Cerita Lama

pablo (1)

“Hai! Udah gede anaknya?”

“Iya nih. Masak kecil terus?”

“Hahaha, iya juga ya.”

Aha! Aku melihatmu, dengan anakmu. Ya, kamu, yang bertahun silam adalah cerita lamaku.

* * *

“Hey kamu, yang gemetar waktu mau jatuh. Siapa namanya?” tanyaku pada seorang gadis yang barusan kutangkap, persis di bagian pantatnya. Siapapun tahu, ketika jatuh dalam keadaan terlentang, sejatinya titik tumpu beban itu ya ada di pantat. So, bayangkan beban yang harus kutanggung dari permainan “Trust Me” ini.

“Ngece ya.”

“Haha, nggak kok. Alan. Kamu?”

“Nanda.”

“Oh, dari SMA mana?”

Dan percakapan berjalan selayaknya dua mahasiswa baru pertama kali berkenalan.

* * *

Nandani, Call.

Bukan mau telepon beneran, ini hanya missed call. Pulsa mahasiswa tidaklah cukup untuk telepon, apalagi beda provider.

Aku sudah bilang ke Nanda kalau akan membuat missed call jika aku sudah sampai di depan rumahnya. Setidaknya itu penanda, dan aku tidak harus mengetuk pintu rumahnya. Menurut pengalamanku sebelumnya, mengetuk pintu rumahnya adalah salah satu dari 10 hal sia-sia di dunia selain menegakkan benang basah.

Pintu di lantai dua itu kemudian terbuka.

“Udah lama?”

“Ya kira-kira dari dua abad yang lalu.”

“Ngaco kamu. Ya udah, tungguin.”

Tak lama, Nanda yang barusan keramas itu membuka pintu. Pakaiannya simpel, pakaian rumah. Ia menyambutku seperti biasa. Dan, seperti biasa juga, kami mengobrol banyak di teras lantai 2 rumahnya.

* * *

“Hey, Lan!”

“Apa?”

“Nanda bukan pacarmu po?”

“Bukan, emang kenapa?”

“Pantes, kemarin aku liat dia gandengan sama Doni.”

“Iya, dia pacaran sama Doni kali.”

“Lha itu kamu suka main ke rumahnya.”

“Emang teman nggak boleh main ke rumah temannya? Ada-ada aja ah kamu ini.”

“Oh, okelah kalau begitu,” kata Jane, mengakhiri pembicaraan.

Jane pergi, dan jantungku mendadak sesak. Nanda pacaran dengan Doni?

* * *

Yah, kukatakan dengan indah, dengan terluka, hatiku hampa. Sepertinya luka menghampirinya.

Segala yang terjadi antara aku dan Nanda tampaknya kuanggap berbeda. Ada beda bermakna antara pikiran Nanda dan pikiranku sendiri.

“Kau beri rasa, yang berbeda. Mungkin ku salah mengartikannya, yang kurasa cinta!” gumamku perih sambil melajukan sepeda motorku melewati rumah Nanda, untuk ke delapan kalinya dalam waktu 30 menit. Aku memang hanya mondar-mandir disana dari tadi.

“Tetapi hatiku, selalu meninggikanmu. Terlalu meninggikanmu,” desahku lagi. Ah, kenapa pula aku jadi begini.

Kuhentikan sepeda motorku persis di depan rumah Nanda. Ia sepertinya nggak ada, lantai 2 itu sepi. Berkali-kali kesini, aku paham penanda Nanda ada di rumah atau tidak.

Tapi mendadak perasaanku nggak enak. Maka kulajukan sepeda motorku perlahan.

“Kau hancurkan hatiku,” gerutuku pelan sekali.

Sebuah mobil kemudian masuk dan parkir di depan rumah Nanda. Yak benar, Nanda keluar digandeng oleh seorang lelaki, mungkin ini yang bernama Doni.

“Kau hancurkan lagi. Kau hancurkan hatimu tuk melihatmu.”

* * *

“Lan, mau makan apa? Sini tak masakin.”

“Baek bener kamu, Nda. Uda nggak usah repot.”

“Apa sih yang nggak buat kamu, Lan? Hahaha.”

“Cewek kok gombal.”

* * *

“Kau terangi jiwaku, redupkan lagi. Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu.”

Semuanya pedih, semuanya luka, tapi semuanya kukatakan dengan indah.

Aku melanjutkan perjalananku, pulang. Mungkin ini hanya serpihan jalan bagi hatiku untuk melihat sebuah luka dengan indah.

* * *

#cerpenpeterpan
Kukatakan Dengan Indah
@ariesadhar

-*-

Advertisements

Pernah?

Pernahkah kamu merasa jatuh cinta?
Pastilah, pernah.

Pernahkah kamu merasa jatuh cinta secara biasa,
sebuah jatuh cinta yang terjadi begitu saja,
bukan pada pandangan pertama,
bukan pada sebuah momen istimewa,
tapi pada sebuah perjalanan, yang sederhana.

Pernahkah kamu merasa bahwa dulu,
semua berjalan begitu biasa,
semua berjalan hanya sebagai peristiwa,
yang lantas bisa kita kenang dengan tertawa,
karena, ya, dulu memang hanya biasa.

Pernahkah kamu merasa bahwa cintamu ada di depan mata?
Ketika semuanya berjalan biasa dan sederhana,
perlahan menjelma menjadi istimewa,
perlahan menjelma menjadi cinta,
perlahan membentuk aku dan kamu.

Pernah kamu merasa bahwa harapmu akan cinta akan berhenti?
Pada suatu titik yang jelas,
yang siap menyambutmu dengan senyum,
yang sama dalam memandang masa depan,
yang sama dan impian.

Kamu pernah?

Aku sudah.

Dan itu,
jatuh cinta kepadamu.

Begitulah.

123 Bulan

Bis tampan warna hitam itu akhirnya sampai di Terminal Mangkang.

“Mangkang… Mangkang…”

Marlon menggeliat sejenak dari tidurnya dan sedetik kemudian sadar bahwa ia sudah sampai tujuan. Secepat kilat ia bangkit dari bangkunya dan bergegas turun dari pintu tengah.

Pagi sudah mewarnai Semarang. Tentunya panas. Ah, ternyata dimana-mana sama. Panasnya Semarang sama saja dengan kawasan industri yang hobi demo di sebelah sana, pikir Marlon. Mungkin Marlon lupa, di kota ini juga banyak kawasan industri. Jadi ya pantas kalau sama saja.

Ia melangkahkan kaki ke sisi terminal yang berisi bis-bis ke kota Semarang. Telepon genggamnya yang smart sudah tidak lagi smart karena kehabisan baterai. Jadi, ia menggunakan ponsel jadulnya, memencet beberapa angka yang tampaknya sudah dihafal.

“Halo..” Suara imut dari seorang anak kecil terdengar dari ujung sana.

* * *

“Mas, kita temenan udah lama lho. Nggak sayang tuh?” tanya Aira.

“Memangnya kenapa?” Marlon bertanya balik.

“Ya, simpel lah. Kita temenan udah lama banget. Malah yang keluarga kita udah kenal juga. Kamu kenal orang tuaku. Aku juga begitu. Dan itu kan sebagai teman, Mas. Dan kamu nggak sayang kalau itu semua hilang?”

“Itu malah salah satu bahan pemikiranku, makanya aku begini, Ai.”

“Mas, teman itu hubungan yang lebih abadi dari apapun. See? Kamu gundah sama yang dulu, cerita ke aku. Aku galau sepanjang waktu karena yang dulu juga, cerita ke kamu. Nggak ada yang lebih berharga dari itu lho Mas.”

“Hmmm, jadi sebenarnya?”

“Yah, kamu itu ya temanku, Mas. Mungkin malah lebih kayak Masku sendiri. Kamu tahu-lah kalau aku nggak punya sosok Mas yang bisa melindungiku. Dan aku dapat itu dari kamu.”

“Haha, tapi kalau adik cewek, aku udah punya, Ai.”

“Iya sih. Ya begitulah intinya.”

“Apa?”

“Ya, kamu itu Masku. Dan nggak mungkin buatku menerima kamu jadi pacarku, Mas. Biar berjalan seperti biasa aja yah.”

“Yah, kamu memang cewek berprinsip. Appreciate.”

“Nah itu kamu kan tahu prinsipku kayak apa. Masih nekat.”

“Siapa tahu, manusia berubah, Ai.”

“Kayaknya nggak sih. Hehehe.”

“Ya sudah. Aku hargai itu. Oya, selamat ulang tahun ya,” ujar Marlon sambil menyerahkan sebungkus kado.

Sebuah obrolan ringan di teras KFC Banyumanik, pada sebuah bulan muda, ketika senja menjelang.

* * *

“Ai, nggak nonton konser?” tanya Marlon ketika berpapasan dengan Ai di teras laboratorium Steril.

“Nggak dapat tiket, Mas.”

“Oh. Kehabisan ya?”

“Iyo.”

Aira berlalu, Marlon juga. Namanya aja berpapasan, jadi ya ngepas ketemu dengan kepentingan masing-masing. Marlon bergegas berjalan menuju tempat gladi bersih konser paduan suaranya, di hall kampus. Aira tampaknya hendak menuju lab lantai 4.

Sebuah pertemuan kadang hanya sekejap mata, di bulan belasan, masih menjelang senja.

* * *

“Wuih, yang mau jadi eksmud. Congkak nian,” kata Aira sambil menepuk pundak Marlon, yang sedang membaca pengumuman di kampus.

“Wuih yang udah jadian, nggak bilang-bilang. Hayo, congkak mana?”

“Heh? Siapa bilang?”

“Gitu ya sekarang, jadian nggak bilang-bilang. Giliran galau aja bilang-bilang aku, kalau seneng nggak. Nggak CS ah..”

“Ehm, nggak gitu kali Mas.”

“Terus gimana hayooo.”

“Yah, nantilah diceritakan. Kapan berangkat ke ladang mencari segenggam berlian?”

“Tanggal 4 pagi, Ai. Doakan saya ya. Hahaha.”

“Siap bos!”

Aira berlalu menuju kelas kuliahnya, Marlon menatap gadis itu dari belakang dengan pilu. Tampak sebongkah pilu dan sekarung sesal di mukanya. Sebuah pertemuan terakhir di bulan muda.

* * *

“Hey, kamu farmasi kan?”

“Iya, Mas. Kenapa?”

“Lha ya sama. Kayaknya pernah liat waktu inisiasi. Marlon. Kamu?”

“Aira.”

“Enjoy ya. Nggak banyak anak farmasi yang bisa eksis disini. Tuh, aku aja mencoba eksis dengan itu,” ujar Marlon sambil menunjuk setumpuk laporan di mejanya.

“Bakal gitu Mas?”

“Ya, biar bisa sama-sama eksis. Kalau nggak gini, kapan lagi ngerjain laporannya. Hahaha.”

“Oh gitu. Okelah Mas.”

Sebuah percakapan kala malam turun sempurna, di bulan menjelang tua. Ketika pertemuan memulai rasa. Ketika semuanya berjalan mulai angka 1.

* * *

“Gimana ya Mas?” tanya Ai dengan gundah.

“Lha kamu seneng nggak?”

“Ya, sepertinya sih.”

“Trus?”

“Ya, gini-gini kan aku cewek. Masak aku yang bilang kalau suka?”

“Ya jangan sih,” kata Marlon, “Pasti ada jalannya. Cowok kan tinggal dikasih tanda-tanda jaman aja. Hehehe.”

“Lha itu tanda-tandanya gimana?”

Marlon berkisah bak konsultan, Aira bercerita bak counselee. Keduanya berbicang diatas hijau rerumputan ketika pagi baru saja menyapa dunia.

* * *

“Silahkan kalian saling berjabatan tangan kanan dan menyatakan kesepaktan kalian di hadapan Allah dan GerejaNya.”

“Saya, Marlon Simamora, memilih engkau Cicilia Dinaira menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya.”

“Saya, Cicilia Dinaira, memilih engkau Marlon Simamora, menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia mengabdikan diri kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Saya mau mengasihi dan menghormati engkau sepanjang hidup saya.”

“Semoga Tuhan memperteguh janji yang sudah kalian nyatakan dan berkenan melimpahkan berkatNya kepada kalian berdua. Yang telah dipersatukan Allah…”

“Janganlah diceraikan manusia.”

Tiga orang anak manusia di depan altar mengucap baris-baris kata, di pagi hari ketika matahari menyapa dunia di bulan muda.

* * *

“Ai, sudah selesai baca bukunya?”

“Sudah, Mas.”

“Siplah. Sesuai janjiku, kalau aku ditolak, buku ini akan aku buat. Untunglah laku. Jangan-jangan banyak yang senasib yak.”

“Apa coba?”

Marlon mengaduk-aduk Caramel Machiato-nya, Aira asyik dengan Java Chip-nya. Sebuah buku, novel, berjudul Yang Terindah, tergeletak diantara mereka.

“Jadi, pada intinya, kamu memang yang terindah, Ai.”

“Bisa aja kamu, Mas.”

“Ya begitulah. Jadi kalau aku bilang cinta lagi sama kamu, kira-kira diterima nggak ya?”

“Hmmmm..”

“Aku sayang kamu, Ai. Dan aku ingin menghabiskan sisa umurku bersamamu. Maukah kamu melakukannya denganku?”

“Mas?” Aira terdiam sambil memegang gelas Java Chip-nya.

Marlon menatap Aira dalam-dalam.

Aira bernapas dalam.

Marlon tersenyum manis.

Jam serasa berhenti.

“Iya, Mas.”

Malam baru saja meliputi siang ketika dua anak manusia ini bertaut hati satu sama lain, di sebuah bulan tua yang penuh pesona.

* * *

“Ai?”

“Iya Mas?”

“Aku udah di tol, bentar lagi sampai.”

“Oke Mas.”

Aira bergegas mencari kunci mobilnya, hendak menuju exit tol dan menjemput suaminya.

“Ayo Al, kita jemput papa.”

Anak 2 tahun itu mengikuti Aira masuk ke dalam mobilnya.

Aira melajukan mobil dan berhenti di SPBU yang tepat berada di exit tol.

“Papaaaaaa..”

Al bergegas berlari menuju sesosok pria yang baru turun dari bis itu.

“Selalu begini, dua minggu nggak ketemu, dan pasti kangen. Sini sayang.”

Marlon mengangkat jagoannya tinggi-tinggi. Aira mendekat.

“Tuhan itu baik ya Ai?”

“Kenapa?”

“Dia menyuruhku bermimpi tentang kamu, Dia kasih waktu bertahun-tahun. Dan Dia mempersatukanku dengan kamu. Tambah jagoan satu ini pula. Aku nggak bisa berharap dan berdoa yang lebih baik dari ini.”

Aira tersenyum, tangannya menggandeng Marlon.

Marlon, Aira, dan Al berjalan ke mobil, melanjutkan siklus hidup sesuai yang digariskan, 123 bulan sejak semua mulai berjalan dari 1. Bahwa hidup ini berjalan untuk sebuah kebahagiaan.

🙂

7 Kualitas Pria Yang Cocok Dijadikan Kekasih (dari wolipop.com)

Seperti biasa, baca detik.com di pagi hari, dan… sebuah bahan bacaan menarik ketemu! Demi traceability, saya pasang di blog ini. Sumbernya jelas kok, dari wolipop.com dengan link ini.

Begini isinya:

Memiliki sosok kekasih yang sempurna pasti menjadi harapan semua wanita, tapi akan sangat sulit ditemukan karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna. Ketika Anda dekat dengan seorang pria dan ingin memutuskan untuk berhubungan serius, jangan hanya melihat dari kesempurnaan fisik. Ada yang lebih penting dari itu seperti sifatnya yang dewasa, berpikiran terbuka dan lainnya. Pelajari dulu sifat-sifat pria berkualitas yang cocok dijadikan kekasih, dilansir dari eHarmony berikut:

1. Dewasa

Menjadi “dewasa” bukan sekedar tidak bertindak seperti anak kecil lagi. Ketika orang berpikiran dewasa secara emosional, mereka cenderung tidak melakukan kembali atau memproyeksikan pengalaman masa lalu ke hubungan mereka saat ini. Pria yang dewasa akan lebih mempercayai dan memberikan Anda kebebasan untuk melakukan sesuatu yang positif, bukannya mengekang karena pengalamannya dimasa lalu misalnya.

Dia cenderung akan melepaskan diri dari masa lalu dan fokus terhadap hubungan yang akan dijalani. Ia juga berpikiran terbuka, bukan hanya mencari seseorang yang bisa menerima segala kekurangan dan kelemahan atau untuk menyelesaikan ketidaklengkapan mereka. Sebaliknya, mereka sedang mencari seseorang untuk berbagi hidup bersama dan menghargai kebebasan masing-masing. Tentu, menjadi dewasa secara emosional membutuhkan proses, Anda juga perlu belajar untuk menjadi seorang yang dewasa sehingga Anda akan memiliki kehidupan percintaan yang solid dan saling menguntungkan.

—> beneran, ini sulit, even usia saya sekarang udah 25 tahun. Saya berusaha keras menerjemahkan definisi dewasa dan tampak menemukannya di penjelasan di atas. Boleh jugaaaaa… Thanks to wolipop dalam rangka memberikan definisi ini.

2. Bersikap Terbuka

Ketika seseorang memiliki pemikiran terbuka, dia terbiasa jujur dalam mengekspresikan perasaan, pikiran, mimpi dan keinginan, yang memungkinkan Anda untuk benar-benar mengenal mereka. Sikap terbuka ini juga merupakan indikasi dari minat mereka dalam pengembangan diri dan berkontribusi untuk menciptakan hubungan asmara yang lebih baik.

—> ini dia, saya sedang mencoba implementasi yang semacam ini. Dan benar deh, ketika sudah terbuka, rasanya lebih enak.

3. Kejujuran dan Integritas

Pasangan yang ideal menyadari pentingnya kejujuran dalam menjalin sebuah hubungan. Kejujuran juga akan membangun rasa saling percaya satu sama lain. Pria yang jujur akan berusaha untuk hidup dengan integritas sehingga tidak ada perbedaan antara perkataan dan tindakannya. Ini berlaku untuk semua tingkat komunikasi, baik verbal dan nonverbal.

—> tidak ada perbedaan perkataan dan tindakan. Kalau bisa begini, laki beneran dah! Hope so! 🙂

4. Menghormati

Pria yang ideal akan menghargai kepentingan satu sama lain terpisah dari kepentingan mereka sendiri. Mereka akan dengan senang hati mendukung Anda. Mereka peka terhadap keinginan dan perasaan pasangan, dan menempatkan diri mereka diposisi orang lain ketika menghadapi suatu masalah. Selain itu, mereka tidak mencoba untuk mengendalikan satu sama lain dengan perilaku mengancam atau manipulatif. Pria yang ideal juga akan menghormati batasan pribadi pasangan mereka, namun tetap dekat secara fisik dan emosional pada saat yang sama.

—> oke, ini bagian yang buruk dari masa lalu saya. Bagian dari ketakutan untuk kehilangan. Hufffttt, tapi sudah kerasa juga sih, kalau nggak ada gunanya. Jadi syarat ini juga oke. Harus diterapkan.

5. Empati

Pasangan yang mampu berempati dan mengerti pasangannya akan membuat hubungan harmonis. Pria yang bisa berempati akan memposisikan dirinya sebagai Anda, sehingga segala perbedaan bisa dihadapi dengan mudah.

—> kalau saya pada posisi itu, maka…. Setidaknya saya sering jadi tempat curcol, semoga dapat membantu aspek ini.

6. Menyayangi

Seorang pria penyayang akan tanggap mengenai segala sesuatu yang terjadi baik secara fisik, emosional dan juga verbal. Pria ini akan menjadi pasangan yang ideal untuk Anda, karema dia mampu menenangkan Anda dengan penuh kehangatan dan kelembutannya.

—> menenangkan dengan kehangatan dan kelembutan, dari posisi jarak jauh? So difficult! Wong dari jarak dekat saja juga susah.. Huhuhu..

7. Rasa Humor

Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri dan setiap kelemahan dalam hidup memungkinkan seseorang untuk mempertahankan perspektif yang benar tanpa perlu emosi tinggi ketika berhadapan dengan masalah sensitif yang muncul dalam hubungan. Pasangan yang humoris dan memiliki rasa humor yang baik akan membuat hubungan tidak membosankan dan juga meredakan saat-saat tegang. Menertawakan masalah dan diri sendiri akan membuat hidup terasa lebih mudah. Ditambah, itu adalah salah satu kesenangan terbesar untuk bisa tertawa dengan seseorang yang sangat dekat dengan Anda.

—> sebagai orang yang sedang mencoba terjun di ranah penulisan humor, rasa-rasanya bagian ini perlu ditingkatkan. Benar sekali MENERTAWAKAN MASALAH dan DIRI SENDIRI sebenarnya membuat hidup JAUH TERASA LEBIH MUDAH. Jadi ingat menertawakan saya yang akselerasi TK. Hehehe..

Mencoba menjadi lebih baik, lagi dan lagi. Thanks to wolipop atas konten menarik pagi ini. Waktu workshop dengan BDI, disebutkan kalau copy paste itu boleh, asal bukan untuk tujuan komersial, mencantumkan sumber, dan tidak plek-plek benar. Semoga posting di atas ini sudah memenuhi syarat tersebut.

SEMANGAT!

Ibuk: Mencintai Tidak Bisa Menunggu

Sejak kerja, saya mungkin tambah gila pada buku. Kalau kuliah, saya hanya beli buku (non buku kuliah) kalau harganya dibawah Rp. 30 ribu. Nah, karena mulai kalap buku, maka saya nggak mengabaikan Jakarta Book Fair. Salah satu sisi positif saya pindah kerja ke Cikarang adalah akses yang lebih cepat ke ajang beginian. Karena sudah baca di twitter, saya lantas memburu stand Gramedia dan sebuah novel berjudul singkat “IBUK”.

Jakarta Book Fair itu udah agak lama, dan novel IBUK saya diamkan saja selama beberapa lama karena entah kenapa saya lagi kehilangan daya membaca novel. Nah, berhubung hari ini saya agak selo, baru deh saya baca.

Dan…..

Mas Iwan mampu membuat saya BERKACA-KACA dengan kadar melebihi novel 9S10A!

Saya sih yakin, siapapun yang masa kecilnya penuh perjuangan, pasti akan berkaca-kaca dengan tulisan Mas Iwan. Seperti biasa, ditulis dengan kalem dan memang terkadang tampak lambat, persis novel sebelumnya. Semuanya dijalin dengan manis dan yang patut diingat, hampir semua itu banyak dianggap “derita”, yah sebut saja sepatu rusak, telur bagi sekian, tempe, dan lainnya.

Jujur saya langsung ingat rumah. Ya walau memang pada level yang berbeda, saya juga merasakan perjuangan hidup orang tua dengan 4 anak. Beda dikit sama keluarga Bayek.

Sebenarnya bagian yang paling menyentuh adalah separuh awal dan seperempat akhir. Yang di tengah, sebenarnya mirip sisi lain dari 9S10A. Jadi bagi saya yang sudah baca 9S10A, merasa semacam diulang. *ini sekadar membahas saja ya Mas Iwan* hehehe..

Tentunya pelajaran hidup tampak dari sosok IBUK dan tentunya BAPAK. Novel ini memang jelas menonjolkan sosok IBUK sesuai judulnya. BAPAK bahkan hanya dikisahkan pergi pagi pulang malam. Dan itulah sudut pandangnya. Tapi bagian terakhir ketika BAPAK meninggalkan dunia itu sungguh sangat menyentuh sekali *kalau ada hiperbola lain, pasti saya pakai*

Dan sisi lain yang saya lihat, sebagai seorang karyawan, adalah:

1. bagaimana berjuang hidup, bekerja, sambil tetap menyisihkan uang untuk keluarga di rumah -> semacam balik modal investasi yang diawali dari kemauan sang anak.
2. ternyata bekerja dimana-mana sama ya.. Rasanya kok sama-sama pengen resign kalau lagi hectic.. Hehehehe..
3. bagaimana berada di “rumah” adalah sebenar-benarnya hidup, buat saya semuanya tampak demikian.

Terima kasih untuk tulisan yang menyentuh dari Mas Iwan, sungguh membuat saya berkaca-kaca, sambil mengenang masa silam. Saya bersyukur beli buku yang ada tanda tangannya. Hahaha..

Dan terakhir, soal foto keluarga. Sejak kecil, keluarga saya sudah ada foto keluarga. Dulu awalnya gratisan di tempat wali murid. Lalu berikutnya pas kami sama-sama mudik via Pak Campin (ini masih pake film sodara-sodara!). Lanjutannya pas saya wisuda dengan pose yang teramat sangat parah karena harga 2 pose 30 ribu, pake film pula (di era digital, what do you expect dengan harga segitu?). Dan karena keinginan saya untuk foto keluarga yang paling maksimal, maka saya berusaha agar ada sebuah foto yang dibuat di studio bagus. Syukurlah sudah pernah ada di wisuda adik cowok saya, dan saya ingin itu diulang lagi di wisuda adik saya tercinta tahun ini. Dan yang pasti, saya ingin membuat “foto keluarga” ala Bayek, sebuah buku. Semoga!

Inspiring!

*thanks a lot, Mas Iwan sudah mampir (lagi) ke blog ini*

Membanding-Bandingkan

Hahhhh… Entahlah, ini mungkin sedang hectic saja. Penuh, entah dengan apa. Jadi pengen sedikit berefleksi dengan membanding-bandingkan. Bukan maksud apapun kok, ini kan versi saya dan suka-suka saya, lha wong blog juga blog saya. Hahahaha..

Okehhh, kantor lama saya dan kantor saya sekarang sebenarnya satu perusahaan yang sama. Saya pindah dengan sebuah alasan yang (mungkin) lantas disesali. Jadi gini ya saudara-saudari, JANGAN SEKALI-KALI PINDAH KERJA KARENA ALASAN PACAR. Dari sisi itu, saya mungkin menyesal (lha njuk pedhot e.. hahaha..). Tapi dari sisi lain, saya bisa dibilang bersyukur dengan apa yang saya dapat di tempat baru ini, terutama penguasaan saya (dengan belajar sendiri) pada standar-standar yang sama sekali asing. Yah, dulu mana ada saya pernah tahu HACCP, ISO 22000, apalagi Sistem Jaminan Halal. Ya kan? Jadi ya sudah, nggak boleh ada penyesalan, karena toh semua ada positif dan negatif.

Total jenderal saya melakoni dua pekerjaan yang totally different dari sisi ritme dengan tingkat pusing yang sama. Ya iyalah, saya kan digaji untuk pusing dan lantas menghasilkan operasional yang baik. Bukan begitu?

Di tempat lama, saya terjun dalam sebuah rutinitas. Yak, tanggal sekian terima MPS, tanggal sekian upload planning, tanggal sekian running planning, tanggal sekian buat PR, tanggal sekian bikin ROFO. Begitu terus. Belum lagi ada kala material-material yang entah ada itunya, anunya, kurang itu, kurang anu. Ashh mbohh.. Hahaha.. Belum lagi, namanya juga orang planning, ada tarik ulur permintaan. Dan belum lagi yang paling bikin error dunia akhirat, gudang penuh. Hahaha.. Itu bagian-bagian yang setelah saya konfirmasi kemana-mana, jebule podho wae. Ya memang jatuhnya sama. Masalah itu ada relevansi dengan rutinitas. Dan ya memang begitu.

Di tempat sekarang, secara rutinitas memang anjlok. Lha dari 800 terjun ke 4, kompleksnya planning sejujurnya nggak kerasa. Tapi saya juga ngurus rutinitas untuk administrasi, dan saya baru bahan kenapa dulu saya harus susah payah nelpon ke gudang supaya bisa entry penerimaan ke sistem. Jebule angel rek. Saya ketemu dengan supplier yang macam-macam tingkahnya. Saya ketemu dengan dokumen-dokumen yang dulu saya nggak peduli. Itu separuh kerja saya. Sisi lain adalah di itu tadi, belajar standar-standar baru, implementasi, cari gap, cari pemenuhan gap, dan seterusnya. Well, sejujurnya, ini jauh lebih pusing daripada memutuskan harus order 5000 atau 7500. Bener deh. Tapi ya semoga bisa memberikan saya pemahaman lebih soal ilmu-ilmu baru ini, yang notabene di kuliah saya nggak paham. Jujur neh, karena kerja disinilah saya mulai konsen dengan kelas ruangan A sampai G, juga dengan IQ-OQ-PQ. Yah walau kuliah CPOB saya dapat A, tapi kan daya ingat rendah, jadi lupa deh.

Hahahahaha..

Jadi ya, kalau mau membanding-bandingkan, jatuhnya sama saja. Saya suka nguping kerjaan di pabrik otomotif hingga ke retail distribusi, ya sama. Konflik ada, masalah ada, hal-hal absurd ya ada juga. Semuanya berjalan karena memang kita hidup di dunia dan berhubungan dengan manusia.

Ini sekadar refleksi iseng saja kok, tidak mempengaruhi penilaian saya pada apapun. Saya bekerja disini sekarang, dan toh saya harus berkarya disini. Bekerja yang terbaik bukanlah sekadar demi bertahan hidup, tapi juga demi memberikan karya.

Eh, eh.. Satu hal yang kadang unik adalah ketika di pengobatan gratis ketemu obat dari kantor lama, yang saya paham batchnya, dan lantas tarik ke belakang… Ehhhh.. ini poly-nya saya yang order lohhh.. Ini doos-nya saya order sambil marah-marah, dan malah saya SOBEK sendiri (demi keamanan akan obat palsu). Hahaha.. Ini sungguh unik, buat saya. Entah buat yang lain.

Sekali lagi, ini semata-mata membandingkan. Kalaupun ada penyesalan, tentu karena sebuah alasan PACAR itu tadi. Tapi kira-kira sih impas dengan hal-hal lain, misal akses ke Jogja/Bukittinggi lebih murah, dan lainnya. Jadi, inilah hidup, kerjakan dan lanjutkan, demi kemuliaan Tuhan yang LEBIH BESAR.

Semua hal ada baik dan buruk kok, karena kita hidup di dunia 🙂

PKL, 4 Tahun Yang Lalu

Tengah malam terbangun, membaca sebuah whatsapp, semacam request menulis. Hahahaha..

Jadi yang ngirim whatsapp bilang kalau dia PKL di tempat yang sama dengan saya menimba ilmu dahulu. Hmmm, baiklah..

Tentunya ada note yang jelas bahwa kondisi pabrik itu pada tahun 2008 adalah berbeda bermakna dengan kondisi pabrik itu saat ini. Kalau nggak percaya, mari kita tanya ahlinya. Ya kan kang? Hahaha…

Okehhh, sekitar 4 tahun silam saya mendapat jatah untuk PKL di sebuah pabrik ternama di Jalan Raya Bogor. Sebenarnya saya yang minta PKL disitu dan syukurlah dikabulkan sama yang nyusun jadwal. Hehehe..

Buat yang PKL disana pasti senang karena ada seorang bocah tua nakal (waktu itu belum tua) yang baik hati dan rajin mentraktir. Kebetulan memang calo sampai bisa ada PKL disana ya memang beliau ini, si ahlinya itu tadi.

Saya kos di sebuah tempat bernama MABESKOSMAR, detailnya bisa dikulik-kulik disini. Tempat yang memang mirip kebun binatang karena banyaknya jenis hewan yang tersedia, tapi juga memberikan suasana yang menarik karena aspek penghuni-penghuninya. Kos ini cukup homy memang, apalagi penghuni lain pada baik-baik sama anak-anak unyu macam saya dan tiga teman lainnya.

Hari pertama PKL, langsung dihadapkan pada Plant Manager yang ganas tapi gila. Lah iyo, dia itu apoteker, tapi ngakunya Sarjana Ekonomi dari UNIVERSITAS TUGU MUDA, yang disingkat UNTUMU plus Sarjana Hukum dari INSTITUT SEBELAS APRIL yang disingkat I(h)SEBELAP(oteker). Po ora edan Bapak iki? Tapi pelan-pelan saya tahu kalau beliau ini adalah sosok yang LUAR BIASA. Siapa dia? Inisialnya SI. Hehehehe..

Lalu mulai berpraktek, kebetulan saya dapat di Quality bagian Packaging Material, kerjanya ya sampling-periksa-buang, sampling lagi-periksa lagi-buang lagi, sampling terus-periksa terus-buang terus. Ya ternyata kerja ya emang gitu itu, sebuah sesuatu yang bernama RUTINITAS.

Dan karena itulah saya setiap hari ke gudang. Menyaksikan gudang yang tingginya belasan meter, dan sesekali naik pakai forklift yang mantap bikin gemetar. *apalagi pas giliran ambil data logger di pucuk rak*

Siapa sangka saya lantas ‘punya’ gudang sendiri dibawah tanggung jawab sendiri, SEKARANG? Besarnya beda, tapi tingginya mirip, bentuknya mirip juga. Ah, dasar hidup!

Rutinitas ini berbarengan dengan anak PKL lain dari Swiss German University memang, tentu dengan perspektif yang beda. Kalau ditanya saya dapat apa, ya ilmu tentang sampling akar N plus 2 itu ya baru nemu di tempat saya PKL ini. Belum lagi soal pemeriksaan kemasan, bahan kertas (ivory/duplex), lipatan, pemeriksaan leaflet, lem, hingga pemeriksaan botol.

Satu hal yang paling ingat ketika saya TANDA TANGAN di form pemeriksaan alu foil E*ev*t. Wuihh, serasa pengen fotokopi lalu pajang di dinding. *waktu itu*, kalau sekarang? *setumpuk isinya tanda tangan sendiri* Hahahaha..

Lebih menarik lagi ketika bisa futsal bersama dengan tim yang ada di plant ini. Seru, seru banget. Dan disinilah saya merasa hidup itu ya seperti itu. Pada saat yang sama juga melihat bagaimana rasanya di-off via kejadian orang teknik waktu itu. Bagaimana rasanya kontak habis via seorang analis yang pamitan pada waktu yang sama. Bagaimana rasanya kuliah sambil kerja dari analis lain yang ada.

Sungguhpun itu sebuah pengalaman menarik. Dan setahu saya nih, orang-orang yang ada dulu sudah lepas satu persatu. Termasuk bocah tua nakal tadi itu. Bahkan saya pernah baca suatu status yang sifatnya mengeluh, dari staf yang masih ada disana. Entahlah, saya nggak campur urus sih, tapi bagaimanapun tempat itu pernah menjadi kenangan bagi saya sendiri. Dan lewat itulah saya tahu dunia nyata-nya farmasi itu ya seperti itu 🙂

Jadi bagaimana saudari? Kalau belum paham bisa tanya sama bocah tua nakal ini lho… Hehehehe…

🙂

Setiap Orang Punya Hidupnya Sendiri-Sendiri

Entah! *oalah, tulisan opo iki, awal-awal kok wis entah*

Jadi begini, dalam hidup saya yang fana ini memang saya sering mendapat jatah mendengar cerita orang-orang. It’s OK. Malah saya bersyukur banget bisa mendengar banyak referensi hidup dari banyak orang. Dan itu kemudian terefleksi dalam hidup saya sendiri, dan satu hal yang lantas saya sadari: bahwa setiap orang punya hidupnya sendiri-sendiri.

Saya, misal, di usia 14 tahun sudah menggembel di Jogja, di usia 17 tahun sudah jadi mahasiswa, dan di usia 22 tahun sudah jadi pekerja. Di sisi lain? Ada yang bahkan dari usia belum 10 sudah banting tulang cari duit, dan ada juga yang hingga usia lebih dari 22 masih menempuh pendidikan. So? Ya memang itulah jalannya sendiri.

Dan karena itulah, sejatinya tidak setiap hal itu bisa dibandingkan, namun memang bisa dijadikan referensi. Sekali lagi, kalau di pembuatan skripsi kita nggak membandingkan, tapi menggunakan referensi. Iya kan?

Misal nih, ketika adik saya sekarang usia 17 tahun dan kemudian memasuki hidup barunya di sekolah baru di usia 17 tahun. Saya kadang berpikir bagaimana ini anak bisa hidup. Tapi ketika hidup saya sendiri tak jadikan referensi, lha kok membalik sendiri. Umur segitu saya luntang lantung nyari kampus, dan sudah survive 3 tahun dengan badan yang (syukurlah) tambah kurus dan tambah kering.

Itu satu contoh.

Lalu kadang saya mencoba membandingkan masa silam saya yang penuh heroisme hidup lewat es mambo! Hahahaha.. Bener, dulu saya sore-sore kerjanya bungkusin es mambo buat dijual buat jajan. Kalau mau dibandingkan dengan teman lain yang lebih kaya, ya iri. Tapi saya lantas baru sadar setelah jadi orang pabrik begini, dengan penghasilan ortu mereka yang tinggi, konsekuensinya, waktu mereka lebih sedikit untuk interaksi. Sementara saya? Sepenuhny saya memiliki waktu bersama orang tua sejak pulang sekolah.

Jadi, bener kata stand up comedy kemarin yang saya tonton, kalau ada reality show yang mempertontonkan keperihan hidup, sebenarnya itu juga referensi saja. Lha begini, yang hidup aja nggak nangis kok, kenapa malah host-nya yang nangis? Hayo, kenapa coba? Hmmm..

Jadi memang, setiap orang punya hidupnya sendiri-sendiri, latar belakangnya sendiri-sendiri. Dan itu tidak bisa diubah. So? Tinggal bagaimana kita saling bertukar referensi untuk hidup yang lebih baik.

Salam Pessy! *opo jal*

Tangisan Berbuah Dolan-Dolan

Odong-odong merah memasuki Pok-We, biasanya hal ini akan disambutstanding oviation oleh para Dolaners. Yak, di musim demam berdarah, sebuah fogging gratis dari knalpot sepeda motor dua tak berkecepatan maksimal 40 km/jam mungkin adalah berkah tersendiri.

Biasanya begitu, tapi kali ini kok berasa aneh.

“Kowe sih Ko.”

“Lha ngopo aku? Kowe kuwi Bon.”

Yak, permainan voli tanggung jawab antara Chiko dan Bona memang adalah hal biasa. Cuma kok yang ini suasana agak sunyi senyap. Nggak dolan-dolan banget deh. Aku segera mengambil kesimpulan kalau aku baru saja melewatkan sesuatu yang penting.

“Ono opo kie?” tanyaku.

Sunyi, semua berpandang-pandangan kecil ke Aya. Hmm, ini seperti ada sesuatu. Untuk waktu itu Syahrini belum tenar dan belum mengeluarkan istilah sesuatu banget, apalagi jambul anti badai dan bulu mata gorong-gorong jalan sudirman.

Tidak ada kata dan penjelasan yang aku dapat di Pok-We kali itu selain, “besok dolan ke Ketep!”

“Lha, dolan PS e piye?” Aku bertanya lagi.

“Yo tetep.”

Aneh lagi nih, nggak pernah sekali-kalinya Dolaners membuat dua acara dalam 1 rentang waktu yang pasti akan berakhir dengan tidur bersama. Ya iyalah, dolan itu capek loh, apalagi kalau dolan plus-plus.

Sungguhpun aku mendapati sebuah misteri dari rencana esok hari ini.

* * *

Siang hari menjelang, dan masih di Pok-We, sebuah tempat yang mungkin bosan dengan Dolaners. Bagaimana tidak? Kalau pembeli lain mungkin akan membeli menu-menu mahal. Kalau anak Dolanz-Dolanz sebangsa aku dan Yama misalnya, pakai metode lain. Yah kalau di menu itu, di sisi kiri ada nama makanan dan di sisi kanan ada harganya, maka mata kami segera menatap ke kanan tanpa peduli yang ada di sisi kiri. Kalau memang menu itu tertempel di dinding, maka tangan kiri segera menutup yang di sisi kiri.

Ketika harga yang paling masuk akal ditentukan, barulah mata melihat ke nama menu. Dan biasanya sih nggak jauh-jauh dari tahu goreng, tempe goreng, atau maksimaaaallll banget telur goreng. Demikian adanya.

Dan juga, durasi nongkrong anak Dolanz-Dolanz di Pok-We itu kadang nggak mengenal toleransi. Bisa dari siang sampai sore, dan mengambil slot meja yang banyak. Belum lagi gojek kere yang kadang membuat orang lain yang nggak kenal risih sendiri.

Dan satu-satunya alibi adalah karena ada 3 Dolaners yang ngekos disana, maka tempat itu segera menjadi meeting point yang paling ideal dalam janjian.

Dan hari ini, perjalanan menuju ke KETEP PASS, Magelang.

Formasi ditentukan dengan 12 personil yang ikut serta. Roman berhasil mengajak Edo, Dolaners yang hilang. Ano bareng Chica, lalu Chiko bareng Aya. Duo tak terpisahkan Bona dan Richard (nama ini sesuai request lho.. hehehe..) masih eksis berdoa. Aku memboncengkan Lani dengan sepeda motor barunya. Dan terakhir, Soe Hok Gie wanna be, Yama bersama Toni dengan motor Honda Grand legendaris AD AV.

“Berangkat ki?” tanya Chiko.

“Iyolah. Ngko ndak ono sik nangis meneh,” ujar Bona.

“Bonaaaa…,” sergah Aya.

Dan percakapan singkat ini sudah memberi tanda bahwa perjalanan dadakan ini dilakukan karena Aya menangis kemarin! Aha! Aku memang detektif jempolan, jempol kaki nan kapalan. Yah, lagian mana mau anak-anak lelaki liar ini diganggu jadwal PS yang sudah ter-planning lama itu dengan aktivitas yang melelahkan kalau nggak benar-benar kepaksa? Yak, kepaksa karena Aya nangis. So sweet sekali.. *sweet darimana yak?*

Perjalanan dimulai dengan rute standar yang jelas-jelas dipahami bersama. Yah kalau cuma dari Paingan sampai Magelang, Dolaners sejati pasti paham sak jalan tikuse. Hehehe.

Jalan ke arah Magelang sana sih sudah biasa pakai banget buat pelaku sekelas Dolaners, lha wong lurus-lurus wae. Bagian ini berubah ketika sudah belok kanan dan segera menanjak menuju puncak gemilang cahaya, menggapai cita seindah asa. Ini disorientasi dengan akademi fantasi sepertinya.

Aku beruntung dapat jatah motornya Lani yang notabene masih baru gress hingga gigi 2 pun masih kuat melibas tanjakan. Sementara Edo dengan mantap melibas jalanan karena emang punya cc yang juga gede dan termasuk baru juga. Sisanya? Aku nggak lihat. Bawa anak orang, yang punya motor pula, motor baru pula, jadi kudu eling lan waspada.

Ketep Pass sejatinya ‘hanyalah’ sebuah tempat ketika kita bisa menyaksikan puncak Merapi dari sisi yang berbeda. Tapi melihat pemandangan secakep itu tentu penyegaran tersendiri di masa ujian sisipan. Yah jelas aja, wong ujian nggak bisa garap, pasti butuh penyegaran kalau begitu.

Merapi View (Dokumentasi Pribadi)

Dan ketika motor kami satu per satu masuk ke area parkir, obrolan khas Dolaners mulai mengemuka.

“Lha kuat to Ton?” goda Chiko pada Toni yang membawa motor legendaris Yama.

“Lha iyo. Gigi 1 karo tak elus-elus.”

Yama selaku yang punya motor senyam senyum saja, pura-pura nggak tau kalau senyumnya itu sama sekali nggak manis, sepet lagi ada.

Chica lantas mengeluarkan benda legendaris lainnya dari Dolaners, kamera digital! Di era teknologi belum maju, benda bernama camdig yang boros baterai itu adalah harta yang paling berharga setelah keluarga cemara. Beneran deh. Dan kebetulan, Dolaners adalah MAGITO alias…

Hayo tebak apa? Yak, benar! *apa coba*, MAGITO adalah manusia… gila… hayo to-nya apa..

Betul! MAGITO adalah manusia gila magito!

Eh, salah.. Hehe. Manusia Gila Foto! Ini baru bener.

Tiupan angin kencang di Ketep Pass sanggup membuat rambut Toni berkibar-kibar layaknya bendera di pucuk tiang. Namun tak sanggup menggoyahkan rambut Edo yang bagai bonsai beringin.

“Jagung yo cah?” ajak Chiko.

Dan seperti biasa pula, satu beli, yang lain juga. Tapi nggak semua sih. Jagung bakar itu tidak layak konsumsi kalau nggak bawa bekal minum dan tusuk gigi. Tapi ya aku beli juga.

Obral-obrol, eca-ece, gojak gajek, plendas plendus kami lakoni di dekat parkir motor itu. Tentunya sambil makan jagung. Dan perpaduan gojek kere bersama dengan tiupan angin itu lantas membuat jagung yang lagi dipegang dan dikerokoti Bona bersua dengan tanah.

“Waduh tibo.”

“Huahahahaha.. rasakno.”

“Belum lima menit.”

Bona lantas mengambil jagung itu dan melanjutkan kerokotannya. Sungguh tidak layak ditiru untuk kategori anak farmasi!

Hampir tidak ada yang dilakukan di ketinggian itu selain menikmati angin yang semakin lama semakin bisa bikin Yama melayang bak layangan dan menikmati keindahan pemandangan. Mau nambah jagung, kantong tipis.

“Muleh?” tanya Yama.

“Mampir sik omahku,” ajak Edo.

“Mangan ki?”

“Siap!”

Yak! Inilah gunanya teman! Rumahnya Edo memang ada di sekitar Pakem yang tentunya dilewati kalau mau pulang dari Ketep ke Paingan. Dan, ehm, makan gratis? Wah, sungguh keindahan hidup yang luar biasa bagi anak rantau, anak kos, dan mahasiswa pas-pasan, misalnya semacam aku.

Kami bersiap pulang, menempuh jalur yang sama. Meninggalkan Ketep dengan sindiran mendasar, “uda nih, puas? Nggak nangis lagi kan?”

Dan Aya hanya tersipu saja.

Setidaknya tangisannya berhasil membuahkan sebuah perjalanan. Dan percayalah, itulah sebenar-benarnya teman 🙂

Hoki vs Kerja Keras

Pernah punya teman dengan hoki maksimal? Menurut saya, ada. Sebutlah begini, giliran ada agenda undi mengundi, hampir pasti orang ini dapat. Giliran yang lain galau menggalau jomblo, tanpa perlu kerja keras, orang ini bisa punya pacar. Giliran mencari kerja itu susahnya minta ampun, orang ini bisa dapat kerja dengan 1 kali melamar.

Dan kebetulan, saya nggak masuk golongan itu.

Yak, nama saya pernah masuk juara lomba caption foto Bola tahun 2004, tapi itu nama saya, dengan caption foto kreasi adik saya. Jadi itu bukan saya. Nah, jadi jelas lah, kalau namanya undian-undian itu, saya nggak pernah berharap. Kenapa? Hampir pasti saya nggak dapat. Seumur-umur dapat undian itu cuma tempat pensil berbalut batik. Enough.

Dan perlahan saya sadar relasinya adalah dengan kerja keras.

Why? Syukurlah saya punya beberapa prestasi. At least, saya bisa dapat beasiswa dulu plus beberapa kali dapat duit dari lomba menulis. Intinya? Saya nggak punya hoki tinggi sehingga saya harus kerja keras untuk mendapatkan yang saya mau. Sesederhana itu saja.

Dan kadang saya ngiri dengan betapa mudahnya orang hoki mendapatkan segala yang dimaui. Tapi perlahan saya sadar, bahwa sejatinya, itu hanya bentuk pengalihan. Aslinya saya harus bekerja lebih keras untuk memperoleh apa yang HARUS saya dapatkan.

Hehehe.. Semangat!