All posts by ariesadhar

Auditor Wanna Be, Apoteker, dan Author di ariesadhar.com

5 Pondasi Utama dalam Pemanfaatan Social Media Marketing

Salah satu cara yang sangat efektif dalam memasarkan produk saat ini yaitu dengan menggunakan social media marketing. Hal ini bisa dikatakan cukup efektif karena hampir semua orang menggunakan platform media sosial. Sebagai pebisnis, kamu harus memanfaatkan teknik pemasaran yang satu ini dengan sebaik-baiknya. 

Apalagi cara ini merupakan langkah yang paling ampuh mengingat pesatnya perkembangan teknologi saat ini. Oleh karena itu, kamu tak boleh jadi pebisnis terbelakang yang akhirnya gigit jari karena tak mampu mengimbangi perkembangan zaman. Nah, untuk belajar tentang social media marketing, kamu bisa mengikuti kursus social media marketing

Untuk membantu kamu memahami lebih dalam mengenai pemasaran melalui sosial media, berikut ini adalah ulasan mengenai 5 pondasi utama dalam pemanfaatan marketing media sosial. Jadi, simak ulasan ini hingga selesai.

5 Pondasi Utama Dalam Pemanfaatan Social Media Marketing

Marketing melalui media sosial merupakan satu langkah untuk memasarkan produk atau jasa dengan cara yang lebih luas. Maknanya, saat kamu memasarkan produk kamu harus membuat sebuah konten yang menarik guna mempromosikan produk atau jasa. 

Selain itu, kamu juga dapat membangun komunitas, serta menarik orang lain untuk berkunjung dan melirik bisnis yang kamu lakukan. Cara pemasaran seperti inilah yang sangat diperlukan oleh perusahaan atau para pebisnis. Utamanya  bagi mereka yang ingin memasarkan produk dengan efisien dan praktis. 

Ketika akan menerapkan konsep pemasaran menggunakan media sosial, ada hal yang harus kamu perhatikan. Satu diantaranya adalah bagaimana cara untuk menyampaikan pesan secara tepat hingga efektif. Bukan cuma itu saja, ketika memanfaatkan marketing media sosial ini, kamu pun perlu mengetahui 5 pondasi utama yang mendasarinya, yaitu:

  1. Skema atau strategi

Ketika kamu memutuskan memanfaatkan media sosial untuk pemasaran produk, sebaiknya kamu menyiapkan strategi atau skema yang tepat. Terutama sebelum kamu mengunggah konten di media sosial yang kamu pilih. Untuk menyusun strategi atau rencana tersebut kamu harus bisa menjawab beberapa pertanyaan penting seperti:

  • Apakah goal atau tujuan yang ingin kamu capai saat memasarkan produk melalui sosial media?
  • Bagaimana media sosial bisa memberikan kontribusi bagi bisnis kamu?
  • Jenis media sosial seperti apa yang akan kamu gunakan?
  • Tipe konten seperti apakah yang ingin kamu bagikan?
  • Konten yang bagaimanakah yang sekiranya efektif untuk meningkatkan penjualan?

Inilah beberapa pertanyaan yang harusnya bisa kamu jawab. Sehingga pondasi pertama dalam memanfaatkan media sosial marketing yakni strategi atau skema bisa kamu susun dengan optimal.

  1. Publikasi dan planning

Pada sebuah brand baru, metode marketing media sosial biasanya diawali dari konsistensi ketika mempublikasikan konten. Untuk itu kamu perlu membuat perencanaan serta publikasi secara kontinyu dan konsisten. Dari sini nantinya kamu akan memperoleh cara yang tepat untuk terus meningkatkan performa media sosial yang tengah dijalankan.

Secara sederhana, mulailah dengan menyiapkan perencanaan secara keseluruhan. Yakni rencana jangka pendek baik mingguan dan bulanan serta jangka panjang mulai dari kuartal, semester serta tahunan. 

  1. Menjaga dan memonitor 

Apabila media sosial yang kamu gunakan untuk pemasaran mulai menunjukkan peningkatan maka interaksi yang terjadi juga akan semakin banyak. Interaksi tersebut bisa berupa komentar, review, kritik, saran bahkan mungkin keluhan. Semua ini bisa disampaikan dengan menggunakan direct message

Semua interaksi yang terjadi ini harus kamu jaga dan monitor secara periodik. Tujuannya agar reputasi positif yang sudah kamu bangun terhadap brand bisa bertahan.

  1. Analisa dan laporan

Saat semua perencanaan dan publikasi konten sudah diterapkan dengan konsisten maka kamu harus mengukur performanya. kamu harus memperhatikan bagaimana perkembangan followers yang positif. Selain itu kamu pun harus memperhatikan performa konten secara spesifik. Contohnya rata-rata jangkauan serta engagement rate yang telah dihasilkan.

Photo by PhotoMIX Company on Pexels.com
  1. Advertensi atau iklan

Bagi kamu yang memiliki brand dan baru menggunakan social media marketing, sebaiknya jangan lewatkan penggunaan iklan. Rencanakan dan terapkan iklan dengan maksimal. Harapannya, jika penerapan iklan ini bisa dilakukan secara terus menerus maka kamu bisa mengintegrasikan konten yang nantinya bakal dipublikasi. 

Dengan demikian, keuntungan atau hasil yang akan kamu dapatkan dengan menggunakan metode marketing media sosial ini bisa lebih optimal. 

Untuk lebih memantapkan keahlian dalam menerapkan metode pemasaran menggunakan media sosial, ada baiknya jika kamu melakukan upgrade skill. Bisa dengan cara mengikuti kursus social media marketing, kelas, atau bootcamp yang berisi pendalaman materi mengenai metode pemasaran tersebut.

Salah satu penyedia jasa bootcamp untuk metode pemasaran menggunakan media sosial adalah Belajarlagi. Bootcamp ini sangat ramai di twitter, bahkan pernah sold out 500 seat dalam hitungan 2 menit.

Di Belajarlagi kamu dapat mempelajari fundamental, best practices, hingga reporting social media organic dari para instruktur yang berasal dari unicorn startup sampai multinational digital agency dengan 5+ tahun lebih pengalaman di bidang digital. Sehingga bisa dipastikan para pengajar ini akan menyampaikan materi pembelajaran berdasarkan pengalamannya masing-masing.

Metode pembelajaran dari Belajarlagi sudah bertaraf international, salah satu bootcamp pertama di indonesia yang mendapatkan sertifikasi pengakuan internasional dari EAF (Education Alliance Finland).

Di samping unggul karena memiliki instruktur yang berpengalaman, Belajarlagi juga memiliki keunggulan lain. Yaitu proactive community, dedicated facilitator, hands on project serta industry expert. Akan ada tugas berdasarkan case real di dunia kerja, dan setiap tugas akan mendapatkan feedback personal.

Adapun beberapa materi yang akan kamu pelajari secara intensif ketika mengikuti bootcamp antara lain:

  • Introduction to Social Media (recorded) 
  • Introduction to Advance Social Media
  • Campaign dan Content Ideation I dan II
  • Brand Building (recorded)
  • Copywriting I dan II
  • Personal Branding & Public Speaking
  • Dan masih banyak lagi lainnya. 

Selain itu, dengan bootcamp ini nantinya kamu bahkan bisa mempelajari bagaimana taktik menggunakan media sosial. Seperti YouTube, TikTok, Twitter, dan lain sebagainya. Jadi, jika kamu tertarik dan ingin segera mengikuti program belajar ini maka segeralah mendaftar. 

Memang pendaftaran belum dibuka untuk saat ini, namun kamu tetap bisa registrasi agar masuk dalam waiting list. Masalah biaya tak perlu kamu khawatirkan, karena bootcamp Belajarlagi menawarkan paket belajar dengan harga yang terjangkau. Jadi tunggu apalagi, segera mendaftar bootcamp social media marketing melalui Belajarlagi sekarang ya!

Mengintip Masa Depan Gemilang Indonesia di Indonesia Development Forum 2022

Pembukaan IDF 2022 oleh Sekretaris Kementerian Bappenas (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Bagaimana rasanya jika dalam 2 hari, hidup kita dipenuhi oleh ide dan inovasi? Antara excited dan optimis, bercampur keraguan dan tendensi apatis terjadi. Hal itulah yang terjadi ketika saya berada di tengah-tengah acara Indonesia Development Forum 2022 tanggal 21-22 November 2022 silam.

Oya, sebagai pendahuluan mungkin saya perlu menyebut bahwa kalaulah ada suatu rangkaian kegiatan yang panjangnya (ternyata) minta ampun karena terdampak pandemi COVID-19, maka kita harus menyebut Indonesia Development Forum 2022 sebagai salah satunya.

Begini saya ceritakan dahulu…

Saya kebetulan mengikuti Call for Submission (CfS) di IDF 2021 pada kategori Ide dan kebetulan pula masuk list. Sebagai gambaran, kala mengikuti CfS tersebut, status saya adalah pegawai tapi non-aktif karena tengah menjadi mahasiswa pascasarjana Ilmu Administrasi Universitas Indonesia. Mendekati akhir tahun 2021, saya mendapat surel bahwa kegiatan ditunda sebagai dampak pandemi. Di sisi lain, saya kemudian menanggalkan status mahasiswa dan kembali menjadi remah-remah birokrasi pada umumnya.

Karena posisinya adalah saya sebagai mahasiswa UI, maka seluruh kontak terkait IDF ada di email UI saya. Email itu memang masih ada, tapi sesudah lulus tentu saya sudah jarang-jarang buka. Eh kok ya pada awal tahun saya melihat Instagram IDF dan melihat nama saya ada di dalam salah satu publikasi. Saya kemudian membuka email kampus itu dan melihat bahwa prosesnya ternyata sudah berlangsung nyaris 3 minggu dan saya baru tahu 3 hari sebelum sesi pemaparan ide.

Namanya orang Indonesia, saya masih bisa bilang, “untungnya masih kebaca…”

Sesudah sesi pemaparan tersebut, masih banyak rangkaian kegiatan lainnya di berbagai kota di Indonesia dengan kemudian acara pamungkasnya di Bali pada tanggal 21-22 November 2022. Kebetulan sekali, saya berkesempatan mengikuti langsung kegiatan puncak Indonesia Development Forum 2022 tersebut.

Sebagai remah-remah birokrasi, saya tentu menginap di hotel yang berbeda dengan lokasi kegiatan. Dengan semangat tinggi, saya datang pagi-pagi untuk bisa mengikuti kegiatan IDF2022 tanpa kehilangan 1 sesipun. Maka pada pukul 07.00 WITA alias 06.00 WIB, yang notabene itu adalah jam saya keluar dari rumah pada hari-hari biasa, saya sudah tiba di Movenpick Resort Jimbaran, Bali.

Pernak pernik IDF 2022 menghiasi hotel. Saya melangkahkan kaki ke arah belakang untuk turun tangga 2 kali. Seketika makna development langsung terasa begitu melihat pintu masuknya yang sangat futuristik berikut ini:

@ariesadhar

Indonesia Development Forum 2022

♬ Film Favorit – Sheila On 7

Kegiatan ini sungguh kaya akan perspektif. Bagaimanapun, development memang harus berasal dari ragam ide dan perspektif. Pada sesi pembuka, peserta disuguhi dengan perspektif dari Prof. Ricardo Hausmann selaku Director of Harvard’s Growth Lab and the Rafik Hariri Professor of the Practice of International Political Economy at Harvard Kennedy School. Beliau memang dari jauh, tetapi ide yang disampaikan tidak hilang arah sama sekali dan dapat ditangkap oleh peserta kegiatan dengan optimal.

Salah satu keypoint dari paparan beliau adalah tentang transformasi dengan logika scrabble. Begini. Kalau kita main scrabble, mengubah BEAR ke ZEBRA yang secara jumlah berbeda (4 dan 5 huruf) jauh lebih mudah daripada mengubah BEAR ke LION. Soalnya, BEAR ke LION itu membutuhkan perubahan total terhadap 4 huruf yang ada. Sementara dari ZEBRA ke BEAR kan cuma nambah Z.

Pesan ini terkait dengan karakteristik komunitas yakni complexity, connectedness, dan dari market size. Hubungan yang dimaksud adalah seberapa dekat antar produk. Jika kita bisa membuat 1 produk, maka kita kembangkan produk lain yang terkait terlebih dahulu dengan logika BEAR ke ZEBRA.

Kemudian, sampailah pada sesi tanggapan oleh mantan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bapak Bambang Brodjonegoro, yang menggarisbawahi beberapa poin kunci dari paparan Prof. Hausmann.

Pertama, data menyebut bahwa Indonesia ada masalah pada diversifikasi produk. Kita bahkan kalah dari Vietnam dan Srilanka. Sebagai mantan pegawhy di pabrik ekstrak bahan alam berbasis riset awalnya saya tidak setuju. Akan tetapi, Pak Bambrod menyebut tentang minimnya Research and Development (RnD) di Indonesia. Dan rupanya itu baru disadari oleh beliau ketika berada di Kementerian Riset dan Teknologi.

Iklan sedikit, video saya pas kuliah tentang pentingnya RnD:

Jadi, kita itu cenderung menjadi tukangnya tapi kurang dalam product development. Dan saya kemudian baru sadar bahwa teman-teman saya yang pintar-pintar di kantor lama sebagian besar awet betul di posisinya ya karena itu memang sudah merupakan tempat terbaik. Sulit buat S3 Bioteknologi untuk pindah ke perusahaan yang mengedepankan riset. Cocok betul dengan yang disampaikan Pak Bambrod.

Sebagai produk kebijakannya di periode akhir Kementerian Ristek, Pak Bambrod memperkenalkan tax deduction, yang diharapkan mampu membuat perusahaan mau berinvestasi lebih pada RnD untuk pengembangan bisnis dan menghasilkan produk yang kompetitif. Data di Indonesia menyebut bahwa selera perusahaan untuk melakukan RnD masih terbatas. Kalaulah ada contohnya yang produktif antar lain adalah food processing. Industri jenis ini menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk RnD dan menghasilkan new product. RnD-nya pun nyambung dengan market research sehingga inovasi itu ada yang beli.

