Satu Cerita Tentang Juara Tiga

Saya jarang menulis tentang kisah di balik tulisan-tulisan yang menjadi juara di berbagai perlombaan. Sebabnya satu: saya jarang juara. Heuheu. Bisa dilihat di sisi kanan blog ini, bahwa saya itu jadi juara lomba menulis dapat dihitung pakai jari sebelah tangan doang. Saking jarangnya.

Nah, mungkin khusus yang ini agak berbeda. Sebab, kalau yang dua sebelumnya adalah lomba blog, maka hari ini saya dapat rejeki di sebuah perlombaan Karya Tulis Ilmiah. Cuk, tulisan saya model di Mojok begitu, ternyata saya bisa juga ya nulis (((ILMIAH))).

Dikisahkan dari awal saja ya. Saya dikasih tahu lomba karya tulis ilmiah ini oleh dua orang teman. Satu, teman kantor sendiri. Senior, ding. Kedua, teman kampus yang kebetulan pegawai di instansi penyelenggara lomba. Sang teman ini yang cuilan kisahnya saya tulis di salah satu post blog ini, dan gara-gara itu, katanya… dia jadi enggan nulis curcol di blog lagi. Ew~

Intinya sih tenggatnya tanggal 5 Juni. Dengan format penulisan karya ilmiah (pendahuluan, teori, framework, pembahasan, dan kesimpulan). Minimal 1.250 kata. Rasanya itu saja.

Masalahnya adalah periode akhir Mei sampai 12 Juni adalah periode Ujian Akhir Semester. Dan ini era pandemi. Jadilah UAS-nya pasti berupa tugas dan tentu tidak sesederhana menjawab soal di lembar jawab dengan tulisan tangan.

Tugasnya rupa-rupa. Ada yang bikin critical note, review paper, sampai video segala. Mantap pokoknya. Mana saya sambil ngasuh anak di rumah pula. Nggak heran kalau anak saya jadinya ya anak asuh Daddy Pig dan hanya memanggil bapaknya kalau di YouTube ada iklan. Oya, iklan sedikit, ini salah satu tugas saya.

Lebih ciamik lagi adalah tanggal 5 itu tenggat UAS Statistik yang bahkan belum saya kerjakan pada tanggal 3, sebab saya fokus mengerjakan proposal tesis yang merupakan UAS Metodologi Penelitian dengan tenggat tanggal 3.

Pada akhirnya sih saya hanya bilang, “kalau sempat ya ikut…”

Posisinya waktu itu tanggal 5 sore hari ketika sang dosen secara baik hati melakukan pengunduran jadwal pengumpulan UAS! Ketika itu, saya belum kelar menggarap ujian bertenggat sama persis dengan lomba. Pengunduran itu kemudian memberikan potensi saya untuk ikut lomba lagi. Toh, masih ada 8 jam sebelum deadline.

BIKIN KARYA TULIS ILMIAH DELAPAN JAM ITU APAAN?

Untuk lebih memperjelas, bahkan saya sebenarnya mulai benar-benar menulis itu jam 8 malam. Heuheu.

Lantas apa rahasianya?

Sederhana saja, saya yakin kalau “hanya” menulis 1.250 kata itu saya bisa kelar dalam 1-2 jam. Saya sudah mencoba mencari topik yang relevan dengan tema, tapi kurang sreg secara mutu. Bukan apa-apa, dengan segala kegagalan yang pernah saya alami, tentunya saya menetapkan standar tertentu kalau mau ikut-ikut lomba. Saya biasa gagal, tapi saya nggak biasa berkarya sembarangan.

Pada akhirnya saya mengingat review paper pertama yang saya buat ketika kuliah S2. Di paper itu saya menguliti konsep “Trusted Advisor” begitu dalam dengan berbagai jurnal terkini. Tulisan itu dapat nilai A- dari Pak Dosen. Dan dengan posisi tenggat mepet begini, kok ya eman ada tulisan 5000 kata yang menurut saya nggak jelek-jelek amat dan nilainya menurut Pak Dosen juga oke, tapi tidak saya pakai.

Maka, terjadilah…

Tulisan saya kemudian berangkat dari konsep “Trusted Advisor” itu untuk membedah tentang “Agile Auditor”. Saya tahu bahwa Agile Auditor ini topik agak baru dan sebenarnya cukup banyak diriset juga. Tapi daripada repot, tentu saya pakai beberapa teori saja.

Kebetulan lagi, karena proposal tesis saya adalah tentang Government 2.0, saya follow akun media sosial Ibu Ines Mergel. Kok ya ndilalah di bulan Mei itu dia mengeluarkan sebuah tulisan yang betul-betul membahas konsep AGILE.

Maka, saya sambungkan dan kebetulan sekali cocok. Itu posisi jam 21.00 kurang lebih. Masih ada 3 jam sebelum tenggat.

Bagaimanapun salah satu keunggulan saya adalah bisa menulis cepat–apalagi kalau kepepet. Keunggulan itu yang dulu bikin saya suka ditelepon redaktur jam 8 malam untuk bisa mengirim tulisan tengah malam sehingga bisa terbit keesokan harinya. Hari ini, redaksi media itu menerima ratusan tulisan setiap harinya sehingga nggak perlu lagi orang-orang seperti saya. Walaupun, ya, saya tetap ngirim ke situ tentu saja. Lha, butuh je.

