69 Fakta Unik Kawasan Industri

Bongkar-bongkar postingan di blog, malah nemu tulisan berjudul “Fakta Kawasan Industri” yang ditulis pada 29 Maret 2012. Wah, waktu itu mantan saya baru 2, dan ternyata cikal bakal posting-posting laris di blog ini sudah nongol sejak 2 tahun sebelumnya. Posting laris apa? Itu lho, mulai dari 77 Fakta Unik Mahasiswa Sanata Dharma, 97 Fakta Unik Farmasi, 85 Fakta Unik LDR, 72 Fakta Unik CPNS, sampai 123 Fakta Unik Mahasiswa Jogja. Posting aslinya hanya memuat 12 fakta, dan tidak semuanya unik. Ah, itu kan 2 tahun yang lalu, pas saya masih jomlo pula. Kalau sekarang, pastinya berbeda. Maka, tulisan ini saya olah kembali dengan judul 69 Fakta Unik Kawasan Industri.

1. Kawasan industri merupakan tempat berdirinya pabrik-pabrik (ya iyalah!)

Peking_Shougang_Industrial_Park_04

2-69

Advertisements

Batik, Dari Pengantar Tidur Sampai Panggung Pentas

Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya.
Indonesia sejak dulu kala, slalu di puja puja bangsa.

Hey! Lagu itu jadi pengantar di company profile tempat saya bekerja sekarang. Kenapa? Kantor saya mengabdikan diri dalam penelitian obat yang berbasis bahan alam Indonesia. Jadi, agak pantas kalau pakai lagu itu. Dan menyoal pusaka abadi nan jaya, selain tanaman obat, ada sebuah benda lain bernama Batik Indonesia.

Batik, sejatinya identik dengan Jawa. Itu perspektif saya jaman kecil. Harap maklum, saya besar di Bukittinggi yang kental Minangkabau sangat. Disana ada seni tersendiri soal kain-kainan. Keunikan Indonesia, sungguh kaya.

Kenapa lantas identik, karena bapak saya dari Jawa dan segala selendang yang ada memang didatangkan dari Jawa alias bekas pakainya Mbah Putri saya. Kalau dari mamak saya, ada yang namanya Ulos. Jadi, saya zaman kecil bergaul dengan dua jenis kain-kainan bernama batik dan ulos 🙂

Dan selendang batik yang jelas-jelas adalah batik Indonesia adalah pengantar tidur saya jaman dahulu kala. Eh, bukan. Itu tempat tidur saya! Sudah jamak dimana-mana, selendang dengan motif batik digantung di dua sisi sekuat-kuatnya dan memuat sesosok bayi mungil harapan bangsa yang susah tidur di dalamnya. Bayi dan selendang batik itu digoyang sampai akhirnya terlelap.

Adakah dari antara pembaca yang masa kecilnya demikian? Seru yak!

Dan saya lantas menjadi tukang dorong ayun batik untuk adik bungsu saya.

Batik juga jadi motif mendasar selendang ibu-ibu membawa anak, JAUH sebelum sesuatu bernama HOLDER muncul di Indonesia Raya tercinta ini. Maka, anak-anak pastinya akrab dengan motif batik Indonesia lewat selendang mereka. Yah, walaupun pada akhirnya malah dipakai untuk sarana ekskresi. Sayangnya.

Batik di Indonesia tidak sebatas itu saja. Ketika saya beranjak dewasa, mulai deh batik dipakai lagi. Pertama kali saya pakai batik (lagi) adalah waktu jadi Juara 3 Lomba Penulisan Hari Ozon 2003. Dengan batiknya Mbah Kakung, celana kain punya bapak waktu muda, plus sepatu kets. Sungguh sangat tidak nyambung batik itu pada saya. Nggak apa-apa, setidaknya batik Mbah Kakung bisa jalan-jalan ke Bidakara 🙂

Lalu saya dan batik menjadi akrab waktu kuliah. Lewat ajang dan event bernama paduan suara, saya mendapatkan sebuah baju batik gratis. Bagi anak muda labil, gratis itu mempesona. Batik ini menjadi kostum wajib kala melakoni tugas-tugas menyanyi di ajang pelepasan wisuda atau sumpahan apoteker.

Tampaklah, bahwa batik Indonesia sejauh saya ikut mengenakan, ada penyerta dalam setiap kesempatan budaya, dalam hal ini menyanyi.

Terus beranjak ke dunia kerja, akhirnya saya memperoleh baju batik paling mantap sepanjang hayat saya. Jadi ceritanya, dalam rangka ulang tahun perusahaan, saya disuruh ikut ke Jakarta dari Palembang, menyanyi di kantor pusat, di sebuah tempat yang mirip Teater.

Rasanya, tak terlukiskan.

Batiknya memang berbeda-beda, tapi sebuah warisan bernama batik Indonesia itu sudah menemani saya dari ayunan sampai ke panggung yang megah. Batik yang sama pula yang sejak dulu kala menjadi kekayaan bangsa dari waktu bangsa ini belum ada, sampai sekarang bisa tegar berdiri di kala krisis dunia dan isu-isu disparitas.

Maka, percayakah teman-teman sekalian bahwa batik ini kekayaan?

Bahwa menggunakan batik Indonesia adalah kebanggaan untuknya diterapkan di kantor saya sekarang dengan 1 hari khusus batik. Setidaknya, menurut saya, hal ini bisa mengingatkan kita semua bahwa bangsa yang besar ini punya warisan yang besar, yang menemani dari jaman lahir sampai besar dan penuh karya.

Kita sekalian, yang dari kecil ditemani batik, pastinya akan tetap dalam naungan batik Indonesia kan? Biarlah batik menjadi teman kita bertumbuh besar, karena dia adalah warisan yang sangat berharga.

Salam Batik!

Tulisan ini disertakan pada lomba Blog Entry bertema Batik Indonesia, kerja sama Blogfam dan www.BatikIndonesia.com

 

Merekomendasikan tintusfar.wordpress.com

Semalam, sebuah whatsapp masuk ke My Y, minta saran saja sih, untuk menulis artikel bab orang muda dan wirausaha.

Maka, otak saya melayang ke dua blog. Yang satu punya Merry Riana, satunya lagi punya Tintus.

Kalau Merry Riana ini semacam perspektif finansial. Idenya bagus, hanya kurang dekat. Yah, Merry lulusan NTU, memang sempat tertatih, tapi dia menjalani hidup dengan baik di Singapura. Oke sih, inspiratif, tapi mungkin saya butuh contoh yang jauh lebih dekat.

Maka saya lantas merekomendasikan blognya Tintus. Toh, Tintus juga terinspirasi dari Merry Riana. Merekomendasikan blog yang ini malah bermakna dapat dua-duanya. Bukan begitu?

Ini blog sebenarnya isinya simpel. Betul-betul tentang sehari-hari. Beda dengan blog ini yang separuh berat dan separuh lagi galau. *astaga*

Tintus berkisah dengan mengalir, habis bangun, mencuci, habis itu mandi, dan seterusnya sampai tidur. Betul-betul sederhana. Mengalahkan nama blog saya yang sebuah perspektif sederhana tapi banyak biasnya.

Kolom about-nya juga simpel: Hanya seorang laki-laki kecil. Bercita-cita memiliki kebebasan dalam segala hal.

That’s the point!

Tintus betul-betul membuat blognya simpel, bahkan tanpa mengganti judul blognya. Itu masih asli pemberian wordpress. Hehehehe. Tapi blog berdesain bagus ya nggak bermakna kalau tidak berisi. Pastinya demikian.

Satu hal yang penting adalah ketika seseorang mampu memutuskan pilihannya, dan lantas menjalaninya. Itu bagus. Poin itu yang saya harap bisa ditangkap oleh pengirim whatsapp, ketika saya merekomendasikannya membuka tintusfar.wordpress.com

Sekadar review, sila cek di daftar blog teman di sebelah kiri blog ini, kalau memang berminat 🙂

 

Andrea Stramaccioni: Siapa Dia?

