About ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

7 Tips Menjadi Pengguna Ojek Online yang Peduli Keselamatan Lalu Lintas

keselamatan-lalu-lintas-1

Keselamatan lalu lintas adalah hal yang selalu saya utamakan, terutama sejak kurang lebih 7 tahun silam menyaksikan sendiri orang meregang nyawa di pangkuan saya–dan beberapa orang lain di sekitar yang peduli–sesudah sebelumnya orang tersebut mengalami kecelakaan lalu lintas.

Ngomong-ngomong, saya berani mengangkat korban karena ketika itu saya masih floor warden di pabrik, sehingga masih punya kompetensi untuk penanganan kecelakaan semacam itu, karena memang dilatih. Kalau sekarang sih sudah nggak kompeten jadi mungkin nggak akan berani.

Sebagai pemilik sertifikasi Manajemen Risiko, saya tentu paham bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan. Banyak kasus orang lagi santai-santai menunggu lampu merah, eh, diseruduk dari belakang. Akan tetapi, ada banyak hal yang bisa kita kontrol dalam menegakkan keselamatan lalu lintas yang ujung-ujungnya ya untuk membuat kita atau orang lain tetap bernyawa~

Nah, salah satu cara untuk bisa berkontribusi pada keselamatan lalu lintas adalah dengan naik transportasi umum, seperti bis, KRL, atau juga yang akan segera hadir: MRT. Namun, karena transportasi umum khususnya di Jakarta masih terus berbenah, maka muncul demand baru, yakni transportasi ringkas dari stasiun terdekat ke kantor dan sebaliknya.

Ceruk inilah yang tadinya dilayani oleh ojek pangkalan maupun bajaj, yang kemudian dikuasai oleh ojek online. Yup, si fenomena baru transportasi Indonesia dengan 2 pemain utama, Go-Jek dan Grab itu PASTI BANGET kita lihat atribut, baik jaket maupun helmnya, di jalanan.

Saya sendiri, misalnya, menghabiskan 30-40 persen gaji untuk biaya transportasi online ini. Maklum, sobat misqueen jadi rumah jauh di Tangerang, padahal kerja di Jakarta Pusat.

Jumlah perjalanan yang dilakukan oleh ojek online ini sungguh nggak main-main. Grab, misalnya, mencapai 2 miliar perjalanan pada Juli 2018, eh kok pada akhir Januari 2019, mereka sudah merilis perjalanan ke 3 miliar! Jadi, hanya dalam waktu 6 bulan, Grab sudah melakoni 1 miliar perjalanan.

Memang, itu angka global, namun kita tahu sendiri bahwa di Indonesia, khususnya di Jakarta, pasar Grab termasuk yang terbesar. Porsi Jakarta dari yang 1 miliar itu bisa dipastikan besar sekali.

Pada Maret 2018, diketahui bahwa di Indonesia, jumlah pengemudi ojek online sudah mencapai 1 juta orang, terdiri dari Go-Jek, Grab, dan kala itu Uber. Jumlah yang tidak kecil dan sudah pasti akan sangat menunjang keselamatan lalu lintas.

Sebagai penumpang, sebenarnya banyak yang bisa kita lakukan untuk mendukung peran ojek online dalam keselamatan lalu lintas. Poinnya, bahkan justru kita yang nggak bawa kendaraan ke Jakarta malah bisa menjadi pahlawan dalam keselamatan lalu lintas.

Kok bisa? Ini dia 7 caranya!

1. Pakai Transportasi Massal

keselamatan-lalu-lintas-2

Seperti sudah dijelaskan tadi, dengan menjadi pengguna transportasi umum bin massal seperti bis, KRL, dan MRT, sebenarnya kita sudah menjadi pengurang potensi kecelakaan dengan mengurangi jumlah kendaraan baik roda 2 maupun 4 yang masuk ke Jakarta. Dari sisi itu saja, para pengguna transportasi umum yang kemudian butuh ojek online dari stasiun ke kantor dan sebaliknya, sudah bisa dibilang pahlawan keselamatan lalu lintas.

2. Banyak Baca Tentang Keselamatan Lalu Lintas

Korlantas Polri bersama dengan Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) dan Relawan Lalu Lintas Indonesia (Relasi) sedang giat menggelar Millenial Road Safety Festival 2019 untuk mendukung ketertiban lalu lintas dan keselamatan berkendara bagi generasi muda. Hal itu didasari dari fakta bahwa perilaku berkendara yang tertib dan aman masih jadi tantangan dan terlihat dalam keseharian pengendara yang menjadi faktor risiko perjalanan dengan tidak tertib pakai helm maupun memakai smartphone kala mengemudi, sering ditemui pada pengendara usia 17-35 tahun alias kaum millennial.

keselamatan-lalu-lintas-3

Cocok, toh, sama Bapak Millennial?

Nah, dalam festival ini banyak konten-konten beredar tentang keselamatan lalu lintas. Sembari nunggu ojol, bisa lho kita cek konten-konten tersebut demi menambah ilmu. Post ini termasuk salah satunya.

3. Tidak Perlu Pesan Duluan

Saya pernah ada di Stasiun Kebayoran dan mengintip layar ponsel orang di sebelah saya sudah memesan ojek online di Stasiun Tanah Abang! Padahal, dari turun KRL saja ke Halte Jatibaru tempat orang biasa janjian dengan ojek online sudah butuh waktu minimal 7 menit. Saya paham betul, soalnya tiap hari pakai jalur itu.

keselamatan-lalu-lintas-4

Atau juga sering kejadian pada jam pulang kerja, orang-orang sudah pesan ojek online padahal mereka masih di lantai 28 dan nunggu lift-nya biasanya 15 menitan.

Tahu nggak, bahwa para ojek online itu kemudian tiba di tempat janjian yang rata-rata adalah pinggir jalan dan mereka ngetem lama di situ karena penggunanya belum hadir, dan itu tidak hanya dilakukan 1-2 orang. Jadinya apa?

Betul sekali! MACET, SAUDARA-SAUDARA!

Seperti di Tanah Abang, misalnya. Kecuali ada demo ojek online atau hujan deras, maka tidak akan ada yang namanya kekurangan armada ojol. Jadi, tidak perlu pesan dari jauh-jauh waktu. Justru itu menjadi penyumbang kemacetan dan malah jadi faktor risiko dalam tidak tercapainya keselamatan lalu lintas.

4. “Cuma Dekat” Nggak Akan Bikin Aspak Jadi Lebih Empuk, Lho~

Yang saya kisahkan di atas, soal kecelakaan, itu nyata! Dan itu bahkan pengendaranya pakai helm bagus, nabrak trotoar, helmnya pecah, kepalanya terbentur dan jadi penuh darah. Bisa bayangkan kalau dia tidak pakai helm? Jangan-jangan kepalanya bisa tidak berbentuk. Hiii. Ngeri.

keselamatan-lalu-lintas-5

Yang sering terjadi, pengguna ojol atas dasar rambut takut lepek dan malas pakai helm menolak helm yang disodorkan driver dengan alasan “cuma dekat”. Padahal, mau jauh atau dekat, kalau kepala kena aspal, itu sama saja sakitnya.

5. Nyeberang Nggak Ada Salahnya, Kok

Kantor saya di Jalan Percetakan Negara. Jalan itu tidak lebar sehingga jika jam pulang kerja antara angkot, orang pulang kerja, taksi, bis jemputan, hingga ojol tumpah ruah jadi satu. Kadangkala, driver datang dari arah Rawasari, sementara saya mau ke Tanah Abang.

keselamatan-lalu-lintas-6

Kalau saya pemalas, saya akan nunggu di depan kantor sampai driver dari arah Rawasari menyeberang ke kantor saya yang ada di sisi Perum Percetakan Negara. Gaes, dalam kondisi sangat padat, orang pindah sisi jalan saja bisa jadi faktor risiko. Bisa dia keserempet atau bisa juga dia bikin macet.

Maka, kalau memang demikian, nggak ada salahnya kita menyeberang sehingga driver ojol tidak perlu pindah jalur dan malah mencemplungkan diri dalam risiko keselamatan lalu lintas.

