Staycation Menyenangkan di Swiss-Belhotel Pondok Indah

Staycation Menyenangkan di Swiss-Belhotel Pondok Indah

Libur lebaran dan tidak pulang kampung ke Bandung maupun Bukittinggi memang agak runyam. Saya sebagai PNS pasti libur, sedangkan istri saya hanya libur pas tanggal merah alias 5 dan 6 saja. Pengalaman berkata bahwa membawa bocah hanya untuk perjalanan 2 hari untuk kemudian balik lagi lebih banyak mudarat daripada manfaatnya. Jadi, ya sudah, stay saja di Jakarta.

Berhubung habis pulang dinas dari Surabaya, sesudah dipotong anggaran beli Spikoe dan beli Sei Aroma, ada sisa uang sedikit yang dikolaborasikan dengan promo besar dari online ticket agency kondang, maka saya dan istri memutuskan untuk melakukan staycation saja di Jakarta.

Salah satu target liburan kami adalah membawa Isto naik Mass Rapid Transit alias Moda Raya Terpadu alias MRT. Ya, meskipun dia juga nggak ngerasa, tapi lumayan sebagai seorang bocah kalau punya kisah naik moda transportasi paling ngehits se-Jakarta saat ini. Dengan demikian, lokasi staycation mengerucut ke tidak-jauh-jauh-dari-stasiun-MRT.

Dari beberapa pilihan, akhirnya kami memilih untuk menginap di Swiss-Belhotel Pondok Indah. Dulu, sih, pernah hampir ngereview makanan di hotel ini tapi karena hal yang saya sudah lupa, nggak jadi. Alasan utama sih karena posisinya yang dekat dengan halte TransJakarta serta kolam renang yang tampaknya paling menarik dibandingkan hotel-hotel di sekitarnya.

Lagipula, karena saya sudah cukup kenal dengan Swiss-Bel di berbagai kota–termasuk di Palangkaraya sebagai hotel terbaik di kota itu–jadi seharusnya tidak akan terlalu mengecewakan.

Apakah benar demikian? Continue reading

Advertisements

Ayo Beli Rumah Harga Murah di Kota Ramah Anak Jawa Barat!

Kota Layak Anak (KLA) secara awam bisa dijelaskan sebagai kota yang memenuhi semua kriteria standar untuk memenuhi segala kebutuhan tumbuh kembang buah hati dari segala aspek dan sisi. Misalnya dengan adanya fasilitas serta sarana prasarana ramah anak sampai kemudahan mengurus dan mendapatkan urusan administrasi si kecil.

Tapi sayangnya, diantara sebegitu banyak kota dan wilayah di Indonesia, belum semua titik menjadi kota ramah anak disebabkan banyak faktor misal kendala uang dari pemerintah atau memang pemerintah yg belum berfokus terhadap hal tersebut. Tahun 2018 saja, baru ada sekitar 177 daerah yang mendapat anugerah kota layak anak dari pemerintah pusat.

Padahal, KLA sangat penting tuk diwujudkan karena secara langsung maupun tidak, tumbuh kembang anak Indonesia tergantung dari kualitas serta standar – standar KLA. Sehingga sangat penting sebenarnya bagi orang tua untuk secara cermat menentukan dimana sebuah keluarga bakal bermukim, agar si kecil bisa mendapatkan fasilitas serta hak tumbuh kembang terbaik dimulai dari lingkungan sekitar.

Salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki titik ramah anak cukup banyak dengan ketersediaan jual beli rumah murah cukup berlimpah adalah Provinsi Jawa Barat. Tahun 2017 saja, sudah ada 15 titik yang mendapat predikat layak anak dan jumlah itu terus bertambah.

Ariesadhar.com - Pixabay

Tertarik buat melirik jual beli rumah murah di provinsi yg juga ramah anak ini? Berikut ulasan beberapa titiknya:

Bogor

Hanya berjarak sekitar 40 menit dari Ibukota, Bogor merupakan opsi utama bagi orang tua yg ingin jual beli rumah murah di areal layak anak. Sebab, meski dekat tetapi bisa dirasakan sekali perbedaannya mengenai kualitas udara dimana tingkat polusinya jauh lebih rendah dari DKI. Maka dari itu tingkat stressnya pun lebih rendah daripada Jakarta.

Stok rumah dijual di Bogor pun melimpah, tidak hanya landed house mewah saja tetapi Anda juga bisa rumah dijual di Bogor dengan harga miring dengan sangat mudah. Mau cari rumah dijual di Bogor tipe subsidi? Jangan khawatir, sebab stok hunian seperti itu juga banyak sekali.

Bandung

Dikenal sebab keindahan dan keberagaman tempat wisata, Bandung memang menawarkan sesuatu yg berbeda. Udara jauh lebih sejuk dan bersih dari Bogor. Plus setelah sempat dipimpin oleh Bapak Ridwan Kamil, makin banyak ruang terbuka serta taman yg bisa dijadikan tempat bermain buat anak. Tentunya dengan begitu aspek edukatifnya pun bakal lebih terasa.

Tapi untuk urusan jual beli rumah, tak berbeda jauh dengan rumah dijual di Bogor. Terdapat banyak opsi beli rumah serta range dan variasi landed house buat segera dimiliki. Tak peduli hunian murah maupun hunian mewah, tetap semuanya dikelilingi oleh ragam fasilitas serta infrastruktur buat mendukung segala perkembangan buah hati Anda. Ya, Bandung memang selalu istimewa.

8 Hal Penting Dalam Menulis Esai LPDP

Beasiswa LPDP Tahun 2019 sudah dibuka. Dalam waktu yang cukup terbatas untuk periode pertama, mungkin ada yang masih bingung dalam menulis esai. Dulu waktu membantu proses LPDP pacar–kemudian jadi istri–esai LPDP itu ada 2 yaitu “Peranku Bagi Indonesia” dan “Sukses Terbesar Dalam Hidupku”.

Nah, yang saya alami pada tahun 2018 esainya itu diberi nama Statement of Purpose, yakni esai paling banyak 1000 kata yang menjelaskan rencana kontribusi yang telah, sedang, dan akan dilakukan untuk masyarakat, lembaga, instansi, profesi, atau komunitas.

Nanti akan saya beri bocoran esai yang bikin saya berhasil mendapatkan beasiswa LPDP dalam 1 kali percobaan. Pertama-tama, tentu harus dipahami dulu hal-hal yang biasanya luput dari pembuatan esai sehingga mengurangi kemungkinan diterima LPDP.

Yuk~

1. Esai Itu Personal

Dalam definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), esai itu sifatnya adalah berasal dari sudut pandang penulis. Ini penting karena banyak orang yang asal copy-paste esai-esai yang beredar di media seperti blog ini, sehingga menghilangkan unsur sudut pandang personalnya.

Jadi, nyontek esai itu dimungkinkan. Minta tolong edit ke teman yang paham tata bahasa atau suka menulis juga tidak masalah. Hanya saja, pertahankan sudut pandang personalnya dengan cara: pertama kali buat esai sendiri sampai selesai, sejelek apapun itu. Kemudian berangkatlah dari esai itu untuk perbaikan ke depannya. Niscaya, esai akan menjadi sebuah masterpiece.

2. Buka Dengan Tidak Biasa

Ini contoh pembukaan saya dalam statement of purpose yang saya submit ke LPDP:

Saya selalu mengalami masalah ketika ada pertanyaan, “kamu orang mana?”. Bukan apa-apa, saya adalah anak seorang pria Jawa asli dan seorang wanita Batak tulen. Saya lahir dan tumbuh hingga remaja di Bukittinggi, Sumatera Barat. Saya seorang Katolik sejak bayi, yang punya saudara dekat beragama Islam dan Kristen Protestan. Saya kemudian membentuk pola pikir dalam pendidikan Jogja dan lantas memulai karir di Kota Palembang untuk kemudian hengkang ke Jabodetabek sebagai pekerja muda lainnya.

Apa coba urusan tempat lahir sampai agama nyambung ke esai LPDP? Ya, bisa saja disambungkan. Namanya juga tulisan, pasti bisa bagaimana caranya. Saya sendiri hendak mengarahkan latar belakang itu pada kecintaan untuk Indonesia.

Pembukaan semacam ini akan memberikan nilai tambah bagi yang–siapa tahu–akan bingung dalam menentukan kamu lolos atau tidak.

3. Jelaskan Yang Sedang Kamu Lakukan

Ini sebab kalau sudah jadi PNS, maka LPDP itu akan sedikit lebih mudah cara masuknya. Tentunya, karena kita sudah mengerjakan sesuatu. Saya sendiri PNS, tapi mendaftar lewat jalur reguler, karena kebetulan instansi tempat saya bekerja tidak membuka pendaftaran untuk afirmasi PNS. Walhasil, saya harus bersaing dengan orang-orang yang syarat TOEFL dan berbagai nilai dasar lainnya sudah tinggi.

Kalau lagi nganggur, jelaskan yang telah kamu lakukan. Btw, IMHO, kalau betul-betul nganggur tapi hanya nunggu LPDP itu menurut saya ada yang aneh. Bukankah bisa melakukan banyak hal dalam aktivisme dan voluntarisme?

4. Jelaskan Kontribusi Dari Hal Yang Sedang Kamu Lakukan

Kalau kamu aktivis, maka jelaskan yang memang betul-betul sudah dilakukan dan hubungkan dengan kontribusi pada negeri ini. Kontribusi itu, sekecil apapun tetap bisa ditulis sebagai kontribusi. Wong, berita nggak benar sama bisa digoreng seolah jadi benar, toh?

Begitulah tulisan. Namun, sebagai calon anak LPDP harus berintegritas dari awal. Tulis saja apa yang kamu sedang lakukan atau kerjakan. Jika kebetulan habis lulus belum ngapa-ngapain, ya jelaskan yang pernah dilakukan.

Kalau PNS? Ya, sesimpel apapun pekerjaanmu, itu kan membantu negeri ini. Jadi, percaya diri saja dengan yang kita kerjakan sehari-hari, kecuali keseharian kamu adalah main Zuma, yha.

5. Jelaskan Permasalahan

Menjadi anak LPDP itu sebaiknya paham permasalahan negeri ini, atau setidaknya permasalahan kontekstual dan terkini dari bidang keilmuan kita. Nah, itu yang dituangkan dalam penjelasan permasalahan.

6. Hubungkan Dengan Sekolah Sebagai Upaya Solusi

Nah, dari nomor 5, segera sambungkan dengan kenapa LPDP perlu membiayai kamu sekolah. Tentu saja jualannya adalah supaya kamu bisa jadi pembantu penyelesai permasalahan. Bagian ini agak tricky, terutama bagi yang lintas bidang. Namun kalau saya yang pindah dari eksakta ke sosial, itu bisa jadi aspek yang lebih menjelaskan~

7. Bahasa Agak Absurd Tidak Apa-Apa

Pada salah satu bagian esai, saya menulis bahwa “…PNS sudah kerja keras bagai kuda…”, karena waktu itu lagi hits. Pakailah kalimat-kalimat sederhana yang lagi hits meskipun sebenarnya agak absurd, sekadar untuk bisa membuat pembaca tidak bosan pada ke-aku-an yang memang lagi kita jual dalam esai.

8. Cek Karakter, Cek Typo, Cek Ejaan

Ini standar, tapi sering sekali tidak diperhatikan. Sebelum dipindah ke form isian LPDP, sebaiknya cek jumlah karakter, cek berulang-ulang kesalahan penulisan, hingga ke ejaan. Esai yang jelas di awal, bersih dari kesalahan, akan membuat pembaca/pereviu lebih berminat meneruskan, alih-alih esai yang jorok dan penuh kesalahan mendasar, meskipun isinya sebenarnya bagus.

Nah, bagi yang ingin melihat esai saya tahun lalu, bisa DIUNDUH DISINI. Selamat mencoba~

Surga Wisata Mall di Bekasi

Screenshot_1893

Bekasi sempat disebut-sebut sebagai sebuah planet yang untuk mencapainya harus menggunakan roket. Hiruk pikuk kemacetan di jalanan menuju Bekasi menjadi salah satu penyebabnya. Sebab kedua adalah karena Bekasi itu panas. Padahal, ya, panasnya sama Tangerang juga 11-12. Depok pun demikian.

Meski kerap jadi bahan bercanda, nyatanya Bekasi, baik Kota maupun Kabupaten, terus berkembang. Salah satu yang menjadi tanda perkembangannya adalah dalam hal jumlah mall.

Sewaktu saya masih tinggal di Cikarang, mall hanya ada 1 saja. Mall Lippo Cikarang. Kini, jumlah mall sudah bertambah dan akan terus bertambah, termasuk dengan rencana pendirian AEON Deltamas. Jelas sekali, Bekasi memang menjadi salah satu tempat yang dipilih oleh banyak pekerja Jakarta untuk tinggal.

Jangan heran pula jika selain perumahan yang terus berkembang, pertumbuhan apartemen di bekasi juga masif sama halnya dengan berkembangnya apartemen Jakarta. Apartemen murah maupun dengan harga apartemen menengah ke atas didirikan di tengah Bekasi, dekat dengan mall-mall yang sudah eksis. Apartemen Center Point Bekasi maupun apartemen Mutiara Bekasi menjadi beberapa yang kondang.

Kebutuhan akan sewa apartemen murah di Bekasi menjadi tinggi. Selain untuk hunian sehari-hari, kebutuhan sewa apartemen juga muncul karena sebagian orang punya urusan pekerjaan di sekitar Bekasi. Sebagian sisanya hendak menghabiskan waktu di mall-mall berikut ini:

Revo Town

Dahulu namanya Bekasi Square dan sempat sepi kalau dilihat dari tol Cikarang-Jakarta. Namun pasca direvitalisasi menjadi Revo Town, mall yang berlokasi di Jalan Jenderal Ahmad Yani Kav 1, Pekayon Jaya ini mulai menggeliat. Apalagi, ditunjang dengan lokasinya yang paling besar se-Bekasi dengan 4 hektar dan 4 lantai.

Gambar terkait

Sumber: jktproperty.com

Dengan tagline baru “Simply a place for togetherness and family quality time”, Revo Town menghadirkan pusat perbelanjaan tempat bersuka ria dengan keluarga dan sahabat. Salah satu tujuan wisata yang melekat dengan Revo Town adalah Snow World, sensasi kota bersalju dalam mal. Jadi, siapa bilang Bekasi panas? Wong ini ada saljunya~

Mal Metropolitan

Dikenal sebagai MM, mall ini berdiri sejak 1993 dan memang besar sekali. Luasnya mencapai 3,5 hektar dan lokasinya sangat strategis karena begitu dekat dengan akses tol. Dahulu saya turun angkot di depan MM ini. Mengadalkan slogan “Dunia Belanja dan Rekreasi”, mall ini juga tempat rekreasi yang asyik bagi pengunjungnya. Mengelilingi mall ini capek juga, kok.

Grand Galaxy Park Mall

Hasil gambar untuk grand galaxy

Sumber: MallSini.com

Dari namanya saja sudah jelas kalau mall ini ada dalam kawasan perumahan Grand Galaxy City yang tepatnya ada di Jakasetia, Bekasi Selatan. Mengusung konsep Go Green, mall ini cocok untuk nongkrong karena banyak area outdoor yang rindang dan nyaman. Luasnya sendiri mencapai 30.000 meter persegi dengan ratusan gerai plus ada function hall juga.

Bekasi Cyber Park

Bersisian dengan MM, ada juga BCP yang kesohor sebagai tempat acuan IT terbesar di Bekasi dengan lebih dari 200 tenant tempat berbelanja. Oh, bioskop juga ada lho. Jadi Bekasi itu saking hebatnya sampai ada mall-mall yang berdekatan semuanya punya bioskop~

Plaza Pondok Gede

Untuk area Bekasi mepet Jakarta, ada Plaza Pondok Gede yang sudah beroperasi sejak 1993. Gedungnya mudah dikenali karena eksteriornya yang mencolok dengan warna biru dan merah plus punya tempat parkir yang luas.

Grand Metropolitan Mall

Berdekatan dengan MM dan tampak sangat jelas dari tol adalah kekhasan Grand Metropolitan Mall. Termasuk mall baru karena beroperasi pada Desember 2013, mall ini dilengkapi fasilitas hiburan, shopping center, dan kuliner dari merchant-merchant kondang.

Summarecon Mal Bekasi

Bangunan lain besutan Summarecon selain di Kelapa Gading dan di Serpong ini sudah tentu ada di kompleks Summarecon, Bekasi Utara. Berdiri pada 28 Juni 2013 dengan luas bangunan mencapai 80.000 meter persegi, mall ini cukup kondang karena punya akses dengan hotel yang sering dipakai oleh PNS rapat. Plus juga tidak jauh dari Stasiun Bekasi. Persis di depan mall ini juga ada danau dan ada apartemen pula.

Jadi, walaupun suka dikatain planet lah, panas lah, nyatanya Bekasi juga ada sensasi surganya juga, lho. Surga mall, setidaknya.

Persaingan SPBU di Bintaro Jaya

Keeping on Track.jpg

Bintaro–atau lebih tepatnya Bintaro Jaya–adalah sebuah kawasan yang menarik karena letaknya cukup strategis dan masih sangat terbuka pengembangannya. Nah, salah satu keunikan Bintaro, utamanya Bintaro Jaya, adalah di tempat ini seperti jadi ladang persaingan orang jualan minyak alias SPBU. Ya, bisa dikatakan semua merk BBM yang beredar di Indonesia ada SPBU-nya di Bintaro. Ini dia profilnya.

1. Vivo

Gambar terkait

Dikendalikan oleh PT Vivo Energy Indonesia yang merupakan anak usaha Vitol Grup, Vivo sebelumnya ada di Afrika dengan hampir lima ribu SPBU. Salah satu nilai plus Vivo adalah menjual varian BBM dengan RON sekelas Premium. Sesuatu yang tidak dilakukan oleh pengelola SPBU selain Pertamina.

Di Bintaro, Vivo terletak di Bintaro Jaya Sektor 7, tidak jauh dari Lottemart Bintaro yang berarti juga tidak jauh dari SPBU Shell. Sebuah head to head yang luar biasa.

 

2. Pertamina

Menghadapi serbuan SPBU merk asing, Pertamina tidak sembarangan di Bintaro karena SPBU di lokasi ini langsung COCO alias milik pertamina sendiri. Itu lho, yang katanya kodenya 31, bukan 34. Jadi COCO itu kurang lebih artinya milik sendiri, dioperasikan sendiri juga.

Hasil gambar untuk SPBU COCO BINTARO sektor 9

Letaknya di dekat Total Buah dan dalam periode tertentu lumayan bikin macet karena antrean kendaraan yang akan masuk ke SPBU Pertamina ini bersisian dengan yang mau beli buah.

 

3. Total

Masih di Bintaro Jaya Sektor 7, negeri Prancis juga turut bersaing dengan Total. Saya sendiri adalah pelanggan tetap di Total karena memang jalurnya pas. Mengandalkan produknya ‘Performance’, SPBU ini dilengkapi minimarket Bonjour serta toilet yang cukup bersih.

Hasil gambar untuk total SPBU bintaro

Posisinya sendiri di sebelah Kebayoran Arcade 3 alias di seberang Hotel Aviary. Jadi, SPBU ini laris bagi orang yang mau pulang ke arah Emerald, Discovery, hingga sektor 9 tapi lewat Arcade 3.

 

4. Shell

Hasil gambar untuk shell bintaro

SPBU kesayangan saya ketika di Cikarang, namun jarang saya kunjungi di Bintaro karena memang tidak dilewati. Posisinya cukup strategis karena di tikungan alias seberang Hari-Hari dengan sedang ada pembangunan pusat keramaian baru di sebelahnya. Yang agak unik dari SPBU ini adalah akses masuknya yang agak membingungkan.

 

5. BP

Hasil gambar untuk BP Bintaro

Pemain baru ini mendirikan SPBU di dekat Emerald, tidak jauh dari McD Emerald alias di seberang calon Pasar Modern Emerald. Lokasi ini cukup premium karena akan jadi SPBU pertama sesudah exit tol yang akan segera dioperasikan. Ada Alfamart dan ada Kopi Tuku. Kopi Tuku-nya sendiri punya tempat yang ciamik, minim kursi tapi enak buat sekadar ngopi ringan habis ngisi bensin.

Nah, sudah jelas kan, kenapa Bintaro Jaya laku keras? Wong, POM Bensin saja ada lima merk. Heuheu~

 

Ketika Anak Kereta Naik MRT Jakarta

mrt-1

Saya adalah anker alias anak kereta, yang setiap hari berjibaku di padatnya KRL Jalur Serpong. Saya bahkan merasa tidak cukup kuat untuk melakoni Jalur Bogor sehingga untuk mengontrak rumahpun mlipir ke Tangsel alih-alih Depok apalagi Bogor.

Maka, ketika kemudian ada MRT Jakarta dari Lebak Bulus ke Bundaran HI, saya tentu tertarik. Apalagi, dalam 2 kesempatan ke luar negeri, saya sangat mengagumi kelancaran MRT di Singapura dan Hong Kong.

Stasiun Hong Kong Central, misalnya, bagi saya adalah hub yang sangat luar biasa besar namun nggak bikin bingung nubitol kayak saya. Hawa-hawanya, peran itu akan dibawakan oleh Manggarai kalau di konteks Jabodetabek, tapi ya Manggarai kan bukan buat MRT.

Kesempatan untuk mencoba MRT Jakarta akhirnya datang juga melalui uji coba publik yang digelar oleh pihak MRT. Tanpa menunda, saya langsung memesan tiket uji coba pada menit-menit awal pendaftaran dibuka. Untunglah masih dapat.

Saya memilih untuk naik dari Bundaran HI, karena yang paling masuk akal kalau dari kantor dan kebetulan juga stasiun ujung, jadi pasti agak gede.

Kesan apa yang saya peroleh tentang MRT Jakarta?

Pertama, betul-betul mirip dengan yang ada di luar negeri! Mulai dari pintu masuk hingga pengaturan interior bahkan sampai signingnya begitu mirip dengan yang ada di HK atau SG. Lift hingga mesin isi ulang kartu juga sangat mirip atau bahkan sama. Jadi, nggak usah jauh-jauh ke HK atau SG kalau cuma pengen nyicip MRT. Sudah ada di jantung Jakarta.

mrt-jakarta-5

Kedua, stasiun bawah tanahnya memang dalam sekali. Menjadi wajar ketika pembangunannya butuh waktu kurang lebih 5 tahun ketika butuh bikin 2 tingkat bangunan di bawah jalanan protokol Jakarta. Segitunya sih masih biasa karena di jalur-jalur transit di HK atau SG bahkan jalur bawah tanahnya pun bisa bersilangan.

Ketiga, minim tempat sampah! Saya masuk ke stasiun dengan plastik es degan dan keluar lagi dengan plastik yang sama di kantong jaket. Ha, bahkan di toiletnya saja juga tidak ada tempat sampah. Menurut berita, hal ini disebabkan karena MRT hendak menciptakan budaya baru. Namun menurut saya, ya gimana ya, ada tempat sampah saja kita masih suka nyampah sembarangan. Apalagi nggak ada.

Keempat, stasiun layangnya versi modern jalur Cikini-Jakarta Kota. Di Jakarta sudah sejak lama ada stasiun layang, mulai dari Cikini, Gondangdia, Juanda, hingga Jayakarta. Nah, si MRT ini bedanya paling hanya di pagar pembatas ke jalur kereta, sesuatu yang memang tidak ada di KRL Jabodetabek.

mrt-jakarta-3

Toilet di Stasiun Dukuh Atas Pada Awal Uji Coba

Kelima, saya masih bingung siapa yang akan pakai MRT. Kecuali orang-orang yang beli apartemen di jalur MRT dan orang-orang sekitar Lebak Bulus, saya belum paham siapa yang akan naik MRT pada saat orang-orang tinggalnya di Bekasi, Bogor, dan Tangerang. Hanya saja, karena MRT ini adalah proyeknya Pemprov juga, memang wajar ketika seluruh stasiunnya ada di tanah Jakarta.

mrt-2

MRT ketika bersilangan dengan TransJakarta Koridor 13

Jalur sekarang boleh dibilang menumpang koridor TransJakarta paling rapi, koridor 1. Sehingga wajar kalau anak TJ mulai curiga bahwa koridor 1 itu bakal dipangkas armadanya demi mendorong orang naik MRT. Kalaulah diperpanjang sampai Tangsel, entah di Pondok Cabe atau bahkan sampai Ciputat baru saya yakin sama faedah MRT ini. Lah, ini malah mau dibangun sampai Ancol.

Keenam, bagaimanapun MRT adalah kemajuan bagi bangsa ini, meskipun operasionalnya subsidi dan pembangunannya pakai pinjaman. Sekarang, bolehlah kita angkat kepala kala berhadapan dengan negeri seperti HK atau SG. Setidaknya, di ibukota, sudah ada transportasi masal yang cukup maju dan untuk itu kita perlu mendukung operasionalnya.

mrt-jakarta

Oh, satu lagi, yang ketujuh, jalur MRT ini punya interkoneksi ciamik di Dukuh Atas dengan TransJakarta langsung di pintu keluar, akses ke Stasiun KRL Sudirman yang sedang digarap sebagai pedestrian, hingga akses ke Stasiun Sudirman Baru alias BNI City yang merupakan akses ke Bandara. Singkat cerita, hidup di Sudirman, Thamrin hingga Bundaran Senayan dan Blok M akan semakin dimudahkan.

Kalau kamu kerja di Jakarta bagian lain seperti saya di Salemba, ya itu masalahmu dan MRT Jakarta bukanlah solusinya. Heuheuheu.

mrt-jakarta

Stasiun Dukuh Atas

Peran Bapak Dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Peran Bapak Dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan Anak Usia Dini bagi Bapak Millennial seperti saya itu sebenarnya sangat sederhana. Ya, setiap pukul 12 siang menerima forward-an pesan WhatsApp dari Mama Isto yang isinya adalah permainan-permainan yang dinikmati Istoyama di daycare-nya.

Lucu-lucu, lho. Nih, saya kasih beberapa diantaranya:

pendidikan-anak-usia-dini-appletreebsd-isto-1

pendidikan-anak-usia-dini-appletreebsd-isto-2.png

Wajar sekali ketika bayi yang belum 2 tahun ini jago betul soal nama-nama kendaraan. Ya tentu saja itu karena dia dididik sejak dini di tempat yang tepat. Setidaknya tepat menurut Bapak dan Mamanya.

Pendidikan Anak Usia Dini alias PAUD merupakan salah satu upaya pembinaan kepada anak-anak sejak dari lahir sampai umur 6 tahun. Secara standar, stopnya adalah ketika anak masuk ke tingkatan sekolah formal pada usia 7 tahun.

Dalam PAUD, yang hendaknya diberikan adalah rangsangan pendidikan yang dapat membantu pertumbuhan serta perkembangan jasmani dan rohani sehingga anak siap untuk masuk ke pendidikan formal itu tadi.

Kalau mau ditarik ke ujung-ujungnya konstitusi, Pendidikan Anak usia Dini itu diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28C dalam rumusan:

“Setiap anak berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.”

Jadi, selain berhak mengembangkan diri, anak juga BERHAK mendapat pendidikan. Punya HAK lho, ya. Siapa yang harus memenuhinya? Tentu saja orangtuanya, Bapak dan Ibunya, Papa dan Mamanya, bukan Eyang atau Ompungnya~

Dalam perspektif saya sebagai bapak-bapak, adalah kewajiban seorang bapak untuk menjadi pemenuh hak itu tadi. Bersama-sama dengan Mama-nya Isto, kami berdua berusaha semaksimal mungkin memastikan bahwa seorang Isto sejak lahirnya telah mendapatkan hak yang digariskan oleh UUD itu tadi.

Mau jungkir balik? Ya nggak apa-apa. Kecupan si bayi di akhir hari sudah cukup untuk memulihkan tenaga~

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

PAUD diselenggarakan pada periode keemasan anak. Artinya, apapun yang akan terjadi kelak di kemudian hari adalah hasil pembentukan pada masa ini. Konsep-konsep dasar kehidupan ya dalam periode ini juga. Jadi, PAUD memang sangat sentral dalam pembangunan sumber daya manusia atau boleh dibilang sebagai fondasi dasar bagi kepribadian anak.

Anak dengan pembinaan sejak dini pada umumnya akan mampu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan fisik maupun mental. Dampak positifnya adalah pada peningkatan prestasi belajar, produktivitas, etos kerja, hingga akhirnya anak bakal lebih mandiri dan bisa mengoptimalkan potensi yang dia miliki.

Anak yang mendapatkan pendidikan secara cukup semenjak usia 0-6 tahun punya harapan lebih besar untuk berhasil di masa mendatang. Berhasil itu bukan sekadar prestasi, ya. Berhasil antre, berhasil main bersama tanpa rebutan mainan sampai nangis guling-guling, berhasil mengenali lingkungannya juga jadi patokan.

Salah satu yang saya ajarkan pula adalah berhasil mengelola kegagalan. Saya sendiri tetap berusaha mengajarkan arti kegagalan kepada Isto. Soalnya, kalau belajar soal keberhasilan, dia bisa belajar sendiri sama Mamanya. Heuheu~

Yup, sebagai bapak-bapak dengan riwayat kegagalan yang panjang, mulai dari gagal bercinta, gagal juara lomba blog, gagal jadi pegawai Unilever, hingga gagal tes PNS lebih dari sekali, saya belajar bahwa tidak semua orang bisa menerima kegagalan dengan jernih.

Saya yakin, anak saya akan menjadi jauh lebih tangguh, jika dia sejak dini sudah belajar bahwa kalau dia gagal memasukkan bola ke keranjang, maka dia harus mundur sejenak dan lantas mencoba lagi. Atau jika dia menyusun mobil-mobilan 2-3 tingkat dan jatuh, dia harus berhenti, mengevaluasi langkahnya, untuk kemudian menyusun lagi mobil-mobilannya hingga 4-5 tingkat.

Kenapa Bapaknya yang harus mengajarkan soal kegagalan? Dalam konteks saya, ya karena Mamanya sangat fasih dengan keberhasilan. Jadi, dalam usia hampir 2 tahun ini dia bisa mendapatkan contoh dan bisa meniru perilaku orangtuanya ketika menyikapi kesuksesan dan juga memaknai kegagalan.

Susah? Ya, susah. Tapi siapa suruh jadi orangtua?

Hasilnya sejauh ini cukup baik. Jika diajak berkompetisi, Isto menjadi anak yang selow dan nggak ngoyo, tapi tetap menuntaskan kompetisinya. Suatu kali dia ada lomba balapan merangkak dengan Alex, teman sepergaulannya di daycare. Dia berhasil melaju duluan mendekati garis finish. Eh, menjelang garis finish, dia malah lebih asyik mengamati garis finish-nya sehingga tersalip oleh Alex. Dia baik-baik saja ketika kalah balapan dan itu membuat saya sebagai orangtua merasa lebih baik.

Mendidik seseorang untuk menang itu akan lebih mudah jika sebelumnya dia sudah paham tentang menerima kekalahan.

Nah, dalam keadaan Bapak Millennial dan Mamanya harus kerja, maka ada alternatif untuk melaksanakan pendidikan anak usia dini tersebut sehingga tujuan untuk mengembangkan seluruh potensi dan kemampuan fisik, intelektual, moral, hingga agama secara optimal dapat diselenggarakan dalam lingkungan yang kondusif.

Salah satunya adalah di Apple Tree Pre-School BSD, yang menggunakan Adopted Singapore Curriculum dalam pembelajarannya.

pendidikan-anak-usia-dini-apple-tree-1

Sumber: Apple Tree BSD

Terutama bagi orangtua yang pakai ART di rumah, saya sangat menyarankan untuk tetap menggunakan jasa pre-school seperti ini. Bukan apa-apa, anak yang biasa diajari untuk berbagi mainan, biasa untuk bermain dengan rekan sebayanya, mengenali satu demi satu temannya, itu akan jauh lebih siap menghadapi masa depan, lho. Saya mendapati banyak contoh anak-anak yang ketika diterjunkan ke lokasi berisi banyak anak lainnya malah takut-takut atau malah jadi tampak egois dengan merebut semua mainan yang ada. Kan, nggak oke ya~

Sekarang, setiap hari saya bertanya pada anak saya tentang nama teman-temannya, dan dia bisa mengucapkan 11 nama dalam wujud suku kata terakhir dengan 4 nama tanpa perlu saya pancing suku kata pertamanya. Jadi saya hanya tinggal bilang, “Temen Isto namanya siapa?”, dan dia akan dengan lancar menyebut nama 4 temannya plus kemudian menyambung dengan tepat 11 nama lain yang saya sebutkan seperti “Khan…sa, Nada…ra, Ama….ra, dst”.

Sebagai seseroang dengan masa kecil sangat pemalu, saya merasakan itu sebagai sebuah kerugian dan sebagai Bapak saya mengharapkan hal yang sama tidak terjadi pada Isto. Dan, ah, sekarang lancar sekali. Apalagi kalau dia sudah ketemu yang namanya Ichsan. Bisa bubar itu daycare~

Jadi, peran Bapak itu nggak cuma cari duit lho ya. Masih banyak peran bapak yang bisa dilakukan sebagai sebaik-baiknya ikhtiar orangtua pada buah hatinya, terutama pada Pendidikan Anak Usia Dini.

pendidikan-anak-usia-dini-apple-tree-2

Sumber: Apple Tree BSD

#appletreebsd

Keliling Tanjung Pandan, Tempat-Tempat Ini Pasti Bikin Kamu Jatuh Hati

Beberapa tahun belakangan, kawasan Tanjung Pandan menjadi salah satu destinasi wisata yang paling banyak dikunjungi di Indonesia. Selain Bali dan Lombok, Bangka Belitung juga memiliki pantai-pantai cantik dengan pemandangan luar biasa indahnya. Melihat matahari terbit atau terbenam, semua bisa kamu lakukan di sini.

Namun berbeda dengan destinasi wisata lain di Indonesia yang sudah lebih dulu maju, Tanjung Pandan belum dilengkapi dengan moda transportasi umum yang mumpuni. Dengan lokasi antar tujuan wisata yang bisa dibilang saling berjauhan, mencari info jasa rental mobil Tanjung Pandan jadi sebuah keharusan sebelum berangkat ke sana.

Setelah mendapat info rental mobil Tanjung Pandan, kamu bisa menentukan tempat wisata mana saja yang akan dituju di sana.

Danau Kaolin yang Memikat Hati

keliling-tanjung-pandan-1

sumber: berandunkebelitung.com

Secantik Kawah Putih di Bandung, Danau Kaolin di Tanjung Pandan ini juga memiliki air berwarna biru tosca yang sangat cantik dengan bebatuan berwarna putih di sekelilingnya. Namun karena bukan merupakan kawah dari pegunungan, maka tidak ada bau belerang yang menyengat di sini.

Danau cantik ini terbentuk akibat bekas lahan tambang kaolin atau yang juga dikenal dengan nama clay. Setelah tak lagi terpakai, cerukan-cerukan bekas tambang menampung air hujan dan ketika bercampur dengan kaolin, warnanya menjadi kebiruan.

Berlokasi di Perawas, jarak Danau Kaolin hanya sekitar 10 menit dari pusat kota Tanjung Pandan. Dan moda transportasi terbaik untuk menuju ke sini adalah dengan menyewa mobil.

Yang Tak Boleh Terlewat, Museum Kata Andrea Hirata

keliling-tanjung-pandan-2

sumber: pesona.travel

Museum literatur pertama di Indonesia ini adalah buah karya Andrea Hirata. Yang dengan buku dan film LASKAR PELANGI-nya telah membuat kawasan Bangka Belitung menjadi salah satu tujuan wisata utama di Indonesia.

Tentu nggak lengkap kalau ke Tanjung Pandan tapi tak mampir ke Museum Kata Andrea Hirata. Tak hanya memiliki koleksi literatur yang cukup banyak, tetapi juga punya banyak spot instagramable dengan warna-warni yang kekinian.

Lokasi Museum Kata berada di Jl Laskar Pelangi 10, Gantung. Sekitar 11 kilometer dari pusat kota Tanjung Pandan dan bisa ditempuh dengan menyewa mobil pribadi, taksi atau bus dengan waktu yang terbatas.

Cantiknya Pantai Tanjung Kelayang

keliling-tanjung-pandan-3

sumber:@rizky_313

Tidak jauh dari pusat kota Tanjung Pandan, ada Pantai Tanjung Kelayang yang cantik. Seperti kebanyakan pantai di Bangka Belitung, di sini kamu juga bakal menemukan batu-batu yang berada di sekitar bibir pantai dan membuat pemandangan jadi lebih indah.

Pantai Tanjung Kelayang juga menjadi pintu untuk menyeberang ke pulau-pulau kecil cantik yang berada di sekitar Tanjung Pandan.

Menyeberang Yuk, ke Pulau Leebong yang Mirip Maldives!

keliling-tanjung-pandan-4

sumber:MerahPutih/Pras

Tanjung Pandan sudah sangat cantik. Tapi kalau sedang liburan ke sana, nggak lengkap kalau tak mampir ke  Pulau Leebong yang mirip dengan Maldives. Di sini, kamu akan menemukan laut dengan warna hijau tosca yang memikat. Kamu juga bisa menginap di rumah-rumah pohon yang cantik dan nyaman.

Hanya ada satu cara untuk menuju ke Pulau Leebong. Yaitu dengan menyewa mobil dari Tanjung Pandan menuju Pelabuhan Tanjung Ru, kemudian lanjut dengan perahu ke Pulau Leebong.

Dengan jarak antar lokasi wisata yang cukup jauh, menyewa mobil adalah keharusan jika liburan ke Tanjung Pandan. Kini, semua bisa dilakukan secara online dengan mudah dan kamu tinggal duduk manis menuju tempat wisata yang diidamkan.

Liburan ke Tanjung Pandan yuk!

7 Tips Menjadi Pengguna Ojek Online yang Peduli Keselamatan Lalu Lintas

keselamatan-lalu-lintas-1

Keselamatan lalu lintas adalah hal yang selalu saya utamakan, terutama sejak kurang lebih 7 tahun silam menyaksikan sendiri orang meregang nyawa di pangkuan saya–dan beberapa orang lain di sekitar yang peduli–sesudah sebelumnya orang tersebut mengalami kecelakaan lalu lintas.

Ngomong-ngomong, saya berani mengangkat korban karena ketika itu saya masih floor warden di pabrik, sehingga masih punya kompetensi untuk penanganan kecelakaan semacam itu, karena memang dilatih. Kalau sekarang sih sudah nggak kompeten jadi mungkin nggak akan berani.

Sebagai pemilik sertifikasi Manajemen Risiko, saya tentu paham bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan. Banyak kasus orang lagi santai-santai menunggu lampu merah, eh, diseruduk dari belakang. Akan tetapi, ada banyak hal yang bisa kita kontrol dalam menegakkan keselamatan lalu lintas yang ujung-ujungnya ya untuk membuat kita atau orang lain tetap bernyawa~

Nah, salah satu cara untuk bisa berkontribusi pada keselamatan lalu lintas adalah dengan naik transportasi umum, seperti bis, KRL, atau juga yang akan segera hadir: MRT. Namun, karena transportasi umum khususnya di Jakarta masih terus berbenah, maka muncul demand baru, yakni transportasi ringkas dari stasiun terdekat ke kantor dan sebaliknya.

Ceruk inilah yang tadinya dilayani oleh ojek pangkalan maupun bajaj, yang kemudian dikuasai oleh ojek online. Yup, si fenomena baru transportasi Indonesia dengan 2 pemain utama, Go-Jek dan Grab itu PASTI BANGET kita lihat atribut, baik jaket maupun helmnya, di jalanan.

Saya sendiri, misalnya, menghabiskan 30-40 persen gaji untuk biaya transportasi online ini. Maklum, sobat misqueen jadi rumah jauh di Tangerang, padahal kerja di Jakarta Pusat.

Jumlah perjalanan yang dilakukan oleh ojek online ini sungguh nggak main-main. Grab, misalnya, mencapai 2 miliar perjalanan pada Juli 2018, eh kok pada akhir Januari 2019, mereka sudah merilis perjalanan ke 3 miliar! Jadi, hanya dalam waktu 6 bulan, Grab sudah melakoni 1 miliar perjalanan.

Memang, itu angka global, namun kita tahu sendiri bahwa di Indonesia, khususnya di Jakarta, pasar Grab termasuk yang terbesar. Porsi Jakarta dari yang 1 miliar itu bisa dipastikan besar sekali.

Pada Maret 2018, diketahui bahwa di Indonesia, jumlah pengemudi ojek online sudah mencapai 1 juta orang, terdiri dari Go-Jek, Grab, dan kala itu Uber. Jumlah yang tidak kecil dan sudah pasti akan sangat menunjang keselamatan lalu lintas.

Sebagai penumpang, sebenarnya banyak yang bisa kita lakukan untuk mendukung peran ojek online dalam keselamatan lalu lintas. Poinnya, bahkan justru kita yang nggak bawa kendaraan ke Jakarta malah bisa menjadi pahlawan dalam keselamatan lalu lintas.

Kok bisa? Ini dia 7 caranya!

1. Pakai Transportasi Massal

keselamatan-lalu-lintas-2

Seperti sudah dijelaskan tadi, dengan menjadi pengguna transportasi umum bin massal seperti bis, KRL, dan MRT, sebenarnya kita sudah menjadi pengurang potensi kecelakaan dengan mengurangi jumlah kendaraan baik roda 2 maupun 4 yang masuk ke Jakarta. Dari sisi itu saja, para pengguna transportasi umum yang kemudian butuh ojek online dari stasiun ke kantor dan sebaliknya, sudah bisa dibilang pahlawan keselamatan lalu lintas.

2. Banyak Baca Tentang Keselamatan Lalu Lintas

Korlantas Polri bersama dengan Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) dan Relawan Lalu Lintas Indonesia (Relasi) sedang giat menggelar Millenial Road Safety Festival 2019 untuk mendukung ketertiban lalu lintas dan keselamatan berkendara bagi generasi muda. Hal itu didasari dari fakta bahwa perilaku berkendara yang tertib dan aman masih jadi tantangan dan terlihat dalam keseharian pengendara yang menjadi faktor risiko perjalanan dengan tidak tertib pakai helm maupun memakai smartphone kala mengemudi, sering ditemui pada pengendara usia 17-35 tahun alias kaum millennial.

keselamatan-lalu-lintas-3

Cocok, toh, sama Bapak Millennial?

Nah, dalam festival ini banyak konten-konten beredar tentang keselamatan lalu lintas. Sembari nunggu ojol, bisa lho kita cek konten-konten tersebut demi menambah ilmu. Post ini termasuk salah satunya.

3. Tidak Perlu Pesan Duluan

Saya pernah ada di Stasiun Kebayoran dan mengintip layar ponsel orang di sebelah saya sudah memesan ojek online di Stasiun Tanah Abang! Padahal, dari turun KRL saja ke Halte Jatibaru tempat orang biasa janjian dengan ojek online sudah butuh waktu minimal 7 menit. Saya paham betul, soalnya tiap hari pakai jalur itu.

keselamatan-lalu-lintas-4

Atau juga sering kejadian pada jam pulang kerja, orang-orang sudah pesan ojek online padahal mereka masih di lantai 28 dan nunggu lift-nya biasanya 15 menitan.

Tahu nggak, bahwa para ojek online itu kemudian tiba di tempat janjian yang rata-rata adalah pinggir jalan dan mereka ngetem lama di situ karena penggunanya belum hadir, dan itu tidak hanya dilakukan 1-2 orang. Jadinya apa?

Betul sekali! MACET, SAUDARA-SAUDARA!

Seperti di Tanah Abang, misalnya. Kecuali ada demo ojek online atau hujan deras, maka tidak akan ada yang namanya kekurangan armada ojol. Jadi, tidak perlu pesan dari jauh-jauh waktu. Justru itu menjadi penyumbang kemacetan dan malah jadi faktor risiko dalam tidak tercapainya keselamatan lalu lintas.

4. “Cuma Dekat” Nggak Akan Bikin Aspak Jadi Lebih Empuk, Lho~

Yang saya kisahkan di atas, soal kecelakaan, itu nyata! Dan itu bahkan pengendaranya pakai helm bagus, nabrak trotoar, helmnya pecah, kepalanya terbentur dan jadi penuh darah. Bisa bayangkan kalau dia tidak pakai helm? Jangan-jangan kepalanya bisa tidak berbentuk. Hiii. Ngeri.

keselamatan-lalu-lintas-5

Yang sering terjadi, pengguna ojol atas dasar rambut takut lepek dan malas pakai helm menolak helm yang disodorkan driver dengan alasan “cuma dekat”. Padahal, mau jauh atau dekat, kalau kepala kena aspal, itu sama saja sakitnya.

5. Nyeberang Nggak Ada Salahnya, Kok

Kantor saya di Jalan Percetakan Negara. Jalan itu tidak lebar sehingga jika jam pulang kerja antara angkot, orang pulang kerja, taksi, bis jemputan, hingga ojol tumpah ruah jadi satu. Kadangkala, driver datang dari arah Rawasari, sementara saya mau ke Tanah Abang.

keselamatan-lalu-lintas-6

Kalau saya pemalas, saya akan nunggu di depan kantor sampai driver dari arah Rawasari menyeberang ke kantor saya yang ada di sisi Perum Percetakan Negara. Gaes, dalam kondisi sangat padat, orang pindah sisi jalan saja bisa jadi faktor risiko. Bisa dia keserempet atau bisa juga dia bikin macet.

Maka, kalau memang demikian, nggak ada salahnya kita menyeberang sehingga driver ojol tidak perlu pindah jalur dan malah mencemplungkan diri dalam risiko keselamatan lalu lintas.

6. “Cuma Dikit” Nggak Akan Bikin Kendaraan Dari Arah Yang Benar Melambat

keselamatan-lalu-lintas-7

Sering terjadi pula, misalnya di dekat Stasiun Kalibata, pengguna ojol memaksa driver untuk melawan arus sedikiiiiitttt, semata-mata demi nggak berputar. Sedikit, sih, sedikit. Tapi kalau ada apa-apa karena melawan arus itu, yang salah ya tentu saja yang ditabrak.
Jalur itu sudah ada yang punya, sesuai arahnya. Memaksa driver untuk melawan arah itu justru membuat kita yang dari nomor 1 sampai nomor 5 jadi pahlawan keselamatan lalu lintas, malah menjadi penyakit bagi keselamatan lalu lintas itu sendiri.

7. Tegur Driver Itu Boleh, Lho

keselamatan-lalu-lintas-8

Sering sekali driver nggak tahu jalan dan mengandalkan GPS. Itu sih nggak masalah. Jadi perkara ketika dia lihat map-nya dengan satu tangan sambil tangan kanan menarik gas. Itu BAHAYA dan itu mempengaruhi keselamatan kita juga. Nggak usah malu-malu, tegur saja. Kalau memang driver tidak tahu jalan dan kita tahu kan tinggal bilang, “nanti saya arahkan”. Atau kalau sama-sama tidak tahu, kita sebagai penumpang bisa membantu dengan buka maps sendiri, meskipun tetap harus hati-hati karena banyak jambret.

Demikian 7 Tips Menjadi Pengguna Ojek Online yang Peduli Keselamatan Lalu Lintas, sederhana tapi akan sangat membantu jika diterapkan.

Yuk, sama-sama menjadi millennial pahlawan keselamatan lalu lintas!

Kalau Ketemu Tenaga Kesehatan, Tanya Apakah Mereka Sehat?

Screenshot_1814

Tulisan soal Tenaga Kesehatan ini dimuat di Voxpop, pada tanggal 3 Desember 2017 – Pak Dokter membunuh Bu Dokter yang notabene istrinya. Ada juga dokter yang melepaskan tembakan di tempat parkir hanya gara-gara biaya parkir. Hal itu belakangan menjadi konsumsi publik.

Satu hal yang kurang adalah kalangan kepo-ers yang biasanya bisa menemukan afiliasi politik Pak Dokter, kemudian menjadikannya sebagai alasan bertindak kriminal.

Gitu aja terus, mau orang lagi kesusahan maupun orang mati sekalipun kan sekarang yang diurusi adalah pilihan politiknya.

Di sisi lain, kumpulan dokter sempat wara-wiri di berbagai rumah sakit untuk seorang pasien yang menurut Nazaruddin, sakti. Sampai-sampai begitu banyak dokter ikutan konferensi pers bareng KPK menjelang tengah malam, ketika tersangka bernama Setya Novanto diantarkan ke Kuningan.

Hey, kalau dokter-dokter pada konferensi pers, lantas siapa yang menangani pasien? Tentu saja dokter jaga.

adult doctor girl healthcare

Photo by Pixabay on Pexels.com

Dokter adalah salah satu dari sekian banyak tenaga kesehatan. Sebagai pemilik gelar Apoteker yang kerjanya sekadar fotokopi berkas dan sesekali antar surat ke kantor pemerintah, saya begitu mencermati soal profesi tenaga kesehatan ini sejak lama.

Terkadang saya bersyukur nggak ikut-ikutan jadi tenaga kesehatan beneran di pelayanan. Sebab, setelah saya pikir-pikir, kok ya tenaga kesehatan lama-lama malah menjadi jenis pekerjaan yang tidak sehat.

Gambaran Tugas Tenaga Kesehatan

Gambaran sepelenya saya peroleh dari istri saya yang sering melaporkan bahwa ia baru makan siang pada pukul 4 sore, karena begitu sibuk dengan pekerjaannya sebagai Farmasis Klinis di rumah sakit. Keadaan itu bahkan dialami kala dia hamil.

Sebagai suami milenial nan budiman, saya semula selow saja, karena itu mungkin sudah risiko dari sebuah profesi. Tapi dipikir-pikir kok ya ngenes juga. Misinya menyembuhkan pasien, tapi gaya hidup sehari-hari malah bikin tubuh sendiri menjadi sakit.

Ini belum lagi soal dokter-dokter yang praktik sampai larut malam bahkan jelang pagi, lantas paginya sudah harus on lagi. Mereka beristirahat hanya 3-4 jam dan sisanya bekerja. Boro-boro olahraga.

Maka, ketika seorang dokter yang buncit maksimal menyampaikan pesan agar saya banyak-banyak berolahraga, tetiba saya ingin balik bertanya, “Kapan terakhir kali Pak Dokter berolahraga?

Saya juga pernah bertemu dengan dokter anestesi yang bahkan lupa kapan terakhir kali dia tidur selama 8 jam. Saking tidak pernahnya.

Pak Dokter yang menembak istrinya beberapa waktu lalu, diketahui mengonsumsi obat penenang. Percayalah, ada lho dokter yang hidupnya tertekan, karena rasio pasien yang tidak terselamatkan cukup besar.

Ya, hidup sebagai dokter atau tenaga kesehatan pada umumnya itu memang butuh ‘penenang’, karena besarnya tekanan yang dihadapi.

Lain dokter, lain apoteker, lain juga perawat. Ini lebih parah lagi. Pasien-pasien itu kebanyakan masih gak enakan kalau marah sama dokter. Lantas kalau ada apa-apa, marahnya sama siapa? Perawat.

Perawat ini juga setali tiga uang. Hidup mereka dibolak-balik waktunya, karena bagaimanapun harus ada yang menjaga pasien pada tengah malam. Sebagai tenaga kesehatan mereka jelas tahu bahwa hidup dibolak-balik begitu sebenarnya juga nggak baik.

Kadang, saking sibuknya mengurus pasien, mereka juga luput untuk makan, sementara begitu sampai di ranjang pasien selalu bertanya, “Makanannya kok nggak dihabiskan?”

Itu tadi baru sekilas mengenai risiko untuk diri sendiri. Sekarang mari kita pindah ke Meikarta pola bisnis kesehatan.

Bisnis Kesehatan dan Balada Tenaga Kesehatan

Bisnis kesehatan, terutama rumah sakit, adalah bisnis yang menurut saya paling unik. Bagaimanapun orang yang sedang sakit membutuhkan tindakan, baik untuk penyembuhan penyakit, pengendalian penyakit, dan lain-lain.

Nah, segala kegiatan itu jelas-jelas membutuhkan biaya. Pasien dirawat di rumah sakit tentu harus tidur di ranjang yang mesti dibeli – nggak bisa rental, lu kate Play Station – terus diterangi lampu yang listriknya harus dibayar dan tarif dasarnya terus naik.

Terlebih, harus pakai alat canggih kayak yang dipakai Setya Novanto yang juga kudu dibeli dari luar negeri. Kemudian dirawat oleh tenaga kesehatan yang harus digaji, mendapat obat yang harus dibeli dari pabrik, dan sederet komponen lain.

Itu tentunya dibebankan kepada pasien maupun lewat penanggungnya, baik asuransi maupun jaminan kesehatan pemerintah.

Selain itu, bisnis rumah sakit ini juga merupakan jenis layanan yang secara psikologis berbeda dengan layanan publik lain, seperti bikin KTP atau buka rekening bank.

Kalau tembok kelurahan paling menampung pisuhan orang-orang yang dipermainkan birokrasi atau diperalat kekasih, tembok di rumah sakit adalah penampung doa paling banyak karena ada banyak suasana batin.

Mulai dari rasa bahagia seiring kelahiran anak, perasaan was-was karena kondisi orang tua atau sanak-saudara yang dirawat belum pulih, bahkan kesedihan begitu ada yang meninggal dunia.

Rasanya hanya rumah sakit yang berani memasang poster ‘Hormati Staf Kami’ dalam standar layanannya. Kita tidak akan menemukannya di pelayanan lain, seperti mengurus izin hingga SIM. Kalau SIM, kita sih sudah serta-merta ‘Hormati Pak Polisi’ tanpa disuruh.

Kondisi psikologis yang sedang buruk dan asa yang tinggi pada layanan tersebut adalah latar belakang paling pas bagi pasien, keluarga pasien, maupun LSM untuk sekadar marah-marah kepada para pekerja kesehatan tanpa pandang bulu.

Seorang perawat bernama Tova Kararo di Israel dibakar hidup-hidup sama pasien yang tidak puas. Di Jepang, Satoru Nomura memerintahkan Yoshinobu Nakata untuk membunuh seorang perawat dengan alasan kesal karena operasi plastik gagal.

Di Indonesia, persekusi terhadap tenaga kesehatan juga pelan-pelan menjadi hal yang sama biasanya dengan ngupil. Kan ngeri.

Perawat, dokter jaga, dokter spesialis, apoteker, dan sederet komponen yang bahu-membahu di rumah sakit itu ibarat bidak-bidak catur yang melawan penyakit pasien.

Dalam catur, mereka bisa menang, bisa juga kalah. Sudah menjadi konsekuensi kalau ada tenaga kesehatan yang dipersekusi oleh LSM.

Bahwa ada pasien yang gawat dan kudu dirawat, ya benar. Sebagai manusia, para tenaga kesehatan itu juga pasti berpikir. Maka, nggak perlu kita mempersekusi dengan bilang, “Ini nyawa orang, lho!”

Nyatanya, setiap kali ada nyawa yang diselamatkan, memangnya ada yang mengucapkan terima kasih kepada semua tenaga kesehatan yang terlibat?

Para tenaga kesehatan itu juga manusia, punya rasa punya hati jangan samakan dengan pisau belati, yang pasti juga paham soal kemanusiaan. Namun, pada sisi yang sama, mereka juga kudu tunduk pada prosedur di tempat mereka bekerja.

Jangan salah, para tenaga kesehatan itu juga kepikiran begitu tren pasien-pasiennya yang meninggal meningkat. Mereka juga bertanya, “Aku ini salah apa?”

Maka, sekali lagi, jangan heran kalau ada segelintir tenaga kesehatan yang mengonsumsi obat anti-depresan, semata-mata biar nggak depresi dengan pilihan hidupnya. Jangan salah juga, dalam era BPJS saat ini, para tenaga kesehatan begitu sering berhadapan dengan dilema kemanusiaan versus aturan-aturan. Dan, masih banyak lagi dilema-dilema lainnya.

Begitulah, menjadi tenaga kesehatan nyatanya tidak sehat-sehat amat, kadang lebih banyak makan hati. Namun, bagaimanapun juga, kudu ada manusia yang jadi tenaga kesehatan.

Jangan lupa, belum lama ini kita disuguhi pemandangan tentang bapak-bapak tajir yang masuk rumah sakit dengan penyakit vertigo, pengapuran jantung, tumor, benjol segede bakpao, kemudian disembuhkan secara luar biasa.

Oleh siapa? Tenaga kesehatan, dong! Menurut ngana?!