Mengapa Pinjaman Online Harus Terdaftar di OJK?

Selalu ada cerita tentang pinjaman online alias pinjol di sekitar kita. Kemajuan teknologi memunculkan perusahaan finansial teknologi atau fintech dengan pinjol sebagai produknya.

Pinjol memfasilitasi publik untuk memperoleh pinjaman dana dengan waktu yang lebih singkat dan proses yang lebih mudah, dibandingkan dengan meminjam di bank, misalnya. Menjadi wajar jika kemudian pinjol semakin diminati masyarakat.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Kalau dilihat-lihat, sebenarnya ada kesamaan antara pinjol dengan makanan, terutama dalam urgensi regulasi. Produk makanan bisa dengan mudah dijumpai, dijual di berbagai tempat, tapi akan menjadi beda maknanya ketika dia didaftarkan ke Dinas Kesehatan atau BPOM. Saat didaftarkan, boleh jadi ada kandungan zat-zat yang harus dibatasi, misalnya kandungan Bahan Tambahan Pangannya. Konsumen jadi lebih terlindungi karena pembatasan zat-zat tersebut didasarkan atas kajian keamanan berbasis bukti.

Sama halnya dengan pinjol. Jumlahnya mungkin banyak sekali, tetapi ketika sudah terdaftar OJK, maka suatu pinjol akan berada di level yang berbeda. Peraturan yang utama adalah Peraturan OJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.

Ketika sudah terdaftar, otomatis suatu pinjol juga berada dalam operasional yang resmi dan pada saat yang sama diawasi oleh OJK itu sendiri. Secara administrasi publik, registrasi semacam ini bermanfaat untuk semua pihak dan sesungguhnya yang paling dilindungi adalah masyakarat.

Sederhananya, kalau cuma berpikir ala-ala New Public Management (pola pikir pelayanan menuju kuno yang menyamakan layanan pemerintah semata-mata kayak kita datang ke bank), registrasi-registrasi macam ini kurang cocok. Orang yang datang ke bank adalah pinjol yang datang ke OJK, sementara teller banknya anggaplah OJK-nya. Sudah dong, urusannya cuma mereka berdua itu.

Padahal, dengan proses pendaftaran itu ada pihak lain yang jadinya lebih terlindungi ketimbang kalau pendaftaran itu tidak ada. Namanya citizen alias masyarakat. Kalau pakai contoh orang datang ke bank, masyarakat nggak kelihatan perannya, padahal justru mereka yang diuntungkan. Pada titik inilah sudah semestinya kita mengedepankan pendekatan New Public Service.

Salah satu contoh pinjaman online yang sudah terdaftar adalah Tunaiku, yang merupakan produk dari Amar Bank. Amar Bank sendiri merupakan salah satu fintech pertama di Indonesia yang menyediakan pinjaman uang secara daring tanpa agunan sejak tahun 2014.

Tunaiku sendiri merupakan produk dari Amar Bank. Pada tahun 2018, Amar Bank meraih penghargaan Indonesia Best Banking dari Warta Ekonomi. Amar Bank juga memperoleh penghargaan sebagai TOP SME LENDER 2019 (UMKM) kategori Buku 2 dari Majalah Infobank pada tahun 2020.

Bank Amar sebagai induknya Tunaiku sendiri merupakan bagian dari perusahaan multinasional TOLARAM yang sudah berdiri lebih dari 60 tahun dan bidang bisnisnya cukup banyak di Eropa, Asia, hingga Afrika dengan kantor pusatnya di Singapura.

Kantor dari Tunaiku dan Amar Bank sendiri cukup jelas dan tentu saja hal itu memiliki relevansi dengan keamanan dan transparansi produk itu sendiri. Pinjol dari Tunaiku memungkinkan untuk dipantau statusnya dengan mudah, kapanpun dan dimanapun. Oya, saat ini, Tunaiku juga telah melakukan pengembangan dengan memiliki fitur tabungan dan deposito online melalui Tunaiku Invest.

Sekali lagi, seperti halnya makanan banyak tapi kita bisa memilih yang akan kita beli dan makan, maka demikian pula dengan pinjol. Pinjol memang banyak tetapi jika memang pada akhirnya harus pakai pinjol, utamakan pinjaman online yg terdaftar ojk ya, tentunya demi keamanan dan kenyamanan bersama.

Gotong Royong Mendukung Vaksinasi Guna Mengakhiri Pandemi COVID-19

“…Saya dengan sengaja memakai perkataan gotong royong oleh karena perkataan gotong royong ini adalah perkataan asli Indonesia yang menggambarkan jiwa Indonesia yang semurni-murninya…”

Kalimat tersebut adalah kutipan pidato Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno pada tahun 1957. Konteks peristiwanya memang era Demokrasi Terpimpin. Walau demikian, pernyataan itu tentu tidak serta merta kehilangan muatannya. Gotong royong bahkan merupakan bagian dari pemikiran monumental Bung Karno untuk Indonesia, terutama pada sidang BPUPKI 1 Juni 1945, yang di kelak kemudian hari diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila.

Salah satu momentum perihal fenomenalnya gotong royong adalah ketika Bung Karno menawarkan Ekasila sebagai alternatif untuk Pancasila—bersama-sama dengan Trisila. Untuk memeras begitu banyak nilai yang terkandung pada Pancasila, Bung Karno memilih kata gotong royong. Perlu diingat bahwa Pancasila, Trisila, hingga Ekasila bukanlah konsep yang benar-benar berbeda. Doktor PJ Suwarno—beliau ini fenomenal sekali untuk urusan Pancasila dan secara keren pernah mengajar bapak saya dan di kemudian hari juga mengajar saya—menggarisbawahi pada pidato 1 Juni 1945 tersebut, Bung Karno tetap menekankan agar Pancasila diterima dan demikianlah realitanya kemudian.

Sebagai buah pikir yang mendarah daging di Indonesia, gotong royong jelas menjadi salah satu hal yang menarik untuk diteliti oleh akademisi baik dalam maupun luar negeri. Salah satunya adalah John R. Bowen, yang menulis artikel berjudul On the Political Construction of Tradition: Gotong Royong in Indonesia pada The Journal of Asian Studies tahun 1986. Oleh Bowen, gotong royong dipahami sebagai saling bantu yang saling menguntungkan. Gotong royong disebut olehnya berasal dari bahasa Jawa ngotong—atau dalam bahasa Sunda disebut sebagai ngagotong—yang bermakna sejumlah orang mengerjakan sesuatu bersama-sama. Bowen sendiri pada artikel tersebut meyebut bahwa dirinya tidak mendapati makna dari kata ‘royong’ sehingga cenderung menyebut bahwa kata tersebut adalah tambahan yang menyesuaikan rima.

Di sisi lain, sejumlah publikasi juga menyebut bahwa sejatinya gotong royong juga merupakan terminologi yang hadir pada negara tetangga serumpun seperti Malaysia dan Singapura. Kata gotong royong bahkan hadir di judul buku yang ditulis oleh Josephine Chia ‘Kampong Spirit Gotong Royong: Life in Potong Pasir, 1955 to 1965’ yang mengisahkan tentang kehidupan Singapura pada periode tersebut. Oleh Chia, ditekankan bahwa dalam gotong royong terjadi hubungan saling bantu tanpa adanya motif personal, tetapi sepenuhnya untuk kebaikan komunitas.

Pengertian Gotong Royong Menurut John R. Bowen dan Josephine Chia

Satu hal yang menarik adalah perkembangan dari gotong royong itu sendiri. Pada tahun 1979, melalui buku Sistem Gotong Royong Dalam Masyarakat Pedesaan Daerah Khusus Ibukota Jakarta terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah diidentifikasi bahwa sejumlah bentuk gotong royong sudah punah atau lenyap dari kebudayaan suatu masyarakat. Artinya, jika di era sekarang kita seolah mendapati bahwa gotong royong tampak hilang di masyarakat, sejatinya fenomena itu sudah ditangkap sejak 30 tahun yang lalu.

Selayang Pandang COVID-19

Secara umum, dunia sepakat bahwa pandemi COVID-19 adalah kondisi bencana. Pada akhir Januari 2020, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluarkan Keputusan Kepala BNPB Nomor 9A Tahun 2020 tentang Penetapan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Virus Corona di Indonesia. Lebih lanjut lagi, pada tanggal 11 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan COVID-19 sebagai pandemi. Hal ini sebelumnya telah didahului dengan penetapan Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) pada 30 Januari 2020.

