Aneka Search Engine Terms yang Nyasar ke ariesadhar.com

Punya blog yang banyak isinya itu lumayan berguna ternyata. Minimal setiap hari ada 80-an pengunjung yang tiba di blog ini dengan status kesasar. Iya, kesasar karena ternyata banyak dari mereka yang tiba kesini dengan search engine terms yang sebenarnya kontennya nggak ada di blog ini.

Tapi ya banyak juga kok yang nyasarnya benar. Perihal bis Cikarang-Jogja, lalu juga soal shuttle bus Cikarang-Blok M, hingga soal-soal audit, itu rata-rata masuknya benar.

Nah, kalau yang benar itu sih kurang seru. Kalau yang nyasar ini yang suka mengundang tawa kalau saya lagi lihat dashboard. Berikut search engine terms terpilih 🙂

“cara menyimpan masalah tetapi raut muka tak kepikiran”

Picture2

Aslinya saya juga bingung ini nyasar ke posting mana dan apa pula tujuan mengetik deretan kalimat ini di Google. Tapi mari kita berpikir positif saja, siapa tahu yang mengetik SET ini memang lagi punya masalah, tapi nggak pengen kelihatan sama orang lain. Kali ya.

Ngenes Abis -> “Jatuh cinta diam-diam dengan teman sendiri”

Picture3

Ini pasti nyasar di aneka cerpen saya yang umumnya memang tentang cinta diam-diam. Tapi ya ngapain juga yang beginian diketik di Google? Saking desperado-nya apa yak? Terus jadinya kan malah baca cerpen saya yang tak kalah mengumbar kegalauan dong? Kasihan.

Setengah Berharap, Separuh Ngimpi -> GEBETAN menjauh

Picture4

 

Lha buset, baru juga gebetan sudah diharap mau kembali? Emang lo sudah pernah ngapain aja sama gebetan? Kalau pernah pacaran, diharap kembali kan tergolong masuk akal. Eleuh. Susah amat hidup yak. Kalau yang di bawah itu rada ngenes, dia bawa-bawa suku. Yah, menggebet cewek Batak memang punya tren tersendiri. Saya sih tahu, tapi nggak pernah, berhubung dilarang oleh emak saya (asli Batak) gegara sinamot itu mahal. Heuheuheu.

MESUM ABIS!!!

Picture1

Bahkan untuk cara membawa pacar ke hotel secara diam-diam saja terus nanya ke Google? Saya heran dengan isi otak yang ngetik deh. Sudah jelas hendak berbuat mesum, masih saja nanya ke Google. Untuk saja blog ini tidak berisi tips berciuman yang baik, kalau nggak pasti kemana-mana tuh. Hahaha. Lha kalau cuma mau bawa pacar diam-diam ke hotel, ya tinggal masuk aja. Emang siapa yang bakal nanya juga? Itu mesti yang ngetik SET masih anak ababil. 😀

Ya begitulah, sedikit saja. Beberapa SET yang unik memang saya bahas disini, termasuk yang dulu “ingin keterima farmasi usd”. Setiap hari selalu ada SET yang absurd, 4 teratas adalah yang terpilih dalam SET 30 hari terakhir. Hehehe.

Jangan semua ditanyakan ke Google ya. Masih banyak jawaban lain di dunia ini. 🙂

 

 

Advertisements

Jogja

Kemaren dapat kirim lagu via whatsapp. Mengingat sejak sudah nggak sama Mbak yang itu, kebiasaan kirim mengirim lagu pakai whatsapp sudah tidak dilakukan lagi, mendadak ingat deh. Hahahaha.

Untung juga HP habis service dan data hilang semua. Setidaknya ada sela di memori, dan jumlahnya lumayan lega.

Nah, lagu yang saya dapat agak mengundang tanda tanya.

Lagu opo iki? Ora tau krungu.

Tapi begitu didengarkan, asyik punya! Beneran. Ini juga nulis posting sambil muter itu lagu.

Judulnya saja sudah monumental banget -> JOGJA. Dinyanyikan sama Ni-na. Dan pastinya bukan Oh Nina, karena itu kan band-nya cowok. Ini cewek. Baiklah, begini liriknya. Saya kutip dari sini. Ada link download-nya juga disana.

Kutemukan cinta di indahnya Jogjakarta
Buat hidupku berwarna terbuai asmara

Kunikmati cinta berdua selalu denganmu
Menyusuri kota budaya Jogjakarta

Tapi kini saatnya tiba
Ku harus tinggalkan dirimu
Meski hati kan selalu milikmu

Ada yang tertinggal di Jogjakarta
Saat kunaiki kereta
Semua kenangan cinta terajut asmara

Entah kapan lagi kita bertemu
Tak mungkin hatiku mendua
Bila nanti kujauh kan kudekap cinta

Ku tlah jatuh cinta pasrahkan diri padamu
Eratkan pelukan hangatnya Jogjakarta

Kunikmati cinta tak lepas diriku kau cumbu
Pelan habiskan malam romantisnya Jogjakarta

Walau diriku kini telah pergi
Hatiku kan selalu disini
Selamanya kan kubawa
Kenangan di Jogjakarta

 

Opo ra nggawe garuk-garuk aspal ki lagune? >.<”

Eniwei, keren abis. ABIS!

Kesengsaraan – Ketekukan – Tahan Uji – Pengharapan

Jadi ceritanya kemarin Sabtu itu lagi nongkrong di Truly 33 sama Coco, Elvan, dan RQ. Dapatlah saya whatsapp dari Mb Esti, diminta tugas Minggu sore. Berhubung jomblo jadwal kayaknya kosong, ya sudah, hayuk acc. Step berikutnya adalah berangkat ke rumah Yoyo di LeBai (baru tahu saya ini singkatan untuk Lembah Hijau.. -___-) untuk gathering lelaki 2004.

Eh di depan Carrefour, ada yang nelpon, Yoyo sih. Pas juga saya buka HP ada Mas Robert SMS minta tuker Minggu sore ke Sabtu sore, alias 2-3 jam lagi. Berhubung juga memang lagi di Lippo, ya sudah. Toh kumpul bocah-nya juga masih menanti kedatangan Boris, Blangkon, dan Cawaz.

Maka, jadilah saya tugas Sabtu sore. Sebagai lektor cupu, ini kali pertama saya tugas di hari Sabtu.

Dan kebeneran, dapat bacaan yang duluuuuuu (saking suwi ne) juga pernah saya baca. Dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma.

Nggak usah saya tulis semua, karena yang buat saya keren itu ada di ayat 3 sampai 5.

Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam KESENGSARAAN kita, karena kita tahu, bahwa KESENGSARAAN itu menimbulkan KETEKUNAN, dan KETEKUNAN menimbulkan TAHAN UJI, dan TAHAN UJI menimbulkan PENGHARAPAN. Dan PENGHARAPAN tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Dulu, yang jadi poin saja adalah “dan bukan hanya itu saja…”, makanya saya ingat banget kalimat ini sebagai penanda bacaan-bacaan yang pernah saya baca dulu.

Tapi dalam waktu review yang singkat, 30 menit sebelum tugas, saya malah mendapati ayat 3 sampai 5 itu sungguh menampar. Kok?

Lihat urutannya Kesengsaraan -> Ketekunan -> Tahan Uji -> Pengharapan.

Jadi, kalaulah kita sengsara, maka akan muncul ketekunan, dan kemudian yang muncul adalah tahan uji, dan kemudian berakhir pada pengharapan.

Kalaulah saya merasa saya sengsara, maka harusnya saya tekun kan? Dan harusnya saya tahan terhadap ujian-ujian yang diberikan kan? Dan akhirnya, saya akan bisa berpengharapan kan?

Nyatanya?

Tekun aja kagak. Gimana mau tahan uji?

Fiuh. Begitulah. Setiap kali tugas, dan setiap kali bacaan, selalu punya makna. Kalau nggak jadi lektor, mana ada cerita saya mikirin ayat kitab suci. Doa aja jarang. Hehehe.

Merawat Kamera DSLR

Punya aja belum, sudah nggaya posting beginian !

Nggak apa-apa, dalam waktu dekat, kalau perlu itu CC penuh balada akan saya gesek buat beli benda ini. Sudah lama sekali pengen beli. Heuheuheu.

Sumbernya inih adah beberapah yah, disini, disitu, dan disana.

DSLR adalah kependekan dari Digital Single Lens Reflect. Harganya, paling murah saja 4.5 juta. Yasalam.

Hindarkan kontak langsung dengan matahari

Ini mirip elektronik pada umumnya sih. Apalagi buat kamera murah, karena pasti ringkih. Cuma gimana kalau motret outdoor ya?

Hindarkan dari goncangan berlebihan

Pastinya harus ditaruh di tas khusus kamera, yang biasanya ada busa peredam benturan.  Ini must buy tool berarti.

Hindarkan dari kapur barus

Naftalena katanya dapat merusak konten kamera, termasuk ke Printed Circuit Board-nya.

Penyimpanan di tempat yang baik

Baik disini dalam artian kedap udara, sejuk, dan kering. Lemari penyimpanan pasti mahal. Jadi mungkin bisa di toples kaca yang tertutup rapat, plus dessicant untuk menyerap lembab. Huaaa.. Apa kabar Cikarang yang lembab-nya 80% lebih ini? Dan baik ini juga berarti bebas dari butiran debu.

Selalu bersihkan kamera dan lensa

Pembersihan dilakukan teratur dan berkala (udah kayak klausul ISO ajah..), body-nya dilap kering dan bersih, lap tidak kasar. Bagian dalam pakai blower yang biasanya dijual di toko kamera, bukan toko roti. Untuk membersihkan lensa dari noda, pakai tisu khusus juga. Beli lagi dong? -___-

Hindarkan goresan pada lensa
Bagusnya–katanya–ada filter permanen untuk melindungi. Untuk itu juga, usahakan selalu pasang penutup waktu lensa lepas dari body.

Sebaiknya jangan simpan di lemari pakaian

Apa kabar anak kos? Hedeh. Katanya bisa pakai wadah khusus bisa kaca, bisa fiber, atau lainnya. Dan alasnya empuk lho. Penggunaan dessicant kira-kira 2 bulan. Atau pakai KCl semacam serap air gitu (di kamar saya sebulan langsung penuh!). Bisa juga pakai teh yang ditaruh di wadah, lalu letakkan dekat kamera. Ini kayaknya sebelum beli kamera, saya harus beli wadahnya dulu. Kamera juga jangan ditaruh di dalam wadahnya dalam waktu yang lama. Sumpek kali ya.

Membersihkan kamera

Gunakan blower untuk meniup butiran debu dari body dan lensa, sebelum kemudian dilap dengan kain dan kertas yang semuanya khusus. DUIT LAGI!

Mengamankan LCD
Pakai alat pelindung dari sono-nya. Mahal nggak ya? Kalau pakai antigores HP bisa nggak ya?

Baterai

Jangan di-charge berlebihan. Segera cabut kalai penuh, dan juga lepas jika sedang tidak digunakan.
*malah jadi mikir ulang inih*

-_____-“

5 Kenikmatan yang Lepas Karena Lulus Cepat

Kemaren dapat whatsapp dari teman di Surabaya, katanya ada universitas disana yang mengadakan les! Yasalam, kuliah farmasi saja sudah ngenes, apalagi ada lesnya. Kapan mau pacaran kalau gitu ceritanya mah? Belum lagi, kalau lulus, apa bisa langsung struggle saat ‘dihajar’ oleh keadaan?

Mboh.

Tapi, sebagai salah seorang yang b(er)untung bisa lulus cepat 1 semester, saya hendak memaparkan 5 jenis kenikmatan yang lepas ketika kita memutuskan untuk lulus kuliah lebih cepat.

1. Nikmat Nongkrong di Kampus

Kalau status kita masih mahasiswa, nongkrong di kampus itu amat sangat diperkenankan. Lihatlah, mahasiswi-mahasiswi berkeliaran, dan mereka adalah adik-adik kelas yang muda-muda. Bukankah itu pemandangan yang bikin awet muda belia melanda?

Sekarang bayangkan ketika kita sudah lulus, lalu kemudian nekat datang ke kampus untuk nongkrong. Saya pernah, dan pertanyaan pertama, “sudah diterima dimana?”

Saya sebagai pengangguran waktu itu kemudian mendadak gundah gulana, lalu melipat muka dan menurunkan sandaran hati, serta membuka penutup jelaga, plus mengencangkan sabut kelapa. Maluw brow!

Jadi, selagi bisa nongkrong, kenapa nikmat itu harus ditinggalkan?

2. Nikmatnya Bangun Siang

Hari Senin, bangun jam 9. Hari Selasa, bangun jam 10. Hari Rabu, bangun jam 11. Itu kalau nggak mahasiswa, ya pengangguran. Lah, siapa yang mau dapat embel-embel pengangguran? Bukanlah lebih nikmat berlabel mahasiswa, lantas kemudian bisa bangun siang?

Orang yang sudah lulus memang bisa bangun siang, tapi itu juga kalau mereka sakit (potong cuti), cuti (ijin sakit), pura-pura sakit (karyawan nakal), atau paling masuk akal: shift 2.

3. Nikmat Nggak Dimintain Duit

“Eh, sudah kerja dimana? Gajinya gede dong? Makan-makan ya.”

-____-

Paling semprul nih yang beginian, untung masa saya yang begitu sudah lewat. Tapi iya demikian, kalau sudah kerja, pasti dimintain makan-makan, duit dan semacamnya. Waktu saya kuliah, mana ada cerita adek-adek saya minta duit. Begitu sudah kerja?

“Bang….”

“Yoh…”

*elus elus dompet*

4. Nikmatnya Minta Duit

Sejalan dengan nikmat nomor 3. Maka status karyawan akan membatasi kita untuk minta duit ke orang tua. Udah kerja kok minta duit? Malu sama perusahaan! Pasti orang susah ya? -____-

Meninggalkan kesempatan untuk tetap nikmat minta duit, sebelum kemudian menjadi orang yang dimintain duit, itu adalah sebuah pilihan. Nah, nah, nah, sila diputuskan.

5. Nikmat Jadi Senior

“Hey, semester berapa kamu?”

“Dua, Bang.”

“Sini pacaran sama Abang.”

Itu kalau di kampus. Kalau di kantor?

“Hey, anak baru ya?”

“Iya, Pak.”

“Itu angkat kesini.”

*dokumen setinggi 2 meter*

Kalau masih belum puas menjadi senior, orang yang dihormati, dikenali, dan lainnya, silakan memegang nikmat ini. Karena begitu lulus, apalagi jadi karyawan, maka kita akan serta merta jadi cupu kembali seperti semula. Jadi objek penderita lagi. Jadi kroco lagi, dan sejenisnya.

Yeah, dipastikan bahwa 5 hal diatas adalah nikmat yang nyata, namun tentu saja sesat. Jadi, mau ditiru atau tidak, silakan. Saya sendiri, lulus 3,5 tahun (plus 1 tahun apoteker), dan sejauh ini nggak menyesal kok meninggalkan 5 nikmat di atas. Tentunya karena selama 3,5 tahun saya benar-benar memanfaatkan nikmat yang ada tersebut.

😀

Limit

No. No. No. Ini bukan limit yang pelajarannya Pak Mantri di JB, yang mana saya hanya dapat 3 untuk setiap ulangan. Oya, nilai minimalnya Pak Mantri itu ya 3. Intinya?

Saya salah semua.

Bukan itu dong. Ini tentang batas dalam diri kita.

Kemarin saya psikotes, tentunya bukan dalam rangka interview di company lain, soalnya yang ngadain psikotes itu kantor sendiri. Nah loh. Untuk keperluan tertentu pastinya.

Satu tes yang saya dapat adalah Tes Pauli. Yang isinya kertas segede koran, lalu kemudian diisi penjumlahannya. Tes ini pertama kali saya temui saat amotrap. Dan syukurlah cukup bisa diikuti.

Lalu limit apa yang saya maksud?

Selama ini saya nggak pernah nembus 2 lembar untuk tes Pauli ini. Bahkan waktu tes PKL Pharos, hanya dapat 3/4 kalau nggak salah. Wajar sih, dulu itu psikotes sambil LAPAR (maklum mahasiswa..)

Nah, kemarin, saya mencoba menembus rekor itu. Sekali-kali kek, bisa nembus 2 lembar. Masak sih nggak bisa?

Dan untunglah, bisa. Walaupun ya di halaman kedua cuma kegarap sedikit. Yang penting batas psikologis untuk mengerjakan lembar kedua sudah dilewati. Well, pressure itu ternyata penting untuk menetapkan limit. Dan membuat saya sadar bahwa harus terus memberikan batasan pada diri saya, yang terus menerus ditambah agar bisa dapat hasil terbaik.

Itu hanya Pauli.

Semoga saya bisa melakukannya di hal-hal lainnya.

😀

Cocok

Ada banyak hal yang disebut cocok dan tidak, di dunia ini. Sebutlah saya (apalagi) dengan mantan yang nomor 3, dari sisi warna kulit dan kesukuan sudah bisa dibilang tidak cocok.

*menebar misteri*

Tapi ada ketidakcocokan yang sifatnya kekal bagi saya, dan itu adalah soal pedagang makanan. Ehm, kekal sih, tapi ada beberapa yang tidak mutlak, plus beberapa yang mutlak.

YANG MUTLAK

1. Beli makanan di Lapo, dan dilayani oleh orang JAWA

Saya nggak diskriminatif, karena di dalam diri saya ada darah Batak dan Jawa. Tapi coba deh, datang ke Lapo, lalu melihat orang-orang ngobrol dengan bahasa, “uopoo kowe? edan po?”

Kenikmatan sayur pucuk ubi tumbuk itu akan lenyap seketika. Saya buktikan sendiri di Cikarang sini.

2. Beli makanan sejenis gudeg, dan yang jual orang BATAK

Ini juga nggak diskriminatif. Tapi coba bayangkan opung-opung berulos yang melayani penjualan gudeg? Bayangkan sajalah, saya sih sudah akan kabur kalau begitu. Ada esensi yang hilang dari kehidupan. Gudegnya mungkin nggak akan manis lagi.

Ini prediksi, maklum belum pernah ketemu.

YANG TENTATIF TAPI KADANG MENGGANGGU

1. Beli Sate Padang, yang jual orang Jawa

Ini terjadi ketika saya coba-coba refresh bahasa, dengan menggunakan bahasa Minang ketika membeli. Dan ditimpali dengan bahasa Jawa. Nggak ada larangan orang Jawa jualan sate Padang, tapi hak konsumen dong untuk memilih penjual sate Padang yang asli Padang. Haha.

2. Beli Nasi Padang, yang jual orang Jawa

Ini buanyakkkkk. Dan mau nggak mau saya akan makan disana. Tapiiiiii, kalaulah saya bisa memilih, maka saya akan pergi ke pedagang Nasi Padang yang asli Padang. Persis di tempatnya Nova, yang ironisnya mau tutup, disitu rasanya beda. Padang abis.

3. Beli Pempek, yang jual bukan orang Palembang

Ada 2 pempek jalanan yang pernah saya beli, dan saya selalu tanya, “asli Plembang?”. Yang satu asli, yang satu cuma dagang pempek doang. Kalau yang ASLI, walaupun cuko-nya tetep asem, tapi entah kenapa rasanya jadi beda. Hahaha. *wagu ncen*

Ini tidak hendak diskriminatif kok, karena saya Jawa Batak, dan pernah hidup di Minang plus Palembang. Karena sudah tahu nyicipin aslinya, pasti ada kehilangan kalau tahu yang jual itu nggak asli orang sana.

Sekali lagi, nggak salah kok orang kerja, jualan, dan sebagainya. Tapi ini hanya hak konsumen untuk memilih mana yang cocok. 😀 😀

Objek yang Sama

Kamu menenggak kopi yang ada di depan kita. Malam yang dingin ini memang nikmat kalau diselamurkan dengan kopi. Tidak ada yang lebih sesuai untuk suhu 25 derajat celcius dibandingkan air hangat berisi kafein.

“Aku bingung,” katamu membuka pembicaraan.

“Kenapa? Ceritalah.”

Aku–si pendengar sejati–adalah tong sampah yang selalu siap menampung sampah dari banyak orang. Tidak terbilang yang sudah menumpahkan rahasianya kepadaku, bahkan termasuk ketidaksukaan atasanku sendiri pada atasan lain di kantorku.

2012-07-20-08-40-59-copy-copy

“Hati ini sudah hampa. Dan untuk itu aku berdoa pada Tuhan agar diberikan orang yang tepat untuk mengisi hati ini. Aku sudah lelah untuk bermain-main dengan hati.”

“Lalu?”

“Lalu permainan lain datang.”

“Maksudmu, Tuhan mempermainkanmu?”

“Tidak. Ini bukan permainan. Tuhan itu Maha Asyik, jadi ini pasti semacam petunjuk untuk memilih. Bayangkan, dari kosong, kini aku diberi dua pilihan, dengan dua konteks.”

Sungguhpun aku belum mengerti maksudmu, maka aku bertanya, “maksudnya?”

“Persis ketika aku berdoa, ehm, satu minggu sesudah aku berdoa tepatnya. Aku tiba-tiba mendapatkan peristiwa absurd ini. Ini tentang dua orang. Yang satu, latar belakangnya sangat sesuai dengan impianku tentang pasangan hidup. Yang satu, entah mengapa, dibalik ketidakyakinanku dan ketidaksesuaiannya dengan impianku tentang pasangan hidup, justru lebih membuat hatiku deg-degan.”

“Sebentar, kita bicara cinta?”

“Mungkin. Entahlah. Kita coba mulai dari bibitnya saja. Siapa tahu itu cinta.”

“Ehm, baiklah. Orang pertama. Silakan jelaskan.”

“Dia tiba-tiba datang di hadapanku, datang dengan sangat terbuka, dan memperlihatkan tanda-tanda yang jelas bahwa dia menyukaiku.”

“Mungkin itu hanya perasaanmu saja?”

“Perasaanku kuat, teman. Jadi aku bisa menangkap itu. Lagipula, tanda-tandanya sangat jelas.”

“Hmmm, baiklah. Berikutnya? Orang kedua?”

Kamu mematut diri, menarik napas, dan hening sejenak, sebelum lantas mulai berkata-kata.

“Sejujurnya, dia sangat tidak sesuai dengan impianku akan pasangan hidup.”

“Dalam hal?”

“Segalanya. Tipe, pekerjaan, masa lalu, yah segalanya.”

“Lalu?”

“Tapi hati ini lebih berdebar begitu bersamanya!”

“Owh. Mungkin kamu mencintainya.”

“Entah, akupun bingung. Makanya, aku masih bertanya, kenapa Tuhan mengirimkan keduanya bersamaan. Aku bisa memilih. Memilih yang mungkin mencintaiku, dan berusaha menerimanya. Atau memilih yang mungkin aku cintai, dengan kemungkinan untuk diabaikan.”

“Jadi kamu hendak bagaimana?”

“Itu dia. Aku harus realistis soal hidup, tapi aku masih meyakini bahwa hati ini bisa menang. Aku sudah capek bermain-main dengan hati pada hubungan yang terdahulu. Itu sungguh melelahkan.”

“Yah, begitulah. Cinta itu baru akan indah ketika mencintai dan dicintai itu mengacu pada objek yang sama.”

“Dan sepertinya aku berbeda.”

Kamu menakar gelas kopimu dan segera menghabiskan isinya. Bahwa kafein mungkin dapat memberikan jalan yang benar pada pilihanmu. Siapa tahu, objek yang kamu cintai, sebenarnya juga mencintaimu. Bukankah itu indah?

* * *

*terinspirasi sudut bercerita pada Rectoverso.. hehehe…

Menjadi Lektor yang Baik

Hahahahahahahaha.

*ngakak dulu*

Posting sotoy juga ini yak. Jelas-jelas masih lektor cupu, bisa-bisanya nulis judul sangar begitu. Yah, tapi okelah, kalau mau melihat dan membaca soal bagaimana menjadi lektor yang baik boleh dicek disini, disini, dan disini.

Dulu, iya duluuuuuu banget, saya mengawali karier membaca sabda Tuhan ini pada hari ketika saya menerima komuni pertama. Maklum, kan anak guru dan anak ketua rayon (tentunya anggota dewan paroki juga), jadi punya privilege untuk bisa tampil. Hahahaha. Muka saya tentu masih amat sangat cupu dan unyu walaupun sekarang juga sih.

Itu tahun berapa ya? Sekitar 1996 atau 1997, pastinya saya lupa. Sudah belasan tahun silam. Bahkan anak yang tahun itu belum lahir saja sudah bisa memperkosa *barusan baca berita perkosaan oleh anak 12 tahun, absurd*

Waktu kecil, saya itu amat sangat anti kritik. Pas pertama kali disodorin bacaan, maka saya baca secepat kilat, pokoknya kelar. Saya anggap semakin cepat semakin baik.

Salah. Saya ngambek.

Lalu ketika mulai paham bahwa ini sabda Tuhan yang harus dibaca dengan tempo tertentu (saya kalau ngomong biasa memang dasarnya cepat), saya kemudian dilatih untuk membaca oleh orang tua. Pas jatah kata “mereka”, saya baca dengan “mEreka”, saya diketawain orang tua.

Salah. Saya ngambek lagi.

Sebuah proses kampret dalam pendewasaan diri saya yak. Begitulah. Memang sungguh semprul sekali.

Pada perjalanannya, saya punya idola anaknya Pak Edi, kalau nggak salah namanya Mas Uus. Kalau ngelektor santai banget. Paling senang kalau lihat dia baca bacaan pertama Jumat Agung, dari Yesaya, yang panjangnya ora kiro-kiro itu, tapi kontennya menarik.

Dari situ saya mulai mengerti ‘cara membaca yang baik’.

Pindah ke SMA, waktu dimana saya nyaris murtad dan menjelma menjadi Kristen NaPas, ya mana ada cerita jadi lektor?

Saya baru jadi lektor lagi di Cana Community, kapel Santo Robertus Bellarminus Mrican. Yang ironisnya, saya tinggalkan karena satu kritik.

Kritik sih, cuma buat saya disampaikan dengan tidak proper oleh seorang suster. Saya lagi baca, kurang mengalir, terus dibilang, “gini nih kalau nggak biasa nyanyi.”

Dan saya sikapi dengan daftar PSM, lalu berkarier disana. Bye bye lektor. Hahahahaha.

Itu tahun 2005, dan saya baru ngelektor lagi tahun 2013. DELAPAN tahun kemudian. Syukurlah, skill itu nggak hilang-hilang banget.

Sebenarnya, apa sih makna menjadi lektor? Buat saya ada beberapa hal.

1. Membaca sabda adalah hal yang berbeda dengan membaca biasa. Saya coba praktek dengan membaca buku Rectoverso (pinjem), dengan cara lektor, rasanya jelas beda. Persislah dengan teman saya yang muslim yang mendaraskan surat-surat yang tertera di kitab sucinya. Itu inspiring sekali loh. Terutama si Irfan, kalau lagi malam-malam di mushala office lantai 2.

Menurut teori, memang ada pesan yang disampaikan ketika kita membaca. Tapi kalau saya sih mencoba berpikir sederhana saja. Sesudah doa pembukaan kan dibilang, “marilah kita MENDENGARKAN sabda Tuhan”, itu yang buat saya–walau megang teks–nggak pernah baca teks. Nah, bagaimana supaya yang mendengar itu bisa menerima isinya, itu yang sulit. Caranya? Ya bacalah sebaik-baiknya. Itu saja. Kita kan nggak tahu umat yang lagi dengerin lektor itu sedang ngelamun jorok apa kagak (itu mah saya kali…)

Poinnya adalah membaca sabda, punya nilai, yang sebisa mungkin tersampaikan kepada pembaca.

Sedikit membenarkan si suster yang menghina dina saya dulu, bahwa menyanyi itu membantu dalam membaca. Setiap bacaan mempunyai lagu, dan tidak selalu harus dibaca ala puisi. Yeah, dulu pas Bahasa Indonesia paling tobat saya kalau disuruh baca puisi. Terimo ora. Tenan.

Inilah yang kemudian membantu upaya penyampaian maksud bacaan kepada umat. 🙂

2. Lebih dekat dengan sabda Tuhan adalah sisi baik lektor. Saya ini yah, ampun-ampun, walaupun punya kitab suci, mana pernah saya baca? Coba tanya saya 1 kalimat yang saya hafal di alkitab, mana ada?

Tapi, saya bisa ingat loh, bacaan-bacaan yang pernah saya baca di mimbar, dan sekaligus kata-kata penekanannya. Misal, “….karena engkau, mentaati sabda-Ku..”, atau “….dan mereka semua disembuhkan…”

Nggak usah muluk-muluk ke orang, urusan ke diri sendiri si lektor aja dulu. Pengaruhnya signifikan, terutama bagi orang yang jarang baca alkitab kayak saya. Hahaha.

3. Menikmati diri didengarkan, buat saya adalah perspektif lain. Dulu, buat saya, secepat mungkin selesai, lebih baik. Hehe. Tapi perlahan saya sadar, umat nggak akan melempar saya dengan sepatunya kalau saya terlalu lama di mimbar. Lha wong romo yang kotbahnya 1 jam sendiri juga nggak dilempar kan? *ekstrim mode on*

Umat datang (salah satunya) untuk mendengarkan sabda, jadi menikmati saat-saat di mimbar adalah penting.

Datanglah ke mimbar, lalu bersiap sejenak. Lihat ke depan, jangan ke belakang, apalagi ke atas *iki ngopo sih?* Kalau melihat ke depan, toleh dikit kiri kanan siapa tahu ada yang cantik.

*lektor sesat*

Untuk hal ini, saya angkat topi untuk Felic, anak Cana dulu. Ini anak paling menikmati soal tengak tengok ini. Naik mimbar, tengak tengok dulu. Pede abis pokoknya. Tapi jadinya keren.

Coba nikmati begini:

Naik ke mimbar, letakkan buku, pastikan bacaan terbuka dengan baik. Lalu lihat ke depan, sedikit kiri, sedikit kanan. Kalau nemu yang cantik, tetapkan sasaran. Kalau ada pacar, bolehlah jadi titik pusat. Lalu ambil nafas, tahan sampai besok.

*ngawur kan*

Ucapkan kalimat dengan perlahan, sehingga tidak akan merasa kehabisan napas. Karena di altar tidak ada tabung oksigen. Pelan-pelan saja, dan jangan terus gemetar. Ini posting sotoy, jadi jangan percaya kalau yang nulis nggak gemetaran. Percayalah, bahwa saya pun kadang masih gemetaran.

Cari kalimat-kalimat yang perlu ditekankan. Itu akan menjadi penekanan berbeda waktu membaca. Plus, begitu mau kelar, temponya diperlambat. Ini teori saya dapat waktu di Cana, lupa dari siapa, tapi ini yang bikin membaca jadi asyik. Tempo diperlambat, kata per kata kalau perlu ditekankan. Kebanyakan sih, poin utama bacaan itu memang ada disana. Nggak tahu kalau ada perubahan dari 2005 ke 2013 ya.

Nah, sesudah kelar. Tarik napas lagi, tahan lagi sampai besok, lalu bilang, “demikianlah sabda Tuhan.”

4. Tapi sebenarnya, bagian terbaik dari menjadi lektor adalah ketika mendapat berkat di sakristi ketika tugas sudah berakhir. Itu rasanya berbeda dibandingkan jadi umat biasa. Maklum, bertahun-tahun jadi umat biasa. Luar biasa sih, maksudnya, biasa di luar. *halah*

Ya begitulah. Seperti saya bilang tadi, kalau mau yang baik dan benar sila baca tautan yang sudah saya buat. Tapi kalau mau jadi yang sesat, boleh ikuti cara saya. Dijamin ngawur. Hehehehe.

Heavy 13

Baiklah, rupanya harus menunggu tengah malam supaya bisa menulis posting ini. Ya nggak apa-apa, toh barusan saya menang 4-3, pakai Bayern Muenchen versus Manchester City. Nggak apa-apa kan? *mulai salah fokus*

Kalau sebelumnya saya punya posting berjudul 30 menit yang luar biasa, maka sekarang saya kurang bisa mendeskripsikan 30 menit yang tadi sore menjelang malam saya alami.

Begini ceritanya *gelar kloso*

Sejak di Cikarang saya memang agak LDR-an sama gereja. Jarak kos-kosan ke gereja adalah kira-kira 13 kilometer. Tentunya ada banyak umat lain disini yang menempuh jarak lebih jauh. Masalahnya, didikan saya itu tidak mengenal jarak jauh.

Di Bukittinggi, dari rumah ke gereja, 13 kilometer itu adalah berangkat dari rumah, sampai ke gereja, lalu pulang lagi ngambil Puji Syukur lalu balik lagi ke gereja. Kemudian di Jogja, 13 kilometer itu memang sekitar jarak kos-kosan ke Kota Baru. Tapi jalan Paingan-Kota Baru nggak mengenal kontainer kan? Di Palembang lain lagi. Kalau mau mengukur jarak waktu saya di kos-kosan Cece Meytin ke Kapel Seminari, maka 13 kilometer itu bisa satu bulan misa, lengkap dengan Jumat Pertama, pembukaan Bulan Maria, plus penutupannya.

Makanya, saya pernah bilang ke tante saya yang suster bahwa perjalanan ke gereja disini seperti perjalanan ke Golgota. Bedanya, ini Golgota masa kini. Komentarnya sih singkat, “bisa jadi.”

Nah, bermula dari tukar hari tugas antara saya dengan Dian (padahal di PSM saya ngertinya Ria -___-), akhirnya saya dapat tugas lektor Novena Roh Kudus hari kedelapan, 17 Mei 2013. Sebenarnya kan enak kalau Jumat, besoknya libur, jadi bisa leyeh-leyeh.

Cuma siapa sangka kalau si tanggal 17 itu menjadi saat pertama kalinya saya naik sepeda motor sambil berdoa?

Siang sempat hujan sih, tapi pulang kantor sudah oke. Kemudian saya coba kutak kutik si Young yang rusak, dan gagal. Kemudian saya mandi dan persiapan berangkat. Begitu buka pintu kos, sudah lihat hawa nggak enak dari awan yang menggantung seram di sebelah kiri. Hawa-hawa hujan gede.

Saya berangkat tanpa mengenakan mantel, tapi kemudian segera pakai mantel di depan Wisma Mattel. Nggak nyangka, ternyata airnya sudah kemana-mana. Jalan masuk Jababeka 2 sudah banjir, demikian pula di depan kantor. Yang bikin ngenes, arah jatuhnya hujan itu diagonal 45 derajat, dan kok ya sejalur dengan arah perjalanan saya. Jadilah ini muka semacam refleksi akupuntur pakai air hujan yang tajam-tajam. Mana kaca helm nggak mungkin ditutup, soalnya gelap.

Begitu keluar pintu 10 dan hendak menuju Kalimalang, saya berbelok ke kanan seperti biasa, dan tidak memperhatikan bahwa ada lubang besar di depan saya. Si BG melaju melindas lubang itu dan ternyata dalamnya tak taksir ada 20-30 cm, karena kemudian rodanya si BG yang depan sempat meloncat. Saya sudah berpikir hendak jatuh saja ini, tapi ternyata pegangan tangan kanan saya–sambil tetap ngegas–masih bisa menahan keseimbangan sehingga tidak jatuh.

*Puji Tuhan*

Ini bukan hujan biasa yang jelas, dan setahu saya jalan Cikarang-Cibarusah itu kalau hujan yang nggenang. Satu hal yang perlu disyukuri adalah itu jalan habis dipoles. Jadi nggak perlu terlalu khawatir sama lubangnya yang besar-besar itu.

Begitu masuk Jembatan Tegalgede, genangannya sudah se-footstep si BG. Syukur pula bahwa saya pernah diberi pengalaman banjir di Palembang dulu. Jadi tahu gimana caranya melajukan sepeda motor dengan baik dan benar agar tidak mati mesin. Khusus bagian Tegalgede ini lewat.

Lalu berlanjut ke daerah dekat POM Bensin tempat saya dan si BG jatuh untuk pertama kalinya. *tuh kan mirip jalan salib ke Golgota*

Sudah ngeri aja karena bolongan di jalan itu rata ketutup air. Saya berbekal ngikutin jalurnya depan saja, dan untungnya lolos sampai ke depan Carrefour. Dan kebetulan sih, banjir juga, juga se-footstep si BG. Tangan saya nggak lepas dari gas, di gigi 1, plus kaki saya nggak lepas dari rem belakang, plus tangan yang ngegas tadi juga jaga-jaga di rem. Ini kan gigi 1, takutnya lompat, nabrak yang depan. Kan berabe.

Lalu saya tahu masih ada titik lagi yang banjirnya pasti tinggi. Itu di jalan naik jembatan yang menyeberangi Tol Cikampek. Sudah menutupi mesin kalau itu, disinilah saya mulai berdoa sambil naik sepeda motor.

“Tolong Tuhan.. Tolong Tuhan..”

Lebay yak? Mungkin. Tapi ini naluriah.

Jembatan lolos. Dan saya tidak punya pengalaman cukup soal hujan intensitas besar di jalan sesudah itu. Pikir saya, harusnya sih udah beres.

EH SIAPA BILANG?

Ternyata di pertigaan dari Gemalapik airnya sudah mulai tinggi lagi. Saya ambil kanan dan tinggi airnya sama dengan yang di tanjakan mau lewat jembatan. Udah ngeri aja kalau si BG mati di tengah jalan, soalnya di belakang mobil besar-besar. *jangan dibayangkan*

Sesudahnya, genangan semata kaki jadi biasa aja buat saya. Tinggal libas sana sini. Nggak banyak lagi masalah, termasuk di perempatan EJIP yang sebenarnya kan cekungan itu. Saya mulai tenang, ayem. Lagipula ini kan sudah masuk daerah perumahan yang terkenal. Yang dikelola oleh developer ternama. Harusnya kan nggak banjir. Apalagi begitu lewat kali, ya nggak meluap.

EH SIAPA BILANG?

Sesudah bundaran Elysium saya mendapati genangan yang LEBIH tinggi daripada yang ada di pertigaan dari Gemalapik. Bahkan mobil-mobilpun melewati jalan ini dengan galau. Karena rata-rata city car. Kalau tidak salah, dalam posisi saya mengendarai si BG, airnya sudah hampir ke lutut saya. Ketinggiannya persis waktu saya kebanjiran di Sekip. Dan jangan lupakan arus dari citycar yang berjalan bersisian dengan saya.

Ngenes.

Untunglah, akhirnya sekolah yang saya sebut gereja itu segera terlihat dan tidak ada genangan lain sesudah itu. Fiuhh. Saya keluar kos 6 kurang 10, dan sempat buka sepatu, ganti sandal, pakai jas hujan, dll, sampai ke gereja 18.20, jadi ya 30 menit. Tiga puluh menit naik motor yang mendebarkan, ehm, cenderung mengerikan.

Tapi, ada banyak orang yang bersama saya di jalanan? Kok mereka bisa ya?Dan ini saya sekali-sekali, dalam rangka mau ke gereja. Kalau mereka yang statusnya mau pulang ke rumah bagaimana yak? Kok bisa?

I don’t know.

Kebetulan yang absurd mungkin ya. HP pas rusak, yang mana daripada seluruh kontak lektor ada di HP itu. Mau menghubungi siapa, misal untuk menggantikan, ya bingung. Makanya kemudian saya putuskan bablas saja. Syukurlah sampai.

Pada akhirnya tugasnya berjalan lancar, meski saya salah menyebut “dia” dengan “ia”. Yah, maklum, habis kehujanan *mohon excuse*

Ada banyak pelajaran yang saya petik selama 30 menit tadi.

1. Mengendarai sepeda motor melibas banjir itu butuh fisik yang kuat. Tangan kiri saya bahkan masih pegal sampai saya mengetik posting ini. Menahan beban kiri-kanan dan menjaga keseimbangan itu sulit ternyata. Belum lagi perut saya yang mendadak juga ‘capek’ karena tahanan tangan larinya ke otot perut. Sungguhpun kalau nggak keburu, melibas jalanan kayak tadi AMAT SANGAT TIDAK DISARANKAN. Saya hanya beruntung saja bisa selamat sampai  tujuan.

2. Masalah itu selalu ada, bahkan menjelang akhir perjalanan. Lha saya itu begitu di bundaran Beverli sudah amat sangat yakin nggak akan ada genangan lagi. Lah kok malah dapat yang paling besar. -____- Pada akhirnya ternyata masalah itu akan hilang kalau kita beneran sudah sampai di tujuan. So, waspadalah.

3. Sepanjang jalan, sambil minta tolong sama Tuhan, saya berasa dibisikin, “Kalo lo sampai, lo menang!” Entah dibisikin sama siapa sih, tapi rasanya jadi bikin teguh kukuh melaju meski saya masih amat mungkin berhenti dan balik kanan pulang kos lalu tidur.

4. Apapun halangannya, kalau itu untuk Tuhan, percayalah, PASTI LEWAT. Itu pelajaran saya benar-benar hari ini. Meski jelas untuk tugas-tugas berikutnya kalau bisa ya jangan begini lagi jalannya, tapi bahwa saya berangkat untuk membaca sabda Tuhan di gereja, dengan jalan yang sebenarnya nggak masuk akal untuk dilibas si BG, dengan posisi sudah nyaris jatuh di dekat Kalimalang, dan saya sampai. Mukjizat? Entahlah. Saya bukan siapa-siapa kok, tapi saya meyakini bahwa saya masih bisa mengetik posting ini saja sudah merupakan berkat melimpah.

5. Sesudah heavy rain selama 13 kilometer tadi, saya melakoni perjalanan pulang dengan gerimis rintik-rintik. Sesudah dikasih yang berat, saya dikasih jalanan lancar, tanpa banyak genangan lagi (cepet ternyata surutnya), dan tanpa banyak truk besar. Begitulah, sesudah cobaan pasti ada berkat melimpah. Amin.

6. Bahwa saya bisa merutuk pemerintah atau siapapun yang bertanggung jawab pada drainase semenjana di kawasan industri ini. Tapi sepanjang jalan saya lebih sibuk minta tolong sama Tuhan daripada memikirkan mengutuk siapa. Ternyata lebih enak rasanya. Hehehe.

Begitulah perjalanan saya menempuh heavy rain 13 kilometer hari ini. Sejatinya ini bukan apa-apa bagi kebanyakan orang, tapi buat saya, ini adalah pengalaman berharga. Berharga banget. Kalau bisa sih nggak usah diulang. 😀

Selamat pagi dan selamat tidur 🙂