7 Alasan Mengapa Domain Penting Untuk Bisnis

pentingnya-domain-untuk-bisnis

Mengapa domain penting untuk bisnis? Pertanyaan mendasar itu tentunya berkelindan di benak banyak orang, terutama pelaku bisnis zaman sekarang. Bukankah sudah ada media sosial? Masak nggak cukup?

Sebelum sampai pada 7 alasan mengapa domain penting untuk bisnis, pertama-tama mari kita mengenali domain itu sendiri.

Apa Itu Domain?

Secara sederhana, domain dapat disamakan dengan alamat suatu tempat di internet. Jika kantor Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ada di Jalan Veteran III Jakarta, maka orang-orang yang ada perlu dengan BPIP pasti akan mampir ke Jalan Veteran III tersebut.

people lot near buildings under white clouds

Photo by Aleks Magnusson on Pexels.com

Nah, dalam konteks internet, alamat BPIP adalah di bpip.go.id, yang artinya jika orang-orang ada perlu dengan BPIP maka akan mampir ke bpip.go.id. Karena ini internet, maka mampirnya nggak perlu pakai ojek online segala macam. Sambil tidur-tiduran juga bisa.

Penamaan domain adalah identik, sehingga tidak akan ada dua domain ariesadhar.com, misalnya, yang eksis di dunia ini. Dan seperti sewa rumah, domain itu ada masa kontraknya.

Misal, beberapa waktu silam saya punya domain fplngalorngidul.xyz yang ketika jatuh tempo tidak saya perpanjang. Sesudah periode itu, domain tersebut jadi vacant dan bisa saja diambil oleh orang lain, meskipun sebelumnya saya sudah mencitrakan diri sebagai pemilik domain itu.

Apa Itu Ekstensi Domain?

Kita mengenal Top Level Domain (TLD) yang dikenali dari ekstensi akhir sesudah dot berupa tiga huruf atau lebih. Pengecualian untuk hal ini adalah penggunaan ekstensi .mil yang khusus untuk mililter dan .gov yang khusus untuk pemerintahan (government).

Beberapa contoh TLD yang kita kenali adalah .com atau .org. Di Indonesia belakangan ramai juga .tv dan .co sebagai TLD yang jamak digunakan.

man working using a laptop

Photo by Oladimeji Ajegbile on Pexels.com

Ada juga yang disebut country code Top Level Domain atau ccTLD. Biasanya dikenali dengan identitas berupa kode masing-masing negara. Seperti Malaysia dengan .my atau Singapura dengan .sg, dan Indonesia dengan .id.

Penggunaan di Indonesia sudah tentu kita kenali, seperti .id untuk penggunaan masif personal, komunitas, hingga bisnis. Ada juga yang sudah lama kita kenali dalam rupa .co.id dan .or.id. Penggunaan untuk kampus, misalnya UI dengan alamat ui.ac.id. Demikian pula dengan akun-akun pemerintah seperti bpip.go.id atau kemenkeu.go.id.

Bagaimana Dengan Domain Gratis?

Yang dijelaskan dengan TLD itu tadi pada umumnya adalah berbayar. Kalau hanya sekadar ingin lapak atau domain, tentunya kita bisa mendapatkannya dari internet, antara lain melalui blogger.com dengan ekstensi .blogspot.com maupun juga di WordPress dengan ekstensi .wordpress.com.

Jadi ingat dulu blog ini bermula ya dari ariesadhar.wordpress.com juga. Si FPL Ngalor Ngidul sebelum jadi fplngalorngidul.xyz juga adalah fpl-ngalorngidul.blogspot.co.id.

Hanya saja, kalau iseng-iseng kita cermati jika terima SMS penipuan undian berhadiah, maka umumnya memakai domain-domain gratis seperti undianberhadiah.blogspot.com dan sejenisnya. Selain itu, siapapun bisa bikin domain untuk kemudian ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya.

Pada intinya adalah kredibilitas. Dengan penggunaan domain TLD, suatu entitas, baik usaha atau hanya sekadar personal seperti saya, akan lebih meningkat kredibilitas peredaran di dunia maya daripada dengan domain gratis.

 

Manfaat Domain Untuk Bisnis

Sesudah membahas domain, mari kita langsung fokus ke manfaat untuk bisnis itu tadi. Supaya tidak berkepanjangan seperti pacaran beda agama~

1. Terhubung Dengan Mesin Pencarian

Sekarang ini, setiap kali kita ingin tahu sesuatu, maka larinya pasti ke Google. Bayangkan jika secara sekilas orang mendengar bisnis kita dan ingin tahu lebih lanjut tapi tidak bisa menemukannya di mesin pencari Google maupun yang lain karena kita tidak menyediakan rumah di internet? Sudah jelas, opportunity loss!

black samsung tablet display google browser on screen

Photo by PhotoMIX Ltd. on Pexels.com

Rheinald Kasali bilang era sekarang adalah era disrupsi, ketika masyarakat mengeser aktivitas di dunia nyata ke dunia maya alias internet. Jadi, di era sekarang, kalau sebuah bisnis tidak punya alamat di internet, maka bisa dihitung potensi pendapatan yang gugur.

2. Terlihat Sebagai Bisnis Kredibel

Domain itu berbayar sehingga menandakan keseriusan suatu bisnis untuk berkembang. Kita ingat dong beberapa tahun lalu dalam rangka quick count Pemilihan Presiden ada beberapa lembaga dengan hasil yang berbeda. Meskipun yang berbeda ada beberapa lembaga, namun ada satu yang paling kena bully.

Alasannya? Karena lembaga survei itu mencantumkan alamat dengan domain wordpress.com! Jadilah lembaga ini dipermalukan sana-sini, apalagi survei seperti itu kan uangnya besar, masak hanya bayar domain saja tidak bisa? Dimana kredibilitasnya?

3. Alat Bantu Branding

Sekarang ini sampai ke personal saja sudah menggunakan domain sebagai alat bantu branding, apalagi suatu entitas bisnis. Blogger kondang merangkap tukang koran di Oz, Farchan Noor Rachman, misalnya, punya efenerr.com dan identitas ‘efenerr’ itu digunakannya untuk akun media sosial lainnya. Dengan demikian personal branding-nya menjadi sangat ciamik.

4. Etalase Nyaris Tanpa Batas

Kalau kita punya bisnis di ruko, misalnya, ada keterbatasan ruang. Produk buku di toko terkemuka juga ada keterbatasan waktu untuk dipajang karena begitu nggak laku langsung turun. Sementara itu, tidak setiap saat orang ingin berkunjung ke toko.

laptop technology ipad tablet

Photo by Pixabay on Pexels.com

Dengan adanya domain dan website, pelaku bisnis seperti punya etalase tanpa batas untuk memajang produknya, dari sisi apapun dengan informasi selengkap apapun, tanpa harus terkendala seperti di toko. Calon konsumen jadi lebih enak jika ingin tahu ini dan itu tentang suatu produk.

5. Mempermudah Akses ke Bisnis

Dengan domain dan website, maka setelah etalase diperlihatkan, ujungnya bisa saling kontak dengan informasi yang ditampilkan. Bayangkan jika tidak ada domain dan tidak tahu mau kontak siapa untuk membeli sesuatu yang ternyata dimiliki suatu bisnis?

6. Hemat Waktu

Percayalah, utak-utik domain dan website itu jauh lebih hemat waktu daripada harus promo sana sini di era disrupsi. Cukup satu periode waktu pasang informasi produk, waktu lainnya kita hanya perlu update. Bayangkan waktu yang bisa dihemat dalam hal ini?

7. Benefit Lebih Tinggi Dari Cost

Dalam teori Cost Benefit Analysis, sesungguhnya potensi benefit yang akan diperoleh jauh lebih tinggi daripada cost yang dikeluarkan untuk suatu domain, tentunya dengan sejalan dengan 6 hal yang juga telah dipaparkan di atas.

Jangan lupa, suatu alamat harus ada lahannya–yang di dunia internet dikenal dengan hosting. Jangan khawatir bahwa hosting ini akan menguras uang karena cukup banyak hosting murah yang bisa kita peroleh, antara lain melalui Rumahweb.

Jadi, sudah paham kan mengapa domain penting untuk bisnis? Saatnya bisnis kita dilengkapi dengan domain demi cuan-cuan-cuan.

#BlogCompetition #RumahWeb

Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita: Sebuah Perspektif Sederhana

1

Ketika bicara tentang bencana, saya akan selalu teringat dengan dokumentasi pribadi saya yang satu ini:

2

Ya, hingga setahun kemudian, saya masih sangat ingat rasanya berada di atas jembatan kebanggan masyarakat Palu itu. Betapa ketika berdiri di anjungan, ada getaran yang cukup terasa ketika mobil melintas. Teringat juga betapa saya mengagumi keindahan Teluk Donggala dari atas jembatan yang biasanya digunakan oleh masyarakat sekitar untuk melihat buaya yang tersangkut ban.

Kita semua tahu, bahwa jembatan itu, tepat 28 September 2018 sudah menjadi seperti ini:

3

Doa saya kepada para korban jiwa dalam gempa dan tsunami di Palu, Donggala, dan sekitarnya. Palu adalah tempat yang cukup istimewa buat saya pertama-tama karena rekan-rekan kerja saya di kota tersebut terbilang orang-orang baik dan sangat mudah diajak bekerja sama demi kepentingan organisasi. Jadi, saya tidak pernah mengalami pengalaman tidak mengenakkan di Palu. Semuanya baik, termasuk keindahan monumen Nosarara Nosabatutu, termasuk juga enaknya Kaki Lembu Donggala-nya.

Bencana Dalam Berbagai Perspektif

Oleh BNPB dan regulasi kebencanaan di Indonesia, bencana didefinisikan sebagai perisitwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

4

Lebih spesifik, BNPB juga membagi bencana ke dalam tiga bagian. Pertama, bencana alam yang didefinisikan sebagai bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

Kedua, bencana non alam yang dimaknai sebagai bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa non alam antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.

Ketiga, bencana sosial, yaitu bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror.

Dalam perspektif lain, sebuah buku berjudul Disaster Management mengklasifikasi bencana menjadi 2, yakni berdasarkan durasi waktu hingga terjadi bencana dan berdasarkan parameter yang memicu.

Berdasarkan durasi waktu hingga terjadinya, bencana didefinisikan sebagai Rapid Occuring Disasters dan Slow Occuring Disasters. Sedangkan berdasarkan parameter pemicunya, bencana dibagi menjadi bencana alam, bencana alam yang dipicu intervensi manusia, dan bencana yang secara khusus hanya dibuat oleh manusia.

5

Untuk memahami definisi bencana dari perspektif pemicunya, akan lebih mudah jika kita melihat infografis berikut ini:

6

Berdasarkan infografis di atas, sekilas kita bisa melihat bahwa manusia hanya tidak bisa ikut campur sebagai penyebab pada 1 jenis saja yaitu natural. Sisanya? Mau sedikit atau bahkan menjadi penyebab sebenarnya, peran manusia itu ada. Peran kita itu nyata.

Pengalaman Bencana

Hari Sabtu pagi, 27 Mei 2006, saya ada jadwal ujian pukul 8 pagi. Belum lagi pukul 6 ketika saya terbangun oleh getaran yang cukup kencang. Karena saya besar di Bukittinggi, sebenarnya guncangan gempat sedikit-sedikit adalah hal yang biasa. Akan tetapi, pagi itu guncangannya begitu kencang.

Saya bergegas keluar sembari mengumpulkan kesadaran. Di depan kos saya ada sebuah bak air. Saya melihat belum bak air itu bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan menumpahkan air di dalamnya. Sesungguhnya, saya langsung sadar bahwa itu adalah gempa terbesar dan terlama yang pernah saya rasakan.

Ketika itu, status gunung Merapi yang posisinya dapat saya lihat dengan mudah dari kos juga sedang naik. Konteks tersebut yang kemudian membuat saya berasumsi bahwa gempa ini adalah karena gunung Merapi. Meskipun kemudian saya sadar bahwa gunung Merapi itu adalah gunung aktif dengan lubang pelepasan energi yang cukup besar. Artinya, sifat pergerakannya tidak akan membuat goncangan untuk lokasi belasan kilometer di selatan dengan intensitas sekencang itu.

Hasil gambar untuk gempa jogja 2006

Sumber: Kumparan

Sebelum kemudian listrik terputus, saya masih sempat menyalakan televisi untuk mendapat informasi sekilas bahwa gempa barusan bersumber dari arah selatan, bukan dari Merapi. Guncangannya memang ‘hanya’ 5,9 skala Richter. Namun, karena gempanya ternyata dangkal dan berada pada jalur yang padat penduduk, maka jumlah korbannya menjadi luar biasa banyak. Ada lebih dari 6 ribu korban tewas dalam peristiwa ini.

Hari-hari berikutnya, dunia tidak lagi sama untuk saya. Sesungguhnya dalam peristiwa itu, meskipun saya merasakan sekali goncangan yang terjadi, saya bukanlah korban, tidak pula terdampak.

Korban adalah orang/sekelompok orang yang mengalami dampak buruk akibat bencana, seperti kerusakan dan atau kerugian harta benda, penderitaan dan atau kehilangan jiwa. Korban dapat dipilah berdasarkan klasifikasi korban meninggal, hilang, luka/sakit, menderita dan mengungsi.

Penderita/terdampak adalah orang atau sekelompok orang yang menderita akibat dampak buruk bencana, seperti kerusakan dan atau kerugian harta benda, namun masih dapat menempati tempat tinggalnya.

Saya kemudian turut serta menjadi relawan di tiga rumah sakit besar di Yogya yakni RS Panti Rapih, RS Bethesda, dan RS Sardjito berikut satu posko bantuan Jesuit Refugee Service (JRS). Semuanya saya lakoni dalam waktu 2 pekan.

Pengalaman Recovery Bencana

Dalam 2 pekan tersebut, saya terlibat aktif dalam upaya recovery pasca bencana, utamanya dalam aspek kesehatan. Hari pertama adalah pekerjaan fisik, terutama pada gedung-gedung yang terdampak. Pada posisi ini, untuk pertama kalinya seumur hidup, saya melihat mayat-mayat bergelimpangan. Itulah sebabnya saya bilang bahwa peristiwa itu tentu membuat hidup saya berbeda. Sebuah pengalaman introspektif yang luar biasa.

Hari-hari berikutnya, sebagai mahasiswa farmasi, saya dan teman-teman aktif di posko yang dibuka di rumah sakit. Mengelola bantuan, mendistribusikannya hingga ke perawat dan pasien, berbincang dengan pasien tentang kehilangan, hingga hal-hal remeh tapi menyebalkan khas bencana seperti obat bantuan yang kedaluwarsa dan dikirim pada tengah malam buta.

Pada tahun 2008, sebagai pungkasan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh-Nias, saya mendapat kesempatan terbang ke Nias guna menjadi bagian dari penyelesaian rekonstruksi dan rehabilitasi pasca gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh dan Nias empat tahun sebelumnya khusus pada area obat dan logistik medis.

Tidak jauh dari pengalaman sebelumnya, namun tentu berada di sebuah pulau yang sangat akrab dengan gempa menjadi pengalaman yang berbeda. Saya masuk ke berbagai Puskesmas yang ada di pulau Nias sembari menikmati jalan yang sudah mulus sebagai hasil rehabilitasi. Meski begitu, saya juga mendapati bahwa dalam sebuah proyek perbaikan yang sedemikian masif, masih sangat banyak hal-hal yang dirasa kurang, antara lain adalah pengelolaan pada obat-obat bantuan yang hingga 4 tahun pasca bencana memang masih ada distribusinya.

Di Nias pula saya melihat alam yang berubah. Dalam sebuah perjalanan ke Nias Selatan, saya tiba di sebuah pantai yang menurut kisahnya sebelum gempa adalah spot dengan ombak tinggi yang dicari oleh peselancar. Ketika saya dan rombongan sampai ke tempat itu, kisah tersebut sudah tiada. Gerakan gempa menjadikan tempat itu tidak lagi asyik untuk berselancar, meskipun kemudian posisinya berpindah ke sisi lain dari garis pantai. Ya, sebuah dinamika alam di negeri yang merupakan ring of fire.

Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita

Ketika tulisan ini dibuat, sebagian wilayah Indonesia, utamanya di Sumatera dan Kalimantan sedang diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Berbasis data BNPB, setidaknya dalam 10 tahun terakhir, kebakaran hutan bersama dengan banjir memang menjadi jenis bencana dengan frekuensi cukup besar kejadiannya di Indonesia.

chart (1)

Gempa, dan terlebih tsunami, terbilang jarang. Walau demikian, pada saat terjadi memang berdampak besar dalam konteks jumlah korban jiwa.

Hal yang menarik jika kita mengacu pada peran manusia dalam bencana sebagaimana literatur di atas adalah bahwa frekuensi yang paling banyak kejadiannya di Indonesia memanglah bencana-bencana dengan intervensi manusia yang sangat besar.

7

Artinya?

Ya, kita para manusia ini sebenarnya punya andil dalam terjadinya bencana. Tidaklah aneh ketika BNPB sebagai badan nasional yang diamanatkan menjalankan tugas penanggulangan bencana menggaungkan ‘kita jaga alam, alam jaga kita’, karena faktanya ‘kita’ sebagai manusia punya andil dalam 80 persen jenis bencana sebagaimana tampak pada infografis di bawah ini berupa kejadian bencana 10 tahun terakhir baik bencana alam, bencana non alam, maupun bencana sosial.

This slideshow requires JavaScript.

Kita sebagai manusia sesungguhnya harus aktif merawat alam maupun lingkungan tempat tinggal kita. Hanya dengan tindakan seperti itulah, alam akhirnya akan merawat kita pula. Mari berkaca pada kejadian bencana seperti banjir dan longsor. Dua jenis bencana itu adalah bukti nyata bahwa keseimbangan alam terganggu dengan aktivitas yang dilakukan manusia. Demikian pula dengan pendangkalan sungai, penggunaan bantaran sungai sebagai pemukiman, maupun juga pemanfaatan lahan secara tidak tepat menjadi pemicu banyak bencana di Indonesia.

Perlu diingat, bahwa angka-angka yang ada pada statistik bencana sejatinya bukanlah sekadar angka belaka. Ada tangis perpisahan dengan para korban, ada kehilangan dari orang-orang tercinta, ada juga hasil kerja keras bertahun-tahun yang luluh lantak begitu saja karena bencana. Jika mengingat hal ini, semestinya kita akan lebih berupaya untuk sadar bencana.

Budaya Sadar Bencana

Saya pernah kebetulan mampir di sebuah pemukiman yang ada di bantaran sungai, sekadar hendak beli gorengan karena sedang lewat. Saya iseng bertanya tentang banjir kepada pemilik warung. Jawabannya, sungguh mengejutkan.

“Ya, kan banjir juga paling setahun sekali. Kayak sekarang ya panas, biasa aja.”

Dalam konteks banjir seperti ini, banyak yang menganggapnya sebagai hal biasa. Pada suatu konsep yang penerapannya kurang tepat, mereka biasanya sudah punya mitigasi risiko sendiri. Kalau dilihat struktur rumah hingga penataan barang-barang di rumah sudah sedemikian rupa sehingga akan mudah untuk evakuasi jika tiba-tiba air tinggi.

Itu baru satu  bencana. Perihal kebakaran hutan dan lahan, sesungguhnya kita pernah punya keberhasilan dalam 2-3 tahun terakhir. Entah kenapa, tahun 2019 ini, kebakaran mulai banyak meskipun sebenarnya hujan itu masih turun di bulan Juli. Alias, musim kemarau sejatinya belum lama-lama benar. Fakta tahun ini memperlihatkan bahwa sistem yang dibangun dalam 2-3 tahun terakhir belum cukup menjadi mitigasi yang ideal. Yah, faktanya, kabut asap masih melanda dan masih terus berusaha dikendalikan oleh pihak-pihak berwenang termasuk BNPB.

Apalagi kalau menyoal gempa bumi, tsunami, dan lain-lain. Seringkali, kita para masyarakat ini sadar bencana ketika lagi ramai di Aceh atau di Palu, misalnya. Sesudah itu, kita tenggelam dalam aktivitas sehari-hari dan lupa bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita senantiasa memiliki risiko bencana.

Budaya Sadar Bencana (1)

Konsep budaya sadar bencana secara sederhana dipahami sebagai perubahan paradigma penanggulangan bencana dari sekadar perspektif responsif belaka menuju terwujudnya pemahaman faktor-faktor risiko dan upaya pengurangan risiko bencana di lingkungan. Selain itu, diperlukan peningkatan kesadaran, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan bencana dalam menghadapi ancaman bencana melalui pelatihan secara bertahap, bertingkat, dan berkelanjutan. Termasuk juga di dalamnya terwujudnya antisipasi, proteksi, dan penyelamatan diri dari ancaman bencana.

Ciamiknya Strategi Media BNPB

BNPB selaku pengemban amanat selama ini terbilang on the track dalam menjalankan fungsinya. Satu pujian yang harus selalu dilontarkan kepada BNPB terutama pimpinannya adalah ketika “melepas” Bapak Almarhum Sutopo Purwo Nugroho untuk menjadi media darling, dan bahkan pelan-pelan menjadi public darling.

Hasil gambar untuk sutopo ASN Inspiratif

Sumber: Kompas

Tidak semua instansi pemerintah, utamanya para pimpinan, memiliki kerendahan hati sedemikian rupa untuk melepaskan seorang Eselon II menjadi lebih terkenal daripada pimpinan BNPB itu sendiri.

Nyatanya, hal itu berhasil. Bapak Sutopo dengan ciamik memainkan perannya dalam edukasi kebencanaan. Memang, butuh terobosan khusus untuk bisa berpenetrasi ke dalam hati masyarakat dalam era modern dan zamannya media sosial seperti sekarang ini dan BNPB pernah cukup sukses untuk melakukan suatu terobosan. Sayang, memang, Bapak Sutopo telah meninggal dunia pasca berhadapan dengan kanker yang menyebar alias metastase.

Dalam posisi ini, tentu saja BNPB perlu merevitalisasi jalur yang sudah dilakoni oleh Bapak Sutopo untuk mengedukasi masyarakat. Sudah ada jalurnya, berarti tinggal diteruskan. Setidaknya, cita-cita agar terbentuk masyarakat yang sadar bencana sudah bisa mulai diinternalisasi sejak dini.

Sayangnya, memang Bapak Sutopo sudah tiada. Walau demikian, setidaknya BNPB secara institusi sudah berada pada jalur yang tepat dengan mengoptimalkan skema yang terlebih dahulu ada. Pola komunikasi yang sudah terbentuk itu bukan hal mudah untuk dibangun, adalah keuntungan bagi BNPB ketika pola itu sudah cukup mendarah daging di institusi. Hal ini tentu menjadi kekuatan BPNB dalam mengoptimalkan fungsinya dalam penanggulangan bencana di tingkat nasional.

Di atas bumi Indonesia yang faktor naturalnya sangat besar, sesungguhnya manusia bisa berperan mengurangi dampak bencana yang berasal dari faktor natural dan bahkan menihilkan bencana yang dapat disebabkan oleh manusia dengan menjaga alam. Bagaimanapun, kita percaya bahwa dengan menjaga alam, maka alam pasti akan menjaga kita.

Tabik.

Tips Berlibur Menyenangkan di Bandung

Pentingnya Memiliki Asuransi Dari Sudut Pandang Orang Tua (1)

Bandung merupakan salah satu destinasi wisata yang nyaris selalu ramai ketika akhir pekan sehingga tips berlibur menyenangkan di Bandung selalu jadi hal yang diperlukan. Selain dari kota-kota di sekitarnya, pengunjung Bandung tidak lain dan tidak bukan adalah orang-orang Jakarta. Sebagian memang ke Bandung karena mudik, sebagian lagi karena pengen berlibur saja. Nah, berikut ini saya kasih tahu beberapa tips agar liburan kita di Bandung menjadi lebih menyenangkan. Dasar hukumnya adalah karena saya sekarang KTP Jawa Barat, tepatnya Bandung Barat. Plus, Istoyama juga lahirnya di Bandung. Heuheu.

Rental Mobil

Betul sekarang banyak taksi online, selain taksi argo yang banyak juga kita temukan di begitu masuk kota Bandung di Pasteur. Betul juga untuk area sekitar Bandung saja, yang online-online itu cukup berfaedah. Menjadi masalah ketika kita pengen ke tempat yang agak jauh, misalnya ke Lembang dan sekitarnya. Seringkali, kita bisa sampai ke Lembang-nya, tapi terus nggak bisa turun karena nggak bisa order. Jadi, sewa mobil adalah salah satu pilihan menarik agar kita nggak ribet kalau liburan. Kalau bisa menyetir, kita bisa kok lihat harga rental mobil lepas kunci di kota Bandung di berbagai sumber. Continue reading

Daftar Lomba Blog September 2019

Screenshot_1966

Sekadar mau berbagi informasi saja, karena kadang kalau lagi selow saya suka nyari blog yang menyediakan informasi lomba blog, sekadar untuk menambal isi kantong. Bulan September 2019 ini lomba blog lagi luar biasa banyaknya, lho!

Blog Competition Trip Impian Bersama Watsons

Sumber: kompetisiblogwatsons.com

Hadiah:
Grand Prize Free ticket for 2 person to Thailand round trip + IDR 2.000.000 Watsons Shopping Voucher. 10 Pemenang lainnya: masing-masing IDR 300.000 Watsons Shopiing Voucher

Ketentuan Umum:

  • Tema penulisan adalah Trip Impian ke Thailand atau Hongkong atau Malaysia atau Singapura atau Makau atau Taiwan dengan Watsons
  • Platform WordPress, Blogger, TUmblr, dan domain self-hosted, dengan minimal usia blog 6 bulan.
  • Tulisan berbentuk artikel pendek minimal 500 kata disertai materi foto atau video pribadi yang mendukung.
  • Wajib pasang banner Watsons One Pass

Deadline: 15 September 2019

* * *

Kompetisi Penulisan dan Blog STOP Pneumonia

Sumber: stoppneumonia.id

Hadiah:
2 karya terbaik akan mendapatkan kesempatan melakukan perjalanan ke Sumba Barat (wilayah program Pneumonia Save the Children) selama 4 hari 3 malam + uang saku

Ketentuan Umum:

  • Tema penulisan adalah Stop Pneumonia (dapat berupa testimoni, pengalaman pribadi, pengamatan, atau sebuah pemikiran)
  • Panjang artikel minimal 700 kata
  • Jika karya merupakan cerita tentang orang lain, pastikan untuk mendapatkan bukti tertulis kesediaan subyek sebagai narasumber
  • Banyaknya likes dan share tulisan akan menjadi point penilaian

Deadline: 17 September 2019
Pengumuman: 24 September 2019

* * *

Picky Blog Competition

Hadiah:
Juara Pertama Rp500.000
Juara Kedua Rp250.000
Juara Ketiga Rp100.000
Viewer Terbanyak Rp100.000

Ketentuan Umum:

  • Masuk web Picky.id lalu register/login dan tambahkan post dengan klik ‘New Post’
  • Mampir ke tempat-tempat yang underrated (menarik tapi sepi pengunjung), cari data sebanyak-banyaknya tentang tempat itu.

Deadline: 17 September 2019
Pengumuman: 20 September 2019

* * *

The Ambition Call: Writing Competition

Hadiah:
Juara 1 Rp2.000.000
Juara 2 Rp1.500.000
Juara 3 Rp1.000.000
Favorit Rp500.000
Ide Kreatif Top up pulsa/Gopay/OVO senilai Rp200.000 untuk 10 blog kreatif

Ketentuan Umum:

  • Kompetisi untuk menstimulasi diskusi publik dengan meningkatkan kesadaran khalayak umum mengenai perubahan iklim dan pencapaian ambisi dalam pemenuhan target NDC.
  • Dapat menggunakan laporan The Ambition Call sebagai bahan
  • Jumlah kata 800 – 1300 kata.

Deadline: 18 September 2019
Pengumuman: 18 Oktober 2019

* * *

Lomba Kreativitas Kebencanaan Tangguh Award 2019

Sumber: BPNB

Hadiah:
The Best of Category menerima hadiah sebesar Rp10 Juta. Selain itu juga akan diberikan hadiah total kepada 5 juara favorit dan 36 nominasi. Total seluruhnya Rp86 Juta Rupiah.

Ketentuan Umum:

  • Selain blog, sudah ada lomba foto, video, poster, dan podcast. Blog bisa pakai platform apapun (termasuk blogdetik yang sudah bubar masih ditulis. heuheu…)
  • Ada beberapa hyperlink.
  • Submit ke bit.ly/tangguhawards2019

Deadline: 20 September 2019
Pengumuman: Oktober 2019

* * *

Rumahweb Blog Competition Periode I

Hadiah:
Juara 1 3 Juta Rupiah
Juara 2 2 Juta Rupiah
Juara 3 1 Juta Rupiah
3 Juara Favorit @ 500 Ribu Rupiah

Ketentuan Umum:

  • Tema “Mengapa Domain Penting untuk Bisnis”.
  • Lima persen penilaian berdasarkan posisi di Google Search Engine
  • Tulisan 400 – 1000 kata

Deadline: 20 September 2019
Pengumuman: 27 September 2019

* * *

Lomba Blog “Ayo Cek KLIK Sebelum Belanja”

Screenshot_1965

* * *

Lomba Blog #BicaraSawit

Hadiah:
Macbook Air, Samsung Galaxy Tab S5e, Kindle, Smartphone XiaoMi untuk 3 pemenang favorit dengan like terbanyak serta total uang tunai 25 juta rupiah!⁣⁣⁣

Ketentuan Umum:

  • Tuliskan tentang ‘sawit kuat Indonesia hebat’
  • Tulisan 300 – 600 kata
  • Upload salah satu foto artikel ke IG

Deadline: 22 September 2019

* * *

Blog Competition Qwords Anniversary

Hadiah:
Juara 1 3 Juta Rupiah
Juara 2 2 Juta Rupiah
Juara 3 1 Juta Rupiah

Ketentuan Umum:

  • Tema ‘Peran Website Dalam Bisnis Online’
  • Minimal 700 kata
  • Pasang banner
  • Engagement artikel jadi kriteria penilaian

Deadline: 30 September 2019
Pengumuman: 7 Oktober 2019

* * *

Blibli Seller Blog Competition

Hadiah:
Juara 1 Voucher belanja Blibli.com 3 Juta
Juara 2 Voucher belanja Blibli.com 2 Juta
Juara 3 Voucher belanja Blibli.com 1 Juta

Ketentuan Umum:
– Tema ‘Bersiap Hadapi Lonjakan Persanan di Harbolnas Blibli.com’
– Artikel minimal 500 kata

Deadline: 30 September 2019
Pengumuman: 7 Oktober 2019

Kurang banyak apa, coba? Yang ngerekap sampai lelah. Monggo diikuti satu demi satu. Siapa tahu ada yang kecantol kan lumayan~

Memori, Kebutuhan Primer Orang Tua Milenial

Pentingnya Memiliki Asuransi Dari Sudut Pandang Orang Tua (1)

Waktu saya SD, kira-kira pada saat Perjanjian Renville ditandatangani, kebutuhan primer manusia itu ada 3, yakni sandang, pangan, dan papan. Pada tahun 2000-an, kebutuhan primer itu bertambah satu: colokan. Nah, pada tahun 2019 dan kemungkinan seterusnya, kebutuhan primer itu nambah satu lagi: memori.

Sepekan yang lalu, seorang teman mengabari bahwa ponselnya hilang. Sedihnya, dia lupa akun Google yang digunakannya untuk login pada gawai Android-nya itu, sehingga tidak bisa ditelusuri pakai teknologi terkini. Teman saya itu sebenarnya tidak terlalu memikirkan soal fisik smartphone-nya karena ya masih bisa beli lagi.

phone iphone taking photo selfie

Photo by Kaique Rocha on Pexels.com

Perkaranya adalah di gawai yang hilang itu ada foto anaknya, sejak lahir sampai sekarang hampir 2 tahun. Jeder!

Smartphone sesungguhnya telah menjelma lebih dari sekadar alat komunikasi. Ketika tahun 2002 saya pertama kali punya telepon genggam merk Nokia 3310, fungsinya hanya telepon, SMS, dan sesekali main Snake. Tujuh belas tahun kemudian, telepon genggam telah menjadi sesuatu yang sulit dipisahkan dengan kehidupan manusia.

Western Digital melakukan survei yang bertajuk Indonesian Consumer Mobile Habit and Data Management Survey dengan melibatkan 1.120 responden yang tersebar di 6 kota besar Indonesia, yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta, surabaya, Medan, dan Makassar.

Sesungguhnya, hasil dari survei ini cukup menarik untuk dicermati.

1

Pertama-tama, 97% responden mengandalkan smartphone sebagai gawai utama dalam kehidupan sehari-hari. Ya, sama persis dengan yang saya temui setiap hari. Ketika pas Persiapan Keberangkatan LPDP saya tidak bisa menyalakan gawai dalam waktu lama, rasanya ya hampa juga.

Selain itu, tingkat penetrasi smartphone di Indonesia per September 2018 telah mencapai 27,4 persen atau setara 73 juta pengguna smartphone. Paralel dengan angka jumlah penduduk dunia, angka tersebut adalah peringkat ke-6 pengguna smartphone terbanyak di dunia sesudah Tiongkok, India, Amerika serikat, Rusia, dan Brasil.

2

Angka penetrasinya sendiri masih sangat mungkin meluas karena 27,4 persen itu adalah yang terkecil di 10 besar dunia, bersaing dengan India yang 27,7 persen. Bandingkan dengan Inggris Raya yang penetrasinya sudah mencapai 82,2%. Tiongkok sekalipun sudah diatas 50 persen. Indonesia tentunya masih dalam perjalanan penetrasi yang panjang serta penuh ruang untuk improvement.

Smartphone sendiri, di Indonesia, pada umumnya digunakan untuk lima aktivitas penting yakni mengambil gambar, menelepon, chatting, merekam video, dan mengakses media sosial. Kebutuhan lain seperti belanja online atau bertransaksi saham, misalnya, masih jauh di bawah itu.

3

Lihat, dari 5 besar itu ada setidaknya 3 aktivitas yang butuh memori, yakni mengambil gambar, chatting, dan merekam video. Chatting itu makan memori, lho, belum lagi kalau banyak gambar dan video yang dibagikan. Maka tidak heran kalau data terbanyak yang disimpan di memori itu lima besarnya adalah foto, video, musik, aplikasi, dan dokumen. Rataan foto dan dokumen berbeda begitu jauh.

Pagi pekerja milenial seperti saya, persoalan dokumen di memori itu adalah kegundahan tersendiri. Ketika saya mulai bekerja tahun 2009, belum ada itu kirim-kirim file pakai aplikasi chatting. Jadi, ketika di kos-kosan, bisa ngeles ke bos jika disuruh mengerjakan sesuatu mendadak. “Datanya di kantor, Pak”, ujar saya untuk ngeles. Ya, walaupun kala itu kantor saya hanya 2 menit jalan kaki dari kos, sih.

Sekarang? File dokumen begitu mudah dikirim dan dengan demikian nggak bisa ngeles lagi seperti dulu kala. Walhasil, saya sering mengerjakan dokumen di smartphone kala bergelantungan di KRL. Dan tentu saja, semakin banyak file kerjaan, semakin banyak memori yang termakan.

Belum lagi, seperti teman saya yang smartphone-nya hilang tadi, saya juga orang tua milenial yang butuh banyak memori untuk merekam kelakuan anak saya yang lagi lucu-lucunya. Bayangkan, anak saya sudah seminggu ini bisa menyebut one, two, three, sampai ten, dan saya belum merekamnya karena keterbatasan memori. Wong, baru merekam sampai three, tiba-tiba saya dapat notifikasi bahwa memori sudah penuh.

4

Perkara yang saya alami rupanya adalah perkara umum, setidaknya menurut survei dari Western Digital. Ada 26% responden yang sering mengalami kepenuhan memori seperti saya. Atau juga 21% responden yang tidak sengaja menghapus data penting. Ini juga saya alami beberapa pekan lalu kala secara tidak sengaja saya menghapus seluruh file screenshot di gawai.

Walhasil, saya kehilangan salah satu foto paling absurd berupa video call dengan anak saya, yang posisinya ada di belakang saya. Jadi, ketika itu saya kebanyakan dinas, pergi terus, sehingga komunikasi dengan anak ya via video call. Eh, ketika saya pulang, anak saya malah tetap minta video call dengan bapaknya melalui gawai mamanya. Duh, ini foto bagus dalam file screenshot itu dan nyatanya hilang. Sedih juga.

Sebagaimana kehilangan mantan, nyatanya kehilangan adalah sesuatu yang wajar. Bahkan 67% responden mengakui bahwa mereka pernah kehilangan data di smartphone. Walau begitu, mungkin karena pengalaman buruk juga, ada lebih dari 80% responden telah menyadari pentingnya melakukan back-up data.

Persoalannya adalah sebagaimana dialami 49% responden bahwa sisa memori di HP ini paling banyak hanya 3 GB. sudah terlalu penuh dengan foto, video, dan aplikasi, pada gawai yang rata-rata dilengkapi memori 16 GB atau 32 GB itu.

WhatsApp Image 2019-09-10 at 12.27.29

Saya sendiri terbantu oleh kantor yang memfasilitasi dengan sebuah USB OTG SanDisk sebagai penyimpanan data pekerjaan. Kantor saya memang baik benar, karena USB itu di luar Hard Disk Eksternal yang juga difasilitasi. Tapi, ya memang perlu, sih. Terutama untuk pekerja mobile seperti saya. Makanya berminyak begitu, lha wong makan saja saya bawa~

Brand SanDisk memang menjadi salah satu brand terdepan dalam solusi penyimpanan mobile, kebetulan berada dalam naungan Western Digital Corp. Melalui perangkatnya SanDisk Dual Drive (Android)–yang ini saya pakai–dan iXpand Flash Drives (iPhone)–yang ini saya nggak kuat beli–SanDisk menawarkan beberapa solusi terhadap prahara memori yang biasanya melingkupi masyarakat, terutama orang tua milenial yang nyaris selalu kehabisan memori semata-mata karena foto bayi.

5

Pertama, mobile storage SanDisk memang dirancang untuk bisa membantu pengguna mengosongkan memori smartphone dimana pun dan kapan pun. Makanya, saya sering lho, memindahkan foto dan video sambil gelantungan di KRL. Saking mudahnya.

Kedua, SanDisk memfasilitasi diri dengan konsep plug and play yang praktis melalui aplikasi mobile SanDisk Memory Zone dan iXpand Drive yang dapat mem-back up foto maupun video dengan cepat, termasuk juga memindahkan ke komputer atau smartphone lain jka dibutuhkan. Serta bisa pula mengatur agar aplikasi melakukan back-up otomatis pada file-file penting setiap kali smartphone dihubungkan dengan USB OTG.

Ketiga, aplikasi SanDisk Memory Zone dan iXpand Drive App juga bisa menyimpan dan mem-back up aneka konten dari media sosial, ya tentu saja umumnya foto dan video, ke USB OTG SanDisk Dual Drive atau iXpand Flash Drive.

Terakhir, khususnya untuk yang menggunakan smartphone untuk kepentingan lebih besar seperti mabar, kartu memori SanDisk Extreme microSD dengan spesifikasi ciamik akan memberikan kenyamanan dan kemulusan bagi pengguna gawai saat bermain mobile game dengan adanya kapasitas penyimpanan lebih besar serta tentu saja proses pemuatan aplikasi yang lebih besar.

Ketika dapat notifikasi bahwa gawai saya kepenuhan, sesungguhnya pengen ganti HP. Apa daya, nggak punya uang. Ketika hendak menghapus foto atau video, kok ya rasanya #DibuangSayang. Sekali lagi, untunglah saya punya USB OTG dengan brand #SanDiskAPAC yang sangat membantu proses back-up file-file yang bakal penting untuk kenangan anak saya kelak di kemudian hari.

Percayalah–dan ini saya baru tahu ketika sudah jadi orang tua–selain kesiapan jasmani, rohani, serta finansial, maka untuk menjadi orang tua harus punya persiapan memori yang banyak. Saya kasih tahu para pembaca semua untuk bisa mempersiapkan diri.

a family walking on the road

Photo by Vidal Balielo Jr. on Pexels.com

Tabik.

Pelayanan Informasi Pemda DIY Melalui PPID Bukti Nyata Nilai Terbaik Dalam Akuntabilitas Kinerja

ppid-diy (3)

Dua belas tahun lalu, berbekal sepeda motor tua bernama Oom Alfa, saya datang ke salah satu kantor Pemerintah Provinsi DIY. Urusan masa depan yang lebih menakutkan daripada KKN di Desa Penari: skripsi.

Ya, walaupun anak farmasi, tapi jalan hidup membawa saya ke skripsi sosial dengan area DIY, lebih tepatnya Kota Yogyakarta dan Kabupaten Kulonprogo. Namanya akan penelitian, sudah pasti butuh data, dan namanya survei tentang perilaku masyarakat sudah tentu butuh data kependudukan dan untuk itu tentu butuh perizinan.

Waktu itu, belum ada Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik seperti sekarang ini. Untuk mendapat data yang cukup sahih untuk penelitian susahnya minta ampun. Kalaupun dapat, kadang kita harus fotokopi sendiri setumpuk Kartu Keluarga dan harus mengembalikannya sendiri ke empunya data. Continue reading

Kuliah Lagi

Pentingnya Memiliki Asuransi Dari Sudut Pandang Orang Tua

Dari sisi karir di birokrasi, sesungguhnya gelar Apoteker yang saya punya sudah sangat cukup, setidaknya untuk kelak menjadi Eselon II, meskipun ya saya ogah, sih. Ya, Apoteker kalau di birokrasi harganya sama dengan S2.

Dari sisi pengembangan diri, saya cukup bersyukur ada di organisasi yang sedang bertumbuh sekaligus punya sumber daya yang cukup. Dalam 2 tahun terakhir, saya bisa punya sertifikasi Risk Management dan juga sertifikasi Lead Auditor ISO 9001:2015. Khusus yang terakhir ini terasa wow karena dulu di pabrik, bisa dapat sertifikasi macam ini hanya mimpi belaka, soalnya harganya mahal sekali.

Oh, terakhir bahkan saya diikutkan pelatihan yang berbonus free membership setahun jadi anggota the Institute of Internal Auditor (IIA).

Tapi tetap saja saya merasa perlu mengupgrade diri meskipun harus menceburkan diri ke zona yang tentunya tidak nyaman, terutama dengan penurunan income. Setidaknya saya punya mimpi bahwa Kristofer kelak akan cukup bangga punya bapak-ibu minimal S2. Ya, meskipun saya nggak bakal ngejar level S2-nya Mama Isto. Lulusan UCL, coy~

Maka, nyaris 2 tahun yang lalu saya memutuskan untuk merintis jalan agar bisa kuliah lagi. Ambil S2, meskipun saya kadang ingat bahwa pas jobfair di Bandung ada mbak-mbak dari S1 Teknik sesuatu dan S2 Manajamen mencoba ngelamar jadi CPNS untuk formasi S1 Manajemen. Sekadar fakta bahwa banyak juga orang ngambil S2 itu adalah atas dasar daripada nganggur sesudah S1.

Mau kuliah lagi di PNS itu tidak mudah. Prosedurnya panjang dan berliku. Untuk berbagai alasan, saya kemudian menambah sendiri tingkat keribetannya. Ya, saya ingin kuliah tanpa beasiswa dari kantor.

Awalnya, tujuan saya adalah di Singapura, di Lee Kwan Yew School of Public Policy. Pas ke Singapura pun saya menyempatkan diri untuk melihat langsung kampusnya di dekat Botanical Garden. Tua, sih, tapi terasa hawa kerennya. Tim LKYSPP juga getol cari mahasiswa asal Indonesia. Kalau kata Rian Ernest, caleg PSI gagal–serupa Mz Kokok Dirgantoro–scholarship di LKYSPP juga sangat cukup, belum lagi dosen-dosennya yang “nggak kayak di Indonesia”.

Saya lantas mengambil tes TOEFL yang cocok untuk bisa apply LKYSPP, ya semata-mata karena tenggat dan harga, sih. Mereka tidak menyebut standar TOEFL yang pasti, tapi bilang angka yang bisa dipertimbangkan dan ketika TOEFL saya keluar ya masih di bawah tapi tidak jauh.

Kalau saja saya itu adalah istri saya zaman muda, saya pasti nekat apply. FYI, istri saya itu pada apply pertama nggak diterima sama UCL. Tapi karena bisa banding, dia banding dengan argumentasi tambahan (tanpa mengubah pokok masalah) dan kerennya keputusan UCL bisa berubah.

Akan tetapi, saya tentu tyda boleh egois. Saya sekarang sudah bapak-bapak. Ada istri, ada anak. Kalau saya ke SG sana, terus apa ya istri saya yang M.Sc Farmasi Klinis dari England itu kudu resign dan menemani saya ke SG sambil bawa anak? Atau kalau saya tinggal saja di Indonesia, nanti siapa yang bikin susu Isto kalau dia lagi ihik-ihik minta dodot tengah malam? Bukan apa-apa, sejak dia masih piyik itu tugas saya soalnya. Dan kebetulan, kami sepakat tidak pakai ART menginap.

Lebih dari semuanya itu, saya tidak hendak kehilangan masa-masa bertumbuh dari Kristofer. Saya yakin, untuk alasan ini, pilihan saya untuk enggan mencoba lagi mencari beasiswa ke LN, yang sebetulnya cukup dekat untuk diusahakan, adalah keputusan yang tepat.

Screenshot_1956

Maka, dengan bayangan seram kuliah di dalam negeri, saya pada akhirnya harus memilih. Ini juga tidak mudah.

Kalau mau egois, ya tentu saja saya ingin masuk UGM. Presiden RI sekarang lulusan sana, saya juga dulu sudah pernah nyanyi “bhakti kami, mahasiswa Gadjah Mada….” dengan cukup fasih. Bayangan hidup di Jogja yang 10 tahun silam enak itu jelas mengemuka.

Lagi-lagi, saya bukan lagi bujangan. Dengan pertimbangan yang sama, saya akhirnya menihilkan UGM dari pilihan. Opsinya ya tinggal 1: ambil S2 di Jakarta dan sekitarnya, dan di list dari pemberi beasiswa pilihan mengerucut jadi satu saja: Universitas Indonesia.

Tidak usah jauh-jauh, menjadi ‘Anak UI’ itu sudah cukup luar biasa di keluarga saya. Bapak, Mamak, saya, dan 3 adik sejauh ini kuliahnya swasta semua. Jadi, ini untuk pertama kalinya ada di keluarga saya yang kuliah di PTN.

Seluruh proses saya jalani. Bagi PNS yang ingin beasiswa di luar kantor perkaranya jadi tiga macam dan nggak jelas juga mana yang sebenarnya duluan. Pertama, mengurus beasiswanya itu sendiri. Kedua, mengurus prosedur Tugas Belajar yang akan membebaskan kita dari kewajiban bekerja dan digantikan dengan wajib belajar. Ketiga, ya daftar kampusnya.

Hampir 1,5 tahun waktu untuk menyelesaikan itu semua. Dan kini semuanya selesai, saya akan segera menjalani kehidupan baru. Kehidupan yang sudah 10 tahun lebih saya tinggalkan. Ya, menjadi mahasiswa (lagi), belajar (lagi), mengerjakan tugas-tugas (lagi), dan segala dinamika lain yang pastinya akan sangat berbeda dibandingkan sepuluh tahun silam ketika saya lulus Program Profesi Apoteker.

Ya, hari ini sampai dua tahun ke depan, saya akan menjalani studi S2 di Universitas Indonesia. Mohon doa dari teman-teman sekalian. Doa paling sederhana saja, kok, supaya saya bisa lulus pas 2 tahun. Bukan apa-apa, lewat dari 2 tahun, beasiswanya nggak mau bayarin lagi, soalnya. Hehe.

Tabik!