Claudio Ranieri harus kehilangan gelarnya sebagai The Tinkerman. Sebelum ini, Ranieri selalu sukses membenahi tim yang remuk redam. Banyak contoh, Chelsea, Roma, Juventus, dll semuanya dalam kondisi semenjana ketika The Tinkerman datang. Gelar tidak didapat memang, tapi fondasi diperoleh, dan pelatih berikutnya sukses membenahi.

Tapi di Inter dia gagal. Sempat meraih 16 kemenangan, tapi 13 kekalahan yang mana sebagian besar terjadi sejak mengalahkan Lazio di Januari 2012, membuat posisinya hilang.

Dan, entah angin darimana, Andrea Stramaccioni didapuk jadi pelatih Inter.

Kening Interisti berkerut, siapa dia?

Sebelumnya, mari kita flashback pelatih Inter sebelumnya, semasa Senor Morrati Junior bertugas.

Tahun 1995 ada nama Ottavio Bianchi. Tidak lama, namun berperan dalam datangnya Javier Zanetti di Inter. Bianchi dipecat di tengah jalan dan digantikan legenda jadul, Luis Suarez. Sebelumnya, Luisito pernah melatih Inter pada 1974 dan adalah bagian integral Il Grande Inter di medio 60-an. Berikutnya, di musim 1995-1997 ada nama Roy Hodgson. Saya senang Inter mulai era ini. Ada Ronaldo disana. Paling miris adalah nyaris juara Piala UEFA tapi kalah adu penalti. Hodgson dipecat di tengah jalan dan diganti pelatih kiper, Luciano Castellini, untuk dua match terakhir di 1997. Era sukses Piala UEFA diraih dalam asuhan Luigi Simoni, menang 3-0 lawan Lazio di final. Di era ini juga tragedi penalti kontroversial melawan seteru abadi menyeruak. Sempat oke di musim pertama, Simoni keder di musim kedua. Ia dipecat dan diganti Mircea Lucescu. Ini juga nggak lama, dan dipecat lagi, Castellini membali turun tangan, namun kali ini tidak memuaskan. Muka jadul nongol lagi ketika Hodgson kembali melatih Inter di 1999, untuk 4 pertandingan terakhir. Era Ronaldo-Bobo sempat menggebrak di bawah Marcello Lippi pada 1999-2000. Skuad mahal tapi tanpa gelar. Lippi malah dipecat setelah 1 pertandingan di musim keduanya dan digantikan Marco Tardelli. Pelatih ini bertanggung jawab atas pembantaian Inter 6-0 oleh Milan. Ia digantikan pelatih spesialis nyaris sukses bernama Hector Raul Cuper di 2001. Datang berbekal dua kali runner up Liga Champions, Cuper berhasil membawa Inter nyaris juara tapi kalah oleh Lazio di pertandingan terakhir. Di 2003, Cuper akhirnya dipecat dan diganti Corrado Verdelli untuk sesaat penghabis musim. Musim 2003/2004, Inter di bawah asuhan Alberto Zaccheroni yang sempat membawa Milan juara, namun magisnya nggak terasa di Inter. Hanya tahan semusim. Roberto Mancini datang di 2004 dan mulai membawa perubahan, termasuk permainan nyaris kalah yang membuat angka draw sama besar dengan angka menang, lewat pertandingan yang dramatis di banyak laga. Bergelimang gelar domestik, tapi Morrati ingin yang lebih, maka di 2008, Mancini distop. Datanglah pelatih tersukses Inter setelah Helenio Herrera, Jose Mourinho. Hanya 2 musim, tapi mengukir treble winner yang akan dikenang sepanjang hayat. Pasca sukses, Mou hengkang. Datanglah Rafa Benitez di 2010, gagal mempesona meski mempersembahkan dua gelar. ia digantikan Leonardo yang sempat melengkapi koleksi trofi juara Coppa. Pelatih medioker Gian Piero Gasperini entah bagaimana bisa jadi pelatih Inter di awal musim 2011 setelah ditinggal Leonardo ke Paris SG. Pelatih kampung ini tahan 3 bulan setelah kalah dari tim-tim nggak jelas: Novara, Trabzonspor, dll. Tinkerman datang menggantikan, dan dia gagal.

Nah, siapa sih Andrea Stramaccioni ini?

sumber: inter.it

Lahir, deket-deket saya, hehe.. 9 Januari 1976, alias baru 36 tahun. Catat! Lebih muda dari Javier Zanetti. Asli kota Roma dan berposisi sebagai pemain belakang selama semusim di Bologna, namun kandas karena cedera. Sejak tahun 2000 berkelana melatih. Mulai dari Latina sampai 2002. Dilanjutkan di Romulea 1 musim. Lanjut 2003 di Crotone selama 2 tahun. Lama di Roma, dari 2005 sampai 2011. Dan mulai masuk Inter di 2011.

Ia dipilih karena pada hari Inter kalah dari Juve, berhasil membawa Inter U-19 juara Next Gen Series, semacam Liga Champion untuk U-19. Saingannya sama La Masia pastinya. Tapi di final mengalahkan Ajax dengan adu penalti setelah seri 1-1 di waktu normal. Finalnya sendiri dihelat di Leyton Orient dan hanya ditonton 2500 suporter. Macam di Ajendam saja. Hehehe.

Disebut-sebut sebagai Andre Villas Boas versi Italia. Saya sih nggak setuju. AVB mulai karier di tim kecil, sukses baru masuk Porto. Lha bapak Andrea ini? Entahlah. Tapi semoga kali ini Morrati benar milih pelatih.

Gosip-gosip yang beredar, Stramaccioni hanya akan menjabat hingga akhir musim. Inter sudah mulai membidik target lain seperti AVB, Pep Guardiola, hingga yang agak realistis, Walter Mazzari. Tapi kita cek dulu deh, apakah pelatih yang terbiasa menangani bocah ini, bisa melatih Inter yang notabene berisi pemain level om-om. Karena pemain sebangsa Maicon, Julio Cesar, Zanetti, Forlan, Milito, Lucio, Chivu, atau Stankovic adalah pemain dengan usia yang tidak beda jauh dengan sang pelatih.

Bagaimanapun, semoga sukses pak! Hehehe..

 

Diabetes = Cinta Diam-Diam

Cinta diam-diam itu sungguh penyakit. Dan sejauh saya telusuri, mirip dengan diabetes. Tentunya yang tipe 2. Karena yang tipe 1 sepenuhnya kehendak yang kuasa.

Kenapa?

Diabetes tipe 2 itu tidak ketahuan pada prosesnya, nongolnya ketika pankreas sudah rusak dan insulin tidak lagi diproduksi seimbang.

Cinta diam-diam. Namanya juga diam-diam, ya nggak ketahuan. Nongolnya kalau gebetan sudah punya pacar, ditandai dengan gila, atau setidaknya stress.

Diabetes tipe 2 itu menahun, persis cinta diam-diam.

Diabetes tipe 2 itu ditandai dengan gagalnya karbohidrat dikonversi maksimal menjadi energi oleh insulin. Cinta diam-diam ditandai dengan gagalnya konversi terhadap harapan yang tinggi menjadi realita.

Diabetes tipe 2 menyebabkan penumpukan gula di sekitar pembuluh darah, pelan-pelan menyebabkan sumbatan dan pada akhirnya kecepatan darah meningkat. Cinta diam-diam, dalam diamnya, sudah juga membuat kecepatan darah meningkat.

Diabetes tipe 2 tidak bisa disembuhkan, bisanya di-maintenance. Kalau cinta diam-diam? Kan namanya juga diam-diam, ya nggak bisa sembuh. Kalaulah itu diungkapkan, maka namanya sudah bukan cinta diam-diam lagi.

Obat seperti Metformin dan Acarbose akan membantu menggantikan fungsi insulin atau mempercepat penyerapan gula sehingga tidak menumpuk. Obat dari cinta diam-diam adalah mempercepat konversi harapan ketinggian menjadi kepasrahan.

Diabetes tipe 2 pada umumnya karena kurang gerak. Kalau cinta diam-diam? Yah, namanya juga diam kok. Ya jelas nggak bergerak.

