Isto ke Barbershop

Pandemi ini memang sialan. Dia terjadi ketika anak saya berumur 2 tahunan dan belum belum berakhir ketika anak saya mau berumur 5 tahun. Bayangkanlah ada betapa banyak kesempatan eksplorasi yang hilang sebagai bagian dari mitigasi risiko yang diterapkan oleh saya dan Mama Isto sebagai orangtua.

Ya kalau disuruh memilih kesempatan eksplorasi sama keselamatan anak tentu kami akan auto menunjuk yang kedua, dong~

Di sisi lain, pandemi juga membuat kita belajar makna adaptasi. Anak saya karena dicekokin tentang makna masker dari usia 2 tahun lebih banyak, sampai sekarang urusan masker itu tertib minta ampun. Kalau kami lagi nongkrong di Starbucks, misalnya, ya dia pakai masker. Untuk minum, baru buka masker, dan kemudian dipakai lagi. Setertib itu, sih. Dan itu bukti bahwa anak-anak itu sebenarnya mau kok untuk pakai masker.

Pandemi juga membuat saya memperoleh kemampuan baru karena keterbatasan: cukur rambut. Ambyar sudah pasti. Ada kali 7-8 percobaan saya memangkas rambutnya Isto dan 2 diantaranya berakhir pitak. Waktu mencoba mesin bayi bahkan pitaknya paripurna. Untung dia belum paham bahwa penampilannya diusik oleh bapaknya. Jadi masih nggak apa-apa.

Akibatnya adalah rambut bagian belakang bawahnya itu jelek sekali. Awut-awutan. Sama sekali tidak cocok untuk dibawa ke sekolah. Penampilannya tampak memalukan dan untuk itu kami harus berbenah! Kebetulan, sejak September alias pasca gelombang Delta, saya sudah ke barbershop lagi. Dan saya lihat sendiri bahwa barbershop beradaptasi dengan baik. Bisa kok mencukur rambut sambil pakai masker, baik yang dicukur maupun yang mencukur. Di sisi lain, kalau saya yang nyukur, dia banyak alasan. Geli lah, gatel lah, dll. Saya pikir kalau dikasih ke orang yang dia nggak kenal, plus pakai alat bantu berupa apron dll mestinya dia lebih tenang.

Oya, kalau mau ngapa-ngapain, kami selalu berdiskusi. Hasil diskusi 3-4 hari, dia akhirnya mau cukur rambut di outside dengan orang. Kemarin, sepulang saya dari vaksinasi booster, begitu masuk rumah dia langsung nodong, “Pa, Eto mau cutting rambut di outside sama orang…”

Nah, mumpung mau, saya langsung bergegas membawanya berangkat ke salah satu barbershop yang direkomendasikan teman cocok untuk anak-anak. Tidak jauh benar dari rumah. Namun karena panasnya ngentang, kami naik taksi daring.

Mengapa barbershop dan bukan kiddy-kiddy-an seperti dahulu?

Pertama, saya agak tidak masuk akal sama tarif di kiddy-kiddy-an itu. Ha mosok rambut yang dipotong lebih sedikit, tapi tarifnya bisa dua kali lipat? Segitunya kalau cuma tempat duduk berupa mobil-mobilan juga ada di barbershop kan. Kedua, saya ingin Isto paham bahwa kelak di masa depan, tempat seperti barbershop adalah sarananya untuk berbenah diri. Yah, setidaknya berbenah rambut. Terakhir, saya sering melihat keintiman bapak-anak di barbershop dan tentu saya ingin mempraktikkan sendiri.

Seperti saya bilang tadi, kami berangkat dengan deal. Yha, bahwa Isto harus tenang, kalau tickle nggak apa-apa, harus nurut sama yang nyukur, dll-dll. Bagi saya inilah seninya parenting. Kita mungkin bisa mengancam dan dengan segera anak akan menuruti perintah. Hanya saja, apa gunanya sih mereka menuruti perintah kalau nggak paham esensinya? Mengancam itu hendaknya dipakai kalau lagi kepepet aja. Cuma, jangan dibuat juga keadaan kepepet terus biar bisa ngancem terus. Heuheu.

Dia masuk ke barbershop dengan girang dan tertawa-tawa. Seketika lantas masuklah barber berbaju Juventus dengan penampilan mirip Andrien Rabiot. Untunglah Isto tidak sedang pakai baju Inter. Kalau tidak, nanti judulnya kan ngeri:

INTER DICUKUR GUNDUL OLEH JUVE!

Ketika hendak meninggalkan rumah untuk cukur, Isto bilang bahwa dia adalah brave boy yang nggak akan nangis ketika cutting rambut di outside sama orang. Dan hal itu kemudian diulang-ulangnya ketika dia kemudian geli namun tetap tenang saat dicukur. Saya melihat bahwa dia sebenarnya pengen nggak nurut, tapi nggak kenal sama barber jadi perlawanannya nanggung.

Cukur rambut diakhiri dengan sesi keramas yang sayapun baru kenal itu beberapa tahun belakangan. Dulu ketika saya masih langganan Asgar kan nggak ada tempat keramas. Nah ini anak 4 tahun dikeramas pakai alat khusus yang ada di salon-salon itu. Dari matanya terlihat kan senyumnya. Hehe.

Mengantar anak ke barbershop adalah milestone baru dalam kehidupan saya. Berdua saja dengan keintiman bapak-anak yang kerap saya lihat sebelumnya. Ah, semoga saya bisa selalu ada di sampingnya, sekurang-kurangnya sampai dia cukup tangguh untuk mengarungi beratnya dunia ini.

Pengalaman Menenangkan Belanja Durex di Alfagift

“Kapan Isto punya adik?”