6. “Cuma Dikit” Nggak Akan Bikin Kendaraan Dari Arah Yang Benar Melambat

keselamatan-lalu-lintas-7

Sering terjadi pula, misalnya di dekat Stasiun Kalibata, pengguna ojol memaksa driver untuk melawan arus sedikiiiiitttt, semata-mata demi nggak berputar. Sedikit, sih, sedikit. Tapi kalau ada apa-apa karena melawan arus itu, yang salah ya tentu saja yang ditabrak.
Jalur itu sudah ada yang punya, sesuai arahnya. Memaksa driver untuk melawan arah itu justru membuat kita yang dari nomor 1 sampai nomor 5 jadi pahlawan keselamatan lalu lintas, malah menjadi penyakit bagi keselamatan lalu lintas itu sendiri.

7. Tegur Driver Itu Boleh, Lho

keselamatan-lalu-lintas-8

Sering sekali driver nggak tahu jalan dan mengandalkan GPS. Itu sih nggak masalah. Jadi perkara ketika dia lihat map-nya dengan satu tangan sambil tangan kanan menarik gas. Itu BAHAYA dan itu mempengaruhi keselamatan kita juga. Nggak usah malu-malu, tegur saja. Kalau memang driver tidak tahu jalan dan kita tahu kan tinggal bilang, “nanti saya arahkan”. Atau kalau sama-sama tidak tahu, kita sebagai penumpang bisa membantu dengan buka maps sendiri, meskipun tetap harus hati-hati karena banyak jambret.

Demikian 7 Tips Menjadi Pengguna Ojek Online yang Peduli Keselamatan Lalu Lintas, sederhana tapi akan sangat membantu jika diterapkan.

Yuk, sama-sama menjadi millennial pahlawan keselamatan lalu lintas!

Advertisements

Kalau Ketemu Tenaga Kesehatan, Tanya Apakah Mereka Sehat?

Screenshot_1814

Tulisan soal Tenaga Kesehatan ini dimuat di Voxpop, pada tanggal 3 Desember 2017 – Pak Dokter membunuh Bu Dokter yang notabene istrinya. Ada juga dokter yang melepaskan tembakan di tempat parkir hanya gara-gara biaya parkir. Hal itu belakangan menjadi konsumsi publik.

Satu hal yang kurang adalah kalangan kepo-ers yang biasanya bisa menemukan afiliasi politik Pak Dokter, kemudian menjadikannya sebagai alasan bertindak kriminal.

Gitu aja terus, mau orang lagi kesusahan maupun orang mati sekalipun kan sekarang yang diurusi adalah pilihan politiknya.

Di sisi lain, kumpulan dokter sempat wara-wiri di berbagai rumah sakit untuk seorang pasien yang menurut Nazaruddin, sakti. Sampai-sampai begitu banyak dokter ikutan konferensi pers bareng KPK menjelang tengah malam, ketika tersangka bernama Setya Novanto diantarkan ke Kuningan.

Hey, kalau dokter-dokter pada konferensi pers, lantas siapa yang menangani pasien? Tentu saja dokter jaga.

adult doctor girl healthcare

Photo by Pixabay on Pexels.com

Dokter adalah salah satu dari sekian banyak tenaga kesehatan. Sebagai pemilik gelar Apoteker yang kerjanya sekadar fotokopi berkas dan sesekali antar surat ke kantor pemerintah, saya begitu mencermati soal profesi tenaga kesehatan ini sejak lama.

Terkadang saya bersyukur nggak ikut-ikutan jadi tenaga kesehatan beneran di pelayanan. Sebab, setelah saya pikir-pikir, kok ya tenaga kesehatan lama-lama malah menjadi jenis pekerjaan yang tidak sehat.

Gambaran Tugas Tenaga Kesehatan

Gambaran sepelenya saya peroleh dari istri saya yang sering melaporkan bahwa ia baru makan siang pada pukul 4 sore, karena begitu sibuk dengan pekerjaannya sebagai Farmasis Klinis di rumah sakit. Keadaan itu bahkan dialami kala dia hamil.

Sebagai suami milenial nan budiman, saya semula selow saja, karena itu mungkin sudah risiko dari sebuah profesi. Tapi dipikir-pikir kok ya ngenes juga. Misinya menyembuhkan pasien, tapi gaya hidup sehari-hari malah bikin tubuh sendiri menjadi sakit.

Ini belum lagi soal dokter-dokter yang praktik sampai larut malam bahkan jelang pagi, lantas paginya sudah harus on lagi. Mereka beristirahat hanya 3-4 jam dan sisanya bekerja. Boro-boro olahraga.

Maka, ketika seorang dokter yang buncit maksimal menyampaikan pesan agar saya banyak-banyak berolahraga, tetiba saya ingin balik bertanya, “Kapan terakhir kali Pak Dokter berolahraga?

Saya juga pernah bertemu dengan dokter anestesi yang bahkan lupa kapan terakhir kali dia tidur selama 8 jam. Saking tidak pernahnya.

Pak Dokter yang menembak istrinya beberapa waktu lalu, diketahui mengonsumsi obat penenang. Percayalah, ada lho dokter yang hidupnya tertekan, karena rasio pasien yang tidak terselamatkan cukup besar.

Ya, hidup sebagai dokter atau tenaga kesehatan pada umumnya itu memang butuh ‘penenang’, karena besarnya tekanan yang dihadapi.

Lain dokter, lain apoteker, lain juga perawat. Ini lebih parah lagi. Pasien-pasien itu kebanyakan masih gak enakan kalau marah sama dokter. Lantas kalau ada apa-apa, marahnya sama siapa? Perawat.

Perawat ini juga setali tiga uang. Hidup mereka dibolak-balik waktunya, karena bagaimanapun harus ada yang menjaga pasien pada tengah malam. Sebagai tenaga kesehatan mereka jelas tahu bahwa hidup dibolak-balik begitu sebenarnya juga nggak baik.

Kadang, saking sibuknya mengurus pasien, mereka juga luput untuk makan, sementara begitu sampai di ranjang pasien selalu bertanya, “Makanannya kok nggak dihabiskan?”

Itu tadi baru sekilas mengenai risiko untuk diri sendiri. Sekarang mari kita pindah ke Meikarta pola bisnis kesehatan.

Bisnis Kesehatan dan Balada Tenaga Kesehatan

Bisnis kesehatan, terutama rumah sakit, adalah bisnis yang menurut saya paling unik. Bagaimanapun orang yang sedang sakit membutuhkan tindakan, baik untuk penyembuhan penyakit, pengendalian penyakit, dan lain-lain.

Nah, segala kegiatan itu jelas-jelas membutuhkan biaya. Pasien dirawat di rumah sakit tentu harus tidur di ranjang yang mesti dibeli – nggak bisa rental, lu kate Play Station – terus diterangi lampu yang listriknya harus dibayar dan tarif dasarnya terus naik.

Terlebih, harus pakai alat canggih kayak yang dipakai Setya Novanto yang juga kudu dibeli dari luar negeri. Kemudian dirawat oleh tenaga kesehatan yang harus digaji, mendapat obat yang harus dibeli dari pabrik, dan sederet komponen lain.

Itu tentunya dibebankan kepada pasien maupun lewat penanggungnya, baik asuransi maupun jaminan kesehatan pemerintah.

Selain itu, bisnis rumah sakit ini juga merupakan jenis layanan yang secara psikologis berbeda dengan layanan publik lain, seperti bikin KTP atau buka rekening bank.

Kalau tembok kelurahan paling menampung pisuhan orang-orang yang dipermainkan birokrasi atau diperalat kekasih, tembok di rumah sakit adalah penampung doa paling banyak karena ada banyak suasana batin.

Mulai dari rasa bahagia seiring kelahiran anak, perasaan was-was karena kondisi orang tua atau sanak-saudara yang dirawat belum pulih, bahkan kesedihan begitu ada yang meninggal dunia.

Rasanya hanya rumah sakit yang berani memasang poster ‘Hormati Staf Kami’ dalam standar layanannya. Kita tidak akan menemukannya di pelayanan lain, seperti mengurus izin hingga SIM. Kalau SIM, kita sih sudah serta-merta ‘Hormati Pak Polisi’ tanpa disuruh.

Kondisi psikologis yang sedang buruk dan asa yang tinggi pada layanan tersebut adalah latar belakang paling pas bagi pasien, keluarga pasien, maupun LSM untuk sekadar marah-marah kepada para pekerja kesehatan tanpa pandang bulu.

Seorang perawat bernama Tova Kararo di Israel dibakar hidup-hidup sama pasien yang tidak puas. Di Jepang, Satoru Nomura memerintahkan Yoshinobu Nakata untuk membunuh seorang perawat dengan alasan kesal karena operasi plastik gagal.

Di Indonesia, persekusi terhadap tenaga kesehatan juga pelan-pelan menjadi hal yang sama biasanya dengan ngupil. Kan ngeri.

Perawat, dokter jaga, dokter spesialis, apoteker, dan sederet komponen yang bahu-membahu di rumah sakit itu ibarat bidak-bidak catur yang melawan penyakit pasien.

Dalam catur, mereka bisa menang, bisa juga kalah. Sudah menjadi konsekuensi kalau ada tenaga kesehatan yang dipersekusi oleh LSM.

Bahwa ada pasien yang gawat dan kudu dirawat, ya benar. Sebagai manusia, para tenaga kesehatan itu juga pasti berpikir. Maka, nggak perlu kita mempersekusi dengan bilang, “Ini nyawa orang, lho!”

Nyatanya, setiap kali ada nyawa yang diselamatkan, memangnya ada yang mengucapkan terima kasih kepada semua tenaga kesehatan yang terlibat?

Para tenaga kesehatan itu juga manusia, punya rasa punya hati jangan samakan dengan pisau belati, yang pasti juga paham soal kemanusiaan. Namun, pada sisi yang sama, mereka juga kudu tunduk pada prosedur di tempat mereka bekerja.

Jangan salah, para tenaga kesehatan itu juga kepikiran begitu tren pasien-pasiennya yang meninggal meningkat. Mereka juga bertanya, “Aku ini salah apa?”

Maka, sekali lagi, jangan heran kalau ada segelintir tenaga kesehatan yang mengonsumsi obat anti-depresan, semata-mata biar nggak depresi dengan pilihan hidupnya. Jangan salah juga, dalam era BPJS saat ini, para tenaga kesehatan begitu sering berhadapan dengan dilema kemanusiaan versus aturan-aturan. Dan, masih banyak lagi dilema-dilema lainnya.

Begitulah, menjadi tenaga kesehatan nyatanya tidak sehat-sehat amat, kadang lebih banyak makan hati. Namun, bagaimanapun juga, kudu ada manusia yang jadi tenaga kesehatan.

Jangan lupa, belum lama ini kita disuguhi pemandangan tentang bapak-bapak tajir yang masuk rumah sakit dengan penyakit vertigo, pengapuran jantung, tumor, benjol segede bakpao, kemudian disembuhkan secara luar biasa.

Oleh siapa? Tenaga kesehatan, dong! Menurut ngana?!

Belajar Cinta Dari Ade Irma Suryani

Screenshot_1804

Dimuat di Mojok, tanggal 13 Juli 2016, sebelum Mojok shutdown dan kemudian malah jadi tambah besar.

Perkara belajar cinta itu kiranya sungguh perkara abadi, bahkan jauh lebih abadi daripada usia para penyebar hoax jika dijumlahkan sekalipun. Di Indonesia, kita mengenal band bernama Armada sebagai penegas bahwa cinta itu buta.

Biarlah orang berkata apa
Manusia tiada yang sempurna
Ku terima kau apa adanya
Yang penting aku bahagia

Bahkan, Sang Raja Partai Idaman Dangdut juga melantunkan cinta buta dengan merdunya. “Bila sudah jatuh cinta, semuanya jadi indah,” begitu katanya dalam lagu Cinta Buta, “memang cinta itu buta”.

Bahwa sekarang kita menemukan banyak sekali fakta uang akan sangat mempengaruhi cinta, tapi itu tidak menghapus fakta lain betapa cinta kadang-kadang bisa membuat orang berpikir anti mainstream. Dulu kita tahu pernah terdapat seorang pria. Ia adalah seorang suami dari artis wanita yang kariernya sedang menjulang di dunia infotainment.

Suatu ketika, video hubungan seks antara sang artis wanita dengan seorang vokalis band terkenal beredar luas. Indonesia terguncang. Hal tersebut bahkan sempat menjadi isu nasional selama berbulan-bulan. Luar biasanya, sang suami tidak serta merta meninggalkan istrinya itu. Logika umum, sudah jelas-jelas selingkuh, sudah terang benderang melakukan perkenthuan dengan orang lain di luar koridor pernikahan, mestinya tinggalkan saja!

Nyatanya? Tidak. Sampai beberapa waktu kemudian mereka masih bersama.

Kisah-kisah semacam itu, menurut saya, lebih memperlihatkan cinta sebagai bentuk utuhnya ketimbang cerita menawan semacam di novel. Bahkan untuk menulis novel dengan kisah suami setia–meski istrinya kedapatan terlibat dalam diskusi ‘mau keluar di mana’ dengan lelaki lain di mana semuanya terekam video–perlu keberanian tersendiri. Keberanian yang mungkin hanya mampu dikalahkan oleh nyali Kak Jonru yang konsisten dalam mem-posting hal-hal tentang Presiden tanpa takut dicokok aparat.

Beberapa hari belakangan ini, kisah belajar cinta yang istimewa seperti itu rupanya masih ada, bahkan jauh lebih dramatis: Seorang ibu muda bernama Ade Irma Suryani membawakan sehelai gamis untuk dipakai suami melarikan diri dari penjara. Lokasi tepatnya: Dari Rumah Tahanan (Rutan) Salemba. Tak jauh dari kantor PKI yang tempo hari dikoar-koarkan Kivlan Zein.

Seorang istri membantu suami kabur dari penjara? Tampak biasa. Sama biasanya dengan Inter Milan atau Manchester United saat terdampar di luar zona Champions. Biasa banget. Yang membuat cerita tersebut menjadi kisah cinta yang begitu heroik adalah: Sang suami tersandung kasus perkosaan dan pembunuhan terhadap gadis di bawah umur. Lebih dahsyat lagi: gadis di bawah umur tersebut adalah keponakan sang istri.

Jika kita bandingkan, kisah selingkuh artis tadi seperti sampah daur ulang.

Bayangkan, sang suami kedapatan memperkosa gadis lain saja sudah menjadi poin yang tepat untuk menganggapnya bajingan dan kemudian melepasnya dari kelanjutan hidup. Kian berat dan menjijikkan ketika gadis yang diperkosa si suami bejat tadi adalah keponakan sang istri sendiri. Bahkan jika tak menyeretkan unsur pemerkosaan, membunuh seorang keponakan semestinya sudah menjadi bukti jelas bahwa sang suami tiada layak dicintai.

belajar-cinta

Photo by Josh Willink on Pexels.com

Namun, Ade Irma Suryani tampaknya begitu mencintai suaminya hingga dia menihilkan fakta bahwa (1) suaminya telah membunuh orang, (2) yang adalah keponakannya sendiri, (3) setelah sebelumnya memperkosa gadis di bawah umur itu.

Bagi Ade, semua fakta itu nisbi belaka. Dia tetap mengunjungi suaminya itu saat lebaran, persis ketika daerah Percetakan Negara tempat Rutan Salemba berada sedang sepi-sepinya. Lebih lanjut lagi, dia membantu pelarian suaminya, bahkan meninggalkan KTP-nya di pos jaga Rutan Salemba.

Kalau Anda baca di berbagai media, pasangan absurd tersebut naik bajaj sampai Tanah Abang dan kemudian berpisah begitu saja. Jakarta jelas sedang tidak macet hari itu dan sangat mudah bagi sang istri untuk kembali mengambil kembali KTP-nya jika ia mau. Tetapi cinta mengaburkan itu semua.

Ngomong-ngomong, bagi yang sering makan siang di sekitar Rutan Salemba, atau sering naik angkot 35 seperti saya, pasti (pernah) tahu perihal ketatnya penjara satu ini dari obrolan ibu-ibu yang sehabis datang mengunjungi anak atau suaminya di dalam situ. Secara luar biasa, Ade Irma Suryani melewati itu semua.

Banyak jomblo naas di muka bumi ini kehilangan cinta karena egosime pasangannya masing-masing. Hanya karena tidak dijemput, lantas minta putus. Begitu diiyakan, nangis-nangis setengah mati pengen balikan. Hanya karena ditinggal main Pokemon Go sebentar buat nyari telur 10 kilometer dari rumah, lantas minta bubaran. Aktivitas-aktivitas remeh itu berhasil membuat sebuah komitmen melemah dan bubar begitu saja.

Saya pernah diputuskan hanya karena menyuruh dan mengantar (mantan) pacar yang lagi sesak napas untuk pulang saja–karena malam begitu dingin–dan lupa tidak membelikannya makan malam.

Logika ilmiah saya sebagai calon apoteker ketika itu adalah dinginnya udara malam dapat memicu bronkokonstriksi. Maka bukankah lebih baik jika dia pulang dan mendekam di balik kehangatan selimut daripada lantas sesak napas nggak karuan? Bagi saya, sikap saya tersebut merupakan logika perlindungan.

Jika kesalahan saya hendak diperbandingkan dengan yang lain, tentunya jelas bahwa ‘tidak membelikan makan malam’ itu jauh lebih baik daripada ‘membunuh dan memperkosa keponakan’. Nyatanya saya diputuskan, dan si Anwar, si bangsat tukang pemerkosa dan pembunuh itu, justru dibantu kabur dari penjara, OLEH ISTRINYA!

Hidup memang sering terasa tidak adil. Ada orang yang setiap hari diisi dengan menghina Presiden tapi tidak ditangkap, sementara di sisi lain hanya mengirimkan SMS ke kepala daerah lantas tiba-tiba dicokok. Ada orang yang setiap kali menyebar hoax ditanggapi dengan bahagia dan share ribuan kali. Sementara saya yang setengah mati membuat tulisan klarifikasi beras palsu dengan data yang sangat lengkap malah tidak ada yang membagikan.

Hidup kadang pedih, cinta kadang buta, apalagi belajar cinta.

Maka, kawan-kawan jomblo se-Indonesia Raya, bawalah kisah Ade Irma Suryani ke dalam pencarian kalian akan jodoh masing-masing. Nggak peduli situ cowok apa cewek, tapi belajar memaafkan dan menihilkan kesalahan pasangan seperti yang dilakukan oleh Ade Irma Suryani adalah sikap yang sudah sangat langka di era di mana berbagi kabar hoax lebih membahagiakan daripada membincang fakta ilmiah.

Sungguh, kita–dan saya yakin Ade Irma Suryani–sama-sama memahami bahwa membantu seseorang keluar dari penjara itu adalah sikap yang jelas-jelas salah. Namun, siapa yang sudi untuk mengerti bahwa yang dilakukan Ade adalah sesuatu yang disebut cinta seutuhnya?

Lihatlah wajah Anwar di segala media mainstream dan bandingkan dengan wajahmu. Cakep mana? Cakep kamu, kan? Tetapi Anwar keparat itu punya orang yang mencintainya hingga penuh seluruh, lha kamu? Sukurin.

Tentu kesalahan Ade Irma Suryani bukan untuk kita tiru, tapi mari belajar tentang cinta darinya. Komentar-komentar di media mainstream begitu menyalahkan dan menggoblok-goblokkan dia yang tidak meninggalkan suami bejatnya itu, tetapi malah membantu suaminya kabur, plus menceburkan dirinya sendiri dalam masalah.

Dari perspektif cinta, Ade Irma Suryani tidak salah. Dia membela cintanya tanpa syarat, sekalipun ribuan argumen moral dan hukum tetap akan mendakwanya salah. Dalam perspektif saya yang belum kawin ini, segala yang dilakukan oleh Ade Irma Suryani hanya mungkin bisa ditafsirkan dalam naungan cinta. Persis seperti kata Auliq Ice.

“Love is not blind but it leads to blindness”

Percaya Telur Palsu Sama Saja Tidak Percaya Tuhan

Screenshot_1802

Tulisan saya di Mojok (18 Maret 2018) – Hobi kok sama hoax. Hoax jadul lagi. Ini bukan ngomongin G 30 S, ini merujuk pada hoax telur palsu.

Sebagai bapak muda, seharusnya saya memiliki optimisme pada negeri ini. Mau tak mau harus kudu demikian. Agar setidaknya saya bisa membayangkan, kelak ketika saya sudah menjadi lansia yang antre obat hipertensi dengan fasilitas BPJS Kesehatan, anak saya akan menemukan Indonesia yang jaya, gemah ripah loh jinawi, dan sifat-sifat baik lainnya.

Namun, begitu melihat isi Facebook dan menemukan ratusan ribu orang menaruh komentar “#2” dalam pesan “ketik #2, maka air akan surut” pada gambar mbak-mbak sedang berendam, pesimisme pada bangsa ini mekar kembali.

Selain urusan otak ngeres, salah satu alasan untuk pesimistis adalah begitu banyaknya orang yang menjadi penghobi hoax. Hoax politik mungkin lama-lama terasa biasa, tetapi yang bikin linu, banyak orang percaya pada hoax soal makanan.

Yang terbaru, tentu saja, hoax tentang telur palsu.

Hoax telur palsu ini sejatinya telah muncul beberapa tahun silam. Kala itu beredar broadcast message soal telur palsu yang dijual separuh harga di dalam KRL Jabodetabek—waktu itu masih berstatus kereta ekonomi.

Oke, mari kita bayangkan. Ketika hoax itu muncul, berjualan di dalam KRL Jabodetabek masih diperbolehkan. Pada era Ignasius Jonan, KRL Jabodetabek direvitalisasi sehingga jangankan jualan, mau berdiri dengan baik dan benar saja susah banget. Pak Jonan sudah beralih dari sekadar bos PT Kereta Api Indonesia menjadi Menteri Perhubungan, sudah dicopot lantas dilantik lagi jadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, eh hoax lawas soal telur palsu muncul lagi.

Hobi bener ya mengulang-ulang hoax.

Sepuluh tahun silam juga sempat ramai soal telur palsu yang katanya ditandai dengan adanya garis hitam serta bagian kuning yang tampak tidak bulat sesudah direbus. Nyatanya, kemudian diketahui bahwa itu telur afkir alias telur tidak layak tetas, yang kemudian digembar-gemborkan sebagai telur palsu.

Tahun 2018, isu telur palsu mengemuka kembali setelah viral video tangan seorang ibu yang memecahkan telur, lantas memegang bagian kuning telur dan bagian itu tidak mudah pecah. Serta, katanya lagi, di bagian kulit ada lapisan mirip kertas.

Model hoax bikin video dengan penjelasan bak pakar macam ini memang kerap terjadi. Sebelumnya, ajang berbagi kebodohan ditandai dengan munculnya video biskuit tipis dan gorengan yang menyala kala dibakar. Yha, gundulmu juga juga bakal menyala kalau dibakar. Apa berarti otakmu terbuat dari plastik?

Bicara yang palsu-palsu boleh-boleh saja. Masih ada pekerjaan rumah tentang obat palsu, lukisan palsu, hingga nabi palsu. Kalau ada obat palsu, wajar dipermasalahkan. Obat kan buatan manusia, jadi memang dimungkinkan kalau ada manusia yang membuat edisi palsunya. Motifnya untuk mencari profit, jelas. Ada selisih biaya dan kualitas yang bisa dimainkan sebagai cara memperoleh keuntungan dengan tidak wajar. Untuk itulah pemalsu obat ini harus ditangkap-tangkapi.

Lha, sekarang kita berbicara telur palsu dan begitu banyak yang percaya. Termasuk embel-embel konspirasi asing untuk menghabisi penduduk Indonesia. Menyimak dunia maya bergolak soal telur palsu, saya sungguh izin mengelus dada tetangga.

Telur oleh berbagai jurnal disebut sebagai sebuah paket unik yang didesain sebagai bagian tidak terpisahkan dari sistem reproduksi. Ingat, ada kehidupan di dalam sebuah telur.

Lebih spesifik lagi, mari membincang kulit telur. Si kulit telur ini memiliki fungsi melindungi embrio dari gangguan yang sifatnya mekanis maupun dari bakteri atau virus. Penelitian soal kulit telur ini sudah dilakukan sejak tahun 1881-1882. Pada saat itu, di nusantara lagi ramai Perang Aceh.

Menurut Burley dan Vadehra dalam bukunya The Avian Egg: Chemistry and Biology, analisis kimia menunjukkan bahwa kulit telur tersusun dari 97% kalsium karbonat. Proporsi jumlah kalsium pada kulit telur ini juga menjadi keajaiban tersendiri karena menurut perhitungan matematis, jumlah kalsium dalam tubuh induk unggas tidak akan sebanding untuk menjelma jadi sekian banyak kulit telur.

Gambarannya, volume darah untuk unggas berbobot 1,5 kilogram adalah 75 mililiter. Konsentrasi alias kandungan maksimal kalsium dalam darah adalah 30 miligram per 100 mililiter sehingga kandungan kalsium dalam tubuh unggas petelur hanyalah 25 miligram. Padahal, dalam kulit dari telur yang bobotnya 60 gram, terkandung sekitar 2,3 gram kalsium. Bingung toh? Sudah sana cari jurnalnya di Google Scholar. Ada, kok. Jangan baca hoax melulu di Google.

Pembentukan kulit sendiri merupakan proses paling panjang dalam terbentuknya suatu telur, sekaligus bukti keterlibatan Tuhan yang luar biasa. Makanya kulit telur selalu mulus tanpa bekas las. Nggak pernah kan lihat ada telur yang kulitnya seperti bungkus Kinder Joy?

Pada intinya, kompleksitas kulit telur saja sudah menggambarkan betapa sangat membingungkannya struktur sebuah telur. Maka jangan heran kalau urusan telur ini sebenarnya adalah wujud nyata campur tangan Tuhan dalam kehidupan di dunia.

Pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana mungkin membuat sesuatu yang palsu di balik kulit telur yang notabene merupakan mahakarya Yang Maka Kuasa itu? Concern-nya sama persis dengan pernyataan beberapa ahli yang beredar belakangan, “Sampai detik ini belum ada teknologi manusia yang dapat membuat kulit telur ayam dan isinya.”

Lho, tapi berita-berita di website dan video-video di YouTube jelas-jelas memperlihatkan pembuatan telur palsu!

Menyoal itu, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian Syamsul Maarif di media menyebut bahwa “Secara akal sehat, telur palsu akan jauh lebih mahal dari aslinya”.

Hitung-hitungan bodoh dengan memakai data bahwa dalam 1 telur terkandung 2,3 gram kalsium, maka 1 kilogram kalsium karbonat hanya akan menghasilkan 434 telur saja. Ambil patokan harga 1 kilogram kalsium karbonat adalah 13 dolar AS alias sekitar 180 ribu, maka biaya kalsium karbonat saja per telur adalah 410 rupiah.

Itu baru kulitnya doang, padahal kulit hanya menyumbang 4 persen bobot telur. Belum menghitung biaya untuk membuat isinya—yang 96% lagi, apalagi menghitung biaya impor dari luar negeri sebagaimana prasangka buruk para netizen nan selalu benar yang beredar selama ini.

Memangnya semua biaya itu cocok dengan harga telur yang jika sebijinya sampai-1.500-rupiah-sudah-dibilang-mahal-itu? Secara akal sehat, masih lebih baik memaksa ayam-ayam petelur se-Indonesia untuk menetaskan telur alih-alih nyari yang palsu, apalagi nyari ke asing-aseng.

Maka ada lagi netizen bersabda: ini bukan soal untung rugi! Ini soal bagaimana asing-aseng merusak bangsa Indonesia!

Ah, Kepala Satgas Pangan Irjen Pol. Setyo Wasisto menyebut bahwa konsumsi telur per orang di Indonesia hanya 10,44 kilogram per tahun. Dengan asumsi 1 kilogram berisi 16 butir, kira-kira itu setara dengan 13 butir per bulan. Dari 90 kali kesempatan makan dalam sebulan, anggaplah 13 butir itu dimakan dalam 13 kali kesempatan makan, maka proporsinya hanya 14%. Entahlah, bagaimana konsumsi telur sejarang itu bisa dianggap merusak bangsa.

Bahwa ada telur palsu dalam kapasitas sebagai produk untuk display di restoran dan keperluan promosi lainnya, itu jelas ada. Wong untuk mainan anak-anak juga ada. Namun, kalau telur palsu yang ditujukan untuk membunuhi penduduk Indonesia? Duh, Dek, katanya beragama, tapi kok masih meragukan keajaiban Tuhan dalam wujud telur, sih?

Salah satu situs web di dunia yang dipercaya sebagai tempat mencari tahu kebenaran atas hoax yang beredar adalah Hoax Slayer. Soal telur palsu ini, Hoax Slayer memiliki hipotesis bahwa rumor soal telur palsu kemungkinan bermula dari berita yang dipublikasikan di Xinhua pada 28 Desember 2004.

Berita itulah yang memuat soal bahan-bahan berupa kalsium karbonat, starch, resin, gelatin, dll., dan tambah mengemuka sejak dimuat di consumerist.com pada bulan Mei 2007 dengan menyebut acuan Internet Journal of Toxicology. Publikasi ini sepintas tampak ilmiah, meski judulnya lantas bikin dahi berkerut karena nggak jurnal-banget: “Faked Eggs: The World’s Most Unbelieveable Invention”. Belakangan diketahui bahwa jurnal itu sebenarnya telah diakui sebagai kesalahan publikasi dan telah diturunkan, meski dengan pengaturan tertentu kita masih bisa googling demi membaca publikasi yang bikin dahi berkerut karena tidak ilmiah sama sekali itu.

Yeah, di luar negeri hoax ini sudah ada tahun 2007, di negeri kita juga sempat mengemuka tahun 2008, tapi tahun 2018 kita menghebohkan lagi hal yang telah dihebohkan belasan tahun lalu. Pantaslah jika kita sering ketinggalan gerbong dari negara lain. Jangankah soal update teknologi, soal hoax saja kita masih memakai hoax 11 tahun yang lalu, lho!

7 Post Instagram dari 7 Media Paling Kece Pasca Debat Pilpres 2019 Kedua

debat-pilpres-2019

Saya agak trenyuh melihat capaian WordAds bulan lalu. Separo dari bulan-bulan sebelumnya yang sudah sedikit itu. Kemungkinan ya karena saya jarang posting. Maklum, sok sibuk. Ah, jadi mulai sekarang tulisan-tulisan maupun ide-ide yang batal, mau saya masukkan kesini saja ya. Minimal biar ada isinya. Heuheu. Khusus post ini, saya hanya hendak merepost 7 postingan di Instagram dari 7 media yang dikenal kadang-kadang kampret dan kadang-kadang cebong tapi seringnya netral, pasca debat Pilpres 2019 kemarin.

Kuy~

Mojok

debat-pilpres-mojok

Republika

debat-pilpres-republika

Liputan 6 Menyajikan Debat Pilpres 2019

debat-pilpres-liputan-6

Tirto

debat-pilpres-tirto

Detik

debat-pilpres-detik

Kompas Menyajikan Statement Prabowo pada Debat Pilpres 2019 Kedua

Screenshot_1782

Kumparan Menyajikan Infografis Paling Meaningful dari Debat Pilpres 2019

Screenshot_1781

Nanti yang Debat Pilpres versi Cawapres pasti bakal seru, yha~

8 Kiat Sukses Lolos Seleksi Substansi LGD LPDP

Rekor, Perpanjang SIM di Mal Pelayanan Publik Hanya 16 Menit Saja!

Sesudah lolos seleksi administrasi dan seleksi berbasis komputer maka hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah seleksi substansi. Dalam seleksi substansi itu sebenarnya ada 3 bagian besar. Akan tetapi, biar postingnya jadi banyak, ya saya pisahkan begini aja. Harap maklum, otak sudah susah dipakai mikir~

Tiga bagian besar yang saya maksud adalah verifikasi berkas, Leaderless Group Discussion (LGD), dan wawancara. Postingan ini khusus membahas LGD. Soalnya, bagian ini yang termasuk paling banyak dicari di Google. Entah kalau di Geevv.

1. Pahami LGD LPDP

Bagian pertama, kita kudu pahami teknis LGD LPDP ini. Dalam seleksi ini, kita akan ditempatkan sekitar 10 orang (plus minus) dalam 1 kelompok diskusi. Topik hanya diberikan sesaat sesudah masuk ruangan, dan boleh baca 5 menit.

Image result for 5 minutes gif

Oya, bonus kertas corat-coret juga, deh. Biasanya, pada soal, diberikan juga peran-peran yang dibutuhkan. Jadi, dalam LGD, kita akan berperan jadi seseorang/sesuatu, misal perwakilan pemerintah, perwakilan pelaku usaha, dll.

Nah, selanjutnya dalam 30 menit diskusi akan berjalan tanpa dibuka oleh 2 panitia merangkap penilai di dalam ruangan. Tinggal kreasi peserta dalam 30 menit yang menjadi koentji~

2. Pahami Konsep Dasar Tes LGD Yang Baik

Saya sudah menghitung bahwa dalam 30 menit itu, waktu ideal untuk ngomong adalah 1,5 menit (saja!). Dengan durasi ini, setiap orang bisa mengutarakan pendapatnya 2 kali dalam 1 sesi LGD. Kalau sudah melenceng, pastilah ada yang dirugikan. Itu pasti.

Kemudian, pastikan peran-peran yang ada di soal itu dibagi rata. Inilah seninya, gimana membagi rata peran itu dengan baik sedangkan kenalan saja belum. Heuheu~

Screenshot_1775

Kemudian, pastikan bahwa jawaban kita tidak menggantung tanpa kesimpulan karena itu akan mempersulit peran lain yang mau nyamber sesudah kita. Jangan juga bikin pendapat yang nyeleneh sehingga common sense orang lain terganggu. Ingat, disini kita bukan debat atas nama cebong kampret, kita hanya ingin lolos beasiswa. Continue reading

Bincang Nggak Santai Dengan Asus Zenfone Max M2, Smartphone Mevvah Yang Murah Meriah

bincang nggak santai dengan

“Woy, gimana sih ini ibu-ibu main dorong.”

Pintu KRL tujuan Rangkasbitung menutup. Jeder. Sementara kalimat barusan masih terus diulang-ulang oleh kumpulan pemuda tanpa harapan yang naik di Stasiun Palmerah ini.

Apakah benar ada ibu-ibu yang mendorong? Nope, itu mereka sendiri yang saling dorong dan kemudian bercanda sarkas nggak sopan macam begitu. Dan percayalah, pemandangan seperti itu hanya ada di KRL tujuan Rangkasbitung saja.

Sementara itu, di sudut lain gerbong, tampak seorang pria terpekur gundah oleh sebuah problematika krusial berupa ini:

screenshot_1744

Gawainya digoyang-goyangkan berlawanan arah dengan laju kereta. Sekilas berhenti, kemudian lanjut lagi. Itu hape apa nomor arisan, dikocok wae~

“Misi, Om.”

Sang pria celingak-celinguk dan mendapati sebuah gawai berbodi 158 mm x 76 mm x 7.7 mm kedip-kedip mau ngajak ngobrol. Sementara Santos dalam posisi one on one begitu nggak nendang-nendang juga. Lag kayaknya, bisa karena koneksi, bisa karena ponselnya memang hang.

“Kalah ya, Om?”
“Apaan? Ini ntar lagi gol, kalau nggak stop!”
“Lha kalau waktu habis ya nggak gol dong, Om.”

Tidak lama kemudian, game lanjut kembali dan status kemenangan sudah ada di tim lawan dengan status saya disconnected. Ealah, nge-game itu biar terhibur lha ini kok malah bikin pikiran selain cicilan.

Gambar terkait

“Ngapa lu?” tanya Sang Pria kemudian.

“Kalau mau ngegame mah nggak usah jauh-jauh, Om. Pakai saya aja. Cukup 80 juta.”
“Lu kata gaji PNS banyak? Itu 80 juta bisa buat gajian 2 tahun.”
“Nah ini contoh yang nggak pengen debat dan malah nyalahin orang. Dicoba dulu dong. Itu si 80 juta mah canda.”
“Memangnya ngana bisa apa?”

Dengan angkuh, si gawai berceloteh, “Om, saya itu HP pertama di Indonesia yang pakai Chipset Qualcomm Snapdragon 632.”

untitled design (19)

“Ha, njuk?”

“Aduh, Om-nya kebanyakan rapat tanpa hasil, nih, jadi nggak sempat baca. Chipset Snapdragon 632 itu sederhananya punya keunggulan sehingga meningkatkan kemampuan gaming, pengambilan video 4K, mendukung teknologi AI, hingga konektivitas LTE yang lebih maksimal.”

“Apa bedanya sama saya hapus-hapus memori mantan di HP?”

“Yaelah, Om. Perpaduan CPU dan GPU pada ASUS Zenfone Max M2 kek saya ini bisa meningkatkan kinerja sampai 40 persen. Kalau saya PNS, tunjangan saya sudah naik. Ha wong jelas berkinerja. Nggak kayak situ, makan konsumsi rapat wae.”

Hasil gambar untuk eat lot gif

“Mahal, dong? PNS mah nggak sanggup.”
“Lha ini~ Dari tadi sudah dibilang kalau terjangkau, kok. Nggak percayaan! Hih! Semua laki-laki sama saja!”
“Jadi, saya sama kayak Samuel Zylgwyn?”

“Nggak. Lebih mirip Jakub Błaszczykowski. Jadi, Om, chipset Snapdragon 632 itu hasil pengembangan dari Snapdragon 625 dan Snapdragon 626 yang terkenal punya performa tinggi, hemat daya, dan tidak panas. Ngana harusnya kenal kalau yang dua itu hemat daya. Jadi sama Qualcomm, saya dikembangkan lagi sampai semakin hemat daya.”

“Kamu nyindir saya biar hemat?”
“Asem ik, suudzon wae.”
“Hehe~”
“Jadi kalau mau main PUBG apa Free Fire udah bisa. Apalagi cuma Score Hero, kalahan pula. Duh.”
“Eh, eh. Maksudnya?”

Kereta berhenti sejenak, menghirup nafas di padatnya Kebayoran, stasiun angkuh di tengah-tengah pasar yang menua.

screenshot_1743

“Anak berapa, Om?”
“Satu. Kenapa?”
“Suka difoto nggak?”
“Yah, kek orangtua milenial pada umumnya aja.”

“Nah, saya sebagai ASUS Zenfone Max M2 punya kamera belakang lengkap dengan EIS untuk menjaga kestabilan hati, eh, video. Saya juga bisa lho merekam video hingga resolusi 4K.”

“Pakai apa?” tanya pria itu.
“Pakai seblak, Bambang!”
“Loh….”

“Ya pakai kamera lah. Kalangan ASUS Zenfone Max M2 kek saya juga bisa mengenali 13 scene yang berbeda, soalnya didukung oleh buzzer politik teknologi AI. Bahkan juga bisa menjaga kestabilan video kalau merekam pakai kamera depan.”

Gawai itu menyambung, “Jadi kalau Oom pengen jadi vlogger, lebih enak, soalnya kamera depannya lebih ciamik dengan kamera 8MP. Om, kan yang cita-citanya jadi vlogger tapi nggak kondang-kondang itu kan?”

“Asem.”

“Eh, ngana otak, eh, layar jernih nggak?”
“Sembarangan, Lu, Om. Saya ini punya Layar HD+, ukuran 6,26 inchi, rasio 19:9. Kurang lega apa? Mau ngegame juga hayuk! Nonton film, siap. Nonton video Om yang nggak laku itu juga lanjut aja.”

“Hmmmmm. Hmmmmm.”
“Apalagi, Om?”
“Kuat dan lahan lama nggak? Butuh sildenafil nggak?”
“Heh, asbak Rajaratnam! Dikata saya alat kelamin?”
“Baterai, coy. Baterai.”

“Wah, meragukan saya lagi si Om. Baterai saya 4000mAh. Kurang gede apa? Itu sudah bisa ngegame 8 jam nonstop. Apalagi cuma nonton sama scroll-scroll doang. Bisa 21-22 jam.”

Hasil gambar untuk super electric gif

“Kalau main Score?”

“Yaelah. Sampai habis paketnya situ di modem, baterai saya juga nggak habis. Sukanya ngeremehin, nih, Om. Jangan lupa, saya itu pakai pure Android Oreo 8.0, tanpa micin, tanpa perubahan sedikitpun. Tahu nggak?”

“Nggak.”
“Tahunya apa?”
“Fotokopi.”

“Geblek. Sederhanya, disebut Stock Android yang berarti ada jaminan update selama dua tahun. Jadi pasti bakal dapat jaminan update ke Android 9 Pie kelak plus lebih ringan bebas dari bloatware yang biasanya membebani kehidupan saya sebagai smartphone.”

“Wah, jeroannya situ mewah juga, yha?”

“Pokoknya,siapapun yang nyari HP terjangkau tapi kualitas dan kinerjanya baik buat komunikasi sehari-hari, plus juga buat gaming dan entertainment, saya sebagai ASUS Zenfone Max M2 adalah pilihan tepat. Spek mevvah, harga murah meriah. Jadi, coba saya, yha, Om?”

“Baiklah. Eh, lah, kebanyakan ngobrol sama ente, saya harusnya turun Jurangmangu.”
“Ini sudah Rangkasbitung, Om. Situ bablasnya kejauhan~”

“Duh!”

the distance between the sun and the

Tulisan ini diikutsertakan pada BOY-Zenfone Max M2 Writing Competition-nya, Oom Yahya. #ZenFoneMaxM2_ID #NextGenerationGaming

Rekor, Perpanjang SIM di Mal Pelayanan Publik Hanya 16 Menit Saja! Spiralkan!

Di usia yang sudah menua ini, pada akhirnya saya harus perpanjang masa berlaku Surat Izin Nyebar Hoax Mengemudi yang sudah akan lewat periode 5 tahun. Ini SIM yang lebih penting karena SIM C saya pakai betul sehari-hari. Lagipula, kalau bablas sehari, saya kudu mengurus semuanya di Daan Mogot. Yha, satu Polda Metro ke Daan Mogot, kapan kelarnya? Maka, mengenali periode berakhirnya SIM itu memang penting. Lupa, panjang urusannya.

Image result for far gif

Tadinya, saya ingin memperpanjang masa berlaku SIM itu di Gandaria City, sebagaimana SIM A yang juga sudah pernah saya tuliskan panjang lebar di blog ini. Akan tetapi, makin minimnya konten di blog ini membuat saya berpikir porno keras. Saya kemudian cari-cari opsi gerai SIM di tempat-tempat lainnya. Sempat ingin mengurusnya di Mall @ Alam Sutera yang kayaknya sepi, tapi kejauhan.

Ada juga ide mengurus di gerai yang ada di Blok M atau di Artha Gading, namun kok saya pikir bakal sama saja dengan di Gandaria City. Hmmm. Hmmm. Hmmm.

Image result for nissa sabyan gif

Entah kenapa, saya kemudian nyasar ke list gerai pembuatan dan perpanjangan SIM yang ada di Polda Metro Jaya dan menemukan fakta bahwa layanan ini juga ada di Mal Pelayanan Publik!

Aha!

Image result for aha gif

Seperti kita ketahui bahwa pada pertengahan 2017, Djarot Saiful Hidayat dalam kapasitas sebagai Gubernur DKI Jakarta meresmikan adanya Mal Pelayanan Publik (MPP) DKI Jakarta. Lokasinya sangat strategis, di Kuningan. Lebih detail lagi, MPP ini ada di belakang hotel JS Luwansa, yang berarti juga tidak jauh dari Hotel Westin yang tingginya setengah modar itu.

Dari kantor, saya minta izin setengah hari, dengan gambaran bahwa bakal selama waktu mengurus di Gancit. Saya kemudian tiba di MPP menggunakan ojek online sekitar pukul 08.35.

Di pintu masuk, sudah ada satpam yang tidak cuek layaknya di pelayanan publik lainnya. Saya langsung ditanyai kebutuhan datang ke MPP dan kemudian diarahkan ke komputer untuk mengambil nomor antrean. Untuk perpanjangan SIM ada di komputer 1, sisi paling kiri. Saya kemudian mendapat urutan 009.

Lumayan, nggak lama~

Saya kemudian menuju ke lantai 3, lokasinya pelayanan dari Kementerian/Lembaga. Selain SIM, di lantai ini juga ada imigrasi, ada pula Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Ada yang lain juga, sih, tapi saya tidak terlalu peduli. Heuheu~

Image result for don't care gif

Di lantai 3, saya disambut oleh 2 mbak resepsionis yang cantik jelita dan gawainya iBas iPhone. Lokasi Gerai SIM Mal Pelayanan Publik ini ada di sebelah kiri dari arah pintu masuk, bablas ke ujung. Pas mentok, pokoknya.

Saya tiba di depan loket pada pukul 08.41 dan masih ada 1 orang yang sedang mengisi formulir, serta 2 orang sedang berproses di tempat foto. Suasana cukup sepi kalau dibandingkan di Gancit yang loketnya belum buka saja sudah antre maksimal. Apalagi kalau dibandingkan dengan di Samsat. Jauh. Jauuuhhh~

Oya, ada fasilitas yang sangat menarik di MPP ini. Fasilitas sederhana sekali, tapi biasanya jadi sumber pungli di tempat lain. Yha, mesin fotokopi! Di tempat lain, fotokopi sebiji bisa diharga 2000 rupiah dan pasti dibayar karena butuh. Saya sendiri sebelum berangkat sudah fotokopi duluan SIM dan KTP semata-mata biar nggak bayar 2000 itu tadi.

Sejurus kemudian saya dipanggil untuk pengecekan identitas, tes kesehatan (buta warna), mengisi formulir, sekaligus berfoto. Kalau di Gancit saya masih bisa keliling foto-foto, di MPP nggak sempat. Semuanya set-set-set-set hingga kemudian pukul 08.57 saya sudah pegang SIM baru dengan muka yang mengerikan. Yha, nggak apa-apa, saya juga nggak peduli soal muka itu.

Hasil gambar untuk i dont care gif

Saya sejujurnya takjub dengan pelayanan SIM yang secepat itu. Tidak pernah terjadi dalam 2 periode SIM saya, bahkan ketika itu di Bukittinggi sekalipun yang notabene para polisinya kenal dengan orangtua saya. Lha ini kenal juga nggak–cuma Pak Polisinya ternyata tetangga mertua di Bandung Barat–tapi SIM diperoleh dengan cepat.

MPP ini mengintegrasikan lebih dari 300 layanan dalam 1 gedung, baik itu layanan Pemerintah Provinsi maupun 30 lebih layanan pemerintah pusat. Di tempat ini berbagai izin dan dokumentasi bisa diperoleh. Jadi, nggak ada itu suruh ngurus dulu ke dinas anu di jalan sana, lalu ke dinas anu lagi di jalan situ. Semuanya terintegrasi di 1 gedung yang menurut saya sangat nyaman. Mal Pelayanan Publik ini adalah proyek percontohan nasional dan buka pada hari kerja (Senin-Jumat) pukul 07.30 hingga 16.00.

Saya bahkan tidak sempat foto-foto terlalu banyak karena menunggunya memang tidak terlalu lama. Ini adalah contoh inovasi pelayanan publik yang wajib ditiru untuk diterapkan di manapun. Apalagi segala syarat Pelayanan Publik sesuai Permenpan 17 Tahun 2017 juga sudah pasti ada di MPP ini.

Saran saya, sih.kalau mau perpanjangan SIM mending di MPP saja. Jauh lebih ciamik dibandingkan pelayanan di mal yang pada dasarnya juga sudah ciamik~

 

Liburan Asik Dengan Laptop ASUS

liburan asik dengan laptop asus

Bagi blogger KW dan esais tempo-tempo seperti saya, liburan merupakan sesuatu yang berharga. Pertama, karena saya bisa menghilangkan bosan-aku-oleh-penat yang kalau dibiarkan bisa menciptakan pecahkan-saja-gelasnya-biar-ramai-biar-mengaduh-sampai-gaduh. Kedua, pada saat perjalanan liburan, saya sangat menikmati untuk menjadi pengamat yang rajin. Tidak jarang, tulisan-tulisan hasil melamun selama perjalanan itu malah yang masuk dan dimuat di media-media seperti Mojok, Voxpop, hingga Detik.

Intinya, sih, dengan liburan, biaya liburan saya ada balik modalnya juga, walau sedikit~

Nah, persoalannya sekarang adalah saya bukan lagi lajang membusuk belaka seperti sekian tahun lalu hingga begitu rajin menelurkan cerpen disini, saking nggak ada yang di-PDKT. Saya sekarang merangkap juga sebagai Bapak Millennial alias kaum milenial yang jadi bapak-bapak. Apalagi, anak saya yang (masih) satu itu lagi lucu-lucunya.

Alias, lagi butuh-butuhnya diawasi. Soalnya, kalau tidak diawasi bisa jadi begini:

Untitled design (6).png

Sekarang, intensitas saya untuk menulis sembari liburan jadi agak berkurang salah satunya ya karena uang berliburnya yang juga kurang. Selain faktor waktu karena harus mengawal pergerakan si bayi yang semakin gesit, faktor lainnya adalah barang bawaan yang bertambah banyak. Bapak-bapak dan emak-emak sekalian pasti paham bahwa kalau berpergian jauh dengan bayi, okupansi koper paling banyak ya buat bayinya. Bapaknya mah apalah~

Satu lagi, kalau saya paksakan bawa laptop, seringkali malah menjadi risiko tersendiri mengingat kawalan pada barang bawaan tidak seketat pas lajang merana yang betul-betul hanya ransel sebiji. Bisa jadi hilang dari pandangan, bisa jadi ketlingsut, bisa jadi juga remuk ketindih aneka rupa barang lain karena lupa dipisahkan bahwa di tas itu ada laptop.

Jadilah, liburan saya yang biasanya langsung menjelma jadi blogpost seperti cerita Loser Trip atau Cisantana, sekarang jadinya latepost bahkan late-nya bisa setahun seperti serial Lost in Bangka.

Hasil gambar untuk ckckck gif

Soal itu sih masih bisa disiasati dengan ponsel yang makin lama makin canggih. Kadangkala, hidup manusia bisa mendadak rumit dan butuh laptop alih-alih ponsel belaka. Seperti yang saya alami ketika lagi liburan di rumah orangtua nun jauh di Bukittinggi sana.

Syahdan, pada sore hari cuti nan syahdu sembari menggendong anak lanang, telepon genggam saya berbunyi. Nomor yang tidak disimpan, tapi tidak asing. Karena berasa tidak asing, sayapun mengangkatnya.

“Halo, Arie.”

Suara di kejauhan itu betul-betul tidak asing. Yha, Ini yang lagi menelepon adalah salah satu Pejabat Eselon I di kantor tempat saya bekerja. Sebagai staf level pupuk bawang, telepon langsung dari Eselon I itu sungguh-sungguh perintah yang melewati jenjang yang sangat jauh.

Hasil gambar untuk wow gif

Memang, sejak tulisan saya tentang sebuah obat sariawan cukup viral, terakhir eks editornya bilang view-nya sudah tembus 100 ribu, nama saya agak diingat di kantor. Walhasil, ketika kemudian sedang ada isu-isu yang digoreng sedemikan rupa oleh orang yang hobi gelut, saya suka sedikit-sedikit ikut bikin rame dengan esai saya. Kadang jadi rame, kadang nggak. Namanya juga media sosial. Suka-suka netizen, toh?

Namanya menulis esai yang kandungannya berat, tapi harus agak lucu dan ‘milenial’ bagi saya masih agak sulit kalau tidak pakai laptop. Wong, pakai laptop saja tetap sulit. Untungnya itu di rumah, jadi saya bisa pinjam laptop Mbahnya anak lanang.

Bagaimana kalau saya lagi di Pulau Kei, misalnya? Mau pinjam laptopnya ubur-ubur?

Gambar terkait

Untuk itulah, sesungguhnya saya butuh solusi. Setidaknya, saya perlu laptop yang compact, enteng tapi kuat, plus juga tahan banting minimal dari senggolan ringan anak lanang. Termasuk juga punya baterai yang kuat dan tahan lama, jaga-jaga mikir tulisannya lama, seperti kisah esai saya di atas yang kemudian selesai dalam waktu…

…5 jam. Heu.

Untunglah kini ada kekuatan paling mutakhir berupa laptop ASUS Zenbook UX391UA. Menilik spesifikasinya, sungguh sangat cocok dengan Bapak Millennial seperti saya. Tsah.

Sesuai namanya yang ZenBook S, laptop ini betul-betul S alias Slim. Beratnya hanya 1 kilogram. Tebalnya? Tidak sampai 1,3 cm. Benar-benar bisa nyelip diantara diapers anak lanang, kan? Toh, 1 kilogram dalam bawaan Bapak Millennial boleh dibilang nggak ada apa-apanya. Continue reading

[FPL] Membongkar Kemenkeu FC, Most Valuable Teams Dunia Per 1 Januari 2019

authentic leather.png

Kalau pecinta FPL Indonesia melihat home pada dashboard FPL mereka, pasti akan bangga karena di deretan 5 besar Most Valuable Teams dunia ada 2 tim dengan nama sama yakni Kemenkeu FC. Per 1 Januari 2019, Kemenkeu FC ada di nomor 1 dan 4. Keduanya dipegang oleh 1 manager yang sama yakni Bima Arif (O BISA SAJA BEB).

Screenshot_1698

Besar kemungkinan bahwa Bima Arif (O BISA SAJA BEB) merupakan pegawai Kementerian Keuangan Republik Indonesia, bisa PNS, bisa juga pramubakti. Lebih mengerucut lagi, kemungkinan itu semakin besar karena Kemenkeu FC tampil di Liga Bea Cukai RI yang membernya mencapai 515 orang! Jadi, dari angka ini, kemungkinan besar ada 500-an pegawai Kementerian Keuangan khususnya Direktorat Jenderal Bea Cukai yang menjadi manajer FPL! Sebuah angka yang sangat besar untuk sebuah liga, dan untuk sebuah Kementerian di Indonesia.

Image result for clap hand gif

Menariknya, tim Kemenkeu FC tampak memang dibangun hanya untuk menjadi tim dengan nilai tertinggi. Hingga pekan ke-21, tercatat tim Kemenkeu FC yang jadi nomor 1 di Most Valuable Teams dunia itu sudah melakukan 166 kali transfer! Alias lebih dari 8 kali transfer per GW, karena tim itu juga sudah pakai kartu bebasnya.

Demikian pula dengan overall rangking yang ada di posisi 5 jutaan serta posisi di Liga Bea Cukai RI yang juru kunci karena kebanyakan minus, tampak jelas bahwa tim ini betul-betul diset untuk bisa menjadi Most Valuable Teams, dan uniknya memakai nama Kemenkeu FC. Dengan demikian nama Kemenkeu secara umum bisa lebih mendunia. Ingat, FPL dimainkan oleh jutaan orang di seluruh dunia.

Satu yang juga unik, manajer tim ini tampak bertujuan bikin mumet lawan. Lihat saja formasinya:

Screenshot_1697

Menaruh 3 pemain yang sama-sama injury alias sudah merah DARI TIM YANG BAKAL SALING BERHADAPAN, bahkan sebagai kapten dan vice captain itu sepintas terlihat bodoh atau lupa password. Eh, kemudian kita melihat di bench-nya bahwa ada Eden Hazard, ada Harry Kane, dan ada Paul Pogba. Jadi, tim ini secara autosub pasti langsung berjaya. Ada kemungkinan, tim ini main di liga offline (pakai hitungan Excel) sebagaimana dimainkan oleh FPL Ngalor Ngidul, yang melihat capaian per pekan, tanpa peduli minusnya. Model seperti ini sangat memungkinkan adanya efek kejut bagi lawan-lawannya.

Tim Kemenkeu FC yang jadi numero uno itu sendiri baru eksis 2 musim, jelas lebih muda daripada para pemain FPL Ngalor Ngidul yang sudah 7 musim bermain FPL, namun siapa tahu bahwa manajer Kemenkeu FC ini sudah main sejak era Gordon Banks.

Image result for gordon banks

Ya, tho~

PNS main game seperti FPL jelas bukan kesalahan. Bagaimanapun PNS punya kehidupan. Lagipula main FPL tidak menghabiskan waktu seperti game online, kok. Hanya butuh klak-klik sedikit, sekali setiap pekan. Sisanya? Deg-degan.

Image result for shock gif