kito. Biar samo-samo lemak kito ni.”

“Iyolah. Iyo.”

“Kamu jugo. Tahu kan kalau Kokoh ini lah bebini?”

Hening (lagi).

“Ah, sudah. Pegi galo. Pegi,” usir lelaki yang sedang tidak bisa apa-apa itu.

Kedua wanita itu pergi. Benar-benar berlalu di depan mata saya. Meninggalkan sisa kehebohan yang bikin saya nggak jadi tidur siang itu. Sorenya, saya ngobrol dengan penunggunya, dan baru tahu kalau si Kokoh ini adalah Tauke karet, sebuah profesi yang jamak di Palembang dan sekitarnya. Pantas saja dia kaya, dan pantas saya dia kemudian ngelaba. Entahlah, itu urusan dia juga. Masalahnya, kenapa dia ribut-ribut rumah tangga ketika dia satu ruangan dengan saya?

Waktu beranjak sore, ketika saya hendak tidur sore, dan kemudian sang istri datang lagi.

*buru-buru pingsan*

NB: mohon maaf kalau Bahasa Palembangnya sudah kacau, maklum kejadiannya sudah lama. Ehehehe. Sudah lama juga nggak ke Palembang. Heuheuheu.

Pilihan Menjadi PNS dan Pengorbanannya

Seperti bisa dilihat di portofolio saya, salah satu prestasi yang dimiliki oleh Ariesadhar adalah sukses menjadi CADANGAN nomor 1 pada penerimaan CPNS di sebuah instansi pemerintah. Iye, cadangan nomor 1 alias kalau bahasa kerennya adalah juara harapan (a.k.a berharap juara alias berharap keterima). Maka dari itu, saya selalu prihatin bagi orang-orang yang mempergalaukan moratorium CPNS 5 tahun sebagai ketakutan nggak bisa jadi PNS, saya juga prihatin sama orang-orang yang sudah keterima CPNS tapi nggak jelas. Padahal–juga bisa dicek di portofolio–saya sudah menulis di Hipwee bahwa menjadi bagian dari birokrasi negeri ini sama artinya dengan siap berhadapan dengan keadaan semacam lagi LDR dengan pacar yang sekota dengan mantan terindahnya.

download

Barusan saya membaca sebuah blog dari seorang PNS di BPKP. Dampak dari mendaftar CPNS dan kemudian diterima plus lantas menandatangani pernyataan bersedia ditempatkan dimana saja adalah suami kerja di Jakarta, anak di Depok sama orangtua, dia di Padang. Yah, namanya kegalauan jelas terbaca dari posting-postingannya. Bayangkan, anak masih kecil harus dihadapkan pada kondisi orangtua LDR. LDR pacaran saja terhitung merana–saya paham karena sudah 3 kali melakukannya dari stok 3 mantan dan 1 pacar yang ada–apalagi LDR menikah?

Lanjut!

Berhari Raya di Kedoya

Salah satu hari raya umat Katolik (dan Kristen pada umumnya) yang menjadi tanggal merah adalah Wafat Isa Almasih. Penting untuk menjadi tanggal merah karena peringatan wafat itu biasa dihelat siang-siang. Dulunya begitu. Perkembangan umat yang gila-gilaan kadang membuat peringatan itu nggak bisa sekali karena menimbulkan banyak dampak bagi masyarakat. Yang terutama tentu saja kemacetan. Nah, karena itulah di Pekan Suci 2015 ini saya memutuskan untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi supaya tidak bikin rempong panitia, plus memilih jam-jam ke Gereja yang enak untuk naik kendaraan umum. Sesudah memilih dan memilah saya akhirnya menetapkan Gereja Santo Andreas Kedoya sebagai tujuan #KelilingKAJ edisi spesial hari raya alias pekan suci.

Namun apa daya, sudah berangkat jam 9.30 dari kosan, ternyata kendalanya banyak. Utamanya adalah jarangnya bus TransJakarta untuk arah Lebak Bulus. Walhasil, saya memang lantas sampai di Gereja yang terletak di dalam kompleks Green Garden itu, tapi mengikuti peringatan tidak dari dalam Gereja, namun untungnya tidak keringetan juga. Buat para komunitas telat-datang-padahal-sudah-1-jam-sebelum-mulai ala Pekan Suci pasti paham bahwa telat datang itu sama dengan kipas-kipas. Bagaimana ceritanya kok bisa begitu?

Ah, nanti juga tahu.

Selengkapnya Tentang Kedoya!

Mencari Nilai Hingga Regina Caeli

Sejauh ini misi #KelilingKAJ saya berjalan mulus. Tentu saja mulus karena semua TKP #KelilingKAJ yang saya pilih adalah yang dekat dengan sarana transportasi umum. Ada yang tinggal ngesot dari Halte TransJakarta semacam Matraman, atau yang rada dekat dengan stasiun semacam Pasar Minggu.

