About ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Mudah dan Asyiknya Mencari Kost Zaman Sekarang

Sebagai anak rantau, urusan mencari kost adalah hal yang wajib. Apalagi rantaunya Sumatera ke Jawa seperti saya plus ada pengalaman buruk ketika menumpang keluarga. Lha, saya itu ngekost pertama kali itu awal 2006. Sudah lama banget. Sudah jadi pakar ngekost karena sudah melakoninya di Jogja, Palembang, Cikarang, hingga Jakarta.

Prinsip utama ngekost itu adalah domisili yang dekat dengan tempat beraktivitas. Kalau anak kuliahan ya cari kos-kosan yang dekat kampus. Kalau pekerja newbie, ya cari kos yang dekat dengan kantor. Jadi ingat dulu waktu di Palembang, saking dekatnya tempat tinggal, saya selalu berangkat 07.55 dan 07.57 sudah sampai ke depan mesin absen. Wkwk. Kalau di Cikarang nggak bisa jalan kaki, jadi ya 07.40 sudah naik motor dan 07.55 sampai kantor.

Tapi ada kalanya juga ngekost itu mendekati teman. Saya pernah punya teman, Si Boim, yang kerja di Jakarta Barat tapi ngekost di Jakarta Timur. Agak bikin dahi berkerut, sih, tapi ternyata dia punya alasan sendiri sebelum kemudian jadinya ya lelah sendiri juga untuk kemudian resign dan pindah kota.

Nah, zaman dahulu nyari kost itu setengah mati. Apalagi kalau betul-betul buta dengan lapangan. Harus keliling, keluar masuk gang, dan tentu saja mencari tempat-tempat bertuliskan “TERIMA KOST”. Versi yang agak mendingannya adalah pakai jalur info teman. Saya sih sudah pernah menjalani semua tipe itu.

Zaman sekarang? Wah, nyari kost itu cenderung lebih mudah dan asyik. Bahkan nggak perlu panas-panasan segala. Sambil ngadem dan rebahan pun bisa.

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Beberapa platform pada masa kini dapat kita gunakan untuk mencari kost. Misalnya, infokost.id yang dikembangkan oleh PT. Mediapura Digital Indonesia. Ada beberapa tipe properti yang bisa dicek melalui platform ini, yaitu kost, apartement, villa, dan hunian lainnya. Ada juga fitur pencarian untuk durasi tinggal mulai dari harian, mingguan, bulanan, sampai dengan tahunan. Salah satu fitur yang menarik adalah adanya verifikasi dengan dua tanda centang berbunyi “Data terverifikasi” dan “Sudah dikunjungi”. Plus, lokasinya juga detail di map. Beda banget sama zaman dahulu kala~

Platform lainnya adalah yukstay.com, yang sekilas pandang lebih identik dengan apartemen, sih. Nah, kalau di platform ini ada salah satu fitur bernama Co-living. Menurut pemilik platform, co-living adalah cara dan gaya hidup baru di kota yang fokus menyediakan kenyamanan dan kemudahan dalma artian adanya kamar-kamar tidur pribadi dan ruang bersama, tapi di apartemen gitu. Pilihan lainnya adalah whole living unit.

Photo by Andrew Neel on Pexels.com

Ada juga cari-kos.com. Di platform ini ada pencarian berbasis jenis kos yaitu putra, putri, dan campur. Termasuk opsi pelihara binatang, sekamar bertiga, dan banyak lainnya juga ada. Plus petanya juga cukup jelas. Sekilas pandang melihat petanya berasa sedang ngojek pakai Maxim. Platform ini dikembangkan oleh PT. Cari Kos Nusantara.

Platform berikutnya adalah BabeKost. Namanya babe, ini ada kumisnya. Di platform ini ada informasi tentang kost, apartemen, villa, juga hunian. Kontrakan di Citra Maja Raya juga ada. Ada sedikit tips sih tapi memang update terakhirnya dibuat pas Wakil Presiden masih Jusuf Kalla. Oya platform ini mencakup Jakarta, Bandung, Bekasi, Bogor, Depok, Surabaya, Tangerang, sampai Yogyakarta. Eh, ya sampai ke Lebak juga itu kan tadi ada Maja.

Kalau agak-agak tajir sedikit, maka mungkin bisa mlipir ke flokq.com. Di sini, opsinya cenderung dari apartemen-apartemen kelas atas seperti Bellagio Residence, Parama Apartment, hingga The Royal Olive Residence kalau di Jakarta. Disini ada beberapa tipe membership yaitu Master Room, Queen Room, hingga Common Room. Semuanya dengan spesifikasi masing-masing.

Platform berikutnya adalah SewaKost. Nah, kalau disini beberapa kata kunci utama adalah AC, Free WiFi, dan kamar mandi dalam. Lebih sedikit, sih dibandingkan platform lainnya yang bahkan tadi sampai ada informasi tentang boleh pelihara hewan atau tidak. Akan tetapi, di SewaKost ini pilihannya lumayan banyak juga.

Survei kost sambil rebahan dan ngadem itu tentu diperlukan karena ini adalah masa-masa pandemi. Kata WHO, mau pergi ke luar rumah itu urusan hidup dan mati. Jadi, sebisa mungkin kita meminimalkan kegiatan di luar rumah.

Lah, kalau mau survei kosan gimana?

Photo by Nathan Cowley on Pexels.com

Kan sudah dibilang tadi, bahwa zaman now ini nggak seperti 15 tahun lalu. Jadi bisa pakai cara yang menenangkan. Pertama-tama, kita dapat mendownload aplikasi RedDoorz dan bisa langsung mencari kost yang sesuai dengan kriteria.

Soal RedDoorz sendiri tentu kita sudah cukup kenal karena merupakan salah satu jaringan manajemen dan reservasi akomodasi yang cukup kondang di ASEAN. Nah, selama ini yang saya tahu ada beberapa properti RedDoorz itu yang aslinya adalah kos-kosan eksklusif gitu. Saya kan sering pakai. Kadang-kadang kepikiran, kalau mau ngekost di tempat itu gimana ya…

Ternyata kini RedDoorz juga sudah menyediakan opsi itu. Akomodasi jangka panjang seperti kost. Pencarian dapat kita lakukan melalui Kost di RedDoorz. Ada berbagai penawaran yang menarik baik dari fasilitas maupun harga. Proses sortir di aplikasi dapat kita lakukan berdasarkan harga, fasilitas, booking, dan sebagainya.

Nah, melalui Kost di RedDoorz, kita bisa mengeksplorasi calon kost baik dari jaraknya dengan tempat kerja atau kuliah. Plus kan zaman sekarang map sudah canggih, jadi kita bisa melihat pula fasilitas yang tersedia di sekitarnya melalui peta yang tersedia. Di sisi lain, kita juga bisa melakukan pencarian berdasarkan harga. Model begini tentu tidak ada pada zaman dahulu karena minimal kita harus menelepon dulu atau datang langsung ke calon kost supaya mengetahui harganya, dan tentu saja fasilitas lain.

Salah satu yang juga menarik dari Kost di RedDoorz adalah program RedDoorz HygienePass sebagai bagian dari upaya menaati protokol kesehatan. Bagaimanapun, kita harus bisa menghindari penyakit yang belum ada obat dan vaksinnya itu.

Demikianlah kiranya mencari kost zaman sekarang itu sudah sangat lebih mudah dan lebih asyik dibandingkan pada zaman saya sekolah dan kuliah dulu. Dengan bantuan teknologi, kita jadi dipermudah, sehingga pada akhirnya kita bisa jauh lebih produktif.

