Cara Terbaik Mencintai Lambung

Halodoc

Cara Terbaik Mencintai Lambung – Sebagaimana seluruh bagian tubuh, lambung memiliki fungsi yang spesifik dan tiada tergantikan oleh bagian lain. Lambung sendiri berperan untuk menyimpan serta memecah makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh. Mengingat peran penting itu, sudah tentu kesehatan lambung wajib dijaga.

Apabila tidak terjaga dengan baik, akan muncul sejumlah penyakit lambung yang tentu saja nggak enak. Kalau gatal, masih kelihatan dari luar. Proses sembuh atau tidaknya kelihatan. Kalau lambung? Cuma ada rasanya saja, bentuknya tidak terlihat.

Salah satu hal yang sering kita alami dalam kaitannya dengan lambung adalah naiknya asam lambung. Asam yang biasanya ada di lambung dapat naik dengan bebas ke kerongkongan untuk kemudian memicu rasa panas, nyeri dada, sampai kemudian mulut yang asam, mual, muntah, atau yang cukup kentara dan khas bapack-bapack 30-an: sendawa terus menerus~

Faktor Risiko dan Penyebab Penyakit Asam Lambung

Ada sejumlah hal yang menjadi faktor risiko dan penyebab dari penyakit asam lambung. Pada faktor-faktor risiko ini, ada kencenderungan otot pengunci tadi yang bernama lower esophageal sphincter (LES) melemah, yakni obesitas, usia lanjut, dan hamil. Ya, tiga kondisi ini memang khusus. Kalau usia lanjut, ya sebagaimana barang-barang sekalipun kalau organ tubuh dipakai terus-menerus tentu ada capeknya dan ada rusaknya. Kalau hamil, hal itu terkait kondisi tubuh yang memang berbeda dengan kondisi normal. Demikian pula pada obesitas, karena tanggung jawab dan beban hidup yang ditanggung oleh tubuh juga lebih besar.

Pada obesitas sudah tentu kaitannya merupakan faktor kelebihan berat badan. Selain itu, ada beberapa penyebab lain yang tidak hanya ada pada orang-orang yang obesitas saja, yang kurus juga bisa. Pertama, konsumsi makanan berkadar lemak tinggi yang terlalu banyak. Kedua, konsumsi kopi, miras, maupun rokok dan cokelat yang terlalu banyak. Tentu saja ini merupakan peringatan bagi anak senja. Salah-salah jadinya bukan ‘kopi-senja-puisi-kenangan’ tapi malah jadi ‘kopi-senja-asam lambung’.

Kan ambyar, yha~

Sebenarnya, ada sejumlah pendekatan yang bisa dilakukan dalam menyiasati asam lambung, terutama pertama-tama sebelum mengonsumsi obat. Pendekatan paling utama tentu pengaturan pola makan.

Makan Tepat Waktu

Kalau teman-teman periksa ke dokter, berikut tenaga kesehatan yang menyertainya, nasehat ini klasik. Tapi ya dalam pengalaman saya sebagai apoteker KW, makan tepat waktu di fasilitas kesehatan itu agak merupakan nasehat untuk pasien saja karena yang menasehati suka terlambat makan juga~

Perhatikan Porsi

Salah satu yang sering dilupakan oleh orang-orang dalam makan adalah porsi. Waktu masih mahasiswa mungkin nggak masalah karena lambungnya masih remaja dan masih kuat. Akan tetapi, kalau dipaksa ya capek juga lambungnya. Apalagi kalau sudah punya penyakit lambung, ketika makan dalam porsi lebih banyak dari biasanya dapat memicu refluks lambung.

Jangan Banyak-Banyak Air Putih Saat Makan

Kebanyakan minum pas makan berpotensi mencairkan asam lambung. Dampaknya kemudian adalah makanan yang masuk jadi lebih sukar untuk dicerna. Lebih lanjut lagi, kalau kebanyakan minum itu sebenarnya hanya mendorong makanan ke dalam lambung padahal belum dilumat sempurna oleh gigi. Artinya, lambung jadi berbeban lebih berat karena mendapatkan makanan yang belum cukup hancur oleh gigi.

Kadangkala, asam lambung naik ketika kita tidak siap dengan persediaan obat. Beda dengan istri yang memang sedang on therapy, saya sendiri hanya kadang-kadang bermasalah dengan pencernaan. Ketika suatu kali kena, tentu butuh obat dan saya tentu tidak bisa main ambil obatnya istri.

Lambung

Pada kondisi tersebut kita dapat memanfaatkan Halodoc. Untuk penyakit lambung ada begitu banyak artikel yang tersedia. Kalau masih ada pertanyaan, bisa chat dokter dengan dokter berpengalaman dan terverifikasi sehingga kita bisa memperoleh penjelasan dan saran medis yang akurat dapat dapat dipercaya.

Lebih lanjut lagi, ketika memang butuh terapi, kita bisa beli obat melalui Halodoc. Pada pengalaman saya, penggunaan Halodoc bukan hanya untuk beli obat lambung, tapi sering juga untuk vitamin anak yang hanya ada di apotek tertentu sehingga nggak ada di apotek dekat rumah. Kalau pakai Halodoc tinggal ketik di aplikasi lalu pesan kemudian bayar, kita tinggal menanti produknya tiba di depan pintu.

Seru kan?

Memutus Mata Rantai Anemia Demi Indonesia yang Lebih Sehat dan Kuat

Memutus Mata Rantai Anemia Demi Indonesia yang Lebih Sehat dan Kuat – Hasil Sensus Penduduk tahun 2020 dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Indonesia telah berada pada masa bonus demografi. Di Indonesia pada saat ini lebih banyak jumlah penduduk usia produktif dibandingkan anak-anak dan lansia. Sebanyak 70,72% penduduk Indonesia berusia 15-64 tahun. Jangan lupa pula bahwa 27,94% penduduk adalah Gen Z dan 10,88% Post Gen Z. Dua generasi inilah yang akan menjadi tulang punggung Indonesia di masa depan.

Generasi milenial? Mohon maaf, milenial tertua saja tahun depan sudah kepala empat. Justru generasi milenial memegang tanggung jawab untuk menciptakan Gen Z dan Post Gen Z yang lebih baik, antara lain dengan pengasuhan anak yang baik hingga penyediaan gizi yang prima.

Sejujurnya, kalau lagi ikut webinar dengan peserta orang-orang keren, saya cukup percaya pada bonus demografi. Akan tetapi, ada suatu masa ketika saya terjebak di tengah-tengah tawuran antar dua kelompok remaja—dan bahkan ada anak-anaknya—kok ya perasaan langsung nggak enak. Selain takut kesambit batu, tapi juga terbayang bahwa para pemuda-pemudi itulah yang akan menjadi masa depan negeri ini. Kok kelakuannya begitu?

Stunting

Kita sudah seringkali mendengar tentang stunting. Meski sekilas tidak terlihat korelasi stunting dengan masa depan negeri, tapi ternyata bukan hanya berhubungan melainkan punya pengaruh signifikan. Dari berbagai referensi diketahui bahwa pada kondisi stunting itu  terjadi gangguan proses pematangan neuron berikut terjadinya perubahan struktur dan fungsi otak yang pada akhirnya dapat menciptakan kerusakan permanen pada perkembangan kognitif.

Dampaknya kemudian? Tidak main-main karena yang terganggu adalah kemampuan berpikir dan belajar anak. Ujungnya mungkin ke prestasi, tapi kalau saya sih memandang bahwa berhenti pada gangguan kemampuan berpikir dan belajar saja tanpa harus memandang prestasi sudah merupakan masalah besar bagi negeri ini. Kalau mau ditarik menjadi kepentingan yang lebih besar adalah kalau anaknya sudah besar maka pengaruhnya pada produktivitas kerja dan ujungnya sekali adalah menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan tingkat kemiskinan.

Padahal, salah satu penyebab stunting tersebut ya karena kemiskinan juga. Jadinya kan kayak lingkaran setan. Lingkaran setan tersebut mirip dengan yang dipaparkan oleh Dr. dr. Diana Sunardi, MGizi, SpGK dari Indonesian Nutrition Association pada webinar ‘Peran Nutrisi dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi’ bahwa siklus stunting itu kurang lebih sebagai berikut:

Bicara gizi sebenarnya akan banyak sekali poinnya. Akan tetapi, pada post kali ini kita akan spesifik pada zat besi dan kaitannya dengan Anemia Defisiensi Besi yang memang presentase kejadiannya terbilang cukup tinggi di Indonesia.

Anemia Defisiensi Besi

Anemia sendiri secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi rendahnya kadar Hemoglobin dibandingkan dengan kadar normal. Hal ini menunjukkan kurangnya jumlah sel darah merah yang bersirkulasi. Jumlah sirkulasi itu dapat dilihat pada tabel klasifikasi. Angkanya tentu berbeda-beda sesuai kondisi masing-masing. Ibu hamil, misalnya, angka 11 sudah disebut non anemia. Pada kondisi seorang perempuan usia diatas 15 tahun tidak hamil, angka tersebut sudah masuk ke dalam anemia ringan. Bagaimanapun, kondisi-kondisi seperti masih anak-anak dengan rentang usia masing-masing, termasuk juga kehamilan, merupakan kondisi tubuh yang berbeda mekanismenya dengan tubuh normal pada umumnya.

Prevalensi anemia di Indonesia terbilang cukup tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyebut bahwa rentang prevalensi anemia paling kecil 15,1% yaitu pada orang berusia 25-34 tahun. Sedangkan pada usia 0-59 bulan serta lebih dari 75 tahun terbilang tinggi yakni 38,5% dan 42,3% sesuai dengan infografis berikut ini:

Kejadian anemia di Indonesia ini menjadi bagian dari permasalahan gizi di Indonesia. Sesuai bahan yang dipaparkan pada Webinar ‘Peran Nutrisi dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi’, bahwa permasalahan anemia pada ibu hamil serta remaja dan usia produktif memiliki korelasi dengan kejadian stunting di Indonesia yang mencapai 37,2%. Padahal, stunting itu terkait dengan gizi pada masa tumbuh kembang anak. Bagaimana dong nasib negeri ini ketika gizi para generasi penerus pada periode emas tumbuh kembangnya justru tidak terpenuhi?

Zat Besi dan Pertumbuhan Anak

Ada alasan utama ketika anemia menjadi salah satu parameter yang penting untuk selalu diukur pada Riskesdas. Zat besi, bersama dengan vitamin, protein, karbohidrat, mineral, dan kalsium menjadi elemen-elemen penting dalam pertumbuhan anak.

Hal yang menarik sebenarnya kebutuhan zat besi harian tubuh itu tidaklah banyak-banyak amat, hanya saja melihat prevalensi yang cukup besar berarti di Indonesia ada masalah dalam pemenuhannya. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Untuk Masyarakat di Indonesia, disebutkan bahwa kebutuhan kecukupan gizi untuk zat besi adalah sebagai berikut:

Nah, kalau kita fokus pada Anemia Defisiensi Besi, sebenarnya penyebab paling utama itu adalah dari asupan makanan. Sebagian kondisi memang terjadi karena infeksi atau penyakit kronis maupun penyebab lainnya, tetapi tetap yang paling mendasar adalah asupan makanan. Sudah menjadi semacam rahasia umum bahwa masalah asupan makanan itu memang merupakan kendala yang biasa terjadi. Paling utama tentu saja dominasi pangan nabati yang bermuara pada asupan energi dan protein yang rendah sehingga kemudian terjadi defisit energi, protein, dan mikronutrien.

Lebih lanjut, faktor-faktor asupan pada anemia defisiensi besi antara lain terkait dengan asupan yang rendah—terutama besi heme, asupan vitamin C yang juga rendah, konsumsi sumber fitat maupun tannin yang berlebihan, serta diet tidak seimbang. Itu secara umum ya. Kalau untuk anak-anak, lebih spesifik lagi yakni pemilih makanan (picky eater), asupan makanan yang tidak bervariasi, serta kondisi tertentu yang kemudian menyebabkan gangguan penyerapan maupun kekurangan asupan besi.

Jadi, wahai bapak dan ibu millennial, ketika anak hanya mau makanan yang itu-itu saja, kiranya kita perlu melakukan siasat dengan lebih gemilang. Saya paham bahwa itu akan sulit sekali. Bulan depan tepat setahun saya mengasuh anak secara full di rumah karena kondisi pandemi dan kebetulan saya bisa Work From Home (WFH) karena statusnya lagi kuliah. Persoalan makan ini memang pelik dan terancam bikin orangtua hipertensi karena anak susah betul makannya padahal orangtua sendiri lagi banyak kerjaan karena WFH.

Sulit, tapi ya memang harus dicarikan jalannya. Cara-cara absurd seperti makan nasi pakai selai buah kadang-kadang saya lakukan demi bisa menyelipkan kandungan-kandungan yang tidak dia sukai di sela-sela nasi agar gizi anak tetap terjaga. Tujuan utamanya kan agar anak tidak kekurangan zat gizi, termasuk juga tidak kekurangan zat besi dan berdampak pada anemia.

Penyerapan Zat Besi

Kita dapat membedakan zat besi menjadi heme dan non heme. Besi heme yang biasanya ada pada protein hewani masuk ke dalam tubuh lewat makanan sehingga masuk ke dalam pencernaan dan diubah menjadi asam amino dan heme. Heme ini kemudian dioksidasi menjadi hemin yang masuk ke dalam sel untuk kemudian mengalami oksigenase.

Di sisi lain, besi non heme dibantu penyerapannya oleh enzim duodenal cytochrome B alias cytochrome B reductase 1, komponen makanan, serta Vitamin C. Akan tetapi pada saat yang sama dihambat penyerapannya oleh fitat, polifenol, fosfat, hingga kalsium dan zinc. Fitat sendiri terkandung dalam sumber makanan nabati—yang kandungan lainnya tentu dibutuhkan juga oleh tubuh. Fitat juga seringkali disebut sebagai pencuri mineral. Demikianlah yang terjadi pada penyerapan zat besi.

Lho, sumber makanan nabati kan kita butuhkan? Ya memang. Itulah gunanya keseimbangan dalam menu makanan. Zat besi dapat kita peroleh dari beragam sumber sebagai berikut:

Adapun untuk sumber vitamin C tentu kita agak lebih mengenalnya. Dalam satuan mg/100gram, beberapa sumber vitamin C adalah paprika merah (190), jambu biji (108), cabe (84), kelengkeng (84), hingga mangga (41) dan jeruk (30-50).

Gejala dan Dampak Anemia

Gejala anemia dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Secara khusus pada ibu hamil akan tampak wajah terutama kelopak mata dan bibir yang pucat, berikut kurang nafsu makan, lesu dan lemah, cepat lelah, hingga sering pusing dan mata berkunang-kunang. Itu sebabnya pada AKG di atas ibu hamil disebut perlu tambahan zat besi terutama pada trimester 2 dan 3.

Anemia pada kehamilan bukanlah sesuatu yang dapat disepelekan. Anemia pada kehamilan dapat berdampak pada kejadian pre-eklamsia, infeksi, kelahiran prematur, gangguan fungsi jantung, gangguan pertumbuhan janin, hingga perdarahan pasca melahirkan.

Lebih lanjut pada anak-anak, gejala yang timbul kok ya semacam tidak asing ya. Jadi, mari kita para orang tua milenial untuk bertanya-tanya dengan kritis ketika anak rewel. Rewel itu pertanda nakal sehingga harus dimarahi atau justru karena kita kurang memberikan asupan zat besi kepadanya? Saat anak tampak tidak bisa berkonsentrasi, jangan-jangan juga karena dia anemia.  

Dampak jangka panjang anemia tidak ada yang baik. Daya tahan tubuh menurun, paralel dengan infeksi yang berpotensi meningkat. Di sisi lain, karena infeksi meningkat jadi mudah sakit dan muaranya adalah kebugaran turun, prestasi juga turun, apalagi kemudian kinerja, tentunya ikut turun. Hal inilah yang perlu kita antisipasi sejak dini.

Gizi Berimbang

Berdasarkan uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa yang utama adalah asupan gizi berimbang. Apabila asupan kita dan anak kita didominasi oleh sumber besi non heme—dan mengingat kita juga mengonsumsi sumber makanan yang mengandung fitat—maka pastikan ada unsur seperti vitamin C yang mampu meningkatkan penyerapan zat besi. Sumber-sumber gizi sudah dapat dicapai melalui fortifikasi makanan, baik pada tepung terigu/beras, biskuit, hingga susu.

Nah, bicara soal susu, saya tentu harus dengan bangga memperkenalkan anak saya sebagai Anak SGM besutan Danone Indonesia. Seperti saya ceritakan tadi bahwa sejak pandemi ini dia bersama saya di rumah. Sebelumnya, dia di daycare. Paling seru adalah kalau dapat laporan dari aunty di daycare bahwa susunya habis. Kalau sudah begini, maka saya akan memanggil ojol untuk delivery. Menariknya adalah toko tempat membeli susu itu hanya berselisih 3 ruko dengan daycare. Jadi, kayak suka disangka ngerjain driver padahal memang bener-bener beli susu pertumbuhan buat anak.

Danone Indonesia termasuk salah satu stakeholder di bidangnya yang menyadari bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami beban permasalahan nutrisi tiga rangkap alias selain gizi kurang tapi ada juga obesitas, anak dan remaja Indonesia cenderung mengalami defisiensi makronutrien.

Dalam beberapa tahun terakhir, Danone Indonesia telah melakukan sejumlah kegiatan dalam upaya mengatasi beban nutrisi tersebut seperti kampanye Isi Piringku yang mempromosikan konsumsi gizi seimbang dan gaya hidup sehat pada anak usia 4-6 tahun melalui guru dan orangtua yang sudah melibatkan lebih dari 4 ribu guru di 8 provinsi dengan sasaran lebih dari 40 ribu ibu dan siswa PAUD. Ada juga gerakan Ayo Minum Air (AMIR) untuk meningkatkan kebiasaan minum 8 gelas air per hari pada anak sekolah dan sudah melibatkan lebih dari 1 juta kader PKK untuk menyasar hampir sejuta siswa SD serta lebih dari sejuta siswa PAUD.

Hadir pula program pemberdayaan ibu-ibu kantin sekolah untuk menyediakan makanan ringan dan sehat bagi siswa. Sudah ada 234 agen Warung Anak Sehat aktif beserta 300 guru terlatih dan 6.000 ibu serta 27.000 anak yang terlibat. Sayangnya kantin sekolah lagi kosong karena pandemi. Semoga sesudah program vaksinasi COVID-19 dari pemerintah, Warung Anak Sehat dapat kembali aktif.

Dalam kerjasama kolaborasi dengan FK Universitas Indonesia dan Kementerian Desa dan PDTT, Danone Indonesia turut serta dapat penurunan angka stunting 4,3% dalam 6 bulan dengan perbaikan sistem rujukan bagi anak-anak gizi buruk dan penguatan peran fasiltias kesehatan serta prioritas intervensi gizi khusus untuk anak-anak yang berisiko tinggi mengalami stunting.

Sekali lagi perlu kita pahami bawa dampak gizi anak itu sangat krusial bagi kemajuan bangsa. Orang tua millennial terutama dari kelas menengah ke atas punya kemampuan untuk mendorong gizi terbaik tapi kadang terbentuk oleh ketidaktahuan dan rasa malas. Saya sendiri sebagai bapak millennial menengah ke bawah, ketika mempelajari tentang anemia untuk anak mulai menyadari juga bahwa masih ada hal-hal yang kurang tepat pada menu-menu yang saya berikan kepada anak. Oya, post ini pun saya tulis sambil menyiapkan makanan anak berikut mengawasinya untuk mencoba makan sendiri dan ya kalau sudah kadung malas terpaksa disuapi. Seru sih ya jadi orang tua millennial. Apalagi pada umumnya orang tua millennial yang sadar finansial juga sangat berpikir ulang untuk memberikan adik pada anaknya sehingga boleh jadi pengalaman membesarkan anak pada periode emas tumbuh kembang yang sedang dialami adalah pengalaman terakhir—karena memang nggak akan punya anak lagi.

Pengetahuan akan gizi yang baik dari orang tua, disertai upaya keras untuk memberikan gizi secara optimal adalah hal yang kelak akan mampu memutus mata rantai anemia dan ujungnya nanti adalah Indonesia yang lebih kuat dan jauh lebih sehat.

Jangan lupa selalu menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas ya. Saya ini ya juga sudah bosan level advanced di rumah saja sejak Maret 2020, tapi kan demi ikhtiar terbaik untuk keluarga dan anak, tetap harus dilakukan sampai pandemi COVID-19 segera berlalu.

Tabik.

Tetap Produktif Dengan Meja Makan Minimalis dari iCreate.id

Tetap Produktif Dengan Meja Makan Minamlis dari iCreate.id – Sejak pindah ke rumah nyicil milik sendiri, ada perbedaan mendasar yang saya alami. Bukan apa-apa, pas masih di kontrakan dan sembari menanti KPR lolos plus renovasi interior, saya ‘terpaksa’ menggunakan kursi makan bayi yang dimodifikasi untuk bekerja dengan laptop. Benar-benar meja makan minimalis, lebih tepatnya meja makan bayi. Wkwk.

Sumber: Facebook Ariesadhar

Nah, di rumah yang baru, ada sedikit permasalahan baru juga. Kami pindah ke rumah yang ukurannya separo dari kontrakan sebelumnya. Jadi, kalau dulu saya bekerja menggunakan meja makan minimalis di ruang tamu dan Mama Isto bekerja di kamar belakang, maka di rumah baru pengaturan jadi berbeda.

Pertama, kamar kedua posisinya sempit sekali dan hanya bisa untuk menaruh meja setrikaan mini milik kami berikut meja belajarnya Isto. Mama Isto kemudian bekerja di singgasananya di kamar. Terus saya gimana?

Yha, saya pada akhirnya tetap di ruang yang tersisa dan merupakan persatuan ruang tamu, ruang keluarga, hingga dapur. Saya tentu tidak bisa punya meja kerja sendiri, kecuali rumah kami segede rumah di sinetron yang walaupun gede-gede tapi banyak konflik itu. Pada intinya, saya butuh meja makan minimalis.

Meja makan minimalis itu kemudian akan berfungsi ganda yakni benar-benar untuk makan, tetapi juga dapat saya gunakan untuk produktif bekerja terutama di kala Work From Home (WFH). Apalagi di semester terakhir ini, ketika saya benar-benar harus lulus kuliah karena kalau sampai nggak lulus, nggak akan ada yang mau membiayai semester kelima~

Esensi Meja Makan di Masyarakat

Bicara meja makan baik yang minimalis maupun yang lebih kompleks, kita dapat kembali ke sebuah penelitian jauh sebelum Indonesia maupun Korea Selatan merdeka. Penelitian itu berjudul Family Table Talk–An Area for Sociological Study, yang paper-nya ditulis oleh James H. S. Bossard pada tahun 1943.

Meja Makan Adalah Tempat Keluarga Berada Pada Kondisi Paling Bersahaja

Kita mungkin akan berdandan kalau mau pergi ke luar rumah. Atau bahkan sisiran jika hendak tampil webinar sekalipun. Kalau ada tamu juga biasanya kita berganti pakaian jadi agak sopan sedikit. Menurut penelitian tersebut, peristiwa makan bersama keluarga di meja makan sebenarnya adalah kondisi paling bersahaja suatu keluarga. Ketika nggak berpikir soal dandan, sisiran, dll. Tinggal berdoa, makan, lalu bercerita satu sama lain.

Meja Makan Adalah Tempat Interaksi Keluarga

Ketika berkumpul di meja makan, biasanya keluarga akan makan terlebih dahulu sebelum kemudian mengakhiri dengan bercerita satu sama lain. Menurut Pak Bossard, interaksi di meja makan itu ternyata merupakan hal penting dapat perkembangan kepribadian seseorang.

Meja Makan Adalah Tempat Untuk Mewariskan Budaya

Masih menurut Pak Bossard, ternyata makan bersama di meja makan merupakan kegiatan yang efektif untuk mewariskan budaya. Budaya itu tidak perlu jauh-jauh, sih. Tapi hal-hal sederhana semacam berdoa sebelum makan, makan dengan tangan atau sendok atau lengkap sendok dan garpu, serta hal-hal lainnya.

Transformasi di Meja Makan

Berdasarkan penelitian Inohe Tadashi di Jepang pada tahun 1993 yang berjudul Changes in Family Relations Reflected in the Dining Table From the Perspective of “The Family Theater Theory”, urusan meja makan ini mengalami transformasi dalam 3 bentuk.

Meimeizen

Dalam konsep ini, setiap makanan disajikan dalam tray terpisah. Setiap anggota keluarga menerima tray atau hakozen, yaitu kotak dengan ukuran 30x30x20 cm yang di dalamnya terdapat set lengkap perlengkapan makan untuk satu orang. Saat digunakan, kotak ini menjadi meja kecil.

Chabudai

Pada metode ini ada yang namanya handai dan shippokudai. Chabudai sendiri merupakan kelompok kecil meja makan yang ditempatkan pada tatami, sebagaimana kita lihat di kartun Sinchan atau Doraemon.

Gaya Barat

Nah, di Jepang sendiri pada tahun 1993 sudah terjadi pula pengaruh budaya barat sehingga muncul meja dan kursi. Sederhananya ya seperti yang ada di dunia pada umumnya sekarang ini.

Meja Makan Minimalis di iCreate.id

Alasan utama untuk menggunakan meja minimalis untuk saya tentu saja karena ruang yang tersedia juga minimal. Akan tetapi secara umum, estetika minimalis yang ada di ruang makan dapat menciptakan kesan luas dan juga bersih. Hal itu kemudian dapat dinikmati oleh keluarga yang turut serta makan berikut para tamu, kalau ada.

Meja Makan Minamalis Kayu

Di iCreate.id kita dapat menemukan sejumlah tipe meja makan yang sesuai dengan keperluan maupun ketersediaan ruang plus budget kita. Bagi yang doyan bahan kayu, terdapat Dresden Meja Makan Minimalis Kayu 4 Kursi Warna Putih Ukuran 120 cm. Produk ini menggunakan design Skandinavia yang cukup hits di kalangan rumah tangga muda zaman now. Sebagai meja makan, lapisan teratas dari Dresden dilapisi High Pressure Laminate (HPL). Jadi, lapisannya bukan material sheet. Meja makan minimalis ini menggunakan kaki dari kayu solid dan mampu menanggung beban hidup lebih dari 250 kilogram.

Dresden Meja Makan Minimalis Kayu (iCreate.id)

Untuk yang butuh ramai-ramai, tersedia Postdam Meja Makan Minimalis Kayu 4 Kursi. Sama-sama dilapisi HPL dengan ukuran sedikit lebih lebar daripada Dresden.

Postdam Meja Makan Minimalis Kayu (iCreate.id)

Selain Dresden, ada produk lain yang menggunakan nama kota lain di Jerman yaitu Hannover Meja Makan Kayu Minimalis. Meja makan ini terbuat dari solid beech wood dan MDF dengan ukuran 80×80 cm jadi cukup ringkas dan sangat tepat untuk kondisi seperti rumah saya. Nah, kalau versi bulat dari Hannover ada juga, namanya Heidelberg Dining Table.

Hannover Meja Makan Kayu Minimalis (iCreate.id)

Selain Heidelberg, ada juga Hamburg Meja Makan Bulat Kayu Ukuran 100 cm. Material kayu sendiri cenderung membuatnya lebih mudah dibersihkan dan harganya terbilang sangat murah kalau dibandingkan dengan Informa atau Ikea. Dengan ukuran yang sedikit lebih kecil, hadir Nurnberg yang sama-sama terbuat dari MDF dan solid beech wood. Ketebalan lapisan catnya kurang lebih 1,6 cm jadi lebih tahan goresan, ya namanya juga dipakai sehari-hari. Produk ini juga didukung oleh 4 bantalan kaki tahan aus yang mampu meredam kebisingan serta mencegah garukan di lantai, apalagi kalau pakai vinyil pasti terasa sekali.

Apabila ingin motif marmer, maka tersedia pula pilihan meja makan Munchen Bulat Motif Marmer dengan ukuran 110 cm. Daun mejanya menggunakan kayu MDF dengan finishing motif marmer yang mevvah. Lagi-lagi, cocok untuk pasangan muda yang lagi mesra-mesranya dan karena masih muda jadi rumahnya belum luas kayak rumah saya.

Meja Makan Minimalis Kaca

Tidak semua orang suka bahan kayu. Ada juga yang doyannya kaca. Dalam kedoyanan yang satu ini, di iCreate.id ada Hamburg Meja Makan Bulat Kaca Ukuran 100 cm. Dengan harga yang kurang lebih sama, meja makan bulat ini kurang lebih seperti Hamburg versi kaca. Kaca yang digunakan adalah tempered glass dengan kaki sama seperti Hamburg menggunakan powder coating leg. Tentunya kalau saya sendiri sedang tidak ingin punya meja kaca, soalnya lagi punya bocah yang sedang aktif-aktifnya (kalau lagi nggak mager).

Hamburg Meja Makan Bulat Kaca (iCreate.id)

Meja Makan Minimalis Extendable

Model ini sebenarnya paling cocok dengan rumah kecil karena penggunaannya sesuai kebutuhan ruangan. Salah satu yang ada di iCreate.id adalah Koln Meja Makan Minimalis Modern Putih Extendable dengan ukuran 160x90x76 cm. Nah, lebarnya dapat extend menjadi 200 cm sesuai dengan kebutuhan. Jadi, kalau pas ada tamu ada keluarga lain menginap, bisa digunakan untuk 6 kursi.

Koln Meja Makan Minimalis Modern Putih Extendable (iCreate.id)

Selain Koln, ada pula Waldenburg Meja Makan Extendable Motif Marmer. Sesuai kategorinya, desainnya minimalis tapi kesan mewahnya tetap ada. Ukurannya kurang lebih sama dengan Koln. Jadi, nggak perlu lagi ada bangku tembak kalau sedang ada orang tua atau mertua berkunjung ke rumah.

Waldenburg Meja Makan Extendable Motif Marmer (iCreate.id)

Mengingat pandemi belum usai, walaupun kuliah saya harus sudah segera selesai, maka upaya untuk tetap produktif dari rumah menjadi sangat penting. Orang-orang seperti saya tentu tidak sedikit, toh kan aturan di Jakarta saja masih 50% ngantor dan 50% WFH kan? Artinya, yang butuh untuk tetap produktif saat bekerja di rumah dan butuh meja makan minimalis yang dapat berfungsi untuk makan, ngopi, hingga kerja juga ada banyak.

Bagi yang ingin menggunakan meja makan minimalis maupun furniture online lainnya dari iCreate.id tapi tipenya adalah harus-melihat-baru-percaya, showroom iCreate.id tersedia di The Icon Business Park BSD dan Mendrisio Gading Serpong yang buka setiap hari.

Yuk, mari tetap produktif bekerja, berkarya, dan lain sebagainya di rumah masing-masing bersama iCreate.id.

Digitalisasi BPJS Kesehatan Sebagai Potret Transformasi e-Government di Indonesia

Digitalisasi BPJS Kesehatan sesungguhnya merupakan topik menarik dalam perspektif administrasi publik pada umumnya dan e-Government pada khususnya. Alasan pertama tentu saja karena yang diurus adalah kesehatan, suatu sektor yang sangat krusial dalam kehidupan manusia. Alasan berikutnya, seluruh core business dari BPJS Kesehatan tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi itu sendiri.

Oh, kita tentu tidak sedang membahas perkembangan teknologi kedokteran. Walaupun BPJS Kesehatan membiayai suatu tindakan medis, tapi ranahnya bukan itu. Kita juga tidak sedang membahas formularium obat yang proses penyusunannya melibatkan banyak pakar dari berbagai institusi.

Pembahasan kita adalah pada proses bisnis BPJS Kesehatan yang mengumpulkan uang, mengelolanya, dan menggunakannya ketika memang benar-benar dibutuhkan. Tampak sederhana, tapi tentu tidak sederhana ketika yang diurus adalah 221.471.196 peserta (data per 31 Januari 2021) dengan rincian sebagai berikut:

Boleh dibilang, BPJS Kesehatan menjadi contoh pelayanan publik dengan peserta terbanyak se-Indonesia Raya. Kalau dibandingkan dengan e-KTP, akte kelahiran, dan sejenisnya, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri bekerja sama dengan dinas kependudukan dan pencatatan sipil di daerah, yang notabene adalah bawahannya Kepala Daerah. Bebannya banyak, tapi tetap masih ada pembagiannya.

Belum lagi, berbeda dengan layanan seperti e-KTP, sebagian publik yang dilayani BPJS adalah peserta yang membayar setiap bulan secara rutin. Ketika publik membayar atas sesuatu, maka publik akan lebih demanding. Dengan kata lain, publik yang dilayani BPJS Kesehatan itu akan cenderung lebih banyak komplainnya dibandingkan layanan publik lainnya. Di sisi lain, jaminan kesehatan yang dikelola oleh BPJS Kesehatan ini punya dampak sosial yang luar biasa.

Hasil sensus penduduk Indonesia tahun 2020 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa penduduk Indonesia pada September 2020 adalah 270,2 juta jiwa. Artinya, peserta BPJS Kesehatan jumlahnya sudah lebih dari 80% penduduk Indonesia dan semuanya itu diurus sendiri oleh BPJS Kesehatan.

Dengan beban kerja seberat itu, tanpa digitalisasi, sudah fix bakal ambyar. Kebayang dong jumlah kertas yang harus disiapkan dan dihabiskan untuk mengurusi pendaftaran, pembayaran iuran, hingga klaim dari 80% penduduk Indonesia jika layanan BPJS Kesehatan tidak didigitalisasi? Belum lagi pengelolaan iuran dari puluhan juta peserta mandiri yang tentu saja tidak terima apabila uang iuran itu tidak dikelola secara akuntabel.

6 Core Business BPJS Kesehatan

Seperti telah dijelaskan bahwa urusan BPJS Kesehatan itu banyak, tapi dalam tulisan ini mari kita fokus pada core business saja. Jadi, urusan pengadaan kertas buat operasional sehari-hari, dll tidak kita kulik.

Dari gambar di atas sebenarnya kembali terlihat urgensi digitalisasi. Sebab, harus ada data yang konsisten sejak layanan kepesertaan hingga pada pelayanan kesehatan yang dimaksud. Sehingga sejalan dengan yang pernah saya ceritakan sebelumnya saat periksa ginjal dengan dokter spesialis, datanya juga jelas perihal saya itu dirujuk dari fasilitas kesehatan mana, dengan gejala dan kebutuhan apa, di dokter spesialis mendapatkan treatment apa, dan lain-lain.

Ujung-ujungnya tentu agar saya sendiri bisa mendapatkan layanan kesehatan yang baik. Di sisi lain, rumah sakit yang melayani juga mendapatkan imbal jasa yang pas dengan treatment yang diberikan. BPJS Kesehatan sendiri juga mengeluarkan dana pada jumlah yang tepat sesuai treatment yan saya terima.

Sejujurnya ini agak mirip PPIC, kalau diceritakan satu per satu terlihat gampang. Tapi begitu dimasukkan pada realitas bahwa yang diurus adalah ribuan produk, ya jadinya pusing juga.

e-Government

Sebelum lebih lanjut mendalami digitalisasi, mari kita bahas sejenak soal e-Government. Sederhananya, electronic government alias e-Government alias lagi e-Gov merupakan penggunaan teknologi informasi oleh institusi di pemerintahan yang mampu mengubah relasi dengan warga negara, dunia usaha, hingga bidang pemerintahan lainnya. Kurang lebih begitu kalau menurut World Bank.

Seperti perkembangan lain di bidang administrasi publik, tadinya e-Gov diimplementasikan di negara maju. Ketika di negara maju sudah cukup mapan, negara berkembang hingga negara miskin kemudian merasa butuh juga. Salah satu metode yang cukup sering digunakan untuk mendorong implementasi e-Gov adalah dengan ‘memaksa’ negara miskin dan berkembang untuk menerapkan e-Gov jika hendak menerima pinjaman maupun bantuan dari negara maju. Lewat metode ini, e-Gov kemudian berkembang.

Konsep e-Gov sendiri tidaklah sesederhana layanan publik via internet seperti kita mengurus paspor daring atau menggunakan layanan BPJS Kesehatan via aplikasi Mobile JKN sebagai wujud hubungan Government to Citizens (G2C). Walaupun memang layanan itulah yang dirasakan oleh publik secara langsung.

Pada saat yang sama, G2C itu juga berkelindan dengan Government to Government (G2G) dan Government to Business (G2B). Dalam hal layanan BPJS Kesehatan, G2B-nya antara lain pengadaan barang/jasa untuk operasional BPJS Kesehatan. Sedangkan G2G-nya adalah relasi antara Kementerian Keuangan atau Kementerian Kesehatan.

Kehadiran e-Gov ini berangkat dari perkembangan paradigma New Public Management (NPM) yang ‘swasta banget’ sehingga efisiensi, kecepatan, dan transparansi menjadi kunci. Tidak heran pula bahwa dalam implementasi e-Gov, banyak konsep-konsep yang berangkat dari penerapan pada perusahaan swasta seperti yang paling sederhana: Customer Relationship Management. Dulu-dulu kalau menerima layanan pemerintah, ya harus manut apapun masalahnya. Sekarang? Bahkan ada kanal pengaduan pelanggan segala!

Digitalisasi Sektor Kesehatan

Perkembangan e-Gov kemudian juga masuk ke sektor kesehatan. Sebagaimana pada bidang lain, tentu ada disrupsinya. Sekarang kalau kita ke RS, sudah jarang membawa resep sendiri ke bagian farmasi untuk ditebus. Pada umumnya dokter sudah mengisi di sistem, lalu pada saat yang sama bagian farmasi mendapat informasinya, lantas mempersiapkannya. Dampaknya buat kita sebagai publik? Tentu saja, pelayanan jadi lebih cepat! Sering terjadi kita selesai mengurusi pembayaran, pas mampir ke farmasi, obatnya sudah tersedia. Walaupun pada prosesnya tentu muncul kerentanan di sana-sini sebelum akhirnya adaptasi terjadi.

Van Velthoven dari University of Oxford menyebut digitalisasi telah mengubah masyarakat secara revolusioner yang bahkan tidak pernah terbayangkan 1 abad silam, dengan mampu menyasar isu-isu lama seperti mutu layanan hingga biaya. Kotarba dari Warsaw University of Technology mengidentifikasi lima dimensi penting dalam digitalisasi yakni ekonomi, masyarakat, industri, enterprise, dan klien. Adapun e-Gov sendiri hadir sebagai elemen dari dimensi masyarakat. Aspek ini adalah yang utama dan paling mudah dinilai publik, sementara institusi pemerintah termasuk BPJS Kesehatan tetap harus sibuk mengembangkan 4 dimensi lainnya. Lagi-lagi, ujungnya sebenarnya adalah agar publik menerima layanan yang lebih baik dan kalau bisa malah terbaik sekalian.

Pada awal BPJS Kesehatan hadir, cukup banyak proses yang menuntut masyarakat mengurus segala sesuatu secara manual. Tidak usah jauh-jauh, ketika saya mengurusi tambahan kartu pada tahun 2018 untuk anak, ya tetap harus izin dari kantor dan mengantri ke kantor BPJS yang paling dekat dengan kantor. Model pelayanan seperti ini yang harus ditekan seminimal mungkin meskipun tentu tidak pula harus dihilangkan.

Dalam prosesnya, saya melihat dan mengalami sendiri betapa digitalisasi BPJS Kesehatan terasa langsung di gawai. Paling gampangnya adalah saya bisa melihat diagnosis dokter ketika memeriksakan diri menggunakan BPJS untuk kejadian yang bahkan sudah lewat 3 tahun. Hal ini mungkin tampak sepele, tapi dalam dunia kesehatan, riwayat tersebut sangatlah penting. Tidak selengkap rekam medis di fasilitas kesehatan tentu saja, tapi sudah cukup membantu peserta.

Transformasi Digital BPJS Kesehatan

Nah, perkembangan e-Gov tadi semakin didorong cenderung dipaksa oleh kehadiran pandemi COVID-19. Bagaimana tidak, wong kita diminta untuk sebisa mungkin di rumah saja, padahal banyak urusan yang harus jalan terus. Hampir semua instansi pemerintah bergerak lebih kencang karena didorong oleh kondisi tersebut, termasuk tentu saja BPJS Kesehatan.

BPJS Kesehatan sendiri kalau menurut saya sudah cukup ciamik e-Gov-nya dari dulu, seperti misalnya sudah bisa pindah faskes hanya pakai aplikasi dan tidak perlu ke kantor. Termasuk juga tidak perlu bawa kartu kemana-mana, cukup pakai aplikasi. Di era pandemi ini, BPJS Kesehatan juga mendorong peserta JKN-KIS untuk menggunakan layanan digital. Selain Mobile JKN yang tadi sudah saya kisahkan, ada juga BPJS Kesehatan Care Center 1500400, masih ada pula Chat Assitant JKN atau CHIKA, Voice Interactive JKN atau VIKA, sampai dengan Pelayanan Administrasi melalui WhatsApp atau PANDAWA.

Pilihan-pilihan tersebut sangat penting untuk disediakan oleh BPJS Kesehatan. Data Digital 2020 menyebut bahwa penetrasi internet di Indonesia ada di angka 64% dengan rata-rata waktu yang dihabiskan dalam sehari untuk menggunakan internet di gawai masing-masing mencapai 4 jam dan 46 menit! Alternatif-alternatif layanan yang sejalan dengan karakteristik masyarakat menjadi penting dalam upaya meningkatkan engagement dengan publik yang merupakan peserta BPJS Kesehatan. Ambil contoh PANDAWA, kehadiran layanan itu sangat masuk akal ketika disandingkan dengan data Digital 2020 bahwa 84% pengguna media sosial di Indonesia memakai WhatsApp. CHIKA dan VIKA bahkan sudah berteknologi artificial intelligence (AI) sehingga semakin relevan pula dengan perkembangan zaman.

Digitalisasi di BPJS Kesehatan juga menjadi jawaban dari sejumlah permasalahan yang dalam beberapa tahun terakhir diidentifikasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Pada Ikhtisar Hasil Pemeriksaan BPK RI Semester I Tahun 2020 disebutkan sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian seperti optimalisasi pemutakhiran dan validasi kepesertaan maupun pentingnya verifikasi klaim layanan yang didukung sistem pelayanan dan sistem kepesertaan yang terintegrasi dengan andal.

Pada akhirnya harus dipahami bahwa #DigitalisasiBPJSKesehatan bukanlah pekerjaan sekali jadi, melainkan senantiasa berkesinambungan. BPJS Kesehatan sendiri pada akhirnya harus juga dapat agile guna bisa beradaptasi dengan baik pada transformasi yang dibutuhkan sejalan dengan perkembangan dunia kesehatan hingga ekspektasi dari masyarakat sebagai peserta, terutama dalam elemen kecepatan dan ketepatan pelayanan.

Ketika pelayanan tepat dan cepat, maka peserta senang, fasilitas kesehatan juga senang, termasuk BPJS Kesehatan pun turut senang. Menyenangkan sekali, bukan?

Daftar Jurnal Ilmu Administrasi di Indonesia

Di Indonesia, terutama untuk S2 ada kewajiban untuk membuat publikasi sebagai syarat yang berhubungan dengan keberlangsungan tesis. Syarat yang cukup menarik, menantang, tapi sekaligus bikin sejumlah orang sulit lulus padahal mata kuliah sudah kelar semua. Mana kuliah S2 kan mahal ya semesterannya~

Untuk itulah, karena kebetulan saya sedang menempuh pendidikan Ilmu Administrasi (dan Kebijakan Publik), maka saya mengumpulkan jurnal-jurnal bidang Ilmu Administrasi yang beredar di Indonesia. Dengan demikian, mahasiswa S2 yang sudah mau ujian tesis bisa mengintip persyaratan masing-masing pada link DAFTAR JURNAL ILMU ADMINISTRASI DI INDONESIA ini ya.

Oya, datanya valid per 30 Januari 2021. Ada sejumlah jurnal di Garuda yang muncul tapi saya cek tidak aktif. Siapa tahu kelak aktif lagi ya saya kan nggak tahu. Makanya disclaimer di atas penting untuk diperhatikan. Demikian, semoga cepat lulus~

Inilah Keuntungan Asuransi Motor AXA Mandiri Untuk Nasabah

Menggunakan asuransi motor hilang AXA mandiri akan memberikan keuntungan yang positif bagi nasabah. Asuransi ini akan mengcover semua hal biaya kerugian akibat kehilang motor yang sudah didaftarkan dalam asuransi. Tentunya, dengan menggunakan asuransi tersebut nasabah tidak perlu ketar-ketir lagi jika mereka mengalami peristiwa kehilangan motor karena telah memiliki perlindungan finansial sebelumnya. 

4 Keuntungan Menarik Asuransi Motor Hilang AXA Mandiri

Menggunakan layanan asuransi kehilangan motor AXA Mandiri akan sangat berguna untuk berjaga-jaga mengatasi kerugian jika ada kendaraan yang hilang. Asuransi ini memiliki banyak keuntungan yang mana nasabah pasti akan dimudahkan dengan itu semua. Inilah beberapa keuntungan jika memiliki asuransi motor hilang dari AXA Mandiri: 

1. Ganti Rugi Biaya Kendaraan yang Hilang

Manfaat pertama yang akan didapatkan nasabah ketika menggunakan layanan asuransi motor hilang dari AXA Mandiri adalah adanya biaya pertanggungjawaban kehilang berdasarkan nilai yang telah disepakati. Pada saat mendaftar asuransi, nasabah dipersilakan untuk mengambil premi berapa dan jenis biaya yang akan dicairkan ketika kehilangan kendaraan bermotor.

Umumnya, biaya ini mencakup seluruh onderdil motor yang dikalkulasi dari biaya pembelian sepeda motor beserta tahun pembuatannya. Dengan begitu, pengguna tidak akan mengalami banyak kerugian ketika sepeda motor mereka hilang baik karena pencurian maupun sebab bencana alam. 

2. Layanan Kehilangan Kunci Kendaraan

Selain pertanggungjawaban terhadap kendaraan yang hilang, AXA Mandiri juga bertanggung jawab ketika nasabah hanya kehilangan kunci motor saja. Dengan begitu, AXA akan membuatkan kunci motor yang baru tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Layanan ini akan sangat jarang ditemui oleh nasabah ketika mereka menggunakan perusahaan asuransi lainnya. Hanya AXA Mandiri yang berani memberikan pertanggungjawaban kepada kunci motor yang hilang. Layanan ini sudah termasuk dalam pengurusan asuransi kehilangan secara keseluruhan. 

3. Mengubah Dana Pertanggungjawaban Menjadi Investasi

Bilamana kendaraan nasabah hilang dan ingin mengubah dana pertanggungjawaban tersebut menjadi dana asuransi investasi, hal ini sangat dimungkinkan di perusahaan AXA Mandiri. Dana pertanggungjawaban motor yang hilang tersebut akan langsung diubah menjadi dana investasi tanpa ada syarat-syarat dan ketentuan yang rumit. 

Prosesnya sangat cepat dan semua bisa dilakukan secara online sehingga nasabah tidak perlu repot pergi berkunjung dari satu kantor asuransi ke kantor lainnya. Melalui pengubahan dana investasi ini, nasabah juga akan mendapatkan berbagai keuntungan yang menarik tentunya. Dijamin hal tersebut akan membuat dana yang diinvestasikan beserta seluruh aset di dalamnya aman serta tidak khawatir akan adanya kerugian.

4. Nasabah Tidak Harus Melakukan Pengurusan yang Rumit

Perlu diketahui bahwasannya jika nasabah menggunakan semua layanan AXA Mandiri termasuk asuransi kehilangan sepeda motor, maka prosesnya sangat mudah dan tidak memerlukan berkas yang aneh. Bahkan nasabah bisa melakukannya dengan cara online. Di sana juga tidak ada jaminan tertentu yang menyebabkan nasabah gagal melakukan asuransi.

Manfaat dari adanya pengurusan yang tanpa ribet ini membuat semua nasabah AXA Mandiri merasa senang dan selalu ketagihan untuk melakukan asuransi di sana. Barang sekecil apapun bisa diasuransikan dengan premi ringan yang pastinya cocok untuk semua kalangan. 

Itulah ulasan gamblang tentang keuntungan menggunakan asuransi motor hilang AXA Mandiri bagi semua nasabah. Apalagi AXA Mandiri dapat mengubah alokasi dana investasi asuransi sehingga bisa sangat memudahkan nasabah. Jadi, jangan lupa untuk mendaftarkan kendaraan bermotor yang dimiliki sekarang juga demi mengamankan aset ketika hilang nantinya. 

Mengenal Vaksin COVID-19 Untuk Indonesia

Vaksin COVID-19 di Indonesia

Pada akhir Desember 2020, Menteri Kesehatan yang baru 4 hari menjabat langsung menggelar konferensi pers tentang kesiapan vaksin. Pemaparannya cukup mudah dipahami sebagaimana video berikut:

Secara umum, disampaikan bahwa ada 5 jalur pengadaan vaksin untuk Indonesia. Empat jalur bilateral dan satu lagi multilateral. Jalur multilateral yang dimaksud adalah COVAX/GAVI. Program ini adalah besutan WHO untuk memberikan pasokan vaksin gratis kepada negara-negara, terutama yang miskin dan berkembang.

Empat jalur lainnya mengacu pada 4 perusahaan dan negara yang berbeda. Mari kita bahas satu per satu, yha.

Sinovac

Vaksin ini mungkin yang paling kondang, sekaligus paling mengundang kontroversi hanya gara-gara asalnya dari China. Belum tahu aja kalau untuk bahan baku obat baik aktif maupun penolong ada begitu banyak yang berasal dari Negeri Tirai Bambu itu. Vaksin ini adalah jenis vaksin dengan virus inaktif dan salah satu lokasi Uji Klinik Fase 3-nya adalah di Indonesia. Vaksin ini juga secara fisik sudah masuk ke Indonesia dan dikawal begitu rupa karena memang vaksin ini sangat penting untuk negeri.

Kalau menurut Menkes, order Sinovac secara total akan berada di kisaran 100-an juta dosis. Jadi, dua pengiriman yang sudah terjadi sebenarnya belum ada apa-apanya. Oya, vaksin ini juga dibeli oleh sejumlah negara lain seperti Turki dan Singapura. Untuk Singapura, vaksin Sinovac merupakan satu-satunya jenis vaksin virus inaktif yang dibeli.

Novavax

Nama baru yang muncul dalam konferensi pers Menkes Budi ini adalah vaksin berplatform protein subunit. Sederhananya, kalau yang virus inaktif, virusnya sepenuhnya masuk ke tubuh tapi dalam kondisi inaktif, nah kalau yang protein subunit ini proteinnya saja. Kalau di ilustrasi GAVI, spike-nya saja yang dimasukkan. Pada umumnya tipe ini, antibodi yang dibentuk tidak serta merta maksimal dan untuk itu ditambahkan adjuvant atau booster.

Novavax sendiri mengggunakan data Uji Klinik Fase 3 yang diselenggarakan di Amerika Serikat, Meksiko, Puerto Rico, dan Inggris. Sehingga kemungkinan besar vaksin ini juga akan beredar di negara-negara tersebut.

AstraZeneca

Termasuk salah satu vaksin yang ‘kelar’ duluan dalam pengembangannya bersama Oxford. Platformnya adalah viral vector (non-replicating). Berbeda dengan dua platform sebelumnya, pada platform ini yang dimasukkan adalah informasi genetiknya dengan bantuan vektor tertentu. AstraZeneca sendiri menggelar Uji Klinik Fase 3 di Amerika Serikat, Inggris, dan Brazil.

Pfizer-BioNTech

Merupakan vaksin dengan teknologi paling baru sehingga pada sisi lain ada risiko yang mungkin belum bisa dielaborasi sebaik vaksin-vaksin berplatform berbeda. Sederhananya, sel diberi informasi perihal ancaman dalam rupa informasi genetik. Nah, kemudian tubuh akan membentuk antibodi berdasarkan informasi tersebut.

Persoalan untuk vaksin tipe ini adalah penyimpanannya yang sampai minus 70 derajat Celcius. Di negeri yang default-nya panas dan jumlah kulkasnya kurang, akan menjadi masalah tersendiri. Sebab, cold chain merupakan elemen paling krusial dalam pervaksinan.

Vaksin ini sempat menuai polemik di negeri yang suka mempermasalahkan politik karena katanya negeri X itu belinya vaksin dari China padahal China beli produk Pfizer-BioNTech ini. Satu hal yang orang tidak banyak ngeh adalah pada duet BioNTech dan Pfizer ini ada nama Jiangsu dan Fosun Group. Uji Klinik Fase 1-nya dihelat di Jiangsu. Jadi, yang beli Pfizer-BioNTech itu ya Fosun Group. Dikabarkan bahwa distribusinya akan banyak ke sekitar Hong Kong dan Makau, selain juga sebagian di China daratan.

Untuk yang COVAX/GAVI jumlahnya antara 3-20 persen penduduk dan proyeknya keroyokan serta ada upaya membantu negara tidak mampu juga. Jadi, belum tahu kita akan dapat vaksin yang mana~

Kenapa Sih Ada Akun Facebook Personal Dipakai Untuk Instansi Pemerintah?

Belakangan saya rada keranjingan meneliti media sosial. Pertama, karena penelitian dengan media sosial (atau malah media sosialnya itu sendiri) adalah hal menarik untuk dilakukan memenuhi tugas-tugas kuliah ketika kita nggak bisa kemana-mana karena pandemi. Eh, tepatnya sih saya selagi bisa ya memilih nggak kemana-mana karena kopid sialan ini.

Salah satu hasil amatan saya adalah penggunaan akun personal untuk instansi pemerintah, atau ya minimal setara Eselon II gitu, alih-alih menggunakan Facebook Fanspage. Entah kenapa~

Saya suka bertanya-tanya karena sebenarnya dari sisi penamaan sudah pasti tampak mengganggu. Apalagi untuk instansi pemerintah Indonesia yang banyak singkatan. Di Facebook personal, mau nulis LPDP saja nggak bisa, pasti jadinya “Lpdp” karena dianggap nama orang dan nama orang nggak ada yang huruf besar semua.

Jadilah pasti kalau POM kemudian jadi Pom dan BKN menjadi Bkn, demikian pula BSN menjadi Bsn dan seterusnya.

Kalau pakai fanspage atau halaman tentu berbeda, ya karena settingannya berbeda. Lihatlah fanspage LPDP UI, itu bahkan semuanya huruf besar dan bisa-bisa saja, tidak menjadi “Lpdp Ui” sebagaimana kalau dibuat pakai akun personal.

Selain itu, kalau pakai akun personal kan jadinya kita harus logan-login. Namanya juga akun personal. Harus sharing password juga berarti kalau adminnya lebih dari satu. Salah-salah juga bisa bikin salah posting. Belum lagi kalau kejadian lupa password segala macam.

Kalau di fanspage, kan bisa diatur sekian orang sebagai admin, sekian orang sebagai editor, dll. Jadi, tanggung jawab masing-masing bisa dibagi. Bahkan kalau di fanspage itu bisa ketahuan siapa (akun personal) yang nge-post. Yang tahu siapa? Ya, sesama admin. Publik tahunya tentu suatu post dibuat oleh sebuah fanspage.

Lebih enak.

Photo by Gabby K on Pexels.com

Selain itu pula, di fanspage itu bisa dipantau reach, dll, segala macamnya. Sehingga kita tahu suatu unggahan itu impact-nya sejauh mana. Makanya, saya nggak menemukan sedikitpun enaknya mengelola akun media sosial instansi pakai akun Facebook personal.

Belum lagi, di fanspage bisa ditambahkan nomor kontak. Karena sama-sama punya Pak Zuck, jadilah bisa di-link dengan WhatsApp. Plus lagi, Facebook fanspage juga bisa langsung link dengan akun Instagram instansi. Jadi, bisa tuh sekali post untuk lebih dari satu media sosial.

Kemudan pula, kalau akun personal kan ada limit teman, ada pula pengaturan post untuk dilihat teman sebatas apa. Geli aja rasanya ketika kita mendapati di-add suatu akun instansi. Walaupun ya tetap saja accept, sih. Toh, di fanspage, jika memang mau nge-tag pimpinan di akun Facebook personal juga bisa saja tanpa masalah.

Mungkin ini lebih karena ketidaktahuan. Jadi, semoga post ini bisa sedikit memberi tahu para pengelola media sosial instansi supaya lebih tepat dalam bekerja. Ya, saya tahu, jarang yang ada honornya, apalagi kalau sebatas unit eselon II. Hehe.

Pentingnya Menggunakan Asuransi Kerugian AXA Mandiri

Sejatinya, konsep asuransi kerugian tak jauh berbeda dengan jenis perlindungan jiwa. Konsepnya adalah sebuah upaya untuk melindungi tertanggung dengan mengalihkan beban resiko pada pihak penanggung. Satu-satunya pembeda antara keduanya adalah objek yang ingin diproteksi. AXA Mandiri menawarkan asuransi kerugian yang akan melindungi kelancaran kegiatan usaha maupun bisnis Anda.

AXA Mandiri Melindungi Kelancaran Kegiatan Usaha

Saya memilih AXA Mandiri sebagai perusahaan asuransi yang saya review karena memang pengalamannya membuktikan bahwa AXA Mandiri merupakan sebuah perusahaan asuransi terbaik di Indonesia. Tidak hanya dengan banyaknya produk asuransi yang ditawarkannya, namun juga asuransi ini sangat flexible, bahkan alokasi dana asuransinya pun dapat diubah, seperti postingan saya sebelumnya tentang cara mengubah alokasi dana asuransi AXA Mandiri.

Pentingnya Mempercayakan Perlindungan Aset Lewat AXA Mandiri

Ada banyak sekali jenis-jenis dari proteksi perlindungan yang tersedia di pasaran. Sebut saja asuransi properti, asuransi pengangkutan, asuransi kredit, asuransi kendaraan bermotor, hingga asuransi tanggung gugat. Asalkan beban resikonya tidak terkait dengan jiwa seseorang, maka perlindungan tersebut bisa digolongkan sebagai asuransi kerugian.

Setiap orang memiliki pilihan untuk berinvestasi dalam asuransi atau tidak. Jika mereka memilih untuk tidak berasuransi, pihak bersangkutan akan menahan seluruh risiko atas aset maupun bisnis secara pribadi. Ini berarti, orang tersebut harus bersiap jika suatu saat benar-benar menghadapi musibah. Semisal saja karena rumahnya mengalami kebakaran.

Jika dipatok rata, harga rata-rata rumah di perkotaan sekitar Rp 2 miliar dengan isinya yang juga Rp 2 miliar, secara otomatis, total kerugian yang harus ditanggung orang terkait mencapai angka Rp 4 miliar. Tanpa perlindungan asuransi, kita harus mengcover biaya kerugian dengan tabungan pribadi  yang semestinya dialokasikan untuk dana pensiun atau tabungan biaya pendidikan anak, demi bisa membangun kembali rumah yang telah hancur.

Hal seperti itu tidak akan terjadi apabila nasabah mendaftarkan dirinya pada polis asuransi kerugian yang mungkin hanya berkisar Rp 2 jutaan saja pertahunnya. Dengan menyisihkan sedikit penghasilan di tiap bulannya, peserta asuransi tak akan mengacaukan anggaran keluarga tatkala terjadi hal mendesak yang memerlukan uang dalam jumlah besar di waktu singkat, seperti musibah itu sendiri.

Menilik contoh sebelumnya, tarif premi proteksi kerugian relatif kecil bila dibandingkan dengan beban resiko yang dihadapi. Setidaknya, untuk pembayaran jaminan dasar. Contohnya saja Polis Standar Asuransi Kebakaran Indonesia/PSAKI yang tarif preminya hanya berkisar 0,56 per mil dalam setahunnya.

Adapun untuk jaminannya mencakup risiko kebakaran, sambaran petir, ledakan, kejatuhan pesawat ataupun barang muatannya, serta kerusakan rumah dikarenakan asap kebakaran dari rumah yang dipertanggungkan oleh nasabah.

Asuransi Kontraktor Semua Resiko AXA Mandiri

Salah satu proteksi kerugian terpopuler yang banyak dipilih masyarakat Indonesia ialah Asuransi Kontraktor Semua Resiko besutan AXA Mandiri. Dimana asuransi ini akan melindungi seluruh aset dan investasi nasabahnya ketika proyek pembangunan yang dilakukan untuk kepentingan usaha atau bisnis sedang berlangsung.

AXA Mandiri Sebagai Back Up Finansial

Melalui proteksi ini, nasabah akan merasa tenang lantaran memiliki ‘backup’ finansial dari AXA Mandiri. Produk proteksi ini menjamin seluruh resiko dari beberapa pekerjaan teknik sipil seperti halnya proyek pembuatan jembatan layang, pembangunan jalan tol, atau pembangunan gedung tinggi untuk perkantoran yang biasanya akan ditanggungjawabi oleh seorang kontraktor atau sub kontraktor.

Mulai dari pekerjaan yang bersifat utama hingga sementara, barang-barang yang disuplai untuk pembangunan, alat-alat besar, juga tanggung jawab pihak ketiga, jadi beberapa kepentingan yang bisa diasuransikan sebagai perlindungan eksekusi proyek di AXA Mandiri.

Selain menyajikan manfaat perlindungan menyeluruh, jenis asuransi yang didaftarkan dengan nama Asuransi Contractor All Risk di OJK ini juga menjanjikan layanan 24 jam untuk pelaporan klaim lewat Customer Call Center dan tarif premi kompetitif sebagai manfaatnya.

Pada dasarnya, memilih untuk mendaftarkan aset investasi pada asuransi kerugian menjadi keputusan yang sangat bijaksana untuk dilakukan. Dengan begitu, nasabah tak lagi perlu pusing  ataupun khawatir atas resiko yang mungkin terjadi pada seluruh asetnya di masa mendatang.

Bapak Millennial

%d bloggers like this: