Cerita Dari Theresia

Sebenarnya dalam periode perjalanan #KelilingKAJ, Gereja ini termasuk sering saya datangi. Cuma karena dekat dengan bakal kesini-sini lagi juga, kok mulai malas menuliskan, bahkan mengambil foto juga malas. Ini juga kalau Keuskupan Agung Jakarta kagak mendung pekat, saya juga nggak buka laptop dan menulis tentang #KelilingKAJ ke Gereja Theresia ini.

Yes, Gereja di bawah lindungan Santa Theresia ini merupakan salah satu generasi Gereja Katolik pertama di Jakarta. Terletak tidak jauh dari jalan protokol, Thamrin, dan bisa dijangkau dengan TransJakarta, cukup turun di Halte Sarinah lantas berjalan melalui Sarinah ke belakang. Gereja ini ditemukan di sebelah kanan. Kalau lagi jam misa, lebih gampang lagi. Cari saja yang parkiran mobilnya mewah-mewah dua lapis. Ehehe.

Alkisah, pada tahun 1930, Batavia yang adalah asal usul Jakarta diperluas dengan mengembangkan Menteng dan Gondangdia. Mengingat jaman dulu belum ada ojek, apalagi ojek online, maka umat Katolik di Menteng dan Gondangdia agak kesulitan kalau mau misa di Katedral. Maka dimulailah pencarian lahan untuk pembangunan Gereja. Luar biasa, itu lima belas tahun sebelum merdeka, lho. Dahulu kala lokasi Jalan Gereja Theresia itu bernama Jalan Soendaweg.

Berikutnya, arsitek J. Th. Van Oyen–dari namanya sudah jelas kalau di bukan orang Batak–ditugaskan untuk membangun Gereja Santa Theresia tanpa tiang penyangga di tengah altar, supaya bisa dilihat dari segala arah. Ini terjadi tahun 1933 dan setahun kemudian pembangunan selesai dan diresmikan oleh Pastor A. Th. Van Hoof, SJ yang kala itu menjabat Provicaris Jakarta. Pastor paroki pertama di Gereja Theresia adalah Pastor Van Driel SJ.

Jika tiba di Gereja Theresia ini akan tampak 3 pintu dengan ornamen jendela dahsyat di bagian belakang dan samping kiri-kanan. Rupanya jendela besar itu ada simbolisasinya sendiri-sendiri. Di pintu utama menggambarkan Santa Theresia, di pintu lainnya menggambarkan Santo Ignatius de Loyola yang adalah pendiri SJ dan Santo Fransiskus Xaverius yang merupakan pelindung misi.

Pada tahun 1930, jumlah umat paroki Menteng ini adalah 2.512 orang, sebagian besar Eropa dan hanya 62 yang Asia, termasuk pribumi. Dan dari Gereja Theresia inilah lahir paroki-paroki lain seperti Jalan Malang dan Cideng. Di paroki ini juga beberapa organisasi muncul, salah satunya KKMK KAJ yang menurut Mas Tony memang digagas dari Theresia juga. Maklum, termasuk Gereja perdana di Jakarta jadi memang sudah sangat establish. Gereja ini masih diampu oleh Romo-Romo Jesuit, agak berbeda dengan kebanyakan Gereja Katolik di KAJ yang pengelolaannya di bawah Romo-Romo Diosesan.

Salah-satu yang unik dari Gereja Theresia adalah altar yang–menurut saya–super mewah dan kubah di atasnya. Ketika teknologi proyeksi belum memadai, kubah itu mungkin menjadi keindahan arsitektur belaka. Namun dengan model LCD-proyektor yang jamak ditampilkan di Gereja-Gereja Katolik, Gereja Theresia punya terobosan tersendiri. Ya, lihat saja sendiri, gimana nggak keder:

wpid-photogrid_1448103320089.jpg

Umumnya perarakan misa dimulai dari belakang, meski sebenarnya sakristi ada di dekat altar–samping kanan. Mimbar sabda ada di sisi kanan juga dan tempatnya termasuk mantap. Adapun koor itu pernah di dekat altar, pernah juga di balkon. Saya kurang tahu yang benar bagaimana sekarang. Heuheu. AC di Gereja ini juga cukup dingin dan karena terbilang lawas, maka belum terlalu ramah difabel. Untuk ibu menyusui, dipersilakan menggunakan kamar pengakuan yang tersedia.

Buat lulusan Jogja, kalau ingin misa bernuansa Kotabaru, Menteng ini tepat. Selain sama-sama Jesuit, perkara mode untuk umat-umat di Gereja Theresia ini nggak jauh beda sama Kotabaru, bahkan lebih ngehits. Mungkin karena banyak kalangan nebeng numpang lewat maupun kalangan agak kaya, nggak asing buat saya melihat celana pendek, rok yang terlalu pendek, maupun yang sejenis. Kaos apalagi, sangat biasa. Oh, iya, saya sering juga ngelihat artis di Gereja ini. Kalau pemain bola juga pernah, itu Ronald Fagundez. Padahal waktu itu dia kan main di Persisam, ngapain sampai Menteng? *tuing-tuing*

Untuk Bunda Maria bisa diakses di belakang Gereja, ada tempat yang sangat memadai untuk berdoa. Lokasinya dikepung Gereja dan Gedung Pastoral, tapi karena memang dikondisikan, tepat tampak indah dan bagus dengan kursi-kursi menetap yang kokoh. Semoga sekokoh iman umat-umat di Menteng.

wpid-photogrid_1448103131900.jpg

Misa di Gereja Theresia ini dipersembahkan hari Sabtu pukul 18.00 dan Minggu mulai 06.00, 08.00, 10.00, 17.00, dan 19.00. Kurang dimanja apa coba umat Katolik Jakarta dengan jadwal misa nan banyak ini? Masih ditambah lagi dengan misa Bahasa Inggris di tempat yang sama hari Sabtu pukul 15.30 dan Minggu pukul 15.00. Agak berbeda dengan English Mass yang saya hadiri di Danau Sunter, di Menteng ini penuh pisan. Nggak jauh beda sama misa hari Minggu pada umumnya. Mungkin karena pada belum tahu ya bahwa English Mass di Jakarta ini diadakan di beberapa Gereja, tidak cuma Theresia. Saya jadi ingat seorang dosen ekspatriat yang saya temui di bis menuju Cikarang. Dia jauh-jauh cari misa Bahasa Inggris dan karena yang paling banyak di Google adalah Menteng, ke Mentenglah dia.

Yes, demikian kiranya ulasan singkat yang diambil dari pengalaman dan dari website gerejatheresia.org. Sampai bertemu di #KelilingKAJ selanjutnya.

One thought on “Cerita Dari Theresia

  1. Pingback: Menikmati Martabak 65A Nan Legendaris | ariesadhar.com

Tinggalkan komentar supaya blog ini tambah kece!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s