Sesudah menikmati hidangan, maka sesi beranjak ke pemaparan dari Bapak Suharso Monoarfa, Menteri PPN/Kepala Bappenas yang membuka pemaparannya dengan durasi Indonesia terjebak di middle income trap yang 29 tahun dan berbeda bermakna dengan negara tetangga seperti Korea Selatan, Jepang, Hongkong, dan Singapura yang lolos dari middle income trap pada durasi 18-20 tahun. Pak Menteri juga menyebut bahwa Cile bisa 14 tahun.

Pendorongnya apa dong? Jelas industri manufaktur!

Permasalahan mendasarnya dari dulu ternyata sama ketika ada perspektif baik pemangku kepentingan maupun periset bahwa, “Kalau lebih murah beli, kenapa kita harus bikin?”

Hal ini yang menyebabkan insinyur akhirnya bukan jadi maker malah jadi marketer. Ujungnya, kita menjadi generasi enigma yang hanya mengekor dan menjadi pemakai. Faktor stakeholder menjadi penting dan Pak Menteri menceritakan kisahnya di masa lalu tentang garbarata. Pengalaman ini jelas spesifik dengan pengalaman kerja beliau di PT Bukaka yang saat ini begitu mudah kita lihat begitu keluar dari pintu pesawat.

Intinya sih di dalam industri, penting untuk memahami di mana intervensi yang pas oleh pemerintah pada value chain, baik dalam fiskal, penguasaan teknologi, atau pilihan lain.

Kembali sedikit ke Pak Bambrod, ada 4 sumber pertumbuhan Indonesia yang sangat dekat yakni manufaktur (industri pengolahan), servis (khususnya ekspor jasa), ekonomi digital, dan ekonomi hijau. Nah, intervensi yang dimaksud lebih spesifik dapat dilihat pada paparan hari berikutnya.

Pada hari kedua, ruangan yang bernuasa futuristik itu tetap tidak berubah. Tetap memperlihatkan aura development dan tentu saja tetap ramai. Pada sesi ini, sebanyak 4 perwakilan dari CfS memberikan paparan singkat di hadapan Bapak Airlangga Hartarto, Bapak Agus Gumiwang Kartasasmita, dan di depan Bapak Suharso Monoarfa yang makbedunduk sudah ada di Jakarta. Padahal baru kemarin di depan situ memberikan pemaparan.

Konsep pada hari kedua adalah Pemerintah Mendengar. Jadi, muatan yang didengar itu dimaksudkan pada 4 CfS dari berbagai sudut pandang. Setiap ide tersebut kemudian dikomentari langsung oleh ketiga Menteri. Model-model begini baik juga jika diterapkan dalam forum-forum lainnya. Bapak Menteri PANRB, Bapak Komisioner KASN, dan Bapak Plt Kepala BKN bisa lho berlaku sama untuk sesi khusus ASN. Bapak Menteri Kesehatan, Ibu Kepala BPOM, dan Bapak Kepala BKKBN juga bisa hadir dalam sesi yang sejenis pada topik kesehatan.

Pada kesempatan pertama, Ibu Samintang dari SDG Center Unhas memperkenalkan soal kemasan berbahan dasar porang dan ekstrak daun bidara sebagai edible bioplastic. Transformasi ini tidaklah mudah, apalagi untuk mempengaruhi pola pikir dan pola hidup mitra. Akan tetapi, ada pendampingan pada level mikro, meso, dan makro yang menjadi penting.

Kalau dipikir-pikir, konsepsi pendampingan ini kan juga dilakukan oleh BPOM pada UMKM Pangan Olahan untuk memperoleh izin edar. Masuk target kinerja pula. Cuma kok ya tidak muncul. Mungkin pegawainya terlalu sibuk bekerja sehingga upaya menonjolkan ide-idenya jadi sedikit terlewatkan.

Dari perspektif industri, ada Bapak Ida Bagus Nama Rupa dari Bali Cokelat yang menekankan soal kompleksitas tadi. Jadi, bahan baku kakao ya dari Indonesia, dibeli secara kompetitif, lalu diekspor dalam bentuk produk jadi. Diperkenalkan juga dengan konsep edu-tourism.

Nah, model begini saya pernah ketemu di Tomohon, Sulawesi Utara. Namanya Tuur Ma’asering dan komoditinya adalah olahan minuman khas Minasa yaitu saguer. Jadi, sebenarnya ide-ide ini sudah ada di Indonesia. Tinggal digulirkan menjadi lebih optimal saja.

Bicara soal model industri, kawasan menjadi penting. Di IDF 2022 hadir Bapak Ngurah Wirawan dari Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Grand Batang City. KIT Batang sendiri boleh dibilang adalah kawasan industri masa depan di Indonesia. Saat ini, sejumlah perusahaan sudah memiliki tempat.

Luar biasanya, sejumlah industri penting terkait teknologi masa depan seperti Foxcon, Tesla, dan Volkswagen sudah antri d Batang. Hal ini menciptakan tantangan juga dalam hal kapasitas tenaga kerja sehingga dibutuhkan deteksi sejak awal untuk merancang sumber-sumber tenaga kerja agar match dengan teknologi maju yang masuk.

Bicara soal kawasan industri, hadir pula Bapak Yusliando dari Bappeda Kalimantan Timur. Ada 2 kawasan industri yang dikedepankan yakni Kariangau dan Buluminung. Kedua kawasan ini memiliki akses dekat dengan IKN Nusantara. Kaltim yang identik dengan penggalian dan pertambangan–karena kontribusi ekonominya mencapai 55%, tampaknya sudah bersiap untuk transformasi dengan target 45% dari industri.

Pada awal kegiatan, Sekretaris Kementerian PPN, Bapak Taufiq Hanafi menyebut bahwa, “IDF adalah forum lintas pemangku kepentingan yang mewadahi diskusi produktif dalam mengatasi berbagai isu strategis pembangunan Indonesia”. Hal ini yang kemudian tergambar pada sesi Pemerintah Mendengar.

Sesudah pemaparan dari pemenang CfS, Menteri Perindustrian memberikan tanggapannya. Ditekankan oleh Menperin bahwa terdapat 7 paradigma baru industrialisasi yakni digitalisasi, renewable energy, hilirasi, green industry, supply chain, perluasan industri di luar jawa, dan kesiapan SDM industri.

Sejalan pula dengan yang disampaikan oleh Pak Bambrod perihal food processing, terdapat benang merah dengan paparan Menperin perihal 7 sektor utama industri di Indonesia yakni makanan dan minuman, tekstil dan busana, otomotif, kimia, elektronik, farmasi serta alat kesehatan. Kontribusi sektor ini mencapai 70% PDB dan ekspor, serta berkontribusi pula pada 65% tenaga kerja. Ternyata saya sebagai mantan budak korporat, tadinya adalah bagian yang berkontribusi pada PDB negeri ini ya.

Ada tambahan informasi dari Menperin perihal P3DN. Dalam waktu dekat akan muncul regulasi perhitungan TKDN khusus industri kecil sehingga pelaku usaha dapat melakukan self-assessment dari produknya, kemudian diinput, dan dalam waktu dekat alah rilis sertifikasi TKDN. Prosesnya free of charge alias gratis-tis-tis. Selain itu, untuk mendorong belanja pemerintah, maka sebanyak 1 hingga 1,5 juta produk akan ditargetkan masuk ke e-katalog.

