Ketika Anak Keminggris

Sejak kuliah lagi, yang terbayang oleh saya sebenarnya adalah kehidupan yang sangat akademis. Ya, sebenarnya sudah lumayan terbentuk di semester 1. Ketika itu, saya berangkat ke kampus untuk menyediakan waktu 3-4 jam di perpustakaan guna mengerjakan paper. Kadang-kadang, saya juga ke kampus Depok untuk pergi ke perpustakaan yang lebih besar. Terbayang juga untuk saya bisa mengikuti acara-acara akademis yang tersebar di penjuru Jakarta karena saya punya waktu untuk itu.

Pada saat yang sama, anak tetap di daycare. Sore hari dijemput sama istri. Pendidikan dia akan terjamin karena sejauh ini dia cukup oke kinerjanya di daycare. Nyaris nggak ada masalah berarti selain menggigit anak orang. Itupun sebenarnya karena dia diganggu terlebih dahulu.

Saya dan istri bahkan sudah punya perencanaan indah. Istri ikut conference di Singapura. Saya yang kebetulan liburan semester akan punya fleksibilitas untuk turut serta dan kami bisa liburan ke Singapura. Gambarannya, Singapura adalah negara pertama yang akan didatangi oleh Isto. Kami bahkan sudah menyiapkannya paspor. Ya, teman-temannya se-daycare sudah main ke Jepang sampai Perancis, sementara Isto paling jauh Jam Gadang. Sebagai orangtua, kami tentu ingin bikin anak senang dan tampak keren.

Apa daya, manusia hanya bisa berencana. COVID-19 kemudian menjadi penentu.

Semester 2 saya lewati lebih dari separo periodenya dengan kuliah sembari menjaga anak. Bikin paper tentu tidak bisa di perpus, jadilah di rumah saja. Sambil kadang-kadang diganduli untuk dibilang, “Papa jangan kuliah…”

Isto mana tahu kalau sampai saya telat lulus, pos anggaran terbesar yang terancam untuk digunakan (karena beasiswa saya tidak terima telat lulus) adalah biaya pendidikannya. Amit-amit. Jangan sampai, deh.

Ya begitulah. Mau tidak mau, anak saya betul-betul harus terikat dengan YouTube. Tidak di HP, sih. Saya dan istri membeli Smart TV Box sehingga YouTube-nya di TV. Mahal sedikit nggak apa-apa, yang penting gede. Pada periode tertentu kadang-kadang saya pakai streaming badminton juga, seperti pas Suhandinata Cup 2019. Enak nontonnya. Gede.

Pada saat dia terjebak bersama saya di rumah karena daycare-nya tutup dan kemudian ya akhirnya tutup permanen, usianya belum 3 tahun. Sekarang sudah lewat 3 tahun. Usia yang sangat krusial untuk masuknya hal-hal baru. Dan dampaknya terasa betul sekarang. Ya, gara-gara sebagian hidupnya terpaksa harus bersama YouTube, maka anak saya benar-benar keminggris ngomongnya. Tanpa perlu saya diajari.

Tayangan yang dia tonton adalah Peppa Pig, Blippi, dan sekarang Octonauts. Yang Octonauts sih baru ya, belum terasa dampaknya. Tapi kombinasi Peppa Pig dan Blippi betul-betul sangat meng-influence dia. Isto sering sekali storytelling dengan kata-kata Blippi, seperti “I show you…” atau “Here we go!” atau yang agak mirip “Hmmm, let’s do….” Demikian pula dengan kata-kata dan konteks yang ada di Peppa Pig, seperti kalau menerima makanan baru, dia sering bilang, “Hmm, delicious…”

Berhitung pun sudah lancar, tapi ya dari one sampai twenty, bukan satu sampai dua puluh. Kemarin kami beli paket sekolah daring yang elemen pengantarnya pakai bahasa Indonesia, ya anak saya berasa nggak nyambung. Padahal ya bisa, cuma pakai English.

Pada satu sisi ya saya senang-senang saja. Toh selama ini dia juga saya ajak ngobrol Bahasa Indonesia, kok. TOEFL saya kan 700 dari 3 kali tes, jadi memang penguasaan Bahasa Inggris saya nggak bagus-bagus banget. Emaknya sebagai lulusan Inggris yang sudah pasti keren. Ketika kemudian anak saya belum bisa berhitung satu, dua, tiga, dst tapi bisa one, two, three ya saya biasa aja juga. Kadang-kadang saja agak berpikir keras bagaimana kelak dia ketika masuk sekolah.

Ya mau bagaimana lagi? Ini konsekuensi. Toh menurut saya, pengaturan sekarang boleh dibilang berkat. Pas pandemi, pas saya kuliah, pas bisa daring pula. Jadi saya bisa menjaga anak saya dari dunia luar yang sedang kejam-kejamnya. Kalau kejadiannya pas saya sudah aktif lagi, boleh jadi daycare adalah pilihan tunggal yang tidak bisa dielakkan.

Jadi, kalau anak keminggris gimana? Kata saya ya udah, mau diapain lagi~

Review Redmi 9C: Okesip Untuk Harga di Bawah 2 Juta

Alkisah, postingan yang ini berhasil menjadi juara 1. Dapat hadiah 3 juta. Dan sebagaimana sebagian dari hadiah postingan ini saya belikan handphone, maka demikian pula dengan hadiah yang paling aktual tersebut. Hehe. Bukan apa-apa, selain sebagai pengingat–berhubung boleh jadi saya nggak akan jadi juara 1 lagi di kemudian hari, juga karena saya punya kendala dengan gawai saya karena lemotnya minta ampun.

Sebagai gambaran, saya sangat sering gagal bertransaksi pada OVO. Sebab, dalam waktu 30 detik yang disediakan, seringkali saya baru berhasil membuka notifikasi. Ketika sampai ke laman konfirmasi, 30 detiknya sudah habis. Mau nggak mau harus beli gawai baru. Boleh jadi memang dia kelelahan, apalagi sejak pandemi, dia sangat sering dipakai tethering.

Kebetulan tanggal 15 September 2020 kemarin adalah hari pertama penjualan Redmi 9C. Tadinya saya pengen juga nyoba gawai lain seperti Realme atau Vivo, cuma kok ya menurut saya Redmi ini sudah bagus dan saya malas adaptasi lagi. Kebetulan juga dapat keluaran terbaru, jadi boleh juga kalau saya beli.

Tentu saja saya beli lewat JD.ID dengan sedikit drama. Awalnya saya ingin beli yang warna oranye, tapi gagal di pembayaran. Pas itu JD.ID bilang stok habis. Walhasil saya pindah ke yang grey dan berhasil. Keesokan harinya, Redmi 9C 4GB/64GB mendarat di pos satpam.

Redmi 9C sedikit lebih besar dari Redmi 5 Plus milik saya. Secara umum cukup nyaman, tapi tentu saja lengkapi dengan anti gores hydrogel berikut softcase. Saya cuma nggak nyaman aja bergawai tanpa kedua perlengkapan itu meskipun sebenarnya tanpa kedua elemen itu, gawai zaman sekarang sudah cukup kokoh. Material untuk bodi Redmi 9C adalah polikarbonat dan kayaknya sih punya ketahanan yang cukup baik.

Salah satu yang unik di Redmi 9C adalah tiga kamera dan satu LED flash yang hadir di bagian belakang agak mojok, bukan tengah. Tentu tidak lupa ada pemindai sidik jari. Cuma menurut saya kok sedikit lebih kecil dibandingkan Redmi 5 Plus.

Ukuran layar Redmi 9C adalah 6,53 inci dengan panel IPS dan resolusi HD+ atau 720 x 1200 piksel. Kemudian untuk layar masih tampak bezel uang cukup tebal di bagian bawah serta tipis-tipis di kiri kanan dengan poni untuk tempat kamera di bagian atas.

Jack audio 3,5 mm ada di bagian pinggir atas dan saya nggak menemukan headset di dalam packaging. Hehe. Beda lagi dengan Redmi 5 Plus. Untuk slot kartu SIM sama dengan Redmi 5 Plus, di sisi pinggir kiri dan sudah lengkap 2 SIM Card dan satu slot Micro SD. Jadi nggak harus melakukan pengorbanan sebagaimana di Redmi 5 Plus karena harus memilih antara SIM 2 atau Micro SD. Kalau untuk tombol power, volume, dll sama persis dengan Redmi-Redmi lainnya.

Redmi 9C menggunakan MIUI 12 dengan berbasiskan Android 10. Karena punya saya adalah yang 4 GB/64 GB jadi cukup lega juga kinerjanya. Redmi 9C mendukung face recognition tapi saya belum coba karena muka saya jelek.

Dengan harga di bawah 2 juta tentu saya juga nggak berharap ada NFC. Juga tidak ada game booster dan saya juga nggak berharap karena saya nggak mabar.

Kamera belakang Redmi 9C adalah 13MP wide, 2 MP macro, dan 2 MP depth. Secara umum sih cukup bagus untuk kepentingan saya, tapi ya nggak perlu berekspektasi akan sangat oke. Bukan apa-apa, namanya harga di bawah 2 juta ya mau sebesar apapun MP-nya kan tetap saja ada harga ada rupa.

Tenaga Redmi 9C menggunakan chipset MediaTek Helio G35 yang cukup tangguh ketika digunakan pada RAM 4 GB. Secara umum katanya sih kuat buat gamng, tapi lagi-lagi, saya anaknya nggak mabar jadi nggak nyoba. Lagian kalau buat nge-game saya balik ke Redmi 5 Plus yang sudah kosong karena WhatsApp-nya dipindah dan Instagram saya hilang…

Baterai Redmi 9C katanya sanggup dipacu 14 jam dengan isi 5.000 mAh. Secara umum sih kalau nggak diapa-apain cukup baik. Cuma memang saya melihat gawai ini nggak cukup kuat untuk di-tethering lama karena bisa langsung drop lebih banyak.

Secara umum, saya sih cukup puas dengan kinerja Redmi 9C sejauh ini. Ceritanya, saya mendapatkan kinerja yang melampaui Redmi 5 Plus dengan harga yang jauh lebih murah. Dan kebetulan dapat yang benar-benar baru nongol, jadi lumayan bisa nulis review abal-abal ini.

Our Lady of Fatima: Church With Chinese Nuance in Jakarta

I visited this Church in July 2015. Five years ago, I tried to reach all churches at the Roman Catholic Archdiocese of Jakarta in #KelilingKAJ project. And I failed because only visit about 20 Churches before I became a father. When you became a father, you can’t spend time going around and forget your son. Haha.

This Church is also known as Toasebio Church, and the nearest TransJakarta bus stop is Glodok. From this bus stop, look for the black gated road. From there, walk and follow the instructions: the Ricci school signboard.

After walking for a few minutes, we will arrive at the Vihara. From there, turn left, then follow the road, and then you will see the Ricci school on the right side. The Toasebio Church is right next to the Ricci school. At first glance, the building is not much different from the Vihara.

The Toasebio Church building may be one of the oldest church buildings in Jakarta because it has been built since the 19th century. At that time, the building belonged to the Tjioe family. The building was purchased in 1950 and used as a church in 1955. The gold and red tabernacles are the former places of respect for the ancestors of this family. Its architecture is typical of Fukien (South China) so that it has been used as a cultural heritage since 1972. Being a cultural heritage is indeed a double meaning that the government recognizes. Still, then if you want to change its shape, you must have a permit—for example, the Bukittinggi Catholic Church. The building is also cultural heritage, but it doesn’t need to be renovated because there are not too many Catholic people.

The name Ricci for the school in the premises refers to Matteo Ricci, a Jesuit priest who spread Catholicism in mainland China. When you enter the church building, at first, it doesn’t feel like a church because the nuance is very typical of Chinese, including there are two lion statues on the front of the Church. Likewise, the red and gold ornaments that fill the building. The building is smaller than the Canisius College chapel, and certainly much smaller than in Mangga Besar. This Church is a form of inculturation with culture because of this Church located in Jakarta’s Chinatown.

Even though the building is ancient, the Toasebio Church cannot be separated from modernization. I didn’t see a microphone on the altar, but the Pastor’s voice was unmistakable. Then you can see a kind of CCTV camera at the top of the altar and the center of the Church. There is no need for a person to take a video because it is there and settled. There is also an LCD placed roughly above Jesus and the Blessed Mother. AIR CONDITIONING? Of course, there is.

wpid-photogrid_1435680310793.jpg

In regular times, before the COVID-19 pandemic, mass in Toasebio was offered on Saturdays at 6:00 p.m., and Sundays at 6:00 a.m., 7:30 a.m., 9:30 a.m., and 6:00 p.m. In Toasebio, there is also a Mass at 4:15 p.m. for Mass in Chinese. Similar to the Sacred Heart Church in Palembang, which also has a Chinese version.

Maria Cave is in the churchyard with a vast size. The building covers the story of Maria de Fatima, including the three children who got the vision depicted in the size of a real child. The Toasebio Church grounds are also car-free; most likely, the car park is in Ricci school.

wpid-photogrid_1435680400044.jpg

After mass in Toasebio, there are exciting choices for culinary noodles. Again, it reminds me of Palembang. When I finished a mass, you immediately went hunting for Jalan M Isa noodles. Glodok is indeed the center for culinary noodles. That’s the story five years ago. Jakarta’s current position is, on average, still online, or even if there is a mass, access is minimal. Yes, we hope the COVID-19 pandemic will pass soon.

4 Ciri Aplikasi Pinjol yang Aman

Bicara soal kemiskinan dan kekurangan uang saya adalah jagonya. Heuheu. Akan tetapi, ya syukurlah sampai hari ini masih survive. Memang butuh ditempa keadaan untuk bisa tangguh, termasuk menghadapi pandemi yang mempengaruhi dompet banyak orang sejauh ini.

Salah satu alternatif untuk mendapatkan uang dalam waktu singkat adalah pinjaman online alias pinjol. Cuma, cap yang diterima pinjol zaman sekarang agak kurang pas karena salah satunya kehadiran pinjol-pinjol yang tidak aman.

Paling kentara tentu seperti beberapa SMS yang saya peroleh:

“Sampaikan kpd Xxxxxxx agar dibayarkan hutangny. Anda sdh di jadikan penjamin oleh Ybs. Jgn nnti anda yg kami cari. Thx.”

Atau yang ngetiknya agak absurd:

“Haelo, boleh brtny apakach inji keiluarga Xxxxxxx, tlzh menghutang dk! perusahaan kam1, mohon smpaikan pdanya segera melakukan perlunaszan atau membantru membayarkan hutangnya, yapng pennt1ng membayzarkan ulang pokok kita untuk menghapuskaqn hutangnya.”

Sebal? Pasti. Lha ketemu terakhir saja 10 tahun lalu kok ya saya dijadikan penjamin buat ngutang?

Photo by Gratisography on Pexels.com

Nah, untuk itu, ketika memang harus menggunakan pinjol pertama-tama kita harus mengetahui tentang ciri-ciri pinjol yang aman. Setidaknya agar kita cukup merepotkan hidup kita dengan mencari uang guna membayar utang dan bukan justru repot oleh hal-hal lainnya sebagaimana SMS yang saya dapat tadi.

Bunga Masuk Akal

Perlu diingat bahwa karakteristik pinjol adalah ketiadaan jaminan sehingga risiko gagal bayar dipenuhi antara lain dengan bunga yang tentu saja lebih tinggi dari KPR maupun kredit khusus PNS, misalnya.

Beberapa literatur menyebut bahwa umumnya pinjaman di bank itu bunganya 0,7-2 persen per bulan. Nah, seringkali pinjol angkanya jauh dari itu meskipun menawarkan kecepatan pencairan. Jadi, pertama-tama bandingkan dulu bunga.

Terdaftar di OJK

Tampak klasik ya, tapi memang demikian adanya. Dan terdaftar itu kita juga ngecek ke situsweb OJK-nya ya. Jangan percaya embel-embel “terdaftar di OJK” dari satu pihak.

Logika dari terdaftar di OJK itu sama dengan produk makanan terdaftar di BPOM. Mendaftar ke negara itu terkait dengan tanggung jawab negara. Dalam hal produk makanan misalnya, ketika BPOM mengeluarkan izin edar, maka ada jaminan kualitas dari produk makanan karena ada dokumen yang diberikan dan ada pengawasan selama periode izin berlaku. Demikian pula dengan jasa keuangan, kurang lebih sama.

Keaslian Alamat dan Situsnya Jelas

Selain aplikasi, biasanya ada situs dan otomatis ada alamat kantor. Bagian ini harus kita pastikan terlebih dahulu. Kalau perlu cek media sosial sampai ke google maps. Paling penting, emailnya bukan gratisan. Perusahaan yang ingin kredibel nggak akan bikin email di yahoo atau gmail. Apalagi perusahaan pinjol.

Salah satu pinjol yang jelas adalah Tunaiku, yang salah satu situs dan aplikasi pinjol paling awal di Indonesia karena sudah ada sejak 2014. Hal yang cukup membedakan Tunaiku dengan sejumlah aplikasi pinjol lain adalah posisinya sebagai produk dari Amar Bank. Amar Bank sendiri sebagai sebuah entitas bank sudah ada di Indonesia sjak tahun 1991. Tunaiku dan Amar Bank berada di bawah Tolaram Group, sebuah perusahaan multinasional dengan headquarter di Singapura dan mengelola 19 brands serta memiliki bisnis di 75 negara.

Posisi sebagai bagian dari entitas bank, maka Tunaiku memilik perbedaan penting dalam hal keamanan dan fleksibilitas dibandingkan sejumlah aplikasi pinjol lainnya. Sudah tentu pengawasan OJK menjadi kunci, termasuk juga keamanan data nasabah.

Tidak Sangat Mudah Memberikan Pinjaman

Lho kok? Ya justru itu, sebagai seseorang yang pernah belajar risk management, saya diajari kalau bagaimanapun meminjamkan uang itu ada risiko gagal bayar. Pinjol yang beneran pasti akan melakukan pengecekan kelayakan dan tidak sembarangan memberikan dana pinjaman.

Soal kemudahan ini bisa juga dilakukan dengan cek ke review pada aplikasi pinjol di Playstore, ya. Biasanya testimoninya ada di situ, baik sedikit testimoni soal pencairan maupun masalah-masalah yang mungkin terjadi dalam proses sebelum mendapat pencairan.

Pengecekan yang dilakukan oleh penyedia pinjaman adalah bagian dari win-win solution. Menurut pengalaman saya, sih, kalau di pengecekan ini yang penting kita bayar minimal saja deh kalau memang lagi seret. Hal itu akan membantu kinerja nama kita di mata Sistem Layanan Informasi Keuangan OJK sehingga kalau lagi mau minjem nggak ditolak-tolak amat gitu.

Oya, kalau di aplikasi, selain cek review, jangan lupa juga cek bintang. Kalau bintangnya di atas 4, sebagaimana Tunaiku ketika saya menulis post ini, lalu cek relevansi setiap review dengan bintang, maka kita dapat menyimpulkan kelayakan suatu aplikasi pinjol untuk kita gunakan sebagai solusi yang nggak akan menjadi permasalahan bagi kita di kemudian hari.

Bicara pinjol dan salah satu pinjol paling awal yaitu Tunaiku maka kita bicara pula tentang penyediaan fleksibilitas dalam bentuk fasilitas tenor yang sangat panjang dan limit yang cukup tinggi untuk ukuran pinjol yaitu tenor 20 bulan dengan limit hingga 20 juta rupiah. Tunaiku sendiri menyediakan layanan kredit pinjaman online tanpa jaminan dan tanpa kartu kredit, plus proses pengajuan KTA-nya bermodalkan KTP serta pengisian formulir sekitar 10 menit saja.

Demikian sedikit tips supaya kalaupun kita harus pakai pinjol, tetap aman. Satu hal yang penting, berutang itu pilihan dan bagaimanapun selagi kita tidak bisa membantu, kita tidaklah pantas menjustifikasi pilihan orang lain baik untuk berutang maupun tidak.

Photo by Tomas Anunziata on Pexels.com

Mudahnya Melakukan Permohonan Informasi di PPID Kementerian PAN dan RB

Jadi ceritanya kan saya kemarin itu bikin suatu paper. Arahnya adalah ke kinerja Kabupaten/Kota di Indonesia. Salah satu data yang tentu dibutuhkan adalah data hasil evaluasi SAKIP tahun 2018, yang dievaluasi pada 2019, dan diserahkan hasilnya awal 2020. Data SAKIP itu sungguh powerful. Dalam riset yang saya lakukan, ketika dibandingkan dengan data lain seperti Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat dari Kementerian Kesehatan misalnya ada pola yang jelas bahwa yang nilainya kecil, maka nilai SAKIP-nya ya C atau CC dan seterusnya sampai ke A.

Datanya sih bertebaran di media, tapi ya ngecer. Nggak ada suatu tabel khusus atau situsweb khusus yang berisi informasi tersebut. Ngecer maksud saya ya kabupaten A dapat nilai apa itu ada di berita, tapi paling mentok di suatu berita itu hanya ada 20 data kabupaten/kota lain. Sementara yang dibutuhkan lebih dari 500 kabupaten/kota se-Indonesia. Terakhir berita yang saya cari bikin saya trenyuh:

Kenapa saya trenyuh? Karena nilai yang diraih adalah CC. CC itu levelnya hanya ada di atas 83 kabupaten/kota yang dapat C, setara dengan 127 kabupaten/kota lainnya, di bawah 291 kabupaten/kota lain yang punya ponten A, BB, dan B. Kok bisa dibilang “HEBAT”? Bikin berita kok gitu amat. Padahal di provinsi yang sama masih ada 2 daerah yang dapat nilai B alias lebih tinggi, seharusnya kabupaten/kota ini yang hebat.

Baiklah. Skip. Dalam pikiran saya, ketika datanya sudah publik, mestinya bisa dong minta langsung ke KemenPAN-RB sebagai empunya data?

Jadi, ya saya coba saja. Apalagi kan di reformasi birokrasi itu ada aspek yang namanya Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID). Masak sih KemenPAn-RB selaku pengawal RB tidak mengelola PPID dengan baik?

Berbekal keyakinan bahwa PPID-nya pasti baik jadi saya mengajukan permintaan informasi melalui situsweb KemenPAN-RB. Pertama-tama tentu masuk ke laman ppid.menpan.go.id. Sesudah itu, kita mengisi formulir dengan salah satu komponen utamanya adalah scan KTP. Hanya ada satu file yang boleh diunggah, ya.

Soalnya kejadian saya begini…

Pertama kali saya minta, jawabannya adalah “evaluasi sedang kami lakukan”. Ya bukan gimana ya… Saya minta ke PPID kan bukannya nggak paham sampai meminta data yang masih dievaluasi. Walhasil, saya request lagi, kali ini saya menyertakan lampiran berupa hasil kompilasi saya dari sekitar 100-an berita yang memuat nilai SAKIP sebelum kemudian saya menyerah untuk googling 400-an lagi. Pegel broh.

Biar keliatan aja sih kalau saya memang benar-benar butuh data itu untuk bikin paper.

Dan ternyata beneran lho. Dikasih! Dalam waktu 2 hari, saya langsung dikirimi file-nya dalam bentuk spreadsheet oleh salah seorang pegawai KemenPAN-RB.

Well, tentu saya mengapresiasi sistematika kerja PPID KemenPAN-Rb untuk memenuhi kebutuhan data publik ini. Dan semoga ditiru oleh kantor-kantor lainnya. Bukan apa-apa, dalam pencarian yang sama saya mendapati masih ada K/L maupun Pemda yang bahkan form permintaan datanya tidak bisa dilengkapi, atau kalau bisa dilengkapi kemudian dipencet “Kirim” jatuhnya malah error katanya golongan darah saya nggak lengkap. Mungkin mengacu ke scan KTP sih, tapi…

OPO HUBUNGANE GOLONGAN DARAH SAMA MINTA DATA?!

#IniUntukKita – SBN Ritel: Cara Mudah Agar Negara Ngutang Tapi Rakyatnya Senang

#IniUntukKita – Sejak lama, kita disajikan ketakutan akan utang negara yang kadang-kadang dibawa jauh pada urusan kedaulatan, menjual negara, beban anak cucu, dan hal-hal ngeri lainnya. Saya tadinya keder juga mendengar narasi-narasi yang dibangun. Apalagi kalau sudah muncul pernyataan bahwa setiap kepala di negara ini menanggung utang negara sekian juta rupiah.

Karena keder itu tadi, saya jadi mencoba membaca-baca banyak hal. Kebetulan pula salah satu mata kuliah di kuliah S2 saya adalah Ekonomi Sektor Publik. Jadi, membaca utang negara adalah salah satu menu wajib supaya dapat nilai gilang gemilang.

Apa daya, dapatnya hanya A minus. Sedih~

Persoalan utang negara itu banyak anggapan bahwa negara berhutang layaknya perorangan ngutang ke bank atau ke leasing. Dalam artian, kalau nggak sanggup bayar, terus jaminannya entah tanah atau apapun bakal disita sebagai gantinya. Dari sisi sejarah nggak sepenuhnya salah, sih, tapi dengan perkembangan yang ada jadi nggak benar-benar amat juga.

Anggapan kedua, yang suka bawa-bawa ke urusan kedaulatan dan lain-lain adalah membandingkan cara berhutang dengan zaman dulu, mulai dari zaman awal kemerdekaan pada masa IGGI dan CGI, ketika Indonesia berhutang pada sekelompok negara. Atau mungkin melakukan perbandingan dengan salah satu momen legendaris bangsa ini ketika Indonesia berhutang ke IMF pada periode krisis di akhir 1990-an.

Soal utang ini sejarahnya memang panjang sekali. Utang bahkan jadi hal yang dibahas cukup serius dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) yang dikenal sebagai momen penting kedaulatan Indonesia. Ada hal yang agak bikin pening ketika dalam pengakuan kedaulatan oleh Belanda, ada tanggung jawab Indonesia untuk menanggung utang pemerintahan Hindia Belanda. Delegasi Indonesia sendiri bersikap bahwa tanggungan utang adalah sampai Maret 1942. Pada bulan itu, Jepang datang dan menggeser Belanda.

Soalnya, kalau Indonesia harus menanggung utang dari 1942 sampai saat KMB terjadi tahun 1949 ya agak-agak ironi karena jatuhnya adalah Indonesia menanggung utang terhadap uang yang dipakai untuk menyerang Indonesia sendiri dalam berbagai pertempuran sejak 1945-1949–tentu termasuk Agresi Militer I dan II. Kan nganu ya….

Pada akhirnya utang yang harus ditanggung adalah 1,12 miliar dolar AS. Ini kalau dibawa mentah-mentah ke kurs sekarang ya tampak nggak banyak, tapi pada periode itu tentu sangat banyak. Apalagi untuk negara baru merdeka.

Pada akhirnya, sampai dengan 1956 Indonesia sudah melunasi utang tersebut sampai 82 persen. Pada saat yang sama, Indonesia juga berutang ke negara-negara Blok Timur. Begitu 1965, kondisi utang Indonesia adalah 2,36 miliar dolar AS dengan 59,5 persen adalah pinjaman ke negara-negara Blok Timur.

Satu hal yang pasti tentang utang negara dan terutama utang luar negeri ini tentu saja posisinya sudah terjadi jadi harus diterima apapun keadaannya. Hanya saja harus dilihat bahwa seiring perubahan tatanan keuangan global ada perubahan cara berutang. Utang yang semacam itu memang masih ada ya betul. Akan tetapi proporsinya sudah sangat jomplang dengan sumber utang alias pembiayaan lainnya.

Jadi, menyoal utang negara ingatlah pesan paling penting dari film Tilik (2018) berikut ini:

Secara umum, menurut LKPP untuk pembiayaan luar negeri di TA 2019 itu minus Rp17,49 triliun alias membayar pinjamannya lebih besar daripada minjem lagi. Pada tahun 2019, realisasi pinjaman tunai itu hanya ada 2 yaitu:

Sumber: Laporan Keuangan Pemerintah Pusat TA 2019 (Audited)

Sumber pembiayaan paling besar itu sekarang justru di penjualan Surat Berharga Negara, bukan utang model IGGI atau CGI lagi. Besarnya nggak tanggung-tanggung, menurut Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun Anggaran 2019 yang sudah diaudit Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI), proporsinya adalah sebagai berikut:

Sumber: Laporan Keuangan Pemerintah Pusat TA 2019 (Audited)

Pada titik ini ada pola pikir yang perlu disesuaikan. Kini negara itu lebih banyak berhutang pada pembeli SBN, yang bisa saja institusi tapi—nah ini yang menarik—bisa juga perorangan.

Iya. Perorangan. Kamu-kamu-kamu itu bisa lho ngutangin negara. Dan ngutangin yang satu ini beda dengan ngutangin teman atau tetangga yang potensi uang kembalinya 50:50 dan mengandung konsekuensi bakal galakan yang ngutang daripada yang ngutangin. Memberi hutang pada negara ini dijamin kembali plus dapat untung juga.

Jadi kalau tadi di awal narasi ketakutan bahwa ketika negara berhutang ke negara lain maka negara ini dijual sebenarnya bisa diubah ketika negara justru berutang kepada rakyatnya sendiri. Model ini sudah mulai jamak beberapa tahun terakhir dan dikenal sebagai SBN Ritel.

Gambaran umumnya, negara akan membuka periode waktu penjualan dan menetapkan bunga tertentu. Nanti masyarakat bisa membeli SBN tersebut yang berarti uang kita akan berpindah sementara ke negara atau sederhananya negara ngutang sama kita begitu kita melakukan transfer ke rekening negara. Nah, namanya minjemin, kita pasti butuh benefit kan? Nanti setiap bulan, kita akan mendapat sejumlah uang sebagai imbal balik sudah minjemin uang.

Satu hal yang harus dipahami adalah kalau minjemin uang ke negara itu temponya sudah ditetapkan. Kalau yang ritel umumnya 2 tahun. Dalam periode itu, kita nggak bisa menarik uang yang sudah kita setor tersebut. Uang itu baru akan kembali sesudah 2 tahun dalam jumlah yang utuh setelah sebelumnya selama 24 bulan kita menerima sejumlah uang sebagai imbalan sudah mau minjemin.

Sekarang jumlah minimal pembelian SBN ritel adalah Rp1 juta dan maksimal Rp 3 miliar. Rentang ini sudah cukup menarik minat masyarakat, tapi sesungguhnya ada potensi untuk jauh lebih besar lagi. Memang, sih, kalau naruh 1 juta, tiap bulan hanya dapat kurang lebih 5000 rupiah. Akan tetapi bayangkan kalau naruh 100 juta di SBN? Dengan diem-diem bae bisa dapat 500 ribu setiap bulan.

Para milenial tua yang sudah menyiapkan biaya kuliah anak dan dipakainya masih lebih dari 5 tahun lagi bisa menaruh uang yang sudah mulai tersimpan itu ke SBN dengan imbal balik yang menarik. Demikian pula dengan pemuda yang sudah punya 20 juta dan bersiap untuk nabung DP rumah sampai 150 juta. Bisa juga pakai SBN Ritel ini.

Pada titik ini, negara memang ngutang, tapi ngutangnya ke rakyatnya sendiri. Dan rakyatnya juga senang karena dapat benefit karena sudah mau meminjamkan uang. Narasi-narasi soal kedaulatan justru bisa berbalik.

Ketika negara ngutang ke rakyatnya, maka uangnya ya beredar di dalam negeri kan? Dipakai untuk membiayai program pemerintah, maka uangnya akan bergulir kepada rakyat lagi. Sementara itu, rakyat yang meminjamkan juga dapat imbalan berupa kupon tadi, ya uangnya jadi di sini-sini juga. Nggak perlu ke luar negeri dan nggak perlu lagi keder dengan narasi-narasi menakutkan soal utang negara. Kalaupun ada, kan tinggal bilang:

Mudah dan Asyiknya Mencari Kost Zaman Sekarang

Sebagai anak rantau, urusan mencari kost adalah hal yang wajib. Apalagi rantaunya Sumatera ke Jawa seperti saya plus ada pengalaman buruk ketika menumpang keluarga. Lha, saya itu ngekost pertama kali itu awal 2006. Sudah lama banget. Sudah jadi pakar ngekost karena sudah melakoninya di Jogja, Palembang, Cikarang, hingga Jakarta.

Prinsip utama ngekost itu adalah domisili yang dekat dengan tempat beraktivitas. Kalau anak kuliahan ya cari kos-kosan yang dekat kampus. Kalau pekerja newbie, ya cari kos yang dekat dengan kantor. Jadi ingat dulu waktu di Palembang, saking dekatnya tempat tinggal, saya selalu berangkat 07.55 dan 07.57 sudah sampai ke depan mesin absen. Wkwk. Kalau di Cikarang nggak bisa jalan kaki, jadi ya 07.40 sudah naik motor dan 07.55 sampai kantor.

Tapi ada kalanya juga ngekost itu mendekati teman. Saya pernah punya teman, Si Boim, yang kerja di Jakarta Barat tapi ngekost di Jakarta Timur. Agak bikin dahi berkerut, sih, tapi ternyata dia punya alasan sendiri sebelum kemudian jadinya ya lelah sendiri juga untuk kemudian resign dan pindah kota.

Nah, zaman dahulu nyari kost itu setengah mati. Apalagi kalau betul-betul buta dengan lapangan. Harus keliling, keluar masuk gang, dan tentu saja mencari tempat-tempat bertuliskan “TERIMA KOST”. Versi yang agak mendingannya adalah pakai jalur info teman. Saya sih sudah pernah menjalani semua tipe itu.

Zaman sekarang? Wah, nyari kost itu cenderung lebih mudah dan asyik. Bahkan nggak perlu panas-panasan segala. Sambil ngadem dan rebahan pun bisa.

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Beberapa platform pada masa kini dapat kita gunakan untuk mencari kost. Misalnya, infokost.id yang dikembangkan oleh PT. Mediapura Digital Indonesia. Ada beberapa tipe properti yang bisa dicek melalui platform ini, yaitu kost, apartement, villa, dan hunian lainnya. Ada juga fitur pencarian untuk durasi tinggal mulai dari harian, mingguan, bulanan, sampai dengan tahunan. Salah satu fitur yang menarik adalah adanya verifikasi dengan dua tanda centang berbunyi “Data terverifikasi” dan “Sudah dikunjungi”. Plus, lokasinya juga detail di map. Beda banget sama zaman dahulu kala~

Platform lainnya adalah yukstay.com, yang sekilas pandang lebih identik dengan apartemen, sih. Nah, kalau di platform ini ada salah satu fitur bernama Co-living. Menurut pemilik platform, co-living adalah cara dan gaya hidup baru di kota yang fokus menyediakan kenyamanan dan kemudahan dalma artian adanya kamar-kamar tidur pribadi dan ruang bersama, tapi di apartemen gitu. Pilihan lainnya adalah whole living unit.

Photo by Andrew Neel on Pexels.com

Ada juga cari-kos.com. Di platform ini ada pencarian berbasis jenis kos yaitu putra, putri, dan campur. Termasuk opsi pelihara binatang, sekamar bertiga, dan banyak lainnya juga ada. Plus petanya juga cukup jelas. Sekilas pandang melihat petanya berasa sedang ngojek pakai Maxim. Platform ini dikembangkan oleh PT. Cari Kos Nusantara.

Platform berikutnya adalah BabeKost. Namanya babe, ini ada kumisnya. Di platform ini ada informasi tentang kost, apartemen, villa, juga hunian. Kontrakan di Citra Maja Raya juga ada. Ada sedikit tips sih tapi memang update terakhirnya dibuat pas Wakil Presiden masih Jusuf Kalla. Oya platform ini mencakup Jakarta, Bandung, Bekasi, Bogor, Depok, Surabaya, Tangerang, sampai Yogyakarta. Eh, ya sampai ke Lebak juga itu kan tadi ada Maja.

Kalau agak-agak tajir sedikit, maka mungkin bisa mlipir ke flokq.com. Di sini, opsinya cenderung dari apartemen-apartemen kelas atas seperti Bellagio Residence, Parama Apartment, hingga The Royal Olive Residence kalau di Jakarta. Disini ada beberapa tipe membership yaitu Master Room, Queen Room, hingga Common Room. Semuanya dengan spesifikasi masing-masing.

Platform berikutnya adalah SewaKost. Nah, kalau disini beberapa kata kunci utama adalah AC, Free WiFi, dan kamar mandi dalam. Lebih sedikit, sih dibandingkan platform lainnya yang bahkan tadi sampai ada informasi tentang boleh pelihara hewan atau tidak. Akan tetapi, di SewaKost ini pilihannya lumayan banyak juga.

Survei kost sambil rebahan dan ngadem itu tentu diperlukan karena ini adalah masa-masa pandemi. Kata WHO, mau pergi ke luar rumah itu urusan hidup dan mati. Jadi, sebisa mungkin kita meminimalkan kegiatan di luar rumah.

Lah, kalau mau survei kosan gimana?

Photo by Nathan Cowley on Pexels.com

Kan sudah dibilang tadi, bahwa zaman now ini nggak seperti 15 tahun lalu. Jadi bisa pakai cara yang menenangkan. Pertama-tama, kita dapat mendownload aplikasi RedDoorz dan bisa langsung mencari kost yang sesuai dengan kriteria.

Soal RedDoorz sendiri tentu kita sudah cukup kenal karena merupakan salah satu jaringan manajemen dan reservasi akomodasi yang cukup kondang di ASEAN. Nah, selama ini yang saya tahu ada beberapa properti RedDoorz itu yang aslinya adalah kos-kosan eksklusif gitu. Saya kan sering pakai. Kadang-kadang kepikiran, kalau mau ngekost di tempat itu gimana ya…

Ternyata kini RedDoorz juga sudah menyediakan opsi itu. Akomodasi jangka panjang seperti kost. Pencarian dapat kita lakukan melalui Kost di RedDoorz. Ada berbagai penawaran yang menarik baik dari fasilitas maupun harga. Proses sortir di aplikasi dapat kita lakukan berdasarkan harga, fasilitas, booking, dan sebagainya.

Nah, melalui Kost di RedDoorz, kita bisa mengeksplorasi calon kost baik dari jaraknya dengan tempat kerja atau kuliah. Plus kan zaman sekarang map sudah canggih, jadi kita bisa melihat pula fasilitas yang tersedia di sekitarnya melalui peta yang tersedia. Di sisi lain, kita juga bisa melakukan pencarian berdasarkan harga. Model begini tentu tidak ada pada zaman dahulu karena minimal kita harus menelepon dulu atau datang langsung ke calon kost supaya mengetahui harganya, dan tentu saja fasilitas lain.

Salah satu yang juga menarik dari Kost di RedDoorz adalah program RedDoorz HygienePass sebagai bagian dari upaya menaati protokol kesehatan. Bagaimanapun, kita harus bisa menghindari penyakit yang belum ada obat dan vaksinnya itu.

Demikianlah kiranya mencari kost zaman sekarang itu sudah sangat lebih mudah dan lebih asyik dibandingkan pada zaman saya sekolah dan kuliah dulu. Dengan bantuan teknologi, kita jadi dipermudah, sehingga pada akhirnya kita bisa jauh lebih produktif.

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

7 Panduan Memilih Laptop: Mahasiswa Wajib Tahu, Dosennya Juga

Sejak 2009, pekerjaan saya selalu berhadapan dengan layar komputer, entah PC entah laptop. Akan tetapi, biasanya ya barangnya ditinggal di kantor. Nah, tahun lalu, kebetulan saya kan kuliah lagi plus tiba-tiba kondisinya jadi seperti sekarang ini, pada akhirnya hidup saya harus betul-betul bersama dengan benda canggih tersebut.

Ya gimana? Sejak pertengahan Maret sampai Ujian Akhir Semester 2 yang baru lewat, semua perkuliahan dilakukan online. Minggu lalu dapat kabar, katanya pendidikan tinggi masih akan tetap Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sampai Desember 2020! Walhasil, ya saya hampir pasti akan nongkrong di rumah saja terus-menerus bersama-sama dengan laptop.

Kondisi yang mirip juga terjadi pada Mama Isto. Dia karyawan yang karena kepakarannya juga merangkap dosen. Nah, siapa bilang pas PJJ begini dosen enak hidupnya? Justru bermalam-malam sepulang kerja, Mama Isto harus bergelut dengan laptop-nya untuk bikin bahan, bikin kuis, dan juga mempersiapkan diri untuk pengajaran pada kelas-kelas yang menjadi jatahnya.

Sudah jelas sekali, baik mahasiswa maupun dosen, di era PJJ seperti sekarang ini butuh perangkat yang tidak hanya tangguh, tapi juga harus dekat dengan penggunanya. Lha iya, sepanjang hari dipantengin kalau nggak sreg ya garapan juga ambyar~

Nah, berikut ini akan dipaparkan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam rangka memilih laptop yang tepat baik untuk mahasiswa dan juga dosen, dalam menghadapi semester mendatang ketika kuliah daring tampaknya akan jalan satu semester full.

Tentukan Platform

Secara umum, laptop di pasaran terdiri dari 3 sistem operasi yaitu Windows, Chrome OS, dan MacOS. Gambaran umumnya, Windows adalah sistem operasi yang paling fleksibel dengan rentang harga yang juga sangat luas. Versi terbarunya adalah Windows 10, yang menyediakan sejumlah pembaharuan dari Windows 7 dan Windows 8. Sejak dirilis pada Juli 2015, Windows 10 secara terus menerus melakukan update, termasuk kemampuan asisten digital yang bernama Cortana. Oya, kalau menurut LaptopMag, Windows adalah satu-satunya mesin yang dipertimbangkan oleh gamer.

Untuk MacOS kurang lebih sama dengan Windows 10, namun ada beberapa perbedaan signifikan. Antara lain, MacOS tidak dibuat untuk fungsi touch screen. Sedangkan untuk Chrome atau yang dikenal dengan Google OS terbilang sederhana namun memang kemampuannya terbatas. Interface-nya mirip Windows tapi dasarnya memang browser Chrome.

Tentukan Ukuran Yang Tepat

Di kantor, saya sering mendapati keluhan dari beberapa orang perihal laptop kantornya yang kekecilan. Canggih, sih, tapi kecil. Rupanya, kecanggihannya tidak relevan dengan ukurannya. Jadi, ukuran ini sangat penting.

Jika memang kita ingin unit yang anteng di meja sepanjang hari, maka ukuran 17-18 inchi dapat menjadi pilihan. Apabila ingin yang ukuran agak besar tapi tidak hendak dibawa-bawa secara konstan, maka ukuran 15-16 inchi dapat dipakai. Apabila ingin yang paling enteng tentu saja pilihannya 11-12 inchi.

Adapun yang paling seimbang antara kemudahan dibawa serta penggunaannya adalah ukuran 13-14 inchi.

Cek Keyboard dan Touchpad

Spesifikasi seimpresif apapun kalau tidak ergonomis ya ujungnya tidak akan produktif. Jarak yang ideal untuk pekerjaan yang intens di laptop adalah 1-2 milimeter. Touchpad-nya sendiri sangat krusial untuk mencegah kursor yang melompat-lompat, serta tentu saja sangat membantu untuk desain yang butuh zoom in-zoom out.

Tentukan Spesifikasi

Bagian ini agak panjang karena menyangkut beberapa bagian. Pertama tentu saja CPU alias otak dari komputer yang hendak membantu kita bekerja. Kalau mau kelas yang paling atas maka ada Intel 10th Gen serta Intel Core i9. Umumnya harganya tentu premium sekali dan banyak digunakan di perangkat game kelas tinggi.

Sekali lagi, penggunaan akan sangat menentukan. Ngapain punya otak pintar-pintar kalau misalnya kebutuhannya tidak setinggi itu? Maka, sebenarnya yang umum digunakan alias mainstream adalah Intel Core i5 dan Intel Core i7. Saingan level ini adalah AMD Ryzen 4000.Nah, di bawah itu tentu saja ada Intel Core i3, Intel Pentium/Celeron, maupun AMD A, FX, atau E.

Untuk RAM, mungkin bisa pakai yang 4GB, akan tetapi idealnya sih sekurang-kurangnya 8GB supaya nggak terus berasa lemot pada periode penggunaan tertentu. Sedangkan untuk Storage Drive, sebisa mungkin cari notebook yang sudah Solid State Drive (SSD) daripada hard drive, sebab kecepatannya bisa tiga kali lipat, lho.

Sekarang ke Display. Menurut LaptopMag, spesifikasi yang disarankan untuk display adalah sekurang-kurangnya bisa jalan di 1920 x 1080 atau sering dikenal dengan Full HD (FHD). Untuk yang high-end memang sih ada yang sampai 3840 x 2160 segala.

Berikutnya adalah Graphics Chip. Spesifikasi tinggi diperlukan jika laptopnya akan dipakai untuk memainkan game PC, membuat objek 3D, maupun mengedit video dengan resolusi tinggi. Akan tetapi, untuk pemakaian mahasiswa pada umumnya dapat menggunaan NVIDIA MX250 atau GTX 1650 GPUs.

Salah satu yang bikin laptop atau notebook berasa besar adalah ruang untuk port. Mau nggak mau, port ini penting apalagi buat mahasiswa karena akan sangat membantu distribusi data. Jadi, sebaiknya sih jangan beli yang nggak ada port-nya. Notebook pada ummumnya akan memiliki USB 3.0 dan HDMI out. Yang terakhir itu tentu saja buat presentasi kalau kuliah sudah offline lagi. Nah, belakangan sudah mulai banyak port yang kompatibel untuk USB Type-C sesuai dengan arah ketersediaan USB flashdisk maupun spesifikasi semakin banyak telepon genggam. Akan tetapi, kalau adanya hanya type-C doang juga berabe masih banyak perangkat yang belum support. Idealnya sih ada beberapa pilihan tentu saja.

Jangan Abaikan Baterai

Notebook besar untuk game tentu saja akan diletakkan di singgasana, sehingga akses listriknya juga tidak masalah. Nah, kalau buat notebook khusus untuk kuliah, tentu tidak seperti itu. Di kampus saya misalnya, belum semua ruangan memiliki akses colokan berlimpah. Padahal, kuliah zaman sekarang menurut saya sih lebih baik mencatat di laptop saja toh kemudian tugas-tugasnya kan paper demi paper juga.

Ada Harga, Ada Rupa

Sebenarnya, kalau urusan laptop itu rentangnya panjang sekali. Dari harga 2 jutaan juga sudah ada, sampai ke atas ada banyak sekali lapisnya. Nah, untuk setiap harga tentu ada spesifikasi yang menyertainya. Jadi, balik lagi, semakin rendah harga maka ekspektasi harus disesuaikan. Dan semakin banyak kebutuhan, berarti estimasi harga juga harus disesuaikan.

Brand Adalah Koentji

Kalau soal restoran, biasanya kita akan memilih tempat yang ramai. Sebab, ramai adalah salah satu parameter bahwa makanan yang disajikan enak. Pola pikir yang sama dapat kita terapkan pada konteks memilih laptop. Semakin laris laptop, tentunya itu pertanda bahwa banyak yang cocok. Ya cocok harga, cocok spesifikasi, dan cocok manfaat juga.

Pada awal 2019 misalnya, lembaga riset Gfk melaporkan bahwa brand laptop nomor satu di Indonesia untuk laptop consumer dikuasai oleh Asus dengan 41,8 persen. Beberapa produk andalan yang mendorong kondisi tersebut adalah laptop gaming berbasis Nvidia GTX, ZenBook, dan VivoBook.

Ngomong-ngomong soal jenis yang terakhir itu, ASUS baru saja meluncurkan notebook ASUS VivoBook S14 S433 dengan spirit Dare To Be You. Launchingnya secara digital karena lagi pandemi begini. Dan tentu saja sangat cocok untuk rupa-rupa gawean digital yang sedang melanda nyaris semua bidang pekerjaan pada hari-hari ini.

Ringkas dan Beragam Pilihan Warna

Notebook ASUS VivoBook S14 (S433) hadir dengan 4 pilihan warna yang tidak biasa yaitu Indie Black, Gaia Green, Dreamy Silver, dan Resolute Red. Nih, bisa dilihat sendiri:

Gaia Green maupun Resolute Red kalau menurut terawangan cocok untuk pemuda-pemudi yang memiliki kepribadian berwarna dan tegas. Untuk desain yang lebih elegan bisa ambil Dreamy White atau Indie Black.

Untuk menambah unsur personal, ASUS menghadirkan stiker eksklusif. Jadi, kalau nanti sudah bisa balik lagi ke kampus, maka dipastikan bakal jadi pusat perhatian karena memang beda sendiri. Hal ini pula yang menyebabkan tulisan ASUS VivoBook-nya tidak di tengah-tengah, melainkan ke pinggir. Jadi di tengah bisa dipasang stiker personal itu tadi.

Sebelumnya sudah kita bahas perihal penting tidaknya processor. Nah, VivoBook S14 (S433) memiliki Intel Core 10th Gen Processor yang tentu saja lebih gesit dan hemat daya dibandingkan pendahulunya. Pengujian performa menunjukkan bahwa dengan prosesor Intel Core i5-10210U konfigurasi 4 core dan 8 thread, vivoBook S14 (S433) berhasil meraih skor yang cukup tinggi untuk pengujian dengan Cinebench R20 dan PCMark 10.

Kita juga sudah membahas ukuran dan untuk hal tersebut VivoBook S14 (S433) menawarkan spesifikasi yang sangat menarik. Bobotnya hanya 1,4 kilogram dan tebalnya hanya 15,9 milimeter.

Saya jadi ingat waktu kondangan ke Jambi, karena balik hari, jadi memang Jakarta-Jambi hanya bawa laptop doang. Cuma laptopnya masih kerasa karena lumayan berat. Kalau saya ketika itu bawa VivoBook S14 (S433) ini berasa cuma pergi ke minimarket depan kompleks kali yha.

Oya, meskipun ukurannya sangat ringkas, tapi layarnya 14 inchi. Ada teknologi layar eksklusif NanoEdge Display yang dapat menghadirkan bezel yang sangat tipis sehingga screen-to-body ratio-nya mencapai 85 persen dan berdampak pada ukuran bodi yang lebih ramping. Layarnya juga tampak lebih lega. Model begini asyik buat review jurnal sama bikin konten di beberapa akun yang saya kelola.

Layar VivoBook S14 (S433) telah mampu mereproduksi warna pada color space sRGB hingga mencapai 100 persen sehingga sangat cocok untuk video editor maupun fotografer. Plus, layarnya juga sudut pandang yang lebarnya mencapai 178 derajat.

Mendadak saya ingat kemarin pas garap video untuk UAS, saya sampai periksa mata ke optik karena rasanya sudah sangat pusing sekali. Eh, pas dicek ternyata mata saya masih baik-baik saja. Dengan heran saya cabut dari optik, dan rupanya itu disebabkan karena saya terlalu intens ke laptop yang ada, dengan spesifikasi yang agak kurang cocok untuk kepentingan konten yang butuh ketelitian seperti video.

VivoBook S14 (S433) memiliki kinerja grafis yang kencang karena chip grafis NIVIDIA GeForce MX250. Kalau lagi suntuk baca jurnal dan ingin main esport serta kasual, bisa juga lho. Walaupun tentu saja jangan kebablasan nanti kerjaan utama nggak kelar.

Fitur-Fitur Premium

VivoBook S14 (S433) juga dilengkapi berbagai fitur premium seperti fingerprint sensor, teknologi fast charging, serta backlit keyboard. Pengguna VivoBook S14 (S433) tidak perlu lagi entri password buat masuk dalam sistem Windows 10. Belum lagi kalau lupa atau ketahuan tetangga kos padahal data-datanya banyak yang privat. Yes, fingerprint di VivoBook S14 (S433) telah terintegrasi Windows Hello pada Windows 10. Windows Hello inilah yang memudahkan pengguna untuk masuk ke dalam sistem tanpa perlu mengetik password.

VivoBook S14 (S433) juga dilengkapi dengan fitur audio premium bersertifikasi harman/kardon. Sebab, apalah artinya garap jurnal tanpa mendengarkan lagu-lagu yang memadai. Walaupun ya kalau saya jatuhnya harus mendengarkan lagu anak-anak sesuai request anak. Heuheu. Oya, audio terbaik juga sangat penting untuk pembelajaran jarak jauh, tentunya bersama dengan…

Konektivitas Terbaik

Yak betul! Koneksi. Kita bicara dua aspek perangkat ya. Kalau sinyal itu urusan sendiri-sendiri. Nah kalau di VivoBook S14 (S433) telah dilengkapi WiFi 6 (WiFi 802.11ax) yang adalah teknologi komunikai nirkabel generasi paling terkini. Ada kecepatan transfer data yang lebih tinggi sampai tiga kali lipat, kapasitas jaringan yang juga lebih banyak hingga empat kali lipat, plus latency 75 persen lebih rendah. Sangat cocok untuk PJJ, bukan?

Untuk konektivitas yang terkait port, seperti sudah kita bahas bahwa sebaiknya walaupun ringkas, laptop pilihan kita harus punya port-port yang sesuai. Nah, VivoBook S14 (S433) sendiri punya USB 3.2 (Gen 1) Type-C yang lagi kekinian di berbagai perangkat eksternal.

VivoBook S14 (S433) juga merupakan laptop yang menggunakan PCIe SSD berkapasitas 512GB dengan menggunakan SSD khusus dari Intel yang telah dilengkapi Optane Memory berkapasitas 32GB. Optane Memory ini adalah teknologi eksklusif Intel yang memberdayakan memori tambahan sebagai cache sehingga SSD mampu mengakses data yang kerap digunakan dengan lebih cepat sehingga performa secara keseluruhan lebih cepat pula.

Di atas telah dijelaskan pula tentang pentingnya performa baterai yang baik. Mau kerja di kampus atau juga kerja di rumah, baterai tetap yang krusial. Mau presentasi pas PJJ terus tiba-tiba listrik di rumah padam sementara laptopnya ketergantungan pada listrik ya bisa buyar semuanya.

Nah, VivoBook S14 (S433) mengadopsi baterai 50Whrs yang lebih besar kalau dibandingkan laptop pada kelas yang sama. Hasil pengujian dengan PCMark 10 Battery untuk mode Modern Office, VivoBook S14 (S433) dapat bertahan sampai 12 jam.

Itu kalau kebiasaan kelas online kan yang penting login. Biasanya kalau iseng cek ke room 2-3 jam sesudah kuliah kelar pasti ada saja yang masih login, yang berarti sebenarnya dari tadi dia hanya login tapi nggak ada benar-benar di kelas. Nah, kalau pakai VivoBook S14 (S433) ngeceknya bisa 10 jam kemudian. Heuheu.

Secara umum, sudah kita bahas bahwa dari sederet hal-hal yang harus diperhatikan dalam memilih laptop, rupanya VivoBook S14 (S433) sangat relevan dalam berbagai parameter, plus punya tampilan dan gaya yang oke punya juga. Walhasil, VivoBook S14 (S433) menjadi laptop modern yang sangat pas untuk aktivitas sehari-hari terutama untuk menghadapi perkuliahan jarak jauh yang kemungkinan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

Secara lebih lengkap, berikut spesifikasi VivoBookS14 (S433) sebagaimana sudah kita bahas:

Operating SystemWindows 10 Home
ProcessorIntel® Core™ i7-10510U processor
1.8GHz quad-core with Turbo Boost (up to 4.9GHz) and 8MB cache
Intel® Core™ i5-10210U processor
1.6GHz quad-core with Turbo Boost (up to 4.2GHz) and 6MB cache
GraphicsNVIDIA® GeForce® MX250
Video memory size: 2GB GDDR5 VRAM
Display14” LED-backlit IPS Panel HD (1920 x 1080) 16:9
Frameless NanoEdge display with 85% screen-to-body ratio
178° wide-view technology
Memory8GB 2666MHz DDR4
Storage512GB PCIe SSD
Intel® Optane™ Memory H10 with Solid State Storage

(32GB Optane™ + 512GB SSD)
Interfaces1 x USB 3.2 Gen 1 Type-C™
1 x USB 3.2 Gen 1 Type-A
2 x USB 2.0
1 x HDMI
1 x Audio combo jack
1 x MicroSD card reader
1 x DC-in
Keyboard and TouchpadKeyboard
Full-size backlit, with 1.4mm key travel
Touchpad
Intelligent palm-rejection;
Precision touchpad (PTP) technology supports up to four-finger smart gestures
AudioASUS SonicMaster stereo audio system with surround-sound; smart amplifier for maximum audio performance
Array microphone with Cortana voice-recognition support
3.5mm headphone jack
Certified by Harman Kardon
CameraHD Camera
Wireless ConnectivityWi-Fi
Intel Wi-Fi 6 with Gig+ performance (802.11ax)
Bluetooth®
Bluetooth V5.0
Battery and PowerFast charging: 60% in 49 minutes
50Wh 3-cells lithium-polymer battery
65W power adapter
Plug Type: ø4 (mm)
(Output: 19V DC, 3.42A, 65W)
(Input: 100-240V AC, 50/60Hz universal)
Weight and DimensionsHeight:
1.59cm (0.62 inches)
Width:
32.49cm (12.79 inches)
Depth:
21.35cm (8.40 inches)
Weight:
1.4kg (3.08 pounds)
Included in the BoxVivoBook S14
Included SoftwareASUS Splendid
ASUS Tru2life Video
ASUS AudioWizard

Jadi, bagaimana, langsung ganti laptop?

* * *

Pengen punya laptop ini? Bisa lho mengikuti lomba blog yang diselenggarakan oleh ASUS bekerjasama dengan keluargabiru.com. Informasi lebih lanjut bisa cek flyer di bawah ini:

Satu Cerita Tentang Juara Tiga

Saya jarang menulis tentang kisah di balik tulisan-tulisan yang menjadi juara di berbagai perlombaan. Sebabnya satu: saya jarang juara. Heuheu. Bisa dilihat di sisi kanan blog ini, bahwa saya itu jadi juara lomba menulis dapat dihitung pakai jari sebelah tangan doang. Saking jarangnya.

Nah, mungkin khusus yang ini agak berbeda. Sebab, kalau yang dua sebelumnya adalah lomba blog, maka hari ini saya dapat rejeki di sebuah perlombaan Karya Tulis Ilmiah. Cuk, tulisan saya model di Mojok begitu, ternyata saya bisa juga ya nulis (((ILMIAH))).

Dikisahkan dari awal saja ya. Saya dikasih tahu lomba karya tulis ilmiah ini oleh dua orang teman. Satu, teman kantor sendiri. Senior, ding. Kedua, teman kampus yang kebetulan pegawai di instansi penyelenggara lomba. Sang teman ini yang cuilan kisahnya saya tulis di salah satu post blog ini, dan gara-gara itu, katanya… dia jadi enggan nulis curcol di blog lagi. Ew~

Intinya sih tenggatnya tanggal 5 Juni. Dengan format penulisan karya ilmiah (pendahuluan, teori, framework, pembahasan, dan kesimpulan). Minimal 1.250 kata. Rasanya itu saja.

Masalahnya adalah periode akhir Mei sampai 12 Juni adalah periode Ujian Akhir Semester. Dan ini era pandemi. Jadilah UAS-nya pasti berupa tugas dan tentu tidak sesederhana menjawab soal di lembar jawab dengan tulisan tangan.

Tugasnya rupa-rupa. Ada yang bikin critical note, review paper, sampai video segala. Mantap pokoknya. Mana saya sambil ngasuh anak di rumah pula. Nggak heran kalau anak saya jadinya ya anak asuh Daddy Pig dan hanya memanggil bapaknya kalau di YouTube ada iklan. Oya, iklan sedikit, ini salah satu tugas saya.

Lebih ciamik lagi adalah tanggal 5 itu tenggat UAS Statistik yang bahkan belum saya kerjakan pada tanggal 3, sebab saya fokus mengerjakan proposal tesis yang merupakan UAS Metodologi Penelitian dengan tenggat tanggal 3.

Pada akhirnya sih saya hanya bilang, “kalau sempat ya ikut…”

Posisinya waktu itu tanggal 5 sore hari ketika sang dosen secara baik hati melakukan pengunduran jadwal pengumpulan UAS! Ketika itu, saya belum kelar menggarap ujian bertenggat sama persis dengan lomba. Pengunduran itu kemudian memberikan potensi saya untuk ikut lomba lagi. Toh, masih ada 8 jam sebelum deadline.

BIKIN KARYA TULIS ILMIAH DELAPAN JAM ITU APAAN?

Untuk lebih memperjelas, bahkan saya sebenarnya mulai benar-benar menulis itu jam 8 malam. Heuheu.

Lantas apa rahasianya?

Sederhana saja, saya yakin kalau “hanya” menulis 1.250 kata itu saya bisa kelar dalam 1-2 jam. Saya sudah mencoba mencari topik yang relevan dengan tema, tapi kurang sreg secara mutu. Bukan apa-apa, dengan segala kegagalan yang pernah saya alami, tentunya saya menetapkan standar tertentu kalau mau ikut-ikut lomba. Saya biasa gagal, tapi saya nggak biasa berkarya sembarangan.

Pada akhirnya saya mengingat review paper pertama yang saya buat ketika kuliah S2. Di paper itu saya menguliti konsep “Trusted Advisor” begitu dalam dengan berbagai jurnal terkini. Tulisan itu dapat nilai A- dari Pak Dosen. Dan dengan posisi tenggat mepet begini, kok ya eman ada tulisan 5000 kata yang menurut saya nggak jelek-jelek amat dan nilainya menurut Pak Dosen juga oke, tapi tidak saya pakai.

Maka, terjadilah…

Tulisan saya kemudian berangkat dari konsep “Trusted Advisor” itu untuk membedah tentang “Agile Auditor”. Saya tahu bahwa Agile Auditor ini topik agak baru dan sebenarnya cukup banyak diriset juga. Tapi daripada repot, tentu saya pakai beberapa teori saja.

Kebetulan lagi, karena proposal tesis saya adalah tentang Government 2.0, saya follow akun media sosial Ibu Ines Mergel. Kok ya ndilalah di bulan Mei itu dia mengeluarkan sebuah tulisan yang betul-betul membahas konsep AGILE.

Maka, saya sambungkan dan kebetulan sekali cocok. Itu posisi jam 21.00 kurang lebih. Masih ada 3 jam sebelum tenggat.

Bagaimanapun salah satu keunggulan saya adalah bisa menulis cepat–apalagi kalau kepepet. Keunggulan itu yang dulu bikin saya suka ditelepon redaktur jam 8 malam untuk bisa mengirim tulisan tengah malam sehingga bisa terbit keesokan harinya. Hari ini, redaksi media itu menerima ratusan tulisan setiap harinya sehingga nggak perlu lagi orang-orang seperti saya. Walaupun, ya, saya tetap ngirim ke situ tentu saja. Lha, butuh je.

Ditambah 30 menit menggambar konsepnya di draw.io maka tulisan itu jadi pukul 23 lewat. Sesudah cek demi cek lagi, maka karya itu saya kirimkan beberapa menit sebelum tenggat berakhir.

Dan ya sudah. Selesai di situ.

Hingga kemudian hari tibalah hari Kamis sore, 11 Juni 2020. Itu posisinya adalah saya tengah mempersiapkan perayaan HUT Baginda Isto yang ke-3 keesokan harinya. Saya dikontak sama panitia lomba yang mengabarkan bahwa tulisan saya masuk 6 Besar. Okebaik.

Nah, dari 6 besar itu harus menyiapkan paparan untuk dipresentasikan ke dewan juri.

EH EH EH. SIK SIK SIK. Seingat saya nggak ada kriteria presentasi di flyer lombanya. Tapi kalau ada presentasi begini, kan… saya jadi deg-degan.

Tapi baiklah, dijalani saja. Saya mungkin orang paling culun di deretan 6 besar itu. Setidaknya dua nama adalah lulusan luar negeri, salah satunya bahkan S2 dan S3. Satunya lagi, gelar Certified-nya panjang sekali. Ada pula Widyaiswara yang tentu saja mengajari saya pas Diklat JabFung.

Lha, saya? Nulis di Mojok saja jarang-jarang masuk tulisan terpopuler.

Gara-gara presentasi ini tentu pengaturan berubah. Alih-alih menyiapkan party, saya malah bikin presentasy. Jam 1 pagi, saya kirim slidenya ke panitia. Soalnya disuruh kirim sebelum jam 8. Saya bukan mau pamer kesiapan ke panitia. Masalahnya, biasanya saya bangun jam 9 pagi~

Demikianlah akhirnya sampai ke presentasi. Ketika kontestan lain latarnya adalah meja kerja, aula kantor, maka latar belakang video saya adalah…

…BALON ULTAH KRISTO, yang sudah kadung terpasang.

Ketika tiba-tiba ada agenda seperti ini, pada akhirnya saya menganggap bahwa ini mungkin rejeki si Isto. Toh, setidaknya saya sudah jadi juara harapan 3 kan. Juara 6 dari 90-an peserta itu sudah wow sekali rasanya.

Sore tadi, saya ketiduran. Saya terlambat nonton live YouTube pengumumannya. Tapi ada teman LPDP yang DM dan bilang bahwa saya juara 3. Karena saya kadang-kadang adalah Thomas alias Didimus, maka saya nggak berbahagia dan nggak percaya kalau nggak melihat. Apa daya, hidup saya 6 tahun terakhir kan dipaksa skeptis.

Maka, saya pencet mundur live YT yang sedang berjalan. Nemu pertama malah Bapaknya Dirham. Pencet maju, nggak nemu. Mundur lagi nggak nemu. Ternyata lombanya banyak, gaes.

Pada akhirnya tentu saja ketemu dan ya benarlah bahwa saya dapat juara 3. Saya tiada bisa berkata-kata lagi sebab rasanya itu sudah paling mentok. Dan ini adalah pertama kalinya tulisan saya dalam format ilmiah dapat penghargaan di lomba tingkat nasional.

Sekali lagi, saya mengisahkan riwayat di balik tulisan bukan bermaksud apa-apa selain wujud rasa syukur. Waktu menang Lomba Blog BPK itu saja saya sudah merasa kayaknya itu bakal menjadi prestasi saya paling tinggi seumur hidup soalnya~