All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

Bulan Tanpa Posting

Dari dulu, blog ini selalu ada 1 posting minimal sebulannya. Dan ini baru sadar sudah 31 Agustus 2022 tapi belum ada post. Saya sungguh mikir-mikir untuk mempertahankan blog pakai dot com begini ketika mengisinya saja sudah tidak sempat. Dulu dia bisa menghidupi diri sendiri, sekarang sudah tidak. Ya bagaimana orang tertarik pasang konten berbayar kalau diisi saja tidak~

Jadi ya sudah, ini post memang sengaja dibuat biar sekurang-kurangnya ada konten di bulan Agustus 2022. Semoga sih ke depan nggak seperti bulan ini. Heuheu.

CU Hati Kudus dan Jasa Besarnya dalam Transformasi Kehidupan

Kalau para pembaca berada di Kota Bukittinggi, cobalah mampir sejenak ke Jalan Bagindo Azischan. Lokasinya persis di belakang Gereja Katolik Santo Petrus Claver yang letaknya di Jalan Sudirman. Jalan Bagindo Azischan dapat diakses dari Hotel Karisma atau juga Swalayan Masyitah.

Di lokasi tersebut, persis di sebelah gerbang masuk kompleks Yayasan Prayoga yang berisi 4 sekolah dari 4 tingkat pendidikan, terdapat sebuah tempat bernama HK Mart. Sekilas terlihat seperti swalayan biasa saja. Akan tetapi, berbicara soal HK maka ada sejarah yang sangat panjang di baliknya.

Pertama-tama, kita harus kembali ke tahun 1981 alias lebih dari 40 tahun yang lalu. Di bulan November, Pastor Yohanes Halim bersua dengan Bapak Trisna Ansarli dari Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I) dan memperkenalkan tentang Credit Union (CU). Sebulan kemudian, Pastor Yohanes Halim menyampaikan ide tentang CU kepada umat di Paroki Santo Petrus Claver Bukittinggi. Ide koperasi yang diusung oleh konsep CU tampak cukup menarik bagi umat yang kemudian ditindaklanjuti dengan kursus dasar dan studi banding ke beberapa CU yang sudah ada di Sumatera Utara.

Mengacu pada skripsi senior-jauh-banget saya di Universitas Sanata Dharma, Kak Elysabeth Desmawati, dijelaskan bahwa sekembalinya dari studi banding, tepatnya tanggal 2 April 1982 diadakanlah pemilihan pengurus CU di Bukittinggi. Terpilih Bapak N. Mariyo sebagai Ketua Dewan Pimpinan dan salah satunya adalah Bapak M. Sumarno, BA. sebagai anggota. Bapak Mariyo adalah bapaknya Kak Desmawati dan Bapak Sumarno adalah bapak saya~

Pada tahun 1982 tersebut terbentuknya CU yang diberi nama Hati Kudus. Nyambung kan dengan ‘HK’ yang tadi disebut di awal tulisan ini?

Demikianlah kemudian CU Hati Kudus dibentuk dengan modal awal Rp350.000,00 dari 51 orang anggota dengan uang pangkal Rp200, uang simpanan pokok Rp1.000, dan uang simpanan wajib Rp200, serta uang simpanan sukarela. Sampai dengan tahun 2001, modalnya telah berkembang menjadi Rp365.494.675,00. Terakhir saya memutakhirkan data dari bapak saya, modal tersebut sudah jauh lebih besar jumlahnya.

Sebagaimana diketahui bahwa koperasi melandaskan kegiatan berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi memiliki sejarah panjang di negeri ini dan benar-benar bertumbuh dari rakyat. Mengacu pada dokumen Bappenas, pada tahun 1896 tersebutlah seorang Pamong Praja bernama Patih R. Aria Wiria Atmaja dari Purwokerto yang mendirikan bank untuk priyayi. Dirinya terdorong oleh keinginan menolong para pegawai yang makin menderita karena terjerat lintah darat yang memberikan pinjaman berbunga tinggi.

Seorang asisten residen Belanda bernama De Wolffvan Westerrode kemudian memberi masukan berdasarkan konsep koperasi kredit di Jerman. Terlepas dari intervensi Pemerintah Hindia Belanda, koperasi di nusantara tetap bertumbuh hingga kemudian muncul pengaturan-pengaturan. Koperasi menjadi semangat ekonomi yang dibangun oleh gerakan Budi Oetomo pada tahun 1908, Serikat Dagang Islam pada tahun 1927 hingga Partai Nasional Indonesia tahun 1929.

Selepas penjajahan, tepatnya 12 Juli 1947 dilakukan Kongres Koperasi pertama di Indonesia bertempat di Tasikmalaya. Hari inilah yang kemudian ditetapkan sebagia Hari Koperasi Indonesia dan terus diperingati hingga kini.