Demikianlah, cinta diam-diam itu sakit, seperti halnya diabetes. Dan sebaliknya.

Cegahlah, sebisa mungkin! 🙂

Cinta Diam-Diam

Jemari kokoh dengan lengan berbulu, berbalut arloji mahal merk Alba, menari indah di atas keyboard. Tampak jelas di layar monitor bahwa waktu sudah menujukkan jam 12.07 AM alias tengah malam. Segelas kopi yang telah menjelma dari kopi panas menjadi es kopi masih tergeletak manis di sisi kiri layar monitor. Setumpuk dokumen tampak di sisi sebaliknya. Sesekali terdengar bunyi klik.

Jam yang tidak logis untuk menarikan jemari apalagi dilakukan di sebuah meja kerja, dengan seragam rapi, masih berbalut dasi, pun sepatu masih pantofel. Ini di kantor. Jam 12 malam, di kantor, sungguh sebuah perpaduan romansa cinta, wajib, dan terpaksa.

Dear Pak Wiryono,

Terlampir saya kirimkan draft Master Planning dengan perhitungan kapasitas sesuai remark meeting hari ini. Mohon dapat direview.

Terima kasih atas perhatiannya.

Best Regards,
Axel Ricardini

“Done! Hufftttt..,” teriak Axel, si pemilik jemari berbulu yang menari tadi. Tak masalah baginya berteriak-teriak jam segini. Tidak akan ada yang mendengar. Paling mentok satpam di depan, itupun paling lagi bobo juga. Yang paling logis untuk ikut mengikuti teriakan Axel adalah tikus-tikus yang nongol di malam hari. Makhluk hidup yang semacam makhluk gaib karena masih tampil eksis di sekitar kantor meski pest control sudah diterapkan di kantor.

Kantung matanya sudah semacam pemimpin terkemuka. Lama-kelamaan properti itu sudah tidak bernama kantung lagi, tapi karung. Yak, sebut saja karung mata. Kekayaannya itu jelas memperlihatkan bahwa Axel sudah sangat-sangat mengantuk.

“Ah, jumat ini. Besok libur juga,” gumam Axel di sela keheningan malam. Dalam posisi begini, Axel memang sering melakukan monolog dengan berbagai alasan. Salah satunya tentu untuk membunuh sepi karena playlist lagu-lagu di laptopnya sudah membentuk paham monotonisme. Namanya juga laptop kantor, setiap data yang masuk banyak tetek bengek yang harus dipenuhi. Walhasil, Axel menjadi malas dan menerima apa adanya file yang tersimpan di laptop turunan dari pejabat Demand Planning Supervisor sebelumnya.

Dan tampaknya DP Spv itu galau. Bisa dilihat dari pilihan lagu-lagunya.

Bila Rasaku Ini Rasamu
Demi Cinta
Harusnya Kau Pilih Aku
Tegar
Cemburu

Yah, lagu-lagu getirnya cinta. Dan entah mengapa dan bagaimana, kompilasi lagu itu menjadi pas, cocok, dan sesuai untuk kondisi kejiwaan Axel ketika masuk ke kantor barunya ini.

Axel adalah petualang cinta sejati. Tak hanya cinta dengan lawan jenis, namun cinta terhadap employer. Total, dalam 5 tahun kerja dari level bawah selepas lulus S1, Axel sudah berada di 4 perusahaan. Ya, kira-kira setiap tahun 1. Artinya lagi, sepanjang kerja, Axel belum pernah menikmati indahnya hak cuti. Ya tentu saja, ketika sudah tiba waktunya mendapat hak cuti, Axel malah minggat ke perusahaan lain dan memulai kembali dari nol.

Bagi Axel, hidup itu tidak bisa monoton. Setiap pekerjaan dilakoni sebagai proyek, karena dia terbiasa berpikir demikian ketika kuliah. Di dunia kerja yang keras, kualitas orang yang dibutuhkan, kesetiaan? Ah, itu menyesuaikan. Orang yang sudah puluhan tahun kerja di sebuah perusahaan saja bisa pindah haluan. Ada juga yang pindah kesana kemari lalu kembali lagi. Nggak ada yang salah soal itu.

Mouse yang tampaknya juga sudah mengantuk itu masih dipaksa untuk melakoni kegiatan. Kali ini yang dibuka halaman-halaman media sosial, Facebook, Twitter, dan Koprol. Axel juga membawa mouse tua sisa pendahulunya itu membuka tab-tab WordPress, Blogspot, dan Tumblr.

Satu hal yang selalu menjadi pertanyaan mendasar Axel ketika membuka akun Facebooknya. Dia punya teman FB sebanyak 1291, tapi ketika giliran membuka timeline, di bagian kanan atas tempat foto 8 orang teman yang terpilih, selalu muncul orang yang itu-itu saja. Masak sih FB tidak bisa membuat random yang sebenarnya random? Sebenarnya sih, yang lebih mengusik Axel adalah nongolnya foto dan nama akun Dara Milyana. Mengusik sesi 1 karena setiap kali refresh timeline, 7 teman lain berubah tapi Dara tetap. Mengusik sesi 2 adalah karena gadis itu sudah berusaha direfresh berkali-kali dari hati Axel, dan nggak pergi-pergi.

Hasil permenungan Axel adalah, gagal refresh merupakan manifestasi cinta diam-diam. Perihal cinta diam-diam tentu nggak bisa pakai terminologi move on, karena cinta diam-diam tidak mengenal move. Be silent, observe, and hurt. Cinta diam-diam ya sesederhana itu.

Jemari lemas Axel memandangi foto sampul Dara, lanjut ke foto profilnya, diteruskan dengan memantau posting satu demi satu. Entah wall post, entah status. Selalu semacam inilah Axel. Padahal dia sendiri tahu, bahwa Dara adalah gadis yang penuh kedalaman. Apa yang dia tulis di FB hanyalah bagian kecil dari kehidupannya. Artinya? Cek FB tidak berdampak signifikan.

Axel hanya kangen pada Dara. Dan cara itu adalah satu-satunya bentuk penghapus rindu.

Jam 1. Kantor sudah benar-benar sepi. Axel menutup laptopnya dan bergegas pergi tanpa peduli pada es kopi dan tumpukan dokumen di sekitarnya. Dia lelah.

Senin pagi.

Kata Coach Rene, kalau Senin pagi membuat anda hendak masuk sumur saja, itu berarti anda tidak menikmati pekerjaan. Untunglah, Axel tidak demikian. Dia memang ngantuk, tapi itu wajar untuk senin pagi. Ngantuk tidak relevan dengan pola pikir. Dalam kantuk-pun, Axel masih bisa bekerja.

Masalahnya, hari ini Axel bukan hendak kerja, tapi ada jadwal seminar. Uang perusahaan berjuta-juta terhampar untuk membawa Axel ke seminar, dan kemudian dibalas dengan kantuk sepanjang seminar? Sungguh bukan Axel.

Maka peraduan pagi itu adalah kopi.

Penyelenggara seminar sudah cukup biasa tampaknya. Terbukti dengan sepagi ini, coffee break sudah tersedia dengan damai. Axel membawa goodie bag berisi materi seminar plus beberapa cendera mata. Matanya sudah menagih kafein sebagai syarat untuk tetap menyala sepanjang hari.

Gelas elit sudah ada dalam genggaman Axel. Gula dalam porsi wajar sudah masuk, pun dengan sedikit krimer. Menu dasar untuk acara coffee break, yang sudah ada sebelum acara. Aneh ya, acara belum mulai, kok udah break?

Axel tertunduk sambil mengaduk kopinya. Aroma kopi di pagi hari itu sudah cukup untuk menggugah suasana tubuh untuk sirkulasi biologis yang lebih baik. Dalam kondisi tertunduk pula, mata Axel menemukan diksi yang tiada asing tertulis pada sebuah call card yang terletak di atas meja kopi.

Dara M.

Ini Dara?