Supaya agak beriak, saya lalu mencari sasaran yang agak kejam. Kejam yang pertama adalah karena saya belum pernah menyusuri Jakarta sampai ke bagian sana. Kejam kedua adalah karena sarana transportasi umumnya tidak sesederhana dua moda favorit saya, TransJakarta dan KRL Commuter Line. Maka, diputuskanlah melalui Dewan Syuro bahwa TKP #KelilingKAJ berikutnya adalah Gereja Regina Caeli, Pantai Indah Kapuk.

Satu-satunya yang membantu saya dalam pencarian lokasi Gereja Regina Caeli adalah blog berjudul Mengaku Backpacker. Sisanya? Nggak ada. Tentu saja, karena saya nggak yakin ada umat Regina Caeli yang ngangkot. Maklum, lokasinya berada di kawasan elit yang harga propertinya akan naik besok Senin.

Selengkapnya!

18 Alasan Kamu Harus Datang ke Bukittinggi

Well, well, well. Sudah berapa kali saya menulis tentang Bukittinggi di blog ini. Cukup banyaklah pokoknya. Cari saja sendiri, kalau nggak percaya. Memang, sih, saya lelaki, susah dipercaya. Tapi plis, tolong dipahami! Okesip. Bicara kota Bukittinggi tentu saja nggak akan ada habisnya. Sudah begitu, kamu belum pernah datang ke Bukittinggi? Ah, sayang sekali. Supaya semakin termotivasi, berikut ini saya beberkan secara gamblang bahwa ada DELAPAN BELAS alasan kamu harus datang ke Bukittinggi. Banyak, kan? Makanya. Terus apa saja 18 alasan itu? Ini, nih.

1. Malalak dan Lembah Anai

Anggap saja kamu datang ke Sumatera Barat via langit. Otomatis kamu akan mendarat di Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM). Setelah bergelut dengan serbuan tawaran travel yang dimulai dari sejengkal sejak pintu keluar. Yup, sebagaimana banyak jalan menuju Vatikan sambil selfie, eh, Roma, maka ada beberapa jalan juga menuju Bukittinggi dari BIM ini. Dua jalan yang paling umum boleh dibilang memiliki karakteristik tersendiri, sekaligus menjadi alasan bagi kamu untuk pergi ke Bukittinggi. Kenapa? Baru menuju Bukittinggi saja, sudah disuguhi pemandangan keren.

Via Malalak, boleh dibilang adalah jalan alternatif dari jalur utama Padang-Bukittinggi. Umumnya, travel tidak akan lewat Malalak kecuali ada penumpang yang turun di Balingka dan sekitarnya, atau jalur utama sedang macet parah. Menurut seorang Bapak yang turun di Balingka waktu saya mudik via Malalak kemaren, jalur Malalak ini adalah menyusuri pinggangnya gunung Singgalang. Begitu saya googling, katanya Tandikat. Yang bener yang mana? Heu. Jalur ini boleh dibilang rawan longsor dan penuh batu besar, plus ada beberapa cerita mistis soal batu besar. Plus, dari ketinggian tertentu, kita bisa melihat LAUT! Bayangkan betapa tingginya.

Sumber: 2persen.wordpress.com

Sumber: 2persen.wordpress.com

Terus kalau via jalur normal, sudah dipastikan kita akan menyaksikan pemandangan klasik benama Lembah Anai, dan air terjun yang legendaris. Saking legendarisnya, ketika musim liburan para pengunjung mampir dan, ya, lumayan bikin macet. Tapi, tetap saja, indah.

west-sumatra-trip-2013-0221

Sumber: terbanglayang.wordpress.com

Jadi nggak usah takut, lewat manapun, selalu ada alasan untuk pergi ke Bukittinggi.

Kumplit disini!

Twenty Something

Haduh. Ngomong umur ini memang agak pelik. Apalagi ketika sudah memasuki angka yang menurut saya TUA. Sudah tua, belum kawin, belum punya mobil, punya rumah tapi cuma buat sarang ular, gaji 1,9 juta dan belum ada tanda-tanda meningkat, dan lain-lainnya. Ya, begitulah saya. Selamat datang di usia yang baru, twenty something ini. 😀

Well, baiklah, mari kita review dulu apa saja yang telah saya lakukan di usia yang baru saja lewat ini.

Januari

Membeli kerupuk jeletot untuk kewajiban ulang tahun di kantin kantor adalah pilihan yang agak hore karena ternyata begitu saya ulang tahun, Cikarang hujan deras bin banjir selama berhari-hari. Cukup hore karena sembari hujan, saya malah membawa kardus voluminus itu. Ya, tidak seistimewa tahun sebelumnya ketika ulang tahun saya diperingati dengan audit BPOM. Ehm, satu hal yang paling saya ingat adalah Mbak Mantan yang memilih untuk mengucapkan paling terakhir. Mantan yang satu itu memang anti mainstream kelakuannya. Heran juga kenapa saya pernah jadian sama dia. Hem.

Saya berulangtahun dalam kondisi jomlo kronis-nis-nis-nis. Sesudah putus–entah kapan–di tahun 2012, saya melewatkan tahun 2013 dengan di-PHP dan mem-PHP wanita. Dan pas ulang tahun itu saya kosong-sekosong-kosongnya. Begitulah. Kasihan. Tapi ternyata di akhir bulan Januari itu, Coco–yang di blog ini difiksikan sebagai Chiko–dengan gagah berani memberi jalan kepada saya untuk berkenalan dengan seorang cewek. Iya, itu akhir Januari, di hari Senin. Pada tanggal twenty something.

Februari

Jalannya si eks playboy itu kemudian lancar. Februari kemudian diwarnai oleh cerita PDKT saya dan mbak-mbak itu. Dimulai dari nonton Comic 8 di Bintaro, sebagai perjumpaan pertama. Kemudian diikuti ngabur dari baksos karena janjian di Plaza Senayan demi pelet brownies tempe. Hingga kemudian akhirnya saya berhasil menipu dia untuk menjadi pacar saya. Ah, syukurlah, upaya menjelma menjadi romantis dalam beberapa pekan berhasil. *senyum licik David Luiz*

Maret

Ini salah satu bulan krusial dalam hidup saya, karena tanggal 5 saya memilih untuk menjadi pengangguran dengan resign dari kantor lama. Tapi ada untungnya juga. Di bulan Maret saya bisa ikut jalan-jalan ke Cisantana, sebuah tempat yang nggak mungkin saya capai kalau saya masih pegawai. Saya juga bisa mengurus beberapa hal yang terkait administrasi. Cukup hore, deh, pokoknya.

Satu lagi, di bulan ini juga saya diberi kabar bahwa Mbak Pacar keterima kuliah di London. Dua perasaan muncul. Pertama, senang bukan kepalang karena calon bini saya kuliahnya bergengsi. Kedua? Yaelah, LDR lagi.

Continue Reading!

Pak Anton

Di sela-sela gatalnya tangan ini untuk membuat posting tentang Menteri PAN-RB yang baru, saya terus mencoba untuk menahan diri sampai batas waktu tertentu Bapak itu tidak sekadar bikin Surat Edaran. Untunglah masih tahan. Entah berhubungan atau tidak, keengganan logika saya untuk ngepost tentang bapak itu, justru mengarahkan saya kepada bapak yang lain. Seseorang yang sejatinya juga tidak dekat-dekat amat, tapi punya peran besar dalam hidup rohani saya.

Faktanya, saya adalah umat pada umumnya. Bahkan saking umumnya, saya tidak punya niat sedikitpun untuk sekadar ikut di lingkungan. Enam bulan pertama karena saya dicuekin pacar. Tiga bulan berikutnya karena pacar yang mencuekin saya berbulan-bulan itu kemudian bekerja di kota yang sama dengan saya, dan tinggalnya hanya beda gang. Tiga bulan berikutnya karena saya habis putus. Pas pokoknya. Makanya, keheningan saya di lingkungan terjadi setahun lamanya sampai kemudian muncul niat dari saya untuk berkenalan dengan orang-orang seagama yang ada di sekitar kos-kosan di Kedasih. Pada suatu malam yang gelap, saya dan Agung kemudian bertemu ke rumah Pak Dodi, ketua lingkungan. Ya, sudah, sebatas itu saja.

Beberapa pekan kemudian saya dan Agung diperkenalkan oleh Pak Dodi dengan seorang bapak yang tampaknya sudah tua. Kami salaman dan kemudian tahu bahwa nama beliau adalah Pak Anton, pemilik kos-kosan besar yang tidak jauh dari kosan saya. Namanya orang tua, pasti cerita banyak, termasuk cerita tentang dirinya yang sudah hampir 70 tahun tapi masih saja dapat tugas kalau ada ibadah. Dalam 10 menit, diulang 2 kali. Khas orang tua.

Masih sampai disitu saja.

Klik untuk baca selanjutnya, Mbohae!

Beberapa Cara Menjawab Pertanyaan “Kapan Kawin?”

“BANG, KAPAN KAWIN?”

Siapakah manusia berumur 25 tahun ke atas di dunia ini yang belum pernah mendapatkan pertanyaan di atas? Kalau saja Napoleon belum menikah di umur segitu sudah pasti dia akan dapat pertanyaan serupa, tapi bunyinya begini:

Quand allez-vous vous marier?

Ah, jangankan Napoleon, Masha aja kalau sudah gede, dan nggak nikah-nikah pasti akan mendapat pertanyaan yang sama, cuma tulisannya begini:

Когда вы собираетесь пожениться

gambar-masha-and-the-bear

Yup, pertanyaan “kapan kawin” adalah sebuah terminologi yang menyakitkan bagi banyak kalangan yang sudah berusia cukup untuk menikah, tapi nggak nikah-nikah. Mungkin hanya beberapa orang yang akan tersipu malu dengan pertanyaan ini, itupun hanya seorang pelaku poligami yang mungkin pipinya memerah ketika ditanya, “kapan kawin…

…lagi?”

Selanjutnya, Mbohae!