Alasan Harus Ikut Kelas Inspirasi

Kowe kudu melu… Aku wae nyesel lagi melu saiki…

Bagi yang nggak paham, pernyataan bahasa Javanese barusan kira-kira bermakna:

“Lo harus ikut… Gue aja nyesel baru ikutan sekarang…”

Masak sih?

Advertisements

Laos: Sungai Mengalir Sampai Jauh

Bicara Laos tentu saja tidak jauh-jauh dengan ketumbar. Mengingat Laos adalah salah satu bumbu dapur.

Sebentar-sebentar, ini ngomongin apa sih?

Oh iya, ini ngomongin ASEAN. Berarti bukan ketumbar. Jadi, mari kita ulangi lagi.

Bicara soal Laos tentu saja tidak lepas dari negara-negara di sekitarnya. Mengingat Laos sendiri sudah tergabung di dalam organisasi ASEAN sejak 1997. Laos adalah negara yang tergolong baru masuk ASEAN karena waktu zaman saya SD, Laos belum masuk ASEAN. Sebenarnya saya SD waktu zaman wakil presidennya masih Umar Wirahadikusumah sepertinya.

Laos adalah negara dengan identitas yang berbeda dengan mayoritas ASEAN, apalagi Indonesia. Kalau Indonesia berkelimpahan pantai dan laut, Laos justru nggak punya sama sekali. Laos dibatasi kanan bawah kiri atas dengan daratan negara ASEAN yang lainnya. Penghidupannya adalah di Sungai Mekong yang legendaris.

Saya sendiri tidak terlalu mengenal Laos karena diantara negara-negara ASEAN yang pernah saya layani proses ekspornya, negara ini tidak termasuk. Kalau ekspor ke Myanmar, Thailand, sampai Vietnam sih pernah. Jadi, saya memang perlu kenalan dulu dengan Laos.

Begitu kira-kira.

Langsung ke topik #10daysforASEAN saja deh. Jadi apa sih yang sebaiknya dilakukan oleh Laos dalam hal kerjasamanya dengan negara-negara lain di ASEAN?

Hal yang dilakukan oleh Laos dengan menjadi tuan rumah SEA Games adalah sebuah kemajuan besar yang merupakan pintu gerbang ke kerjasama yang lebih intensif di ASEAN terutama mengingat penyelenggaraan SEA Games biasanya ya di negara situ-situ saja. Kita tentu tahu bahwa SEA Games sendiri terkait dengan pembangunan fasilitas, kunjungan banyak orang antar negara, dan pembangunan relasi yang baik antar warga sesama ASEAN.

Okelah kita belum memetik buah dari SEA Games secara prestasi.Tetapi apa yang dilakukan oleh Laos dengan menjadi tuan rumah SEA Games sudah menjadi semacam awalan yang dilarung di sungai yang kemudian akan mengalir sampai jauh…

…akhirnya ke laut.

Dalam proses komunitas ASEAN tentu keterbukaan dan interkoneksi antar negara menjadi penting. Mengingat Laos punya kebijakan visa yang tidak seketat Myanmar, maka tidak ada yang ditakutkan. Wong kalau Myanmar begitu saja juga nggak ada yang perlu ditakutkan. Satu-satunya yang perlu ditakutkan di dunia itu hanya kalau jodoh kita mengubah nasibnya sehingga tidak menjadi jodoh kita lagi.

#apasih

Potensi yang khas dan berbeda milik Laos tentu harus dikelola dengan pendekatan yang berbeda dibanding dengan Indonesia. Jadi, buat saya tidak ada yang perlu ditambahkan. Arah kebijakan Laos saat ini sudah sesuai untuk tendensi ke Komunitas ASEAN 2015.

Salam Jauh!

Tentang USB Flashdisk

Kemaren habis ikut acara ASEAN Blogger dan rada kaget waktu registrasi ulang. Kenapa kaget? Karena selain dapat kaos, saya juga dapat sebuah USB Flash Drive JetFlash 16 GB. Wew. Ini USB Flashdisk dengan kapasitas terbesar yang saya punya. Lumayan untuk back up foto-fotonya si EOS. Mungkin juga bisa sekalian back up foto-foto mantan gebetan.

Dan karena benda yang satu ini, saya jadi ingat USB Flashdisk pertama saya. Jujur saya lupa merk-nya apa, kalau tidak salah sih My Flash. Benda itu dua tahun yang lalu saya hibahkan ke si Dani, katanya untuk pelajaran TIK. Itu pelajaran apa sih? Tidak Ingin Kehilangan? Tetap Ingin Kembali?

Selanjutnya

Cerita Farmasi: Ketika Saya Didadar

pablo (3)

Malam ini kusendiri
Tak ada yang menemani
Seperti malam-malam
Yang sudah-sudah

Ini kok malah nyanyi minta kekasih? Ya pada intinya saya sedang nggak bisa tidur. Bukan karena banyak pikiran, tapi karena tadi pulang kerja malah tidur pulas sampai jam 9 malam. Jadilah sekarang saya melek tidak karuan. Yah, yang penting bukan tengah malam merem-melek, bisa bahaya itu.

