Dirigen = Pemimpin

Misa yang aneh pagi ini membuatku terpaksa menulis catatan ini. Yah, bukan apa-apa sih, sesungguhnya aku sangat terganggu dengan penampilan dirigen di Gereja hari ini. Dipikirnya ini konser solo apa? Sampai microphone diembat sendiri buat dia nyanyi, mending kalo nyanyinya bener, lha nyanyinya aja ngawur.. hemmm.. Padahal ada koornya loh.. Bagaimana ini?

Sebenarnya nggak aneh kok model yang begitu. Di gerejaku di Bukittinggi dimana tidak ada koor, dirigen memegang peranan penting. Kalau diperhatikan, dirigen memegang setengah bagian dari lagu, sementara beberapa orang memegang 40% bagian lagu, dan sisanya adalah umat lainnya. Yah, mau bagaimana, emang begitu keadaannya.. Lagu pun tidak banyak variasi karena kalau dipakai lagu yang jarang dipakai, yang nyanyi yang dirigen sama segelintir orang saja. Yups, pengalaman berbicara..

Dirigen adalah penguasa, dalam konteks sebuah lagu. Dirigen bukan sekadar orang yang menggoyang-goyangkan tangannya sambil bernyanyi. Ia memegang tempo, ia memegang lirik mana yang harus dinyanyikan, ia memegang dinamika, ia adalah penguasa sebuah lagu.

So, bayangkan, jika dirigen bermain dengan tempo yang salah (tadi pagi selipnya bisa 1,5 ketuk), jika dirigen menguasai lagunya sendiri, jika dirigen hanya menghadap teks sambil menggoyangkan tangannya.. Arah dan tujuan lagu jadi tidak bener deh. Dan sejujurnya, sebagai bagian dari lagu, aku ikut terganggu. Efeknya, keheningan misa yang seharusnya diperoleh, jadi agak terganggu.

Agaknya itu sama dengan hal kepemimpinan. Pemimpin selayaknya dirigen harus mampu mengajak seluruh anggotanya untuk memberikan diri sepenuhnya, dalam hal bernyanyi. Pemimpin juga selayaknya mampu mengatur dinamika, sesuai dengan ketentuan yang ada. Sama halnya dengan dirigen menetapkan dinamika yang harus dibuat sesuai yang tertulis di teks misa. Pemimpin juga harus mampu membagi peran, tidak mengambil microphone sendiri, namun menarik diri sampai batas tertentu, sampai yang terdengar adalah suara paduan, bukan suara dirigen.

Dan dalam hal ini, lagu adalah kehidupan kita. Kita adalah pemimpin untuk diri kita sendiri, kita adalah dirigen untuk lagu kehidupan kita sendiri. Kita harus mampu mengajak diri kita untuk memberikan diri sepenuhnya, kita harus mampu mengatur kapan kita harus diam, kapan harus bergerak, kapan harus memelankan tempo, pun kita harus mampu mengambil bagian terbaik dari diri kita sendiri untuk diberikan kepada lingkungan.

Terimakasih kepada Ibu Dirigen yang memberi sedikit refleksi di pagi hari, lain kali lebih baik ya.. hehe…

Semangat!!!

Advertisements

One thought on “Dirigen = Pemimpin

  1. Pingback: Jadi Dirigen Itu Sulit, Jenderal! « Sebuah Perspektif Sederhana

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s