Kita Punya Kualitas

Capek nian hari ini. Dari jam 8 pagi sampe jam 7 malam ikut Seminarnya Detik.com. Tapi, senang.. Serasa kembali ke dunia lama, dunia dimana passionku berada. Yeah, this is my passion!!!!

Hmmm.. cukup menarik dapat ilmu2 dari founder Detik.com, dan sedikit inspirasi dari Raditya Dika. Selain itu, dapat tambahan pula di workshop citizen journalism. Dan yang lebih penting dari semuanya adalah GRATIS!!! hahaha…

Satu hal yang menarik, tapi aku nggak bermaksud apa-apa. Cuma perlu berbagi nilai yang mungkin berguna.

Jadi, ada test membuat berita sederhana. Dan beberapa orang diuji coba hasilnya (kalau belum dihapus bisa dilihat di lokal.detik.com). Orang pertama, dapat nilai 6.5, lanjut 3 orang yang lain dapat 5.5, pas giliranku, dites-tes dapat 7. Weww…. Ga rugi lulusan CasCisCus.. haha..

Lalu ditantang, siapa yang merasa karyanya lebih baik dari nilai 7 ini, boleh ngacung. 3-4 orang ngacung, dibahas, dan tidak ada yang lebih besar dari 7.

Apa valuenya?

Teman, selalu percayalah pada diri kita sendiri, selalu tekankan pada diri kita sendiri bahwa: Aku Punya Kualitas! Kita Punya Kualitas!

Mengapa?

Karena pada dasarnya kita adalah makhluk-makhluk biasa, tapi kita dianugerahi KARYA yang LUAR BIASA. Hanya terkadang, dilingkupi pola pikir yang membelengguku selama ini, bahwa terkadang kita minder, rendah diri. Pun aku sebagai orang yang prefer pesimistis daripada over optimis, minder adalah impresi pertama. Tapi selalu percayalah teman, selalu yakinkan diri bahwa kita mampu, kita bisa, kita punya kualitas.

Hari ini aku diajak untuk bangga pada diri sendiri, percaya bahwa aku bisa. Karena ternyata, bangga dan percaya pada kualitas pribadi kita sendiri bukanlah cara yang buruk dalam menyikapi sesuatu. Bahkan memberi banyak suntikan positif.

Kalaiu kata ripley, PERCAYALAH!!

Semangat!!!

Advertisements

Pinjam Meminjam

Huahhh… sudah lama nggak nge-blog.. Sebenarnya banyak ide di kepala, tapi giliran ada, jaringan payah atau malah lagi nggak di dekat komputer. Hilang deh. Ini kebiasaan buruk, nggak boleh diteruskan. Kisah kali ini adalah kisah lama beberapa pekan silam. Jadi membangkitkan memori saja. Semoga masih mengena..

Suatu episode Spongebob Squarepants, Spongebob dan Patrick ingin memiliki balon, namun tidak punya uang. Karena ‘didikan yang salah’ dari Tuan Krabs, mereka meminjam balon. Saat asyik2, balonnya pecah. Mereka pun jadi heboh, merasa bersalah, kabur, sampai akhirnya harus kembali karena tidak tahan dengan ketidakjujuran telah memecahkan balon yang dipinjam.

Well, pinjam meminjam itu hal biasa di dunia ini. Orang yang memiliki sesuatu yang terkadang belum dipakai, pada saat orang lain melakukan proposal untuk memakainya, maka terjadilah transaksi pinjam meminjam.

Hal yang penting adalah bagaimana kita menjaga barang pinjaman itu.

Satu poin penting adalah barang itu adalah milik orang lain yang kita pakai. Artinya, ketika suatu saat kita harus mengembalikannya kepada yang empunya, kondisinya harus tetaplah sama, bahkan kalau bisa lebih baik. Beberapa kali motorku dipinjam, ketika kembali sudah terisi penuh dengan Pertamax. Itu yang bikin terharu.. hehe… Itu contoh saja, banyak hal lain, meskipun tidak termasuk dalam hal ini pinjam uang. Itu beda kasus.

Ada kalanya benda pinjaman itu menjadi rusak, atau setidaknya berada pada kondisi yang lebih buruk ketimbang saat dipinjam. Apa yang akan terjadi jika kita mengembalikannya? Hampir bisa dipastikan yang meminjami akan tobat untuk meminjamkan lagi. Hampir bisa dipastikan itu.

Sama halnya dengan hidup kita. Kita kan sadar sepenuhnya bahwa hidup kita ini punya Yang Kuasa. Dan kehidupan kita dipinjamkan pada kita untuk memberikan karya. Kalau hidup itu kita isi dengan hal-hal yang baik, tentunya yang punya bakal senang. Lain kasus jika kita isi dengan hal-hal yang merusak hidup itu sendiri.

Artinya, selayaknya kita menghargai hidup kita, layaknya orang menjaga barang yang dipinjam. Dan yang paling penting adalah jangan membuatnya menjadi lebih buruk dari kondisi sebelumnya.

Sedikit renungan pasca rabu abu.. 🙂

Semangat!!!