Pertanyaan model begini asli bikin malas. Pertama, saya suka anak-anak. Anak-anak itu secara umum sih lucu dan menggemaskan. Hanya saja, ada bagian dari memiliki anak yang notabene bukan hal mudah: dimuntahin, berjaga sepanjang malam ketika anak demam, ke dokter anak setiap bulan, bingung nitip sama siapa ketika kami bekerja, dan lain-lain. Akan tetapi, poin utamanya adalah seperti kata Pak Prabs:

Well, pilihan punya anak dan tidak itu tentunya pilihan masing-masing. Namun sejauh kami menghitung gaji berikut proyeksinya dan mengingat gaji hanya naik 5 tahun sekali maka jadilah rasanya anak 1 sudah cukup sejauh ini. Dan tentu saja untuk melakukan kontrol pada tidak bertambahnya makhluk hidup di dunia ini melalui saya diperlukan alat bantu bernama alat kontrasepsi, termasuk kondom.

Nah, percaya atau tidak, membeli kondom itu selalu jadi pengalaman yang menarik. Apalagi wajah saya yang setara mahasiswa dan jarang pakai cincin kawin karena kesempitan. Wkwk. Jadi, seringkali saya beli kondom itu kala jajan sama Isto. Supaya kelihatan bahwa saya ini bapak-bapak milenial sesuai tajuk blog ini. Bagaimanapun, kondom itu baik untuk rumah tangga. Saya ada teman yang justru menangis kala hamil anak kedua karena mereka masih Long Distance Marriage bahkan sampai sekarang. Sesudah anak kedua lahir, mereka selalu pakai kondom ketika bersua satu sama lain karena ya mengasuh dan membesarkan anak memang tidak sesederhana itu. Jadi, intinya sih gunakan kondom. Haha.

Salah satu cara untuk mengakalinya tentu saja tidak belanja langsung namun dengan bantuan aplikasi sebagaimana yang lagi trending di era pandemi. Dan salah satu pilihan saya adalah dengan menggunakan Alfagift.

Bicara Alfagift sebenarnya adalah tentang hal yang kerap ditanyakan oleh kasir Alfamart kalau kita belanja: ada membernya? Yes, Alfagift adalah aplikasi belanja online Alfamart. Alfagift ini juga mendukung gerakan go green karena termasuk juga menihilkan struk yang dicetak. Alfagift juga semacam datang ke Alfamart tanpa ke Alfamart sebab ongkirnya pun gratis-tis-tis tanpa syarat #gerceptanpabatas

Aplikasi belanja online Alfamart ini tentu menarik bagi bapak-bapak milenial kayak saya. Bukan apa-apa, kalau saya bawa anak, niatan belanja 20 ribu bisa berakhir jadi 200 ribu jika anak saya mengambil belanjaan sesukanya dan dimasukkan ke keranjang plus langsung diseret ke kasir. 

Lebih lanjut lagi, Alfagift sebenarnya juga bukan tentang produk yang ada di Alfamart saja sebab ada sederet toko official yang menyediakan berbagai kebutuhan kita secara lebih lengkap. Hal ini menjadi melengkap keunggulan jangkauan luas, pengiriman yang cepat, dan tentu saja gratis ongkir tanpa syarat. Produk kondom Durex berbagai varian yang saya angkut juga merupakan bagian dari isi Official Store Durex di Alfagift:

Untuk pembayaran juga disediakan sejumlah channel seperti Virgo, Gopay, Shopeepay, transfer ke BCA Virtual Account, hingga kartu kredit sekalipun juga dimungkinkan. Dengan demikian, belanja Durex menjadi sesuatu yang jauh lebih sederhana. Saya sendiri mengangkut Durex Invisible, Durex Extra Safe, dan Durex Fetherlite. Khusus yang Fetherlite, baru mau nyoba nih. Kalau dua yang lain sudah masuk referensi~

Produk-produk di Alfagift bisa diantar ke rumah dan bisa juga kita ambil ke toko terdekat. Nanti kalau pun stoknya kosong, pasti dikasih tahu kok. Jadi nggak akan zonk juga ketika di aplikasi bilangnya ada tapi pas ke lokasi malah nggak ada. Sejauh pengalaman saya sih tidak demikian.

Untuk hadirnya barang ke rumah, pengiriman cepat menjadi andalan. Bisa dilihat juga kok di aplikasi soal pilihan jamnya. Jika kita memilih untuk diantar dan mengambil semua ada pilihannya.

Jangan lupa juga ada sederet promo Alfamart yang bisa kita lihat begitu mengunduh Alfagift, seperti misalnya cashback melalui pembayaran Virgo maupun Gopay. Cashback sejatinya bukan sembarang cashback karena seperti kata pepatah di Wakanda Tenggara: cashback demi cashback lama-lama bisa jadi bukit juga.

Demikianlah pengalaman saya dalam hal belanja melalui Alfagift. Cukup menenangkan. Terutama sekali karena kita tidak perlu berhadapan dengan ninja yang ketika kita tiba di toko tidak terlihat lalu seketika hadir di hadapan mata sembari memegangi jok motor kita. Dan untuk mengunduh Alfagift silakan klik tautan Alfagift ini ya…

Ciat!

Mengapa Saya Suka WFH?

Barusan saya kaget melihat ada seseorang dari kementerian yang cukup penting di masa pandemi ini yang merasa kaget bahwa ada kantor yang masih WFH. Ya gimana nggak kaget, wong varian Omicron baru masuk, artinya kita masih harus berjauh-jauhan sebenarnya kan…

Tapi kok..

Cuma ya sudahlah. Satu hal yang pasti, pasca 3 bulan merasakan WFH dan WFO serta Dinas dengan seimbang, sesungguhnya saya harus mengutarakan bahwa saya lebih suka WFH.