Tanggal Penting Perkembangan COVID-19

Faktanya pula, sampai sekarang status pandemi belum diturunkan sama sekali oleh WHO dan seluruh negara di dunia. Bahwa kemudian ada yang bilang bahwa pandemi ini bukan pandemi COVID-19 tapi pandemi tes PCR, atau juga yang bilang bahwa pandemi ini sebagai PLAN-demi dan narasi lainnya, ya itu preferensi masing-masing yang sayangnya agak tidak terlalu tepat dengan konsep gotong royong itu sendiri.

Satu hal yang pasti, asal muasal COVID-19 masih berada dalam penelusuran. Ketika kemudian disebut sebagai senjata biologis yang bocor atau apapun, seharusnya hal itu tidak mengurangi kewaspadaan kita mengingat situasi yang terjadi di sekitar. Memahami dan meyakini bahwa COVID-19 mungkin adalah bagian dari konspirasi pada kenyataannya tidak membuat kita kebal jika virusnya mampir ke tubuh. Mau dari apapun asalnya si virus, kondisinya sekarang adalah secara genomik sudah dibuktikan bahwa virusnya ada dan bahkan sudah bermutasi jadi banyak tipe.

Sohrabi, Alsafi, O’Neill dan kawan-kawan pada publikasi yang berjudul World Health Organization declare global emergency: A review of the 2019 novel coronavirus (COVID-19) menyebut bahwa permasalahan utama pada penanganan wabah ini adalah TRANSPARANSI. Sebagaimana ditulis oleh kenalan saya yang lama tinggal di China bernama Novi Basuki, Li Wenliang pada 3 Januari 2020 justru diminta oleh kepolisian setempat untuk menyebarkan rumor perihal penyakit yang mirip SARS. Padahal, itulah titik kuncinya. Komite Kesehatan Kota Wuhan baru membuka kondisi riil terkait segala yang terjadi pada pertengahan Januari 2020. Itu sejak dr. Zhong Nanshan ditunjuk oleh Komisi Kesehatan Nasional China untuk menginspeksi Wuhan.

Intinya, sih, kondisinya sekarang sudah kadung. Virusnya kadung menyebar dan kadung bermutasi. Sejumlah negara yang awalnya cukup sukses menghalau pandemi, pada akhirnya juga harus berhadapan dengan gelombang demi gelombang kasus baru dengan varian baru. Negara-negara seperti New Zealand, Taiwan, maupun Vietnam terbilang cukup sukses menahan laju penyebaran karena KEPATUHAN warga negara pada kebijakan pemerintah, terutama mengenai protokol kesehatan, setidaknya demikian menurut Lokuge, Banks, Davis, dan teman-teman pada publikasi ini.

Lantas apa hubungan antara gotong royong dengan COVID-19?

Asti Mardiasmo bersama Paul Barnes pada tahun 2015 menulis tentang konteks terminologi gotong royong dalam respon terhadap bencana sebagai pedang bermata dua. Budaya gotong royong disebut mendorong elemen positif berupa dukungan komunitas. Di sisi lain, pada konteks bencana ada potensi ketika gotong royong itu menjadi kontras terhadap respon yang dibuat oleh pemerintah termasuk sampai pada aktivitas pemulihannya yang melibatkan tata kelola, transparansi, dan akuntabilitas.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Apakah gotong royong bermakna jelek? Jelas tidak, sebab keduanya tetap sepakat bahwa nilai komunitas dan mekanisme tata kelola sangat mungkin dikawinkan.

Satu hal yang penting untuk dipahami, bahwa sebagaimana dikutip oleh saya sendiri pada jurnal ini dari Kashte dan teman-teman (2021) bahwa dengan kondisi yang ada, vaksin adalah satu-satunya pilihan untuk pulih dari pandemi.

Memang, tes-lacak-isolasi itu tetap penting. Masalahnya adalah di Indonesia ini levelnya sudah komunitas sehingga pada satu lingkungan, klasternya boleh jadi 0 tapi bisa jadi pula lebih dari 1. Pelacakannya butuh upaya luar biasa dan harus sangat persisten karena dampaknya adalah pada fasilitas pelayanan kesehatan.

Pada bulan Desember 2020, fasilitas kesehatan di Indonesia sempat berada di kondisi gawat. Saya sendiri sempat mengalami keribetan kala mencarikan ruang ICU untuk teman sekantor. Indonesia pernah berada dalam kondisi bahwa pengaruh pejabat, orang dalam, dan apapun itu yang sejenis sudah tidak mempan dalam soal ruang ICU ini karena memang ruangnya tidak ada. Semoga sih kondisi tersebut tidak terjadi lagi.

Tingkat Keterisian ICU 2 Januari 2021
Kondisi ICU sejumlah provinsi pada 2 Januari 2021 (Sumber; CNN)

Berkaca dari kondisi tersebut, kita tidak bisa melakukan penanganan di ujung alias di fasilitas kesehatan. Pada umumnya pasien ke RS karena sudah parah dengan sejumlah kerusakan pada tubuh. Menangani hal semacam ini tidak akan kelar-kelar, kecuali obatnya sudah ada. Persoalannya kemudian, yang disebut obat untuk COVID-19 belum ada. Yang ada adalah dua jenis obat yang sejatinya bukan untuk COVID-19 tapi berdasarkan kajian ilmiah diperbolehkan untuk digunakan melalui Emergency Use Authorization oleh otoritas pengawas obat setempat, namanya Remdesivir dan Favipiravir.

Harapan sebenarnya adalah menghindari tambahan pasien, atau kalaulah memang ada yang bertambah itu datang ke RS dalam kondisi yang tidak terlalu parah sehingga masih bisa ditangani. Cara utama untuk menghindari tambahan pasien tersebut, terutama di negeri dengan level transmisi komunitas adalah dengan VAKSINASI.

Gotong Royong Mendukung Vaksinasi COVID-19

Soepomo memahami bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari seseorang yang lain maupun dunia luar. Ketika COVID-19 masih di Wuhan, sesungguhnya lockdown maupun karantina masih dapat menjadi solusi. Sayangnya, nyaris seluruh negara tidak dapat menghalaunya pada masa-masa awal pandemi. Bagaimanapun, COVID-19 menyebar dengan lebih cepat daripada flu Spanyol juga karena kemudian akses dari satu negara ke negara lain pada masa kini sehingga dunia luar dan diri kita sejatinya memang sudah sangat terhubung dengan mudah.

Pada titik inilah seperti yang disebut Soepomo: segala sesuatunya bersangkut-paut. Dan dalam ihwal vaksinasi COVID-19, sangkut-paut dan pengaruh-mempengaruhi menjadi semakin jelas. Ingat, target dari vaksinasi adalah kekebalan komunitas atau herd immunity. Namanya komunitas, pembentukan herd immunity itu tentu membutuhkan upaya bersama dari masing-masing anggota komunitas.

Pengaruh Vaksinasi Untuk Komunitas

Pada upaya mencapai herd immunity, sikap satu orang dapat mempengaruhi konstelasi di komunitas. Sederhananya, melalui vaksinasi, diharapkan anggota masyarakat dan komunitas tertentu sudah memiliki kekebalan pada suatu penyakit, dalam hal ini COVID-19. Vaksinasi memang tidak mencegah orang untuk jadi positif COVID-19, tetapi jika seseorang sudah divaksinasi, sistem imunnya sudah kenal sehingga dapat membentuk kekebalan yang diharapkan. Dengan demikian, kalaupun positif, tingkat keparahannya lebih minimal. Semakin tidak parah, kemungkinan untuk sampai meninggal semakin kecil pula.

Memang agak sulit memahami bahwa ada satu virus yang bisa menginfeksi orang tapi tidak menimbulkan gejala pada satu orang, tetapi bisa menyebabkan kematian pada orang yang lain. Hal itu sejatinya sejalan dengan kondisi individu masing-masing. Terlebih, sejak awal sudah dikenali bahwa COVID-19 cenderung lebih parah pada orang-orang dengan komorbid. Dan jangan salah, untuk Indonesia, komorbid itu masalah besar sebab Indonesia tengah bergelut dengan tingginya angka Penyakit Tidak Menular seperti diabetes maupun hipertensi. Lebih gawat lagi, Kementerian Kesehatan menyebut bahwa dari 10 orang Indonesia, hanya 3 yang tahu bahwa mereka memiliki PTM. Tujuh lainnya? Baru tahu ketika sudah komplikasi alias sudah parah. Lebih gawatnya lagi, dari 3 yang sudah tahu itu, cuma (((SATU))) yang berobat rutin.

Sekarang mari tempatkan kondisi PTM tersebut dengan laporan awal perihal case fatality rate (CFR) pada periode awal COVID-19 dari Wu dan McGoogan (2020). CFR awal adalah 2,3% tapi angkanya melonjak jadi 8% pada pasien dengan usia 70-79 tahun dan bahkan 14,8% pada pasien di atas 80 tahun. CFR pada pasien dengan hipertensi adalah 6%, lebih dari 7% pada penderita diabetes, dan mencapai 10,5% pada penderita penyakit kardiovaskuler.

Sebagai contoh, data di Provinsi DI Yogyakarta menurut dashboard covid19.go.id memang menyebut bahwa 92,2% pasien COVID-19 itu sembuh. Tetapi, mari kita lihat pula fakta kematian untuk pasien di atas 60 tahun: 60,1% meninggal. Sederhananya, kalau ada 10 pasien di atas 60 tahun, maka 6 diantaranya pasti meninggal. Jangankan itu, data yang sama juga menyebut bahwa untuk usia 46-59 tahun, persentase kematiannya mencapai 30,4%! Padahal di usia tersebut, justru banyak yang anaknya masih SMA atau kuliah sehingga tetap butuh biaya hidup. Masak ya kita membiarkan dari 10 orang berusia 46-59 tahun yang kena COVID-19, 3 diantaranya meninggal?

Vaksinasi bertujuan untuk mereduksi kematian-kematian itu. Kajian cepat dari Kementerian Kesehatan telah memperlihatkan data yang sesuai bahwa vaksinasi mampu mencegah kematian akibat COVID-19 sampai dengan 98%! Untungnya pula, pada dasarnya orang Indonesia cukup percaya pada manfaat vaksin. Survei CSIS di Jogja cukup membuktikan hal tersebut dengan angka yang lumayan tinggi, mencapai 68%. Hal itu adalah modal baik untuk masa depan vaksinasi.

68% Percaya Pada Kemanjuran Vaksin

Ada banyak pendapat yang cukup menyesatkan soal COVID-19. Saya sering mendapatinya di kolom komentar Instagram. Yang paling sering adalah, “Teman saya yang kena COVID-19 semua tanpa gejala, tuh! Ini penyakit biasa saja sama kayak flu.”

Jika diterjemahkan dalam konsep gotong royong, pernyataan itu jadi tidak relevan. Ingat bahwa kehidupan manusia itu pengaruh-mempengaruhi. Benar bahwa teman kita oke-oke saja, tapi temannya yang lain bahkan sampai meninggal. Dalam circle saya, ada satu orang yang sudah sempat masuk ICU dan kemudian sembuh tapi ada pula rekan yang bahkan umurnya baru 34 tahun, anaknya dua masih kecil-kecil, dan pada akhirnya harus meninggalkan dunia akibat COVID-19. Sekali lagi, dalam ruang lingkup gotong royong, pernyataan semacam itu menjadi tidak cocok sama sekali.

Hidup memang harus terus berjalan. Kita memang tidak akan dapat diam di rumah selamanya. Untuk itulah, kombinasi dari VAKSINASI dan penerapan pendekatan kesehatan masyarakat atau di Indonesia disebut sebagai PROTOKOL KESEHATAN menjadi kunci untuk bisa hidup senormal mungkin di tengah pandemi yang masih terjadi. Dan untuk membuatnya efektif, tentu saja dibutuhkan kerja bersama dari setiap individu di dalam masyarakat, yang saling menunjang satu sama lain, dengan menihilkan kepentingan pribadi sampai titik yang paling optimal, demi tercapainya tujuan bersama.

Ya, dengan gotong royong kita dapat mengakhiri pandemi COVID-19 ini. Dengan nilai-nilai dasar yang sudah kita kenal sejak lama, kita bisa mengalahkan SARS-CoV-2 dan mutasi-mutasinya. Kemungkinan itu ada, sisanya kembali ke kita sendiri: mau atau tidak?

Semoga mau, ya~



Tulisan ini diikutsertakan kompetisi dalam rangka memperingati Bulan Pancasila dengan tema Keistimewaan Pancasila: Toleransi, Berbagi, Gotong Royong yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY.

Daycare Murah Pemerintah Daerah Demi Peningkatan Produktivitas dan Generasi yang Berkualitas

Sudah lebih dari 400 hari saya menjadi bapak rumah tangga dengan mengasuh anak di rumah sembari menyelesaikan tugas-tugas sebagai mahasiswa penerima beasiswa. Istri saya adalah pekerja rumah sakit sehinga WFH-nya bermakna Work From Hospital.

Sebelum pandemi, anak saya adalah penghuni daycare alias tempat penitipan anak. Ada beberapa alasan saya dan istri menggunakan opsi ini. Pertama, tentu saja lelah dengan drama Pekerja Rumah Tangga (PRT). Alasan kedua adalah alasan tumbuh kembang. PRT kedua saya memang termasuk keren dalam hal mengajari anak saya sedikit-sedikit tentang motorik, hanya saja tentu tidak terkonsep. Sementara di daycare, ada semacam kurikulumnya. Selain itu, anak saya jadi punya teman.

Sederhananya daycare adalah solusi bagi orangtua yang tidak bisa resign demi membersamai buah hati. Masalahnya klasik: tentang bagaimana bisa hidup. Gaji pokok saya ketika aktif bekerja di bawah UMR Jakarta. Hanya tiga juta koma sekian. Bagaimana mungkin saya meminta istri—seorang S2 lulusan Inggris bergaji lebih dari 2 kali lipat dari suamnya—untuk resign?

Kala menjadi bapak daycare, saya mendapati sejumlah orangtua tunggal. Sudah jelas, dia tidak bisa disuruh resign demi menjaga anak karena dia satu-satunya pencari nafkah. Jadi, persoalan membersamai pengasuhan anak sejatinya tidaklah sesederhana salah satu harus tidak bekerja untuk mengurus anak. Ada begitu banyak pertimbangan yang sifatnya sangat individual.

Oya, saya tinggal di Tangerang Selatan dan menggunakan jasa daycare dengan tarif mendekati gaji pokok saya per bulan. Untung yang bayar istri saya. Bayangkan kalau bekerja di Jakarta dengan UMR dan harus membayar 3 juta hanya untuk daycare. Jelas tidak masuk akal karena ada begitu banyak biaya lain dalam rumah tangga yang harus dialokasikan. Hal itu kemudian membuat sejumlah anak dititipkan ke tetangga, ke orangtua, dan opsi-opsi lain yang memungkinkan.

Bagaimana soal gizi? Soal stunting? Bagaimana soal motorik halus? Entahlah.

Kita berbicara angka begitu banyak anak-anak. Di kota-kota penyangga Jakarta, jumlah anak usia 0-4 tahun tidak jauh berbeda dengan jumlah orang seusia orangtua mereka, kurang lebih begini gambarannya:

Di kota-kota penyangga Jakarta banyak rumah tangga muda yang pola hidupnya cukup kejam karena harus menghabiskan waktu 2-4 jam hanya untuk berangkat dan pulang kantor karena jarak rumah ke kantor itu bisa puluhan kilometer. Saya saja yang ‘cuma’ naik KRL dari Stasiun Jurangmangu harus berangkat pukul 06.30 untuk bisa sampai ke Jakarta Pusat pada pukul 08.00 dan tidak potong gaji karena terlambat. Bagaimana dengan pekerja yang tinggal di tempat yang lebih jauh? Titik angkut bus jemputan PNS di Cibinong misalnya sudah ramai pada pukul 05.30 lho.

Lebih lanjut lagi tampak fenomena yang menarik di Kota Bekasi dan Tangerang Selatan karena persentase perempuan bekerja lebih tinggi daripada perempuan yang mengurus rumah tangga. Artinya? Ada begitu banyak istri yang juga harus bekerja demi kelangsungan rumah tangga. Kita berbicara angka 300.627 perempuan bekerja di Kota Bekasi dan 161.687 di Tangerang Selatan. Tentu tidak semuanya ibu muda, tetap saja angkanya yang besar.

Terkait pengasuhan anak ini, cukup banyak kantor di Jakarta yang menawarkan solusi dengan membuat daycare di kantor. Salah satunya adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Rata-rata di kantor pemerintah memang mulai menyediakan daycare, sebagian swasta juga demikian.

Sebagai solusi yang ditawarkan, boleh-boleh saja. Tapi dalam pengalaman saya, itu tidak cukup solutif.

Pada suatu hari, daycare anak saya tutup dan saya tidak bisa cuti demikian pula istri. Maka saya harus membawa anak saya ke kantor di Jakarta dengan transportasi umum. Membawa bayi melompat dari peron ke kereta, kereta ke peron, lanjut naik bajaj, dan seterusnya itu melelahkan lho. Dan kayaknya kalau dilakukan tiap hari pegal juga. Jadi, menurut saya, akses daycare di kantor hanya bisa dimanfaatkan oleh kalangan tertentu.

Maka saat mempelajari tentang pemerintahan daerah, seketika terbayang suatu ide yang tampak lebih masuk akal guna mengatasi persoalan pengasuhan anak ini. Ide itu adalah daycare kelolaan pemerintah daerah yang berkolasi di dekat stasiun kereta atau drop point bus dekat pintu tol.

Seperti saya jelaskan tadi, di Tangsel ini daycare sebenarnya sudah banyak, tapi yang terjangkau tidaklah banyak. Daycare kelolaan pemerintah daerah diarahkan untuk menyasar para pekerja UMR yang punya anak balita dan butuh pengasuhan prima. Biayanya tentu tidak harus jutaan, kalau perlu hanya beberapa ratus ribu saja sebagai biaya komitmen. Sisanya, negara berperan melalui pemerintah daerah.

Dengan pemilihan lokasi tersebut, orangtua bisa menitipkan anaknya di daycare sebelum meluncur naik transportasi umum ke Jakarta guna mencari nafkah. Artinya, tidak perlu pula ongkos mlipir karena kebetulan satu jalan. Begitu pulang kantor juga sang anak bisa segera dijemput dan dibawa pulang.

Mengapa pemerintah daerah? Tentu saja karena anak-anak itu adalah masa depan suatu daerah. Kita berbicara tentang anak-anak yang mulutnya kotor sekali karena bergaul begitu mudah dengan teman-teman yang lebih tua. Kita bicara pula anak-anak yang pemenuhan gizinya di periode emas tidak maksimal sehingga mempengaruhi kecerdasan dan hal-hal lainnya. Bayangkan jika pada usia 0-4 tahun, anak-anak yang harus ditinggal orangtuanya bekerja mendapat pengasuhan dan gizi yang tepat dalam kelolaan pemerintah daerah tentu hasilnya akan lebih optimal.

Adapun pada saat yang sama, daycare ini dapat menunjang kebutuhan tenaga kerja setempat. Mengingat daycare mungkin akan buka dari pukul 5 pagi sampai 9 malam maka akan butuh 2 shift sehingga kebutuhan pekerja juga dikali 2. Pemerintah daerah bisa memberdayakan tenaga kesehatan muda dengan menjadikan daycare tersebut sarana menimba pengalaman sebelum kemudian ditempatkan ke fasilitas kesehatan, misalnya. Mahasiswa bidang pendidikan juga dapat diarahkan untuk mengisi muatan pembelajaran dan permainan. Cocok sekali dengan konsep Kampus Merdeka, bukan?

Pada titik ini, melibatkan para calon orangtua dalam pengasuhan akan dapat pula membentuk mindset yang lebih baik ketika mereka kelak menjadi orangtua. Kita tahu ada begitu banyak orangtua yang sebenarnya tidak siap menjadi orangtua sehingga kemudian ada KDRT, ada pengasuhan yang tidak tepat, dll.

Tentu butuh komitmen anggaran dari pemda, tapi bukankah anggaran pendidikan dan kesehatan itu diatur dengan proporsi cukup besar? Bisa dong dikombinasikan untuk kepentingan balita masa depan negeri? Melalui daycare ini, para orangtua akhirnya bisa fokus bekerja dan muaranya kemudian adalah pada peningkatan produktivitas. Di sisi lain, produktivitas juga didorong oleh pemberdayaan tenaga-tenaga muda di masa pendidikan agar dalam 1-2 tahun lebih siap menghadapi dunia kerja. Dan pada akhirnya, generasi yang lebih cerdas tentu akan membentuk bangsa yang bekerja cerdas dan negeri ini dapat menjadi jauh lebih produktif dari sebelumnya. Semoga.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 42/PMK.05/2021 tentang Petunjuk Tekniks Pelaksanaan Pemberian THR dan Gaji Ketiga Belas Kepada Aparatur Negara, Pensiunan, Penerima Pensiun, dan Penerima Tunjangan Tahun 2021 yang Bersumber dari APBN

Jadi sudah sah ya, bahwa THR dan gaji ke-13 PNS pada tahun 2021 itu statusnya sama dengan tahun 2020. Hanya gaji pokok dan tunjangan yang menyertai. Sederhananya ya sama dengan gajian tanggal 1. Selamat Hari Raya.

Pengalaman Perdana Konferensi Internasional

Konferensi Internasional – Kurang lebih 2 bulan blog ini nyaris tidak berisi. Selain memang tidak ada orderan (wkwk~), tapi masalah utamanya adalah saya sibuk mengerjakan tesis. Dan sebagai bagian dari tesis biar kelihatan keren, saya mengikutsertakan bagian dari tesis saya ke sebuah konferensi internasional.

Salah satu faedah dari menjadi penerima beasiswa LPDP adalah biaya untuk mengikuti konferensi internasional dapat diklaim. Pas belum pandemi, beberapa teman bahkan sudah berangkat ke Singapura dan Malaysia untuk mengikuti konferensi internasional dengan biaya ditanggung oleh LPDP.

Apa daya, saya kuliahnya di masa pandemi~

Ya, maksud hati untuk jalan-jalan ke LN pada akhirnya tiada bisa diwujudkan. Namun di sisi lain, saya jadi bisa mengikuti konferensi di manapun tanpa harus mikir ada uang tambahan atau tidak buat mengganjal minus kalau misal harus konferensi ke Eropa.

Maka kemudian setelah cari demi cari dan dikabarkan pula oleh salah seorang dosen jadilah saya mendaftarkan diri ke salah satu konferensi internasional yang rupanya cukup hits di kalangan akademisi bidang administrasi publik, namanya IRSPM.

Jadi, dua bulan kosong di blog ini salah satunya adalah karena fokus menyelesaikan data dan kemudian menyusun paper dalam Bahasa Inggris. Sesuatu yang baru sekali ini saya lakukan. Mana disambi ngurus anak juga, kan.

Konferensi ini terbilang cukup murah, apalagi karena Indonesia dianggap sebagai negara yang harus diberi diskon. Tarif registrasi untuk mahasiswa asal Indonesia adalah yang paling murah. Kurang lebih “hanya” 800 ribu lebih segelas kopi kekinian. Saya harus bilang “hanya” karena memang tarif itu sudah paling murah.

Masalahnya kemudian tarif yang murah ini ternyata pada akhirnya tidak bisa saya klaim ke pemberi beasiswa. Ada pasal utama bahwa konferensi yang ditanggung adalah yang memiliki prosiding. Dan di awal memang tidak ada informasi itu dari si konferensi. Ketika saya sudah mendaftarkan diri, pada akhirnya dapat email yang menyatakan bahwa memang tidak akan ada prosiding di konferensi ini. Jadi ya mau dipakai untuk syarat ujian tesis juga nggak bisa, diklaim ke pemberi beasiswa juga nggak bisa.

Ya, santai saja sih. Saya kemudian menganggapnya sebagai bagian dari jajan akademis saja. Toh sama LPDP saya juga diberi uang buku yang nominalnya cukup besar. Dianggap saja ngambil dari situ.

Di konferensi internasional ini, kurang lebih ada 400 judul yang berkeliaran dengan kurang dari 10 judul asal Indonesia. Ya, beneran sesedikit itu. Serunya, saya bisa berada di satu konferensi, walaupun beda panel, dengan dosen saya dan beberapa dosen lain yang biasanya hanya bisa saya sitir pendapatnya di paper atau artikel populer. Ada kemungkinan paper saya bisa masuk karena saya memasukkannya lewa jalur Panel New Researcher. Panel ini adalah panel dengan peserta terbanyak di konferensi ini.

Tadinya sudah merendahkan diri sendiri karena memang yang tersingkir di panel ini hanya 10 judul. Ibarat 50 daftar, 40 diterima. Gitu kira-kira. Cuma, begitu saya lihat bahwa yang satu panel sama saya pun adalah para asisten profesor atau orang-orang yang tengah post-doktoral, jadinya saya kok nggak merasa minder-minder amat.

Pengalaman ini cukup menarik karena merupakan kali pertama saya presentasi dalam Bahasa Inggris. Kali pertama pula saya bikin paper full Bahasa Inggris. Dan ternyata saya bisa, walaupun tentu banyak kelemahannya.

Masih ada waktu 4 bulan untuk mengeksplorasi diri sebelum kembali ke dunia nyata kerja. Semoga waktu yang ada bisa saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Mengenal Doktor Moeldoko

Mengenal Doktor Moeldoko – Moeldoko merupakan Kepala Staf Kepresidenan Kabinet Indonesia Indonesia Maju. Hal ini merupakan periode kedua karena sebelumnya Moeldoko memegang jabatan yang sama sejak menggantikan Teten Masduki pada 17 Januari 2018.

Panglima TNI Moeldoko Resmi Bergelar Doktor Ilmu Administrasi
Moeldoko (Sumber: Detik)

Sebagaimana dijelaskan oleh Agus Mulyadi dari media kondang, Mojok, Moeldoko merupakan peraih Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik Akademi Militer angkatan 1981. Moeldoko merupakan bagian dari Angkatan Darat. Beberapa jabatan yang pernah diemban oleh Moeldoko adalah Panglima Diisi Infateri 1/Kostrad pada tahun 2010 menggantikan Mayor Jenderal TNI Hatta Syafrudin.

Moeldoko juga merupakan Panglima Kodam XII/Tanjungpura ketika diaktifkan kembali pada tahun 2010. Sebelumnya, Kodam di Pulau Kalimantan sempat digabung menjadi 1 dalam Kodam VI/Tanjungpura di Balikpapan.

Posisi sebagai Panglima Kodam XII/Tanjungpura ini ternyata memiliki dampak panjang. Sebagaimana mungkin jarang diketahui oleh publik, Moeldoko sesungguhnya memiliki gelar Doktor yang diperoleh pada tahun 2014 dari Program Studi Pasca Sarjana Ilmu Administrasi yang kala itu masih menjadi bagian dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Beberapa waktu kemudian, bidang Ilmu Administrasi berdiri menjadi fakultas tersendiri dan pada tahun 2021 memasuki usia ke-6.

Merujuk data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi, Moeldoko menjadi mahasiswa doktoral pada semester ganjil 2008 dan lulus pada 20 Januari 2014. Moeldoko sempat cuti studi pada semester ganjil 2012. Secara umum, waktu yang dihabiskan Moeldoko untuk studi terbilang cepat bila dibandingkan dengan pada umumnya mahasiswa S3 yang memang rata-rata dilakukan sambil kerja.

Pada tahun 2008 sendiri, Moeldoko memegang jabatan Kasdam Jaya. Dengan demikian, sepanjang kuliah di UI, Moeldoko berturut-turut menjadi Panglima Kostrad, Panglima Kodam XII/Tanjungpura, Panglima Kodam III/Siliwangi, Wakil Gubernur Lemhannas, Wakasad, KSAD, hingga pada ahirnya menjadi doktor pada saat menjabat Panglima TNI.

Disertasi yang disusun oleh Moeldoko untuk meraih gelar Doktor berjudul “Kebijakan dan Scenario Planning Pengelolaan Kawasan Perbatasan di Indonesia (Studi Kasus Perbatasan Darat di Kalimantan)”. Promotornya adalah Prof. Dr. Eko Prasodjo, Mag.rer.publ dan ko-promotornya adalah Prof. Dr. Azhar Kasim, MPA.

Satu Harapan: Panglima TNI Terima Gelar Doktor
Sumber: Satu Harapan

Disertasi tersebut membahas tiga pokok permasalahan yakni perihal policy content pengelolaan kawasan perbatasan sesuai UU Nomor 43/2008 dan Perpres 12/2010 dan kebijakan terkait lainnya, perihal implementasi kebijakan pengelolaan kawasan perbatasan dalam upaya mewujudkan beranda negara yang aman dan sejahtera, serta mengenai skenario dan arah kebijakan pengelolaan kawasan perbatasan yang aman dan sejahtera.

Paradigma yang digunakan dalam disertasi Moeldoko adalah mixed method atau gabungan kualitatif dan kuantitatif. Paradigma kuantitatif digunakan pada penyebaran kuesioner yang menggunakan data ordinal dan nominal. Selanjutnya, Moeldoko melalukan wawancara mendalam dengan narasumber terkait. Moeldoko juga menggelar diskusi dengan pemangku kepentingan atau Focus Group Discussion.

Ada alasan menarik dalam pemilihan perbatasan Kalimantan untuk diteliti. Sebab ternyata Indonesia ini berbatasan darat dengan Papua Nugini dan Timor Leste, tapi kalau menyoal perbatasan dengan Malaysia menjadi sangat sensitif. Hal ini tentu tidak lepas dari jabatan Moeldoko di Kalimantan walau sebentar.

Sejumlah rekomendasi dibuat Moeldoko dalam disertasinya, antara lain perlunya perumusan UU yang bersifat lex specialis tentang pengelolaan perbatasan serta Peraturan Pemerintah agar amanat UU tentang Wilayah Negara dapat terlaksana dengan lebih efektif. DPR, DPD, dan Pemerintah juga direkomendasikan untuk melakukan harmonisasi terhadap sejumlah peraturan perundang-undangan pokok. Ada pula rekomendasi untuk mengembangkan Grand Design Penataan dan Pengelolaan Kawasan Perbatasan secara partisipatif.

Demikian sedikit gambaran dari Panglima TNI terakhir yang diangkat oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama 10 tahun. Sebelumnya ada nama Marsekal TNI Djoko Suyanto (TNI AU), Jenderal TNI Djoko Santoso (TNI AD), dan Laksamana TNI Agus Suhartono (TNI AU).

Mengenal The Hill Hotel AND Resort Sibolangit

The Hill Hotel & Resort Sibolangit – Nama Sibolangit mengemuka kembali. Sibolangit sendiri adalah salah satu kecamatan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Sibolangit disebut berbatasan langsung dengan daerah tetangga yaitu Kabupaten Karo. Sebagaimana sejumlah daerah lain di Sumatera Utara yang berbukit-bukit, berhawa sejuk, dan pemandangannya indah, maka Sibolangit termasuk menjadi salah satu tujuan wisata di Sumatera Utara.

Selain itu, Sibolangit juga dikenal karena pernah menjadi lokasi Jambore Nasional Pramuka pada tahun 1977. Tiga puluh tahun sesudah Jamnas tersebut, Sibolangit kembali dikenal publik karena menjadi lokasi jatuhnya pesawat Garuda Indonesia.

The Hill Hotel & Resort Sibolangit menjadi salah satu tempat terkenal di Sibolangit. Berlokasi di Jalan Letnan Jenderal Jamin Ginting sekitar kilometer 45, hotel ini menurut TripAdvisor berjarak sekitar 33 menit dari Kuala Namu International Airport dengan menurut Wego berjarak 72,2 kilometer dari bandara tersebut. The Hill Hotel & Resort Sibolangit juga tidak jauh dari sejumlah tujuan wisata di Sibolangit lainnya seperti Gunung Sibayak hingga Air Terjun Dua Warna.

Menurut Deardo H di TripAdvisor, hotel ini memiliki area resepsionis yang baik, staf yang ramah, serta ada kebun binatang mini di dalamnya. Hotel yang berlokasi di Desa Sukamakmur ini juga memiliki lapangan tenis, fasilitas kebugaran outdoor, hingga lounge karaoke dan sebagaimana hotel-hotel pada umumnya tentu memiliki akses WiFi di seluruh hotel.

Masih menurut Wego, terdapat sejumlah resto di The Hill Hotel & Resort Sibolangit ini yakni Spring Garden Restaurant, Taipan Restaurant, Casuarina Lounge, Sky Lounge, hingga Pine Coffee Shop dan Forest Club.

The Hill Hotel & Resort Sibolangit
Sumber: lily626 (TripAdvisor)

Menurut Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Deli Serdang (kebayang ya kompetensi pejabat untuk jabatan ini harus sungguh sangat lengkap), The Hill Hotel and Resort memiliki 36 kamar Superior, 22 kamar Deluxe, 22 kamar Super Deluxe, dan 58 kamar Executive Deluxe.

The Hill Hotel & Resort Sibolangit
Sumber; G@lih (TripAdvisor)

Di The Hill Hotel & Resort Sibolangit sendiri juga ada Tukan, salah satu burung paling populer di dunia terutama lewat karakter ‘Toucan Sam’. Burung yang berasal dari lembah Amazon ini memiliki paruh memanjang yang memungkinkan burung tersebut untuk mencapai rongga tersembunyi di pohon.

Sejumlah tips dari TripAdvisor meyebut bahwa tempat terbaik dan ternyaman adalah Family Room dekat hutan bambu. Selain itu, disebut bahwa Deluxe Room menyediakan space terbaik. Ada pula yang bilang bahwa kamar dengan kolam renang akan dikelilingi oleh burung-burung.

The Hill Hotel & Resort Sibolangit
Sumber: Riotoga (TripAdvisor)

Pada masa pandemi, terutama di awal Maret 2021, The Hill Hotel & Resort Sibolangit masih berhasil menggaet tamu dan bahkan menurut beberapa berita, sejumlah hotel di Sibolangit juga turut penuh. Hal ini juga membuktikan bahwa Sumatera Utara tidak hanya tentang Danau Toba. Kalau ingin tahu tentang Danau Toba versi Balige tentu saja bisa dibaca di link ini.

Segari, Solusi Bapak-Bapak yang Susah Membedakan Lengkuas dan Jahe!

Segari

Segari, Solusi Bapak-Bapak yang Susah Membedakan Lengkuas dan Jahe – Saya menikah sudah hampir 5 tahun dan sebagai keluarga setara maka urusan belanja sehari-hari pun cukup sering saya lakukan. Apalagi dulu pas zaman masih di kontrakan, ada warung penjual sayur yang justru barangnya segar kalau jam 8 malam karena benar-benar baru datang. Nah, karena Mama Isto nggak bisa naik sepeda motor, jadilah saya yang belanja.

Cuma ya itu tadi, walaupun saya ini lulusan farmasi yang belajar farmakognosi dan fitokimia, tetap saja agak payah dalam urusan rimpang-rimpangan. Bagian yang paling sering keliru kebetulan sih Zingiber officinale dan Alpinia galanga ini.

Beda Jahe dan Lengkuas
Sumber Gambar: Segari

Kalau beli langsung di pasar masih bisa ngeles karena abang atau ibu pedagangnya yang mengambilkan. Nah, kalau membeli di warung langganan itu, pas ditanya, “Lengkuas ada, bu?”, si Ibu akan menunjuk suatu sudut yang isinya rimpang-rimpangan semuwa.

Mumet, wis.

Pada zaman pandemi COVID-19 ini kemudian kami mengenal beli sayur via daring. Bagaimanapun kalau di warung langganan itu kadang-kadang ada saja yang tyda pakai masker, kadang-kadang juga tyda bisa jaga jarak, dan lain-lain. Jadilah sepertinya beli Sayur Online menjadi pilihan bijak untuk setidaknya menghindari kontak dengan orang lain.

Ya, kebetulan pula setidaknya sampai Agustus 2021 saya masih bisa benar-benar di rumah saja kayak bapak rumah tangga pada umumnya. Jadi, masih bisa menerima kiriman sayuran segar pagi-pagi pas lagi segar-segarnya.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapati platform sayur online Segari. Dan pengalaman berbelanja di Segari juga cukup menarik untuk dikisahkan.

Pro HP Kentang: Tidak Perlu Install Aplikasi

Jadi, hal yang menarik adalah karena basisnya situsweb sehingga tidak perlu install aplikasi lagi. Bagian ini buat saya sangat krusial karena HP saya adalah kategori HP kentang yang diisi WhatsApp saja penuh dan harus dibersihkan rutin setiap hari biar ada ruang untuk pesan baru.

Kalau demi belanja sayur saya harus install aplikasi lagi, HP kentang ini sudah tidak kuat. Masak ya supaya bisa beli sayur via daring saya kudu beli HP baru?

HP Kentang

Banyak Pilihan

Kolom paling penting tentu saja pencarian. Hanya dengan mengetik ‘jahe’ dan ‘lengkuas’, maka kebingungan yang kerap saya alami di warung langganan menjadi sirna. Lumayan nggak malu sama ibu yang jualan, nggak malu juga sama istri kalau salah beli melulu.

Selain itu, pencarian juga dapat dibagi menjadi Buah, Sayuran, Daging (termasuk ikan dan ayam), Makanan Siap Saji, hingga Bahan Pokok. Sejauh saya beli, kualitas barangnya terbilang premium dan nyaris tidak ada masalah berarti saat tiba di rumah.

Segari

Selain itu, kemasan terutama untuk produk yang wajib dingin juga cukup baik. Selain ada ice gel, juga dibungkus kembali dengan bubble wrap plus plastik. Kalau saya lihat-lihat, plastiknya adalah tipe yang bisa hancur sendiri, jadi ya sedikit banyak masih bisa membantu untuk urusan sayang alam.

Pembayaran Mudah

Setelah masuk via situswebnya, kita tinggal pilih barang dan masuklah ke jendela pembayaran. Selain transfer, ada pilihan yang lebih mudah yakni menggunakan OVO dan Gopay. Artinya, selagi saldo di OVO atau Gopay cukup, kita tidak perlu transfer lagi, walaupun ya sebenarnya transfer pada zaman now terbilang sudah cukup mudah.

Menarik, kan? Tanpa pakai aplikasi, tapi pembayaran langsung terkoneksi ke OVO atau Gopay sesuai nomor handphone yan kita input. Benar-benar bisa dikerjakan sambil ngepel, setrika, maupun aktivitas khas bapack rumah tangga lainnya, termasuk rebahan.

Oya, dalam beli-beli daring begini saya selalu menghindari pembayaran dengan COD. Bukan apa-apa, kadang pas kurirnya datang, saya lagi webinar, bimbingan, atau anak lagi bobo sehingga tentu nggak bisa ditinggal untuk mengambil dan membayar paket. Di sisi lain, saya juga nggak punya banyak internet banking supaya tyda boros. Jadilah kalau ada opsi yang pakai fintech, saya sangat senang sekali. Walau demikian, jangan khawatir karena Segari juga menyediakan opsi untuk COD kok.

Segar dan Bergaransi

Sesudah pembayaran terkonfirmasi, kita akan segera mendapat pesan WhatsApp dari Segari perihal konfirmasi waktu pengiriman. Ada note yang penting bahwa ‘Segari berkomitmen hanya mengirimkan kualitas yang terbaik. Jika ada kualitas produk yang kurang, cukup 3 langkah mudah: Foto, WhatsApp, Ganti! #SegariBergaransi’.

Cuma ya karena sejauh ini barangnya masih oke semua jadi saya belum pernah minta ganti. Kualitas ini dimungkinkan karena untuk menjaga kesegaran terbaik, Segari menekankan soal 15 jam dari panen ke rumah. Termasuk packingnya juga cukup baik sehingga membantu untuk menjaga kualitas barang yang dikirim.

Ini sebagai tester kesegaran produk, saya langsung memasak edamame yang barusan datang dan dengan kecepatan tinggi langsung tamat. Lebih cepat makannya daripada masaknya~

Gratis Ongkir

Bagian ini juga sangat menarik, apalagi untuk bapack-bapack rumah tangga yang tentu harus perhitungan. Dengan mininum belanja Rp30.000, tidak ada ongkos kirim yang dikenakan oleh Segari. Walau begitu, kalau saya sih belanjanya tetap di kisaran lebih dari 100.000 karena sekalian buat seminggu dimasak oleh Mama Isto.

Bersyukurlah saya juga tinggal di Tangerang Selatan sehingga masih masuk area beredar Segari. Dan walaupun gratis, pengirimannya juga terbilang cepat dan tepat waktu. Pada pengiriman pertama, saya bahkan baru bangun tidur ketika dapat WhatsApp dari kurir bahwa pesanan sudah tiba.

Kalau dikisahkan, perjalanan order di Segari sampai pada hari paketnya diantarkan ke rumah adalah sebagai berikut:

Oya, kebetulan pas saya belanja sempat dapat Sambal Bu Rudi Khas Surabaya yang biasanya hanya bisa dibeli kalau pas sedang dinas ke ibukota Jawa Timur tersebut. Plus, pada beberapa produk juga tersedia promo-promo menarik setiap harinya yang sayang jika dilewatkan.

Semoga kualitas Segari tetap selalu menyegarkan dan bergaransi sehingga semakin banyak bapack-bapack millennial di Jakarta dan Tangerang Selatan maupun kota lain tempat Segari akan beroperasi kelak menjatuhkan pilihan memperoleh sayuran, buah, maupun daging segar di Segari. Kebetulan tadi ngambil di satpam, ternyata ada tetangga yang order Segari juga bahkan dengan kardus lebih besar. Ini berarti pertanda, bahwa besok-besok saya harus order lebih banyak lagi biar tyda kalah sama tetangga~

Menjadi Guru Yang Belajar Dengan Gembira Bersama GuruInovatif.id

“Aku Mengajar Dengan Gembira”

Empat kata yang kalau disingkat menjadi AMDG ini adalah penutup satu dari sekian banyak tulisan guru saya di SMA Kolese De Britto, Bapak St Kartono. Bapak yang satu ini memang sudah menulis begitu banyak hal tentang menjadi guru sejak lama.

Buat saya, passion semacam ini bukan hal mudah. Sebab, semakin banyak hal ideal yang beliau tulis berarti tuntutan beliau untuk semakin ideal sesuai isi tulisan juga semakin besar. Nyatanya, sampai sekarang ya tetap saja muncul tulisan-tulisan bernas tentang ‘menjadi guru’ dan tetap pula segar untukdibaca terus-menerus.

Padahal lagi, sebagai anak guru saya cukup tahu bahwa mengajar itu tidak selalu dapat kondisi gembira. Apalagi di masa pandemi ini, ketika metode belajar diubah menjadi sedemikian drastis: dari tatap muka ke tatap layar.

Demikian kutipan pidato, yang lebih cocok dibilang surat terbuka, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarim pada peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2019. Faktanya memang demikian, guru berada dalam tuntutan untuk mencerdaskan bangsa, namun di sisi lain ada elemen-elemen administratif yang kadang lebih menghabiskanwaktu dan bahkan kata Mas Menteri pada surat yang sama: “tanpa manfaat yang jelas”.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen berikut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 menyebut 4 kompetensi dasar guru sebagai berikut:

Dalam rumusan lain, sejumlah literatur juga menyebut setidaknya ada 9 kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pendidik yakni:

Banyak ya? Ya itu tadi, beban guru untuk ‘mencerdaskan bangsa’ sesuai amanat konstitusi memang sangat berat. Walau demikian, masalah yang berkelindan juga tidak kalah berat. Data Neraca Pendidikan Daerah, misalnya, memperlihatkan bahwa kompetensi guru di Indonesia belum merata. Sebagai gambaran, rata-rata terendahnya adalah 33.88 dan tertingginya 69.12. Artinya, yang terendah itu masih separo dari yang tertinggi. Jurangnya masih cukup jauh.

Sebaran Neraa Pendidikan Daerah, diolah dari data Kemendikbud. Tampak DIY menjadi provinsi dengan nilai rata-rata terbaik nasional.

“Masih mending Mama lho, bisa pakai komputer…”

Itu quote Mamak saya beberapa tahun silam ketika masih aktif jadi guru. Yha, memang harus dipahami bahwa walaupun soal TIK disebut sebagai elemen dari kompetensi, tidak semua guru juga melek TIK. Segitunya Mamak saya pun cukup bangga ketika beliau bisa menyelesaikan UKG di komputer. Saya juga pernah mendapati di era spreadsheet yang sambil kayangpun bisa menjumlahkan nilai tetap ada guru yang melakukan penjumlahan pakai kalkulator berbasis legernya.

Ya kalau merujuk data Digital Indonesia tahun demi tahun dari We Are Social dan Hootsuite sih memang terlihat. Pada tahun 2021, pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta alias masih 73,7 persen. Berarti ada sekitar 70 juta penduduk Indonesia yang belum menggunakan internet. Persentasenya memang 70 persen tapi kalau dikali penduduk Indonesia jatuhnya ya tetap banyak.

Walau demikian, kita tidak boleh menihilkan peran guru-guru senior. Terutama pada masa pandemi ini, sebagian guru senior berjuang keras untuk menyesuaikan diri dengan keadaan walapun sulit. Ya, sebagaimana saya yang mengaku bapak millennial inipun begitu buka TikTok juga bingung sama interface-nya.

Ada gap yang harus disesuaikan dan tidak semua orang bisa dengan cepat beradaptasi, apalagi yang sudah senior. Kunci utama dalam hal ini adalah niat dan keinginan untuk selalu belajar dan beradaptasi.

Platform Belajar Lengkap

Saya sendiri sekarang sedang kuliah S2 dan merasakan betul bedanya jadi mahasiswa tahun 2021 dan tahun 2009 ketika saya lulus profesi. Pembeda utamanya tentu di kekayaan ilmu melalui internet. Kalau dulu mau nyari referensi harus membuka buku satu per satu sampai ke indeks-indeksnya, sekarang tinggal ketik di portal yang isinya sudah jurnal dan e-book semua.

Hal itu adalah keunggulan masa kini yang harus dimanfaatkan, termasuk oleh para guru. Di Indonesia, telah hadir sebuah platform bagi para guru untuk belajar dan memperoleh sertifikasi guru yakni GuruInovatif.id. Jadi, terutama untuk para guru yang punya niat untuk belajar sudah ada platformnya dan tinggal dieksekusi niat tersebut menjadi kegiatan belajar seutuhnya.

GuruInovatif.id sendiri merupakan platform daring besutan HAFECS yang bertekad mendorong transformasi pendidikan di Indonesia melalui peningkatan kompetensi para guru dengan terukur dan terstruktur. Ada 4 bagian besar produk GuruInovatif.id sebagai berikut:

Online Certification menurut saya adalah produk menarik dari GuruInovatif.id. Bagaimanapun, sertifikat via daring ini sudah menjadi kelaziman. Dalam soal data science, misalnya, penyedianya sudah banyak sekali. Demikian pula pada bidang audit maupun manufaktur. Masa pandemi COVID-19 mampu menggusur keharusan untuk proses tatap muka di kelas menjadi webinar demi webinar yang bisa disimak sambil santai di rumah tanpa harus memikirkan biaya transportasi yang selama ini menjadi momok. Demikian pula dengan biaya penyelenggaraan yang menjadi ringan karena biaya seperti sewa tempat, listrik, dll juga menjadi nihil.

Online Certification di GuruInovatif.id harganya ada di kisaran 65.000 untuk topik-topik seperti PCK IPA maupun PCK Matematika untuk 32 JP. Bahkan ada yang gratis seperti Pengembangan Profesionalisme Guru di Abad 21. Terutama pula untuk PNS maupun guru-guru swasta yang harus menjaga sertifikasinya masing-masing, pengembangan kompetensi ini tentu penting untuk mengamankan angka kredit. Dengan harga murah dan bahkan bisa sambil rebahan, angka kredit yang biasanya menjadi momok itu bisa diperoleh dengan lebih sederhana. Walaupun tentu saja harus diikuti dengan baik supaya sertifikatnya tidak sekadar penyelesaian tetapi juga kelulusan.

Tidak hanya Online Certification, GuruInovatif.id juga menyediakan sejumlah course yang secara luar biasa dapat dinikmati dengan FREE. Bagi guru lulusan baru mungkin course seperti ‘Cara Membuat Ujian Online Menggunakan Google Form’ adalah hal yang telah dipelajari sejak kuliah, akan tetapi bagi guru senior course semacam ini cukup relevan. Termasuk juga mengelola Google Drive untuk pekerjaan dan bahan ajar. Artinya, course yang disediakan cukup menyasar kebutuhan berbagai level guru yang memang ingin dan mau belajar. Disediakan dengan FREE pula.

Terdapat pula Mini Course yang juga FREE terkait topik-topik yang sangat relevan dengan kebutuhan guru, seperti ‘Pengembangan Kurikulum Inovatif dan Penerapan Asesmen Pembelajaran’ hingga ‘Aplikasi Pedagogical Context Knowledge’ untuk berbagai jenjang. Mini Course ini juga menyediakan sertifikasi guru untuk 16 JP.

Untuk ilmu-ilmu yang lebih singkat, GuruInovatif.id juga menghadirkan Live Webinar dengan sertifikat 4 JP. Berbagai produk ini dapat diperoleh dengan mendaftar di GuruInovatif.id yang mudah dan tentu saja gratis.

Pengalaman Mengikuti Productivity Course

Saya mau berbagi sedikit pengalaman dalam mengikuti salah satu pelatihan guru di GuruInovatif.id yakni ‘Menulis Tulisan Berbahasa Inggris Secara Benar Dengan Memanfaatkan Fitur Grammarly’. Kursus ini merupakan salah satu productivity course yang ilmunya bisa diperoleh dengan FREE.

Kursusnya singkat, tetapi cukup berfaedah pada saya yang bahkan sudah mengenal Grammarly beberapa lama. Ada fitur-fitur yang justru saya baru tahu setelah mengikuti kursus ini. Narasinya juga tidak terlalu cepat sehingga dapat diikuti dengan enak berikut ada tampilan layar sehingga kita bisa tahu bagian-bagian yang harus diklik untuk dapat menggunakan Grammarly dengan prima.

Bagi yang sering cari ilmu di YouTube, kontennya mungkin mirip dengan yang suka disediakan oleh Mas-Mas India. Akan tetapi, dengan tempo suara yang tepat dan menggunakan Bahasa Indonesia, tentunya lebih nyaman belajar di GuruInovatif.id ini.

Program Afiliasi

Jumlah guru di Indonesia lebih dari 2,5 juta. Jumlah yang cukup masif untuk berkembang bersama. Dengan program afiliasi, para guru yang telah bergabung dengan GuruInovatif.id dapat memperoleh penghasilan tambahan yang cukup mudah. Cukup dengan mengikuti kursus dengan biaya minimal Rp50.000,- sudah dapat join program afiliasi.

Keunggulannya? Ada komisi sampai dengan 20% jika ada teman guru lain yang mendaftar melalui afiliasi kita. Sederhananya ketika ada rekan yang mengambil Online Certification seharga Rp65.000,- dengan memasukkan kode referral kita maka akan ada komisi satuan Rp13.000,- yang masuk ke rekening. Lumayan sekali, bukan?

Guru yang Mengajar dan Belajar Dengan Gembira

Tadinya saya sering memandang bahwa sertifikasi itu sebatas kertas belaka. Nah, ketika kemudian saya diberi kesempatan untuk benar-benar sertifikasi, ternyata dampaknya memang besar. Selain sedikit beban karena punya sertifikat dan kalau ditampilkan kemana-mana malu jika tidak paham, ternyata secara diam-diam ilmunya masuk ke dalam pikiran dan sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari.

Secara khusus untuk para guru, berbagai kursus yang diikuti, terutama Sertifikasi Guru di GuruInovatif.id, juga akan dapat membantu pada proses belajar-mengajar sehari-hari terutama pada masa pandemi ini.

Doa kita bersama tentu agar pandemi COVID-19 segera berlalu, vaksinasi sukses, fasilitas kesehatan kembali legaan sedikit, dan tentu saja kita dapat bersua lagi di ruang-ruang kelas bersama guru-guru yang mengajar dengan gembira karena sebelumnya guru belajar dengan gembira pula bersama GuruInovatif.id.

Ah, jadi rindu mereka~

* * *

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Sesi 2 GuruInovatif.id. Untuk mengikuti lomba, sila klik pada banner di atas~

Cara Terbaik Mencintai Lambung

Halodoc

Cara Terbaik Mencintai Lambung – Sebagaimana seluruh bagian tubuh, lambung memiliki fungsi yang spesifik dan tiada tergantikan oleh bagian lain. Lambung sendiri berperan untuk menyimpan serta memecah makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh. Mengingat peran penting itu, sudah tentu kesehatan lambung wajib dijaga.

Apabila tidak terjaga dengan baik, akan muncul sejumlah penyakit lambung yang tentu saja nggak enak. Kalau gatal, masih kelihatan dari luar. Proses sembuh atau tidaknya kelihatan. Kalau lambung? Cuma ada rasanya saja, bentuknya tidak terlihat.

Salah satu hal yang sering kita alami dalam kaitannya dengan lambung adalah naiknya asam lambung. Asam yang biasanya ada di lambung dapat naik dengan bebas ke kerongkongan untuk kemudian memicu rasa panas, nyeri dada, sampai kemudian mulut yang asam, mual, muntah, atau yang cukup kentara dan khas bapack-bapack 30-an: sendawa terus menerus~

Faktor Risiko dan Penyebab Penyakit Asam Lambung

Ada sejumlah hal yang menjadi faktor risiko dan penyebab dari penyakit asam lambung. Pada faktor-faktor risiko ini, ada kencenderungan otot pengunci tadi yang bernama lower esophageal sphincter (LES) melemah, yakni obesitas, usia lanjut, dan hamil. Ya, tiga kondisi ini memang khusus. Kalau usia lanjut, ya sebagaimana barang-barang sekalipun kalau organ tubuh dipakai terus-menerus tentu ada capeknya dan ada rusaknya. Kalau hamil, hal itu terkait kondisi tubuh yang memang berbeda dengan kondisi normal. Demikian pula pada obesitas, karena tanggung jawab dan beban hidup yang ditanggung oleh tubuh juga lebih besar.

Pada obesitas sudah tentu kaitannya merupakan faktor kelebihan berat badan. Selain itu, ada beberapa penyebab lain yang tidak hanya ada pada orang-orang yang obesitas saja, yang kurus juga bisa. Pertama, konsumsi makanan berkadar lemak tinggi yang terlalu banyak. Kedua, konsumsi kopi, miras, maupun rokok dan cokelat yang terlalu banyak. Tentu saja ini merupakan peringatan bagi anak senja. Salah-salah jadinya bukan ‘kopi-senja-puisi-kenangan’ tapi malah jadi ‘kopi-senja-asam lambung’.

Kan ambyar, yha~

Sebenarnya, ada sejumlah pendekatan yang bisa dilakukan dalam menyiasati asam lambung, terutama pertama-tama sebelum mengonsumsi obat. Pendekatan paling utama tentu pengaturan pola makan.

Makan Tepat Waktu

Kalau teman-teman periksa ke dokter, berikut tenaga kesehatan yang menyertainya, nasehat ini klasik. Tapi ya dalam pengalaman saya sebagai apoteker KW, makan tepat waktu di fasilitas kesehatan itu agak merupakan nasehat untuk pasien saja karena yang menasehati suka terlambat makan juga~

Perhatikan Porsi

Salah satu yang sering dilupakan oleh orang-orang dalam makan adalah porsi. Waktu masih mahasiswa mungkin nggak masalah karena lambungnya masih remaja dan masih kuat. Akan tetapi, kalau dipaksa ya capek juga lambungnya. Apalagi kalau sudah punya penyakit lambung, ketika makan dalam porsi lebih banyak dari biasanya dapat memicu refluks lambung.

Jangan Banyak-Banyak Air Putih Saat Makan

Kebanyakan minum pas makan berpotensi mencairkan asam lambung. Dampaknya kemudian adalah makanan yang masuk jadi lebih sukar untuk dicerna. Lebih lanjut lagi, kalau kebanyakan minum itu sebenarnya hanya mendorong makanan ke dalam lambung padahal belum dilumat sempurna oleh gigi. Artinya, lambung jadi berbeban lebih berat karena mendapatkan makanan yang belum cukup hancur oleh gigi.

Kadangkala, asam lambung naik ketika kita tidak siap dengan persediaan obat. Beda dengan istri yang memang sedang on therapy, saya sendiri hanya kadang-kadang bermasalah dengan pencernaan. Ketika suatu kali kena, tentu butuh obat dan saya tentu tidak bisa main ambil obatnya istri.

Lambung

Pada kondisi tersebut kita dapat memanfaatkan Halodoc. Untuk penyakit lambung ada begitu banyak artikel yang tersedia. Kalau masih ada pertanyaan, bisa chat dokter dengan dokter berpengalaman dan terverifikasi sehingga kita bisa memperoleh penjelasan dan saran medis yang akurat dapat dapat dipercaya.

Lebih lanjut lagi, ketika memang butuh terapi, kita bisa beli obat melalui Halodoc. Pada pengalaman saya, penggunaan Halodoc bukan hanya untuk beli obat lambung, tapi sering juga untuk vitamin anak yang hanya ada di apotek tertentu sehingga nggak ada di apotek dekat rumah. Kalau pakai Halodoc tinggal ketik di aplikasi lalu pesan kemudian bayar, kita tinggal menanti produknya tiba di depan pintu.

Seru kan?

Bapak Millennial

%d bloggers like this: