Misa Bahasa Inggris di Danau Sunter

Waktu survei pendahuluan misi berkeliling KAJ, saya agak heran karena di Dekenat Utara itu ada dua Sunter, Paroki Sunter dan Danau Sunter. Usut punya usut, Paroki Sunter yang diresmikan tahun 1989 adalah awal mulanya, dan Paroki Danau Sunter yang mengambil nama Paroki Santo Yohanes Bosco adalah paroki baru yang awalnya dari Paroki Sunter yang mengambil nama Lukas. Oh, jauh sebelum itu, keduanya menginduk ke Katedral dan Pademangan.

Untuk melengkapi khasanah perjalanan ke Dekenat Utara, yang sebelum perjalanan ini baru berhasil menjejak ke Pantai Indah Kapuk, akhirnya saya memutuskan untuk berangkat ke Danau Sunter. Kenapa? Karena saya telat bangun. Aslinya sih mau ke Tanjung Priok. Berhubung saya baru bangun jam 9, maka saya harus mencari misa yang relevan dan cukup bisa diakses. Itu ada di Danau Sunter, dengan catatan misanya pakai Bahasa Inggris.

Saya memang sudah menyerah untuk menggunakan angkutan umum apapun untuk beberapa Paroki, termasuk Danau Sunter ini. Apalagi kan waktu saya mepet. Jadi, seperti halnya ke Pulomas dan Paskalis, saya berangkat dengan menunggang si BG nan kece. Saya masuk lewat Cempaka Putih, dekat Hotel Cempaka Sari. Terus mengikuti jalan hingga sampai ke Jalan Kedondong Raya. Saya kira Gereja Yohanes Bosco bisa diakses dari situ, eh, ternyata ada separator nan jelas. Di Jalan Kedondong Raya itu adalah Jakarta berupa pemukiman padat dan sempit. Sebelahnya, rumah gedong khas Sunter. Saya akhirnya sampai ke jalan besar dan masuk melalui Danau Sunter (ini beneran danaunya) kemudian pas ketemu hotel belok kanan, pas di ujung jalan belok kanan. Ini harus hati-hati karena ketika belok kanan itu jalannya ada TIGA. Satu buat ruko, satu buat jalan beneran, satu buat ke Gereja. Pilihlah yang paling kanan.

Tanah tempat berdirinya Gereja nan megah itu sebenarnya sudah ada sejak tahun 1993 dengan luas 5.390 meter persegi dan bahkan ditambahi lagi dua kali pada tahun 1999 hingga totalnya jadi 6.810 meter persegi. Trennya semacam Andreas dan Thomas, sama-sama di dalam kompleks perumahan lawas yang sudah matang.

Mungkin memang jumlah umat Katolik di Sunter sangat banyak, sehingga ketika tahun 1993 ada Paroki Lukas, sebagian umat di Sunter Selatan sudah menggunakan Kapel di Wisma Salesian Don Bosco untuk beribadah. Dan jangan salah, panitia pembangunan di Sunter Selatan, banyak juga yang jadi panitia di Sunter. Adapun pembangunan dimulai pada tahun 1999, cukup berani karena dekat dengan krisis moneter, dan selesai serta diresmikan pada 31 Januari 2001. Awalnya tentu saja sebagai stasi hingga kemudian menjadi Paroki ke-54 di KAJ pada 31 Januari 2003. Plakatnya sendiri ada di dinding Gereja.

wpid-photogrid_1438524867997.jpgDari sisi luas bangunan, kalau saya bandingkan kira-kira setara dengan banyak Gereja lain di KAJ, tentu tidak termasuk Toasebio yang adalah cagar budaya itu. Yang agak unik, salib tidak terletak di tengah namun lebih ke arah kiri, dengan Tabernakel ada di bagian kanan. So, bagian tengah kosong dan hanya menekankan ornamen kayu yang ada disitu. Mimbarnya tidak besar, janganlah bandingkan dengan Mangga Besar, namun walau begitu ada 3 mimbar, empat sama altar.

Misa di Paroki Yohanes Bosco dipersembahkan pada hari Sabtu pukul 18.00, Minggu pukul 06.00 dan 08.00, serta 18.00, plus English Mass pada pukul 10.30. Kebetulan pas saya datang, yang memimpin misa adalah Pastor tamu dari Filipina. Saya belum pernah tahu orang Filipina berbahasa Inggris, jadi ini pengalaman baru. Kalau India atau Perancis, sudah pernah berinteraksi jadi agak-agak paham. Dari sisi kotbah cukup bisa dipahami terutama bagi orang yang English-nya agak kurang kayak saya.

Pada saat English Mass, petugas muncul dari belakang, lurus ke depan melewati bangku umat yang diset melingkar berfokus ke tengah, mirip model di Mangga Besar. Lektor menggunakan mimbar kanan, komentator menggunakan mimbar kiri, dekat dengan koor. Komentatornya sungguh kece karena lafal English-nya sungguh mantap. Top pokoknya.

Soal perilaku umat? Heuheu. Di depan saya ada dua kakak beradik, rambut panjang, dipirang-pirangkan. Ketika hendak Doa Syukur Agung, si adik menunjukkan HP yang sekilas pandang adalah notifikasi Instagram ke kakaknya. Bapaknya sudah melarang, namun si anak malah abai dan melet. Sayangnya mereka bukan anaknya Mamak saya, kalau saja dulu saya berani kayak gitu, dijamin nggak selamat sampai di rumah.

Satu lagi perilaku yang menurut saya agak wagu adalah ada petugas cilik yang MELEPAS JUBAHNYA DI BANGKU UMAT, bukan di sakristi seperti pada umumnya. Ane kan bingung, ini apa nggak dimarahi koster? Entahlah, kan saya cuma umat asing yang memotret keadaan.

Ingin bertemu Bunda? Gampang, ada di sisi kanan Gereja (dari arah altar), dekat dengan parkiran motor, gedung paroki, dan kantin. Mirip-mirip di PIK, tapi berwarna dan kayaknya lebih besar. Ada kursi-kursi buat berdoa juga, jadi tenang-tenanglah kalau ingin berdoa.

wpid-photogrid_1438524708812.jpgYes, kira-kira demikian saja laporan pandangan mata dari TKP kesekian KelilingKAJ, semoga masih akan ada waktu dan kesempatan untuk melengkapi stok Gereja yang dikunjungi dan lantas ditulis. Amin.

3 thoughts on “Misa Bahasa Inggris di Danau Sunter

  1. Pingback: Segi Lima di Tebet | ariesadhar.com

  2. Pingback: Cerita Dari Theresia | ariesadhar.com

  3. Pingback: Perjalanan ke Pademangan | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s