Kalau urusannya sudah nggak bisa tidur begini, saya jadi ingat sebuah rangkaian peristiwa yang melibatkan kata kunci “nggak bisa tidur”. Sebuah peristiwa nggak bisa tidur paling bodoh yang pernah saya alami, menurut saya.

Peristiwa apa itu?

Kisah Selengkapnya

Cerita Farmasi: Realita Skripsi Lapangan

4 Omongan Yang Sering Dilontarkan Kepada Anak Farmasi (1)

Halo! Lanjut lagi ya dengan edisi luntang lantung gaje. Kali ini saya mau membahas soal skripsi lapangan. Ehm, tentu saja yang dimaksud bukan skripsi di lapangan sepakbola, lapangan basket, apalagi di lapangan tembak.

Jadi di farmasi itu secara umum ada dua pembagian jenis skripsi. Yang pertama adalah skripsi di lab. Berhubung dunia farmasi itu amat sangat luas banget sekali, maka skripsi lab ini menyajikan banyak peluang untuk diteliti. Beberapa judul dari skripsi genre ini adalah “Penetapan Kadar Aspartam Dalam Minuman Sachet bla..bla..bla…” atau juga “Pengaruh Pemberian Paracetamol Dosis Tinggi Pada Mencit Galur Wistar bla..bla..bla..”. Dalam konteks tertentu bisa saja berubah menjadi “Penetapan Kadar Cinta Yang Tersisa Pada Mantan Terindah bla..bla..bla…” atau “Pengaruh Pemberian Baygon Dosis Tinggi Pada Mencit Yang Galau Habis Putus Cinta bla..bla..bla..”

Baca Realita Skripsi Lapangan

Cerita Farmasi: Farmasetika (2)

Sesudah berkenalan dengan Pulvis, Pulveres, dan Capsulae, maka setiap Rabu selalu ada bentuk sediaan obat lain yang saya temui. Dan semuanya masih mengacu pada buku formula jaman sepakbola belum mengenal offside.

Berturut-turut sesudah trio maut tadi, saya menemui Pilulae-Granulae dan Suppositoria. Pilulae ini gampangannya adalah pil. Walaupun ini tentu beda dengan pil yang kita kenal sekarang. Kalau dibilang pil koplo, itu sebenarnya beda dengan bentuk pil yang saya bikin. Kemarin sempat lihat cara pembuatan pilus, dan… ya mirip cara membuat Pilulae.

Jadi adonan bahan obat dibuat sedemikian rupa sehingga panjang-panjang, lalu tinggal dipotong dan dibulatkan. Asli udah kayak main lilin-lilinan jaman kecil dulu. Bedanya yang dipegang adalah campuran daun Digitalis, obat jantung jaman dulu. Adapun Granulae hampir sama dengan Pilulae, tapi bentuknya saja yang jauh lebih kecil.

Sedangkan suppositoria adalah jenis sediaan yang penggunaannya dimasukkan ke lubang anus. Bentuknya seperti peluru, dengan ukuran kira-kira sepanjang dua buku jari kelingking. Ah, anak farmasi kok bikin ukuran kayak wartawan menyampaikan berita banjir.

“Pemirsa, banjir sudah setinggi kepala orang dewasa yang lagi push up..”

“Pemirsa yang budiman, air sudah menggenang setinggi pinggang orang dewasa. Kebetulan dia lagi boker..”

Dan sejenisnya.

Di praktikum pembuatan suppositoria ini, kekompakan sudah mulai terbentuk diantara anggota kelompok praktikum F. Dan karena saya ada di meja 1, maka jadilah kelompok ini dinamakan F1. Ini adalah kelompok praktikum paling keren, kalau ada mata kuliah ‘Teknik Praktikum Yang Berantakan’.

Sediaan suppositoria yang dibuat ini menggunakan basis Oleum Cacao, alias minyak kakao, yang tentu saja aromanya menggugah selera. Coklat men! Ya, menggugah untuk menit pertama, dan memuakkan untuk menit berikutnya mengingat obat ini digunakan dengan cara dimasukkan ke dubur.

Sumber: siskhana.blogspot.com

Sumber: siskhana.blogspot.com

Dari bahan-bahan penyusun suppositoria ini ada sebuah pewarna yang sangat keren, namanya Karmin. Ini pasti saudaranya Karmin Elektra dan Paimin. Kenapa keren? Karena cukup dengan sedikiiiittttt saja menuang serbuk ini, warna merah sudah bisa diperoleh. Dan di formularium juga ditulis penggunaannya yang sedikit. Sepertinya sih agar suppositoria yang didapat tidak coklat-coklat amat, alasan estetika.