Konsep murni koperasi sejatinya menjadi hal yang mendasari CU Hati Kudus. Kak Desmawati menyebut bahwa gereja Katolik Santo Petrus Claver di Bukittinggi terdiri atas beberapa suku yang kemudian berkelindan membetuk kebutuhan berkoperasi. Pertama, ada suku Batak yang lebih tepatnya dari Tapanuli Utara. Para perantau mulai berdatangan ke Bukittinggi tahun 1970-an. Mereka umumnya kemudian bekerja sebagai pedagang keliling yang mengkreditkan barang-barang rumah tangga dari kampung ke kampung. Sebagian lainnya menjadi buruh kasar, loper koran, penjaja sayur mayur keliling, hingga tukang angkut barang. Sebagian dari elemen ini cukup mapan, tapi sebagian lainnya tidak dan bahkan cenderung prasejahtera. Kedua, ada suku Tionghoa yang memang sudah ada sejak lama. Mereka memiliki toko di pusat kota dan aktif di gereja. Sayangnya, kebanyakan anak-anak dari suku ini melanjutkan studi ke luar kota begitu lepas sekolah menengah. Dalam 1 tahun, pemuda-pemudi yang meninggalkan kota bisa mencapai 70 anak secara total dengan sebagian besar dari suku Tionghoa. Pada saat naskah referensi itu ditulis yakni tahun 2001, maka saya termasuk 1 dari 70 anak yang meninggalkan Kota Bukittinggi untuk menempuh pendidikan di luar kota. Ketiga, suku Jawa. Terlepas dari sisa-sisa pasukan penumpasan Pemberontakan PRRI–yang saya kenal beberapa diantaranya dan memang kebetulan sudah meninggal, hadir pula kalangan guru, karyawan, dan sejumlah pegawai negeri.

Nah, dalam hidup bermasyarakat terjadi campur baur ketiga suku utama ini. Penting untuk dicatat bahwa sesuai dengan konsep Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah maka sejatinya untuk suku Minangkabau adalah beragama Islam sehingga keterlibatannya di CU Hati Kudus yang merupakan cabang dari gereja tentu menjadi tidak lekat. Walau begitu, bukan berarti terpisah sama sekali. Bapak yang jaga sekolah bersimbiosis mutualisme mulai dari jualan minuman sampai kadang-kadang dapat nasi Padang konsumsi juga~

Kelindan suku Batak, Tionghoa, dan Jawa itu terlihat sekali pada dewan pimpinan awalnya. Ketua Pak Mariyo (Jawa), Wakil Ketuanya Pak Turnip (Batak), dan Anggotanya ada Ibu Lelyana (Tionghoa). Saya sendiri bertumbuh dalam keaktifan bapak saya di CU Hati Kudus ini dan melihat sekali dinamika antar suku yang menarik dan sangat mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika demi membantu sesama.

CU Hati Kudus ini pada mulanya hanya buka sekali sebulan. Kalau tidak keliru, bukanya di minggu ketiga saja persis di hari Minggu. Proses penyetoran simpanan wajib, simpanan pokok, dan simpanan sukarela terjadi pada 1 hari itu saja termasuk juga proses bayar pinjaman berikut bunganya. Makin lama, kebutuhannya semakin besar sehingga kemudian butuh 2 kali seminggu dan lantas bertambah lagi.

Sebagai bagian dari pengurus dan sebagai PNS zaman dahulu sudah tentu bapak saya menjadi pelanggan setia fasilitas pinjaman di koperasi kredit yang turut didirikannya ini. Sudah tidak terhitung lagi kontribusi ‘utang CU’ pada keberhasilan pendidikan saya dan juga adik-adik. Belum lagi, karena skemanya koperasi, maka semakin banyak kita berkontribusi lewat transaksi, semakin banyak juga dividen alias Sisa Hasil Usaha (SHU).

Percayalah, hari-hari ketika Rapat Anggota Tahunan (RAT) di bulan Februari merupakan salah satu momen kegembiraan dalam hidup orangtua saya. Pertama, karena akan ada SHU yang dibagikan dan jumlahnya boleh dibilang cukup lumayan. Kedua, karena bapak saya juga akan menerima ‘gaji’ sebagai pengurus CU. Iya, kerjanya sepanjang tahun tapi gajiannya setahun sekali saja. Ya, namanya juga sampingan~

Melalui koperasi, bapak saya juga sudah berkeliling Sumatera Barat untuk mengajar mengenai koperasi kredit. Beliau memang guru, sehingga semangat mengajarnya itu selalu ada bahkan ketika sudah pensiun dan menunggu jadwal Mamak saya pensiun.

Saya juga mengenal salah satu nama yang menjadi Ketua Badan Pengawas CU Hati Kudus saat pendiriannya: J. Simamora. Dia adalah Paktua saya yang 10 tahun sesudah mendirikan CU Hati Kudus mutasi ke Kota Bandung, tepatnya tinggal di Kota Cimahi.

Ketika bersua beliau semasa hidupnya, Pak Sim–panggilan akrabnya–kerap berkisah soal pendirian CU tersebut dan bagaimana dampak baiknya bagi anggota. Beliau juga berkisah mengenai upaya membangun koperasi serupa di Cimahi dan sudah mulai ada gerakan. Saya tentu tidak update lagi sejak tahun 2017 ketika beliau meninggal dunia seperti saya tulis di post ini.

Saya sendiri juga merupakan anggota CU Hati Kudus secara nama dan secara uang. Baru berhenti ketika orangtua saya menyelesaikan tugas di Bukittinggi dan kemudian beralih ke Jawa untuk mengisi masa purnabakti. Saya juga mencicil laptop pertama dan sepeda motor pertama saya lewat CU. Dari sisi bunga, penawaran di koperasi kredit sangat kompetitif. Belum lagi ketika kontribusi berupa pinjaman juga diperhitungkan sebagai dividen kala RAT. Enaknya CU ya itu, tidak ada keuntungan buat entitas atau orang per orang. Setiap keuntungan kemudian dibagi menjadi sisa hasil usaha. Dan karena dikembangkan bersama, maka transparansi menjadi kunci. Tuh lihat sendiri pada tahun 2015 doorprize-nya sudah sepeda motor. Hal yang tidak terjadi 10 tahun sebelumnya. Pertumbuhannya drastis sekali, kan?

Pada tahun 2022, hari jadi Gerakan Koperasi Indonesia mengambil tema “Transformasi Koperasi untuk Ekonomi Berkelanjutan” dengan gelora gerakan “Ayo Berkoperasi”. Di era modern ini, transformasi koperasi jelas menjadi penting karena model perekonomian juga berubah. Sebut saja pergerakan di pasar saham yang menggaet mayoritas milenial atau pasar kripto yang menawarkan high risk high return. Belum lagi dengan format-format lainnya.

Berkoperasi sejak lama telah menjadi kisah sukses. Seperti saya sebut tadi, sekurang-kurangnya dibuktikan dari saya sendiri yang uang kuliahnya berasal dari kombinasi pinjaman ke CU untuk semester ganjil dan SHU CU untuk semester genap. Dan teman-teman masa kecil saya juga demikian. Ada yang sudah jadi Pejabat di Kementerian Keuangan juga dan pas kecilnya juga saya bersua Mamaknya lagi nyetor di kantor CU.

CU Hati Kudus sejak tahun 1982 telah menjadi pendukung transformasi banyak manusia, mulai dari peningkatan kesejahteraan hingga derajat melalui pendidikan. Hal itu kemudian menjadi wujud nyata peran koperasi. Dan agar koperasi juga tidak menjadi modus yang merugikan masyarakat sejatinya peran Kementerian Koperasi dan UKM untuk pengawasan juga menjadi sangat krusial. Di era deregulasi, peran pemerintah justru menjadi sangat terdepan. Ingat bahwa paradigma administrasi publik telah menjelma jadi New Public Service (NPS) dengan fokusnya adalah citizen, bukan sektor bisnis belaka.

Ayo Berkoperasi!

WIB-Sentris Era Zoom Meeting yang Menggemaskan

Beberapa waktu yang lalu, saya dinas ke Ambon. Itu adalah kali pertama saya sejak 2015 berdinas di zona waktu +2. Tahun 2015 itu saya dinas ke Jayapura. Yah, memang nasibnya jarang-jarang ke WIT. Masanya tentu beda banget. Hari-hari ini adalah era Zoom Meeting dan tentu saja dinas ke luar kota tidak menghalangi agenda untuk disuruh Zoom Meeting.

Kala itu bulan puasa, jadi seharusnya kantor selesai jam 15.00 WIT. Saya baru sadar bahwa 15.00 WIT itu adalah 13.00 WIB. Jam favorit orang WIB untuk mengundang rapat. Ah, jangankan itu. Undangan rapat jam 15.00 WIB pun sering, kan? Hal itu berarti rapatnya adalah 17.00 WIT. Itu jamnya orang pulang kantor.

Photo by Anna Shvets on Pexels.com

Nah, kebetulan banget, beberapa hari lalu saya mendapat tugas untuk nge-desk salah satu kantor di WIT. Karena satu dan lain hal terjadi perubahan jadwal yang menggemaskan (karena makin jadi tren di era Zoom, seolah-olah semua orang itu jadwalnya kosong jadi jadwal bisa digeser seenaknya). Walhasil, daripada pening, saya sebagai Ketua Tim memutuskan untuk sesekali orang WIB di kantor pusat mengikuti jadwalnya orang WIT.

Yha, saya mengajukan jadwal desk itu jam ENAM PAGI WAKTU INDONESIA BARAT. Saya belajar dari upacara Hari Lahir Pancasila yang berpusat di Ende (WITA) dan kemudian memaksa para pejabat di Jakarta bisa upacara pukul 06.30 pagi. Dalam skala yang lebih kecil, desk yang saya lakukan dapatlah berupa penyesuaian itu.

Kalau teman-teman yang di WIT itu bisa Zoom Meeting nyaris tiap sore ke malam, masak sih orang-orang WIB yang katanya orang Pusat itu nggak bisa bikin Zoom Meeting mengikuti jadwal kantor di WIT. Ketika saya mulai jam 6, itu di Papua kan sudah jam 8. Sudah jam kantor. Sebuah penyesuaian yang menarik.

Begitulah rapat-rapat Zoom ini dalam satu sisi memudahkan, sih. Banyak orang bisa berkumpul dan bisa merapat dengan cepat. Cuma masalahnya saking mudahnya, jadi bikin keenakan. Dikit-dikit rapat. Rapat-rapat dikit. Teman-teman di daerah itu paling ngerasain, lah, sebab teman-teman di unit vertikal di daerah maupun juga Pemda berhadapan dengan begitu banyak program dari Pusat. Kalau Pusatnya sembrono bikin rapat karena begitu mudahnya langganan Zoom, korbannya ya daerah. Paling gawat adalah kalau lupa atau nggak bisa mengikuti, yang salah bukan yang mengundang, tapi yang nggak mengikuti.

Sejujurnya, saya berpikir harus ada pembatasan. Tidak lagi setiap unit kerja bisa punya 4-5 akun Zoom yang bisa digunakan seenaknya. Harus ada keterbatasan ruang rapat yang kemudian membuat pengaturan pertemuan menjadi realistis bagi yang diundang untuk menghadiri. Zoom 2, 3, atau 4 itu nggak akan ada faedahnya. Serius, deh. Otak ini nggak bisa melakoni lebih dari satu pekerjaan yang sama persis dalam satu waktu.

Saya nggak tahu dan nggak peduli tentang apapun yang akan dipikirkan orang tentang keputusan saya kemarin bikin desk jam 6 pagi yang kemudian bikin repot banyak orang WIB. Mulai dari yang buka Zoom, mengawal room, dan lain-lain. Saya sih lebih fokus pada upaya memberi pengalaman baru sekaligus sesekali menciptakan kondisi terbalik. Nggak harus WIT selalu mengikuti WIB. Sesekali, WIB bisa mengikuti jadwalnya WIT.

Realistisnya sih rapat itu mulai dari 8 WIB (10 WIT) dan bisa diakhiri rentangnya pada 14 WIB (16 WIT). Sebenarnya bisa, kalau yang Pusat itu nggak egois. Wk.

Perjalanan Sentimentil di Bandung

Beberapa hari yang lalu saya dinas ke Bandung. Karena satu dan lain hal, saya naik travel dari TangSel ke Bandung kurang lebih pukul 9 malam. Walhasil, baru sampai ke Bandung ya sekitar pukul 00.00. Saya cukup tenang karena kota tujuannya cukup familar. Jadi ya masih beranilah untuk order ojol ke hotel tempat dinas. Lha wong dulu pernah saking gebleknya saya naik Argo Parahyangan paling malam ke Cimahi, eh ketiduran dan berakhir di Stasiun Bandung sehingga pukul 2 atau 3 pagi harus naik ojol plus taxol ke tempat mertua.

Ndilalah karena saya naik Cititrans, maka tujuan akhirnya adalah Dipati Ukur sehingga dari keluar tol di Pasteur menuju lokasi harus lewat RS Borromeus. Tengah malam lewat di depan RS Borromeus itu sungguh menjadi sesuatu yang sentimentil buat saya.

Saya ingat sekali 5 tahun yang lalu berjalan kaki dari penginapan di sekitar RS Borromeus untuk mengantarkan ASIP ke anak saya yang harus ngekos ekstra di RS karena kuning. Jumlah ASI yang saya antarkan itu nggak banyak. Tipis sekali lah plastiknya. Hanya saja, buat kami, ASI itu sangat berharga. Hari itu posisinya saya sempat pulang ke Jakarta untuk kerja karena cutinya habis dan balik lagi karena weekend.

Saya mengantarkan ASIP itu sekitar pukul 2 pagi. Satu hal yang saya ingat, sesudah mengantarkan ASIP itu, saya terlelap di lobi RS Borromeus selama sekitar 1 jam dalam posisi duduk si sofa. Kuesel biyanget, bos! Hal-hal semacam ini kadang-kadang bikin rindu untuk punya anak lagi. Namun saya mencoba berkaca, apakah jika nanti ada bayi lagi saya akan sekuat itu? Belum lagi ada Isto yang tentu juga harus diperhatikan.

Naik ojol melewati jalanan tempat saya dulu tengah malam mengantarkan ASIP menjadi perjalanan yang cukup sentimentil apalagi ketika melihat bahwa anak bayi yang dianterin ASIP itu sekarang sudah mau ulang tahun yang ke-5, sudah memberikan begitu banyak kegembiraan, terlepas dari begitu banyak amarah saya yang tercurah padanya.

“Nggak Kerasa Ya, Sudah Gede…”

Saya seringkali mempertanyakan ucapan yang menjadi judul tulisan ini ketika ada orang tua update status soal anaknya. Saya sangat yakin, malam-malam penuh begadang ketika anak masih bayi itu adalah sesuatu yang sangat terasa. Saya paling tidak cocok dengan ucapan itu dalam periode Maret 2020 sampai Agustus 2021 karena saya benar-benar membersamai anak saya 24/7 soalnya saya kuliah dari rumah dan ndilalah daycare anak saya juga tutup dan menjelma jadi laboratorium swab.

Nah, belakangan ini, anak saya yang sudah mau 5 tahun memperlihatkan kecepatan kemajuan dalam hal apapun. Saya ingat benar pas kami pindah di rumah sekarang, kepalanya baru nongol sedikit kalau dibandingkan dengan meja. Eh, sekarang sudah jauh di atas meja. Sudah bisa naruh dagu di meja gitu dah.

Paling berasa sih soal pup. Kemarin saya nonton Tekotok soal nyebokin anak. Asli saya mendadak lupa secara teknis caranya nyebokin anak. Padahal dulu saya paling jago soal itu. Termasuk segala drama pup mulai dari AEON sampai di atas langit Lampung kala naik Garuda Indonesia. Sekarang, anaknya sudah bisa pup sendiri. Sudah bisa buka celana, pasang penutup pup di kloset, lalu duduk dan baru manggil saya kalau pup-nya selesai.

Iya, se-nggak berasa itu ketika skill yang dulu saya punya kemudian bisa-bisanya saya lupakan. Skill yang pernah bikin saya dipuji belasan ibu-ibu karena beratraksi mengganti popok Isto umur 5 bulan. Pujian yang bikin saya kaget karena ternyata banyak juga bapak-bapak yang blas nggak mau gantiin popok anaknya.

Apakah nggak berasa? Hari-hari ketika pup-nya berserakan dalam transisi diapers ke cawet itu terjadi kok. Riil. Berasa bangetlah ngelap pup berserakan di rumah maupun di lantai toilet kontrakan. Hanya saja begitu kejadian sekarang, rasanya kok tampak tidak berasa.

Kemarin ketika saya WFH karena pengasuh anak belum balik, si Isto juga bisa betul mencari aktivitas sendiri tanpa mengusik saya yang Zoom Meeting sana-sini. Bahkan ujug-ujug jadi gambar dinosaurus se-pemandangannya. Sudah secepat itu. Saya jadi ingat susahnya mengajari dia untuk mewarnai sesuai dengan garis lebih dari setahun lalu. Eh, sekarang sudah rapi benar warnanya.

Demikianlah hidup. Pas dilakoni berasa bener. Pas sudah lewat yo ternyata bablas dan tampak nggak berasa. Hehe.

Mudah Lelah Saat Perjalanan Kereta Api? Coba Atasi dengan Tips Berikut!

Untuk area pulau Jawa, kereta api merupakan alat transportasi yang paling diminati. Sebagian besar penduduk pulau Jawa memilih untuk naik kereta api jika ingin berpindah dari satu provinsi ke provinsi lain. Selain karena aman dan nyaman, harga tiket kereta api juga lebih murah dari harga tiket pesawat.

Satu lagi, tidak ada kata macet ketika bepergian dengan kereta api. Jadi, kita bisa nyampe ke tujuan dengan tepat waktu. Sekarang ini, kamu bisa membeli tiket kereta api lewat aplikasi digital, seperti Traveloka. Misalnya, kamu ingin membeli tiket kereta api Bandung – Jakarta. Kamu tinggal buka Traveloka dan bisa cek harga tiket kereta Bandung Jakarta.

Namun, saat bepergian dengan kereta api, satu hal yang sering kali mengganggu perjalanan adalah rasa lelah. Ya, karena perjalanan jauh, wajar kiranya rasa lelah datang. Akan tetapi rasa lelah itu bisa di manage dengan baik supaya kondisi tubuh tetap fit hingga sampai tujuan. Berikut ini ada beberapa tips untuk mengatasi rasa lelah ketika perjalanan menggunakan kereta api:

Ngobrol dengan Orang Sebelah Bangku

Guna menghilangkan rasa lelah di perjalanan, kamu bisa mengisi waktu dengan ngobrol bersama orang sebelah bangku. Banyak hal yang bisa jadi bahan obrolan, apalagi sama-sama baru kenal.

Photo by veerasak Piyawatanakul on Pexels.com

Ngobrol bersama penumpang lain tidak hanya menghilangkan rasa lelah, tapi juga sebagai ajang untuk memperbanyak teman. Akan menyenangkan apabila ada ilmu yang didapat dari pembicaraan tersebut.

Untuk memulai pembicaraan, banyak hal yang bisa kamu lakukan, seperti menanyakan kemana tujuannya, asalnya dari mana, atau hal lain yang membuat dia nyaman dan mau ngobrol bersama kamu.

Menikmati Pemandangan Sekitar

Jalur kereta api sering kali berada di daerah sekitar pedesaan, daerah perbukitan, dan sawah. Makanya jangan heran kalau naik kereta api, kita pasti akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang indah.

Menikmati pemandangan tersebut tentu akan membuat kamu merasa lebih nyaman, rileks, dan jauh dari rasa lelah. Selain sebagai alat untuk melepas rasa lelah, ini juga bisa menjadi cerita seru bagi sanak saudara di kampung halaman.

Menonton dan Mendengarkan Musik

Kemajuan teknologi membuat orang lebih mudah untuk mendapatkan hiburan. Hanya dengan menggunakan smartphone kita sudah bisa menikmati hiburan seperti menonton, membaca, dan mendengarkan musik. Ini bisa dimanfaatkan untuk mengatasi rasa lelah saat kamu di dalam kereta api.

Main Game

Selain menonton, membaca, dan mendengarkan musik, hiburan lain yang bisa kamu nikmati di kereta api adalah main game. Ya, saat ini ada banyak jenis game yang bisa dimainkan lewat smartphone baik yang harus menggunakan konektivitas atau pun tidak. Jika kamu bepergian dengan teman atau keluarga, kamu bisa mengajak mereka untuk main game bersama.

Tidur

Jika sudah bosan ngobrol, nonton, dan mendengarkan musik, berarti sudah saatnya kamu menghilangkan rasa lelah dengan tidur. Tidur sejenak juga akan menghilangkan rasa bosan dan membuat kamu menjadi lebih segar. Satu hal yang perlu diingat ketika tidur di transportasi umum, jangan untuk meletakkan barang berharga di tempat yang tidak bisa disentuh oleh orang lain.

Meregangkan Otot Kaki, Tangan, dan Leher

Duduk terus menerus selama perjalanan di kereta api tentunya akan membuat tubuh merasa lelah. Oleh karena itu kamu perlu meregangkan otot-otot kaki, tangan, dan leher.

Peregangan ini bisa kamu lakukan dengan cara memijat sendiri kaki dan tangan kamu. Sementara di bagian leher, kamu bisa melakukan stretching secara perlahan, seperti tengok kanan kiri secara bergantian.

Jalan-Jalan di Dalam Kereta

Selain bikin lelah, duduk terus menerus selama perjalanan juga akan membuat tubuh terasa kaku. Hal ini tentu sangat tidak mengenakkan. Kamu butuh melakukan aktivitas yang menggerakkan semua anggota tubuh, misalnya berjalan. Kamu bisa berjalan menuju ke toilet atau berjalan di lorong kereta api sambil menikmati pemandangan di sekitar. Meskipun jarak tempuhnya tidak jauh, tapi jika sering dilakukan, ini akan membuat tubuh menjadi lebih rileks dan segar.

Menjaga Pola Makan

Untuk menjalani perjalanan jauh dengan kereta api butuh kondisi tubuh fit. Karena kamu akan duduk terus menerus selama di perjalanan. Meskipun hanya duduk, tapi jika dilakukan dalam waktu yang lama itu akan berdampak buruk ke tubuh.

Di luar bulan puasa, sangat disarankan untuk banyak minum ketika duduk lama di perjalanan. Namun, jika kamu melakukan perjalanan di bulan puasa, kamu tetap butuh cairan yang banyak. Oleh karena itu, kamu harus banyak minum saat berbuka puasa dan sahur.

Selain kebutuhan cairan, suplai nutrisi ke tubuh juga harus dijaga selama di perjalanan. Kamu harus pintar-pintar menjaga makan supaya kondisi tubuh tetap fit.

Itulah beberapa tips mengatasi lelah selama perjalanan kereta api. Kamu bisa menerapkan tips ini untuk menjaga tubuh tetap fit selama di perjalanan. Untuk informasi terkait tiket kereta Bandung-Jakarta, kamu dapat mengaksesnya melalui laman resmi Traveloka atau langsung mengunduh aplikasinya, baik melalui Play Store atau pun App Store.

Batal Nikah

Sejujurnya, setelah menikah, saya suka menganggap bahwa dinamika yang ada di level anak muda yang belum menikah itu remeh. Hal yang dulu bisa bikin saya galau seharian itu ternyata begitu dipaparkan dengan peliknya hidup rumah tangga di tengah himpitan kebutuhan itu ternyata nggak ada apa-apanya.

Nah, sampai kemudian saya mendapati bahwa ada salah seorang bilang ke saya bahwa dia batal menikah. Seseorang yang saya ketahui sudah sempat cuti beberapa hari untuk mengurus pernikahannya. Biasalah, pekerja Jakarta tapi kampungnya di salah satu kota di Jawa. Sudah tunangan, sudah ada fotonya. Dan lain-lain begitulah. Intinya sih batal menikah.

Pada titik ini saya tentu tidak lagi bisa menganggap sepele. Ini soal pembatalan vendor, pembatalan ke KUA, dll. Bayangkan sudah mengurus ina-inu ke KUA, repot minta ampun, lalu datang lagi untuk membatalkannya. Tentu saja saya tidak pernah menghadapi permasalahan semacam itu. Level keparahan pada persiapan pernikahan saya adalah berantem sampai nangis di depan gereja persis sesudah mengurus buku panduan misa.

Lebih mengesalkan lagi adalah bahwa penyebab batal itu berasal dari orang ketiga. Orang ketiga yang tentunya muncul belakangan di akhir proses separo LDR dengan total jenderal hubungan 5 tahun. Wow. Percayalah, sebagai laki-laki, saya malu sendiri mendengar kelakuan orang itu sampai kemudian membuat orang yang saya kenal tadi harus balik ke rumah lagi guna mengurus pembatalan hanya 1 bulan sesudah mengurus pernikahan.

Cuma, kalau saya pikir-pikir lagi, mendinglah batalnya sekarang. Kalau sempat bablas sampai nikah perkaranya tentu berlipat lebih sulit. Apalagi kalau yang menikah itu PNS. Pertama, misalkan mau cerai saja prosedurnya panjang dan ribet serta nggak cocok untuk suasana batin orang yang mau cerai, yang tentu saja pengen semuanya cepat kelar. Kedua, bisa sempat ada anak, maka akan ada hal lain yang tentu akan menjadi bahan pikiran. Dan banyak hal lainnya.

Batal sekarang mungkin bikin galau sampai nangis. Tapi batal sekarang boleh jadi adalah kunci kebaikan di masa depan. Untuk tidak terjebak di hubungan pernikahan yang boleh jadi tidak akan seindah yang dibayangkan. Bagaimanapun, pernikahan itu akan menghadirkan begitu banyak keindahan tapi juga pada saat yang sama menghadirkan begitu banyak masalah yang boleh jadi tidak akan ada ketika tidak menikah.

Nge-Zoom dari Pantai: Antara Keseruan dan Pertanyaan Soal Work-Life Balance

Saya tidak hadir sejak awal peralihan kerja ke sebagian Zoom seperti sekarang. Kala Zoom hadir, saya masih kuliah. Betul bahwa kuliah saya memang pakai Google Meet dan kemudian Zoom, tapi aktivitas Zoom itu ya hanya saya lakukan ketika dibutuhkan saja. Ketika kemudian teman mengunggah foto sedang Zoom dengan 2, 3, 4, atau bahkan 5 gawai, saya hanya melihat dengan takzim~

Sampai kemudian saya mengalami sendiri ketika dalam pekerjaan berbagai rapat datang bertubi-tubi dan semuanya pakai Zoom. Gawai saya ya paling HP dua biji sama laptop satu. Maksimal hanya bisa 3. Belum lagi telinga cuma punya 2. Tapi kok ya sering betul dalam 2 Zoom betul-betul pada jam yang sama dan seluruhnya berlabel penting.

Maka saya pernah nge-Zoom sambil menemani anak di playground (karena Zoom-nya sore bablas), pernah nge-Zoom sambil lari-lari di bandara. Zoompalitan pokoknya. Dan paling mutakhir, kemarin ketika snorkeling di Pulau Lihaga, saya sempat-sempatnya Zoom Meeting di pantai dalam kondisi tubuh masih basah karena memang benar-benar baru naik ke darat.

Tuntutan pekerjaan dengan Zoom ini buat saya mengerikan. Setiap yang nge-Zoom sekarang bikin Zoom Meeting tanpa memandang kapasitas. Dulu kan masih cek ruang rapat dulu, sekurang-kurangnya. Sekarang ruangnya virtual, bisa rapat sambil gimana saja, dan walhasil rapat demi rapat itu datang dan pergi sampai HP kentang saya lelah.

Belum lagi Zoom Meeting bersahut-sahutan itu bikin mata dan telinga lelah. Satu saja lelah apalagi tiga. Plus, jadi tidak bisa bekerja maksimal karena kan harus fokus mendengarkan dan memberikan pendapat. Saya sendiri, seperti barusan ini, akhirnya baru malam-malam bisa buka laptop tanpa distraksi Zoom Meeting sehingga bisa buka sana-sini beberapa dokumen yang sayangnya sudah lewat tenggat sehingga saya terlambat menindaklanjuti.

Kalau 1-2 tahun mungkin saya masih kuat. Tapi semakin berlalu, tampaknya saya nggak akan sekuat sekarang. Semoga ada kultur yang bisa diperbaiki di masa depan.

Mentalitas Staf

Saya ketiban gawean baru di kantor. Ya sebut saja ketiban, lah. Dibilang rejeki jelas bukan karena tidak ada benefit finansial yang saya peroleh. Malah rada-rada mambu tekor soalnya saya kudu lebih sering di kantor. Jika saya tidak mendapat gawean itu, dengan kondisi sekarang hampir pasti saya ikut WFH. Ingat, saya pernah menulis bahwa saya suka WFH.

Cuma ya sudahlah. Anggap saja sekalian belajar. Belajar hidup terutama. Wkwk.

Di gawean tambahan ini dan sesuai strata jabatan fungsional, saya “punya” anak buah. Yah, sederhananya, saya membawahi 2 orang staf yang sekurang-kurangnya absennya saya verifikasi dan SKP-nya harus saya pikirkan. Belum termasuk 3 honorer yang juga tentu perlu saya pikirkan kelanjutan karirnya.

Sungguh, bagi saya ini jetlag sekali. Bukan apa-apa, sejak di pabrik dulu, saya nggak pernah punya bawahan lebih dari satu. Di Palembang dulu admin inventory itu Mba Herpi seorang. Di Cikarang, operator palugada saya ya Triyono seorang juga. Sudah. Mereka saja. Nggak ada yang lain.

Dan lagi, saya resign dari pabrik itu sudah (((delapan))) tahun lalu. Selepas itu saya kembali ke nol, menjadi staf sepenuhnya yang siap disuruh melakukan apapun. Dan mentalitas itu terbawa betul.

Photo by Startup Stock Photos on Pexels.com

Dalam pekan-pekan pertama, saya merasa keplepekan karena semuanya saya pegang sendiri. Bukan apa-apa, sih, dulu saya masuk ketika kantor saya bahkan tidak punya sekretaris bos. Banyak hal yang dulu saya sebagai cecurut di kantor harus bikin sendiri dan lama-lama kok jadi biasa. Makin ke sini, saya suka lupa bahwa saya sudah berada pada posisi yang memungkinkan untuk delegasi dan kemudian supervisi tentu dengan tuntutan yang lebih tinggi dari atasan.

Sampai kemudian salah satu ‘anak’ saya bilang, “Lho, Mas, kalau cuma bikin form ya kami aja yang bikin…”

Tak pikir-pikir bener juga. Kalau katanya saya sudah kedapuk jadi level yang tanggung jawabnya naik sedikit walaupun tunjangan kinerjanya kagak, ngapain juga saya kudu terjun langsung bikin Google Forms atau sejenisnya.

Ya balik lagi, karena saya masih punya mentalitas bahwa saya ini staf dan apapun harus saya kerjakan sendiri. Mentalitas yang tentu saja buruk dan menyebabkan ada banyak target yang lantas terlewatkan karena saya terlalu sibuk ke printilan yang seharusnya bisa didelegasikan.

Sejujurnya saya pengen itu semuanya didelegasikan. Toh bocah-bocah sudah pintar-pintar. Saya tidak mewarisi staf-staf yang newbie, tapi justru saya yang menjadi nubitol, newbie dan tolol pada posisi yang sekarang. Cuma balik lagi, mentalitas staf menjadi problematika tersendiri dalam hidup saya.

Sebenarnya mirip juga kayak di rumah. Ada beberapa kali WFH bertepatan dengan pengasuh Isto tidak masuk karena satu dan lain hal. Sudahlah nge-Zoom dua, ketambahan kudu mendampingi anak sekolah online pula. Tapi ya itu, saya bisa saja bilang bahwa aunty harus datang. Tapi pada akhirnya saya selalu merasa bisa meng-handle semuanya walaupun ketika dilakoni yo spaneng juga. Pada titik ini, mentalitas staf justru membuat saya mampu melakoni semuanya.

Lantas apa intinya? Nggak ada. Saya baru saja bayar package blog ini lebih dari 700 ribu. Itu di luar biaya domain yang 400 ribuan. Lebih dari sejuta setahun kalau dipikir-pikir ya sayang juga jika tidak dimanfaatkan untuk menulis sesuatu. Ya siapa tahu kan bakal jadi sesuatu seperti halnya 2 buku saya yang notabene lahir dari tulisan-tulisan pendek semacam ini.

Tips Bermain Katla

Awalnya ada WORDLE lalu kemudian di Indonesia muncul yang namanya KATLA. Permainannya sederhana, sih. Jadi akan ada kata yang terdiri dari 5 huruf. Kita punya 6 kesempatan menebak kata tersebut. Perlu diketahui bahwa setiap hari hanya ada 1 kata untuk ditebak dan itu sama bagi setiap pemain.

Nah, aturannya adalah jika ada huruf yang memang merupakan komponen dari jawaban tapi tidak tepat posisinya, akan muncul warna cokelat. Apabila hurufnya sudah tepat di posisinya, akan muncul warna hijau. Kurang lebih begini:

Oke. Melihat jawaban di atas, saya hendak berbagi tips bermain KATLA yang kurang lebih akan ciamik dan berdaya ungkit.

Pertama, selalu masukkan kata yang hurufnya beda semua. Beberapa waktu yang lalu memang sempat ECENG muncul sebagai jawaban, tapi sejauh ini sih rata-rata jawabannya memang 5 huruf beda semua. Pilihan yang ambil adalah REMAS dan diperoleh E sudah benar serta S benar tapi salah tempat.

Kedua, jangan ikuti langkah saya diatas untuk kata kedua dan ketiga! Lihat, saya sudah tahu bahwa R itu bukan jawaban, tapi masih saya pakai di baris kedua. Itu sebaiknya tidak dilakukan karena akan menyia-nyiakan kuota. Langkah ketiga itu saya juga salah karena sudah jelas S bukan di belakang, tapi saya ulang lagi dan tentu saja salah.

Ketiga, hilangkan pilihan-pilihan melalui gambaran imajiner. Ya seperti S tadi. Ketika di belakang salah dan di depan juga salah, sementara hijaunya sudah tepat mestinya saya sudah tahu kalau S itu di tengah. Dengan begitu kita bisa mengira-ngira dengan lebih mudah ihwal jawabannya.

Keempat, kalau bisa selalu gunakan huruf-huruf seperti A atau S terlebih dahulu. Memang di jawaban ECENG dia nggak ada, tapi pas SABTU, atau BISON, maka S itu nongol kok. Ada beberapa huruf yang memang cukup menguasai kancah persaingan kata-kata di Indonesia.

Sejauh ini saya sih belum pernah gagal, ya. Hampir sih sering. Beda sama WORDLE atau KOTLA yang lumayan sering gagalnya. Buat yang pengen mencoba bisa langsung menuju situs katla.vercep.app ya.