Photo by Pavel Danilyuk on Pexels.com

Pertama, tentu saja karena saya tidak perlu menambah risiko dengan pergi ke luar rumah untuk bersua orang-orang terutama di transportasi umum. Dari situ saja saya sudah senang. Bukan apa-apa, segalak-galaknya petugas mereka juga akan takluk oleh situasi. Benar bahwa masuk stasiun harus scan aplikasi PeduliLindungi, tapi yang nge-share screenshot-an juga ada. Saya pernah lihat di salah satu stasiun. Belum lagi yang batuk-batuk ke KRL dan sejenisnya. Masih ditambah lagi saya kudu naik bis, naik ojol, dst. Ketemu orang dengan faktor risiko semua kan…

Kedua, berkaitan dengan risiko di atas ada risiko lainnya yaitu risiko finansial. Buat ke kantor saya harus nitip motor Rp8.000 lalu naik KRL Rp3.000 kemudian lanjut TransJakarta Rp3.500 lalu dipungkasi dengan ojol Rp17.000. Sudah Rp31.500 berangkatnya saja. Kemudian pulangnya Rp25.000 ojol dari kantor ke stasiun. Hampir Rp60.000,- Ini tentu belum termasuk biaya beli masker yang tentu beda jika saya kerja di rumah dan nggak pakai masker. Dengan gaji yang pas-pasan begini, sudah pasti saya mending nggak keluar Rp60.000,- sehari untuk bekerja.

Ketiga, waktu yang sangat berharga. Saat WFO, saya berangkat jam 6 dan sampai kantor 7.40-an. Ada 1 jam 40 menit yang sebenarnya bisa saya habiskan di depan laptop untuk mengerjakan banyak hal. Demikian pula dengan pulangnya. Dari 16.30 sampai 18.00 itu juga bisa saya pakai untuk kerja. Sementara kalau WFO, pada jam-jam itu saya lebih banyak ngelamun.

Photo by Elena Saharova on Pexels.com

Keempat, fasilitas. Internet di kantor saya ya ada, tapi kan yang pakai banyak. Sementara kalau di rumah, saingan saya cuma Isto. Sepanjang saya Zoom Meeting dari rumah, nggak pernah sekalipun ada peringatan berupa sinyal warna merah karena ya saya penguasa internet di rumah. Belum lagi kalau mau 2 atau 3 Zoom sekaligus, saya bisa bajak laptopnya Mama Isto, atau laptop Isto-nya sekaligus.

Kalau di rumah, begitu Mama Isto ngantor, maka saya segera menyalakan laptop dan bisa kerja mulai 6.30. Nanti jam 8 Aunty akan datang dan Isto dialihkan pengasuhannya ke Aunty dan saya bisa kerja terosss sampai siang. Rehat sedikit makan siang, saya kemudian bisa stay di depan laptop sampai Mama Isto pulang. Durasinya memang lebih panjang dan pekerjaan juga jadi lebih banyak yang bisa dikerjakan. Lebih pusing, sih. Cuma pekerjaannya kan memang tipe semua pakai laptop, jadi ya mau di kantor atau di rumah kan saya sama-sama lihat laptop.

Masalahnya memang banyak orang yang menjadikan WFH ini sebagai liburan dan bikin sejumlah bos enggan me-WFH-kan pegawainya. Model beginilah yang saya agak sebal karena saya sendiri merasakan bahwa banyak hal yang bisa saya kerjakan di rumah dalam mode WFH dan bahkan lebih ciamik pula hasil kerja saya di WFH.

Hari Jumat kemarin soal ini sudah saya sampaikan sendiri ke pimpinan dan semoga dapat menjadi hal yang baik ke depannya. Bukan apa-apa, pandemi ini belum berakhir. Gitu, sih.

The Tunan Waterfall

Our agenda is actually a morning flight from Manado to Jakarta. We were even in the hotel lobby to wait for the driver from our office. Suddenly, we got messages that there had been a flight delay to 2 p.m.

Considering that at 12 noon, we had to check out of the hotel, we decided to depart the hotel earlier while looking for tourist destinations that were around in line. Mr. Martin, the office driver, then directed us to Tunan Waterfall. He had never actually been to this waterfall. It’s just that he’s seen the directions.

Tunan Waterfall is located in North Minahasa Regency, not too far from Sam Ratulangi International Airport. From a distance, this waterfall is very high. Search results on Google mention it is about 85-86 meters. Physically, in my opinion, this waterfall is higher than the Anai Valley. If the wind is significant, the altitude factor causes visitors from a distance to be drenched.

The pool in this waterfall is actually quite spacious, but the access is limited. In fact, it can actually be conditioned, such as the Benang Kelambu and Benang Setokel in Lombok that closes the pool’s access and then diverts it slightly to the side.

The facilities in this place are actually quite decent. It just so happened that we went to this place early in the morning so that the places to eat tended to still close. On the other hand, the access was still relatively poor. Yes, simply put, we rode Inova, and it couldn’t if we had to cross paths with other vehicles. It’s more appropriate to use a motorcycle.

Mengubah Tabel PDF ke Excel dengan Python

Mengubah Tabel PDF ke Excel dengan Python – Awalnya adalah keresahan pribadi ketika balik dari kuliah. Dulu itu, reviu RKA-K/L masih pakai aplikasi yang username dan password-nya DIPA. Saya bisa dengan mudah mengkonversi ADK ke format Excel dan dari situ saya bisa melalukan pekerjaan dengan mudah. Saya ada pengalaman cukup buruk soal itu, pernah dituding salah tapi tertolong oleh data bahwa pada proses reviu RKA-K/L saya diberikan data yang berbeda.

Blog secreet: Aplikasi RKAKL 2015
Aplikasi RKA-K/L zaman Pujangga Baru

Begitu balik dan aplikasinya jadi SAKTI, malah adanya cuma PDF. Saya lalu mengalami kesusahan karena note di PDF itu bagaimanapun sulit untuk direkap semudah pakai Excel dengan berbagai fiturnya.