Wajahnya mendongak, melihat ke sekeliling. Paras cantik itu mestinya tidak akan sulit ditemukan, apalagi di tempat semacam ini. Tapi Axel juga memposisikan diri untuk tidak berharap lebih. Terkadang, berharap lebih itu bisa sakit, apalagi dalam terminologi cinta diam-diam.

“Xel!”

Suara paling merdu sedunia itu membuat kaget. Kemerduan suaranya saja sudah bikin kaget, ditambah intonasinya memang ditujukan untuk mengagetkan. Axel sontak berbalik. Dan benarlah, keindahan diam-diam itu ada di depan mata. Dara.

“Heyyy.. Ikut ini juga to?”

“Yoilah. Kalau nggak ngapain aku kesini, Xel.”

“Haha. Iya juga. Masih di tempat lama, Ra?”

“Masihlah. Aku kan setia.”

Aku juga setia loh, pada cinta diam-diamku untukmu, batin Axel. Tentunya sebatas batin, karena kalimat itu akan tampak absurd kalau terungkap dengan jelas.

“Udah supervisor dong?”

“Ya, begitulah. Aku ya nggak terima kalau udah kerja segini lama masih gitu-gitu aja. Kamu?”

“Ya sama kalau gitu. Artinya kita sama-sama supervisor. Hehe.”

“Pastinya gajinya beda. Axel kan pakar bidang forecasting. Ini kata bosku loh.”

“Bosmu siapa?”

“Pak Alef. Katanya kemarin ketemu Axel Ricardini waktu training Manajemen Operasi.”

“Oh, Pak Alef bosmu to? Tahu gitu tak akrabin lagi kemarin. Hehehe..”

“Bisa aja kamu, Xel. Ayo sambil masuk aja deh. Udah lama nggak cerita-cerita kita.”

Udah lama aku ingin saat-saat ini, Dara. Untaian kata-kata itu masih stuck di otak Axel saja.

Axel dan cinta diam-diamnya, Dara, sudah duduk manis di dalam ruang seminar. MateriVendor Managed Inventory menjadi topik besar hari ini. Axel sendiri sejatinya malas, karena menurutnya ada banyak metode lain yang secara komunikasi lebih simpel alih-alih VMI. Tapi kalau bos sudah nyuruh, mau apa?

“Eh, bukannya kamu dulu di Jakarta, Xel?”

“Iya. Ini kan baru pindah.”

“Pindah? Udah berapa kali?”

“Hahahaha.. Aku tukang pindah kok, Ra. Terakhir di Bandung, baru pindah kesini.”

“Gila..”

“Mencari yang terbaiklah.”

“Udah nemu?”

Ini di depan mataku, batin Axel. “Ya dalam proses. Masih mencoba menemukan, ” ujar Axel dengan pilihan kata yang tidak berkoneksi relevan dengan yang sejatinya hendak keluar.

Seminar dimulai tepat pukul 9, bagus untuk ukuran Indonesia yang suka molor. Mungkin karena orang yang ikut disini adalah pesohor rantai pasokan yang jelas taat waktu. Bagaimanapun waktu dan kejar-kejaran adalah sebagian dari iman orang rantai pasokan. Diakui atau tidak.

Axel tidak fokus sempurna. Teori VMI masuk ke kepala dan berbaur dengan kisah cinta diam-diam-nya dengan teman lamanya, yang sekarang persis ada di sebelahnya. Aih, indah dan penuh dilema.

“By the way, udah married, Ra?” tanya Axel. Sebuah pertanyaan mendasar untuk memastikan. Sebenarnya di Facebook tidak tampak tendensi Dara menikah, meski statusnya disembunyikan. Pertanyaan mendasar yang butuh keberanian tingkat delapan untuk melontarkannya. Tapi masih dapat konteks ketika coffee break.

“Aih, bukannya kamu? Aku mah masih gini-gini aja, Xel. Masih mencari yang bisa dicintai sekaligus dimiliki.”

“Kayak pernah denger. Dimana ya, Ra?”

“Ah masak?”

Itu kan statusmu tiga hari yang lalu, teriak batin Axel. Kali ini hendak keluar, masih tercekat di esofagus.

“Mungkin dari tivi kali ya..” Axel akhirnya berusaha ngeles.

“Wah, setahuku, itu kata-kataku. Tivi nyontek dong.” Dara berkata-kata dalam keindahan paras, kesempurnaan senyum, dan kepenuhan cinta diam-diam Axel. Kombinasi letal penuh dilema. Apalagi ditutup dengan bubarnya break.

Materi VMI kembali masih ke otak para peserta, termasuk Axel. Teori dan contoh praktek terpapar satu per satu, termasuk bagaimana mengelola komunikasi tentang stok yang harus ada di vendor, termasuk pula problem yang mungkin terjadi dalam pelayanan material, termasuk juga soal terminologi pembayaran dan kontrol kualitas. Penuh pokoknya.

Dan karena penuh itu, mendadak Axel punya ide.

Makan siang.

Sapi lada hitam adalah menu populer di hotel tempat seminar digelar. Axel dan Dara, sebagai kawan lama, memilih makan berdua, di tepi kolam, sambil melihat bule gendut berbulu berenang. Ah, nggak ada penambah nafsu makan bentuk lain?

“Ra, kayaknya aku punya contoh model VMI yang paling gampang,” kata Axel sambil mengiris sapi lada hitamnya.

“Apaan tuh?”

“Tadi kan katanya, vendor mengetahui stok di pabrik, dan sebaliknya.”

“Iya, terus?”

“Nah, anggap kamu pabrik, aku vendor. Kamu boleh tahu stok cintaku padamu.”

“Heh?” Dara melongo.

“Terus tadi katanya, pabrik bisa melakukan permintaan sesukanya. Nah, kamu silahkan meminta cintaku sesukamu. Dan terakhir, vendor harus memastikan kalau stok nggak akan habis saat pabrik membutuhkan. Tenang saja, akan selalu ada cinta untukmu.”

Dara masih melongo.

“Ra?”

“Ehm… itu tadi apaan ya, Xel?”

“Anggap saja aplikasi training, merangkap katakan cinta.”

“Hah? Perasaan kita baru ketemu lagi?”

“Tapi perasaanku ke kamu sudah dari jaman nggak enak, Ra.”

“Ohhh.. so?”

“Ya terserah sih. Tadi kan cuma ngomong doang.”

“Tidak berharap komen kan?”

“Ya kalau ada komennya, lebih baik sih, ” kata Axel sambil nyengir.

“Hmmm.. aku pikir dulu deh komennya, harus dijawab pakai teori VMI juga nih. Hehe..”

Dara tersenyum, Axel tersenyum.Mungkin, sapi lada hitam juga ikut tersenyum.

Bagian terbaik dari cinta diam-diam adalah ketika dia diungkapkan.

 

Thanks God!

Apa makna kehidupan? Tentu banyak. Saya baru mengalami makna kehidupan lewat sebuah PERJALANAN.

Ehm, mungkin tepatnya bukan sebuah, tapi beberapa buah. Berikut detailnya.

16 Maret
Saya masih sibuk berkutat dengan pembuatan video untuk diunggah di Youtube, hanya semacam video ucapan berupa kompilasi foto-foto saja kok. Lagunya pakai Depapepe. Asyik. Dan karena ini pakai Movie Maker jadi presisinya kudu digeser kiri dan kanan dan lumayan lama. Baru kelar jam setengah 12 malam. Langsung diunggah di Youtube sekitar jam itu.

17 Maret.
Pagi buta saya sudah bangun. Jam 4 tepatnya. Hendak menuju Bandara. Disini namanya PERJALANAN. Saya naik Damri dari Plaza JB yang jam 5. Kerajinan? Mungkin. Tapi kalau naik Singa Air, buat saya lebih baik kita punya spare waktu yang sangat-sangat lebih. Karena bukan sekali dua kali saya melihat orang marah-marah dan galau karena faktor telat check in di maskapai ini. Dan apa yang terjadi? Sebuah tidur pagi indah membawa saya ke tol Cengkareng pada pukul 6 dan sampai terminal 1B setengah 7. Padahal flight saya jam 9.10. It’s OK.
Then, saya naik pesawat JT 330, dulu akrabnya sama 331 dan 336 padahal. Kemana? Bermain dengan masa lalu, Palembang. Di tempat saya bertumbuh kembang itu, saya disambut oleh service yang luar biasa oleh Pak DJ dan istri berikut tukang angkutnya (Ahen). Hehe. Saya juga sempat menghabiskan waktu dengan Kharisma saudaranya si BG plus si BG lain punya Mas Sigit. Berjalan-jalan seputar Palembang, mulai SPBU Rajawali nyari Pertamax sampai ke Rumah Ocha di Kenten sana.

18 Maret.
Saya bangun pagi buta (lagi). Mau gereja pagi, di seminari Palembang. Aih, dulu ini misa wajib tiap pekan. Kadang saya bosan karena suaranya Bass Tenor semua. Sekarang malah dirindukan. Namanya juga manusia ya. Next, saya naik Supra X-125 si Boni, tanpa helm dan mencicipi Mie Ahok yang terletak di depan warung 100% Halal. Ini juga kenangan. Hehe.

19 Maret.
Masih bangun pagi buta, berangkat kembali ke Sultan Mahmud Badarudin II kali ini naik SJ. Dengan kondisi si Lappy sudah disandang orang lain. AMPUN!!!!! Untung masih diberkati Tuhan YME. Hufftttt.. Perjalanan kembali saya lakoni menuju Bandara Soekarno-Hatta. Keberuntungan pemula muncul sejak bagasi. Dua kantong besar seberat 20.1 kg (over dikit) keluar duluan. Sampai luar, eh, ada bis Cikarang. Telat 5 menit sudah bablas itu bis. Wewww.. Dan saya sampai di kantor pada jam yang memadai, lebih cepat setengah jam dari pamit. Pun saya pulangnya, seperti biasa, selalu lebih malam.

20 Maret.
Ikut pelatihan K3L Hewan, malah di-SMS bapak, katanya Bruder meninggal. Jadilah saya izin siang. Kali ini dengan Prima Jasa, saya capcus ke Bandung, melintasi tol Cipularang dengan durasi serupa jarak pos Prima Jasa ke pintu tol Cikarang Barat. Asem bener. Saya turun di Pasir Koja, naik angkot Caringin-Dago, sempat diturunkan gratis di Pasar Induk Caringin dan kemudian nongol di Gereja Pandu Bandung, dekat IP. Telat. Ya iyalah. Saya lantas menginap di rumah Pak Tua karena harus berangkat audit keesokan harinya.

21 Maret.
Tentunya masih bangun pagi buta. Setengah 6, dengan diantar Pak Tua, saya sudah sampai di Pasir Koja lagi. Sempat melihat sunrise Bandung. Setengah 7, bis Prima Jasa jurusan Jababeka nongol. Jam 8 kurang seperempat sampai Jababeka, jam 8 pas sampai di kantor. Indah sekali dunia kalau begini ya.

22 Maret.
Mestinya balik ke Bandung lagi, tapi dibatalkan karena Mamak kasihan sama saya kalau bolak-balik.

23 Maret.
Perjalanan jauh sekitar 60-70 km dari Cikarang ke Gunung Bunder, Bogor. Naik motor pula, si BG! Hahaha. Ada 20-an sepeda motor yang touring. Yang ini sih nggak capek karena ramai dan jalannya lumayan. Ya lumayan buruk, lumayan macet, dll. Tapi sebagai jebolan Dolanz-Dolanz yang pernah nyetir Jogja-Semarang pp, ini pasti bukan tantangan sulit. Acara touring asyik teman kantor ini dilakoni dengan baik-baik saja.

24 Maret.
Dampak kurang tidur, dan bangun karena serbuan kentut. Hish. Perjalanan kembali ke Cikarang lagi. Masih dengan si BG dengan rem belakang yang tampaknya habis plus rem depan yang ditopang oleh ban gundul. Matilah! Mana jalan pulangnya melewati bukit dan lembah, sudah macam Ninja Hattori saja. Ada sekitar 80-90 km karena total jenderal si BG jalan 160 km. Bahkan Tuhan masih memberkati perjalanan sebuah sepeda motor yang nyaris tanpa rem di jalan yang naik turun. Apa nggak istimewa itu namanya?

7 hari atas nama Cikarang, Palembang, Bandung, dan Bogor. Dengan moda yang berbeda-beda: bis, pesawat, sepeda motor, angkot, dan mobil pribadi. Dengan tujuan yang berbeda-beda pula. Tapi dengan BERKAT yang sama. Tuhan memberikan saya hidup dan perjalanan yang istimewa. Terima kasih TUHAN! Thanks GOD! 🙂

Sehitam Kopi Semanis Senja

“Java chip, satu.”

Bara menyebut satu merk ternama di kedai kopi paling mentereng sedunia itu dengan lancar. Bukan karena hafal, tapi karena nyaris setiap kali mampir kesana, yang mana itu adalah satu semester sekali, Bara selalu memesan menu yang sama.

Kopi, ehm, okelah, it’s not exactly coffee, menu yang satu itu campuran berbagai macam benda yang menjelma menjadi Java Chip. Tapi buat Bara, itu tetaplah kopi. Dan kopi adalah teman kisah cinta diam-diamnya.

Kisah cinta diam-diam yang terlalu lama diam.

Jam setengah 6 sore. Bara duduk sendiri di sudut kedai kopi itu. Tangannya fasih mengaduk campuran kopi di hadapannya. Tampilan luar bisa menipu. Siapa yang tahu kalau jantungnya sedang memompa darah lebih kencang? Siapa yang tahu kalau di dalam perutnya seperti ada kupu-kupu yang terbang, sehingga rasanya geli minta ampun? Siapa yang tahu kalau dia sebenarnya hendak muntah?

Jangan salah, sesuatu yang diam-diam terlalu lama diam bisa menimbulkan gejala fisik semacam itu.

Kopi, bagi Bara, menjadi pengikat ke-diam-diam-annya. Ketika sebuah menu kopi sachet Carribean yang adalah menu wajibnya kala PKL ternyata disukai juga oleh Nola. Yup, inilah gadis yang di-diam-diam-kan terlalu lama itu. Tanpa pernah mengungkap, Bara paham benar kesukaan detail Nola. Termasuk kebetulan dari kopi sachet Carribean.

Kopi, bagi Bara, juga adalah sebuah janji yang tidak tercapai. Janji adalah hutang, itu versi Bara. Maka dia akan dengan senang hati berangkat ke kondangan-kondangan temannya yang jauh-jauh, semata-mata hendak menepati janji yang kadung terungkap. Kalaulah ada janji yang tak terwujud, tentulah yang satu ini.

“Enjoy coffee?”

“Pastinya.”

“Kapan-kapan aku curhat, sambil minum Caramel Machiato. Tak traktir deh.”

“Oke. Tak tunggu.”

Sebuah janji yang tiada bisa terwujud. Dan terus menggantung dalam kelamnya cinta diam-diam. Kelam, hitam, sedih yang sempurna.

Bara menyeruput kopinya perlahan, matanya melihat ke jendela. Sebuah siluet manis terhampar di depannya. Siluet manis bernama senja.

Yah, kopi dan senja adalah pemberian hidup yang istimewa. Kopi yang konon membuat kambing gembalaan di Ethiophia menari-nari gila, kopi yang konon pula membuat orang tahan di padang gurun, berpadu dengan senja yang bermakna ketenangan, berarti istirahat. Sebuah perpaduan inversi yang manis. Semanis cinta diam-diam. Ah, balik lagi kesana.

“Udah lama?”

Suara manis terdengar kalaBara menunduk menyeruput kopinya, sambil memainkan smartphone-nya.

“Nggak juga. Duduk gih..” ujar Bara sambil mempersilahkan pemilik suara manis itu duduk. Siapa dia? Nggak lain, Nola.

“Kapan dateng?”

“Tadi siang sih.. Keliling dulu, kan backpacker.”

“Backpacker ibukota?”

“Hahaha.. Ibu tiri mungkin.. Pulang kerja jam berapa tadi, La?”

“Biasa, setengah 3. Nggak ada job?”

“Esmud juga manusia, La. Butuh refreshing Hehehe…”

“Kan udah nggak esmud lagi, Bara..”

Obrolan yang tidak viskos. Untunglah. Padahal Bara sudah berpikiran yang tidak-tidak. Berbagai aroma negatif sudah membayanginya dari tadi. Bawaan sifat dasar yang katanya terjadi karena waktu ibunya hamil Bara,  kondisi keuangan keluarga sedang morat-marit sehingga ibu sering murung di rumah. Semacam menyesal menikah.

Jadi, wahai ibu hamil, selalu bersenang-senanglah, agar anak anda jadi ceria, jangan macam si Bara ini.

“Udah baca bukunya?” tanya Bara.

“Udah. Slow banget yak..,” jawab Nola.

“Yah, namanya juga kisah galau. Memang kurang meledak-ledak. Targetnya sih bikin pembaca gemes,” urai Bara dengan bersemangat. Bagi penulis yang mencari jatidiri sepertinya, pembaca adalah harta yang paling berharga.

Bara adalah penulis nekat. Dia meninggalkan posisinya di sebuah perusahaan terkemuka hanya untuk mengejar cita-citanya sebagai penulis. Dimulai dari sebuah buku tentang benda mati, dan dilanjutkan dengan buku kisah cinta diam-diamnya. Semuanya kisah nyata dan untunglah berhasil diterima publik.

Followers di twitter-nya sudah melonjak dari 92 menjadi 9200. Page di Facebook-nya sudah sudah ribuan yang like. Sebuah kemajuan mendasar bagi penulis pemula. Banyak mentions yang masuk ke twitter-nya menanyakan keaslian bukunya yang kedua, “Cinta Diam-Diam”. Setiap mentions itulah yang kemudian menguatkan niatnya untuk tidak diam-diam lagi.

sumber: fineartamerica.com

“Nggak merasa ada sesuatu dengan buku itu, La?”

“Hehehe.. Retorika ini?”

“Kok?”

“Apa mungkin aku nggak tahu hal semacam itu?”

“Ya, siapa tahu, La.”

I know Bara. Already know. Actually, it’s shocking.”

Did you think it’s a madness, when you read that book?

Something like that. Nggak ngerti mau kasih nama apa. Tapi mengejutkan.”

“Semestinya nggak mengejutkan kan, La? Semuanya asli, tanpa rekayasa.”

“Justru itu Bara. Semua yang tanpa rekayasa itu, yang kamu tuliskan dengan detail. Sampai pada baju hijau gambar kodok. Sampai pada stiker sinterklas. Sumpah, itu aja aku lupa.”

“Tapi tetep ada satu yang kurang. Dan itu signifikan.”

“Bagian mana?”

“Awal buku. Aku nggak bisa dapat tanggal pertama kali mendengar namamu dan lantas jatuh cinta. Aku hanya tahu itu sekitar Juli dan di hari rabu. Tapi tanggalnya kabur.”

“Hahaha.. I think it’s not a huge problem. As a reader, off course.”

“Oh, oke. Bagus deh kalo begitu.”

Obrolan panjang bin lebar yang ternyata meluputkan satu aspek. Nola belum pesan minum. Bara mendadak menyadari itu, “La, belum pesan minum yak? Caramel Machiato apa Carribean?”

“Emang ada Carribean disini?”

“Ya nggak. Ntar ke burjo dulu.”

“Huuuu… Ya itu tahu menunya.”

“Apa sih yang aku nggak tahu? Hehehe..,” tawa Bara lepas sambil beranjak memesan minuman untuk Nola.

“Silahkan..”

Tak berapa lama Bara datang bak pelayan kedai kopi ternama itu. Dengan pelayanan istimewa macam pelayan di resto elit. Sesekali berkeliling kota dalam rangka promosi buku telah membuatnya sedikit paham bagaimana namanya pelayanan.

“Oke. Then, I need to know. How about the last chapter?”

Nola menyeruput Caramel Machiato-nya, lalu berkata, “si ending menggantung itu?”

“Yup, betul sekali.”

Just one question. Why? Kenapa endingnya harus menggantung? Mau buat sekuel?”

“Hahaha.. Emang film, La? Nggak. Hanya ada satu alasan soal ending itu.”

“Apa?”

“Ehmm… seluruh kisah disitu asli, real, dan tanpa tambahan fiksi sama sekali. Kalau di bukuku pertama itu real tapi dengan rekayasa imajinasi. Maka itu diakhiri dengan imajinasi pula. Kalau di buku yang kedua, tidak ada imajinasi sama sekali.”

“Lalu?”

“Lalu aku tidak hendak berimajinasi untuk akhirnya. Karena Cinta Diam-Diam itu belum berakhir. That’s a reason why I’m here now. Looking for ending.”

“Nggak mudeng.”

Dan wanita selalu demikian.

“Yah, simple. Seluruhnya buku itu tentang kamu. Kamu sudah baca, dan aku yakin kamu juga paham. Faktanya selama ini, sejak sebuah rabu lima tahun silam, aku jatuh cinta sama kamu. Dan selama itu pula, aku jatuh cinta diam-diam. Selama itu pula segala cerita yang pernah ada antara kita aku catat. Selama itu pula aku membayangkan akhirnya.”

Bara terdiam sejenak, menyeruput kembali kopinya.

“Aku cinta kamu, La. I knew I love you before I met you. Dan aku berharap menghabiskan sisa hidupku dengan kamu. Would you be my girl?”

Nola terdiam, senyumnya yang manis dan sempurna mengembang. Sesekali menggeleng. Rambut lurusnya jadi bergerak, sehingga Nola jadi tampak lebih manis.

“Bukan tipeku untuk menjalin kasih dengan teman, Bara. Aku lebih memilih menjalin teman dengan mantan. ”

“Hahaha.. I know, someone tell me about that. Sama persis. Aku juga begitu. Makanya aku diam-diam, tapi namanya hati nggak bisa ditipu. Mungkin bisanya menipu.”

“Yah, begitulah. Toh kadang hidup perlu pengecualian. Bukan begitu Bara?”

“Tentu saja. Kamu kan pengecualianku.”

“Masih nggak habis pikir.”

“Aku juga begitu, La. Nggak habis pikir sampai sebegininya. Sampai aku punya satu buku, tentang kamu, laku pula. Macam ngeri kali kisahnya. Hehehe..”

“Ihhh, kamu menjualku dong?”

“Ehm, kalau mau ikut menikmati royaltinya, bisa menghabiskan hidup denganku kan?”

“Maunya…”

“Emang mau kok Nola.”

“Oke. Sejak aku baca, aku paham kok. Kisahnya flat dan jelas. Tidak tersembunyi sama sekali. Semua detail, bahkan yang nyaris aku lupa. So…”

Bara terpaku. Sebuah penantian bertahun-tahun bernama jawaban siap terlontar ke mukanya.

“Mungkin memang kita bisa menjalani hidup berdua. I do, Bara.”

Bara hendak meledak. Rasanya melebihi ketika novelnya diterima penerbit major. Lebih ketika tahu novelnya cetak ulang. Perkara hati memang melebihi yang lain. Hanya Bara masih tahu tempat, tiada mungkin dia berteriak gembira layaknya Messi habis mencetak gol di kedai kopi macam ini.

Thanks you, my girl. A lot.”

You’re welcome my boy.”

“Oya, ini dari teman di kantor lama ada aplikasi beasiswa. Mau kemana, Taiwan, Korea, Australia. Ada semua.”

“Heh?”

“Masak lupa, pernah bilang mau S2 ke negeri orang?”

“Kamu ingat sampai sedetail itu?”

Bara hanya tersenyum manis. Di balik hitamnya kopi yang melewati bibir itu, senyumnya memang semanis senja. Terutama ketika kala senja, ada senyum yang menjawab penantian bertahun-tahun.

Farewell Bruder

Ada satu masa saya gagal paham apa beda bruder dan pastor. Sampai kemudian, pada 1997 saya bertemu dengan adik mbah saya, seorang bruder. Beliau ini yang membawa pakde saya, menjadi seorang romo. Ceritanya katanya begitu.

Dan barusan saya dikasih tahu bapak, kalau bruder sudah meninggal.

Bagaimanapun kalau ada saudara meninggal, pasti ada rasa sedih.

Faktanya memang, mbah bruder sudah gaek. Dan terbiasa merokok entah dari kapan. Pun dilanjut meski sudah operasi jantung. Rokoknya Minak Djinggo pulak.

Tetap sedih.

Jujur saya nggak connect kalau ngobrol sama bruder, karena kadang pertanyaannya diulang-ulang dan ya semacam cucu dengan mbah-nya. Sesimpel itu saja.

Tapi satu hal yang menarik dari statement bruder ini, “nggak usah neko-neko buat tanda salib di tempat umum.”

Yang ngomong bruder loh ini!

Dalam hati, ada benarnya juga. Sebagai minoritas kadang kita nggak perlu menunjukkan sisi itu. Mestinya dari perbuatan dan karya, kita bisa menunjukkan ke-Katolik-an. Isn’t it?

Selamat Jalan Mbah Bruder Justinus Samidi, OSC. Salam ya buat Mbah Kakung disana.

Rest In Peace 🙂

Bolat

Jam 3 pagi, seisi bus sudah ngorok semua. Malah ada yang sampai mengalahkan suara desir AC. Mungkin sebelum berangkat tadi, bapak yang di belakang sono makan mikrofon. Abis ngoroknya kenceng banget.

Yana sebenarnya masih hendak terkantuk-kantuk. Sejak Jakarta, dia cuma tidur dari Cikarang ke Cikampek. Begitu Cikampek sampai Weleri matanya terang benderang. Meskipun dia sudah menarik selimut dan berusaha menutup mata, yang ada malah bayangan mesum. Huyyy, ngelamun jorok tidak diperkenankan dilakukan di atas bus. Dampak tidak ditanggung.

Dan sekarang Yana ngantuk pakai banget alias ngantuk banget. Dia ngantuk pada saat yang tepat, di jalan tol Semarang. Tepat sekali karena di ujung tol ini, Yana akan turun. Jadi tepat kan? Tepat ketika Yana turun, maka dia akan tertidur pulas di pinggir trotoar. Ingat, ini jam 3 pagi.

Takut akan terlelap di trotoar atau kebablasan, Yana menguat-nguatkan matanya. Mulai dari mengoles balsem, sampai dengan makan balsem. Harap dimaklumi, dia hanya punya balsem. Ehm, sebenarnya ada dua, balsem dan cinta. Yak betul, Yana hanya punya dua itu.

Tol yang baru tapi semacam tidak baru itu sudah mendekati ujung, Yana berdiri dan beranjak maju ke depan. Ya iyalah, mana ada maju ke belakang?

Bus keluar pintu tol, tak jauh dari situ, ada swalayan ADA. Ya memang ADA swalayan kok, beneran deh. Ini memang ADA, jadi nggak mengada-ada.

Di seberang swalayan itu, Yana turun.

Ini jam 3 pagi dan Semarang baru mulai menyalakan hidupnya. Aktivitas manusia menuju pasar di daerah Banyumanik mulai bergerak. Lampu-lampu menyala terang.

Masalah besar hari ini bagi Yana, hotelnya dimana yak?

Yana ini macam hendak backpacker, jadi dia sudah cari referensi macem-macem dan memilih hotel di Jalan Setiabudi. Nah, menurut googlemap dan tanya-tanya loket bus, pilihan paling oke adalah turun di ADA. Ya itu tadi, beneran ADA ini swalayannya.

Smartphone-nya lantas keluar dari sarangnya. Agak beresiko sih mengeluarkan benda yang dibeli pakai uang ikutan arisan ibu-ibu tetangga, di malam yang sesunyi ini. Padahal kan Yana sendiri, tiada yang menemani. Akhirnya Yana sadar bahwa barusan ini mirip lagu ‘Kisah Cintaku’.

Bateraipun tinggal setengah, dan Yana melupakan kebutuhan primer nomor 4 sesudah sandang, pangan, dan papan, yakni charger. Apalagi, menyalakan GPS sama saja dengan membunuh smartphone-nya lebih cepat karena pemakaian daya karena GPS sungguh sangat mempersona.

Mau tidak mau GPS dinyalakan.

2 km.
Sebuah profil yang cukup nanggung. Ya di pagi buta belum subuh, Yana harus berjalan 2 kilometer atau diam di tempat sampai ada kendaraan pengangkut. Mungkin bisa serupa truk sayur. Sungguh indah menumpang truk sayur lalu check in di hotel. Tampak bahwa ironi kehidupan itu bisa muncul pada saat yang sama.

Mengingat itu tadi, Yana hanya punya balsem dan cinta, maka dia memilih untuk berjalan kaki saja. Toh, kalau pegal, kan ada balsem. Apa susahnya?

Yana berjalan menyusuri jalan di depan ADA, terus ke utara. Gelap masih mendominasi, maklum, subuh saja belum. Yana asyik melihat bintang-bintang bercengkrama di langit, tikus-tikus berkelana dari got ke got, dan coro-coro menikmati hidup kotornya. Tentunya tetap waspada. Baik waspada kemalingan hingga waspada disangka maling. Jaket hitam, celana hitam, baju hitam, tas besar yang juga hitam plus kulit hitam tentu identik dengan maling. Mana ini jam belum subuh pula. Ngapain ada pria yang sepenuhnya hitam jalan-jalan sebelum subuh? Lebih banyak logika pembenaran bahwa Yana maling alih-alih calon menginap di hotel.

Jalannya perlahan sekali sambil menikmati dan memotret jejak-jejak malam, sehingga 1 jam hanya dapat beberapa ratus meter. Persis ketika keramaian mulai tampak, Yana mendapati penampakan lain.

“Semacam Rida..,” gumam Yana, “kenapa bisa nongol disini?”

Yana tercekat, lamunannya melayang ke masa lima tahun silam. Ehm, maksudnya, dari lima tahun yang lalu sampai beberapa waktu silam. Sebuah durasi panjang Yana untuk menjalani ketololan terbesar dalam hidup, mencintai tanpa tendensi memiliki. Dan Rida adalah gadis yang dicintainya itu.

Logika Yana mulai berjalan, berlompatan satu persatu. Di suasana pagi buta dan kantuk, namanya lamunan bisa tampak realistis, atau kalau tidak ya ini makhluk semacam jadi-jadian. Siapa yang tahu?

Batin Yana masih menolak fakta bahwa gadis yang sedang lari pagi itu adalah Rida. Nggak mungkin, katanya begitu.

Tapi fisik Yana tak peduli sama perintah otak. Soalnya, hati kali ini menang. Dia menggerakkan tubuh Yana kencang, setengah berlari, separuh melompat, dan sesekali berputar. Macam balet saja.

Pertama, pastikan dulu ini manusia. Yana mengamati langkah demi langkah gadis yang lari pagi dan yakin bahwa itu beneran manusia.

Kedua, pastikan orangnya benar. Nah ini susah. Manusia itu ada-ada aja. Dia pernah ngawur menyapa orang gara-gara mirip, Yana kenal di Bogor, nyapa orang di Palembang. Hemmmm..

Yana lantas mengejar perlahan, mengamati detail gadis pelari pagi itu. Matahari masih mengintip malu-malu sehingga tahi lalat di pipi kanan yang menjadi identitas Rida, tidak kelihatan. Sayang ya, coba tahi lalat itu bisa berflourensensi, kan jelas bercahaya.

Maka tidak akan ada orang yang berani ronda kalau begitu.

Tidak ketemu cara, Yana akhirnya nekat.

“Ridaaa…” setengah berteriak, Yana memanggil gadis pelari pagi. Kalau stop berarti bener, kalau lanjut berarti bukan. Beres.

Gadis pelari pagi tidak berhenti, masih lanjut saja.

“Oh, bukan.. hehehe..” gumam Yana sambil memuluk jidatnya.