Ditambah 30 menit menggambar konsepnya di draw.io maka tulisan itu jadi pukul 23 lewat. Sesudah cek demi cek lagi, maka karya itu saya kirimkan beberapa menit sebelum tenggat berakhir.

Dan ya sudah. Selesai di situ.

Hingga kemudian hari tibalah hari Kamis sore, 11 Juni 2020. Itu posisinya adalah saya tengah mempersiapkan perayaan HUT Baginda Isto yang ke-3 keesokan harinya. Saya dikontak sama panitia lomba yang mengabarkan bahwa tulisan saya masuk 6 Besar. Okebaik.

Nah, dari 6 besar itu harus menyiapkan paparan untuk dipresentasikan ke dewan juri.

EH EH EH. SIK SIK SIK. Seingat saya nggak ada kriteria presentasi di flyer lombanya. Tapi kalau ada presentasi begini, kan… saya jadi deg-degan.

Tapi baiklah, dijalani saja. Saya mungkin orang paling culun di deretan 6 besar itu. Setidaknya dua nama adalah lulusan luar negeri, salah satunya bahkan S2 dan S3. Satunya lagi, gelar Certified-nya panjang sekali. Ada pula Widyaiswara yang tentu saja mengajari saya pas Diklat JabFung.

Lha, saya? Nulis di Mojok saja jarang-jarang masuk tulisan terpopuler.

Gara-gara presentasi ini tentu pengaturan berubah. Alih-alih menyiapkan party, saya malah bikin presentasy. Jam 1 pagi, saya kirim slidenya ke panitia. Soalnya disuruh kirim sebelum jam 8. Saya bukan mau pamer kesiapan ke panitia. Masalahnya, biasanya saya bangun jam 9 pagi~

Demikianlah akhirnya sampai ke presentasi. Ketika kontestan lain latarnya adalah meja kerja, aula kantor, maka latar belakang video saya adalah…

…BALON ULTAH KRISTO, yang sudah kadung terpasang.

Ketika tiba-tiba ada agenda seperti ini, pada akhirnya saya menganggap bahwa ini mungkin rejeki si Isto. Toh, setidaknya saya sudah jadi juara harapan 3 kan. Juara 6 dari 90-an peserta itu sudah wow sekali rasanya.

Sore tadi, saya ketiduran. Saya terlambat nonton live YouTube pengumumannya. Tapi ada teman LPDP yang DM dan bilang bahwa saya juara 3. Karena saya kadang-kadang adalah Thomas alias Didimus, maka saya nggak berbahagia dan nggak percaya kalau nggak melihat. Apa daya, hidup saya 6 tahun terakhir kan dipaksa skeptis.

Maka, saya pencet mundur live YT yang sedang berjalan. Nemu pertama malah Bapaknya Dirham. Pencet maju, nggak nemu. Mundur lagi nggak nemu. Ternyata lombanya banyak, gaes.

Pada akhirnya tentu saja ketemu dan ya benarlah bahwa saya dapat juara 3. Saya tiada bisa berkata-kata lagi sebab rasanya itu sudah paling mentok. Dan ini adalah pertama kalinya tulisan saya dalam format ilmiah dapat penghargaan di lomba tingkat nasional.

Sekali lagi, saya mengisahkan riwayat di balik tulisan bukan bermaksud apa-apa selain wujud rasa syukur. Waktu menang Lomba Blog BPK itu saja saya sudah merasa kayaknya itu bakal menjadi prestasi saya paling tinggi seumur hidup soalnya~

Cara Termudah Baca Meter Mandiri PLN Pascabayar

Sejak April saya itu deg-degan. Bukan apa-apa, pemakaian listrik saya dan bayaran bulanannya ada selisih. Kalau orang lain marah-marah karena kemahalan, saya justru karena kemurahan. Saya deg-degan karena pada akhirnya kelak saya akan membayar sangat mahal ketika tagihan aslinya terpenuhi. Faktornya tentu saja karena COVID-19, petugas PLN tidak ada yang ke rumah-rumah buat baca meteran.

Kalau di rumah sendiri kemurahan, maka hal kebalikan saya rasakan ketika membuka tagihan listrik rumah orangtua. Lha piye, mosok rumah kosong (ditinggal tengok cucu) tapi bayarannya sebulan 200 ribu? Ya, jadi begitulah. Pandemi ini bikin kocar kacir.

Karena saya nggak siap suatu saat bakal bayar listrik 2 juta sebulan (biasanya 400-600 ribu) karena beberapa bulan ini tagihan listrik di bawah 400 ribu padahal saya di rumah dan berarti AC kan nyala maksimal terus menerus sehingga standarnya ya 500-an ke atas lah, maka saya mencari cara lapor ke PLN dan kok ya ketemu.

Singkat kata laporannya adalah lewat nomor WhatsApp 08122 123 123. Nomor WA-nya nggak kalah cantik daripada nomor saya yang 123 juga belakangnya. Saya kemudian WA “Halo”. Dan dasar akun bisnis, dia nggak pakai centang biru. Tapi memang langsung dibalas, sih.

Pada intinya kita akan mendapati pesan berikut ini:

SYARAT & KETENTUAN BACA METER MANDIRI OLEH PELANGGAN

PLN mulai bulan Mei 2020, kembali melaksanakan pembacaan meter secara langsung ke rumah pelanggan pascabayar. Petugas PLN dalam melakukan pembacaan meter ke rumah pelanggan, menggunakan standar APD dengan tetap memperhatikan Pedoman Pencegahan Penyebaran COVID-19 @kemenkes_ri

PLN juga tetap menyiapkan layanan baca meter mandiri melalui aplikasi WhatsApp Messenger PLN 123 dengan nomor 08122 123 123.

Baca meter mandiri bisa dilakukan oleh pelanggan mulai tanggal 24 s.d. 27 setiap bulannya.

Pelaporan baca meter mandiri oleh pelanggan yang valid, yaitu pengiriman foto angka stand meter akan dijadikan prioritas utama dasar perhitungan rekening listrik.

Jika pelanggan tidak dapat mengirimkan angka stand & foto pada tanggal baca mandiri yang disediakan bagi pelanggan pada tanggal 24 s.d. 27, maka angka stand yg akan digunakan adalah hasil dari baca petugas PLN.

Jika pelanggan tidak dapat mengirimkan foto angka stand meter ataupun lokasi kWh meter tidak dapat didatangi oleh petugas PLN, maka pemakaian listrik akan diperhitungkan rata-rata 3 bulan terakhir.

Apabila Pengiriman angka stand & foto kWh meter oleh pelanggan diluar dari tanggal yang telah ditetapkan, yaitu tanggal 24 s.d. 27, maka tidak akan dijadikan angka dalam perhitungan tagihan listrik.

Selanjutnya, setiap 3 (tiga) bulan PLN akan melakukan pencocokan angka stand kWh meter khusus hasil kiriman pelanggan dengan angka faktual hasil pembacaan petugas PLN, dan akan dilakukan penyesuaian pada perhitungan tagihan listrik. Untuk itu dimohon pelanggan mengirimkan angka & foto stand sesuai dengan yang tertera di kWh meter sehingga diharapkan tidak terjadi penyesuaian tagihan naik atau turun secara berlebihan.

Hubungi layanan Contact Center PLN 123 untuk menyampaikan pertanyaan, informasi atau keluhan atas layanan kami. Terimakasih atas kesediaan pelanggan telah membaca syarat & ketentuan ini.

Kemudian berikutnya kita masukkan angka pembacaan meteran serta lantas mengirimkan fotonya. Kira-kira demikian saja yang harus dilakukan. Nah, tinggal kita cek nanti tanggal 1 tagihannya keluar berapa. Tinggal saya yang deg-degan ini bayar listrik sejutaan kan itu BERARTI SEPERTIGA GAJI SAYA BUAT BAYAR LISTRIK DOANG. ASEM.

5 Ikhtiar Wajib Menghindari Coronavirus

Sejak awal 2020, seluruh dunia gonjang-ganjing karena infeksi novel coronavirus, yang di kemudian hari dikenali sebagai SARS-CoV-2 atau penyakitnya COVID-19. Gonjang-ganjing yang wajar sebab angka kematiannya lumayan tinggi, kurang lebih sama dengan spanish flu yang terjadi lebih dari 100 tahun lalu.

Angka kematian yang lumayan tinggi itu juga kemudian terkait dengan penularan yang terbilang mudah. Segitunya ya masih untung bahwa SARS-CoV-2 ini tidak airbone alias tertular via udara. Kalau airbone, wah, sudah kayak Thanos dia.

Mudahnya adalah karena lewat droplet. Sementara kita tahu bahwa aktivitas kita sehari-hari sangat identik dengan droplet. Orang batuk sembarangan, lalu nyiprat ke dinding, dindingnya dipegang orang lain, orang lain salaman sama bapaknya, bapaknya hidungnya gatal, masuk deh droplet ke tubuh si bapak dan ketika SARS-CoV-2 merasa bahwa si bapak adalah inang yang cocok dan kebetulan tidak ada sel B atau sel T yang melawan maka invasi mereka sukses.

Lantas apa yang harus kita lakukan?

Sekali lagi, ini virus baru. Segala pengetahuan masih terbatas meski dalam 5 bulan ini perkembangan jurnal-jurnal tentang COVID-19 begitu masif dan seluruhnya gratis pula. Untuk itu, yang kita perlukan adalah sebaik-baiknya ikhtiar.

Cuci Tangan

Tampak sepele, tapi saya sudah buktikan bahwa selama 2 bulan ini saya nggak pilek-pilek gimana gitu dengan kerajinan saya mencuci tangan. Faktanya, tangan adalah penghantar terbaik dari droplet yang mengandung SARS-CoV-2 menuju saluran pernapasan kita. Nggak sadar kita pegang pintu, pegang gantungan MRT, pegang jok motor, dll tenyata ada banyak hal yang bisa diantarkan oleh tangan kita.

Wash Hands Hand GIF by jjjjjohn - Find & Share on GIPHY

Jadi, kalau seolah-olah dibilang bahwa ini penyakit gawat tapi kok pencegahannya sereceh cuci tangan, alasannya ya demikian. Soal ini, jurnalnya sudah banyak. Lagipula, di pabrik obat–sebagaimana saya dulu orang pabrik–cuci tangan adalah hal yang sangat biasa dan diatur dalam standar.

Segera Mandi Sesudah Dari Luar

Kalau kita ke pasar atau habis berdempetan di KRL, boleh jadi ada virus yang menempel di baju kita. Nah, ikhtiar yang satu ini menjadi sangat penting untuk mencegah virus yang kalaulah memang nempel itu supaya tidak masuk ke rumah kita.

nickelodeon, spongebob squarepants, bath, relaxing, squidward ...

Hal ini mungkin akan menjadi new normal, bahwa di bagian depan rumah akan ada lapak ganti baju. Atau salah-salah malah kamar mandi pindah ke depan rumah supaya begitu sampai rumah, penghuni bisa langsung mandi dan nggak leha-leha dulu dengan alasan capek. Heuheu.

Disinfeksi Setiap Barang Dari Luar

Sering terima paket dari luar? Dulu saya juga biasa saja. Nah karena lagi ada COVID-19 ini, saya jadi menyiapkan semprotan disinfektan sederhana di luar untuk semprot-semprot dulu plus melepas kemasan terluar di luar saja, sehingga kalaupun ada virus tidak terbawa masuk ke rumah.

Konsumsi Vitamin dan Imunomodulator

Seperti saya cerita tadi, kalaupun ada virus masuk, maka kita butuh tentara untuk melawannya. Kalau tentara kita santuy, maka serangan akan bablas sampai ke istana negara dan pada posisi itu kita kemudian akan sampai pada tingkat keparahan yang lumayan.

TED-Ed - Gifs worth sharing — Meet Team Vitamin!

Untuk itu, kita harus menjaga tubuh dengan konsumsi vitamin dan imunomodulator yang tepat. Tepat lho ya. Jangan kebanyakan. Khusus yang berkaitan dengan sistem imun, jangan sampai kebablasan juga. Salah-salah tentaranya kebanyakan jadi dia malah memakan sesama rakyat alias sel-sel baik. Kondisi ini yang kita kenal dengan penyakit autoimun.

Optimalkan Teknologi

Kampanye di rumah saja sesungguhnya adalah bentuk ikhtiar kita. Kalau memang bisa nggak keluar, ya jangan keluar. Kalau mau beli-beli, kan sekarang bisa nitip beli pakai online. Dan ketika diserahterimakan, kita perlakukan dengan protokol yang tepat seperti lepas kemasan terluar di luar dan disemprot disinfektan.

Lha sekarang kan apa-apa bisa online. Beda dengan zaman 100 tahun yang lalu. Dengan teknologi itu plus perkembangan kesehatan, seharusnya ya tidak akan separah flu Spanyol. Sayangnya, ya itu dia, banyak orang yang tidak peduli dan jadinya kurang ikhtiar. Padahal ikhtiarnya kan simpel-simpel semua.

Salah satu bentuk pengoptimalan teknologi adalah dengan aplikasi Halodoc. Di masa pandemi ini, saya pakai Halodoc untuk membeli vitamin dan imunomodulator. Paling kerasa waktu vitamin sempat langka di bulan Maret. Saya kayak orang putus asa datang dari apotek ke apotek, nyari vitamin dan nggak ada.

Kemudian saya ingat bahwa dulu waktu Isto masih kecil sekali, ada salah satu vitamin yang pasti saya dan Mamanya beli via Halodoc, sebab nggak selalu ada di semua tempat. Dengan teknologi Halodoc, maka saya nggak perlu repot-repot nyari vitamin yang nggak umum itu di berbagai apotek. Tinggal order via Halodoc, obatnya langsung diantar, dengan tingkat keamanan yang oke pula. Terutama bungkusnya yang khas.

Satu lagi, sebagai apoteker, saya melihat bahwa Halodoc punya kontrol sendiri pada barang-barang yang bisa dibeli dengan pesan antar atau tidak. Bagaimanapun, ada regulasi yang harus dipatuhi dan sejauh saya pakai, Halodoc terbilang oke punya. Jadi, sayanya juga nggak takut melanggar suatu aturan apapun.

Demikianlah yang bisa kita lakukan itu sebatas ikhtiar. Namanya kita kan manusia biasa. Percaya dan ikhtiar adalah hal yang relevan dengan kondisi kita dalam menghadapi si coronavirus ini. Semoga pandemi cepat berakhir, yha. Saya kangen main ke mal~

Pedoman The New Normal dari WHO di Tengah Pandemi Corona
Sumber: Halodoc

Tentang Weton Anggota Kabinet Indonesia Maju

Sudah baca olahan data saya yang jilid 1? Kalau belum, ya tolong baca dulu. Saya ngolahnya setengah mati, viewernya sedikit. Kasihan. Nah, khusus di postingan ini, saya mau memaparkan beberapa fakta lain kali ini khusus weton khas penanggalan Jawa. Itu lho, Jumat Kliwon, Minggu Pon, Kamis Pahing, dan lain-lain.

Mari disimuck~

Trio Senin Pon

Dalam deretan anggota kabinet, ternyata ada 3 orang yang sama-sama Senin Pon. Mereka adalah Menko PolhukHAM Mahfud MD, Menkominfo Johny G. Plate, serta Menristek/BRIN Bambang Brodjonegoro. Uniknya, mereka lahir di tanggal, bulan, dan tahun yang sama-sama berbeda. Sudah saya tulis di versi sebelumnya bahwa memang nggak ada tanggal lahir yang sama persis.

Trio Sabtu Wage

Masih non hari kerja dan juga ada 3 nama. Kali ini Sabtu Wage. Ada tiga orang yaitu Menag Fachrul Razi, Menteri LHK Siti Nurbaya, serta Kepala BKPM Bahlil Lahadalia. Ini juga tahunnya lompat-lompat sekali. Menag kita tahu adalah yang paling sepuh, sementara Kepala BKPM adalah salah satu dari lima besar termuda.

6 Jurus Bahlil Lahadalia Gaet Investor - Ekonomi Bisnis.com
Sumber: Bisnis.com

Trio Minggu Kliwon

Masih trio dan masih hari libur. Keren ya pemilihan menteri-menterinya, belum apa-apa sudah ada 6 orang yang lahir pada hari Minggu. Kali ini Minggu Kliwon, ada 3 orang yaitu Menko PMK Muhadjir Effendy, MenPAN-RB Tjahjo Kumolo, serta Menpora Zainudin Amali.

Jangan mudik jangan mudik dulu~~

Seperti Pendahulunya, Zainudin Amali Juga Menpora yang Minim Latar ...
Sumber: Liputan6.com

Ternyata Ada 8 Orang Lahir di Hari Minggu!

Ya, selain nama-nama tadi, masih ada Menkeu Sri Mulyani, Menteri KKP Edhy Prabowo, Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, serta Menteri PPPA I Gusti Ayu Bintang Darmawati.

Ada 3 Yang Lahir Hari Jumat

Kalau Minggu-nya ada 8, maka Jumat-nya hanya ada 3. Mereka adalah Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri ESDM Arifin Tasrif, dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.

Tidak Ada Yang Jumat Kliwon

Ya, dari 3 nama yang lahir di hari Jumat, wetonnya adalah Legi, Wage, dan Pon (dibaca sesuai urutan nama di atas yha). Jadi tidak ada yang Kliwon.

Kabinet Wage

Ada 10 nama lahir sebagai Wage. Angka itu lebih 1 dari Pon yang 9 nama, serta meninggalkan Legi dan Pahing yang angkanya 6. Selain yang sudah disebut tadi, masih ada nama Agus Suparmanto (Kamis Wage), Syahrul Yasin Limpo (Rabu Wage), Wishnutama (Selasa Wage), Moeldoko (Senin Wage), dan tentu saja Menteri Kesehatan kesayangan kita semua yang lahir Rabu Wage: Dokter Terawan Agus Putranto.

Menkes Terawan Tegaskan Bali Aman dari Corona
Sumber: Riau Pos

Bahaya Laten Keringanan Cicilan Kartu Kredit di Masa Pandemi

Salah satu bentuk penyesuaian dari penyedia kartu kredit telah dilakukan. Per bulan lalu, saya dapat informasi bahwa ada pengurangan pembayaran minimal. Angka yang dulunya sudah rendah, jadi semakin rendah. Hal ini paralel dengan penyesuaian bunga per bulannya juga jadi sedikit lebih rendah.

Tentu, pasalnya adalah kemampuan bayar berkurang. Kita tahu, pandemi bikin ekonomi ambyar kayak menghadiri nikahan mantan. Boleh jadi, bank hanya berpikir bahwa yang penting ada uang yang masuk.

Sumber: Fox Business

Akan tetapi, bagi orang-orang yang punya hutang di kartu kredit, TERLEBIH YANG PUNYA KEBIASAAN BAYAR MINIMAL, harus waspada. Soalnya, dampaknya tentu sangat besar.

Sebagai gambaran, jika kita utang 10 juta, maka dulu bayar minimalnya 10% alias sejuta. Sekarang di 2 penyedia CC yang saya langgan, turun jadi 5%. Artinya, ibarat kata kita beli laptop 10 juta gesek doang maka di bulan depannya cukup bayar 500 ribu saja dan kita bebas dari telepon debt collector.

Kebiasaan bayar minimal itu dapat menyebabkan ada pikiran bahwa “ada sisa uang”. Jadi misalnya tadi bayar 1 juta, terus kemudian jadi hanya bayar 500 ribu, maka perasaannya boleh jadi adalah “Wah, ada sisa 500 ribu nih”.

Perasaan itu tentu sangat berba-hay-hay. Sebab, yang 500 ribu itu masihlah merupakan utang. Hanya ditunda saja–dan tentu saja jika tidak dibayar maka menjadi korban bunga yang akan terus terakumulasi dari bulan ke bulan.

Tulisan ini sekali lagi diutamakan bagi yang punya kebiasaan bayar minimal, yha. Sebab, saya sendiri dulu sempat begitu sebelum kemudian baru normal akhir tahun lalu. Bagaimanapun, CC ini sebaiknya harus dibayar tuntas pada bulan berikutnya. Kalau memang cicilan ya dibayar sesuai jumlah cicilannya.

Saya sendiri tidak menutup CC karena finansial saya belum cukup mantap. Kayak pas mudik kemarin, sekali beli tiket bertiga 10 juta. Sementara, uang belum ada segitu. Ada, sih, tapi peruntukannya lain. Jadi, CC dapat menjadi alat untuk penunda tagihan. Dan memang harus bisa dikelola dengan sangat bijak agar tidak terjebak ke hutang yang nggak-nggak.

Nanti kapan-kapan saya cerita, deh, soal jerat utang CC akibat bayar minimal terus. Asli, ora enak. Heuheu.

Kondangan Deg-Degan ke Jambi

Pada bulan Oktober, bos saya ketika itu menggelar kondangan pernikahan anak pertamanya di homebase-nya. Iya, sebagai orang Jambi, tentu saja pernikahannya digelar di Jambi. Mosok di Oregon?

Posisi saat itu, saya sudah lepas dari jabatan. Walhasil, tentu tidak dimungkinkan untuk mendapat biaya-biaya apapun dari kantor. Jadilah, saya berangkat dan pulang pakai uang sendiri. Kebetulan masih ada.

Soal itu sih nggak masalah. Yang masalah dan sangat bikin deg-degan, adalah satu problematika lagi.

ASAP.

Sejak pindah dari Palembang tahun 2011 sesungguhnya saya sudah kurang akrab sama asap. Ada sih kena asap sesekali ketika pergi dinas ke kota-kota yang familiar dengan asap. Tapi overall sudah lupa sama asap.

Nah, kondangan Pak Bos ini juga bertepatan dengan kabut asap yang lagi pekat-pekatnya. Saya sendiri membeli tiket balil hari. Pergi pagi-pagi sekali, kemudian pulang ya jam 4-an gitu. Untuk penerbangan lintas pulau, saya berasa pergi ke Bekasi karena hanya bawa 1 tas dan itupun isinya laptop (untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah di waktu-waktu luang yang ada).

Karena penerbangan pagi, belum ada halangan berarti meskipun kabutnya sudah jelas. Tapi masih bisa landing. Okesip.

Begitu sampai Jambi-nya. Wew. Lihat saja gambar-gambar berikut ini:

Ini adalah sesuatu yang pernah saya alami bertahun-tahun silam ketika masih di Bukittinggi atau di Palembang. Tentu tidak akan terjadi ketika saya ngekos nggak jauh dari istana negara. Memang begitu, yang jauh-jauh dari pusat kekuasaan itu agak kasihan. Ini adalah contohnya.

Kondangannya sendiri berlangsung baik-baik saja. Ketika sudah mulai cabut, saya mampir sejenak di sebuah warung kopi sembari menunggu waktu yang pas untuk ke bandara.

Ketika tiba waktunya, saya mendapati bahwa bandara Sultan Thaha ramai sekali. Cek flightradar24, eh, ternyata sudah ada beberapa penerbangan yang divert ke Palembang. Bandara sini ditutup karena jarak pandang.

Bayangkan posisinya saya sudahlah nggak punya uang, nggak punya baju pula. Sudah kebayang kalau mau menginap bagaimana ini caranya~

Well, pada akhirnya sih jarak pandang kembali terbuka. Meski memang sangat minimal tapi masih sesuatu standar sehingga setidaknya bisa terbang. Saya kemudian naik pesawat dengan deg-degan dan begitu pesawat menembus awan akhirnya agak legaan.

Btw, ini adalah penerbangan balik hari saya yang kedua. Pertama kali itu tahun 2008, ke bandara cuma minta tanda tangan dosen pembimbing 2. Saya dari Jogja ke Jakarta, bawa 8 skripsi untuk ditanda tangan. Kebetulan bapaknya mau dipaksa ke bandara. HAHAHAHAHA.

Menjadi Saksi Laga-Laga Terakhir Tontowi Ahmad

Daihatsu Indonesia Masters Super 500 bulan Januari silam sungguh menjadi momen menarik di dunia perbulutangkisan Indonesia. Ya, siapa sangka bahwa turnamen itu menjadi salah satu yang terakhir sebelum kemudian badminton mandek sejak All England gara-gara coronavirus.

Lebih bikin nyes lagi karena ternyata turnamen itu adalah laga-laga terakhir seorang legenda bulutangkis Indonesia, Tontowi Ahmad. Tepat 18 Mei 2020, Owi–sapaan akrabnya–mengumumkan pensiun.

Gelaran DIM ini menjadi unik karena sebenarnya Owi hanya pemain daftar tunggu, bersama dengan tandem barunya Apriyani Rahayu–rising star ganda putri Indonesia. Bahkan hingga saya sampai di Istora, saya sebagai penonton babak kualifikasi hari pertama tidak menyadari bahwa ada yang berbeda dengan daftar laga-laga dibandingkan sehari sebelumnya.

Yes, ketika laga sudah kesekian pas saya tahu bahwa kurang lebih pukul 1 akan berlaga duet Owi/Apri melawan pasangan Thailand Supak Jomkoh/Supissara Paewsampran. Tidak semua penonton tahu. Hanya penonton yang ngupdate Tournament Software yang ngeh dan kemudian memposisikan diri di lapangan 2, tempat laga itu akan dilangsungkan.

Mau berlaga di babak kualifikasi sekalipun, Owi tetaplah Owi. Apalagi partnernya adalah Apri, salah satu kesayangan BL. Jadi wajar kalau sambutan untuk mereka hanya bisa disandingi oleh Lee Yong-Dae yang juga berlaga di babak kualifikasi itu.

Owi/Apri tampil prima. Kemenangan dua set langsung berhasil dibukukan dengan 21-16 dan 21-17. Mereka kemudian masuk ke babak utama dan akan berhadapan dengan XD Korea yang termasuk unggulan, Seo Seung-Jae/Chae Yu-Jung.

Besoknya saya datang lagi. Saya juga datang ngepasin jadwalnya Owi/Apri. Eh, sesudah nunggu lama, pertandingan justru berakhir cepat sekali. Pemain Korea ada yang cedera, sepertinya Chae. Sebuah bola out akhirnya mengakhiri laga dengan sangat cepat. Owi/Apri bablas sampai perempat final.

Lawannya kali ini tentu saja lebih berat. Duo pasutri, XD nomor 2 Inggris, Chris dan Gaby Adcock. Pasangan yang baru main 2 hari dilawan dengan pasangan sampai ke ranjang. Owi/Apri baru terlihat keteteran mulai pertengahan laga ke belakang.

Di laga itu, ada istri Owi berserta buah hati mereka. Lokasinya tentu saja di lapak pemain dan keluarga. Kebetulan saya masuk dari pintu yang itu jadi melihat betul bagaimana Owi begitu masuk langsung dadah-dadah sama anak-istri. Anaknya–dengan baby sitter masing-masing–lucu-lucu, gaes.

Pada akhirnya, Owi/Apri kalah 2 set langsung. Penampilan mereka sejauh itu jelas tidak buruk. Mereka punya kelas masing-masing. Banyak BL kemudian berharap banyak pada kelangsungan duet ini.

Apa daya, harapan itu musnah. Owi sudah pensiun sekarang. Siapa yang sangka smash nyangkut terakhir di Court 1 itu menjadi bola terakhir yang dipukul sang legenda di Istora?

Ah, untunglah saya sempat menjadi saksi dari jejak langkah terakhir sang legenda~

Jangan Underestimate Sama Anak

Sejak 10 Maret 2020, si Isto memang tidak masuk daycare lagi (walaupun tiap bulan masih bayar). Ketika itu masih ada Opung sama Mbah di rumah. Per 20 Maret, Opung sama Mbah ke Solo dan bapaknya sudah Pembelajaran Jarak Jauh alias kuliah di rumah. Walhasil, sudah nyaris 3 bulan si Isto jadi anak asuh bapaknya.

Bersama mantan tetangga yang pindah buru-buru karena atapnya keburu mau roboh.

Berhubung bapaknya juga cuma sendirian, maka kalau pas bapaknya sambil garap paper atau cuci piring, mau tidak mau si Isto jadi anak YouTube. Beberapa waktu belakangan, dia menjadi anak asuh Daddy Pig. Ha nontonnya Peppa Pig terus.

Nah, sejak beberapa waktu belakangan pula, dia kalau lihat kucing mampir ke teras dan nggak berkenan maka dia akan mengusir kucing itu. Diksi yang digunakan awalnya bikin ngekek.

“Su….su…..”

Normalnya, orang Indonesia kalau ngusir hewan kan “Hush… Hush…” yha. Jadi, saya anggap si Isto ini kebalik aja HUS jadi SU (H luluh). Cuma demi kesopanan, ya saya coba benarkan. Mosok nanti di ranah publik dia bilang “SU… SU….” kan dikira bapaknya nggak ngajarin adab yak.

Sampai kemudian, beberapa hari yang lalu saya mendapati sebuah adegan Daddy Pig mengusir ayam. Pada detik itu juga, saya sadar, bahwa saya selama ini salah memahami maksud anak saya.

Soalnya, Daddy Pig–yang aksennya sangat British itu–ternyata mengusir ayam dengan kata-kata, “Su… su…..”

Saya laporan sama Mamaknya yang pernah setahun di England sono. Eh, mungkin karena belajar terus dan nggak pernah ngusir kucing, Mamaknya juga nggak tahu. Jadilah kemudian dia ngecek ke kamus dan…. ow…ow…..

SHOO itu betul-betul ada di kamus Cambridge! Anak aing pakai diksi dari kamus Cambridge dan selama ini saya mengira dia kebalik mengucapkan sesuatu. Inilah akibat kalau bapaknya lebih ndeso daripada anaknya. Dan ini pula akibat dari pengasuhan Daddy Pig. Heu.

Pilus vs Virus

Kondisi pandemi COVID-19 tentu membuat saya dan Mama Isto harus mengajarkan tentang bahaya virus kepada anak yang hampir tidak batita lagi ini. Setidaknya, agar dia mau pakai masker kalau pergi ke warung. Dan ya sejauh ini berhasil. Dia tahu bahwa di luar lagi ada virus jahat warna oranye. Saya tentu nggak bilang bahwa kalau menurut JRX, virus jahat itu adalah ulah dari elit global. Bukan apa-apa, setahu saya, elit Global itu tentunya Harry Tanoe, sebagai pemilik dari MNC Group yang membawahi Global TV.

Konteks virus ini juga yang membuat dia masih baik-baik saja selama 2 bulan tidak sekolah karena sekolahnya libur gara-gara ada virus jahat. Soal nama aslinya adalah SARS-CoV-2, tentu nanti kapan-kapan saya ajarkan. Semoga ketika saatnya tiba, si virus hanya tinggal sejarah.

Nah, pada saat yang sama karena lagi doyan betul ke warung, maka secara kebetulan semesta anak ini mengenal pilus. Kebetulan doyan. Pilus kemudian menjadi pengalihan yang bagus karena dia lagi doyan Pringles. Bayangkan bahwa bapaknya hanya PNS biasa, bukan PNS DKI, apalagi PNS Pajak, kok bisa-bisanya doyan snack seharga 20 ribu sekali makan? Betul-betul harus disadarkan, dan untungnya pilus sangat membantu pengalihan itu.

Persoalannya kemudian adalah dia belum terlalu memahami perbedaan VIRUS dengan PILUS. Sehingga, dialog yang selalu terjadi adalah seperti ini:

Isto: Pa, Eto minta vi-rus (sambil bawa-bawa pilus)
Bapak: Pi-lus…
Isto: Vi-rus…
Bapak: Pi…
Isto: Pi…
Bapak: lus…
Isto: lus…
Bapak: Pi-lus…
Isto: Vi-rus…

Mana saat ini posisi dia sudah mulai nggak terima kalau salah dan kadang-kadang malah saya yang diajarin. Jadilah kami berdebat soal virus dan pilus saja setiap harinya~

Tentang Ketertiban di Transportasi Umum

Sering mengeluh tentang betapa sulitnya orang Indonesia tertib, terutama di tempat umum? Saya juga sering. Heuheu. Akan tetapi, perlahan saya mulai memahami akar masalahnya karena sering naik transportasi umum.

Ya, terakhir sih 2 bulan yang lalu. Siapa sangka saya balik dari kuliah Kebijakan Publik hari Kamis malam sambil hujan-hujanan itu adalah terakhir kali saya naik KRL setidaknya sampai sekarang?

Oke, skip dulu curhatnya. Tapi begini, seburuk-buruknya KRL di weekday, sesungguhnya lebih parah di weekend. Itu kalau menurut saya. Separah-parahnya di Tanah Abang mau jam berapapun, orang-orang yang selow di tangga dan bahkan di tangga berjalan itu umumnya terjadi ketika weekend.

Demikian pula dengan MRT. Kalau kita ikutan wisata MRT di Sabtu atau Minggu, selain kepadatan nggak kira-kira, perilaku manusianya juga nggak karuan. Hal itu berbeda kalau kita naik MRT di hari kerja.

Nih, saya punya buktinya. Rapi sekali.

Kenapa itu terjadi?

Dugaan saya, ini adalah soal kebiasaan. Di weekday, para pengguna adalah pengguna rutin yang tiap hari ya menggunakan moda yang sama. Setidak terburu-burunya mereka, sudah ada pemahaman perihal perilaku yang seharusnya dilakukan. Saya bilang tadi, seburuk-buruknya Tanah Abang, kalau weekday itu satu-dua doang orang yang diam di sebelah kanan tangga berjalan atau santai-santai di tangga manual.

Jadi, para pengguna rutin itu sudah tahu aturan dasarnya. Di MRT cenderung lebih tertib lagi kemungkinan karena faktor pendidikan dan pekerjaan dari para penumpang. Pemandangan antre serapi di foto tadi adalah hal biasa di stasiun MRT manapun dan jam berapa saja peristiwa itu ada asal pas hari kerja.

Boleh jadi karena cukup pendidikan dan cukup pengetahuan, para pengguna MRT di kala weekday ini jauh lebih tertib dan bisa sekali membuat MRT Indonesia serapi di Singapura atau Hong Kong.

Kesimpulan sementara saya adalah tatanan itu tidak dimengerti para pengguna sekali-sekali yang umumnya menggunakan moda transportasi umum itu di kala weekend alias hanya Sabtu-Minggu atau hari libur saja. Karena tidak mengerti, jadi suka bingung. Ya mending kalau bingung lalu diingatkan terus minggir atau membenahi diri. Masalahnya, kalau penumpang weekend itu suka enaknya sendiri. Kalau ditegur, suka sengak dan malah marahin yang negur.

Kan asem.

Hal yang serupa juga saya dapati ketika naik TransJakarta. Kalau jam 8 atau 9 di setiap halte ramai sekitar Sudirman itu kelihatan kok ketertiban orang-orang antre keluar dengan membentuk barisan atas dasar kesadaran sendiri. Paling kondang ya halte Dukuh Atas yang sempit tapi hub penting jadi kalau sore antrenya bisa mengular sampai atas dan antreannya terbentuk tanpa masalah.

Jadi intinya sih kebiasaan dan lingkungan. Hal itu sebenarnya sudah terbentuk ketika weekday namun seringkali bablas kala weekend.