Oya, di meja F1, selain saya, Tintus dan Andrew, ada Budiaji, Finza, Maria, dan Ita. Sejauh mata memandang, nggak ada yang agak benar dikit, selain Andrew. Bahkan mejanya BA–begitu Budiaji biasa disapa–dan Finza nggak kalah berserakan dibandingkan meja saya dan Tintus. Syukurlah, ada temannya untuk bagian kerapian dapat C.

Jam demi jam berlalu, campuran suppositoria tadi sudah dibekukan dalam cetakan dan sudah siap untuk diambil. Fiuh, akhirnya bisa juga saya praktikum agak bener. Setidaknya waktu diskusi, saya bisa membawa dua bentuk sediaan sesuai tugas yang diberikan di panduan praktikum. Dan bentuknya, setelah saya bandingkan dengan punya Andrew, nggak bubrah-bubrah amat.

Saatnya diskusi!

Diskusi dihelat bersama kakak kelas yang sudah tua, yang menjadi asisten praktikum. Kalau di kuliahan lain dikenal adanya asisten dosen, kalau di tempat saya kuliah adanya asisten praktikum doang sih. Apapun namanya, yang pasti mereka sudah tua.

Waktu diskusi ini, setiap mahasiswa harus mengeluarkan bentuk sediaan yang dihasilkan untuk kemudian dibahas bersama dan dituliskan di laporan untuk dikumpulkan pekan depannya. Begitu saja terus, sampai ujian praktikum alias responsi.

Ita, Maria, Andrew, Tintus, dan saya melewati bagian ini dengan cukup baik, yah ada masalah sedikit karena suppositoria punya saya agak retak-retak. Mungkin kurang benar waktu proses sebelum mendinginkan dan mengeraskan.

Tibalah giliran BA mengeluarkan suppositorianya.

……

….

“Hahahahahaha.”

Dan satu F1 ngakak melihat suppositoria buatan BA. Soalnya warnanya merah banget, persis lipstik!

Sumber: ceriwis.com

Sumber: ceriwis.com

Sumber: intanjait.blogspot.com

Sumber: intanjait.blogspot.com

“Kamu pakai karmin berapa banyak?” tanya Kakak Asisten.

“Satu sendok.”

* * *

Setelah praktikum suppositoria, kelompok F1 harus bertemu dengan Unguenta-Cremoris, serta Solutio-Mixtura.

Namanya aneh-aneh ya? Tapi itu semua familiar banget kok dengan kita. Unguenta itu nama tenarnya adalah salep, sedangkan Cremoris itu nama populernya adalah krim. Kalau sering pakai obat oles luar, ya pastinya dari kedua jenis ini.

Solutio dan Mixtura, apalagi itu? Keduanya adalah bentuk sediaan obat bertipe larutan. Katanya sih, kalau solutio diberikan kepada sediaan yang hanya mengandung 1 bahan terlarut, kalau banyak namanya mixtura.

Nah, di praktikum Solutio-Mixtura ini, anak F1 diberikan dua resep yakni obat batuk hitam dan larutan penyegar. Ditunjang oleh skill praktikum yang mulai terasah, maka praktikum bisa dimulai dengan riang gembira.

Saya dan Tintus kemudian asyik bercumbu dengan timbangan, yang masih saja belum ganti jadi timbangan digital. Kali ini rada seru karena yang ditimbang adalah bahan berbentuk cairan. Yeah, menimbang cairan dengan menggunakan timbangan logo pengadilan.

Di sebelah kanan, saya melihat Andrew dengan cekatan dan lugas mencampur-campur segala bahan tanpa sedikitpun menyentuh timbangan logo pengadilan itu.

Kok bisa ya?

“Udah kelar lo?” tanya Tintus.

“Udah dong.”

“Kok bisa? Gue aja baru nimbang.”

“Ngapain juga ditimbang?”

Saya dan Tintus lantas keheranan. Terus kalau nggak ditimbang, diapain dong?

Andrew kemudian membuka lemari kaca di bawah meja kerja dan mengambil sebuah benda yang belum pernah saya sentuh selama kami praktikum: gelas ukur.

“Disitu suruh timbang berapa?”

“100 mililiter,” jawab saya sambil ngecek ke formula standar.

“Tinggal tuang disini kan? Ada garisnya 100 mL,” terang Andrew sambil menunjuk ke garis yang ada di badan gelas ukur.

Sumber: nurindasarii.blogspot.com

Sumber: nurindasarii.blogspot.com

Iya juga ya? Di panduan dan di formula kan cuma disuruh timbang sekian, dan nggak dibilang nimbangnya pakai apaan. Dan mungkin ini efek praktikum-praktikum sebelumnya yang menggunakan bahan dasar padat, yang memang harus menggunakan timbangan neraca.

Kadang orang kalau terlalu biasa, jadi nggak kepikiran out of the box yah?

Segera sesudah dapat ilmu dari Andrew soal ‘menimbang’ dengan menggunakan gelas ukur, pekerjaan saya dan Tintus menjadi lebih cepat. Ya karena memang bagian yang paling makan waktu sebenarnya adalah menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan rohani. Eh, salah. Menyeimbangkan timbangan kiri dan kanan.

Obat batuk hitam jadi dengan aroma Succus Liquiritiae yang manis-manis gimana gitu. Sekarang saatnya membuat mixtura, berupa larutan penyegar. Mas penunggu lab alias laboran sudah menyediakan botol soda bekas, sekaligus penutup dan talinya, karena sediaan ini akan mengeluarkan CO2 sehingga kalau nggak ditutup dan ditali, maka tutupnya akan terbang dan lepas bebas ke angkasa.

Campur, campur dan campur. Akhirnya sampai juga pada tahap menutup botol dan mengikatnya. Beres deh. Sediaan berwarna putih bening kayak soda itu sudah bisa dibawa ke diskusi.

“Boleh diminum, Mbak?” tanya saya kepada Mbak Asisten sesudah diskusi berakhir.

“Boleh aja kalau mau.”

Yah, kelihatannya enak. Padahal siapa yang tahu tanggal kadaluarsa bahan-bahan yang ada di lab itu? Bahkan air yang digunakan untuk bahan utama, meskipun namanya aquades, tapi diambil juga dari jerigen. Cuma kok nggak kepikiran aja sampai disitu. Yang terlintas cuma kelihatannya enak, dan boleh dong sekali-sekali nyicip hasil kerja sendiri. Kalau kemarin-kemarin, yang dibuat Pilulae obat jantung sama Suppositoria. Males banget kalau mau nyobain.

Anak-anak F1 segera memposisikan botol menghadap ke taman di depan lab. Menurut teori, isi botol ini akan banyak CO2, jadi begitu tali pengikat dilepas, tutup botol akan terbang dengan tekanan tertentu.

“Plup. Plup. Plup.”

Benar saja, tutup botol berterbangan dengan radius beberapa meter dari tempat kami berdiri. Andrew, Maria, dan Ita segera membuang isi botol tersebut ke wastafel.

Saya malah mendekatkan mulut botol itu ke mulut sendiri.

Cicip.

“Enak juga.”

Rasanya memang mirip larutan penyegar serbuk yang sekarang ramai dijual, dan iklannya mulai saling merendahkan satu sama lain. Karena juga sudah siang dan haus, maka satu botol mixtura itu habis juga. Lumayan ngirit nggak usah beli es teh.

Sementara itu di wastafel lab…

BA berdiri dengan mulut botol masih menutup, dan menghadapkannya ke dalam wastafel. Jadi jarak tutup botol dengan dinding wastafel bahkan kurang dari 30 cm.

Kalau tadi tutup botol saya bisa terbang 5 meter. Berarti yang ini kalau dilepas….

“Plup.”

“Budi!”

Suara tutup botol lepas, diiringi gemercik air di lantai, diakhiri suara marah Bu Agatha.

“Kamu bersihkan sekarang!” lanjut Bu Agatha, masih marah.

Ya iyalah, Bud. Kalau di luar tadi tutup botol bisa terbang 5 meter. Gimana di wastafel? Kalau di luar tadi saja, air di botol masih nyiprat dikit meskipun posisi botol sudah 45 derajat miring mengadap ke atas, gimana kalau botol 45 derajat menghadap ke bawah?

Air di dalam botol soda itu akhirnya ya nyiprat kemana-mana. Lab yang sudah dibersihkan oleh masing-masing praktikan menjelang berakhirnya praktikum kini basah karena mixtura punya BA.

“Iya Bu.”

Saya dan Tintus ngakak habis sambil meninggalkan lab untuk makan siang, karena jam 1 ada praktikum lagi, Kimia Dasar. Bukannya senang karena teman menderita loh, tapi yang dilakukan BA itu benar-benar lucu, apalagi kalau lihat tampangnya yang mirip tampang pengantin bom unyu, sesaat sebelum menarik detonator, eh… menarik tali penutup, sampai kemudian terdengar suara, “plup.”

Satu jam kemudian, kelompok F sudah berkumpul kembali di lab bersiap praktikum Kimia Dasar. Dan ada yang aneh dengan BA.

“Bud, jas lo kok kotor?” tanya Tintus.

“Iya tadi ngepel.”

“Lo ngepel pakai jas lab?”

“Iya.”

“Hahahahahaha.”

Bukannya belajar buat pre-test–tes sebelum memulai praktikum–seantero kelompok F malah ngakak nggak berhenti-berhenti mengetahui kalau BA baru saja mengepel lab Farmasetika dengan jas labnya yang putih bersih itu.

* * *

Malam Hari

Badan saya mendadak panas, pusing melanda, dan pada akhirnya tidak bisa tidur sepanjang malam. Awal mula mimpi Halle Berry, terus kemudian Halle Berry-nya menjelma menjadi Berry Prima. Gimana saya bisa tidur kalau gitu?

Baiklah. Mencicipi sediaan buatan sendiri cukup kali ini saja.

Merawat Kamera DSLR

Punya aja belum, sudah nggaya posting beginian !

Nggak apa-apa, dalam waktu dekat, kalau perlu itu CC penuh balada akan saya gesek buat beli benda ini. Sudah lama sekali pengen beli. Heuheuheu.

Sumbernya inih adah beberapah yah, disini, disitu, dan disana.

DSLR adalah kependekan dari Digital Single Lens Reflect. Harganya, paling murah saja 4.5 juta. Yasalam.

Hindarkan kontak langsung dengan matahari

Ini mirip elektronik pada umumnya sih. Apalagi buat kamera murah, karena pasti ringkih. Cuma gimana kalau motret outdoor ya?

Hindarkan dari goncangan berlebihan

Pastinya harus ditaruh di tas khusus kamera, yang biasanya ada busa peredam benturan.  Ini must buy tool berarti.

Hindarkan dari kapur barus

Naftalena katanya dapat merusak konten kamera, termasuk ke Printed Circuit Board-nya.

Penyimpanan di tempat yang baik

Baik disini dalam artian kedap udara, sejuk, dan kering. Lemari penyimpanan pasti mahal. Jadi mungkin bisa di toples kaca yang tertutup rapat, plus dessicant untuk menyerap lembab. Huaaa.. Apa kabar Cikarang yang lembab-nya 80% lebih ini? Dan baik ini juga berarti bebas dari butiran debu.

Selalu bersihkan kamera dan lensa

Pembersihan dilakukan teratur dan berkala (udah kayak klausul ISO ajah..), body-nya dilap kering dan bersih, lap tidak kasar. Bagian dalam pakai blower yang biasanya dijual di toko kamera, bukan toko roti. Untuk membersihkan lensa dari noda, pakai tisu khusus juga. Beli lagi dong? -___-

Hindarkan goresan pada lensa
Bagusnya–katanya–ada filter permanen untuk melindungi. Untuk itu juga, usahakan selalu pasang penutup waktu lensa lepas dari body.

Sebaiknya jangan simpan di lemari pakaian

Apa kabar anak kos? Hedeh. Katanya bisa pakai wadah khusus bisa kaca, bisa fiber, atau lainnya. Dan alasnya empuk lho. Penggunaan dessicant kira-kira 2 bulan. Atau pakai KCl semacam serap air gitu (di kamar saya sebulan langsung penuh!). Bisa juga pakai teh yang ditaruh di wadah, lalu letakkan dekat kamera. Ini kayaknya sebelum beli kamera, saya harus beli wadahnya dulu. Kamera juga jangan ditaruh di dalam wadahnya dalam waktu yang lama. Sumpek kali ya.

Membersihkan kamera

Gunakan blower untuk meniup butiran debu dari body dan lensa, sebelum kemudian dilap dengan kain dan kertas yang semuanya khusus. DUIT LAGI!

Mengamankan LCD
Pakai alat pelindung dari sono-nya. Mahal nggak ya? Kalau pakai antigores HP bisa nggak ya?

Baterai

Jangan di-charge berlebihan. Segera cabut kalai penuh, dan juga lepas jika sedang tidak digunakan.
*malah jadi mikir ulang inih*

-_____-“

Tristan

Kok ya mendadak saya ‘jatuh cinta’ dengan nama ini. Gara-garanya kemarin kenalan sama anak yang lucu bin imut. Seperti biasa, ditanya:

“Siapa namanya?”

“Isss.. Tan..”

“Hah? Setan?”

“Tristan.”

Anaknya–ya namanya juga anak-anak–nggak takut sama orang baru. Bisa gaul dengan cepat, dan tentu saja berlarian kesana kemari.

Dan kemudian saya jadi ingat nama striker Real Mallorca–kemudian Deportivo La Coruna–Diego Tristan Herrera. Ketika ada tim yang mendobrak kemapanan, maka saya suka, termasuk Super Depor-nya Tristan yang bisa mengusik El Clasico.

Yah, jadilah nama itu terngiang-ngiang. Dijadiin nama anak bagus kali ya?

Cuma masalahnya, belum ada emaknya ini.

Ternyata nama Tristan ini sangat terkait dengan sebuah kisah romantis bin pahit. *ealah, ujung-ujung e yo galau*

Romansa kisah cinta Tristan dijalin bersama Isolde (sumber lain menyebutkan Isolt). Kisah ini termasuk kisah jadul yang kesohor di kancah kesusasteraan Barat. Kisah Tristan sendiri dianggap didasari oleh mitologi Celtic Pursuit after Diarmand and Grainne, juga The Wooing of Emer. Di Yunani juga ada Theseus and Labyrinth, serta di Persia ada Wis and Ramin.

Karya awal yang menyangkut Tristan ini kira-kira adalah Tristan yang ditulis oleh Thomas (Inggris) dalam Anglo-Norman. Juga ada puisi Le Roman de Tristan yang digarap penyair Norman, serta Tristrant oleh orang Jerman Eilart von Oberg.

Disebutkan bahwa legenda soal Tristan memasukkan referensi legenda Raja Arthur. Jadi, perjalanannya nggak serta merta Tristan ini terkait dengan legenda Raja Arthur yang juga tidak kalah kesohor itu.