Sebagai wakil dari Presiden, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Bapak Airlangga Hartarto memberi penekanan mengenai digitalisasi dan dampaknya pada revolusi industri dan disrupsi. Untuk itu, Generasi Z dan milenial diharapkan dapat mengoptimalkan digitalisasi. Salah satu syaratnya adalah negara yang demokratis, kuat, dan bersih. Ide-ide yang ada hendaknya segera dimatangkan dan dikolaborasi. Kolaborasi tidak hanya berhenti pada kontribusi ide, tetapi juga sampai pada tahapan eksekusi.

Sebenarnya ada sesi-sesi khusus yang lebih mendetail untuk ide-ide tersebut, tapi kok ya nanti bakal terlalu panjang untuk sebuah posting blog. Lebih lengkapnya dapat kita simak di YouTube Bappenas RI berikut ini:

Sekali lagi, saya sangat berharap skema semacam ini diberdayakan oleh K/L lain dalam ruang lingkup kinerjanya masing-masing. Bukan apa-apa, biasanya saya mengikuti forum itu judulnya konsultasi publik, tapi publiknya dikasih sesi 10 menit karena presentasi instansi pemerintahnya kepanjangan. Sementara dalam forum IDF ini, peserta CfS diberi ruang yang luas dan bahkan beberapa kali kesempatan untuk memaparkan idenya.

Selamat untuk Bappenas atas kesuksesan IDF 2022. Semoga tahun depan ada lagi, biar saya ikutan lagi. Amin~

Bagaimana Jika Kita Berjumpa Anak Ber-DNA Dajjal di Playground?

Sedang meluncur di Twitter, saya bertemu twit lucu yang satu ini. Lucu karena sangat relate dengan kehidupan saya.

Saya termasuk rajin menemani anak main ke playground. Sebut sajalah nama-nama playground zaman sekarang, mulai dari Kidzilla, Zoomov, Kidzoona, dan sejenisnya. Nyaris semua sudah. Walaupun harga tiketnya seharga sekali fullday meeting, tapi apa sih yang nggak kalau buat anak semata wayang?

Tentu ada masa vakum saat Isto tidak playground. Kurang lebih 2 tahun lamanya. Sebab sejak Maret 2020 dia benar-benar dikunci dari dunia luar. Baru main lagi sekitar pasca Gelombang Delta karena memang sayanya juga sudah mau masuk kerja lagi. Tapi itu juga ke Jakarta Aquarium. Kalau ke Kidzilla sih sekitar November. Bermula dari apartemen yang pemadaman listrik dan saya tidak punya pilihan lagi untuk menjaga anak sembari Zoom, maka saya bawalah ke Kidzilla.

Dan memanglah akan selalu ada saja anak ber-DNA seperti yang disebut di twit tersebut. Dan sejujurnya saya tidak pernah menyalahkan anaknya. Anak mah tergantung pendidikannya. Dan model begitulah yang terjadi. Biasanya, orangtua dari anak semacam ini yang akan selalu berkata, “namanya juga anak-anak” ketika anaknya menyakiti anak saya dan anak-anak lain di sekitarnya.

Padahal, kalau lagi di playground, saya selalu berada di jarak aman dengan Isto. Sekurang-kurangnya, untuk memastikan bahwa dia akan bisa diamankan jika cari perkara. Tapi sejauh ini, cenderung aman-aman saja. Ketika kemudian suasana sudah tidak baik dengan kehadiran anak-anak yang tentunya berpendidikan baik karena masuk playground itu jelas nggak murah, saya langsung menarik anak saya sudah tidak kenapa-kenapa.

Paling enak sih sebenarnya kalau ada bapaknya. Bapack-bapack pada dasarnya enggan untuk konfrontasi. Secuek-cueknya bapack-bapack menemani anak sambil lihat hape, biasanya selalu tanggap kalau anaknya mengganggu anak lainnya. Itu dia kalau seorang anak sedang bertanya sama bapaknya, saya masih bisa menahan Isto senakal apapun anak itu. Cuma kalau sebaliknya, mending saya bawa jauh-jauh.

Tapi ya nggak selalu demikian, sih.

Kemarin dari Jakarta ke Medan, saya sebelahan persis sama ada lah gitu anak semacam ber-DNA demikian. Sudahlah nggak pakai masker, ini anak juga petakilan nggak karuan di dalam pesawat. Pakai tidur segala dengan kaki mengusik kaki saya. Eh, begitu saya lihat, bapaknya malah turu. Ini salah satu contoh Bapak Dajjal memang~

Saya sebalnya adalah sudah tahu bawa anak, ya mbok preparasi. Saya pas sama Isto dari Solo itu benar-benar berusaha menaruh Isto antara jendela dan saya. Biar nggak mengusik orang lain kalau dia petakilan. Caranya? Ya kalau memang harus beli add-on saat pesan tiket ya lakukanlah. Jangan terus bikin anak jadi pengganggu orang lain.

Bulan Tanpa Posting

Dari dulu, blog ini selalu ada 1 posting minimal sebulannya. Dan ini baru sadar sudah 31 Agustus 2022 tapi belum ada post. Saya sungguh mikir-mikir untuk mempertahankan blog pakai dot com begini ketika mengisinya saja sudah tidak sempat. Dulu dia bisa menghidupi diri sendiri, sekarang sudah tidak. Ya bagaimana orang tertarik pasang konten berbayar kalau diisi saja tidak~

Jadi ya sudah, ini post memang sengaja dibuat biar sekurang-kurangnya ada konten di bulan Agustus 2022. Semoga sih ke depan nggak seperti bulan ini. Heuheu.

CU Hati Kudus dan Jasa Besarnya dalam Transformasi Kehidupan

Kalau para pembaca berada di Kota Bukittinggi, cobalah mampir sejenak ke Jalan Bagindo Azischan. Lokasinya persis di belakang Gereja Katolik Santo Petrus Claver yang letaknya di Jalan Sudirman. Jalan Bagindo Azischan dapat diakses dari Hotel Karisma atau juga Swalayan Masyitah.

Di lokasi tersebut, persis di sebelah gerbang masuk kompleks Yayasan Prayoga yang berisi 4 sekolah dari 4 tingkat pendidikan, terdapat sebuah tempat bernama HK Mart. Sekilas terlihat seperti swalayan biasa saja. Akan tetapi, berbicara soal HK maka ada sejarah yang sangat panjang di baliknya.

Pertama-tama, kita harus kembali ke tahun 1981 alias lebih dari 40 tahun yang lalu. Di bulan November, Pastor Yohanes Halim bersua dengan Bapak Trisna Ansarli dari Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia (BK3I) dan memperkenalkan tentang Credit Union (CU). Sebulan kemudian, Pastor Yohanes Halim menyampaikan ide tentang CU kepada umat di Paroki Santo Petrus Claver Bukittinggi. Ide koperasi yang diusung oleh konsep CU tampak cukup menarik bagi umat yang kemudian ditindaklanjuti dengan kursus dasar dan studi banding ke beberapa CU yang sudah ada di Sumatera Utara.

Mengacu pada skripsi senior-jauh-banget saya di Universitas Sanata Dharma, Kak Elysabeth Desmawati, dijelaskan bahwa sekembalinya dari studi banding, tepatnya tanggal 2 April 1982 diadakanlah pemilihan pengurus CU di Bukittinggi. Terpilih Bapak N. Mariyo sebagai Ketua Dewan Pimpinan dan salah satunya adalah Bapak M. Sumarno, BA. sebagai anggota. Bapak Mariyo adalah bapaknya Kak Desmawati dan Bapak Sumarno adalah bapak saya~

Pada tahun 1982 tersebut terbentuknya CU yang diberi nama Hati Kudus. Nyambung kan dengan ‘HK’ yang tadi disebut di awal tulisan ini?

Demikianlah kemudian CU Hati Kudus dibentuk dengan modal awal Rp350.000,00 dari 51 orang anggota dengan uang pangkal Rp200, uang simpanan pokok Rp1.000, dan uang simpanan wajib Rp200, serta uang simpanan sukarela. Sampai dengan tahun 2001, modalnya telah berkembang menjadi Rp365.494.675,00. Terakhir saya memutakhirkan data dari bapak saya, modal tersebut sudah jauh lebih besar jumlahnya.

Sebagaimana diketahui bahwa koperasi melandaskan kegiatan berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi memiliki sejarah panjang di negeri ini dan benar-benar bertumbuh dari rakyat. Mengacu pada dokumen Bappenas, pada tahun 1896 tersebutlah seorang Pamong Praja bernama Patih R. Aria Wiria Atmaja dari Purwokerto yang mendirikan bank untuk priyayi. Dirinya terdorong oleh keinginan menolong para pegawai yang makin menderita karena terjerat lintah darat yang memberikan pinjaman berbunga tinggi.

Seorang asisten residen Belanda bernama De Wolffvan Westerrode kemudian memberi masukan berdasarkan konsep koperasi kredit di Jerman. Terlepas dari intervensi Pemerintah Hindia Belanda, koperasi di nusantara tetap bertumbuh hingga kemudian muncul pengaturan-pengaturan. Koperasi menjadi semangat ekonomi yang dibangun oleh gerakan Budi Oetomo pada tahun 1908, Serikat Dagang Islam pada tahun 1927 hingga Partai Nasional Indonesia tahun 1929.

Selepas penjajahan, tepatnya 12 Juli 1947 dilakukan Kongres Koperasi pertama di Indonesia bertempat di Tasikmalaya. Hari inilah yang kemudian ditetapkan sebagia Hari Koperasi Indonesia dan terus diperingati hingga kini.

Konsep murni koperasi sejatinya menjadi hal yang mendasari CU Hati Kudus. Kak Desmawati menyebut bahwa gereja Katolik Santo Petrus Claver di Bukittinggi terdiri atas beberapa suku yang kemudian berkelindan membetuk kebutuhan berkoperasi. Pertama, ada suku Batak yang lebih tepatnya dari Tapanuli Utara. Para perantau mulai berdatangan ke Bukittinggi tahun 1970-an. Mereka umumnya kemudian bekerja sebagai pedagang keliling yang mengkreditkan barang-barang rumah tangga dari kampung ke kampung. Sebagian lainnya menjadi buruh kasar, loper koran, penjaja sayur mayur keliling, hingga tukang angkut barang. Sebagian dari elemen ini cukup mapan, tapi sebagian lainnya tidak dan bahkan cenderung prasejahtera. Kedua, ada suku Tionghoa yang memang sudah ada sejak lama. Mereka memiliki toko di pusat kota dan aktif di gereja. Sayangnya, kebanyakan anak-anak dari suku ini melanjutkan studi ke luar kota begitu lepas sekolah menengah. Dalam 1 tahun, pemuda-pemudi yang meninggalkan kota bisa mencapai 70 anak secara total dengan sebagian besar dari suku Tionghoa. Pada saat naskah referensi itu ditulis yakni tahun 2001, maka saya termasuk 1 dari 70 anak yang meninggalkan Kota Bukittinggi untuk menempuh pendidikan di luar kota. Ketiga, suku Jawa. Terlepas dari sisa-sisa pasukan penumpasan Pemberontakan PRRI–yang saya kenal beberapa diantaranya dan memang kebetulan sudah meninggal, hadir pula kalangan guru, karyawan, dan sejumlah pegawai negeri.

Nah, dalam hidup bermasyarakat terjadi campur baur ketiga suku utama ini. Penting untuk dicatat bahwa sesuai dengan konsep Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah maka sejatinya untuk suku Minangkabau adalah beragama Islam sehingga keterlibatannya di CU Hati Kudus yang merupakan cabang dari gereja tentu menjadi tidak lekat. Walau begitu, bukan berarti terpisah sama sekali. Bapak yang jaga sekolah bersimbiosis mutualisme mulai dari jualan minuman sampai kadang-kadang dapat nasi Padang konsumsi juga~

Kelindan suku Batak, Tionghoa, dan Jawa itu terlihat sekali pada dewan pimpinan awalnya. Ketua Pak Mariyo (Jawa), Wakil Ketuanya Pak Turnip (Batak), dan Anggotanya ada Ibu Lelyana (Tionghoa). Saya sendiri bertumbuh dalam keaktifan bapak saya di CU Hati Kudus ini dan melihat sekali dinamika antar suku yang menarik dan sangat mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika demi membantu sesama.

CU Hati Kudus ini pada mulanya hanya buka sekali sebulan. Kalau tidak keliru, bukanya di minggu ketiga saja persis di hari Minggu. Proses penyetoran simpanan wajib, simpanan pokok, dan simpanan sukarela terjadi pada 1 hari itu saja termasuk juga proses bayar pinjaman berikut bunganya. Makin lama, kebutuhannya semakin besar sehingga kemudian butuh 2 kali seminggu dan lantas bertambah lagi.

Sebagai bagian dari pengurus dan sebagai PNS zaman dahulu sudah tentu bapak saya menjadi pelanggan setia fasilitas pinjaman di koperasi kredit yang turut didirikannya ini. Sudah tidak terhitung lagi kontribusi ‘utang CU’ pada keberhasilan pendidikan saya dan juga adik-adik. Belum lagi, karena skemanya koperasi, maka semakin banyak kita berkontribusi lewat transaksi, semakin banyak juga dividen alias Sisa Hasil Usaha (SHU).

Percayalah, hari-hari ketika Rapat Anggota Tahunan (RAT) di bulan Februari merupakan salah satu momen kegembiraan dalam hidup orangtua saya. Pertama, karena akan ada SHU yang dibagikan dan jumlahnya boleh dibilang cukup lumayan. Kedua, karena bapak saya juga akan menerima ‘gaji’ sebagai pengurus CU. Iya, kerjanya sepanjang tahun tapi gajiannya setahun sekali saja. Ya, namanya juga sampingan~

Melalui koperasi, bapak saya juga sudah berkeliling Sumatera Barat untuk mengajar mengenai koperasi kredit. Beliau memang guru, sehingga semangat mengajarnya itu selalu ada bahkan ketika sudah pensiun dan menunggu jadwal Mamak saya pensiun.

Saya juga mengenal salah satu nama yang menjadi Ketua Badan Pengawas CU Hati Kudus saat pendiriannya: J. Simamora. Dia adalah Paktua saya yang 10 tahun sesudah mendirikan CU Hati Kudus mutasi ke Kota Bandung, tepatnya tinggal di Kota Cimahi.

Ketika bersua beliau semasa hidupnya, Pak Sim–panggilan akrabnya–kerap berkisah soal pendirian CU tersebut dan bagaimana dampak baiknya bagi anggota. Beliau juga berkisah mengenai upaya membangun koperasi serupa di Cimahi dan sudah mulai ada gerakan. Saya tentu tidak update lagi sejak tahun 2017 ketika beliau meninggal dunia seperti saya tulis di post ini.

Saya sendiri juga merupakan anggota CU Hati Kudus secara nama dan secara uang. Baru berhenti ketika orangtua saya menyelesaikan tugas di Bukittinggi dan kemudian beralih ke Jawa untuk mengisi masa purnabakti. Saya juga mencicil laptop pertama dan sepeda motor pertama saya lewat CU. Dari sisi bunga, penawaran di koperasi kredit sangat kompetitif. Belum lagi ketika kontribusi berupa pinjaman juga diperhitungkan sebagai dividen kala RAT. Enaknya CU ya itu, tidak ada keuntungan buat entitas atau orang per orang. Setiap keuntungan kemudian dibagi menjadi sisa hasil usaha. Dan karena dikembangkan bersama, maka transparansi menjadi kunci. Tuh lihat sendiri pada tahun 2015 doorprize-nya sudah sepeda motor. Hal yang tidak terjadi 10 tahun sebelumnya. Pertumbuhannya drastis sekali, kan?

Pada tahun 2022, hari jadi Gerakan Koperasi Indonesia mengambil tema “Transformasi Koperasi untuk Ekonomi Berkelanjutan” dengan gelora gerakan “Ayo Berkoperasi”. Di era modern ini, transformasi koperasi jelas menjadi penting karena model perekonomian juga berubah. Sebut saja pergerakan di pasar saham yang menggaet mayoritas milenial atau pasar kripto yang menawarkan high risk high return. Belum lagi dengan format-format lainnya.

Berkoperasi sejak lama telah menjadi kisah sukses. Seperti saya sebut tadi, sekurang-kurangnya dibuktikan dari saya sendiri yang uang kuliahnya berasal dari kombinasi pinjaman ke CU untuk semester ganjil dan SHU CU untuk semester genap. Dan teman-teman masa kecil saya juga demikian. Ada yang sudah jadi Pejabat di Kementerian Keuangan juga dan pas kecilnya juga saya bersua Mamaknya lagi nyetor di kantor CU.

CU Hati Kudus sejak tahun 1982 telah menjadi pendukung transformasi banyak manusia, mulai dari peningkatan kesejahteraan hingga derajat melalui pendidikan. Hal itu kemudian menjadi wujud nyata peran koperasi. Dan agar koperasi juga tidak menjadi modus yang merugikan masyarakat sejatinya peran Kementerian Koperasi dan UKM untuk pengawasan juga menjadi sangat krusial. Di era deregulasi, peran pemerintah justru menjadi sangat terdepan. Ingat bahwa paradigma administrasi publik telah menjelma jadi New Public Service (NPS) dengan fokusnya adalah citizen, bukan sektor bisnis belaka.

Ayo Berkoperasi!

WIB-Sentris Era Zoom Meeting yang Menggemaskan

Beberapa waktu yang lalu, saya dinas ke Ambon. Itu adalah kali pertama saya sejak 2015 berdinas di zona waktu +2. Tahun 2015 itu saya dinas ke Jayapura. Yah, memang nasibnya jarang-jarang ke WIT. Masanya tentu beda banget. Hari-hari ini adalah era Zoom Meeting dan tentu saja dinas ke luar kota tidak menghalangi agenda untuk disuruh Zoom Meeting.

Kala itu bulan puasa, jadi seharusnya kantor selesai jam 15.00 WIT. Saya baru sadar bahwa 15.00 WIT itu adalah 13.00 WIB. Jam favorit orang WIB untuk mengundang rapat. Ah, jangankan itu. Undangan rapat jam 15.00 WIB pun sering, kan? Hal itu berarti rapatnya adalah 17.00 WIT. Itu jamnya orang pulang kantor.

Photo by Anna Shvets on Pexels.com

Nah, kebetulan banget, beberapa hari lalu saya mendapat tugas untuk nge-desk salah satu kantor di WIT. Karena satu dan lain hal terjadi perubahan jadwal yang menggemaskan (karena makin jadi tren di era Zoom, seolah-olah semua orang itu jadwalnya kosong jadi jadwal bisa digeser seenaknya). Walhasil, daripada pening, saya sebagai Ketua Tim memutuskan untuk sesekali orang WIB di kantor pusat mengikuti jadwalnya orang WIT.

Yha, saya mengajukan jadwal desk itu jam ENAM PAGI WAKTU INDONESIA BARAT. Saya belajar dari upacara Hari Lahir Pancasila yang berpusat di Ende (WITA) dan kemudian memaksa para pejabat di Jakarta bisa upacara pukul 06.30 pagi. Dalam skala yang lebih kecil, desk yang saya lakukan dapatlah berupa penyesuaian itu.

Kalau teman-teman yang di WIT itu bisa Zoom Meeting nyaris tiap sore ke malam, masak sih orang-orang WIB yang katanya orang Pusat itu nggak bisa bikin Zoom Meeting mengikuti jadwal kantor di WIT. Ketika saya mulai jam 6, itu di Papua kan sudah jam 8. Sudah jam kantor. Sebuah penyesuaian yang menarik.

Begitulah rapat-rapat Zoom ini dalam satu sisi memudahkan, sih. Banyak orang bisa berkumpul dan bisa merapat dengan cepat. Cuma masalahnya saking mudahnya, jadi bikin keenakan. Dikit-dikit rapat. Rapat-rapat dikit. Teman-teman di daerah itu paling ngerasain, lah, sebab teman-teman di unit vertikal di daerah maupun juga Pemda berhadapan dengan begitu banyak program dari Pusat. Kalau Pusatnya sembrono bikin rapat karena begitu mudahnya langganan Zoom, korbannya ya daerah. Paling gawat adalah kalau lupa atau nggak bisa mengikuti, yang salah bukan yang mengundang, tapi yang nggak mengikuti.

Sejujurnya, saya berpikir harus ada pembatasan. Tidak lagi setiap unit kerja bisa punya 4-5 akun Zoom yang bisa digunakan seenaknya. Harus ada keterbatasan ruang rapat yang kemudian membuat pengaturan pertemuan menjadi realistis bagi yang diundang untuk menghadiri. Zoom 2, 3, atau 4 itu nggak akan ada faedahnya. Serius, deh. Otak ini nggak bisa melakoni lebih dari satu pekerjaan yang sama persis dalam satu waktu.

Saya nggak tahu dan nggak peduli tentang apapun yang akan dipikirkan orang tentang keputusan saya kemarin bikin desk jam 6 pagi yang kemudian bikin repot banyak orang WIB. Mulai dari yang buka Zoom, mengawal room, dan lain-lain. Saya sih lebih fokus pada upaya memberi pengalaman baru sekaligus sesekali menciptakan kondisi terbalik. Nggak harus WIT selalu mengikuti WIB. Sesekali, WIB bisa mengikuti jadwalnya WIT.

Realistisnya sih rapat itu mulai dari 8 WIB (10 WIT) dan bisa diakhiri rentangnya pada 14 WIB (16 WIT). Sebenarnya bisa, kalau yang Pusat itu nggak egois. Wk.

Perjalanan Sentimentil di Bandung

Beberapa hari yang lalu saya dinas ke Bandung. Karena satu dan lain hal, saya naik travel dari TangSel ke Bandung kurang lebih pukul 9 malam. Walhasil, baru sampai ke Bandung ya sekitar pukul 00.00. Saya cukup tenang karena kota tujuannya cukup familar. Jadi ya masih beranilah untuk order ojol ke hotel tempat dinas. Lha wong dulu pernah saking gebleknya saya naik Argo Parahyangan paling malam ke Cimahi, eh ketiduran dan berakhir di Stasiun Bandung sehingga pukul 2 atau 3 pagi harus naik ojol plus taxol ke tempat mertua.

Ndilalah karena saya naik Cititrans, maka tujuan akhirnya adalah Dipati Ukur sehingga dari keluar tol di Pasteur menuju lokasi harus lewat RS Borromeus. Tengah malam lewat di depan RS Borromeus itu sungguh menjadi sesuatu yang sentimentil buat saya.

Saya ingat sekali 5 tahun yang lalu berjalan kaki dari penginapan di sekitar RS Borromeus untuk mengantarkan ASIP ke anak saya yang harus ngekos ekstra di RS karena kuning. Jumlah ASI yang saya antarkan itu nggak banyak. Tipis sekali lah plastiknya. Hanya saja, buat kami, ASI itu sangat berharga. Hari itu posisinya saya sempat pulang ke Jakarta untuk kerja karena cutinya habis dan balik lagi karena weekend.

Saya mengantarkan ASIP itu sekitar pukul 2 pagi. Satu hal yang saya ingat, sesudah mengantarkan ASIP itu, saya terlelap di lobi RS Borromeus selama sekitar 1 jam dalam posisi duduk si sofa. Kuesel biyanget, bos! Hal-hal semacam ini kadang-kadang bikin rindu untuk punya anak lagi. Namun saya mencoba berkaca, apakah jika nanti ada bayi lagi saya akan sekuat itu? Belum lagi ada Isto yang tentu juga harus diperhatikan.

Naik ojol melewati jalanan tempat saya dulu tengah malam mengantarkan ASIP menjadi perjalanan yang cukup sentimentil apalagi ketika melihat bahwa anak bayi yang dianterin ASIP itu sekarang sudah mau ulang tahun yang ke-5, sudah memberikan begitu banyak kegembiraan, terlepas dari begitu banyak amarah saya yang tercurah padanya.

“Nggak Kerasa Ya, Sudah Gede…”

Saya seringkali mempertanyakan ucapan yang menjadi judul tulisan ini ketika ada orang tua update status soal anaknya. Saya sangat yakin, malam-malam penuh begadang ketika anak masih bayi itu adalah sesuatu yang sangat terasa. Saya paling tidak cocok dengan ucapan itu dalam periode Maret 2020 sampai Agustus 2021 karena saya benar-benar membersamai anak saya 24/7 soalnya saya kuliah dari rumah dan ndilalah daycare anak saya juga tutup dan menjelma jadi laboratorium swab.

Nah, belakangan ini, anak saya yang sudah mau 5 tahun memperlihatkan kecepatan kemajuan dalam hal apapun. Saya ingat benar pas kami pindah di rumah sekarang, kepalanya baru nongol sedikit kalau dibandingkan dengan meja. Eh, sekarang sudah jauh di atas meja. Sudah bisa naruh dagu di meja gitu dah.

Paling berasa sih soal pup. Kemarin saya nonton Tekotok soal nyebokin anak. Asli saya mendadak lupa secara teknis caranya nyebokin anak. Padahal dulu saya paling jago soal itu. Termasuk segala drama pup mulai dari AEON sampai di atas langit Lampung kala naik Garuda Indonesia. Sekarang, anaknya sudah bisa pup sendiri. Sudah bisa buka celana, pasang penutup pup di kloset, lalu duduk dan baru manggil saya kalau pup-nya selesai.

Iya, se-nggak berasa itu ketika skill yang dulu saya punya kemudian bisa-bisanya saya lupakan. Skill yang pernah bikin saya dipuji belasan ibu-ibu karena beratraksi mengganti popok Isto umur 5 bulan. Pujian yang bikin saya kaget karena ternyata banyak juga bapak-bapak yang blas nggak mau gantiin popok anaknya.

Apakah nggak berasa? Hari-hari ketika pup-nya berserakan dalam transisi diapers ke cawet itu terjadi kok. Riil. Berasa bangetlah ngelap pup berserakan di rumah maupun di lantai toilet kontrakan. Hanya saja begitu kejadian sekarang, rasanya kok tampak tidak berasa.

Kemarin ketika saya WFH karena pengasuh anak belum balik, si Isto juga bisa betul mencari aktivitas sendiri tanpa mengusik saya yang Zoom Meeting sana-sini. Bahkan ujug-ujug jadi gambar dinosaurus se-pemandangannya. Sudah secepat itu. Saya jadi ingat susahnya mengajari dia untuk mewarnai sesuai dengan garis lebih dari setahun lalu. Eh, sekarang sudah rapi benar warnanya.

Demikianlah hidup. Pas dilakoni berasa bener. Pas sudah lewat yo ternyata bablas dan tampak nggak berasa. Hehe.

Mudah Lelah Saat Perjalanan Kereta Api? Coba Atasi dengan Tips Berikut!

Untuk area pulau Jawa, kereta api merupakan alat transportasi yang paling diminati. Sebagian besar penduduk pulau Jawa memilih untuk naik kereta api jika ingin berpindah dari satu provinsi ke provinsi lain. Selain karena aman dan nyaman, harga tiket kereta api juga lebih murah dari harga tiket pesawat.

Satu lagi, tidak ada kata macet ketika bepergian dengan kereta api. Jadi, kita bisa nyampe ke tujuan dengan tepat waktu. Sekarang ini, kamu bisa membeli tiket kereta api lewat aplikasi digital, seperti Traveloka. Misalnya, kamu ingin membeli tiket kereta api Bandung – Jakarta. Kamu tinggal buka Traveloka dan bisa cek harga tiket kereta Bandung Jakarta.

Namun, saat bepergian dengan kereta api, satu hal yang sering kali mengganggu perjalanan adalah rasa lelah. Ya, karena perjalanan jauh, wajar kiranya rasa lelah datang. Akan tetapi rasa lelah itu bisa di manage dengan baik supaya kondisi tubuh tetap fit hingga sampai tujuan. Berikut ini ada beberapa tips untuk mengatasi rasa lelah ketika perjalanan menggunakan kereta api:

Ngobrol dengan Orang Sebelah Bangku

Guna menghilangkan rasa lelah di perjalanan, kamu bisa mengisi waktu dengan ngobrol bersama orang sebelah bangku. Banyak hal yang bisa jadi bahan obrolan, apalagi sama-sama baru kenal.

Photo by veerasak Piyawatanakul on Pexels.com

Ngobrol bersama penumpang lain tidak hanya menghilangkan rasa lelah, tapi juga sebagai ajang untuk memperbanyak teman. Akan menyenangkan apabila ada ilmu yang didapat dari pembicaraan tersebut.

Untuk memulai pembicaraan, banyak hal yang bisa kamu lakukan, seperti menanyakan kemana tujuannya, asalnya dari mana, atau hal lain yang membuat dia nyaman dan mau ngobrol bersama kamu.

Menikmati Pemandangan Sekitar

Jalur kereta api sering kali berada di daerah sekitar pedesaan, daerah perbukitan, dan sawah. Makanya jangan heran kalau naik kereta api, kita pasti akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang indah.

Menikmati pemandangan tersebut tentu akan membuat kamu merasa lebih nyaman, rileks, dan jauh dari rasa lelah. Selain sebagai alat untuk melepas rasa lelah, ini juga bisa menjadi cerita seru bagi sanak saudara di kampung halaman.

Menonton dan Mendengarkan Musik

Kemajuan teknologi membuat orang lebih mudah untuk mendapatkan hiburan. Hanya dengan menggunakan smartphone kita sudah bisa menikmati hiburan seperti menonton, membaca, dan mendengarkan musik. Ini bisa dimanfaatkan untuk mengatasi rasa lelah saat kamu di dalam kereta api.

Main Game

Selain menonton, membaca, dan mendengarkan musik, hiburan lain yang bisa kamu nikmati di kereta api adalah main game. Ya, saat ini ada banyak jenis game yang bisa dimainkan lewat smartphone baik yang harus menggunakan konektivitas atau pun tidak. Jika kamu bepergian dengan teman atau keluarga, kamu bisa mengajak mereka untuk main game bersama.

Tidur

Jika sudah bosan ngobrol, nonton, dan mendengarkan musik, berarti sudah saatnya kamu menghilangkan rasa lelah dengan tidur. Tidur sejenak juga akan menghilangkan rasa bosan dan membuat kamu menjadi lebih segar. Satu hal yang perlu diingat ketika tidur di transportasi umum, jangan untuk meletakkan barang berharga di tempat yang tidak bisa disentuh oleh orang lain.

Meregangkan Otot Kaki, Tangan, dan Leher

Duduk terus menerus selama perjalanan di kereta api tentunya akan membuat tubuh merasa lelah. Oleh karena itu kamu perlu meregangkan otot-otot kaki, tangan, dan leher.

Peregangan ini bisa kamu lakukan dengan cara memijat sendiri kaki dan tangan kamu. Sementara di bagian leher, kamu bisa melakukan stretching secara perlahan, seperti tengok kanan kiri secara bergantian.

Jalan-Jalan di Dalam Kereta

Selain bikin lelah, duduk terus menerus selama perjalanan juga akan membuat tubuh terasa kaku. Hal ini tentu sangat tidak mengenakkan. Kamu butuh melakukan aktivitas yang menggerakkan semua anggota tubuh, misalnya berjalan. Kamu bisa berjalan menuju ke toilet atau berjalan di lorong kereta api sambil menikmati pemandangan di sekitar. Meskipun jarak tempuhnya tidak jauh, tapi jika sering dilakukan, ini akan membuat tubuh menjadi lebih rileks dan segar.

Menjaga Pola Makan

Untuk menjalani perjalanan jauh dengan kereta api butuh kondisi tubuh fit. Karena kamu akan duduk terus menerus selama di perjalanan. Meskipun hanya duduk, tapi jika dilakukan dalam waktu yang lama itu akan berdampak buruk ke tubuh.

Di luar bulan puasa, sangat disarankan untuk banyak minum ketika duduk lama di perjalanan. Namun, jika kamu melakukan perjalanan di bulan puasa, kamu tetap butuh cairan yang banyak. Oleh karena itu, kamu harus banyak minum saat berbuka puasa dan sahur.

Selain kebutuhan cairan, suplai nutrisi ke tubuh juga harus dijaga selama di perjalanan. Kamu harus pintar-pintar menjaga makan supaya kondisi tubuh tetap fit.

Itulah beberapa tips mengatasi lelah selama perjalanan kereta api. Kamu bisa menerapkan tips ini untuk menjaga tubuh tetap fit selama di perjalanan. Untuk informasi terkait tiket kereta Bandung-Jakarta, kamu dapat mengaksesnya melalui laman resmi Traveloka atau langsung mengunduh aplikasinya, baik melalui Play Store atau pun App Store.

Batal Nikah

Sejujurnya, setelah menikah, saya suka menganggap bahwa dinamika yang ada di level anak muda yang belum menikah itu remeh. Hal yang dulu bisa bikin saya galau seharian itu ternyata begitu dipaparkan dengan peliknya hidup rumah tangga di tengah himpitan kebutuhan itu ternyata nggak ada apa-apanya.

Nah, sampai kemudian saya mendapati bahwa ada salah seorang bilang ke saya bahwa dia batal menikah. Seseorang yang saya ketahui sudah sempat cuti beberapa hari untuk mengurus pernikahannya. Biasalah, pekerja Jakarta tapi kampungnya di salah satu kota di Jawa. Sudah tunangan, sudah ada fotonya. Dan lain-lain begitulah. Intinya sih batal menikah.

Pada titik ini saya tentu tidak lagi bisa menganggap sepele. Ini soal pembatalan vendor, pembatalan ke KUA, dll. Bayangkan sudah mengurus ina-inu ke KUA, repot minta ampun, lalu datang lagi untuk membatalkannya. Tentu saja saya tidak pernah menghadapi permasalahan semacam itu. Level keparahan pada persiapan pernikahan saya adalah berantem sampai nangis di depan gereja persis sesudah mengurus buku panduan misa.

Lebih mengesalkan lagi adalah bahwa penyebab batal itu berasal dari orang ketiga. Orang ketiga yang tentunya muncul belakangan di akhir proses separo LDR dengan total jenderal hubungan 5 tahun. Wow. Percayalah, sebagai laki-laki, saya malu sendiri mendengar kelakuan orang itu sampai kemudian membuat orang yang saya kenal tadi harus balik ke rumah lagi guna mengurus pembatalan hanya 1 bulan sesudah mengurus pernikahan.

Cuma, kalau saya pikir-pikir lagi, mendinglah batalnya sekarang. Kalau sempat bablas sampai nikah perkaranya tentu berlipat lebih sulit. Apalagi kalau yang menikah itu PNS. Pertama, misalkan mau cerai saja prosedurnya panjang dan ribet serta nggak cocok untuk suasana batin orang yang mau cerai, yang tentu saja pengen semuanya cepat kelar. Kedua, bisa sempat ada anak, maka akan ada hal lain yang tentu akan menjadi bahan pikiran. Dan banyak hal lainnya.

Batal sekarang mungkin bikin galau sampai nangis. Tapi batal sekarang boleh jadi adalah kunci kebaikan di masa depan. Untuk tidak terjebak di hubungan pernikahan yang boleh jadi tidak akan seindah yang dibayangkan. Bagaimanapun, pernikahan itu akan menghadirkan begitu banyak keindahan tapi juga pada saat yang sama menghadirkan begitu banyak masalah yang boleh jadi tidak akan ada ketika tidak menikah.