Persaingan SPBU di Bintaro Jaya

Keeping on Track.jpg

Bintaro–atau lebih tepatnya Bintaro Jaya–adalah sebuah kawasan yang menarik karena letaknya cukup strategis dan masih sangat terbuka pengembangannya. Nah, salah satu keunikan Bintaro, utamanya Bintaro Jaya, adalah di tempat ini seperti jadi ladang persaingan orang jualan minyak alias SPBU. Ya, bisa dikatakan semua merk BBM yang beredar di Indonesia ada SPBU-nya di Bintaro. Ini dia profilnya.

1. Vivo

Gambar terkait

Dikendalikan oleh PT Vivo Energy Indonesia yang merupakan anak usaha Vitol Grup, Vivo sebelumnya ada di Afrika dengan hampir lima ribu SPBU. Salah satu nilai plus Vivo adalah menjual varian BBM dengan RON sekelas Premium. Sesuatu yang tidak dilakukan oleh pengelola SPBU selain Pertamina.

Di Bintaro, Vivo terletak di Bintaro Jaya Sektor 7, tidak jauh dari Lottemart Bintaro yang berarti juga tidak jauh dari SPBU Shell. Sebuah head to head yang luar biasa.

 

2. Pertamina

Menghadapi serbuan SPBU merk asing, Pertamina tidak sembarangan di Bintaro karena SPBU di lokasi ini langsung COCO alias milik pertamina sendiri. Itu lho, yang katanya kodenya 31, bukan 34. Jadi COCO itu kurang lebih artinya milik sendiri, dioperasikan sendiri juga.

Hasil gambar untuk SPBU COCO BINTARO sektor 9

Letaknya di dekat Total Buah dan dalam periode tertentu lumayan bikin macet karena antrean kendaraan yang akan masuk ke SPBU Pertamina ini bersisian dengan yang mau beli buah.

 

3. Total

Masih di Bintaro Jaya Sektor 7, negeri Prancis juga turut bersaing dengan Total. Saya sendiri adalah pelanggan tetap di Total karena memang jalurnya pas. Mengandalkan produknya ‘Performance’, SPBU ini dilengkapi minimarket Bonjour serta toilet yang cukup bersih.

Hasil gambar untuk total SPBU bintaro

Posisinya sendiri di sebelah Kebayoran Arcade 3 alias di seberang Hotel Aviary. Jadi, SPBU ini laris bagi orang yang mau pulang ke arah Emerald, Discovery, hingga sektor 9 tapi lewat Arcade 3.

 

4. Shell

Hasil gambar untuk shell bintaro

SPBU kesayangan saya ketika di Cikarang, namun jarang saya kunjungi di Bintaro karena memang tidak dilewati. Posisinya cukup strategis karena di tikungan alias seberang Hari-Hari dengan sedang ada pembangunan pusat keramaian baru di sebelahnya. Yang agak unik dari SPBU ini adalah akses masuknya yang agak membingungkan.

 

5. BP

Hasil gambar untuk BP Bintaro

Pemain baru ini mendirikan SPBU di dekat Emerald, tidak jauh dari McD Emerald alias di seberang calon Pasar Modern Emerald. Lokasi ini cukup premium karena akan jadi SPBU pertama sesudah exit tol yang akan segera dioperasikan. Ada Alfamart dan ada Kopi Tuku. Kopi Tuku-nya sendiri punya tempat yang ciamik, minim kursi tapi enak buat sekadar ngopi ringan habis ngisi bensin.

Nah, sudah jelas kan, kenapa Bintaro Jaya laku keras? Wong, POM Bensin saja ada lima merk. Heuheu~

 

Advertisements

Ketika Anak Kereta Naik MRT Jakarta

mrt-1

Saya adalah anker alias anak kereta, yang setiap hari berjibaku di padatnya KRL Jalur Serpong. Saya bahkan merasa tidak cukup kuat untuk melakoni Jalur Bogor sehingga untuk mengontrak rumahpun mlipir ke Tangsel alih-alih Depok apalagi Bogor.

Maka, ketika kemudian ada MRT Jakarta dari Lebak Bulus ke Bundaran HI, saya tentu tertarik. Apalagi, dalam 2 kesempatan ke luar negeri, saya sangat mengagumi kelancaran MRT di Singapura dan Hong Kong.

Stasiun Hong Kong Central, misalnya, bagi saya adalah hub yang sangat luar biasa besar namun nggak bikin bingung nubitol kayak saya. Hawa-hawanya, peran itu akan dibawakan oleh Manggarai kalau di konteks Jabodetabek, tapi ya Manggarai kan bukan buat MRT.

Kesempatan untuk mencoba MRT Jakarta akhirnya datang juga melalui uji coba publik yang digelar oleh pihak MRT. Tanpa menunda, saya langsung memesan tiket uji coba pada menit-menit awal pendaftaran dibuka. Untunglah masih dapat.

Saya memilih untuk naik dari Bundaran HI, karena yang paling masuk akal kalau dari kantor dan kebetulan juga stasiun ujung, jadi pasti agak gede.

Kesan apa yang saya peroleh tentang MRT Jakarta?

Pertama, betul-betul mirip dengan yang ada di luar negeri! Mulai dari pintu masuk hingga pengaturan interior bahkan sampai signingnya begitu mirip dengan yang ada di HK atau SG. Lift hingga mesin isi ulang kartu juga sangat mirip atau bahkan sama. Jadi, nggak usah jauh-jauh ke HK atau SG kalau cuma pengen nyicip MRT. Sudah ada di jantung Jakarta.

mrt-jakarta-5

Kedua, stasiun bawah tanahnya memang dalam sekali. Menjadi wajar ketika pembangunannya butuh waktu kurang lebih 5 tahun ketika butuh bikin 2 tingkat bangunan di bawah jalanan protokol Jakarta. Segitunya sih masih biasa karena di jalur-jalur transit di HK atau SG bahkan jalur bawah tanahnya pun bisa bersilangan.

Ketiga, minim tempat sampah! Saya masuk ke stasiun dengan plastik es degan dan keluar lagi dengan plastik yang sama di kantong jaket. Ha, bahkan di toiletnya saja juga tidak ada tempat sampah. Menurut berita, hal ini disebabkan karena MRT hendak menciptakan budaya baru. Namun menurut saya, ya gimana ya, ada tempat sampah saja kita masih suka nyampah sembarangan. Apalagi nggak ada.

Keempat, stasiun layangnya versi modern jalur Cikini-Jakarta Kota. Di Jakarta sudah sejak lama ada stasiun layang, mulai dari Cikini, Gondangdia, Juanda, hingga Jayakarta. Nah, si MRT ini bedanya paling hanya di pagar pembatas ke jalur kereta, sesuatu yang memang tidak ada di KRL Jabodetabek.

mrt-jakarta-3

Toilet di Stasiun Dukuh Atas Pada Awal Uji Coba

Kelima, saya masih bingung siapa yang akan pakai MRT. Kecuali orang-orang yang beli apartemen di jalur MRT dan orang-orang sekitar Lebak Bulus, saya belum paham siapa yang akan naik MRT pada saat orang-orang tinggalnya di Bekasi, Bogor, dan Tangerang. Hanya saja, karena MRT ini adalah proyeknya Pemprov juga, memang wajar ketika seluruh stasiunnya ada di tanah Jakarta.

mrt-2

MRT ketika bersilangan dengan TransJakarta Koridor 13

Jalur sekarang boleh dibilang menumpang koridor TransJakarta paling rapi, koridor 1. Sehingga wajar kalau anak TJ mulai curiga bahwa koridor 1 itu bakal dipangkas armadanya demi mendorong orang naik MRT. Kalaulah diperpanjang sampai Tangsel, entah di Pondok Cabe atau bahkan sampai Ciputat baru saya yakin sama faedah MRT ini. Lah, ini malah mau dibangun sampai Ancol.

Keenam, bagaimanapun MRT adalah kemajuan bagi bangsa ini, meskipun operasionalnya subsidi dan pembangunannya pakai pinjaman. Sekarang, bolehlah kita angkat kepala kala berhadapan dengan negeri seperti HK atau SG. Setidaknya, di ibukota, sudah ada transportasi masal yang cukup maju dan untuk itu kita perlu mendukung operasionalnya.

mrt-jakarta

Oh, satu lagi, yang ketujuh, jalur MRT ini punya interkoneksi ciamik di Dukuh Atas dengan TransJakarta langsung di pintu keluar, akses ke Stasiun KRL Sudirman yang sedang digarap sebagai pedestrian, hingga akses ke Stasiun Sudirman Baru alias BNI City yang merupakan akses ke Bandara. Singkat cerita, hidup di Sudirman, Thamrin hingga Bundaran Senayan dan Blok M akan semakin dimudahkan.

Kalau kamu kerja di Jakarta bagian lain seperti saya di Salemba, ya itu masalahmu dan MRT Jakarta bukanlah solusinya. Heuheuheu.

mrt-jakarta

Stasiun Dukuh Atas

Peran Bapak Dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Peran Bapak Dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan Anak Usia Dini bagi Bapak Millennial seperti saya itu sebenarnya sangat sederhana. Ya, setiap pukul 12 siang menerima forward-an pesan WhatsApp dari Mama Isto yang isinya adalah permainan-permainan yang dinikmati Istoyama di daycare-nya.

Lucu-lucu, lho. Nih, saya kasih beberapa diantaranya:

pendidikan-anak-usia-dini-appletreebsd-isto-1

pendidikan-anak-usia-dini-appletreebsd-isto-2.png

Wajar sekali ketika bayi yang belum 2 tahun ini jago betul soal nama-nama kendaraan. Ya tentu saja itu karena dia dididik sejak dini di tempat yang tepat. Setidaknya tepat menurut Bapak dan Mamanya.

Pendidikan Anak Usia Dini alias PAUD merupakan salah satu upaya pembinaan kepada anak-anak sejak dari lahir sampai umur 6 tahun. Secara standar, stopnya adalah ketika anak masuk ke tingkatan sekolah formal pada usia 7 tahun.

Dalam PAUD, yang hendaknya diberikan adalah rangsangan pendidikan yang dapat membantu pertumbuhan serta perkembangan jasmani dan rohani sehingga anak siap untuk masuk ke pendidikan formal itu tadi.

Kalau mau ditarik ke ujung-ujungnya konstitusi, Pendidikan Anak usia Dini itu diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28C dalam rumusan:

“Setiap anak berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.”

Jadi, selain berhak mengembangkan diri, anak juga BERHAK mendapat pendidikan. Punya HAK lho, ya. Siapa yang harus memenuhinya? Tentu saja orangtuanya, Bapak dan Ibunya, Papa dan Mamanya, bukan Eyang atau Ompungnya~

Dalam perspektif saya sebagai bapak-bapak, adalah kewajiban seorang bapak untuk menjadi pemenuh hak itu tadi. Bersama-sama dengan Mama-nya Isto, kami berdua berusaha semaksimal mungkin memastikan bahwa seorang Isto sejak lahirnya telah mendapatkan hak yang digariskan oleh UUD itu tadi.

Mau jungkir balik? Ya nggak apa-apa. Kecupan si bayi di akhir hari sudah cukup untuk memulihkan tenaga~

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

PAUD diselenggarakan pada periode keemasan anak. Artinya, apapun yang akan terjadi kelak di kemudian hari adalah hasil pembentukan pada masa ini. Konsep-konsep dasar kehidupan ya dalam periode ini juga. Jadi, PAUD memang sangat sentral dalam pembangunan sumber daya manusia atau boleh dibilang sebagai fondasi dasar bagi kepribadian anak.

Anak dengan pembinaan sejak dini pada umumnya akan mampu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan fisik maupun mental. Dampak positifnya adalah pada peningkatan prestasi belajar, produktivitas, etos kerja, hingga akhirnya anak bakal lebih mandiri dan bisa mengoptimalkan potensi yang dia miliki.

Anak yang mendapatkan pendidikan secara cukup semenjak usia 0-6 tahun punya harapan lebih besar untuk berhasil di masa mendatang. Berhasil itu bukan sekadar prestasi, ya. Berhasil antre, berhasil main bersama tanpa rebutan mainan sampai nangis guling-guling, berhasil mengenali lingkungannya juga jadi patokan.

Salah satu yang saya ajarkan pula adalah berhasil mengelola kegagalan. Saya sendiri tetap berusaha mengajarkan arti kegagalan kepada Isto. Soalnya, kalau belajar soal keberhasilan, dia bisa belajar sendiri sama Mamanya. Heuheu~

Yup, sebagai bapak-bapak dengan riwayat kegagalan yang panjang, mulai dari gagal bercinta, gagal juara lomba blog, gagal jadi pegawai Unilever, hingga gagal tes PNS lebih dari sekali, saya belajar bahwa tidak semua orang bisa menerima kegagalan dengan jernih.

Saya yakin, anak saya akan menjadi jauh lebih tangguh, jika dia sejak dini sudah belajar bahwa kalau dia gagal memasukkan bola ke keranjang, maka dia harus mundur sejenak dan lantas mencoba lagi. Atau jika dia menyusun mobil-mobilan 2-3 tingkat dan jatuh, dia harus berhenti, mengevaluasi langkahnya, untuk kemudian menyusun lagi mobil-mobilannya hingga 4-5 tingkat.

Kenapa Bapaknya yang harus mengajarkan soal kegagalan? Dalam konteks saya, ya karena Mamanya sangat fasih dengan keberhasilan. Jadi, dalam usia hampir 2 tahun ini dia bisa mendapatkan contoh dan bisa meniru perilaku orangtuanya ketika menyikapi kesuksesan dan juga memaknai kegagalan.

Susah? Ya, susah. Tapi siapa suruh jadi orangtua?

Hasilnya sejauh ini cukup baik. Jika diajak berkompetisi, Isto menjadi anak yang selow dan nggak ngoyo, tapi tetap menuntaskan kompetisinya. Suatu kali dia ada lomba balapan merangkak dengan Alex, teman sepergaulannya di daycare. Dia berhasil melaju duluan mendekati garis finish. Eh, menjelang garis finish, dia malah lebih asyik mengamati garis finish-nya sehingga tersalip oleh Alex. Dia baik-baik saja ketika kalah balapan dan itu membuat saya sebagai orangtua merasa lebih baik.

Mendidik seseorang untuk menang itu akan lebih mudah jika sebelumnya dia sudah paham tentang menerima kekalahan.

Nah, dalam keadaan Bapak Millennial dan Mamanya harus kerja, maka ada alternatif untuk melaksanakan pendidikan anak usia dini tersebut sehingga tujuan untuk mengembangkan seluruh potensi dan kemampuan fisik, intelektual, moral, hingga agama secara optimal dapat diselenggarakan dalam lingkungan yang kondusif.

Salah satunya adalah di Apple Tree Pre-School BSD, yang menggunakan Adopted Singapore Curriculum dalam pembelajarannya.

pendidikan-anak-usia-dini-apple-tree-1

Sumber: Apple Tree BSD

Terutama bagi orangtua yang pakai ART di rumah, saya sangat menyarankan untuk tetap menggunakan jasa pre-school seperti ini. Bukan apa-apa, anak yang biasa diajari untuk berbagi mainan, biasa untuk bermain dengan rekan sebayanya, mengenali satu demi satu temannya, itu akan jauh lebih siap menghadapi masa depan, lho. Saya mendapati banyak contoh anak-anak yang ketika diterjunkan ke lokasi berisi banyak anak lainnya malah takut-takut atau malah jadi tampak egois dengan merebut semua mainan yang ada. Kan, nggak oke ya~

Sekarang, setiap hari saya bertanya pada anak saya tentang nama teman-temannya, dan dia bisa mengucapkan 11 nama dalam wujud suku kata terakhir dengan 4 nama tanpa perlu saya pancing suku kata pertamanya. Jadi saya hanya tinggal bilang, “Temen Isto namanya siapa?”, dan dia akan dengan lancar menyebut nama 4 temannya plus kemudian menyambung dengan tepat 11 nama lain yang saya sebutkan seperti “Khan…sa, Nada…ra, Ama….ra, dst”.

Sebagai seseroang dengan masa kecil sangat pemalu, saya merasakan itu sebagai sebuah kerugian dan sebagai Bapak saya mengharapkan hal yang sama tidak terjadi pada Isto. Dan, ah, sekarang lancar sekali. Apalagi kalau dia sudah ketemu yang namanya Ichsan. Bisa bubar itu daycare~

Jadi, peran Bapak itu nggak cuma cari duit lho ya. Masih banyak peran bapak yang bisa dilakukan sebagai sebaik-baiknya ikhtiar orangtua pada buah hatinya, terutama pada Pendidikan Anak Usia Dini.

pendidikan-anak-usia-dini-apple-tree-2

Sumber: Apple Tree BSD

#appletreebsd

Keliling Tanjung Pandan, Tempat-Tempat Ini Pasti Bikin Kamu Jatuh Hati

Beberapa tahun belakangan, kawasan Tanjung Pandan menjadi salah satu destinasi wisata yang paling banyak dikunjungi di Indonesia. Selain Bali dan Lombok, Bangka Belitung juga memiliki pantai-pantai cantik dengan pemandangan luar biasa indahnya. Melihat matahari terbit atau terbenam, semua bisa kamu lakukan di sini.

Namun berbeda dengan destinasi wisata lain di Indonesia yang sudah lebih dulu maju, Tanjung Pandan belum dilengkapi dengan moda transportasi umum yang mumpuni. Dengan lokasi antar tujuan wisata yang bisa dibilang saling berjauhan, mencari info jasa rental mobil Tanjung Pandan jadi sebuah keharusan sebelum berangkat ke sana.

Setelah mendapat info rental mobil Tanjung Pandan, kamu bisa menentukan tempat wisata mana saja yang akan dituju di sana.

Danau Kaolin yang Memikat Hati

keliling-tanjung-pandan-1

sumber: berandunkebelitung.com

Secantik Kawah Putih di Bandung, Danau Kaolin di Tanjung Pandan ini juga memiliki air berwarna biru tosca yang sangat cantik dengan bebatuan berwarna putih di sekelilingnya. Namun karena bukan merupakan kawah dari pegunungan, maka tidak ada bau belerang yang menyengat di sini.

Danau cantik ini terbentuk akibat bekas lahan tambang kaolin atau yang juga dikenal dengan nama clay. Setelah tak lagi terpakai, cerukan-cerukan bekas tambang menampung air hujan dan ketika bercampur dengan kaolin, warnanya menjadi kebiruan.

Berlokasi di Perawas, jarak Danau Kaolin hanya sekitar 10 menit dari pusat kota Tanjung Pandan. Dan moda transportasi terbaik untuk menuju ke sini adalah dengan menyewa mobil.

Yang Tak Boleh Terlewat, Museum Kata Andrea Hirata

keliling-tanjung-pandan-2

sumber: pesona.travel

Museum literatur pertama di Indonesia ini adalah buah karya Andrea Hirata. Yang dengan buku dan film LASKAR PELANGI-nya telah membuat kawasan Bangka Belitung menjadi salah satu tujuan wisata utama di Indonesia.

Tentu nggak lengkap kalau ke Tanjung Pandan tapi tak mampir ke Museum Kata Andrea Hirata. Tak hanya memiliki koleksi literatur yang cukup banyak, tetapi juga punya banyak spot instagramable dengan warna-warni yang kekinian.

Lokasi Museum Kata berada di Jl Laskar Pelangi 10, Gantung. Sekitar 11 kilometer dari pusat kota Tanjung Pandan dan bisa ditempuh dengan menyewa mobil pribadi, taksi atau bus dengan waktu yang terbatas.

Cantiknya Pantai Tanjung Kelayang

keliling-tanjung-pandan-3

sumber:@rizky_313

Tidak jauh dari pusat kota Tanjung Pandan, ada Pantai Tanjung Kelayang yang cantik. Seperti kebanyakan pantai di Bangka Belitung, di sini kamu juga bakal menemukan batu-batu yang berada di sekitar bibir pantai dan membuat pemandangan jadi lebih indah.

Pantai Tanjung Kelayang juga menjadi pintu untuk menyeberang ke pulau-pulau kecil cantik yang berada di sekitar Tanjung Pandan.

Menyeberang Yuk, ke Pulau Leebong yang Mirip Maldives!

keliling-tanjung-pandan-4

sumber:MerahPutih/Pras

Tanjung Pandan sudah sangat cantik. Tapi kalau sedang liburan ke sana, nggak lengkap kalau tak mampir ke  Pulau Leebong yang mirip dengan Maldives. Di sini, kamu akan menemukan laut dengan warna hijau tosca yang memikat. Kamu juga bisa menginap di rumah-rumah pohon yang cantik dan nyaman.

Hanya ada satu cara untuk menuju ke Pulau Leebong. Yaitu dengan menyewa mobil dari Tanjung Pandan menuju Pelabuhan Tanjung Ru, kemudian lanjut dengan perahu ke Pulau Leebong.

Dengan jarak antar lokasi wisata yang cukup jauh, menyewa mobil adalah keharusan jika liburan ke Tanjung Pandan. Kini, semua bisa dilakukan secara online dengan mudah dan kamu tinggal duduk manis menuju tempat wisata yang diidamkan.

Liburan ke Tanjung Pandan yuk!

7 Tips Menjadi Pengguna Ojek Online yang Peduli Keselamatan Lalu Lintas

keselamatan-lalu-lintas-1

Keselamatan lalu lintas adalah hal yang selalu saya utamakan, terutama sejak kurang lebih 7 tahun silam menyaksikan sendiri orang meregang nyawa di pangkuan saya–dan beberapa orang lain di sekitar yang peduli–sesudah sebelumnya orang tersebut mengalami kecelakaan lalu lintas.

Ngomong-ngomong, saya berani mengangkat korban karena ketika itu saya masih floor warden di pabrik, sehingga masih punya kompetensi untuk penanganan kecelakaan semacam itu, karena memang dilatih. Kalau sekarang sih sudah nggak kompeten jadi mungkin nggak akan berani.

Sebagai pemilik sertifikasi Manajemen Risiko, saya tentu paham bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan. Banyak kasus orang lagi santai-santai menunggu lampu merah, eh, diseruduk dari belakang. Akan tetapi, ada banyak hal yang bisa kita kontrol dalam menegakkan keselamatan lalu lintas yang ujung-ujungnya ya untuk membuat kita atau orang lain tetap bernyawa~

Nah, salah satu cara untuk bisa berkontribusi pada keselamatan lalu lintas adalah dengan naik transportasi umum, seperti bis, KRL, atau juga yang akan segera hadir: MRT. Namun, karena transportasi umum khususnya di Jakarta masih terus berbenah, maka muncul demand baru, yakni transportasi ringkas dari stasiun terdekat ke kantor dan sebaliknya.

Ceruk inilah yang tadinya dilayani oleh ojek pangkalan maupun bajaj, yang kemudian dikuasai oleh ojek online. Yup, si fenomena baru transportasi Indonesia dengan 2 pemain utama, Go-Jek dan Grab itu PASTI BANGET kita lihat atribut, baik jaket maupun helmnya, di jalanan.

Saya sendiri, misalnya, menghabiskan 30-40 persen gaji untuk biaya transportasi online ini. Maklum, sobat misqueen jadi rumah jauh di Tangerang, padahal kerja di Jakarta Pusat.

Jumlah perjalanan yang dilakukan oleh ojek online ini sungguh nggak main-main. Grab, misalnya, mencapai 2 miliar perjalanan pada Juli 2018, eh kok pada akhir Januari 2019, mereka sudah merilis perjalanan ke 3 miliar! Jadi, hanya dalam waktu 6 bulan, Grab sudah melakoni 1 miliar perjalanan.

Memang, itu angka global, namun kita tahu sendiri bahwa di Indonesia, khususnya di Jakarta, pasar Grab termasuk yang terbesar. Porsi Jakarta dari yang 1 miliar itu bisa dipastikan besar sekali.

Pada Maret 2018, diketahui bahwa di Indonesia, jumlah pengemudi ojek online sudah mencapai 1 juta orang, terdiri dari Go-Jek, Grab, dan kala itu Uber. Jumlah yang tidak kecil dan sudah pasti akan sangat menunjang keselamatan lalu lintas.

Sebagai penumpang, sebenarnya banyak yang bisa kita lakukan untuk mendukung peran ojek online dalam keselamatan lalu lintas. Poinnya, bahkan justru kita yang nggak bawa kendaraan ke Jakarta malah bisa menjadi pahlawan dalam keselamatan lalu lintas.

Kok bisa? Ini dia 7 caranya!

1. Pakai Transportasi Massal

keselamatan-lalu-lintas-2

Seperti sudah dijelaskan tadi, dengan menjadi pengguna transportasi umum bin massal seperti bis, KRL, dan MRT, sebenarnya kita sudah menjadi pengurang potensi kecelakaan dengan mengurangi jumlah kendaraan baik roda 2 maupun 4 yang masuk ke Jakarta. Dari sisi itu saja, para pengguna transportasi umum yang kemudian butuh ojek online dari stasiun ke kantor dan sebaliknya, sudah bisa dibilang pahlawan keselamatan lalu lintas.

2. Banyak Baca Tentang Keselamatan Lalu Lintas

Korlantas Polri bersama dengan Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) dan Relawan Lalu Lintas Indonesia (Relasi) sedang giat menggelar Millenial Road Safety Festival 2019 untuk mendukung ketertiban lalu lintas dan keselamatan berkendara bagi generasi muda. Hal itu didasari dari fakta bahwa perilaku berkendara yang tertib dan aman masih jadi tantangan dan terlihat dalam keseharian pengendara yang menjadi faktor risiko perjalanan dengan tidak tertib pakai helm maupun memakai smartphone kala mengemudi, sering ditemui pada pengendara usia 17-35 tahun alias kaum millennial.

keselamatan-lalu-lintas-3

Cocok, toh, sama Bapak Millennial?

Nah, dalam festival ini banyak konten-konten beredar tentang keselamatan lalu lintas. Sembari nunggu ojol, bisa lho kita cek konten-konten tersebut demi menambah ilmu. Post ini termasuk salah satunya.

3. Tidak Perlu Pesan Duluan

Saya pernah ada di Stasiun Kebayoran dan mengintip layar ponsel orang di sebelah saya sudah memesan ojek online di Stasiun Tanah Abang! Padahal, dari turun KRL saja ke Halte Jatibaru tempat orang biasa janjian dengan ojek online sudah butuh waktu minimal 7 menit. Saya paham betul, soalnya tiap hari pakai jalur itu.

keselamatan-lalu-lintas-4

Atau juga sering kejadian pada jam pulang kerja, orang-orang sudah pesan ojek online padahal mereka masih di lantai 28 dan nunggu lift-nya biasanya 15 menitan.

Tahu nggak, bahwa para ojek online itu kemudian tiba di tempat janjian yang rata-rata adalah pinggir jalan dan mereka ngetem lama di situ karena penggunanya belum hadir, dan itu tidak hanya dilakukan 1-2 orang. Jadinya apa?

Betul sekali! MACET, SAUDARA-SAUDARA!

Seperti di Tanah Abang, misalnya. Kecuali ada demo ojek online atau hujan deras, maka tidak akan ada yang namanya kekurangan armada ojol. Jadi, tidak perlu pesan dari jauh-jauh waktu. Justru itu menjadi penyumbang kemacetan dan malah jadi faktor risiko dalam tidak tercapainya keselamatan lalu lintas.

4. “Cuma Dekat” Nggak Akan Bikin Aspak Jadi Lebih Empuk, Lho~

Yang saya kisahkan di atas, soal kecelakaan, itu nyata! Dan itu bahkan pengendaranya pakai helm bagus, nabrak trotoar, helmnya pecah, kepalanya terbentur dan jadi penuh darah. Bisa bayangkan kalau dia tidak pakai helm? Jangan-jangan kepalanya bisa tidak berbentuk. Hiii. Ngeri.

keselamatan-lalu-lintas-5

Yang sering terjadi, pengguna ojol atas dasar rambut takut lepek dan malas pakai helm menolak helm yang disodorkan driver dengan alasan “cuma dekat”. Padahal, mau jauh atau dekat, kalau kepala kena aspal, itu sama saja sakitnya.

5. Nyeberang Nggak Ada Salahnya, Kok

Kantor saya di Jalan Percetakan Negara. Jalan itu tidak lebar sehingga jika jam pulang kerja antara angkot, orang pulang kerja, taksi, bis jemputan, hingga ojol tumpah ruah jadi satu. Kadangkala, driver datang dari arah Rawasari, sementara saya mau ke Tanah Abang.

keselamatan-lalu-lintas-6

Kalau saya pemalas, saya akan nunggu di depan kantor sampai driver dari arah Rawasari menyeberang ke kantor saya yang ada di sisi Perum Percetakan Negara. Gaes, dalam kondisi sangat padat, orang pindah sisi jalan saja bisa jadi faktor risiko. Bisa dia keserempet atau bisa juga dia bikin macet.

Maka, kalau memang demikian, nggak ada salahnya kita menyeberang sehingga driver ojol tidak perlu pindah jalur dan malah mencemplungkan diri dalam risiko keselamatan lalu lintas.

6. “Cuma Dikit” Nggak Akan Bikin Kendaraan Dari Arah Yang Benar Melambat

keselamatan-lalu-lintas-7

Sering terjadi pula, misalnya di dekat Stasiun Kalibata, pengguna ojol memaksa driver untuk melawan arus sedikiiiiitttt, semata-mata demi nggak berputar. Sedikit, sih, sedikit. Tapi kalau ada apa-apa karena melawan arus itu, yang salah ya tentu saja yang ditabrak.
Jalur itu sudah ada yang punya, sesuai arahnya. Memaksa driver untuk melawan arah itu justru membuat kita yang dari nomor 1 sampai nomor 5 jadi pahlawan keselamatan lalu lintas, malah menjadi penyakit bagi keselamatan lalu lintas itu sendiri.

7. Tegur Driver Itu Boleh, Lho

keselamatan-lalu-lintas-8

Sering sekali driver nggak tahu jalan dan mengandalkan GPS. Itu sih nggak masalah. Jadi perkara ketika dia lihat map-nya dengan satu tangan sambil tangan kanan menarik gas. Itu BAHAYA dan itu mempengaruhi keselamatan kita juga. Nggak usah malu-malu, tegur saja. Kalau memang driver tidak tahu jalan dan kita tahu kan tinggal bilang, “nanti saya arahkan”. Atau kalau sama-sama tidak tahu, kita sebagai penumpang bisa membantu dengan buka maps sendiri, meskipun tetap harus hati-hati karena banyak jambret.

Demikian 7 Tips Menjadi Pengguna Ojek Online yang Peduli Keselamatan Lalu Lintas, sederhana tapi akan sangat membantu jika diterapkan.

Yuk, sama-sama menjadi millennial pahlawan keselamatan lalu lintas!

Kalau Ketemu Tenaga Kesehatan, Tanya Apakah Mereka Sehat?

Screenshot_1814

Tulisan soal Tenaga Kesehatan ini dimuat di Voxpop, pada tanggal 3 Desember 2017 – Pak Dokter membunuh Bu Dokter yang notabene istrinya. Ada juga dokter yang melepaskan tembakan di tempat parkir hanya gara-gara biaya parkir. Hal itu belakangan menjadi konsumsi publik.

Satu hal yang kurang adalah kalangan kepo-ers yang biasanya bisa menemukan afiliasi politik Pak Dokter, kemudian menjadikannya sebagai alasan bertindak kriminal.

Gitu aja terus, mau orang lagi kesusahan maupun orang mati sekalipun kan sekarang yang diurusi adalah pilihan politiknya.

Di sisi lain, kumpulan dokter sempat wara-wiri di berbagai rumah sakit untuk seorang pasien yang menurut Nazaruddin, sakti. Sampai-sampai begitu banyak dokter ikutan konferensi pers bareng KPK menjelang tengah malam, ketika tersangka bernama Setya Novanto diantarkan ke Kuningan.

Hey, kalau dokter-dokter pada konferensi pers, lantas siapa yang menangani pasien? Tentu saja dokter jaga.

adult doctor girl healthcare

Photo by Pixabay on Pexels.com

Dokter adalah salah satu dari sekian banyak tenaga kesehatan. Sebagai pemilik gelar Apoteker yang kerjanya sekadar fotokopi berkas dan sesekali antar surat ke kantor pemerintah, saya begitu mencermati soal profesi tenaga kesehatan ini sejak lama.

Terkadang saya bersyukur nggak ikut-ikutan jadi tenaga kesehatan beneran di pelayanan. Sebab, setelah saya pikir-pikir, kok ya tenaga kesehatan lama-lama malah menjadi jenis pekerjaan yang tidak sehat.

Gambaran Tugas Tenaga Kesehatan

Gambaran sepelenya saya peroleh dari istri saya yang sering melaporkan bahwa ia baru makan siang pada pukul 4 sore, karena begitu sibuk dengan pekerjaannya sebagai Farmasis Klinis di rumah sakit. Keadaan itu bahkan dialami kala dia hamil.

Sebagai suami milenial nan budiman, saya semula selow saja, karena itu mungkin sudah risiko dari sebuah profesi. Tapi dipikir-pikir kok ya ngenes juga. Misinya menyembuhkan pasien, tapi gaya hidup sehari-hari malah bikin tubuh sendiri menjadi sakit.

Ini belum lagi soal dokter-dokter yang praktik sampai larut malam bahkan jelang pagi, lantas paginya sudah harus on lagi. Mereka beristirahat hanya 3-4 jam dan sisanya bekerja. Boro-boro olahraga.

Maka, ketika seorang dokter yang buncit maksimal menyampaikan pesan agar saya banyak-banyak berolahraga, tetiba saya ingin balik bertanya, “Kapan terakhir kali Pak Dokter berolahraga?

Saya juga pernah bertemu dengan dokter anestesi yang bahkan lupa kapan terakhir kali dia tidur selama 8 jam. Saking tidak pernahnya.

Pak Dokter yang menembak istrinya beberapa waktu lalu, diketahui mengonsumsi obat penenang. Percayalah, ada lho dokter yang hidupnya tertekan, karena rasio pasien yang tidak terselamatkan cukup besar.

Ya, hidup sebagai dokter atau tenaga kesehatan pada umumnya itu memang butuh ‘penenang’, karena besarnya tekanan yang dihadapi.

Lain dokter, lain apoteker, lain juga perawat. Ini lebih parah lagi. Pasien-pasien itu kebanyakan masih gak enakan kalau marah sama dokter. Lantas kalau ada apa-apa, marahnya sama siapa? Perawat.

Perawat ini juga setali tiga uang. Hidup mereka dibolak-balik waktunya, karena bagaimanapun harus ada yang menjaga pasien pada tengah malam. Sebagai tenaga kesehatan mereka jelas tahu bahwa hidup dibolak-balik begitu sebenarnya juga nggak baik.

Kadang, saking sibuknya mengurus pasien, mereka juga luput untuk makan, sementara begitu sampai di ranjang pasien selalu bertanya, “Makanannya kok nggak dihabiskan?”

Itu tadi baru sekilas mengenai risiko untuk diri sendiri. Sekarang mari kita pindah ke Meikarta pola bisnis kesehatan.

Bisnis Kesehatan dan Balada Tenaga Kesehatan

Bisnis kesehatan, terutama rumah sakit, adalah bisnis yang menurut saya paling unik. Bagaimanapun orang yang sedang sakit membutuhkan tindakan, baik untuk penyembuhan penyakit, pengendalian penyakit, dan lain-lain.

Nah, segala kegiatan itu jelas-jelas membutuhkan biaya. Pasien dirawat di rumah sakit tentu harus tidur di ranjang yang mesti dibeli – nggak bisa rental, lu kate Play Station – terus diterangi lampu yang listriknya harus dibayar dan tarif dasarnya terus naik.

Terlebih, harus pakai alat canggih kayak yang dipakai Setya Novanto yang juga kudu dibeli dari luar negeri. Kemudian dirawat oleh tenaga kesehatan yang harus digaji, mendapat obat yang harus dibeli dari pabrik, dan sederet komponen lain.

Itu tentunya dibebankan kepada pasien maupun lewat penanggungnya, baik asuransi maupun jaminan kesehatan pemerintah.

Selain itu, bisnis rumah sakit ini juga merupakan jenis layanan yang secara psikologis berbeda dengan layanan publik lain, seperti bikin KTP atau buka rekening bank.

Kalau tembok kelurahan paling menampung pisuhan orang-orang yang dipermainkan birokrasi atau diperalat kekasih, tembok di rumah sakit adalah penampung doa paling banyak karena ada banyak suasana batin.

Mulai dari rasa bahagia seiring kelahiran anak, perasaan was-was karena kondisi orang tua atau sanak-saudara yang dirawat belum pulih, bahkan kesedihan begitu ada yang meninggal dunia.

Rasanya hanya rumah sakit yang berani memasang poster ‘Hormati Staf Kami’ dalam standar layanannya. Kita tidak akan menemukannya di pelayanan lain, seperti mengurus izin hingga SIM. Kalau SIM, kita sih sudah serta-merta ‘Hormati Pak Polisi’ tanpa disuruh.

Kondisi psikologis yang sedang buruk dan asa yang tinggi pada layanan tersebut adalah latar belakang paling pas bagi pasien, keluarga pasien, maupun LSM untuk sekadar marah-marah kepada para pekerja kesehatan tanpa pandang bulu.

Seorang perawat bernama Tova Kararo di Israel dibakar hidup-hidup sama pasien yang tidak puas. Di Jepang, Satoru Nomura memerintahkan Yoshinobu Nakata untuk membunuh seorang perawat dengan alasan kesal karena operasi plastik gagal.

Di Indonesia, persekusi terhadap tenaga kesehatan juga pelan-pelan menjadi hal yang sama biasanya dengan ngupil. Kan ngeri.

Perawat, dokter jaga, dokter spesialis, apoteker, dan sederet komponen yang bahu-membahu di rumah sakit itu ibarat bidak-bidak catur yang melawan penyakit pasien.

Dalam catur, mereka bisa menang, bisa juga kalah. Sudah menjadi konsekuensi kalau ada tenaga kesehatan yang dipersekusi oleh LSM.

Bahwa ada pasien yang gawat dan kudu dirawat, ya benar. Sebagai manusia, para tenaga kesehatan itu juga pasti berpikir. Maka, nggak perlu kita mempersekusi dengan bilang, “Ini nyawa orang, lho!”

Nyatanya, setiap kali ada nyawa yang diselamatkan, memangnya ada yang mengucapkan terima kasih kepada semua tenaga kesehatan yang terlibat?

Para tenaga kesehatan itu juga manusia, punya rasa punya hati jangan samakan dengan pisau belati, yang pasti juga paham soal kemanusiaan. Namun, pada sisi yang sama, mereka juga kudu tunduk pada prosedur di tempat mereka bekerja.

Jangan salah, para tenaga kesehatan itu juga kepikiran begitu tren pasien-pasiennya yang meninggal meningkat. Mereka juga bertanya, “Aku ini salah apa?”

Maka, sekali lagi, jangan heran kalau ada segelintir tenaga kesehatan yang mengonsumsi obat anti-depresan, semata-mata biar nggak depresi dengan pilihan hidupnya. Jangan salah juga, dalam era BPJS saat ini, para tenaga kesehatan begitu sering berhadapan dengan dilema kemanusiaan versus aturan-aturan. Dan, masih banyak lagi dilema-dilema lainnya.

Begitulah, menjadi tenaga kesehatan nyatanya tidak sehat-sehat amat, kadang lebih banyak makan hati. Namun, bagaimanapun juga, kudu ada manusia yang jadi tenaga kesehatan.

Jangan lupa, belum lama ini kita disuguhi pemandangan tentang bapak-bapak tajir yang masuk rumah sakit dengan penyakit vertigo, pengapuran jantung, tumor, benjol segede bakpao, kemudian disembuhkan secara luar biasa.

Oleh siapa? Tenaga kesehatan, dong! Menurut ngana?!

Belajar Cinta Dari Ade Irma Suryani

Screenshot_1804

Dimuat di Mojok, tanggal 13 Juli 2016, sebelum Mojok shutdown dan kemudian malah jadi tambah besar.

Perkara belajar cinta itu kiranya sungguh perkara abadi, bahkan jauh lebih abadi daripada usia para penyebar hoax jika dijumlahkan sekalipun. Di Indonesia, kita mengenal band bernama Armada sebagai penegas bahwa cinta itu buta.

Biarlah orang berkata apa
Manusia tiada yang sempurna
Ku terima kau apa adanya
Yang penting aku bahagia

Bahkan, Sang Raja Partai Idaman Dangdut juga melantunkan cinta buta dengan merdunya. “Bila sudah jatuh cinta, semuanya jadi indah,” begitu katanya dalam lagu Cinta Buta, “memang cinta itu buta”.

Bahwa sekarang kita menemukan banyak sekali fakta uang akan sangat mempengaruhi cinta, tapi itu tidak menghapus fakta lain betapa cinta kadang-kadang bisa membuat orang berpikir anti mainstream. Dulu kita tahu pernah terdapat seorang pria. Ia adalah seorang suami dari artis wanita yang kariernya sedang menjulang di dunia infotainment.

Suatu ketika, video hubungan seks antara sang artis wanita dengan seorang vokalis band terkenal beredar luas. Indonesia terguncang. Hal tersebut bahkan sempat menjadi isu nasional selama berbulan-bulan. Luar biasanya, sang suami tidak serta merta meninggalkan istrinya itu. Logika umum, sudah jelas-jelas selingkuh, sudah terang benderang melakukan perkenthuan dengan orang lain di luar koridor pernikahan, mestinya tinggalkan saja!

Nyatanya? Tidak. Sampai beberapa waktu kemudian mereka masih bersama.

Kisah-kisah semacam itu, menurut saya, lebih memperlihatkan cinta sebagai bentuk utuhnya ketimbang cerita menawan semacam di novel. Bahkan untuk menulis novel dengan kisah suami setia–meski istrinya kedapatan terlibat dalam diskusi ‘mau keluar di mana’ dengan lelaki lain di mana semuanya terekam video–perlu keberanian tersendiri. Keberanian yang mungkin hanya mampu dikalahkan oleh nyali Kak Jonru yang konsisten dalam mem-posting hal-hal tentang Presiden tanpa takut dicokok aparat.

Beberapa hari belakangan ini, kisah belajar cinta yang istimewa seperti itu rupanya masih ada, bahkan jauh lebih dramatis: Seorang ibu muda bernama Ade Irma Suryani membawakan sehelai gamis untuk dipakai suami melarikan diri dari penjara. Lokasi tepatnya: Dari Rumah Tahanan (Rutan) Salemba. Tak jauh dari kantor PKI yang tempo hari dikoar-koarkan Kivlan Zein.

Seorang istri membantu suami kabur dari penjara? Tampak biasa. Sama biasanya dengan Inter Milan atau Manchester United saat terdampar di luar zona Champions. Biasa banget. Yang membuat cerita tersebut menjadi kisah cinta yang begitu heroik adalah: Sang suami tersandung kasus perkosaan dan pembunuhan terhadap gadis di bawah umur. Lebih dahsyat lagi: gadis di bawah umur tersebut adalah keponakan sang istri.

Jika kita bandingkan, kisah selingkuh artis tadi seperti sampah daur ulang.

Bayangkan, sang suami kedapatan memperkosa gadis lain saja sudah menjadi poin yang tepat untuk menganggapnya bajingan dan kemudian melepasnya dari kelanjutan hidup. Kian berat dan menjijikkan ketika gadis yang diperkosa si suami bejat tadi adalah keponakan sang istri sendiri. Bahkan jika tak menyeretkan unsur pemerkosaan, membunuh seorang keponakan semestinya sudah menjadi bukti jelas bahwa sang suami tiada layak dicintai.

belajar-cinta

Photo by Josh Willink on Pexels.com

Namun, Ade Irma Suryani tampaknya begitu mencintai suaminya hingga dia menihilkan fakta bahwa (1) suaminya telah membunuh orang, (2) yang adalah keponakannya sendiri, (3) setelah sebelumnya memperkosa gadis di bawah umur itu.

Bagi Ade, semua fakta itu nisbi belaka. Dia tetap mengunjungi suaminya itu saat lebaran, persis ketika daerah Percetakan Negara tempat Rutan Salemba berada sedang sepi-sepinya. Lebih lanjut lagi, dia membantu pelarian suaminya, bahkan meninggalkan KTP-nya di pos jaga Rutan Salemba.

Kalau Anda baca di berbagai media, pasangan absurd tersebut naik bajaj sampai Tanah Abang dan kemudian berpisah begitu saja. Jakarta jelas sedang tidak macet hari itu dan sangat mudah bagi sang istri untuk kembali mengambil kembali KTP-nya jika ia mau. Tetapi cinta mengaburkan itu semua.

Ngomong-ngomong, bagi yang sering makan siang di sekitar Rutan Salemba, atau sering naik angkot 35 seperti saya, pasti (pernah) tahu perihal ketatnya penjara satu ini dari obrolan ibu-ibu yang sehabis datang mengunjungi anak atau suaminya di dalam situ. Secara luar biasa, Ade Irma Suryani melewati itu semua.

Banyak jomblo naas di muka bumi ini kehilangan cinta karena egosime pasangannya masing-masing. Hanya karena tidak dijemput, lantas minta putus. Begitu diiyakan, nangis-nangis setengah mati pengen balikan. Hanya karena ditinggal main Pokemon Go sebentar buat nyari telur 10 kilometer dari rumah, lantas minta bubaran. Aktivitas-aktivitas remeh itu berhasil membuat sebuah komitmen melemah dan bubar begitu saja.

Saya pernah diputuskan hanya karena menyuruh dan mengantar (mantan) pacar yang lagi sesak napas untuk pulang saja–karena malam begitu dingin–dan lupa tidak membelikannya makan malam.

Logika ilmiah saya sebagai calon apoteker ketika itu adalah dinginnya udara malam dapat memicu bronkokonstriksi. Maka bukankah lebih baik jika dia pulang dan mendekam di balik kehangatan selimut daripada lantas sesak napas nggak karuan? Bagi saya, sikap saya tersebut merupakan logika perlindungan.

Jika kesalahan saya hendak diperbandingkan dengan yang lain, tentunya jelas bahwa ‘tidak membelikan makan malam’ itu jauh lebih baik daripada ‘membunuh dan memperkosa keponakan’. Nyatanya saya diputuskan, dan si Anwar, si bangsat tukang pemerkosa dan pembunuh itu, justru dibantu kabur dari penjara, OLEH ISTRINYA!

Hidup memang sering terasa tidak adil. Ada orang yang setiap hari diisi dengan menghina Presiden tapi tidak ditangkap, sementara di sisi lain hanya mengirimkan SMS ke kepala daerah lantas tiba-tiba dicokok. Ada orang yang setiap kali menyebar hoax ditanggapi dengan bahagia dan share ribuan kali. Sementara saya yang setengah mati membuat tulisan klarifikasi beras palsu dengan data yang sangat lengkap malah tidak ada yang membagikan.

Hidup kadang pedih, cinta kadang buta, apalagi belajar cinta.

Maka, kawan-kawan jomblo se-Indonesia Raya, bawalah kisah Ade Irma Suryani ke dalam pencarian kalian akan jodoh masing-masing. Nggak peduli situ cowok apa cewek, tapi belajar memaafkan dan menihilkan kesalahan pasangan seperti yang dilakukan oleh Ade Irma Suryani adalah sikap yang sudah sangat langka di era di mana berbagi kabar hoax lebih membahagiakan daripada membincang fakta ilmiah.

Sungguh, kita–dan saya yakin Ade Irma Suryani–sama-sama memahami bahwa membantu seseorang keluar dari penjara itu adalah sikap yang jelas-jelas salah. Namun, siapa yang sudi untuk mengerti bahwa yang dilakukan Ade adalah sesuatu yang disebut cinta seutuhnya?

Lihatlah wajah Anwar di segala media mainstream dan bandingkan dengan wajahmu. Cakep mana? Cakep kamu, kan? Tetapi Anwar keparat itu punya orang yang mencintainya hingga penuh seluruh, lha kamu? Sukurin.

Tentu kesalahan Ade Irma Suryani bukan untuk kita tiru, tapi mari belajar tentang cinta darinya. Komentar-komentar di media mainstream begitu menyalahkan dan menggoblok-goblokkan dia yang tidak meninggalkan suami bejatnya itu, tetapi malah membantu suaminya kabur, plus menceburkan dirinya sendiri dalam masalah.

Dari perspektif cinta, Ade Irma Suryani tidak salah. Dia membela cintanya tanpa syarat, sekalipun ribuan argumen moral dan hukum tetap akan mendakwanya salah. Dalam perspektif saya yang belum kawin ini, segala yang dilakukan oleh Ade Irma Suryani hanya mungkin bisa ditafsirkan dalam naungan cinta. Persis seperti kata Auliq Ice.

“Love is not blind but it leads to blindness”

Percaya Telur Palsu Sama Saja Tidak Percaya Tuhan

Screenshot_1802

Tulisan saya di Mojok (18 Maret 2018) – Hobi kok sama hoax. Hoax jadul lagi. Ini bukan ngomongin G 30 S, ini merujuk pada hoax telur palsu.

Sebagai bapak muda, seharusnya saya memiliki optimisme pada negeri ini. Mau tak mau harus kudu demikian. Agar setidaknya saya bisa membayangkan, kelak ketika saya sudah menjadi lansia yang antre obat hipertensi dengan fasilitas BPJS Kesehatan, anak saya akan menemukan Indonesia yang jaya, gemah ripah loh jinawi, dan sifat-sifat baik lainnya.

Namun, begitu melihat isi Facebook dan menemukan ratusan ribu orang menaruh komentar “#2” dalam pesan “ketik #2, maka air akan surut” pada gambar mbak-mbak sedang berendam, pesimisme pada bangsa ini mekar kembali.

Selain urusan otak ngeres, salah satu alasan untuk pesimistis adalah begitu banyaknya orang yang menjadi penghobi hoax. Hoax politik mungkin lama-lama terasa biasa, tetapi yang bikin linu, banyak orang percaya pada hoax soal makanan.

Yang terbaru, tentu saja, hoax tentang telur palsu.

Hoax telur palsu ini sejatinya telah muncul beberapa tahun silam. Kala itu beredar broadcast message soal telur palsu yang dijual separuh harga di dalam KRL Jabodetabek—waktu itu masih berstatus kereta ekonomi.

Oke, mari kita bayangkan. Ketika hoax itu muncul, berjualan di dalam KRL Jabodetabek masih diperbolehkan. Pada era Ignasius Jonan, KRL Jabodetabek direvitalisasi sehingga jangankan jualan, mau berdiri dengan baik dan benar saja susah banget. Pak Jonan sudah beralih dari sekadar bos PT Kereta Api Indonesia menjadi Menteri Perhubungan, sudah dicopot lantas dilantik lagi jadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, eh hoax lawas soal telur palsu muncul lagi.

Hobi bener ya mengulang-ulang hoax.

Sepuluh tahun silam juga sempat ramai soal telur palsu yang katanya ditandai dengan adanya garis hitam serta bagian kuning yang tampak tidak bulat sesudah direbus. Nyatanya, kemudian diketahui bahwa itu telur afkir alias telur tidak layak tetas, yang kemudian digembar-gemborkan sebagai telur palsu.

Tahun 2018, isu telur palsu mengemuka kembali setelah viral video tangan seorang ibu yang memecahkan telur, lantas memegang bagian kuning telur dan bagian itu tidak mudah pecah. Serta, katanya lagi, di bagian kulit ada lapisan mirip kertas.

Model hoax bikin video dengan penjelasan bak pakar macam ini memang kerap terjadi. Sebelumnya, ajang berbagi kebodohan ditandai dengan munculnya video biskuit tipis dan gorengan yang menyala kala dibakar. Yha, gundulmu juga juga bakal menyala kalau dibakar. Apa berarti otakmu terbuat dari plastik?

Bicara yang palsu-palsu boleh-boleh saja. Masih ada pekerjaan rumah tentang obat palsu, lukisan palsu, hingga nabi palsu. Kalau ada obat palsu, wajar dipermasalahkan. Obat kan buatan manusia, jadi memang dimungkinkan kalau ada manusia yang membuat edisi palsunya. Motifnya untuk mencari profit, jelas. Ada selisih biaya dan kualitas yang bisa dimainkan sebagai cara memperoleh keuntungan dengan tidak wajar. Untuk itulah pemalsu obat ini harus ditangkap-tangkapi.

Lha, sekarang kita berbicara telur palsu dan begitu banyak yang percaya. Termasuk embel-embel konspirasi asing untuk menghabisi penduduk Indonesia. Menyimak dunia maya bergolak soal telur palsu, saya sungguh izin mengelus dada tetangga.

Telur oleh berbagai jurnal disebut sebagai sebuah paket unik yang didesain sebagai bagian tidak terpisahkan dari sistem reproduksi. Ingat, ada kehidupan di dalam sebuah telur.

Lebih spesifik lagi, mari membincang kulit telur. Si kulit telur ini memiliki fungsi melindungi embrio dari gangguan yang sifatnya mekanis maupun dari bakteri atau virus. Penelitian soal kulit telur ini sudah dilakukan sejak tahun 1881-1882. Pada saat itu, di nusantara lagi ramai Perang Aceh.

Menurut Burley dan Vadehra dalam bukunya The Avian Egg: Chemistry and Biology, analisis kimia menunjukkan bahwa kulit telur tersusun dari 97% kalsium karbonat. Proporsi jumlah kalsium pada kulit telur ini juga menjadi keajaiban tersendiri karena menurut perhitungan matematis, jumlah kalsium dalam tubuh induk unggas tidak akan sebanding untuk menjelma jadi sekian banyak kulit telur.

Gambarannya, volume darah untuk unggas berbobot 1,5 kilogram adalah 75 mililiter. Konsentrasi alias kandungan maksimal kalsium dalam darah adalah 30 miligram per 100 mililiter sehingga kandungan kalsium dalam tubuh unggas petelur hanyalah 25 miligram. Padahal, dalam kulit dari telur yang bobotnya 60 gram, terkandung sekitar 2,3 gram kalsium. Bingung toh? Sudah sana cari jurnalnya di Google Scholar. Ada, kok. Jangan baca hoax melulu di Google.

Pembentukan kulit sendiri merupakan proses paling panjang dalam terbentuknya suatu telur, sekaligus bukti keterlibatan Tuhan yang luar biasa. Makanya kulit telur selalu mulus tanpa bekas las. Nggak pernah kan lihat ada telur yang kulitnya seperti bungkus Kinder Joy?

Pada intinya, kompleksitas kulit telur saja sudah menggambarkan betapa sangat membingungkannya struktur sebuah telur. Maka jangan heran kalau urusan telur ini sebenarnya adalah wujud nyata campur tangan Tuhan dalam kehidupan di dunia.

Pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana mungkin membuat sesuatu yang palsu di balik kulit telur yang notabene merupakan mahakarya Yang Maka Kuasa itu? Concern-nya sama persis dengan pernyataan beberapa ahli yang beredar belakangan, “Sampai detik ini belum ada teknologi manusia yang dapat membuat kulit telur ayam dan isinya.”

Lho, tapi berita-berita di website dan video-video di YouTube jelas-jelas memperlihatkan pembuatan telur palsu!

Menyoal itu, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian Syamsul Maarif di media menyebut bahwa “Secara akal sehat, telur palsu akan jauh lebih mahal dari aslinya”.

Hitung-hitungan bodoh dengan memakai data bahwa dalam 1 telur terkandung 2,3 gram kalsium, maka 1 kilogram kalsium karbonat hanya akan menghasilkan 434 telur saja. Ambil patokan harga 1 kilogram kalsium karbonat adalah 13 dolar AS alias sekitar 180 ribu, maka biaya kalsium karbonat saja per telur adalah 410 rupiah.

Itu baru kulitnya doang, padahal kulit hanya menyumbang 4 persen bobot telur. Belum menghitung biaya untuk membuat isinya—yang 96% lagi, apalagi menghitung biaya impor dari luar negeri sebagaimana prasangka buruk para netizen nan selalu benar yang beredar selama ini.

Memangnya semua biaya itu cocok dengan harga telur yang jika sebijinya sampai-1.500-rupiah-sudah-dibilang-mahal-itu? Secara akal sehat, masih lebih baik memaksa ayam-ayam petelur se-Indonesia untuk menetaskan telur alih-alih nyari yang palsu, apalagi nyari ke asing-aseng.

Maka ada lagi netizen bersabda: ini bukan soal untung rugi! Ini soal bagaimana asing-aseng merusak bangsa Indonesia!

Ah, Kepala Satgas Pangan Irjen Pol. Setyo Wasisto menyebut bahwa konsumsi telur per orang di Indonesia hanya 10,44 kilogram per tahun. Dengan asumsi 1 kilogram berisi 16 butir, kira-kira itu setara dengan 13 butir per bulan. Dari 90 kali kesempatan makan dalam sebulan, anggaplah 13 butir itu dimakan dalam 13 kali kesempatan makan, maka proporsinya hanya 14%. Entahlah, bagaimana konsumsi telur sejarang itu bisa dianggap merusak bangsa.

Bahwa ada telur palsu dalam kapasitas sebagai produk untuk display di restoran dan keperluan promosi lainnya, itu jelas ada. Wong untuk mainan anak-anak juga ada. Namun, kalau telur palsu yang ditujukan untuk membunuhi penduduk Indonesia? Duh, Dek, katanya beragama, tapi kok masih meragukan keajaiban Tuhan dalam wujud telur, sih?

Salah satu situs web di dunia yang dipercaya sebagai tempat mencari tahu kebenaran atas hoax yang beredar adalah Hoax Slayer. Soal telur palsu ini, Hoax Slayer memiliki hipotesis bahwa rumor soal telur palsu kemungkinan bermula dari berita yang dipublikasikan di Xinhua pada 28 Desember 2004.

Berita itulah yang memuat soal bahan-bahan berupa kalsium karbonat, starch, resin, gelatin, dll., dan tambah mengemuka sejak dimuat di consumerist.com pada bulan Mei 2007 dengan menyebut acuan Internet Journal of Toxicology. Publikasi ini sepintas tampak ilmiah, meski judulnya lantas bikin dahi berkerut karena nggak jurnal-banget: “Faked Eggs: The World’s Most Unbelieveable Invention”. Belakangan diketahui bahwa jurnal itu sebenarnya telah diakui sebagai kesalahan publikasi dan telah diturunkan, meski dengan pengaturan tertentu kita masih bisa googling demi membaca publikasi yang bikin dahi berkerut karena tidak ilmiah sama sekali itu.

Yeah, di luar negeri hoax ini sudah ada tahun 2007, di negeri kita juga sempat mengemuka tahun 2008, tapi tahun 2018 kita menghebohkan lagi hal yang telah dihebohkan belasan tahun lalu. Pantaslah jika kita sering ketinggalan gerbong dari negara lain. Jangankah soal update teknologi, soal hoax saja kita masih memakai hoax 11 tahun yang lalu, lho!

7 Post Instagram dari 7 Media Paling Kece Pasca Debat Pilpres 2019 Kedua

debat-pilpres-2019

Saya agak trenyuh melihat capaian WordAds bulan lalu. Separo dari bulan-bulan sebelumnya yang sudah sedikit itu. Kemungkinan ya karena saya jarang posting. Maklum, sok sibuk. Ah, jadi mulai sekarang tulisan-tulisan maupun ide-ide yang batal, mau saya masukkan kesini saja ya. Minimal biar ada isinya. Heuheu. Khusus post ini, saya hanya hendak merepost 7 postingan di Instagram dari 7 media yang dikenal kadang-kadang kampret dan kadang-kadang cebong tapi seringnya netral, pasca debat Pilpres 2019 kemarin.

Kuy~

Mojok

debat-pilpres-mojok

Republika

debat-pilpres-republika

Liputan 6 Menyajikan Debat Pilpres 2019

debat-pilpres-liputan-6

Tirto

debat-pilpres-tirto

Detik

debat-pilpres-detik

Kompas Menyajikan Statement Prabowo pada Debat Pilpres 2019 Kedua

Screenshot_1782

Kumparan Menyajikan Infografis Paling Meaningful dari Debat Pilpres 2019

Screenshot_1781

Nanti yang Debat Pilpres versi Cawapres pasti bakal seru, yha~

8 Kiat Sukses Lolos Seleksi Substansi LGD LPDP

Rekor, Perpanjang SIM di Mal Pelayanan Publik Hanya 16 Menit Saja!

Sesudah lolos seleksi administrasi dan seleksi berbasis komputer maka hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah seleksi substansi. Dalam seleksi substansi itu sebenarnya ada 3 bagian besar. Akan tetapi, biar postingnya jadi banyak, ya saya pisahkan begini aja. Harap maklum, otak sudah susah dipakai mikir~

Tiga bagian besar yang saya maksud adalah verifikasi berkas, Leaderless Group Discussion (LGD), dan wawancara. Postingan ini khusus membahas LGD. Soalnya, bagian ini yang termasuk paling banyak dicari di Google. Entah kalau di Geevv.

1. Pahami LGD LPDP

Bagian pertama, kita kudu pahami teknis LGD LPDP ini. Dalam seleksi ini, kita akan ditempatkan sekitar 10 orang (plus minus) dalam 1 kelompok diskusi. Topik hanya diberikan sesaat sesudah masuk ruangan, dan boleh baca 5 menit.

Image result for 5 minutes gif

Oya, bonus kertas corat-coret juga, deh. Biasanya, pada soal, diberikan juga peran-peran yang dibutuhkan. Jadi, dalam LGD, kita akan berperan jadi seseorang/sesuatu, misal perwakilan pemerintah, perwakilan pelaku usaha, dll.

Nah, selanjutnya dalam 30 menit diskusi akan berjalan tanpa dibuka oleh 2 panitia merangkap penilai di dalam ruangan. Tinggal kreasi peserta dalam 30 menit yang menjadi koentji~

2. Pahami Konsep Dasar Tes LGD Yang Baik

Saya sudah menghitung bahwa dalam 30 menit itu, waktu ideal untuk ngomong adalah 1,5 menit (saja!). Dengan durasi ini, setiap orang bisa mengutarakan pendapatnya 2 kali dalam 1 sesi LGD. Kalau sudah melenceng, pastilah ada yang dirugikan. Itu pasti.

Kemudian, pastikan peran-peran yang ada di soal itu dibagi rata. Inilah seninya, gimana membagi rata peran itu dengan baik sedangkan kenalan saja belum. Heuheu~

Screenshot_1775

Kemudian, pastikan bahwa jawaban kita tidak menggantung tanpa kesimpulan karena itu akan mempersulit peran lain yang mau nyamber sesudah kita. Jangan juga bikin pendapat yang nyeleneh sehingga common sense orang lain terganggu. Ingat, disini kita bukan debat atas nama cebong kampret, kita hanya ingin lolos beasiswa. Continue reading