Category Archives: Refleksi Singkat Saja

Berefleksi itu bisa dengan dipikir benar, bisa juga nongol tiba-tiba dari perifer..

“Nggak Kerasa Ya, Sudah Gede…”

Saya seringkali mempertanyakan ucapan yang menjadi judul tulisan ini ketika ada orang tua update status soal anaknya. Saya sangat yakin, malam-malam penuh begadang ketika anak masih bayi itu adalah sesuatu yang sangat terasa. Saya paling tidak cocok dengan ucapan itu dalam periode Maret 2020 sampai Agustus 2021 karena saya benar-benar membersamai anak saya 24/7 soalnya saya kuliah dari rumah dan ndilalah daycare anak saya juga tutup dan menjelma jadi laboratorium swab.

Nah, belakangan ini, anak saya yang sudah mau 5 tahun memperlihatkan kecepatan kemajuan dalam hal apapun. Saya ingat benar pas kami pindah di rumah sekarang, kepalanya baru nongol sedikit kalau dibandingkan dengan meja. Eh, sekarang sudah jauh di atas meja. Sudah bisa naruh dagu di meja gitu dah.

Paling berasa sih soal pup. Kemarin saya nonton Tekotok soal nyebokin anak. Asli saya mendadak lupa secara teknis caranya nyebokin anak. Padahal dulu saya paling jago soal itu. Termasuk segala drama pup mulai dari AEON sampai di atas langit Lampung kala naik Garuda Indonesia. Sekarang, anaknya sudah bisa pup sendiri. Sudah bisa buka celana, pasang penutup pup di kloset, lalu duduk dan baru manggil saya kalau pup-nya selesai.

Iya, se-nggak berasa itu ketika skill yang dulu saya punya kemudian bisa-bisanya saya lupakan. Skill yang pernah bikin saya dipuji belasan ibu-ibu karena beratraksi mengganti popok Isto umur 5 bulan. Pujian yang bikin saya kaget karena ternyata banyak juga bapak-bapak yang blas nggak mau gantiin popok anaknya.

Apakah nggak berasa? Hari-hari ketika pup-nya berserakan dalam transisi diapers ke cawet itu terjadi kok. Riil. Berasa bangetlah ngelap pup berserakan di rumah maupun di lantai toilet kontrakan. Hanya saja begitu kejadian sekarang, rasanya kok tampak tidak berasa.

Kemarin ketika saya WFH karena pengasuh anak belum balik, si Isto juga bisa betul mencari aktivitas sendiri tanpa mengusik saya yang Zoom Meeting sana-sini. Bahkan ujug-ujug jadi gambar dinosaurus se-pemandangannya. Sudah secepat itu. Saya jadi ingat susahnya mengajari dia untuk mewarnai sesuai dengan garis lebih dari setahun lalu. Eh, sekarang sudah rapi benar warnanya.

Demikianlah hidup. Pas dilakoni berasa bener. Pas sudah lewat yo ternyata bablas dan tampak nggak berasa. Hehe.

Nge-Zoom dari Pantai: Antara Keseruan dan Pertanyaan Soal Work-Life Balance

Saya tidak hadir sejak awal peralihan kerja ke sebagian Zoom seperti sekarang. Kala Zoom hadir, saya masih kuliah. Betul bahwa kuliah saya memang pakai Google Meet dan kemudian Zoom, tapi aktivitas Zoom itu ya hanya saya lakukan ketika dibutuhkan saja. Ketika kemudian teman mengunggah foto sedang Zoom dengan 2, 3, 4, atau bahkan 5 gawai, saya hanya melihat dengan takzim~

Sampai kemudian saya mengalami sendiri ketika dalam pekerjaan berbagai rapat datang bertubi-tubi dan semuanya pakai Zoom. Gawai saya ya paling HP dua biji sama laptop satu. Maksimal hanya bisa 3. Belum lagi telinga cuma punya 2. Tapi kok ya sering betul dalam 2 Zoom betul-betul pada jam yang sama dan seluruhnya berlabel penting.

Maka saya pernah nge-Zoom sambil menemani anak di playground (karena Zoom-nya sore bablas), pernah nge-Zoom sambil lari-lari di bandara. Zoompalitan pokoknya. Dan paling mutakhir, kemarin ketika snorkeling di Pulau Lihaga, saya sempat-sempatnya Zoom Meeting di pantai dalam kondisi tubuh masih basah karena memang benar-benar baru naik ke darat.