Salah satu versinya, seperti dikutip dari sini, bercerita sbb.

Tristan–yang terkadang disebut Tristram–adalah keponakan Raja Mark of Cornwall. Ada yang bilang bahwa Tristan merupakan saingannya Maya Hasan dalam main harpa *oke lupakan kalimat ngawur barusan*

Disebutkan bawa Raja Irlandia mengirim seorang jawara–setaraf Si Pitung–bernama Morholt. Tapi tugasnya Morholt ini untuk menuntuk upeti dari Cornwall. Kelanjutannya adalah duel Tristan vs Morholt. Tristan berhasil membunuh Morholt, tapi dia kenal racun yang ada di pedang Morholt. Suara-suara sekitar bilang bahwa di Irlandia ada seorang putri bernama Isolde yang ahli dalam penyembuhan. *sebut saja apoteker jaman King Arthur*

Tentu saja Tristan menyamar kesana. Gile aje sudah membunuh utusan Irlandia, lalu minta penyembuhan ke Irlandia tanpa menyamar. -___-

Setelah sembuh, Tristan kembali ke Cornwall dan memuji Isolde habis-habisan dan kemudian merekomendasikan Raja Mark untuk menikahi Isolde. Raja Mark setuju dan minta Tristan balik ke Irlandia untuk mendapatkan Isolde, demi sang raja.

Tristan, ketika sampai di Irlandia, mendapati kondisi bahwa Irlandia sedang diteror naga. *tuh kan ketahuan mitologinya*

Dengan kekuatan bulan, Tristan bisa membunuh naga itu. Dan pada saat yang sama, Isolde sadar bahwa Tristan inilah yang membunuh Morholt pamannya.

Catatan: di versi lain, disebutkan bahwa Isolde justru akan dijodohkan dengan Morholt, dan malah ‘senang’ dengan kematian Morholt. Juga di versi lain dibilang bahwa Tristan tidak datang tiba-tiba ke Irlandia, tapi hanyut dibawa perahu, dan ditemukan Isolde yang lagi galau karena disuruh kawin sama Morholt.

*sik bener sik ngendi mboh*

Ujung-ujungnya, Isolde berhasil dibawa oleh Tristan ke negaranya. Nah, nah, nah, jatuh cinta dimulai disini. kabarnya ibunya Isolde (di versi lain disebut bahwa ibu Isolde sudah mati jauh lebih awal), menyiapkan minuman ajaib agar Isolde berbagi ramuan dengan calon suaminya supaya mereka saling mencintai selamanya.

*boleee kakaaa ramuannyaaaa…*

Berikutnya adalah pertanyaan, “piye perasaanmu le?” terhadap Tristan yang harus melihat Isolde (yang dicintai dan mencintainya) harus nikah sama Mark, dan dia harus selalu ada disitu–namanya juga pegawai.

Dalam legenda 1200-an dikisahkan kaitan Tristan dengan legenda King Arthur. Disini pula muncul kontras Raja Mark yang awalnya pria terhormat, lantas digambarkan sebagai raja kejam dan pengecut.

Tristan kemudian meninggalkan negeri asalnya, lalu ke Britania dan menikah disana. Cuma, cinta dalam hatinya tetap untuk Isolde. Suatu kali ada pertempuran dan dikirim kembali ke Cornwall berharap bisa disembuhkan oleh apoteker masa jadul yang bernama Isolde.

Kisah berikutnya adalah Tristan nggak kuat berdiri karena kesakitan, dan bertanya ke istrinya, Isolde mau bantu nyembuhin apa nggak. Dasarnya istrinya cemburu (ah, dasar wanita), dia malah bilang nggak.

Karena galau, Tristan akhirnya meninggal. Tapi kemudian Isolde datang, dan begitu tahu Tristan meninggal, eh dia ikut meninggal juga.

Edisi meninggal dalam kesedihan ini semacam kisah di novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yah. Ckckck.

Begitu tahu kisahnya yang ini, kok jadi ngenes ya? Hehehe.

Cuma poinnya, kelihatan sekali bahwa Tristan ini adalah seorang ksatria, yang bahkan rela mengorbankan perasaannya sendiri. Aslinya sih ngenes, tapi termasuknya mulia kan ya.

Kalau mau informasi tambahan untuk kisah ini, ada webnya loh. Sila klik. Referensinya banyak dan beragam. Sumber yang tadi itu hanya salah satunya saja. Ada juga ulasan film-nya nih, boleh klik.

Yah, sebuah rasa penasaran pada sebuah nama membongkar kisah cinta yang (menurut saya) wagu, tapi tiadalah wagu dalam cinta. *tsahhhh*

Soalnya, kisah cinta berujung sama-sama mati itu nggak cuma Tristan.

Ada Romeo – Juliet (sama-sama mati minum racun)
Cleopatra -Mark Antony (mati karena bunuh diri gegara gosip nggak jelas)
Lancelot – Guinevere (nggak langsung mati sih, cuma keduanya selibat sampai matinya)
Paolo -Francesca (dibunuh sama kakaknya Paolo yang adalah suaminya Franceesca, ya iyalah, lagian selingkuh gitu.. hedeh..)
Thiebe – Pyramus (ini paling konyol, kan mereka janjian di taman, Thiebe ketemu singa yang habis makan, lalu sembunyi tapi selendangnya jatuh dan kebawa singa. Nah si singa ketemu Pyramus. Perpaduan mulut berdarah si singa dan selendang Thiebe bikin Pyramus malah bunuh diri. Lah piye to iki? Giliran Thiebe keluar dari sembunyi, dia liat Pyramus mati dengan pedang di dada, itu pedang dicabut lalu ditusuk sendiri).

Komentar terakhir saya, dasar cinta :p

“Apak Den Kepala Sekolah”

Jangan kaget sama judul di atas, itu semacam Bahasa Minang. Iye, sebagai orang yang numpang lahir dan numpang membesar di Bumi Minangkabau–walaupun sama sekali nggak punya darah Minang–saya kudu ngerti Bahasa Minang.

Artinya: bapak saya kepala sekolah.

Melintir sedikit, judul di atas sering saya dan adikadik saya pakai kalau lagi ketemu. Kira-kira begini:

A diang?! (apa lo?!)
Sia apak ang?! (bapak lo sapa?!)
Apak den kepala sekolah! (bapak gue kepala sekolah!)

Saya perlu tekankan bahwa dua kalimat pertama itu tergolong kasar untuk percakapan. Tapi, ya gitu deh, saya dan adik-adik emang kurang sopan kalau hal macam ini. Bahkan di depan orang tua kamipun, kami sering berlontaran kata “Asu”, tentunya tidak kepada orang tua–kepada sesama saudara saja, dan dalam konteks bercanda.

Oh iya, ujung-ujungnya, kalimat-kalimat di atas itu bisa begini:

Bagak ang?! (berani lo?!)
Den kecekan jo apak den ngko! (gue bilang bapak gue ntar!)
Tak omongke jo amak den lo beko! (gue bilang emak gue juga ntar!)

Atau…

Alah ko? (sudah nih?)
Alah, mangan sik, litak paruik (udah, makan dulu, lapar perut)

Iyeeee.. yang di-bold itu Bahasa Jawa. Peraduan kedua kami sekeluarga kakak beradik sesudah Bahasa Minang. Jadi, ketika ketemu… percakapan absurd macam ini PASTI AKAN TERJADI.

Hehehehehehe..

Kembali ke judul.

Dulu, jaman saya agak-agak baru lahir (ini entah terminologi jenis apa?!), Bapak saya pernah menjadi wakil kepala sekolah. Buat anak, pekerjaan orang tua itu kebanggaan. Dulu saya ingat betapa teman dengan suka hati bilang Bapaknya kepala bank, pemilik hotel, dan sejenisnya. Lha saya? Guru.. (sambil bisik-bisik).

Dan sampai saya gede, Bapak saya ya tetap guru.

Nah, baru belakangan setelah saya lulus (kalo nggak salah), kedua orang tua saya beroleh peningkatan jabatan. Diawali dengan Mamak yang jadi Kepala Sekolah TK. Nggak lama sih, karena segera mundur begitu Bapak diangkat jadi Kepala Sekolah SMP.

*padahal kan kereennnn, punya orang tua dua-duanya kepala sekolah*

Enak aje!

Jadi kepala sekolah itu, yang saya tahu, pusing dan banyak tekanan.

Lalu intinya apa?

Begini, ketika Bapak saya jadi kepala sekolah di era pendidikan (katanya) gratis dan anggaran 20% ini, godaan tentu besar. Iyalah besar karena ini terkait dana BOS, dana anu, dana itu, dan dana-dana lainnya. Yang mana daripada kepala-kepala sekolah lain dengan nyata saya lihat peningkatan signifikan pada hartanya.. hehehehehe…

Pastinya itu godaan besar banget. Saya kalau dikasih disitu ya nggak tahan juga mesti. Tapi agak ada untungnya juga ketika Bapak jadi kepsek, kebutuhan duit alias hepeng alias pitih itu sudah nggak sebesar dahulu kala, apalagi ketika punya 3 anak yang sama-sama kuliah di kampus swasta.

Poinnya adalah kok ya segala sesuatu itu pas.

Pas ketika waktu Bapak ditunjuk, performa SMP saya yang legendaris itu sedang di titik nadir.
Pas ketika godaan banyak, kebutuhan tidak lagi cukup banyak.

Kalau lihat sudut lain blog ini, ceritaalfa, bagian saya berpisah dengan Alfa, tentu ini poin yang sama. Tuhan itu memberikan segalanya pas. Pas butuh, pas ada. Entah bagaimana caranya. Which is kemudian saya tahu kalau si Bang Revo itu hasil utang bank, sesuatu yang amat sangat tidak saya sukai. *mending juga utang koperasi.. hehehe…*

The lesson is pada posisi apapun kamu berada, berbuatlah yang terbaik, dan seperti yang Kak Vienna (salah satu murid favorit Bapak dulu) begitu tahu Bapak jadi kepsek–he deserved it, indeed. Deserved itu akan diperoleh begitu kita berbuat yang terbaik kan?

🙂

Taaruf

Sebetulnya saya menimbang berkali-kali untuk menulis ini. Bagaimanapun saya harus menghormati orang yang tindakannya kemudian membuat saya jadi menulis ini. Hmmm, ya sudah, asal saya kemudian menyamarkan semuanya, mestinya nggak masalah kan? Lagian, sebulan sesudah kejadian, HP-nya error, hilanglah semua bukti-bukti yang ada.

taaruf4

Jadi ceritanya, saya lagi antre mau sakramen tobat alias ngaku dosa, bukan ngaku-ngaku kalau berdosa. Soalnya, ya emang berdosa beneran. *jadi ingat belum penitensi*. Sedang asyik menunggu, sambil mendengarkan pembicaraan ‘khas’ bapak-bapak di lingkungan soal IMAN, masuklah pesan singkat, bunyinya kira-kira begini:

“saya ingin ta’aruf dgn antum boleh tidak?”

Pesan itu kemudian disertai nama, sedikit latar belakang, dan pertanyaan soal kriteria istri. Ya, namanya adalah si Anu, umur 2-3 tahun lebih tua daripada saya, dan pertanyaan terakhir itu cukup mengusik saya nan jomlo maksimal bin menajun. Ada 3 diksi dari SMS itu yang kemudian jadi pertanyaan buat saya, yakni ta’aruf, lantas antum, dan syukron. Jarang dapat SMS macam itu soalnya.

Antum kemudian saya dapati disini, bermakna mirip ‘anda’, tapi dalam konteks halusnya Arab. Lalu juga syukron, pada sumber yang sama bermakna ucapan terima kasih. Selesai untuk yang ini. NAH! Soal ta’aruf, saya jadi bingung sendiri. Sebagaimana yang saya lihat di film Ayat-Ayat Cinta, ta’aruf itu pertemuan Fahri dengan Aisyah. Eh, busyet, Aisyah-nya cantik nian disana. *salah fokus*. Lalu juga obrol-obrol saya dengan rekan yang muslim, bahwa ta’aruf itu kaitannya erat dengan jodoh dan pernikahan. Klik dengan isi pesan singkat yang bertanya soal kriteria istri. Lalu saya lari ke kamus, ternyata artinya nggak gitu-gitu juga. Ternyata artinya hanya PERKENALAN, dan ditulis sebagai taaruf sebagai bentuk yang sudah di-Indonesia-kan.

Terus, saya cari sumber lain. Kalau disini bilangnya:

Ta’aruf proses perkenalan dan pendekatan antara laki-laki dan wanita yang hendak menikah. Ta’aruf sangat berbeda dengan pacaran. Ta’aruf secara syar’i memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan ta’aruf adalah dari segi tujuan, cara, dan manfaat.

Kalau disini, bilangnya:

secara bahasa adalah memperkenalkan atau perkenalan. kata tersebut dipakai dalam dunia islam untuk meminang seorang perempuan lajang(gadis) melalui orang lain yang sejenis, atau untuk melihat seberapa sempurnanya gadis yang nanti akan dilamar.

Kalau disini, ditulis:

Jadi pengertiran ta’aruf itu adalah saling mengenal. Kalau ada istilah saling mengenal, maka tentu bermagna lebih dari satu orang atau sekelompok orang.

Dan sumber terakhir yang saya lihat adalah disini, dan tertulis:

Taaruf adalah kegiatan bersilaturahmi, kalau pada masa ini kita bilang berkenalan bertatap muka, atau main/bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan dengan penghuninya. Bisa juga dikatakan bahwa tujuan dari berkenalan tersebut adalah untuk mencari jodoh. Taaruf bisa juga dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk dilanjutkan ke jenjang khitbah – taaruf dengan mempertemukan yang hendak dijodohkan dengan maksud agar saling mengenal.

Nah, terus?

Sebenarnya sih, saya malah jadi bingung. Pertama, bingung kenapa saya diajak taaruf. Kedua, apakah mbaknya itu sebelum kirim SMS itu nggak lihat nama depan saya semacam itu. Ketiga, saya sih tidak hendak memperpanjang soal ini. Satu hal, dalam pemahaman yang saya percaya, pacaran itu diperlukan. Lha wong pacaran bola bali ki putas putus wae. Padahal di dalam keyakinan saya, pernikahan itu kan tidak terceraikan, kecuali oleh maut.

Ini soal keyakinan saja kok. Siapapun boleh meyakini yang menurutnya benar. Hanya saja, si pengirim pesan singkat kemarin, mengirimnya ke orang yang salah. Itu saja kok masalahnya. 🙂