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

7 Panduan Memilih Laptop: Mahasiswa Wajib Tahu, Dosennya Juga

Sejak 2009, pekerjaan saya selalu berhadapan dengan layar komputer, entah PC entah laptop. Akan tetapi, biasanya ya barangnya ditinggal di kantor. Nah, tahun lalu, kebetulan saya kan kuliah lagi plus tiba-tiba kondisinya jadi seperti sekarang ini, pada akhirnya hidup saya harus betul-betul bersama dengan benda canggih tersebut.

Ya gimana? Sejak pertengahan Maret sampai Ujian Akhir Semester 2 yang baru lewat, semua perkuliahan dilakukan online. Minggu lalu dapat kabar, katanya pendidikan tinggi masih akan tetap Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sampai Desember 2020! Walhasil, ya saya hampir pasti akan nongkrong di rumah saja terus-menerus bersama-sama dengan laptop.

Kondisi yang mirip juga terjadi pada Mama Isto. Dia karyawan yang karena kepakarannya juga merangkap dosen. Nah, siapa bilang pas PJJ begini dosen enak hidupnya? Justru bermalam-malam sepulang kerja, Mama Isto harus bergelut dengan laptop-nya untuk bikin bahan, bikin kuis, dan juga mempersiapkan diri untuk pengajaran pada kelas-kelas yang menjadi jatahnya.

Sudah jelas sekali, baik mahasiswa maupun dosen, di era PJJ seperti sekarang ini butuh perangkat yang tidak hanya tangguh, tapi juga harus dekat dengan penggunanya. Lha iya, sepanjang hari dipantengin kalau nggak sreg ya garapan juga ambyar~

Nah, berikut ini akan dipaparkan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam rangka memilih laptop yang tepat baik untuk mahasiswa dan juga dosen, dalam menghadapi semester mendatang ketika kuliah daring tampaknya akan jalan satu semester full.

Tentukan Platform

Secara umum, laptop di pasaran terdiri dari 3 sistem operasi yaitu Windows, Chrome OS, dan MacOS. Gambaran umumnya, Windows adalah sistem operasi yang paling fleksibel dengan rentang harga yang juga sangat luas. Versi terbarunya adalah Windows 10, yang menyediakan sejumlah pembaharuan dari Windows 7 dan Windows 8. Sejak dirilis pada Juli 2015, Windows 10 secara terus menerus melakukan update, termasuk kemampuan asisten digital yang bernama Cortana. Oya, kalau menurut LaptopMag, Windows adalah satu-satunya mesin yang dipertimbangkan oleh gamer.

Untuk MacOS kurang lebih sama dengan Windows 10, namun ada beberapa perbedaan signifikan. Antara lain, MacOS tidak dibuat untuk fungsi touch screen. Sedangkan untuk Chrome atau yang dikenal dengan Google OS terbilang sederhana namun memang kemampuannya terbatas. Interface-nya mirip Windows tapi dasarnya memang browser Chrome.

Tentukan Ukuran Yang Tepat

Di kantor, saya sering mendapati keluhan dari beberapa orang perihal laptop kantornya yang kekecilan. Canggih, sih, tapi kecil. Rupanya, kecanggihannya tidak relevan dengan ukurannya. Jadi, ukuran ini sangat penting.

Jika memang kita ingin unit yang anteng di meja sepanjang hari, maka ukuran 17-18 inchi dapat menjadi pilihan. Apabila ingin yang ukuran agak besar tapi tidak hendak dibawa-bawa secara konstan, maka ukuran 15-16 inchi dapat dipakai. Apabila ingin yang paling enteng tentu saja pilihannya 11-12 inchi.

Adapun yang paling seimbang antara kemudahan dibawa serta penggunaannya adalah ukuran 13-14 inchi.

Cek Keyboard dan Touchpad

Spesifikasi seimpresif apapun kalau tidak ergonomis ya ujungnya tidak akan produktif. Jarak yang ideal untuk pekerjaan yang intens di laptop adalah 1-2 milimeter. Touchpad-nya sendiri sangat krusial untuk mencegah kursor yang melompat-lompat, serta tentu saja sangat membantu untuk desain yang butuh zoom in-zoom out.

Tentukan Spesifikasi

Bagian ini agak panjang karena menyangkut beberapa bagian. Pertama tentu saja CPU alias otak dari komputer yang hendak membantu kita bekerja. Kalau mau kelas yang paling atas maka ada Intel 10th Gen serta Intel Core i9. Umumnya harganya tentu premium sekali dan banyak digunakan di perangkat game kelas tinggi.

Sekali lagi, penggunaan akan sangat menentukan. Ngapain punya otak pintar-pintar kalau misalnya kebutuhannya tidak setinggi itu? Maka, sebenarnya yang umum digunakan alias mainstream adalah Intel Core i5 dan Intel Core i7. Saingan level ini adalah AMD Ryzen 4000.Nah, di bawah itu tentu saja ada Intel Core i3, Intel Pentium/Celeron, maupun AMD A, FX, atau E.

Untuk RAM, mungkin bisa pakai yang 4GB, akan tetapi idealnya sih sekurang-kurangnya 8GB supaya nggak terus berasa lemot pada periode penggunaan tertentu. Sedangkan untuk Storage Drive, sebisa mungkin cari notebook yang sudah Solid State Drive (SSD) daripada hard drive, sebab kecepatannya bisa tiga kali lipat, lho.

Sekarang ke Display. Menurut LaptopMag, spesifikasi yang disarankan untuk display adalah sekurang-kurangnya bisa jalan di 1920 x 1080 atau sering dikenal dengan Full HD (FHD). Untuk yang high-end memang sih ada yang sampai 3840 x 2160 segala.

Berikutnya adalah Graphics Chip. Spesifikasi tinggi diperlukan jika laptopnya akan dipakai untuk memainkan game PC, membuat objek 3D, maupun mengedit video dengan resolusi tinggi. Akan tetapi, untuk pemakaian mahasiswa pada umumnya dapat menggunaan NVIDIA MX250 atau GTX 1650 GPUs.

Salah satu yang bikin laptop atau notebook berasa besar adalah ruang untuk port. Mau nggak mau, port ini penting apalagi buat mahasiswa karena akan sangat membantu distribusi data. Jadi, sebaiknya sih jangan beli yang nggak ada port-nya. Notebook pada ummumnya akan memiliki USB 3.0 dan HDMI out. Yang terakhir itu tentu saja buat presentasi kalau kuliah sudah offline lagi. Nah, belakangan sudah mulai banyak port yang kompatibel untuk USB Type-C sesuai dengan arah ketersediaan USB flashdisk maupun spesifikasi semakin banyak telepon genggam. Akan tetapi, kalau adanya hanya type-C doang juga berabe masih banyak perangkat yang belum support. Idealnya sih ada beberapa pilihan tentu saja.

Jangan Abaikan Baterai

Notebook besar untuk game tentu saja akan diletakkan di singgasana, sehingga akses listriknya juga tidak masalah. Nah, kalau buat notebook khusus untuk kuliah, tentu tidak seperti itu. Di kampus saya misalnya, belum semua ruangan memiliki akses colokan berlimpah. Padahal, kuliah zaman sekarang menurut saya sih lebih baik mencatat di laptop saja toh kemudian tugas-tugasnya kan paper demi paper juga.

Ada Harga, Ada Rupa

Sebenarnya, kalau urusan laptop itu rentangnya panjang sekali. Dari harga 2 jutaan juga sudah ada, sampai ke atas ada banyak sekali lapisnya. Nah, untuk setiap harga tentu ada spesifikasi yang menyertainya. Jadi, balik lagi, semakin rendah harga maka ekspektasi harus disesuaikan. Dan semakin banyak kebutuhan, berarti estimasi harga juga harus disesuaikan.

Brand Adalah Koentji

Kalau soal restoran, biasanya kita akan memilih tempat yang ramai. Sebab, ramai adalah salah satu parameter bahwa makanan yang disajikan enak. Pola pikir yang sama dapat kita terapkan pada konteks memilih laptop. Semakin laris laptop, tentunya itu pertanda bahwa banyak yang cocok. Ya cocok harga, cocok spesifikasi, dan cocok manfaat juga.

Pada awal 2019 misalnya, lembaga riset Gfk melaporkan bahwa brand laptop nomor satu di Indonesia untuk laptop consumer dikuasai oleh Asus dengan 41,8 persen. Beberapa produk andalan yang mendorong kondisi tersebut adalah laptop gaming berbasis Nvidia GTX, ZenBook, dan VivoBook.

Ngomong-ngomong soal jenis yang terakhir itu, ASUS baru saja meluncurkan notebook ASUS VivoBook S14 S433 dengan spirit Dare To Be You. Launchingnya secara digital karena lagi pandemi begini. Dan tentu saja sangat cocok untuk rupa-rupa gawean digital yang sedang melanda nyaris semua bidang pekerjaan pada hari-hari ini.

Ringkas dan Beragam Pilihan Warna

Notebook ASUS VivoBook S14 (S433) hadir dengan 4 pilihan warna yang tidak biasa yaitu Indie Black, Gaia Green, Dreamy Silver, dan Resolute Red. Nih, bisa dilihat sendiri:

Gaia Green maupun Resolute Red kalau menurut terawangan cocok untuk pemuda-pemudi yang memiliki kepribadian berwarna dan tegas. Untuk desain yang lebih elegan bisa ambil Dreamy White atau Indie Black.

Untuk menambah unsur personal, ASUS menghadirkan stiker eksklusif. Jadi, kalau nanti sudah bisa balik lagi ke kampus, maka dipastikan bakal jadi pusat perhatian karena memang beda sendiri. Hal ini pula yang menyebabkan tulisan ASUS VivoBook-nya tidak di tengah-tengah, melainkan ke pinggir. Jadi di tengah bisa dipasang stiker personal itu tadi.

Sebelumnya sudah kita bahas perihal penting tidaknya processor. Nah, VivoBook S14 (S433) memiliki Intel Core 10th Gen Processor yang tentu saja lebih gesit dan hemat daya dibandingkan pendahulunya. Pengujian performa menunjukkan bahwa dengan prosesor Intel Core i5-10210U konfigurasi 4 core dan 8 thread, vivoBook S14 (S433) berhasil meraih skor yang cukup tinggi untuk pengujian dengan Cinebench R20 dan PCMark 10.

Kita juga sudah membahas ukuran dan untuk hal tersebut VivoBook S14 (S433) menawarkan spesifikasi yang sangat menarik. Bobotnya hanya 1,4 kilogram dan tebalnya hanya 15,9 milimeter.

Saya jadi ingat waktu kondangan ke Jambi, karena balik hari, jadi memang Jakarta-Jambi hanya bawa laptop doang. Cuma laptopnya masih kerasa karena lumayan berat. Kalau saya ketika itu bawa VivoBook S14 (S433) ini berasa cuma pergi ke minimarket depan kompleks kali yha.

Oya, meskipun ukurannya sangat ringkas, tapi layarnya 14 inchi. Ada teknologi layar eksklusif NanoEdge Display yang dapat menghadirkan bezel yang sangat tipis sehingga screen-to-body ratio-nya mencapai 85 persen dan berdampak pada ukuran bodi yang lebih ramping. Layarnya juga tampak lebih lega. Model begini asyik buat review jurnal sama bikin konten di beberapa akun yang saya kelola.

Layar VivoBook S14 (S433) telah mampu mereproduksi warna pada color space sRGB hingga mencapai 100 persen sehingga sangat cocok untuk video editor maupun fotografer. Plus, layarnya juga sudut pandang yang lebarnya mencapai 178 derajat.

Mendadak saya ingat kemarin pas garap video untuk UAS, saya sampai periksa mata ke optik karena rasanya sudah sangat pusing sekali. Eh, pas dicek ternyata mata saya masih baik-baik saja. Dengan heran saya cabut dari optik, dan rupanya itu disebabkan karena saya terlalu intens ke laptop yang ada, dengan spesifikasi yang agak kurang cocok untuk kepentingan konten yang butuh ketelitian seperti video.

VivoBook S14 (S433) memiliki kinerja grafis yang kencang karena chip grafis NIVIDIA GeForce MX250. Kalau lagi suntuk baca jurnal dan ingin main esport serta kasual, bisa juga lho. Walaupun tentu saja jangan kebablasan nanti kerjaan utama nggak kelar.

Fitur-Fitur Premium

VivoBook S14 (S433) juga dilengkapi berbagai fitur premium seperti fingerprint sensor, teknologi fast charging, serta backlit keyboard. Pengguna VivoBook S14 (S433) tidak perlu lagi entri password buat masuk dalam sistem Windows 10. Belum lagi kalau lupa atau ketahuan tetangga kos padahal data-datanya banyak yang privat. Yes, fingerprint di VivoBook S14 (S433) telah terintegrasi Windows Hello pada Windows 10. Windows Hello inilah yang memudahkan pengguna untuk masuk ke dalam sistem tanpa perlu mengetik password.

VivoBook S14 (S433) juga dilengkapi dengan fitur audio premium bersertifikasi harman/kardon. Sebab, apalah artinya garap jurnal tanpa mendengarkan lagu-lagu yang memadai. Walaupun ya kalau saya jatuhnya harus mendengarkan lagu anak-anak sesuai request anak. Heuheu. Oya, audio terbaik juga sangat penting untuk pembelajaran jarak jauh, tentunya bersama dengan…

Konektivitas Terbaik

Yak betul! Koneksi. Kita bicara dua aspek perangkat ya. Kalau sinyal itu urusan sendiri-sendiri. Nah kalau di VivoBook S14 (S433) telah dilengkapi WiFi 6 (WiFi 802.11ax) yang adalah teknologi komunikai nirkabel generasi paling terkini. Ada kecepatan transfer data yang lebih tinggi sampai tiga kali lipat, kapasitas jaringan yang juga lebih banyak hingga empat kali lipat, plus latency 75 persen lebih rendah. Sangat cocok untuk PJJ, bukan?

Untuk konektivitas yang terkait port, seperti sudah kita bahas bahwa sebaiknya walaupun ringkas, laptop pilihan kita harus punya port-port yang sesuai. Nah, VivoBook S14 (S433) sendiri punya USB 3.2 (Gen 1) Type-C yang lagi kekinian di berbagai perangkat eksternal.

VivoBook S14 (S433) juga merupakan laptop yang menggunakan PCIe SSD berkapasitas 512GB dengan menggunakan SSD khusus dari Intel yang telah dilengkapi Optane Memory berkapasitas 32GB. Optane Memory ini adalah teknologi eksklusif Intel yang memberdayakan memori tambahan sebagai cache sehingga SSD mampu mengakses data yang kerap digunakan dengan lebih cepat sehingga performa secara keseluruhan lebih cepat pula.

Di atas telah dijelaskan pula tentang pentingnya performa baterai yang baik. Mau kerja di kampus atau juga kerja di rumah, baterai tetap yang krusial. Mau presentasi pas PJJ terus tiba-tiba listrik di rumah padam sementara laptopnya ketergantungan pada listrik ya bisa buyar semuanya.

Nah, VivoBook S14 (S433) mengadopsi baterai 50Whrs yang lebih besar kalau dibandingkan laptop pada kelas yang sama. Hasil pengujian dengan PCMark 10 Battery untuk mode Modern Office, VivoBook S14 (S433) dapat bertahan sampai 12 jam.

Itu kalau kebiasaan kelas online kan yang penting login. Biasanya kalau iseng cek ke room 2-3 jam sesudah kuliah kelar pasti ada saja yang masih login, yang berarti sebenarnya dari tadi dia hanya login tapi nggak ada benar-benar di kelas. Nah, kalau pakai VivoBook S14 (S433) ngeceknya bisa 10 jam kemudian. Heuheu.

Secara umum, sudah kita bahas bahwa dari sederet hal-hal yang harus diperhatikan dalam memilih laptop, rupanya VivoBook S14 (S433) sangat relevan dalam berbagai parameter, plus punya tampilan dan gaya yang oke punya juga. Walhasil, VivoBook S14 (S433) menjadi laptop modern yang sangat pas untuk aktivitas sehari-hari terutama untuk menghadapi perkuliahan jarak jauh yang kemungkinan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

Secara lebih lengkap, berikut spesifikasi VivoBookS14 (S433) sebagaimana sudah kita bahas:

Operating SystemWindows 10 Home
ProcessorIntel® Core™ i7-10510U processor
1.8GHz quad-core with Turbo Boost (up to 4.9GHz) and 8MB cache
Intel® Core™ i5-10210U processor
1.6GHz quad-core with Turbo Boost (up to 4.2GHz) and 6MB cache
GraphicsNVIDIA® GeForce® MX250
Video memory size: 2GB GDDR5 VRAM
Display14” LED-backlit IPS Panel HD (1920 x 1080) 16:9
Frameless NanoEdge display with 85% screen-to-body ratio
178° wide-view technology
Memory8GB 2666MHz DDR4
Storage512GB PCIe SSD
Intel® Optane™ Memory H10 with Solid State Storage

(32GB Optane™ + 512GB SSD)
Interfaces1 x USB 3.2 Gen 1 Type-C™
1 x USB 3.2 Gen 1 Type-A
2 x USB 2.0
1 x HDMI
1 x Audio combo jack
1 x MicroSD card reader
1 x DC-in
Keyboard and TouchpadKeyboard
Full-size backlit, with 1.4mm key travel
Touchpad
Intelligent palm-rejection;
Precision touchpad (PTP) technology supports up to four-finger smart gestures
AudioASUS SonicMaster stereo audio system with surround-sound; smart amplifier for maximum audio performance
Array microphone with Cortana voice-recognition support
3.5mm headphone jack
Certified by Harman Kardon
CameraHD Camera
Wireless ConnectivityWi-Fi
Intel Wi-Fi 6 with Gig+ performance (802.11ax)
Bluetooth®
Bluetooth V5.0
Battery and PowerFast charging: 60% in 49 minutes
50Wh 3-cells lithium-polymer battery
65W power adapter
Plug Type: ø4 (mm)
(Output: 19V DC, 3.42A, 65W)
(Input: 100-240V AC, 50/60Hz universal)
Weight and DimensionsHeight:
1.59cm (0.62 inches)
Width:
32.49cm (12.79 inches)
Depth:
21.35cm (8.40 inches)
Weight:
1.4kg (3.08 pounds)
Included in the BoxVivoBook S14
Included SoftwareASUS Splendid
ASUS Tru2life Video
ASUS AudioWizard

Jadi, bagaimana, langsung ganti laptop?

* * *

Pengen punya laptop ini? Bisa lho mengikuti lomba blog yang diselenggarakan oleh ASUS bekerjasama dengan keluargabiru.com. Informasi lebih lanjut bisa cek flyer di bawah ini:

Satu Cerita Tentang Juara Tiga

Saya jarang menulis tentang kisah di balik tulisan-tulisan yang menjadi juara di berbagai perlombaan. Sebabnya satu: saya jarang juara. Heuheu. Bisa dilihat di sisi kanan blog ini, bahwa saya itu jadi juara lomba menulis dapat dihitung pakai jari sebelah tangan doang. Saking jarangnya.

Nah, mungkin khusus yang ini agak berbeda. Sebab, kalau yang dua sebelumnya adalah lomba blog, maka hari ini saya dapat rejeki di sebuah perlombaan Karya Tulis Ilmiah. Cuk, tulisan saya model di Mojok begitu, ternyata saya bisa juga ya nulis (((ILMIAH))).

Dikisahkan dari awal saja ya. Saya dikasih tahu lomba karya tulis ilmiah ini oleh dua orang teman. Satu, teman kantor sendiri. Senior, ding. Kedua, teman kampus yang kebetulan pegawai di instansi penyelenggara lomba. Sang teman ini yang cuilan kisahnya saya tulis di salah satu post blog ini, dan gara-gara itu, katanya… dia jadi enggan nulis curcol di blog lagi. Ew~

Intinya sih tenggatnya tanggal 5 Juni. Dengan format penulisan karya ilmiah (pendahuluan, teori, framework, pembahasan, dan kesimpulan). Minimal 1.250 kata. Rasanya itu saja.

Masalahnya adalah periode akhir Mei sampai 12 Juni adalah periode Ujian Akhir Semester. Dan ini era pandemi. Jadilah UAS-nya pasti berupa tugas dan tentu tidak sesederhana menjawab soal di lembar jawab dengan tulisan tangan.

Tugasnya rupa-rupa. Ada yang bikin critical note, review paper, sampai video segala. Mantap pokoknya. Mana saya sambil ngasuh anak di rumah pula. Nggak heran kalau anak saya jadinya ya anak asuh Daddy Pig dan hanya memanggil bapaknya kalau di YouTube ada iklan. Oya, iklan sedikit, ini salah satu tugas saya.

Lebih ciamik lagi adalah tanggal 5 itu tenggat UAS Statistik yang bahkan belum saya kerjakan pada tanggal 3, sebab saya fokus mengerjakan proposal tesis yang merupakan UAS Metodologi Penelitian dengan tenggat tanggal 3.

Pada akhirnya sih saya hanya bilang, “kalau sempat ya ikut…”

Posisinya waktu itu tanggal 5 sore hari ketika sang dosen secara baik hati melakukan pengunduran jadwal pengumpulan UAS! Ketika itu, saya belum kelar menggarap ujian bertenggat sama persis dengan lomba. Pengunduran itu kemudian memberikan potensi saya untuk ikut lomba lagi. Toh, masih ada 8 jam sebelum deadline.

BIKIN KARYA TULIS ILMIAH DELAPAN JAM ITU APAAN?

Untuk lebih memperjelas, bahkan saya sebenarnya mulai benar-benar menulis itu jam 8 malam. Heuheu.

Lantas apa rahasianya?

Sederhana saja, saya yakin kalau “hanya” menulis 1.250 kata itu saya bisa kelar dalam 1-2 jam. Saya sudah mencoba mencari topik yang relevan dengan tema, tapi kurang sreg secara mutu. Bukan apa-apa, dengan segala kegagalan yang pernah saya alami, tentunya saya menetapkan standar tertentu kalau mau ikut-ikut lomba. Saya biasa gagal, tapi saya nggak biasa berkarya sembarangan.

Pada akhirnya saya mengingat review paper pertama yang saya buat ketika kuliah S2. Di paper itu saya menguliti konsep “Trusted Advisor” begitu dalam dengan berbagai jurnal terkini. Tulisan itu dapat nilai A- dari Pak Dosen. Dan dengan posisi tenggat mepet begini, kok ya eman ada tulisan 5000 kata yang menurut saya nggak jelek-jelek amat dan nilainya menurut Pak Dosen juga oke, tapi tidak saya pakai.

Maka, terjadilah…

Tulisan saya kemudian berangkat dari konsep “Trusted Advisor” itu untuk membedah tentang “Agile Auditor”. Saya tahu bahwa Agile Auditor ini topik agak baru dan sebenarnya cukup banyak diriset juga. Tapi daripada repot, tentu saya pakai beberapa teori saja.

Kebetulan lagi, karena proposal tesis saya adalah tentang Government 2.0, saya follow akun media sosial Ibu Ines Mergel. Kok ya ndilalah di bulan Mei itu dia mengeluarkan sebuah tulisan yang betul-betul membahas konsep AGILE.

Maka, saya sambungkan dan kebetulan sekali cocok. Itu posisi jam 21.00 kurang lebih. Masih ada 3 jam sebelum tenggat.

Bagaimanapun salah satu keunggulan saya adalah bisa menulis cepat–apalagi kalau kepepet. Keunggulan itu yang dulu bikin saya suka ditelepon redaktur jam 8 malam untuk bisa mengirim tulisan tengah malam sehingga bisa terbit keesokan harinya. Hari ini, redaksi media itu menerima ratusan tulisan setiap harinya sehingga nggak perlu lagi orang-orang seperti saya. Walaupun, ya, saya tetap ngirim ke situ tentu saja. Lha, butuh je.

Ditambah 30 menit menggambar konsepnya di draw.io maka tulisan itu jadi pukul 23 lewat. Sesudah cek demi cek lagi, maka karya itu saya kirimkan beberapa menit sebelum tenggat berakhir.

Dan ya sudah. Selesai di situ.

Hingga kemudian hari tibalah hari Kamis sore, 11 Juni 2020. Itu posisinya adalah saya tengah mempersiapkan perayaan HUT Baginda Isto yang ke-3 keesokan harinya. Saya dikontak sama panitia lomba yang mengabarkan bahwa tulisan saya masuk 6 Besar. Okebaik.

Nah, dari 6 besar itu harus menyiapkan paparan untuk dipresentasikan ke dewan juri.

EH EH EH. SIK SIK SIK. Seingat saya nggak ada kriteria presentasi di flyer lombanya. Tapi kalau ada presentasi begini, kan… saya jadi deg-degan.

Tapi baiklah, dijalani saja. Saya mungkin orang paling culun di deretan 6 besar itu. Setidaknya dua nama adalah lulusan luar negeri, salah satunya bahkan S2 dan S3. Satunya lagi, gelar Certified-nya panjang sekali. Ada pula Widyaiswara yang tentu saja mengajari saya pas Diklat JabFung.

Lha, saya? Nulis di Mojok saja jarang-jarang masuk tulisan terpopuler.

Gara-gara presentasi ini tentu pengaturan berubah. Alih-alih menyiapkan party, saya malah bikin presentasy. Jam 1 pagi, saya kirim slidenya ke panitia. Soalnya disuruh kirim sebelum jam 8. Saya bukan mau pamer kesiapan ke panitia. Masalahnya, biasanya saya bangun jam 9 pagi~

Demikianlah akhirnya sampai ke presentasi. Ketika kontestan lain latarnya adalah meja kerja, aula kantor, maka latar belakang video saya adalah…

…BALON ULTAH KRISTO, yang sudah kadung terpasang.

Ketika tiba-tiba ada agenda seperti ini, pada akhirnya saya menganggap bahwa ini mungkin rejeki si Isto. Toh, setidaknya saya sudah jadi juara harapan 3 kan. Juara 6 dari 90-an peserta itu sudah wow sekali rasanya.

Sore tadi, saya ketiduran. Saya terlambat nonton live YouTube pengumumannya. Tapi ada teman LPDP yang DM dan bilang bahwa saya juara 3. Karena saya kadang-kadang adalah Thomas alias Didimus, maka saya nggak berbahagia dan nggak percaya kalau nggak melihat. Apa daya, hidup saya 6 tahun terakhir kan dipaksa skeptis.

Maka, saya pencet mundur live YT yang sedang berjalan. Nemu pertama malah Bapaknya Dirham. Pencet maju, nggak nemu. Mundur lagi nggak nemu. Ternyata lombanya banyak, gaes.

Pada akhirnya tentu saja ketemu dan ya benarlah bahwa saya dapat juara 3. Saya tiada bisa berkata-kata lagi sebab rasanya itu sudah paling mentok. Dan ini adalah pertama kalinya tulisan saya dalam format ilmiah dapat penghargaan di lomba tingkat nasional.

Sekali lagi, saya mengisahkan riwayat di balik tulisan bukan bermaksud apa-apa selain wujud rasa syukur. Waktu menang Lomba Blog BPK itu saja saya sudah merasa kayaknya itu bakal menjadi prestasi saya paling tinggi seumur hidup soalnya~

Cara Termudah Baca Meter Mandiri PLN Pascabayar

Sejak April saya itu deg-degan. Bukan apa-apa, pemakaian listrik saya dan bayaran bulanannya ada selisih. Kalau orang lain marah-marah karena kemahalan, saya justru karena kemurahan. Saya deg-degan karena pada akhirnya kelak saya akan membayar sangat mahal ketika tagihan aslinya terpenuhi. Faktornya tentu saja karena COVID-19, petugas PLN tidak ada yang ke rumah-rumah buat baca meteran.

Kalau di rumah sendiri kemurahan, maka hal kebalikan saya rasakan ketika membuka tagihan listrik rumah orangtua. Lha piye, mosok rumah kosong (ditinggal tengok cucu) tapi bayarannya sebulan 200 ribu? Ya, jadi begitulah. Pandemi ini bikin kocar kacir.

Karena saya nggak siap suatu saat bakal bayar listrik 2 juta sebulan (biasanya 400-600 ribu) karena beberapa bulan ini tagihan listrik di bawah 400 ribu padahal saya di rumah dan berarti AC kan nyala maksimal terus menerus sehingga standarnya ya 500-an ke atas lah, maka saya mencari cara lapor ke PLN dan kok ya ketemu.

Singkat kata laporannya adalah lewat nomor WhatsApp 08122 123 123. Nomor WA-nya nggak kalah cantik daripada nomor saya yang 123 juga belakangnya. Saya kemudian WA “Halo”. Dan dasar akun bisnis, dia nggak pakai centang biru. Tapi memang langsung dibalas, sih.

Pada intinya kita akan mendapati pesan berikut ini:

SYARAT & KETENTUAN BACA METER MANDIRI OLEH PELANGGAN

PLN mulai bulan Mei 2020, kembali melaksanakan pembacaan meter secara langsung ke rumah pelanggan pascabayar. Petugas PLN dalam melakukan pembacaan meter ke rumah pelanggan, menggunakan standar APD dengan tetap memperhatikan Pedoman Pencegahan Penyebaran COVID-19 @kemenkes_ri

PLN juga tetap menyiapkan layanan baca meter mandiri melalui aplikasi WhatsApp Messenger PLN 123 dengan nomor 08122 123 123.

Baca meter mandiri bisa dilakukan oleh pelanggan mulai tanggal 24 s.d. 27 setiap bulannya.

Pelaporan baca meter mandiri oleh pelanggan yang valid, yaitu pengiriman foto angka stand meter akan dijadikan prioritas utama dasar perhitungan rekening listrik.

Jika pelanggan tidak dapat mengirimkan angka stand & foto pada tanggal baca mandiri yang disediakan bagi pelanggan pada tanggal 24 s.d. 27, maka angka stand yg akan digunakan adalah hasil dari baca petugas PLN.

Jika pelanggan tidak dapat mengirimkan foto angka stand meter ataupun lokasi kWh meter tidak dapat didatangi oleh petugas PLN, maka pemakaian listrik akan diperhitungkan rata-rata 3 bulan terakhir.

Apabila Pengiriman angka stand & foto kWh meter oleh pelanggan diluar dari tanggal yang telah ditetapkan, yaitu tanggal 24 s.d. 27, maka tidak akan dijadikan angka dalam perhitungan tagihan listrik.

Selanjutnya, setiap 3 (tiga) bulan PLN akan melakukan pencocokan angka stand kWh meter khusus hasil kiriman pelanggan dengan angka faktual hasil pembacaan petugas PLN, dan akan dilakukan penyesuaian pada perhitungan tagihan listrik. Untuk itu dimohon pelanggan mengirimkan angka & foto stand sesuai dengan yang tertera di kWh meter sehingga diharapkan tidak terjadi penyesuaian tagihan naik atau turun secara berlebihan.

Hubungi layanan Contact Center PLN 123 untuk menyampaikan pertanyaan, informasi atau keluhan atas layanan kami. Terimakasih atas kesediaan pelanggan telah membaca syarat & ketentuan ini.

Kemudian berikutnya kita masukkan angka pembacaan meteran serta lantas mengirimkan fotonya. Kira-kira demikian saja yang harus dilakukan. Nah, tinggal kita cek nanti tanggal 1 tagihannya keluar berapa. Tinggal saya yang deg-degan ini bayar listrik sejutaan kan itu BERARTI SEPERTIGA GAJI SAYA BUAT BAYAR LISTRIK DOANG. ASEM.

5 Ikhtiar Wajib Menghindari Coronavirus

Sejak awal 2020, seluruh dunia gonjang-ganjing karena infeksi novel coronavirus, yang di kemudian hari dikenali sebagai SARS-CoV-2 atau penyakitnya COVID-19. Gonjang-ganjing yang wajar sebab angka kematiannya lumayan tinggi, kurang lebih sama dengan spanish flu yang terjadi lebih dari 100 tahun lalu.

Angka kematian yang lumayan tinggi itu juga kemudian terkait dengan penularan yang terbilang mudah. Segitunya ya masih untung bahwa SARS-CoV-2 ini tidak airbone alias tertular via udara. Kalau airbone, wah, sudah kayak Thanos dia.

Mudahnya adalah karena lewat droplet. Sementara kita tahu bahwa aktivitas kita sehari-hari sangat identik dengan droplet. Orang batuk sembarangan, lalu nyiprat ke dinding, dindingnya dipegang orang lain, orang lain salaman sama bapaknya, bapaknya hidungnya gatal, masuk deh droplet ke tubuh si bapak dan ketika SARS-CoV-2 merasa bahwa si bapak adalah inang yang cocok dan kebetulan tidak ada sel B atau sel T yang melawan maka invasi mereka sukses.

Lantas apa yang harus kita lakukan?

Sekali lagi, ini virus baru. Segala pengetahuan masih terbatas meski dalam 5 bulan ini perkembangan jurnal-jurnal tentang COVID-19 begitu masif dan seluruhnya gratis pula. Untuk itu, yang kita perlukan adalah sebaik-baiknya ikhtiar.

Cuci Tangan

Tampak sepele, tapi saya sudah buktikan bahwa selama 2 bulan ini saya nggak pilek-pilek gimana gitu dengan kerajinan saya mencuci tangan. Faktanya, tangan adalah penghantar terbaik dari droplet yang mengandung SARS-CoV-2 menuju saluran pernapasan kita. Nggak sadar kita pegang pintu, pegang gantungan MRT, pegang jok motor, dll tenyata ada banyak hal yang bisa diantarkan oleh tangan kita.

Wash Hands Hand GIF by jjjjjohn - Find & Share on GIPHY

Jadi, kalau seolah-olah dibilang bahwa ini penyakit gawat tapi kok pencegahannya sereceh cuci tangan, alasannya ya demikian. Soal ini, jurnalnya sudah banyak. Lagipula, di pabrik obat–sebagaimana saya dulu orang pabrik–cuci tangan adalah hal yang sangat biasa dan diatur dalam standar.

Segera Mandi Sesudah Dari Luar

Kalau kita ke pasar atau habis berdempetan di KRL, boleh jadi ada virus yang menempel di baju kita. Nah, ikhtiar yang satu ini menjadi sangat penting untuk mencegah virus yang kalaulah memang nempel itu supaya tidak masuk ke rumah kita.

nickelodeon, spongebob squarepants, bath, relaxing, squidward ...

Hal ini mungkin akan menjadi new normal, bahwa di bagian depan rumah akan ada lapak ganti baju. Atau salah-salah malah kamar mandi pindah ke depan rumah supaya begitu sampai rumah, penghuni bisa langsung mandi dan nggak leha-leha dulu dengan alasan capek. Heuheu.

Disinfeksi Setiap Barang Dari Luar

Sering terima paket dari luar? Dulu saya juga biasa saja. Nah karena lagi ada COVID-19 ini, saya jadi menyiapkan semprotan disinfektan sederhana di luar untuk semprot-semprot dulu plus melepas kemasan terluar di luar saja, sehingga kalaupun ada virus tidak terbawa masuk ke rumah.

Konsumsi Vitamin dan Imunomodulator

Seperti saya cerita tadi, kalaupun ada virus masuk, maka kita butuh tentara untuk melawannya. Kalau tentara kita santuy, maka serangan akan bablas sampai ke istana negara dan pada posisi itu kita kemudian akan sampai pada tingkat keparahan yang lumayan.

TED-Ed - Gifs worth sharing — Meet Team Vitamin!

Untuk itu, kita harus menjaga tubuh dengan konsumsi vitamin dan imunomodulator yang tepat. Tepat lho ya. Jangan kebanyakan. Khusus yang berkaitan dengan sistem imun, jangan sampai kebablasan juga. Salah-salah tentaranya kebanyakan jadi dia malah memakan sesama rakyat alias sel-sel baik. Kondisi ini yang kita kenal dengan penyakit autoimun.

Optimalkan Teknologi

Kampanye di rumah saja sesungguhnya adalah bentuk ikhtiar kita. Kalau memang bisa nggak keluar, ya jangan keluar. Kalau mau beli-beli, kan sekarang bisa nitip beli pakai online. Dan ketika diserahterimakan, kita perlakukan dengan protokol yang tepat seperti lepas kemasan terluar di luar dan disemprot disinfektan.

Lha sekarang kan apa-apa bisa online. Beda dengan zaman 100 tahun yang lalu. Dengan teknologi itu plus perkembangan kesehatan, seharusnya ya tidak akan separah flu Spanyol. Sayangnya, ya itu dia, banyak orang yang tidak peduli dan jadinya kurang ikhtiar. Padahal ikhtiarnya kan simpel-simpel semua.

Salah satu bentuk pengoptimalan teknologi adalah dengan aplikasi Halodoc. Di masa pandemi ini, saya pakai Halodoc untuk membeli vitamin dan imunomodulator. Paling kerasa waktu vitamin sempat langka di bulan Maret. Saya kayak orang putus asa datang dari apotek ke apotek, nyari vitamin dan nggak ada.

Kemudian saya ingat bahwa dulu waktu Isto masih kecil sekali, ada salah satu vitamin yang pasti saya dan Mamanya beli via Halodoc, sebab nggak selalu ada di semua tempat. Dengan teknologi Halodoc, maka saya nggak perlu repot-repot nyari vitamin yang nggak umum itu di berbagai apotek. Tinggal order via Halodoc, obatnya langsung diantar, dengan tingkat keamanan yang oke pula. Terutama bungkusnya yang khas.

Satu lagi, sebagai apoteker, saya melihat bahwa Halodoc punya kontrol sendiri pada barang-barang yang bisa dibeli dengan pesan antar atau tidak. Bagaimanapun, ada regulasi yang harus dipatuhi dan sejauh saya pakai, Halodoc terbilang oke punya. Jadi, sayanya juga nggak takut melanggar suatu aturan apapun.

Demikianlah yang bisa kita lakukan itu sebatas ikhtiar. Namanya kita kan manusia biasa. Percaya dan ikhtiar adalah hal yang relevan dengan kondisi kita dalam menghadapi si coronavirus ini. Semoga pandemi cepat berakhir, yha. Saya kangen main ke mal~

Pedoman The New Normal dari WHO di Tengah Pandemi Corona
Sumber: Halodoc

Tentang Weton Anggota Kabinet Indonesia Maju

Sudah baca olahan data saya yang jilid 1? Kalau belum, ya tolong baca dulu. Saya ngolahnya setengah mati, viewernya sedikit. Kasihan. Nah, khusus di postingan ini, saya mau memaparkan beberapa fakta lain kali ini khusus weton khas penanggalan Jawa. Itu lho, Jumat Kliwon, Minggu Pon, Kamis Pahing, dan lain-lain.

Mari disimuck~

Trio Senin Pon

Dalam deretan anggota kabinet, ternyata ada 3 orang yang sama-sama Senin Pon. Mereka adalah Menko PolhukHAM Mahfud MD, Menkominfo Johny G. Plate, serta Menristek/BRIN Bambang Brodjonegoro. Uniknya, mereka lahir di tanggal, bulan, dan tahun yang sama-sama berbeda. Sudah saya tulis di versi sebelumnya bahwa memang nggak ada tanggal lahir yang sama persis.

Trio Sabtu Wage

Masih non hari kerja dan juga ada 3 nama. Kali ini Sabtu Wage. Ada tiga orang yaitu Menag Fachrul Razi, Menteri LHK Siti Nurbaya, serta Kepala BKPM Bahlil Lahadalia. Ini juga tahunnya lompat-lompat sekali. Menag kita tahu adalah yang paling sepuh, sementara Kepala BKPM adalah salah satu dari lima besar termuda.

6 Jurus Bahlil Lahadalia Gaet Investor - Ekonomi Bisnis.com
Sumber: Bisnis.com

Trio Minggu Kliwon

Masih trio dan masih hari libur. Keren ya pemilihan menteri-menterinya, belum apa-apa sudah ada 6 orang yang lahir pada hari Minggu. Kali ini Minggu Kliwon, ada 3 orang yaitu Menko PMK Muhadjir Effendy, MenPAN-RB Tjahjo Kumolo, serta Menpora Zainudin Amali.

Jangan mudik jangan mudik dulu~~

Seperti Pendahulunya, Zainudin Amali Juga Menpora yang Minim Latar ...
Sumber: Liputan6.com

Ternyata Ada 8 Orang Lahir di Hari Minggu!

Ya, selain nama-nama tadi, masih ada Menkeu Sri Mulyani, Menteri KKP Edhy Prabowo, Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, serta Menteri PPPA I Gusti Ayu Bintang Darmawati.

Ada 3 Yang Lahir Hari Jumat

Kalau Minggu-nya ada 8, maka Jumat-nya hanya ada 3. Mereka adalah Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri ESDM Arifin Tasrif, dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Tidak Ada Yang Jumat Kliwon

Ya, dari 3 nama yang lahir di hari Jumat, wetonnya adalah Legi, Wage, dan Pon (dibaca sesuai urutan nama di atas yha). Jadi tidak ada yang Kliwon.

Kabinet Wage

Ada 10 nama lahir sebagai Wage. Angka itu lebih 1 dari Pon yang 9 nama, serta meninggalkan Legi dan Pahing yang angkanya 6. Selain yang sudah disebut tadi, masih ada nama Agus Suparmanto (Kamis Wage), Syahrul Yasin Limpo (Rabu Wage), Wishnutama (Selasa Wage), Moeldoko (Senin Wage), dan tentu saja Menteri Kesehatan kesayangan kita semua yang lahir Rabu Wage: Dokter Terawan Agus Putranto.

Menkes Terawan Tegaskan Bali Aman dari Corona
Sumber: Riau Pos

Bahaya Laten Keringanan Cicilan Kartu Kredit di Masa Pandemi

Salah satu bentuk penyesuaian dari penyedia kartu kredit telah dilakukan. Per bulan lalu, saya dapat informasi bahwa ada pengurangan pembayaran minimal. Angka yang dulunya sudah rendah, jadi semakin rendah. Hal ini paralel dengan penyesuaian bunga per bulannya juga jadi sedikit lebih rendah.

Tentu, pasalnya adalah kemampuan bayar berkurang. Kita tahu, pandemi bikin ekonomi ambyar kayak menghadiri nikahan mantan. Boleh jadi, bank hanya berpikir bahwa yang penting ada uang yang masuk.

Sumber: Fox Business

Akan tetapi, bagi orang-orang yang punya hutang di kartu kredit, TERLEBIH YANG PUNYA KEBIASAAN BAYAR MINIMAL, harus waspada. Soalnya, dampaknya tentu sangat besar.

Sebagai gambaran, jika kita utang 10 juta, maka dulu bayar minimalnya 10% alias sejuta. Sekarang di 2 penyedia CC yang saya langgan, turun jadi 5%. Artinya, ibarat kata kita beli laptop 10 juta gesek doang maka di bulan depannya cukup bayar 500 ribu saja dan kita bebas dari telepon debt collector.

Kebiasaan bayar minimal itu dapat menyebabkan ada pikiran bahwa “ada sisa uang”. Jadi misalnya tadi bayar 1 juta, terus kemudian jadi hanya bayar 500 ribu, maka perasaannya boleh jadi adalah “Wah, ada sisa 500 ribu nih”.

Perasaan itu tentu sangat berba-hay-hay. Sebab, yang 500 ribu itu masihlah merupakan utang. Hanya ditunda saja–dan tentu saja jika tidak dibayar maka menjadi korban bunga yang akan terus terakumulasi dari bulan ke bulan.

Tulisan ini sekali lagi diutamakan bagi yang punya kebiasaan bayar minimal, yha. Sebab, saya sendiri dulu sempat begitu sebelum kemudian baru normal akhir tahun lalu. Bagaimanapun, CC ini sebaiknya harus dibayar tuntas pada bulan berikutnya. Kalau memang cicilan ya dibayar sesuai jumlah cicilannya.

Saya sendiri tidak menutup CC karena finansial saya belum cukup mantap. Kayak pas mudik kemarin, sekali beli tiket bertiga 10 juta. Sementara, uang belum ada segitu. Ada, sih, tapi peruntukannya lain. Jadi, CC dapat menjadi alat untuk penunda tagihan. Dan memang harus bisa dikelola dengan sangat bijak agar tidak terjebak ke hutang yang nggak-nggak.

Nanti kapan-kapan saya cerita, deh, soal jerat utang CC akibat bayar minimal terus. Asli, ora enak. Heuheu.

Kondangan Deg-Degan ke Jambi

Pada bulan Oktober, bos saya ketika itu menggelar kondangan pernikahan anak pertamanya di homebase-nya. Iya, sebagai orang Jambi, tentu saja pernikahannya digelar di Jambi. Mosok di Oregon?

Posisi saat itu, saya sudah lepas dari jabatan. Walhasil, tentu tidak dimungkinkan untuk mendapat biaya-biaya apapun dari kantor. Jadilah, saya berangkat dan pulang pakai uang sendiri. Kebetulan masih ada.

Soal itu sih nggak masalah. Yang masalah dan sangat bikin deg-degan, adalah satu problematika lagi.

ASAP.

Sejak pindah dari Palembang tahun 2011 sesungguhnya saya sudah kurang akrab sama asap. Ada sih kena asap sesekali ketika pergi dinas ke kota-kota yang familiar dengan asap. Tapi overall sudah lupa sama asap.

Nah, kondangan Pak Bos ini juga bertepatan dengan kabut asap yang lagi pekat-pekatnya. Saya sendiri membeli tiket balil hari. Pergi pagi-pagi sekali, kemudian pulang ya jam 4-an gitu. Untuk penerbangan lintas pulau, saya berasa pergi ke Bekasi karena hanya bawa 1 tas dan itupun isinya laptop (untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah di waktu-waktu luang yang ada).

Karena penerbangan pagi, belum ada halangan berarti meskipun kabutnya sudah jelas. Tapi masih bisa landing. Okesip.

Begitu sampai Jambi-nya. Wew. Lihat saja gambar-gambar berikut ini:

Ini adalah sesuatu yang pernah saya alami bertahun-tahun silam ketika masih di Bukittinggi atau di Palembang. Tentu tidak akan terjadi ketika saya ngekos nggak jauh dari istana negara. Memang begitu, yang jauh-jauh dari pusat kekuasaan itu agak kasihan. Ini adalah contohnya.

Kondangannya sendiri berlangsung baik-baik saja. Ketika sudah mulai cabut, saya mampir sejenak di sebuah warung kopi sembari menunggu waktu yang pas untuk ke bandara.

Ketika tiba waktunya, saya mendapati bahwa bandara Sultan Thaha ramai sekali. Cek flightradar24, eh, ternyata sudah ada beberapa penerbangan yang divert ke Palembang. Bandara sini ditutup karena jarak pandang.

Bayangkan posisinya saya sudahlah nggak punya uang, nggak punya baju pula. Sudah kebayang kalau mau menginap bagaimana ini caranya~

Well, pada akhirnya sih jarak pandang kembali terbuka. Meski memang sangat minimal tapi masih sesuatu standar sehingga setidaknya bisa terbang. Saya kemudian naik pesawat dengan deg-degan dan begitu pesawat menembus awan akhirnya agak legaan.

Btw, ini adalah penerbangan balik hari saya yang kedua. Pertama kali itu tahun 2008, ke bandara cuma minta tanda tangan dosen pembimbing 2. Saya dari Jogja ke Jakarta, bawa 8 skripsi untuk ditanda tangan. Kebetulan bapaknya mau dipaksa ke bandara. HAHAHAHAHA.

Menjadi Saksi Laga-Laga Terakhir Tontowi Ahmad

Daihatsu Indonesia Masters Super 500 bulan Januari silam sungguh menjadi momen menarik di dunia perbulutangkisan Indonesia. Ya, siapa sangka bahwa turnamen itu menjadi salah satu yang terakhir sebelum kemudian badminton mandek sejak All England gara-gara coronavirus.

Lebih bikin nyes lagi karena ternyata turnamen itu adalah laga-laga terakhir seorang legenda bulutangkis Indonesia, Tontowi Ahmad. Tepat 18 Mei 2020, Owi–sapaan akrabnya–mengumumkan pensiun.

Gelaran DIM ini menjadi unik karena sebenarnya Owi hanya pemain daftar tunggu, bersama dengan tandem barunya Apriyani Rahayu–rising star ganda putri Indonesia. Bahkan hingga saya sampai di Istora, saya sebagai penonton babak kualifikasi hari pertama tidak menyadari bahwa ada yang berbeda dengan daftar laga-laga dibandingkan sehari sebelumnya.

Yes, ketika laga sudah kesekian pas saya tahu bahwa kurang lebih pukul 1 akan berlaga duet Owi/Apri melawan pasangan Thailand Supak Jomkoh/Supissara Paewsampran. Tidak semua penonton tahu. Hanya penonton yang ngupdate Tournament Software yang ngeh dan kemudian memposisikan diri di lapangan 2, tempat laga itu akan dilangsungkan.

Mau berlaga di babak kualifikasi sekalipun, Owi tetaplah Owi. Apalagi partnernya adalah Apri, salah satu kesayangan BL. Jadi wajar kalau sambutan untuk mereka hanya bisa disandingi oleh Lee Yong-Dae yang juga berlaga di babak kualifikasi itu.

Owi/Apri tampil prima. Kemenangan dua set langsung berhasil dibukukan dengan 21-16 dan 21-17. Mereka kemudian masuk ke babak utama dan akan berhadapan dengan XD Korea yang termasuk unggulan, Seo Seung-Jae/Chae Yu-Jung.

Besoknya saya datang lagi. Saya juga datang ngepasin jadwalnya Owi/Apri. Eh, sesudah nunggu lama, pertandingan justru berakhir cepat sekali. Pemain Korea ada yang cedera, sepertinya Chae. Sebuah bola out akhirnya mengakhiri laga dengan sangat cepat. Owi/Apri bablas sampai perempat final.

Lawannya kali ini tentu saja lebih berat. Duo pasutri, XD nomor 2 Inggris, Chris dan Gaby Adcock. Pasangan yang baru main 2 hari dilawan dengan pasangan sampai ke ranjang. Owi/Apri baru terlihat keteteran mulai pertengahan laga ke belakang.

Di laga itu, ada istri Owi berserta buah hati mereka. Lokasinya tentu saja di lapak pemain dan keluarga. Kebetulan saya masuk dari pintu yang itu jadi melihat betul bagaimana Owi begitu masuk langsung dadah-dadah sama anak-istri. Anaknya–dengan baby sitter masing-masing–lucu-lucu, gaes.

Pada akhirnya, Owi/Apri kalah 2 set langsung. Penampilan mereka sejauh itu jelas tidak buruk. Mereka punya kelas masing-masing. Banyak BL kemudian berharap banyak pada kelangsungan duet ini.

Apa daya, harapan itu musnah. Owi sudah pensiun sekarang. Siapa yang sangka smash nyangkut terakhir di Court 1 itu menjadi bola terakhir yang dipukul sang legenda di Istora?

Ah, untunglah saya sempat menjadi saksi dari jejak langkah terakhir sang legenda~