Tuntutan pekerjaan dengan Zoom ini buat saya mengerikan. Setiap yang nge-Zoom sekarang bikin Zoom Meeting tanpa memandang kapasitas. Dulu kan masih cek ruang rapat dulu, sekurang-kurangnya. Sekarang ruangnya virtual, bisa rapat sambil gimana saja, dan walhasil rapat demi rapat itu datang dan pergi sampai HP kentang saya lelah.

Belum lagi Zoom Meeting bersahut-sahutan itu bikin mata dan telinga lelah. Satu saja lelah apalagi tiga. Plus, jadi tidak bisa bekerja maksimal karena kan harus fokus mendengarkan dan memberikan pendapat. Saya sendiri, seperti barusan ini, akhirnya baru malam-malam bisa buka laptop tanpa distraksi Zoom Meeting sehingga bisa buka sana-sini beberapa dokumen yang sayangnya sudah lewat tenggat sehingga saya terlambat menindaklanjuti.

Kalau 1-2 tahun mungkin saya masih kuat. Tapi semakin berlalu, tampaknya saya nggak akan sekuat sekarang. Semoga ada kultur yang bisa diperbaiki di masa depan.

Mentalitas Staf

Saya ketiban gawean baru di kantor. Ya sebut saja ketiban, lah. Dibilang rejeki jelas bukan karena tidak ada benefit finansial yang saya peroleh. Malah rada-rada mambu tekor soalnya saya kudu lebih sering di kantor. Jika saya tidak mendapat gawean itu, dengan kondisi sekarang hampir pasti saya ikut WFH. Ingat, saya pernah menulis bahwa saya suka WFH.

Cuma ya sudahlah. Anggap saja sekalian belajar. Belajar hidup terutama. Wkwk.

Di gawean tambahan ini dan sesuai strata jabatan fungsional, saya “punya” anak buah. Yah, sederhananya, saya membawahi 2 orang staf yang sekurang-kurangnya absennya saya verifikasi dan SKP-nya harus saya pikirkan. Belum termasuk 3 honorer yang juga tentu perlu saya pikirkan kelanjutan karirnya.

Sungguh, bagi saya ini jetlag sekali. Bukan apa-apa, sejak di pabrik dulu, saya nggak pernah punya bawahan lebih dari satu. Di Palembang dulu admin inventory itu Mba Herpi seorang. Di Cikarang, operator palugada saya ya Triyono seorang juga. Sudah. Mereka saja. Nggak ada yang lain.

Dan lagi, saya resign dari pabrik itu sudah (((delapan))) tahun lalu. Selepas itu saya kembali ke nol, menjadi staf sepenuhnya yang siap disuruh melakukan apapun. Dan mentalitas itu terbawa betul.

Photo by Startup Stock Photos on Pexels.com

Dalam pekan-pekan pertama, saya merasa keplepekan karena semuanya saya pegang sendiri. Bukan apa-apa, sih, dulu saya masuk ketika kantor saya bahkan tidak punya sekretaris bos. Banyak hal yang dulu saya sebagai cecurut di kantor harus bikin sendiri dan lama-lama kok jadi biasa. Makin ke sini, saya suka lupa bahwa saya sudah berada pada posisi yang memungkinkan untuk delegasi dan kemudian supervisi tentu dengan tuntutan yang lebih tinggi dari atasan.

Sampai kemudian salah satu ‘anak’ saya bilang, “Lho, Mas, kalau cuma bikin form ya kami aja yang bikin…”

Tak pikir-pikir bener juga. Kalau katanya saya sudah kedapuk jadi level yang tanggung jawabnya naik sedikit walaupun tunjangan kinerjanya kagak, ngapain juga saya kudu terjun langsung bikin Google Forms atau sejenisnya.

Ya balik lagi, karena saya masih punya mentalitas bahwa saya ini staf dan apapun harus saya kerjakan sendiri. Mentalitas yang tentu saja buruk dan menyebabkan ada banyak target yang lantas terlewatkan karena saya terlalu sibuk ke printilan yang seharusnya bisa didelegasikan.

Sejujurnya saya pengen itu semuanya didelegasikan. Toh bocah-bocah sudah pintar-pintar. Saya tidak mewarisi staf-staf yang newbie, tapi justru saya yang menjadi nubitol, newbie dan tolol pada posisi yang sekarang. Cuma balik lagi, mentalitas staf menjadi problematika tersendiri dalam hidup saya.

Sebenarnya mirip juga kayak di rumah. Ada beberapa kali WFH bertepatan dengan pengasuh Isto tidak masuk karena satu dan lain hal. Sudahlah nge-Zoom dua, ketambahan kudu mendampingi anak sekolah online pula. Tapi ya itu, saya bisa saja bilang bahwa aunty harus datang. Tapi pada akhirnya saya selalu merasa bisa meng-handle semuanya walaupun ketika dilakoni yo spaneng juga. Pada titik ini, mentalitas staf justru membuat saya mampu melakoni semuanya.

Lantas apa intinya? Nggak ada. Saya baru saja bayar package blog ini lebih dari 700 ribu. Itu di luar biaya domain yang 400 ribuan. Lebih dari sejuta setahun kalau dipikir-pikir ya sayang juga jika tidak dimanfaatkan untuk menulis sesuatu. Ya siapa tahu kan bakal jadi sesuatu seperti halnya 2 buku saya yang notabene lahir dari tulisan-tulisan pendek semacam ini.

Berhenti Mengagumi Anies Baswedan

picmonkey-collage6

Duh, ngomongin politik lagi, deh. Maaf ya sohib-sohib blog ini nan budiman. Sebenarnya ini nggak politik-politik banget, kok. Hanya sebuah catatan pribadi yang nyerempet politik. Gitu.

Ini tentang Yang Terhormat Bapak Anies Baswedan. Salah satu sosok yang dalam posting ini saya akui sebagai orang baik. Salah satu sosok yang–tadinya–langka di Indonesia. Bagaimana nggak langka? Di saat banyak politisi sibuk beretorika, janji sana-sini, blio bersama rekan-rekan sevisi menggagas Indonesia Mengajar, berikut Kelas Inspirasi. Paket kegiatan yang saya akui sangat positif. Saya pernah ada di keramaian Kelas Inspirasi dan merasakan benar energi positif yang ada dalam kegiatan kerelawanan itu.

Kala mengikuti Kelas Inspirasi inilah saya seolah kesirep sama sosok Anies Baswedan. Waktu itu di gedung Indosat, saya ada di bagian terdepan untuk mengikuti speech indah tentang janji kemerdekaan, tentang menghadirkan mimpi di ruang-ruang kelas, tentang iuran kehadiran. Luar biasa dan sangat realistis bagi saya kala itu. Ngomong-ngomong, cerita Kelas Inspirasi yang saya ikuti dapat dibaca dalam posting dengan judul “30 Menit Yang Luar Biasa”.

Continue reading Berhenti Mengagumi Anies Baswedan

Kalau Doktor dan Profesor Saja Mempercayai Hoax, Siapa Lagi yang Bisa Kita Harapkan?

Pertama-tama, saya mohon maaf kalau tulisan kali ini rada serius, dan semoga tidak meninggalkan ariesadhar.com sama sekali. Serial Lost in Bangka masih akan berlanjut sesudah ini, kok. Tenang saja, nanti akan dilengkapi kesegaran kisah dari Palu juga.

Tadi sepulang dari Palu, saya membaca dinding Facebook. Sejujurnya saya sudah jengah dengan linimasa ini karena yang disebar makin lama makin banyak kebohongan. Ya, seperti sering saya bilang, karena jempol jauh dari otak jadi kadang nge-share berita nggak sempat dipikir dulu, jempolnya langsung jalan. Share dahulu, pikir belakangan.

Tadinya saya pikir, fenomena ini adalah semata-mata kelakuan orang yang nggak berpendidikan atau setidaknya orang berpendidikan yang baru kenal Facebook dan nggak tahu bahwa tombol SHARE itu bisa berdaya ungkit tingkat tinggi. Masih begitu isi pikiran saya sampai kemudian muncul shareshare gawat tentang obat dan makanan yang berkali-kali saya tulis di blog ini klarifikasinya. Mulai dari beras plastik, air minum dalam kemasan, hingga biskuit yang bisa terbakar.

Eh, sekarang rupanya nge-share yang semacam itu sudah tidak laku. Paling enak zaman sekarang adalah nge-share tentang agama dan Tiongkok. Sudah deh, itu jamak sekali yang nge-share. Nggak peduli benar atau tidak. Mulai dari tulisan tentang siapalah petinggi Republik Rakyat Tiongkok yang katanya ingin menyelamatkan etnis Tionghoa di Indonesia hingga foto-foto yang diyakini sebagai korban Rohingya. Padahal, ya kali pimpinan pemerintah di RRT mikirin rakyat Indonesia, lha wong di sana saja penduduknya kurang lebih 3-4 kali Indonesia. Belum lagi masalah foto kekejaman Rohingya yang sejauh bertahun-tahun silam sudah diklarifikasi sebagai foto kecelakaan atau foto penangkapan biksu di Tibet.

Continue reading Kalau Doktor dan Profesor Saja Mempercayai Hoax, Siapa Lagi yang Bisa Kita Harapkan?

Mencoba Berdamai Dengan Jakarta

mencobaberdamaidengan

Pagi hari–sama halnya dengan pagi-pagi lain–kala para jomblo masih meringkuk manja di bawah naungan selimut, pukul 7 tepat, saya membuka gembok pagar kontrakan kecil yang saya huni bersama Istri.

Ciye, punya istri. Ciye.

Sekilas memandang sekitar, gedung Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tampak berdiri dengan angkuh. Sementara udara yang tersedia untuk dihirup terasa benar tidak menyuguhkan kesegaran hakiki yang dibutuhkan, hanya cukup untuk bernapas dan melanjutkan siklus oksigen untuk mendukung kinerja mitokondria di dalam sel sana.

Seketika saya terkenang kala pertama kali melihat Jakarta dalam kondisi sadar dan bisa mengingat, medio 1997. Setelah kena tipu bis asal Padang yang dengan janji manis bak playboy akan mengantar hingga Kampung Rambutan namun lantas semena-mena mengoper keluarga saya di sebuah mesjid dekat Pelabuhan Merak, kami akhirnya mendapat tumpangan sebuah bis nan penuh sesak.

Saya terduduk setengah terhimpit di tangga pintu belakang bis. sementara orang-orang lain yang lebih tua bahkan tidak peduli sedikitpun pada anak kecil yang teronggok di sudut mati bis pengap itu. Aroma apapun bercampur baur layaknya toko parfum bermetanol berada di tengah-tengah pasar ikan. Tumplek blek menjadi satu dalam persaudaraan nan erat.

Nyaris tengah malam ketika bis yang entah apa namanya itu melewati Tol Dalam Kota, menyajikan gedung-gedung tinggi dengan gemerlap lampu yang terangnya minta ampun. Saya terpana sepenuhnya, melihat sesuatu yang selama 10 tahun hidup tidak pernah saya saksikan di Bukittinggi. Lha, angkutan umum bernama Ikabe saja berakhir pukul 6 sore. Bagi saya dalam raga nan kecil, hari berakhir pukul 6 sore, kala lampu terbesar yang tampak berasal dari mushala Al-Ikhlas di depan rumah.

Si BG segera saya keluarkan dari parkiran mini di depan pintu kontrakan, sembari melakukan ritual memanaskan mesin dan menanti istri mengunci pintu, saya seketika ingat kali lain saya menginjak Jakarta. Enam tahun sesudah saya terpana dengan gedung tinggi Jakarta pada waktu tengah malam.

Pernah saya tulis juga di blog ini ketika saya ketiban rejeki juara sekian lomba sebuah Kementerian. Saya melaju bersama Kereta Api Taksaka Malam bersama Frater Danang Bramasti, SJ, sekarang sudah Romo dan bertugas di Paroki Kotabaru, Jogja. Saya diajak ke rumah beliau, diajak juga ke rumah para Romo, diajak juga naik bajaj yang kala itu masih oranye semua. Saya menemukan sisi-sisi Jakarta yang berbeda. Gang-gang sempit, jalan kecil, penatnya menumpang bajaj, dan lain-lainnya. Akan tetapi, gegara saya kemudian ikut acara di Hotel Bidakara yang megah sekali itu, maka Jakarta versi realistis itu menjadi pemandangan sekunder untuk disimpan dalam memori, bergabung bersama kenangan kecupan mantan.

Klik untuk membaca selengkapnya!

11 Perbandingan Populasi Islandia Dengan Angka-Angka di Indonesia

Islandia, sekarang semua orang sudah pernah mendengar nama itu, padahal sebelumnya tidak. Pencapaian di Euro 2016 bikin mata dunia terbuka, walaupun tayangannya masih saja kalah pamor dibandingkan sinetron Anak Jalanan. Negeri dengan bumi yang bisa dibilang termuda itu bikin terbelalak karena dengan jumlah penduduk yang bahkan lebih sedikit daripada Kota Leicester, bisa menaklukkan Inggris dan melaju ke perempat final Euro 2016 untuk bertemu tuan rumah.

Nah, saya jadi iseng, dengan jumlah penduduk yang menurut worldometers.info hanya 331.796 orang saja, kira-kira setara dengan apa ya jika kita bahwa angka itu ke Indonesia?

Ini dia!

1. Jumlah penduduk Islandia itu tidak ada apa-apanya dengan jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Jawa Barat yang mencapai 445.489 orang.

IslanIndo1

2. Jika ingin mengumpulkan orang untuk bisa sama dengan jumlah penduduk Islandia, cukup panggil seluruh tenaga keperawatan dan tenaga kebidanan yang ada di Indonesia, jumlahnya sudah melebihi penduduk Islandia, kok. karena ada 335.646 orang tenaga keperawatan dan kebidanan di Indonesia.

IslanIndo2

3. Ternyata lagi, jumlah seluruh penduduk Islandia tidak sebanding dengan jumlah pengangguran di Sumatera Utara, yang menurut data BPS pada Agustus 2015 jumlahnya 429.000 orang.

IslanIndo3

4. Nah, akhirnya jumlah penduduk Islandia punya nilai yang melebihi angka di Indonesia. Hal itu untuk perbandingan terhadap jumlah narapidana. Setidak-tidaknya, sih, jumlah penduduk Islandia masih jauh lebih banyak daripada jumlah narapidana di Indonesia yang 138 ribu lebih itu.

IslanIndo5

Selengkapnya!

Sebuah Pagi Bersahaja di Pantai Sanur

photogrid_1464103239473.jpg

Pagi hari, berbekal perut penuh babi guling yang enaknya setengah mati, saya terjaga. Pagi yang biasa di sebuah kota nan tidak biasa, namun lama-lama ya biasa juga. Mungkin yang bikin tidak biasa adalah karena begitu saya terjaga dan melangkah keluar kamar, tanah bisa langsung dijejak dengan sempurna. Kota kesebelas, baru kali ini dapat kamar yang menempel langsung pada tanah. Bukan mengawang strata title layaknya di kota-kota lainnya.

Sebuah pagi yang kesekian ribu dalam hidup. Namun pagi yang semacam ini selalu berbeda, tentu saja karena tempatnya berbeda. Di kota pertama, Kendari, saya memberanikan diri untuk keluar hotel sendirian menyusuri pantai teluk yang penuh sampah, semata-mata hendak menikmati matahari yang terbit begitu tenangnya. Di Manado saya beranjak pagi-pagi buta untuk mencari Tuhan, yang ternyata ada persis di sebelah hotel. Di Jayapura, saya melintas sepinya hari sabat untuk merasakan pagi yang berbeda di pulau surga. Sebuah pagi pada prinsipnya selalu berbeda, apalagi ketika pagi itu tiba ketika kita sedang berada dalam sebuah perjalanan.

Maka, pagi itu kedua kaki saya lantas menempel pada sandal hotel berwarna khas, karena saya memang tidak membawa sandal. Langkah demi langkah kemudian membawa saya melintasi gerbang lapangan golf, homestay-homestay kecil, sisa-sisa malam nan belum berakhir, dan aroma laut yang tiada bisa ditipu. Semuanya khas pagi yang saya rindukan. Pagi yang tidak tergesa-gesa, pagi yang sunyi dan tenang, pagi yang bersahaja.

Tidaklah cukup jauh kaki saya melangkah untuk kemudian jejak pada aspal berpindah menjadi jejak pada pasir. Ya! Pantai! Aroma laut, angin khas penuh lembab, hingga desir ombak menjadi satu di dalam otak melalui panca indera.

photogrid_1464102893272.jpg

Inilah Pantai Sanur. Sebuah nama yang bertahun-tahun silam hanyalah sebuah mimpi bagi saya. Menginjakkan kaki di Bali adalah suatu ketidakmungkinan pada suatu masa, namun lantas menjadi sebuah probabilitas yang begitu mudah pada masa lainnya. Dan kini saya telah menginjak Bali, setelah terlebih dahulu melihat Jalan Mandara dari atas langit. Jalan yang hanya tinggal diisi tanah saja, sudah bisa mengubah tol tengah laut menjadi tol pinggir laut. #TolakReklamasiBali

Matahari terbit dengan jelas, meski langit tidaklah cerah benar. Perlahan dia tampak naik, meski sebenarnya bumi yang berputar. Terang perlahan-lahan membuat dirinya paripurna sebagaimana hakikatnya. Sementara itu, saya menyibukkan diri dengan menghirup segar udara pantai. Ah! Surga nan sederhana.

Cukup banyak orang yang menghabiskan waktu dengan berendam di Pantai Sanur ini. Tampaknya hidup mereka begitu selow, sementara saya sebentar lagi harus bergegas mandi, makan, berangkat, bekerja, kemudian kembali ke Jakarta. Adakah nanti kiranya waktu bagi saya untuk menikmati kehidupan layaknya mereka? Oh, saya rasa tiada perlu. Toh, saya sekarang justru tengah menikmati kehidupan via kesempatan yang diberikan untuk menjejakkan kaki di Bali.

photogrid_1464102953399.jpg

Sementara mentari bertambah tinggi, tampak anjing-anjing muda berkejaran satu dengan lainnya di sela-sela bebatuan yang ada di pantai. Ada yang tercebur ke laut, mencoba berenang sendiri dengan susah payah, namun lantas berhasil mencapai bebatuan dan bermain kembali tanpa tampak takut akan terjatuh lagi.

Begitulah. Sanur di pagi hari menawarkan kesahajaan. Entah jika saya datang lagi di siang atau sore hari. Entah pula jika saya datang ke Kuta pada pagi hari, mungkin saya bisa beroleh pagi nan bersahaja pula. Bukankah hidup ini adalah soal kesempatan yang mungkin kita dapat dan semaksimal mungkin usaha kita untuk mengelolanya?

Maka dengan paru-paru yang penuh saya berbalik pulang, pulang dalam terminologi pendek–tentu saja. Meninggalkan pagi yang bersahaja di Sanur, sambil berharap jiwa pagi itu bersemayam dalam hati nan penuh gegabah ini.

Tabik.

Selamat Ulang Tahun Pernikahan Ke-30

kaveredit

Seorang anak adalah produk dari suksesnya pertemuan seorang pria bernama Spermanto dengan gadis manis semlohe bernama Ovumwati. Itu takdir alam dan sudah dipercaya sahih secara saintifik. Sama halnya dengan anak manusia yang memiliki blog ariesadhar.com ini. Saya tentu saja tidak tiba-tiba dipungut dari bawah batu maupun dari dalam amplop honor narasumber. Saya adalah produk dari dua manusia nan berkasih-kasihan. Dua manusia yang mengikrarkan janji sehidup semati tepat 30 tahun yang lalu.

Yes, 30 tahun yang lalu itu berarti tepat pada 4 Mei 1986, Bapak dan Mamak saya melangsungkan pernikahan di Gereja Santo Petrus Claver Bukittinggi. Bangunan tua yang jika sekarangpun kita lewat Jalan Sudirman Bukittinggi, bentuknya ya sama saja dengan 30 tahun silam. Dan hari ini, tepat 30 tahun keduanya memadu kasih dengan legal ke negara pun legal ke Tuhan.

Bahwasanya peristiwa 30 tahun silam itu adalah sesungguhnya misteri ilahi. Bagaimana mungkin Bapak saya yang asli kelahiran Sleman itu bertemu dengan Mamak saya yang lahir pun besar di Padangsidimpuan? Dua kota yang sama-sama berakhiran -an, dua kota yang sama-sama ternama dengan salaknya, dua kota yang sangat berjauhan. Dan keduanya bertemu di tempat yang sama sekali berbeda, bukan di salah satu kota. Bapak dan Mamak bertemu di Bukittinggi. Kondisi inilah yang selalu membuat saya berasa absurd ketika ada orang bertanya, “kamu orang mana?”

Lha, saya harus jawab apa? Orang Jawa? Bisa banget, jika dirunut secara patrilineal saya dapat membawa garis Jawa milik Bapak. Orang Batak? Bisa juga. Demi mengesahkan cinta dengan Mamak, Bapak sudah memiliki marga Simamora. Orang Bukittinggi alias orang Padang? Kalau mengacu bahwa asal itu adalah tempat kelahiran cum tempat dibesarkan, jelas saya sahih menjadi orang Bukittinggi. Kalau tidak ada misteri ilahi 30 tahun silam, sosok absurd semacam saya dipastikan tidak ada.

Selanjutnya!