Cukup Satu Aplikasi SAKTI (Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi)

Saya kemudian mencari-cari berbagai kombinasi. Pada akhirnya saya mencampurkan converter free yang ada di internet dengan teknik yang akan saya kisahkan pada konten ini. Sekadar ingin memudahkan diri. Kebetulan, pas kuliah kemarin sempat mempaparkan diri pada Python walaupun kalau cari coding selalu dari internet. Heuheu.

Sesuai dengan sumbernya, kode-kode yang digunakan memanfaatkan Google Colab. Saya juga punya Jupyter Notebook tapi sudah dicoba ke situ, script ini gagal. Hehe.

Mari kita mulai…

Intinya, library yang digunakan adalah Tabula. Dengan Tabula, tabel di dalam file PDF akan dikonversi ke Pandas Dataframes. Nah, Tabula ini bukan bagian dari library Google Colab, jadi kita perlu masukkan dulu.

!pip install tabula-py

Ketika Tabula sudah ter-install, maka kita dapat meng-import 2 library yang juga kita butuhkan:

import tabula
import pandas as pd

Sebagai gambaran, saya gunakan hasil penerimaan CPNS dari Badan Informasi Geospasial (BIG). Kan lagi musim tuh tes CPNS dan sebenarnya data-datanya gurih untuk diolah bolak-balik. Karena pakai Google Colab, data yang sudah saya unduh tadi, kemudian saya unggah ke Google Colab tepatnya di logo folder sebelah kiri layar.

dfs = tabula.read_pdf("/content/BIG.pdf", multiple_tables=True, pages="all", encoding="utf-8")

Kalau diterjemahkan, bagian awal tentu saja nama file-nya. Untuk command selanjutnya adalah kita hanya memproses tabel yang dikenali di dalam PDF. True berarti kita mau semua tabel di dalam file akan diproses. Sedangkan untuk “UTF-8” digunakan karena dia adalah tipe encoding dari Pandas, library yang kita gunakan untuk memproses data.

Terakhir, kita menyimpan kode sebagai instance “dfs” sehingga kita dapat melakukan manipluasi lebih lanjut.

dfs[0]

Sesudah itu, kita perlu menambahkan library lain yakni Xlsxwriter.

!pip instanll Xlsxwriter
import xlsxwriter

Nah, dengan library tersebut, kita buat file Excel-nya:

writer = pd.ExcelWriter('BIG.xlsx',engine='xlsxwriter')

Writer sendiri memungkinkan kita untuk menyimpan setiap tabel atau dataframe sebagai tab sendiri dalam file Excel. Kadang jadi kosong ya namanya juga PDF, salah satu script yang bisa digunakan untuk mengantisipasinya adalah:

X = 0

for df in dfs:
if len (df) == 0
print("Empty Dataframe")

else:
df.to_excel(writer, sheet_name=f"sheet {X}")
print(f"Saved Sheet{X}")
X = X + 1

Script di atas kemudian dipungkasi dengan perintah menyimpan:

writer.save()

Kita bisa refresh file di sebelah kiri layar untuk mendapati file hasil export-nya muncul.

Sejujurnya masih agak berantakan karena 1 halaman jadi 1 sheet. Ini PR lagi dalam merapikannya, tapi hasil yang diperoleh lumayan untuk melengkapi hasil dari converter. Converter ini ada masalah lain karena biasanya kalau mau convert banyak halaman agak sulit dan harus berbayar, sementara saya kan miskin.

Kira-kira demikian, lebih lengkapnya bisa disimak di video YouTube berikut ya:

Ciao!

Sumber kode DISINI.

Liburan Pegal di Ancol

“Pa, Eto mau ke beach. Naik airplane ya…”

Demikian pesan bos besar di rumah. Kombinasi video YouTube yang memperlihatkan sejumlah anak bebas main di pantai plus beberapa kali bapaknya dinas naik pesawat membuat dia memberikan pesan itu. Pesan yang sulit diwujudkan, selain karena miskin, tapi juga karena lagi pandemi. Saya saja berusaha supaya tidak berangkat dinas karena takut ketularan COVID-19 di kota lain, lah masak bawa anak liburan?

Aslinya, saya jelas pengen bawa anak liburan. Kemarin di Bali kan saya menginap di Hotel Bali Mandira, pinggir Legian banget. Hotelnya juga asyik lah kalau bawa anak. Dan memang saya ingin banget bawa anak jalan-jalan. Tapi lagi-lagi, selain COVID-19 ada faktor kemiskinan yang membuatnya sulit terwujud~

Dan karena kita di Tangerang Selatan, maka jadilah kita ke beach yang paling masuk akal: Ancol. Kristof sudah pernah ke Ancol pada usia 2 tahun dan sekarang berarti dia kesini pada usia 4 tahun. Dulu pas 2 tahun sudah direncanakan bakal bawa ke Singapur lah, ke mana lah, ujung-ujungnya demi keamanan, selama 2 tahun dia malah di rumah…

Dulu kami pernah ke Ancol, tapi menginap di luar kawasan. Nah ini pikirnya kan biar liburannya asyik, jadi coba menginap di dalam kawasan. Kami menginap di salah satu hotel yang ada di dalam kawasan Ancol, tepatnya yang mefet banget sama laut dan dahulu kala pernah kondang dengan nama artis Lidia Pratiwi. Niatnya kan biar urusan ke pantainya gampang.

Sayangnya, gampang itu kalau kita bawa mobil sendiri.

Sobat misqueen kayak saya yang ke Ancolnya saja naik Blue Bird dengan kartu kredit, tentu nggak punya transportasi apapun di dalam selain kaki dan sedikit uang untuk sewa sepeda listrik. Tapi ya sudahlah, dinikmati saja karena niatnya kan liburan.

Secara umum, sesudah datang dan check in kami menuju ke Faunaland, suatu kebun binatang kecil-kecilan di dalam kawasan Ancol, tepatnya di tengah Allianz Ecopark. Kami naik taxol dari hotel ke Allianz Ecopark tersebut. Uniknya, itu posisi si taxol sudah di dalam dan saya tetap disuruh bayar 25 ribu. Padahal, ketika di masuk kan dia sudah dapat tiket keluar ya.

Tapi ya sudah. Gapapa.

Dari Faunaland, tampaknya anak saya ngebet benar pengen ke pantai. Walhasil, dengan berjalan kaki saya membawa dia ke Pantai Indah yang notabene paling dekat dengan Faunaland. Pantainya cukup ramai dengan tali melintang di area laut tanda tidak boleh berenang. Jadi memang hanya celup-celup sama main pasir. Anak saya sebagai anak prokes langsung keder begitu melihat anak-anak yang cukup ramai.

“Pa, banyak anak-anak…”

Dari Pantai Indah, kami kembali ke hotel untuk main pasir di depan kamar saja. Kami naik taksi. Jadi, ada sebuah taksi yang muter-muter Ancol pada Sabtu-Minggu untuk mencari orang-orang tidak berpunya seperti kami ini. Pas nganter kami, bapaknya malah curhat. Sedih memang. Benar bahwa di Ancol ada bus Wara Wiri, tetapi keramaian dan rutenya tidak cukup visibel untuk orang-orang seperti kami.

Kami memang berencana akan main pasir baru pada pagi hari berikutnya, sebelum pulang. Arahnya tentu saja beach pool yang dari proporsi pasirnya paling banyak. Pilihan kami kemudian adalah naik sepeda listrik yang disewakan di hotel dengan harga 100 ribu untuk 2 jam. Jadi dua sepeda ya 200 ribu. Dengan jarak 1 kilometer, menggenjotnya lumayan juga. Tapi namanya sepeda listrik kan kayak naik sepeda motor.

Dan sisi baiknya adalah ternyata anak saya sudah cukup seimbang sehingga bisa pegangan dengan baik dan benar di boncengan.

Kami main pasir dalam suasana yang gloomy dengan sedikit mendung dan beberapa tetes air hujan. Walau demikian, dalam durasi 2 jam tidak ada hujan yang terjadi sehingga keinginan Kristof untuk bisa bermain pasir di pantai setidaknya bisa terwujud dengan keterbatasan seperti tali, maupun kapasitas dan tentunya minim ombak. Memang lain kali saya sangat ini dia bisa menikmati pantai-pantai cantik yang pernah saya datangi, mulai di Padang, Bali, Kupang, Nias, hingga di Palu.

Memang baru dua kali dia ke pantai dan dua-duanya ke beach pool. Sebagai orang tua, sebenarnya ada keinginan dalam diri saya untuk mengajak dia. Cuma dulu takut saja dia tidak ingat. Jadi mau mencari umur yang kira-kira dia bakal ingat sampai kapan-kapan dan sepertinya ini sudah umurnya.

Kapan-kapan ya, Nak.

Ke Bali di Masa Pandemi

Selepas kelar kuliah, salah satu hal yang cukup bikin saya deg-degan setiap waktu adalah kalau disuruh perjalanan dinas luar kota. Bukan apa-apa, sejak Maret 2020 sampai September 2021 saya itu benar-benar hanya di Tangerang Selatan. Nggak kemana-mana sama sekali. Ke Jakarta sekalipun bisa dihitung dengan jari. Bahkan dalam kurun waktu 12 bulan dari Maret 2020 sampai Maret 2021, saya ke Jakarta (yang notabene normalnya saya lakoni tiap hari) hanya 3 kali dan semuanya untuk keperluan COVID-19. Pertama, swab massal di kantor. Kedua dan ketiga adalah vaksinasi dosis 1 dan 2. Sudah gitu doang saking tertibnya.

Nah, begitu sudah aktif lagi bekerja, maka saya tidak punya privilese untuk selalu #DiRumahAja, apalagi kerja beginian walaupun masih sangat memungkinkan untuk WFH tapi ada saja elemen kerja lintas kotanya. Hal itulah yang terjadi kemudian. Sesudah kemarin ke Surabaya, kali ini saya ke Bali. Dinas ke Bali itu bagi saya cukup menyebalkan karena ingat tahun 2017 pernah ke Bali, nginep di Hotel The Stones yang notabene cuma seberangan pantai Kuta tapi baru bisa melihat sunset itu di hari kelima. Kerjo po ngopo to sakjane~

Nah, saya ke Bali itu 20 Oktober ketika pariwisata baru dibuka untuk turis mancanegara dengan catatan karantina. Sekali lagi, terakhir kali saya ke Bali itu 2018, jadi yang saya lihat benar-benar sesuatu yang berbeda.

Karena acara yang hendak saya ikuti ada di sekitar Kuta, maka saya menginapnya di sekitar situ juga. Pada malam hari, saya yang kehabisan Rosuvastatin kemudian mengorder ojol untuk pergi ke apotek terdekat. Itu sekitar jam 8 malam. Dulu, jam 8 malam di Kuta itu justru awal mula aktivitas tiada henti sampai pagi.

Apa yang saya lihat?

Jalanan sepi. Tempat-tempat hiburan yang tutup. Demikian pula toko-toko. Termasuk sebagian diantaranya sudah diberi tulisan ‘DIKONTRAKKAN’. Belum lagi jika ditambahkan dengan curhat driver taksi dari bandara soal mobilnya yang sudah ditarik leasing dan mobil yang dipakainya adalah punya teman.

Itu tanggal 20.

