Mencari Jejak Kisah di Duren Sawit

Wew! Entah sudah berapa lama #KelilingKAJ tidak ditulis di blog ini. Saya malah takut project ini bubar jalan dengan sendirinya. Namun saya tetap berupaya agar project pribadi ini lanjut meski tertatih-tatih gegara dua pekan sekali saya ke Bandung dan otomatis tertangkap Romo Paroki melulu di Cimahi.

Kesempatan muncul ketika suatu pagi saya berangkat dari Bekasi ke Jakarta sembari mengantar Mbak Pacar ke Bandung dari Bekasi. Sembari mengandalkan angin bertiup saya akhirnya memutuskan untuk turun di Stasiun Klender, yang menurut gambaran adalah stasiun yang cukup dekat dengan Gereja Santa Anna di Duren Sawit. Masalahnya, saya agak-agak kurang paham sehingga lantas berjalan salah arah hingga Indomaret. Karena sadar bahwa saya nggak akan sampai tepat waktu kalau jalan kaki sampai Gereja yang ternyata masih jauh sekali. Gini dah kalau songong, nggaya mau jalan kaki.

Saya akhirnya menggunakan aplikasi kekinian bernama Gojek untuk menuju ke lokasi. Ternyata masih lebih dari 3 kilometer jauhnya. Nggak kebayang kalau saya maksa jalan kaki seperti #KelilingKAJ yang lain, bisa keburu jomblo saking lelahnya. Maka, mari berterima kasih pada teknologi. Salah satu patokan terdekat adalah Rumah Sakit Yadika, begitu habis RS ini tinggal belok kiri dan ikuti jalan sampai ramai-ramai khas rumah ibadah.

Gereja Santa Anna Duren Sawit ini terbilang sunyi apabila dibandingkan dengan Matraman hingga Bidara Cina yang persis di pinggir jalan besar. Sebagai Gereja yang berada di perumahan, ini adalah karakter yang khas, ya selayaknya Bojong Indah kalau mau dipersamakan.

photogrid_1464102051644.jpg

Pembangunan Gereja Santa Anna ini terbilang sangat panjang dan diawali dari proyek Wisma Santa Maria Dipamarga alias Samadi di Klender tahun 1960. Wisma Samadi sendiri masih eksis sampai sekarang. Perkembangan industri di Pulo Gadung dan perumahan yang menyertai menambah jumlah umat di sekitar Klender dari 40-60 orang menjadi 2.425 orang dalam waktu hanya 7 tahun. Kapel Samadi sendiri adalah tempat misa bagi umat yang sebelumnya pergi ke Matraman. Adalah Pastor Looymans SJ, mantan Sekretaris KAJ yang melakukan rintisan sejak 1967 hingga akhirnya menemukan tanah seluas 19.564 meter persegi yang dijual dengan harga 550 rupiah per meternya.

Pastor A. Van de Braak SJ yang baru saja menjadi pastor paroki di Klender lantas mencari solusi pada penuhnya Kapel Samadi. Hikayat pembangunan dimulai pada 1979 dengan pembentukan Panitia Pembangunan Gereja (PPG) di bawah pimpinan Bapak Robertus Kustoyo. Gereja baru ini lantas menggunakan nama Santa Anna. Diketahui bersama bahwa Santa Anna adalah orangtua Santa Maria. Izin pembangunan diperoleh sesudah tiga tahun sehingga peletakan batu pertama baru bisa dilakukan pada tanggal 15 Oktober 1983. Gereja Santa Anna lantas diresmikan oleh Mgr. Leo pada 2 September 1984. Ternyata, nama Pastor Van de Braak SJ juga muncul dalam hikayat Gereja Blok B. Warbiyasak. Dan dengar-dengar pula, Presiden kala itu, Soeharto, berkenan membantu pembangunan Gereja Santa Anna sebesar Rp15.000.000 dari total Rp300.000.000 yang dibutuhkan.

Sekadar kisah, Gereja Duren Sawit ini pernah menjadi korban ledakan bom. Alkisah pada hari Minggu, 22 Juli 2001, pukul 07.05 WIB, sebuah bom meledak di dalam Gereja Santa Anna persis saat Pastor V. Suryatma Suryawiyata SJ sedang berkotbah. Pusat ledakan berada di lantai Gereja bagian kiri belakang–dari arah altar–dengan menyisakan lubang berkedalaman 40 cm dengan lebar setengah meter. Ledakan ini meruntuhkan langit-langit Gereja beserta kerangkanya, menimpa umat yang sedang berada di dalam Gereja. Korban dibawah ke RS Harum, RS Yadika, RS Mitra Keluarga, hingga RS Sint Carolus. Estimasi jumlah korban adalah 70 orang, berbasis data korban yang biaya pengobatan ditanggung Gereja.

Paroki yang berbatasan dengan rel KA Cipinang hingga ujung Pondok Kopi, Pondok Kelapa, Bintaran, dan Billy & Moon ini kini memiliki lebih dari 11.000 umat dengan lebih dari 80 lingkungan. Mungkin itu juga penyebab Gereja direnovasi pada tahun 2004. Sehingga, yang saya datangi dalam #KelilingKAJ kali ini adalah bangunan yang baru.

Paroki Duren Sawit ini menurut saya cukup luas, terutama dari sisi parkir. Yah, apalagi kalau dibandingkan dengan parkiran Gereja Santa, misalnya. Gereja ini juga menyediakan balkon yang luar biasa besar, menurut saya. Dari sisi proporsi kurang lebih sama dengan Blok B, namun dengan skala yang lebih besar. Satu hal yang sepertinya belum ada adalah AC. Entah memang belum ada, atau saya yang saking (konsentrasinya) ngantuknya nggak perhatian. Tapi intinya sih cukup panas.

Gua Maria terletak di salah satu sudut area parkir yang dekat dengan gedung Gereja. Tempat doanya cukup besar dengan luasan naungan yang cukup memadai apabila ada apa-apa. Tentu berbeda dengan beberapa tempat sejenis, misal di Kedoya, yang tanpa atap.

photogrid_1464102213548.jpg

Misa di Santa Anna Duren Sawit dipersembahkan pada hari Sabtu pukul 17.30, kemudian hari Minggu pukul 06.30, 08.30, 16.30, dan 18.30.

Yes, demikian kiranya dan adanya petualangan saya sampai ke Duren Sawit yang dekat dengan Banjir Kanal Timur ini. Saya juga sok-sokan ngangkot hingga kesasar sebelum lantas menemukan Buaran Plaza dan dari Buaran Plaza saya naik ke halte TransJakarta soalnya stasiun Buaran masih jauh sekali kalau pakai acara jalan kaki. Saya baru berpindah ke Commuter Line di Jatinegara untuk lantas lanjut bobo tampan di siang hari.

Sampai jumpa di #KelilingKAJ selanjutnya!

3 thoughts on “Mencari Jejak Kisah di Duren Sawit

  1. Pingback: Perjalanan ke Pademangan | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s