Posisi orang mukul jidat itu biasanya melihat ke bawah, Yana juga demikian. Sambil senyum-senyum macam orang gila, pun dengan Yana. Sampai dia nggak lihat di depannya ada orang.

“Yana?” suara lembut manis yang Yana sangat hafal nada dasarnya.

Yana mengangkat pandangannya, lurus, dan ada gadis pelari pagi. Hemmm..

“Rida?”

“Ngapain nyasar kesini Yan?”

“Biasa.. Bolang, bocah ilang.. Lha ini ada gadis cantik lari pagi-pagi, maksudnya apa?”

“Nggak lihat nih kentongan maling. Uda kayak kakinya SNSD,” ujar Rida sambil memperlihatkan lengannya.

“Hahahaha.. perut pasti menyesuaikan..”

“Dasarrrrr…”

“Emang sekarang disini ya?”

“Iya, itu di seberang masuk dikit belok kiri. Masih buruh gitulah..”

“Sama kali.. Sesama kaum buruh..”

Nostalgia cinta tanpa tendensi memiliki itu pahit. Yana masih memandang dengan kekaguman yang besar dan dengan jarak yang jauh untuk dapat memiliki keindahan di depan matanya. Termasuk kentongan maling itu tadi, pasti itu kentongan terindah yang pernah ada di dunia.

Obrolan merangsek jauh. Macam Barcelona memainkan tiki taka, maka bola dan obrolannya sudah kemana-mana.

“Jadinya, sama yang itu nggak?” tanya Rida.

“Hahaha.. Bubarrr.. Bubar jajan..”

“Kok bisa?”

“Ya bisa, kan pelik pakai K.”

“Huuu.. Saru… Trus single dong Yan?”

“Ya begitulah. Kenyataan kadang pahit. Lha kamu?”

“Ya beginilah..”

“Jiahh.. tiru-tiru..”

“Hehehe.. Masih kayak biasa.”

“Pasti isu lawas. Kamu pasti terlalu memilih. Nggak berubah dari jaman batu non?”

“Dari jaman kuda gigit besi sampai besi gigit kuda. That’s me Yana..”

“Ya, ya.. bisa dipahami. Aku kan sangat paham kamu Rid. Apa sih yang aku nggak tahu soal kamu?”

“Lha itu tadi nanya?”

“Anggap saja retorika. Hehehe..”

Yana menikmati percakapan indah itu, sampai mentari menjelang naik. Kantung mata Yana sudah semacam Pak Bueye. Maklum, nggak bobok dari Cikampek sampai ke ADA.

Dan tiba-tiba, dalam obrolan sambil jalan itu, di sebuah mobil yang berhenti, Yana mendengar sebuah lagu.

“Kalau cinta ya bilang cinta
Kalau sayang bilang-bilang sayang
Jangan ditunda-tunda
Nanti diambil orang.”

Penta Boyz. Haishhh.. Kenapa nongol di saat semacam ini? Yana mendadak menggelegak hendak meledak. There is something to explode.

“Rid..”

“Hmm..”

“Kenapa kamu jatuh cinta?”

“Pada?”

“Ya, pada siapa aja..”

“Nggak tahu, kalau hatiku sreg, ya jatuh deh..”

“Pernah nggak jatuh cinta dari pendengaran pertama?”

“Apaan tuh Yan? Pandangan pertama kali..”

“Serius kali Rid, aku pernah jatuh cinta pada pendengaran pertama. Baru denger namanya, udah jatuh cinta. Klepek pokoknya,” urai Yana.

Rida tersenyum dan berkata, “Ada-ada aja.. Kapan? Dulu jaman SD?”

“Ya, beberapa waktu silam lah. Dan aku lengkapi dengan keindahan bercinta lho..”

“Apa lagi nih?”

“Jatuh cinta tanpa tendensi memiliki. Hehehe.. Seru kan?”

“Ngeri. Apaan cinta trus nggak memiliki?” protes Rida.

“Yah, sampai pada titik tertentu, itu indah Rid. Sampai pada titik tertentu lho..”

“Aku masih nggak paham. Agak absurd kamu Yan. Pasti gadisnya istimewa banget tuh..”

“Tentu. Mana ada orang berpikir dan merasa gitu kalau bukan untuk orang istimewa?”

“Sure.”

“Titik itu menjadi nggak indah, ketika tendensi memiliki itu nongol. Dari mana, dari hasil pengamatan bertahun-tahun pastinya. Jatuh cinta biasa, tapi kalau ketemu sifat dan sikap yang oke dan prinsipil, baru deh ada rasa ingin memiliki.”

“Misal?”

“Simple, Rid. Misal hobi ternyata sama. Visi hidup juga sama. Banyaklah. Kalau kamu?”

“Aku mah simpel Yan. Nggak kayak kamu. Aku mau memiliki yang aku cintai.”

“Sekarang pun aku begitu, Rid. Rasa itu udah nggak ketahan lagi.”

“Ungkapin dong. Keburu diembat orang.. Galau lagi ntar..”

“Hahaha.. Bisa aja. But, it’s serious. Bagaimana kalau orang yang aku kisahkan panjang lebar itu tadi adalah kamu?”

“Maksudnya, Yan?”

Bahwa wanita itu sukanya yang pasti-pasti aja, tapi nggak suka membuatnya pasti-pasti aja. Penyakit zaman kalau ini.

“Oke, diperjelas. Semuanya yang tadi, tentang cinta, memiliki, dan semuanya. Kamu gadis yang aku cinta sejak pertama kali mendengar namanya.”

Rida diam. Seribu satu bahasa. Seribunya diam, satunya helaan nafas.

“Hihihi.. Ngobrol pagi buta, aku malah jadi nembak orang deh..” Yana langsung garuk-garuk kepala. Kutu berserakan, coro juga. Itu rambut atau selokan?

“Sebenarnya masih sulit Yan. Sudah lebih dari setahun berjuang. Ampun-ampun dah.”

“It’s oke Rid. Aku tahu itu kok. Sesulit aku melupakanmu dan gagal. Hehe..”

“Hihihi.. Ya.. ya.. bisa dimengerti. Tapi apa kamu yakin Yan? Gimana kalau pandangan kamu selama ini tentang aku salah?”

“Heyyy Rid. Aku memantau kamu itu bukan sebulan dua bulan. Lima tahun lebih. Masak ya salah?”

“I’m deep, Yan.”

“Tentu saja. Supaya aku tahu, aku harus mencoba memilikimu dulu. Kan gitu biar tahu kamu sedalam apa. Paling juga kalah sama dalamnya cintaku padamu.”

“Malah gombal..”

“So?”

“Hmmm.. OK, let’s try. Kadang kita nggak tahu kalau nggak dicoba. Tapi, bantu aku meyakinkan jawaban ini ya..”

“Dengan senang hati tuan putriku. Aih, dari dulu aku pengen manggil kamu begini.”

“Hehehe.. Jadi kamu dulu sama si dia itu, sayang bener apa nggak?”

“Halah, malah diungkit. Bagaimana tuan putriku ini. Kan tadi aku udah bilang, aku cinta kamu tanpa tendensi memiliki. Jadinya aku nyari yang bisa dimiliki. Eh, kok ya ternyata hati ini nggak bisa dilawan. Bubar juga. Hehe..”

“Dasarrrrr…”

Semarang sudah terang. Percakapan panjang lebar di pagi hari. Aneh kalau orang lihat, bayangkan seonggok hitam yang macam maling dengan kantong mata macam Pak Bueye berjalan bersama gadis cantik dengan pose jogging. It’s about black and white. Macam Yin dan Yang, di dalam putih ada hitam, dan sebaliknya.

“Jadi aku ini bukan bolang lagi Rida,” kata Yana sambil menyambar tangan halus pacar barunya itu.

“Apaan dong?” tanya Rida sambil mengeratkan genggaman baru itu.

“Bolat. Bocah ilang mencari cinta. Hehehehe..”

“Ngawurrrr..”

Tawa lepas ke udara, sepasang keceriaan ikut menghangatkan pagi hari. Keceriaan yang bermula dan berakhir pada satu kata, cinta.