Ketika saya pulang tanggal 22, ada nuansa yang berbeda. Di hari Jumat, sudah mulai banyak yang check in. Pada umumnya adalah rombongan dengan naik mobil sendiri. Hotel di sekitar Legian mulai menggeliat. Jika di hari Kamis saya sarapan dalam suasana sepi, maka makan siang di hari Jumat sudah mulai banyak orang. Kehidupan Bali mulai menggeliat.

Pada satu sisi, saya tetap takut soal potensi varian baru dan potensi penularan COVID-19. Apalagi, yang dikontrol kan perjalanan udara yang notabene sudah pakai HEPA Filter. Bagaimana dengan bis atau bahkan mobil pribadi? Wabah ini jelas belum selesai, tetapi bagaimanapun saya sangat paham bahwa banyak orang tergantung pada mobilisasi orang-orang. Termasuk saya pun demikian. Dari bujangan pengen banget ngajak anak istri ke Bali. Mana anak saya sudah suka ngomong pengen ke beach tapi naik airplane. Artinya, sekadar ke Ancol sudah nggak cocok buat dia dan Bali mestinya pas.

Ah, semoga wabah ini cepat hilang ya~

Naik Pesawat Lagi

Waktunya tiba juga. Privilege yang sangat saya nikmati akhirnya berakhir juga sesuai masa kedaluwarsanya. Iya, sejak Maret 2020 ketika semua orang dianjurkan untuk di rumah saja ya saya pun demikian. Saking patuhnya, sampai 12 bulan kemudian saya itu pergi ke Jakarta (dari Tangerang Selatan) itu cuma untuk 3 urusan dan semuanya terkait COVID-19. Pertama, swab massal dari kantor. Kedua dan ketiga adalah vaksinasi.

Iya, saya yang biasanya sehari bisa Tangerang Selatan, Jakarta, lalu Bekasi atau Bogor atau pernah juga seminggu Denpasar-Jakarta-Tangsel-Bandung-Tangsel-Jogja benar-benar menikmati kehidupan di rumah saja dan merasa aman dengan tidak kemana-mana. Cuma ya bagaimana lagi, periode kuliah saya ada batasnya dan kebetulan selesai pula. Jadi ya sesuai dengan SK yang dimiliki, maka saya kudu ngantor. Demikianlah adanya.

Hanya 4 hari sesudah wisuda, saya sudah dinas lagi. Untungnya ‘cuma’ ke Surabaya. Maksud saya, walaupun Jatim itu kasusnya termasuk tinggi, tapi ya setidaknya kalau ada apa-apa, nggak jauh-jauh amat dari rumah. Kalau misalnya di Manowkari atau Aceh kan saya mungkin kebingungan.

Sesungguhnya, terakhir kali saya naik pesawat itu Desember 2019 dari Padang. Dan tentu saja di masa pandemi ini semuanya berubah sehingga saya benar-benar sempat linglung. Tanpa pandemi pun mungkin saya juga linglung soal buka gesper, mengamankan ponsel, dll. Ditambah pandemi, maka segala elemen swab antigen, masker berlapis, dan lainnya juga menambah kompleksitas.

Sesungguhnya, saya melihat ada upaya dari penyedia jasa baik di bandara maupun maskapai untuk menjaga protokol kesehatan. Bagaimanapun, untuk suatu virus yang telah dinyatakan airbone, tempat sempit seperti pesawat terbang adalah sebuah arena yang tepat untuk virusnya beterbangan dan hinggap sana-sini. Cuma ya itu, ada saja penumpang yang mungkin bernafas dengan dagu sehingga maskernya diturunkan ke dagu dan nunggu pramugari lewat dulu baru menaikkan maskernya. Wis gedhe kok yo ngono ae kudu dikandhani.

Saya tidak tahu, apakah dalam waktu dekat akan terbang lagi. Dari hati kecil, saya sih berharap tidak. Cuma ya namanya sekarang sudah aktif bekerja, siapa yang tahu. Yang jelas saya hanya berharap akan selalu sehat dalam periode ini. Periode yang tampaknya angka kasusnya sudah turun, tapi kita tidak tahu ada apa di depan.

Sehat-sehat selalu untuk kita semua.

Rindu Bandung, Mal Populer, dan Akses Termudah dari Jakarta

Photo by Dinul hidayat on Pexels.com

Bagi saya, Bandung itu bukan sembarang kota yang pernah dituju. Istri saya lahir di Bandung dan mertua tentu masih di kota tersebut. Lebih lanjut lagi, anak saya juga lahir di Bandung. Maka wajar kalau rindu Bandung adalah sesuatu yang muncul di era pandemi begini, mengingat sudah lebih dari setahun saya dan keluarga tidak pulang ke Bandung. Dulu mah tiap beberapa bulan sekali pasti. Malah pas menjelang pernikahan dan kelahiran anak, kami juga wira-wiri Bandung-Jakarta.

Selain tempat-tempat wisata di sekitar Lembang, Bandung juga terkenal sebagai kota belanja dan sudah pasti ada banyak mal populer yang ada di Bandung. Sebagai tempat kunjungan andalan, mal juga menjadi salah satu tempat yang paling dipelototin pemerintah dalam penegakan protokol kesehatan di masa pandemi.

Nah, berikut ini sejumlah mal populer di Bandung yang biasanya saya dan keluarga sambangi kalau pas di Bandung.

  • Paris van Java

Tahun 2007 saya pernah lomba paduan suara di Bandung. Nah, sesudah lomba dan menuju edisi jalan-jalan, kontingen sempat terjebak dalam adu pendapat. Sejumlah orang ingin ke Pasar Baru, sisanya ke Paris van Java yang memang baru buka. Saya sendiri waktu itu memang ikut ke Pasar Baru. Saya baru ke Paris van Java waktu PKL di Depok dan jalan-jalan ke Bandung. Benar-benar dari terminal itu kami langsung ke PVJ.

Salah satu kekhasan PVJ adalah konsep open air. Jangankan tempat jalan-jalannya, WC cowoknya pun open air. Haha. PVJ agak berbeda dengan mal di Jakarta yang dioptimalisasi ke atas. Jumlah lantai di PvJ nggak banyak, jadi kalau memang mau jalan-jalan ya ke samping kiri-kanan sudah cukup melelahkan.

Oiya, salah satu yang menarik, sehari sebelum kelahiran Kristof, kami masih sempat ke PVJ untuk kulineran sekalian memperlancar jalan kelahiran—yang ternyata ya tetap saja pakai induksi. Wkwk.

  • Trans Studio Mall

Dahulu tempat ini namanya Bandung Super Mall. Saya pernah ke BSM pada masanya, naik angkot dan panas. Sejak 2011, mal ini menjelma menjadi TSM seiring penambahan Trans Studio Bandung yang satu kawasan. Lokasinya juga cukup strategis di Jalan Gatot Subroto.

Selain Trans Studio, di TSM ini juga ada kawasan Trans Luxury Hotel, salah satu hotel terbaik di Bandung. Jadi, bisa berbagai kepentingan dalam satu kali kedatangan.

  • Cihampelas Walk

Kembali ke tipe outdoor dan ramah pejalan kaki, ada Cihampelas Walk alias Ciwalk. Lokasinya tentu saja bukan di Ujung Berung, kan namanya Cihampelas. Dinginnya Bandung masih berasa lah kalau di Ciwalk ini.

Lokasi Ciwalk berdekatan dengan sejumlah factory outlet di Jalan Cihampelas. Kita juga masih bisa wisata kuliner di Skywalk Cihampelas.

  • Istana Plaza

Saya tidak bisa bilang ini mal tertua di Bandung, tapi termasuk yang juga pernah saya datangi pada periode 2006-an. Salah satu alasannya karena lokasinya yang sangat strategis, dekat dengan Bandara Husein Sastranegara dan tidak jauh pula dari Stasiun Bandung. Pas mau interview di Padalarang tahun 2009 awal, kami juga menyempatkan diri nongkrong di IP sejenak begitu sampai ke Bandung dan masih bingung mau ngapain~

Salah satu yang menarik di IP ini memang kalau bawa bocah. Tempatnya luas dan cukup banyak mainan anaknya. Jadi nggak bikin bete lah kalau bawa anak ke IP.

  • Paskal 23

Berdiri tahun 2017, Paskal termasuk mal paling baru dan otomatis karena baru dan hadir di era media sosial jadi cepat populer juga. Sesuai namanya Paskal, lokasinya sudah pasti di Pasir Koja. Yak! Salah! Tentu di Pasir Kaliki dong.

Paskal 23 juga cukup ramah anak dan lebih ramai lagi untuk pecinta film karena bioskopnya kalau saya nggak keliru adalah salah satu yang terbesar di antara mal-mal yang ada di Bandung.

Salah satu akses yang biasa saya gunakan kalau mau ke Bandung adalah dengan DayTrans. DayTrans memang sudah dikenal sebagai travel andalan untuk rute Jakarta-Bandung pp. Dan karena sudah biasa dengan DayTrans Jakarta-Bandung pp, maka pas saya turun dari Denpasar di Solo dan hendak menuju Salatiga, saya akhirnya ya naik DayTrans Solo-Semarang. Pas di Jogja dan mau ke Semarang, jadinya ya naik DayTrans juga deh.

Salah satu yang menarik dari DayTrans adalah pilihan mobilnya yang memang oke punya seperti Isuzu Elf dan Toyota Hiace Commuter. Jadwal berangkat juga tepat waktu, bahkan saya pernah ketinggalan karena memang terlambat sampai ke pool. Lokasi-lokasi pool DayTrans juga strategis di setiap kota tempat berada.

Di Bandung misalnya, DayTrans tersedia di Dipatiukur, Pasteur, dan Cihampelas. Benar-benar nggak jauh dari mal-mal yang ada. Di Jakarta dan sekitarnya, poolnya tersebar di lokasi strategis seperti Slipi, Binus, Tebet, Atrium Senen, fX Senayan, hingga Tangerang City.

Lebih keren lagi karena sekarang kita juga bisa memesan tiketnya dari aplikasi Traveloka. Sudah seperti beli tiket pesawat dan kereta api, kan? Jadi, benar-benar bisa pesan sambil rebahan dan nggak perlu juga harus keluar pulsa untuk menelepon serta nggak perlu takut untuk kehabisan tiket karena semua bisa dipantau melalui aplikasi.

Cakupan vaksinasi di Jakarta dan Bandung terbilang keren. Jakarta sudah 100 persen bahkan lebih, sedangkan di Bandung sudah menuju 50 persen. Semoga sebentar lagi saya bisa ke Bandung dan anak saya jadi bisa mengingat kembali tempat kelahirannya nan indah permai itu.

Minggat Dong Corona, Saya Mau ke Jogja

Minggat Dong Corona, Saya Mau ke Jogja – Dulu sekali ketika saya masih jadi penjaga gudang di pabrik, ada rasa bosan dengan aktivitas yang hanya tentang kantor dan kosan. Plus, di kantornya itu ya antara ruang office dan gudang saja. Begitu kemudian pindah, pergerakannya langsung meningkat ekstrem. Suatu hari pada tahun 2018, saya pagi-pagi berangkat dari Serpong, rapat di Jakarta, kemudian siangnya rapat lagi di Bogor, dan kemudian malamnya balik lagi ke Serpong.

Pernah pula pada suatu pekan saya balik dari Denpasar dan mendarat kurang lebih jam 10 pagi, balik ke kantor di Jakarta, terus jam 3 pulang dulu ke Serpong untuk kemudian jam 11 malam naik kereta ke Bandung untuk acara di ITB keesokan harinya. Acara di ITB selesai jam 2, saya lalu bergegas balik ke Serpong untuk bersiap-siap karena hari Jumat pagi buta saya ada penerbangan ke Jogja.

Ya, sebelum pandemi, saya pernah segesit itu bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan begitu ada pandemi saya betul-betul jadi bapak rumahan seutuhnya. Sebagai gambaran paling jelas mari kita lihat pergerakan saya pada akhir 2018 dan pada bulan Agustus 2021.

Sayangnya memang, tahun 2018 itu adalah terakhir kali saya ke Jogja. Sebuah kota yang punya banyak cerita dalam masa lalu saya. Sebagai bapack muda, sesungguhnya mengajak anak semata wayang saya jalan-jalan ke Jogja adalah salah satu mimpi yang sebenarnya biasa, tapi sejak Maret 2020 berasa jadi mimpi yang terlalu liar. Itu 1 tempat baru di Agustus 2021 bahkan sebenarnya hanyalah Indomaret dekat rumah yang memang baru buka. Artinya, ya saya memang tidak kemana-mana…

Sebenarnya, sih, anak saya yang sekarang berusia 4 tahun ini bukan kali pertama ke Jogja. Pertama kali dia naik pesawat malah ke Jogja di tahun 2017. Masih bayi 5 bulan, lho. Kami ke Jogja karena ada acara pernikahan sepupu. Ya namanya juga acara nikahan, yang dibawa juga masih bayi 5 bulan, dibawa jalan-jalan pasti nggak berasa.

Ketika kemudian anak saya sudah paham mengenai ‘apa itu main?’ tentu ingin rasanya mengajak dia jalan-jalan ke pantai-pantai di Gunungkidul yang dahulu kala menjadi tempat saya dan teman-teman dolan jauh-jauh dari Sleman. Ingin pula mengajaknya ke Taman Pintar, Alun-Alun, Kaliurang, Penting Sari, atau bahkan sekadar main di kampus.

Padahal, ketika tahun 2019 saya kuliah lagi dan betul-betul off dari pekerjaan, berbagai perjalanan itu juga sudah ada dalam perencanaan. Selalu ada keinginan untuk jalan-jalan singkat sama anak, ya sekadar naik bis lintas Jawa yang cakep-cakep atau kereta api untuk datang ke tempat-tempat saya pernah bertumbuh di Jogja dan sekitarnya.

Lagipula dalam pengalaman saya, semakin besar anak, urgensi untuk harus menginap di hotel dengan fasilitas ekstra seperti kolam renang atau tempat bermain yang luas menjadi minim karena toh kita memang ingin jalan-jalan. Satu-satunya yang menjadi penting adalah kamar yang nyaman dan tentu saja terjangkau harganya. Kayak waktu di Bogor beberapa waktu sebelum pandemi, kami menginap di RedDoorz dekat Kebun Raya. Durasi di kamarnya tentu saja minim karena kami lebih asyik main ke Taman Topi atau Istana Bogor buat kasih makan rusa.

Yang paling penting, begitu balik ke hotel, kasurnya bersih, tivinya oke, AC-nya adem, dan bisa tidur dengan nyenyak. Walhasil saya sebagai bapack nan qiqir bisa mengalihkan anggaran untuk makan yang lebih enak atau sekalian dikonversi jadi tiket di tempat bermain. Dan pada dasarnya kebutuhan tersebut sudah tersedia di RedDoorz. Saya malah jadi ingat dulu pas masih pengantin baru ada kalanya staycation di hari kerja, ya di RedDoorz. Cari-cari di sekitar Setiabudi atau Bendungan Hilir agar dekat kantor istri dan bisa terjangkau ke kantor saya. Seru saja sih buat variasi hidup. Dan yah, lagi-lagi yang model begitu semakin tidak bisa terlaksana karena selain faktor anak, ya faktor Corona juga.

Sudah terbayang sebenarnya ketika suatu masa sesudah pandemi ini berakhir, maka saya akan ke Jogja bersama anak dan istri, lalu menginap di hotel di Yogyakarta yang tidak jauh-jauh dari Stasiun Tugu dan Malioboro. Dari situ, kami akan naik andong menuju Taman Pintar dan kemudian menghabiskan cukup banyak waktu di berbagai wahana pendidikan yang ada. Sore menuju malam, kami akan menghabiskan waktu di daerah Nol Kilometer sembari memperlihatkan kepada anak saya rupa-rupa kelakuan bapaknya kala masih muda belia. Habis itu ya balik ke RedDoorz dan terlelap untuk keesokan harinya.

Tempat berikutnya mungkin adalah kampus tempat saya kuliah 4,5 tahun lamanya di utara Jogja yakni Kampus III Universitas Sanata Dharma di Mrican. Tempatnya asri dan asyik buat bocah main-main apalagi lari-lari. Dan sebenarnya selain tadi pantai sampai Kaliurang, ada begitu banyak destinasi baik yang hits maupun yang penuh kenangan yang ingin saya bagikan sensasinya ke anak saya pada suatu hari nanti. Terutama ketika herd immunity sudah tercapai dan yang paling utama adalah saya masih diberi kehidupan.

Berkaca pada Spanish Flu tahun 1918, akan ada masanya virus Corona-nya hilang. Apalagi di masa kini sudah ditunjang dengan ikhtiar vaksinasi. Walau mungkin akan lebih susah karena saya sudah harus kembali bekerja, tapi ya bisalah diluangkan waktu cuti jika memang hendak jalan-jalan. Setidaknya untuk memberikan reward kepada Kristofer yang selama 1,5 tahun benar-benar setia di rumah saja sesuai anjuran pemerintah.

Semoga Corona benar-benar cepat minggat, yha, karena saya sudah ngebet mau jalan-jalan ke Jogja~

Bapak Millennial

%d bloggers like this: