Di Balik Tulisan “Yang Harus Dipahami Dalam Kasus Penarikan Albothyl”

Di Balik Tulisan _Yang Harus Dipahami Dalam Kasus Penarikan Albothyl_

Hari Jumat, pas Imlek, Prima Sulistya, cicik-cicik KW embuh yang tidak merayakan Imlek merupakan pemimpin redaksi salah satu media kafir, Mojok, mengirim pesan WhatsApp kepada saya berkaitan dengan penulisan sebuah topik, yang mungkin dikirimkannya mengingat kayaknya hanya saya apoteker di antara deretan penulis Mojok.

Ini merupakan pesan istimewa karena inilah kali pertama Cik Prima request artikel ke saya sejak bliyo naik pangkat jadi pimred. Sebelumnya, Cik Prim hanya redaktur biasa nan jelata. Beberapa tulisan yang saya kirimkan kepadanya pun memang dimuat tapi view-nya mengenaskan.

Bagi saya, apapun tawaran dari Cik Prim yang berkaitan dengan nulis di Mojok adalah keharusan untuk diiyakan, terlebih dalam kondisi finansial saya yang gundah gulana begini. WA-nya kepada saya mungkin kombinasi dari masukan koreksi untuk sebuah topik yang lalu ditambah dengan unggahan saya berupa Istoyama yang sedang makan kerupuk saja, saking kerenya bapaknya. Continue reading

Advertisements

Mengurus Tambahan Tanggungan Anak di BPJS Kesehatan

Kemarin itu Istoyama sakit. Panas tinggi sekali berulang-ulang. Saya sebagai bapak mendadak merasa gagal begitu melihat dia sakit dan saya belum mengurus jaminan kesehatannya. Selama ini, kalau Istoyama sakit atau vaksin, semuanya memang pakai pembayaran pribadi yang memang telah dianggarkan sebelumnya. Ada salahnya juga punya anak jarang sakit, bapaknya jadi alpa mengurus jaminan kesehatan.

Padahal sebagai salah satu kalangan yang difasilitasi BPJS Kesehatan kelas I dan ditanggung negara sampai anak ketiga, mestinya nggak susah-susah banget ngurusnya. Cuma, ya dasarnya saya malas dan sok-sokan banyak dinas, jadi bubar dah.

Maka, sesudah habis lumayan banyak untuk kontrol ke Dokter Spesialis Anak dua kali sehari, saya memutuskan untuk mengurus kartu BPJS Kesehatan punya Istoyama. Jadi, setidaknya sesudah ini, kalau amit-amit ada apa-apa, Istoyama sudah punya jaminan kesehatan yang memadai. Ya, walau BPJS Kesehatan, tapi kelas I kan sudah lumayan, meski saya tetap merindukan ASKES zaman dahulu, sih.

Nah, lantas bagaimana kisah menambah pertanggungan anak ke dalam BPJS Kesehatan seorang PNS? Ternyata simpel sekali. Pertama-tama kita perlu (minta naik gaji) menyiapkan beberapa dokumen yang harus ada yakni:

  1. Fotokopi Akte Kelahiran Anak
  2. Fotokopi Kartu Keluarga
  3. Fotokopi Daftar Gaji (yang memuat keterangan bahwa anak sudah ditanggung oleh negara)
  4. Fotokopi SK PNS terakhir
  5. Fotokopi KTP
  6. Fotokopi kartu kepesertaan BPJS

Bawa semua fotokopian itu ke kantor BPJS. Kebetulan saya mengurus di BPJS Kesehatan Jakarta Pusat yang terletak di Jalan Proklamasi, antara perempatan Mataraman dengan belokan ke Manggarai. Dekat dengan lokasi penipuan yang saya alami, kena tipu sama agen properti bernama Fahmi Wicaksono yang selalu datang bersama dengan istrinya yang galak itu. Heuheu. Continue reading